Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

PERCOBAAN X
PENENTUAN KADAR AIR DENGAN
MENGGUNAKAN METODE DEAN STARK

OLEH
NAMA: WA ODE RUSFIANTI MASTUTI R.
STAMBUK: F1C1 1428
KELOMPOK: VII (TUJUH)
ASISTEN: ALMAUN

LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu kimia merupakan ilmu yang secara luas mempelajari suatu bahan dan
senyawa, di antara banyaknya hal yang dipelajari dalam ilmu kimia tersebut kita
mengenal bagiannya yang disebut kimia organik. Cabang kimia organik
mempelajari senyawa organik yaitu suatu senyawa yang mengandung unsur
karbon, hidrogen, oksiden dan nitrogen. Senyawa organik adalah senyawasenyawa yang dibentuk unsur karbon yang memiliki sifat-sifat fisika dan sifat
kimia yang khas. Senyawa organik harus dipisah pembahasannnya dari senyawa
unsur lainnya semata-mata karena jumlah alasannya yang demikian besar. Dalam
senyawa organic terdapat beberapa pelarut yang bias melarutkan suatu senyawa
(polar) maupun tidak dapat melarutkan (non polar).
Melarut tidaknya suatu zat dalam suatu sistem tertentu dan besarnya
kelarutan, sebagian besar tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada
pada zat terlarut-pelarut dan resultan interaksi zat terlarut-pelarut. Kelarutan suatu
senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, selain itu
dipengaruhi pula oleh faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah
yang lebih kecil bergantung pada terbaginya zat terlarut. Kelarutan suatu zat juga
bergantung pada struktur molekulnya seperti perbandingan gugus polar dan gugus
non polar dari molekul. Semakin panjang rantai non polar dari alkohol alifatis,
semakin kecil kelarutannya dalam air. Kelarutan zat terlarut dalam pelarut juga
dipengaruhi oleh polaritas atau momen dipol pelarut. Pelarut-pelarut polar dapat
melarutkan senyawa-senyawa ionik serta senyawa-senyawa polar lainnya.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukanlah percobaan mengenai sifatsifat kelarutan senyawa organik.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang ada pada percobaan tentang sifat-sifat kelarutan
senyawa organik adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana mempelajari sifat-sifat kelarutan senyawa-senyawa organik ?
2.Bagaimana membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap
beberapa pelarut ?
C. Tujuan Percobaan
Tujuan yang akan dicapai dari percobaantentang sifat-sifat kelarutan
senyawa organik adalahsebagai berikut :
1. Untuk mempelajari sifat-sifat kelarutan senyawa-senyawa organik.
2. Untuk membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa
pelarut.
D. Manfaat Percobaan
Manfaat yang dapat diperolehdari percobaantentang sifat-sifat kelarutan
senyawa organik adalah sebagai berikut :
1. Agar dapat mengetahui sifat-sifat kelarutan senyawa-senyawa organik.
2. Agar dapat mengetahui tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa
pelarut.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Zat organik adalah zat yang banyak mengandung unsure karbon. Contohnya
antara

lain

Benzen,

Chloroform,

Detergen,

Methoxychlor,

dan

Pentachlorophenol. Dengan adanya kandungan zat organik di dalam air berarti air
tersebut sudah tercemar, terkontaminasi rembesan dari limbah dan tidak aman
sebagai sumber air minum. Itulah sebabnya banyak masyarakat yang
mengkonsumsi air isi ulang sebagai air minum karena bersumber dari pegunungan
dan harganya relatif lebih murah, mudah didapat, meskipun tidak semua kualitas
airnya sudah memenuhi standar departemen kesehatan (Hidayati dan Yusrin,
2010).
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya
mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi
mengenai senyawa organik disebut kimia organik. Di antara beberapa golongan
senyawa organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus
fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawa yang mengandung paling tidak satu
cincin benzen; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom non karbon dalam
struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Pembeda
antara kimia organik dan anorganik adalah ada atau tidaknya ikatan karbon
hydrogen (Cahyono dan Tuhu 2012).
Kelarutan sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu dari
momen dipolnya. Namun Hildebrand membuktikan bahwa pertimbangan tentang
dipol momen saja tidak cukup untuk menerangkan kelarutan zat polar dalam air.
Kemampuan zat terlarut membentuk ikatan hidrogen lebih merupakan faktor yang
jauh lebih berpengaruh dibandingkan dengan polaritas. Air melarutkan fenol,

alkohol, aldehida, keton dan senyawa lain yang mengandung oksigen dan nitrogen
yang dapat membentuk ikatan hidrogen dalam air. Pelarut non polar tidak dapat
mengurangi gaya tarik-menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah, karena
tetapan dielektrik pelarut yang rendah. Pelarut juga tidak dapat memecahkan
ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut non polar
termasuk dalam golongan pelarut aprotik (Martin, 1993).
Molekul air merupakan molekul yang bersifat polar dan antar molekulnya
terjadi interaksi berupa ikatan hidrogen yang sangat kuat. Molekul-molekulnya
akan saling tarik menarik dengan adanya ikatan hidrogen yaitu antar atom
hidrogen dari satu ikatan O-H dan atom oksigen dari molekul air yang lainnya.
Hal ini akan menyebabkan struktur permukaan air menjadi kaku yang ditunjukkan
oleh besarnya tegangan permukaan air. Besarnya tegangan permukaan cairan
tergantung dari kekuatan gaya tarik antara molekul-molekulnya (Tang dan
Veinardi, 2011).
Proses penarikan bahan (ekstraksi) terjadi dengan mengalirnya pelarut ke
dalam sel bahan yang menyebabkan protoplasma membengkak, dan kandungan
sel dalam bahan akan terlarut sesuai dengan kelarutannya. Daya melarutkan yang
tinggi berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran bahan yang
diekstraksi. Karotenoid bersifat non polar dan hanya larut dalam pelarut nonpolar
(Mappiratu, 1990). Heksana merupakan pelarut nonpolar yang efektif sebagai
pelarut lemak dan minyak sehingga cocok untuk melarutkan karotenoid
(Purnamasari, 2013).
III.
A. Waktu Dan Tempat

METODOLOGI PRAKTIKUM

Praktikum sifat-sifat kelarutan senyawa organik dilaksanakan pada hari


Senin, tanggal 30 November 2015 Pukul 07.30 09.55 WITA dan bertempat di
Laboratorium Kimia Organik, Jurusan kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak
tabung, spatula dan pipet tetes.
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah metanol
(CH3OH), toluena, akuades (H2O), asam klorida (HCl) 0,5 M, asam sulfat (H2SO4)
97 %, asam asetat (CH3COOH), glukosa (C6H12O6), asam nitrat (HNO3) 30 %, etil
asetat, kanji, minyak tanah, garam, n-pentana, 2-propanol, n-butanol.

C. Prosedur Kerja
1. Kelarutan dalam air
Air

- dipipet sebanyak 3 mL
- dimasukkan kedalam 15 tabung reaksi
- ditambahkan 1 mL metanol, toluena, air, asam klorida 0,5 M,
asam sulfat 97 %, asam asetat, glukosa, asam nitrat 30 %, etil
asetat, kanji, minyak tanah, garam, n-pentana, 2-propanol dan
n-butanol kedalam masing-masing tabung reaksi
- dikocok kuat-kuat
- diamati kelarutannya

Larut

: kanji, H2SO4 97 %, HNO3 30 %, asam asetat 1 M, n-pentana, 2propanol, HCl 0,5 M, H2O, metanol, glukosa dan garam
Tidak larut : minyak tanah, etil asetat, toluena dan n-butanol

2. Kelarutan dalam n-pentana

n-pentana
- dipipet sebanyak 3 mL
- dimasukkan kedalam 15 tabung reaksi
- ditambahkan 1 mL metanol, toluena, asam klorida 0,5 M, asam
sulfat 97 %, asam asetat, glukosa, asam nitrat 30 %, etil asetat,
kanji, minyak tanah, garam, n-pentana, 2-propanol dan
nbutanol kedalam masing-masing tabung reaksi
- dikocok kuat-kuat
- diamati kelarutannya

Larut

: minyak tanah, etil asetat, n-pentana, 2-propanol, toluena,


n-butanol dan glukosa
Tidak larut : kanji, H2SO4 97 %, HNO3 30 %, asam asetat 1 M, HCl 0,5
M, air, metanol dan garam
3. Kelarutan dalam n-butanol
n-butanol
- dipipet sebanyak 3 mL
- dimasukkan kedalam 15 tabung reaksi
- ditambahkan 1 mL metanol, toluena, asam klorida 0,5 M,
asam sulfat 97 %, asam asetat, glukosa, asam nitrat 30 %,
etil asetat, kanji, minyak tanah, garam, n-pentana, 2-propanol
dan n-butanol kedalam masing-masing tabung reaksi
- dikocok kuat-kuat
- diamati kelarutannya

Larut
: kanji, etil asetat, , n-pentana, 2-propanol, toluena dan n-butanol
Tidak larut : minyak tanah, H2SO4 97 %, HNO3 30 %, asam asetat 1 M, HCl,
0,5 M, H2O, metanol, glukosa dan garam

IV.
A. Hasil Pengamatan
1. Data Pengamatan

HASIL DAN PEMBAHASAN

No
.

Kelarutan dalam :
Senyawa

1
2
3
4
5
6

Kanji
Minyak tanah
H2SO4 97 %
HNO3 30 %
Etil asetat
Asam asetat 1

M
7 n-pentana
8 2-propanol
9 HCl 0,5 M
10 H2O
11 Metanol
12 Toluena
13 n-butanol
14 Glukosa
15 Garam (NaCl)
Keterangan :
Tanda (

) bereaksi

Tanda (X) tidak bereaksi


Tanda (-) tidak dilakukan

H2O

n-pentana

n-butanol

X
X

X
X
X

X
X

X
X
X

X
X
X

X
X

2. Reaksi
a. Kelarutan dengan H2O (air)

H2O + C6H10O5
Larut
H2O + C12H26
Tidak larut
H2O + H2SO4
Larut
H2O + HNO3
Larut
H2O + C2H5-COOH
Tidak larut
H2O + CH3COOH
Larut
H2O + C5H10
Larut
H2O + C3H8O
Larut
H2O + HCl
Larut
H2O + H2O
Larut
H2O + CH3OH
Larut
H2O + C7H8
Tidak larut
H2O + C4H9OH
Tidak larut
H2O + C6H12O6
Larut
H2O + NaCl
Larut

b. Reaksi terhadap n-pentana

C5H10 + C6H10O5
Tidak larut
C5H10 + C12H26
larut
C5H10 + H2SO4
Tidak larut
C5H10 + HNO3
Tidak larut
C5H10 + C2H5-COOH Larut
C5H10 + CH3COOH Tidak larut
C5H10 + C5H10
Larut
C5H10 + C3H8O
Larut
C5H10 + HCl
Tidak larut
C5H10 + H2O
Tidak larut
C5H10 + CH3OH
Tidak larut
C5H10+ C7H8
Larut
C5H10 + C4H9OH
Larut
C5H10 + C6H12O6
Larut
C5H10 + NaCl
Tidak larut

c. Reaksi terhadap n-butanol

C4H9OH + C6H10O5
C4H9OH + C12H26
C4H9OH + H2SO4
C4H9OH + HNO3
C4H9OH + C2H5-COOH
C4H9OH + CH3COOH
C4H9OH + C5H10
C4H9OH + C3H8O
C4H9OH + HCl
C4H9OH + H2O
C4H9OH + CH3OH
C4H9OH + C7H8
C4H9OH + C4H9OH
C4H9OH + C6H12O6

Larut
Tidak larut
Tidak larut
Tidak larut
Larut
Tidak larut
Larut
Larut
Tidak larut
Tidak larut
Tidak larut
Larut
Larut
Tidak larut

C4H9OH + NaCl

Tidak larut

B. Pembahasan
Senyawa organik banyak digunakan dalam bentuk larutan, yaitu campuran
pelarut dan terlarut. Namun, tidak semua senyawa organik dapat larut dalam 1
jenis pelarut yang sama, ada beberapa sifat kelarutan yang berbeda pada setiap
senyawa organik. Kelarutan merupakan kemampuan suatu zat untuk dapat
bercampur secara sempurna dengan suatu pelarut tertentu. Secara umum,
dikatakan larutan apabila zat terlarut dan perlarutnya berada dalam fase yang
sama, sehingga sifat-sifatnya sama diseluruh cairan. Campuran ini disebut juga
campuran homogen. Tetapi suatu pelarut tertentu dicampur kemudian membentuk
2 lapisan, maka campuran merupakan campuran dua fase atau biasa disebut
dengan campuran heterogen. Senyawa polar adalah senyawa yang terbentuk
akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur unsurnya. Hal ini terjadi
karena unsur yang berkaitan tersebut mempunyai nilai keelektronegatifitas yang

berbeda. Salah satu ciri pelarut polar yaitu dapat larut dalam air dan pelarut lain.
Senyawa non polar adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan
antar elektron pada unsur-unsur yan membentuknya. Hal ini terjadi karena unsur
yang berkaitan mempunyai nilai elektronegatifitas yang sama/hampir sama. Salah
satu ciri pelarut non polar yaitu dapat larut dalam air dan pelarut lain.
Prinsip yang digunakan pada praktikum ini adalah prinsip Like dissolve
like. Sebuah prinsip kelarutan di mana, suatu zat hanya akan larut pada pelarut
yang sesuai. Dengan kata lain, zat yang bersifat polar akan larut pada pelarut polar
dan suatu zat non polar pun akan larut pada pelarut yang non polar. Di dalam
prinsip ini suatu zat sangat larut dalam suatu pelarut apabila mempunyai struktur
yang sangat mirip misalnya alkohol larut dalam air, kemudian suatu senyawa yang
memiliki rantai cabang lebih mudah larut dalam pelarut dari pada yang
mempunyai rantai isomernya.
Percobaan yang kami lakukan tentang tingkat kelarutan suatu senyawa
organik yang mana pelarutnya adalah pelarut polar yaitu H2O dan pelarut non
polar yaitu n-pentana dan n-butanol. Secara umum pada pelarut polar terjadi
perbedaan keelektronegatifan atom-atom yang menyusun molekul pelarut
tersebut, sehingga berdasarkan hal tersebut maka atom-atom penyusun senyawa
tersebut akan memiliki tingkat energi yang berbeda dalam menarik pasangan
elektron yang digunakan secara bersama menuju arahnya masing-masing.
Uji kelarutan yang pertama adalah dengan pelarut akuades (H2O). Seperti
kita ketahui bahwa H2O adalah senyawa organik yang bersifat polar. Sesuai
dangan hukum like dissolved like yang menyatakam bahwa senyawa larut dalam

pelarut yang sifatnya sama yaitu polar dan memiliki struktur yang mirip yaitu
mengandung gugus hidroksil. Pada percobaan ini yang larut dalam akuades adalah
kanji, H2SO4 97 %, HNO3 30 %, asam asetat 1 M, n-pentana, 2-propanol, HCl 0,5
M, H2O, metanol, glukosa dan garam dan yang tidak larut adalah minyak tanah,
etil asetat, toluena dan n-butanol. Karena kanji adalah pelarut semi polar jadi bias
larut dalam senyawa polar maupun non polar.
Uji kelarutan yang kedua adalah adalah dengan pelarut n-pentan. Pelarut
n-pentan merupakan senyawa non polar, sehingga pelarut

ini hanya dapat

melarutkan senyawa non polar juga. Senyawa-senyawa yang dimaksud minyak


tanah, etil asetat, n-pentana, 2-propanol, toluena, n-butanol dan glukosa.
Sedangkan senyawa yang tidak dapat larut dalam pelarut n-pentan adalah kanji,
H2SO4 97 %, HNO3 30 %, asam asetat 1 M, HCl 0,5 M, air, metanol dan garam.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan gugus alkil yang dimiliki oleh senyawasenyawa tersebut.
Uji kelarutan yang terakhir dengan menggunakan pelarut n-butanol.
Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa kanji, etil asetat, n-pentana, 2propanol, toluena dan n-butanol adalah senyawa non polar karena mampu larut
dalam pelarut n-butanol yang juga termasuk pelarut non polar. Sementara itu,
minyak tanah, H2SO4 97 %, HNO3 30 %, asam asetat 1 M, HCl, 0,5 M, H 2O,
metanol, glukosa dan garam tidak mampu larut dalam asam sulfat karena
senyawa-senyawa ini adalah termasuk senyawa non polar. Namun pada perlakuan
ini minyak tanah yang juga pelarut non polar tidak larut dalam pelarut non polar.
Hal ini menunjukan ketidak sesuaian dengan prinsip kelarutan yang diramalkan

berdasarkan hukum like dissolved like yang mengatakan bahwa senyawa yang
memiliki struktur yang hampir mirip akan mudah larut sehingga terbukti bahwa
sesama senyawa polar akan larut dalam pelarut polar pula.

V. KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dan data hasil pengamatan maka dapat diambil
beberapa kesimpulan yaitu :
1. Sifat-sifat kelarutan senyawa organik sangat dipengaruhi oleh struktur molekul
dan ikatan dalam molekulnya.
2. Senyawa organik polar larut dalam pelarut polar seperti air, H2SO4 dan HCl
sedangkan senyawa nonpolar larut dalam pelarut nonpolar seperti n-heksana
dan minyak tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, A., dan Agung, T., 2012, Pemanfaatan Fly ash Batubara Sebagai
Adsorben dalam Penyisihan COD dari Limbah Cair Domestik Rumah
Sususn Wonorejo Surabaya. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan.4 (1).
Hidayanti A.M., dan Yusrin.,2010, Pengaruh Lama Waktu Simpan Pada Suhu
Ruang (27-29OC) Terhadap Kadar Zat Organik Pada Air Minum Isi Ulang,
Prosiding Seminar Nasional Unismu, ISBN 978.979704.883.9

Martin, A., 1993,Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik Dalam IlmuFarmasetik.


Edisi Ketiga 1, Jakarta: UI press.

Purnamasari, N., Andriani, M.A.M. dan Kawiji 2013. Pengaruh Jenis Pelarut dan
Variasi Suhu Pengering Sprai Dryer Terhadap Kadar Karotenoid Kapang
Oncom Merah (Neurospora sp.). Jurnal Tekno Sains Pangan. 2(1).
Tang, M. dan Veinardi S., 2011. Pengaruh Penambahan Pelarut Organik Terhadap
Tegangan Permukaan Larutan Sabun. Prosiding Simposium Nasional
Inovasi Pembelajaran dan Sains. ISBN 208.741204.667.8