Anda di halaman 1dari 58

Tujuan Instruksional Khusus

dapat menjelaskan:
1.konsep kebudayaan,
2.konsep lingkungan,
3.konsep sehat, sakit, dan penyakit,
4.hubungan antara kebudayaan,
lingkungan, dan penyakit

Pokok Bahasan
-mempelajari hubungan timbal balik
antara kebudayaan, lingkungan, dan
penyakit. Pemahaman mengenai hal ini
merupakan titik awal dalam studi
Antropologi Kesehatan, yang
memfokuskan studinya pada kajian
kebudayaan dan kesehatan.
-mempelajari: konsep dan hubungan
antara kebudayaan, lingkungan, dan
penyakit

Masalah Kesehatan Manusia


- Antropologi Kesehatan sebagai disiplin
biososiobudaya menaruh perhatian pada aspek
biologis, ekologis, dan sosio-budaya dari
perilaku manusia, serta secara khusus pada
interaksi antara aspek- aspek ini, yang dapat
berpengaruh pada masalah kesehatan dan
penyakit
-masalah kesehatan yang sangat kompleks,
secara konseptual dapat dibagi menjadi dua
kutub, yaitu: biologi dan sosial-budaya.

Pada kutub biologi


memperhatikan: pertumbuhan dan
perkembangan fisik manusia, peranan
penyakit dalam evolusi manusia dan
evolusi kebudayaan, adaptasi biologis
terhadap perubahan lingkungan alam,
maupun pola penyakit pada manusia
prasejarah.

Pada kutub sosial-budaya


perhatian para ahli Antropologi
Kesehatan
lebih tertuju pada masalah: sistemsistem
medis/kesehatan tradisional (seperti
etiologi penyakit, terapi penyakit, ide dan
praktek pencegahan penyakit , maupun
peranan praktisi medis tradisional ),
perawatan kesehatan moderen
(kedokteran),

Pada kutub sosial-budaya


perhatian para ahli Antropologi Kesehatan
lebih tertuju pada masalah: sistem-sistem
medis/kesehatan tradisional (seperti
etiologi penyakit, terapi penyakit, ide dan
praktek pencegahan penyakit , maupun
peranan praktisi medis tradisional ),
perawatan kesehatan moderen
(kedokteran),

Pada kutub sosial-budaya


peranan dan sosialisasi pelayan
kesehatan, perilaku kesehatan dalam
keadaan sakit, interaksi dokter dan
perawat dengan pasien, dinamika
pelayanan medis moderen dalam
masyarakat tradisional, maupun inovasi
kesehatan.

Pada kutub sosial-budaya


peranan dan sosialisasi pelayan
kesehatan, perilaku kesehatan dalam
keadaan sakit, interaksi dokter dan
perawat dengan pasien, dinamika
pelayanan medis moderen dalam
masyarakat tradisional, maupun
inovasi
kesehatan.

Contohnya:
salah satu teori epidemiologi , yang
menekankan pada asumsi bahwa perilaku
manusia sangat berpengaruh pada cepat
tidaknya atau tidak berfungsinya vektor vektor dalam penyebaran organisme
penyebab penyakit dalam suatu
lingkungan ekologis dan sosial tertentu .

kesehatan, khususnya berkaitan dg


penyakit, merupakan masalah hidup
manusia sepanjang masa. Setiap
kelompok masyarakat dengan
perangkat
kebudayaannya memiliki pola penyakit
tertentu, yang dapat berubah
sepanjang
sejarah hidupnya.

Bentuk atau pola dan persepsi mengenai


penyakit pada berbagai masyarakat (dengan
kebudayaannya masing-masing) dapat
berbeda
menurut keadaan lingkungan
hidupnya/habitatnya.
Proses perubahan penyakit secara
diakronis
maupun sinkronis dipengaruhi oleh interaksi
antara faktor-faktor sosio-budaya ,

lingkungan
alam, biologi, dan kepadatan penduduk.

Keragaman

faktor sosio-budaya dalam


kehidupan masyarakat telah
menyebabkan beragamnya strategi
adaptasi, yang diterapkan dalam
menghadapi berbagai bentuk penyakit .
Dalam upaya memahami pola dan strategi
adaptasi manusia terhadap penyakit dan
lingkungan hidupnya, perlu dipahami
bagaimana pola-pola penyakit yang ada,
tidak hanya pada masyarakat yang hidup
pada masa kini, melainkan juga
masyarakat yang hidup pada masa
lampau, antara lain pada masa
prasejarah.

Menurut aliran idealisme


kebudayaan adalah sistem
pengetahuan,
kepercayaan, nilai, dan pranata yang
ada dalam pikiran individu-individu
dalam masyarakat, yang dipakai
sebagai pedoman dalam berperilaku .
pemahaman mengenai konsep
kebudayaan: beraneka ragam

Ward Goodenough
dalam antropologi terdapat dua perspektif
yang
berbeda dalam melihat konsep kebudayaan .
Pertama, kebudayaan dilihat sebagai pola-pola
bagi kelakuan (patterns for behavior)
yaitu kebudayaan dilihat sebagai ide ,
konsep,
dan pengetahuan yang diwujudkan dalam dan
memberi corak dan arah pada kelakuan .
kebudayaan dilihat sebagai pola-pola dari
kelakuan (patterns of behavior), yaitu
kelakuan dilihat sebagai kebudayaan

Ward Goodenough
melihat kebudayaan sebagai sistem
yang
terdiri atas pengetahuan, kepercayaan,
dan nilai, yang ada dalam pikiran
individuindividu
dalam masyarakat.
Konsep kebudayaan ini dapat dijabarkan
dalam beberapa pengertian. Pertama,
kebudayaan berada dalam tatanan
kenyataan atau realitas yang ideasional.

Kedua, kebudayaan dipergunakan


masyarakat sebagai pendukungnya dalam
proses orientasi, transaksi, pertemuan,
perumusan gagasan, penggolongan, dan
penafsiran perilaku sosial yang nyata
dalam masyarakat.
Ketiga, kebudayaan merupakan pedoman
dan pengarah bagi individu-individu
anggota masyarakat dalam berperilaku
sosial yang pantas maupun sebagai
penafsir bagi perilaku individu lain.

Contohnya:
salah satu teori epidemiologi , yang
menekankan pada asumsi bahwa
perilaku
manusia sangat berpengaruh pada cepat
tidaknya atau tidak berfungsinya vektor vektor dalam penyebaran organisme
penyebab penyakit dalam suatu
lingkungan ekologis dan sosial tertentu .

kesehatan, khususnya berkaitan dg


penyakit, merupakan masalah hidup
manusia sepanjang masa. Setiap
kelompok masyarakat dengan
perangkat
kebudayaannya memiliki pola
penyakit
tertentu, yang dapat berubah
sepanjang
sejarah hidupnya.

Bentuk atau pola dan persepsi mengenai

penyakit pada berbagai masyarakat (dengan


kebudayaannya masing-masing) dapat
berbeda
menurut keadaan lingkungan
hidupnya/habitatnya.
Proses perubahan penyakit secara
diakronis
maupun sinkronis dipengaruhi oleh interaksi
antara faktor-faktor sosio-budaya, lingkungan
alam, biologi, dan kepadatan penduduk.

Keragaman

faktor sosio-budaya dalam


kehidupan masyarakat telah
menyebabkan beragamnya strategi
adaptasi, yang diterapkan dalam
menghadapi berbagai bentuk penyakit .
Dalam upaya memahami pola dan strategi
adaptasi manusia terhadap penyakit dan
lingkungan hidupnya, perlu dipahami
bagaimana pola-pola penyakit yang ada,
tidak hanya pada masyarakat yang hidup
pada masa kini, melainkan juga
masyarakat yang hidup pada masa
lampau, antara lain pada masa
prasejarah.

Menurut aliran idealisme


kebudayaan adalah sistem
pengetahuan,
kepercayaan, nilai, dan pranata yang
ada dalam pikiran individu-individu
dalam masyarakat, yang dipakai
sebagai pedoman dalam berperilaku .
pemahaman mengenai konsep
kebudayaan: beraneka ragam

Ward Goodenough
dalam antropologi terdapat dua perspektif
yang
berbeda dalam melihat konsep kebudayaan .
Pertama, kebudayaan dilihat sebagai pola-pola
bagi kelakuan (patterns for behavior)
yaitu kebudayaan dilihat sebagai ide ,
konsep,
dan pengetahuan yang diwujudkan dalam dan
memberi corak dan arah pada kelakuan .
kebudayaan dilihat sebagai pola-pola dari
kelakuan (patterns of behavior), yaitu
kelakuan dilihat sebagai kebudayaan

Ward Goodenough
melihat kebudayaan sebagai sistem yang
terdiri atas pengetahuan, kepercayaan,
dan nilai, yang ada dalam pikiran
individuindividu
dalam masyarakat.
Konsep kebudayaan ini dapat dijabarkan
dalam beberapa pengertian. Pertama,
kebudayaan berada dalam tatanan
kenyataan atau realitas yang ideasional.

Kedua, kebudayaan dipergunakan


masyarakat sebagai pendukungnya dalam
proses orientasi, transaksi, pertemuan,
perumusan gagasan, penggolongan, dan
penafsiran perilaku sosial yang nyata
dalam masyarakat.
Ketiga, kebudayaan merupakan pedoman
dan pengarah bagi individu-individu
anggota masyarakat dalam berperilaku
sosial yang pantas maupun sebagai
penafsir bagi perilaku individu lain.

Oleh karena itu, kebudayaan


merupakan
keseluruhan pengetahuan manusia
sebagai makhluk sosial yang digunakan
untuk memahami dan menginterpretasi
pengalaman dan lingkungannya (alam,
sosial, dan budaya), serta menjadi
pedoman bagi terwujudnya perilaku .
Kebudayaan merupakan mekanisme
kontrol bagi perilaku manusia.

Oleh karena itu, kebudayaan merupakan


keseluruhan pengetahuan manusia
sebagai makhluk sosial yang digunakan
untuk memahami dan menginterpretasi
pengalaman dan lingkungannya (alam,
sosial, dan budaya), serta menjadi
pedoman bagi terwujudnya perilaku .
Kebudayaan merupakan mekanisme
kontrol bagi perilaku manusia.

kebudayaan merupakan suatu sistem makna


simbolik, yaitu sebagai: (1) suatu pola
maknamakna
yang diteruskan secara historis, yang
terwujud dalam simbol-simbol, dan (2) suatu
sistem konsep-konsep yang diwariskan, yang
terungkap dalam bentuk simbolis , yang
dengannya manusia berkomunikasi ,
melestarikan, dan memperkembangkan
pengetahuan mereka tentang kehidupan dan
sikap-sikap terhadap kehidupan.

Clifford Geertz
Seperti halnya bahasa, kebudayaan
merupakan
suatu sistem semiotik yang memuat
simbolsimbol,
dan yang berfungsi mengkomunikasikan
dan mengisyaratkan makna-makna dari pikiran
antar individu. Oleh karena itu, bagi Geertz,
kebudayaan merupakan objek , tindakan, atau
peristiwa dalam masyarakat yang fenomenal
dan yang dapat diamati, dirasakan, serta
dipahami.

Keesing
perbedaan utama antara Geertz dan
Goodenough mengenai kebudayaan, adalah:
bagi Geertz, simbol dan makna kebudayaan
berada di antara pikiran individu -individu,
yang
secara bersama-sama dimiliki oleh aktor -aktor
sosial sebagai kenyataan publik ; sedangkan
bagi Goodenough, simbol dan makna
kebudayaan berada dalam pikiran individu individu, sebagai kenyataan pribadi .

Colleta
kebudayaan adalah perilaku berpola
yang
ada dalam kelompok masyarakat tertentu ,
yang anggota-anggotanya memiliki makna
yang sama serta simbol yang sama untuk
mengkomunikasikan makna tersebut .
Makna-makna yang dimiliki secara
bersama ini secara fungsional terwujud
melalui pranata-pranata atau struktur
politik, ekonomi, agama, dan sosial.

Suparlan
kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan
yang dipunyai manusia sebagai makhluk sosial ,
yang berisi perangkat model-model
pengetahuan, yang secara selektif digunakan
oleh para pendukung atau pelakunya untuk
memahami dan menginterpretasi lingkungan
(fisik/alam, sosial, dan budaya) yang dihadapi
serta untuk mendorong dan menciptakan
tindakan-tindakan yang diperlukannya.
Perangkat model pengetahuan yang dimaksud
meliputi: pengetahuan, kepercayaan/keyakinan,
nilai, dan norma, yang kesemuanya ada pada
pemikiran atau kognisi manusia .

Ketiga definisi kebudayaan dari


Geertz,
Colleta, dan Suparlan, sebagai
penganut
idealisme ini, dapat dikembangkan suatu
model hubungan kebudayaan dan
perilaku seperti pada Gambar berikut

Konsep kebudayaan yang diuraikan di


atas tidak beranggapan bahwa
keseluruhan kelompok masyarakat
memiliki kesatuan kebudayaan yang
terintegrasi, dipahami, dan menjadi
pegangan dalam berperilaku. Sebaliknya,
dalam setiap kelompok masyarakat ,
sering dijumpai masalah desintegrasi ,
kontroversi, dan ketidakcocokan budaya,
yang kesemuanya itu merupakan
kenyataan yang umum terjadi.

Keadaan tersebut menunjukkan adanya


permasalahan mengenai kesamaan dan
perbedaan antar-budaya (hubungan
dengan kebudayaan lain) dan intrabudaya
(hubungan dalam kebudayaan
sendiri).
Setiap kebudayaan merupakan suatu
pedoman, patokan maupun disain
menyeluruh bagi kehidupan masyarakat .
Oleh karena itu, kebudayaan cenderung
bersifat tradisional, dalam arti cenderung
menjadi tradisi-tradisi yang tidak mudah
berubah.

Kalau kebudayaan setiap saat berubah ,


maka pedoman kehidupan masyarakat
juga berubah, dan akibatnya kehidupan
masyarakat akan kacau. Namun demikian,
kebudayaan juga cenderung selalu
berubah dan menjadi dinamik mengikuti
perubahan yang terjadi dalam unsur-unsur
lingkungan hidup masyarakatnya, yaitu
lingkungan alam/fisik, sosial, dan budaya.

Menurut Kalangie
berkaitan dengan masalah kesehatan,
penerapan konsep kebudayaan menurut aliran
idealisme itu tidak hanya mengacu pada tipe
masyarakat suku bangsa (misalnya kebudayaan
Jawa atau Madura) dan komunitas alamiah
(pedesaan maupun perkotaan), melainkan juga
pada sistem organisasi formal, seperti
institusiinstitusi
pelayanan kesehatan Rumah Sakit ,
Puskesmas, Posyandu, maupun organisasi
bisnis swasta dengan kebudayaan korporatnya .

Penggunaan konsep kebudayaan


terhadap pranata sosial dan organisasi
formal dalam masalah kesehatan itu
terutama adalah untuk membicarakan
pengaruh kebudayaan birokratisme dan
profesionalisme dalam perencanaan ,
pelaksanaan, dan evaluasi programprogram
kesehatan, perawatan
kesehatan, maupun peningkatan
pelayanan kesehatan.

Hubungan antara kebudayaan dan


perilaku merupakan permasalahan dalam
analisis teori-teori kebudayaan yang perlu
mendapat perhatian. Teori-teori
kebudayaan yang mendasarkan pada
aliran idealisme menekankan bahwa
konsep utama adalah kebudayaan , dan
bukan perilaku. Perilaku hanyalah
merupakan konsekuensi logis, yang
manunggal dan tak terpisahkan dari
kebudayaan, yang disebut sebagai sistem
sosio-budaya.

Namun demikian, ketunggalan ini perlu


dipisah, sehingga dapat dipakai untuk
menganalisis sistem budaya tertentu
bersama perilaku aktor-aktor dalam sistem
sosial (masyarakat) yang menjalankan
kegiatan/aktivitas pada lingkungan
tertentu.
Oleh karena bersifat ketunggalan, maka
penggunaan konsep perilaku erat
berhubungan dengan konsep
kebudayaan.

Perilaku kesehatan
berkaitan dengan: (1) pengetahuan,
kepercayaan, nilai, dan norma dalam lingkungan
sosialnya, dan (2) etiologi, terapi, maupun
pencegahan penyakit (fisik, psikis, maupun
sosial). Berkaitan dengan penyakit, seseorang
dapat memperlihatkan perilaku psikologis
maupun perilaku budaya. Perwujudan dari
perilaku kesehatan ini adalah kegiatan
perawatan kesehatan, yang dilakukan dalam
banyak sistem sosial atau sistem medis
(tradisional, rumah tangga, ataupun formal)
dalam pelayanan kesehatan.

Salah satu ciri kebudayaan adalah bahwa


setiap kebudayaan akan selalu mengalami
perubahan atau berada dalam proses
perubahan secara lambat ataupun cepat.
Makin intensif terjadi kontak kebudayaan
(misalnya komunikasi gagasan baru dari
kebudayaan lain mengenai kesehatan),
makin cepatlah berlangsungnya proses
perubahan kebudayaan.

Sehat, sakit, penyakit, kesehatan, maupun


perawatan kesehatan merupakan kenyataan
(realitas) yang harus dihadapi masyarakat
manusia. Namun demikian, tipe -tipe penyakit
beserta persepsi dan perawatannya dalam
kenyataannya berbeda-beda di antara
kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.
Di negara-negara industri dan kelompok
menegah-atas di negara-negara berkembang,
penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu
penyakit pembunuh utama. Sebaliknya, di
daerah pedesaan di negara-negara
berkembang, penyakit utama adalah diare,
tuberkulosis, dan penyakit infeksi lainnya.

Kenyataan menunjukkan bahwa terdapat


keragaman praktek medis tradisional dan
rumah tangga dalam perawatan
kesehatan terhadap penyakit tersebut,
baik antar-budaya maupun intra-budaya.
Keragaman perawatan kesehatan tersebut
antara lain terlihat dalam praktek
penggunaan mantera, jamu, pijat/urut,
doa, maupun mandi.

Keragaman persepsi mengenai sehat


dan sakit, yang berimplikasi pada
pemilihan cara perawatan kesehatan,
umumnya ditentukan oleh kebudayaan,
yang berisi: pengetahuan, kepercayaan,
nilai, norma, dan pranata dalam
kehidupan masyarakat. Kebudayaan
menentukan apa yang menyebabkan
seseorang menderita sakit (etiologi
penyakit) akibat dari perilakunya, serta
mengapa perawatan kesehatannya
mengikuti cara-cara tertentu.

Hubungan-hubungan antara gejala


sosial budaya dengan gejala biologis dan
biomedis dapat disebut sebagai
gejalagejala
bio-budaya. Perhatian yang makin
besar mengenai peranan kebudayaan
terhadap penyakit, kesehatan, dan
perawatan kesehatan merupakan
penyebab berkembangnya ilmu
Antropologi Kesehatan.

dalam pendekatan antropologi


fundamental mendasarkan pada
hubungan antara lingkungan dan
komunitas biotiknya, yaitu perhatian pada
sistem yang mendasarinya. Suatu
sistem adalah pengelompokan objek
yang membentuk keseluruhan yang
integral, yang berfungsi dan bergerak
dalam suatu kesatuan.

Geertz
lingkungan atau habitat tersebut dapat
berbeda ukurannya, kompleksitasnya, dan
jangka waktunya, mulai dari setetes air kolam
dengan mikro-organismenya sampai pada
seluruh isi bumi dengan kehidupan tanaman
dan satwanya. Sebagai contoh, ekosistem yang
dipelajari oleh para ahli ekologi adalah: Gurun
Kalahari (dengan kehidupan tumbuh -tumbuhan,
satwa, dan manusianya), tundra Kutub Selatan,
hutan tropis Amazon, dan padang rumput
Alpine.

dalam kehidupan masyarakat terdapat


beragam konsep sehat dan sakit, yang
ternyata tidak sejalan dan berlawanan
dengan konsep sehat dan sakit dari
pelayan kesehatan (Rumah Sakit,
Puskesmas, dokter, mantri, atau bidan).
Perbedaan konsep itu nampaknya
disebabkan oleh adanya perbedaan
persepsi mengenai sehat, sakit, dan
penyakit antara masyarakat dan pelayan
kesehatan (provider).

Konsep
Berkaitan dengan hal ini, Antropologi
Kesehatan membedakan konsep
penyakit (disease) dan sakit atau rasa
sakit (illnes).

Penyakit
1. Penyakit atau penyakit secara
biologis/patologis (disease) adalah bentuk
reaksi biologis terhadap suatu organisme,
benda asing, atau luka. Konsep ini merupakan
fenomena objektif, yang ditandai oleh adanya
perubahan fungsi-fungsi tubuh sebagai
organisme biologis. Penyakit dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu: (1) symptom atau
gejala-gejala penyakit, dan (2) syndrom atau
penyakit di bawah sadar.

2. Sakit, rasa sakit, atau penyakit secara

budaya (illness) adalah penilaian individu atau


kelompok terhadap penyakit, yang berkaitan
dengan pengalamannya atau secara langsung
dialaminya. Konsep ini merupakan fenomena
subjektif, yang ditandai oleh adanya perasaan
tidak enak (feeling unwell) oleh individu. Illness
merupakan respon subjektif dari penderita,
keluarga, dan masyarakat secara budaya.
Illness dianggap penting oleh penderita karena
hubungannya dengan orang lain, sehingga
illness perlu ditanggapi.

Hal yang penting untuk dipahami


adalah
bahwa disease dapat terjadi tanpa
illness,
dan sebaliknya illness dapat juga
terjadi
tanpa disease, contohnya adalah
penyakit
psikosomatis

Paleopatologi
melibatkan ahli-ahli Patologi, Anatomi, dan
Antropologi Fisik, mempelajari penyakit dan luka
pada fosil-fosil manusia purba. Paleopatologi
banyak menjelaskan mengenai bagaimana
kehidupan nenek moyang manusia itu banyak
dipengaruhi oleh lingkungannya. Pengetahuan
mengenai penyakit yang mereka derita sangat
membantu dalam memahami evolusi manusia
serta cara-cara manusia pada generasi
berikutnya beradaptasi secara biologis maupun
budaya terhadap ancaman kesehatan yang
dihadapinya

Epidemiologi
memperhatikan cara-cara hidup dan
tingkah laku individu maupun kelompok,
yang dapat menentukan derajat
kesehatan serta munculnya penyakit yang
berbeda-beda dalam populasi yang
berbeda-beda pula

Penyakit atau infeksi


disebabkan oleh berbagai mikro organisme dan parasit dari segi
epidemiologi dapat digolongkan menjadi
dua. Pertama, infeksi aseksual, yaitu
melalui organisme-organisme yang
berkembang biak secara aseksual. Kedua,
infeksi seksual, melalui organisme yang
berkembang biak secara seksual.

Setiap golongan ini terbagi lagi ke dalam


kategori langsung dan tidak langsung.
Suatu infeksi tidak langsung dalam
transmisi normal memerlukan
perkembangan di luar host. Infeksi ini
sebagian perkembangannya tergantung
pada kondisi suhu dan kelembaban, yang
banyak terdapat di wilayah tropis.

Dalam konteks ekologis, pembicaraan


mengenai penyakit parasit dan infeksi tidak
dapat dipisahkan dari konsep diversitas dan
kompleksitas.
Suatu ekosistem yang kompleks, seperti hutan
hujan tropis, memiliki jumlah spesies tumbuhan
dan binatang yang jauh lebih banyak dari pada
suatu ekosistem sederhana, seperti tundra dan
semak-semak gurun pasir. Keragaman
(diversitas) ini tidak hanya berlaku bagi dunia
flora saja, tetapi juga dunia fauna, termasuk
berbagai jenis vektor dan host bagi organisme
pembawa penyakit.