Anda di halaman 1dari 9

NILAI RUJUKAN PARAMETER HEMATOLOGI RUTIN

BERDASARKAN POPULASI DEWASA NORMAL


DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
Putri Talita1, Phey Liana2, Rini Nindela3
1. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, Jl. Dr. Mohammad Ali Komplek
RSMH Palembang Km. 3,5, Palembang, 30126, Indonesia
2. Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, RSMH Palembang, Jl. Jendral
Sudirman Km. 3,5, Palembang, Indonesia
3. Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, RSMH Palembang, Jl. Jendral
Sudirman Km. 3,5, Palembang, Indonesia
E-mail: putritalitaabrani@yahoo.co.id

Abstract
Background: Clinical laboratory is one of the supporting tools to diagnose a disease. The most frequently examination
performed in Dr. Mohammad Hoesin Central General Hospital (RSMH) Palembang is routine hematology. Reference
range is needed to interpret the results of laboratory tests. All this time, the reference range is excerpted from the
literature and the manual book and sometimes do not reflect the true range in the population, which is influenced by
several other factors. This study aimed to obtain a reference range of routine hematological parameters based on the
population in order to interpret the test results accurately.
Method: This study is an observational analytic study with a cross sectional type, conducted in October-December
2015 in the Clinical Laboratory RSMH Palembang. The data used are secondary data from the results of the patient's
medical check-up in January 2013-October 2015. Data consists of healthy 120 men and 120 women with an age range
of 18-45 years. The data were analyzed by SPSS for testing normal distribution and comparative test with t-test
independent and Mann Whitney test between men and women for determine whether the data process separated or
combine. Reference range determine with 2SD (normal distribution) and 2.5-97.5 percentil (abnormal distribution).
One sample t-test is use to compare reference range of this study to earlier reference range.
Result: Reference value obtained for hemoglobin parameter in men is 13.48 to 17.40 g/dL and women 13.20 to 11.40
g/dL, hematocrit in men is 41.00-51.00% and hematocrit in women is 35.00-45.00%, men erythrocyte count is 4.40 to
6.30 million/mm3 and women erythrocyte count is 4.00-5.70 million/mm 3, platelet count is 170-396 thousand/mL for
men and 189-436 thousand/uL for women, and leukocyte count is 4.73-10.89 thousand/mm 3. Result of one sample t-test
for hemoglobin, erythrocyte count, hematocrit for men and women <0.05, meanwhile platelet count and leukocyte
count >0.05.
Conclusion: There are significant differences between the parameters of hemoglobin, hematocrit, erythrocyte count in
men and women with the reference value used in RSMH during this time. Instead, the parameter of platelet count and
leukocyte count are not significantly different.
Keywords: Reference range, routine hematology, normal adult population

Pendahuluan

Diagnosis suatu penyakit dapat ditegakkan


melalui alur yang sudah baku mulai dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Ada

kalanya gejala dari suatu penyakit tidak terlalu spesifik


sehingga perlu dilakukan pemeriksaan tambahan, salah
satunya adalah pemeriksaan laboratorium klinik,
sehingga laboratorium klinik menjadi salah satu sarana
penunjang dalam mendiagnosis penyakit.1 Selain itu,
hasil tes laboratorium dapat dipakai pula untuk
menyaring populasi sehat dan menetapkan nilai
rujukan yang sesuai dengan karakteristik populasi
setempat.2
Pemeriksaan laboratorium terdiri dari berbagai
jenis
pemeriksaan,
antara
lain
urinalisis,
imunoserologi, kimia darah, serta hematologi. Menurut
data Medical Check Up (MCU) periode 2013-2014,
pemeriksaan yang paling sering dilakukan di Rumah
Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Mohammad Hoesin
Palembang adalah pemeriksaan hematologi rutin yang
terdiri dari 5 komponen, antara lain hemoglobin (Hb),
hematokrit (Ht), hitung leukosit (leukocyte count),
hitung trombosit (platelet count), dan hitung eritrosit
(erythrocyte count).
Untuk dapat menginterpretasi hasil tes
laboratorium pasien dibutuhkan nilai rujukan yang
biasanya berbentuk nilai rentang, sehingga dari
interpretasi hasil laboratorium ini dapat ditentukan
diagnosis maupun tindak lanjut terhadap pasien. 1 Nilai
rujukan dalam literatur dan manual book kadang tidak
mencerminkan nilai rujukan sebenarnya yang
dipengaruhi oleh faktor internal antara lain usia, jenis
kelamin, genetik dan ras, serta dipengaruhi pula oleh
beberapa faktor eksternal yaitu nutrisi, lingkungan,
ketinggian, maupun alat dan metode yang dipakai
sehingga memungkinkan adanya variasi nilai akibat
perbedaan metode dan karakteristik pasien.2
Nilai rujukan yang tercantum dalam manual
book didapatkan dari beberapa sampel darah pekerja
pabrik alat dan tidak merepresentasikan keadaan
populasi secara umum. Hasil penelitian oleh Esa dan
rekan pada tahun 2006 menyatakan tidak terdapat
perbedaan signifikan antara nilai rujukan yang
didapatkan dari hasil penelitian terhadap nilai rujukan
yang tercantum dalam literatur dan manual book
kecuali untuk nilai hitung trombosit, tetapi terdapat
perbedaan signifikan antar kelompok jenis kelamin,
namun, hasil penelitian oleh Waithaka dan rekan pada
tahun 2009 menyatakan terdapat perbedaan yang
signifikan baik dari rerata antara nilai rujukan
penelitian dan nilai pada literatur serta manual book,
maupun perbedaan rerata dua kelompok jenis kelamin.
Oleh karena itu, setiap laboratorium klinik dianjurkan
untuk menetapkan nilai rujukannya sendiri berdasarkan
penelitian pada populasi sehingga dapat dilakukan
interpretasi hasil tes laboratorium secara tepat dan
akurat.3
Belum ada penelitian yang diterbitkan mengenai
nilai rujukan parameter hematologi rutin berdasarkan

populasi dewasa normal di Kota Palembang khususnya


untuk RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang sebagai
rumah sakit tipe A dan pendidikan di Sumatera Selatan,
sehingga penulis merasa perlu untuk melakukan
penelitian ini.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan nilai rujukan parameter hematologi rutin
yang sesuai dengan metode pemeriksaan dan
karakteristik pasien RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang
sehingga dapat memberikan hasil diagnosis yang tepat
dan tatalaksana yang sesuai bagi pasien yang berobat
ke RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang.

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian
observasional analitik dengan design cross sectional.
Penelitian dilakukan mulai bulan AgustusDesember
2015 di Laboratorium Klinik Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian
disesuaikan dengan panduan dari Clinical and
Laboratory Standard Institute (CLSI) tahun 2010,
penelitian nilai rujukan menggunakan 120 sampel pria
dan 120 sampel wanita yang dipilih secara simple
random sampling. Dalam penelitian ini sampel yang
diteliti merupakan data sekunder yang diambil dari
data rekam medik laboratorium medical check-up
pasien periode Januari 2013Oktober 2015 yang
memenuhi kriteria inklusi yaitu pria maupun wanita
yang sehat dan berumur 1845 tahun serta kriteria
eksklusi tes fungsi ginjal abnormal.
Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin,
hemoglobin, hematokrit, hitung leukosit, hitung
eritrosit, dan hitung trombosit.
Alat yang digunakan adalah Sysmex XT-4000i
(untuk data sampel periode 2013awal 2014) dan
Sysmex XN-1000 (untuk data sampel periode awal
20142015), kedua alat tersebut menggunakan metode
yang sama yaitu Sodium Lauryl Sulfate (Free Cyanide
Hgb) untuk analisis hemoglobin, Hydrodynamic
Focusing Testing untuk analisis hematokrit, hitung
eritrosit, dan hitung trombosit, serta Flow Cytometry
untuk analisis hitung leukosit.4,5
Pengolahan dan analisis data menggunakan
program SPSS versi 22. Hal yang pertama dilakukan
adalah pengujian normalitas data dengan uji
Kolmogorov-Smirnov pada kelompok pria dan wanita.
Bila didapatkan distribusi normal, maka dilanjutkan
dengan uji-t independen untuk menganalisis perbedaan
pada kelompok pria dan wanita, namun, apabila
distribusi tidak normal, analisis menggunakan uji
Mann-Whitney. Jika didapatkan perbedaan yang
bermakna antara kelompok pria dan wanita,

pengolahan akan dilakukan secara terpisah. Jika tidak


didapatkan perbedaan yang bermakna, pengolahan data
tidak dipisahkan.
Nilai rujukan diperoleh dengan Confidence
Interval (CI) 95% (2SD) apabila distribusi normal,
sedangkan jika tidak normal penentuan nilai rujukan
menggunakan persentil 2,597,5%. Setelah didapatkan
hasil, nilai rujukan tersebut akan dibandingkan
terhadap nilai yang terdapat pada literatur maupun
brosur alat menggunakan metode one sample t-test.6

Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan dengan mengolah 240 data
sampel yang terdiri dari 120 subyek pria dan 120
subyek wanita, rerata usia pada kelompok pria 31,9
tahun dan 29,6 tahun pada kelompok wanita dengan
kisaran usia 1845 tahun. Distribusi data hemoglobin
(Hb), hematokrit (Ht), hitung eritrosit (Red Blood
Cell/RBC), hitung trombosit (Platelet/Plt), dan hitung
leukosit (White Blood Cell/WBC) berdasarkan uji
Kolmogorov-Smirnov (K-S) dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Distibusi Data Hb, Ht, RBC, Plt, dan WBC
Berdasarkan Uji K-S

Parameter
Hemoglobin (Hb)
Hematokrit (Ht)
Hitung Eritrosit (RBC)
Hitung Trombosit (Plt)
Hitung Leukosit (WBC)

Jenis Kelamin
Pria
Wanita
Pria
Wanita
Pria
Wanita
Pria
Wanita
Pria
Wanita

Keterangan:
p<0.05: Distribusi data tidak normal
p>0.05: Distribusi data normal

Tidak Berpasangan

Parameter

Hemoglobi
n (Hb)

Distribusi Data
pA
Pria
Wanit
a
0.20
0

0.200

Jenis Uji

pB

t-test
independen
t
MannWhitney
MannWhitney

0.00
0

Hematokrit
0.00
0.00
0.002
(Ht)
1
0
Hitung
0.00
0.07
Eritrosit
0.001
0
4
(RBC)
Hitung
t-test
0.00
0.08
Trombosit
0.200
independen
0
9
(Plt)
t
Hitung
t-test
0.58
0.20
leukosit
0.200
independen
1
0
(WBC)
t
Keterangan:
pA: nilai signifikansi distribusi normal kelompok pria
dan wanita
pB: nilai signifikansi uji perbedaan rerata (pB<0.05
berarti terdapat perbedaan yang
signifikan antar 2 kelompok)
Hasil uji komparatif menunjukkan bahwa secara
statistik terdapat perbedaan yang signifikan untuk data
Hb, Ht, RBC, dan Plt pada kelompok pria dan wanita.
Oleh karena itu, data Hb, Ht, RBC, dan Plt pada
kelompok pria dan wanita akan diolah secara terpisah.
Uji komparatif untuk data WBC pada kedua kelompok
tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara
statistik, sehingga selanjutnya data akan diolah
tergabung.
Distribusi data Hb, RBC, dan Plt pada kelompok
pria normal, sehingga digunakan mean sebagai ukuran
pemusatan dan Confidence Interval 95% (2 Standard
Deviation/ SD) sebagai ukuran penyebaran seperti
terlihat pada Tabel 5.

Data Hb, Plt, dan WBC pada kelompok pria dan


Tabel 5. Nilai Mean Data Hb, RBC, dan Plt serta Rentang
wanita terdistribusi secara normal. Distribusi data RBC
Nilai Berdasarkan 2 SD pada Kelompok Pria
pada kelompok pria normal tetapi pada kelompok
wanita tidak normal, sedangkan distribusi data Ht baik
Parameter
Mean
-2SD
pada kelompok pria maupun wanita tidak normal.
Hemoglobin
(Hb)
15.459
13.473
Untuk mengetahui adanya perbedaan rerata yang
5.3633
4.43556
signifikan antara kelompok pria dan wanita digunakan Hitung Eritrosit (RBC)
Hitung
Trombosit
(Plt)
282.97
170.346
uji Mann-Whitney dan t-test independent seperti
terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji Komparatif Data Hb, Ht, RBC, Plt,


dan WBC antara Kelompok Pria dan Wanita

Distribusi data Ht pada kelompok pria tidak


normal sehingga dipakai median sebagai ukuran
pemusatan dan persentil 2.5-97.5 sebagai ukuran
penyebaran untuk mendapatkan rentang nilai seperti
diperlihatkan pada Tabel 6.

+2S
17.4
6.291
395.5

Tabel 6. Nilai Median Data Ht dan Rentang Nilai


Berdasarkan Persentil 2.5-97.5 pada Kelompok
Pria

Parameter
Hematokrit (Ht)

Median
45.00

Persentil 2.5
41.00

Distribusi data Hb dan Plt normal pada kelompok


wanita sehingga digunakan mean sebagai ukuran
pemusatan dan Confidence Interval 95% (2 SD)
sebagai ukuran penyebaran seperti terlihat pada Tabel
7.

Mean
13.246
312.02

-2SD
11.4088
188.148

Distribusi data Ht dan RBC pada kelompok


wanita tidak normal sehingga dipakai median sebagai
ukuran pemusatan dan persentil 2.5-97.5 sebagai
ukuran penyebaran untuk mendapatkan rentang nilai
seperti diperlihatkan pada Tabel 8.
Tabel 8. Nilai Median Data Ht dan Rentang Nilai
Berdasarkan Persentil 2.5-97.5 pada Kelompok
Wanita

Parameter
Hematokrit (Ht)
Hitung Eritrosit (RBC)

Median
39.00
4.6350

Persentil 2.5
35.00
4.0903

Pengolahan data WBC kelompok pria dan wanita


digabung dan ditentukan distribusi gabungannya
dengan uji K-S, melalui uji ini didapatkan distribusi
yang normal sehingga digunakan mean untuk ukuran
pemusatan dan Confidence Interval 95% (2 SD)
sebagai ukuran penyebaran untuk mendapatkan rentang
nilai seperti terlihat pada Tabel 9. Data juga diolah
terpisah untuk mengetahui mean dan rentang nilai
berdasarkan kelompok jenis kelamin seperti terlihat
pada Tabel 10.
Tabel 9. Nilai Mean Total Data WBC dan Rentang Nilai
Berdasarkan 2 SD

No
.

Paramete
r

Mea
n

-2 SD

Hitung
leukosit
(WBC)

+2SD

0.20
0

7.807

4.729
6

10.8844

Keterangan:
p: nilai signifikansi distribusi normal gabungan
Tabel 10. Nilai Mean Data WBC Kelompok Pria dan
Wanita dan Rentang Nilai Berdasarkan 2 SD

Paramet
er
Hitung
leukosit
(WBC)

Tabel 7. Nilai Mean Data Hb, RBC, dan Plt serta


Rentang Nilai Berdasarkan 2 SD
pada Kelompok Wanita

Parameter
Hemoglobin (Hb)
Hitung Trombosit (Plt)

1.

Jenis
Kelami
n
Pria
Wanita

Mea
n

-2
SD

+2 SD

7.86
2
7.75
2

5.140
2
4.348

10.583
8
11.156

Nilai rujukan keseluruhan parameter hematologi


rutin pada kelompok pria maupun wanita
disederhanakan dalam Tabel 11.
Perbandingan nilai rujukan yang diteliti dengan
nilai rujukan yang diteliti oleh peneliti lain (literatur)
diperlihatkan pada Tabel 12.
Tabel 11. Nilai Rujukan Parameter Hb, Ht, RBC, PLT,
dan WBC
Parameter

JK

Hemoglobin
(Hb)
Hematokrit (Ht)

120
120
120
120
120
120
120
120
240

Hitung Eritrosit
(RBC)
Hitung
Trombosit (Plt)
Hitung Leukosit
(WBC)

Nilai
Rujukan
13.48-17.40
11.40-15.00
41.00-51.00
35.00-45.00
4.40-6.30
4.00-5.70
170-396
189-436
4.73-10.89

Satuan
g/dL
g/dL
%
%
106/mm3
106/mm3
103/L
103/L
103/mm3

Sebagaimana tujuan dari penelitian ini adalah


untuk mengetahui perbedaan antara nilai rujukan yang
diteliti terhadap nilai rujukan yang dipakai di
Laboratorium Klinik Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Mohammad Hoesin Palembang, maka dilakukan uji
one sample t-test. Nilai rujukan terdahulu tidak
membedakan kelompok pria dan wanita pada
parameter hitung trombosit, maka parameter hitung
trombosit digabung dalam analisis ini seperti
diperlihatkan pada Tabel 13.

Tabel 12. Perbandingan Nilai Rujukan Penelitian terhadap Literatur


JK

Hb
Ht
RBC
Plt
WBC

Penelitian
13.48-17.40
11.40-15.00
41.00-51.00
35.00-45.00
4.40-6.30
4.00-5.70
170-396
189-436
4.73-10.89

Esa, dkk.
12.50-17.30
11.80-15.40
38.10-50.40
31.10-49.70
4.20-6.20
3.80-5.50
171.2-405.1
191.8-441.5
4.40-10.00

Rosida, dkk.
12.50-16.70
12.00-15.60
4.10-6.00
4.00-5.30
159-391
159-391
4.56-10.30

Kueviakoe, dkk.
10.00-18.40
10.30-17.10
28.00-54.00
28.00-47.00
3.30-6.40
3.10-6.00
120-443
120-443
1.90-10.10

Tsegaye, dkk.
13.90-18.30
12.20-16.60
41.60-55.10
35.30-48.80
4.30-5.90
3.70-5.20
97-324
98-352
3.00-9.80 ()

Kaya, dkk.
14.10-16.70
12.40-14.80
41.10-48.90
36.20-43.80
4.72-5.52
4.24-5.04
183-287
197-309
5.80-9.80 ()

3.00-12.20 ()

5.46-9.46 ()

Keterangan:
: Pria, : Wanita
Tabel 13. Perbandingan Nilai Rujukan yang Diteliti
terhadap Nilai Rujukan Laboratorium Klinik
RSMH
Para
meter

JK

Penelitian

Lab RSMH

Hb

Ht

13.4817.40
11.40-15.00
41.0051.00
35.0045.00
4.40-6.30
4.00-5.70
176-419
4.73-10.89

RBC
Plt
WBC

Beda
Rerata

13.20-17.30

One
sample
t-test (p)
0.023

11.7-15.5
43-49

0.000
0.000

-0.354
-1.342

43-49

0.000

-6.783

4.20-4.87
4.20-4.87
150-450

0.000
0.000
0.524

0.828
0.191
-2.508

4.5-11.0

0.569

0.056

0.209

Keterangan:
p<0.05: Terdapat perbedaan signifikan
p>0.05: Tidak terdapat perbedaan signifikan

Pembahasan
Hasil
pemeriksaan
parameter
hematologi
dipengaruhi beberapa faktor seperti jenis kelamin, usia,
ras, keadaan geografis tempat tinggal, genetik, nutrisi,
dan metode pemeriksaan yang dipakai.2,7 Menurut hasil
penelitian penulis, parameter hemoglobin (Hb),
hematokrit (Ht), hitung eritrosit (RBC), dan hitung
trombosit (Plt) memiliki perbedaan yang signifikan
antara pria dan wanita, sedangkan parameter hitung
leukosit (WBC) tidak berbeda secara signifikan.
Pada penelitian ini didapatkan nilai rujukan
hemoglobin, hematokrit, dan hitung eritrosit lebih
tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita. Hasil
yang sama juga didapatkan pada penelitian sebelumnya
oleh Esa (2006) di Makassar, Rosida (2015) di
Banjarmasin, Kueviakoe (2010) di Togo, Tsegaye
(1999) di Ethiopia, serta Kaya (2000) di Turki.

Faktor yang mungkin berpengaruh terhadap


tingginya parameter tersebut dapat disebabkan oleh
perbedaan kadar hormon androgen pada pria dan
wanita.2,8 Hormon androgen terdiri dari 3 tipe utama
yaitu dehidroepiandrosteron (DHEA), delta 4androstenedion, dan testosteron yang diproduksi baik
pada pria maupun wanita. DHEA dan metabolitnya
yaitu DHEA sulfat adalah androgen yang lemah dan
diproduksi oleh kelenjar adrenal. Delta 4androstenedion dikenal sebagai androgen yang lebih
kuat dibandingkan DHEA namun lebih lemah
dibandingkan testosteron. Hormon ini dihasilkan oleh
korteks adrenal dan ovarium. Testosteron adalah
senyawa androgen yang paling kuat dan diproduksi
oleh ovarium dan testis, tetapi, pria memproduksi
testosteron 10-20 kali lebih banyak daripada wanita.9
Sebuah studi percobaan pada mamalia berupa tikus
yang diberikan hormon androgen menunjukkan
peningkatan kadar hemoglobin, hematokrit, dan hitung
eritrosit. Sebaliknya, tikus yang dikebiri menunjukkan
penurunan kadar parameter tersebut diatas. Pemberian
hormon androgen berupa 250 mg testosteron enanthate
pada pria dewasa normal setiap minggu menunjukkan
terjadinya peningkatan pada ketiga parameter tersebut.
Ditambah lagi perbedaan kadar parameter tersebut
antara pria dan wanita baru muncul sejak terjadinya
pubertas.10
Hormon
androgen
mempengaruhi
proses
eritropoiesis melalui 2 cara. Pertama, hormon androgen
berperan dalam proses penggabungan molekul besi
pada hemoglobin (iron incorporation). Percobaan yang
dilakukan pada tikus dengan penyuntikan testosteron
secara intravena menyebabkan peningkatan ambilan Fe
oleh eritrosit.11 Kedua, hormon androgen berperan
dalam proses glikolisis sel darah merah (red cell
glycolysis). Setelah hormon androgen memasuki Red
Blood Cell akan terjadi peningkatan ambilan glukosa
dan selanjutnya memicu terjadinya proses glikolisis
yang menghasilkan energi berupa ATP (Adenosine Tri
Phospate) dan memulai terjadinya transkripsi DNA
serta sintesis m-RNA oleh sel eritroid yang memacu

pematangan sel muda. Proses ini diyakini tidak


dipengaruhi oleh eritropoietin (EPO).12

rata 47.1 tahun pada pria serta 47.0 tahun pada wanita
untuk penelitian oleh Rosida.

Selain memiliki hormon androgen yang lebih


rendah daripada pria, siklus menstruasi kemungkinan
menyebabkan rendahnya ketiga parameter tersebut
pada kelompok wanita.2,7,13 Kehilangan darah saat
menstruasi dapat menyebabkan kehilangan besi yang
signifikan. Selain itu, menurut penelitian di United
Kingdom, 90% wanita tidak memenuhi kebutuhan
harian besinya sehingga rentan terjadi defisiensi besi.
Hal tersebut akan memperburuk keadaan defisiensi
besi yang disebabkan oleh kehilangan darah saat
menstruasi dan dapat berimbas kepada rendahnya
ketiga parameter tersebut. Penelitian menunjukkan
bahwa tidak terdapat perbedaan kebutuhan biologis
dari heme antara kelompok pria dan wanita. Dengan
kata lain, kemungkinan sampel yang diambil dari
populasi adalah sampel dengan kekurangan asupan besi
yang merupakan masalah gizi yang telah mendunia.13

Penelitian Kaya (2000) di Erzurum, Turki, yang


dilakukan terhadap masyarakat di daerah dataran tinggi
dengan ketinggian sedang yaitu 1.869 mdpl (meter
diatas permukaan laut) gagal membuktikan pengaruh
ketinggian tersebut terhadap peningkatan parameter
hematologi masyarakat Erzurum. Terbukti bahwa hasil
penelitian Kaya tidak terlalu jauh berbeda dengan hasil
yang didapatkan pada penelitian penulis dengan sampel
populasi masyarakat Kota Palembang yang merupakan
dataran rendah dengan ketinggian 8-12 mdpl. Hal ini
dikarenakan eritropoiesis yang distimulasi oleh
ketinggian baru akan menunjukkan peningkatan
parameter hematologi khususnya hemoglobin paling
tidak pada ketinggian 2000-3000 m dan paling
signifikan didapatkan pada orang yang tinggal di
ketinggian >3000 m dalam waktu paling tidak 12
minggu.14

Nilai rujukan hitung trombosit lebih tinggi pada


wanita dibandingkan dengan pria. Hasil serupa juga
didapatkan dalam penelitian sebelumnya oleh Esa
(2006) di Makassar, Tsegaye (1999) di Ethiopia, dan
Kaya (2000) di Turki. Banyak faktor yang
mempengaruhi kadar trombosit dalam darah. Faktor
tersebut dapat merupakan proses fisiologis seperti saat
aktivitas fisik (exercise), stres, ovulasi, pascahaid,
pascakeguguran, pascapersalinan, maupun rangsangan
adrenalin. Faktor penyebab lain dapat berupa
trombositosis reaktif yang berasal dari proses penyakit
ataupun perdarahan2. Dalam penelitian ini, sampel
yang dipakai adalah sampel populasi normal dengan
kemungkinan mengalami trombositosis reaktif sangat
kecil, sehingga kadar trombosit yang lebih tinggi pada
wanita mungkin disebabkan karena perbedaan proses
fisiologis yang terjadi antara pria dan wanita. Wanita
mengalami siklus menstruasi, kehamilan, dan
persalinan, namun, keterbatasan penulis tidak meneliti
lebih lanjut hubungan antara faktor-faktor tersebut.

Nilai rujukan parameter Hb dan Ht yang tinggi


didapatkan di Ethiopia melalui penelitian Tsegaye
(1999). Hal ini dipengaruhi oleh keadaan geografis
Ethiopia yang merupakan dataran tinggi dengan
ketinggian >2000 m. Selain itu, makanan pokok
masyarakat Ethopia yaitu injera adalah makanan
dengan kandungan besi yang tinggi sehingga kedua hal
ini akan sangat mempengaruhi parameter tersebut
diatas.

Nilai rujukan hitung leukosit yang tidak berbeda


bermakna antara pria dan wanita didapatkan juga pada
penelitian sebelumnya oleh Esa (2006) di Makassar,
Rosida (2015) di Banjarmasin dan Kueviakoe (2010) di
Togo.
Hasil penelitian penulis untuk keseluruhan
parameter tidak terlalu jauh berbeda dengan hasil yang
didapatkan oleh Esa (2006) di Makassar dan Rosida
(2015) di Banjarmasin, namun didapatkan batas bawah
yang lebih rendah pada hampir keseluruhan parameter
dari hasil kedua penelitian tersebut dibandingkan hasil
penelitian penulis. Hal ini mungkin diakibatkan
perbedaan populasi yang diteliti serta distribusi umur
sampel yang dipakai dalam penelitian tersebut lebih tua
yaitu 18-60 tahun untuk penelitian oleh Esa dan rata-

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kueviakoe


(2010) di Togo menunjukkan nilai rujukan untuk
parameter Hb, Ht, dan RBC yang jauh lebih rendah
batas bawahnya dibandingkan dengan hasil penelitian
penulis. Hal ini dikarenakan di daerah Togo terdapat
prevalensi yang tinggi dari thalasemia, defisiensi besi,
serta infeksi virus dan parasit yang akan sangat
mempengaruhi ketiga parameter tersebut.
Penelitian oleh Kueviakoe (2010) dan Tsegaye
(1999) yang dilakukan di Afrika menunjukkan batas
bawah yang jauh lebih rendah dibandingkan hasil
penelitian penulis. Menurut penelitian, kadar trombosit
pada ras Afrika cenderung lebih rendah dibandingkan
ras kaukasian. Faktor yang mungkin mempengaruhi hal
ini adalah banyaknya kasus parasitemia kronik dari
low-grade malaria di daerah Afrika. 7,8 Dalam keadaan
normal, sebanyak 30% dari trombosit yang
bersirkulasi akan tersekuestrasi di limpa, sedangkan
eritrosit hanya sebanyak 3% yang tersekuestrasi.15
Parasitemia kronik dari low-grade malaria akan
mempengaruhi ukuran dari limpa . Pembesaran ukuran
limpa akan berbanding lurus dengan peningkatan
sekuestrasi dari trombosit.7,8 Selain itu, didapatkan pula
batas bawah yang jauh lebih rendah untuk parameter
WBC pada kedua penelitian tersebut. Parameter WBC
juga didapatkan cenderung lebih rendah pada ras

Afrika dibandingkan dengan ras kaukasia yang


penyebab pastinya belum diketahui.8
Dari penelitian yang dilakukan oleh penulis
didapatkan perbedaan yang bermakna untuk 3 nilai
rujukan yaitu hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan
hitung eritrosit (Red Blood Cell/RBC) baik pada
kelompok pria maupun wanita terhadap nilai rujukan
yang dipakai selama ini di Laboratorium Klinik
RSMH dengan nilai p<0.05, sedangkan untuk nilai
rujukan hitung trombosit (Platelet/Plt) dan hitung
leukosit (White Blood Cell/WBC) tidak terdapat
perbedaan yang bermakna dengan nilai p>0.05,
berturut-turut 0.524 dan 0.569.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Esa
(2006) di Makassar menemukan nilai rujukan baru
untuk trombosit yang berbeda dari nilai rujukan
sebelumnya. Penelitian oleh Kueviakoe (2010) di Togo
dan Tsegaye (1999) di Ethiopia menunjukkan
perbedaan bermakna untuk keseluruhan parameter
hematologi rutin dari nilai rujukan yang dipakai
sebelumnya.
Nilai rujukan laboratorium klinik dapat berbedabeda di berbagai tempat. Oleh sebab itu, setiap
laboratorium klinik dianjurkan untuk menetapkan
sendiri nilai rujukannya berdasarkan penelitian pada
populasi. Nilai rujukan yang selama ini dipakai di
Laboratorium Klinik RSMH disadur dari berbagai
literatur dengan karakteristik populasi yang mungkin
berbeda dengan populasi Kota Palembang. Ditambah
lagi, Laboratorium Klinik RSMH menyamakan nilai
rujukan Ht dan RBC pada kelompok pria dan wanita.
Hal ini kurang sesuai dengan teori yang ada selama ini.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh penulis, Esa
(2006) di Makassar, Tsegaye (1999) di Ethiopia, dan
Kaya (2000) di Turki, kesemuanya menunjukkan
perbedaan yang bermakna untuk kelompok pria dan
wanita, sehingga seharusnya nilai rujukan Ht dan RBC
pada kelompok pria dan wanita tidak disamakan.

hitung eritrosit pria 4.40-6.30 juta/mm3, hitung eritrosit


wanita 4.00-5.70 juta/mm3, hitung trombosit pria 170396 ribu/L, hitung trombosit wanita 189-436 ribu/L,
dan hitung leukosit 4.73-10.89 ribu/mm3.
Terdapat perbedaan yang signifikan pada 3
parameter yaitu hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan
hitung eritrosit (Red Blood Cell/RBC) terhadap nilai
rujukan yang dipakai selama ini, sedangkan untuk
parameter hitung trombosit (Platelet/Plt) dan hitung
leukosit (White Blood Cell/WBC) tidak menunjukkan
perbedaan yang bermakna terhadap nilai rujukan
terdahulu.
Hasil penelitian ini didasarkan pada pasien yang
datang untuk medical check-up yang merupakan
populasi normal, sehingga dapat menjadi dasar
pertimbangan bagi Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Mohammad Hoesin Palembang untuk melakukan
penyesuaian nilai rujukan parameter hematologi rutin.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui
penyebab perbedaan yang signifikan dari parameter
hematologi rutin yang diteliti.

Daftar Acuan
1.

2.

3.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah data yang


diambil merupakan data sekunder dari rekam medik
Laboratorium Klinik Dr. Mohammad Hoesin
Palembang. Penulis tidak melihat keseluruhan data
pasien karena hambatan dalam penelusuran rekam
medik pasien, sehingga penulis mengasumsikan bahwa
seluruh sampel yang diambil dalam penelitian ini sehat
berdasarkan data laboratorium.

4.

Kesimpulan

7.

Nilai rujukan parameter hematologi rutin yang


berdasarkan penelitian pada populasi dewasa normal di
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin
Palembang yaitu hemoglobin pria 13.48-17.40 g/dL,
hemoglobin wanita 11.40-15.00 g/dL, hematokrit pria
41.00-51.00 %, hematokrit wanita 35.00-45.00 %,

5.
6.

8.

Rosida A, Hendriyono FX. Nilai Rujukan


Hematologi Orang Dewasa Normal di RSUD
Ulin Banjarmasin. Berkala Kedokteran. 2015;
11(1):101-107.
Esa T, Apriyanti S, Arif M. Nilai Rujukan
Parameter Hematologi Pada Orang Dewasa
Sehat Berdasarkan Sysmex XT-1800i.
Indonesian Journal of Clinical Pathology and
Medical Laboratory. 2006; 12(3):137-140.
Waithaka SK, Njagi EN, Ngeranwa JN.
Reference Range for Some Biochemical
Parameters in Adult Kenyans. International
Journal and Health Research. 2009; 2(3):259.
Sysmex America. Sysmex XT-4000i users
manual. 2012.
Sysmex America. Sysmex XN-1000 users
manual. 2014.
Dahlan MS. Statistik Untuk Kedokteran dan
Kesehatan:
Deskriptif,
Bivariat,
dan
Multivariat
Dilengkapi
Aplikasi
Menggunakan SPSS. Jakarta: Epidemiologi
Indonesia; 2014. p. 92-106.
Kueviakoe IM, Segbena AY, Jouault H.
Hematological Reference Values for Healthy
Adults in Togo. ISRN Hematology. 2010;
2011:1-4.
Tsegaye A, Messele T, Tilahun T.
Immunohematological Reference Ranges for
Adult Ethiopians. Clinical and Diagnostic
Laboratory Immunology. 1999; 6(3):410-414.

9.

Schteingar DE. Gangguan Hipersekresi


Adrenal. Dalam: Price SA, LM Wilson, editor.
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC, 2005:1246
10. Basaria S, Dobs AS. Androgens and the
Hematopoietic System. Dalam: Bagatell CJ,
Bremner WJ, editor. Androgens in Health and
Disease.
Newyork:
Springer
Science+Business Media, 2003: 233, 235
11. Molinari PF, Rosenkrantz H. Erythropoietic
Activity and Androgenic Implications of 29
Testosterone Derivatives in Orchiectomized
Rats. J Lab Clin Me. 1971; 74:85-92.
12. Molinari PF, Esber HJ, Snyder LM. Effect of
Androgens on Maturation and Metabolism of

Erythroid Tissue. Exp Hematol. 1976; 4:301309.


13. Rushton DH, Dover R, Sainsbury AW. Why
Should Women Have Lower Reference Limits
for Haemoglobin and Ferritin Concentrations
Than Men?. BMJ. 2001; 322:1355-1357.
14. Kaya H, Akarsu E, Kyky I. Hematological
Values of Healthy Adult Population Living at
Moderate Altitude (1869 m, Erzurum,
Turkey). Turk J Hematol. 2000; 17(3):123128.
15. Wadenvik H, Kutti, J. The Spleen and Pooling
of Blood Cell. Eur J Hematol. 1988; 41:1-5.