Anda di halaman 1dari 5

KONSOLIDASI TANAH PERKOTAAN

KECAMATAN BALEENDAH
Chuslul Badar (15112015), Wachid Nuraziz Musthafa (15112043), Refi Rizqi Ramadian
(15112056), Suchi Rahmadani (15112082), Atifah Rabbani (15112090)
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Konsolidasi tanah menurut Badan Pertanahan Nasional adalah kebijaksanaan pertanahan
mengenai penataan kembali penguasaan dan penggunaan tanah serta usaha pengadaan
tanah untuk kepentingan pembangunan, untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan
pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Pada
konsolidasi lahan, terdapat beberapa tahapan dimulai dari persiapan, pendataan, hingga
penataan. Pada tugas kali ini, kami diminta untuk melakukan tahap terakhir yaitu penataan
lokasi konsolidasi yang meliputi pembuatan peta blok plan lokasi hingga peta desain
konsolidasi tanah yang telah mencakup Tanah Pengganti Biaya Pembangunan (TPBP)
dengan memperhatikan peraturan-peraturan yang ada. Lokasi yang dipilih merupakan
bagian dari Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung RW 05, RT 01 sampai RT 04.
Gambar 1 memberikan lokasi yang dipilih untuk melakukan konsolidasi. Lokasi ini
memiliki luas awal sebesar 54.560,352 m2 dengan harga Rp 1.000.000/m2 dan persebaran
persil terlampir pada Lampiran 1. Konsolidasi lahan membagi lokasi ke dalam dua bagian
utama yaitu persil perumahan dan prasarana lingkungan serta fasilitas umum dengan
rincian seperti pada Tabel 1.

Gambar 1. Lokasi terpilih untuk konsolidasi (sumber : Google Maps)

No
1
2

Tabel 1. Penggunaan tanah rencana konsolidasi Kecamatan Baleendah


Jenis Penggunaan
Persil
Luas (m2)
%
Kaveling
106
31270.83
57.31
Fasilitas Umum
23289.52
42.69
54560.35
100
Total

Pada konsolidasi lahan, pihak pengelola mendapatkan bagian tanah sebagai pengganti biaya
pembangunan yaitu TPBP. Mekanisme perhitungan TPBP dilakukan dengan rumus berikut
p = Lp/L
hb = (ha+hm)/p
q = hm/(phb)
x = p(1-q)
TPBP = pqL

(1)

Dengan p = perbandingan luas tanah untuk persil dan seluruh kawasan, hb = harga rata-rata
tanah persatuan luas setelah program konsolidasi (Rp/m2), Lp = tanah untuk persil
perumahan, L = luas tanah asal, ha = harga tanah sebelum konsolidasi (Rp/m2), hm = harga
pematangan tanah (Rp/m2), q = batas minimum keuntungan para pemilik tanah, x =
perbandingan antara luas tanah milik setelah konsolidasi dengan luas tanah milik asal
sebelum konsolidasi tanah, dan TPBP = Tanah Pengganti Biaya Pembangunan (m2).
Hasil perhitungan memberikan hasil seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil perhitungan variabel
Variabel
Nilai
ha
Rp 1000000
hm
Rp 400000
p
0.35
hb
Rp 4050753
q
0.29
x
0.25
TPBP
5387.68 m2
Berdasarkan hasil tersebut, diketahui bahwa luas TPBP adalah 5387.68 m2. Berikutnya
dilakukan rencana konsolidasi dengan mendigitasi citra pada Gambar 1 menggunakan
ArcGIS. Hasil rencana konsolidasi terlampir pada Lampiran 2 sedangkan rincian luas
tanah untuk setiap jenis penggunaan tercantum pada Tabel 3.
Tabel 3. Penggunaan tanah sesudah konsolidasi tanah Kecamatan Baleendah
No
Jenis Penggunaan
Persil
Luas (m2)
%
1
106
18856.88
34.56
Kaveling
Fasilitas Umum
2
UMKM
1384.798
2.54
3
Arena Olahraga Air
1229.37
2.25
4
Gereja
2182.11
3.99
5
Balai Warga
486.81
0.89
6
Puskesmas
2808.166
5.15
7
Sekolah
11868.5
21.75
8
Masjid
2618.35
4.80

9
10
11
12
13

Pusat Belanja
Taman
Jalan
Lapangan
TPBP
Total

2607.17
1318.12
105.71
3706.75
5387.68
54560.35

4.78
2.42
0.19
6.79
9.87
100

Setelah konsolidasi letak perumahan berada di daerah Barat Laut. Hal ini berdasarkan pada
fakta kondisi sebelum konsolidasi yaitu lokasi perumahan sebagian besar berada di daerah
tersebut. Konsep perumahan dijadikan terpusat pada satu daerah untuk memaksimalkan
fungsi sosial dan politik antar masyarakat di daerah tersebut. Di sebelah timur perumahan,
dibangun tempat ibadah berupa Masjid dan Gereja, Puskesmas, Balai Warga dan UMKM
karena keempat fasilitas ini merupakan fasilitas yang penting bagi masyarakat. Letak
sekolah disesuaikan dengan kondisi awal yaitu di sebelah Tenggara. Di bagian Barat
sekolah, dibangun lapangan dan arena olahraga air untuk menunjang proses belajar
mengajar. Pembangunan Pusat Belanja dilakukan di sebelah jalur utama untuk
mempermudah akses masyarakat menuju lokasi tersebut. Sedangkan Taman dibangun di
dekat Pusat Belanja untuk menunjang fungsi Pusat Belanja itu sendiri.
Dari hasil konsolidasi, dapat dilihat bahwa persentase luas tanah untuk perumahan
berkurang dari 57.31 % menjadi 34.56 %. Namun harga tanah meningkat dari Rp
1.000.000/m2 menjadi Rp 4.050.753/m2. Selain itu hasil konsolidasi memberikan persilpersil tanah yang teratur bentuknya dan tidak ada bagian tanah yang tidak bermanfaat. Hal
ini turut berkontribusi dalam menaikkan harga tanah karena penambahan pembangunan
fasilitas seperti yang disebutkan di atas.

Referensi
Barus, Lita Sari dan Wibowo, Azis Prihanto. 2010. Identifikasi Dinamika Harga Lahan Di
Kawasan Cipadu Kota Tangerang. Universitas Esa Unggul. Jakarta
Hernandi, Andri dan Leksono, Bambang Edhi. Slide Kuliah GD4102 Sistem Kadaster :
Konsolidasi Lahan
Leksono, Bambang Edhi. 2015. Slide Kuliah GD4102 Sistem Kadaster : Studi Kasus
Desa Jelegong Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung Sebagai Permukiman Kumuh
dalam Konsolidasi Tanah Perdesaan secara Partisipatif Guna Meningkatkan Kualitas
Lingkungan dan Nilai Tanah
Peraturan KBPN No. 4 tahun 1991

LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2