Anda di halaman 1dari 52

PROPOSAL

EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


KEPEMIMPINAN TINGKAT IV PADA BALAI DIKLAT
LAMPUNG

Proposal yang Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


dalam Penilaian Tugas Akhir Mata Kuliah Evaluasi Program

SOLIHIN
7816130669

PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas


limpahan rahmat dan hidayahNya , penulis dapat menyelesaikan proposal
yang

berjudul

Evaluasi

Program

Pendidikan

Dan

Pelatihan

Kepemimpinan Tingkat IV Pada Balai Diklat Lampung ini dengan


baik. Proposal ini merupakan salah satu syarat dalam memenuhi sebagian
persyaratan dalam penilaian tugas akhir mata kuliah Evaluasi Program.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr Mucklas Suseno,
M.Pd dan Dr. Komarudin, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah
Evaluasi Program, karena atas bimbingan dan arahannya proposal ini bisa
terselesaikan. Penulis juga berterimakasih kepada rekan-rekan S2 PEP
Kerjasama Dikmen 2013 yang telah memotivasi dan banyak membantu
penulis dalam penyusunan proposal ini.
Penulis berharap proposal ini dapat berguna bagi diri pribadi
penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya, sehingga dapat
berperan dalam perkembangan keilmuan dalam bidang pendidikan.
Penulis menyadari bahwa proposal ini jauh dari sempurna, untuk itu
penulis berharap adanya masukan dari para pembaca yang bersifat
membangun demi kesempurnaan proposal ini.

Jakarta, 1 Juli 2014

Solihin

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...........................................................................
KATA PENGANTAR..........................................................................

DAFTAR ISI.......................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah......................................................

B. Fokus Penelitian..................................................................

C. Rumusan Masalah..............................................................

D. Kegunaan Penelitian...........................................................

BAB II KAJIAN TEORITIK


A. Konsep Evaluasi Program...................................................

B. Konsep Program yang Dievaluasi.......................................

12

1. Evaluasi Kinerja.............................................................

12

2. Layanan Akademik........................................................

15

3. Pendidikan dan Latihan (Diklat).....................................

16

4. Penyelenggaraan Diklatpim IV......................................

18

5. Kompetensi....................................................................

21

6. Aparatur Pelayanan Publik............................................

23

C. Model Evaluasi Program.....................................................

24

D. Hasil Penelitian yang Relevan............................................

28

E. Kriteria Evaluasi...................................................................

30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Tujuan Penelitian.................................................................

27

B. Tempat dan Waktu Penelitian..............................................

27

C. Pendekatan, Metode, dan Desain Penelitian......................

27

D. Instrumen Penelitian
1. Kisi-kisi Instrumen..........................................................

38

2. Validasi Instrumen..........................................................

39

E. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data............................

41

F. Teknik Analisis Data.............................................................

42

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................

45

LAMPIRAN
Lampiran 1 : Pedoman Wawancara..................................................

47

Lampiran 2 : Angket/Kuesioner.........................................................

48

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sebagaimana

diketahui

bahwa

Bangsa

Indonesia

saat

ini

dihadapkan pada perubahan lingkungan strategis yang sangat dinamis


dan mempengaruhi birokrasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Salah
satu perubahan lingkungan strategis yang dimaksud adalah penerapan
paradigma

kepemerintahan

yang

baik

(good

governance)

yang

memberikan nuansa peran dan fungsi yang seimbang antara pemerintah,


swasta

dan masyarakat, dengan prinsip-prinsip tertentu. Menurut

Hartatiningsih

(2004:5)

prinsip

yang

mendasarinya

antara

lain

transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas.


Terselenggaranya kepemerintahan yang baik (good governance)
merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan
aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita-cita bangsa. Dalam
rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance)
dibutuhkan sumber daya aparatur yang bermutu dan profesional. Oleh
karena itu, setiap organisasi pemerintah berupaya membangun Sumber
Daya Manusia (SDM) agar dapat bekerja secara profesional dan memiliki
kompetensi yang tinggi, sebab SDM yang berkompeten menjadi syarat
unggulan organisasi sekaligus pendukung daya saing organisasi dalam
memasuki globalisasi yang kompetitif dan dinamis.
Untuk dapat membentuk sosok Pegawai Negeri Sipil tersebut perlu
dilakukan suatu pembinaan yang sifatnya berkelanjutan terhadap pegawai
negeri sipil yakni dari sejak pertama diangkat sebagai Calon Pegawai
Negeri Sipil sampai menjelang pensiun. Salah satu bentuk pembinaan
yang diberikan kepada pegawai negeri sipil adalah melalui program
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pendidikan

dan

pelatihan

penyelenggaraan

Pegawai
belajar

Negeri
mengajar

Sipil

ini

dalam

merupakan

rangka

proses

meningkatkan

kemampuan Pegawai Negeri Sipil. Pendidikan dan Pelatihan menjadi


penting untuk mewujudkan aparatur yang kompeten dan profesional, agar
mampu menghasilkan kinerja optimal melalui transformasi pengetahuan,
sikap dan keterampilan tertentu agar memenuhi syarat dan cakap dalam
melaksanakan pekerjaannya.
Balai Pendidikan dan Pelatihan Lampung sebagai lembaga teknis
daerah yang memiliki tugas pokok merumuskan kebijakan teknis dan
pengendalian di bidang pendidikan dan pelatihan aparatur daerah yang
meliputi perencanaan, penyelenggaraan diklat serta pengembangan
sistem diklat dituntut untuk lebih berperan aktif dalam mendukung
program pemerintah di bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia
aparatur yang tangguh dan dapat memberikan kontribusi positif dalam
tugas pekerjaan yang dihadapinya. Untuk melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya Balai Pendidikan dan Pelatihan Lampung melaksanakan
pengembangan program Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat
IV. Dalam sistem kediklatan, evaluasi merupakan salah satu komponen
penting dan tahap yang harus ditempuh oleh lembaga diklat untuk
mengetahui keefektifan atau keberhasilan sebuah program pelatihan.
Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat dijadikan feed-back dalam
memperbaiki dan menyempurnakan program diklat. Pada dasarnya
evaluasi bertujuan untuk memperoleh informasi yang tepat sebagai bahan
pertimbangan dalam program secara keseluruhan.
Balai Pendidikan dan Pelatihan Lampung menghadapi tugas-tugas
dan tantangan dan tuntutan pelayanan yang tidak ringan di masa yang
akan datang. Hal itu disebabkan karena semakin berkembangnya
kebutuhan para stakeholder sebagai akibat dari perkembangan kehidupan
masyarakat. Untuk itu Balai Pendidikan dan Pelatihan Lampung
(selanjutnya dalam penulisan ini disebut Balai Diklat Lampung) sebagai
penyedia layanan perlu mengambil langkah-langkah persiapan dan

perencanaan yang matang dalam mewujudkan sasaran-sasaran program


pendidikan dan pelatihan yaitu agar yaitu terwujudnya sumber daya
aparatur yang berkemampuan dalam melaksanakan tugas dan fungsi
jabatannya. Sehingga peran lembaga kediklatan sebagai wahana
pembinaan dan pengembangan sumber daya aparatur menjadi amat
penting pula.
Apabila dikaji dari beberapa pelayanan yang harus disediakan
dalam penyelenggaraan status kediklatan, maka pelayanan akademik
merupakan pelayanan yang secara langsung berpengaruh pada produk
inti (core product) yaitu sumber daya aparatur negara pada jajaran
pemerintah daerah propinsi Lampung yang terlatih.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dikemukakan
beberapa fokus penelitian yang mengarah pada proses pelaksanaan
evaluasi diklat. Dalam sistem kediklatan sebagaimana dikemukakan oleh
Budiandono, terdapat terdapat lima proses yang saling berhubungan,
yaitu

proses

penentuan

kebutuhan

diklat,

proses

penetapan

pelembagaan diklat, proses perencanaan desain program diklat, proses


pelaksanaan penyelenggaraan diklat, dan proses pelaksanaan evaluasi
Diklat. (Budiandono,1986:24).
Penelitian di sini diarahkan pada proses pelaksanaan evaluasi
penyelenggaraan diklat jenjang Diklat Kepemimpinan, yaitu pelayanan
akademik penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV pada Balai Diklat
Lampung tahun 2013.
C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah dan fokus penelitian di atas,
dirumuskan masalah dalam penelitian ini :
1. Bagaimana kinerja pelayanan akademik dalam penyelenggaraan
Diklatpim Tingkat IV di Balai Pendidikan dan Pelatihan Lampung ?

2. Aspek pelayanan akademik apa yang menjadi kendala dalam


pelayanan akademik Diklatpim Tingkat IV di Balai Pendidikan dan
Pelatihan Lampung ?
3. Bagaimana tingkat efisiensi dan efektivitas kinerja pelayanan
akademik dalam penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV di Balai
Pendidikan dan Pelatihan Lampung?
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian evaluatif tentang program Diklatpim Tingkat IV di Balai
Pendidikan dan Pelatihan Lampung ini diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut :
1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah khasanah
keilmuan berdasarkan kajian empirik tentang pelayanan di bidang
pendidikan dan pelatihan aparatur.
2. Sebagai bahan masukan bagi lembaga Balai Diklat Lampung dan
instansi lain yang berkompeten di bidang kediklatan aparatur agar
dapat lebih memantapkan peran lembaga kediklatan secara tepat.

BAB II
KAJIAN TEORITIK

A. Konsep Evaluasi Program


Secara teoritis evaluasi menurut Zainal Arifin (2009:5) adalah
suatu proses sistemis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai
dan arti) dari sesuatu. Evaluasi merupakan kegiatan mencari sesuatu
yang berharga tentang sesuatu; dan dalam mencari sesuatu tersebut, juga
mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu
program, produksi, prosedur, serta alternatif strategi yang diajukan untuk
mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Evaluasi merupakan kegiatan
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya
informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat
dalam mengambil sebuah keputusan. Ada tiga konsep yang sering dipakai
dalam melakukan evaluasi, yakni tes, pengukuran, dan penilaian (test,
measurement,and assessment).
Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 3) program didefinisikan
sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau
implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang
berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan
sekelompok orang. Dalam konsep ini, terdapat tiga pengertian penting
yang perlu ditekankan dalam menentukan suatu program, yakni:
a. Realisasi atau implementasi suatu kebijakan,
b. Terjadi dalam waktu yang relatif lama
c. Terjadi dalam organisasi yang melibatkan orang banyak
Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal, melainkan
kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan.
Program merupakan sebuah sistem dimana sistem itu sendiri merupakan
satu kesatuan dari beberapa bagian atau komponen program yang saling

kait mengkait dan bekerja satu dengan yang lainnya untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan dalam sistem. Program terdiri dari komponen
yang saling kait mengkait dan saling menunjang dalam rangka mencapai
suatu tujuan.
Menurut Cronbach dan Stufflebeam dalam Suharsimi Arikunto,
(2009: 4) evaluasi program merupakan upaya menyediakan informasi
untuk

disampaikan

pada

pengambil

keputusan.

Dalam

bidang

pendidikan, Tyler mengemukakan bahwa evaluasi program merupakan


proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan dapat tercapai.
Dengan

demikian

evaluasi

program

pendidikan

merupakan

rangkaian kegiatan yang dilakukan secara cermat untuk mengetahui


mengetahi

efektivitas

masing-masing

komponennya.

Ada

empat

kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam


pelaksanaan sebuah program keputusan yaitu menghentikan program,
merevisi program, melanjutkan program, atau menyebarluaskan program.
Evaluasi

program

pembelajaran

merupakan

suatu

proses

untuk

mendapatkan informasi tentang hasil pembelajaran. Fokus evaluasi


pembelajaran adalah pada hasil, baik hasil yang berupa proses maupun
produk. Informasi hasil pembelajaran ini kemudian dibandingkan dengan
hasil pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika hasil nyata pembelajaran
sesuai dengan hasil yang ditetapkan, maka pembelajaran dapat dikatakan
efektif/berhasil. Sebaliknya, jika hasil nyata pembelajaran tidak sesuai
dengan

hasil

pembelajaran

yang

ditetapkan,

maka

pembelajaran

dikatakan kurang efektif/ berhasil.


1. Elemen-elemen Evaluasi Program
Evaluasi merupakan tahapan dalam sebuah pelatihan dimana hasil
dari evaluasi menjadi informasi bagi perancang pelatihan untuk membuat
pelatihan yang lebih baik. Untuk mengetahui keberhasilan sebuah
pelatihan, ada beberapa tahapan proses yang harus diacapi dalam

sebuah proses evaluasi. Menurut Brinkerhoff (1986:10) ada tujuh elemen


yang harus dilakukan dalam proses evaluasi antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penentuan fokus yang dievaluasi (focusing the evaluation)


Penyusunan desain evaluasi (desaigning the evaluation)
Pengumpulan informasi (collecting information)
Analisis dan Intepretasi informasi (analyzing and interpreting)
Pembuatan laporan (reporting information)
Pengelolaan informasi (managing evaluation)
Evaluasi untuk evaluasi (evaluating evaluation)
Dari pengertian di atas menunjukan bahwa dalam melakukan

evaluasi, pada tahap awal perlu untuk mengetahui fokus tentang apa yang
harus dievaluasi dan desain evaluasi yang akan digunakan. Hal ini
dimaksudkan agar terjadi suatu kejelasan tentang apa yang akan
dievaluasi

sehingga

berakibat

pada

penekanan

tentang

tujuan

diadakannya evaluasi. Selanjutnya diadakan pengumpulan informasi


berupa data-data, menganalisis, dan membuat interpretasi terhadap data
yang terkumpul dan selanjutnya membuat laporan. Hasil evaluasi tersebut
di evaluasi mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam melaksanakan
evaluasi secara keseluruhan.
2. Prinsip-prinsip Evaluasi Program
Prinsip-prinsip umum evaluasi menurut Zainal Arifin (2009:30-31)
antara lain kontinuitas, komprehensif, adil dan objektif, kooperatif dan
praktis.
a) Kontinuitas
Evaluasi harus dilakukan secara kontinu, karena proses pendidikan
juga merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Hasil evaluasi
yang diperoleh pada suatu waktu harus senantiasa dihubungkan
dengan hasil-hasil pada waktu sebelumnya, sehingga dapat
diperoleh gambaran yang jelas dan berarti tentang perkembangan
peserta didik.

b) Komprehensif
Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh pada suatu objek. Jika
objek tersebut adalah peserta didik, maka secara keseluruhan
kepribadian

peserta

didik

itu

harus

dievaluasi,

baik

yang

menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.


c) Adil dan Objektif
Evaluasi harus dilakukan secara adil dan objektif. Evaluasi harus
didasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya
bukan hasil manipulasi atau rekayasa.
d) Kooperatif
Pelaksanaan evaluasi harus melibatkan berbagai pihak yang
terlibat dalam proses evaluasi tersebut. Hal tersebut dimaksudkan
agar semua pihak merasa puas dengan hasil evaluasi, dan pihakpihak tersebut merasa dihargai.
e) Praktis
Alat evaluasi harus praktis dengan kata lain mudah digunakan baik
oleh perancang alat evaluasi maupun orang lain yang akan
menggunakan alat evaluasi tersebut.
3. Tujuan Evaluasi Program
Tujuan evaluasi menurut Soebagio Atmodiwirio (2005:207) evaluasi
bertujuan untuk : (a). Mendapatkan dan menganalisa informasi untuk
mengetahui pencapaian tujuan jangka panjang dan jangka pendek. (b).
Mengetahui pengaruh program pendidikan dan pelatihan terhadap
efisiensi dan efektifitas pelaksanaan tugas instansi peserta diklat.
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2001 :11) evaluasi atau
penilaian dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program
berhasil diterapkan. Dari pernyataan di atas dapat dijelaskan bahwa
tujuan evaluasi adalah untuk mengukur sebuah hasil dari suatu program
8

apakah sesuai dengan tujuan atau tidak, dan sebagai bahan masukan dan
informasi dalam perancangan program pelatihan selanjutnya. Ada empat
hal yang ditekankan pada pendapat tersebut antara lain:
1. Menunjuk pada penggunaan metode penelitian.
2. Menekankan pada hasil suatu program.
3. Penggunaan kriteria untuk menilai.
4. Kontribusi

terhadap

pengambilan

keputusan

dan

perbaikan

program pada masa yang akan datang.


Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan
evaluasi adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat dan objektif,
informasi yang terkumpul berupa proses pelaksanaan pelatihan, hasil
yang telah dicapai, dan efesiensi evaluasi itu sendiri. Dari informasi
tersebut, memiliki maksud untuk mengetahui apakah program pelatihan
dilanjutkan, diperbaiki atau dihentikan. Selain itu hasil evaluasi digunakan
untuk kepentingan penyusunan program pelatihan selanjutnya dan
penyusunan kebijakan tentang program pelatihan.
4. Manfaat Evaluasi Program
Wujud dari hasil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari
evaluator untuk pengambilan keputusan (decision maker).Suharsimi
Arikunto dan Cepi Safruddin AJ (2009:22) mengemukakan ada empat
kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam
pelaksanaan sebuah program keputusan, yaitu : a) Menghentikan
program,

karena

dipandang

bahwa

program

tersebut

tidak

ada

manfaatnya, atau tidak dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan.


b) Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai
dengan harapan (terdapat kesalahan tetapi hanya sedikit). c) Melanjutkan
program, karena pelaksanaan program menunjukan bahwa segala
sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil
yang bermanfaat. d) Menyebarluaskan program (melaksanakan program
di tempat-tempat lain atau mengulangi lagi program dilain waktu), karena

program

tersebut

berhasil

dengan

baik

maka

sangat

baik

jika

dilaksanakan lagi ditempat dan waktu yang lain.


5. Evaluator Program
Ada dua kemungkinan asal (dari mana) orang untuk menjadi
evaluator program ditinjau dari program yang akan dievaluasi. Masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menentukan asal
evaluator harus mempertimbangkan keterkaitan orang yang bersangkutan
dengan program yang akan dievaluasi. Berdasarkan pertimbangan
tersebut evaluator dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu
evaluator dalam dan evaluator luar.
Tabel. Evaluator Program
Evaluator Program
Evaluator Dalam
(Internal Evaluator)

Kelebihan
1. Memahami betul
program yang akan
dievalusi sehingga
kekhawatiran utuk
tidak tahu sasaran
tidak perlu ada.

Kekurangan
1. Adanya unsur
subjektivitas dari
evaluator

2. Karena sudah
mengetahui seluk
beluk program, jika
2. Evaluator adalah
evaluator yang
orang dalam,
ditunjuk kurang
sehingga pengambil
sabar, kegiatan
keputusan tidak
evaluasi akan
perlu banyak
dilaksanakan
mengeluarkan dana
dengan tergesauntuk membayar
gesa sehingga
petugas evaluasi
kurang cermat

Evaluator Luar
(External Evaluator)

1. Evaluator luar dapat 1. Evaluator luar


bertindaksecara
adalah orang baru
objektif selama
yang berusaha
melaksanakan
mengenal dan
evaluasi dalam
mempelajari seluk

10

mengambil
keputusan. Apapun
hasil evaluasi tidak
akan ada respons
emosional karena
tidak ada keinginan
untuk
memperlihatkan
bahwa program
tersebut berhasil.
Kesimpulan yang
dibuat akan lebih
sesuai dengan
keadaan dan
kenyataan
2. Seorang ahli yang
dibayar, biasanya
akan
mempertahankan
kredibilitas
kemampuannya.
Dengan begitu,
evaluator akan
bekerja secara
serius dan hati-hati.

beluk program.
Mungkin sekali
pada waktu
terdapat penjelasan
atau mempelajari isi
kebijakan, ada halhal yang kurang
jelas, dampak
ketidak jelasan
orang luar
memungkinkan
kesimpulan yang
akanmempertahank
an kredibilitas
kemampuannya.
Dengan begitu,
evaluator akan
bekerja secara
serius dan hati-hati.
diambil kurang
tepat.
2. Pemborosan,
pengambil
keputusan harus
mengeluarkan dana
yang cukup banyak
untuk membayar
evaluator luar

Sumber: Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin, (2009:24)

B. Konsep Program yang Dievaluasi


Berdasarkan

rumusan

permasalahan

di

atas,

maka

dalam

penelitian ini terdapat beberapa teori dalam kajian pustaka mengenai


konsep program yang dievaluasi. Teori evaluasi kinerja, teori pelayanan

11

akademik dan penyelenggaraan diklat, teori aparatur pelayanan publik


dan kompetensi.
1. Evaluasi Kinerja
Sebelum memahami evaluasi kinerja, sebaiknya dipahami kedua
kata evaluasi dan kinerja.
a. Evaluasi
Evaluasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai
menentukan nilai (Suharso, 2005: 136). Dalam Kamus Besar Balai
Pustaka evaluasi adalah penilaian (Tim Balai Pustaka,1989:238). Istilah
evaluasi dalam Modul Sitem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(Edisi Kedua) yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara
Republik Indonesia, dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal),
pemberian angka (rating) dan penilaian (assesment). Suatu evaluasi
mempunyai karakteristik tertentu yang membedakan dari analisis, yaitu:
fokus nilai, interdependensi fakta nilai, orientasi masa kini dan masa
lampau, dualitas nilai.
1) Fokus Nilai. Evaluasi ditujukan kepada pemberian nilai dari
sesuatu kebijakan, program maupun kegiatan. Evaluasi terutama
ditujukan untuk menentukan manfaat atau kegunaan dari suatu
kebijakan, program maupun kegiatan, bukan sekedar usaha untuk
mengumpulkan informasi mengenai sesuatu hal. Ketepatan suatu
tujuan maupun sasaran pada umumnya merupakan hal yang perlu
dijawab. Oleh karena itu suatu evaluasi mencakup pula prosedur
untuk mengevaluasi tujuan dan sasaran itu sendiri.
2) Interdependensi Fakta - Nilai. Suatu hasil evaluasi tidak hanya
tergantung kepada fakta semata namun juga terhadap nilai.
Untuk memberi pernyataan bahwa suatu kebijakan, program atau
kegiatan telah mencapai hasil yang maksimal atau minimal bagi
seseorang, kelompok orang atau masyarakat; haruslah didukung

12

dengan bukti-bukti (fakta) bahwa hasil kebijakan, program dan


kegiatan merupakan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang telah
dilakukan dalam mengatasi/memecahkan suatu masalah tertentu.
Dalam hal ini kegiatan monitoring merupakan suatu persyaratan
yang penting bagi evaluasi.
3) Orientasi Masa Kini dan Masa Lampau. Evaluasi diarahkan pada
hasil yang sekarang ada dan hasil yang diperoleh masa lalu.
Evaluasi tidaklah berkaitan dengan hasil yang diperoleh di masa
yang akan datang. Evaluasi bersifat retrospektif, dan berkaitan
dengan

tindakan-tindakan

Rekomendasi

yang

yang

dihasilkan

telah
dari

dilakukan

suatu

(ex-post).

evaluasi

bersifat

prospektif dan dibuat sebelum tindakan dilakukan (ex-ante).


4) Dualitas Nilai. Nilai yang ada dari suatu evaluasi mempunyai
kualitas ganda, karena

evaluasi

dipandang sebagai

tujuan

sekaligus cara. Evaluasi dipandang sebagai suatu rekomendasi


sejauh berkenaan dengan nilai-nilai yang ada (misalnya kesehatan)
dapat dianggap sebagai intrinsik (diperlukan bagi dirinya) ataupun
ektrinsik (diperlukan karena kesehatan mempengaruhi pencapaian
tujuan-tujuan yang lain).(LAN, 2004: 237-238). Slameto dalam
Evaluasi Pendidikan menjelaskan bahwa evaluasi merupakan sub
sistem dari sistem pengajaran yang terdiri dari: Tujuan Materi
Proses

Belajar

Mengajar

(PBM)

Evaluasi.

Selanjutnya

diterangkan bahwa Materi dan PBM dirancang untuk mencapai


Tujuan. Sedang evaluasi memegang peran penting yaitu untuk
menjamin relevansi Materi dan PBM dan untuk mengetahui
ketercapaian tujuan. Tujuan

dimaksud adalah perubahan siswa

kearah yang positif. (Slameto, 2001:5). Lebih lanjut diterangkan


bahwa

syarat-syarat

keterandalan

evaluasi

(reliable),

ada

obyektif,

yaitu:

seimbang,

Sahih

(valid),

membedakan

(discriminable), norma, fair dan praktis (Slameto, 2001:19-21).

13

b. Kinerja
Kinerja berasal dari bahasa Inggris performance. Dalam Kamus
Lengkap InggrisIndonesia, Indonesia-Inggris, diartikan: pertunjukan,
perbuatan,

daya

guna,

prestasi,

pelaksanaan,

penyelenggaraan,

pagelaran (Adi Gunawan, 2002:279). Kalau Performance Standard artinya


penilaian

prestasi,

standar-standar

pekerjaan

(Moekijat,1980:413).

Menurut Thomas C. Ale Winl dalam A. Dale Timpe, penyusunan standar


kinerja yang bersumber pada uraian jabatan akan memberi peluang
kepada pengawas dan karyawan untuk membuat sebuah uraian tugas
yang dinamis untuk pekerja.
Selanjutnya dia menyarankan bahwa penilaian kinerja harus
mengkaji kinerja kerja karyawan. (Ale Winl,1982: 544). Dimaksud dengan
kinerja dalam penelitian ini adalah tingkat capaian prestasi dari suatu
program atau kegiatan tertentu dari tugas kediklatan.
c. Evaluasi Kinerja
Evaluasi Kinerja dalam konteks Laporan Akuntabilitas Kinerja,
evaluasi kinerja dilakukan setelah tahapan Penetapan Indikator Kinerja
dan Penetapan Capaian Kinerja. Evaluasi kinerja diartikan sebagai suatu
proses umpan balik atas kinerja yang lalu dan mendorong adanya
produktivitas di masa yang akan datang (Kosasih, 2004:22). Evaluasi
Kinerja merupakan kegiatan lebih lanjut dari kegiatan Pengukuran Kinerja
dan pengembangan Indikator Kinerja. Oleh karena itu dalam melakukan
Evaluasi Kinerja harus berpedoman pada ukuran-ukuran dan indikator
yang telah ditetapkan bersama.(Kosasih, 2004:3)
Evaluasi Kinerja merupakan kegiatan untuk menilai atau melihat
keberhasilan dan kegagalan satuan organisasi/kerja dalam melaksanakan
tugas dan fungsi yang dibebankan kepadanya. Evaluasi Kinerja
merupakan analisis dan interpretasi keberhasilan atau kegagalan
pencapaian kinerja. Dalam melakukan evaluasi kinerja, hasilnya agar
dikaitkan dengan sumber daya (inputs) yang

berada di bawah

14

wewenangnya seperti SDM, dana/keuangan, sarana-prasarana, metode


kerja dan hal lain yang berkaitan. (Kosasih, 2004:3).
2. Pelayanan Akademik
Pengertian makna akademik dalam Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia (Tri Kurnia Nurhayati, 2005:23) dijelaskan: Akademik : bersifat
akademi; akademis. Sedang Akademis dimaknai sebagai: soal-soal
akademis: mengenai (berhubungan) dengan akademis; bersifat ilmiah;
bersifat ilmu pengetahuan; bersifat teori; tanpa arti praktis yang langsung.
Pelayanan akademik menurut Atmodiwiryo, (1993:68) disebut dengan
istilah kegiatan akademik. Selanjutnya dengan menyitir pendapat Kenneth
R. Robinson

dinyatakan bahwa

tahapan-tahapan

pendidikan

dan

pelatihan itu pertama, menentukan tujuan, kebijakan dan strategi diklat.


Kedua, proses diklat yang terdiri dari: - menentukan kebutuhan diklat; Merencanakan program; - Kegiatan Belajar dan Perilaku; Metode dan
teknik diklat; - evaluasi dan tindak lanjut diklat.
Dalam Encyclopaedia of Management Training, tahapan-tahapan
pengembangan sistem Pembelajaran ditegaskan: The various stages in
the Instructional Sistems Development approach used by the American
services will already be familiar to training staff. a. Analysis training need
are derived in relation to the requirement of each task job. Appropriate
performance criteria are established; b. Design objectives are difined,
structure, sequencing, determined, test devised; c. Development learning
media and methode are selected and training materials developed. d.
Implementation the instructional plan is put into effect; e. Control the
programmes are evaluated and sistem modivited as necessary.
Bermacam macam pendekatan dalam pengembangan system
pembelajaran yang sudah tidak asing lagi bagi para pelaksana di Amerika
Serikat, antara lain: a) Analisis kebutuhan Diklat yang dihubungkan
dengan kebutuhan masing-masing tugas dari jabatan yang dipangku,

15

mendekati kinerja yang telah ditentukan;b) Penentuan disain tujuan,


struktur

maupun

penetapan

urutan

sebagai

dasar

uji

coba;

c)

Pengembangan media dan metode pembelajaran diseleksi, selanjutnya


bahan diklat dikembangkan. d) Dalam pelaksanaan pembelajaran
berorientasi pada hasil belajar. e) Pengendalian terhadap program dapat
dievaluasi dan dimodifikasi sesuai kebutuhan.
dalam

pandangan

penyediaan

peneliti

meliputi

kurikulum, rekrutmen

pelayanan

Pelayanan akademik,
inti

(core

peserta, rekrutmen

service)

widyaiswara,

penyiapan hardware dan software, proses belajar mengajar, evaluasi


proses belajar mengajar. Pelayanan akademik merupakan tugas utama
kediklatan yang secara langsung mempengaruhi pada proses kediklatan
dan hasil kediklatan meliputi persiapan dan pelaksanaan.
3. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
Menurut Oemar Hamalik, (2005:10), konsep sistem pelatihan
secara operasional adalah: Proses yang meliputi serangkaian tindak
(upaya) yang dilaksanakan dengan sengaja dalam bentuk pemberian
bantuan kepada tenaga kerja yang dilakukan oleh tenaga profesional
kepelatihan dalam satuan waktu tertentu yang bertujuan meningkatkan
kemampuan kerja peserta dalam bidang pekerjaan tertentu guna
meningkatkan efektivitas, produktivitas dalam suatu organisasi. Sehingga
dengan demikian pelatihan terdapat unsur-unsur : proses disengaja
dalam rangka pemberian bantuan sasaran (peserta) pelatih yang
profesional

satuan

waktu

tertentu

bertujuan

meningkatkan

kemampuan tenaga kerja terkait dengan pekerjaan tertentu.


Menurut Kenneth R. Robinson dalam Atmodiwirio (1993: 2),
dinyatakan: Training, Therefore we are seeking by an instructional or
experiential means to developt a person behavior pattern in the areas of
knowledge, skill, or attitude in order to achieve a desire, standard.
Selanjutnya dikutip pula pendapat dari Robert L. Craig yang menyatakan,

16

training sebagai: What is more important is the man ability to past on other
the knowledge and skill gained in mastering circustomcess .. when the
massage was received by another successfully, we said that learning took
place and knowledge or skill was transfered. ( Atmodiwirio,1993:2).
Menurut James E Gardner menyatakan pula bahwa Diklat lebih
menekankan kepada belajar. Training can be defined broadly is the
techniques and arrangements aimed at fostering and expedieting learning.
The focus is on learning. (Atmodiwirio, 1993:3)Menurut Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian juncto Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun
1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang 8 Tahun 1974 tentang
Pokok-Pokok Kepegawaian, pasal 31 berbunyi: Untuk mencapai daya
guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya diadakan pengaturan dan
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jabatan Pegawai Negeri Sipil
yang bertujuan meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian, kemampuan,
dan keterampilan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000
tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil pada
pasal 1 disebutkan bahwa: Pendidikan dan pelatihan Jabatan Pegawai
Negeri

Sipil

yang

penyelenggaraan

selanjutnya

belajar

disebut

mengajar

dalam

Diklat

adalah

rangka

proses

meningkatkan

kemampuan Pegawai Negeri Sipil. Di Indonesia penyelenggaraan dan


tanggung jawab pendidikan diatur dalam Keppres Nomor 34 Tahun 1972
tentang Tanggung Jawab Fungsional Pendidikan dan Latihan, dan
ditindaklanjuti dengan Inpres Nomor 15 Tahun 1974 Tentang Pelaksanaan
Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1972, diatur bahwa :
a. Secara menyeluruh bersama-sama Team Koordinasi Pembinaan
Pendidikan dan Latihan, yang terdiri Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan sebagai Ketua merangkap Anggota, Menteri Tenaga
Kerja, Transmigrasi dan Koperasi sebagai Anggota dan Ketua
Lembaga Administrasi Negara sebagai Anggota.

17

b. Secara khusus mengenai pendidikan umum dan kejuruan bersamasama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; mengenai latihan
keahlian dan kejuruan tenaga kerja bukan Pegawai Negeri
bersama-sama Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi;
mengenai pendidikan khusus bagi Pegawai Negeri bersama-sama
Ketua

Lembaga

Administrasi

Negara.

Dalam

lampiran

IV,

disebutkan bahwa pendidikan yang dilakukan bagi Pegawai Negeri


untuk

meningkatkan

kepribadian,

pengetahuan

dan

kemampuannya sesuai dengan tuntutan persyaratan jabatan yang


pekerjaannya sebagai Pegawai Negeri. Sedang latihan Pegawai
Negeri ialah bagian yang dilakukan bagi Pegawai Negeri untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan
tuntutan persyaratan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri.

4. Penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV


Menurut Keputuasan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor
541/XIII/10/6/ 2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan
Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV pada Bab VI Penyelenggaraan huruf
B dinyatakan bahwa Diklatpim Tingkat IV dilaksanakan selama 5-6
minggu, 285 jam pelatihan @ 45 menit, dan peserta diasramakan. Adapun
proses penyelenggaraan diklatpim Tingkat IV telah dibakukan standar
prosesnya melalui 2 tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.
Tahap Persiapan dengan kegiatan-kegiatan:
1. Analisis kebutuhan Diklat;
2. Seleksi calon peserta;
3. Pengajuan rencana penyelenggaraan ke LAN;
4. Penetapan Peserta;
5. Persetujuan penyelenggaraan dari LAN;
6. Pemanggilan Peserta;
7. Rapat Koordinasi Penyelenggaraan;

18

8. Penyiapan akomodasi, pedoman dan bahan diklat;


9. Penetapan Jadwal dan Widyaiswara;
10. Rekonfirmasi Widyaiswara;
11. Persiapan pembukaan (re-cheking);
12. Administrasi Keuangan.
Tahap Pelaksanaan dengan kegiatan-kegiatan:
A. Pemantauan Umum Harian, terdiri dari:
1. Rekonfirmasi kesediaan mengajar;
2. Bio Data Widyaiswara (pengajar);
3. Pendamping/pemandu;
4. Absensi;
5. Kebersihan kelas;
6. Penyiapan ruang kelas dan kelengkapan kegiatan;
7. Penyiapan Ruang Diskusi dan kelengkapannya;
8. Modul-modul untuk peserta;
9. Pengadaan Bahan-bahan penugasan/latihan;
10. Perlengkapan perkantoran (ATK, komputer, fotocopy);
11. Memo;
12. Evaluasi Harian;
13. Sarana Olah raga dan perlengkapannya.
B. Pemantauan kegiatan Ekstern, dengan kegiatan:
1. Observasi Lapangan
2. Out Bound;
3. Ekstra Kurikuler;
C. Ujian, dengan kegiatan:
1. Memantau ketersediaan Bahan;
2. Pelaksanaan;

19

3. Petugas pengawas;
4. Koreksi;
5. Rekapitulasi nilai.
D. Evaluasi, dengan kegiatan:
1. Evaluasi terhadap peserta;
2. Hasil akhir kelulusan peserta;
3. Evaluasi terhadap widyaiswara;
4. Evaluasi kinerja penyelenggara;
5. Umpan balik;
E. Sertifikasi, dengan kegiatan:
1. Pencetakan dan Pengisian STTP;
2. Kode Registrasi;
3. Penandatanganan.
Menurut peneliti, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan
secara operasional adalah proses yang berawal dari penyiapan kurikulum,
penyediaan sarana dan prasarana, penetapan peserta,

penetapan

widyaiswara, pengendalian proses belajar mengajar dan evaluasi


penyelenggaraan baik berkenaan dengan faktor input, faktor proses
maupun output dan berakhir dengan pelaporan pada Balai Diklat
Lampung.

5. Kompetensi
Kompetensi berasal dari bahasa Inggris competence, yang berarti
kemampuan, keahlian, wewenang, dan kekuasaan. Hornby (1982: 172)
mengartikan sebagai person having ability, power, authority, skill,
knowledge to do what is needed. Bertolak dari pengertian ini maka

20

kompetensi dapat diberi makna, orang yang memiliki kemampuan,


kekuasaan, kewenangan, keterampilan, dan pengetahuan yang diperlukan
untuk melakukan suatu tugas tertentu. ( Ahmad Ghozali & Fuaduddin,
2004: 67).
Kompetensi menurut Steven M. Bornstein dan Antony F. Smith
dalam The Leader of The Future (2000: 286) adalah keahlian dalam hard
skill keterampilan khusus, seperti keterampilan teknis, fungsional,
content expertise skill, serta soft skill, seperti keterampilan interpersonal,
komunikasi, tim dan organisasi.
Menurut E. Mulyasa (2004:37) yang dimaksud kompetensi adalah
perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang
direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Selanjutnya beliau
bahwa setiap sekolah mendiskrepsikan kompetensi-kompetensi secara
jelas.

Kompetensi

tersebut

meliputi:

Kemampuan

untuk

belajar

mengetahui (learning to know); kemampuan untuk belajar melakukan


(learning to do); kemampuan belajar untuk hidup bersama(learning to live
together); kemampuan untuk menjadi diri sendiri (learning to be);
kemampuan untuk belajar seumur hidup (life long learning). (Mulyasa,
2005: 44).
Menurut

Derek

Lockwood

(1994:96),

manajemen

program

pelatihan yang efektif bila dari aspek peserta (clien) mampu menerapkan
pengetahuan dan keterampilan yang baru diperoleh secara langsung pada
pekerjaan segera setelah program pelatihan selesai.
Sedang menurut Keputusan Mendiknas RI Nomor 045/U/2002/
dalam Pendidikan Berbasis Kompetensi, yang dimaksud kompetensi
adalah seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang
dimiliki

oleh

seseorang

mengerjakan

tugas-tugas

Keputusan

Kepala

sebagai
di

syarat

bidang

Lembaga

kemampuannya

pekerjaan

Administrasi

untuk

tertentu.

Menurut

Negara

Nomor

541/XIII/10/6/2001, tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan


Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV, pada lampiran Bab I huruf C

21

mengenai kompetensi dinyatakan, bahwa kompetensi jabatan PNS adalah


kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri
Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang
diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya. Sesuai dengan tugas,
wewenang, dan tanggung jawab pejabat structural eselon IV dalam
penyelenggaraan

pemerintahan

dan

pembangunan,

maka

standar

kompetensi yang perlu dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil pemangku


jabatan struktural tersebut adalah kemampuan dalam:
a. menjelaskan kedudukan, tugas, dan fungsi organisasi instansi
dalam hubungannya dengan Sistem Administrasi Negara Republikn
Indonesia;
b. menerapkan konsep dan teknik pengorganisasian, dan koordinasi
dengan benar, baik dalam hubungan internal maupun eksternal;
c. mengoperasionalkan sistem dan prosedur kerja yang berkaitan
dengan pelaksanaan kebijakan dan tugas instansi;
d. melaksanakan prinsip-prinsip good governance dalam manajemen
pemerintahan dan pembangunan;
e. melaksanakan kebijakan pelayanan prima;
f. mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kewenangan dan
prosedur yang berlaku di unit kerjanya;
g. menerapkan prinsip dan teknik perencanaan, pengendalian,
pengawasan, dan evaluasi kinerja unit organisasi;
h. membangun kerjasama dengan unit-unit terkait, baik dalam
organisasi maupun luar organisasi untuk meningkatkan kinerja unit
organisasinya;
i. menerapkan teknik pengelolaan, penyampaian informasi dan
pelaporan yang efektif dan efisien;
j. memotivasi

SDM dan

atau

peran

serta

masyarakat guna

meningkatkan produktivitas kerja;


k. mendayagunakan kemanfaatan sumberdaya pembangunan untuk
mendukung kelancaran pelaksanaan tugas;

22

l. memberikan masukan bagi perbaikan dan pengembangan kegiatan


kepada atasannya.
Menurut peneliti yang dimaksud dengan kompetensi adalah
kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta Diklat selaku pemangku
jabatan tertentu dalam menjalankan tugas dari jabatannya itu meliputi
kompetensi individual, kompetensi professional dan kompetensi sosial.

6. Aparatur Pelayan Publik


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diterangkan: aparat
adalah alat, aparat pemerintah; perlengkapan. Sedang aparatur adalah
alat Negara, aparatur Negara, para pegawai (negeri) (Suharso dkk,
2005:48). Begitu pula halnya penjelasan dalam Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia (Tri Kurnia, 2005: 78). Menurut pengertian Undang-Undang
Pokok Kepegawaian Nomor 1 Tahun 1974, Pegawai Negeri meliputi ABRI
dan Sipil, tetapi menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 pada
pasal yang sama disebutkan bahwa Pegawai Negeri terdiri: Pegawai
Negeri Sipil; Anggota Tentara Nasional Indonesia; dan Anggota Kepolisian
Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu pemakaian nama pegawai
negeri yang bukan Anggota Tentara Nasional Indonesia Indonesia dan
bukan Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, disebut dengan
Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagaimana pada Ps.2(1). Pegawai Negeri
Sipil mempunyai kedudukan sebagai unsur Aparatur Negara, Abdi Negara,
dan Abdi Masyarakat yang penuh kesetiaan dan ketaatan kepada
Pancasila,

Undang-undang

Dasar

1945,

Negara

dan

Pemerintah

menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan.(ps.3). (Djoko


Prakoso, 1987: 582).
Sedang menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 pada
pasal yang sama tidak lagi abdi negara dan abdi masyarakat, tetapi
kedudukan Pegawai Negeri (1). Sebagai unsur aparatur negara yang

23

bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional,


jujur,

adil,

dan

pemerintahan,

merata

dan

dalam

penyelenggaraan

pembangunan.

Dalam

tugas

kedudukan

Negara,

dan

tugas

sebagaimana dimaksud dalam ayat satu diatas selanjutnya. (2). Pegawai


Negeri Sipil harus netral dari pengaruh semua golongan dan partai politik
serta

tidak

diskriminatif

dalam

memberikan

pelayanan

kepada

masyarakat. (3). Untuk menjamin netralitas Pegawai Negeri sebagaimana


dimaksud dalam ayat (2), Pegawai Negeri dilarang menjadi anggota dan/
atau pengurus partai politik. Jika diperhatikan dalam ketentuan Peraturan
Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai
Negeri Sipil pada Kewajiban Pegawai Negeri Sipil, antara lain pada butir:
g). Melaksanakan tugas kedinasan dengan sebaik-baiknya dan dengan
penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab.n). Memberikan
pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang
tugasnya masing-masing (Djoko Prakoso, 1987: 309).
Berkenaan dengan perubahan paradigma baru di era reformasi
masih ditemui banyak hambatan yang antara lain sebagai penyebab
utamanya adalah pola pikir birokrat (PNS) masih berorientasi sebagai
penguasa dari pada sebagai pelayan publik (Dwiyanto, dalam Eko
Prasojo, 2007:2).
C. Model Evaluasi Program
Model

evaluasi

pelatihan

digunakan

untuk

menjawab

dua

pertanyaan pokok, yaitu :


1) Apakah tujuan mengalami perubahan atau tidak dalam kriteria
2) Apakah perubahan tersebut dapat dihubungkan dengan program
pelatihan atau tidak
Ada dua strategi untuk menentukan apakah memang terjadi
perubahan setelah pelatihan, yaitu membandingkan cara peserta
melakukan pekerjaannya setelah pelatihan dengan cara mereka sebelum

24

menjalani pelatihan dan membandingkan pengetahuan, perilaku atau hasil


dari kelompok yang terlatih dengan kelompok yang tidak terlatih. Dalam
studi evaluasi banyak ditemukan model-model evaluasi dengan format
dan sistematika yang berbeda. Kaufman dan Thomas dalam Suharsimi
Arikunto

dan

Cepi

Safruddin

AJ

serta

Zaenal

Arifin

(2009:73)

membedakan model evaluasi menjadi delapan yaitu :


a. Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler.
b. Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
c. Formative

Sumatif

Evaluation

Model, dikembangkan

oleh

Michael Scriven.
d. Countenence Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
e. Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
f. CSE-UCLA Evaluation Model.
g. CIPP Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stufflebeam.
h. Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus.
Dari keseluruhan model evaluasi tersebut, model evaluasi pelatihan
akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Evaluasi Model CIPP
Pada tahun 1965, Stufflebeam mengembangkan model CIPP
(Context, Input, Prosess and Product) dengan mengevaluasi ESEA (the
Elementary and Secondary Education Act). Stufflebeam memandang
bahwa evaluasi memiliki fungsi yang strategis untuk memperbaiki sebuah
program, bukan untuk tujuan lainnya. Model CIPP bersifat lentur dapat
diaplikasikan di berbagai sektor, seperti dunia usaha, pendidikan,
manajemen, dan lain sebagainya. Terdapat empat komponen yakni
context, input, process dan product, dalam mengevaluasi sebuah program
termasuk program pendidikan. Konsep evaluasi model CIPP (Context,
Input, Process, and Product) merupakan model evaluasi yang dimana

25

proses pelaksanaannya sesuai dengan dimensi system pendidikan yang


mencakup konteks, input, proses, dan produk.
a) Context Evaluation (Evaluasi Konteks)
Context Evaluation menurut Suharsimi Arikunto (2009:46), adalah
sebuah upaya untuk mengkungan, kebutuhan yang belum
dipenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek.
Terdapat empat pertanyaan yang dapat diajukan dalam evaluasi
konteks yakni :
a. Keperluan apa saja yang belum terpenuhi oleh program ?
b. Tujuan pengembangan apakah yang belum dapat tercapai
oleh program ?
c. Tujuan pengembangan apakah yang dapat membantu
masyarakat ?
d. Tujuan-tujuan mana sajakah yang paling mudah dicapai ?
b) Input Evaluation (Evaluasi Masukan)
Input Evaluation merupakan tahap kedua dari model CIPP.
Evaluasi masukan menunjukkan adanya kesiapan awal sebuah
program untuk memetakan kemampuan apa saja yang dimiliki
untuk berlangsungnya sebuah proses. Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan untuk program pendidikan yang menyangkut
masukan mengarah pada pemecahan masalah yang mendorong
diselenggarakannya program yang bersangkutan. Oleh karena itu
masukan meliputi : sumber daya manusia, sumber daya uang,
sumber daya peralatan, dan sumber daya yang lainnya.
c) Process Evaluation (Evaluasi Proses)
Dalam model CIPP, evaluasi proses menunjuk pada apa kegiatan
yang dilakukan dalam program; siapa orang yang ditunjuk sebagai

26

penanggungjawab program; dan kapan program tersebut akan


selesai atau berakhir. Evaluasi proses diarahkan pada seberapa
jauh kegiatan yang dilaksanakan di dalam program sudah
terlaksana sesuai dengan rencana. Stufflebeam menawarkan
pertanyaan-pertanyaan untuk evaluasi proses menyangkut :
a. Apakah pelaksanaan program sesuai dengan waktu
yang telah ditetapkan ?
b. Apakah

orang

pelaksanaan

yang

ditunjuk

program

akan

dan

terlibat

sanggup

dalam

menangani

kegiatan selama program berlangsung dan kemungkinan


jika program dilanjutkan ?
c. Apakah

sarana-dan

prasarana

yang

disediakan

dimanfaatkan secara optimal ?


d. Hambatan-hambatan apa saja yang ditemukan selama
pelaksanaan program dan kemungkinan jika program
dilanjutkan ?
d) Product Evaluation (Evaluasi Produk/Hasil)
Evaluasi produk merupakan tahap akhir dari serangkaian evaluasi
program.

Evaluasi

produk

diarahkan

pada

hal-hal

yang

menunjukkan perubahan yang terjadi pada masukan setelah


melalui sebuah proses dalam program. Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan dalam evaluasi produk adalah :
a. Apakah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sudah tercapai ?
b. Pernyataan-pernyataan apakah yang mungkin dirumuskan
berkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan ?
c. Dalam hal-hal apakah berbagai kebutuhan sudah terpenuhi ?
Sebuah

model

evaluasi

manapun

memiliki

kelebihan

dan

kekurangan baik dalam proses aplikasi maupun hasilnya. Model CIPP

27

memiliki beberapa keunggulan dalam beberapa hal yakni: bersifat


komprehensif, atau menyeluruh karena objek dan sasaran evaluasi tidak
terbatas pada hasil atau output semata melainkan juga mencakup
konteks, masukan, proses, dan juga hasil atau produk.
D. Hasil Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian kediklatan di luar Balai Diklat Lampung yang
relevan, antara lain:
1. Penelitian dilakukan pada tahun 2004, oleh Fitriyadi bertujuan
menganalisis sejauh mana pengaruh kompetensi ketrampilan
(skill), pengetahuan (knowledge) dan kecakapan (ability) yang
dimiliki karyawan terhadap kinerja karyawan PD. Bangun Banua,
Propinsi Kalimantan Selatan. Hipotesis dalam penelitian ini adalah
ada pengaruh kompetensi Skill, Knowledge, Ability yang dimiliki
karyawan terhadap kinerja karyawan PD. Bangun Banua ini.
Sedangkan rancangan penelitian adalah tipe penelitian penjelasan
(explanatif research). Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel
kompetensi skill teknis, kompetensi skill non teknis, kompetensi
knowledge dan kompetensi ability (kompetensi SKA) secara
bersama-sama mempunyai pengaruh yang sangat signifikan
terhadap peningkatan kinerja karyawan PD. Bangun Banua. Hal ini
dapat dilihat dari nilai F sebasar 10,277 dengan p = 0,000.
Pengaruh seluruh variabel kompetensi (kompetensi SKA) terhadap
kinerja karyawan adalah 43,2%. Variabel kompetensi skill teknis
mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Hal ini
dapat dilihat dari nilai koefisien regresi sebesar 0,222 dengan p =
0,036. Dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,185 dan p = 0,020
variabel

kompetensi

skill

non

teknis

mempunyai

pengaruh

signifikan terhadap kinerja karyawan PD Bangun Banua Variabel


kompetensi

knowledge

mempunyai

pengaruh

yang

sangat

28

signifikan bagi peningkatan kinerja karyawan perusahaan daerah


ini, dimana dari nilai koefisien regresi sebesar 0,295 dengan p=
0,002. Variabel kompetensi knowledge ini merupakan variabel yang
mempunyai pengaruh terbesar terhadap peningkatan kinerja
karyawan dibandingkan dengan ketiga variabel kompetensi lainnya.
Variabel kompetensi ability mempunyai pengaruh yang signifikan
bagi peningkatan kinerja karyawan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai
koefisien regresi sebesar 0,182 dengan p = 0,041. Variabel ini
mempunyai pengaruh yang paling kecil diantara ketiga variabel
kompetensi lainnya.
2. Penelitian studi evaluatif terhadap efektivitas pelaksanaan Diklat
Administrasi

Umum

tahun

2000-2001.

Penelitian

ini

mendiskripsikan dan menganalisis efektivitas pelaksanaan diklat


administrasi

umum

di

lingkungan

Pemerintah

Kabupaten

Tasikmalaya. Pelaksanaan dimaksud meliputi kegiatan pra diklat,


kegiatan penyelenggaraan diklat serta kegiatan pasca diklat. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan diklat berjalan efektif
dengan indikator adanya persiapan yang matang, penyelenggaraan
yang lancar dan hasilnya sesuai dengan harapan.
3. Penelitian efektivitas implementasi kebijakan pendidikan dan
pelatihan kepemimpinan tingkat IV dalam meningkatkan kinerja
pejabat structural eselon-4 di lingkungan pemerintah kabupaten
Sukabumi. Dilakukan pada tahun 2004. Secara umum dapat
disimpulkan, bahwa implementasi kebijakan Diklatpim IV belum
dapat

dilaksanakan

secara

efektif,

sehingga

belum

dapat

memberikan pengaruh yang optimal terhadap peningkatan kinerja


pejabat struktural eselon-4. Perbaikan-perbaikan pada tahap
inputs, process, outputs, dan outcomes perlu segera dilakukan
pemerintah dengan mempertimbangkan penerapan Diklatpim IV

29

berorientasi kinerja. Studi Kasus Evaluasi Pasca Diklat Terhadap


Alumni Diklat Pim III Angkatan I, II, III Tahun 2004 Dilingkungan
Badan Diklat Daerah Propinsi Jawa Barat. Dari analisis data
disimpulkan bahwa: Penerapan Sistem Manajemen Mutu/ SMM
ISO

9001:2000

memilki

pengaruh

terhadap

Efektivitas

Penyelenggaraan Diklat di lingkungan Badan Diklat Daerah


Propinsi Jawa Barat. Kapasitas Peserta memiliki pengaruh
terhadap Efektivitas Penyelenggaraan Diklat dilingkungan Badan
Diklat Daerah Propinsi Jawa Barat. Demikian pula Penerapan
Sistem Manajemen Mutu / SMM ISO 9001:2000 dan Kapasitas
Peserta

secara

bersama-sama

memiliki

pengaruh

terhadap

Efektivitas Penyelenggaraan Diklat di lingkungan Badan Diklat


Daerah Propinsi Jawa Barat.
E. Kriteria Evaluasi
Evaluasi program mempunyai ukuran keberhasilan, yang dikenal
dengan istilah kriteria. Istilah kriteria dalam penilaian sering juga dikenal
dengan kata tolok ukur atau standar. Arti nama-nama yang digunakan
tersebut dapat segera dipahami bahwa kriteria, tolok ukur atau standar,
adalah sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas minimal
sesuatu yang diukur. Kriteria atau standar dapat pula disamakan dengan
takaran. Tentang batas yang ditunjuk oleh kriteria, Suharsimi Arikunto dan
Cepi Safrudin (2009:30) mengungkapkan bahwa hal itu berarti batas
maksimal yang harus dicapai.
Permasalahan di dalam kriteria evaluasi program adalah aturan
tentang

bagaimana

menentukan

peringkat-peringkat

kondisi

atau

rentangan-rentangan nilai agar data yang diperoleh dapat dipahami oleh


orang lain dan bermakna bagi pengambil keputusan dalam rangka
menentukan kebijakan lebih lanjut.
1. Kriteria Kuantitatif Tanpa Pertimbangan

30

Kriteria yang disusun hanya dengan memperhatikan rentangan


bilangan tanpa mempertimbangkan apa-apa dilakukan dengan membagi
rentangan bilangan menggunakan lima kategori nilai maka antara 1%
dengan 100% dibagi rata sehingga menghasilkan kategori sebagai berikut
:
Nilai 5 (Baik Sekali), jika mencapai 81-100%
Nilai 4 (Baik), jika mencapai 61-80%
Nilai 3 (Cukup), jika mencapai 41-60%
Nilai 2 (Kurang), jika mencapai 2l-40%
Nilai 1 (KurangSekali), jika mencapai <21%
Istilah untuk sebutan yang menunjukkan kualitas bukan hanya dari
Baik Sekali sampai dengan Kurang Sekali, tetapi bisa Tinggi Sekali,
Tinggi, Cukup, Rendah, dan Rendah sekali, atau mungkin Sering sekali,
Sering,

sampai

dengan

Jarang

Sekali.

Selain

itu,

dapat

juga

menggunakan istilah-istilah lain yang menunjukkan kualitas suatu


keadaan, sifat, atau kondisi seperti Banyak Sekali, Sibuk Sekali, dan lainlainnya. Untuk pertimbangan atau pendapat orang, penyusun dapat
menggunakan kata Setuju, Sependapat, dan lain-lain.
2. Kriteria Kuantitatif Dengan Pertimbangan
Ada kalanya beberapa hal kurang tepat jika kriteria kuantitatif
dikategorikan dengan membagi begitu saja rentangan yang ada menjadi
rentangan sama rata. Sebagai contoh adalah nilai di beberapa perguruan
tinggi untuk menentukan nilai dengan huruf A, B, C, D, dan E. Bagaimana
menentukan nilai untuk masing-masing huruf mengacu pada peraturan
akademik berdasarkan besarnya persentase pencapaian tujuan belajar
sebagai berikut :
Nilai A: rentangan 80-100%
Nilai B: rentangan 66-79%

31

Nilai C: rentangan 56-65%


Nilai D: rentangan 40-55%
Nilai E: kurang dari 40%
Melihat pengkategorian nilai-nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa
rentangan di dalam setiap kategori tidak sama, demikian juga jarak antara
kategori satu dengan lainnya. Hal ini dibuat karena adamya pertimbangan
tertentu berdasarkan sudut pandang dan pertimbangan evaluator.
3. Kriteria Kualitatif
Dalam menyusun kriteria kualitatif adalah kriteria yang dibuat tidak
menggunakan

angka-angka.Hal-hal

yang

dipertimbangkan

dalam

menentukan kriteria kualitatif adalah indikator dan yang dikenai kriteria


adalah komponen. Seperti halnya kriteria kuantitatif, jenis kriteria kualitatif
juga dibedakan menjadi dua, yaitu kriteria kualitatif tanpa pertimbangan,
dan criteria kualitatif dengan pertimbangan. Kriteria dalam penelitian ini
bersumber pada panduan diklat Kepemimpinan IV yang berisi hal-hal
yang berkaitan dengan penyelenggaraan program diklat Kepemimpinan
IV. Butir-butir yang tertera di dalamnya, terutama dalam tujuan kebijakan,
mencerminkan harapan dari kebijakan. Oleh karena itu, pedoman atau
panduan pelaksanaan yang distatuskan sebagai sumber kriteria.

Aspek context memiliki kriteria keberhasilan sebagai berikut :


Kriteria Aspek Context

Aspek yang Dievaluasi


Tujuan Diklat

Kriteria
Meningkatkan pengetahuan, sikap,

32

keterampilan dan nilai-nilai


Bidang pembaharuan, perakit
kesatuan dan persatuan bangsa
Pelayanan, pengayoman dan
pemberdayaan masyarakat
Pelaksanaan tugas kepemerintahan
umum
Kompetensi peserta diklat

Profesional
Kepribadian
Kompetensi sosial

Latar Belakang Diklat

Pembentukan sikap, mental,


kesamaptaan fisik, disiplin dan
kepemimpinan

Aspek input memiliki kriteria keberhasilan sebagai berikut :


Kriteria Aspek Input

Aspek yang Dievaluasi


Kompetensi Widyaiswara

Kriteria
Widyaiswara menyampaikan materi

33

secara sistematis
Widyaiswara menguasai materi
Widyaiswara memberikan motivasi
belajar peserta diklat
Widyaiswara melakukan komunikasi
efektif kepada peserta diklat
Materi Diklat

Materi sesuai dengan kebutuhan kerja


peserta diklat
Peserta diklat mengetahui masingmasing tujuan materi diklat
Beban materi diklat dirasa cukup oleh
peserta

Metode Diklat

Metode/strategi pembelajaran sesuai


dengan materi
Peserta aktif dalam metode ceramah
dan tanya jawab
Peserta aktif dalam metode studi
kasus
Peserta aktif dalam metode
simulasi/role playing

Media Pembelejaran

media dengan materi yang


disampaikan
Media yang digunakan beragam

Fasilitas, sarana dan


Fasilitas diklat yang tersedia dapat
prasarana penunjang diklat
menunjang terlaksanya Diklat
Ketersediaan sarana dan prasarana
penunjang dapat menunjang
terlaksanya Diklat
Aspek process memiliki kriteria keberhasilan sebagai berikut :
Kriteria Aspek Process
Aspek yang Dievaluasi
Penampilan widyaiswara

Kriteria
Widyaiswara membuka pembelajaran
dengan baik
Widyaiswara menyajikan materi

34

secara jelas
Widyaiswara memberikan contoh dan
stimulus
Widyaiswara menggunakan metode
dan media pembelajaran
Kejelasan bahasa yang disampaikan
widyaiswara
Widyaiswara membangkitkan
semangat belajar peserta diklat
Widyaiswara menciptakan iklim belajar
yang kondusif
Kegiatan belajar peserta
diklat

Interaksi kelas selama pelaksanaan


diklat
Peserta diklat aktif dalam proses
pembelajaran
Peserta diklat aktif dalam bertanya
Peserta diklat aktif dalam kegiatan
diskusi kelompok

Monitoring pelaksanaan
pembelajaran

Jadwal sesuai dengan pelaksanaan


program diklat
Fasilitas, sarana dan prasarana yang
tersedia dapat dipergunakan dengan
baik
Panitia/penyelenggara sanggup
menangani kegiatan selama diklat
berlangsung

Pelaksanaan evaluasi

Evaluasi mampu mengukur


keberhasilan peserta diklat
Evaluasi mampu mengevaluasi kinerja
widyaiswara

Aspek product memiliki kriteria keberhasilan sebagai berikut :


Kriteria Aspek Product

Aspek yang Dievaluasi


Aspek pengetahuan

Kriteria
Peserta mampu melaksanakan visi

35

dan misi organisasi


Peserta mampu melaksanakan tugas
pokok dan fungsi
Peserta mampu mengetahui konsep
wawasan organisasi
Aspek pemahaman

Peserta mampu memahmi struktur


organisasi dan tupoksi unit kerja
Peserta mampu menumbuhkan
motivasi dalam bekerja
Peserta mampu disiplin dalam bekerja

Aspek penerapan

Peserta mampu mengembangkan diri


di lingkungan kerja
Peserta mampu menyelesaikan
masalah dalam lingkungan pekerjaan
Peserta mampu memberikan
pelayanan prima pada masyarakat

36

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Mendiskripsikan

status

kinerja

pelayanan

akademik

dalam

penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV di Badan Diklat Lampung.


2. Mengetahui aspek-aspek pelayanan akademik yang mana dalam
penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV di Badan Diklat Lampung
yang kinerjanya perlu ditingkatkan.
3. Mengetahui cara peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja
pelayanan akademik dalam penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV
di Badan Diklat Lampung yang akan datang.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Badan Diklat Lampung yang
beralamat di Jl. Pahoman, Bandar Lampung. Waktu pelaksanaan
penelitian ini adalah pada bulan Oktober - Desember 2013.
C. Pendekatan, Metode, dan Desain Penelitian
Ditinjau dari segi tujuan, maka penelitian ini merupakan penelitian
evaluasi. Penelitian dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian
(research question) yang antara lain mengkaji bagaimanakah status
kinerja pelayanan akademik penyelenggaraan Diklatpim Tingkat IV.
Apakah penyelenggaraannya khususnya dalam hal pelayanan akademik
telah dilaksanakan sesuai standar yang ditentukan serta pada indikator
input, indikator proses maupun indikator output. Diharapkan pula dapat

37

dijangkau penelitian evaluasi program dengan indikator outcomes melalui


pembandingan antara rencana tingkat capaian dengan realisasinya.
Setelah diketahui status kinerja pelayanan akademik, maka selanjutnya
memungkinkan

untuk

dilakukan

analisis

efisiensi

dengan

cara

membandingkan kinerja input dengan output. Sedang analisis efektivitas


dari pelayanan akademik pada Diklatpim Tingkat IV, dengan cara
membanding konsistensi antara output sasaran dan tujuan. Selanjutnya
penelitian ini menggunakan perspektif pendekatan deskriptif kualitatif,
dengan

teknik

analisis

kinerja.

Metode

yang

digunakan

dalam

pengumpulan data adalah metode penelitian studi dokumentasi dan


observasi serta metode wawancara, serta angket.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur
fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2002:84).
Instrumen penelitian perlu dibedakan dengan metode penelitian, karena
ada keterkaitan antara keduanya sehingga sering dikacaukan, yaitu
bahwa dalam menerapkan metode penelitian dipergunakan instrumen
penelitian (Iqbal Hasan, 2002:77).
Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah:
1. Peneliti sendiri;
2. Pedoman Review Dokumen
3. Pedoman Observasi
4. Pedoman Wawancara
1. Kisi-kisi Instrumen
Dalam evaluasi program Diklatpim Tingkat IV ini dibuat rancangan
berupa kisi-kisi instrumen yang selanjutnya disebut kuesioner. Kuesioner
ini berisi butir-butir pernyataan atau pertanyaan yang diturunkan dari
penjabaran

dari

indikator-indikator

untuk

tiap-tiap

dimensi

yang

38

membangun aspek context, input, process, dan product terhadap program


yang dievaluasi.
Setiap butir dalam pernyataan merupakan suatu keadaan atau
perasaan responden yang berkaitan dengan aspek context, input,
process, dan product terhadap program yang dievaluasi. Butir-butir
pernyataan tersebut disertai dengan empat pilihan jawaban yaitu : Sangat
Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Kisi-kisi Instrumen Evaluasi Program Diklatpim IV
Level
context
input

process

product

Komponen Evaluasi
Tujuan Diklat
Kompetensi peserta diklat
Latar Belakang Diklat
Kompetensi Widyaiswara
Materi Diklat
Metode Diklat
Media Pembelejaran
Fasilitas, sarana dan prasarana
penunjang diklat
Penampilan widyaiswara
Kegiatan belajar peserta diklat
Monitoring pelaksanaan
pembelajaran
Pelaksanaan evaluasi
Aspek pengetahuan
Aspek pemahaman
Aspek penerapan

Butir
1,2,3
6,7,8,9,10
11,12,13
14,15,16,17
18,19,20,21
22,24,24,25
26,27,28
29,30,31,32
,
33,34,35,36
37,38
39,40,41,42
43,44,45,46
,
47,48
49,50,51,52
53,54,55,56
57,58,59
60,61,62

Jumla
h
3
5
3
4
4
4
3
8

2
4
6

4
4
3
3

2. Validasi Instrumen
Validasi instrumen bertujuan untuk meniliti tentang: a) apakah butir
pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan indikator, b) bahasa yang
digunakan apa sudah komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang

39

benar, dan c) apakah butir peranyaaan atau pernyataan tidak bias, d)


apakah format instrumen menarik untuk dibaca, e) apakah pedoman
menjawab atau mengisi instrumen jealas, dan f) apakah jumlah butir
sudah tepat sehinggga tidak menjemukan menjawabnya.
Validasi dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan
lebih baik bila ada pakar penilaian. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman
sejawat bila yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format
instrumen. Bahasa yang digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat
pendidikan responden. Hasil telaah ini selanjutnya digunakan untuk
memperbaiki instrumen.
Panjang instrumen berhubungan dengan
yaitu tingkat kejemuan dalam mengisi

masalah kebosanan,

instrumen. Lama pengisian

instrumen sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Langkah pertama dalam


menulis suatu pertanyaan atau pernyataan adalah informasi apa yang
ingin diperoleh, struktur pertanyaan, dan pemilihan kata-kata.
Pertanyaan yang diajukan jangan sampai bias, yaitu mengarahkan
jawaban responden pada arah tertentu, positip atau negatif. Hasil validasi
instrumen digunakan untuk memperbaiki instrumen. Perbaikan dilakukan
terhadap konstruksi instrumen, yaitu kalimat yang digunakan, waktu yang
diperlukan untuk mengisi instrumen, cara pengisian atau cara menjawab
instrumen, dan pengetikan.
Pengujian konstruksi teori mengenai indikator yang mendasari
aspek context, input, process, dan product kepada kelompok panelis ahli
sebagai judges untuk seleksi butir-butir pertanyaan/pernyataan. Seleksi
butir menggunakan metode stimulus yaitu panelis pakar menentukan
kiraan nilai butir dikotomi yaitu penting dan tidak penting dengan indikator
yang

menjelaskan

konstrak

dimensinya.

Penyeleksian

butir

ini

menggunakan formula Content Validity Rasio (CVR) yang dikembangkan


oleh Lawshe.
Statistik

ini

mencerminkan

tingkat

validitas

isi

item-item

berdasarkan data empirik. Dalam pendekatannya, sebuah panel yang

40

terdiri dari para ahli yang disebut Subject Matter Experts (SME) diminta
untuk menyatakan apakah item dalam tes sifatnya penting bagi
operasionalisasi konstrak teoritis tes yang bersangkutan. Suatu item dinilai
penting bilamana item tersebut dapat merepresentasikan dengan baik
tujuan pengukuran. Formula CVR dapat dinyatakan :
CVR

2n e
1
n

ne = banyaknya SME yang menilai suatu item penting


n = banyaknya SME yang melakukan penilaian
angka CVR bergerak antara 1 sampai dengan + 1. Berikut ini adalah
kriteria butir berdasarkan nilai CVR nya :
ne < n
ne = n
ne > n

CVR < 0
CVR = 0
CVR > 0

(butir tidak baik)


(butir kurang baik)
(butir baik)

E. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data


Agar proses pengumpulan data berlangsung secara teratur, logis,
sistematis dan sukses, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh
peneliti, yaitu:
1. Mempersiapkan instrumen
2. Mempersiapkan sumber data
3. Mempersiapkan operator instrumen
4. Melaksanakan pengumpulan data ( Prasetya Irawan, 1999: 211).
Dalam
kualitatif,

penelitian

maka

peneliti

ini

berhubung

tidak

menggunakan

menggunakan

operator

pendekatan
instrumen,

kolektornya adalah peneliti sendiri. Adapun mekanisme pengumpulan


datanya pertama-tama peneliti merekonstruksi pengamatan selama ini,
kemudian menelaah teori dari kepustakaan yang relevan, selanjutnya
mempelajari dokumen tentang standar penyelenggaraan diklat, dokumen
laporan penyelenggaraan diklat, dan laporan hasil evaluasi tentang
penyelenggaraan. Di samping itu peneliti mengarahkan dan mengamati

41

jalannya fokus group discussion dari peserta diklat yang ditentukan guna
membahas pengalaman mereka dalam mengikuti diklat dan saran
pemikiran mereka terkait dengan penyelenggaraan diklat. Dari semua
hasil telaah direkam dalam catatan lapangan, selanjutnya peneliti
mereduksi catatan lapangan dengan mengkonfirmasi konsep-konsep yang
ditemukan di lapangan melalui indept interview atau wawancara
mendalam dengan sejumlah informan terpilih.
F. Teknik Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan teknik membandingkan antara
standar baku dengan realitas yang ditemukan dilapangan. Pengolahan
data intrumen, dilakukan dengan mencermati catatan lapangan hasil
wawancara, kemudian dikelompokkan informasi tentang proses pelayanan
yang senyatanya dilakukan, selanjutnya informasi tersebut dipetakan
menurut

prinsip-prinsip

manajemen

kualitas

pelayanan.

Kemudian

memaknai fenomena yang terjadi. Pengolahan data pada masing-masing


instrumen, dilakukan dengan membandingkan antara kesesuaian realitas
inputs dengan standar baku input, sehingga diketahui keseuaian atau
tidak sesuainya. Selanjutnya dikembangkan untuk mengetahui tingkat
kesesuaiannya dalam bentuk persentase.

Kinerja
Pengolahan

Realisasi
x 100%
Standar Input

data

intrumen

aspek

penguasaan

materi/ujian,

dilakukan dengan melakukan reduksi dalam aspek sikap dan perilaku


dengan bobot 40% dan aspek akademik/penguasaan materi dengan
bobot 60%. Dari 40 peserta dari instrumen, dilihat pada nilai akhir.
NILAI AKHIR PESERTA = NILAI SP X BOBOT (40%) + NILAI AK X
BOBOT (60%)
Dari nilai akhir kemudian dicari nilai akhir rata-rata kelas dengan :

42

RATA-RATA NA = NAP X JML PSRT : JML PSRT


Selanjutnya rata rata nilai akhir ditransfer ke nilai interval dan
criteria sebagai acuan nilai patokan, seperti yang telah ditetapkan dalam
Keputusan Kepala LAN Nomor: 541/XIII/10/6/2001, hal. 50 mengenai
kualifikasi kelulusan sebagai berikut:
NILAI INTERVAL KRITERIA KUALIFIKASI

92,5 -100
85,0 92,4
77,5 84,9
70,0 77,4
0 70,0

: Sangat memuaskan Lulus


: Memuaskan Lulus
: Baik sekali Lulus
: Baik Lulus
: Tidak Baik Tidak lulus

Pengolahan data intrumen penerapan nilai-nilai dasar budaya kerja


dalam pola pikir dan cara kerja, dilakukan dengan menghitung total skor
dan memasukkan dalam kategori.
TOTAL SKOR KATEGORI

05 06 : Bagus
07 09 : Belum bagus
10 13 : Kurang bagus
14 20 : Tidak bagus

Untuk penerapan nilai-nilai dasar budaya kerja dalam perilaku bekerja,


dilakukan dengan menghitung total skor dan memasukkan dalam kategori.
TOTAL SKOR KATEGORI

17 20 : Bagus
21 30 : Belum bagus
31 45 : Kurang bagus
46 68 : Tidak bagus

Dari data yang telah ditemukan dan berbagai informasi dari informan
peneliti mengelompokkan menurut indikator kegiatan yang terdiri dari

43

indikator inputs, indikator proses, indikator outputs, dan indikator


outcomes.

44

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2000), Manajemen Penelitian, Edisi Baru, Cetakan


ke V, Jakarta: PT Rineka Cipta.
________________. (2005), Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi
Revisi, Cetakan Kelima, Jakarta: Bumi Aksara.
Atmodiwirio, Soebagio, (1993), Manajemen Training, Pedoman Praktis
Bagi Penyelenggara Training, Cet.1, Jakarta: Balai Pustaka.
Budiandono, D. (1986), Perencanaan dan Penyelenggaraan Latihan
Tenaga Kerja, Jakarta: Penerbit Bhatara Karya Aksara.
Dale A. Timpe (1982), Kinerja, Seri Manajemen Sumber Daya Manusia,
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
David Osborne dan Peter Plastrik, (2000), Memangkas Birokrasi, Lima
Strategi Menuju Pemerintahan Wirausaha, Edisi Revisi,
Jakarta: PPM;
Derek Lockwood, Prof. Eng, (1994), Desain Pelatihan Efektif, Bagi
Supervisor dan Manajemen Madya, Jakarta: PT Gramedia.
Drucker Foundation, (2000), The Leader of The Future, Cetakan ketiga,
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Indonesia, LANRI, (2004), Modul Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah, Edisi Kedua, Jakarta: LAN; Indonesia, MENPAN,
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor:
PER/01/M.PAN/01/2007,
Pedoman
Evaluasi
Pelaksanaan Pengembangan Budaya Kerja Pada Instansi
Pemerintah.
Iqbql Hasan, M, Ir. M.M. (2002), Pokok-Pokok Materi, Metodologi
Penelitian, Dan Aplikasinya, Jakarta: PT Ghalia Indonesia.
Jitendra, MD (1999), Encyclopaedia of Management Training, Vol.1, New
Delhi: Anmol Publikation Pvt.LTD;

45

Oemar Hamalik, Dr. (2005), Pengembangan Sumber Daya Manusia,


Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan, Pendekatan Terpadu,
Cetakan ke 3, Jakarta: Bumi Aksara.
Panitia Istilah Manajemen LPMM, (1994), Kamus Istilah Manajemen,
Cetakan I, Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. 2, Jakarta: Balai Pustaka.
Prasetya Irawan, M.Sc. Dr, (1999), Logika Penelitian dan Prosedur
Penelitian, Pengantar Teori dan Panduan Prktis Penelitian
Sosial bagi Mahasiswa dan Peneliti Pemula, Sekolah Tinggi
Ilmu Administrasi Negara, Jakarta: STIA-LAN PRESS.
Purwanto, Drs. M.Pd, Atwi Suparman, Prof. Dr. M.Sc., (1999), Evaluasi
Program Diklat, Jakarta: SETIA LAN, Press.
Tri Kurnia Nurhayati, S.S., M.Pd., (2005), Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia, Dengan Ejaan Yang Disempurnakan, Jakarta: Esha
Media.
Slameto, Drs. (2001), Evaluasi Pendidikan, Cetakan ketiga, Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Spencer & Spencer, (1993), Competency Assessment Methode, USA:
Addison Wesley Publishing Inc.
Sugiyono.

DR, (2002), Metode Penelitian Administrasi,


Kesembilan, Bandung: Penerbit Alfabeta.

Cetakan

46

Lampiran 1

PEDOMAN WAWANCARA
STANDAR PELAYANAN AKADEMIK

Informan :
1. Kepala Balai Diklat Lampung;
2. Kasi Diklat Tenaga Administrasi;
3. Asisten Bidang Akademik

Pertanyaan:
1. Jenis pelayanan apa saja yang diberikan oleh Balai Diklat Lampung?
Bagaimana cara yang digunakan untuk mengenali kebutuhan
pelayanan tersebut khusunya untuk Diklatpimp IV ?
2. Instansi mana saja yang menjadi Pelanggan bagi Balai Diklat lampung
?
3. Bagaimana Balai Diklat Lampung membangun komunikasi dengan
pelanggan dan teknik apa yang digunakan untuk mengidentifikasi
harapan pelanggan ?
4. Apa Visi dan Misi Balai Diklat Lampung dan bagaimana prosedur
perumusannya serta ditetapkan melalui produk hukum apa ?
5. Langkah apa saja yang dilakukan oleh Balai Diklat lampung dalam
menetapkan :
a. Proses dan Prosedur
b. Prasyarat
c. Sarana dan Prasarana
d. Waktu
e. Biaya Pelayanan
6. Dalam menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan akademik,
meskipun telah dikelola secara memadai namun masih ada saja
kesenjangan antara pelayanan yang diberikan dengan harapan
pelanggan. Menghadapi hal demikian bagaimana Balai Diklat
mengelola pengaduan pelanggan. Bagaimana mekanisme pengaduan
pelanggan harus disampaikan ?
7. Pertanyaan selanjutnya diajukan sesuai perkembang kebutuhan di
lapangan dan diajukan kepada informan/pihak-pihak yang terkait.

47

Lampiran 2
KUESIONER PEMBERDAYAAN DIKLAT
BAGI ALUMNI DIKLATPIM TINGKAT IV

Petunjuk Pengisian:
1. Mohon kuesioner berikut mendapat pengisian secara singkat dan
jelas sesuai keadaan yang sebenarnya.
2. Informasi Anda sangat penting dan berarti bagi kami akan berfungsi
sebagai feedback bagi penyempurnaan Diklat serta peningkatan
pelayanan dalam penyelenggaraan Diklat pada umumnya dan
diklatpim IV pada khususnya.
3. Kami sangat berterima kasih atas kesediaan Anda mengisi
kuesioner ini.
4. Partisipasi Anda merupakan kebanggaan kami untuk meningkatkan
mutu menuju kemajuan bersama.
Kuesioner :
1. Menurut pengalaman Anda secara pribadi diklatpim IV yang telah
Anda ikuti beberapa waktu yang lalu sejauh mana telah menambah
kemampuan Anda dalam melaksanakan tugas ?
2. Menurut Anda bagaimana tanggapan atasan langsung Anda terhadap
diri Anda. Kesan apa yang paling kuat terkait dengan pemberdayaan
diri Anda setelah mengikuti Diklat?
3. Apakah yang terjadi ketika Anda menerapkan pengetahuan dan
kemampuan yang Anda peroleh dalam diklatpim IV, dalam
pelaksanaan tugas dan jabatan yang Anda pangku?
4. Apakah Anda telah mendapat promosi jabatan setelah mengikuti
diklatpim IV ? Menurut Anda apa sebabnya?
5. Menurut Anda apakah yang prioritas perlu segera dilakukan
perbaikan/penyempurnaan ? Jelaskan saran Anda terkait dengan :
a. Seleksi peserta dan pemanggilan peserta:
b. Pelayanan regristrasi:
c. Pelayanan asrama:
d. Kurikulum:
e. Sarana belajar:
f. Pelayanan Akademik:
g. Widyaiswara:

48