Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

Karsinoma Nasofaring

Disusun oleh:
Meldina Sari Simatupang
11-2014-329

Pembimbing :
Dr. Benhard Sp. THT-KL

Kepaniteraan Klinik Ilmu Telinga Hidung Tenggorokan


RS FMC
Periode 08 februari 2016 12 maret 2016
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, 2016
PENDAHULUAN

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antara
tumor ganas THT di Indonesia, dimana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor
ganas dengan frekwensi tertinggi, sedangkan didaerah kepala dan leher menduduki tempat
pertama. Tumor ini berasal dari fossa Rosenmulleri pada nasofaring yang merupakan daerah
transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa.
Insidens karsinoma nasofaring berbeda secara geografis dan etnik serta hubungannya
dengan Epstein-Barr Virus (EBV). Secara global, pada tahun 2000 terdapat lebih kurang 65.000
kasus baru dan 38.000 kematian yang disebabkan penyakit ini. Di beberapa 5egara insidens
kanker ini hanya 0,6 % dari semua keganasan. Di Amerika insiden karsinoma nasofaring 1-2
kasus per 100.000 laki-laki dan 0,4 kasus per 100.000 perempuan. Namun di 5egara lain dan
kelompok etnik tertentu, seperti di Cina, Asia Tenggara, Afrika Utara, tumor ganas ini banyak
ditemukan. Insiden karsinoma nasofaring tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan
Cina bagian selatan, khususnya suku Kanton di propinsi Guang Dong dan daerah Guangxi
dengan angka mencapai lebih dari 50 per 100.000 penduduk pertahun. Indonesia termasuk salah
satu 5egara dengan prevalensi penderita karsinoma nasofaring yang tinggi di luar Cina. Survei
yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 1980 secara pathology based
mendapatkan angka prevalensi karsinoma nasofaring 4,7 per 100.000 penduduk atau
diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia.
Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem,
hal ini karena etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring
yang tersembunyi, sehingga diagnosis sering terlambat.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi Nasofarin


Nasofaring merupakan suatu ruang atau rongga yang berbentuk kubus yang terletak di
belakang hidung. Rongga ini sangat sulit untuk dilihat, sehingga dahulu disebut rongga buntu
atau rongga tersembunyi. Batas-batas rongga nasofaring, di sebelah depan adalah koana (nares
posterior). Sebelah atas, yang juga merupakan atap adalah basis cranii. Sebelah belakang adalah
jaringan mukosa di depan vertebra servikal. Sebelah bawah adalah ismus faring dan palatum
mole, dan batas lainnya adalah dua sisi lateral.3

Bangunan-bangunan penting yang terdapat di nasofaring adalah: 3


1. Adenoid atau Tonsila Lushka
Bangunan ini hanya terdapat pada anak-anak usia kurang dari 13 tahun. Pada orang dewasa
struktur ini telah mengalami regresi.
2

Fosa Nasofaring atau Forniks Nasofaring


Struktur ini berupa lekukan kecil yang merupakan tempat predileksi fibroma nasofaring atau
angiofibroma nasofaring.

Torus Tubarius
Merupakan suatu tonjolan tempat muara dari saluran tuba Eustachii (ostium tuba)

Fosa Rosenmulleri
Merupakan suatu lekuk kecil yang terletak di sebelah belakang torus tubarius. Lekuk kecil ini
diteruskan ke bawah belakang sebagai alur kecil yang disebut sulkus salfingo-faring. Fossa
Rosenmulleri

merupakan

tempat

perubahan

atau

pergantian

epitel

dari

epitel

kolumnar/kuboid menjadi epitel pipih. Tempat pergantian ini dianggap merupakan predileksi
terjadinya keganasan nasofaring.
Mukosa atau selaput lendir nasofaring terdiri dari epitel yang bermacam-macam, yaitu
epitel kolumnar simpleks bersilia, epitel kolumnar berlapis, epitel kolumnar berlapis bersilia, dan
epitel kolumnar berlapis semu bersilia. Pada tahun 1954, Ackerman dan Del Regato berpendapat
bahwa epitel semu berlapis pada nasofaring ke arah mulut akan berubah mejadi epitel pipih
berlapis. Demikian juga epitel yang ke arah palatum molle, batasnya akan tajam dan jelas sekali.
Yang terpenting di sini adalah pendapat umum bahwa asal tumor ganas nasofaring itu adalah
tempat-tempat peralihan atau celah-celah epitel yang masuk ke jaringan limfe di bawahnya.3
Walaupun fosa Rosenmulleri atau dinding lateral nasofaring merupakan lokasi keganasan
tersering, tapi kenyataannya keganasan dapat juga terjadi di tempat-tempat lain di nasofaring. 3
Peneliti mengemukakan bahwa keganasan nasofaring dapat juga terjadi pada:
1. Dinding atas nasofaring atau basis kranii dan tempat di mana terdapat adenoid.
2. Di bagian depan nasofaring yaitu terdapat di pinggir atau di luar koana.
3. Dinding lateral nasofaring mulai dari fosa Rosenmulleri sampai dinding faring dan palatum
molle.
2.2 Epidemiologi
Meskipun banyak ditemukan di negara dengan penduduk non-Mongoloid, namun demikian
di daerah Cina bagian selatan masih menduduki tempat tertinggi, yaitu mencapi 2500 kasus baru
per tahun atau prevalensi 39,84 per 100.000 penduduk untuk Propinsi Guangdong 7,10.
Ras Mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya karsinoma nasofaring, sehingga
sering terjadi pada penduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia,
Singapura, dan Indonesia. Ditemukan pula cukup banyak kasus di Yunani, negara-negara Afrika
Utara seperti Aljazair dan Tunisia, pada orang Eskimo di Alaska dan Greenland yang diduga
penyebabnya karena memakan makanan yang diawetkan dengan nitrosamin pada musim
dingin.1, 7, 10.
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak
ditemukan di Indonesia, jumlahnya mencapai 60% dari jumlah keseluruhan tumor ganas daerah
kepala dan leher. Di semua pusat pendidikan dokter di Indonesia dari tahun ke tahun, karsinoma

nasofaring selalu menempati urutan pertama di bidang THT. Frekuensinya hampir merata di
setiap daerah. Di RSCM Jakarta saja ditemukan lebih dari 100 kasus per tahun. Di RS Hasan
Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus per tahun, Makassar 25 kasus per tahun, Palembang 25 kasus
per tahun, Denpasar 15 kasus per tahun, dan di Padang sebanyak 11 kasus per tahun. Frekuensi
yang tidak jauh berbeda juga ditemukan di Medan, Semarang, Surabaya dan kota-kota lain di
Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian tumor ganas ini merata di seluruh Indonesia. 10
2.3 Etiologi dan Faktor Resiko
Beberapa literatur menyebutkan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah Virus
Epstein-Barr, karena pada hampir semua pasien dengan karsinoma nasofaring didapatkan titer
anti-virus EB yang cukup tinggi, sedang pada penderita karsinoma lain di saluran pernapasan
bagian atas tidak ditemukan titer antibodi terhadap kapsid virus EB ini. Banyak penelitian
mengenai perilaku virus ini dikemukakan, tetapi virus ini bukan merupakan satu-satunya faktor,
karena banyak faktor lain yang sangat mempengaruhi munculnya tumor ganas ini seperti letak
geografis, ras, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan,
sosial ekonomi, infeksi bakteri atau parasit. 1,3,10
Tumor ganas ini sering ditemukan pada laki-laki dan sebabnya belum dapat diungkapkan
dengan pasti, dan lain-lain. Dari beberapa penelitian dijumpai perbandingan penderita laki-laki
dan perempuan adalah 4 : 1. Namun ada penelitian yang menemukan perbandingan laki-laki dan
perempuan hanya 2 : 1. Pada penelitian yang dilakukan di Medan (2008), ditemukan
perbandingan penderita laki-laki dan perempuan 3 : 2. Hormon testosteron yang dominan pada
laki-laki dicurigai mengakibatkan penurunan respon imun dan surviellance tumor sehingga lakilaki lebih rentan terhadap infeksi VEB dan kanker.1,7,10
Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi kronik oleh bahan kimia, asap,
kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu, dan kebiasaan makan makanan
terlalu panas. Pengaruh genetik terhadap karsinoma nasofaring sedang dalam pembuktian dengan
mempelajari cell mediated imunity dari virus EB dan tumor associated antigens pada karsinoma
nasofaring. Sebagian besar pasien adalah golongan sosial ekonomi rendah dan hal ini
menyangkut pula dengan keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup. 3,10

2.4 Patofisiologi
Keganasan pada umumnya dapat terjadi melalui dua mekanisme yaitu, pertama
pemendekan waktu siklus sel sehingga akan menghasilkan lebih banyak sel yang diproduksi
dalam satuan waktu. Kedua, penurunan jumlah kematian sel akibat gangguan pada proses
apoptosis. Gangguan pada berbagai protoonkogen dan gen penekan tumor (TSGs) yang
menghambat penghentian proses siklus sel. 9,10
Pada keadaan fisiologis proses pertumbuhan, pembelahan, dan diferensiasi sel diatur oleh
gen yang disebut protoonkogen yang dapat berubah menjadi onkogen bila mengalami mutasi.
Onkogen dapat menyebabkan kanker karena memicu pertumbuhan dan pembelahan sel secara
patologis.9,10

2.5 Manifestasi Klinis


Gejala atau manifestasi klinis dari karsinoma nasofaring dapat dibagi menjadi beberapa
kelompok, yaitu gejala hidung/nasofaring, gejala telinga, gejala tumor di leher, gejala mata dan
gejala saraf.
1. Gejala Hidung/Nasofaring 3
Harus dicurigaiadanya karsinoma nasofaring, bila ada gejala-gejala:

Bila penderita mengalami pilek lama, lebih dari 1 bulan, terutama penderita usia lebih

dari 40 tahun, sedang pada pemeriksaan hidung terdapat kelainan.


Bila penderita pilek dan keluar sekret yang kental, berbau busuk, lebih-lebih jika terdapat

titik atau garis perdarahan tanpa kelainan di hidung atau sinus paranasal.
Pada penderita yang berusia lebih dari 40 tahun, sering keluar darah dari hidung
(epistaksis) sedangkan pemeriksaan tekanan darah normal dan pemeriksaan hidung tidak
ada kelainan.

2. Gejala Telinga 3,10


Gejala pada telinga umumnya berupa pendengaran yang berkurang, telinga terasa penuh
seperti terisi air, berdengung (tinitus) dan nyeri (otalgia). Gangguan pendengaran yang
terjadi biasanya berupa tuli hantaran dan terjadi bila ada perluasan tumor atau karsinoma
nasofaring ke sekitar tuba, sehingga terjadi sumbatan.
3. Gejala Tumor Leher 3,10

Pembesaran leher atau tumor leher merupakan penyebaran terdekat secara limfogen dari
karsinoma nasofaring. Penyebaran ini bisa terjadi unilateral maupun bilateral. Spesifitas
tumor leher sebagai metastase karsinoma nasofaring adalah letak tumor di ujung prosesus
mastoid, di belakang angulus mandibula, di dalam muskulus sternokleidomastoideus, keras
dan tidak mudah bergerak. Kecurigaan bertambah besar bila pada pemeriksaan rongga
mulut, lidah, faring, tonsil, hipofaring dan laring tidak ditemukan kelainan.
4. Gejala Mata 3,10
Penderita akan mengeluh penglihatannya berkurang, namun bila ditanyakan secara teliti,
penderita akan menerangkan bahwa ia melihat sesuatu menjadi dua atau dobel. Jelas yang
dimaksud di sini adalah diplopia. Hal ini terjadi karena kelumpuhan N.VI yang letaknya di
atas foramen laserum yang mengalami lesi akibat perluasan tumor. Keadaan lain yang dapat
memberikan gejala mata adalah karena kelumpuhan N.III dan N.IV, sehingga menyebabkan
kelumpuhan mata yang disebut dengan oftalmoplegia. Bila perluasan tumor mengenai
kiasma optikus dan N.II maka penderita dapat mengalami kebutaan.
5. Gejala Saraf 3,10
Sebelum terjadi kelumpuhan saraf

kranialis biasanya didahului oleh beberapa gejala

subyektif yang dirasakan sangat menganggu oleh penderita seperti nyeri kepala atau kepala
terasa berputar, hipoestesia pada daerah pipi dan hidung, dan kadang mengeluh sulit
menelan (disfagia). Tidak jarang ditemukan gejala neuralgia trigeminal oleh ahli saraf saat
belum ada keluhan yang berarti. Proses karsinoma yang lebih lanjut akan mengenai N. IX,
X, XI, dan XII jika perjalanan melalui foramen jugulare. Gangguan ini disebut dengan
sindrom Jackson. Bila sudah mengenai seluruh saraf kranial disebut dengan sindrom
unilateral. Dapat pula disertai dengan destruksi tulang tengkorak dan bila sudah demikian
prognosisnya menjadi buruk.

2.6 Klasifikasi
Karsinoma nasofaring dapat diklasifikasikan berdasarkan stadium klinis dan gambaran
histopatologisnya. Penentuan stadium karsinoma nasofaring digunakan sistem TNM menurut
UICC (1992).3,10

T (Tumor Primer)
T0 = Tidak tampak tumor
T1 = Tumor terbatas pada satu lokasi saja (lateral, porterosuperior, atap, dll)
T2 = Tumor terdapat pada dua lokasi atau lebih tetapi masih di dalam
rongga nasofaring
T3 = Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau orofaring
T4 = Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau
mengenai saraf-saraf otak
Tx = Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap

N (Pembesaran kelenjar getah bening regional)


N0 = Tidak ada pembesaran KGB
N1 = Terdapat pembesaran KGB homolateral dan masih bisa digerakkan
N2 = Terdapat pembesaran KGB kontralateral/bilateral dan masih bias digerakkan
N3 = Terdapat pembesaran baik homolateral/kontralateral/bilateral yang sudah melekat
pada jaringan sekitar

M (Metastasis jauh)
M0

= Tidak ada metastasis jauh

M1

= Terdapat metastasis jauh

Dari keterangan di atas, karsinoma nasofaring dikelompokkan menjadi 4 stadium, yaitu:


a. Stadium I

: T1 N0 M0

b. Stadium II : T2 N0 M0

c. Stadium III : T1/2/3 N1 M0 atau T3 N0 M0


d. Stadium IV : T4 N0 M0 atau T1/2/3/4 N2/3 M0 atau T1/2/3/4 N0/1/2/3 M1

Berdasarkan gambaran histopatologinya, karsinoma nasofaring dibedakan menjadi 3 tipe


menurut WHO.1,3,7,10 Pembagian ini berdasarkan pemeriksaan dengan mikroskop elektron di
mana karsinoma nasofaring adalah salah satu variasi dari karsinoma epidermoid. Pembagian ini
mendapat dukungan lebih dari 70% ahli patologi dan tetap dipakai hingga saat ini.
a. Tipe WHO 1
Termasuk di sini adalah karsinoma sel skuamosa (KSS). Tipe WHO 1 mempunyai tipe
pertumbuhan yang jelas pada permukaan mukosa nasofaring, sel-sel kanker berdiferensiasi
baik sampai sedang dan menghasilkan cukup banyak keratin baik di dalam dan di luar sel.
b. Tipe WHO 2
Termasuk di sini adalah karsinoma non keratinisasi (KNK). Tipe WHO 2 ini paling
banyak variasinya, sebagian tumor berdiferensiasi sedang dan sebagian sel berdiferensiasi
baik, sehingga gambaran yang didapatkan menyerupai karsinoma sel transisional.
c. Tipe WHO 3
Merupakan karsinoma tanpa diferensiasi (KTD). Di sini gambaran sel-sel kanker paling
heterogen. Tipe WHO 3 ini termasuk di dalamnya yang dahulu disebut dengan
limfoepitelioma, karsinoma anaplastik, clear cell carcinoma, dan variasi spindel.
2.7 Diagnosis
a. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik 3
Ada sebuah patokan agar selalu ingat dan curiga akan adanya nasofaring, seperti di bawah
ini:
1) Setiap ada tumor di leher, ingatlah selalu adanya karsinoma nasofaring. Lebih-lebih jika
tumor terletak di bawah prosesus mastoid dan di belakang angulus mandibula.
2) Dugaan karsinoma nasofaring akan lebih kuat jika:
Disertai gejala hidung dan telinga
Disertai gejala mata dan saraf
3) Dugaan karsinoma nasofaring hampir pasti bila ada gejala lengkap

Bila memakai pedoman yang berpatokan pada tumor leher ini maka kita sudah
mendapatkan stadium lanjut, sebab tumor leher merupakan perluasan atau metastase tumor
induk.

b. Pemeriksaan Penunjang
1) CT scan kepala dan leher
Dengan pemeriksaan ini tumor primer yang tersembunyi pun tidak terlalu sulit
ditemukan. 1,3,4,7,10
2) Pemeriksaan Serologi IgA untuk infeksi virus Epstein-Barr
Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis pengobatan karenan
spesifisitasnya yang rendah. Titer yang didapat berkisar antara 80 hingga 1280 dan
terbanyak pada titer 160. 10
3) Biopsi
Ini merupakan diagnosis pasti untuk karsinoma nasofaring. Biopsi dapat dilakukan
dengan 2 cara, melalui hidung atau mulut. Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat
jelas tumornya (blind biopsy). Cunam biopsi dimasukkan melalui rongga hidung menelusuri
konka media ke nasofaring, kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsi.
Biopsi melalui mulut dengan bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui
hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem bersama
dengan ujung kateter yang berada di hidung sehingga palatum molle tertarik ke atas.
Kemudian dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring. Biopsi dilakukan dengan melihat
kaca tersebut atau dengan memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui mulut dan
massa tumor akan terlihat jelas. Biopsi tumor dilakukan dengan anestesi topikal dengan
xylocain 10%.
4) Bila dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dapat dilakukan
pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis. 3,7,10
5) Pemeriksaan darah perifer lengkap
6) Radiologi : CT scan atau MRI, foto toraks, USG abdomen, bone scan. Penentuan stadium
membutuhkan ct scan nasofaring dengan kontras untuk menentukan perluasan tumor. MRI
sebaiknya digunakan bila ada kecurigaan keterlibatan intracranial. Foto toraks, USG

abdomen dan bone scna digunakan untuk mencari adanya metastasis jauh di paru, hepar dan
tulang.

2.8. Diagnosa Banding3


1) Angiofibroma nasofaring
Sering ditemukan pada orang muda, pria jauh lebih banyak dari wanita. Dengan nasofaringoskop
tampak permukaan tumor licin, warna mukosa menyerupai jaringan normal, kadang tampak
vasodilatasi di permukaannya, konsistensinya kenyal padat. Bila secara klinis dicurigai penyakit
ini, awas jangan mudah melakukan biopsy karena mudah terjadi perdarahan masif.
2) Kelainan hiperplastik nasofaring
Dalam keadaan normal korpus adenoid di atap nasofaring umumnya pada usia sebelum 30 tahun
sudah mengalami atrofi. Tetapi pada sebagian orang dalam proses atrofi ini mengalami infesi
serius yang menimbulkan nodul-nodul gelombang asimetri di tempat ini, bila terjadi ulserasi,
perdarahan maka p erlu biopsy untuk membedakannya.
2.9.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan karsinoma nasofaring pada dasarnya ada 2 macam, yaitu pencegahan dan
pengobatan.
1) Pencegahan
Karena penyebab kanker nasofaring belum jelas, maka pencegahan yang dilakukan hanya
berdasarkan faktor-faktor yang dinilai berpengaruh akan timbulnya karsinoma nasofaring
tersebut. Usaha tersebut adalah penggunaan vaksin virus Epstein-Barr, mengurangi dan
menghindari bahan-bahan atau polutan yang dapat mempengaruhi timbulnya karsinoma
nasofaring, dan perbaikan sosial ekonomi.3,10
Penerangan akan cara hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan untuk
mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan berbahaya, penyuluhan mengenai
lingkungan hidup yang tidak sehat, meingkatka keadaan social-ekonomi dan berbagai hal
yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinana factor penyebab.
2)

Pengobatan

Dalam pengobatan kanker umumnya meliputi tindakan bedah atau operasi, penggunaan
obat-obatan sitostatika dan hormon, radioterapi dan imunoterapi.
a. Pembedahan
Pembedahan dapat dilakukan dengan cara pembedahan transpalatal (Diefenbach,
Welson) maupun transmaksiler paranasal (Moure Ferguson), tetapi terapi bedah ini tidak
berkembang, dan hasilnya menjadi kurang efektif. Terapi bedah dapat juga dilakukan
pada tumor metastase dengan membuang kelenjar limfe di leher. Operasi ini untuk
membuang kelenjar limfe permukaan tetapi sulit untu membuang kelenjar di daerah
retrofaring dan parafaring. 3,7,11,12
b. Radioterapi
Radiasi ditujukan pada daerah tumor induk dan daerah perluasannya. Radioterapi
dikenal 2 macam, yaitu teleterapi dan brakiterapi. Teleterapi bila sumber sinar jauh dari
tumor dan di luar tubuh penderita. Sedangkan brakiterapi, sumber sinar dekat dengan
tumor dan dipasang dalam tubuh penderita. Teknik penyinaran dengan teleterapi
diberikan bila ada perluasan tumor ke depan yaitu daerah hidung dan sekitarnya serta
belum ada metastase ke kelenjar limfe leher. 3,5,7,10
c. Obat-obatan Sitostatika
Dapat diberikan sebagai obat tunggal maupun kombinasi. Obat tunggal umumnya
dikombinasikan dengan radioterapi. Obat yang dapat dipergunakan sebagai sitostatika
tunggal adalah methotrexat, metomycine C, Endoxan, Bleocyne, Fluorouracyne, dan
Cisplastin. Obat ini memberikan efek adiktif dan sinergistik dengan radiasi dan diberikan
pada permulaan seri pemberian radiasi. Obat bisa juga diberikan sebelum dan sesudah
penyinaran sebagai sandwich terapy.
Obat kombinasi diberikan sebagai pengobatan lanjutan setelah radiasi, serta
penting pada pengobatan karsinoma yang kambuh. Banyak kombinasi obat ganda yang
dipakai antara lain kombinasi: BCMF (Adriamycin, Cyclophosphamide, Methotrexat dan
Fluoroacil), ABUD (Adriamycin, Bleomycin, Umblastin dan Decarbazine), COMA
(Cyclophosphamide, Vincristine, Methotrexat, dan Adriamycin). 3,5,7,10
d. Imunoterapi

Dalam pengobatan keganasan, imunoterapi telah banyak dilakukan di klinik


onkologi, tetapi sampai saat ini tampaknya masih merupakan research dan trial. Untuk
karsinoma nasofaring telah dilakukan penelitian antara lain dengan menggunakan
interferon dan Poly ICLC. 3
e. Obat Antivirus
Acyclovir dapat menghambat sintesis DNA virus sehingga dapat menghambat
pertumbuhan virus termasuk juga Virus Epstein Barr. Obat antivirus ini penting pada
karsinoma nasofaring anaplastik yang merupakan EBV carrying tumor dengan DNA
EBV positif .2
f. Perawatan paliatif10
Perhatian pertama diberikan pada pasien dengan pengobata radiasi. Mulut terasa
kering disebabkan oleh kerusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu
penyinaran. Menasihati dengan banyak makan dengan kuah, membawa minuman
kemanapun pergi dan mencoba memakan dan mengunyah bahan yang rasa asa sehingga
merangsang keluarnya air liur. Gangguan laun adalah fibrosis jaringan akibat penyinaran,
sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang muntah atau rasa mual.
Kesullitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan legkap dimana
tumor tetep ada (residu) atau kambuh kembali (residif). Dapat ppula timbul metastasis
jauh pasca pengobatan seperti ke tulang, paru, hati dan otak. Pada keadaan tersebut di
atas, tidak banyak tindakan medis yang dapat diberikan selain pengobatan simtomatis
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Perawatan paliatif diindikasikan langsung
kepada pasien untuk pengurangan raa nyeri, mengntrol gejala dan memperpanjang usia.
Radiasi sangat efektif untuk menguragi nyeri akibat metastasis tulang. Pasien akhirnya
meninggal akibat keadaan umumt yang buruk, perdarahan dari hidung dan nasofaring
yang tida dapat dihentikan dan terganggunya fungsi alat-alat vital akibat metastasis
tumor.
2.10. Follow Up
Tidak seperti keganasan kepala leher yang lainnya, KNF mempunyai risiko terjadinya
rekurensi, dan follow up jangka panjang diperlukan. Kekambuhan tersering teradi kurang

dari 5 tahun, 5-15% kekambuhan seringkali terjadi antara 5-10 tahun. Sehingga pasien KNF
perlu di follow up setidaknya 10 tahun setelah terapi.
2.11. Prognosis
Sangat mencolok perbedaan prognosis ( angka bertahan hidup 5 tahun) dari stadium awal
dengan stadium lanjut, yaitu 76,9% untuk stadium I, 56,0% untuk stadium II, 38,4% untuk
stadium III, dan hanya 16,4% untuk stadium IV.1
Prognosis diperburuk oleh beberapa faktor, seperti :10

Stadium yang lebih lanjut.

Usia lebih dari 40 tahun

Laki-laki dari pada perempuan

Ras Cina dari pada ras kulit putih

Adanya pembesaran kelenjar leher

Adanya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak

Adanya metastasis jauh

2.12. Pencegahan
Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko
tinggi. Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah dengan risiko tinggi ke tempat lain. 1
Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan untuk
mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya. 1,5 Penyuluhan mengenai
lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan sosial-ekonomi dan berbagai hal yang
berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab. Melakukan tes serologik IgAanti VCA dan IgA anti EA secara missal di masa yang akan datang bermanfaat dalam
menemukan karsinoma nasofaring secara lebih dini.1

KESIMPULAN DAN PENUTUP


Karsinoma nasofaring merupakan tumor gana di daerah kepala dan leher, yang
menyerang bagian nasofaring. Adapaun penyebab karsinoma nasofaring adalah virus EpsteinBarr, tetapi virus ini bukan satu-satunya faktor, karena banyak faktor lain yang sangat
mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini, seperti letak geografis, rasial, jenis kelamin,
genetik, pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman
atau parasit.
Gejala karsinoma nasofaring dapat dibagi dalam 4 kelompok, yaitu gejala nasofaring,
gejala telinga, gejala mata dan saraf, sertametastasis atau gejala di leher. Gejela nasofaring
berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung. Gangguan di telinga dapat menyebabkan
tinnitus, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia). Penekanan pada
sejumlah saraf otak dapat menyebabkan diplopia dan neuralgia trigeminal. Metastasis ke kelenjar
leher dalam bentuk benjolan di leher yang mendorong pasien untuk berobat karena sebelumnya
tidak terdapat keluhan lain.
Diagnosis karsinoma nasofaring dapat menggunakan CT-Scan, pemeriksaan serologi dan
biopsy yang merupakan pemeriksaan bakunya. Dari hasil histopatologinya, dapat ditemukan 3
bentuk karsinoma yaitu karsinoma sel skuamosa, karsinoma tidak berkeratinisasi dan karsinoma
tidak berdiferensiasi.
Penentuan stadium karsinoma nasofaring menggunakan sistem TMN menurut UICC dan
dibagi menjadi stadium I-IV. Penentuan ini berguna untuk menentukan jenis terapi yang akan
diberikan. Radioterapi merupakan metode terapi paling utama, radioterapi dikombinasi dengan
kemoterapi dapat meningkatkan efektifitas terapi kanker nasofaring.
Pencegahan karsinoma nasofaring berupa pemberian vaksinasi, migrasi penduduk ke
daerah dengan faktor risiko rendah, penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, penyuluhan
mengenasi lingkungan hidup yang tidak sehat, dan melakukan tes serologik.

DAFTAR PUSTAKA
1. American Cancer Society. Nasopharyngeal cancer. Atlanta, American Cancer Society. 2011.
2. Asroel, Harry A. Penatalaksanaan radioterapi pada karsinoma nasofaring. USU digital library
Tenggorokan Hidung danTelinga Universitas Sumatera Utara.
3.

Roezin A, Adham M. Karsinoma Nasofaring. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher. Edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. hlm.
182-187.

4. Bailey BJ MD, Jhonson JT MD. Newlands SD,MD,PhD, MBA. Nasopharyngeal cancer in


head and neck surgery-otolaryngology. 4th Ed. Volume 2. Philadephia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2001. p.1657- 67
5. Guigay, Temam S, Bourhis J., et al. Nasopharyngeal carcinoma and therapeutic management:
the place of chemotherapy. Annals of Oncology 17
6. Hao, Sheng P, Tsang, Ngan-Ming. Surgical management of recurrent nasopharyngeal
carcinoma. Chang Gung Med J Vol. 33 (4)
7. Jeyakumar, Anita et al. Review of nasopharyngeal carcinoma. ENT-ear, nose & throat.
Journal March. 2006.
8. Leu, Yi-Shing L, Jehn C. Carcinoma in the Pharynx: Nasopharynx, Oropharynx and
Hypopharynx. J. Chinese Oncol. Soc. 25(2), 102-113.
9. Maitra, Anirban K, Vinay. Paru dan saluran napas atas. Disunting oleh Vinay Kumar, Ramzi
SC, Stanley L. 2007. Buku ajar patologi robbins, Ed. 7 (2).
10. Longmore M,Wilkinson I, Turmezei T,Cheug CK. Oxford Handbook of Clinical Medicine.
7th Ed. United States, New York: Oxford University. p. 179.