Anda di halaman 1dari 49

EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG DAYAK

(Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) DALAM


MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI
Escherichia coli
Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk
Memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

Disusun Oleh:
FIQRIAH REZEKI AMANDA
NIM : 1111103000012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H /2014 M

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1. Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan
untuk memenuhi salah satu persyaratan memeroleh gelar strata 1 di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 12 September 2014

Fiqriah Rezeki Amanda

ii

iii

iv

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia
yang telah diberikan, sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian ini. Saya
menyadari tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,sangatlah sulit bagi
saya untuk menyelesaikan penelitian ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan
banyak terima kasih kepada:
1. Prof. DR. ( hc ) dr. M.K. Tadjudin, Sp.And selaku Dekan FKIK UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang selalu membimbing dan memberikan
kesempatan kepada saya untuk menempuh pendidikan di Program Studi
Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. dr. Witri Ardini, M. Gizi,SpGK selaku Ketua Program Studi dan untuk
seluruh dosen Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang selalu membimbing serta memberikan ilmu
kepad asaya selama menjalani masa pendidikan di Program Studi
Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. dr. Flori Ratna Sari, Ph.D selaku penanggung jawab modul riset angkatan
2011, yang selalu membimbing dan memberikan kesempatan kepada saya
untuk menjalankan dan menyelesaikan penelitian ini.
4. dr. Erike Anggraini Suwarsono,M.Pd dan dr. Siti Nur Aisyah Jauharoh,
Ph.D selaku dosen pembimbing penelitian yang selalu membimbing dan
mengarahkan dalam berjalannya penelitian ini.
5. Kedua orang tua tercinta, Bahtiar dan Fauziah yang selalu memberikan
kasih sayangnya, memberikan doa dan semangat sepanjang waktu. Juga
kepada adik saya, Fauzan Akbar Ashari yang selalu membuat saya
bersemangat dalam menjalani kehidupan di Program Studi Pendidikan
Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Kepada keluarga besar yang berada di Pontianak, yang selalu memberikan


doa dan semangat untuk terus belajar dan ikut membantu menyediakan
bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.)Merr) guna terlaksananya
penelitiaan ini.
7. Fitrian Amwaalun Naafiah, Tazkiyatul Firdaus, Shevrina Faradiba, Bagus
Kusuma Wardhana, Ardin Sahputra danSiti Nashratul Kamillah yang
menjalani penelitian ini bersama juga kepada Mbak Novi selaku laboran
yang selalu menemani dan membantu di Laboratorium.
8. Seluruh mahasiswa PSPD 2011 serta seluruh teman dan sahabat yang tidak
bisa saya sebutkan satu persatu.

Saya menyadari laporan penelitian ini masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan
saran yang membangun dari semua pihak sangat saya harapkan demi
kesempurnaan laporan penelitian ini.
Demikian laporan penelitian ini saya tulis, semoga bermanfaat bagi penyusun
khususnya dan para pembaca pada umumnya. Semoga Allah SWT berkenan
menjadikannya sebagai amal baik untuk tabungan di akhirat nanti. Aamiin.

Ciputat, 12 September 2014

Penulis

vi

ABSTRAK
Fiqriah Rezeki Amanda. Program Studi Pendidikan Dokter. Efektivitas
Ekstrak bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
Bawang dayak (Eleutherine palmifolia(L.)Merr.) merupakan tanaman yang secara
empiris banyak digunakan untuk pengobatan. Escherichia coli adalah anggota
flora normal pada usus manusia,dapatmenjadi patogen jika jumlahnya dalam
saluran pencernaan meningkat atau berada di luar saluran pencernaan. Escherichia
coli menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan beberapa kasus diare dan
beberapa penyakit lainnya. Bawang dayak 3 kg diekstraksi dengan metode
maserasi dengan pelarut etanol 96% sehingga didapatkann ekstrak kental
sebanyak 326,8 gram. Ekstrak bawang dayak dibuat dalam berbagai konsentrasi
yaitu 10;20;40 mg/ml. Kontrol negatif dan kontrol positif yaitu Amoksisilin 25g.
Selanjutnya, berbagai konsentrasi ekstrak bawang dayak diuji efek antibakterinya
terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan teknik disc diffusion.
Konsentrasi yang memiliki zona hambat terkecil terdapat pada konsentrasi 10
mg/ml dan yang terbesar terdapat pada konsentrasi 40 mg/ml. Hal ini
membuktikan bahwa bawang dayak (Eleutherine palmifolia(L.)Merr.) memiliki
peran antibakteri dengan potensi sedang dalam respon menghambat pertumbuhan
bakteriEscherichia coli.
Kata kunci: Bawang dayak (Eleutherine palmifolia(L.)Merr.), Escherichia coli,
disc diffusion
ABSTRACT
Fiqriah Rezeki Amanda. Medical Education Study Program. Effectiveness of
garlic dayak extract inhibits the growth of bacteria Escherichia coli.
Onions dayak (Eleutherine palmifolia(L.)Merr.) is a plant that is widely used
empirically for treatment. Escherichia coli is normal flora in the human gut, can
become pathogenic if the amount in the digestive tract increases or located outside
the digestive tract. Escherichia coli produces an enterotoxin that causes some
cases of diarrhea and other diseases. 3 pounds of onions dayak (Eleutherine
palmifolia(L.)Merr.) extracted by maceration method with 96% ethanol to obtain
a viscous extract as much as 326.8 grams. Dayak onion (Eleutherine
palmifolia(L.)Merr) extract prepared in the concentration range of 10;20;40
mg/ml. Negative control and positive control Amoxicillin25g. Then various
concentrations of garlic extract dayak(Eleutherine palmifolia(L.)Merr.) tested
antibacterial effect on the growth of Escherichia coliby disc diffusion technique.
concentration which has the smallest inhibition zone present in the largest
concentrations of 10 and 40 are the concentrations of this proves that the onions
dayak(Eleutherine palmifolia(L.)Merr.) has the potential moderately antibacterial
role in inhibiting the growth of Escherichia colibacteria peroses.
Keywords: Garlic extract dayak (Eleutherine palmifolia(L.)Merr.), Escherichia
coli, disc diffusion
vii

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA......................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................... v
ABSTRAK .........................................................................................................vii
ABSTRACT .......................................................................................................vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................
1.3 Hipotesis ...................................................................................................
1.4 Tujuan Penelitian......................................................................................
1.4.1 Tujuan Khusus ................................................................................
1.4.2 Tujuan Umum ..................................................................................
1.5 Manfaat Penelitian....................................................................................
1.5.1 Bagi Peneliti .....................................................................................
1.5.2 Bagi Institusi ....................................................................................
1.5.3 Bagi Sosial .......................................................................................

1
3
3
3
3
3
3
3
3
4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 5


2.1 Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr).................................. 5
2.2 Klasifikasi dan Morfologi Bakteri Escherichia coli................................. 7
2.2.1 Patogenesis Escherichia coli ........................................................... 8
2.2.2 Jenis-jenis Bakteri Escherichia coli ................................................ 9
2.3 Mekanisme Aktivitas Antibakteri ............................................................. 11
2.4 Metode Ekstraksi ...................................................................................... 12

viii

2.5 Metode Pengujian Antibakteri .................................................................. 12


2.5.1 Metode Difusi .................................................................................. 12
2.6 Kerangka Teori ......................................................................................... 14
2.7 Kerangka Konsep ..................................................................................... 15
2.8 Definisi Operasional ................................................................................. 15
BAB 3 RANCANGAN PENELITIAN ............................................................ 16
3.1 Desain Penelitian ...................................................................................... 16
3.2 Waktu Dan Tempat Ekstraksi dan Uji Efektivitas.................................... 16
3.3 Bahan yang Diuji ...................................................................................... 16
3.4 Identifikasi Variabel ................................................................................. 16
3.4.1 Variabel Bebas ................................................................................. 16
3.4.2 Variabel Terkait ............................................................................... 17
3.5 Alat dan Bahan Penelitian ........................................................................ 17
3.5.1 Alat Penelitian .................................................................................. 17
3.5.2 Bahan Penelitian............................................................................... 17
3.6 Cara Kerja Penelitian ................................................................................ 17
3.6.1 Tahap Persiapan ............................................................................... 17
3.6.1.1 Sterilisasi Alat dan Bahan ..................................................... 17
3.6.1.2 Pembuatan Stok Bakteri ........................................................ 17
3.6.1.3 Ekstraksi Bawang Dayak ...................................................... 17
3.6.1.4 Pembuatan Stok Variabel Konsentrasi ..................................18
3.6.2 Tahap Pengujian ...............................................................................18
3.6.2.1 Uji Penghambatan Pertumbuhan Bakteri .............................18
3.7 Alur Penelitian .......................................................................................... 20
3.8 Pengolahan Data ....................................................................................... 21
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 22
4.1 Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)..................... 22
4.2 Efek Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) terhadap
Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli ........................................................... 22
BAB 5 PENUTUP.............................................................................................. 27
5.1 Kesimpulan............................................................................................... 27
5.2 Saran ......................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 29
LAMPIRAN ....................................................................................................... 32

ix

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1. Klasifikasi Respon Hambat Pertumbuhan Bakteri............................. 13
Tabel 4.1. Hasil Analisis Post Hocdengan Uji Mann-Whitney ........................... 23

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1. Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)........................................ 6
Gambar 2.2. Pewarnaan gram Escherichia coli ................................................. 7
Gambar 2.3. Struktur antigenik Enterobacteriaceae ........................................... 8
Gambar 3.1. Alur penelitian ............................................................................... 20
Gambar 4.1. Diameter Rata-rata Zona Hambat .................................................. 22

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Hasil Determinasi Bahan Uji .......................................................... 32
Lampiran 2. Sertifikat Pengujian Ekstraksi Bawang Dayak ............................... 33
Lampiran 3. Riwayat Penulis .............................................................................. 34
Lampiran 4. Alat Penelitian ................................................................................ 35
Lampiran 5. Uji Antibakteri ............................................................................... 37

xii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara

berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih


tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdi Diare, Departemen
Kesehatan dari tahun 2000 sampai 2010 terlihat kecenderungan insiden naik
setiap tahunnya. Pada tahun 2000 insiden rata-rata penyakit diare 301 per 1000
penduduk, 374 per 1000 penduduk pada tahun 2003, naik menjadi 423 per 1000
penduduk pada tahun 2006 dan menjadi 411 per 1000 penduduk pada tahun
2010.1 Pada tahun 2007, prevalensi diare di Jawa Barat lebih dari 9%, yaitu
10,2%dan mengalami kejadian luar biasa pada tahun 2009 dan 2010.1 Bila dilihat
per kelompok umur, diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi
tertinggi pada anak balita usia 1 sampai 4 tahun yaitu 16,7%. Sedangkan menurut
jenis kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada
laki-laki dan 9,1% pada perempuan.1
Salah satu penyebab diare adalah infeksi gastrointestinal oleh bakteri
Escherichia coli.2 Escherichia coli adalah anggota flora normal pada usus
manusia. 2Escherichia coli menjadi patogen jika jumlahnya dalam saluran
pencernaan meningkat atau berada di luar saluran pencernaan.8 Escherichia coli
menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan beberapa kasus diare. Manifestasi
klinik Escherichia coli

bergantung pada tempat infeksinya dan tidak dapat

dibedakan dengan gejala infeksi yang disebabkan oleh bakteri lain.8 Beberapa
penyakit yang disebabkan oleh Escherichia coli ialah, Infeksi saluran kemih,
diare, sepsis dan meningitis.8
Di Negara-negara berkembang khususnya Indonesia, kasus penyakit yang
disebabkan oleh Escherichia coli masih menjadi masalah utama.3 Hal tersebut
diikuti pula dengan meningkatnya kasus resistensi terhadap antibiotik, sehingga

memicu para ilmuan untuk meneliti agen alternatif lain yang dapat berfungsi
sebagai antibiotik.
Salah satu keunggulan dari Indonesia adalah kaya akan keanekaragaman
hayati yang menjadi bahan baku obat. Tumbuhan obat merupakan suatu produk
yang aman dan efektif bagi manusia untuk digunakan dalam penanganan penyakit
melalui pengobatan sendiri. Pada pengembangan obat dimasa mendatang,
tanaman sangat berharga untuk digunakan sebagai obat moderen dalam empat hal
dasar, yaitu (1) digunakan sebagai sumber agen terapeutik langsung, (2)
merupakan bahan mentah untuk pengembangan senyawa kimia, (3) struktur kimia
dari senyawa di dalam tanaman dapat digunakan sebagai obat baru, dan (4)
tumbuh-tumbuhan obat dapat digunakan dan dikelompokan sebagai penemuan
senyawa baru.6
Bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) merupakan tanaman
yanag secara empiris banyak digunakan untuk pengobatan. Tanaman ini banyak
terdapat di daerah Kalimantan, sudah secara turun temurun dipergunakan
masyarakat Dayak sebagai tanaman obat.6 Bagian yang dapat dimanfaatkan pada
tanaman ini adalah umbinya yang berwarna merah terang dengan daun hijau
berbentuk pita dan bunganya berwarna putih.6 Hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan di Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa umbi bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr) mengandung senyawa naphtoquinonens dan
turunannya

seperti

Naphtoquinones

elecanacine,

dikenal

sebagai

eleutherine,

eleutherol,

eleuthernone.3

antimikroba,

antifungal,

antivirial

dan

antiparasitik.3 Selain itu, naphtoquinones memiliki bioaktivitas sebagai antikanker


dan antioksidan yang biasanya terdapat di dalam sel vakuola dalam bentuk
glikosida.6
Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang tertuju pada bagaimana
efektifitas dari bulbus bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) sebagai
obat alam yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli padahal
tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadai tanaman pokok obat.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui, potensi bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Escherichia coli.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah

Apakah ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dapat


menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli ?

1.3

Hipotesis
Ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dapat

menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.

1.4

Tujuan Penelitian
1.4.1

Tujuan Khusus
Untuk mengetahui efektivitas ekstrak bawang dayak (Eleutherine
palmifolia (L.) Merr) terhadap pertumbuhan Escherichia coli.

1.4.2

Tujuan Umum
Untuk mengetahui kadar ekstraksi bawang dayak (Eleutherine
palmifolia (L.) Merr) yang dapat menghambat pertumbuhan
Escherichia coli.

1.5

Manfaat Penelitian
1.5.1

Bagi Peneliti
a.

Sebagai prasyarat dalam memperoleh gelar S.Ked (sarjana


kedokteran) di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.

b.

Menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang telah didapat


selama pendidikan.

c.

Menambah pengetahuan tentang efektivitas ekstrak bawang


dayak

(Eleutherine

palmifolia

(L.)

Merr)

terhadap

pertumbuhan bakteri Escherichia coli.


1.5.2

Bagi Institusi
a.

Memberikan informasi mengenai keilmuan mikrobiologi.

b.

Memajukan UIN Syarif Hidayatullah dan FKIK UIN Syarif


Hidayatullah dengan publikasi tentang penelitian ini.

c.

Dapat dijadikan bahan referensi bagi praktisi yang tertarik


dalam bidang mikrobiologi.

1.5.3 Bagi Sosial


Dapat memberikan tambahan informasi mengenai manfaat
ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)
terhadap bakteri Escherichia coli dan dapat digunakan sebagai
obat.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)


Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) adalah salah satu jenis

tanaman yang berkhasiat bagi kesehatan. Tanaman ini banyak ditemukan di


daerah Kalimantan. Penduduk lokal di daerah tersebut sudah menggunakan
tanaman ini sebagai obat tradisional. Bagian yang dapat dimanfaatkan pada
tanaman ini adalah umbinya. Di Indonesia, tanaman ini juga dikenal dengan nama
bawang mekah, bawang hantu, bawang sabrang dan bawang arab. 6
Taksonomi Bawang Dayak (Eleutherinepalmifolia(L.) Merr) 6
Kingdom

: Plantae

Subkingdom

: Tracheobinota

Super Divisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Sub Kelas

: Liliidae

Ordo

: Liliales

Famili

: Iridaceae

Genus

: Eleutherine

Spesies

: Eleutherinepalmifolia(L.) Merr

Tanaman ini banyak terdapat di daerah pegunungan antara 600 sampai


1500 m di atas permukaan laut. Mudah dibudidayakan, tidak tergantung musim
dan dalam waktu 2 hingga 3 bulan setelah tanam sudah dapat dipanen.10 Ciri
spesifik dari tanaman ini adalah umbinya yang berwarna merah menyala dengan
permukaan yang sangat licin, letak daun berpasangan dengan komposisi daun
bersirip ganda dan bunganya berwarna putih. Tipe pertulangan daunnya sejajar
dengan tepi daun licin dan bentuknya seperti pita bergaris. Selain digunakan
5

sebagai tanaman obat, tanaman ini juga bisa digunakan sebagai tanaman hias
karena memiliki bunga yang berwarna putih.6

Gambar2.1.BawangDayak (Eleutherinepalmifolia(L.) Merr).


Sumber:http://herbaceousborneo.blogspot.com

Khasiat dari tanaman bawang dayak di antaranya sebagai antikanker


payudara, mencegah penyakit jantung, immunostimulant, antinflamasi, antitumor
serta anti bleeding agent.10 Hasil penelitian menunjukan bahwa umbi bawang
dayak

mengandung

senyawa

naphtoquinonens

dan

turunannya

seperti

elecanacine, eleutherine, eleutherol, eleuthernone.3Naphtoquinones dikenal


sebagai antimikroba, antifungal, antivirial dan antiparasitik. Selain itu,
naphtoquinones memiliki bioaktivitas sebagai antikanker dan antioksidan yang
biasanya terdapat di dalam sel vakuola dalam bentuk glikosida. 14
Umbi bawang dayak mengandung senyawa-senyawa turunan anthrakinon
yang

mempunyai

daya

pencahar,

yaitu

senyawa-senyawa

eleutheurin,

isoeleutherin dan senyawa-senyawa sejenisnya, senyawa-senyawa lakton yang


disebut eleutherol dan senyawa turunan pyron yang disebut eleutherinol. 6Adapun
senyawa bioaktif yang terdapat dalam umbi bawang dayak terdiri dari senyawa
alkaloid, steroid, glikosida, flavonoid, fenolik, saponin, triterpenoid, tannin dan
kuinon.

2.2

Klasifikasi dan Morfologi Bakteri Escherichia coli


Taksonomi bakteri Escherichia coli (Smith-Keary 1988) :8
Kingdom

: Prokaryot

Diviso

: Gacilicutes

Class

: Scotobacteria

Ordo

: Eubacteriales

Family

: Enterebacteriaceae

Genus

: Escherichia

Spesies

: Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang


pendek yang memiliki panjang sekitar 2 m, diameter 0,7 m, lebar 0,4-0,7m,
bersifat motil dengan flagel peritrika, mempunyai kapsul dan bersifat anaerob
fakultatif. Escherichia coli dapat melakukan fermentasi karbohidrat dan
menghasilkan gas dari glukosa. Pada biakan Escherichia coli akan membentuk
koloni yang sirkular, konveks dan halus dengan tepi tegas. 8

Gambar 2.2. Pewarnaan gram Escherichia coli


Sumber: www.bacteriainphotos.com

Escherichia coli memiliki struktur antigenik yang kompleks, yaitu:

Antigen O: Terdapat dibagian terluar dari lipopolisakarida dinding sel


dan terdiri dari unit polisakarida yang berulang. Resisten terhadap

panas dan alkohol, terkadang berkaitan dengan penyakit yang spesifik


pada manusia yaitu diare dan infeksi saluran kemih.8

Antigen K: Terdapat pada permukaan luar bakteri (diluar antigen O),


terdiri dari polisakarida, bersifat tidak tahan panas dan berhubungan
dengan virulensi misalnya Escherichia coli yang menghasilkan
antigen

sering

ditemukan

pada

meningitis

neonatal

dan

menyebabkan perlekatan bakteri pada sel epitel sebelum invasi ke


saluran cerna atau saluran kemih.8

Antigen H: Terdapat pada flagel, dapat didenaturasi dengan panas dan


alkohol.8

Gambar 2.3. Struktur antigenik Enterobacteriaceae


Sumber : Jawetz Medical Microbiology

2.2.1 Patogenesis Escherichia coli


Escherichia coliadalah anggota flora normal usus, namun dapat menjadi
patogen bila jumlahnya meningkat dalam saluran pencernaan atau berada diluar
saluran pencernaan yang normal.8 Tempat yang paling sering terinfeksi adalah
salura kemih, saluran empedu, dan tempat lain dalam saluran abdomen. Bakteri
Escherichia coli sering menjadi peyebab penyakit diare, selain itu ia juga dapat
menyebkan infeksi pada saluran kemih, meningitis dan sepsis. Berbagai jalur
Escherichia coli mungkin menyebabkan diare dengan salah satu dari dua
mekanisme:

1.

Escherichia coli memproduksi enteretoksin (enterotoksinogen),


memproduksi salah satu atau kedua toksin yang berbeda, yaitu toksin
yang tahan panas dan toksin yang tidak tahan panas. Toksin yang
tidak tahan panas dapat menyebabkan peningkatan aktifitas enzin
adenilat siklase dalam sel mukosa usus halus dan merangsang sekresi
cairan. Sedangkan toksin yang tahan panas dapat mengaktifkan enzin
guanilat siklase sehingga dapat menyebabkan gangguan absorbsi
klorida dan natrium, selain itu dapat menurunkan motilitas usus halus.

2.

Escherichia coli dapat menginvasi langsung pada epitel dinding usus.


Sehingga lipopolisakarida dinding sel bakteri (endotoksin) akan
mempengaruhi epitel usus.

2.2.2 Jenis-jenis BakteriEscherichiaColi


Escherichia coli yang menyebabkan diare diklasifikasikan berdasarkan
karakteristik sifat virulensinya, dan masing-masing kelompok menyebabkan
penyakit melalui mekanisme yang berbeda.

Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC)


Penyebab diare tersering pada bayi di negara berkembang. EPEC menempel
pada sel mukosa usus halus, akibat dari infeksi EPEC adalah diare encer,
yang biasanya sembuh sendiri tetapi bisa menjadi kronik. Diare EPEC
disebabkan oleh berbagai serotipe spesifik Escherichia coli, strain
diindentifikasi dengan antigen O dan kadang-kadang dengan penentuan tipe
antigen H. Pemeriksaan untuk mengidentifikasi EPEC dilakukan di
laboratorium rujukan. Lamanya diare EPEC dapat diperpendek dan diare
kronik dapat diobati dengan terapi antibiotik.8

Escherichia coli Enterotoksigenik (ETEC)


Penyebab umum diare wisatawan dan penyebab diare pada bayi di negara
berkembang. Faktor kolonisasi ETEC spesifik untuk medorong perlekatan
ETEC pada sel epitel usus halus manusia.Beberapa strain ETEC
menghasilkan eksotoksin yang tidak tahan panas, yang dapat mengaktivasi
adenilat siklase. Hal ini meningkatkan konsentrasi lokal siklik adenosin
monofosfat (cAMP) secara bermakna yang mengakibatkan hipersekresi air

10

dan klorida yang banyak dan lama serta menghambat reabsorbsi natrium.
Lumen usus teregang oleh air, terjadi hipermotilitas dan diare yang
berlangsung selama beberapa hari. 8 Eksotoksin yang tidak tahan panas (LT)
merangsang

produksi

antibodi

penetralisir

didalam

serum

(dan

kemungkinan didalam usus) pada orang yang sebelumnya terinfeksi


Escherichia coli.Sehingga orang yang tinggal di daerah dengan prevalensi
sangat tinggi kemungkinan memiliki antibodi dan jarang mengalami diare
akibat pejanan ulang olehEscherichia coli penghasil LT. 8 Beberapa strain
Escherichia coli juga menghasilkan eksotoksin yang tahan panas (ST), yang
dapat mengaktifkan guanilat siklase dalam sel epitel dan merangsang sekresi
cairan. Beberapa strain Escherichia coli juga menghasilkan kedua toksin
tersebut yang mana dapat mengakibatkan diare yang lebih berat. Jalur
transmisi melalui fecal-oral, sanitasi dan kebersihan yang buruk, serta
makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. 8

Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)


EHEC dapat menyebabkan kolitis hemoragik, diare yang berat, dan pada
sindroma hemolitik uremik suatu penyakit yang mengakibatkan gagal ginjal
akut, anemia hemolitik mikroangiopati dan trombositopenia. Sebagian besar
transmisi melalui makanan yang terkontaminasi seperti daging yang
setengah matang. 8

Entero invasif Escherichia coli (EIEC)


Menimbulkan penyakit yang mirip shigelosi. Penyait ini paling sering
terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Seperti Shigella, strain EIEC
tidak memfermentasikan laktosa, menimbulkan penyakit dengan menginvasi
sel epitel usus halus.8

Enteroagregatif Escherichia coli (EAEC)


Penyebab diare akut dan kronik (durasi lebih dari 14 hari) pada masyarakat
di negara berkembang. Organisme ini juga menyebabkan penyakit yang
ditularkan melalui makanan di negara industri. EAEC ditandai oleh pola
perlekatannya yang khas pada sel manusia. Organisme ini menghasilkan
toksin mirip ST dan hemolisin.8

11

2.3

MekanismeAktivitasAntibakteri
Antibakteri merupakan suatu agen yang digunakan untuk membunuh atau

menekan pertumbuhan atau reproduksi bakteri.21Berdasarkan sifat toksisitas


selektif, ada antimikroba yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba,
dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik; dan ada yang bersifat membunuh
mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid.8
Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba
atau membunuhnya, masing-masing dikenal sebagai kadar hambat minimal
(KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM). Antimikroba tertentu aktivitasnya
dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya
ditingkatkan melebihi KHM. Sifat antimikroba berbeda satu dengan lainnya.
Berdasarkan perbedaan sifat ini antimikro dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
berspektrum sempit dan luas.5
Anti bakteri bekerja melalui 5 mekanisme yaitu:

Menghambat metabolisme sel bakteri


Agen anti bakteriyang menghambat metabolisme sel disebut sebagai
antimetabolit. Senyawa ini menghambat metabolisme mikroorganisme dan
bukan metabolisme dari host. Proses ini dilakukan degan menghambat
reaksi enzim katalis yang hadir dalam sel bakteri.4,5

Menghambat sintesis dinding sel


Penghambatan sintesis dinding sel bakteri menyebabkan lisis bakteri.4
Agen ini bekerja dengan cara menghambat dan mengaktivasi enzim yang
dapat merusak dinding sel bakteri.8 Agen yang beroperasi dengan cara ini
adalah penisilin dan sefalosporin.4,5

Berinteraksi dengan membran plasma


Bekerja dengan cara berinteraksi dengan membran sel bakteri dan
mempengaruhi permeabilitas membran plasma. Agen yang beroperasi
dengan cara ini ialah polimiksin.4,5

Menghambat sitesis protein


Agen

yang

mengganggu

sintesis

protein

diantaranya

rifampisin,

aminoglikosida, tetrasiklin, dan kloramfenikol. Bekerja mempengaruhi

12

ribosom bakteri dan enzim yang esensial untuk sintesis protein sehingga
sintesis protein terhambat.4

Menghambat sintesis asam nukleat


Mengganggu fungsi dari asam nukleat, menghambat enzim yang berperan
dalam sintesis asam nukleat.4 Agen yang bekerja dengan mekanisme ini
adalah kuinolon.4,5

2.4

Metode Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

shingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia
yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang
tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-lain.12 Senyawa aktif
yang terdapat pada berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan
minyak astiri, alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Ada beberapa metode yang umum
digunakan untuk ekstraksi yaitu:11
Ekstraksi dengan Menggunakan Pelarut
Cara Dingin
Maserasi : Maserasi merupakan proses pengekstrakan simplisia dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada
temperatur ruangan. Cara ini dapat menarik zat-zat berkhasiat yang tahan
pemanasan maupun yang tidak tahan pemanasan. 11
Perkolasi: Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru
sampaisempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada
temperatur ruangan. Ekstraksi ini membutuhkan pelarut yang lebih banyak. 11

2.5

Metode Pengujian Antibakteri


2.5.1 Metode Difusi
Pada metode ini, penentuan aktivitas didasarkan pada kemampuan difusi

dari zat antimikroba dalam lempeng agar yang telah diinokulasi dengan mikroba
uji. Pengamatan yang akan diperoleh adalah ada atau tidaknya zona hambatan
(daerah bening yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri) yang
akan terbentuk di sekeliling zat antimikroba pada masa inkubasi bakteri. Pada
metode ini dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu: 13

13

a. Cakram Disc
Pada cara ini, digunakan suatu cakram kertas saring (paper disc) yang
berfungsi sebagai tempat menampung zat antimikroba. Kertas saring yang
mengandung zat antimikroba tersebut diletakkan pada lempeng agar yang telah
diinokulasi dengan mikroba uji. Hasil pengamatan yang akan diperoleh adalah ada
tidaknya daerah bening yang terbentuk disekeliling kertas cakram yang
menunjukkan zona hambatan pertumbuhan bakteri. Semakin besar zona hambatan
yang ditunjukkan semakin besar pula aktivitas zat antimikroba. 13
Tabel 2.1 Klasifikasi Respon Hambat Pertumbuhan Bakteri.19
Diameter zona hambat

Respon hambat
pertumbuhan

>20 mm

Sangat kuat

10 20 mm

Kuat

5 10 mm

Sedang

< 5 mm

Lemah

Sumber : Greenwood yang disitasi oleh Pratama 2005.

b. Cara parit (Ditch)


Suatu lempeng agar yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dibuat
sebidang parit. Parit tersebut diisi dengan zat antimikroba, kemudian diinkubasi
pada waktu dan suhu optimum yang sesuai untuk mikroba uji. Hasil pengamatan
yang akan diperoleh adalah ada atau tidaknya zona hambatan yang tebentuk
disekitar parit. Analog dengan cara cakram, besarnya zona hambat yang
dihasilkan sebanding dengan kemampuan aktivitas dari zat antimikroba yang
diujikan. 13
c. Cara Lubang (Hole/Cup)
Pada lempeng agar yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dibuat suatu
lubang yang selanjutnya diisi dengan zat antimikroba uji. Cara ini dapat diganti
dengan meletakkan cawan porselin kecil yang biasa disebut fish spines di atas
medium agar. Kemudian cawan-cawan tersebut diisi dengan zat uji. Setelah
inkubasi pada suhu dan waktu optimum yang sesuai dengan mikroba uji,

14

dilakukan pengamatan dengan melihat ada atau tidaknya zona hambatdi sekeliling
lubang atau cawan. 13

2.6

Kerangka Teori

Flavonoid

Ekstrak
bawang dayak
(Eleutherinep
almifolia(L.)
Merr)

Saponin

Tanin

Biakan Bakteri
Escherichia coli

Membentuk
senyawa
kompleks
terhadap protein
ekstraseluler
Berikatan dgn
protein
transmembran
pada dinding sel
Menghambat
enzim reserve
transkriptse &
DNA
topoisomerase

Pertumbuhan
Bakteri

Escherichia coli
normal

Tidak terbentuk
zona hambat

PertumbuhanBakteri
Escherichia coliterhambat

Mengganggu
& merusak
membran sel
bakteri
Mengganggu
protein
transmembran
rusakperme
abilitas sel
Pertumbuhan
bakteri
terganggu

Agen anti
mikroba
Kemungkinan
bersifat
bakteriostatik
dan bakterisidal

Terbentuk zona hambat

Ekstral bawang dayak (Eleutherinepalmifolia(L.) Merr) memiliki zat aktif yang


dapat bersifat bakteriosidal dan bakteriostatik, diantaranya flavonoid, tanin,
saponin. Sehingga saat dilakukan uji dengan metode disc diffusion akan
didapatkan zona hambat.

15

2.7

Kerangka konsep
Biakan bakteri
Escherichia coli

Flavonoid

Ekstrak bawang
dayak (Eleutherine
palmifolia (L.)Merr)

2.8

Saponin

Pertumbuhan
bakteri
Escherichia
coli

Tanin

Definisi Operasional

No

Variabel

Definisi

Alat ukur

Hasil ukur

Skala

Zona hambat

Zona terang

Penggaris

Diameter

Numerik

pertumbuhan

disekeliling

(mm)

zona

Escherichia

cakram yang

hambat

coli

tidak

(mm)

ditemukan
adanya
pertumbuhan
E.coli

BAB 3
RANCANGAN PENELITIAN

3.1

Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental laboratorik dengan

teknik disc diffusion untuk melihat pengaruh ekstrak bawang dayak (Eleutherine
palmifolia (L.) Merr) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
3.2

Waktu dan Tempat Ekstraksi dan Uji Efektivitas


Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2013 sampai bulan Agustus

2014 di Laboratorium Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif


Hidayatullah Jakarta dan proses ekstraksi bawang dayak (Eleutherine palmifolia
(L.) Merr) dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Jl.
Tentara Pelajar No. 3 BogorJawa Barat 16111 Indonesia.
3.3

Bahan Yang Diuji


Ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dengan pelarut

etanol 96% yang diuji pada biakan bakteri Escherichia coli dengan pengulangan
sebanyak 6 kali.
3.4

Identifikasi Variabel

3.4.1

Variabel Bebas
Ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dengan pelarut

etanol 96% yang dibagi dalam tiga konsentrasi berbeda. Kelompok pertama
dengan konsentrasi 10 mg/ml, kelompok kedua dengan konsentrasi 20 mg/ml,
kelompok ketiga dengan konsentrasi 40 mg/ml, satukontrolnegatif dan satu
kontrol positif berupa antibiotik amoksisilin 25g.

16

17

3.4.2

Variabel terikat
Pertumbuhan bakteri Escherichia coli yang ditanam dalam medium

nutrien agar dan diinkubasi dalam inkubator pada suhu 36-37oC selama 18-24
jam.
3.5

Alat dan Bahan Penelitian

3.5.1

Alat Penelitian
Tabung reaksi, rak tabung, vortex, bunsen, korek, api, ose, spatula besi,
cawan petri, baki, laminar air flow, timbangan, autoclave, tabung
erlenmeyer, stopwatch, inkubator, pinset, tissue, label, alattulis, kamera,
kapas.

3.5.2

Bahan Penelitian
Blank disc, amoxicillin disc, etanol, spirtus, NaCl, aquades steril, ekstrak
bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr), nutrien agar, biakan
Escherichia coli.

3.6

Cara Kerja Penelitian

3.6.1

Tahap Persiapan

3.6.1.1 Sterilisasi Alat dan Bahan


Seluruh alat dan bahan yang akan digunakan disterilisasi di dalam
autoclave selama 30 menit dengan mengatur tekanan sebesar 15 dyne/cm3 (1,5
atm) dan suhu sebesar 121o C setelah sebelumnya dicuci bersih, dikeringkan dan
dibungkus dengan kertas.
3.6.1.2 Pembuatan Stok Bakteri
Pembuatan stok bakteri ini dilakukan untuk memperbanyak dan
meremajakan bakteri Escherichia coli, dengan cara mengambil 1 ose biakan
murni bakteri Escherichia colike dalam nutrien agar, kemudian diinkubasi pada
suhu 36-37oC selama 18-24 jam di dalam inkubator.

18

3.6.1.3 Ekstraksi Bawang Dayak


Sampel bawang dayak diperoleh dari umbi tanaman Eleutherine palmifolia
(L.) Merr yang dijual secara komersil di pasar tradisional Parit besar kota
Pontianak. Bahan bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) kemudian
dikumpulkan dan dibersihkan. Proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan
metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr) di grinder hingga berbentuk bubuk bawang
dayak kemudian dimasukan kedalam erlenmeyer, ditambahkan dengan pelarut
etanol 96% lalu dikocok selama 2-3 jam kemudian bawang dayak direndam dan
ditutup dengan alumunium foil. Proses ekstraksi dilakukan secara maserasi selama
1x24 jam. Kemudian dilakukan penyaringan dan didapatkan filtratnya. Filtrat
yang didapatkan kemudian diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator pada
suhu 500C hingga didapatkan ekstrak kental yang bebas dari pelarut. Ekstrak
bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) yang dihasilkan akan digunakan
untuk pengujian selanjutnya. Pada penelitian ini digunakan 3 kg bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr), setelah mengalami proses ekstraksi didapatkan
ekstrak kental sebanyak 326,8 gram.
3.6.1.4 Pembuatan Stok Variabel Konsentrasi
Stok konsentrasi yang akan divariasikan adalah mulai dari 10 mg/ml, 20
mg/ml, dan 40 mg/ml dengan menggunakan pelarut etanol 96%, serta control
negatif dan kontrol positif (antibiotik amoksisilin 25g). Peneliti menggunakan
konsentrasi ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) tersebut
berdasarkan hasil penelitian sebelumnya bahwa konsentrasi hambat minimum dari
ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) terhadap bakteri
Escherichia coli sebesar 10 mg/ml. Sedangkan untuk konsentrasi 20 mg/ml dan
40 mg/ml peneliti menggunakannya karena belum terdapat penelitian yang
menggunakan jumlah konsentrasi tersebut.

19

3.6.2 Tahap Pengujian


3.6.2.1 Uji Efektivitas Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.)
Merr) Terhadap Bakteri Escherichia coli
Kertas cakram (blank disk) terlebih dahulu direndam dalam ekstrak
bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) selama 10-15 menit. Pembuatan
suspensi bakteri terlebih dahulu yakni dengan mengambil 1 ose bakteri yang telah
diremajakan selama 24 jam dan dimasukkan kedalam larutan NaCl. Kemudian
divortex sampai homogen dan kekeruhannya di standarisasi dengan konsentrasi
0,5 Mc Farland. Suspensi bakteri Escherichia coli dioleskan menggunakan kapas
lidi steril pada media pertumbuhan nutrien agar. Kertas cakram yang telah
direndam dalam ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) tadi
diletakkan di atas permukaan nutrien agar biakan bakteri Escherichia coli secara
higienis di dalam Laminar Air Flow. Lalu media diinkubasi kedalam inkubator
pada suhu 36-37oC selama 18-24 jam, kemudian diukur diameter zona terang
(clear zone) dengan menggunakan penggaris (milimeter).

20

3.8

Alur Penelitian
Determinasi
tanaman

Pengumpulan umbi bawang dayak


(Eleutherine palmifolia (L.) Merr)

Proses ekstraksi dengan cara


maserasi menggunakan etanol
96%
Pembuatan konsentrasi ekstrak
yang ditentukan

Kelompok A
konsentrasi 10
mg/ml

Pembiakan
Bakteri
Escherichia coli
pada nutrien agar

Pembuatan
medium nutrien
agar

Uji Statistik

Kelompok B
konsentrasi20
mg/ml

Kelompok C
konsentrasi40
mg/ml

Perendaman blank disk dalam


ekstrak bawang dayak
(Eleutherine palmifolia(L.) Merr)
Perlekatan blank disk dalam
medium nutrien agar yang
sudah diinokulasi
Inkubasi
Pengukuran zona hambat
Rerata tiap kelompok

Kesimpulan

Gambar 3.1. Alur penelitian

Kontrol
negatif

Kontrol
positif
(amoksisilin)

21

3.9

Pengolahan Data
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan program SPSS (Statistical

Product of Service Solution). Data yang dimiliki berbentuk numeric lebih dari 2
kelompok dan tidak berpasangan sehingga digunakan uji One-way ANOVA,
namun karena data tidak berdistribusi normal dan varians tidak sama maka
analisis data yang digunakan adalah uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan
melakukan analisis Post Hocdengan uji Mann-Whitney, untuk melihat adakah
perbedaan yang bermakna pada masing-masing cakram uji yang mengandung
kontol negatif, kontrol positif, dan konsentrasi ekstrak bawang dayak (Eleutherine
palmifolia (L.) Merr) yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Escherichia coli.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)


Pada penelitian ini digunakan 3 kg bawang dayak (Eleutherine palmifolia

(L.) Merr), setelah mengalami proses ekstraksi didapatkan ekstrak kental dengan
warna kecokelatan sebanyak 326,8 gram.
4.2

Efek Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)

terhadap pertumbuhan Bakteri Escherichia coli


Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode disc diffusion sebanyak
6 kali pengulangan dengan beberapa konsentrasi ekstrak bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr) yaitu 10 mg/ml, 20 mg/ml, dan 40 mg/ml,
ditambah dengan kontrol negatif dan Amoksisilin sebagai kontrol positif.
30

15

Konsentrasi ekstrak
bawang dayak
(Eleutherine
palmifolia (L.) Merr)
(mg/ml)

10

Amoksisilin 25 g

Zona hambat (mm)

25
20

5
0
Kontrol
negatif

10

20

40

Kontrol
positif

Konsentrasi ekstrak bawang dayak (mg/ml)


Gambar 4.1. Diameter rata-rata zona hambat
Pada hasil pengamatan didapatkan berbagai diameter zona hambat yang
terbentuk dari masing-masing konsentrasi yang digunakan. Diameter terbesar
terdapat pada konsentrasi 40 mg/ml dengan median 10 mm, dan diameter zona
22

23

hambat terkecil terdapat pada konsentrasi 10 mg/ml dengan median 8 mm. Bila
melihat klasifikasi respon hambat pertumbuhan bakteri menurut Greenwood maka
konsentrsi ekstrak memiliki respon hambat sedang dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Zona hambat yang terbentuk dari kontrol
positif Amoksisilin 25 g sebesar 23 mm bila melihat klasifikasi CLSI tahun 2013
maka antibiotik amoksisilin bersifat sensitif (susceptible) terhadap bakteri
Escherichia coli, sedangkan pada kontrol negatif sebesar 0 mm hal ini
menandakan

bahwa

aquades

tidak

memiliki

efek

dalam

menghambat

pertumbuhan bakteri Escherchia coli.


Uji normalitas pada penelitian ini menghasilkan nilai p 0,002. Hal ini
menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal begitupula dengan hasil uji
varians sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji One-Way Anova,
maka digunakanlah uji Kruskall-Wallis. Pada uji Kruskal-Wallis didapatkan nilai
p 0,001 dapat diartikan bahwa paling tidak terdapat perbedaan zona hambat antara
dua kolompok.
Kemudian setelah diketahui bahwa terdapat perbedaan bermakna antar
konsentrasi, maka perlu dilakukan analisis Post Hoc melalui uji Mann-Whitney
untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda secara bermakna. Dalam uji
Mann-Whitney konsentrasi ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.)
Merr) dibandingkan dengan kontrol positif yaitu amoksisilin 25 g didapatkan
perbedaan yang bermakna, begitu pula perbandingan kontrol negatif dengan
konsentrasi ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr).

Tabel 4.1. Hasil Analisis Post Hoc dengan Uji Mann-Whitney

Hal ini menandakan bahwa ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia


(L.)Merr) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli namun

24

tidak jauh lebih baik dari pada kontrol positif yaitu amoksisilin 25 g, sehingga
dibutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pemberian ekstrak bawang dayak
berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli namun tidak jauh
lebih baik dari pada efek amoksisilin sebagai kontrol positif. Pada penelitian ini,
digunakan kontrol positif dari golongan antibiotik beta laktam yang memiliki
mekanisme kerja menghambat sintesis dinding sel bakteri.5 Mekanisme tersebut
terjadi dalam beberapa tahapan, pertama antibiotik berikatan dengan reseptor
penisilin atau penicillin binding protein pada bakteri, kedua terganggunya proses
transpeptidase antar rantai peptidoglikan yang menyebabkan terhambatnya
sintesis dinding sel bakteri dan yang terakhir teraktivasinya enzim proteolitik pada
dinding sel.5
Nilai rata-rata zona hambat yang terbentuk dari amoksisilin adalah 23 mm,
merujuk pada klasifikasi CLSI nilai zona hambat lebih dari 18 mm menunjukkan
amoksisilin bersifat susceptible terhadap bakteri Escherichia coli. Nilai rata-rata
seluruh konsentrasi ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)
adalah lebih dari 5 mm, merujuk pada klasifikasi respon hambat pertumbuhan
bakteri menurut Greenwood bila zona hambat yang terbentuk 5-10 mm maka
konsentrsi ekstrak memiliki respon hambat sedang dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
Aktivitas antibakteri yang ditimbulkan dari pemberian ekstrak bawang
dayak dapat dihubungkan dengan kandungan senyawa-senyawa kimia didalam
bawang dayak tersebut. Kandungan utama bawang dayak (Eleutherine palmifolia
(L.) Merr) adalah naphtoquinonens dan turunannya elecanacine, eleutherine,
eleutherol,

eleuthernone.

Naphtoquinones

dikenal

sebagai

antimikroba,

antifungal, antivirial dan antiparasitik. Selain itu, naphtoquinones memiliki


bioaktivitas sebagai antikanker dan antioksidan yang biasanya terdapat di dalam
sel vakuola dalam bentuk glikosida.3,14
Adapun senyawa bioaktif yang terdapat dalam umbi bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr) terdiri dari senyawa alkaloid, steroid, glikosida,
flavonoid, fenolik, saponin, triterpenoid, tanin dan kuinon. Pada flavonoid dapat
berperan sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi mikroorganisme dari

25

bakteri dan virus. Selain itu flavonoid juga disebutkan berperan dalam
pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain seperti asma, katarak,
diabetes, rematik, migren dan wasir sehingga dapat dijelaskan bahwa,tumbuhan
yang mengandung flavonoid dipakai dalam pengobatan tradisional.

15

Menurut

Sabir (2008) senyawa flavonoid dapat menyebabkan kerusakan permeabilitas


pada dinding sel bakteri, didukung dengan penelitian Mirzoeva et al (1997) yang
juga mengatakan bahwa flavonoid mampu menghambat motilitas bakteri.19
Menurut Khanna dan Kannabiran (2008), yang menguji aktivitas
antimikroba dengan fraksi saponin dari daun Gymnema sylvestre dan Eclipta
prostrata dengan metode penghambatan terhadap bakteri P. aeruginosa, E. coli,
S. tiphy, S. aureus dan jamur A. fumigatus dll dengan konsentrasi
600;1000;1200;1400 mg/L, menyatakan bahwa senyawa saponin merupakan
golongan senyawa obat yang memiliki efek antibakteri terhadap Gram negatif.16
Menurut Gunawan et al (2008) melakukan penelitian dengan isolasi dan
identifikasi senyawa terpenoid antibakteri dari herba maniran terhadap bakteri
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus menyatakan bahwa, beberapa hasil
penelitian menunjukkan senyawa terpenoid memiliki aktivitas sebagai antibakteri
yaitu monoterpenoid linalool, diterpenoid (-) hardwicklic acid, phytol, triterpenoid
saponin dan triterpenoid glikosida.17 Alkaloid dan antrakuinon dilaporkan oleh
Rahman (2010) yang meneliti ekstrak etanol buah mengkudu dan waktu
penyimpanan kualitas daging sapi, dinyatakan memiliki khasiat sebagai
antibakteri pada beberapa jenis bakteri, antara lain Escherichia coli, Bacillus
subtilis, Salmonella, Staphylococcus aureus, Pseudomonas, Enterobacter dan
Clostridium.18Alkaloid

memiliki

kemampuan

antibakteri

dengan

cara

mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga


dinding sel bakteri terbentuk tidak utuh dan menyebabkan bakteri lisis. Senyawa
tanin yang juga terkandung dalam bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.)
Merr) juga berfungsi sebagai anti bakteri dengan menghambat enzim reverse
transkriptase dan DNA topoisomerase sehingga sel bakteri tidak dapat terbentuk.19
Rendahnya zona hambat yang terbentuk dari konsentrasi ekstrak bawang
dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) terhadap pertumbuhan bakteri
Escherichia coli dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, dari konsentrasi 10

26

mg/ml dengan rata-rata berdiameter 8,33 mm, lebih kecil dibandingkan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Vriezka Mierza,dkk dengan rata-rata diameter
10,00 mm, mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi keterbatasan
dalam penelitian ini , diantaranya bawang dayak yang digunakan dalam penelitian
ini didapatkan dari pasar tradisional sehingga kualitas bawang dayak tersebut
tidak dapat dipastikan dan akan jauh lebih baik jika digunakan bawang yang
masih segar yang baru dipanen, kemudian usia dari bawang dayak yang baik
untuk digunakanpun belum diketahui. Faktor lainnya yaitu pada proses
pemindahan bakteri dari media biakan yang akan dilarutkan pada NaCl dimana
suspensi bakteri terlalu keruh dibandingkan Mc Farland hal ini menunjukkan
bakteri yang diambil lebih banyak sehingga bakteri yang tumbuh pada agar lebih
padat dan mempengaruhi konsentrasi bawang dayak, dan faktor dari pembuatan
ekstrak bawang dayak juga dapat mempengaruhi hasil dan pemilihan kadar
pelarut yang belum dipastikan dapat mengganggu kandungan dari zat aktif dalam
bawang dayak atau tidak yang kemungkinan dapat mengurangi zat aktif pada
ekstrak bawang dayak yang sebelumnya juga tidak dilakukan pengukuran zat aktif
dalam bawang dayak yang digunakan.

BAB 5
PENUTUP
5.1

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Hasil uji efektivitas ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.)
Merr) dengan pelarut etanol 96% dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Escherichia coli dengan metode disc diffusion.
2. Konsentrasi yang memiliki zona hambat terkecil terdapat pada konsentrasi
ekstrak bawang dayak 10 mg/ml dengan rata-rata zona hambat 8 mm dan
yang terbesar pada konsentrasi 40 mg/ml dengan rata-rata zona hambat 10
mm .Hal ini membuktikan bahwa bawang dayak (Eleutherine palmifolia
(L.) Merr) memiliki peran antibakteri dengan potensi sedang dalam respon
menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dilihat dari klasifikasi
Greenwood (2005).
3. Hasil uji statistik dengan metode uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang bermakna antara kontrol negatif dengan semua
konsentrasi ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dan
kontrol positif dengan semua konsentrasi ekstrak bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr).
5.2

Saran

Bagi peneliti berikutnya :


1. Dapat melakukan penelitian tentang kandungan senyawa aktif bawang
dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) yang spesifik dalam menghambat
pertumbuhan bakteri.
2. Melakukan penelitian lebih lanjut mengenai konsentrasi ekstrak bawang
dayak (Eleutherine palmifolia (L.)Merr) terhadap pertumbuhan bakteri
Escherichia coli dengan menggunakan konsentrasi yang lebih tinggi dari
pada yang digunakan pada penelitian ini.
27

3. Melakukan penelitian efektivitas ekstrak bawang dayak (Eleutherine


palmifolia (L.)Merr) terhadap bakteri Escherichia coli secara in-vivo.
4. Melakukan penelitian kandungan senyawa aktif dalam bawang dayak
(Eleutherine palmifolia (L.)Merr) secara keseluruhan.

28

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian kesehatan RI. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan;


Situasi Diare Di Indonesia. 2011. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

2. WHO Initiative to Estimate the Global Burden of Foodborne Diseases.


www.who.int/foodsafety/consumer/5keys/en

3. Alia mustika nur. Kapasitas antioksidan bawang dayak (eleutherine


palmifolia) dalam bentuk segar, simplisia dan keripik, pada pelarut
nonpolar, semipolar dan polar. Fakultas Teknologi Pertanian Institut
Pertanian Bogor; 2011. p. 3-4

4. AntibacterialAgent.Cahapter10.http://www.chem.msu.su/rus/books/patrick
/part2.pdf.

5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Balai Penerbit FKUI: Jakarta;
2007. 12: 585-7

6. Firdaus, R. Telaah Kandungan Kimia Ekstrak Metanol Umbi Bawang


Tiwai (Eleutherine Americana (l.) Merr.). Skripsi. Institut Teknologi
Bandung. Bandung; 2006

7. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi Kedokteran. 24 ed. Jakarta:
EGC; 2008

8. Smith-Keary P. F. Genetic Elements in Escherichia coli. Macmillan


Molecular biology series. London; 1988. p. 1-9, 49-54

29

30

9. Jawetz E., J. L. Melnick, E. A. Adelberg, G. F. Brooks, J. S. Butel, L. N.


Ornston. Mikrobiologi Kedokteran. 24 ed. University of California, San
Francisco; 2007

10. Saptowalyono, C.A.. Bawang Dayak, Tanaman Obat Kanker Yang


Belum Tergarap, http : // www2. kompas. com/ ver1/ Kesehatan/ 0702/
19/ 170611. htm, Palangkaraya; 2007, 31 Oktober 2008

11. Sampurno. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:


Departemen Kesehatan RI; 2000

12. Departemen Kesehatan RI. Pemanfaatan Tanaman Obat. Volume III. 1989

13. Bonang, G. Koeswandoro, E. S. Mikrobiologi Kedokteran untuk


Laboratorium dan Klinik. Jakarta: PT. Gramedia; 1982

14. Hara H, Maruyama N, Yamashita S, Hayashi Y, Lee KH, Bastow KF,


Chairul, Marumoto R dan Imakura Y.Elecanacin. A novel new
napthoquinon from the bulb of Eleutherine Americana. Chem Pharm Bull;
1997. 45: 1714-1716

15. Yusni, M.H. Perbedaan pengaruh pemberian Fraksi Etanolitik Bawang


Dayak

(Eleutherin

palmifolia)

Dengan

5-Flurouracil

terhadap

pemghambatan pertumbuhan galur sel karsinoma kolon HT 29 dan


ekspresi p53 Mutan. Program pendidikan dokter spesialis ilmu bedah
fakultas kedokteran universitas sebelas maret/RSUD Dr.Moewardi
Surakarta; 2008. p 38-39

16. Khanna, V. G. Kannabiran, K. Antimicrobial Activity of Saponin


Fractions of the Leaves of Gymnea sylvestre and Ecliptaprostrata. World
Journal of Microbiology and Biotechnology. 2008. 24: 2737-2740.

31

17. Gunawan, I.W.G., Bawa, G I G A., dan Sutrisnayanti, N.L. Isolasi dan
Identifikasi Senyawa Terpenoid yang Aktif Antibakteri pada Herba
Meniran (Phyllanthus niruri Linn). 2008. Jurnal Kimia 2 (1): 31-39

18. Rahman, A.S. Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Buah Mengkudu


(Morinda citrifolia Linneus) dan Waktu Penyimpanan Terhadap Kualitas
Daging Sapi. Skripsi, pp xvii. 2010

19. Robinson, T. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, diterjemahkan oleh


Kosasih, P. 6 ed ITB. Bandung; 1995

20. Dyah Nuswantari. Kamus Saku Kedokteran Dorland. 25 ed. Jakarta:EGC;


1998

21. Mirzoeva O.K., Grishanin R.N., Calder P.C. Microbial Res: Antimicrobial
action of propolis and some of its component: the effect on growth,
membrane potential, and motility of bacteria. 1997

22. Vriezka Mierza, dkk. Skrining Fitokimia dan Uji Efek Antibakteri
Eskstrak Etanol Umbi Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia Merr.).
2011

Lampiran 1
Hasil Determinasi Bahan Uji

32

Lampiran 2
Sertifikat Ekstraksi Bawang Dayak

33

Lampiran 3
RIWAYAT PENULIS
Identifikasi
Nama

: Fiqriah Rezeki Amanda

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir

: Pontianak, 25 September 1993

Agama

: Islam

Alamat

: Perum Taman Aster blok F3 no 9 RT 10 RW 07,


Cikarang Barat-Bekasi

e-Mail

: fikieamanda@ymail.com

Riwayat Pendidikan
1998-1999

: TK Cendrawasi, Cikarang Barat

1999-2005

: SDN Telaga Asih 02, Cikarang Barat

2005-2008

: MTs Al-Imaroh, Cikarang Barat

2008-2011

: MA Al-Imaroh, Cikarang Barat

2011-sekarang

: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

34

Lampiran 4
Alat Penelitian

Timbangan (gram)

vortex

autoklav

Laminar air flow

35

36

inkubator

oven

Lampiran 5
Uji Antibakteri

37