Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KUALITATIF

PROSPEK MASA DEPAN BUDI DAYA RUMPUT LAUT


DI MUARA GEMBONG

MATA KULIAH: PENELITIAN KUALITATIF


PENGAMPU : DR. AWALUDIN TJALLA
DR. MUHAMMAD ZID

DISUSUN OLEH:

HUSNI MUBARAK NIM 7816130659


IJUDINNIM. 7816130660
SOLIHINNIM. 7816130669
TRI SUDJARWATI NIM 78161306
ZAIMUL IHSANYNIM. 7816130673

ROGRAM STUDI PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014

BAB 1
PENDAHULUAN

Muara Gembong yang berada sangat jauh dari hiruk pikuk kota Bekasi sendiri
dikelilingi oleh lahan perairan laut Jawa yang luas dan terhimpit di antara Jakarta
Utara dengan Kabupaten Karawang. Kecamatan ini terletak 64 km dari pusat Kota
Bekasi. Tak kurang dari empat jam diperlukan untuk menempuh perjalanan dari kota
Jakarta dan sekitar dua setengah jam dari Kota Bekasi.
Sebagian besar penduduk Muara Gembong bermatapencaharian sebagai
nelayan, menangkap ikan, kepiting dan juga udang untuk dijual ke Jakarta
khususnya ke daerah Cilincing, Ancol, dan Muara Angke
Kecamatan ini terdiri dari enam desa, Jayasakti seluas 220 hektaree (Ha), Pantai
Mekar 235 Ha , Pantai Sederhana 65 Ha, Pantai Bahagia 265 Ha, Pantai Bakti 2,90
Ha, dan Pantai Harapan Jaya dengan lahan terluas 275 Ha. Kawasan pemukiman
penduduk pinggir laut dengan luas lahan keseluruhan 14.009 hektare tersebut
didominasi oleh lahan perairan.
Tambak perikanan yang mencakup lahan seluas 10.125 Ha menjadi mata
pencaharian utama 60 persen dari total kepadatan penduduk 36.181 jiwa. Sisanya
bekerja dengan menjadi petani darat, mengelola lahan pertanian kering seluas 60
Ha. Lahan kritis di Muara Gembong telah dolah dengan budidaya pertanian seluas
512 Ha.
Muara Gembong terkenal dengan potensi alamnya, muara ini adalah habitat
ikan bandeng yang sangat diminati oleh warga Jakarta karena dagingnya yang tidak
bau, hal itu dikarenakan bandeng gembong diberikan pakan ikan yang alami.
Selain bandeng, kepiting dari Muara Gembong juga terkenal di Jakarta, kemudian
Terasi Jembret, terasi yang diolah secara alami oleh beberapa penduduknya.
Beberapa istri nelayan mengolah udang rebon yang didapat dari laut untuk dijadikan
terasi.

Penduduk di Kecamatan Muara Gembong didominasi dengan etnis Jawa,


kebanyakan mereka menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Sunda juga menjadi
bahasa sehari-hari mereka, selain bahasa Melayu.
Desa Pantai mekar merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Muara
Gembong yang sudah berkembang seiring dengan dilengkapinya berbagai fasilitas
untuk mendukung social kemasyarakatan di desa tersebut.Desa ini berpenduduk
7396 jiwa dan terdiri dari lebih kurang 1872 KK. Desa Pantaimekar dibatasi oleh
wilayah utaraoleh desa Pantai Sederhana, sebelah timur desa jayasakti sebelah
selatan desa pantai harapan jaya dan sebelah barat laut jawa.
Di desa Pantai Mekar

sudah terdapat Puskesmas dan Kantor Dinas

Kesehatan, selain itu tiga buah gedung Sekolah Dasar Negri (SDN), satu gedung
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan dua buah gedung Sekolah Menengah Atas
(SMA) juga telah mendukung dan melengkapi aspek pendidikan warganya.Namun
kehidupan masyarakat desa Pantaimekar bisa dikatakan berada dalam taraf
ekonomi menegah ke bawah,karena umumnya terdiridari para nelayan dan petani
tambak yang masih menggunakan lahan sewa dari pemilik tanah atapun
perusahaan yang berada di desa tersebut.Hal ini sangat menarik untuk dijadikan
bahan laporan kualitatif.
B. Fokus Penelitian
Bidang perekonomian merupakan salah satu bagian yang tak terlepaskan dari
segi kehidupan masyarakat. Cakupan bahasan bidang ekonomi sangat luas dan
membutuhkan informasi yang sangat banyak untuk membahasnya. Supaya
penelitian ini berjalan sesuai dengan tata cara pelaporan ilmiah dan tidak keluar dari
tujuan penulisan, maka disusunlah fokus penelitian. Fokus dalam penelitian ini
adalah perekonomian masyarakat nelayan desa Pantai Mekar Kecamatan Muara
Gembong Kabupaten Bekasi.
1. Sub-fokus Penelitian
Subfokus dari penelitian ini adalah bagaimana keadaan perekonomian
masyarakat muara gembong dilihat dari mata pencaharian penduduk khusususnya
desa Pantai Mekar

2. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan dalam penelitian ini adalah

bagaimana tingkat

perekonomian penduduk pantai mekar dilihat dari mata pencarian hasil tambak yang
menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat di Desa Pantai Mekar Muara
Gembong?
C. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat Penelitian ini adalah :
1. Pemerintah
Diharapkan dapat berguna sebagai masukan untuk dapat meningkatkan
kehidupan masyarakat Muara Gembong khususnya desa Pantai Mekar karena jika
dilihat dari tingkat perekonomiannya masih banyak memerlukan bantuan
2. Masyarakat
Diharapkan memberikan kontribusi dalam membuka wawasan untuk lebih
bisa meningkatkan taraf kehidupannya dengan menggali potensi alam yang ada dan
menambah wawasan Pendidikan pribadi bagaimana pengelolaan tambak dengan
baik
3. Mahasiswa
Diharapkan bisa membantu menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam
pengabdiannya kepada masyarakat agar desa PantaiMekar bisa menjadi desa yang
maju kedepannya.

BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Deskripsi Konseptual
1. Budi daya Bandeng
Bandeng merupakan jenis ikan yang bisa dibudidayakan pada
tambak.Potensi tambak Indonesia tersebar di seluruh tanah air, hanya ada tiga
propinsi yang tidak memiliki tambak yakni Sumatera Barat, DKI dan DIY.Propinsi
Jawa Timur merupakan propinsi dengan tambak terluas. Tahun 2000 tambak Jawa
Timur tercatat seluas 53.423 ha atau 15% dari luas tambak di tanah air (BPS, 2002).
POLA PEMBIAYAAN
Di wilayah Sidoarjo hanya ada satu bank yang memberikan kredit untuk petambak
bandeng yakni PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Cabang Sidoarjo
(selanjutnya disebut Bank BRI).Namun demikian tidak terdapat skema kredit khusus
untuk usaha tambak bandeng. Pemberian kredit untuk usaha tambak bandeng sama
dengan sistim pemberian kredit untuk usaha lainnya.
Pinjaman untuk usaha diberikan dengan sistim Rekening Koran Murni. Dengan
sistim ini ketika peminjam memerlukan kredit maka dia akan membuka rekening
untuk diisi dananya oleh bank. Peminjam bebas mencairkan atau melunasi
penjamannya setiap saat.Kewajiban yang harus dipenuhi oleh peminjam adalah
membayar bunga sejumlah pinjaman yang tersisa. Ketentuan lain berkaitan dengan
kredit usaha ini dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Penyediaan Benih.
Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dengan mutu yang baik dilakukan
dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam
pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam
pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :
1. Pemilihan induk yang unggul . Induk yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya
kepada keturunannya, Ciri-cirinya :
- bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal.
- ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.

- susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.


- gerakan lincah dan normal.
- umur antara 4 5 tahun.
2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad dapat dipercepat dengan
penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui
suntikan.`
3. Memijahkan. Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah
matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel
tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem
pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus
pemijahan
4. Penetasan.Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 26
jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih
mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi
pakan hingga umur 2 hari.
5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan
nener .Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton.Penumbuhan plankton
dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah
dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung
berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg,
Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang
mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam
dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap
pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung
dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan
dengan NASA dengan dosis 2 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA
mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain,
vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.
Pembesaran.
Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke

kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :


1. Persiapan lahan.
Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air.kegiatan yang dilakukan selama
persiapan lahan adalah :
- Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa
dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan
maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan
berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
- Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil
yaitu pada pH 7 8.Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut,
dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama
budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah.Pengapuran juga menyebabkan
bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH
tersebut.Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON
/ha atau 10 kg/100 m2.
- Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang
diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan
menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air
(porous).Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat,
karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam
organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan
kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton.Dosis pemupukan TON adalah 5
botol/ha atau 25 gr/100 m2.
- Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan
hingga setinggi 10 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan
bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan
dengan kedalaman kolam.
2. Pemindahan nener.Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan
sedalam 30 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran
dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.
3. Pemberian Pakan.Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore,
maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam.Tumbuhan yang

disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat


pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan
untuk tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 28 %.
Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,.
Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber
tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan
pemberian pakan adalah : Jumlah pakan 5 7% dari berat badan. Waktu pemberian
3 5 kali sehari.
Penambahan NASA pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk
meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung
mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan
nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dengan pakan buatan adalah 2 5 cc/kg
pakan dengan cara :
1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.
2. Basahi pakan dengan sedikit air agar pencampuran dengan NASA dapat merata.
3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 5 cc/kg
pakan.
4. Pakan siap untuk diberikan.
Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam,
agar seluruh bandeng dapat pakan.
Fisik Tambak
Bentuk tambak berbeda untuk setiap daerah dan setiap tahap budidaya yang
dipilih.Di Jawa Timur bentuk fisik tambak relatif lebih rumit dibanding Jawa
Barat.Gambar 4.2 adalah bentuk fisik tambak Jawa Timur untuk pengelolaan intensif
yang dimulai dari pendederan.Petak pendederan digunakan untuk membesarkan
nener sampai nener mencapai ukuran glondongan. Petak pembuyaran digunakan
untuk memelihara glondongan dan petak pembesaran untuk memelihara bandeng
sampai usia konsumsi. Petak peneneran juga berfungsi sebagai petak untuk
melakukan panen.Petak pembagi air adalah petak yang pertama menerima air dari
saluran irigasi selanjutnya air dibagikan ke petak lainnya.Saluaran air adalah irigasi
(sungai) tempat tambak mengambil dan membuang air.Pada pinggiran tambak

umumnya dibuat semacam selokan (lantai tambak lebih dalam dari lainnya) yang
disebut caren.Caren berfungsi sebagai tempat bandeng berteduh ketika cuaca
panas dan penampung lumpur.
Gambar 4.2 Tambak Model Jawa Timur

Jika budidaya hanya usaha pembesaran atau pendederan maka petak tambak
hanya dua yakni petak pembagi air yang sekaligus berfungsi sebagai areal
pemanenan dan tambak pemeliharaan.Demikian juga untuk tambak yang dikelola

secara tradisional, walaupun budidaya dimulai dari menebar nener namun tidak
dilakukan pemisahan untuk berbagai umur bandeng.
Pematang adalah bagian penting dari tambak yang berfungsi sebagai benteng ketika
terjadi badai pasang, dan menjadi jalan untuk pengangkutan sarana produksi
maupun hasil tambak. Dengan demikian yang terpenting dari pematang adalah
kekuatan tambak, pada umumnya pematang utama dibangun dengan lebar antara 2
sampai 2,5 meter dengan ketinggian 0,5m diatas air pasang tertinggi. Sementara itu
pematang antara bisa dibuat lebih sempit, umumnya 0,5 sampai 1,5 m dengan
ketinggian sekitar 0,25m. Saluran air dibuat sedemikian rupa sehingga aliran air
menjadi lancar.
c. Pengelolaan Tambak
Agar tambak berfungsi optimal maka tambak harus memenuhi syarat lingkungan
biologi (Tabel 4.2), salah satu cara agar tambak dapat memenuhi syarat lingkungan
biologi adalah melakukan pengelolaan tambak. Pengelolaan tambak meliputi
pengolahan lahan dan pemberian unsur tambahan serta pengaturan pengairan.
(1). Pengolahan lahan
Tujuan pengolahan lahan tambak adalah: (a). Menghilangkan lumpur yang
berlebihan terutama di daerah caren yang merupakan arena mengendapnya lumpur.
(b). Menghilangkan bahan organik yang merugikan. (c). Menutup lubang-lubang
yang biasanya ada disisi tambak yang bisa menjadi jalan masuk binatang pemangsa
dan menjadi jalan keluar bagi bandeng. (d). Memacu pertumbuhan bahan makanan
alami bandeng, untuk itu yang dilakukan adalah pengeringan tambak dan
pembalikan lahan.
Pengolahan lahan dilakukan setiap habis panen (menjelang masa tebar
berikutnya).Pengeringan yang dilakukan tergantung kepada kondisi lahan.Jika lahan
dalam kondisi buruk pengeringan bisa dilakukan sampai tanah dasar menjadi pecahpecah.Jika kondisi lahan normal maka pengeringan dilakukan sampai tanah
terbenam 1 cm jika diinjak. Setelah pengeringan dilakukan pembalikan tanah melalui
proses brojul (bahasa jawa).

(2). Perbaikan dan pengontrolan pH


Tujuan pengontrolan pH adalah untuk menormalkan asam bebas dalam air, menjadi
penyangga dan menghindari terjadinya guncangan pH air/tanah yang mencolok,
memberi dukungan kegiatan bakteri pengurai bahan organik dan mengendapkan
koloid yang mengapung dalam air sehingga kejernihan air terjaga.
Perbaikan pH dilakukan dengan dua cara yakni melalui pengeringan dan pemberian
kapur. Dengan pengeringan pH yang turun pada saat pemeliharaan dapat
ditingkatkan kembali.Pemberian kapur dilakukan saat pengeringan yakni saat
pembalikan lahan. Prosesnya, sebelum lahan dibalik (dibrojul) taburkan kapur
kemudian dilakukan pembalikan lahan, dengan cara ini maka kapur akan tersebar
merata. Untuk lahan yang berpasir maka 3 ton kapur untuk setiap ha lahan adalah
optimal, tetapi jika lahan semakin liat maka kapur yang diperlukan semakin banyak.
(3). Pemupukan
Tujuan pemupukan adalah menumbuhkan makanan alami bandeng yakni klekap
(lab-lab), lumut dan fitoplankton dan menjaga kecerahan air. Jika yang diharapkan
tumbuh adalah klekap maka yang diperlukan adalah pupuk kandang dengan dosis
350 kg/ha.Untuk lumut diperlukan pupuk compund (NPK) dengan dosis 20 gram per
m3 air.Untuk pedoman praktis pemberian dilakukan 2 minggu sekali dengan dosis 2
kg urea dan 15 kg TSP untuk setiap ha tambak.Untuk fitoplankton flagellata dan
fitoplankton diatoma pemberian pupuk diberikan dengan perbandingan N dan P
tertentu.Sebagai bahan makanan alami, fitoplankton diatoma lebih disukai oleh
bandeng.
(4). Oksigen terlarut dan suhu air
Oksigen terlarut sangat penting untuk orgasnisme air, jika oksigen terlalu banyak
maka akan ada gelembung di lamela bandeng sedangkan jika terlalu sedikit maka
bandeng akan mati lemas. Oksigen paling rendah terjadi pada waktu pagi yakni
sesaat setelah matahari terbit. Sementara oksigen tertinggi terjadi sekitar jam 14.0017.00. Untuk menjaga oksigen dalam kondisi optimal perlu dilakukan pengadukan air

sekitar jam

13.00-15.00 dan pada malam hari. Pengadukan dan

penambahan oksigen bisa dilakukan dengan menggunakan aerator.


Oksigen dan suhu air saling berhubungan, pada saat suhu naik maka oksigen turun.
Pada suhu 120C bandeng akan mati kedinginan. Untuk menjaga agar suhu dan
oksigen dalam keadaan optimal dilakukan pembuatan caren, sehingga saat suhu
tinggi bandeng bisa bersembunyi dalam caren yang relatif lebih dalam dengan suhu
yang lebih rendah dan oksigen tercukupi.
(5). Amonia dan asam belerang
Dua zat ini terbentuk dari sisa pakan, kotoran ikan maupun plankton dan bahan
organik tersuspensi. Kedua zat ini bersifat meracuni bandeng.Makin tinggi suhu
kemungkinan makin besar kandungan kedua zat ini.Oleh karena itu penjagaan suhu
air sangatlah penting. Cara lain untuk menghilangkan kedua zat ini adalah dengan
melakukan pengadukan dan pembuatan caren, pergantian air dan pengeringan
lahan.
(6). Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau ketawaran air, walaupun bandeng termasuk
hewan air yang relatif bandel tetapi jika budidaya dilakukan secara intensif maka
tingkat salinitas harus diperhatikan. Pada salinitas optimal energi yang digunakan
untuk mengatur keseimbangan kepekatan cairan tubuh dan air tambak cukup
rendah sehingga sebagian besar energi asal pakan dapat digunakan untuk
pertumbuhan.
(7). Logam berat dan pestisida
Logam berat dan pestisida berasal dari limbah pabrik atau sawah yang telah
menggunakan sistim perairan intensif sehingga menghasilkan residu zat kimia.
Kandungan logam berat dan pestisida akan menyebabkan kematian bandeng
secara masal. Jika bandeng tahan terhadap pencemaran ini dan tidak mati maka
akan menyebabkan keracunan bagi mereka yang mengkonsumsi bandeng yang
terkontaminasi. Solusi dari masalah ini hanya menjauhkan tambak dari sumber
polusi.

(8). Hama dan penyakit


Ada empat golongan hama tambak yakni:
1. Predator/pemangsa yang terdiri dari ikan buas dan liar, kadal, kepiting dan
berang-berang
2. Kompetitor/ pesaing yang terdiri dari ikan liar dan siput
3. Hama yakni penggali organisme pelapuk kayu dan kerang-kerang.
4. Penyakit parasiter, yakni penyakit yang disebabkan oleh virus bakteri dan
protozoa. Penyakit ini umumnya menyerang hewan air, tetapi sampai saat ini
belum dijumpai kasus penyakit ini dalam tambak budidaya bandeng.
Predator masuk ke dalam tambak melalui saluran air atau lubang yang terdapat
pada dinding tambak. Pengeringan tambak adalah cara pengendalian kompetitor
dan hama. Untuk hama yang masuk melalui lubang air harus dilakukan penyaringan
air pada saat memasukkan air ke dalam tambak. Saringan harus cukup kecil agar
supaya tidak hanya binatangnya yang tidak masuk melainkan telurnya pun tidak
masuk.
Foto 6. Tambak yang Sedang Dikeringkan

PEMBENIHAN

Benih bandeng disebut nener. Sebagian besar nener sampai saat ini masih
diperoleh dengan cara penangkapan secara alamiah, hanya sebagian kecil benih
nener yang dihasilkan oleh budidaya (hatchery). Potensi benih nener alami tersebar
di seluruh pantai Indonesia dengan konsentrasi di 15 provinsi mulai dari Aceh,
Lampung, Kaltim, Kalsel, Jabar, Jatim, Jateng, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sulteng,
Sulut, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Diperkirakan potensi nener alami mencapai
1,5 miliar ekor setiap tahun, padahal yang dimanfaatkan baru berkisar pada angka 1
milyar ekor setiap tahun.
Nener yang dijual untuk dipelihara umumnya berumur antara 21 hari sampai 28
hari.Secara fisik besar nener dengan umur tersebut adalah seukuran jarum dan
tubuhnya transparan dengan panjang sekitar 12 -13 mm. Nener mempunyai tiga titik
ditubuhnya yakni dua mata dan satu di perut.
Nener yang ditangkap berasal dari laut dalam.Bandeng dewasa melepaskan
telurnya ditengah laut yang berjarak sekitar 9 km dari garis pantai.Telur itu
mengambang dan dibawa ombak, dalam perjalanan telur menetas dan terbawa ke
pantai atau muara sungai.Nener inilah yang ditangkap, penangkapan nener tidak
sulit walaupun nener bergerak lincah sebab umumnya nener berenang dalam
kelompok. Di pasar lokal saat ini (tahun 2004) nener berukuran 12-13 mm dihargai
Rp 70.000, per rean .
Pada pengelolaan secara intensif tingkat produksi yang diinginkan ketika panen
dapat dihitung dan diperkirakan dengan mudah, jika diketahui tingkat kematiannya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan tingkat kematian pada tahap pembesaran
adalah 40% untuk glondongan umur 21 hari dan 25% untuk glondongan umur 28
hari. Sementara itu indeks pertumbuhan bandeng adalah 0,0005. Dengan data ini
maka tingkat produksi yang diinginkan dapat diperoleh dengan rumus berikut :

Pembesaran dapat berasal dari tambak yang terintegrasi maupun pembesaran yang
memang hanya dirancang untuk tambak pembesaran.Jika pembesaran dilakukan
dari tambak yang terintegrasi maka yang harus dilakukan hanyalah membuka tutup

petak tambak dari petak pembuyaran. Dalam melakukan pembukaan dari


pembuyaran maka beberapa hal harus diperhatikan:
1. Pemindahan dilakukan saat bulan waktu pasang surut paling besar.
2. Pemindahan sebaiknya dilakukan malam hari dengan menggunakan cahaya
untuk menarik bandeng muda ke arah pintu air petakan yang berhubungan
langsung dengan petak pembuyaran atau pembesaran.
3. Mengubah kondisi tambak untuk membuat bandeng muda menjadi aktif dan
siap untuk dipindahkan ke petak buyaran atau pembesaran. Caranya ialah
dengan menurunkan ketinggian air tambak sehingga temperatur air tambak
meningkat.
Jika pembesaran dilakukan tidak terintegrasi maka penebaran ke tambak
pembesaran juga harus dilakukan melalui aklimatisasi.Cara aklimatisasi penebaran
nener dapat digunakan disini.
Dalam tambak pembesaran, 10% air tambak setiap hari harus diganti, penggantian
dilakukan dengan pompa dan pipa air sehingga air yang terbuang dapat diatur dari
bawah.
Panen dari tambak pembesaran dapat dilakukan dengan dua cara yakni panen
selektif dan panen total. Pada panen selektif dapat digunakan jaring jala, atau
penangkap elektrik. Untuk panen total dapat digunakan jaring kantong atau dengan
melakukan pengeringan secara bertahap.
Untuk mendapatkan bandeng kualitas baik maka panen sebaiknya dilakukan pada
pagi hari dan bandeng dalam keadaan lapar. Bandeng yang dipanen dalam keadaan
kenyang akan cepat menjadi busuk. Setelah ditangkap bandeng segera dimatikan
dan dicuci bersih. Pengelolaan pasca panen yang baik dilakukan dengan cara
berikut:
1. Pencucian dilakukan tiga tahap, pertama bandeng dicuci secara keseluruhan
dengan air dingin yang ditambah klorin konsentrasi 10 ppm. Kedua, untuk
mengeluarkan kotoran pada ingsang dan mulut lakukan pencucian dengan

hati-hati. Ketiga untuk menghilangkan bau klorin lakukan pencucian ulang


dengan air dingin,
2. Setelah dicuci dengan seksama bandeng dimasukkan ke dalam kotak khusus
ukuran 0,50,50,5 m yang bagian bawahnya diberi lubang. Untuk
menghindari gesekan maka dasar dan dinding kotak diberi alas daun
pisang/daun jati dan plastik. Caranya letakkan daun dengan ketebalan sekitar
10 cm kemudian tutup plastik. Di atas plastik letakkan es setebal 10 cm.
Letakkan bandeng diatasnya 2 lapis selanjutnya es lagi demikian seterusnya.
Pada bagian paling atas diberi lapisan es setebal 15 cm kemudian ditutup
daun dan plastik, bandeng siap diangkut.
Foto 8 Panen Bandeng Konsumsi

3. TAMBAK RUMPUT LAUT


4. TAMBAK UNTUK BUDI DAYA RUMPUT LAUT
5. Haktaran tambak yang luas sudah lama di terlantarkan oleh pemiliknya.
Beberapa petak sengaja dibiarkan oleh pemiliknya. Ada yang sudah
mengering, ada pula yang masih tergenang air payau seadanya. tambaktambak itu memang tampak menganggur alias tidak difungsikan lagi. "Kami
sudah tak kuat lagi. Modal usaha kami sudah ludes. Setiap kami
membudidayakan udang, selalu gagal panen," Orang tua ku, petambak di
Desa Bangil, Pasuruan. selalu gagal panen Karena itu, dari pada merugi terus
maka kini ia tak mau untuk membudidayakan udang di tambaknya. Hal

serupa juga dialami petambak-petambak lainnya. Tiga tahun lalu, ketika orang
tua

ku

mulai

membuka

usaha

tambaknya

itu,

secercah

harapan

menghampirinya. Bukan apa-apa pada setiap panen udang windu ia selalu


untung besar. Kesuksesan ini lalu diikuti petambak lainnya. Jadilah, lahan
/alas bakau yang nganggur tidak ada pemiliknya disulap menjadi tambak.
Bukan hanya itu saja, pohon mangrove pun sering ditebang dikonversi
menjadi lahan tambak. Pantai yang tadinya rimbun dan subur oleh lebatnya
pohon

bakau

dll

berubah

menjadi

gundul.

Udang, kepiting, dan aneka jenis ikan yang hidup di


sela-sela akar mangrove juga menghilang. "Dulu ketika hutan bakau masih
tumbuh, saya mudah mencari kepiting dan udang. Kini, sudah sangat sulit,"
Tanpa disadari dari sinilah malapetaka bermula. Udang windu yang tadinya
menguntungkan petambak tiba-tiba terserang penyakit mematikan. Para
petani tambak yang mau panen terpaksa gigit jari. Hanya dalam sekejap,
udang yang sakit itu menjadi santapan ikan-ikan lainnya. Begitu seterusnya,
sampai akhirnya, tak ada lagi udang yang tersisa di tambak. setelah di usut
usut, aneka penyakit itu berasal dari pengelolaan lingkungan yang buruk.
Artinya, air laut yang tadinya mengalir berkualitas baik berubah total menjadi
buruk lantaran sudah tercemar berbagai limbah baik dari rumah tangga
maupun industri. Selain itu, desain tambaknya juga tak ramah lingkungan.
Artinya, antara saluran pemasukan dan pembuangan (drainase) air dibuat
dalam satu pintu. Akibatnya, sisa-sisa pakan dan kotoran lainnya terus

mengendap di dasar tambak dan tak bisa dibuang ke luar tambak. kondisi
tambak yang seperti ini yang mudah terserang penyakit," seharusnya selalu
membuat saluran pemasukan dan pembuangan yang berbeda seperti tambak
di Thailand. Jadi, setiap tambak memiliki dua saluran air," ungkap cak toni.
Hasilnya, produktivitas udang dari hasil budi daya tambak di Thailand jauh
lebih tinggi ketimbang di Indonesia. Buruknya kondisi lingkungan dan desain
tambak yang tak ramah lingkungan inilah, menurut toni, mengundang aneka
penyakit udang. Hutan bakau yang selama ini dikenal bisa menjadi filter alami
bagi udang, tak lagi berperan karena memang sudah ditebang habis.
Berbagai kelemahan inilah yang perlu diperbaiki petambak. Selama hal itu
tidak dibenahi, sangat sulit petambak udang di Pantura Jawa bisa bangkit
kembali. Sampai kapan kondisi ideal bagi kegiatan budi daya itu pulih?
Semua bergantung pada keseriusan para petani tambak untuk mau berubah.
Jadi, perubahan ke arah yang lebih baik tidak bisa hanya dilakukan petambak
semata. Lebih dari itu, yang sangat berperan adalah pembuang limbah, baik
yang dibuang rumah tangga maupun industri. Selama budaya pengelolaan
limbah itu masih seperti ini, tanpa melalui penanganan lebih dulu tetapi
dibuang begitu saja ke sungai, tidak banyak yang bisa diharapkan. Begitu
juga dengan pemerintah daerah. Sudah seharusnya mereka membuat
peraturan guna memantau dan mengawasi industri-industri yang membuang
limbahnya ke sungai. Sanksi hukum yang tegas dan adil perlu dikenakan bagi
mereka yang terbukti lalai dalam mengurus limbahnya. Begitu juga dengan
para petambaknya. Langkah petambak Thailand yang mendesain saluran air
dan drainase secara terpisah layak ditiru. Melalui kerja sama semua
stakeholder itu, niscaya kejayaan tambak di Indonesia kembali bangkit lagi.
Rumput Laut Sembari menunggu tambak tersebut sehat kembali, alangkah
baiknya kalau kita terus mengupayakan langkah strategis yang bisa
menghasilkan keuntungan. "Alternatif usaha budi daya yang menarik untuk
dicoba

adalah

dengan

membudidayakan

rumput

laut,"

Apalagi menanam rumput laut jauh lebih mudah dan murah daripada
menanam padi. Betapa tidak, rumput laut tidak membutuhkan pupuk serta
pembasmi hama dan penyakit. Bibitnya tinggal ditebar di tambak dan hanya
dalam tempo 45 hari sejak rumput laut ditanam, petambak sudah
memanennya. Soal pemasarannya tidak perlu khawatir. Berapa pun jumlah
rumput laut akan dibeli sebuah perusahaan pembuat agar-agar berbahan
baku. Syaratnya, rumput laut dimaksud harus bermutu tinggi. Karena itu,
petambak juga harus disiplin untuk tidak memanen rumput laut pada usia
muda (sebelum 45 hari) walaupun mendapat tawaran harga yang
menggiurkan dari pengumpul. Kalau hal ini dilanggar, bisa jadi, pengalaman
buruk bagi petani tambak, petambak beramai-beramai menjual rumput laut
yang masih muda. Bahkan, ada yang nekad menjualnya pada umur 30 hari
atau bahkan ada yang cuma berumur 25 hari. Hal itu dilakukan karena ia
mendapat harga yang sama (antara rumput laut muda dan cukup umur) dari
pengumpul.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang bagaimana rumput laut
dapat menjadi masa depan ekonomi warga Desa Pantai Mekar
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Pantai Mekar Kecamatan Muara Gembong


Kabupaten Bekasi.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama tiga hari mulai hari Minggu, Senin dan Selasa.
3.3 Latar Penelitian
Kecamatan Muara Gembong adalah daerah yang jauh dari hiruk pikuk kota
Bekasi. Kecamatan ini terletak 64 km dari kota Bekasi. Tak kurang dari empat jam
diperlukan untuk menempuh perjalanan dari kota Jakartan dan sekitar dua setengah
jam

dari

Kota

Bekasi.

Sebagian

besar

penduduk

Muara

Gembong

bermatapencaharian sebagai nelayan, menangkap ikan, kepiting, dan juga udang


untuk dijual ke Jakarta khususnya ke daerah Cilincing, Ancol, dan Muaa Angke.
Kecamatan Muara Gembong memiliki enam desa, yaitu Desa Jayasakti, Desa
Pantai Harapan Jaya, Desa Pantai Sederhana, Desa Pantai Bahagia, Desa Pantai Bakti,
dan Desa Pantai Mekar.
Desa Pantai Mekar adalah desa yang berada paling ujung aliran Sungai
Citarum dan langsung bersentuhan dengan daerah muara. Desa ini berada di
sepanjang aliran Sungai Citarum dan bersebrangan diseberangnya adalah Desa
Pantai Sederhana. Desa ini memiliki luas lahan pemukiman seluas 235 Hektar.
Kawasan ini adalah daerah pemukiman penduduk pinggir laut yang dodominasi oleh
lahan perairan. Desa Pantai Mekar dahulunya adalah pusat kecamatan Muara
Gembong dengan masih berdirinya bekas ruang perkantoran kecamatan yang sudah
rusak tak terpakai lag. Pusat kecamatan kemudian dipindahkan kedaerah yang
jauhnya kira-kira 5 km dari Desa Pantai Mekar. Hal ini dilakukan karena abrasi
pantai yang masiv yang terjadi secara terus menerus sehingga tempat itu tidak layak
lagi menjadi pusat pemerintahan kecamatan.
Karena dahulunya adalah pusat kecamatan, maka di Desa Pantai Mekar sudah
terdapat Puskesmas dan Kantor Dinas Kesehatan, selain itu terdapat juga tiga buah
sekolah dasar negeri, satu sekolah menengah pertama negeri, dan sebuah sekolah
menengah atas negeri untuk melayani masyarakatnya. Sudah berdiri juga sebuah
yayasan pendidikan Islam yang turut mengembangkan pendidikan berbasis
keagamaan.
Secara umum, kondisi sosial budaya Desa Pantai Mekar sama dengan desa
nelayan lainnya. Kesan yang sederhana dan cenerung kumuh terlihat dengaj jelas
dengan masih adanya jamban yang berdiri disepanjang pinggiran Sungai Citarum.

Masyarakat di desa kebanyakan adalah pendatang dari karawang, tangerang,


lampung, dan daerah pesisir Jawa. Karena keberagaman etnis ini, maka bahasa yang
digunakan sehari-hari lebih banyak bahasa melayu dan bahasa sunda sebagai bahas
asli Bekasi yang merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat.
3.4 Metode dan Prosedur Penelitian
Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data Pendekatan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif
phenomenologi.
3.5 Data dan Sumber Data
Subjek utama penelitian ini adalah perempuan nelayan yang dipilih
sebagai informan dan melibatkan pula subjek terkait seperti kepala desa, tokoh
agama, tokoh masyarakat, tokoh organisasi, dan perangkat desa. Penentuan informan
digunakan dengan teknik snowball.
3.7 Prosedur Analisis Data
Untuk pengumpulan data digunakan teknik wawancara mendalam (indepthinterview), observasi, dokumentasi, serta focus-group discussion.
3.8 Pemeriksaan Keabsahan Data
Agar hasil penelitian benar-benar baik, maka data yang terkumpul harus
memiliki beberapa syarat berikut:
1. Kredibilitas
Kredibilitas merupakan hasil penetapan penelitian yang kualitatif kredibel
atau dapat dipercaya dari perspektif partisipan dalam penelitian tersebut.
Dari perspektif ini tujuan peneltian kualitatif adalah untuk mendeskripsikan
atau memahami phenomena yang menarik perhatan dari sudut pandang
partisipan.Paritisipan adalah satu-satunya orang yang dapat menilai
secara sah kredibiltas dari hasil penelitian. Strategi untuk meningkatkan
kredibilitas

data

meliputi

perpanjangan

pengamatan,

ketekunan

penelitian, triangulasi, diskusi teman sejawat, analisis kasus negatif dan


member checking.
2. Transferabilitas
Transferability merujuk pada tingkat kekuatan hasil penelitian kualitatif
untuk dapat digeneralisasikan atau ditransfer pada konteks atau setting
yang lain. Peneliti kualitatif dapat meningkatkan transferabilitas dengan
melakukan suatu pekerjaan mendeskripsikan konteks penelitian dan

asumsi-asumsi yang menjadi sentral pada penelitian tersebut. Orang


yang ingin mentrasnfer hasil penelitian pada konteks yang berbeda
bertanggungjawab

untuk membuat

keputusan

bagaimana

transfer

tersebut masuk akal.


3. Dependabilitas
Dependabilitas menekankan perlunya peneliti untuk menetukan konteks
yang

berubah-ubah

dalam

penelitian

yang

dilakukan.

Peneliti

bertanggungjawab melakukan perubahan-perubahan yang terjadi pada


setting

dan

bagaimana

perubahan-perubahan

tersebut

dapat

mempengaruhi cara peneliti melakukan penelitian tersebut.


4. Konfirmabilitas
Konfirmabilitas atau objektifitas merujuk pada tingkat kekuatan hasil
penelitian yang dikonfirmasikan oleh orang lain. Terdapat sejumlah
strategi untuk meningkatkan konfirmabilitas. Peneliti dapat
mendokumentasikan prosedur untuk mengecek dan mengecek kembali
seluruh data penelitian. Peneliti dapat secara aktif menelusuri dan
mendeskripsikan contoh-contoh negatif yang bertentangan dengan
pengamatan sebelumnya.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Muara Gembong
Muaragembong adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten
Bekasi Provinsi Jawa Barat. Dikelilingi oleh lahan perairan laut Jawa yang luas
dan terhimpit di antara Jakarta Utara dengan Kabupaten Karawang. Kecamatan
ini terletak 64 km dari pusat Kabupaten Bekasi. Tak kurang dari empat jam
diperlukanuntuk menempuh perjalanan dari kota Jakarta dan sekitar dua
setengah jam dari Kabupaten Bekasi. Kecamatan ini terdiri dari enam desa,
Jayasakti seluas 220 hektare (Ha), Pantai Mekar 235 Ha , Pantai Sederhana 65
Ha, Pantai Bahagia 265 Ha, Pantai Bakti 2,90 Ha, dan Pantai Harapan Jaya
dengan lahan terluas 275 Ha. Kawasan pemukiman penduduk pinggir laut
dengan luas lahan keseluruhan 14.009 hektar tersebut didominasi oleh lahan
perairan.
Sebagian

besar

penduduk

sebagai nelayan tradisional

yang

Muara

Gembong

melakukan

bermatapencaharian

penangkapan

ikan

dengan

menggunakan perahu-perahu kecil dengan jarak tangkapan yang tidak terlalu


jauh ketengah laut. Karena menggunakan perahu-perahu yang terbilang masih
kecil, maka nelayan-nelayan sangat khuatir akan ombak yang tinggi dan angin
yang kencang. Apabila terjadi cuaca ekstrim maka nelayan-nelayan di
muaragembong lebih memilih untuk tidak melaut.
Kehidupan para nelayan di Muaragembong benar-benar terpuruk akibat
cuaca ekstrim yang terjadi. Mereka tidak dapat melaut ditengah angin kencang
dan gelombang yang tinggi. Mereka menyebutnya sebagai musim baratan,
dimana mereka sama sekali tidak dapat melakukan aktifitas penangkan ikan di
laut karena perahu mereka tidak akan dapat menahan ombak yang besar. Untuk
menghidupi kebutuhan keluarganya sebagian besar nelayan yang ada di
muaragembong beralih profesi sebagai pemulung sampah, kuli tambak rumput

laut, tukang ojek Dan pekerjaan serabutan lainnya. Kondisi alam yang
membahayakan tersebut terjadi sejak akhir bulan November hingga Februari.

Gambar 1. Perahu Nelayan Muaragembong yang tidak termanfaatkan selama


musim baratan
Menurut penuturan beberapa nelayan yang ada di Muaragembong mereka lebih
memilih berdiam di rumah, sambil mencari kerja serabutan mulai dari kuli tambak
rumput laut, tukang ojek dan yang lebih banyak dilakukan yaitu menjadi
pemulung sampah-sampah plastik yang ada di pembuangan sampah atau
sampah-sampah plastik yang ada di daerah muara-muara sekitaran rumah
warga.

Gambar 2. Nelayan yang beralih profesi sebagai pemulung sampah selama


musim baratan
Selain bekerja serabutan, tidak sedikit pula nelayan-nelayan yang hanya berdiam
di rumah. Mereka melakukan aktifitas-aktifitas lainnya seperti memperbaiki
perahu-perahu mereka yang bocor dan memperbaiki jaring-jaring. Yang
mungkin aktifitas itu sulit dilakukan apabila musim tangkapan sedang bagus.
Sehingga selama musim baratan ini mereka manfaatkan untuk melakukan
perbaikan tersebut.

Gambar 3. Nelayan yang sedang melakukan perbaikan jaring

Musim baratan ini terjadi sekitar bulan November akhir sampai dengan bulan
Februari dan setelahnya nelayan dapat beraktifitas seperti biasa. Menurut
pengakuan beberapa nelayan yang ada di Desa Pantai Mekar Kec.
Muaragembong, dalam sehari selama musim tangkapan mereka mampu
menangkap ikan rata-rata 30-50 kg/nelayan/hari. Sedangkan selama musim
baratan ini mereka tidak memperoleh hasil tangkapan sama sekali. Mereka
mengaku sangat kesusahan pada musim baratan ini karena penghasilan sebagai
pemulung pun hanya mampu memenuhi 50% dari kebutuhan mereka setiap
hari.
Dahulu kala desa pantai mekar sangat terkenal dengan potensi kelautannya,
namun seiring dengan perguliran jaman dan kerusakan lingkungan (abrasi) maka
potensi kelautan menjadi turun drastis. Hasil laut yang biasanya menjadi andalan
masyarakat sebagai mata pencaharian kini tidak mampu lagi menjadi penopang
utama hidup mereka.
Adanya abrasi yang terjadi di pesisir muaragembong ternyata membawa berkah
tersendiri. Mengapa demikian, pasalnya tambak yang hancur terkena abrasi kini
banyak di tumbuhi rumput laut liar jenis gracillaria. Tentunya kearifan alam ini
menjadi alternatif untuk masyarakat sekitar yang terkendala masalah ekonomi
karena rusaknya lahan budidaya mereka. Rumput laut alami ini mempunyai nialai
ekonomi yang sangat tinggi dengan kisaran harga Rp.2500/kg untuk kualitas
rendah dan Rp.4000\kg untuk kualitas Baik. Hal senada juga di benarkan oleh
saman (30 thn) seorang tengkulak rumput laut yang juga memiliki lahan tambak
yang terkena abrasi. Saman juaga menambahkan bahwa siklus pertumbuhan
rumput laut jenis gracilaria ini sangat cepat, masyarakat sekitar dapat memanen
sepanjang hari tanpa mengenal musim, karena memang tumbuh secara alami
dan dalam jumlah yang sangat banyak.
Tentunya potensi alam ini juga pada akhirnya akan habis jika di eksploitasi
secara terus menerus. Butuh kearifan lokal agar anugrah yang luar biasa ini bisa
terus menjadi alternatif penghasilan bagi masyarakat sekitar. Salah satu kearifan
tersebut adalah dengan tidak mencabut seluruh batang rumput laut hingga akar
yang mengakibatkan pohon rumput laut akan mati. Tetapi dengan cara memilah
bagian tertentu yang bisa diambil dengan harapan akan tumbuh tunas berikutnya
agar siklus pertumbuhannya tidak terputus.
Disisi lain butuh campur tangan pemerintah dalam hal ini untuk pengolahan
produk turunan berbahan dasar rumput laut. Tentunya produk turunan ini akan

memiliki nilai yang lebih tinggi di banding kita hanya menjual rumput laut dalam
kondisi belum di olah.
Namun potensi kebaikan alam yang begitu melimpah berupa rumput laut yang
tumbuh di lokasi tambak Yang terkena abrasi, bukan menjadi pembenaran dan
salah satu dalih pembiaran dari kerusakan hutan Yang terjadi. Tetapi Yang perlu
dikampanyekan adalah bagaimana mensinergikan potensi yang ada dengan
tidak melupakan keberlangsungan perbaikan lingkungan dalam jangka waktu
yang lama.

Melihat potensi pengembangan budi daya rumput laut di kecamatan muara


gembong ini, maka muncullah bentuk kerjasama antara PT. Pertamina EP Asset
3 Field Tambun dengan masyarakat desa pantai mekar sebagai bentuk kontribusi
PT. Pertamina terhadap perekonomian dan pelestarian lingkungan hidup
masyarakat desa pantai mekar kecamatan muara gembong.
Untuk lebih memberikan manfaat ekonomi, dan sebagai wujud kepedulian
terhadap lingkungan, PT Pertamina EP Asset 3 Field Tambun meluncurkan
Program Pembangunan Taman Hutan Manggrove Muara Belacan Berbasis
Masyarakat di Desa Pantai Harapan, Kecamatan Muara Gembong, mulai 2013
sampai 2018. Selama lima tahun ditargetkan bisa ditanam 50 ribu bibit pada
lahan seluas 25 hektar. Melihat akselerasinya yang bagus, target itu sangat
mungkin terlampaui. Field Manager Tambun, Abdullah optimis mangrove yang
ditanam bisa mencapai 66 ribu batang dengan luas lahan 33 hektar.
Untuk melaksanakan dan mengawal program ini, Pertamina EP Field Tambun
bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana
Kahuripan. Kepada anggota LMDH yang terlibat dalam program ini akan
diberikan tanggung jawab penanaman dan perawatan mangrove minimal selama
2 tahun. Sebagai timbal baliknya, Pertamina EP Field Tambun memberikan

bantuan modal dan pelatihan untuk budidaya rumput laut, udang windu, dan
bandeng.
Pada bulan Mei 2013 telah disebar 50.000 rumput laut, 500.000 benih udang,
dan 50.000 bandeng. Tak sekedar melatih budidaya, pelaksana program dan
fasilitator tim berusaha mencarikan pasar untuk produk yang dihasilkan. Salah
satunya adalah kerjasaama dengan PT Agarindo Bogatama yang bersedia
menampung seluruh hasil produksi rumput laut, dengan tetap memperhatikan
kualitasnya.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Wana Kahuripan, Ahmad Taufik
menyebutkan, budidaya rumput laut yang permodalaannya dibantu Pertamina EP
menjadi jalan bagi masyarakat untuk lebih sejahtera. Pada panen kemarin tiap
anggota Alhamdulillah dapat Rp 12 juta, ujar pria 37 tahun ini . Tiap
anggota panen hampir 200 ton dari lahan seluas 3 hektar. Oleh pembeli, satu
kilogram rumput laut dihargai Rp 6.000. Dalam setahun rumput laut bisa dipanen
sampai tiga kali. Hal ini tentunya mamu mendongkrak perekonomian masyarakat
dengan memberikan kerjasama yang bersedia menampung hasil panen rumput
laut dan memberikan harga yang lebih baik jika dibandingkan harga sebelumnya
yang dibeli oleh tengkulak.
Menurut Taufik, budidaya

rumput

laut

sebenarnya sudah

dilakukan

warga sejak dulu. Cuma sifatnya masih coba-coba. Kita tidak tahu cara
melakukan budidaya rumput laut yang baik seperti apa, ujarnya. Lebih parah
lagi, setelah panen hasilnya dihargai murah. Sebelum ini, harga dimainin
tengkulak, ujarnya.
Selain dari budidaya rumput laut, tambahan penghasilan datang dari bandeng
dan udang windu. Bandeng sebentar lagi panen, kata bapak dua anak ini.
Budidaya yang dilakukan bisa disebut thrre in one. Dalam lahan seluas 3
hektar, selain rumpat laut , juga ditebar bandeng dan udang windu.
Sebagai modal awal, Pertamina mengucurkan bantuan permodalan Rp 8 juta
tiap orang. Pada tahap pertama, ada 21 orang yang dapat bantuan. Pinjaman
modal itu tidak akan dikembalikan kepada Pertamina, tapi akan menjadi
dana bergulir yang akan disalurkan oleh LMHD pada anggota yang lain.
Melihat hasil perdana, saya optimis bantuan modal itu akan kembali, Taufik
menambahkan.
Yang sangat disayangkan, pengembangan budi daya three in one ini masih
kurang diminati oleh warga masyarakat dikarenakan prosesnya yang butuh

kesabaran dan ketekunan dalam pengelolaan, pemeliharaan dan penangan


paska panen.
B. Proses produksi rumput laut
Rumput laut termasuk jenis ganggang pada umumnya ganggang dapat
diklasifikasikan menjadi kelas yaitu : ganggang hijau (chloropheceae), ganggang
hijau biru (cyanophyceae), ganggang coklat (pheaceophyceae) dan ganggang
merah (rhodophyceae). Ganggang hijau dan ganggang hijau biru banyak hidup
dan berkembang biak di air tawar, sedangkan ganggang coklat dan ganggang
merah memiliki habitat laut yang biasanya lebih dikenal dengan rumput laut.
Ganggang cokelat lebih dikenal sebagai rumput karang atau rockweed, sering
dimanfaatkan untuk industri alginat, sedangkan ganggang merah merupakan
sumber bahan baku bagi industri agar-agar, carragenan dan fulcellaran serta
produk-produk lainnya. Rumput laut atau seaweed merupakan bagian terbesar
dari rumput laut yang tumbuh melekat erat pada substrat pada yang terdapat di
lautan seperti batu-batuan, karang dan bangkai kulit karang.
Dalam pertumbuhannya rumput laut memerlukan cahaya matahari untuk proses
photosynthesa, karena itu meskipun hidupnya di bawah permukaan laut tetapi
tidak dapat terlalu dalam. Pada umumnya rumput laut terdapat di sekitar pantai
dalam jumlah dan jenis beragam, namun hanya beberapa jenis saja yang dapat
dimakan karena alasan rasa. Agar tidak rancu mengenai rumput laut, rumput laut
yang dimaksud dalam MK.PKT ini adalah phaecophcease dan rhodophycease.
Walaupun sebenarnya ada puluhan jenis rumput yang tumbuh di perairan
Indonesia. Ada beberapa jenis yang sudah dikenal atau diperdagangkan di luar
maupun dalam negeri, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang telah
dibudidayakan, diantaranya adalah jenis eucheuma, glacilaria dan geldrium
dengan

beberapa

speciesnya.

Dari ketiga jenis tersebut eucheuma sp yang sering diperdagangkan, karena di


samping arealnya cocok untuk budidaya, juga pasarnya sudah ada. Jenis
eucheuma sp ini dengan kode CCCN ; 14.85.200 mengandung biota karagenan
yang banyak dibutuhkan untuk bahan baku industri. Untuk membudidayakan
rumput jenis Eucheuma sp perlu diperhatikan faktor-faktor teknis dan non teknis
antara lain :
Dalam rangka pengembangan wilayah dan budidaya rumput laut, selain harus
dipertimbangkan kelayakan lokasi, juga perlu diperhatikan daya dukung lahan,
tata ruang dan aktifitas ekonomi lainnya.

Kelayakan lokasi meliputi :


Bebas dari pengaruh angin topan dan ombak yang kuat.
Mempunyai gerakan air (arus) yang cukup (20-30 cm/detik)
Dasar peraiaran agak keras yang terdiri dari pasir dan karang serta bebas

dari lumpur
Masih digenangi air pada waktu surut dengan kedalaman antara 30 - 60

cm
Kejernihan air tidak kurang dari 5 cm
Suhu air (20 - 28oC) dengan fluktuasi harian maksimum 4oC.
Kisaran kadar garam 28 34
PH air antara 7 9
Mengandung cukup makan berupa makro dan mikro nutrien
Bebas dari bahan pencemaran
Bebas dari ikan dan hewan air yang bersifat herbivora
Mudah dijangkau untuk kelancaran proses produksi sampai kepada

pemasaran hasil.
Sumber tenaga kerja cukup.
Bahan pendukung murah dan mudah diperoleh (bambu, benih dan lainlain)

Temperatur dan Sanitasi


Rata-rata temperatur air laut sebaiknya berkisar antara 27 - 30oC jika terjadi
kenaikan temperatur yang tinggi akan terjadi adanya uliment dan meliputi
epiphyt, sehingga tanaman akan rontok. Sedangkan sanitasi air sangat
tergantung pada faktor penguapan, serta ada tidaknya sumber air tawar.
Untuk menghindari sanitasi yang tajam sebaiknya lokasi tanaman jauh dari
muara sungai untuk menghindari endapan lumpur.
Dari semua faktor yang disebutkan diatas, perlu diperhitungkan pula ada
tidaknya pencemaran air laut seperti : genangan minyak, limbah pabrik,
bahan

peledak

atau

bahan

kimia

untuk

penangkapan

ikan.

Gerakan Air
Kesuburan lokasi tanaman sangat ditentukan oleh adanya gerakan air yang
berupa arus ombak. Karena gerakan air merupakan alat pengangkut zat
makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Arus atau ombak
merupakan alat yang baik bagi massa air sehingga menjadi homogen. Massa
air yang homogen akan menghindari perbedaan yang tajam pada kelarutan

oksigen, temperatur, salinitas dan lain-lain. Disamping itu gerakan air juga
merupakan alat pembersih terhadap sediment dan epiphyt yang menumpuk
pada tanaman.
Ombak yang terlalu besar lebih merusak tanaman akan tetapi diperlukan juga
sebagai alat pengaduk yang baik bagi massa air. Di samping itu ombak
sebagai alat penangkap udara, sehingga memperkaya larutan oksigen ke
dalam massa air. Untuk itu dalam budidaya rumput laut harus mengambil
areal/lokasi yang terbuka terhadap ombak dan mempunyai terumbu karang
yang menonjol sebagai tanggul ombak di bagian luar, sehingga lokasi
tanaman hanya terkena pecahan ombak/lidah ombak saja, dengan kecepatan
arus antara 20 s/d 40 cm per detik.
Faktor Non Teknis
Di dalam melakukan budidaya rumput laut faktor non teknis juga sangat
menunjang

keberhasilan

seperti

halnya,

sosial

ekonomi

masyarakat

setempat, sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi. Lokasi di mana


terdapat petani nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, kondisi ini
sangat mendukung pembudidayaan rumput laut karena dapat memberikan
lapangan kerja dengan tidak mengurangi persyaratan teknis budidaya rumput
laut.
Pengadaan dan Pemilihan Bibit
Penyediaan benih Eucheuma sp relatif mudah, karena tersebar di sepanjang
perairan pantai dan dapat diperbanyak secara generatif dan vegatif. Di dalam
usaha budidaya bibit yang baik merupakan suatu persyaratan yang harus
dipenuhi, karena akan menyangkut segi pemasaran dan kelangsungan usaha
budidaya itu sendiri, sehingga tidak akan merugikan petani/nelayan karena
kandungan biota Carragenan yang rendah diperlukan persyaratan bibit
sebagai berikut:
Mempunyai angka pertumbuhan harian baik, yang menyangkut masa

panen produksi yang menguntungkan.


Keadaan biologi yang baik sehingga mempunyai kadar kandungan
yang karagenan yang tinggi yang nantinya akan merupakan jaminan
pemasaran yang baik.

Ciri bibit yang baik :

1. Bibit tanaman harus muda


2. Bersih dan
3. Segar.
Pengadaan bibit dapat dilakukan dengan memanfaatkan sifat-sifat reproduksi
vegetatif dan generatif. Untuk mendapatkan bibit yang baik maka perlu
dilakukan:
Bibit hendaknya dipilih dan diambil dari stek ujung tanaman rumput laut
yang unggul yang masih muda, segar dan berasal dari tanaman

rumput laut yang sudah dibudidayakan.


Ciri-ciri jenis unggul bercabang banyak warna sesuai jenisnya dan
pertumbuhannya cepat.

Untuk metode lepas dasar, luas tiap petak rakit budidaya 100 m2 memerlukan
bibit 240 kg.
Metode Penanaman
Untuk penanaman rumput laut dikenal adanya beberapa metoda
1. Metoda Dasar
Pada metoda ini bibit diikatkan pada batu-batu karang yang kemudian
disebarkan pada dasar perairan.Cara ini sesuai untuk dasar perairan yang
rata dan tidak ditumbuhi karang dan tidak berpasir. Cara ini mudah,
sederhana dan tidak memerlukan sarana budidaya yang besar.
Metoda ini jarang sekali digunakan karena belum

diyakini

keberhasilannya. Hal ini mengingat persyaratan yang diperlukan adalah


areal yang terbuka terhadap ombak dan arus dimana terdapat potonganpotongan batu karang yang kedudukannya sebagai substrant yang kokoh
dan tidak terbawa oleh arus.
Disamping kesulitan mencari areal penanaman, metode ini mempunyai
kelemahan antara lain : banyak bibit yang hilang terbawa ombak, tidak
bisa

dilaksanakan

di

perairan

yang

berpasir,

banyak

mendapat

gangguan/serangan dari bulubabi, dan produksinya rendah.


2. Metoda Rakit Apung
Penanaman dengan metoda rakit ini menggunakan rakit apung yang
terbuat dari bambu berukuran antara (2,5 x 2,5 ) meter persegi sampai (7
x 7) meter persegi tergantung pada kesediaan bahan bambu yang
dipergunakan. Dalam PKT ini digunakan ukuran 7 x 7 meter persegi.
Untuk penahanan supaya rakit tidak hanyut terbawa arus, digunakan
jangkar sebagai penahanan atau diikat pata patok kayu yang ditancapkan

di dasar laut. Pemasangan tali dan patok harus memperhitungkan faktor


ombak, arus dan pasang surut air. Metoda rakit cocok untuk lokasi dengan
kedalaman 60 cm. Bahan-bahan yang diperlukan adalah bibit tanaman,
potongan bambu berdiameter 10 cm. Potongan kayu penyiku berdiameter
5 cm, tali rafia, tali ris berdiameter 4 mm dan 12 cm, serta jangkar dari
besi,

bongkah

batu

atau

adukan

semen

pasir.

Dalam PKT ini setiap rakit apung berukuran 7 x 7 meter akan ditanami 500
titik tanam rumput laut atau setiap kelompok tani 5 orang dengan 250 rakit
(dengan luas total sekitar 1,25 Ha) akan mempunyai titik tanam sebanyak
125.000 titik tanam.
3. Metoda lepas dasar atau tali gantung
Pada penanaman dengan metoda lepas dasar, tali ris yang telah berisi ikatan
tanaman direntangkan pada tali ris utama. Pengikatan tali ris pada tali ris
utama sedemikian rupa sehingga muda dibuk kembali. Tali ris utama yang
terbuat dari bahan polyetilen berdiameter 8 mm direntangkan pada patok.
Jarak tiap tali ris pada tali ris utama 20 cm. Patok terbuat dari kayu
berdiameter 5 cm sepanjang 2 m dan runcing pada salah satu ujungnya.
Untuk menancapkan patok di dasar perairan diperlukan linggis atau palu besi.
Jarak tiap patok untuk merentangkan tali ris utama 2, 5 m. Dengan demikian
pada retakan budidaya dengan metoda lepas dasar seluas satu are (100 m2)
dibutuhkan 55 batang patok, 60 m tali ris utama dan 600 m tali ris dan 1 kg
tali rafia. Untuk 1 unit budidaya rumput laut sistem lepas dasar ukuran 10 x 10
m 2 diperlukan bibit sebanyak 240 kg (Seri Pengembangan Hasil Penelitian
Pertanian No 141P/KAN/PT 13/1990. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut)
Pemeliharaan
Memelihara rumput laut berarti mengawasi terus menerus konstruksi sarana
budidaya dan tanamannya. Apabila ada kerusakan patok, jangkar, tali ris dan
tali ris utama yang disebabkan ombak yang besar, harus segera diperbaiki.
Pemeliharaan dilakukan baik pada ombak besar maupun pada aliran laut
tenang. Kotoran atau debu air yang melekat pada tanaman harus selalu
dibersihkan. Kotoran yang melekat dapat menganggu proses metabolisme
sehingga pertumbuhan tanaman menurun. Beberapa tumbuhan penempel
yang merusak, seperti ulva, hypnea, chaetomorpha, dan enteromorpha
dikumpulkan dan dibuang ke darat.

Beberapa jenis hewan herbivora pemangsa tanaman rumput laut adalah bulu
babi, ikan dan penyu. Serangan bulu babi dapat diatasi dengan cara diusir
dari lokasi budidaya. Lumut juga perlu biasanya dipasang jaring di sekeliling
lokasi budidaya. Lumut juga perlu disingkirkan karena menghalangi sinar
matahari yang masuk sehingga pertumbuhan akan terhambat.
Pemupukan tidak ada, untuk eucheuma sp yang ditanam di perairan pantai.
Kecuali untuk budidaya rumput laut jenis gracilaria yang ditanam di tambak
perlu diberikan pemupukan. Untuk gracilaria yang ditanam di tambak
pemupukan di berikan secara teratur 15 hari sekali, yaitu sesaat setelah
penggantian air. Pupuk yang digunakan adalah campuran urea, TSP dan ZA
dengan perbandingan 1 : 1 : 1 sebanyak 20 kg/ha atau dengan perbandingan
2 : 1 : 1 sebanyak 100 kg/ha. Penggantian air tambak sebanyak 60%
dilakukan setiap 15 hari sekali wakbu bulan baru dan bulan purnama.
Panen
Tanaman dapat dipanen setelah mencapai umur 6 - 8 minggu setelah tanam
dengan berat tanaman per ikatan 800 gram. Cara memanen rumput laut pada
air pasang adalah dengan mengangkat seluruh tanaman ke darat kemudian
tali rafia pengikat dipotong. Sedangkan pada saat air surut dapat dilakukan
langsung di areal tanaman.
Dengan menggunakan rakit satu persatu ikatan tanaman dipanen. Dan
dibawa ke darat dengan rakit. Panen yang dilakukan pada saat usia tanaman
1 bulan, perbandingan antara berat basah dan kering berkisar 8 : 1,
sedangkan bila tanaman berumur 2 bulan perbandingan berat basah dengan
berat kering adalah 6 : 1.
Persiapan alat-alat tersebut untuk menjaga kelancaran pemanenan dan
menjaga kualitas mutu hasil produksi. Dari satu unit usaha (100 m 2) dengan
metode lepas dasar dan metoda rakit diperoleh hasil panen kering masingmasing 100 kg dan 120 - 150 kg setiap panen.
Dalam analisa finansial yang dibuat untuk Model Kelayakan PKT ini, produksi
rumput laut didasarkan pada penggunaan metoda rakit apung yang dilakukan
kelompok tani terdiri dari 5 orang dengan sebanyak 250 rakit, masing-masing
dengan 500 titik tanam. Rumput laut dipanen pada umur 45 hari setelah
tanam dengan memberikan waktu untuk mempersiapkan tanam setiap
tahunnya dapat diadakan 6 kali panen. Setiap titik tanam akan menghasilkan
0,8 kg rumput laut basah. Dengan demikian setiap kelompok petani/nelayan

akan mengahasilkan 125.000 titik tanam x 0,8 kg = 100.000 kg rumput basah.


Bila dalam satu tahun dilakukan 6 kali panen, maka setiap kelompok akan
menghasilkan 6 x 100.000 kg = 600.000 kg rumput laut basah per tahun.
Pasca Panen dan Mutu Rumput Laut
Penanganan pasca panen rumput laut oleh petani hanya sampai pada tingkat
pengeringan. Rumput laut kering ini merupakan bahan baku bagi industri
rumput laut olahan selanjutnya. Pengolahan rumput laut akan menghasilkan
agar, karagenan atau algin tergantung kandungan yang terdapat di dalam
rumput laut. Pengolahan ini kebanyakan dilakukan oleh pabrik walaupun
sebenarnya dapat juga oleh petani
Langkah-langkah Pengolahan menjadi Bahan Baku atau rumput laut kering
adalah sebagai berikut :
1. Rumput laut dibersihkan dari kotoran, seperti pasir, batu-batuan,
kemudian dipisahkan dari jenis yang satu dengan yang lain.
2. Setelah bersih rumput laut dijemur sampai kering. Bila cuaca cukup
baik penjemuran hanya membutuhkan 3 hari. Agar hasilnya berkualitas
tinggi, rumput laut dijemur di atas para-para di lokasi yang tidak
berdebu dan tidak boleh bertumpuk. Rumput laut yang telah kering
ditandai dengan telah keluarnya garam.
3. Pencucian dilakukan setelah rumput laut kering. Sebagai bahan baku
agar rumput laut kering dicuci dengan air tawar, sedangkan untuk
bahan baku karagenan dicuci dengan air laut. Setelah bersih rumput
laut dikeringkan lagi kira-kira 1 hari. Kadar air yang diharapkan setelah
pengeringan sekitar 28%.Bila dalam proses pengeringan hujan turun,
maka rumput laut dapat disimpan pada rak-rak tetapi diusahakan diatur
sedemikian rupa sehingga tidak saling tindih. Untuk rumput laut yang
diambil karagenannya tidak boleh terkena air tawar, karena air tawar
dapat melarutkan karaginan.
4. Rumput laut kering setelah pengeringan kedua, kemudian diayak untuk
menghilangkan kotoran yang masih tertinggal.
Dalam model kelayakan PKT ini bila diperkirakan rendemen sampai kering
asalan 10 % dengan kandungan air 30%, maka setiap kelompok
petani/nelayan akan memproduksi 60.000 kg rumput laut kering per tahun.
C. Prospek masa depan budi daya rumput laut di muara gembong

Indonesia merupakan penghasil Rumput Laut nomor 1 di dunia, karena luas


daerah pesisir pantai di tanah air merupakan lahan subur untuk perkembangan
rumput laut. Rumput Laut merupakan salah satu produk penting yang berasal
dari laut yang memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan dan
dibudidayakan di Indonesia.
Pengolahan Rumput Laut membuka peluang usaha yang sangat menjanjikan
dan masih terbuka lebar karena Rumput Laut merupakan bahan baku yang
penggunaannya luas dan banyak dibutuhkan oleh industri baik pangan maupun
non pangan dan dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk
diantaranya dapat diolah menjadi agar-agar, puding, alat kosmetik, farmasi, cat,
shampo, kertas, tekstil, pupuk hijau dan komponen pakan ternak atau ikan serta
masih banyak lainnya yang dapat memberikan nilai tambah baik dari sisi
pendapatan, peluang usaha serta kebutuhan masyarakat dan hasilnya pun
sangat menjanjikan. Kebutuhan pasar akan Rumput Laut ini sangat besar karena
kecenderungan permintaan pasar global yang terus meningkat dari waktu ke
waktu.
Budidaya rumput laut yang pada umumnya dapat dilakukan oleh para
petani/nelayan dalam pengembangannya memerlukan keterpaduan unsur-unsur
sub sistem, mulai dari penyediaan input produksi, budidaya sampai ke
pemasaran hasil. Keterpaduan tersebut menuntut adanya kerjasama antara
pihak-pihak yang terkait dalam bentuk kemitraan usaha yang ideal antara
petani/usaha kecil yang pada umumnya berada dipihak produksi dengan
Pengusaha Besar yang umumnya berada di pihak yang menguasai pengolahan
dan

pemasaran.

Usaha perikanan di Indonesia telah tumbuh dan berkembang dalam bentuk


usaha perikanan rakyat, dan perikanan besar milik pemerintah serta milik swasta
nasional atau asing. Perikanan rakyat merupakan usaha skala kecil yang
bercirikan antara lain pengelolaanya secara tradisional, produktivitas rendah dan
para umumnya tidak mempunyai kekuatan menghadapi kompetisi pasar.
Di lain pihak, perikanan besar yang memiliki teknologi skala usaha yang besar,
mengelola

usahanya

secara

modern

dan

teknologi tinggi,

sehingga

produktivitasnya tinggi dan mempunyai kekuatan untuk menghadapi persaingan


pasar. Kelemahan dari pengusaha perikanan kecil dan kekuatan dari pengusaha
perikanan besar, merupakan potensi yang bisa menciptakan kesenjangan
diantaranya. Karena dalam perkembangannya ada saling berkepentingan di

antara kedua pihak, kesenjangan yang bisa timbul akan dapat diperkecil dengan
mengadakan kemitraan antara pengusaha kecil perikanan rakyat dengan
pengusaha besar di bidang perikanan atau produk kelautan. Salah satu
komoditas yang masuk sebagai komoditas perikanan karena diusahakan di laut,
dan yang dapat dikembangkan dengan menjalin kerja sama kemitraan adalah
budidaya

rumput

laut.

Perairan laut Indonesia dengan garis pantai sekitar 81.000 km diyakini memiliki
potensi rumput laut yang sangat tinggi. Tercatat sedikitnya ada 555 jenis rumput
laut di perairan Indonesia, diantaranya ada 55 jenis yang diketahui mempunyai
nilai ekonomis tinggi, diantaranya Eucheuma sp, Gracilaria dan Gelidium
Jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan adalah eucheuma, sp dan
gracilaria. Di samping sebagai bahan untuk industri makanan seperti agar-agar,
jelly food dan campuran makanan seperti burger dan lain-lain, rumput laut adalah
juga sebagai bahan baku industri kosmetika, farmasi, tekstil, kertas, keramik,
fotografi, dan insektisida. Mengingat manfaatnya yang luas, maka komoditas
rumput laut ini mempunyai peluang pasar yang bagus dengan potensi yang
cukup besar. Permintaan rumput laut kering kurang 9.300 MT per tahun dan
untuk kebutuhan industri di luar negeri 15.000 s.d. 20.000 MT per tahun. Pabrik
pengolahan keragian rumput laut di Indonesia telah ada sejak tahun 1989.
Sekarang ini ada 6 pabrik pengolahan rumput laut di Indonesia, karena itu
pabrikan dan eksportir bersaing untuk memperoleh bahan baku rumput laut
kering.
Rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor merupakan sumber devisa
bagi negara dan budidayanya merupakan sumber pendapatan petani nelayan,
dapat menyerap tenaga kerja, serta mampu memanfaatkan lahan perairan pantai
di kepulauan Indonesia yang sangat potensial.

Kabupaten Bekasi merupakan salah satu sentra pengembangan budidaya


Gracilaria dan bandeng di Jawa Barat. Dua komoditas ini telah berkembang dan
dibudidayakan secara polikultur dengan sentra produksi di wilayah Kecamatan
Muara Gembong.
Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyebut bahwa potensi
pengembangan budidaya pola polikultur masih sangat besar karena banyak
lahan

kosong

eks

tambak

udang

yang

terbengkalai

dan

tidak

termanfaatkan. Selain itu, rumput laut juga merupakan sumber pangan dan
usaha padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja yang lebih optimal.
Komoditas ini menjadi salah satu produk unggulan yang diprioritaskan
pengembangannya pada tahun ini.
Budidaya rumput laut jenis Glacilaria juga didukung oleh harganya yang terus
mengalami peningkatan. Sekarang saja, akuinya harga rumput laut Gracilaria di
tingkat petambak tercatat mencapai Rp6.000 per kilogram. Sedangkan ditingkat
pabrik mencapai Rp7.100 per kg. Harga ini cenderung mengalami kenaikan
dibandingkan awal tahun lalu yang hanya sebesar Rp3.000 per kg.
"Pengembangan sentra budi daya rumput laut membutuhkan investasi yang
besar,apalagi jika ditujukan untuk memperluas areal lahan budidaya," ujar
Slamet.
Data mencatat bahwa produktivitas dari setiap hektar lahan, produksi rumput laut
kering diperkirakan mencapai 2 ton dengan masa panen bervariasi, yakni rumput
laut selama 45 hari, sementara untuk bandeng butuh waktu panen 6 bulan, dan
udang windu selama 4 bulan. Dengan metode budi daya polikultur (three in one)

selain dapat meningkatkan produktivitas, sistem polikultur ini juga dapat


menekan biaya operasional serta resiko yang ditimbulkan oleh serangan penyakit
pada udang atau pun bandeng sehingga dinilai lebih efisien.
D. Peran Pemerintah dan UKM
Sebagai negara kepulauan, maka pengembangan rumput laut di Indonesia dapat
dilakukan secara luas oleh para petani/nelayan. Namun adanya permasalahan
dalam pembudidayaan rumput laut seperti pengadaan benih, teknis budidaya,
pengolahan pasca panen dan pemasarannya, maka untuk pengembangan usaha
budidaya rumput laut ini para petani/nelayan perlu melakukannya dengan pola
PKT (Proyek Kemitraan Terpadu) dimana para petani/nelayan bekerjasama
menjalin kemitraan dengan pengusaha besar rumput laut.
Melihat kepada permasalahan yang terjadi di daerah Muaragembong dan
kemungkinan di seluruh daerah pesisir Indonesia, maka perlu dilakukan
perubahan pola hidup dari nelayan itu sendiri. Perubahan itu tidak akan mungkin
terjadi apabila tidak ada pihak yang berusaha untuk membantu merubahnya. Di
sinilah diperlukannya peranan penyuluh untuk menyadarkan atau membantu
merubah

pola

kehidupan

nelayan.

Dalam

pelaksanaannya

sebuah

proses penyuluhan harus dimulai dari pemahaman masyarakat terhadap potensi


dan masalah yang dihadapinya, sehingga terdorong untuk mengupayakan
pemecahan masalah melalui pengembangan semua potensi yang dimilikinya.
Pada

tahap

inilah

dimulai

peran

seorang

penyuluh

untuk

membantu

meningkatkan kesejahteraan nelayan. Di Kecamatan Muaragembong sendiri


sampai saat ini belum terdapat penyuluh PNS yang menangani bidang
perikanan. Sejauh ini pembinaan terhadap nelayan sendiri masih dilakukan oleh
dua orang Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK) yang bekerja di
Muaragembong sejak tahun 2012 dan dibantu oleh satu orang Penyuluh THL-TB
PP.
Dilihat dari hasil tangkapan yang lumayan besar pada musim tangkap,
seharusnya nelayan tidak perlu mengalami kesulitan yang sangat besar dalam
hal keuangan apabila mereka mampu dan mau mengelola keuangannya dengan
baik. Maka penyuluhan yang perlu dilakukan di Kecamatan Muaragembong ini
adalah dengan cara mengarahkan nelayan-nelayan tersebut untuk menabung
dan mengarahkan nelayan untuk membuat usaha yang dikelola oleh Kelompok
Usaha

Bersama

(KUB).

Sebagai

contoh

membuat

usaha

penyediaan

perlengkapan alat tangkap, karena walaupun daerah nelayan, di Muaragembong


ini hanya sedikit toko yang menyediakan peralatan tangkap. Tetapi sejauh ini
kegiatan yang sudah berjalan untuk melakukan perubahan pola hidup tersebut
hanya kegiatan menabung.
Dalam upaya mendukung percepatan industrialisasi perikanan dan bentuk
perhatian kepada pembangunan perikanan di Kabupaten Bekasi, Kementrian
Kelautan dan Perikanan (KKP) menyerahkan beberapa bantuan senilai Rp 2,7
miliar. Bantuan diberikan sebagai stimulan untuk mendorong peningkatan
produksi dan nilai tambah dari produk yang dihasilkan sehingga dapat
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Bantuan
yang

diberikan

meliputi

Pengembangan

Usaha Mina Pedesaan

(PUMP)

perikanan budidaya dan perikanan tangkap, vaksin Aeromonas hydrophilla, paket


calon induk nila dan lele, benih udang windu, peralatan sistem rantai dingin,
sarana pemasaran bergerak roda tiga, chest freezer, cool box, paket bantuan
penyelenggaraan pelatihan budidaya lele, kartu nelayan serta paket bantuan
penyelenggaraan penyuluhan kelautan dan perikanan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN