Anda di halaman 1dari 16

1.

Nyeri abdomen akut


Nyeri yang belum terdiagnosis <7 hari (biasanya <48 jam), nyeri
intraperitoneal
biasanya
membutuhkan
terapi
bedah,
sedangkan
ekstraperitoneal tidak membutuhkan terapi bedah
BAD GUT PAIN
a. Bowel Obstruction
Tingkat kompetensi : 2
Definisi : Obstruksi atau hambatan isi pencernaan pada usus ke arah
distal
Klasifikasi
:
- Mechanical bowel obstruction (Ileus obstruktif)
Obstruksi saluran cerna oleh blokade fisik, blockade dapat bersifat
intrinsic atau ekstrinsik
Intrinsik : kelainan kongenital (atresia intestinal), inflamasi
(Crohns disease), infeksi (TB, diverticulitis), neoplasma,
intraluminal (batu empedu, benda asing)
Ekstrinsik : adhesi (postoperative), hernia (eskterna dan
interna),
kelainan
kongenital
(malrotasi),
neoplasma
(ekstraintestinal neoplasma), inflamasi (abses intrabdomina),
lain-lain (volvulus)
Tipe-tipe obstruksi :
Parsial
: hanya sebagian menghambat lumen usus
Komplit
: lumen usus secara total terobstruksi
Dibagi menjadi 4 :
Simple
: tanpa gangguan vascular dan dapat
didekompresi ke proksimal
Closed loop obstruction: obstruksi pada 2 ujung lumen
saluran cerna (pada volvulus di mana usus menjadi
terpilin)
Strangulata : suplai darah ke segmen mengalami
gangguan
-

Functional bowel obstruction (Ileus paralitik)


Obstruksi yang disebabkan oleh faktor yang menyebabkan paralisis
dan dismotilitas dari peristaltic intestinal, tidak ada blockade fisik dan
tidak perlu terapi
Penyebab :
Intraabdominal
:
Intraperitoneal
: postoperative (paling banyak,
akibat pengaruh obat anastesi), peritonitis (karena proses
peradangan sehingga teradi penurunan fungsi), abses
intraabdominalis

Retroperiotoneal :
urolithiasis,
pyelonephritis,
metastasis, pankreatitis
Ekstraabdominal
Thorax problem
: AMI, GJK, pneumonia, trauma
thorax
Abnormalitas metabolic : ketidakseimbangan elektrolit,
sepsis, keracunan, hiperglikemia
Obat-obatan
: opiate, antikolinergik, antihistamin,
katekolamin, agonis alpha adrenergic
Lain-lain
: cedera medulla spinalis, fraktur
pelvis, trauma kepala, kemoterapi, terapi radiasi
-

Early postoperative (mechanical) bowel obstruction


Obstruksi usus yang terjadi dalam 6 minggu pertama post operasi
(hari-mingguan)
Penyebab : adhesi akut (paling sering), hernia, abses intraabdominal,
hematom intestinal
Gejala dan tanda klinis ileus obstruksi :
Nyeri perut kolik
Tidak ada flatus
Mual dan muntah
Distensi
Konstipasi
Darm contour (gambaran usus) dan darm steifung (gambaran
peristaltik usus)
Bising usus meningkat (awal)
Nyeri saat defekasi
Pemeriksaan penunjang :
Darah lengkap
Foto polos abdomen (3 posisi : supine, erect/ erect, LLD/Left
lateral decubitus)
Normal : gambaran udara terlihat minimal pada gaster dan
colon (terlihat lipatan haustra)
Posisi supine : hanya mencari udara di lambung dan di
colon, udara akan meguap ke arah atas
Posisi erect : dapat mencari free air (indikasi kebocoran
lumen usus) dan air fluid level (kombinasi udara dan air,
indikasi obstruksi lumen usus) pada usus halus (terlihat
herringbone
appearance
:
radiopaque
valvulae
conniventes usus halus)
Posisi LLD
: dapat mencari free air (lihat di bawah
diafragma, jika radiolusen berarti +)

Tatalaksana :

Rehidrasi cairan
Dekompresi dengan NGT
AB IV (karena terjadi translokasi kuman)
Jangan beri analgesik sebelum merujuk ke dr. bedah
Rujuk ke dr. bedah untuk dilakukan tindakan operatif untuk ileus
obstruktif

b. Appendicitis dan Adenitis


Apendisitis akut
Tingkat kompetensi : 3B
Definisi : radang yang timbul secara mendadak pada apendiks
Etiologi :
1. Obstruksi lumen merupakan faktor penyebab dominan apendisitis akut
2. Erosi mukosa usus karena parasit Entamoeba hystolitica dan benda
asing lainnya
Keluhan : 1. Muntah (rangsangan viseral) akibat aktivasi nervus vagus
2. Anoreksia, nausea dan vomitus yang timbul beberapa jam
sesudahnya
3. Disuria juga timbul apabila peradangan apendiks dekat
dengan vesika urinaria
4. Obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa
penderita mengalami diare, timbul biasanya pada letak
apendiks pelvikal yang merangsang daerah rectum
5. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu
suhu antara 37,50C - 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi,
diduga telah terjadi perforasi
6. Nyeri somatik (variasi lokasi anatomi apendiks akan
menjelaskan keluhan nyeri somatik yang beragam)
a. Kuadran kiri bawah
: nyeri pada daerah tersebut
b. Retrosekal
: nyeri flank atau punggung
c. Pelvikal
: nyeri suprapubik
d. Retroileal
: nyeri testikuler, mungkin karena
iritasi
pada
arteri spermatika dan ureter

Pemeriksaan Fisik : Inspeksi


1. Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi
perutnya yang sakit
2. Kembung bila terjadi perforasi
3. Penonjolan perut kanan bawah terlihat pada
appendikuler abses.
Palpasi
1. Terdapat nyeri tekan Mc Burney (pin point) 1/3 lateral
garis imajiner yang menghubungkan Spina Iliaka
Anterior Superior (SIAS) dan umbilikus
2. Adanya Mc greating pain/Koshers pain (nyeri yang
berawal dari epigastrium/pusat kemudia berpindah ke
kuadran kanan bawah)
3. Adanya dunphys sign (pertambahan nyeri pada tertis
kanan bawah dengan batuk)
4. Adanya rebound tenderness (nyeri lepas tekan) atau
Blumbergs sign
5. Adanya defans muscular (dihasilkan oleh M. rektus
abdominis yang terangsang oleh iritasi peritoneum
parietal, jika 2 regio telah nyeri : peritonitis)
6. Rovsing sign positif (positif jika dilakukan palpasi
dengan tekanan pada kuadran kiri bawah dan timbul
nyeri pada sisi kanan)
7. Psoas sign positif (retrocaecal appendix)
8. Obturator Sign positif (pelvic appendix)
Perkusi
: Nyeri ketok (+)
Auskultasi : Peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada
illeus
paralitik karena peritonitis
generalisata
akibat
appendisitis perforate
Colok dubur : Nyeri tekan pada jam 9-12
Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium darah perifer lengkap

a. Pada apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit dan


neutrofil akan meningkat
b. Pada anak ditemuka lekositosis 11.000-14.000/mm3, dengan
pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran ke kiri hampir
75%
c. Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm3 maka umumnya sudah
terjadi perforasi dan peritonitis
2. Foto polos abdomen
a. Pada apendisitis akut, pemeriksaan foto polos abdomen tidak
banyak membantu.
b. Padaperadangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus
pada
bagian
kanan
bawah akan kolaps.
c. Dinding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada
daerah kanan bawah abdomen kosong dari udara.
d. Gambaran udara seakan-akan terdorong ke pihak lain.
e. Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak akan
tampak
udara
bebas di bawah diafragma
f. Foto polos abdomen supine pada abses appendik, kadang-kadang
memberi pola bercak udara dan air fluid level pada posisi
berdiri/LLD (dekubitus), kalsifikasi bercak rim-like (melingkar)
sekitar perifer mukokel yang asalnya dari appendik.

Alvarado skor

Interpretasi
:
1. Skor >8 : Berkemungkinan besar menderita apendisitis. Pasien ini
dapat langsung diambil tindakan pembedahan tanpa pemeriksaan
lebih lanjut. Kemudian perlu dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan
patologi anatomi
2. Skor 2-8 : Tingkat kemungkinan sedang untuk terjadinya apendisitis.
Pasien ini sbaiknya dikerjakan pemeriksaan penunjang seperti foto
polos abdomen ataupun CT scan
3. Skor <2 : Kecil kemungkinan pasien ini menderita apendisitis. Pasien
ini tidak perlu untuk di evaluasi lebih lanjut dan pasien dapat
dipulangkan dengan catatan tetap dilakukan follow up pada pasien ini
Diagnosa klinis intra apendisitis akut, menurut Cloud dan Boyd dapat
dibagi menjadi beberapa tingkat sesuai dengan perubahan dan tingkat
peradangan apendiks, yaitu:
1. Apendisitis Akut Sederhana
Gejalanya diawali dengan rasa kurang enak di ulu hati / daerah pusat,
mungkin disertai dengan kolik, muntah, kemudian anoreksia, malaise,
dan demam ringan. Pada fase ini seharusnya didapatkan adanya
leukositosis. Pada fase ini apendiks dapat terlihat normal, hiperemi
atau udem, tak ada eksudet serosa.
2. Apendisitis Akut Supurativa
Ditandai dengan adanya rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri
tekan, nyeri lepas di titik McBurney, adanya defans muskuler dan nyeri
pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi
pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda periotnitis umum,
seperti demam tinggi. Bila perforasi barn terjadi, leukosit akan pergi ke
jaringan-jaringan yang meradang tersebut, maka mungkin kadar
leukosit di dalam darah dapat turun, sebab belum sempatnya tubuh
merespon kebutuhan leukosit yang tiba-tiba meninggi. Namun setelah
tubuh sempat merespon kebutuhan ini maka jumlah leukosit akan
meninggi di dalam darah tepi. Apendisitis akut supurativa ini
kebanyakan terjadi karena adanya obstruksi. Apendiks dan meso

apendiks udem, hiperemi, dan di dalam lumen terdapat eksudat


fibrinopurulen.
3. Apendisitis Akut Gangrenosa
Tampak apendiks udem, hiperemis, dengan gangren pada bagian
tertentu, dinding apendiks berwama ungu, hijau keabuan atau merah
kehitaman. Pada apendiksitis akut gangrenosa ini bisa terdapat
mikroperforasi.
4. Apendisitis Akut Perforasi
Pada dinding apendiks telah terjadi ruptur, tampak daerah perforasi
yang dikelilingi oleh jaringan nekrotik.
5. Apendisitis Akut Abses
Abses akan timbul di fossa iliaka kanan lateral dekat caecum,
retrocaecal dan pelvis. Mengandung pus yang sangat banyak dan
berbau.
Diagnosis Banding :
1. Kolesistitis akut
2. Divertikel Mackelli
3. Enteritis regional
4. Pankreatitis
5. Batu ureter
6. Cystitis
7. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
8. Salpingitis akut
Penatalaksanaan
:
Pasien yang telah terdiagnosis apendisitis akut harus segera dirujuk ke
layanan
sekunder
untuk dilakukan operasi cito.
Penatalaksanaan di pelayanan kesehatan primer sebelum dirujuk:
1. Bed rest total posisi fowler (anti Trandelenburg)
2. Pasien dengan
dugaan
apendisitis
sebaiknya
tidak diberikan
apapun melalui
mulut.
3. Penderita perlu
cairan
intravena
untuk
mengoreksi
jika
ada
dehidrasi.
4. Pipa
nasogastrik

dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi


abdomen dan mencegah muntah.
Komplikasi
:
1. Perforasi apendiks
2. Peritonitis umum
3. Sepsis
Kriteria Rujukan
:
Pasien yang telah terdiagnosis harus dirujuk ke layanan sekunder untuk
dilakukan
operasi
cito.
c.
d.
e.
f.

Diverticulitis, Diabetic Ketoacidosis, Dysentary/Diarrhea Drug withdrawal


Gastroenteritis, Gall bladder disease/stones/obstruction/infection
Urinary tract obstruction (stone), infection (pyelo/cystitis)
Testicular Torsion, Toxin - Lead, black widow spider bite
Torsio Testis/Funiculus spermaticus
Tingkat kompetensi
: 3B
Definisi : terpeluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya
gangguan
aliran darah pada testis (strangulasi), apabila dibiarkan
lebih
dari
3-4
jam
menyebabkan infark dan atrofi organ yang bersangkutan
sehingga
funsgi
spermatogenesis terganggu
Insidensi : terjadi pada laki-laki usia 3-20 tahun dan mendadak, sering
terjadi
saat
tidur/istirahat (bukan faktor trauma), testis kanan
terpluntir
sesuai
arah
jarum jam, retraksi ke kranial karena funiculus yang
terplintir memendek
Etiologi : tunica vaginalis yang terlalu besar sehingga testis bebas untuk
berputar
di
dalamnya
Gejala klinis
:
- Nyeri perut timbul mendadak dan hebat, kadang disertai rasa mual
dan muntah
- Nyeri pada skrotum
- Skrotum menjadi merah
- Testis yang bersangkutan membengkak
Diagnosis banding

: orchitis, trauma testis, epididimii-orchitis

Penatalaksanaan
:
- Definitif : explorasi, destorsi, dan orchiopexy (fiksasi) dan sekaligus
testis satunya juga difiksir

Bila mendesak, dapat dilakukan detorsi manual dengan memberikan


anastesi pada funiculus spermaticus dengan arah berlawanan arah
jarum jam

Kriteria Rujukan
:
Pasien dirujuk ke pelayanan sekunder untuk dilakukan orchiopexy
walaupun telah dilakukan detorsi manual.
g. Pneumonia/Pleurisy Pancreatitis Perforated bowel/ulcer, Porphyuria
h. Abdominal aneurysm
i. Infarcted bowel, Infarcted myocardium (AMI), Incarcerated hernia,
Inflammatory bowel disease
Hernia (inguinalis, femoralis, skrotalis) inkarserata dan strangulata
Tingkat kompetensi
: 3B
Hernia inguinalis lateralis (indirek)
Definisi : penonjolan isi vicera melalui 2 pintu dan saluran annulus dan
kanalis inguinalis
Embriologi
:
- Pada laki-laki, berhubungan dengan turunnya testis
- Awal mula, testis tumbuh sebagai suatu struktur di retroperiotoneal
dekat ginjal.
- Selama pertumbuhan fetus, testis akan turun (descensus testis) dari
retroperitoneum ke skrotum.
- Selama penurunan ini, peritoneum yang berada di depannya ikut
terbawa sebagai suatu saluran melalui canalis inguinalis masuk ke
dalam skrotum
- Penonjolan peritoneum tersebut dikenal sebagi processus vaginalis

Sebelum lahir, processus vaginalis akan mengalami obliterasi, kecuali


bagian yang mengelilingi testis yang menjadi tunica vaginalis
Jika processus vaginalis tetap ada, akan didapat hubungan langsung
antara cavum peritoneum dengan skrotum, sehingga berpotensial
menjadi hernia inguinalis di kemudian hari.

Insidensi :

Pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan (9:1)


2 puncak insidens : tahun pertama kehidupan dan pada usia 10-30
tahun

Klasifikasi :
- Hernia inguinalis lateral kongenital
- Hernia inguinalis lateral acquisita
Faktor yang menyebabkan timbulnya hernia :
- Mengejan, batuk, menangis (pada anak kecil)
- Mengangkat barang berat
*faktor-faktot ini meningkatkan tekanan intraabdominal yang
menimbulkan
hernia
pada
penderita dengan processus vaginalis yang hanya tertutup sebagian
Patologi anatomi :
- Hernia inguinalis lateralis keluar dari annulus internus/lateralis melalui
canalis inguinalis menuju annulus externus/medialis bahkan sampai
skrotum (pada pria) dan sampai labium majus (pada wanita)
- Jika sampai skrotum disebut sebagai hernia inguinalis lateralis
complete atau hernia scrotalis
- Jika benjolan hanya sampai annulus externa makan disebut hernia
inguinalis lateralis incomplete
- Isi kantung dapat berisi : usus, omentum, caecum, vesical urinaria
- Jika berisi sebagian usus halus sehingga hanya sebagian lumen usus
yang tertutup disebut sebagai hernia Richters
- Jika berisi diverticulum Meckel disebut hernia Litres
Gejala
- Dewasa pria : terasa benjolan di daerah inguinal hingga mencapai
skrotum,
benjolan
timbul bila berdiri lama/mengejan kuat, terasa
nyeri bila inkaserasi
- Dewasa wanita
: terasa benjolan hingga labium majus
- Anak-anak : menangis akibat sakit, benjolan seperti pada dewasa
Pemeriksaan fisik
- Inspeksi
kanan

perhatikan
-

Palapasi
kiri dan

: lihat adanya benjolan, perhatikan pelipatan paha


dan
kiri,
minta

pasien untuk batuk atau mengejan dan


adanya
benjolan
dan apakah makin membesar (valsava maneuver)
: untuk memeriksa pelipatan paha kiri digunakan tangan
pelipatan tangan kanan dipakai tangan kanan.

Ziemans technique (dikerjakan bila tidak ada benjolan


yang jelas) :
a. Jari ke-2 diletakan di atas annulus internus (terletak di
atas lig inguinale pd pertengahan SIAS dan
tuberculum pubicum)
b. Jari ke-3 diletakkan di atas annulus externus (terletak
di atas lig inguinale sebelah lateral tuberculum
pubicum)
c. Jari ke-4 diletakkan di atas fossa ovalis (terletak di
bawah lig inguinale di sebelah medial A. femoralis)
d. Penderita diminta untuk batuk/mengejan, bila
terdapat hernia akan terasa impuls atau dorongan
pada ujung jari pemeriksa

Benjolan jelas, maka dilakukan :


a. Benjolan dipegang di antara ibu jari dan jari lain,
kemudian dicari batas atas benjolan tersebut
b. Bila batas atas dapat ditentukan, berarti
benjolan berdiri sendiri dan tidak ada hubungan
dengan canalis inguinalis (bukan suatu kantung
hernia)

c. Bila batas atas tidak dapat ditentukan, berarti


benjolan itu merupakan kantung yang ada
kelanjutannya dengan canalis inguinalis
d. Pegang leher benjolan tersebut, minta penderita
batuk untuk merasakan impuls pada tangan
yang memegang benjolan tersebut

Untuk confirmative diagnosis, dilakukan palpasi


digital:

a. Dengan
jari
kelingking,
kulit
skrotum
diinvaginasikan. Jari tersebut digeser sampai
kuku berada di atas spermatik cord dan
permukaan volar jari menghadap ke dinding
ventral skrotum
b. Susuri spermatic cord kea rah proksimal, makan
akan terasa jari masuk melalui annulus externus
dan canalis inguinalis.
c. Setelah masuk ke dalam canalis inguinalis,
penderita diminta untuk mengejan
d. Bila terdapat hernia inguinalis lateralis, terasa
impulse pada ujung jari tersebut. Bila terdapat
hernia inguinalis medialis, teraba impulse pada
bagian samping jari

Cara mengetahui isi kantung hernia, bila hernianya


reducible:
a. Bila isinya omentum : waktu pertama
memasukkan mudah tetapi akhirnya sukar,
karena terdapat adhesi antara omentum dengan
kantung hernia
b. Bila isinya usus : waktu pertama measukkannya
sukar tetapi selanjunya mudah
Terapi
: herniotomi
defek/lubang)

(membuang

kantung

hernia

dan

menutup

Hernia inguinalis medialis (direk)


Definisi : penonjolan isi vicera akibat kelemahan otot dinding abdomen
di
trigonum
Hasselbach (ujung. M. recti abdominis {medial}, A.
epigastrika
profunda
{lateral}, dan ligamentum inguinale pouparti {inferior})

Lokalisasi: keluar dari annulus externus dan tidak melalui annulus


internus,
tetapi
melalui trigonum Hasselach dan tidak masuk ke
skrotum
karena
tidak
melewati canalis inguinalis. Bisa terjadi bilateral meskipun
tidak sama besar
Etiologi

: Dasarnya adalh acquired akibat kelemahan dinding abdomen


1. Kenaikan tekanan intra-abdominal yang melebihi kekuatan
dinding
perut
(batuk, asites, asma, mengejan, obstipasi, pembesaran
prostat)
2. Dinding abdomen lemah, sedangkan tekananan
intraabdominal normal
(orang tua, sakit lama, cachexia)

Gejala
sedikit

: terasa benjolan dengan dasar lebar berbentuk bulat, bila


ditekan
seolah-olah hendak masuk ke dalam cavum abdomen

kembali
Insidensi : sering pada orang tua laki-laki
Terapi
defek/lubang)

: herniotomi (membuang kantung hernia dan menutup

Hernia femoralis

Definisi : penonjolan isi vicera di bawah kanalis inguinalis melalui


annulus femoralis
Lokalisasi: di bawah ligamentum inguinale, melalui annulus femoralis ke
canalis
femoralis
(vena, arteri, dan nervus femoralis dari medial ke lateral),
hernia
menonjol
di
fossa ovalis dan menempel dengan vena, strangulasi
dapat
terjadi
sebab
cincinya kecil dan struktu di sekitarnya lebih kaku

Etiologi

: kongenital dan acquired (sebagian besar pada orang tua dan

faktor
dan

tonus

predisposisi : otot yang kendur, BB yang menurun,


otot
yang
menurun)

Insidensi : banyak pada wanita terutama pada usia tua (3:1) karena
perbedaan bentuk
panggul, dapat unilateral dan bilateral
Gejala
hernia inguinalis

: - keluhan yang dirasakan kurang hebat dibandingkan dengan

tampak sebagai benjolan globular yang kecil di sebelah lateral


tuberculum
pubicum
bila berdiri benjolan akan timbul
bila berbaring benjolan akan hilang
nyeri menjalar turun ke paha bagian antero-medial
Diagnosis: bila tidak terdapat benjolan (tentukan adanya visible impulse
bila penderita
batuk pada daerah lokalisasi), bila terlihat benjolan (di
tempat lokalisasi)
Terapi
: operatif dengan femoral approach (jika non inkaserata) dan
inguinal approach
(jika inkaserata karena lebih mudah bila memerlukan
reseksi usus)
j.

Splenic rupture/infarction , Sickle cell pain crisis sequestration crisis


Hiperplasia prostat jinak
Tingkat kompetensi
:2
Definisi
Etiologi
Patofisiologi
Manifestasi klinis
Diagnosis
Tatalaksana

Anda mungkin juga menyukai