Anda di halaman 1dari 20

BAB II

LANDASAN TEORI
II.1 Tinjauan Pustaka
II.1.1 Tuberkulosis Paru
II.1.1.1 Definisi
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis (Nurul, et al., 2012). Definisi lain dari Tuberkulosis paru
adalah suatu penyakit infeksi kronik yang sudah sangat lama dikenal pada manusia,
yang sering dihubungkan dengan tempat tinggal daerah urban dan lingkungan yang
padat (Amin & Bahar, 2009).
II.1.1.2Etiologi
Sejenis kuman bentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,30,6/um. Bersifat aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyukai jaringan
yang tinggi oksigen. Tekanan oksigen paru bagian apical lebih tinggi disbanding
bagian lainnya. Sehingga bagian ini menjadikan predileksi penyakit ini. Sebagian
besar dinding kuman terdiri atas asam lemak (lipid), peptidoglikan dan
arabinomannan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam
alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap
gangguan kimia dan fisis. Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dalam
udara dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini dapat terjadi
karena kuman berada dalam keadaan dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat
bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberculosis aktif kembali (Amin & Bahar,
2009).
II.1.1.3 Faktor resiko
Ada beberapa faktor resiko akan terjadinya TB yaitu kemiskinan pada
berbagai kelompok masyarakat seperti pada Negara yang sedang berkembang.
Kegagalan pengobatan TB hal ini diakibatkan oleh tidak memadainya komitmen
politik, tidak memadainya pelayanan TB, tidak memadainya tatalaksana kasus, salah
persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG dan infrastruktur kesehatan yang

buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan


masyarakat, dan faktor resiko terakhir adalah perubahan demografik karena
meningkatnya penduduk juga dampak akibat pandemik HIV (Manalu, 2010).
Selain itu faktor yang mempengaruhi adalah :
1. Umur
Infeksi TB aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden
tertinggi TB biasanya mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan
75% penderita TB paru adalah usia produktif yaitu 15-50 tahun.
2. Jenis kelamin
Menurut jurnal, penderita TB lebih banyak laki-laki dibandingkan dengan
wanita, karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga
memudahkan terjangkitnya TB paru.
3. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap pengetahuan, diantaranya
mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan, pencegahan dan pengobatan
TB paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan
mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat.
4. Pekerjaan
Beberapa fakta TB pada pekerja menunjukkan bahwa penyakit ini mempunyai
dampak morbidity, mortality, sosial dan ekonomi. Menyerang usia produktif dan
berekonomi rendah, peluang dalam pendidikan atau pekerjaan berkurang, kinerja
dan produktivitas turun, serta pilihan kerja yang terbatas.
5. Kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok mempunyai faktor resiko 2,2 kali lebih besar pada
kejadian TB paru. Kemungkinan mekanisme pengaruh merokok terhadap
terjadinya TB paru adalah sebagai berikut :
a. Merusak mekanisme pertahanan paru
b. Merusak mekanisme muccociliary clearance dari pathogen potensial
di paru
c. Pajanan akut asap rokok meningkatkan airway resistance

dan

permeabilitas epitel pulmoner


d. Merusak magrofag
e. Menurunkan respon terhadap antigen
6. Tempat lingkungan
Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam penularan, terutama
lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat. Lingkungan rumah merupakan
8

salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap status kesehatan
penghuninya. Adapun syarat-syarat yang dipenuhi oleh rumah sehat secara
fisiologis yang berpengaruh terhadap kejadian tuberkulosis paru antara lain :
a. Kepadatan Penghuni Rumah
Ukuran luas ruangan suatu rumah erat kaitannya dengan kejadian
tuberkulosis paru. Disamping itu Asosiasi Pencegahan Tuberkulosis Paru
Bradbury mendapat kesimpulan secara statistik bahwa kejadian tuberkulosis
paru paling besar diakibatkan oleh keadaan rumah yang tidak memenuhi
syarat pada luas ruangannya.
Semakin padat penghuni rumah akan semakin cepat pula udara di
dalam rumah tersebut mengalami pencemaran. Karena jumlah penghuni yang
semakin banyak akan berpengaruh terhadap kadar oksigen dalam ruangan
tersebut, begitu juga kadar uap air dan suhu udaranya. Dengan meningkatnya
kadar CO2 di udara dalam rumah, maka akan member kesempatan tumbuh
dan berkembang biak lebih bagi Mycobacterium tuberculosis. Dengan
demikian akan semakin banyak kuman yang terhisap oleh penghuni rumah
melalui saluran pernafasan.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia kepadatan
penghuni diketahui dengan membandingkan luas lantai rumah dengan jumlah
penghuni, dengan ketentuan untuk daerah perkotaan 6 m per orang daerah
pedesaan 10 m per orang.
b. Kelembaban Rumah
Kelembaban udara dalam rumah minimal 40% 70 % dan suhu
ruangan yang ideal antara 18C 30C (Kesehatan Perumahan dan
Lingkungan Pemukiman, Journal Kesehatan Lingkungan , Vol. 2, No. 1, Juli
2005).
Bila kondisi suhu ruangan tidak optimal, misalnya terlalu panas akan
berdampak pada cepat lelahnya saat bekerja dan tidak cocoknya untuk

istirahat. Sebaliknya, bila kondisinya terlalu dingin akan tidak menyenangkan


dan pada orang-orang tertentu dapat menimbulkan alergi (Depkes RI,
Departemen pengawasan lingkungan dan pemukiman, 1994). Hal ini perlu
diperhatikan

karena

berkembangbiaknya

kelembaban

dalam

mikroorganisme.

rumah

Kelembaban

akan
yang

mempermudah
tinggi

dapat

menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering seingga kurang efektif


dalam menghadang mikroorganisme. Kelembaban udara yang meningkat
merupakan media yang baik untuk Bakteri-Bakteri termasuk bakteri
tuberculosis.
Untuk mengatasi kelembaban, maka perhatikan kondisi drainase atau
saluran air di sekeliling rumah, lantai harus kedap air, sambungan pondasi
dengan dinding harus kedap air, atap tidak bocor dan tersedia ventilasi yang
cukup (Siti Fatimah, 2008).
c. Ventilasi
Jendela dan lubang ventilasi selain sebagai tempat keluar masuknya
udara juga sebagai lubang pencahayaan dari luar, menjaga aliran udara di
dalam rumah tersebut tetap segar. Menurut indikator pengawasan rumah , luas
ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai rumah
dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 10%luas
lantai rumah. Luas ventilasi rumah yang <10% dari luas lantai (tidak
memenuhi syarat kesehatan) akan mengakibatkan berkurangnya konsentrasi
oksien dan bertambahnya konsentrasi karbondioksida yang bersifat racun bagi
penghuninya. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pengawasan
Kualitas Kesehatan Lingkungan dan Pemukiman, 1994)
Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan
peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan
dai kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yan tinggi akam menjadi
media yang baik untuk tumbuh dan berkembangbiaknya bakteri-bakteri
patogen termasuk kuman tuberkulosis. ( Azwar, 2008)

10

Tidak adanya ventilasi yang baik pada suatu ruangan makin


membahayakan kesehatan atau kehidupan, jika dalam ruangan tersebut terjadi
pencemaran oleh bakteri seperti oleh penderita tuberkulosis atau berbagai zat
kimia organik atau anorganik. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Pengawasan Kualitas Kesehatan Lingkungan dan Pemukiman, 1994)
Ventilasi berfungsi juga untuk membebaskan uadar ruangan dari
bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen seperti tuberkulosis, karena di situ
selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa olehudara
akan selalu mengalir. Selain itu, luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat
kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses pertukaran udara dan
sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman tuberkulosis
yang ada di dalam rumah tidak dapatkeluar dan ikut terhisap bersama udara
pernafasan. (Siti Fatimah, 2008)
d. Pencahayaan Sinar Matahari
Cahaya matahari selain berguna untuk menerangi ruang juga
mempunyai daya untuk membunuh bakteri. Hal ini telah dibuktikan oleh
Robert Koch (1843-1910).
Sinar matahari dapat dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit
tuberkulosis paru, dengan mengusahakan masuknya sinar matahari pagi ke
dalam rumah. Cahaya matahari masuk ke dalam rumah melalui jendela atau
genteng kaca. Diutamakan sinar matahari pagi mengandung sinar ultraviolet
yang dapat mematikan kuman. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Pengawasan Kualitas Kesehatan Lingkungan dan Pemukiman, 1994)
Kuman tuberkulosis dapat bertahan hidup bertahun-tahun lamanya,
dan mati bila terkena sinar matahari , sabun, lisol, karbol dan panas api.
Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai resiko menderita
tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar
matahari. (Siti Fatimah, 2008)

11

e. Lantai rumah
Komponen yang harus dipenuhi rumah sehat memiliki lantai kedap air
dan tidak lembab. Jenis lantai tanah memiliki peran terhadap proses kejadian
Tuberkulosis paru, melalui kelembaban dalam ruangan. (siti Fatimah, 2008)
Lantai tanah cenderung menimbulkan kelembaban, pada musim panas
lantai menjadi kering sehingga dapat menimbulkan debu yang berbahaya bagi
penghuninya.
f. Dinding
Dinding berfungsi sebagai pelindung, baik dari gangguan hujan
maupun angin serta melindungi dari pengaruh panas dan debu dari luar serta
menjaga kerahasiaan penghuninya. Beberapa bahan pembuat dinding adalah
dari kayu, bambu, pasangan batu bata atau batu dan sebagainya. Tetapi dari
beberapa bahan tersebut yang paling baik adalah pasangan batu bata atau
tembok (permanen) yang tidak mudah terbakar dan kedap air sehingga mudah
dibersihkan. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pengawasan
Kualitas Kesehatan Lingkungan dan Pemukiman, 1994)
II.1.1.4 Cara Penularan
Sumber penularan adalah penderita TBC BTA positif. Pada saat batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan
dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup kedalam
saluran pernapasan. Setelah kuman TBC masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya
melalui system peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas atau penyebaran
langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya (Putra, 2011).
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dan lamanya seseorang menghirup udara tersebut. Makin tinggi
derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin tinngi daya penularannya, bila hasil
pemeriksaan dahak negative maka tidak akan menular (Harahap, 2013).

12

Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman di wilayah perkotaan


kemungkinan besar telah mempermudah proses penularan dan berperan sekali atas
peningkatan jumlah kasus TB. (Amin & Bahar, 2009).
II.1.1.5 Klasifikasi
Sampai sekarang belum ada kesepakatan diantara para klinikus, ahli
radiologis, ahli patologi, mikrobiologi dan ahli kesehatan masyarakat tentang
keseragaman klasifikasi tuberkulosis (Amin & Bahar, 2009). Dari sistem lama
diketahui beberapa klasifikasi tersebut :
1. Pembagian secara patologis
a) Tuberkulosis primer (childhood tuberculosis)
b) Tuberkulosis post primer (adult tuberculosis)
2. Pembagian secara aktivitas radiologis (Koch Pulmonum)
a) Tuberkulosis aktif
b) Tuberkulosis non aktif
c) Tuberkulosis quiescent (bentuk aktif yang mulai sembuh)
3. Pembagian secara radiologis (luas lesi)
a) Tuberkulosis minimal. Terdapat sebagian kecil infiltrate nonkavitas pada satu paru maupun kedua paru, tetapi jumlahnya tidak
melebihi satu lobus paru.
b) Moderately advanced tuberculosis. Ada kavitas dengan diameter
tidak lebih dari 4cm. Jumlah infiltrat bayangan halus tidak
melebihi satu bagian paru. Bila bayangan kasar tidak lebih dari
sepertiga bagian paru.
c) Far advanced tuberculosis. Terdapat infiltrat dan kavitas yang
melebihi keadaan pada moderately advanced tuberculosis.
4. American Thoracic Society pada tahun 1974 memberikan klasifikasi baru
yang diambil berdasarkan aspek kesehatan masyarakat.
a) Kategori 0 : tidak pernah terpajan, tidak terinfeksi, riwayat kontak
negatif, tes tuberculin negative.
b) Kategori I : terpajan tuberkulosis, tapi tidak terbukti ada infeksi.
Disini riwayat kontak, tes tuberkulin negative.
c) Kategori II: terinfeksi tuberkulosis, tetapi tidak sakit. Tes
tuberkulin positif, radiologis dan sputum negatif.
d) Kategori III
: terinfeksi tuberkulosis dan sakit.
Di Indonesia banyak digunakan klasifikasi berdasarkan kelainan klinis,
radiologis, dan mikrobiologis :
13

1. Tuberkulosis paru
2. Bekas tuberkulosis paru
3. Tuberkulosis paru tersangka yang terbagi dalam :
a) Tuberkulosis paru tersangka yang diobati. Sputum BTA negatif,
tetapi tanda-tanda lain positif.
b) Tuberkulosis paru tersangka yang tidak diobati. Sputum BTA
negatif dan tanda-tanda lain juga meragukan.
Dalam 2-3 bulan, Tb tersangka ini sudah harus dipastikan apakah
termasuk TB paru (aktif) atau bekas paru. Dalam klasifikasi ini
perlu dicantumkan :
1. Status bakteriologi
2. Mikroskopik sputum BTA (langsung)
3. Biakan sputum BTA
4. Status radiologis, kelainan yang

relavan

untuk

tuberkulosis paru.
5. Status kemoterapi, riwayat pengobatan dengan obat anti
tuberkulosis.
5. WHO berdasarkan terapi membagi TB dalam kategori yaitu :
a) Kategori I : kasus baru dengan sputum positif, kasus baru dengan
bentuk TB berat.
b) Kategori II: kasus kambuh, kasus gagal dengan sputum BTA
positif.
c) Kategori III

: kasus BTA negative dengan kelainan paru

yang tidak luas, kasus TB ekstra paru selain yang disebut dari
kategori I.
d) Kategori IV
: TB kronik
Menurut buku Penyakit & Cara pencegahan TBC yang ditulis oleh dr.Yoannes
Y. Laban, 2008, TB Paru yang menyerang paru dibedakan menjadi dua
macam, sebagai berikut :
1. TBC paru BTA positif (sangat menular)
a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 pemeriksaan

dahak,

memberikan hasil yang positif.


b. Satu pemeriksaan dahak memberikan hasil yang positif dan
foto rontgen menunjukkan TBC aktif.
2. TBC paru BTA negative
Pemeriksaan dahak positif negative/foto

rontgen

dada

menunjukkan TBC aktif. Positif negative yang dimaksud adalah

14

hasil yang meragukan, jumlah kuman belum memenuhi syarat


positif.
Menurut buku Ilmu Penyakit Dalam FKUI yang ditulis oleh Amin & Bahar,
keluhan terbanyak adalah :
1. Demam
Demam biasanya subfebril menyerupai influenza, namun kadang dapat
mencapai 40C. demam hilang timbul. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh
daya tahan tubuh dan berat ringannya infeksi kuman TB yang masuk.
2. Batuk/batuk darah
Gejala ini banyak ditemukan akibat iritasi pada bronkus. Batuk ini
diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Karena terlibatnya
bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkinsaja batuk muncul ketika
penyakit berkembang dalam jaringan paru, yakni setelah berminggu-minggu
atau bulan. Awalnya batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif)
kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan
sputum). Keadaan lebih lanjut batuk berdarah akibat ada pembuluh darah
yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas,
tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
3. Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (awal berkembang) belum dirasakan napas
sesak, akan dirasakan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya
sudah meliputi setengah bagian paru.
4. Nyeri dada
Gejala ini jarang ditemukan. Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke
pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura saat
pasien menarik/melepaskan napas.
5. Malaise
Penyakit tuberculosis bersifat radang menahun. Gejala ini sering
ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin kurus/berat
badan menurun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dan lainlain. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul
secara tidak teratur.
Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan lebih
luas keluhan atau gejala utama pasien. Keluhan atau gejala utama berupa

15

(Widyastuti, et al., 2012) adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 3
( tiga) minggu atau lebih. Gejala tambahan yang sering dijumpai :
1. Dahak bercampur darah.
2. Batuk darah.
3. Sesak nafas dan rasa nyeri dada.
4. Badan lemah
5. Nafsu makan menurun
6. Berat badan turun
7. Rasa kurang enak badan (malaise)
8. Demam meriang lebih dari sebulan.
II.1.1.6 Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan fisik yang ditemukan terhadap keadaan umum adalah
konjungtiva mata atau kulit yang pucat akibat anemia, suhu demam (subfebris),
badan kurus atau berat badan turun.
Tempat lesi pada TB paru yang paling sering adalah di bagian apeks (puncak),
bila dicurigai terdapat infiltrate yang agak luas maka didapatkan perkusi yang redup
dan auskultasi suara napas bronchial. Akan didapatkan juga suara napas tambahan
ronki basah, kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diikuti oleh penebalan pleura,
suara napasnya menjadi vesikuler melemah. Bila terdapat kavitas yang besar, perkusi
memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi memberikan suara yang
amforik.
Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimtomatik dan penyakit baru
dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau
uji tuberkulin yang positif (Amin & Bahar, 2009).
II.1.1.7 Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis dada yang paling praktis untuk menemukan lesi
tuberkulosis. Pemeriksaan radiologis memang lebih mahal dibandingkan pemeriksaan
sputum, namun memiliki beberapa keuntungan seperti untuk melihat tuberkulosis
anak-anak dan tuberkulosis milier (gambaran radiologis bercak-bercak halus merata
pada seluruh lapangan paru).
16

Lesi biasanya di daerah apeks paru (segmen apikal lobus atau segmen apical
lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior), atau daerah
hilus menyerupai tumor paru.
Awal penyakit lesi ini masih seperti sarang-sarang pneumonia, gambaran
radiologis bercak-bercak seperti awan dan batas-batas yang tidak tegas. Lesi ini
dikenal sebagai tuberkuloma. Pada kavitas, bayangannya seperti cincin yang mulamula berdinding tipis. Lama-lama menjadi sklerotik dan terlihat menebal. Bila terjadi
fibrosis, akan terlihat bayangan bergaris-garis. Pada kalsifikasi, bayangannya tampak
bercak padat dengan denisitas tinggi.
Gambaran radiologis lain yang sering ditemukan menyertai tuberkulosis paru
adalah penebalan pleura (pleuritis), massa cairan dibagian bawah paru (efusi
pleura/emfiema),

bayangan hitam radiolusen dipinggir paru atau pleura

pneumothoraks) (Amin & Bahar, 2009).


II.1.1.8 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini kurang dapat perhatian, karena hasilnya
kadang meragukan, tidak sensitif dan tidak spesifik. Pada tuberkulosis yang baru aktif
didapatkan peningkatan leukosit yang sedikit meninggi dan hitung jenis pergeseran
ke kiri, jumlah limfosit dibawah normal dan laju endap darah mulai meningkat. Bila
penyakit mulai sembuh jumalah leukosit kembali normal, limfosit masih tetap tinggi
dan laju endap darah kembali normal. Hasil pemeriksaan darah lain juga didapatkan
anemia ringan dengan gambaran normokrom normositer dan gamma globulin
meningkat juga kadar natrium menurun (amin & Bahar, 2009).
II.1.1.9 Sputum
Pemeriksaan sputum penting karena dapat ditemukannya bakteri BTA , diagnosis
sudah bisa dipastikan. Selain itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan
evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan
murah sehingga dapat dikerjaan dilapangan (puskesmas). Tetapi tidak mudah
mendapatkan sputum, terutama pasien tidak batuk atau batuk yang tidak produktif.
Maka dari itu pasien sebelum melakukan pemeriksaan sputum disarankan meminum
air sebanyak + 2 liter dan diajarkan refleks batuk. Dapat uga memberikan obat
tambahan seperti mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam

17

hipertonik selama 20-30 menit. BTA dari sputum bisa juga diambil dari bilas
lambung, hali ini sering dikerjakan pada anak-anak karena anak-anak sulit
mengeluarkan dahaknya.
II.1.1.10 Tes Tuberkulin
Tes tuberkulin untuk diagnosis imunologik terhadap infeksi M. tuberculosis
mempunyai banyak keterbatasan. Tes ini digunakan dengan cara mengukur respons
hipersensitivitas tipe lambat (48-72 jam) setelah suntikan intradermal.
II.1.1.11 Diagnosis
1. Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium ( darah, dahak, cairan otak )
4. Pemeriksaan patologi anatomi
5. Pemeriksaan radiologis ( foto thoraks)
6. Uji tuberkulin
II.1.1.12 Penatalaksanaan
1. Tujuan
Bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah
kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi
bakteri terhadap obat.
2. Prinsip
Pengobatan TB dilakukan dengan prinsip-prinsip berikut :
1) Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus dalam bentuk kombinasi beberapa obat,
dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat sesuai dengan kategori pengobatan.
2) Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (Directly Observed Treathment atau DOT) oleh seorang pengawas
Menelan Obat (PMO).
Pengobatan diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan :
a) Tahap awal (intensif)
i. Pasien mendapat obat setiap hari dan perklu diawasi secara
langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
ii. Bila pengobatan diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
iii. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi negative
(konversi) dalam 2 bulan.
b) Tahap lanjutan

18

i.

Pasien mendapatkan jenis obat lebih sedikit, namun dalam

ii.

jangka waktu yang lebih lama (biasanya 4 bulan).


Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

3. Paduan
Paduan OAT digunakan oleh Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia :
1. Kategori 1 : 2(HRZE)/ 4(HR)3. Dengan indikasi pasien TB paru BTA
positif,pasien TB baru BTA negative namun foto thoraks positif dan pasien
TB ekstra paru.
2. Kategori 2 : 2(HRZE)S/ (HRZE) atau 5(HR)3E3. Dengan indikasi untuk
pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya (pasien kambuh, pasien
gagal dan pasien dengan pengobatan setelah putus obat).
1) Disediakan paduan obat sisipan : (HRZE)
2) Kategori anak : 2HRZ/4HR
II.1.1.13 Kriteria sembuh
1.
BTA negative pada fase intensif dan fase lanjutan
2.
Foto thoraks serial stabil
3.
Biakan sputum negative
II.1.1.14 Komplikasi
Bila tidak ditangani dengan benar dapat menimbulkan komplikasi baik dini
amupun lanjut :
1. Dini

: pleuritis, efusi pleura, emfiema, laringitis, TB usus, dan

poncets arthrophy.
2. Lanjut
: obstruksi jalan napas (sindrom obstruksi pasca tuberkulosis),
kerusakan parenkim berat (fibrosis paru), cor pulmonal, karsinoma paru
dan sindrom gagal napas dewasa (ARDS).
II.1.2 Pengetahuan
Merupakan hasil dari ingin tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmodjo, 2012). Pengetahuan atau
ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (Overt Behaviour).
Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Rogers pada tahun 1974 di dalam
buku Notoadmodjo (2012) mengatakan bahwa, sebelum orang mengadopsi perilaku
baru dalam diri seseorang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni :

19

1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti


mengethaui terlebuh dahulu terhadap stimulus (objek).
2. Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap
sudah mulai timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang), terhadap bauik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial (mencoba), dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5. Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan (Mubarak, 2005) adalah :
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
3. Umur
4. Minat
5. Pengalaman
6. Kebudayaan
7. Informasi
II.1.3 Sikap
Merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau objek (Notoadmodjo, 2012). Menurut Newcomb, salah satu ahli
psikologis sosial di buku Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan (2012),
mengatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,
bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Bersikap tidak dapat dilihat langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya
kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari
merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan
suatu perilaku (Notoadmodjo, 2012).
Komponen sikap menurut Allport yang terdapat didalam buku Notoadmodjo
(2012) adalah :
1. Kepercayaan (keyakinana), ide, dan konsep terhadap suatu objek
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

20

Ketiga komponen tersebut membentuk sikap yang utuh. Dalam penentuan sikap
yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinandan emosi yang memegang
peranan penting.
II.1.4 Perilaku
Mengutip penelitian dari salah satu jurnal Universitas Sumatera Utara, di dalam
bukunya Notoadmodjo, 2005 mengungkapkan, menurut Skiner perilaku merupakan
respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Skiner, perilaku kesehatan adalah
respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan
penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan minuman serta lingkungan :
1. Teori Lawrence Green
Menganalisis mengenai perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan
seseorang atau masyarakat dapat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu perilaku
(behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non-behavior causes). Selanjutnya
perilaku ditentukan atau terbentuk oleh 3 faktor, yaitu :
1) Predisposising factor atau faktor predisposisi, yang terwujud dalam
pengetahuan,

sikap,

kepercayaan,

keyakinan,

nilai-nilai

dan

sebagainya.
2) Enabling factor atau faktor pendukung, yang terwujud dalam
lingkungan fisik tersedia atau tidaknya failitas-fasilitas atau sarana
kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, jamban, dan lain-lain
sebagainya.
3) Reforcing factor atau faktor pendorong, yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain yang
merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
2. Teori WHO
Menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu
adalah karena adanya 4 alsan pokok :
1) Pengetahuan, diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain.
2) Kepercayaan, seseorang menerima kepercayaan berdasarkan
keyakinan tanpa adanya bukti terlebih dahulu.
3) Sikap, dimana menggambarkan suka atau tidaknya terhadap objek
sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau oranglain yang terdekat.

21

4) Sumber-sumber daya (resource), sumber daya disini mencangkup


fasilitas, tenaga, uang, waktu dan sebagianya.
5) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai, dan penggunaan sumbersumber didalam masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way
of life) yang disebut denga kebudayaan.
Meskipun perilaku dibedakan antara perilaku terbuka (overt) dan
perilaku tertutup (covert), tetapi perilaku adalah totalitas yang terjadi pada
orang yang bersangkutan yang merupakan hasil bersama antara faktor internal
dan eksternal. (Benyamin Bloom,1908), membedakan adanya 3 domain
perilaku, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik (Notoatmodjo, 2005).
Dalam perkembangan selanjutnya, untuk kepentingan pendidikan praktis
dikembangkan menjadi 3 domain perilaku yang dapat diamati antara lain:
1. Pengetahuan (knowledge)
2. Sikap (attitude)
3. Tindakan (practice)
II.1.5 Kondisi Fisik rumah
Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang
layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya,
serta aset bagi pemiliknya. (Kepmenkes RI no. 1107 Pedoman Penyehatan Udara
Dalam Ruang Rumah).
Kondisi rumah yang baik penting untuk mewujudkan masyarakat yang sehat.
Rumah dikatakan sehat apabila memenuhi ke empat syarat hal pokok sebagai
berikut :
1. Memenuhi kebutuhan fisiologis, seperti pencahayaan, ruang gerak yang cukup
dan terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
2. Memenuhi kebutuhan psikologis seperti privacy yang cukup dan
komunikasi yang baik antara penghuni rumah.
3. Memenuhi persyaratan pencegahan penyakit menular, yang meliputi
penyediaan air bersih, pembuangan tinja dan air limbah rumah tangga, bebas

22

dari vektor penyakit, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, sinar matahari
yang cukup, makanan dan minuman yang terlindung dari pencemaran.
4. Memenuhi persyaratan pencegahan kecelakaan baik yang berasal dari dalam
maupun luar rumah.
Berdasarkan Jurnal Kedokteran Muhammadiyah, Volume 1, nomor 1, tahun 2012
hasil penelitian Erwin, dkk menyimpulkan bahwa kondisi fisik rumah yang buruk
beresiko terkena TB paru sebesar 45,50 kali dibandingkan kondisi fisik rumah yang
baik.
Dari beberapa penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa parameter fisik rumah
yang ada kaitannya dengan kejadian penularan penyakit TB paru, yaitu :
II.1.5.1. Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk manjaga agar udara didalam rumah tetap segar,
membebaskan udara ruangan dari bakter-bakteri terutama bakteri pathogen.
Kurangnya

ventilasi

dapat

menyebabkan

kurangnya

kadar

oksigen

dan

bertambahnya kelembapan udara didalam ruangan. Untuk mendapatkan ventilasi


yang baik, maka ada syarat yang harus dipenuhi, yatu (Kemenkes RI No. 829, 1999) :
1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan. Sedangkan
lubang ventilasi insidential (dapat dibuka dan ditutup minimum 5% dari luas
lantai, hingga jumlah keduanya 10% dari luas lantai ruangan.
2. Udara yang masuk harus udara yang bersih, tidak dicemari oleh asap dari
sampah atau pabrik, knalpot kendaraan, debu dan lain-lain.
II.1.5.2 Pencahayaan
Kondisi rumah yang baik adalah cahaya harus dapat menerangi seluruh
ruangan. Pencahayaan dalam rumah sangat berkaitan erat dengan tingkat kelembapan
didalam rumah. Pencahayaan yang kurang akan menyebabkan kelembapan yang
tinggi didalam rumah dan sangat berpotensi sebagai tempat berkembangbiaknya
kuman TBC. Hendaknya setiap rumah harus mempunyai pencahayaan yang
memenuhi syarat dengan membuka jendela setiap pagi. Intensitas pencahayaan
minimal yang diperlukan adalah 60 lux dan tidak menyilaukan. (Kemenkes RI No.
829, 1999)
II.1.5.3. Jenis Lantai

23

Jenis lantai yang baik adalah yang kedap air dan mudah dibersihkan. Jenis
lantai yang digunakan bermacam-macam mulai dari tanah, papan, semen sampai
dengan keramik. Dari jenis lantai yang disebutkan jenis keramik yang paling baik
karena kedap air dan mudah dibersihkan, sedangan jenis lantai yang menggunakan
tanah yang mempunyai resiko tertinggi kejadian tuberkulosis karena mudah lembab
dan tidak menyerap air juga sulit dibersihkan, sehingga menjadi tempat yang baik
untuk berkembangbiaknya kuman TB. (Kemenkes RI No. 829, 1999)
II.1.5.4. Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian diketahui akan meningkatkan resiko dan tingkat keparahan
penyakit berbasis lingkungan. Terutama di Negara Indonesia yang masih banyak
sekali terdapat penyakit menular, seperti penyakit pernapasan dan semua penyakit
yang menyebar melalui udara, salah satunya penyakit tuberkulosis. Persyaratan
kepadatan hunian untuk pengukuran rumah sederhana, luas kamar tidur minimal 8
m dan dianjurkan untuk tidak lebih dari 2 orang. Dengan ketentuan anak < 1 tahun
tidak diperhitungkan dan umur 1-10 tahun dihitung setengah. (Kemenkes RI No. 829,
1999)

II.2 Kerangka Teori


Berdasarkan teori dan jurnal penelitian yang telah dilakukan, didapatkan
berbagai faktor yang mempengaruhi kejadian TB paru, yaitu :

Segitiga Epidemiologi

Tuberkulosis Paru

Agent

Mycobacterium
Tuberculosis

Host

Pengetahu
an, sikap
dan
perilaku

Environment

Kondisi
Lingkungan
dan fisik
Rumah

24

Status Gizi

Status Ekonomi

Jenis Kelamin

Iklim dan
geografis

: variable yang tidak diteliti


: variable yang diteliti
Gambar 2. 1 Kerangka Teori Segitiga Epidemiologi
II.3 Kerangka Konsep
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka kerangka konsep penelitian ini sebagai
berikut :
Variabel Independen

Variabel Dependen

Host

Pengetahuan

Sikap

Perilaku
Environtment

Tuberkulosis Paru

Kondisi Fisik Rumah

Ventilasi

Pencahayaan

Jenis Lantai

Kepadatan
hunian

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

II.4 Hipotesis penelitian


25

H1: Ada hubungan antara pengetahuan pencegahan dengan kejadian TB Paru


di puskesmas Grogol Depok.
H2 : Ada hubungan antara sikap pencegahan dengan kejadian TB Paru di
puskesmas Grogol Depok.
H3 : Ada hubungan antara perilaku pencegahan dengan kejadian TB Paru di
puskesmas Grogol Depok.
H4 : Ada hubungan antara kodisi fisik rumah dengan kejadian TB Paru di
puskesmas Grogol Depok.

26