Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

KEPERAWATAN KOMUNITAS 1
PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT

Oleh:
M.Ridho ansari

(712003S14029)

Meldayanti

(712003S14023)

Rismadanti

(712003S14038)

Risya A.

(712003S14039)

Wahyu Rahmatullah

(712003S14044)

YAYASAN ABDI KALIMANTAN


AKADEMI KEPERAWATAN PANDAN HARUM
BANJARMASIN
2016
KATA PENGANTAR
1

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat-Nya jualah,


sehingga kami berhasil menyelesaikan pembuatan makalah asuhan
keperawatan yang berjudul PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT
ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Komunitas pada semester 4 Akademi keperawatan pandan harum. kami
menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu,
kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk menyempurnakan
makalah ini, agar menghasilkan makalah yang lebih baik.
Demikian isi makalah ini, besar harapan kami makalah asuhan
keperawatan ini dapat memberi manfaat.
Banjarmasin, Maret 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................1
C. Tujuan....................................................................................................1
D. Manfaat..................................................................................................1
BAB II KONSEP TEORI ..............................................................................2
A. Pengertian Vektor Penyakit....................................................................2
B. Klasifikasi Vektor Penyakit....................................................................2
C. Tranmisi Penyakit Dari Vektor Penyakit ...............................................3
D. Penyakit akibat vektor............................................................................4
BAB III PEMBAHASAN...............................................................................5
A. Tujuan Pengedalian................................................................................5
B. Metode pengendalian.............................................................................5
C. Permasalahan Penyakit Vektor Di Indonesia.........................................7
D. Peran perawat.........................................................................................8
BAB IV PENUTUP.........................................................................................9
A.Kesimpualan.............................................................................................9
B.Saran.........................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................10

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Wilayah perkotaan mengalami perubahan yang sangat besar akibat banyaknya
industri yangdidirikan. Hal ini menyebabkan penduduk yang tinggal di
pedesaan mulai berpindah ke kotauntuk menjadi tenaga kerja. Selain itu faktor
yang menyebabkan mereka berpindah (urban) adalah faktor ekonomi.
Dengan adanya pendirian industri tersebut menyebabkan lingkungan yang
hijau kini menjadi gersang akibat ditebang untuk dijadikan lahan industri dan
perumahan.Seiring dengan perubahan waktu maka hal tersebut menimbulkan
beberapa dampak terhadaplingkungan sekitar, salah satu dampaknya adalah
penularan penyakit.
Masalah umum yang dihadapi dalam bidang kesehatan adalah jumlah
penduduk yang besardengan angka pertumbuhan yng cukup tinggi dan
penyebaran penduduk yang belum merata, tingkatpendidikan dan sosial
ekonomi yang masih rendah.

Keadan ini dapat menyebabkan lingkungan fisik dan biologis yang tidak
memadai sehingga memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit.
untuk mewujudkan kualitas dan kuantitaslingkungan yang bersih dan sehat
serta untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimalsebagai salah
satu unsur kesepakatan umum dari tujuan nasional, sangat diperlukan
pengendalianvektor penyakit.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja tujuan pengendalian vektor?
2. Bagaimana cara pengendalian vektor?
3. Apa saja permasalahan vektor penyakit yang ada di Indonesia?
4. Begaimana peran perawat dalam pengendalian vektor?
C. TUJUAN
1. Menjelaskan tujuan pengendalian vektor.
2. Menjelaskan cara pengendalian vektor.
3. Menjelaskan permasalahan vektor penyakit yang ada di Indonesia.
4. Menjelaskan peran perawat dalam pengendalian vektor
D. MANFAAT
1. Mampu menjelaskan tujuan pengendalian vektor.
2. Mampu menjelaskan cara pengendalian vektor.
3. Mampu menjelaskan permasalahan vektor penyakit yang ada di Indonesia.
4. Mampu menjelaskan peran perawat dalam pengendalian vektor.

BAB II
KONSEP TEORI
A. PENGERTIAN
Vektor adalah seekor binatang yang membawa bibit penyakit dari seekor
binatang atau seorang manusia kepada binatang atau seorang manusia kepada
binatang lainnya atau manusia lainnya. Sedangkan vektor penyakit yang
(sering) disebabkan anthropoda dikenal sebagai arthopodborne disease atau
vectorborne diseasemerupakan arthropoda yang dapat menularkan,
memindahkan atau menjadi sumber penularan penyakit pada manusia.
Pengendalian vektor adalah upaya menurunkan faktor risiko penularan oleh
vektor dengan meminimalkan habitat potensial perkembangbiakan vektor,
menurunkan kepadatan dan umur vektor untuk mengurangi kontak vektor
dengan manusia atau memutus rantai penularan penyakit
B. KLASIFIKASI VEKTOR
Arthropoda [arthro + pous ] adalah filum dari kerajaan binatang yang terdiri
dariorgan yang mempunyai lubang eksoskeleton bersendi dan keras, tungkai
bersatu, dantermasuk di dalamnya kelas Insecta, kelas Arachinida serta kelas
Crustacea, yangkebanyakan speciesnya penting secara medis, sebagai parasit,
atau vektor organismeyang dapat menularkan penyakit pada manusia.
Sebagian dari Arthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai
ciri-ciri kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesar
jumlahnya karena hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang. Berikut
jenis dan klasifikasi vektor yang dapat menularkan penyakit: Arthropoda yang
dibagi menjadi 4 kelas:
1. Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang
2. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu
3. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau
4. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk
Dari kelas hexapoda dibagi menjadi 12 ordo, antara lain ordo yang
perludiperhatikan dalam pengendalian adalah :
a. Ordo Dipthera yaitu nyamuk dan lalat
Nyamuk anopheles sebagai vektor malaria

Nyamuk aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah


Lalat tse-tse sebagai vektor penyakit tidur
b. Ordo Siphonaptera yaitu pinjal
Pinjal tikus sebagai vektor penyakit pes
c. Ordo Anophera yaitu kutu kepala
Kutu kepala sebagai vektor penyakit demam bolak-balik dan
typhus exantyematicus.
Selain vektor diatas, terdapat ordo dari kelas hexapoda yang bertindak
sebagai binatang pengganggu antara lain:

Ordo hemiptera, contoh kutu busuk


Ordo isoptera, contoh rayap
Ordo orthoptera, contoh belalang
Ordo coleoptera, contoh kecoak

C. TRANSMISI PENYAKIT DARI VEKTOR PENYAKIT


Masuknya agen penyakit kedalam tubuh manusia sampai terjadi atau
timbulnya gejala penyakit disebut masa inkubasi atau incubation period,
khusus pada arthropods borne diseases ada dua periode masa inkubasi yaitu
pada tubuh vektor dan pada manusia.
1. Inokulasi (Inoculation)
Masuknya agen penyakit atau bibit yang berasal dari arthropoda kedalam
tubuh manusia melalui gigitan pada kulit atau deposit pada membran
mukosa disebut sebagai inokulasi.
2. Infestasi (Infestation)
Masuknya arthropoda pada permukaan tubuh manusia kemudian
berkembang biak disebut sebagai infestasi, sebagai contoh scabies.
3. Extrinsic Incubation Period dan Intrinsic Incubation Period
Waktu yang diperlukan untuk perkembangan agen penyakit dalam tubuh
vektor Disebut sebagai masa inkubasi ektrinsik, sebagai contoh parasit
malaria dalam tubuh nyamuk anopheles berkisar antara 10 14 hari
tergantung dengan temperatur lingkungan dan masa inkubasi intrinsik
dalam tubuh manusia berkisar antara 12 30 hari tergantung dengan jenis
plasmodium malaria.
4. Definitive Host dan Intermediate Host
Disebut sebagai host definitif atau intermediate tergantung dari apakah
dalam tubuh vektor atau manusia terjadi perkembangan siklus seksual atau
siklus aseksual pada tubuh vektor atau manusia, apabila terjadi siklus
sexual maka disebut sebagai host definitif, sebagai contoh parasit malaria
mengalami siklus seksual dalam tubuh nyamuk, maka nyamuk anopheles
adalah host definitive dan manusia adalah host intermediate.
5. Propagative, Cyclo Propagative dan Cyclo - Developmental
Pada transmisi biologik dikenal ada 3 tipe perubahan agen penyakit dalam
tubuh vektor yaitu propagative, cyclo propagative dan cyclo developmental, bila agen penyakit atau parasit tidak mengalami perubahan
siklus dan hanya multifikasi dalam tubuh vektor disebut propagative
seperti plague bacilli pada kutu tikus, dengue (DBD) bila agen penyakit
mengalami perubahan siklus dan multifikasi dalam tubuh vektor disebut
cyclo propagative seperti parasit malaria dalam tubuh nyamuk anopheles
dan terakhir bila agen penyakit mengalami perubahan siklus tetapi tidak
mengalami proses multifikasi dalam tubuh vektor seperti parasit filarial
dalam tubuh nyamuk culex.

D. PENYAKIT AKIBAT VEKTOR


Vektor dan binatang pengganggu pada dasarnya dapat
mempengaruhi kehidupan manusia dengan berbagai cara. Berikut ini
adalah penyakit yang ditimbulkan berdasarkan jumlah faktor kehidupan
yang terlibat.
1. Penyakit penyakit dengan dua faktor dua kehidupan (manusiaAntrhopoda).
2. Penyakit dengan tiga faktor kehidupan (manusia Antrhopodavektor-kuman).
3. Penyakit penyakit dengan empat faktor dua kehidupan (manusiaAntrhopodav vektor-kuman-reservoir).
Menurut sumbernya penyakit akibat vektor dibagi dua yaitu:
1. Penyakit Bawaan Vektor
Perpindahan penyakit melalui organisme hidup, seperti nyamuk,
lalat, atau kutu. Penularannya dapat berlangsung secara mekanis,
melalui bagian mulut yang terkontaminasi atau kaki vector, atau
secara biologis, yang melibatkan perubahan multiplikasi atau
perkembangan agens dalam vector sebelum penularan berlangsung.
Pada penularan mekanis, penggandaan dan perkembangan organisme
penyakit biasanya tidak terjadi. Contoh, organisme penyebab
disentri, kolera, dan demam tifoid telah diisolasi dari serangga
seperti kecoak dan lalat rumah dan diperkirakan tersimpan pada
makanan yang disiapkan untuk konsumsi manusia. Contoh lain,
vector penyakit dan penyakit yang disebarkannya mencakup nyamuk
(malaria, filariasis).
2. Penularan biologis
Perubahan multiplikasi dan/atau perkembangan agens penyakit
berlangsung dalam vector sebelum penularan terjadi. Contoh vector
biologis antara lain nyamuk, pinjal, kutu, tungau, lalat. Nyamuk
sampai saat ini merupakan vector paling penting dalam penyakit
manusia. Nyamuk menularkan virus yang menyebabkan yellow fever
dan demam berdarah dengue, sekaligus menularkan 200 virus
lainnya. Tungau, vector penting lainnya, menularkan Rocky
Mountain spotted fever, demam berulang dal Lyme Disease. Vektor
serangga lainnya adalah lalat (African sleeping sickness), pinjal
(pes), kutu (tifus epidemic dan trench fever).

BAB III
PEMBAHASAN
A. TUJUAN PENGENDALIAN VEKTOR
1. Mencegah wabah penyakit, memperkecil risiko kontak antara manusia
dengan vektor penyakit dan memperkecil sumber penularan
penyakit/reservoir
2. Mencegah dimasukkannya vektor atau penyakit yg baru ke suatu kawasan
yg bebas, dilakukan dengan pendekatan legal, maupun dengan aplikasi
pestisida (spraying, baiting, trapping)
B. METODE PENGENDALIAN
Pengendalian vektor dan binatang pengganggu adalah upaya untuk
mengurangi atau menurunkan populasi vektor atau binatang pengganggu
dengan maksud pencegahan atau pemberantasan penyakit yang ditularkan atau
gangguan (nuisance) oleh vektor dan binatang pengganggu tersebut.
Menurut WHO (Juli Soemirat,2009:180), pengendalian vektor penyakit
sangat diperlukan bagi beberapa macam penyakit karena berbagai alasan :
1. Penyakit tadi belum ada obatnya ataupun vaksinnya, seperti hamper semua
penyakit yang disebabkan oleh virus.
2. Bila ada obat ataupun vaksinnya sudah ada, tetapi kerja obat tadi belum efektif,
terutama untuk penyakit parasiter
3. Berbagai penyakit di dapat pada banyak hewan selain manusia, sehingga sulit
dikendalikan.
4. Sering menimbulkan cacat, seperti filariasis dan malaria.
5. Penyakit cepat menjalar, karena vektornya dapat bergerak cepat seperti insekta
yang bersayap
Ada beberapa cara pengendalian vektor dan binatang pengganggu diantaranya
adalah sebagai berikut.
1. Pengendalian kimiawi
Cara ini lebih mengutamakan penggunaan pestisida/rodentisida
untuk peracunan. Penggunaan racun untuk memberantas vektor lebih
efektif namun berdampak masalah gangguan kesehatan karena penyebaran
racun tersebut menimbulkan keracunan bagi petugas penyemprot maupun
masyarakat dan hewan peliharaan. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1960-an
yang menjadi titik tolak kegiatan kesehatan secara nasional (juga
merupakan tanggal ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional), ditandai
dengan dimulainya kegiatan pemberantasan vektor nyamuk menggunakan
bahan kimia DDT atau Dieldrin untuk seluruh rumah penduduk pedesaan.
Hasilnya sangat baik karena terjadi penurunan densitas nyamuk secara
drastis, namun efek sampingnya sungguh luar biasa karena bukan hanya
nyamuk saja yang mati melainkan cicak juga ikut mati keracunan (karena
memakan nyamuk yang keracunan), cecak tersebut dimakan kucing dan
ayam, kemudian kucing dan ayam tersebut keracunan dan mati, bahkan
manusia jugs terjadi keracunan Karena menghirup atau kontak dengan
bahan kimia tersebut melalui makanan tercemar atau makan ayam yang
keracunan.
Selain itu penggunaan DDT/Dieldrin ini menimbulkan efek
kekebalan tubuh pada nyamuk sehingga pada penyemprotan selanjutnya
tidak banyak artinya. Selanjutnya bahan kimia tersebut dilarang
7

digunakan. Penggunaan bahan kimia pemberantas serangga tidak lagi


digunakan secara missal, yang masih dgunakan secra individual sampai
saat ini adalah jenis Propoxur (Baygon). Pyrethrin atau dari ekstrak
tumbuhan/bunga-bungaan.
Untuk memberantas Nyamuk Aedes secara missal dilakukan
fogging bahan kimia jenis Malathion/Parathion, untuk jentik nyamuk
Aedes digunakan bahan larvasida jenis Abate yang dilarutkan dalam air.
Cara kimia untuk membunuh tikus dengan menggunakan bahan racun
arsenic dan asam sianida. Arsenik dicampur dalam umpan sedangkan
sianida biasa dilakukan pada gudang-gudang besar tanpa mencemai
makanan atau minuman, juga dilakukan pada kapal laut yang dikenal
dengan istilah fumigasi. Penggunaan kedua jenis racun ini harus sangat
berhati-hati dan harus menggunakan masker karena sangat toksik terhadap
tubuh manusia khususnya melalui saluran pernafasan.
Penggunaan bahan kimia lainnya yang tidak begitu berbahaya
adalah bahan attractant dan repellent. Bahan Attractant adalah bahan kimia
umpan untuk menarik serangga atau tikus masuk dalam perangkap.
Sedangkan repellent adalah bahan/cara untuk mengusir serangga atau tikus
tidak untuk membunuh. Contohnya bahan kimia penolak nyamuk yang
dioleskan ke tubuh manusia (Autan, Sari Puspa, dll) atau alat yang
menimbulkan getaran ultrasonic untuk mengusir tikus (fisika).
2. Pengendalian Fisika-Mekanika
Cara ini menitikberatkan kepada pemanfaatan iklim/musim dan menggunakan
alat penangkap mekanis antara lain :
a. Pemasangan perangkap tikus atau perangkap serangga
b. Pemasangan jarring
c. Pemanfaatan sinar/cahaya untuk menarik atau menolak (to attrack and
to repeal)
d. Pemanfaatan kondisi panas dan dingin untuk membunuh vektor dan
binatang penganggu.
e. Pemanfaatan kondisi musim/iklim untuk memberantas jentik nyamuk.
f. Pemanfaatan suara untuk menarik atau menolak vektor dan binatang
pengganggu.
g. Pembunuhan vektor dan binatang pengganggu menggunakan alat
pembunuh (pemukul, jepretan dengan umpan, dll)
h. Pengasapan menggunakan belerang untuk mengeluarkan tikus dari
sarangnya sekaligus peracunan.
i. Pembalikan tanah sebelum ditanami.
j. Pemanfaatan arus listrik dengan umpan atau attracktant untuk
membunuh vektor dan binatang pengganggu (perangkap serangga
dengan listrik daya penarik menggunakan lampu neon).
3. Pengendalian Biologis
Pengendalian secara biologis dilakukan dengan dua cara, yakni :
a. Memelihara musuh alaminya
Musuh alami insekta dapat berupa pemangsanya ataupun
mikroba penyebab penyakitnya. Untuk ini perlu diteliti lebih lanjut
pemangsa dan penyebab penyakit mana yang paling efektif dan efisien
mengurangi populasi insekta. Untuk ni perlu juga dicari bagaimana

b.

caranya untuk melakukan pengendalian pertumbuhan pemangsa dan


penyebab penyakit ini apabila populasi vektor sudah terkendali
jumlahnya.
Mengurangi fertilitas insekta
Untuk cara kedua ini pernah dilakukan dengan meradiasi
insekta jantan sehingga steril dan menyebarkannya di antara insekta
betina. Dengan demikian telur yang dibuahi tidak dapat menetas. Cara
kedua ini masih dianggapa terlalu mahal dan efisiensinya masih perlu
dikaji.

C. PERMASALAHAN VEKTOR PENYAKIT DI INDONESIA


Beberapa vektor yang sering ada di Indonesia adalah nyamuk, lalat, kutu,
pinjal dan tungau. Nyamuk yang menjadi vector penyakit penting di Indonesia
yaitu genus culex, anopheles, dan aedes. Genus lalat yang penting adalah
musca. Ada dua gender pada kutu yang penting yaitu pediculus dan phthirus.
Peran kutu sebagai vector belum definitif, akan tetapi karena ia menghisap
darah, maka besar sekali kemungkinannya bahwa kutu dapat menyebarkan
penyakit. Pinjal berbeda dari kutu karena dapat meletik-letik. Pada pinal ada 3
genera yang penting yaitu xenopsylla, ctenocephalides dan pulex. Pinjal yang
pernah terkenal dimasa lalu adalah pinjal tikus (xenopsylla cheopis),
penyebaran penyakit pest, yang disebabkan bakteri pasteurella pestis, saast ini
penyakit pest sudah jarang didapat. Pinjal anjing dan kucing (ctenocephalides)
saat ini mungkin akan menjadi penting, sebagai pembawa penyakit
toxoplasmosis dan cacing. Pada tungau ada 9 buah gender yang penting yaitu
argas, ornithodoros, otobius, dermacentor, rhipicephalus, amblyoma,
trombicula, sarcoptes dan allodermansyssus. Kebanyakan tungau
menyebabkan penyakit rickettsiosis. Pemberantasan penyakit ini agak sulit
karena sekali tungau terkena infeksi, maka seluruh generasi berikutnya akan
terinfeksi juga. Pengaruh vector terhadap kesehatan dapat bermacam-macam,
selain sebagai vector. Secara langsung, dapat menyebabkan entomophobia,
gangguan ketenangan, dan dapat menjadi penyebab penyakit seperti penyakit
scabies, dan myasis. Secara tidak langsung dapat menjadi reservoir agent
penyakit, memusnahkan panen, dan menjadi parasite pada tubuh manusia.
Permasalahan beberapa penyakit yang berkembang di Indonesia adalah :
1. Filariasis
Filiaris adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematode
yang tersebar diseluruh Indonesia. Gejala pembengkakan kaki muncul karena
sumbatan microfilaria pada pembuluh limfe yang biasanya terjadi pada usia
diatas 30 tahun setelah terpapar parasit selama bertahun tahun. Oleh karena
itu, filariasis disebut juga penyakit kaki gajah. Beberapa spesies yang
menyerang manusia diantaranya Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia
trimori, dan Onchocerca volvulus.
2. Pes

Pes memiliki nama lain plague, sampar, La peste. Pes merupakan satu
penyakit zoonosis pada rodensia yang bisa ditularkan kepada manusia, dan
merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan terjadinya
wabah. Kekeliruan pengelolaan limbah padat -- seperti yang terjadi pada
tempat pembuangan sampah yang terbuka, dan daerah mumuh kota memicu
memicu perkembangan populasi tikus dan mencit. Binatang pengerat ini
merupakan pejamu bagi pinjal, yang dapat menularkan tifus tikus (murine
thypus) suatu penykit ricketsia yang ditandai dengan sakit kepala, demam, dan
ruam kulit. Mungkin Zoonosis yang paling membinasakan dalam sejarah
adalah pes. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersina pestis Vektor
penyakinya adalah pinjal (Kutu) Xenopsylla cheopsis, culex iritan., sering
ditemukan pada populasi binatang pengerat liar misalnya tupai tanah. Jika
penyakit ini menemukan jalan masuk menuju populasi bintang pengerat pada
kota dan besar populasi tidak dapat dikendalikan, epidemi akan terjadi yang
bermula pada tikus, berlanjut pada manusia yang akan terserang penyakit ini.
Pinjal yang lapar, yang terinfeksi bakteri pes, akan melompat dari tikus ke
manusia. Kemudian, karena berupaya mengisap makanan dari manusia, pinjal
itu akan menularkan bakteri pes.
D. PERAN PERAWAT DALAM PENGENDALIAN VEKTOR
1. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor)
Perawat berperan dalam pemberian pendidikan kesehatan tentang cara
pengendalian vektor penyakit seperti nyamuk,lalat, dsb.
2. Sebagai Panutan (Role Model).
Perawat harus sebgai contoh atau panutan dalam pengendalian vektor penyakit
bagi individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat.
3. Sebagai kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat bekerjasama dengan warga dalam
pengendalian vektor.
4. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder).
Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalahmasalah kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap
status kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan,
observasi dan pengumpulan data.
5. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan, merencanakan
dan mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien.
Pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena klien menerima
pelayanan dari banyak profesional.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
10

1. Tujuan pengendalian vektor adalah mencegah wabah penyakit dan


Mencegah dimasukkannya vektor atau penyakit yg baru ke suatu kawasan
yg bebas.
2. Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan cara pengendalian secara
kimiawi, fisika-mekanika, dan biologis.
3. Permasalahan beberapa penyakit yang berkembang di Indonesia adalah
filiaris dan pes.
4. Peran perawat dalam pengendalian vektor antara lain sebagai: Pendidik
dan konsultan (Nurse Educator and Counselor), panutan (role model),
kolaborator, pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder), dan
Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)
B. SARAN
Pengendalian harus dilakukan secara terpadu direncanakan dan dilaksanakan
untuk jangka panjang, ditunjang dengan pemantuan yang kontinu

11

DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/134866971/Vektor-Penyakit#download
diakses pada tanggal 9 maret 2016 pukul 18:00
http://apriliasakari.blogspot.co.id/2014/04/makalah-pengendalian-vektor.html
di akses pada tanggal 11 maret 2016 pukul 20:55
http://fkmapkesling2013.blogspot.co.id/2013/11/vektor-penyakit.html
diakses pada tanggal 17 maret 2016 pukul 17:57

12