Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan, penilaian merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari proses belajar mengajar. Sistem penilaian yang baik akan
mendorong guru menggunakan strategi mengajar yang lebih baik dan memotivasi
anak untuk belajar lebih giat. Penilaian biasanya dimulai dengan kegiatan
pengukuran. Pengukuran (measurement) merupakan cabang ilmu statistika terapan
yang bertujuan untuk membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik
sehingga menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal, valid, dan reliabel.
Proses belajar mengajar dilaksanakan tidak hanya untuk kesenangan atau bersifat
mekanis saja tetapi mempunyai misi atau tujuan bersama. Dalam usaha untuk
mencapai misi dan tujuan itu perlu diketahui apakah usaha yang dilakukan sudah
sesuai dengan tujuan? Untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai
perlu diadakan tes. Sebuah tes yang dapat baik sebagai alat pengukur harus
dianalisis terlebih dahulu. Dalam menganalisis butir soal dalam tes harus
memperhatikan daya serap, tingkat kesukaran, daya beda, fungsi pengecoh,
validitas dan reabilitas. Hal tersebut dilakukan agar tes yang diberikan kepada
siswa sesuai dengan daya serap siswa, tingkat kesukarannya, dan soal yang
diberikan pun harus valid. Sehingga, tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
a) Apakah yang dimaksud dengan analisis butir soal secara kualitatif dan
kuantitatif?
b) Bagaimana cara mengaplikasikan analisis butir soal secara kualitatif dan
kuantitatif?
c) Apa manfaat dari menganalisis butir soal?

C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini, yaitu:
a) Mendeskripsikan pengertian analisis butir soal secara kualitatif dan
kuantitatif.
b) Mengaplikasikan analisis butir soal secara kualitatif dan kuantitatif.
c) Mengetahui manfaat dari menganalisis butir soal.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan
berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan
ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan. Aspek yang diperhatikan
di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi
materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya.
Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu mempersiapkan
bahan-bahan penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes, (2) kurikulum yang digunakan,
(3) buku sumber, dan (4) kamus bahasa Indonesia.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal
secara kualitatif, diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel. Teknik
moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang
sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara
bersama-sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli
materi, penyusun atau pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa, berlatar
belakang psikologi.
Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama
berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilakan
mengomentari berdasarkan kompetensinya masing-masing. Setiap komentar atau
masukan dari peserta diskusi dicatat. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara
bersama-sama, perbaikannya seperti apa. Namun, kelemahan teknik ini memiliki
kelemahan karena memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir
soal.
Teknik berikutnya adalah Teknik Panel yakni suatu teknik menelaah butir
soal berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu diantaranya materi,
konstruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci jawaban atau pedoman
penskoran. Caranya beberapa penelaah diberikan butir-butir soal yang akan
ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian atau penelaahan. Pada tahap

awal, semua orang yang terlibat dalam kegiatan penelaahan disamakan


persepsinya, kemudian mereka berkerja sendiri-sendiri di tempat berbeda. Para
penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan
komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soal dengan kriteria: soal
baik, perlu diperbaiki, atau diganti.
Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format
penelaahan

soal

akan

sangat

membantu

dan

mempermudah

prosedur

pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk


menganalisis setiap butir soal. Format penelaahan soal yang dimaksud adalah
format penelaahan butir soal: uraian, pilihan ganda, tes perbuatan dan instrumen
non-tes. Berikut disajikan keempat format penelaahan butir soal.
B. Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif
Penelaahan soal secara kuantitatif adalah penelaahan butir soal didasarkan
pada data empirik. Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan. Ada
dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara klasik
dan modern.
Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal
melalui informasi dari jawaban peserta didik tes guna meningkatkan mutu butir
soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Kelebihan analisis
butir soal secara klasik adalah murah, sederhana, familiar, dapat dilaksanakan
sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer, dan dapat menggunakan data
dari beberapa peserta didik atau sampel kecil (Millman dan Greene, 1993: 358).
Analisis jenis butir ini yang lazim digunakan dalam praktik di lapangan, terutama
oleh guru disekolah.
Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah
setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir,
dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau fungsi
pengecoh pada setiap pilihan jawaban, reliabilitas dan validitas soal.
1. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal
pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks.
Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi
yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00 (Aiken (1994: 66). Semakin besar indeks
tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal
itu. Suatu soal memiliki TK= 0,00 artinya bahwa tidak ada siswa yang menjawab
benar dan bila memiliki TK= 1,00 artinya bahwa siswa menjawab benar.
Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal. Pada
prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang
bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Rumus ini dipergunakan
untuk soal selected response item, yaitu (Nitko, 1996: 310).

Tingkat Kesukaran ( TK ) =

Jumlah siswa yang menjawabbenar butir soal


jumlah siswa yang mengikuti tes

Atau dengan menggunakan rumus :


P

B
JS

(Arikunto, 2009 : 208)


Keterangan :
P = Indeks kesukaran soal
B = Banyaknya subjek yang menjawab benar
JS = Jumlah siswa

Tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya
untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat
kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki
tingkat kesukaran tinggi atau sukar, dan untuk keperluan diagnostik biasanya
digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah atau mudah.
Klasifikasi tingkat kesulitan soal dapat menggunakan kriteria berikut:

1,00-0,30 = Sukar
0,30-0,70 = Sedang
0,71-1,00 = Mudah
Tingkat kesukaran butir soal memiliki 2 kegunaan, yaitu kegunaan bagi guru
dan kegunaan bagi pengujian dan pengajaran (Nitko, 1996: 310-313).
Kegunaannya bagi guru adalah: (1) sebagai pengenalan konsep terhadap
pembelajaran ulang dan memberi masukan kepada siswa tentang hasil belajar
mereka, (2) memperoleh informasi tentang penekanan kurikulum atau mencurigai
terhadap butir soal yang bias. Adapun kegunaannya bagi pengujian dan
pengajaran adalah: (a) pengenalan konsep yang diperlukan untuk diajarkan ulang,
(b) tanda-tanda terhadap kelebihan dan kelemahan pada kurikulum sekolah, (c)
memberi masukan kepada siswa, (d) tanda-tanda kemungkinan adanya butir soal
yang bias, (e) merakit tes yang memiliki ketepatan data soal.
Di samping kedua kegunaan di atas, dalam konstruksi tes, tingkat kesukaran
butir soal sangat penting karena tingkat kesukaran butir dapat: (1) mempengaruhi
karakteristik distribusi skor (mempengaruhi bentuk dan penyebaran skor tes atau
jumlah soal dan korelasi antarsoal), (2) berhubungan dengan reliabilitas. Menurut
koefisien alfa clan KR-20, semakin tinggi korelasi antarsoal, semakin tinggi
reliabilitas (Nunnally, 1981: 270-271). Tingkat kesukaran butir soal juga dapat
digunakan untuk memprediksi alat ukur itu sendiri (soal) dan kemampuan peserta
didik dalam memahami materi yang diajarkan guru. Misalnya satu butir soal
termasuk kategori mudah, maka prediksi terhadap informasi ini adalah seperti
berikut.
1) Pengecoh butir soal itu tidak berfungsi.
2) Sebagian besar siswa menjawab benar butir soal itu; artinya bahwa sebagian
besar siswa telah memahami materi yang ditanyakan.
Bila suatu butir soal termasuk kategori sukar, maka prediksi terhadap
informasi ini adalah seperti berikut.
1) Butir soal itu "mungkin" salah kunci jawaban.
2) Butir soal itu mempunyai 2 atau lebih jawaban yang benar.

3) Materi

yang

ditanyakan

belum

diajarkan

atau

belum

tuntas

pembelajarannya, sehingga kompetensi minimum yang harus dikuasai siswa


belum tercapai.
4) Materi yang diukur tidak cocok ditanyakan dengan menggunakan bentuk
soal yang diberikan (misalnya meringkas cerita atau mengarang ditanyakan
dalam bentuk pilihan ganda).
5) Pernyataan atau kalimat soal terlalu kompleks dan panjang.

2. Daya Beda
Daya beda butir soal ialah indeks yang menunjukkan tingkat kemampuan
butir soal membedakan kelompok yang berprestasi tinggi (kelompok atas) dari
kelompok yang berprstasi rendah (kelompok bawah) diantara para peserta tes
(Asmawi Zainul, dkk : 1997). Suryabrata (1999) menyatakan tujuan pokok
mencari daya beda adalah untuk menentukan apakah butir soal tersebut memiliki
kemampuan membedakan kelompok dalam aspek yang diukur, sesuai dengan
perbedaan yang ada pada kelompok itu.
Daya beda butir soal yang sering digunakan dalam tes hasil belajar adalah
dengan menggunakan indeks korelasi antara skor butir dengan skor totalnya. Daya
beda dengan cara ini sering disebut validitas internal, karena nilai korelasi
diperoleh dari dalam tes itu sendiri. Daya beda dapat dilihat dari besarnya
koefisien korelasi biserial maupun koefesien korelasi point biserial.
Dalam analisis ini digunakan nilai koefisien korelasi biserial untuk
menentukan daya beda butir soal. Koefisien korelasi biserial menunjukkan
hubungan antara dua skor, yaitu skor butir soal dan skor keseluruhan dari peserta
tes yang sama.
Koefisien daya beda berkisar antara 1,00 sampai dengan +1,00. Daya beda
+1,00 berarti bahwa semua anggota kelompok atas menjawab benar terhadap butir
soal itu, sedangkan kelompok bawah seluruhnya menjawab salah terhadap butir
soal itu. Sebaliknya daya beda 1,00 berarti bahwa semua anggota kelompok atas
menjawab salah butir soal itu, sedangkan kelompok bawah seluruhnya menjawab
benar terhadap soal itu.

Daya beda yang dianggap masih memadahi untuk sebutir soal ialah apabila
sama atau lebih besar dari +0,30. Bila lebih kecil dari itu, maka butir soal tersebut
dianggap kurang mampu membedakan peserta tes yang mempersiapkan diri dalam
menghadapi tes dari peserta yang tidak mempersiapkan diri. Bahkan bila daya
beda itu menjadi negatif, maka butir soal itu sama sekali tidak dapat dipakai
sebagai alat ukur prestasi belajar. Oleh karena itu butir soal tersebut harus
dikeluarkan dari perangkat soal. Makin tinggi daya beda suatu butir soal, maka
makin baik butir soal tersebut, dan sebaliknya makin rendah daya bedanya, maka
butir soal itu dianggap tidak baik (Asmawi Zainul, dkk : 1997).
Daya pembeda dihitung dengan rumus (Arikunto, 2009 : 213) :

BA
B
B
JA
BA

Keterangan :
D

= Daya beda

BA = Banyaknya responden kelompok atas menjawab benar


BB = Banyaknya responden kelompok bawah menjawab benar
JA = Jumlah responden kelompok atas
JB = Jumlah responden kelompok bawah
Untuk menghitung daya pembeda dilakukan langkah sebagai berikut :
1.

Skor diurutkan dari yang tinggi ke yang rendah

2.

Diambil dari kelompok atas (Ba) sebesar 27%

3.

Diambil dari kelompok bawah (Bb) sebesar 27%


Harga daya pembeda dikomfirmasikan dengan kriteria sebagai berikut

(Arikunto, 2009 : 218) :


0,00 - 0,20 = Buruk
0,20 - 0,40 = Cukup
0,40 - 0,70 = Baik
0,70 - 1,00 = Baik Sekali

3. Fungsi pengecoh (distracter function)


Pada saat membicarakan tes objektif bentuk multiple choice item tersebut untuk
setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan
beberapa kemungkinan jawab, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau
alternatif. Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara 3 sampai dengan 5
buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir
item itu, salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul (kunci jawaban),
sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah
yang biasa dikenal dengan istilah distractor (pengecoh).
Fungsi pengecoh dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar peserta yang
tidak memiliki kunci jawaban (option) pada bentuk soal pilihan ganda. Untuk soal
pilihan ganda, alternatif jawaban menurut kaidah harus homogen dan logis sehingga
setiap pilihan jawaban (opition) dapat berfungsi atau ada yang memilih. Setiap
pengecoh dapat dikatakan berfungsi apabila ada yang memilih. Setiap pengecoh dapat
dikatakan berfungsi apabila terpilih minimal sebanyak 5% dari jumlah peserta.untuk
menghitungnya dapat digunakan rumus sebagai berikut:

jumlah siswa yang memilih option yang salah


jumlah seluruh peserta tes

x 100%

Menganalisis fungsi distraktor sering dikenal dengan istilah lain, yaitu :


menganalisis pola penyebaran jawaban item. Adapun yang dimaksud dengan pola
penyebaran jawaban item adalah suatu pola yang dapat menggambarkan
bagaimana testee menentukan pilihan jawabnya terhadap kemungkinankemungkinan jawab yang telah dipasangkan pada setiap butir item. Suatu
kemungkinan dapat terjadi, yaitu bahwa dari keseluruhan alternatif yang dipasang
pada butir item tertentu, sama sekali tidak dipilih oleh testee. Dengan kata lain,
testee menyatakan blangko. Pernyataan blangko ini sering dikenal dengan
istilah omit dan biasa diberi lambang dengan huruf O. Sebagai tindak lanjut atas
hasil penganalisaan terhadap fungsi distraktor tersebut maka distraktor yang sudah
dapat menjalankan fungsinya dengan baik dapat dipakai lagi pada tes-tes yang

akan datang, sedangkan distraktor yang belum dapat berfungsi dengan baik
sebaiknya diperbaiki atau diganti dengan distraktor yang lain (Anas, 2011:408).

4. Reliabilitas Skor Tes


Realibilitas adalah tingkat atau derajat konsistensi dari suatu
instrumen, reliabilitas tes berkenaan dengan dengan pertanyaan,
apakah suatu tes teliti dan dapat dipercaya sesuai dengan kriteria
yang telah ditetapkan. Suatu tes dapat dikatakan reliabel jika selalu
memberikan hasil yang sama bila diteskan pada kelompok yang
sama pada waktu yang sama pada waktu atau kesempatan yang
berbeda.
Menurut Gronlun, ada empat faktor yang dapat mempengaruhi
reliabilitas, yaitu :
1) Panjang tes, yaitu banyaknya soal tes. Ada kecenderungan,
semakin panjang suatu tes akan lebih tinggi tingkat reliabilitas
suatu tes, karena semakin banyak soal, maka akan semakin
banyak sampel yang diukur dan proporsi jawaban yang benar
semakin

semakin

banyak,

sehingga

faktor

tebakan

akan

semakin rendah.
2) Sebaran skor, besarnya sebaran skor akan membuat tingkat
reliabilitas menjadi lebih tinggi, Karena koefesien reliabilitas
yang lebih besar diperoleh ketika peserta didik tetap pada posisi
yang

relative

sama

dalam

satu

kelompok

pengujian

ke

pengujian berikutnya. Dengan kata lain, peluang selisih dari


perubahan

posisi

koefesien reliabilitas.
3) Tingkat kesukaran,

dalam
dalam

kelompok
penilaian

dapat

memperbesar

yang

menggunakan

pendekatan penilaian acuan norma, baik untuk soal yang mudah


maupun sukar, cenderung menghasilkan tingkat reliabilitas yang
rendah. Hal ini disebabkan antara hasil tes yang mudah dengan
hasil tes yang sukar keduanya dalam satu sebaran skor yang
terbatas. Untuk tes yang mudah, skor akan berada dibagian atas
dan akhir dari skala penilaian. Bagi kedua tes (mudah dan

sukar), perbedaan antar peserta didik kecil sekali dan cenderung


tidak dapat dipercaya. Tingkat kesukaran soal yang ideal untuk
meningkatkan

koefesien

reliabilitas

adalah

soal

yang

menghasilkan sebaran skor berbentuk genta atau kurva normal.


4) Objektivitas, menunjukkan skor tes kemampuan yang sama
antara peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya.
Peserta didik memperoleh hasil yang sama dalam mengerjakan
suatu tes. Jika peserta didik memiliki tingkat kemampuan yang
sama, maka akan memperoleh hasil tes yang sama pada saat
mengerjakan tes yang sama. Objektivitas prosedur tes yang
tinggi

akan

memperoleh

reliabilitas

hasil

tes

yang

tidak

dipengaruhi oleh prosedur penskoran.


Konsep reliabilitas mendasari kesalahan pengukuran yang
mungkin terjadi pada suatu proses pengukuran atau pada nilai
tunggal tertentu, sehingga menimbulkan perubahan pada susunan
kelompoknya. Misalnya, guru mengetes peserta didik dengan
instrumen

tertentu

dan

mendapat

nilai

70.

Kemudian

pada

kesempatan yang berbeda dengan instrumen yang sama, guru


melakukan tes kembali, ternyata peserta didik tersebut mendapat
nilai 75. Artinya, tes tersebut tidak reliabel, karena terjadi kesalahan
pengukuran.

Tes

yang

reliabel

adalah

apabila

koefesien

reliabilitasnya tinggi dan kesalahan baku pengukurannya rendah.


Menurut perhitungan product-moment dari Person, ada tiga
macam reliabilitas, yaitu koefesien stabilitas, koefesien ekuivalen
dan koefesien konsistensi internal.
a. Koefesien Stabilitas
Jenis reliabilitas yang menggunakan teknik test and retest, yaitu memberikan
tes kepada sekelompok individu, kemudian diadakan pengulangan tes pada kelompok
yang sama dengan waktu yang berbeda. Cara memperoleh koefesien stabilitas adalah
dengan mengorelasikan hasil tes pertama dengan hasil tes kedua dari kelompok yang
sama, tes yang sama, pada waktu yang berbeda. Jika antara waktu tes pertama dengan
tes yang kedua cukup lama, kemudian diadakan latihan-latihan tambahan, maka bisa

jadi nilai tes yang kedua akan lebih besar daripada tes yang pertama. Sebaliknya, jika
antara waktu tes pertama dengan tes kedua relatif pendek, maka nilai tes kedua bisa
jadi sama atau lebih besar daripada tes pertama karena soal dan jawaban masih dapat
diingat.
Kesalahan teknis ini dapat bersumber dari berbagai faktor, sehingga
menyebabkan peserta didik mempunyai skor yang berbeda pada saat dua kali
mengerjakan tes yang sama. Bisa saja perubahan skor yang terjadi bukan disebabkan
perubahan hal yang diukur, tetapi memang karena situasi yang berbeda atau
pengalaman dari peserta didik pada saat mengikuti tes yang pertama, sehingga ketika
mengerjakan tes yang kedua, peserta didik lebih berhati-hati dan lebih baik hasilnya.
Keunggulan teknik ini adalah dapat memperkecil kemungkinan masuknya sumber
kesalahan yang lain. Namun, patut juga dipertimbangkan bahwa penggunaan
kelompok yang sama dan tes yang sama dalam dua kali tes akan mempengaruhi hasil
tes yang kedua, karena responden sudah memiliki pengalaman mengerjakan tes yang
pertama. Hal ini sekaligus menunjukan kelemahan teknik test and retest.

b. Koefesien ekuivalen
Jika mengorelasikan dua buah tes yang parallel pada kelompok dan waktu yang
sama. Metode yang digunakan untuk memperoleh koefesien ekuivalen adalah metode
dengan menggunakan dua buah bentuk tes parallel or alternate-forms method.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi kedua tes parallel adalah criteria yang dipakai pada
kedua tes sama., masing-masing tes dikonstruksikan tersendiri, jumlah item, isi, dan
corak sama, tingkat kesukaran sama, petunjuk waktu yang disediakan untuk
mengerjakan tes dan contoh-contoh juga sama. Kemungkinan kesalahan pada teknik
ini bersumber dari derajat keseimbangan antara dua tes tersebut, serta kondisi tempat
yang mungkin berbeda pada kelompok tes pertama dengan kelompok tes kedua,
meskipun dilakukan pada waktu yang sama.

c. Koefesien konsistensi internal


Reliabilitas yang didapat dengan jalan mengorelasikan dua buah tes dari
kelompok yang sama, tetapi diambil dari butir-butir yang bernomor genap untuk tes
yang pertama dan butir-butir bernomor ganjil untuk tes yang kedua. Teknik ini sering

disebut split-half method. Split berarti membelah dan half berarti setengah atau
separuh. Jadi, split-half adalah tes yang dibagi menjadi dua bagian yang sama,
kemudian mengorelasikan butir soal yang bernomor ganjil dalam belahan pertama
(X) dan yang bernomor genap dalam belahan kedua (Y). untuk membagi tes menjadi
dua bagian dapat juga dilakukan dengan jalan mengambil nomor soal secara acak,
tetapi jumlahnya tetap harus sama untuk masing-masing kelompok. Disamping itu,
pembagian tes dapat juga dilakukan dengan cara setengah bagian pertama untuk
kelompok pertama dan setengah lagi untuk kelompok kedua.
Untuk menghitung koefisien stabilitas, koefisien ekuivalen dan koefisien
konsistensi internal dapat digunakan analisis korelasi seperti pada pengujian validitas.
Khusus bagi perhitungan koefisien konsistensi internal, korelasi tersebut baru
sebagian dari seluruh tes. Untuk memperoleh angka koefisien korelasi secara
menyeluruh dari tes tersebut harus dihitung dari nomor-nomor kedua tes itu dengan
rumus Spearman Brown.

Anda mungkin juga menyukai