Anda di halaman 1dari 16

BAB 1.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan pesisir
tropik, yang memiliki peranan yang sangat penting baik secara ekologis maupun
ekonomis. Secara ekologis, terumbu karang menjadi tempat tinggal, berkembang
biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang hidup di
laut. Diperkirakan lebih dari 3.000 spesies biota laut dapat dijumpai pada
ekosistem terum karang. Terumbu karangjuga berfungsi sebagai pelindung pantai
dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan
arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai
lain seperti padang lamun dan magrove. Secara ekonomis, terumbu karang
merupakan sumber perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai
ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup di terumbu karang, berbagai
jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat
menghasilkan 3 - 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun. Keindahan terumbu
karang sekaligus menjadi sumber devisa bagi negara dalam sektor wisata bahari.
Selain itu terumbu karang sangat memberikan peran yang amat penting
dalam kelestarian kehidupan. Terumbu karang menjadi tempat berlangsungnya
siklus biologi, kimiawai dan fisik secara global dengan produktivitas yang sangat
tinggi. Terumbu karang bermanfaat dalam menyerap karbon dioksida (CO2), dan
kontribusi terumbu tersebut terhadap penyerapan CO2 di seluruh dunia mencapai
43,6 persen.
Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan dan industrialisasi, kondisi
terumbu karang dalam kondisi yang memprihatikan. Aktivitas reklamasi pantai,
penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun potasium sianida,
pembangunan pelabuhan, serta pengambilan batu-batu karang sebagai bahan
kontruksi telah mengakibatkan kerusakan yang parah pada ekosistem terumbu
karang. Saat ini, Indonesia yang memiliki luasan areal terumbu karang 85.707
km2, hanya 6,20 % yang masih dalam kategori sangat baik, 23,72 % kategori baik,
28,30 % kategori sedang dan 41,78 % dalam kategori buruk atau rusak
(Suharsono, 1996).
1

Upaya rehabilitasi sumberdaya karang terutama memulihkan kembali fungsi


dan peran terumbu kerang perlu dilakukan. Salah satu upaya dalam
menanggulangi masalah kerusakan ekosistem terumbu karang dan produksi
perikanannya serta mencari alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap
perusakan sumberdaya perikanan dapat dilakukan dengan teknologi transplantasi
karang (coral transplantation). Transplantasi karang merupakan suatu upaya
pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam di tempat yang
mengalami kerusakan.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan yang ingin capai dalam
penelitian ini, yaitu :
1. Mengetahui laju pertumbuhan karang hasil transplantasi di perairan pesisir
Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan.
2. Mengetahui kelangsungan hidup karang hasil transplantasi di perairan
pesisir Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe
Selatan.
1.3 Luaran
Diharapkan dengan tercapainya tujuan diatas, maka luaran yang akan
dihasilkan penelitian ini yaitu :
1. Data dan informasi terkait kelangsungan hidup, pertumbuhan mutlak dan
laju pertumbuhan karang hasil transplantasi.
2. Publikasi di Jurnal MARFISH IPB Bogor.
1.4 Manfaat
Manfaat dari hasil penelitian ini adalah data dan informasi terkait
pertumbuhan dan kelangsungan hidup karang hasil transplantasi perairan pesisir
Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi Terumbu Karang

Menurut Nybakken (1988) dalam Warmadewa (2001), Terumbu adalah


endapan massive dari kalsium karbonat yang terutama dihasilkan oleh karang
(filum Cnidaria, klas Anthozoa, ordo Sceleractinia) dengan sedikit tambahan dari
alga berkapur dan organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat.
Karang mempunyai bentuk reproduksi baik secara seksual maupun
aseksual. Reproduksi aseksual umumnya dilakukan dengan cara membentuk tunas
yang akan menjadi individu baru pada induk, dan pembentukan tunas yang terusmenerus merupakan mekanisme untuk menambah ukuran koloni, tetapi tidak
untuk koloni baru. Reproduksi seksual menghasilkan larva planula yang berenang
bebas, dan bila larva itu menetap di dasar maka akan berkembang menjadi koloni
baru (Nybakken, 1988).
Reproduksi aseksual umumnya dilakukan dengan cara membentuk tunas
yang menjadi individu baru, dan pembentukan tunas yang terus-menerus
merupakan mekanisme untuk menambah koloni. Polip karang dewasa (karang
batu) membentuk tunas dengan peregangan cakram koral (coral disk) yang
memanjang satu arah. Pembentukan tunas dapat terjadi melalui dua cara yaitu
pertunasan intratentakel dan pertunasan ekstratentakel (Suharsono, 1984) dalam
Warmadewa (2001).

Gambar 1. Anatomi Terumbu Karang (Suharsono, 2004).

2.2. Klasifikasi Karang dan Karakteristik Karang


Menurut Suharsono (2004), taxonomi karang diklasifikasikan sebagai
berikut:
Filum : Coelentarata (Cnidaria)
3

Kelas : Anthozoa
Ordo : Scleractinia
Famili : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora loripes
Acropora granulosa
Famili Acroporidae mempunyai empat genus yaitu Acropora, Montipora,
Anacropora dan Astreopora. Ketiga genus Acropora, Montipora, Anacropora
mempunyai ciri yang hampir sama yaitu koralit kecil, tanpa kolumella, septa
sederhana dan tdak mempunyai struktur tertentu dan koralit dibentuk secara
ekstratentakuler. Genus ke empat Astreopora agak berbeda yaitu ukuran koralit
lebih besar, septa berkembang lebih baik dan kolumella yang lebih sederhana
(Suharsono, 2004).
Genus Acropora mempunyai bentuk percabangan sangat bervariasi dari
korimbosa, aboresen, kapitosa dan lain-lain. Ciri khas dari marga ini adalah
mempunyai axial koralit dan radial koralit. Bentuk radial koralit juga bervariasi
dari bentuk tubular nariform dan tenggelam. Marga ini mempunyai sekitar 133
jenis yang tersebar di seluruh perairan Indonesia (Suharsono, 2004).

(a)
(b)
Gambar 2. (a) Karang Acropora loripes dan (b) Karang Acropora granulosa.

2.3. Ekologi Karang


Menurut

Supriharyono

(2000)

Keanekaragaman,

penyebaran

dan

pertumbuhan terumbu karang sangat berpengaruh pada keadaan lingkungannya.

Beberapa

faktor-faktor

lingkungan

yang

paling

berpengaruh

terhadap

pertumbuhan dan juga kelangsungan hidup karang, diantaranya adalah :


1. Kecerahan
Kebanyakan terumbu karang hidup di perairan yang dangkal dan jernih,
sehingga memungkinkan untuk mendapatkan sinar matahari yang sangat
diperlukan untuk fotosintesis. Tanpa cahaya yang cukup, laju fotosintesis akan
berkurang dan kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat yang
membentuk terumbu akan berkurang pula. Kecerahan yang cocok untuk
kehidupan karang adalah tidak kurang dari 0,5 meter. Nilai kecerahan di Bunaken
tercatat cukup tinggi (>20 meter). Hal tersebut menunjukan bahwa tingkat
sedimentasi relatif rendah pada saat itu. Laju sedimetasi merupakan salah satu
faktor penting yang harus diperhatikan karena dapat menimbulkan gangguan pada
pertumbuhan karang (Naamin, 2001).
2. Suhu
Penyebaran geografis terumbu karang hampir semuanya ditemukan pada
perairan dengan suhu permukaan isotherm 20oC akan tetapi tidak ada terumbu
karang yang berkembang pada suhu minimum tahunan dibawah 18 oC karena
pertumbuhannya akan terhambat bahkan akan menyebabkan kematian, hal ini
disebabkan terumbu karang tidak dapat melakukan proses metabolisme dengan
sempurna dengan suhu yang rendah (Nybakken, 1992).
Terumbu karang yang berada pada suhu di atas 33 oC dapat terkena gejala
pemutihan (Bleaching), hal ini disebabkan karena keluarnya zooxanthella dari
polip karang akibat suhu yang terlalu tinggi yang selanjutnya mengakibatkan
kematian bagi terumbu karang tersebut (Direktorat Konservasi dann Taman
Nasional Laut, 2002). Menurut Nybakken (1992) Perkembangan optimal terumbu
karang pada perairan rata-rata tahunannya adalah 23-25 oC. Suhu maksimum yang
dapat ditoleransi oleh terumbu karang adalah 35-40oC, tetapi menurut
Supriharyono (2000) suhu rata-rata tahunan perkembangan optimal terumbu
karang adalah 25-30oC.
3. Salinitas

Menurut Nybakken (1992) faktor lain yang membatasi perkembangan


terumbu karang adalah salinitas. Karang hermatipik adalah organisme lautan sejati
dan tidak dapat bertahan pada salinitas yang jelas menyimpang dari salinitas air
laut yaitu 32 - 35o/oo. Salinitas optimum yaitu 30 o/oo kisaran inilah yang cocok
untuk kehidupan karang (Sadarun, 1999). Pernyataan ini diperkuat lagi oleh
Nontji (2002) bahwa toleransi untuk kondisi salinitas perairan bagi terumbu
karang berkisar antara 27 40o/oo . Daya tahan terhadap salinitas dari setiap jenis
karang tidak sama. Sebagai contoh Acropora dapat bertahan pada salinitas 40 o/oo
hanya beberapa jam di West Indies, akan tetapi porites dapat bertahan dengan
salinitas sampai mencapai 48o/oo (Kinsman, 1964 dalam Supriharyono, 2000).
4. Pergerakan air (Arus)
Pergerakan air merupakan faktor paling penting dalam menentukan bentuk
dan pertumbuhan dari terumbu karang. Bagian dari terumbu karang yang
terekspose (berhadapan) dengan arus adalah yang pertama masuknya air dan
bersamanya terbawa zat-zat hara, makanan yang bersifat planktonis , rekruitmen
larva, endapan atau polusi (Naamin, 2001). Pergerakan air juga sangat penting
untuk transportasi zat hara, larva dan bahan sedimen. Menurut Tomascik (1991)
dalam Rani (2001), arus penting untuk pencucian limbah dan mempertahankan
pola penggerusan dan penimbunan. Pergerakan air dapat memberikan oksigen
yang cukup, oleh sebab itu pertumbuhan karang lebih baik di daerah yang
mengalami gelombang yang besar daripada daerah yang tenang dan terlindung
(Sukarno, 1983 dalam Rani, 2001). Menurut Naamin (2001), perairan dengan
kecepatan arusnya tidak melebihi 0,5 m/detik dan tinggi gelombangnya tidak
lebih dari 2 meter merupakan keadaan yang ideal bagi pertumbuhan dan
kehidupan karang.

5. Sedimentasi
Sedimentasi adalah kerusakan yang dikarenakan aktivitas manusia secara
tidak langsung. Sumber sedimentasi yang utama ada dua yaitu kegiatan
6

penambangan di laut dan kegiatan yang berasal dari daratan yang dibawa oleh air
hujan ke laut. Kegiatan penambangan yang menyebabkan peningkatan
sedimentasi adalah penambangan karang dan pasir, pembangunan konstruksi
sarana penunjang kegiatan wisata atau kilang minyak dan reklamasi pantai.
Sedimentasi yang dibawa air hujan biasanya terjadi pada daerah yang dekat
dengan perkotaan atau daerah yang sedang berkembang (Kementerian Riset dan
Teknologi RI, 2001).
Pengaruh sedimen terhadap pertumbuhan binatang karang dapat terjadi
secara langsung maupun tidak langsung. Sedimen dapat langsung mematikan
binatang karang yaitu apabila sedimen tersebut ukurannya cukup besar atau
banyak sehingga menutupi polip (mulut) karang. Pengaruh tidak langsung adalah
berkurangnya penetrasi cahaya matahari yang penting untuk fotosintesis dan
banyak energi yang dikeluarkan oleh binatang karang untuk menghalau sedimen
tersebut yang berakibat turunnya laju pertumbuhan karang (Lilli dan Parsons,
2002 dalam Putra, 2006).
2.4. Transplantasi Karang
Kerusakan ekosistem terumbu karang terjadi karena eksploitasi besarbesaran tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal ini terdorong oleh
tingginya permintaan pasar terhadap ikan karang dan batu karang, yang harganya
sangat menggiurkan. Upaya unuk mengatasi masalah tersebut dilakukan dengan
beberapa cara salah satunya antara lain, mengembangkan teknologi transplantasi
karang (Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, 2001).
Menurut Harriot dan Fisk (1988) dalam Subhan (2003), transplantasi
karang adalah suatu metoda penanaman dan penumbuhan suatu koloni karang
dengan fragmentasi dimana koloni tersebut diambil dari suatu induk koloni karang
tertentu sedangkan definisi lain transplantasi adalah kegiatan memelihara dan
menumbuhkan stek atau potongan karang dalam suatu habitat buatan atau
lingkungan yang terkontrol sehingga diperoleh hasil produksi optimum
berkelanjutan (Chaidir, 2004). Namun menurut Sudarma(2002), transplantasi
karang merupakan kegiatan pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk
ditanam di tempat lain atau di tempat yang karangnya telah mengalami
7

kerusakan,

bertujuan untuk pemulihan atau pembentukan karang alami.

Transplantasi karang berperan dalam mempercepat regenerasi terumbu karang


yang telah rusak dan dapat pula dipakai untuk membangun daerah terumbu
karang baru yang sebelumnya tidak ada.
2.5. Penelitian Transplantasi Karang di Indonesia
Penelitian tentang transplantasi karang yang dilakukan oleh Sadarun
(1999) menggunakan substrat keramik yang diikatkan pada jaring kemudian
diletakkan di dasar perairan dengan menggunakan patok bambu. Penelitian yang
dilakukan selama 5 bulan ini mengamati tentang tingkat ketahanan hidup,
pertambahan panjang, pertambahan tunas dan perambatan ke substrat pada 11
spesies karang dari genus Acropora. Spesies karang diamati adalah Acropora
tenuis, A. austera, A. formosa, A. hyacinthus, A. divaricata, A. nasuta, A. yongei,
A. aspera, A. digitifera, A. valida dan A. galuca.
Selama lima bulan penelitian didapatkan bahwa tingkat ketahanan hidup
karang ditransplantasikan hampir seluruhnya 100%, kecuali spesies A. tenuis dan
A. austrea sebesar 83,33%. Pertambahan panjang terbesar dicapai oleh Acropora
yongei sebesar 4,89 cm dan yang terkecil adalah A. glauca sebesar 2,01 cm
(Sadarun, 1999).
Perambatan tercepat pada substrat bambu dicapai oleh jenis Acropora
hyacinthus dengan rata-rata 1,672 cm dan terlamban pada Acropora aspera
dengan nilai 0,520 cm. Perambatan pada substrat keramik dicapai oleh Acropora
austrea sebesar 1,696 cm dan terlamban Acropora digitifera sebesar 0,54 cm.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Yarmanti (2001), melakukan penelitian
terhadap dua spesies karang yaitu Acropora nobilis dan Acropora formosa.
Parameter yang diamati yaitu tingkat kelangsungan, laju pertumbuhan dan
pertambahan tunas. Perlakuan yang diberikan pada kedua spesies tersebut adalah
perbedaan kedalaman penanaman yaitu 3 meter dan 10 meter.

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini direncakan akan dilaksanakan selama 3 bulan di perairan
pesisir Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe
Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada
Gambar 1.

Gambar 3. Lokasi Penelitian Transplantasi Karang Desa Tanjung Tiram.

10

3.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain sebagai
berikut :
Tabel 1. Alat dan Bahan
No.
Alat/Bahan
Alat
1

Juml
ah

Alat SCUBA

3Unit

3
4

GPS
Tang

1 Unit
2Paket

2 Paket

6
7

Papan tulis bawah air


(sabak) dan pensil 2B
Jangka sorong
Kapal motor

Kamera Underwater

1 Unit

Alat Ukur Parameter


Fisika dan Kimia

1 Paket

Bahan
1
Media Transplantasi

Spesimen karang

Pipa paralon

2 Unit
1 Unit

Fungsi

Untuk melakukan penyelaman pada saat


penempatan rak dan karang transplantasi
serta mengukur pertumbuhan karang
Menentukan titik koordinat sampling
Memotong karang yang akan
ditransplantasi
Mencatat hasil pengukuran pertumbuhan
karang
Mengukur pertumbuhan karang
sarana transportasi menuju stasiun
kegiatan transplantasi
Alat dokumentasi dan pengumpulan data
hasil survei
Untuk mengukur data paramaeter fisika dan
kimia perairan

10
Penempatan fragmen karang yang terdiri
Paket dari substrat donat dan pipa paralon dan
kabel ties
10
Sebagai media dan bahan rak transplantasi
Paket
10
Sebagai media rak yang terdiri dari pipa
Paket paralon 1 inci, sambungan T dan L

11

3.3 Metode Pengumpulan Data


1. Transplantasikarang
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan pada penelitian ini. Secara
umum tahapan kegiatan penelitian dapat dilihat pada skema yang disajikan
pada Gambar di bawah ini.
Persiapan

Pengambilan sample
karang lunakdialam

Fragmentasi

Pengikatan fragmen pada


substrat

Pengamatan tingkat kelangsungan


hidup dan pertumbuhan karang
Gambar 4. Kerangka umum kegiatan penelitian.
3.4 Metode Analisis
Analisis data pertumbuhan tinggi karang diukur dengan menggunakan
jangka sorong dan kemudian data tersebut diolah dengan menggunakan perangkat
lunak Microsoft Excel 2007.
Untuk

menghitung

pertumbuhan

mutlak

fragmen

karang

yang

ditransplantasikan dilakukan dengan menggunakan rumus yang mengacu pada


Sadarun (1999) sebagai berikut:

12

L = Lt L0
Keterangan :
L = Pertumbuhanmutlaktinggikarang (mm)
Lt = Rata-rata tinggifragmenkarangsetelahbulanke-t (mm)
L0 = Rata-rata tinggifragmenkarangpadabulan ke-0 (mm)
Untuk laju pertumbuhan tinggi karang yang ditransplantasikan, rumus
yang digunakan adalah sebagai berikut (Effendie, 1979 dalam Syarifuddin, 2010):
P =

LtL0
t

Keterangan:
P = Capaianpertumbuhankarang (cm per minggu)
Lt = Rata-rata panjangatautinggifragmenpadaakhirpenelitian (cm)
L0 = Rata-rata panjangatautinggifragmenpadaawalpenelitian (cm)
t = Waktupengamatan (minggu)
Untuk tingkat kelangsungan hidup pada karang yang ditransplantasi
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Sadarun, 1999):
SR =

Nt
N0

x 100%

Keterangan :
SR = Tingkat kelangsungan hidup karang yang ditransplantasi (Survival Rate)
(%)
Nt = Jumlah individu yang hidup pada akhir penelitian (koloni)
N0 = Jumlah individu yang hidup pada awal penelitian (koloni)
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1. Anggaran Biaya
Jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah Rp.
5.000.000,- (Lima Juta Ripuah) dengan rekapitulasi anggaran sebagai berikut
(Tabel 2).
Tabel 2. Rekapitulasi Anggaran
No.

Jenis Pengeluaran

1.
2.
3.

Peralatan Penunjang dan Bahan Habis Pakai


Perjalanan
Lain-lain
Jumlah

Biaya yang Diusulkan


(Rp)
3.500.000
1.000.000
500.000
5.000.000

4.2. Jadwal Penelitian


13

Tahapan pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.


No

Kegiatan
Bulan 1

1
2
3
4
5

Bulan
Bulan II

Bulan III

Persiapan
Pengumpulan Data
Analisis Data
Penulisan Laporan
Publikasi Ilmiah
DAFTAR PUSTAKA

Bappeda, 2014. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil


(RZWP3K) Kabupaten Konawe Selatan. Dokumen Final. Pemerintah
Kabupaten Konawe Selatan Kerjasama Imacs Usaid Indonesia.
Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, 2006. Pedoman Pelaksanaan
Transplantasi Karang. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Dodge R.E and A.J. Vainys. 1977. Coral Population and Growth Pattern:
Responses to Sedimentation and Turbidity Associated With Dreging.
Effendi, F.W., Aunurohim. 2013. Densitas Zooxanthellae dan Pertumbuhan
Karang Acropora formosa dan Acropora nobilis di Perairan Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU) Baiton, Probolinggo, Jawa Timur. Institut
Teknologi Sepuluh November (ITS). 7 Hal.
English, S., C. Wilkinson, V. Baker. 1994. Survey Manual For Tropical Marine
Resources. Australia Marine Science Project Living Coastal Resources.
Australia.
Hariot, V. J., D.A. Fisk. 1988. Coaral Transplantation as a Reef Management
Option Procedings of the 6th International Coral Reef Symposium.
Australia. 2: 375-379
Johan, O. 2000.Tingkat Keberhasilan Transplantasi Karang Batu di Pulau Pari
Kepulauan seribu Jakarta. Tesisi. Program Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Naamin, N. 2001. Oseanology (Parameter fisik, Kimia dan Biologi) Dari
Terumbu Karang. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
Nybakken, j. W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:
Gramedia
1992. Biologi Laut (Terjemahan oleh Dr. Ir. Dietrich G. Bengen
DEA,Dr. Ir. Koesobiono, Prof, Rd. Ir. Eidman, DEA) PT Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
14

Pariwono, J. I., B. Wiyono, dan D. Soedharma. 1996. Sirkulasi Massa-air di


Laguna Pulau Pari dan Hubungannya Dengan Pertumbuhan Komunitas
Terumbu Karang. Laporan Penlitian. Fakultas Perikanan Institut
Pertanian Bogor.
Rani, C. 2001. Pemutihan Karang: Pengaruhnya Terhadap Komunitas
TerumbuKarang. Jurnal Hayati. 8: 86-90.
Sadarun, B. 1999. Transplantasi Karang Batu (Stony Coral) di Kepulauan Seribu
Teluk Jakarta. Tesis. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Suharsono, 1984. Pertumbuhan Karang. Oseana. Pusat Penelitian Biologi Laut.
LON-LIPI. 9(2): 41-48.
2004. Distribution of Coral reefs in Indonesia.InStatus fo Coral Reefs
in East Asian Seas Region. Global Coral Reef MonitoringNetwork
(GCRMN): 3342 p.
Supriharyono, 2000. Pelestarian dan Pengeloaan Sumberdaya Alam di Wiayah
Pesisir. Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 246 Hal.
Syarifuddin, A.A. 2010. Studi Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Karang
Acroporaformosa. Skripsi. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Smith, M. G. S., and R. F. G. Ormond. 1992. Sediment-rejection Mechanism of 42
Species of Australian Scleractinian Corals. Australia Journal of Marine
and Frashwater Research. 43(4) : 683-705
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian
1. Peralatan Penunjang
Material
Justifikasi Pemakaian

Kamera Digital
GPS

Dokumentasi Kegiatan
Penentuan koordinat
lokasi transplantasi

2. Bahan Habis Pakai


Material
Justifikasi Pemakaian

Pipa Paralon

Rak Transplantasi

Kuantitas

1
1

Unit
Unit

Harga
Peralatan
Penunjang
(Rp)

250,000
250,000

250,000
250,000

SUB TOTAL (Rp)

500,000

Kuantitas

80

Harga
Satuan
(Rp)

Buah

Harga
Satuan
(Rp)
25,000

Harga
Peralatan
Penunjang
(Rp)
2,000,000
15

Tali Ties
Semen
Pipa T dan L
Lem pipa

Mengikat substrat
karang
Membuat substrat
karang
Menyambung pipa
paralon
Penguat sambungan
pipa

3. Perjalanan
Material

Justifikasi Pemakaian

Rental Mobil

Mobilisasi Tim Peneliti

10

bungkus

15,500

155,000

Sak

60,000

120,000

120

Buah

5,000

600,000

Paket

25,000

125,000

SUB TOTAL (Rp)

3,000,000

Kuantitas

kali

Harga
Satuan
(Rp)
250,000

SUB TOTAL (Rp)

4. Lain-Lain
Kegiatan

Konsumsi
Publikasi
Jurnal
Cetak Laporan

Justifikasi

Kuantitas

Lunsum tim

10

paket

Biaya Administrasi
Perbanyakan Laporan
Penelitian

1
1

paket
Paket

Harga
Satuan
(Rp)
20,00
0
250,00
0
50,000

Harga
Peralatan
Penunjang
(Rp)
1,000,000
1,000,00
0

Harga
Peralatan
Penunjang
(Rp)
200,000
250,000
50,000

SUB TOTAL (Rp)

500,000

TOTAL ANGGARAN YANG DIPERLUKAN

5,000,00
0

16