Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR


(Pendekatan Keterampilan Proses)

Disusun Oleh :
Yoel Sura (1414441011)
Nur Amaliyah Utami (1414440009)
Dyan Rahayu (1414441003)
Ghearika Sriwijatno (1414442003)
Ade Hastarina Hasan (1414440021)
Isnayah Nur Aliefya (1414442013)

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI ICP A


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat serta nikmat-Nya
Yang selalu mengalir hingga saat ini, sehingga makalah ini dapat diselesaikan
dengan baik. Salam dan shalawat tak lupa kita kirimkan kepada pembawa cahaya
kebenaran Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat-sahabatnya.
Makalah ini berjudul pendekatan dalam pembelajaran, yang membahas
tentang pendekatan keterampilan proses, dari pendekatan keterampilan ini terbagi
dua yaitu keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terintegrasi.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Untuk itu saran
dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.

Makassar, Maret 2016

Kelompok II

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses belajar mengajar yang terjadi didalam kelas guru
memiliki peran yang sangat penting baik itu dalam menetukan pola kegiatan
belajar mengajar dikelas maupun bagaimana pembelajaran agar peserta didik
memiliki pengalaman belajar.
Pengalaman belajar dapat diperoleh baik didalam kelas dengan
menggunakan

media

pembelajaran

maupun

diluar

kelas

dengan

memanfaatkan lingkungan alam melalui interaksi aktif. Dan hal yang paling
penting yang harus diperhatikan oleh guru adalah peserta didik bukan hanya
sekedar menghafal untuk dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk
memecahkan masalah dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, diperlukan kemampuan bagi guru sebagai pendidik
untuk dapat meningkatkan kemampuan dalam proses mengajar guna
meningkatkan keterampilan siswa dalam belajar dan mengolah ilmu yang di
dapatkannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Pendekatan Keterampilan Proses ?
2. Apa alasan pentingnya penerapan Keterampilan Proses ?
3.
Bagaimana jenis kegiatan Keterampilan Proses Dasar dan Terintegrasi ?
C. Tujuan Pembelajaran Khusus
1. Menjelaskan pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
2. Menjelaskan alasan pentingnya penerapan keterampilan proses
3. Menjelaskan jenis kegiatan keterampilan proses dasar dan terintegrasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu


pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa
secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Semiawan,
2002). Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan
yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran di
sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini. Pendekatan
keterampilan proses akan efektif jika sesuai dengan kesiapan intelektual.
Oleh karena itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun menurut
urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa.
Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus
mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis. Alasannya tentulah
sederhana, yaitu agar siswa dapat menciptakan kembali konsep-konsep yang
ada dalam pikiran dan mampu mengorganisasikannya. Dengan demikian,
keberhasilan

anak

dalam

belajar

sains

menggunakan

pendekatan

keterampilan proses adalah suatu perubahan tingkah laku dari seorang anak
yang belum paham terhadap permasalahan sains yang sedang dipelajari
sehingga menjadi paham dan mengerti permasalahannya.
B. Alasan Pentingnya Pendekatan Keterampilan Proses
Menurut Semiawan (2002: 15-16), merinci alasan yang melandasi
perlunya diterapkan Pendekatan Keterampilan Proses dalam kegiatan
belajar mengajar sehari-hari :
1. Perkembangan

ilmu

pengetahuan

berlangsung

semakin

cepat

sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan
konsep kepada siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa diberi
bekal keterampilan proses yang dapat mereka gunakan untuk
memperoleh ilmu pengetahuan tanpa tergantung dari guru.
2. Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah
memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai
dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai

dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan


sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap
kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar
nyata.
3. Tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan
situasi menggiring anak untuk bertanya, mengamati, mengadakan
eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri.
4. Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar 100 %,
penemuannya bersifat relatif. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak
setelah orang mendapatkan data baru yang mampu membuktikan
kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi, teori baru yang prinsipnya
mengandung kebenaran yang relatif. Jika kita hendak menanamkan
sikap ilmiah pada diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu
bertanya,

berpikir

kritis,

dan

mengusahakan

kemungkinan-

kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Dengan perkataan lain


anak perlu dibina berpikir dan bertindak kreatif
5. Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak
dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak-anak didik.
Konsep disatu pihak serta sikap dan nilai di lain pihak harus dikaitkan.
C. Jenis Keterampilan Proses
Menurut Nurhayati (2016:31-38), Suatu konsep adalah suatu ide yang
mengikat banyak fakta menjadi satu. Konsep merupakan jembatan antara
banyak fakta yang saling berhubungan. Contoh suatu konsep adalah tingkah
laku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya. Keterampilan faktual dan
pendekatan konseptual dalam pembelajaran lebih mengutamakan ilmu
pengetahuan alam. Untuk itulah dalam pembelajaran sains perlu pendekatan
proses. Keterampilan proses terdiri dari 2 yaitu keterampilan proses dasar
dan Keterampilan proses terintegrasi.
a) Keterampilan Proses Dasar
Berikut kegiatan yang termasuk keterampilan proses dasar:
a. Observasi

Kegiatan observasi adalah peserta didik melakukan pengamatan


terhadap objek dan fenomena alam dengan menggunakan indera
(penglihatan, perabaan,pendengaran,

pembauan, dan pengecapan).

Informasi yang diperoleh dari observasi itu, dapat menimbulkan rasa


ingin tahu, pertanyaan, pemikiran, interpretasi tentang lingkungan, dan
investigasi lebih lanjut. Kemampuan melakukan observasi merupakan
keterampilan

yang

paling

mendasar

dalam

sains,

dan

perlu

pengembangan keterampilan lain.


Kegiatan observasi dapat berupa kualitatif dan kuantitatif. Contoh
observasi kualitatif: pohon itu batangnya tinggi, beruang bulunya lebat,
dan sebagainya. Contoh observasi kuantitatif : tinggi batang pohon
mangga kurang lebih 5 meter, gempa di daerah sumatera mencapai 8,7
S.R. dan sebagainya.
b. Klasifikasi
Klasifikasi adalah keterampilan proses yang merupakan inti
pembentukan konsep. Untuk dapat memahami berbagai macam objek,
peristiwa, makhluk hidup dan sebagainya, kita memerlukan penataan dan
keteraturan. Keteraturan dapat kita ciptakan, jika kita mengenal
persamaan, perbedaan, kemudian kita menggolong-golongkan objek
dengan memperhatikan adanya saling berhubungan antara satu objek
dengan objek yang lain. Setiap cara penggolongan itu harus memiliki
manfaat terutama untuk memudahkan mengenal suatu objek. Itu
sebabnya

kita

melakukan

berdasarkan

tujuan

klasifikasi,

maka

pengklasifikasian suatu objek dapat dilakukan berdasarkan ukuran,


bentuk, warna, atau berbagai sifat lain. Jadi guru hendak melatih peserta
didik melakukan keterampilan ini agar peserta didik tidak sekedar
menghafal pengelompokkan objek tertentu.
c. Komunikasi
Kemampuan melakukan komunikasi dengan orang lain merupakan
dasar bagi segala hal yang kita kerjakan. Komunikasi dapat dilakukan

secara lisan maupun tulisan. Komunikasi merupakan dasar untuk


memecahkan masalah, komunikasi yang baik adalah komunikasi jelas
dan tepat, sehingga perlu menggunakan keterampilan yang harus
dikembangkan

dan

diperaktekkan.

Semua

orang

perlu

untuk

berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga bisa hidup


dengan baik.
d. Pengukuran
Untuk

dapat

melakukan

observasi

kuantitatif,

diperlukan

keterampilan pengukuran. Satuan pengukuran yang paling sering


digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah meter, kilogram, atau
lainnya.
Peserta

didik

perlu

dilatih

melakukan

pengukuran

dengan

menggunakan berbagai alat pengukuran seperti timbangan, mistar,


thermometer, dan lainnya. Begitu pula perlu dilatih menggunakan dengan
teliti, sehingga diperolah hasil pengukuran yang sebenarnya, jangan
ditambah ataupun dikurangi.
e. Penarikan Kesimpulan
Jika suatu observasi merupakan pengalaman yang diperoleh peserta
didik melalui indera (satu atau lebih), maka penarikan kesimpulannya
adalah penjelasan atau interpretasi suatu observasi. Misalnya kita
mempunyai seorang tetangga berusia lanjut, terlihat setiap pagi berjalanjalan bersama salah seorang cucunya. Sudah tiga hari tetangga itu tidak
terlihat. Tadi pagi cucunya datang bersama seorang dokter. Nah, dari halhal seperti itu kita dapat menduga bahwa tetangga itu sedang sakit.
Kemudian kita melakukan observasi langsung melihat kerumahnya dan
melihat bahwa dia benar sakit. Setalah itu kita menarik kesimpulan
bahwa tetangga itu sakit. Jadi penarikan kesimpulan merupakan usaha
untuk menginterpretasikan atau menjelaskan sepernagkat observasi.
Penarikan kesimpulan merupakan suatu pernyataan atau anggapan
mengenai sesuatu dengan bukti-bukti yang ada. Perlu diingat bahwa

setiap penarikan kesimpulan harus didasari dengan bukti observasi


langsung.
f. Prediksi
Prediksi adalah ramalan berdasarkan analisis hasil observasi untuk
masa yang akan datang. Prediksi sangat berkaitan dengan observasi,
penarikan kesimpulan, dan klasifikasi. Prediksi didasarkan atas observasi
yang seksama dan penarikan kesimpulan yang sahih mengenai hubungan
antara peristiwa-peristiwa yang diobservasi. Penarikan kesimpulan
ditunjang oleh hasil observasi yang teliti. Jadi ketiga hal itu sangat terkait
satu sama lainnya, dan keseluruhannya harus dilakukan dengan penuh
ketelitian dan kedisiplinan.
b) Keterampilan Proses Terintegraside
Berikut yang termasuk keterampilan proses terintegrasi :
a. Mengidentifikasi Variabel
Salah satu keterampilan proses yang diperlukan apabila seseorang
akan melakukan penyelidikan atau investigasi adalah mengidentifikasi
variabel. Untuk itu peserta didik harus memahami apa yang disebut
dengan variabel. Variabel adalah sesuatu yang dapat berubah dalam suatu
situasi. Misalnya: pengaruh jumlah pupuk kandang terhadap produksi
tanaman timat. Dari pernyataan tersebut peserta didik dapat menyebutkan
bahwa variabel yang ada dalam pernyataan diatas adalah :
1. Jumlah pupuk kandang
2. Produksi tanaman tomat
Jumlah pupuk kandang adalah suatu variabel karena dapat berubahubah yaitu: sedikit, sedang, atau banyak (dapat menggunakan satuan
berat) begitu pula halnya mengenai produksi tanaman tomat.
Peserta didik juga harus memahami tentang variabel bebas, atau
variabel tergantung. Variabel bebas (independent variabel) disebut juga
variabel termanipulasi karena dapat dimanipulasi. Pada contohnya
variabel bebas adalah produksi tanaman tomat. Sedangkan variabel
terikat (dependent variabel) adalah jumlah pupuk kandang, karena terikat
atau tergantung pada berubahnya variabel bebas.

Setelah mereka mengenali variabel-variabel tersebut. Peserta didik


diberi kesempatan untuk merancang dan melakukan eksperimen sendiri
serta menarik kesimpulan.
b. Menyusun Data Dalam Tabel
Hal ini bertujuan untuk mengorganisasikan sejumlah informasi
dengan cara yang mangkus. Jika suatu investigasi dilakukan, maka
pengukuran-pengukuran yang diperoleh disebut data. Hasil pengukuran
waktu, berat benda, tekanan udara, dan sebagainya adalah data. Agar
dapat diolah lebih lanjut, data itu disusun dalam suatu tabel.
Sebagai contoh, orang mendidihkan air sepanci, pengukuran yang
dilakukan adalah terhadap waktu (variabel bebas) dan suhu air (variabel
terikat). Misalnya air itu sudah mendidih setelah dipanaskan. Ketika
pemanasan berlangsung 5 menit suhu 20oc, ketika pemanasan
berlangsung 10 menit suhunya menjadi 50oc, ketika pemanasan
berlangsung 30 menit suhunya menjadi 100oc. Data tersebut terlihat
berhamburan sulit untuk melihat hubungan antara lama pemanasan
dengan suhu air. Untuk memudahkan memahami hadil pengukuran maka
datanya disusun kedalam tabel. Hasil pengukuran diurutkan dari yang
paling kecil sampai paling besar atau sebaliknya.
c. Menyusun Grafik
Gambar biasanya memberikan lebih banyak informasi dari pada
kalimat-kalimat. Sering kali suatu informasi lebih mudah dapat
dikomunikasikan dengan gambar dari pada dengan kalimat-kalimat lisan
atau tertulis, misalnya data mengenai lama pemanasan dan suhu air.
d. Menggambarkan Hubungan Diantara Variabel-Variabel
Untuk dapat menggambarkan bagaimana hubungan antara variabel
satu dengan yang lain peserta didik harus dapat membuat grafik, menarik
garis yang paling cocok, dan menilis suatu pernyataan mengenai
hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya, hal yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Membuat grafik data
2. Menarik garis yang paling cocok
3. Menulis suatu pernyataan mengenai hubungan antara satu
variabel dengan lainnya.

e. Memperoleh dan Memproses Data


Peserta didik mampu mendapatkan data sendiri, kemudian
memproses atau mengolah data tersebut. Data itu dapat dicari lewat
investigasi atau eksperimen dengan melakukan observasi seperti pada
contoh yang telah diuraikan kemudian disusun dalam tabel membuat
grafik menggambarkan hubungan antara variabel yang satu dengan yang
lain dan diproses data tersebut untuk menetukan hasil akhir eksperimen
peserta didik.
f. Menganalisis Investigasi
Peserta didik perlu mengenali bagian-bagian dari investigasi
(mengidentifikasi variabel, hipotesis, dan cara menguji hipotesis). Hasil
suatu eksperimen ditentukan oleh banyak faktor diantaranya faktor-faktor
yang tidak dikehendaki adanya oleh peneliti. Dalam suatu penelitian
harus dijaga agar tidak ada faktor lain yang mengganggu hubungan
antara variabel bebas denga variabel terikat. Suatu variabel yang dapat
berpengaruh

terhadap

suatu

ekperimen

namun

dapat

dicegah

kemungkinan pengaruhnya itulah yang disebut variabel terkendali.


g. Menyusun Hipotesis
Jika kita akan melakukan investigasi, maka terlebih dahulu perlu
dinyatakan atau disusun adalah hipotesis. Hipotesis dugaan mengenai
hubungan diantara variabel-variabel yang akan diteliti. Hipotesis itu
merupakan pedoman bagi investigator untuk mengenal data apa saja yang
perlu dikumpulkan. Untuk dapat merumuskan suatu hipotesis, biasanya
orang menyusun kata-kata seperti: jika... Maka... Hipotesis seperti ini
memidahkan investigator. Anak kalimat pertama mengenai variabel
bebas sedang anak kalimat kedua mengenai variabel terikat. Misalnya
jika hujan turunnya deras, maka konsumsi es semakin sedikit.
h. Merumuskan Variabel-Variabel secara Operasional
Untuk mengetahui cara pengukuran setiap variabel yang akan diteliti
terlebih dahulu peneliti akan menyusun defenisi-defenisi operasional

setiap variabel. Hal-hal yang perlu diingat yang berhubungan dengan


perumusan variabel secara operasional adalah sebagai berikut.
1. Defenisi operasional dapat menggambarkan bagaimana cara
mengukur suatu variabel
2. Defenisi operasional harus menyatakan tentang kegiatan apa
yang

akan dilakukan dan observasi apa yang akan

dilaksanakan
3. Defenisi operasional harus dirumuskan oleh peneliti
4. Merancang investigasi
Hipotesis dapat diuji dengan baik, apabila penelitian dirancang
dengan baik pula. Rancangan investigasi mencakup: perumusan secara
operasional variabel bebas dan terikat serta bagaimana variabel itu
dikendalikan.
i. Melakukan Eksperimen
Eksperimen merupakan

aktivitas

yang

memadukan

semua

keterampilan proses yang telah diuraikan sebelumnya. Suatu eksperimen


dapat diawali dengan suatu pertanyaan. Beberapa tahap yang perlu
ditempuh untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan terdahulu
dapat mencakup: mengidentifikasi variabel, merumuskan hipotesis,
mengidentifikasi

variabel

dan

mengetahui

variabel

yang

harus

dikendalikan, membuat defenisi operasional, merancang investigasi,


mengumpulkan datang dan menafsirkan data. Kegiatan eksperimen pada
pembelajaran sains sangat baik karena melatih atau menggunakan banyak
keterampilan proses.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai pendekatan
pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan intelektual, sosial,
dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan dasar yang pada
prinsipnya telah ada pada diri siswanya. PKP memiliki beberapa keunggulan.
Keterampilan

dasar

yaitu

mengamati,

mengklasifikasikan,

mengukur,

memprediksi, dan menyimpulkan. Keterampilan terintegrasi yaitu mengenali


variabel, membuat tabel, membuat grafik, menggambarkan hubungan antar
variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian,
menyususn hipotesis, mendefinisikan variabel, merancang penelitian, dan
bereksperimen.
B. Saran
Penerapan

Keterampilan

Proses dalam

suatu

jenjang

pendidikan

memerlukan pembahasan teori dari tiap keterampilan terintegrasi akan


membantu memudahkan siswa mempraktekannya. Mengingat keterampilan
terintegrasi merupakan keterampilan berupa kegiatan penelitian, maka
penerapannya dalam pembelajaran hendaknya dilakukan dengan urutan yang

hirarkis. Dengan kata lain, sebelum satu keterampilan dikuasai siswa jangan
berpindah kepada keterampilan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Nurhayati. 2016. Strategi Belajar Mengajar. Makassar: Badan Penerbit
Universitas Negeri Makassar.
Serniawan, Cony. 2002. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Gramedia