Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS PERANCANGAN SISTIM KERJA

KELOMPOK VII

PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI


Antomi Jhofi, Fikri Ilham, Sonia Irma Novita, Nafroh Bifadhlih
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Andalas, Padang
Email: soniairmanovita@gmail.com, antomijhofi@gmail.com,

Abstract
Measurement of working time is intended to get the standard time of the completion of a work
by the operator. The standard time is the time reasonably required by the operator working at a
normal rate of speed in a work environment that is best at the time. One type of measurement time
work aimed to determine the standard time is a direct measurement of the continuous measurement
the clock stopping (stopwatch time study) Measurement of working time with the clock stopping can
be applied for the jobs of short duration and repetitive (repetitive) as topics to be raised in this
research that tamiya assembly. Issues raised is to determine the standard time of assembly activity
tamiya and make maps work (map right hand and left hand as well as a map of the assembly) with
the data obtained from the video tamiya assembly by two different operators.
Keywords : standard, stopwatch, tamiya

1. PENDAHULUAN
Sebuah perusahaan membutuhkan
beberapa
standar
yang
harus
ditetapkan. Salah satu standar tersebut
adalah standar waktu pengerjaan dari
pekerjaan yang dilakukan. Penetapan
standar waktu bertujuan untuk melihat
seberapa produktivitas pekerjanya agar
perusahaan dapat menentukan standar
upah kerja. Selain itu, perusahaan juga
dapat menentukan berapa bahan baku
yang akan dibeli dan seberapa banyak
yang dapat diproduksi. Pengukuran
waktu kerja tidak hanya dilakukan pada
perusahaan
manufaktur
yang
memproduksi barang dalam skala yang
besar. Salah satu aplikasinya dapat
dilakukan pada pengukuran waktu
perakitan
sebuah
tamiya
untuk
menentukan
waktu
baku
dalam
pengerjaan tamiya tersebut.
Penelitian
pengukuran
waktu
perakitan tamiya ini bertujuan untuk
menentukan waktu baku dari aktivitas
perakitan tamiya dan membuat petapeta kerja dari aktivitas tersebut
Pengukuran
waktu
dilakukan
dengan software Proplanner. Pengamat
melihat dan mencatat elemen-elemen
pekerjaan yang dilakukan operator
dalam video yang dimasukkan ke dalam
sofsetware proplanner tersebut untuk
dicari
waktu
bakunya
dengan
memperhatikan
faktor
kelonggaran
yang diberikan pada operator serta
peta-peta yang digunakan adalah peta
tangan kanan dan tangan kiri dan peta
perakitan.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Jurnal Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti (Kelompok 7)

Pengukuran Waktu Kerja

Tujuan utama pengukuran kerja


adalah mengetahui waktu baku atau
waktu standar yang dibutuhkan oleh
seorang pekerja untuk menyelesaikan
pekerjaannya.
Teknik pengukuran waktu kerja
dapat dibagi menjadi dua yaitu : (1)
Pengukuran
waktu
kerja
secara
langsung, yaitu pengukuran dilakukan
secara langsung di tempat dimana
pekerjaan
yang
diukur
sedang
berlangsung; (2) Pengukuran waktu
kerja secara tidak langsung, yaitu
pengukuran yang dilkukan tanpa si
pengamat harus berada di tempat kerja
yang diukur sedang berlangsung namun
pengamat harus memahami proses
pekerjaan yang diukur (Sritomo, 2002).
Pengukuran waktu kerja secara
langsung dapat dilakukan dengan dua
metode yaitu metode jam kerja henti
(stop watch time study) dan metode
sampling kerja. Sedangkan pengukuran
waktu kerja secara tidak langsung juga
dapat dilakukan dengan dua metode
yaitu metode standar data dan metode
data waktu gerakan (preditermined
time system) (Michael, 2011).

ANALISIS PERANCANGAN SISTIM KERJA

KELOMPOK VII

2.2.Pengukuran
Waktu
Jam
(Stopwatch Time Study)

Henti

Langkah-langkah dalam metode ini


adalah : (1) mendefinisikan pekerjaan
yang
akan
diteliti
untuk
diukur
waktunya dan tujuan pengukuran ini
kepada pekerja yang dipilih untuk
diamati; (2) mencatat semua informasi
yang
berkaitan
erat
dengan
penyelesaian pekerjaan; (3) membagi
operasi kerja dalam elemen-elemen
kerja sedetail-detilnya tetapi masih
dalam batasbatas kemudahan untuk
pengukuran waktunya; (4) mengamati,
mengukur dan mencatat waktu yang
dibutuhkan
oleh
operator
untuk
menyelesaikan elemen-elemen kerja
tersebut; (5) harus dipastikan bahwa
siklus pengamatan yang telah dilakukan
jumlahnya sudah memenuhi syarat; (6)
menetapkan rate of performance dari
operator saat melakukan aktivitas kerja
yang diukur dan mencatat waktu
tersebut;
(7)
sesuaikan
waktu
pengamatan berdasarkan performance
kerja yang dianjurkan oleh operator
tersebut sehingga diperoleh waktu kerja
normal; (8) menetapkan waktu longgar
(allowance
time)
untuk
kondisi
kebutuhan
yang
bersifat
pribadi,
kelelahan
dan
sebagainya;
(9)
menetapkan
waktu
kerja
baku
(standard time) yaitu jumlah antara
waktu antara waktu normal dan waktu
longgar (Sutalaksana, 1979).
Pengukuran
waktu
kerja
memiliki
beberapa metode penyesuaian yang sering
digunakan yaitu (Sutalaksana, 1979):
1. Metode Persentase
Besarnya
faktor
penyesuaian
sepenuhnya
ditentukan
oleh
pengukur melalui pengamatannya
selama melakukan pengukuran.
2. Metode Schumard
Cara
Schumard
memberikan
patokan-patokan penilaian me-lalui
kelas-kelas
performance
kerja
dimana setiap kelas mempunyai nilai
sendiri-sendiri.
Tabel 1. Tabel Penyesuaian Menurut
Cara Schumard

3.

Metode Westing House

Metode ini mengarahkan penilaian


pada 4 faktor yang dianggap
menentukan
kewajaran
atau
ketidakwajaran dalam bekerja yaitu
keterampilan (skill), usaha (effort),
kondisi
kerja
(condition)
dan
konsistensi (consistency).

Tabel 1. Tabel Penyesuaian Menurut Cara


Westinghouse

4.

5.

Metode Objektif
Membagi
performance
rating
menjadi 2 kriteria :
a. Kecepatan kerja
b. Tingkat kesulitan kerja
(Dapat dilihat pada tabel 9.3
Sutalaksana [1979]).
Metode Bedaux dan Sintesa
Waktu penyelesaian setiap elemen
gerakan dibandingkan dengan harga
yang diperoleh dari tabel data waktu
gerakan (Tabel 12 Sutalaksana
[1979]), untuk kemudian dihitung
harga rata-ratanya.Harga rata-rata
ini dinilai sebagai faktor penyesuaian
bagi satu siklus yang bersangkutan.

Faktor kelonggaran terhadap penentuan


waktu baku diberikan untuk tiga hal sebagai
berikut (Sutalaksana, 1979):
1. Kelonggaran
untuk
kebutuhan
pribadi

Jurnal Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti (Kelompok 7)

KELOMPOK VII

2.

3.

Contohnya adalah minum sekedar


untuk menghilangkan rasa haus, ke
kamar kecil dan bercakap-cakap
dengan teman kerja sekedar untuk
menghilangkan kejenuhan bekerja.
Kelonggaran untuk meng-hilangkan
rasa fatique
Rasa
fatique
berdampak
pada
turunnya hasil produksi baik jumlah
maupaum
kualitasnya.
Cara
mengatasinya adalah dengan cara
istirahat
untuk
menghilangkan
kelelahan.
Kelonggaran untuk hambatan tak
terhindarkan
Contohnya adalah menerima atau
meminta petunjuk dari pengawas,
melakukan
penyesuaian
mesin,
memperbaiki kemacetan singkat,
mengasah peralatan potong dan
mengambil alat-alat khusus dari
gudang.

Manfaat pengukuran kerja dengan


menggunakan metode jam henti adalah
sebagai berikut (Michael, 2011):
1. Umumnya
diaplikasikan
pada
industri manufaktur yang memiliki
karakteristik kerja yang berulangulang,
terspesifikasi
jelas
dan
menghasilkan output yang relatif
sama.
2. Dapat pula diaplikasikan untuk
pekerjan non-manufaktur seperti
yang dijumpai dalam aktivitas
kantor atau jasa pelayanan.
2.3.PETA-PETA KERJA
Peta-peta kerja yang akan digunakan
pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Peta tangan kanan dan tangan tangan
kiri
Peta
ini
hanya
akan
bisa
menggambarkan keadaan suatu stasiun
kerja dengan baik, apabila untuk
mengukur setiap elemen gerakannya
dibantu oleh kamera film (Sutalaksana,
1979).
Prinsip pembuatannya adalah lembar
kertas dibagi 3 bagian yaitu : kepala,
bagan dan badan. Pada bagian Kepala
ditulis PETA TANGAN KIRI DAN TANGAN
KANAN serta identifikasi lainnya. Pada
bagian Bagan, digambarkan sketsa
dari stasiun kerja yang memperlihatkan
tempat alat-alat dan bahan. Bagian
Badan dibagi menjadi 2, sebelah kiri
untuk menggambarkan kegiatan tangan
kiri,
dan
sebelah
kanan
untuk

ANALISIS PERANCANGAN SISTIM KERJA

menggambarkan
kegiatan
tangan
kanan. Operasi tersebut diuraikan
menjadi elemen gerakan yang dibagi
kedalam 8 elemen.
Peta perakitan (Assembly Chart)
Peta rakitan adalah gambaran grafis
dari urutan-urutan aliran komponen dan
rakitannya. Peta rakitan menunjukan
cara yang mudah dipahami tentang
komponen-komponen yang membentuk
produk,
bagaimana
komponen
bergabung bersama, komponen yang
menjadi bagian suatu rakitan bagian
dan aliran komponen ke dalam suatu
rakitan (Apple, 1990).
6. METODOLOGI PENELITIAN
++
a. Studi Literatur
Studi literatur merupakan sumber acuan
teori yang didapatkan dari buku dan jurnal
yang berhubungan dengan penelitian ini.
b. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dari penelitian ini
adalah bagaimana menentukan waktu baku
dari
aktivitas
perakitan
dengan
menggunakan pengukuran waktu jam henti
dan bagaimana membuat peta-peta kerja
dari aktivitas tersebut.
c.

Pengumpulan Data

Data diperoleh dengan analisis terhadap


video perakitan tamiya oleh 2 operator
berbeda menggunakan software Proplanner.
d. Pengolahan Data
Data yang telah diperoleh kemudian
diolah menggunakan software proplanner
dan dengan teori pengukuran waktu jam
henti untuk menentukan waktu baku per
operator dari aktivitas perakitan tersebut.
Selanjutnya
peta-peta
kerja
dibuat
berdasarkan
data
yang
diolah
dari
Proplanner.
e. Analisis
Hasil
pengolahan
data
dianalisis
berdasarkan
elemen
pekerjaan,
waktu
siklus, waktu normal, waktu baku dan
perbandingan performance kedua operator.

Jurnal Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti (Kelompok 7)

ANALISIS PERANCANGAN SISTIM KERJA

KELOMPOK VII

f.

Penutup

Penutup berisikan bagian kesimpulan


yang mengacu pada tujuan penulisan jurnal
dan saran yang berguna untuk perbaikan
selanjutnya.

4.2.1 Menentukan Faktor Penyesuaian


dan Faktor Kelonggaran
Penentuan
faktor
penyesuaian
bertujuan untuk menormalkan waktu kerja
yang
disebabkan
oleh
ketidakwajaran
opertaor
dalam
bekerja.
Sedangkan
penentuan faktor kelonggaran bertujuan
untuk kelonggaran yang diberikan kepada
operator karen adanya keperluan mendesak
seperti ke toilet dan sebagainya.
4.2.1.1 Penentuan Faktor Penyesuaian
Faktor penyesuaian yang digunakan
pada penelitian ini adalah dwngan metode
persentase dimana faktor penyesuaian
ditentukan langsung oleh si pengamat.
Adapun
faktor penyesuaian
tersebut
adalah : (1) faktor penyesuaian untuk
operator 1 () adalah 100% karena operator
bekerja dengan cepat; dan (2) faktor
penyesuaian untuk operator 2 () adalah 55%
karena operatoe bekerja dengan lambat.
4.2.1.2 Penentuan Faktor Kelonggaran
Berdasarkan pengamatan terhadap
video aktivitas perakitan tamiya, maka dapat
disimpulkan bahwa faktor kelonggaran yang
didapatkan dengan berpedoman kepada
tabel faktor-faktor kelonggaran apad buku
Sutalaksana (1979) adalah sebagai berikut :
Tabel Nilai Kleonggaran Operator 1 ()

Tabel Nilai Kleonggaran Operator 2 ()


Gambar 1. Flowchart metodologi
penelitian
7. PENGOLAHAN DATA
a. Pengumpulan Data
b. Pengolahan Data

4.2.2 Menentukan
Operator
4

Waktu

Baku

Per

Jurnal Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti (Kelompok 7)

KELOMPOK VII

ANALISIS PERANCANGAN SISTIM KERJA

4.2.2.1 Operator 1 ()
4.2.2.2 Operator 2 ()
1. ANALISIS
a. AnalisisElemen Pekerjaan (VA, SVA,
NVA)
b. Analisis Waktu Siklus
c.

Analisis Waktu Normal

d. Analisis Waktu Baku


5.5.

Analisis
Perbandingan
PerfomanceKedua Operator

2. PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dan saran.
Kesimpulan dibuat berdasarkan tujuan dari
penelitian sedangkan saran dibuat untuk
adanya perbaikan di masa yang akan
datang.

b. Saran
Saran yang diberikan dalam penulisan
ini adalah :
1.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sutalaksana,
Anggawisastra,
dan
Tjakraatmadja. Teknik Tata Cara Kerja,
Institut Teknologi Bandung, 1979.
[2] Sidhi Triswananda Michael, Penentuan
Jumlah Optimal Operator Pemindahan
Unit Mobil pada Vehicle Logistic Center
Perusahaan Manufaktur Otomotif dengan
Pendekatan
Workload
Analysis),
Universitas Indonesia, 2011.
[3] H.
R.
Linston,
Research
Report
Unpublished [Laporan Penelitian], Edward
Research Institute, Nigeria, 2010
LAMPIRAN

a. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.

Jurnal Pengukuran Waktu Kerja Dengan Jam Henti (Kelompok 7)