Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN MATERI

DASAR TEORI
Anestesi umum merupakan tindakan menghilangkan rasa nyeri secara sentral
disertai hilangnya kesadaran dan bersifat irreversible. Anestesi umum yang sempurna
menghasilkan ketidaksadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko yang
tidak diinginkan dari pasien. Anestesi umum ini dapat dihasilkan dengan pemberian obat
sesuai dengan bentuk fisiknya, yaitu anestetik menguap, anestetik gas dan anestetik yang
diberi secara IV (intravena) (Baulton,1994).
Praktikum pemberian anestesi umum pada kelinci ini menggunakan obat
anestetik menguap, yaitu eter. Anestetik yang menguap (volatile anesthetic) mempunyai
3 sifat dasar yang sama, yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar, mempunyai sfat
anestetik kuat pada kadar rendah dan relative mudah larut dalam lemak, darah dan
jaringan. Kelarutan yang baik dalam darah dan jaringan dapat memperlambat terjadinya
keseimbangan dan terlewatinya induksi (Kee,1996). Namun hal ini dapat diatasi dengan
memberikan kadar lebih tinggi dari kadar yang dibutuhkan.Bila stadium yang diinginkan
sudah tercapai, kadar disesuaikan untuk mempertahankan stadium tersebut. Untuk
mempercepat induksi dapat diberika zat anestetik lain yang kerjanya cepat kemudian
baru diberikan anestetik yang menguap (Baulton,1994).
Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau, mudah
terbakar, mengiritasi saluran nafas dan mudah meledak. Eter juga merupakan anestetik
yang sangat kuat sehingga penderita dapat memasuki setiap tingkat anastesi. Eter dapat
menghasilkan efek analgesik dengan kadar dalam darah arteri 10-15 mg % walaupun
penderita masih sadar sehingga eter mempunyai sifat analgesik yang kuat sekali
(Katzung,1989).

Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4 stadium, yaitu:
Stadium I
Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran.
Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya
rasa sakit). Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar, dapat
dilakukan pada stadium ini.

Stadium II
Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran dan refleks
bulu mata sampai pernapasan kembali teratur. Pada stadium ini terlihat adanya eksitasi dan
gerakan yang tidak menurut kehendak, pasien tertawa, berteriak, menangis, menyanyi,
pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apnu dan hiperpnu, tonus otot rangka meningkat,
inkontinensia urin dan alvi, muntah, midriasis, hipertensi serta takikardia. Stadium ini harus
cepat dilewati karena dapat menyebabkan kematian.
Stadium III
Stadium III (pembedahan) dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan spontan
hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana yaitu:

Plana 1: Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi gerakan bola
mata yang tidak menurut kehendak, pupil miosis, refleks cahaya ada, lakrimasi
meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan belum tercapai relaksasi otot
lurik yang sempurna (tonus otot mulai menurun).

Plana2: Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume tidak menurun, frekuensi


meningkat, bola mata tidak bergerak, terfiksasi di tengah, pupil midriasis, refleks
cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang, dan refleks laring hilang sehingga dapat
dikerjakan intubasi.

Plana 3: Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis, lakrimasi
tidak ada, pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan peritoneum tidak ada, relaksasi
otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin menurun).

Plana 4: Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis total, pupil
sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfingter ani dan kelenjar air mata tidak
ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun).

Stadium IV
Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan melemahnya pernapasan perut
dibanding stadium III plana 4. Pada stadium ini tekanan darah tak dapat diukur, denyut

jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini
tidak dapat diatasi dengan pemapasan buatan.

DAPUS

Baulton,Thomas B.1994.Anestesiologi.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC


Katzung B,G.1989.Basic and clinical pharmachology.4 th.ed (1989) Appleton dan
Lange, A publishing division of Prentica Hall International Inc. Conecut USA
Kee, Soyce,L. 1996. Farmakologi. Jakarta : EGC