Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL PENELITIAN KAJIAN PRAGMATIK

TINDAK TUTUR HARFIAH DAN TIDAK HARFIAH PADA NOVEL


TARIAN BUMI

Oleh :
Niken Kusumaningtyas
2101413062
PBSI Rombel 2

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

JUDUL PENELITIAN
TINDAK TUTUR HARFIAH DAN TIDAK HARFIAH PADA NOVEL TARIAN BUMI (KAJIAN
PRAGMATIK)
LATAR BELAKANG
Manusia menggunakan bahasa sebagai alat untuk berinteraksi dengan manusia lainnya
dalam kehidupan bermasyarakat, karena pada hakikatnya bahasa digunakan sehari-hari oleh
manusia untuk berkomunikasi, baik komunikasi secara lisan maupun tertulis. Dengan adanya
bahasa akan memudahkan manusia untuk menyampaikan apa yang dia maksudkan, sehingga
akan terjadi interaksi antara penutur dan rekan tuturnya. Hal ini sesuai dengan pendapat P.W.J.
Nababan (1993 : 40) bahwa fungsi bahasa yang paling mendasar adalah untuk berkomunikasi,
sebagai alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia sehingga terbentuk suatu sistem sosial
atau masyarakat. Hal tersebut juga berlaku pada tindak tutur bahasa yang digunakan oleh penulis
dalam novelnya untuk menyampaikan informasi atau ekspresi yang dituangkan ke dalam tulisan
agar pembacanya mengerti maksud dari si penulis.
Perlunya kajian pragmatik dalam analisis tindak tutur yang ditulis dalam novel adalah
untuk membantu dalam menafsirkan maksud isi cerita yang disampaikan penulis secara tertulis.
Hal ini karena pragmatik adalah kajian mengenai hubungan di antara tanda (lambang) dan
penafsirannya.
Tindak tutur dalam kajian pragmatik sendiri merupakan hal penting dalam kajian
pragmatik. Mengujarkan sebuah tuturan tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan
(mempengaruhi, menyuruh), di samping memang mengucapkan atau mengujarkan tuturan itu.
Atas dasar sejumlah kriteria, ada beberapa jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur konstatif,
performatif, lokusi, ilokusi, perlokusi, representatif, direktif, ekspresif atau evaluatif, komisif,
deklarasi atau establisif atau isbati, langsung, tidak langsung, langsung harfiah, langsung tidak
harfiah, tidak langsung harfiah, dan tidak langsung tidak harfiah (Rustono 1999:31).
Sesuai dengan judul penelitian Tindak Tutur Harfiah dan Tidak Harfiah Pada Novel
Tarian Bumi Karya Oka Rusmini ini, jenis tindak tutur yang akan dianalisis adalah tindak tutur
harfiah dan tidak harfiah. Yang dimaksud tindak tutur harfiah (literal speech act) adalah tindak
tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Sedangkan tindak tutur
tidak harfiah adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan makna kata-kata yang
menyusunnya.

Dengan menganalisis jenis tindak tutur harfiah dan tidak harfiah pada novel Tarian Bumi
karya Oka Rusmini ini, selain untuk mengupas tuturan harfiah dan tidak harfiah yang dituturkan
oleh tokoh pada novel ini, juga penelitian ini diharapkan dapat membantu memahami isi cerita
pada novel ini berdasarkan dengan tindak tutur yang maksudnya sama (harfiah) maupun yang
maksudnya tidak sama (tidak harfiah).
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang penelitian ini, maka pokok permasalahan yang terdapat dalam
akan dibicarakan, yaitu:
a. Apakah yang disebut dengan tindak tutur harfiah dan tidak harfiah.
b. Sinopsis novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini.
c. Bagaimanakah bentuk tindak tutur harfiah dan tidak harfiah yang terdapat dalam novel
Tarian Bumi karya Oka Rusmini.
d. Bagaimanakah deskripsi makna pragmatis dari tindak tutur yang terjadi dalam dialog novel
Tarian Bumi karya Oka Rusmini.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah:
a. Untuk menganalisis tindak tutur harfiah dan tidak harfiah yang terdapat dalam dialog novel
Tarian Bumi karya Oka Rusmini.
b. Mendeskripsikan bentuk makna pragmatis dari tindak tutur harfiah dan tak harfiah yang
diujarkan oleh para tokoh dalam dialog Tarian Bumi karya Oka Rusmini.
MANFAAT PENELITIAN
Sebuah penelitian dikatakan berhasil apabila bermanfaat bagi peneliti, ilmu pengetahuan,
dan masyarakat.

Manfaat Teoretis
1. Memperkaya referensi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu bahasa yang berkenaan
tentang bentuk tindak tutur dalam makna pragmatis dari suatu ujaran.
2. Menambah wawasan pembaca dan peneliti tentang realitas sosial yang digambarkan di
dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini.

3. Menambah wawasan dan pengetahuan pembaca terutama sebagai acuan dalam penelitian
mengenai wacana novel yang berhubungan dengan makna pragmatik.

Manfaat Praktis
1. Dapat dijadikan referensi untuk penelitian mengenai kajian prakmatik khususnya
mengenai tindak tutur harfiah dan tidak harfiah.

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka mengenai penelitian tindak tutur harfiah dan tidak harfiah pada novel
dapat dikatakan masih minim bahkan penulis belum dapat menemukan penelitian dengan topik
yang sama. Sehingga penulis mengambil penelitian dengan topik yang hamper sama.
Penelitian yang diambil untuk dijadikan tinjauan pustaka pada penelitian Tindak Tutur
Harfiah dan Tidak Harfiah Pada Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini ini adalah penelitian
milik Riyana Widya Hapsari (2014) dengan judul penelitian Analisis Tindak Tutur dalam Novel
Jaring Kalamangga Karya Suparto Brata. Penelitian tersebut sama-sama mengangkat topik
mengenai tindak tutur yang terdapat pada sebuah novel, walaupun tidak secara khusus mengenai
tindak tutur harfiah dan tidak harfiah seperti yang penulis angkat menjadi topik penelitian ini.
KAJIAN TEORI
Pragmatik
Pragmatik pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf yang bernama Charles
Morris. Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa
sekarang ini walaupun pada sekitar dua dasawarsa yang silam ilmu ini jarang atau
hamper tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin
sadarnya linguis bahwa upaya menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang
diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik (wijana, 1996:4).
Definisi pragmatik yang paling tua dikemukakan oleh Moris (1938), menurut
beliau, pragmatik adalah cabang semiotik yang memperlajari relasi tanda dan
penafsirannya (Levisson 1983:1). Jadi, pragmatik merupakan bagian ilmu tanda atau
semiotik. Kekhususan bidang ini adalah penafsiran atas tanda atau bahasa.
Batasan pragmatik yang menonjol baru dikemukakan oleh Leech (1983), dalam
bukunya yang berjudul Principles of Pragmatics, ia mengemukakan bahwa pragmatik
adalah studi mengenai makna ujaran di dalam situasi-situasi tertentu. Leech (1983) juga
menuliskan bahwa pragmatik adalah studi tentang makna di dalam hubungannya dengan
situasi ujar. Tampak bahwa kedua batasan itu mengeksplisitkan makna, yang kemudian di

dalam pragmatik itu disebut maksud. Selanjutnya, keberadaan maksud itu amat
bergantung kepada situasi ujar (Rustono 1999:1).
Jadi dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan kajian mengenai hubungan
antara tanda (lambang) dan penafsirannya yang berkaitan dengan konteks yang

berorientasi pada tujuan atau maksud.


Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik. Pentingnya
dan sentralnya itu tampak di dalam peranannya bagi analisis topik pragmatik lain. Chaer
dan Agustina (2010: 50) mendefinisikan tindak tutur sebagai gejala individual yang
bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur
dalam menghadapi situasi tertentu. Tindak tutur ini lebih menitikberatkan pada makna
atau arti tindak dalam suatu tuturan. Tindak tutur dapat berwujud suatu pertanyaan,
perintah, maupun pernyataan.
Menurut Hymes (via Chaer, 2010:48) ada delapan komponen yang harus dipenuhi
dalam peristiwa tindak tutur yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkai menjadi
akronim SPEAKING. Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut.
1. S = Setting and scene
Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene
mengacu pada situasi psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang
berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda.
2. P = Participants
Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bias pembicara atau
pendengar, penyapa atau pesapa, atau pengirim dan penerima (pesan).
3. E = Ends : purpose and goal
Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan.
4. A = Act sequences
Act sequences mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini berkenaan
dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya, dan hubungan antara
apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan.
5. K = Key : tone or spirit of act
Key, mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan disampaikan:
dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan

mengejek dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh atau
isyarat.
6. I = Instrumentalities
Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan,
tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada kode
ujaran yang digunakan, seperti bahasa, dialek, fragam, atau register.
7. N = Norm of interaction and interpretation
Norm of interaction and interpretation, mengacu pada norma atau aturan dalam
berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan
sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.
8. G = Genre
Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa,
dan sebagainya.
Alasan ditampilkannya istilah tindak tutur adalah bahwa di dalam mengucapkan
suatu ekspresi, pembicara tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan
ekspresi itu. Dalam pengucapan ekspresi itu ia juga menindakkan sesuatu (Purwo
1990:19). Dengan mengacu kepada pendapat Austin (1962), Gunawan (1994:43)
menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan
tindakan (act), di samping memang mengucapkan (mengujarkan) tuturan itu.
Demikianlah, aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan maksud tertentu itu
merupakan tindak tutur (speech act).
Atas dasar sejumlah kriteria, ada beberapa jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur
konstatif, performatif, lokusi, ilokusi, perlokusi, representatif, direktif, ekspresif atau
evaluatif, komisif, deklarasi atau establisif atau isbati, langsung, tidak langsung, langsung
harfiah, langsung tidak harfiah, tidak langsung harfiah, dan tidak langsung tidak harfiah

(Rustono 1999:31).
Tindak Tutur Harfiah dan Tidak Harfiah
Tindak tutur harfiah (literal speech act) adalah tindak tutur yang maksudnya sama
dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Sedangkan tindak tutur tidak harfiah
(nonliteral speech act) adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama (berlawanan)
dengan kata-kata yang menyusunnya (Rustono 1999:42). Sebagai contoh dapat dilihat
kalimat berikut:

1) Penyanyi itu suaranya bagus.


2) Suaramu bagus (tapi kamu tidak usah menyanyi)
Kalimat tuturan (1) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi suara
penyanyi yang dibicarakan, maka tindak tutur harfiah. Sedangkan kalimat tuturan (2)
penutur bermaksud mengatakan bahwa suara lawan tuturnya jelek, yaitu dengan
mengatakan Tak usah menyanyi. Tindak tutur pada kalimat tuturan (2) merupakan
tindak tutur tidak harfiah.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah library research (penelitian kepustakaan), yaitu penelitian
yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) baik berupa buku,
catatan, maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu. Studi ini mendasarkan
kepada studi kepustakaan (library research). Library research merupakan serangkaian
kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan
mencatat serta mengolah bahan penelitiannya. Ia merupakan suatu penelitian yang
memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitiannya (Mustika Zed

2004:2).
Sumber Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan variabel penelitian novel Tarian Bumi
karya Oka Rusmini. Adapun yang menjadi objek penelitian adalah penggunaan tindak
tutur harfian dan tidak harfiah dalam percakapan antar tokoh pada novel Tarian Bumi
karya Oka Rusmini.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kulitatif. Data kualitatif
adalah data yang tidak berbentuk angka yang diperoleh dari rekaman, pengamatan,
wawancara atau bahan tertulis (Dekdikbud, 1996: 113). Menurut Moelong (2012:157)
sumber data kualitatif adalah kata kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan
seperti dokumen dan lain lain.
Sumber data adalah asal data diperoleh. Data penelitian digolongkan menjadi data
primer dan data sekunder. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Tarian Bumi
karya Oka Rusmini.

Alat pengukuran atau pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber
informasi yang dicari. Dalam penelitian ini,yang dijadikan data adalah kutipan-kutipan
dialog tuturan tokoh dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan dokumen,
penulis akan melakukan identifikasi wacana dari buku-buku, makalah atau artikel,
majalah, jurnal web (internet), ataupun informasi lainnya yang berhubungan dengan judul
penulisan. Maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mengumpulkan data-data baik melalui buku, dokumen, makalah atau artikel
(internet).
2) Menganalisis data-data tersebut sehingga penulis dapat menyimpulkan mengenai
topik yang dikaji.

Teknik Pengolahan Data


Setelah dilakukan pengumpulan data, maka kegiatan selanjutnya adalah
menganalisis data tersebut untuk mendapatkan kesimpulan penelitian. Adapun analisis
data dalam penelitian Tindak Tutur Harfiah dan Tidak Harfiah pada Novel Tarian Bumi
ini menggunakan metode analisis deskriptif, hal ini disebabkan karena penerapan metode
kualitatif pada penelitian ini karena data yang dikumpulkan berupa tuturan tokoh (katakata) pada novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Metode analisis deskriptif merupakan
usaha untuk mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis
terhadap data tersebut (Winarno Surachman 1990:139). Laporan penelitian nantinya akan
berisi kutipan-kutipan data dan pengolahan data untuk member gambaran penyajian
laporan tersebut.

Definisi Operasional
1. Tindak Tutur
Tidak tutur merupakan dasar dasar bagi analisis topik-topik pragmatic lain seperti
praanggapan, perikutan, implikatur, percakapan, prinsip kerja sama, prinsip
kesantunan, dan lain sebagainya (Rustono 1999:32). Sedangkan Gunarwan (1994:43)
(dalam Rustono 1999:32) menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat
dilihat sebagai melakukan tindakan (act), di samping memang mengucapkan

(mengujarkan) tuturan itu. Dengan demikian, aktivitas mengucapkan atau menuturkan


tuturan dengan maksud tertentu itu merupakan tindak tutur atau tindak ujar (speech
act).
Berkenaan dengan macam-macam maksud yang mungkin dikomunikasikan,
Leech (1983) berpendapat bahwa sebuah tindak tutur hendaknya mempertimbangkan
lima aspek situasi tutur yang mencangkupi : (1) penutur dan mitra tutur, (2) konteks
tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan
(5) tuturan sebagai produk tindak verbal.
Atas dasar sejumlah kriteria, ada beberapa jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur
konstatif, performatif, lokusi, ilokusi, perlokusi, representatif, direktif, ekspresif atau
evaluatif, komisif, deklarasi atau establisif atau isbati, langsung, tidak langsung,
langsung harfiah, langsung tidak harfiah, tidak langsung harfiah, dan tidak langsung
tidak harfiah (Rustono 1999:31).
2. Tindak Tutur Harfiah dan Tidak Harfiah
Tindak tutur harfiah (literal speech act) adalah tindak tutur yang maksudnya sama
dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Seperti contoh, Makan hati!, yang
diujarkan seorang ibu kepada anaknya yang sedang makan dan di atas meja tersedia
rending hati, tuturan yang demikian merupakan contoh dari tindak tutur harfiah
(Rustono 1999:42).
Sedangkan tindak tutur tidak harfiah adalah tindak tutur yang maksudnya tidak
sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Seperti contoh tuturan, Orang itu
tinggi hati., yang diucapkan penutur kepada seseorang yang tidak mudah diajak
bergaul, tuturan yang demikian merupakan tindak tutur tidak harfiah (Rustono
1999:42).
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
1. Bab Pertama
Pada bab pertama penelitian Tindak Tutur Harfiah dan Tidak Harfiah pada Novel
Tarian Bumi karya Oka Rusmini ini akan memuat hal-hal sebagai berikut:
1) Latar Belakang, berisi alasan diangkatnya topik penelitian mengenai tindak tutur
harfiah dan tidak harfiah yang terdapat pada novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini.
2) Rumusan Masalah, berupa pertanyaan atau masalah yang hendak diteliti atau
dipecahkan dengan diandakannya penelitian mengenai tindak tutur harfiah dan tidak
harfiah yang terdapat pada novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini ini.

3) Tujuan Penelitian. Tujuan ini merujuk pada rumusan masalah, dengan kata lain tujuan
dari penelitian bergantung pada rumusan masalah yang dibuat sebelumnya.
4) Manfaat. Manfaat penelitian ini mencangkup hal-hal apa yang akan didapat setelah
tercapainya tujuan penelitian mengenai tindak tutur harfiah dan tidak harfiah yang
terdapat pada novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Manfaat penelitian ini berupa
manfaat secara teoretis dan manfaat praktis.
2. Bab Kedua
Pada bab kedua penelitian ini akan memaparkan mengenai kajian pustaka dan
landasan teori mengenai kajian pragmatik tindak tutur harfiah dan tidak harfiah. Kajian
pustaka berasal dari penelitian yang sudah ada sebelumnya mengenai penelitian tindak
tutur lebih khususnya mencangkup tindak tutur harfiah dan tidak harfiah. Sedangkan
untuk landasan teori pada penelitian ini digunakan teori-teori yang bersumber dari
berbagai buku kajian pragmatik.
3. Bab Ketiga
Bab ketiga penelitian mengenai tindak tutur harfiah dan tidak harfiah yang
terdapat pada novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini ini memuat metodologi penelitian
yang digunakan. Metodologi penelitian tersebut memuat jenis penelitian yang digunakan,
data dan sumber data penelitian, definisi operasional, teknik pengumpulan data, dan
teknik pengolahan data pada penelitian mengenai tindak tutur harfiah dan tidak harfiah
yang terdapat pada novel Tarian Bumi ini.
4. Bab Keempat
Pada bab keempat ini memuat pembahasan dari tindak tutur harfiah dan tidak
harfiah yang terdapat pada novel Tarian Bumi. Dari data temuan yang telah dicantumkan
pada bab sebelumnya, data temuan tersebut kemudian dibahas supaya rumusan masalah
pada bab pertama terpecahkan dengan analisis masalah menggunakan landasan teori
sehingga dapat ditarik kesimpulan pada akhirnya.
5. Bab Kelima
Bab kelima atau bab terakhir pada penelitian ini akan memuat simpulan mengenai
pembahasan pada bab sebelumnya yakni Tindak Tutur Harfiah dan Tidak Harfiah Pada
Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini. Setelah dijabarkan kesimpulan dari penelitian
ini, maka yang terakhir adalah penulis mencantumkan saran yang dapat berguna baik bagi
penulis maupun pembaca penelitian ini nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Rustono. 1999. Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: IKIP Semarang Press.

Rusmini, Oka. 2007. Tarian Bumi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.


Abdul Chaer dan Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta : Depsikbud.