Anda di halaman 1dari 67

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


BIDANG PENYELIDIKAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

I. PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
a. Perkembangan teknologi dan perkembangan peradapan masyarakat di dunia yang mencakup
beberapa aspek meliputi tumbuhnya bentuk kejahatan baru, makin kompleksnya modus
operandi kejahatan baik secara konvensional maupun dimensi baru, kecanggihan pearalatan
yang digunakan pelaku kejahatan dan luasnya lingkup wilayah operasi kejahatan.
b. Dalam menjalankan tugas dan wewenang, setiap penyelidik dituntut untuk mengetahui dan
mengerti langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan Hukum ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
c. Untuk menjabarkan peraturan perundang-undangan ke dalam langkah-langkah penyelidikan
agar diperoleh keseragaman dan ketepatan bertindak, diperlukan suatu acuan/pedoman,
sehingga diperoleh kesamaan persepsi;
d. Dalam rangka menyamakan persepsi ke dalam pola tindak yang benar, maka dibuatlah
Standar Operasional Prosedur (SOP) guna dijadikan pedoman bagi seluruh penyelidik dalam
menjalankan kegiatan penyelidikan Tindak Pidana Narkoba.

2.

D a s a r
a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(KUHAP);
b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia (Polri);
c. Keputusan Presiden RI Nomor 70 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian
Negara Republik Indonesia
d. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun

2009

tentang

Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Tindak Pidana di Lingkungan Kepolisian


Negara Republik Indonesia.
e. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
f. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
g. Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012, tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana

3.

Maksud dan Tujuan


a. Maksud :
Pedoman ini dimaksudkan untuk memberikan panduan bagi Penyelidik Satuan Reserse Narkoba
dalam melakukan persiapan / pelaksanaan penyelidikan dan penyelenggaraan Administrasi
penyelidikan yang mendukung dalam penyelidikan tindak pidana.
b. Tujuan :
Tujuan dari pedoman ini adalah untuk menyatukan persepsi diantara para Penyelidik Satuan
Reserse Narkoba, agar diperoleh kesatuan arah dalam rangka penyelidikan Tindak Pidana di
lingkungan Satuan Reserse Narkoba Polres Gorontalo.

4.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam Standard Operating Procedure (SOP) di bidang Penyelidikan ini diberikan
skala prioritas terhadap kemampuan dalam melaksanakan kegiatan Penyelidikan dan Investigasi,
Pemeriksaan terhadap Saksi, Ahli, Tersangka, Psychologi, Konfrontasi dan Rekontruksi.

II. TUGAS POKOK


1. Tugas Pokok Penyelidik :
a. Kegiatan penyelidikan dilakukan :
1) Sebelum ada Laporan Polisi / Pengaduan
2) Sesudah ada Laporan Polisi / Pengaduan atau dalam rangka penyidikan.
b. Kegiatan penyelidikan dilakukan untuk mencari dan menemukan Tindak Pidana.
c. Kegiatan penyelidikan merupakan bagian atau salah satu cara dalam melakukan penyidikan
untuk :
1) menentukan suatu peristiwa yang terjadi merupakan tindak pidana atau bukan.
2) membuat terang suatu perkara sampai dengan menentukan pelakunya
3) dijadikan sebagai dasar melakukan upaya paksa.
d. Kegiatan penyelidikan meliputi :
1) Pengolahan TKP
2) Pengamatan ( Observasi )
3) Wawancara ( Interview )
4) Pembuntutan ( Surveilance )
5) Penyamaran ( Undercover )
6) Pelacakan ( Tracking )
7) Penelitian dan Analisis dokumen
e. Sasaran penyelidikan meliputi orang, benda atau barang, tempat, peristiwa/kejadian dan
kegiatan.
f. Petugas penyelidik dalam melaksanakan tugas penyelidikan, wajib dilengkapi dengan surat
perintah penyelidikan yang ditanda tangani oleh atasan penyelidik selaku penyidik
g. Petugas penyelidik wajib membuat laporan hasil penyelidikan kepada pejabat pemberi
perintah.
h. Laporan hasil penyelidikan disampaikan secara tertulis, atau lisan yang di tindak lanjuti
dengan laporan secara tertulis paling lambat 2 x 24 jam.

III. PERENCANAAN
a.

Sebelum melakukan penyelidikan, penyelidik wajib membuat rencana penyelidikan.

b.

Rencana penyelidikan sekurang-kurangnya memuat :


1) Surat Perintah Penyelidikan.
2) Jumlah dan identitas penyidik/penyelidik yang akan melaksanakan penyelidikan
3) Objek, sasaran dan target hasil penyelidikan.
4) Kegiatan yang akan dilakukan dalam penyelidikan dengan metode sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
5) Kesiapan

peralatan,

perlengkapan

yang

diperlukan

dalam

pelaksanaan

kegiatan

penyelidikan.
6) Waktu yang di perlukan dalam pelaksanaan kegiatan penyelidikan.
7) Kebutuhan anggaran penyelidikan.
IV. PELAKSANAAN
a.

Penyelidikan
Penyelidikan dilaksanakan melalui kegiatan :
1)

Pengolahan TKP :
a) Mencari dan mengumpulkan keterangan, petunjuk, barang bukti, identitas tersangka,
saksi dan korban untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
b) Mencari hubungan antara saksi/korban, tersangka dan barang bukti
c) Memperoleh gambaran modus operandi tindak pidana yang terjadi

2) Pengamatan ( Observasi ) :
a) Melakukan pengawasan terhadap orang, barang, objek, tempat dan lingkungan
tertentu untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan
b) Mendapatkan kejelasan atau melengkapi informasi yang sudah ada berdasarkan
pengetahuan dan gagasan yang di ketahui sebelumnya
3) Wawancara ( Interview ) :
a) Mendapatkan keterangan dari pihak-pihak tertentu melalui teknik wawancara secara
tertutup maupun terbuka
b) Mendapatkan kejelasan tindak pidana yang terjadi dengan cara mencari jawaban atas
pertanyaan siapa, apa, dimana, dengan apa, mengapa, bagaimana dan bilamana
4) Pembuntutan ( surveilance ) :
a) Mengikuti seseorang yang diduga sebagai pelaku tindak pidana atau orang lain yang
dapat mengarahkan kepada pelaku tindak pidana.
b) Mencari tahu aktivitas, kebiasaan, lingkungan atau jaringan pelaku tindak pidana.
c) Mengikuti distribusi barang atau tempat penyimpanan barang hasil kejahatan.
5) Pelacakan ( tracking ) :
a) Mencari dan mengikuti keberadaan pelaku tindak pidana dengan menggunakan
teknologi informasi.
b) Melakukan

pelacakan

melalui

kerja

sama

dengan

Kementerian/lembaga/badan/komisi/instansi terkait.
c) Melakukan pelacakan aliran dana yang diduga dari hasil kejahatan.

Interpol,

6) Penyamaran ( Undercover ) :
a) Menyusup kedalam lingkungan tertentu tanpa diketahui identitasnya untuk
memperoleh bahan keterangan atau informasi.
b) Menyatu dengan kelompok tertentu untuk memperoleh peran dari kelompok tersebut,
guna mengetahui aktivitas para pelaku tindak pidana.
c) Untuk khusus kasus peredaran Narkoba, dapat digunakan teknik penyamaran sebagai
calon pembeli ( Undercover Buy ), penyamaran untuk dapat melibatkan diri dalam
distribusi narkoba sampai tempat tertentu ( Controlled Delivery ), penyamaran di
sertai penindakan / pemberantasan ( Raid Planning Execution ).
7) Penelitian dan analisis Dokumen :
Dilakukan terhadap kasus-kasus tertentu dengan cara :
a) Mengkompulir dokumen yang diduga ada kaitannya dengan tindak pidana.
b) Meneliti dan menganalisa dokumen yang diperoleh guna menyusun anatomi perkara
tindak pidana serta modus operandinya.
b. Urutan Tindakan Penyelidik :
1) Kanit atau anggota menerima informasi dari masyarakat tentang adanya penyalahgunaan
Narkotika di suatu tempat, anggota melaporkan kepada Kasat selanjutnya dituangkan
dalam Laporan Informasi.
2) Laporan Informasi tersebut di sampaikan kepada Kasat Res Narkoba yang disertakan
Surat Perintah Tugas untuk melakukan penyelidikan informasi tersebut.
3) Kanit memerintahkan dan atau bersama unitnya melaksanakan penyelidikan guna
penajaman informasi dilapangan.
4) Dalam penajaman laporan informasi anggota telah dilengkapi dengan surat perintah
penangkapan, penggeledahan dan penyitaan serta surat tanda terima barang bukti yang
diduga ada kaitannya tindak pidana penyalahgunaan Narkotika dan bahan berbahaya
lainnya.
5) Apabila dianggap A1 Kanit melaksanakan tindakan upaya hukum yaitu penangkapan,
penggeledahan dan penyitaan yang dilengkapi dengan administrasi penyidikan.
6) Apabila terbukti melakukan pelanggaran tindak pidana dan ditemukan adanya bukti
permulaan yang cukup maka dilaksanakan introgasi atau pemeriksaan awal untuk
mengungkap jaringan Narkotika.
c. Sarana Peralatan :
Sarana Peralatan yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas penyelidikan antara lain :
1) Peta Geografi, Denah, Data, Letak Lokasi, dan ciri-ciri Identitas sasaran
2) Alat Penyadap Sebagai perekam pembicaraan sasaran baik secara terbuka maupun
tertutup
3) Alat tulis sebagai sarana pencatatan hasil Penyelidikan.
4) Teropong dan Kamera/Handycam untuk melakukan pengamatan jarak jauh.
d. Investigasi
Investigasi dilaksanakan bilamana sasaran di duga berada di luar wilayah hukum Polda
Gorontalo dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1) Direktorat Reserse Narkoba Polda Gorontalo melakukan permintaan secara tertulis


dengan alamat langsung kepada kantor Kepolisian terkait dimana keberadaan sasaran
telah terdeteksi dengan mencamtumkan :
a) Komposisi Tim Investigasi
b) Tanggal kedatangan Tim Investigasi
c) Lama kunjungamn Tim Investigasi
2) Permintaan secara tertulis dilengkapi dengan Biodata tersangka dan resume singkat dari
hasil pemeriksaan terhadap Saksi-saksi dan alat bukti yang telah diperoleh Penyidik.
e. Ketentuan Larangan dan Kewajiban
1) Penyelidik Dilarang :
a) Melakukan tindak kekerasan (penyiksaan fisik) dalam melaksanakan Penyelidikan.
b) Melakukan diskriminasi pelayanan dalam kegiatan penyelidikan.
c) Menerima dan/atau meminta imbalan sebelum, selama, dan/atau setelah kegiatan
Penyelidikan.
d) Menyebarkan rasa takut kepada terperiksa baik dengan menggunakan ancaman
kekerasan atau dengan menunjukkan senjata (api).
2) Kewajiban Dalam Penyelidikan :
1) Memberikan pelayanan yang sama kepada semua orang (pihak) dalam kegiatan
Penyelidikan.
2) Menjalankan kegiatan Penyelidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
3) Penggunaan senjata (api) sesuai dengan Prosedur Tetap Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia Nomor : Protap/01/X/2010 tentang Penanggulangan Anarki;
V.

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


a.

Pengawasan
Pengawasan terhadap kegiatan Penyelidikan dilakukan oleh :
1) Atasan Penyelidik, yaitu :
a) Kasat; dan/atau
b) Kaur Bin Ops.
2) Pengawas Penyelidik yang ditunjuk berdasarkan Surat Perintah Pengawasan
Penyelidik.

b.

Pengendalian
Pengendalian Penyelidikan dilakukan dalam bentuk :
1) Tata Naskah (Takah) yang berisikan komunikasi tertulis antara Penyelidik dan Atasan
Penyelidik.
2) Penyelidikan dengan mengikutsertakan Pengawas Penyelidik
3) Penyelidikan dengan mengikutsertakan Satuan lain yang dipimpin oleh Kapolres atau
Kasat Resnarkoba.
4) Mengikutsertakan institusi pengawasan di lingkungan internal Polres Gorontalo.

VI.

ADMINISTRASI
Administrasi penyelidikan meliputi :

VII.

a.

Surat Perintah Tugas ( Sprin Gas )

b.

Surat Perintah Penyelidikan ( Sprin Lidik )

c.

Laporan Hasil Penyelidikan.

ANGGARAN
a.

Anggaran penyidikan menyesuaikan dengan DIPA Polri untuk program penyelidikan dan
penyidikan yang disediakan bagi Polres Gorontalo.

b.

Anggaran yang digunakan untuk kepentingan Penyelidikan menyesuaikan dengan kriteria


tingkat kesulitan atas Penyelidikan yang ditentukan oleh pejabat yang berwenang atau
Atasan Penyidik.

c.

Penggunaan anggaran dalam kegiatan Penyelidikan sesuai dengan standar biaya khusus
(SBK) Penyelidikan / penyidikan yang disahkan oleh Kapolri.

VIII. PENUTUP
a.

Standar Operasional Prosedur (SOP) digunakan sebagai petunjuk dan arahan agar setiap
personel yang bertugas pada Fungsi Reserse Narkoba mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang Hukum Pidana, Hukum Acara Pidana dan Peraturan Perundang-undangan yang ada
kaitannya baik secara langsung maupun tidak langsung dengan Tindak Pidana.

b.

Standard Operating Prosedure (SOP) diharapkan kepada setiap personil mempunyai


kemampuan yang Profesional dan Terampil dalam melaksanakan Fungsi teknis Kepolisian
dibidang penyelidikan dan Penyidikan tindak pidana terutama dalam melakukan Taktik dan
Tehnik Penyelidikan, Investigasi dan Pemeriksaan baik terhadap Tersangka, Saksi maupun
Ahli.

c.

Kegiatan Penyelidikan yang dilakukan oleh Penyelidik Sat Resnarkoba mempedomani


Perkap No. 14 Tahun 2012 tentang manajemen penyidikan tindak pidana.

d.

Hal-hal yang belum ditentukan dan atau diatur di dalam SOP di bidang penyelidikan ini,
maka penyelidik tetap mempedomani aturan hukum acara yang berlaku.

Demikian Standar Operasional Prosedur (SOP) Penyelidikan dan Penyidikan Tindak


Pidana Narkoba sebagai kerangka acuan dalam pelaksanaan kegiatan.
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA

TTD
ASLI, SH
AKP NRP 80110618

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


BIDANG PENYIDIKAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

I. PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
a. Dalam menjalankan tugas dan wewenang penyidikan, setiap penyidik dituntut untuk mengetahui
dan mengerti langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
b. Untuk menjabarkan peraturan perundang-undangan ke dalam langkah-langkah penyidikan agar
diperoleh keseragaman dan ketepatan bertindak, diperlukan suatu acuan/pedoman, sehingga
diperoleh kesamaan persepsi;
c. Dalam rangka menyamakan persepsi ke dalam pola tindak yang benar, maka dibuatlah
Standar Operasional Prosedur (SOP) guna dijadikan pedoman bagi seluruh penyidik dalam
menjalankan kegiatan penyidikan.

2.

D a s a r
a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(KUHAP);
b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia (Polri);
c. Keputusan Presiden RI Nomor 70 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian
Negara Republik Indonesia
d. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun

2009

tentang

Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Tindak Pidana di Lingkungan Kepolisian


Negara Republik Indonesia.
e. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
f. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
3.

Maksud dan Tujuan


a. Maksud :
Pedoman ini dimaksudkan untuk memberikan panduan bagi Penyidik Satuan Reserse Narkoba
dalam melakukan persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian Berkas Perkara serta penyenggaraan
Administrasi Penyidikan yang mendukung pelaksanaan penyidikan tindak pidana.

b. Tujuan :
Tujuan dari pedoman ini adalah untuk menyatukan persepsi diantara para Penyidik Satuan
Reserse Narkoba, agar diperoleh kesatuan arah dalam rangka Penyidikan Tindak Pidana di
lingkungan Satuan Reserse Narkoba Polres Gorontalo.
4. Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur di bidang Penyidikan ini meliputi kegiatan Perencanaan

dan

Penganggaran Penyidikan, Pelaksanaan Penyidikan, (Pemanggilan, Pemeriksaan, Penangkapan,


Penahanan,

Penggeledahan

dan

Penyitaan),

Penyelenggaraan

Administrasi

Penyidikan,

Pemberkasan dan Penyerahan Berkas Perkara serta Pengawasan dan Pengendalian Penyidikan pada
lingkungan Satuan Reserse Narkoba Polres Gorontalo.
II. TUGAS POKOK
5. Tugas Pokok Penyidik :
a. Tugas Pokok Penyidik Sat Reserse Narkoba adalah :
1) Penyidik Sat Resnarkoba bertugas menyelenggarakan penyelidikan, penyidikan,
pengawasan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba
berikut prekursornya serta melaksanakan pembinaan dan penyuluhan dalam rangka
pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan Narkoba.
2) Dalam melaksanakan tugas di atas, Penyidik Sat. Reskrim menyelenggarakan fungsi :
a)

Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan dan peredaran gelap


Narkoba dan prekursor;

b)

pembinaan dan penyuluhan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban


penyalahgunaan Narkoba.

c)

pengawasan terhadap pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana


penyalahgunaan Narkoba.

d)

penganalisa kasus beserta penanganannya, serta mengkaji efektivitas pelaksanaan


tugas Sat Resnarkoba.

e)

Pembinaan teknis terhadap administrasi penyelidikan dan penyidikan, serta


identifikasi dan laboratorium forensik lapangan.

f)

Pembinaan, koordinasi dan pengawasan PPNS baik di bidang operasional maupun


administrasi penyidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

III. PELAKSANAAN
6. Personel
a.

Penyidik Satuan Reserse Narkoba adalah personel Polri yang bertugas di lingkungan Satuan
Reserse Narkoba Polres Gorontalo.

b.

Penyidik adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia berpangkat IPDA sampai
dengan Komisaris Besar Polisi yang berada di lingkungan Direktorat Narkoba yang diberi
wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan sebagaimana diatur oleh
UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP.

c.

Penyidik Pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang karena
diberi wewenang tertentu dapat melakukan tugas penyidikan sebagaimana diatur oleh UU
No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP;

d.

Atasan Penyidik adalah penyidik yang berwenang menerbitkan Surat Perintah Tugas, Surat
Perintah Penyelidikan, dan Surat Perintah Penyidikan di daerah hukum Atasan Penyidik
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

e.

Petugas Lainnya adalah personel yang bertugas dan/atau bekerja di lingkungan Polres
Gorontalo dan atau setidak-tidaknya di lingkungan Satuan Resnarkoba serta diberikan tugas
oleh Penyidik Sat. Resnarkoba untuk membantu atau mendukung pelaksanaan tugas-tugas
penyidikan, seperti pembuatan administrasi penyidikan, penyusunan Berkas Perkara dan
sejenisnya.

7. Sarana-Prasarana yang Digunakan


a.

Sarana dan Prasarana yang digunakan untuk kepentingan penyidikan adalah yang tersedia
di lingkungan Satuan Resnarkoba.

b.

Sarana dan Prasarana lain yang menunjang untuk kepentingan penyidikan yang digunakan
apabila telah mendapat persetujuan dari Atasan Penyidik.

8. Urutan Tindakan
a.

Tindakan penyidikan mempedomani UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, Peraturan


Kapolri No. 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara
Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia;

b.

Urut-urutan tindakan penyidikan sebagai berikut :


1) Membuat tata naskah (takah) yang terdiri dari :
a) Laporan Polisi;
b) Laporan Hasil Penyelidikan (LHP) apabila didahului dengan penyelidikan;
c) Surat Perintah Penyidikan;
d) Surat Perintah Tugas
e) Rencana Penyidikan;
f)

Rencana Kebutuhan Anggaran Penyidikan;

g) Gambar Skema Pokok Perkara; dan


h) Matrik untuk Daftar Kronologis Penindakan.
2) Menyusun rencana penyidikan dan penganggaran penyidikan, meliputi :
a)

Rencana Kegiatan;

b)

Rencana Kebutuhan Anggaran Penyidikan;

c)

Target pencapaian kegiatan;

d)

Skala prioritas penindakan; dan

e)

Target penyelesaian perkara.

3) Melakukan upaya hukum dalam rangkaian kegiatan penyidikan, meliputi :


a) Pemanggilan saksi-saksi;
b) Pemeriksaan saksi-saksi;
c) Penyitaan barang bukti;
d) Pemanggilan tersangka;
e) Penangkapan tersangka (jika diperlukan);
9

f)

Pemeriksaan tersangka;

g) Menawarkan bantuan Penasihat Hukum terhadap Tersangka yang tidak mampu, yang
ancaman hukumannya diatas 4 tahun
h) Penggeledahan (jika diperlukan) dan ditindaklanjuti dengan penyitaan (jika ditemukan
barang bukti baru);
i)

Penahanan tersangka (jika diperlukan); dan

j)

Pemeriksaan Ahli (jika diperlukan).

4) Menyelenggarakan Administrasi Penyidikan dengan kegiatan meliputi :


a) Membuat Surat Perintah Penyidikan;
b) Membuat Surat Perintah Tugas;
c) Membuat Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP);
d) Membuat Surat Perintah Penyitaan;
e) Mengajukan Ijin Penyitaan ke Pengadilan Negeri setempat;
f)

Membuat Berita Acara Penyitaan;

g) Membuat Surat Tanda Terima Penyitaan


h) Mengajukan Surat Persetujuan Penyitaan ke Pengadilan Negeri setempat (jika
penyitaan yang dilakukan mendahului permintaan ijin sita atau dalam keadaan
mendesak);
i)

Membuat Surat Perintah Penggeledahan (jika diperlukan);

j)

Membuat Berita Acara Penggeledahan;

k) Mengajukan Surat Ijin Penggeledahan Rumah dan/atau tempat tertutup lainnya ke


Pengadilan Negeri Setempat;
l)

Mengajukan Surat Pemberitahuan Penggeledahan Rumah dan/atau Tempat tertutup


lainnya (apabila penggeledahan dilakukan mendahului permintaan ijin geledah atau
dalam keadaan mendesak)

m) Membuat Surat Panggilan;


n) Membuat Surat Perintah Penangkapan (jika diperlukan);
o) Membuat Berita Acara Penangkapan;
p) Membuat dan menyampaikan Surat Pemberitahuan Penangkapan kepada Keluarga
Tersangka;
q) Membuat Surat Perintah Penahanan (jika diperlukan);
r)

Membuat Berita Acara Penahanan;

s)

Membuat dan menyampaikan Pemberitahuan Penahanan disertai Surat Perintah


Penahanan kepada Keluarga Tersangka;

t)

Mengajukan Permintaan Perpanjangan Penahanan ke Kejaksaan Negeri setempat (jika


masa

penahanan penyidik telah berakhir dan masih diperlukan perpanjangan

penahanan);
u) Membuat Berita Acara Perpanjangan Penahanan;
v)

Membuat dan menyampaikan pemberitahuan perpanjangan penahanan disertai Surat


Perpanjangan Penahanan dari Kejaksaan Negeri setempat;

w) Mengajukan Permintaan Perpanjangan Penahanan ke Pengadilan Negeri setempat


(jika masa penahanan yang diberikan Kejaksaan Negeri telah berakhir dan masih
diperlukan perpanjangan penahanan);

10

x) Membuat Berita Acara Perpanjangan Penahanan;


y) Membuat dan menyampaikan pemberitahuan perpanjangan

penahanan

dengan

disertai Surat Penetapan Perpanjangan Penahanan dari Pengadilan Negeri setempat;


z) Membuat dan menyampaikan Surat Pemberitahuan Perpanjangan Penahanan berikut
Surat Perintah Perpanjangan Penahanan dan Surat Penetapan Perpanjangan
Penahanannya setiap kali ada perpanjangan penahanan
5) Menyelenggarakan kegiatan penyidikan dengan urutan kegiatan yang meliputi :
a) Menganalisis perkara yang ditangani/disidik;
b) Menyusun rencana penyidikan dan rencana kebutuhan anggaran;
c) Melakukan kegiatan penyidikan dalam bentuk upaya hukum;
d) Menyampaikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP)
Tahap Pertama, kepada :
(1) Pelapor atau Korban atau Keluarga Pelapor/Korban untuk perkara kriminal
umum;
(2) Tersangka atau keluarga tersangka untuk perkara kriminal khusus yang tidak
memiliki korban (victimless crime).
e) Melakukan Gelar Perkara untuk menentukan :
(1) Tersangka, utamanya bagi penanganan / penyidikan perkara tindak pidana
khusus sebelum dikirimkannya SPDP ; atau
(2) Ditemukan dua atau lebih alat bukti yang cukup dan bersesuaian, sehingga dapat
diteruskan kegiatan penyidikannya atau tidak ditemukan dua alat bukti yang
cukup dan bersesuaian sehingga dapat dihentikan penyidikannya.
(3) Melibatkan Ahli untuk keterangan Ahli sebagai Alat Bukti
f)

Melakukan

upaya

hukum

lanjutan

setelah

ditentukan tersangkanya atau

penghentian penyidikan apabila tidak ditemukan alat bukti yang cukup;


g) Menyampaikan

Surat

Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP)

Tahap Kedua, kepada :


(1) Pelapor atau Korban atau Keluarga Pelapor/Korban untuk perkara kriminal
umum;
(2) Tersangka atau keluarga tersangka untuk perkara kriminal khusus yang tidak
memiliki korban (victimless crime).
h) Menyusun Berkas Perkara dan siap untuk dilimpahkan ke Penuntut Umum;
i)

Memperbaiki Berkas Perkara apabila dinyatakan kurang lengkap oleh Penuntut


Umum dan mengirimkan kembali Berkas Perkara yang telah diperbaiki kepada
Penuntut Umum;

j)

Menyerahkan Berkas Perkara beserta barang bukti dan tersangkanya kepada


Penuntut Umum; dan

k) Menyampaikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP)


Tahap Ketiga, kepada :
(1) Pelapor atau Korban atau

Keluarga Pelapor/Korban untuk perkara kriminal

umum;
(2) Tersangka atau keluarga tersangka untuk perkara kriminal khusus yang tidak
memiliki korban (victimless crime).

11

9.

Ketentuan Larangan dan Kewajiban


a.

Penyidik Dilarang :
1) Melakukan tindak kekerasan (penyiksaan fisik) dalam melaksanakan penyidikan;
2) Melakukan diskriminasi pelayanan dalam kegiatan penyidikan;
3) Menerima dan/atau meminta imbalan sebelum, selama, dan/atau setelah kegiatan
penyidikan;
4) Menyebarkan rasa takut kepada terperiksa baik dengan menggunakan ancaman atau
ancaman kekerasan atau dengan menunjukkan senjata (api).

b.

Kewajiban Dalam Penyidikan :


1) Memberikan pelayanan yang sama kepada semua orang (pihak) dalam kegiatan
penyidikan;
2) Menjalankan kegiatan penyidikan sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-

undangan yang berlaku;


3) Penggunaan senjata (api) sesuai dengan Prosedur Tetap Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia Nomor : Protap/1/X/2010 tentang Penanggulangan Anarki;
10. Pengawasan dan Pengendalian
a.

Pengawasan
Pengawasan terhadap kegiatan penyidikan dilakukan oleh :
1) Atasan Penyidik, yaitu :
a) Kasat; dan/atau
b) Kaur Bin Ops.
2) Pengawas Penyidik yang ditunjuk berdasarkan Surat Perintah Pengawasan Penyidik.

b.

Pengendalian
Pengendalian penyidikan dilakukan dalam bentuk :
1) Tata Naskah (Takah) yang berisikan komunikasi tertulis antara penyidik dan Atasan
Penyidik;
2) Gelar Perkara yang dilakukan dengan melibatkan :
a)

Penyidik di lingkungan Sat. Reskrim;

b) Penyidik dengan mengikutsertakan Pengawas Penyidik;


c) Penyidik dengan mengikutsertakan Satuan lain yang dipimpin oleh Kapolres atau
Kasat Reskrim;
d) Penyidik dengan mengikutsertakan institusi pengawasan di lingkungan internal
Polres Gorontalo.
IV. ADMINISTRASI
11. Kelengkapan Administrasi
Segala administrasi adalah administrasi yang menunjang terselenggaranya penyidikan, berupa :
a.

Administrasi Penyidikan yang diatur oleh UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP
dan/atau yang diatur oleh perundang-undangan lainnya; atau

b.

Administrasi Perkantoran yang menunjang kegiatan penyidikan sebagaimana diatur oleh


Hukum Administrasi dan/atau Peraturan Kapolri serta peraturan administrasi lainnya.

12. Anggaran

12

a.

Anggaran penyidikan menyesuaikan dengan DIPA Polri untuk program penyelidikan


dan penyidikan yang disediakan bagi Polres Gorontalo ;

b.

Anggaran yang digunakan untuk kepentingan penyidikan menyesuaikan dengan kriteria


tingkat kesulitan atas penyidikan yang ditentukan oleh pejabat yang berwenang atau Atasan
Penyidik;

c.

Penggunaan anggaran dalam kegiatan penyidikan sesuai dengan standar biaya khusus
(SBK) penyidikan yang disahkan oleh Kapolri.

V. PENUTUP
13.

Ketentuan Lain-Lain
a.

Batas waktu penyelesaian perkara ditentukan berdasarkan kriteria tingkat kesulitan atas
penyidikan :
1) Sangat sulit ;
2) Sulit ;
3) Sedang ; atau
4) Mudah

b.

Batas waktu penyelesaian perkara dihitung mulai diterbitkannya Surat Perintah Penyidikan,
meliputi :
1) 120 (seratus dua puluh) hari untuk penyidikan perkara sangat sulit;
2) 90 (sembilan puluh) hari untuk penyidikan perkara sulit;
3) 60 (enam puluh) hari untuk penyidikan perkara sedang; atau
4) 30 (tiga puluh) hari untuk penyidikan perkara mudah.

c.

Penentuan kriteria tingkat kesulitan atas penyidikan dilakukan

oleh pejabat yang

berwenang atau Atasan Penyidik;


d.

Apabila penyidikan yang dilakukan tidak sesuai dengan kriteria tingkat kesulitan di atas,
maka penyidik mengajukan alasan tentang kesulitan dan/atau hambatan yang dihadapi
dalam bentuk Laporan Kemajuan kepada Atasan Penyidik (Kasat) untuk mendapatkan
persetujuan.

14.

Ketentuan Penutup
a.

Segala hal yang berkaitan dengan kegiatan penyidikan tetap mengacu pada UU No. 8
Tahun 1981 tentang KUHAP dan/atau undang-undang tertentu yang mengatur hukum
acaranya sendiri.

b.

Kegiatan penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Sat Resnarkoba mempedomani Perkap
No. 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di
Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia;

c.

Hal-hal yang belum ditentukan dan/atau diatur di dalam SOP di bidang penyidikan ini,
maka penyidik tetap mempedomani aturan hukum acara yang berlaku.
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA
TTD

ASLI, SH
AKP NRP 80110618
13

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PEMANGGILAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A. Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyelidikan yang benar, perlu disusun standar operasional
prosedur untuk dijadikan standar dalam

melaksanakan

upaya hukum pemanggilan. Standar

Operasional Prosedur ini merupakan pedoman bagi penyidik dalam melaksanakan tugas
pemanggilan yang harus dilaksanakan dalam proses penyidikan.
B. Tujuan
Tindakan hukum berupa pemanggilan merupakan rangkaian dari suatu proses penyidikan guna
memperoleh suatu keterangan baik terhadap saksi, ahli maupun terhadap tersangka didalam
proses penegakan hukum baik

pada tingkat penyidikan, penuntutan dan peradilan. Standar

Operasional Prosedur ini dibuat bertujuan guna menghindari pelanggaran hukum baik pelanggaran
HAM maupun pelanggaran terhadap hukum acara pidana serta menghindari kesalahan prosedur
dalam proses pemanggilan.
C. Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur pemanggilan memuat petunjuk tentang tatacara dari mulai pemenuhan
syarat formil, syarat materil pembuatan surat panggilan, pengajuan atau penandatanganan surat
panggilan pencatatan dalam register surat panggilan, penyampaian surat panggilan, serta bagaimana
orang yang dipanggil apabila tidak memenuhi panggilan tersebut. Standar Operasional Prosedur ini
berlaku

bagi penyidik Polri khususnya

pada lingkungan Penyidik Sat Resnarkoba Polres

Gorontalo.
D. Pengertian Pemanggilan
1.

Pemanggilan adalah tindakan penyidik untuk menghadirkan saksi / tersangka guna didengar
keterangannya sehubungan dengan tindak pidana yang terjadi.

2.

Tenggang waktu yang wajar adalah antara tanggal, hari, diterimanya surat panggilan dengan
hari, tanggal orang yang di panggil diharuskan memenuhi panggilan harus ada tenggang waktu
yang layak dan wajar serta surat panggilan yang disampaikan selambat-lambatnya tiga (3)
hari sebelum tanggal hadir yang ditentukan dalam surat panggilan.

3.

Alasan yang tidak patut dan wajar adalah seseorang yang dipanggil sebagai saksi/tersangka
dimana dapat diyakinkan bahwa surat panggilan tersebut tidak dapat hadir dengan
menyampaikan alasan yang tidak sesuai dengan fakta yang ditemukan.

4.

Surat panggilan ke II adalah surat yang diterbitkan oleh penyidik dalam menindak lanjuti surat
panggilan pertama apabila yang dipanggil diyakini telah menerima panggilan pertama namun
yang bersangkutan tidak hadir dengan alasan-alasan yang patut dan wajar.

5.

Surat perintah membawa adalah surat


membawa

perintah yang ditandatangani

saksi atau tersangka dikarenakan

oleh penyidik guna

yang dipanggil tidak dapat memenuhi surat

panggilan baik panggilan kesatu dan kedua tanpa alasan yang patut dan wajar.
14

6.

Ijin adalah permohonan atau pemberitahuan yang isampaikan oleh penyidik kepada lembaga
tinggi Negara atau instansi pemerintahan / lembaga lain, guna memperoleh ijin yang diberikan
kepada penyidik dalam rangka proses pemanggilan.

E . Petunjuk dan Koordinasi


1.

Membuat surat panggilan untuk saksi dan tersangka bukan lembaga tinggi Negara dan pejabat
pemerintahan.
a. Syarat formil :
1) Pasal 1 butir 2, Pasal 7 ayat (1) huruf e, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 119, Pasal 120
KUHAP;
2) Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
3) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
4) Undang-undang yang dipersangkakan
5) Laporan Polisi
6) Surat Perintah Tugas
7) Surat Perintah Penyidikan
8) Buku Register surat panggilan
9) Agenda tanda terima surat panggilan
b. Langkah-langkah membuat surat panggilan :
1) Surat Panggilan dibuat dengan jelas tentang ;

dasar pemanggilan, alasan, waktu

pemanggilan, identitas lengkap orang yang dipanggil, kapasitas yang dipanggil (saksi
atau tersangka), perkara apa.
2) Untuk

waktu

pemanggilan

memperhitungkan

diluar

diberikan
kota /luar

tenggang
negeri),

waktu

yang

wajar

(dengan

apabila alamat tidak diketahui

dicantumkan alamat terakhir yang ada pada penyidik (berdasarkan hasil penyelidikan).
3) Surat panggilan ditanda - tangani oleh Kasat Resnarkoba atau pejabat yang berwenang /
penyidik yang memanggil.
2.

Membuat surat panggilan untuk saksi dan tersangka untuk Lembaga Tinggi Negara dan Pejabat
Pemerintah.
a. Syarat formil :
1) Pasal 1 butir 2, Pasal 7 ayat (1) huruf e, Pasal 11, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 119, Pasal
120 KUHAP.
2) Pasal 66, 220, 289, 340, 391 Undang-undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR,
DPR, DPD dan DPRD.
3) Pasal 36 (1) Undang-undang Nomor 32 tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintahan Pengganti Undang-undang


Nomor 8 tahun 2005.
4) Undang-undang Kekuasaan Kehakiman.
5) Undang-undang No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
6) Pasal 66 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Notaris.
7) Pasal 23 Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa.
b. Langkah-langkah membuat surat panggilan saksi dan tersangka pejabat Lembaga Tinggi

15

Negara dan Pejabat Pemerintahan, Non Pemerintah (Notaris).


1) Pemanggilan terhadap Pejabat-pejabat Negara, anggota-anggota MPR / DPR / DPD /
BPK / Mentri kabinet, Gubernur, Bupati / Walikota, Deputi Gubernur BI, sebelum
dipanggil mengajukan surat permohonan ijin kepada Presiden RI, pengajuan
permohonan kepada Kapolri melalui Kapolda diteruskan ke Kabareskrim.
2) Anggota DPRD/DPD tingkat I, sebelum dipanggil mengajukan surat permohonan izin
kepada Mentri Dalam Negeri pengajuan permohonan kepada Kapolri melalui Kapolda
diteruskan ke Kabareskrim.
3) Anggota DPRD/DPD tingkat II Kabupaten/kota sebelum dipanggil mengajukan surat
permohonan izin kepada Gubernur Kepala Daerah melalui Kapolda.
4) Untuk memanggil Lurah/Kepala Desa sebelum dipanggil penyidik mengajukan surat
permohonan izin kepada Bupati/Walikota.
5) Untuk pemanggilan terhadap Ketua dan Majelis Hakim, sebelum dipanggil mengajukan
surat permohonan izin kepada Ketua Mahkamah Agung RI melalui Kabareskrim.
6) Untuk pemanggilan Notaris, sebelum dipanggil penyidik mengajukan surat kepada
Majelis Pengawas Daerah, guna mendapat persetujuan/ijin.
3.

Pengajuan Penandatanganan Surat Panggilan.


a.

Surat Panggilan diajukan secara berjenjang (diparaf oleh para pejabat yang terkait) sampai
dengan ditanda tangani oleh Kasat Resnarkoba atau Pejabat yang berwenang dan oleh
Penyidik yang memanggil.

b.

Mencatat surat panggilan untuk saksi dan tersangka pada register surat panggilan serta
mencatat dalam buku ekspedisi.

c.

Membuat surat guna mendapatkan ijin dalam rangka pemanggilan (saksi/tersangka) yang
termasuk lingkup pejabat Lembaga Tinggi Negara dan Pejabat Pemerintah, Non
Pemerintah (Notaris).

d.

Penyampaian surat panggilan ke satu/ ke dua untuk saksi dan tersangka.

F. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan.
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA
TTD

ASLI, SH
AKP NRP 80110618

16

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PENANGKAPAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A. Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu disusun standar operasional
prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan penangkapan terhadap tersangka. SOP ini
merupakan pedoman bagi penyidik dalam melaksanakan tugas penangkapan yang dilaksanakan
terhadap tersangka.
Standar operasional ini merupakan panduan untuk menghindarkan penyidik terhadap hal-hal yang
kontra produktif yang dapat menghalangi kelancaran proses penyidikan. Dalam pelaksanaan upaya
paksa melalui penangkapan ini, ketentuan hukum acara yang ada dalam KUHAP maupun hukum
acara Undang-Undang lainnya, menjadi dasar SOP ini sebagai otorisasi operasional penyidik.
B. Tujuan
Tindakan penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara
waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan
penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal atau menurut cara yang diatur dalam
Undang-Undang.
Penangkapan merupakan rangkaian atau bagian dari penyidikan, untuk mencegah tersangka
menghilangkan barang bukti dan mencegah tersangka melarikan diri.
Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini dibuat sebagai standar atau panduan bagi Penyidik
dalam melakukan tindakan penangkapan terhadap tersangka sebagai langkah antisipasi terhadap
kemungkinan adanya kesalahan prosedur yang dapat mengakibatkan gugatan hukum atau halhal yang kontra produktif saat pelaksanaan penyidikan.
Standar Operasional Prosedur Penangkapan dirancang untuk terciptanya efektifitas dan efisiensi
terhadap penyidikan dan koordinasi baik dalam lingkungan internal Polri (penyidik, atasan penyidik
dan petugas penyimpan barang bukti) maupun dalam lingkungan eksternal yang berwenang.
C. Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini memuat petunjuk dan koordinasi meliputi
syarat yang harus dipenuhi, langkah-langkah penangkapan dalam rangkaian penyidikan, maupun
tertangkap. Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini dapat menjadi panduan bagi seluruh
Penyidik Polri.
D. Definisi
1.

Pengertian penangkapan dalam Standar Operasional Prosedur ini

adalah pengertian

penangkapan dalam KUHAP.


2.

Pengertian tertangkap tangan dalam Standar Operasional Prosedur ini adalah pengertian
tertangkap tangan dalam KUHAP.

E. Petunjuk dan Koordinasi


17

Tindakan penangkapan merupakan rangkaian proses penyidikan perkara yang termasuk dalam
kategori upaya paksa penyidik. Dalam proses kegiatan

penangkapan, penyidik

melakukan

berdasarkan ketentuan hukum yang ada di dalam KUHAP dan hukum acara lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan penangkapan melibatkan penyidik / petugas Kepolisian lainnya
maupun pihak di luar institusi Kepolisian antara lain penyidik pegawai negeri sipil, saksi, Kepala
Desa / Kepala Lingkungan, Penyedia Jasa Keuangan, Penyedia Barang dan Jasa lainnya,
Pengadilan Negeri, pemilik atau yang menguasai barang dan lain-lain.
Penangkapan dalam rangkaian kegiatan penyidikan
Syarat formal yang harus dipenuhi :
1) Dalam Surat Perintah Penangkapan harus mencantumkan dasar dilakukan penangkapan
yaitu :
a) Pasal 1 butir 2 KUHAP.
b) Pasal 1 butir 20 KUHAP.
c) Pasal 7 ayat (1) huruf d dan pasal 16 KUHAP.
d) Pasal 17 KUHAP.
e) Pasal 18 KUHAP.
f)

Pasal 19 KUHAP.

g) UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.


h) Undang-Undang yang dipersangkakan, yang sifatnya LezSpecialist penyidik harus
menyesuaikan dengan

hukum acara pada undang-undang tersebut. Contoh

Undang-Undang Narkotika dan

yaitu

Teroris yang mengatur berbeda dalam hal masa

penahanan, serta Undang-Undang ITE yang mengatur berbeda dalam hal mendapatkan
penetapan penahanan dari pengadilan, dan harus dilakukan dalam waktu 1x24 jam.
Untuk hal ini maka ijin penangkapan harus diminta kepada pihak Pengadilan sebelum
penangkapan dilakukan.
i)

Undang-Undang lain yang terkait.

j)

Laporan Polisi.

k) Surat Perintah Penyidikan.


l)

Surat Perintah Penggeledahan.

m) Surat Perintah Penyitaan.


n) Surat Perintah Tugas.
2) Penyidik membuat berita acara penangkapan dan surat pemberitahuan penangkapan dan
disampaikan kepada keluarga tersangka.
3) Petugas yang melaksanakan penangkapan adalah penyidik yang mendapat perintah dalam
Surat Perintah Penyidikan.
Syarat materiil yang harus dipenuhi :
Penangkapan dilakukan dengan mempertimbangkan persesuaian alat bukti, hasil
penyelidikan yang dianalisis dan menyimpulkan bahwa seseorang adalah tersangkanya dan
perlu dilakukan upaya paksa (penangkapan).

18

Langkah-langkah Penangkapan :
1) Sebelum penangkapan dilakukan, penyidik wajib melakukan gelar perkara dan melaporkan
kepada atasan Penyidik kegiatan penangkapan yang akan dilakukan;
2) Penyidik sebelum melakukan penangkapan agar melakukan briefing dan diskusi untuk
membahas kegiatan penangkapan termasuk menilai resiko yang mungkin berdasarkan
informasi, dan mendapatkan cara untuk meminimalisir resiko yang mungkin terjadi;
3) Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah Penangkapan yang sudah
disiapkan terlebih dahulu kepada orang yang akan ditangkap atau orang yang mempunyai
hubungan dengan tersangka atau pihak lain yang berada di TKP.
4) Penyidik, sedapat mungkin berkoordinasi dengan pihak terkait baik kepolisian setempat
termasuk pejabat setingkat RT/RW untuk menyampaikan kegiatan penangkapan yang
akan dilakukan;
5) Penyidik wajib memberikan peringatan agar tersangka bekerja sama untuk menyerahkan
diri secara baik- baik;
6) Penyidik setelah memberikan peringatan kepada tersangka untuk bekerjasama namun tidak
mendapat respon, maka langkah paksa secara terukur dan melindungi penyidik untuk
menangkap Tersangka segera dilakukan. Upaya paksa yang dilakukan sifatnya
melumpuhkan, dan dapat ditingkatkan dengan melihat penilaian resiko berkembang
dilapangan;
7) Penyidik melakukan identifikasi dan dokumentasi serta pemeriksaan kesehatan terhadap
tersangka yang ditangkap;
8) Setelah dilakukan penangkapan, Penyidik membuat Berita

Acara Penangkapan dan

permohonan penetapan penangkapan dari Pengadilan Negeri;


9) Setelah tersangka ditangkap, pada kesempatan pertama segera dilakukan pemeriksaan
dengan menggunakan berita acara pemeriksaan tersangka.
Terhadap penangkapan yang menemukan benda/barang bergerak maka dapat langsung
dilakukan penyitaan, sedangkan terhadap benda yang tidak bergerak tidak dilakukan penyitaan,
melainkan disegel / diblokir. Untuk penangkapan yang dilanjutkan dengan penyitaan bukti
digital, hal ini diatur dalam SOP khusus Subdit Fismondev. Demikian juga bahwa dalam
penyidikan cyber crime, metode penangkapan harus menghindarkan tersangka dari perangkat
IT yang digunakan untuk menjamin keaslian data dan informasi yang didapatkan pada
komputer dan menghindari terjadinya kerusakan barang bukti.
Hal-hal khusus dalam Penangkapan Tersangka
1) Setiap orang dapat yang menemukan tindak pidana dalam keadaan tertangkap tangan,
berhak menangkap tersangka, untuk kemudian segera melaporkan atau menyerahkan
tersangka tersebut beserta barang bukti yang ada kepada kesatuan Polri terdekat. Demikian
juga, Anggota Polri atau Penyidik yang menemukan tindak pidana dapat melakukan
penangkapan dan segara menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada Perwira siaga
atau Ka SPK dan diteruskan kepada Penyidik. Hal penting dalam hal ini adalah barang
bukti dari tindak pidana yang didapatkan tidak boleh tidak harus diserahkan kepada
Penyidik untuk disita.

19

2) Penangkapan atas dasar permintaan melalui Interpol dengan dilengkapi Surat permintaan
penangkapan yang dikeluarkan oleh negara peminta harus dikoordinasikan dengan pihak
terkait untuk kepastian hukum yang menjadi dasar otoritas penangkapan;
3) Penangkapan terhadap tersangka yang keberadaannya diluar yuridiksi Penyidik yang
melakukan penyidikan, dapat dilakukan oleh penyidik setempat dengan dilengkapi surat
perintah penangkapan dengan dasar surat perintah penangkapan yang diterbitkan oleh
Penyidik atau dasar surat DPO. Hal ini dapat juga dilakukan oleh penyidik yang menangani
dengan dibantu oleh penyidik setempat;
4) Penangkapan terhadap pejabat dan penyelenggara Negara harus mendapatkan ijin melalui
permintaan yang diajukan oleh penyidik, kepada Presiden untuk anggota DPR/MPR, DPD,
BPK, Menteri, Gubernur dan Deputy Gubernur BI, Gubernur, Bupati dan Walikota. Untuk
anggota DPR tingkat provinsi harus seijin Menteri Dalam Negeri. Untuk anggota DPR
setingkat kabupaten atas seijin Gubernur Kepala Daerah. Untuk Ketua dan Majelis Hakim,
permohonan kepada Mahkamah Agung RI, melalui Kapolda yang akan ditujukan kepada
Kabareskrim dan diteruskan oleh Jaksa Agung.

F. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) Penangkapan ini dibuat sebagai pedoman dan
panduan bagi penyidik / penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA
TTD

ASLI, SH
AKP NRP 80110618

20

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PENAHANAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A. Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu disusun standar operasional
prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan penahanan. SOP ini merupakan pedoman
bagi penyidik dalam melaksanakan tugas yang wajib dilaksanakan.
B. Tujuan
Tindakan penahanan merupakan rangkaian atau bagian dari penyidikan. Penahanan dilakukan
dengan mempertimbangkan alasan obyektif dan alasan subyektif, alasan obyektif adalah penahanan
dilakukan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana yang diancam hukuman lebih dari 5
(lima) tahun sesuai pasal 21 ayat (4) huruf a KUHAP atau terhadap pasal pengecualian yang diatur
dalam pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP, sedangkan alasan subyektif adalah adanya kekhawatiran
tersangka

melarikan

diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi

perbuatan pidana sesuai pasal 21 ayat (1) KUHAP. Penahanan adalah pengekangan kebebasan
seseorang, sehingga harus dilakukan dengan proses yang benar, kesalahan terhadap proses dapat
mengganggu proses penyidikan. Standar Operasional Prosedur penahanan ini dibuat sebagai standar
bagi Penyidik dalam melakukan tindakan penahanan dan sebagai langkah

antisipasi terhadap

adanya kesalahan prosedur yang mengakibatkan gugatan hukum. Standar Operasional Prosedur
penahanan

disusun

untuk

mengefektifkan koordinasi baik dalam lingkungan internal Polri

(Penyidik, Atasan penyidik dan pejabat rutan) maupun dalam lingkungan eksternal antara lain Jaksa
Penuntut Umum ,Pengadilan dan instansi terkait lainnya.
C. Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur Penahanan memuat petunjuk dan koordinasi meliputi syarat yang
harus dipenuhi dan langkahlangkah penahanan. Standar Operasional Prosedur Penahanan ini
berlaku bagi seluruh Penyidik Sat Resnarkoba Polres Gorontalo.
D. Definisi
1.

Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa ditempat tertentu oleh penyidik atau
Penuntut Umum atau Hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara diatur dalam
undang undang.

2.

Penangguhan Penahanan adalah ditundanya atau tidak dilanjutkannya seorang tersangka /


terdakwa baik dengan jaminan orang atau jaminan uang berdasarkan syarat-syarat lain yang
ditentukan.

3.

Pengalihan Jenis Penahanan adalah mengalihkan status penahanan dari jenis penahanan yang
satu kejenis penahanan yang lain oleh penyidik atau penuntut umum.

21

4.

Pembantaran penahanan adalah penundaan penahanan sementara terhadap tersangka karena


alasan kesehatan (memerlukan rawat jalan/rawat inap) yang dikuatkan dengan keterangan
dokter sampai dengan yang bersangkutan dinyatakan sembuh kembali.

5.

Pemindahan tempat penahanan adalah memindahkan tersangka dari rutan yang satu ke rutan
yang lain dengan pertimbangan - pertimbangan tertentu guna mempermudahkan penyelesaian
perkara.

6.

Penahanan lanjutan adalah menempatkan kembali tersangka yang pernah ditangguhkan


penahanannya dengan pertimbangan atau alasan tertentu kedalam Rumah Tahanan Negara guna
kepentingan penyidikan.

E . Petunjuk dan koordinasi


Tindakan penahanan merupakan salah satu bagian dari rangkaian penyidikan yang termasuk dalam
kategori upaya paksa penyidik. Dalam proses kegiatan penahanan, penyidik melakukan berdasarkan
ketentuan hukum yang ada dalam KUHAP dan ketentuan hukum lainnya. Dalam melaksanakan
kegiatan penahanan akan melibatkan penyidik / petugas kepolisian lainnya maupun pihak di luar
institusi kepolisian antara lain Jaksa Penuntut Umum, Pengadilan Negeri dan Pejabat Rutan.
1.

Penahanan di Rutan/Cabang Rutan


a.

Syarat yang harus dipenuhi


1) Dalam Surat Perintah Penahanan harus mencantumkan dasar dilakukan penahanan
yaitu :
a)

Pasal 1 butir 21 KUHAP

b) Pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 11, pasal 20, pasal 21, pasal 22 a yat (1) KUHAP.
c) UU R I No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
d) Undang Undang yang dipersangkakan.
e)

Undang Undang lain yang terkait;

f)

Laporan Polisi;

g)

Surat perintah penyidikan;

h)

Surat Perintah Tugas;

2) Penyidik membuat surat pemberitahuan penahanan tersangka

kepada

keluarga

tersangka/penasehat hukum;
3) Petugas yang melaksanakan penahanan adalah penyidik yang mendapat perintah
dalam surat perintah penahanan.
b. Langkah langkah penahanan di Rutan/Cabang Rutan :
1) Membuat Berita Acara penahanan sesaat segera setelah melakukan penahanan dan
ditanda tangankan kepada tersangka.
2) Membuat Berita Acara Penolakan tanda tangan, apabila tersangka menolak menanda
tangani Berita Acara Penahanan.
3) Menyerahkan Surat Perintah Penahanan disampaikan kepada tersangka untuk tanda
tangan.
4) Surat perintah Penahanan disampaikan kepada tersangka,

keluarga tersangka dan

pejabat rutan.
5) Meminta Dokter Tahanan untuk memeriksa kesehatan tersangka.
6)

Memfoto dan mengambik sidik jari tersangka.

7) Menyerahkan tersangka kepada pejabat rutan untuk dimasukkan ke dalam rutan,


22

dengan dituangkan dalam Berita Acara Penyerahan Tersangka.


8) Memberitahukan kepada keluarga tersangka/ penasehat hukum dengan surat resmi
dan tanda penerimaan surat.
2.

Perpanjangan penahan
Surat perintah penahanan yang diterbitkan kasatker selaku penyidik sebagaimana dimaksud
pasal 20 KUHAP berlaku paling lama 20 (dua puluh) hari.
Apabila selama 20 (dua puluh) hari penyidikannya belum selesai dan masih diperlukan
penahanan tersangka maka penyidik dapat meminta kepada JPU untuk menerbitkan Surat
Perpanjangan Penahanan yang berlaku paling lama 40 (empat puluh) hari dan apabila masih
belum selesai dan masih diperlukan penahanan tersangka maka penyidik dapat meminta
kepada

pengadilan Negeri untuk menerbitkan Surat Perpanjangan Penahanan yang berlaku

selama 30 (tiga puluh) hari dan perpanjangan penahanan dari pengadilan negeri dapat
diperpanjang kembali apabila diperlukan.
Langkah Langkah perpanjangan penahanan :
a.

Penyidik mengirimkan surat permintaan perpanjangan

penahanan

tersangka

kepada

Kejaksaan Negeri/Pengadilan Negeri dengan mencantumkan rujukan :


1)

Pasal 24 ayat (2) KUHAP

2) UU RI No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;


3)

Laporan Polisi;

4)

SPDP;

5) Surat Perintah penahanan;


Dan melampirkan :
1) Resume singkat;
2)

Laporan Polisi;

3) Surat Perintah penyidikan;


4) SPDP;
5)

Surat Perintah Penahanan;

6) Perpanjangan penahanan dari JPU ( untuk meminta

penetapan

dari Pengadilan

Negeri)
b.

Dengan dasar surat perintah perpanjangan dari JPU / penetapan penahanan dari Pengadilan
Negeri tersebut, maka penyidik dapat melakukan perpanjangan penahanan tersangka.

c.

Penyidik membuat surat pemberitahuan perpanjangan

penahanan kepada keluarga

tersangka atau penasehat hukum.


d.

Penyidik membuat berita acara perpanjangan penahanan dan ditanda tangankan kepada
tersangka.

e.

Membuat Berita Acara penolakan tanda tangan, apabila tersangka menolak menanda
tangani Berita Acara Perpanjangan penahanan.

f.

Menyerahkan surat perpanjangan penahanan kepada

tersangka, keluarga tersangka /

Penasehat hukum dan pejabat rutan.


g.

Memberitahukan kepada keluarga tersangka/penasehat hukum dengan surat resmi dan


tanda penerimaan surat.

3.

Pengalihan Jenis Penahanan


Dalam hal pemeriksaan terhadap tersangka telah selesai dan tidak dikhawatirkan akan

23

melarikan diri serta tidak menyulitkan dalam

pengawasannya, atau dalam hal kehadiran

tersangka sangat diperlukan oleh masyarakat karena profesi / keahliannya, maka terhadap
tersangka dapat dilakukan pengalihan penahanan.
Jenis penahanan dapat berupa : penahanan rutan, penahanan rumah, penahan kota.
a.

Persyaratan
1) Adanya pengajuan permohonan pengalihan jenis penahanan dari tersangka /
keluarganya / penasehat hukumnya yang diketahui oleh RT/RW/Kepala desa.
2) Wajib untuk melapor diri kepada penyidik selama menjalani penahanan.

b.

Langkah langkah pengalihan jenis penahanan :


1) Apabila kasatker mengabulkan permohonan tersangka/

keluarganya/penasehat

hukumnya, maka penyidik membuat :


a) Surat Perintah Pengalihan je nis pena hanan
b)

Berita Acara pengalihan jenis Penahanan

c)

Surat Keterangan Wajib lapor

d)

Resume Singkat

2) Penyidik menyerahkan surat perintah pengalihan jenis penahanan kepada tersangka


untuk ditanda tangani oleh tersangka dan penyidik.
3)

Penyidik menyerahkan surat perintah pengalihan jenis penahanan kepada tersangka,


keluarga tersangka dan pejabat rutan.

4) Kasatker menugaskan anggota untuk melakukan pengawasan terhadap tersangka.


4.

Pemindahan tempat penahanan


Dalam hal penyidikan berlangsung dan dibutuhkan tindakan untuk memindahkan penahanan
tersangka dari satu rutan ke rutan lain guna melancarkan penyidikan, maka penyidik dapat
melakukan pemindahan tempat penahanan, dengan langkah langkah sebagai berikut :
a.

Penyidik mempertimbangkan alasan pemindahan tempat penahanan.

b.

Pemindahanan tempat penahanan hanya dilakukan untuk

kepentingan penyidikan,

penuntutan dan peradilan yang cepat, mudah dan murah.


c.

Penyidik menempatkan keamanan dan keselamatan

tersangka

yang ditahan sebagai

prioritas utama
d.

Melakukan koordinasi dengan penyidik dari kesatuan lain yang mempunyai kaitan dengan
kasus tersebut.

e.

Menentukan waktu pemindahan tahanan.

f.

Menyerahkan tersangka dan menyelesaikan administrasi pemindahan tempat penahanan :


- Surat perintah tugas
- Surat Perintah penyerahan tersangka
- Berita acara penyerahan tersangka
- Surat Perintah Pemindahan tempat penahanan
- Berita Acara pemindahan tempat penahanan

g.
5.

Membuat laporan pelaksanaan tugas pemindahan tempat penahanan.

Pembantaran Penahanan
a.

Meminta Dokter untuk memeriksa kesehatan tersangka untuk memastikan tersangka masih
bisa ditahan atau tidak.

b.

Apabila kondisi tersangka tidak memungkinkan untuk

24

dilakukan

penahanan, maka

penyidik melakukan pembantaran agar tersangka dirawat/opname.


c.

Membuat surat perintah pembantaran dan berita acara pembantaran

d.

Selama masa perawatan/opname, penyidik melakukan

pengawasan

dan pengamanan

terhadap tersangka.
6.

Penangguhan penahanan
Penangguhan penahanan dapat dilakukan atas jaminan uang atau orang :
Jaminan Uang
a.

Membuat perjanjian antara penyidik dengan tersangka atau penasehat hukum dengan
mencantumkan uang jaminan dan syarat syarat lainnya.

b.

Pemohonan menyetorkan uang jaminan kepanitera Pengadilan Negeri dengan formulir


penyetoran yang dilakukan oleh penyidik

c.

Berdasarkan bukti setor uang, maka penyidik

mengeluarkan

surat

perintah

penangguhan penahanan.
Jaminan Orang
a.

Membuat perjanjian antara penyidik dengan tersangka atau penasehat hukum dengan
mencantumkan identitas penjamin, besarnya uang yang harus dijamin oleh penjamin
syarat syarat lainnya.

b.

Berdasarkan surat jaminan, maka penyidik mengeluarkan surat perintah penangguhan


penahanan.

7.

Penahanan Lanjutan
a. Membuat surat perintah penahanan lanjutan dan surat pemberitahuan penahanan lanjutan
kepada keluarga tersangka.
b.

Mengajukan surat perintah penahanan lanjutan dan surat pemberitahuan lanjutan


kepada keluarga tersangka

c.

Mencatat dalam register surat perintah penahanan lanjutan dan surat pemberitahuan
penahanan lanjutan kepada keluarga tersangka

d.

Melaksana kan penahanan lanjutan

e.

Membuat berita acara penahanan lanjutan ditanda tangankan kepada tersangka

f.

Membuat berita acara penolakan tanda tangan, apabila tersangaka menolak menanda
tangani berita acara penahanan lanjutan

g.

Menyerahakan surat perintah penahanan lanjutan kepada tersangka untuk ditanda tangani

h.

Surat Perintah penahanan lanjutan disampaikan kepada tersangka, keluarga tersangka dan
pejabat rutan

i.

Meminta Dokter untuk memeriksa tersangka

j.

Menyerahkan tersangka kepada pajabat rutan untuk dimasukkan kedalam rutan, dengan
dituangkan dalam berita acara penyerahan tersangka.

k.

Memberitahukan kepada keluarga tersangka / Penasehat hukum dengan surat resmi dan
tanda penerimaan surat.

8. Pengeluaran Tahanan
a.

Membuat Surat Perintah pengeluaran tahanan dan surat

pemberitahuan pengeluaran

tahanan kepada keluarga tersangka


b.

Mengajukan surat perintah pengeluaran tahanan dan surat pemberitahuan pengeluaran


25

tahanan kepada keluarga tersangka


c.

Mencatat dalam register surat

perintah pengeluaran tahanan dan surat pemberitahuan

pengeluaran tahanan kepada keluarga tersangka


d.

Melaksanakan pengeluaran tahanan

e.

Membuat Berita Acara pengeluaran tahanan dan ditanda tangankan kepada tersangka

f.

Membuat berita acara penolakan tanda tangan, apabila tersangka menolak menanda
tangani.

g.

Menyerahkan surat perintah pengeluaran tahanan kepada tersangka untuk ditanda tangani

h.

Surat Perintah pengeluaran tahanan disampaikan kepada terangka, keluarga tersangka dan
pejabat rutan

i.

Meminta Dokter untuk memeriksa tersangka

j.

Mengeluarkan tersangka dari Rutan

k.

Memberitahukan kepada keluarga tersangka / Penasehat hukum dengan surat resmi dan
tanda penerimaan Surat.

F. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) Penahanan ini dibuat sebagai pedoman dan
panduan bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA
TTD

ASLI, SH
AKP NRP 80110618

26

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PENGGELEDAHAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A.

Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar,

perlu disusun standar operasional

prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan Penggeledahan. SOP ini merupakan pedoman
bagi penyidik dalam melaksanakan tugas penggeledahan yang wajib untuk dilaksanakan.
Standar operasional ini merupakan panduan untuk menghindarkan penyidik terhadap hal-hal yang
kontra produktif yang dapat menghalangi kelancaran proses penyidikan. Dalam pelaksanaan upaya
paksa melalui penggeledahan ini, ketentuan hukum acara yang ada dalam KUHAP maupun hukum
acara Undang-Undang lainnya , menjadi dasar SOP ini sebagai otorisasi operasional penyidik

B. Tujuan
Tindakan penggeledahan merupakan rangkaian atau bagian dari penyidikan. Penggeledahan
dilakukan dengan pertimbangan untuk mencari barang bukti yang terkait dengan tindak pidana yang
terjadi untuk pembuktian dalam proses penyidikan, penuntutan, dan peradilan. Penggeledahan
dilaksanakan oleh penyidik/penyidik pembantu/penyelidik dengan berawal dari praduga bahwa
pada tempat tinggal, tempat

tertutup lainnya, pakaian, badan, atau tempat lain yang ada

hubungannya dengan tersangka guna mencari dan menemukan barang bukti yang berkaitan
dengan tindak pidana yang terjadi.
Pembuktian terhadap tindak pidana harus dilakukan dengan proses yang benar, kesalahan terhadap
proses dapat meruntuhkan pembuktian.
Standar Operasional Prosedur penggeledahan ini dibuat sebagai standar bagi penyidik/penyidik
pembantu/penyelidik dalam melakukan tindakan penggeledahan untuk mencari barang bukti dan
sebagai

langkah

antisipasi terhadap

kemungkinan adanya kesalahan Proses

yang

dapat

mengakibatkan gugatan hukum.


Standar Operasional Prosedur penggeledahan didesain untuk mengefektifkan koordinasi baik dalam
lingkungan Polri (penyidik/penyidik pembantu/penyelidik dan atasan penyidik) maupun dalam
lingkungan eksternal antara lain Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri.

C. Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur Penggeledahan membuat petunjuk dan koordinasi meliputi syarat
yang harus dipenuhi, langkah-langkah penggeledahan dalam rangkaian tindakan penyidik untuk
melakukan tindakan pemeriksaan dan atau penyitaan dan atau penangkapan dalam hal yang diatur
dalam KUHAP. Standar Operasional Prosedur penggeledahan ini berlaku bagi seluruh penyidik
Polri di wilayah Polres Gorontalo

27

D.

Definisi
1.

Pengertian

penggeladahan dalam Standar Operasional Prosedur ini

adalah pengertian

penggeledahan dalam KUHAP.


2.

Penggeledahan dalam Standar Operasional Prosedur ini adalah penggeledahan rumah,


penggeledahan pakaian maupun penggeledahan badan menurut tata cara yang ditentukan dalam
KUHAP.

3.

Pengertian penggeledahan rumah dalam Standar Operasional Prosedur ini adalah pengertian
penggeledahan rumah dalam KUHAP.

4.

Pengertian penggeledahan pakaian maupun penggeledahan badan dalam Standar Operasional


Prosedur ini adalah pengertian penggeledahan badan dalam KUHAP.

E. Petunjuk dan Koordinasi


Tindakan penggeledahan merupakan rangkaian proses pembuktian perkara yang termasuk dalam
kategori upaya paksa penyidik. Dalam proses kegiatan penggeledahan, penyidik melakukan
berdasarkan ketentuan hukum yang ada di dalam KUHAP dan hukum lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan penggeledahan akan melibatkan penyidik/penyidik pembantu dan
petugas Kepolisian lainnya maupun pihak diluar institusi Kepolisian antara lain saksi, Kepala Desa /
Kepala Lingkungan, penghuni rumah dan Pengadilan Negeri.

Penggeledahan rumah, halaman rumah dan tempat tertutup lainnya, pakaian dan badan
a.

Syarat formal yang harus dipenuhi :


1) Dalam Surat Perintah Penggeledahan harus

mencantumkan dasar dilakukan

penggeledahan yaitu :
a) Pasal 1 butir 17 dan 18 KUHAP merupakan penjelasan tentang apa yang dimaksud
penggeledahan;
b) Pasal 5 (1) huruf b pa sal 7 (1) huruf d pasal 11, pasal 32 dan pasal 37 KUHAP
mengatur

tentang kewenangan penyidik/penyidik pembantu dalam hal

penggeledahan.
c) Pasal 33 KUHAP mengatur tentang syarat dan tata cara penggeledahan.
d) Pasal 34 KUHAP mengatur tentang alasan penggeledahan tanpa izin dari Ketua
PN serta tindakan yang tidak diperkenankan.
e) Pasal 36 KUHAP mengatur tentang pelaksanaan penggeledahan rumah diluar
daerah hukum penyidik/penyidik pembantu.
f)

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik


Indonesia.

g) Undang-Undang yang dipersangkakan;


h) Undang-Undang lain yang terkait;
i)

Laporan Polisi;

j)

Surat Perintah Penyidikan;

k) Surat Perintah Tugas.


2) Petugas yang melaksanakan penggeledahan adalah penyidik yang mendapat perintah
dalam surat perintah penyidikan;
3)

Ijin penggeledahan dari Ketua Pengadilan Negeri.

4) Dalam keadaan luar biasa dan mendesak, penyidik dapat melakukan penggeledahan

28

tanpa lebih dulu mendapat surat izin dari Ketua Pengadilan Negeri, namun segera
sesudah penggeledahan, penyidik wajib meminta persetujuan Ketua Pengdilan Negeri
yang bersangkutan;
5) Penggeledahan yang secara khusus diatur oleh Undang-Undang yang mengharuskan
dimintakan izin lebih dulu kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat, maka
peyidik/penyidik pembantu terlabih dahulu memenuhi ketentuan dimaksud misalnya
Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan teknologi elektrik.
b.

Syarat materiil yang harus dipenuhi


Penggeledahan dilakukan dengan mempertimbangkan persesuaian alat bukti yang telah
ditemukan penyidik/penyidik pembantu meliputi keterangan saksi, keterangan ahli, surat,
petunjuk, keterangan tersangka dengan hasil olah TKP. Adapun bentuk-bentuk alat bukti
dimaksud meliputi

keterangan-keterangan yang diberikan saksi-saksi yang dituangkan

dalam berita acara pemeriksaan saksi, berita acara pemeriksaan ahli (pemeriksaan forensik),
petunjuk, berita acara pemeriksaan dan pengolahan TKP serta berita acara pemeriksaan
tersangka.
c.

Langkah-langkah penggeledahan
1) Penyidik menunjukan Surat Perintah Tugas, Surat Perintah Penggeledahan dan Surat
Izin Pengeledahan Rumah dari Ketentuan Pengadilan Negeri setempat kepada orang
yang akan digeledah atau orang yang menguasai tempat tertutup serta penyampaian
maksud bahwa akan dilakukan penggeledahan;
2) Penyidik menghadirkan 2 (dua) orang saksi selama penggeledahan, terhadap
penggeledahan yang tidak disetujui oleh tersangka

atau penghuni menghadirkan

Kepala Desa atau Ketua Lingkungan.


3) Bila menemukan barang bukti yang terkait tindak pidana disita, langsung diberikan
Surat Tanda Penerimaan (STP) dan dibuatkan berita acara penggeledahan dengan
blangko yang telah disiapkan.
4)

Melaporkan hasil pelaksanaan kepada atasan penyidik dan dibuatkan berita acara
penggeledahan.

5) Dalam penggeledahan hal tertangkap tangan tidak perlu Surat Perintah Penggeledahan
dan surat izin penggeledahan dari Ketentuan Pengadilan Negeri setempat, dua hari
setelah penggeledahan segera dibuatkan BA penggeledahan dan membuat surat
persetujuan tentang telah dilakukan penggeledahan kepada ketua Pengadilan Negeri.
Standar Operasional Prosedur tentang penggeledahan ini dikeluarkan untuk dijadikan pedoman
didalam pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana.
Ketentuan terdahulu yang bertentangan dengan Standar Operasional Prosedur ini agar dilakukan
penyesuaian seperlunya.
Format administrasi penyidikan berpedoman kepada Buku Petunjuk Administrasi yang berlaku.

29

G. Penutup
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan bagi
penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA

TTD
ASLI, SH
AKP NRP 80110618

30

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PENYITAAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A. Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu

disusun standar operasional

prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan penyitaan barang bukti. SOP ini merupakan
pedoman bagi penyidik dalam melaksanakan tugas.
B. Tujuan
Tindakan penyitaan merupakan rangkaian atau bagian penyidikan. Penyitaan dilakukan
pertimbangan diperlukannya

barang bukti terkait

dengan tindak pidana yang terjadi untuk

pembuktian kasus dan sebagai persyaratan kelengkapan berkas perkara guna pembuktian dalam
proses penyidikan, penuntutan dan peradilan. Pembuktian terhadap tindak pidana harus dilakukan
dengan proses yang benar, kesalahan terhadap proses dapat meruntuhkan pembuktian. Standar
operasional prosedur penyitaan ini dibuat sebagai standar bagi penyidik dalam melakukan
tindakan penyitaan terhadap barang bukti dan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkianan
adanya kesalahan proses yang dapat mengakibatkan gugatan hukum. Standar operasional prosedur
penyitaan didesain untuk mengefektifkan koordinasi baik

didalam lingkungan internal polri

(Penyidik, atasan penyidik dan petugas penyimpan barang bukti) maupun dalam lingkungan
eksternal antara lain Pengadilan Negeri, penyedia jasa keuangan, penyedia barang dan jasa lainya
serta instansi lain yang terkait.
C. Ruang lingkup
Standar operasional prosedur penyitaan memuat petunjuk dan koordinasi meliputi syarat yang harus
dipenuhi, langkah-langkah penyitaan dalam rangkaian penggeledahan, penangkapan tertangkap
tangan telah ditentukan oleh penyidik dalam rangkaian pemblokiran harta kekayaan ,terhadap
benda tidak bergerak dan penyimpanan benda sitaan, standar operasional penyitaan ini berlaku
bagi penyidik polri di seluruh wilayah Polres Gorontalo.
D. Definisi
1.

Pengertian penyitaan dalam standar prosedur ini adalah pengertian penyitaan dalam KUHAP.

2.

Penggeledahan

dalam

standar prosedur

ini

adalah

penggeledahan

rumah,

maupun

penggeledahan badan serta pakaian.


3.

Pengertian penangkapan dalam standar operasional ini adalah penangkapan dalam KUHAP.

4.

Pengertian tertangkap tangan dalam standar operasional prosedur ini adalah tertangkap tangan
dalam KUHAP.

5.

Penyedia jasa keuangan adalah setiap orang yang menyediakan jasa dibidang keuangan atau
jasa lainnya yang terkait dengan keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada Bank, lembaga

31

Pembiayaan, perusahaan efek, pengelola reksa dana, kostodian, wali amanat, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, pedagang Valuta asing, dana pension, perusahaan asuransi, dan
kantor pos.
6.

Penyegelan adalah suatu tindakan guna mempertahankan suatu

barang atau benda sitaan

dengan menggunakan garis polisi atau segel.


7.

Pemblokiran adalah suatu tindakan dimana suatu rekening, sertipikat, situs dan lain-lain untuk
dicegah melakukan kegiatan.

8.

Benda yang dapat dilakukan penyitaan meliputi benda atau tagihan tersangka atau terdakwa
yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak pidana, benda yang digunakan secara
langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya, benda yang
dipergunakan untuk menghalang halangi penyidikan tindak pidana, benda yang khusus atau
diperuntukan melakukan tindak pidana dan benda lain yang mempuanyai hubungan langsung
dengan tindak pidana yang dilakukan.

9.

Benda bergerak adalah kebendaan yang karena sifatnya dapat berpindah atau dipindahkan atau
oleh Undang-undang dianggap sebagai benda bergerak.

10. Benda tidak bergerak adalah kebendaan yang karena sifatnya tidak

dapat berpindah atau

dipindahkan atau karena undang-undang dianggap sebagai benda tidak bergerak.


E. Petunjuk dan koordinasi.
Tindakan penyitaan merupakan rangkaian proses pembuktian perkara

yang termasuk dalam

kategori upaya paksa penyidik. Dalam proses kegiatan penyitaan, penyidik melakukan berdasarkan
ketentuan hukum yang ada dalam KUHAP dan hukum lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan penyitaan akan melibatkan

penyidik/petugas kepolisian lainnya

maupun pihak luar institusi Kepolisian antara lain saksi, Kepala desa/Kepala lingkungan, Penyedia
jasa keuangan, Penyedia barang dan jasa lainnya, Pengadilan Negeri, Pemilik atau yang menguasai
barang.
1.

Penyitan dalam rangkaian kegiatan penggeledahan


a.

Syarat yang harus dipenuhi:


1) Syarat formil:
(a) Dalam surat perintah penyitaan harus mencantumkan dasar dilakukan penyitaan
yaitu :
(1) Pasal 1 butir 16 KUHAP;
(2) Pasal 5 ayat (1) huruf B angka 1, pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 14, pasal 40,
pasal 41 dan pasal 42 KUHAP;
(3) UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
(4) Undang-Undang yang di persangkakan;
(5) Undang-Undang lain yang terkait;
(6) Laporan Polisi;
(7) Surat perintah penyidikan;
(8) Surat perintah tugas.
(b) Penyidik membuat surat tanda penerimaan;
2) Syarat materill :
(a) Petugas yang melaksakan penyitaan adalah penyidik yang mendapat perintah
dalam surat Perintah Penyidik.
32

(b) Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai
hasil dari tindak pidana, benda yang telah digunakan secara
melakukan tindak pidana atau untuk

langsung untuk

mempersiapkannya, benda yang

dipergunakan untuk menghalang - halangi penyidikan tindak pidana, benda yang


khusus atau diperuntukan melakukan tindak pidana, dan benda lain yang
mempunyai hubungan langsung dengan tindak

pidana yang dilakukan, yang

bersesuaian dengan keterangan tersangka, saksi atau alat bukti lain.


b.

Langkah-langkah penyitaan :
1) Penyidik menunjukan surat perintah tugas dan surat penggeledahan kepada orang yang
akan digeledah atau orang yang menguasai tempat tertutup;
2) Penyidik menghadirkan 2 (dua) orang saksi selama penggeladahan, terhadap
penggeledahan yang tidak disetujui oleh tersangka atau penghuni menghadirkan
kepala desa atau kepala lingkungan;
3) Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta jenis benda/barang yang akan
disita dengan di saksikan oleh 2 (dua) orang saksi;
4) Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam surat Tanda Penerimaan (STP);
5) Penyidik mendokumentasikan benda/barang yang di sita;
6) Penyidik memasukan barang yang disita ke dalam kantong barang bukti yang disegel,
terhadap barang/benda yang tidak dimasukan dalam kantong di segel;
7) Peyidik memberikan Surat Tanda Penerimaan kepada pemilik/yang menguasai
benda/barang sitaan;
8) Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita acara Penyitaan dan permohonan
penetapan penyitaan dari Pengadilan Negeri. Terhadap penggeledahan yang
menemukan benda/barang bergerak maka dapat langsung dilakukan penyitaan, sedang
terhadap benda tidak bergerak tidak dilakukan penyitaan, melainkan di segel/blokir.

c.

Langkah penyimpanan benda sitaan :


1) Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpanan barang bukti (Sat tahti);
2) Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan petugas penyimpanan
barang bukti dan di buatkan Berita acara serah terima.

2.

Penyitaan dalam rangkaian kegiatan penangkapan


a.

Syarat yang harus dipenuhi :


1) Syarat formil :
(a) Dalam Surat Perintah Penyitaan harus mencantumkan dasar dilakukan penyitaan
yaitu :
(1) Pasal 1 butir 16 KUHAP;
(2) Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 14, pasal 40,
pasal 41 dan pasal 42 KUHAP;
(3) UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
(4) Undang-Undang yang dipersangkakan;
(5) Undang-Undang lain yang terkait;
(6) Laporan Polisi;
(7) Surat Perintah Penyidikan;
(8) Surat Perintah Tugas.

33

(b) Penyidik membuat Surat Tanda Terima.


2) Syarat Materil :
(a) Petugas yang melakukan penyitaan adalah penyidik yang mendapat surat Perintah
penyidikan.
(b) Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari

tindakan pidana atau

sebagai hasil dari tindak pidana, benda yang telah digunakan secara langsung
untuk melakukan tindak pidana atau

untuk mempersiapkannya, benda yang

dipergunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana, benda yang


khusus atau diperuntukan

melakukan tindak pidana, dan benda lain yang

mempunyai hubungan langsung dengan tindak

pidana yang dilakukan yang

bersesuaian dengan keterangan tersangka, saksi atau alat bukti lain.


b. Langkah-Langkah Penyitaan :
(1) Penyidik menunjukan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah Penangkapan kepada
tersangka;
(2) Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta jenis benda/barang yang akan
disita dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi;
(3) Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda Penerimaan (STP);
(4) Penyidik mendokumentasikan benda/barang yang disita. Penyidik memasukkan benda
sitaan kedalam kantong barang bukti dan disegel;
(5) Penyidik memasukkan barang yang disita kedalam kantong barang bukti yang disegel,
terhadap barang/benda yang tidak dapat dimasukkan dalam kantong disegel;
(6) Penyidik memberikan Surat Tanda Penerimaan kepada tersangka yang memiliki atau
menguasai benda/barang sitaan;
(7) Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita Acara Penyitaan dan permohonan
penetapan penyitaan dari Pengadilan Negeri.
c. Penyimpanan benda sitaan :
1) Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpan barang bukti (Kasat Tahti)
2)

Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan petugas penyimpan


barang bukti dan dibuatkan Berita Acara Serah Terima

3.

Penyitaan dalam rangkaian kegiatan tertangkap tangan


a.

Syarat yang harus dipenuhi :


1) Penyidik membuat Surat Tanda Penerimaan;
2) Penyidik membuat Berita Acara Serah Terima Barang Bukti.

b.

Langkah-langkah penyitaan :
1) Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta jenis benda/barang yang akan
disita dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi;
2) Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda Penerimaan (STP);
3) Penyidik mendokumentasikan benda /barang yang disita;
4) Penyidik memasukkan barang yang disita dalam kantong barang bukti yang disegel,
terhadap barang/benda yang tidak dapat dimasukkan dalam kantong disegel;
5) Penyidik memberikan Surat Tanda Penerimaan kepada tersangka selaku pemilik/yang
menguasai benda/barang sitaan;
6) Penyidik menyerahkan Berita Acara Serah Terima

34

Barang Bukti apabila yang

menangkap tangan bukan Penyidik;


7) Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita Acara Penyitaan dan permohonan
penetapan penyitaan dari Pengadilan Negeri.
c. Langkah Penyimpanan benda sitaan :
1) Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpan barang bukti (Kasat Tahti);
2)

Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan petugas penyimpan


barang bukti dan dibuatkan Berita Acara Serah Terima.

4.

Penyitaan terhadap barang bukti yang sudah diketahui/ditentukan oleh penyidik


a.

Syarat yang harus dipenuhi :


1) Syarat Formil :
(a) Terhadap barang bukti benda tidak bergerak memerlukan Surat Izin/Surat Izin
Khusus Penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri setempat.
(b) Membuat Surat Perintah Penyitaan harus mencantumkan dasar dilakukan
penyitaan yaitu :
(1) Pasal 1 butir 16 KUHAP;
(2) Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 14, pasal 40,
pasal 41 dan pasal 42 KUHAP;
(3) UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
(4) Undang-Undang yang dipersangkakan;
(5) Undang-Undang lain yang terkait;
(6) Laporan Polisi;
(7) Surat Perintah Penyidikan;
(8) Surat Perintah Tugas;
(9) Surat izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri
setempat.
(c) Penyidik membuat Surat Tanda Penerimaan ;
2) Syarat Materil :
(a)

Petugas yang melaksanakan penyitaan adalah penyidik yang mendapat perintah


dalam Surat Perintah penyidikan.

(b) Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari tindakan pidana atau
sebagai hasil dari tindak pidana, benda yang telah dipergunakan secara langsung
untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya, benda yang
dipergunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana, benda.
yang khusus atau diperuntukan melakukan tindak pidana, dan benda lain yang
mempunyai hubungan langsung dengan tindak

pidana yang dilakukan yang

bersesuaian dengan keterangan tersangka, saksi atau alat bukti lain.


b.

Langkah-langkah Penyitaan :
1) Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah Penyitaan kepada
orang yang memiliki atau orang yang menguasai barang bukti yang akan disita;
2) Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta jenis benda/barang yang akan
disita dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi;
3)

Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda Penerimaan (STP);

35

4) Penyidik mendokumentasikan benda/barang yang disita;


5)

Penyidik memasukkan barang yang disita dalam kantong barang bukti yang disegel,
terhadap barang/benda yang tidak dapat dimasukkan dalam kantong disegel;

6) Penyidik memberikan Surat Tanda Penerimaan kepada Pemilik/yang menguasai


benda/barang sitaan;
7) Penyidik membuat Berita Acara Penyitaan.
c.

Penyimpanan benda sitaan


1) Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpan barang bukti (Kasat Tahti);
2)

Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan petugas penyimpan


barang bukti dan dibuatkan Berita Acara Serah Terima.

5.

Penyitaan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari pemblokiran harta kekayaan
a.

Syarat yang harus dipenuhi :


1) Syarat Formil :
(a) Memerlukan Surat Izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua Pengadilan
Negeri setempat.
(b) Membuat surat perintah penyitaan harus mencantumkan dasar dilakukan penyitaan
yaitu :
(1) Pasal 1 butir 16 KUHAP;
(2) Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 14, pasal 40,
pasal 41 dan pasal 42 KUHAP;
(3) UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
(4) Undang-Undang yang dipersangkakan;
(5) Undang-Undang lain yang terkait;
(6) Laporan Polisi;
(7) Surat Perintah Penyidikan;
(8) Surat Perintah Tugas;
(9) Surat izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri
setempat.
(10) Penyidik membuat Berita Acara Penitipan dan Perawatan Barang Bukti
2) Syarat Materil :
(a) Petugas yang melaksanakan penyitaan adalah penyidik yang mendapat perintah
dalam Surat Perintah penyidikan.
(b) Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai
hasil dari tindak pidana, benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk
melakukan tindak

pidana atau

untuk mempersiapkannya, benda yang

dipergunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana, benda yang


khusus atau diperuntukan

melakukan tindak

pidana, dan benda lain yang

mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan yang


bersesuaian dengan keterangan tersangka, saksi atau alat bukti lain.
b.

Langkah-langkah penyitaan :
1) Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah Penyitaan kepada
pihak Penyedia Jasa Keuangan tempat harta kekayaan berada;
2) Penyidik mengkoordinasikan dengan pihak penyedia jasa keuangan bahwa setelah

36

dilakukan penyitaan, harta kekayaan yang telah disita akan dititipkan atau tetap berada
dipihak Penyedia Jasa Keuangan;
3)

Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita Acara;

4) Penyidik memberikan salinan Berita Acara Penitipan dan Perawatan Barang Bukti
kepada pihak Penyedia Jasa Keuangan.
6.

Langkah penyitaan terhadap benda tidak bergerak


a.

Syarat yang harus dipenuhi


1) Syarat Formil :
(a) Surat Izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri setempat.
(b) Membuat surat perintah penyitaan harus mencantumkan dasar dilakukan penyitaan
yaitu :
(1) Pasal 1 butir 16 KUHAP;
(2) Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 14, pasal 40,
pasal 41 dan pasal 42 KUHAP;
(3) UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
(4) Undang-Undang yang dipersangkakan;
(5) Undang-Undang lain yang terkait;
(6) Laporan Polisi;
(7) Surat Perintah Penyidikan;
(8) Surat Perintah Tugas;
(9) Surat izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri
setempat;
(10) Penyidik membuat Surat Tanda Penerimaan;

2)

Syarat Materil :
(a)

Petugas yang melaksanakan penyitaan adalah penyidik yang mendapat perintah


dalam Surat Perintah Penyidikan;

(b)

Memasang plang penyitaan sesuai Surat Izin/Surat Izin Khusus dari Pengadilan
Negeri setempat;

(c) Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai
hasil dari tindak pidana, dan benda lain yang mempunyai hubungan langsung .
dengan tindak pidana yang dilakukan yang bersesuaian dengan keterangan
tersangka, saksi atau alat bukti lain.
b.

Langkah-langkah penyitaan
1) Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah Penyitaan kepada
orang yang memiliki atau menguasai barang bukti yang akan disita;
2) Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda Penerimaan (STP);
3) Penyidik menyegel benda yang disita dan memasang Plang penyitaan dengan posisi
yang mudah terlihat.
4) Penyidik memberikan Surat Tanda Penerimaan kepada pemilik/yang menguasai
benda/barang sitaan;
5) Penyidik mendokumentasikan benda yang disita;
6) Penyidik membuat Berita Acara Penyitaan.

37

F. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan bagi
penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan

Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA
TTD

ASLI, SH
AKP NRP 80110618

38

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


GELAR PERKARA
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

I.

PENDAHULUAN
1.

Umum.
a.

Penyidikan tindak pidana sebagai salah satu tahap dari

penegakan hukum harus

dilakukan berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


b.

Merupakan sarana pengawasan dan pengendalian, gelar perkara mempunyai fungsi


untuk kepentingan pertanggung jawaban managemen bagi Kepala Kesatuan di satu
sisi dan kepentingan pertanggungjawaban teknis / taktis serta juridis

bagi atasan

Penyidik dan Penyidik Pembantu.


c.

Penyidikan mengalami hambatan dalam proses penyidikan

maka dilakukan gelar

perkara untuk membedah perkara guna menentukan langkah-langkah penyidikan


selanjutnya.
2.

Dasar.
a.

Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

b.

Perkap No. 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan

Pengendalian Penanganan

Perkara Pidana Di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.


3.

Maksud dan tujuan


a.

Maksud
Maksud pembuatan Standar Operasional Prosedural (SOP) Gelar Perkara ini sebagai
pedoman dan petunjuk untuk para Penyidik dan Penyidik Pembantu dalam
melaksanakan

tugas penyidikan tindak pidana sehingga

diperoleh

keseragaman

tentang kegiatan-kegiatan pokok yang harus dilaksanakan.


b.

Tujuan
1) Untuk mewujudkan keterpaduan intern dan ekstern dan menuntaskan penanganan
perkara yang terjadi.
2) Merupakan alat kontrol terhadap Para Penyidik / Penyidik Pembantu agar tetap
dinamis dan

seimbang

dalam

koridor batas kewenangan sesuai

aturan

perundang-undangan yang ada.


4.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam Gelar Perkara meliputi Persyaratan-persyaratan dalam Gelar Perkara,
Jenis perkara, Pejabat yang berwewenang menyelenggarakan gelar, Peserta gelar,
Pelaksanaan gelar dan laporan setelah gelar.

39

5.

Pengertian Gelar Perkara


Gelar Perkara adalah upaya Penyidik/Penyidik Pembantu berupa bedah perkara dan tindakan
Penyidik/Penyidik Pembantu dalam rangka percepatan penyelesaian proses penyidikan.

II.

PERSYARATAN
1.

Jenis Perkara.
Jenis perkara yang digelar adalah :
a.

Ada masalah yang dihadapi oleh penyidik :


1) Penyidik / Penyidik Pembantu menghadapi kesulitan atau ragu dalam :
a) Menentukan apakah perkara merupakan tindak pidana atau bukan (twilight).
b) Menentukan pasal, UU yang dipersangkakan.
c) Melakukan tindakan/upaya paksa terhadap

tersangka atau

barang

bukti

(penggeledahan, penyitaan, penangkapan, penahanan dan peningkatan status


saksi menjadi tersangka).
2) Proses penyidikan telah berlangsung lama/waktunya berlarut-larut (lebih dari 3
bulan) tanpa kemajuan.
3) Proses penyidikan memasuki tahapan penting atau kritis dari tahap penyelidikan
ke tahap penindakan

dan pemeriksaan atau tahap penyelesaian dan penyerahan

Berkas Perkara atau Penyidikan akan dihentikan/dilanjutkan kembali.


4) Perkara yang disidik juga disidik oleh Penyidik dari Kesatuan / Instansi lain yang
juga memiliki kewenangan.
5) Gelar Perkara dilaksanakan terhadap semua berkas perkara yang ditangani yakni
pada saat awal menerima Laporan Polisi, sebelum dilakukan upaya paksa dan
sebelum menaikan status saksi menjadi tersangka.
b.

Perkara yang berbobot


1) Pembuktian perkara cukup sulit dan rumit
2) Perkara terkait berbagai Aspek / kebijakan atau kepentingan Negara / Instansi,
hubungan antar

Negara / Dunia Internasional, kepentingan lembaga tertentu

(Politik, Ekonomi, Sosial, Agama, Pertanahan).


3) Perkara melibatkan tokoh penting / mempunyai pengaruh luas di masyarakat.
4) Tersangka merupakan Warga Negara Asing atau

tunduk pada Undang-undang

Hukum acara di luar Peradilan Umum.


c.

Komplain masyarakat
Adanya Komplain masyarakat terhadap tindakan Penyidik / Penyidik Pembantu yang
menangani perkara dan kuat dugaan terjadi penyimpangan teknis / taktis dan atau
kekeliruan penerapan pasal Undang-undang dalam penyidikan.

d.

Putusan Pengadilan
Adanya Putusan Pengadilan yang menyatakan tindakan penyidik / Penyidik Pembantu
tidak syah.

40

2.

Penggelar
a.

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara.

b.

Atasan Penyidik/Penyidik Pembantu.

c.

Kepala Kesatuan yang sekarang secara Struktural membawahi Penyidik / Penyidik


Pembantu.

3.

Peserta Gelar Perkara.


Peserta gelar yang berhak menghadiri Gelar Perkara disesuaikan dengan kepentingan dan
kebutuhan.
a.

Polri (Intern).
1) Kepala Kesatuan atau pejabat yang mewakili/ditunjuk.
2) Atasan Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara bertindak selaku
pimpinan Gelar Perkara.
3) Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara sebagai pemapar.
4) Irwasda
5) Propam
6) Bidkum
7) Notulen yang bertugas mencatat semua kegiatan dan tanya jawab Gelar Perkara.

b.

Instansi di luar Polri (Ekstern).


1) Pimpinan dan pejabat-pejabat tertentu dalam rangka Criminal Justice System (CJS).
2) Pejabat-pejabat tertentu lainnya yang ada

hubungannya dengan pemeliharaan

keamanan.
Peserta Gelar Perkara harus terpilih dan dapat dipercaya tidak mempunyai hubungan
kepentingan dengan pihak-pihak yang terlibat di dalam perkara.
4.

Pimpinan dan Penanggung jawab.


Penyelenggaraan Gelar Perkara dipimpin oleh Kepala Kesatuan, sedang tanggung jawab
penyelenggaraan Gelar Perkara secara fungsional

berada pada

Kasat Resnarkoba

/Pawasdik.

III. PELAKSANAAN GELAR PERKARA.


1.

Sebelum pelaksanaan.
a.

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara

menyusun dan mengajukan

rencana gelar perkara kepada yang bertugas mengatur Gelar Perkara (Pawasdik).
b.

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara

menyiapkan bahan/materi

paparan Gelar Perkara.


c.

3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan,

para Peserta telah

menerima undangan Gelar

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara

menentukan Notulen yang

Perkara.
d.

bertugas mencatat lengkap semua kegiatan Gelar Perkara.


2.

Saat pelaksanaan.
a.

Pembukaan.

b.

Paparan Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara.

c.

Pembahasan / Diskusi.

d.

Kesimpulan dan Penutup.

41

Gelar perkara yang diminta oleh Satuan lain (Mabes Polri, Polda, Propam, Binkum dan
Irwasda)pelaksanaannya atas permintaan secara tertulis dan harus didampingi oleh Atasan
Penyidik atau Pawasdik.
3.

Laporan Setelah Gelar Perkara.


a.

Notulen menyusun laporan pelaksanaan Gelar Perkara dengan melampirkan catatan


notulen, copy/materi paparan Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara,
kesimpulan dan rekomendasi hasil Gelar Perkara serta daftar hadir peserta.

b.

Laporan Gelar Perkara setelah ditanda tangani oleh Pimpinan Gelar, Notulen

dan

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara kemudian disampaikan kepada


Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara untuk dilaksanakan.
IV. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan bagi
penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan

Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA

TTD
ASLI, SH
AKP NRP 80110618

42

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


SURAT PEMBERITAHUAN PERKEMBANGAN HASIL PENYIDIKAN (SP2HP)
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

I.

PENDAHULUAN
1.

Umum
a. Harus disadari bahwa proses penyidikan yang dilaksanakan oleh penyidik Polri selama
ini dirasakan masih jauh dari harapan masyarakat, hal ini ditandai dengan masih
adanya komplain atau pengaduan terhadap terjadinya penyalah- gunaan

wewenang,

keterlambatan penyelesaian perkara dan sebagainya. Kondisi seperti ini merupakan salah
satu indikator belum dapat diwujudkannya kepastian hukum dan pelayanan Polri yang
belum memenuhi harapan masyarakat;
b.

Sejalan dengan era globalisasi dan transparansi (keterbukaan informasi publik),


kecendrungan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kinerja Polri, maka
Polri dalam hal ini penyidik dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan
(profesionalisme)

dan

mereformasi

birokrasi dalam

proses

penyidikan

untuk

membangun kepercayaan masyarakat (trust building);


c.

Untuk mengimplementasikan Program Kerja Akselerasi Tranformasi Polri menuju Polri


yang mandiri, profesional dan dipercaya masyarakat, maka Direktorat Reserse Narkoba
Polda Gorontalo dan jajarannya dituntut untuk segera merubah mindset dan perilaku
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan dari yang selama ini
terkesan dilakukan dengan cara pendekatan kekuasaan (minta dilayani) menjadi
pendekatan yang sifatnya pro-aktif (melayani) sehingga pada gilirannya akan terbangun
kepercayaan ( trust building ) masyarakat terhadap kinerja Polri khususnya Resnarkoba;

d. Dalam upaya percepatan membangun dan meraih kepercayaan masyarakat tersebut,


serta dalam rangka mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis, Kapolri telah
merumuskan kebijakan dalam bentuk Reformasi Birokrasi dengan me-launching Program
Quick Wins Fungsi Reskrim yaitu : PEMBERIAN PELAYANAN KEPADA PIHAK
YANG

SEDANG

MEMPERJUANGKAN

KEADILAN

DALAM

PROSES

PENYIDIKAN SECARA BERKESINAMBUNGAN MELALUI PEMBERIAN SURAT


PEMBERITAHUAN PERKEMBANGAN HASIL PENYIDIKAN (SP2HP).
Sebagai konsekwensi dari ditetapkannya Program Unggulan Quick Wins tersebut, maka
setiap

proses penyidikan dimulai sejak diterimanya Laporan Polisi sampai dengan

Pelimpahan Berkas

Perkara

ke

JPU

harus dilaksanakan secara profesional,

proporsional, obyektif dan transparan yang kesemua

kegiatannya tergambar dalam

strive for excellence (pelayanan kepada masyarakat yang unggul / prima);

43

e.

Guna kelancaran pelaksanaan dari Program Quick Wins melalui penerbitan SP2HP,
Olah TKP dan Penanggulangan Teror oleh Fungsi Reskrim dalam setiap proses
penyidikan diperlukan pedoman bagi

para penyidik/penyidik

pembantu di seluruh

jajaran Sat Resnarkoba Polres Gorontalo.

2.

Dasar
a.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;

b.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian R.I;

c.

Keputusan Kapolri No.Pol.: Kep / 37 / X / 2008 tanggal 27 Oktober 2008 tentang


Program Kerja Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri yang Mandiri, Profesional dan
Dipercaya Masyarakat;

d.

Surat Telegram Kabareskrim Polri No. Pol.: STR/33/RA/I/2009 tanggal 14 Januari 2009
tentang Mekanisme dan Tahapan Pemberian Pelayanan kepada pihak yang sedang
memperjuangkan Keadilan dalam Proses Penyidikan melalui SP2HP.

3.

Maksud dan Tujuan


a.

Maksud
Maksud penyusunan buku ini adalah sebagai pedoman bagi para penyidik/penyidik
pembantu dalam mememberikan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan selama
proses penyidikan atas perkara yang dilaporkan dengan menginformasikan setiap tahap
perkembangan hasil penyidikan yang telah dilakukan melalui pengiriman SP2HP.

b. Tujuan
Terwujudnya mekanisme penyidikan yang profesional, proporsional, obyektif, transparan
dan akuntabel serta tidak diskriminatif sehingga dapat memberikan jaminan adanya
kejelasan dan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berperkara.

4.

Ruang Lingkup
Pedoman pelaksanaan program quick wins ini meliputi petunjuk tentang tata cara pemberian
surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP)kepada pelapor/korban yang
harus dilakukan oleh para penyidik/penyidik pembantu sesuai tahapan-tahapan dan waktu
yang telah ditetapkan.

5.

Asas-asas dan pengertian-pengertian


a.

Asas- asas
1) legalitas, yaitu

setiap tindakan penyidikan senantiasa berdasarkan peraturan

perundang-undangan;
2) proporsional,

yaitu

setiap

penyidik melaksanakan tugasnya sesuai legalitas

kewenangannya masing-masing;
3) kepastian hukum, yaitu setiap tindakan penyidik dilakukan untuk menjamin tegaknya
hukum dan keadilan;
4) kepentingan umum, yaitu setiap penyidik Polri lebih mengutamakan kepentingan
umum dari pada kepentingan pribadi dan/atau golongan;

44

5) efektifitas dan efisiensi waktu penyidikan, yaitu dalam proses penyidikan, setiap
penyidik wajib menjunjung tinggi efektivitas dan efisiensi waktu penyidikan
sebagaimana diatur dalam peraturan-pratuaran / perkap Kapolri yang berlaku;
6) kredibilitas, yaitu setiap penyidik memiliki kemampuan dan ketrampilan yang prima
dalam melaksanakan tugas penyidikan;
7) transparan yaitu, setiap tindakan penyidik memperhatikan asas keterbukaan dan
bersifat informatif bagi pihak-pihak terkait;
8) akuntabilitas yaitu, setiap penyidik dapat memper tanggung jawabkan tindakannya
secara yuridis, administrasi dan tehknis.
b.

Pengertian-pengertian
1) Cepat yaitu pelapor/pengadu terlayani dengan segera dan profesional sesaat setelah
menyampaikan laporannya dengan kretaria sebagai berikut :
a)

adanya kesigapan, kesiapan, dan sikap proaktif dalam melakukan pelayanan


kepada masyarakat yang menyampaikan laporan/pengaduan;

b)

penyidik segera membuatkan laporan polisi dan memberikan surat tanda bukti
laporan (STBL) kepada pelapor;

c)

penyidik segera mendatangi TKP untuk laporan kasus yang memerlukan olah
TKP;

d)

penyidik segera memeriksa pelapor/saksi yang ada dan dituangkan kedalam


BAP;

e)

penyidik melakukan penelitian terhadap laporan yang diterima untuk


menentukan status laporan tersebut;

f)

atasan penyidik segera mengirimkan SP2HP kepada pelapor mengenai status


laporan, identitas penyidik yang menangani dan rencana tindak lanjut proses
laporan tersebut.

2) Tepat yaitu segala upaya/tindakan yang dilakukan penyidikan didasari profesional,


proporsional, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dengan kreteria sebagai
berikut :
a)

tindakan penyidikan yang terarah dan terukur didasari 3T (tepat sasaran, tepat
alasan dan tepat dasar hukumnya);

b)

setiap tindakan penyidikan didukung oleh administrasi penyidikan;

c)

tindakan upaya paksa oleh penyidik dilakukan sesuai urutan tindakantindakan yang telah diatur dalam juklak/juknis yaitu dimulai dari tindakan
persuasif sampai dengan tindakan represif.

3) Transparan yaitu
penyampaian

adanya

pemberitahuan

keterbukaan
perkembangan

dalam
hasil

proses penyidikan melalui


penyidikan

(SP2HP) dan

pelaksanaan pengawasan penyidikan dari seluruh tahapan tahapan penindakan yang


dilakukan oleh penyidikan baik melalui surat maupun gelar perkara, kegiatan
yang dilakukan :
a)

dalam penerimaan laporan petugas membacakan

kembali isi laporan yang

diterima dan dipahami oleh pelapor kemudian ditanda tangani bersama;


b)

selama dalam proses penelitian laporan, penyelidikan dan penyidikan pelapor


mendapatkan informasi perkembangan penyidikan melalui SP2HP;

45

c)

sejak proses kepenyidikan sudah diawasi oleh Pengawas Penyidik.

4) Akuntabel yaitu segala tindakan yang telah dilakukan sesuai dengan prosedur,
terukur, tindakan tidak bertentangan dengan hukum dan dapat dipertanggung
jawabkan kepada publik/umum;
5) Perkara mudah yaitu apabila :
a)

saksi-saksi ada dan tempat tinggalnya masih dalam wilayah satu Kecamatan
dengan kantor penyidik;

b)

barang buktinya mudah didapat;

c)

petunjuk yang ada terdapat kesesuaian antara keterangan para saksi, tersangka
dan barang bukti yang ditemukan;

d)

tidak memerlukan keterangan ahli, namun apabila diperlukan ahli tersedia di


wilayah hokum penyidik;

e)

tersangkanya tertangkap tangan/menyerahkan diri / keberadaan dan identitasnya


diketahui serta mudah ditangkap;

f)

TKP mudah dijangkau dan masih dalam keadaan utuh serta tidak diperlukan
olah TKP atau tidak diperlukan juga bantuan tehnis dalam olah TKP;

g)

tidak diperlukan peranan lembaga lain dalam proses penyidikan/kalau


diperlukan tersedia dalam wilayah hukum penyidik.

6) perkara sedang yaitu apabila :


a)

saksi-saksi ada dan tempat tinggalnya masih dalam wilayah satu Kabupaten
dengan kantor penyidik;

b)

barang buktinya mudah didapat dan ada petunjuk yang berkaitan dengan
keterangan saksi, barang bukti dan tersangka;

c)

tidak diperlukan keterangan ahli, namun apabila diperlukan ahli tersedia di


wilayah hukum penyidik;

d)

tersangka tidak terganggu kesehatannya, keberadaan dan identitasnya sudah


diketahui serta mudah ditangkap, tidak merupakan bagian dari kejahatan
terorganisir, jumlahnya tidak lebih dari 3 orang;

e)

TKP mudah dijangkau dan masih utuh serta diperlukan olah TKP dan bantuan
tehnis dalam olah TKP;

f)

diperlukan peralatan khusus Kepolisian dalam proses penyidikan dan peran


lembaga lain.

7) Perkara sulit yaitu apabila :


a)

tempat tinggal saksi berada dalam satu Provinsi dengan kantor penyidik,
jumlahnya kurang dari 2 orang, saksi bukan merupakan sumber pertama, saksi
berhubungan dengan lembaga lain dan untuk melakukan pemeriksaan saksi
diperlukan prosedur birokrasi khusus;

b)

sangat diperlukan bukti surat dan untuk mendapatkannya diperlukan izin


khusus;

c)

terdapat sebagian petunjuk yang berkaitan dengan keterangan para saksi dengan
barang bukti namun belum mengarah pada tersangka atau sebaliknya;

46

d)

diperlukan beberapa keterangan ahli, sedangkan ahli tersebut belum tersedia


diwilayah penyidik;

e)

tersangka belum diketahui identitasnya atau tersangka terganggu kesehatannya


atau tersangka dilindungi kelompok tertentu atau tersangka memiliki jabatan
tertentu yang dalam pemeriksaan diatur oleh Undang-Undang atau jumlah
tersangkanya lebih dari 4 orang;

f)

TKP sukar dijangkau, jauh dari kantor penyidik dan TKP sudah dalam keadaan
tidak utuh, diperlukan pengolahan TKP, diperlukan bantuan tehnis untuk olah
TKP, diperlukan pengamanan khusus terhadap TKP dan TKP lebih dari satu
lokasi dalam wilayah hukum penyidik;

g)

barang bukti sulit didapat, barang bukti memerlukan pemeriksaan secara


forensik/ahli, barang bukti memerlukan pengamanan khusus, barang bukti
memerlukan pengangkutan dan atau memerlukan tempat penyimpanan khusus;

h)

diperlukan peralatan khusus Kepolisian dan peran dari lembaga lain.

8) Perkara sangat sulit yaitu apabila :


a)

tempat tinggal saksi berada di luar provinsi atau luar negeri, atau alamatnya
tidak jelas (daerah terpencil), jumlah saksi kurang dari 2 orang atau saksi
berhubungan dengan lembaga lain;

b)

adanya birokrasi perizinan dalam menghadirkan saksi atau saksi diperlukan


pengamanan khusus atau saksi dalam keadaan sakit-sakitan;

c)

bukti-bukti berupa surat atau dokumen sulit ditemukan atau untuk mendapatkan
bukti diperlukan izin khusus atau bukti perlu diperiksa secara forensik;

d)

petunjuk yang ada belum memperlihatkan keterkaitan antara keterangan para


saksi, tersangka dan barang bukti;

e)

sangat diperlukan keterangan ahli dimana ahli tersebut harus didatangkan dari
luar provinsi atau luar negeri;

f)

tersangka belum diketahui identitasnya, atau tersangka terganggu kesehatannya


atau dilindungi oleh kelompok tertentu, jumlah tersangka lebih dari 4 orang,
memerlukan izin khusus untuk memeriksa tersangka atau tersangka merupakan
bagian dari sindikat kejahatan atau warga negara asing atau tersangka melarikan
diri;

g)

TKP sukar dijangkau, jauh dari kantor penyidik atau tidak utuh diperlukan
pengolah TKP, diperlukan bantuan tehnis olah TKP, diperlukan pengamanan
khusus TKP atau TKP lebih dari 1 yuridiksi (wilayah hukum penyidik);

h)

barang bukti sulit didapat atau memerlukan pemeriksaan secara forensik atau
memerlukan pengamanan khusus atau memerlukan pengangkutan alat angkut
khusus atau barang bukti mudah rusak;

i)

untuk mengungkap kasusnya diperlukan peralatan khusus dan peran dari


lembaga lain.

47

6.

Kegiatan
a.

Tahap penerimaan/penelitian laporan


1) Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) menerima laporan/pengaduan dari masyarakat;
2) Untuk kasus-kasus tertentu dimana diperlukan bukti surat / dokumen, pelapor
membawa bukti foto copy / dokumen yang berkaitan dengan tindak pidana / kasus
yang dilaporkan / diadukan;
3) Pelapor membuat surat penyataan yang menyatakan bahwa laporan tersebut belum
pernah dilaporkan atau ditangani oleh polisi;
4) Laporan/pengaduan diserahkan dari SPK kepada Piket Sat Resnarkoba;
5) Saksi/pelapor dimintai keterangan sementara oleh Piket Sat Reskrim dan dituangkan
ke dalam BAP;
6) Piket Resnarkoba membawa laporan/pengaduan ke Urmintu untuk di register dan
oleh Urmintu menelaah serta mempelajari untuk selanjutnya didistribusikan ke Kasat
Resnarkoba;
7) Kemudian Kasat mendisposisikan meneruskan ke salah satu unit dalam lingkungan
kerja satuan fungsinya untuk menangani / proses laporan tersebut;
8) Selambat-lambatnya 3 hari setelah laporan diterima oleh Kanit atau tim penyidik
yang di tugaskan untuk menangani laporan tersebut, pelapor diberi tahu dengan
mengirim surat pemberitahuan perkembangan penelitian laporan (format A1) yang
isinya menjelaskan bahwa :
a)

laporan pengaduan saudara telah kami terima dan akan segera kami tindak
lanjuti dengan penyelidikan oleh (disebutkan nama dan identitas nama
penyidik) yang menangani serta nomor

teleponnya atau HP yang dapat

dihubungi sewaktu-waktu diperlukan;


b)

pada akhir kalimat format A1 dibuat catatan memuat motto Polri :


KAMI

SIAP

MELAYANI ANDA

DENGAN

CEPAT,

TEPAT,

TRANSPARAN DAN AKUNTABEL DAN TANPA IMBALAN


b.

Tahap penyelidikan
1) Seterimanya laporan polisi penyidik melakukan penyelidikan dan melaporkan
hasilnya kepada atasan penyidik, selanjutnya atasan penyidik memimpin gelar hasil
penyelidikan guna menentukan dapat tidaknya hasil penyelidikan ditingkatkan ke
proses penyidikan;
2) Dalam hal disimpulkan bahwa telah terjadi tindak pidana, selanjutnya atasan penyidik
menentukan klasifikasi ke sulitan perkara (ringan, sedang, sulit dan sangat sulit)
3) Kasus ringan dan kasus sedang waktu penyelidikan 14 hari bila waktu penyelidikan
masih kurang dapat diperpanjang lagi penyidik mengirimkan SP2HP kepada pelapor;
4) Kasus sulit dan sangat sulit dengan waktu penyelidikan 30 hari dan dapat
diperpanjang lagi penyelidikan penyidik mengirimankan SP2HP kepada pelapor.

c.

Tahap penindakan dan pemeriksaan


1) Kasus ringan dengan waktu penyidikan paling lama 30 hari, pengiriman SP2HP yang
diberikan kepada pelapor sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada hari ke 15 dan hari ke 30;

48

2) Kasus sedang dengan waktu penyidikan dilakukan paling lama 60 hari, pengiriman
SP2HP diberikan kepada pelapor sebanyak 4 (empat) kali yaitu pada hari ke 15, 30,
45, dan hari ke 60;
3) Kasus sulit dengan waktu penyidikan dilakukan paling lama 90 hari, Pengiriman
SP2HP diberikan kepada pelapor sebanyak 6 (enam) kali yaitu pada hari ke 15, 30,
45, 60, 75, dan hari ke 90;
4) Kasus sangat sulit dengan waktu penyidikan dilakukan paling lama 120

hari,

pengiriman SP2HP diberikan kepada pelapor sebanyak 5 (lima) kali yaitu pada hari
ke 20, 40, 60, 80, dan hari ke 100;
5) Dalam hal batas waktu penyidikan belum dapat diselesaikan oleh penyidik dapat
mengajukan perpanjangan waktu penyidikan melalui pengawas penyidikan kepada
yang memberi perintah penyidikan.
d.

Tahap penyelesaian dan penyerahan berkas perkara


1) Pada saat penyelesaian dan pelimpahan berkas perkara

tahap pertama penyidik

memberikan SP2HP kepada Pelapor;


2) Apabila dalam penelitian berkas perkara penuntut umum
berkas perkara (P.19) maka

(JPU) mengembalikan

penyidik memberitahukan kepada pelapor melalui

SP2HP dan setelah dilakukan pelimpahan kembali diikuti pemberitahuan kepada


pelapor dalam bentuk SP2HP;
3) Pada saat penyerahan berkas perkara tahap kedua penyidik menyampaikan SP2HP
kepada pelapor;
4) Data

penyampaian/pemberitahuan

SP2HP

mulai

dari

tahap

penilaian

laporan/pengaduan, penyidikan, penindakan dan pemeriksaan sampai dengan


pelimpahan berkas perkara (tahap I dan tahap II) teregister.
e.

Pengiriman SP2HP kepada pelapor kedua, ketiga dan seterusnya berisi tentang
perkembangan hasil penyidikan, namun setiap SP2HP isinya tidak sama dengan SP2HP
yang telah dikirim sebelumnya (ada perkembangan hasil lidik/sidik yang telah dilakukan);

f.

Disamping masyarakat pelapor mendapatkan SP2HP juga dapat mengakses setiap


perkembangan kasus yang dilaporkan melalui website bareskrim polri dan sms 1112.

II.

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


1.

Pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan quick wins fungsi Resnarkoba dilakukan
secara berjenjang dari mulai tingkat Kanit, Kaur bin ops sampai dengan Kasat;

2.

Kewenangan penandatanganan SP2HP diatur sebagai berikut :


a.

Untuk tingkat

Polres ditandatangani oleh Kasat Resnarkoba / Kaurbinops dengan

tembusan kepada Kapolres / WakaPolres;


c. Untuk tingkat Polsek ditandatangani oleh Kapolsek/Waka Polsek.
3.

Untuk memonitor setiap perkembangan hasil penyidikan, dilakukan melalui sistem penilaian
dan pengawasan kinerja penyidik yang dituangkan dalam map kontrol.

49

III.

PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan bagi
penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA

TTD
ASLI, SH
AKP NRP 80110618

50

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PENYELESAIAN DAN PENYERAHAN BERKAS PERKARA
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A.

UMUM
a.

Kegiatan penyelesaian dan penyerahan berkas perkara merupakan kegiatan akhir dalam proses
penyidikan tindak pidana yang dilakukan oleh penyidik/penyidik pembantu.

b.

Proses yang meliputi pembuatan resume, penyusunan isi berkas perkara dan penyerahan
berkas perkara haruslah dilakukan secara cermat dan teliti agar berkas perkara memenuhi
syarat, tersusun rapih dan sistimatis.

c.

Untuk dapat melaksanakan pembuatan resume, penyusunan isi berkas perkara dan penyerahan
berkas perkara yang optimal, perlu dibuat standarisasi.

d.
B.

Untuk kepentingan tersebut dikeluarkan ketentuan berupa Standar Operasional Prosedur ini.

MAKSUD DAN TUJUAN


a.

Maksud Penyusunan buku ini adalah untuk dijadikan standar bagi

para penyidik dalam

melakukan penyelesaian akhir dan proses penyidikan tindak pidana yang ditangani.
b.

Untuk memperoleh keseragaman dalam melaksanakan

pemberkasan sampai dengan

penyerahan berkas perkaranya.


C.

RUANG LINGKUP
Ruang Lingkup Standar Operasional Prosedur ini meliputi tatacara sta ndar dalam proses
pembuatan resume, penyusunan berkas dan

pelaksanaan penyerahan berkas perkara, serta

penyerahan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti.


D.

PENGERTIAN.
a.

Berkas perkara adalah kumpulan dari seluruh kegiatan dan atau keterangan yang berkaitan
dengan tindakan penyidikan tindak pidana dalam bentuk produk tertulis yang dilakukan oleh
penyidik/penyidik pembantu.

b.

Resume adalah ikhtisar dan kesimpulan dari hasil penyidikan tindak pidana yang terjadi yang
dituangkan dalam bentuk dan tertentu penulisan tertentu

c.

Berita Acara adalah Catatan atau tulisan yang bersifat otentik yang memuat kegiatan tertentu
dalam penyidikan dibuat dalam bentuk

tertentu oleh Penyidik atau Penyidik Pembantu atas

kekuatan sumpah jabatan, diberi tanggal dan ditanda tangani oleh Penyidik atau Penyidik
Pembantu dan orang yang diperiksa.
d.

Penyusunan berkas perkara adalah kegiatan penempatan urutan lembar kelengkapan


administrasi penyidikan yang merupakan isi berkas perkara yang disusun dalam satu berkas
perkara.

e.

Pemberkasan adalah kegiatan memberkas isi berkas perkara

dengan susunan, syarat

penyampulan, pengikatan dan penyegelan yang telah ditentukan serta pemberian nomor
berkas perkara.

51

f.

Penyerahan berkas perkara, adalah tindakan penyidik untuk menyerahkan berkas perkara dan
menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada Penuntut Umum atau
ke Pengadilan dalam hal acara pemeriksaan cepat sesuai dengan ketentuan dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

g.

Pengembalian Berkas Perkara adalah dikembalikannya Berkas Perkara dari Penuntut Umum
kepada Penyidik karena adanya kekurangan isi/materi Berkas Perkara yang perlu dilengkapi
sesuai petunjuk yang diberikan.

E.

DASAR
a.

Pasal 8 Ayat (2) dan (3) dan Pasal 110 Ayat (1), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981
tentang KUHAP.

b.

Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI.

c.

Peraturan pemerintah Nomor 27 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang


Acara Pidana.

d.

Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2010 tentang perubahan atas
peraturan pemerintah nomor 27 tahun

1983 tentang pelaksanaan Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana.


e.

Keputusan Menteri Kehakiman Nomor: M.01.PW.07/1982 tentang pedoman pelaksanaan


KUHAP.

f.

Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung, Menteri Kehakiman, Jaksa Agung dan Kepala
Kepolisian Nomor KMA/003/SKB/II/1998, M.02.PW.07.03.Th-1998, Kep/007/JA/2/1998
Dan Pol Kep / 02 / B / 1998 Tahun 1998 tentang pemantapan keterpaduan dalam
penanganan dan penyelesaian perkara-perkara pidana.

g. Buku Petunjuk Pelaksanaan, Buku Petunjuk Lapangan, dan Buku Petunjuk Administrasi
proses penyidikan Tindak Pidana, No. Pol. : Skep/1205/1X/2000, tanggal 11 September
2000.
h.

Peraturan

Kapolri

Nomor 12

tahun

2009 tentang pengawasan

dan pengendalian

penanganan perkara pidana di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.


Penyelesaian dan penyerahan berkas perkara dapat digolongkan sebagai berikut :
a.

Penyelesaian Berkas Perkara


a.

Pembuatan Berita Acara Pendapat / Resume


1) Persyaratan
a) Syarat formal
(1) Pasal 8 Ayat (2) dan (3) dan Pasal 110 Ayat (1), Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1981 tentang KUHAP;
(2) Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang
Indonesia;
(3) Undang-Undang yang dipersangkakan;
(4) Undang-Undang lain yang terkait;
(5) Laporan Polisi;
(6) Surat Perintah Penyidikan;
(7) Surat Perintah Tugas.
b) Syarat materiil
(1) Dasar : Laporan Polisi

52

Kepolisian Negara Republik

(2) Fakta-fakta
(a) Memuat tindakan yang telah dilakukan
(b) Barang bukti yang disita
(c) Keterangan-keterangan saksi dan/atau Ahli.
(3) Pembahasan : Memuat gambaran kostruksi tindak pidananya didasarkan pada
hubungan yang logis

antara fakta-fakta dengan keterangan-keterangan

diperoleh,untuk dilakukan analisa meliputi :


(a)

Analisa kasus:
- Hubungan yang logis antara fakta-fakta yang ada dengan keterangan
yang diperoleh baik dari tersangka maupun saksi/ahli
- Hubungan keterangan yang satu dengan keterangan lainnya
- Hubungan yang logis antara barang bukti yang ada dengan fakta maupun
keterangan-keterangan yang diperoleh
- Terjadinya hubungan/persentuhan antara tersangka, korban, barang bukti
dan saksi-saksi di TKP.
- Atas dasar konstruksi unsur-unsur pasal dipersangkakan berdasarkan
fakta-fakta yang dibahas dalam analisa kasus.

(b) Analisa yuridis :


Memuat gambaran konstruksi unsur-unsur

pasal yang dipersangkakan

berdasarkan fakta yang dibahas dalam analisa kasus.


(c) Kesimpulan:
Memuat pendapat penyidik berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan
tentang sangkaan perbuatan pidana yang dilakukan

oleh tersangka dan

apakah perbuatan yang dilakukan tersangka telah memenuhi unsur unsur


pasal dalam undang-undang atau tidak.
2) Langkah-langkah
a) Pembuatan Berita Acara Pendapat/Resume dilakukan oleh Kanit atau Penyidik
dibawah pengawasan Kanit. Resume berisi tentang: Dasar Laporan Polisi, Uraian
perkara dan pasal yang disangkakan, tempus dan locus

delicty,

fakta-fakta,

Analisa Fakta, Analisa Yuridis, serta Kesimpulan.


b) Berita Acara Pendapat/Resume adalah merupakan ringkasan seluruh tindakan
penyidik yang telah dilakukan dalam melakukan penanganan terhadap perkara.
Oleh karena itu dalam fakta-fakta keterangan

saksi-saksi maupun tersangka

bukan memindahkan / menyalin isi Berita Acara Pemeriksaan, akan tetapi berisi
tentang ringkasan keterangan dari saksi maupun tersangka.
c) Setelah Resume selesai dibuat, Penyidik menyerahkan

kepada Kanit. Kanit

melakukan penelitian terhadap Resume berkaitan dengan syarat formilnya yaitu:


Dasar Laporan Polisi, Uraian perkara dan pasal yang disangkakan, tempus dan
locus delicty, fakta-fakta serta syarat penulisan Resume itu sendiri. Selain itu
Kanit melakukan pengecekan terhadap syarat materiilnya yaitu korelasi antara
analisa fakta dengan analisa yuridisnya terkait dengan pemenuhan unsur pasal.

53

d) Selesai melakukan pengecekan terhadap syarat formil

dan materiil Resume,

Penyidik dan Kanit membubuhkan tanda tangannya pada Resume yang telah
dibuat.
b. Penyusunan Berkas Perkara
Penyusunan Berkas Perkara dilakukan dengan mempedomani Naskah Sementara Pedoman
Penyidikan

Tindak

Pidana

sesuai

Skep

Kabareskrim

Polri

Skep/82/XII/2006/Bareskrim tanggal 15 Desember 2006, meliputi :


1) Penyidik melakukan penyusunan Berkas Perkara dengan urut-urutan :

Sampul Berkas Perkara.

Daftar Isi Berkas Perkara.

Resume.

Laporan Polisi

Surat Pemberitahuan Dimulai Penyidikan

Surat Perintah Penyidikan.

Surat Perintah Tugas

Pencegahan/Penangkalan dari Imigrasi

Pencegahan/Penangkalan dari Jaksa Agung RI

Daftar Pencarian Orang.

Surat Perintah Penangkapan

Berita Acara Penangkapan

Surat Perintah Penahanan

Berita Acara Penahanan

Surat Pemberitahuan Kepada Keluarga Tersangka.

Surat Perintah Penangguan penahanan

Berita Acara Penangguhan Penahanan

Surat Perintah Pengalihan Jenis Penahanan

Berita Acara Pengalihan Jenis Penahanan

Surat Perintah Pembantaran Penahanan.

Berita Acara Pembantaran Penahanan.

Surat Perintah perpanjangan penahanan dari Kejaksaan

Surat Perintah perpanjangan penahanan dari Pengadilan

Surat Perintah perpanjangan penahanan

Berita Acara Perpanjangan Penahanan

Surat Perintah Pengeluaran Penahanan

Berita Acara Penggeluaran Penahanan

Surat Perintah Pengge ledahan

Berita Acara Penggeledahan

Surat Persetujuan Penggeledahan dari Ketua PN

Surat Perintah Penyitaan

Surat Persetujuan Penyitaan/ Ijin Khusus Penyitaan dari Ketua PN

Surat Tanda Penerimaan (STP) Barang-Bukti.

Berita Acara Penyitaan

Surat Panggilan

54

No.

Pol

Surat Perintah membawa tersangka /saksi

Berita Acara Saksi-Saksi

Berita Acara Keterangan Ahli

Foto Copy Identitas (KTP/SIM/Pasport) Tersangka

Berita Acara Tersangka

Dokumen-Dokumen Barang Bukti

Daftar Saksi.

Daftar Tersangka

Daftar Barang-Bukti.

Dokumen lainnya yang perlu dilampirkan.

2) Setelah selesai dilakukan penyusunan berkas perkara, penyidik melakukan penelitian


terhadap isi berkas perkara berkaitan dengan kelengkapan formil seperti tanda tangan
dan cap/stempel kesatuan pada setiap lembar administrasi penyidikan maupun, berita
acara yang telah dibuat, serta kelengkapan materiilnya.
3) Setelah diteliti, penyidik mengajukan berkas perkara yang telah disusun namun belum
dijilid kepada Kanit untuk diteliti kembali berkaitan dengan kelengkapan formil, materiil
maupun syarat penyusunan berkas perkara (vide Petunjuk Teknis Penyidikan Tindak
Pidana). Selain itu penyidik mengajukan Surat Pengantar Pengiriman Berkas Perkara ke
Penuntut Umum kepada Kanit untuk otentikasi paraf di kolom konseptor
4) Selanjutnya Kanit membubuhkan tanda tangan pada Sampul Berkas Perkara (bagian
dalam) dan kemudian mengajukan

berkas perkara yang belum dijilid dengan Surat

Pengantar Pengiriman Berkas Perkara kepada Penuntut Umum secara berjenjang kepada :
a) Urmin, untuk melakukan penelitan terhadap Surat Pengantar Pengiriman Berkas
Perkara ke Penuntut Umum dan untuk otentikasi membubuhkan paraf pada kolom
Urmin.
b) Kaur Bin Ops, untuk melakukan penelitan terhadap Surat Pengantar Pengiriman
Berkas Perkara ke Penuntut Umum dan untuk otentikasi membubuhkan paraf
pada kolom Kaur Bin Ops.
c) Kasat Reskrim, wajib membaca Resume yang memuat
Pembahasan mengenai

pembuktian Tindak

Analisis Yuridis dan konstruksi hukum

fakta-fakta penyidikan,

Pidana yang dipersangkakan dan

penerapan pasal

yang dipersangkakan,

kemudian bila telah disetujui maka untuk otentikasi Kasat membubuhkan paraf pada
arsip Surat serta membubuhkan tanda tangan pada Surat Pengiriman Berkas Perkara
ke Penuntut Umum.
d) Apabila dalam proses penelitian kembali Berkas Perkara ditemukan adanya koreksi
yang diperlukan dalam setiap tahapan yang dilalui, maka

Berkas Perkara

dikembalikan lagi kepada penyidik untuk diperbaiki.


5) Setelah Kasat menandatangani Surat Pengiriman Berkas Perkara ke Penuntut Umum,
penyidik menggandakan Berkas Perkara menjadi 4 (empat) rangkap kemudian menjilid
dan me-lak Berkas Perkara serta memberikan nomor register Berkas.
c.

Penyerahan Berkas Perkara Kepada Penuntut Umum


Penyerahan Berkas Perkara kepada Penuntut Umum dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :

55

a.

Membuat surat pengantar pengiriman berkas perkara ke Penuntut

Umum (sesuaikan

levelering) dengan melampirkan Berkas perkaranya.


b.

Mengirim berkas perkara kepada JPU dengan menggunakan surat pengantar dan buku
Register Pengiriman Berkas Perkara.

c.

Bukti Pengiriman/Tanda Terima dari TU atas pengiriman berkas perkara.

d.

Koordinasi dengan JPU.

e.

Penelitian Berkas Perkara oleh JPU.

f.

Pengembalian Berkas Perkara dari JPU kepada Penyidik (P.18 dan P.19).

g.

Pemenuhan petunjuk JPU.

h.

Buat surat pengantar pengiriman kembali berkas perkara kepada JPU.

i.

Pengiriman Kembali Berkas perkara kepada JPU dengan

menggunakan surat pengantar

dan buku register pengiriman berkas perkara.


j.
d.

Bukti pengiriman/ tanda terima pengiriman kembali berkas perkara.

Penyerahan Tersangka dan Barang Bukti


Setelah berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Penuntut Umum (P.21) dilanjutkan dengan
penyerahan tersangka dan barang bukti kepada Penuntut Umum, yang dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
a.

Membuat surat pengantar pengiriman tersangka dan barang bukti.

b.

Meneliti kembali/mempersiapkan tersangka dan barang-bukti yang akan diserahkan


tanggung jawabnya kepada JPU.

c.

Koordinasi dengan JPU untuk menentukan waktu penyerahan Tersangka dan Barang
bukti.

d.

Mempersiapkan transportasi dan akomodasi untuk penyerahan tersangka dan barang


bukti kepada JPU.

e.

Menyerahkan tersangka dan barang bukti dilengkapi dengan surat pengantar pengiriman
tersangka dan barang bukti.

f.

Membuat berita acara serah terima tersangka dan barang bukti yang ditandatangani oleh
penyidik dan JPU.

g.

Membuat laporan hasil pelaksanaan tugas penyerahan tersangka dan barang bukti kepada
pimpinan.

F. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan bagi
penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA

TTD
ASLI, SH
AKP NRP 80110618

56

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP )


KINERJA PENYIDIK
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

I.

PENDAHULUAN
1. Umum
a.

Tuntutan masyarakat terhadap kinerja penyidik Polri dalam proses penyidikan suatu
perkara, perspektif serta persepsi masyarakat yang terus berkembang dalam melihat
kinerja penyidik.

b.

Harapan yang begitu besar terhadap Polri khususnya dalam memproses suatu perkara
pidana, membutuhkan prosedur operasional standar untuk mempercepat pencapaian
tingkat kepuasan masyarakat yang diharapkan dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan
organisasi.

2. Dasar
a.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang


Hukum Acara Pidana.

b.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia.

c.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 tentang
Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di Lingkungan Kepolisian
Negara Republik Indonesia.

3. Maksud dan Tujuan


a.

Maksud
Penulisan

Prosedur

Operasional

Standar

ini dimaksudkan untuk menginventarisasi

langkah-langkah penyidik sesuai prosedur yang

berlaku, dalam upaya meningkatkan

kinerjanya.
b.

Tujuan
Penulisan Prosedur Operasional Standar ini bertujuan untuk :
1) Memudahkan penyidik dalam mengikuti langkah-langkah proses penyidikan yang
baku sesuai dengan undang-undang dan prosedur yang berlaku.
2) Menjadi pedoman dalam

proses

penyidikan

memedomani KUHAP dan prosedur baku

suatu perkara pidana, termasuk

sebagaimana yang telah diatur dalam

petunjuk teknis maupun petunjuk operasional lainnya dari Kepala Kepolisian Republik
Indonesia.

57

4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Prosedur Operasional Standar ini meliputi langkah-langkah dalam proses
penyidikan suatu perkara, mulai dari Laporan Polisi diterima atau di buat oleh penyidik/penyidik
pembantu sampai dengan dilimpahkannya berkas perkara ke Jaksa Penuntut Umum (JPU)
hingga terbit P.21 atau sampai dengan dihentikannya perkara tersebut dengan alasan sebagaimana
yang telah diatur dalam undang-undang.
5. Tata Urut
a. Pendahuluan
b. Prosedur berpenampilan
c. Prosedur melayani saksi korban/saksi pelapor
d. Prosedur melayani saksi
e. Prosedur melayani ahli
f. Prosedur melayani tersangka
g. Kewajiban penyidik/penyidik pembantu sejak menerima laporan polisi
h. Indikator penyelesaian perkara
i. Target kinerja bagi setiap penyidik/penyidik pembantu
j. Penutup

II. PROSEDUR BERPENAMPILAN


Sebagai seorang penyidik/penyidik pembantu, melekat kewajiban padanya untuk berpenampilan
sebagai berikut :
1.

Berpakaian yang rapi, bersih serta berdasi sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan Satuan
Resnarkoba Polres Gorontalo (dilarang menggunakan celana berbahan jeans).

2.

Rambut dipotong rapi dan bersih. Bagi penyidik/penyidik pembantu yang berkumis agar
merapikan kumisnya sehingga terlihat rapi dan bersih serta tidak berjenggot.

3.

Dilarang merokok ketika sedang melayani masyarakat yang datang ke Satuan Resnarkoba
Polres Gorontalo.

4.

Ruang pelayanan harus rapi, bersih dan nyaman ketika sedang melayani masyarakat.

III. PROSEDUR MELAYANI SAKSI KORBAN/SAKSI PELAPOR


Saksi Korban / Saksi Pelapor harus dilayani oleh penyidik / penyidik pembantu sebagai berikut :
1.

Saksi korban / saksi pelapor sebaiknya langsung dimintai keterangannya untuk mempercepat
proses pengumpulan alat bukti, kecuali karena alasan yang patut dan masuk akal saksi pelapor
dapat menunda pemeriksaannya oleh penyidik/penyidik pembantu.

2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap saksi korban/saksi pelapor,
penyidik/penyidik pembantu telah siap di ruang pelayanan pemeriksaan untuk mencegah saksi
korban/saksi pelapor menunggu berlama-lama.

3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di hadapan saksi
korban/saksi pelapor, serta wajib menunjukkan sikap empati dan simpati.

4.

Penyidik/penyidik pembantu wajib mengikuti ketentuan KUHAP selama melayani saksi


korban/saksi pelapor serta tetap proporsional, transparan dan akuntabel.

5.

Penyidik/penyidik pembantu wajib memberitahukan perkembangan hasil penyidikan kepada


pelapor melalui SP2HP (Surat Pem beritahuan Perkembangan Hasil Penyidikan).
58

6.

Jika diperlukan, selama proses pemeriksaan saksi korban/saksi pelapor dapat direkam
dengan menggunakan handycam atau alat perekam gambar dan suara lainnya.

IV. PROSEDUR MELAYANI SAKSI


Penyidik / penyidik pembantu wajib melayani saksi sebagai berikut :
1.

Penyidik/penyidik pembantu memeriksa saksi dengan terlebih dahulu mengirimkan surat


panggilan kepadanya sesuai ketentuan KUHAP.

2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap saksi, penyidik/penyidik


pembantu telah siap di ruang pelayanan pemeriksaan untuk mencegah saksi menunggu
berlama-lama.

3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di hadapan saksi.

4.

Penyidik dilarang menggunakan hand phone/alat komunikasi lainnya selama melaksanakan


pemeriksaan terhadap saksi.

5.

Berpenampilan rapi

dan bersih sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan Satuan

Reskrim Polres Gorontalo.


6.

Berperilaku santun, ramah namun tetap tegas dan humanis serta tidak membentak-bentak atau
menghardik saksi selama berjalannya proses pemeriksaan. Tetap proporsional, transparan dan
akuntabel.

7.

Penyidik/penyidik pembantu dalam melakukan pemeriksaan terhadap saksi sudah membuat


daftar pertanyaan terlebih dahulu sehingga pemeriksaan dapat dilaksanakan sesegera mungkin
dan tidak melebihi dari 8 (delapan) jam.

8.

Jika

memang

diperlukan,

selama

proses

pemeriksaan

dapat

direkam

dengan

handycam/webcam secara proporsional sesuai kebutuhan penyidikan.


9.

Setelah melakukan pemeriksaan terhadap saksi, penyidik menyampaikan terima kasih


dengan memberikan kartu nama penyidik kepada saksi

agar terjadi komunikasi

dan

transparansi terhadap perkara yang ditangani.

V. PROSEDUR MELAYANI AHLI


Penyidik/penyidik pembantu wajib melayani ahli yang akan dimintai keterangannya sebagai
berikut :
1.

Penyidik/penyidik pembantu memeriksa ahli dengan

terlebih

dahulu mengirimkan surat

panggilan kepadanya sesuai ketentuan KUHAP.


2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap ahli, penyidik/penyidik


pembantu telah siap di ruang pelayanan pemeriksaan untuk mencegah ahli menunggu
berlama-lama.

3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di hadapan ahli.

4.

Penyidik dilarang menggunakan hand phone/alat komunikasi lainnya selama melaksanakan


pemeriksaan terhadap saksi.

5.

Berpenampilan rapi dan bersih sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan Satuan Reskrim
Polres Gorontalo.

6.

Berperilaku santun, ramah namun tetap tegas dan humanis serta tidak membentak-bentak atau
menghardik ahli selama berjalannya proses pemeriksaan. Tetap proporsional, transparan dan
akuntabel.

59

7.

Jika memang diperlukan, proses pemeriksaan dapat direkam dengan handycam/webcam


secara proporsional sesuai kebutuhan penyidikan.

8.

Setelah melakukan pemeriksaan terhadap saksi, penyidik menyampaikan terima kasih dengan
memberikan kartu nama penyidik kepada saksi agar terjadi komunikasi dan transparansi
terhadap perkara yang ditangani.

VI. PROSEDUR MELAYANI TERSANGKA


Dalam melayani tersangka, penyidik/penyidik pembantu berkewajiban sebagai berikut :
1.

Penyidik/penyidik pembantu memeriksa tersangka dengan terlebih dahulu mengirimkan surat


panggilan kepadanya sesuai ketentuan KUHAP, kecuali tersangka yang tertangkap tangan atau
tersangka yang ditangkap sesuai dengan ketentuan KUHAP.

2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap tersangka, penyidik/penyidik


pembantu telah siap di ruang pelayanan pemeriksaan untuk mencegah tersangka menunggu
berlama-lama.

3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di hadapan tersangka.

4.

Penyidik dilarang menggunakan hand phone/alat komunikasi lainnya selama melaksanakan


pemeriksaan terhadap saksi.

5.

Berpenampilan rapi dan bersih sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan Satuan Reskrim
Polres Gorontalo.

6.

Berperilaku santun, ramah namun tetap tegas dan humanis serta tidak membentak-bentak atau
menghardik tersangka apalagi melakukan kekerasan fisik dan intimidasi terhadap tersangka
selama berjalannya proses pemeriksaan. Tetap proporsional, transparan dan akuntabel.

7.

Penyidik/penyidik pembantu dalam melakukan pemeriksaan terhadap Tersangka

sudah

membuat daftar pertanyaan terlebih dahulu sehingga pemeriksaan dapat dilaksanakan sesegera
mungkin dan tidak melebihi dari 8 (delapan) jam.
8.

Proses pemeriksaan sebaiknya direkam dengan handycam /webcam secara proporsional sesuai
kebutuhan penyidikan. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari upaya tersangka memungkiri
/ mengingkari keterangan / BAP yang disampaikan kepada penyidik,

ketika

proses

pemeriksaan pada tingkat persidangan telah berjalan.


9.

Untuk tersangka yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana lebih dari 15 tahun,
penyidik/penyidik pembantu wajib menunjuk penasehat hukum untuk tersangka sebagaimana
ketentuan dalam KUHAP.

VII. KEWAJIBAN PENYIDIK / PENYIDIK PEMBANTU MENERIMA LAPORAN POLISI


Seorang penyidik/penyidik pembantu sejak menerima Laporan Polisi berkewajiban untuk :
1.

Melakukan gelar perkara penentuan kriteria kasus.

2.

Melengkapi administrasi penyidikan termasuk mengisi blanko kontrol perkara sesuai kriteria
kasus.

3.

Membuat Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dan dikirim ke


pelapor sebagai bentuk transparansi dan kuntabilitas penyidik terhadap kasus yang ditangani.

4.

Melakukan proses penyidikan secara professional, proporsional, procedural, transparan dan


akuntabel atas kasus yang ditangani.

5.

Melakukan gelar perkara dalam setiap kesempatan ketika mengalami hambatan dalam proses

60

penyidikan.
6.

Melakukan gelar perkara dalam meningkatkan status seseorang dari saksi menjadi tersangka.

7.

Melakukan gelar perkara dalam hal penyidik/penyidik pembantu akan melakukan upaya paksa.

8.

Selalu berkoordinasi dengan Pengawas Penyidik dalam setiap

kesempatan

untuk

mempercepat proses penyelesaian perkara yang ditangani.


9.

Mengajukan

anggaran

penyidikan

serta

mempertanggung

jawabkannya

melalui

pertanggungjawaban keuangan (Perwabku) setelah proses penyidikan selesai.


VIII. INDIKATOR PENYELESAIAN PERKARA
Setiap perkara yang ditangani oleh penyidik/penyidik pembantu, wajib untuk diselesaikan
dengan indikator penyelesaian yaitu berkas dinyatakan lengkap oleh Jaksa Penuntut Umum dengan
terbitnya lembar P.21 atau perkara tersebut dihentikan dengan terbitnya Surat Pemberitahuan
Penghentian Penyidikan (SP3).
IX. TARGET KINERJA BAGI SETIAP PENYIDIK/PENYIDIK PEMBANTU
Setiap penyidik/penyidik pembantu dalam menangani perkara yang ditugaskan kepadanya,
dibebani target penyelesaian sesuai dengan kriteria perkara, untuk perkara mudah maksimal 30
hari, perkara sedang maksimal 60 hari, perkara sulit maksimal 90 hari, penyidikan sangat sulit
maksimal 120 hari dan selalu melaporkan perkembangannya.
X. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan bagi
penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan.
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA

TTD
ASLI, SH
AKP NRP 80110618

61

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PENERIMAAN DAN PENANGANAN PENGADUAN
KOMPLAIN MASYARAKAT / PUBLIC COMPLAIN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A. PENDAHULUAN
1.

Umum
a.

Dalam rangka menampung, melayani dan menangani keluhan masyarakat, dengan


meningkatkan citra pelayanan cepat, tepat, profesional, akuntabel, selaras dengan
Transparansi penyidikan;

b. Sebagai langkah penjabaran transparansi penyidikan, guna meningkatkan kepercayaan


masyarakat pada Kesatuan Resnarkoba Polri semua tingkat, perlu menampung keluhan
masyarakat dengan membentuk wadah penerimaan komplain masyarakat (Public
Complain);
c. Agar pengaduan komplain masyarakat mendapatkan pelayanan yang cepat, tuntas dan
memberikan kepastian dibuat

Standard Operasional Prosedur (SOP) Penerimaan dan

Penanganan Pengaduan Komplain Masyarakat (Public Complain) guna dipedomani oleh


Penyidik Polri.
2.

Dasar
a.

Undang-Undang No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;

b.

Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;

c. Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/22/VI/2004 tentang Perubahan atas Keputusan Kapolri
No. Kep/30/VI/2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Satuan-satuan organisasi pada
tingkat Mabes Polri;
d.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Pol.: 15 tahun 2006 tentang
Kode Etik Profesi Penyidik Kepolisian Republik Indonesia tanggal 6 November 2006;

e.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang Pedoman Penyidikan


Tindak Pidana;

f.
3.

Pedoman pengawas penyidikan (naskah sementara) tanggal 1 Januari 2008.

Maksud dan Tujuan


a.

Maksud
SOP ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman terhadap penerimaan dan penanganan
pengaduan komplain

masyarakat / Public

complain di Satuan Resnarkoba Polres

Gorontalo.
b.

Tujuan
SOP ini bertujuan agar setiap penerimaan dan pengaduan komplain masyarakat/Public
complain dapat ditangani secara cepat, tuntas dan memberikan kepastian.

62

4.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup SOP ini meliputi penerimaan dan penanganan pengaduan komplain
masyarakat/Pubilc complain dari berbagai sumber yang masuk pada Sat Resnarkoba Polres
Gorontalo, yang sudah diterima laporannya, dituangkan dalam Laporan Polisi, ditangani oleh
Penyidik Polri, (tidak termasuk perkara SP3, dalam persidangan pidana dan yang sudah
mendapat keputusan/memperoleh kekuatan hukum yang tetap/incrach).

5.

Pengertian
a.

Pengaduan komplain masyarakat adalah pengaduan yang disampaikan oleh masyarakat


yang datang langsung atau

melalui surat, SMS, e-Mail atau telepon diterima Sat

Resnarkoba Polres Gorontalo, yang sudah diterima laporannya tertuang dalam Laporan
Polisi dan ditangani oleh penyidik Sat Resnarkoba (tidak termasuk perkara yang sudah
dihentikan penyidikannya, dalam proses sidang pengadilan pidana, atau perkara yang sudah
mendapat keputusan / memperoleh kekuatan hukum yang tetap/Incrach);
b.

Petugas penerima pengaduan komplain masyarakat selanjutnya disebut Petugas adalah


Personil Sat Resnarkoba yang ditunjuk berdasarkan Skep/Sprin Kasat Resnarkoba
ditugaskan untuk menerima, merespon pengaduan komplain masyarakat;

c. Pengawas Penyidik adalah Personil Sat Resnarkoba Polres Gorontalo, yang ditunjuk
berdasarkan Skep/Sprin Kasat Resnarkoba, ditugaskan untuk menindaklanjuti, menangani
pengaduan komplain masyarakat;
d.

Atasan penyidik adalah atasan penyidik secara hirarkhi pada Sat Resnarkoba.

B. MEKANISME PENERIMAAN DAN PENANGANAN


1.

Pada prinsipnya pengaduan komplain masyarakat yang diterima dari masyarakat yang datang
langsung dan atau melalui Instansi, Badan, Lembaga diluar Polri, disalurkan dari Kapolres,
Wakapolres, guna dilakukan tindaklanjut penanganan komplain masyarakat yang dikoordinasi
oleh Kaur Bin Ops;

2.

Pengaduan Komplain Masyarakat meliputi 2 jenis yaitu: datang langsung ke Sat Resnarkoba
Polres Gorontalo dan atau melalui surat dari berbagai sumber atau melalui SMS atau e-Mail,
atau telepon.
a.

Datang langsung ke Sat Resnarkoba Polres Limboto.


1) Pengaduan Komplain Masyarakat yang datang langsung ke Sat Resnarkoba Polres
Gorontalo, diterima langsung oleh Petugas penerima pengaduan masyarakat dan segera
diklarifikasi kepada/dengan penyidik yang menangani perkaranya atau Pengawas
Penyidik, dengan hasil klarifikasi dapat berupa :
a) Kepada pengadu disampaikan rekomendasi/saran :
(1) Dipertemukan langsung dengan Penyidik yang menangani, bila perkaranya
ditangani oleh Sat Resnarkoba Polres Gorontalo;
(2) Perlu waktu untuk dilaksanakan gelar perkara;
(3) Perlu supervisi atau diminta laporan kemajuan;
(4) Dapat diketahui langsung melalui sarana SPPKP.
b) Dibuat rekomendasi kepada Kasat Reskrim melalui Kaur Bin Ops, dapat berupa :
(1) Perlu klarifikasi, pendalaman, mengecek langsung kepada
menangani perkara dijembatani oleh Pengawas Penyidik;

63

Penyidik yang

(2) Dimintakan laporan kemajuan perkembangan perkara;


(3) Perlu dilakukan gelar perkara;
(4) Perlu dilakukan supervisi.
2) Hasil tindak lanjut :
a) Dilaporkan kepada Kasat Reskrim melalui Kaur Bin Ops ;
b) Dibuat arahan Kasat Resnarkoba kepada Kanit langkah tindak lanjut penanganan
perkara yang diadukan complain;
c) Dibuat surat balasan atau jawaban kepada Instansi, Badan, Lembaga , sesuai
masalah yang diadukan;
d) Disampaikan SP2HP dari penyidik kepada pengadu / pelapor, (SP2HP ditanda
tangani oleh Kasat).
3) Apabila pengadu komplain, mengadukan perkara yang penanganannya oleh Satuan
Kewilayahan, akan direspon dengan meminta laporan kemajuan penanganan perkara,
atau diundang gelar perkara di Sat Resnarkoba Polres Gorontalo atau dilakukan
supervisi dan atau gelar perkara di Kewilayahan (Polsek), dan akan ditindak lanjuti,
disampaikan jawaban kepada pengadu komplain.
b.

Pengaduan

Komplain

melalui

surat

dari

berbagai

sumber

(Masyarakat,

Lembaga/Instansi/Departemen dan Satuan Kerja Lingkup Polda).


1) Komplain surat dari berbagai Sumber diteruskan kepada Sat Resnarkoba :
a) Dari Masyarakat (Perorangan, Perseroan, Kuasa Hukum/Advokat, LSM);
b) Dari Masyarakat kepada Presiden, Departemen / Kementerian (Setneg RI, Seskab,
Polhukam, Depdagri, Depkumham, dst);
c) Dari Masyarakat kepada Institusi/Badan/Lembaga Non Departemen (DPR-RI,
KOMNAS HAM, OMBUDSMAN, MK, KOMPOLNAS, dst);
d) Dari Masyarakat kepada Satuan Kerja lingkup Mabes Polri (Irwasum Polri, Divisi
Binkum Polri, Divisi Propam Polri, dst).
e) Dari Masyarakat kepada Satuan Kerja lingkup Polda Gorontalo.
2) Diterima dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Gorontalo.
a) Surat pengaduan komplain yang diterima dan sudah ada petunjuk/arahan dalam
disposisi dari Kapolres, Wakapolres, dilakukan tindaklanjut sesuai prosedur
sebagai berikut :
(1) Ditunjuk Pengawas Penyidik untuk mempelajari, menganalisis, menangani
dan mengkordina- sikan dengan penyidik ;
(2) Dilakukan gelar perkara di Dit Narkoba Polda Gorontalo;
(3) Dilakukan supervisi dan atau gelar perkara di Satuan Kewilayahan;
(4) Diminta laporan perkembangan penanganan perkara;
(5) Menanggapi komplain dengan membuat surat sebagai jawaban;
(6) Bila

bobot perkara yang diadukan komplain cukup untuk direspon oleh

Satuan Kewilayahan, maka surat pengaduan komplain dilimpahkan ke Satuan


Kewilayahan untuk direspon dan ditindak lanjuti.
b) Hasil tindak lanjut.
(1) Dilaporkan kepada Direktur Resnarkoba Polda Gorontalo;

64

(2) Dilaporkan kepada Kapolda/Wakapolda (bila dianggap perlu diketahui dan


diambil kebijakan);
(3) Disampaikan penjelasan kepada Instansi/ Lembaga / Badan / Departemen
yang mengaharapkan informasi sebagai jawaban;
(4) Disampaikan SP2HP dari penyidik kepada pelapor / pengadu.
(5) Disampaikan penjelasan kepada Pengadu sebagai jawaban.
c.

Pengaduan Komplain melalui SMS, E-MAIL dan Telepon.


a)

Penerimaan pengaduan komplain melalui SMS dan E-Mail.


(1)

Petugas menerima dan membuka SMS, E-Mail, serta diprint (print


out), dibuatkan pengantar dalam bentuk Nota Dinas;

(2)

Ajukan kepada Kaur Bin Ops atau dapat diajukan

kepada Kasat

Resnarkoba untuk mendapatkan petunjuk / disposisi;


(3)

Ditugaskan

kepada Petugas Penerima Pengaduan Komplain untuk

klarifikasi kepada penyidik (apabila

perkaranya ditangani di Sat

Resnarkoba);
(4)

Ditunjuk Pengawas Penyidik untuk cross cek/klarifikasi dengan


penyidik, atau

klarifikasi, minta

laporan kemajuan penanganan

perkara, apabila perkaranya ditangani oleh Kewilayahan;


(5)
b)

Dapat dilakukan gelar perkara dalam kurun waktu 1 2 minggu.

Penerimaan pengaduan komplain melalui Telepon.


(1)

Petugas menerima telepon, dicatat kemudian dituangkan dalam Nota


Dinas

diajukan kepada Kasat Resnarkoba untuk

mendapatkan

petunjuk / disposisi;
(2)

Pengaduan Komplain memuat :


(a) Identitas pengadu komplain (nama lengkap, pekerjaan dan alamat);
(b) Komplain berhubungan dengan perkara apa, No LP/Bukti
Laporan/STPL, ditangani

Kesatuan Kepolisian mana, serta Tim

Penyidik atau Penyidik;


(c) Yang

dikomplain

permasalahan

apa,

hubungannya

dengan

penanganan perkara.
(3)

Ditugaskan kepada Petugas Penerima Pengaduan

Komplain untuk

klarifikasi kepada penyidik Sat Resnarkoba Polres Gorontalo (apabila


perkaranya ditangani di Sat Resnarkoba Polres Gorontalo);
(4)

Ditunjuk Pengawas Penyidik untuk cross cek / klarifikasi dengan


penyidik Sat Resnarkoba Polres Limboto atau klarifikasi/minta laporan
perkembangan penanganan perkara, apabila perkaranya ditangani oleh
Kewilayahan;

(5)
c)

Dapat dilakukan gelar perkara dalam kurun waktu 1 2 minggu.

Hasil tindak lanjut.


(1)

Petugas penerima komplain melaporkan tertulis kepada Kaur Bin Ops


dan diteruskan kepada Kasat Resnarkoba;

(2)

Diteruskan Laporan kepada Kapolres, Wakapolres (bila perlu diketahui


untuk mendapatkan arahan / kebijakan);

65

(3)

Disampaikan penjelasan kepada pengadu komplain sebagai jawaban


melalui surat atau melalui SMS, atau E-mail;

(4)

Surat Jawaban harus dicatat dalam Register dan diberi Nomor, tanggal,
tertanda/ditanda tangani dan stempel kesatuan kepolisian.

C. TEMPAT, RUANG DAN SARANA, PERSONIL / PETUGAS PENERIMA PENGADUAN


KOMPLAIN MASYARAKAT.
1.

Tempat dan Ruang Penerimaan Pengaduan Komplain Masyarakat;


a.

Di Satuan Reskrim
Tempat kedudukan Penerimaan pengaduan komplain Masyarakat berada di Ruang Piket
Sat Resnarkoba Polres Gorontalo dan ruangan penerimaan

bergabung dengan Ruang

Pengawas Penyidikan atau Ruangan lain yang sudah ditentukan, didukung dengan sarana
pendukung operasionalnya.
b.

Di Kesatuan Kewilayahan.
1) Tempat kedudukan Penerimaan pengaduan komplain Masyarakat berada di Polsek;
2) Ruang Penerimaan pengaduan komplain masyarakat yang telah ditentukan berada pada
Unit Reskrim Polsek, didukung dengan sarana pendukung operasionalnya.

2.

Untuk keseragaman penyebutan, pertama kali ditetapkan nama :

Ruang PENGADUAN

KOMPLAIN MASYARAKAT (PUBLIC COMPLAIN)


3.

Personil/Petugas Penerima Pengaduan Komplain Masyarakat.


a.

Pada Sat Resnarkoba Polres Gorontalo;


1) Petugas adalah personil Sat Resnarkoba Polres Gorontalo ditunjuk berdasarkan Surat
Perintah Kasat Resnarkoba terdiri 2 (dua) orang berpangkat Brigadir Polisi/PNS
golongan II;
2) Petugas penerima pengaduan komplain masyarakat pada poin 1), melaksanakan tugas
dari jam 08.00 15.00 Wita.

b.

Tingkat Polsek
a) Petugas adalah personil Unit Reskrim Polsek ditunjuk berdasarkan Surat Perintah
Kapolsek;
b) Petugas penerima pengaduan komplain masyarakat, melaksanakan tugas dari 08.00
15.00 Wita.

D. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


1. Setiap memberikan respon / menindaklanjuti atau selesai menindaklanjuti pengaduan komplain
masyarakat, Petugas dan atau Pengawas penyidik yang ditunjuk bertanggung jawab melaporkan
secara tertulis kepada Kasat Resnarkoba;
2.

Setiap memberikan respon / menindaklanjuti atau selesai menindaklanjuti pengaduan komplain


masyarakat, Petugas dan atau Pengawas penyidik yang ditunjuk pada Kesatuan Kewilayahan,
bertanggung jawab melaporkan secara tertulis :
a.

Kepada Kapolda melalui Direktur Resnarkoba Polda Gorontalo;

b.

Kepada Kapolres melalui Kasat Resnarkoba dan.

66

3.

Petugas dan pengawas penyidik membuat rekap setiap bulan sebagai pertanggungjawaban atas
pelayanan kepada masyarakat berkaitan dengan penerimaan dan penanganan pengaduan
komplain masyarakat, serta tindak lanjutnya.

E. ADMINISTRASI
1.

Administrasi berkaitan dengan penerimaan pengaduan complain masyarakat, penanganan dan


tindak lanjut atau Surat Jawaban kepada pengadu komplain, mempedonani dan menyesuaikan
dengan petunjuk Administrasi umum Polri dan atau Administrasi penyidikan Polri, serta
dicatat dalam register;

2.

Kebutuhan sarana prasarana, ATK dan dukungan Anggaran kesatuan-kesatuan Resnarkoba


sesuai tingkatan.

F. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) ini dibuat sebagai pedoman dan panduan bagi
penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA

TTD
ASLI, SH
AKP NRP 80110618

67