Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

TREND LGBD DALAM PANDANGAN MASYARAKAT INDONESIA

Oleh :
Kelompok 1
Fatmawati Amalia Agustin

(141710101039)

Khalifah Ghina Malyah Mahendra (141710101060)


Isnitzia Bellia Indiana

(141710101064)

Yuliani

(141710101084)

UNIVERSITAS JEMBER
2016
KATA PENGANTAR
1

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan dan berkat-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Trend LGBT dalam Pandangan
Masyarakat Indonesia ini dengan baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas
mata kuliah umum Ilmu Sosial dan Kebudayaan Dasar (ISBD). Makalah ini
menjelaskan dan membahas lebih dalam mengenai kasus Lesbian, Gay, Biseksual dan
Transgender (LGBT) dengan bahasa yang lebih mudah untuk di cerna dan di pahami.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis
peroleh dari buku panduan yang berkaitan dengan Ilmu Sosial dan Kebudayaan
Dasar, skripsi yang membahas tentang LGBT, serta infomasi dari media massa yang
berhubungan dengan kasus LGBT yang popular sekarang ini.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi
kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai trend LGBT yang
marak di perdebatkan saat ini. Akhir kata, mungkin dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan. Kritik dan saran tentunya sangat kami harapkan demi
perbaikan dan kesempurnaan. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Jember, 6 Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI
2

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ii
BAB 1. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan 2
1.4 Manfaat 2
BAB 2. LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Individu

2.2 Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial 4


2.3 Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)5
BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Sejarah Perkembangan LGBT di Indonesia

3.2 Perspektif Masyarakat Indonesia tentang LGBT

3.3 Hukum Perkawinan Sesama Jenis di Indonesia

11

BAB 4. PENUTUP i
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

14
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Zaman sekarang ini sangat marak sekali kaum homo seksual yang terjadi yang
terjadi di dalam masyarakat, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat di luar
Indonesia. Mereka pada saat ini sudah tidak malu-malu dan sembunyi-sembunyi
untuk melakukan hubungan mereka, bahkan mereka sedang berusaha agar sesama
jenis maupun transjender ini dilegalkan di seluruh dunia, karena mereka beranggapan
bahwa hubungan yang merek jalankan adalah merupakan bagian dari hak asasi
manusia juga. Di negara Indonesia sendiri para kaum homo seksual telah mencoba
untuk membuat legal atau diakuinya hubungan mereka oleh pemerintah, karena
mereka menganggap hal tersebut sebagai hal asasi manusia. Selain itu di Indonesia
marak pula kasus yang diberi nama LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan
Transgender). Kasus ini sama dengan kasus homo seksual, yang mana mereka samasama memperjuangkan diakuinya keberadaan mereka di masyarakat.
Tentu saja hal tersebut tidak mungkin dapat berjalan dengan mudah, karena hal
tersebut tidak tidak benar dan mayoritas penduduk Indonesia beragama muslim
tentunya melarang hal tersebut, karena hal tersebut telah dilarang di dalam kitab suci
umat Islam yaitu Al-Quran. Selain itu tentunya agama-agama lain selain Islam di
Indonesia tentunya juga melarang hal tersebut, karena pada umumnya berbagai
agama akan mengajarkan hal-hal yang baik untuk umatnya.
Secara keseluruhan bangsa Indonesia sendiri telah melarang hal tersebut yang
tercermin dalam hukum adat dan UU tentang perkawinan di Indonesia yang telah
diatur dalam pasal 1 nomor 1 tahun 1974 yang berbunyi: perkawinan ialah ikatan
lahir batin antara seseorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Di dunia sendiri homo seksual telah ada semenjak beribu tahun yang lalu dan
menjadi perbincangan, saat mereka ingin melegalkan hubungan mereka di mata
hukum. Saat ini banyak terjadi kasus mengenai homo seksual tersebut, namun di
kemas dalam nama LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Oleh karena
itu, dalam makalah ini akan membahas mengenai kasus LGBT yang terjadi Indonesia.
4

1.2 Rumusan Masalah


1. Dalam perspektif masyarakat Indonesia apakah LGBT dibenarkan?
2. Apakah pilihan menjadi LGBT merupakan bagian dari kebutuhan manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial?
3. Apakah mungkin LGBT tersebut dapat dilegalkan di Indonesia?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui kasus LGBT yang terjadi Indonesia.
2. Untuk mengetahui apakah LGBT tersebut merupakan kebutuhan dari manusia
sebagai makhluk individu maupun manusia sebagai makhluk sosial.
3. Untuk mengetahui kasus LGBT dalam pandangan masyarakat dan hukum di
Indonesia.
1.4 Manfaat
Manfaat yang bis diperoleh dari makalah ini yaitu agar bisa mengetahui
kebutuhan dan hak-hak serta kewajiban apa saja yang harus diketahui oleh
masyarakat sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, serta agar mengetahui
kasus LGBT dalam pandangan masyarakat dan hukum Indonesia.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Individu
5

Setiap manusia lahir ke dunia dengan membawa potensi masing-masing


yang dapat di kembangkan melalui proses belajar maupun pendidikan. Oleh
karena itu manusia lahir sebagai makhluk individu, memiliki perbedaan yang
khas dengan dengan manusia lain, hal ini sesuai dengan Pendapat Allport
mengatakan bahwa individu berasal dari kata individe yang berarti tak dapat
dibagi-bagi, maksudnya bahwa manusia merupakan satu kesatuan jiwa dan raga
yang tak dapat dipisah satu sama lain. Seorang manusia dikatakan sebagai suatu
individu apabila adanya keterpaduan antara jiwa dan raganya. Kegiatan fisik
yang dilakukan manusia merupakan kegiatan manifestasi dari kegiatan psikisnya.
Contohnya : seseorang melakukan kegiatan menulis merupakan perintah dari
jiwa/psikisnya untuk menyuruh fisik (dalam hal ini tangannya) untuk menulis
sesuatu dengan pulpen pada kertas. Tanpa adanya keterpaduan dari kedua aspek
tersebut maka manusia tidak dapat melakukan sesuatu secara sempurna.
Pada saat seorang anak lahir ke dunia ini, sampai usia kanak-kanak awal
(sampai umur 5 tahun) ia mulai mengenal siapa dirinya. Melalui proses
sosialisasi yang dimulai dari lingkungan keluarganya ia mulia mengenal aku.
Proses ini terus tumbuh dan berkembang sampai seorang terbentuk
keperibadiannya secara untuh (Sapriya, 2006).
Individu berasal dari kata in dan divided. Dalam Bahasa Inggris in salah
satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan dengan divided artinya terbagi.
Jadi individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan yang tidak dapat dibagibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia
perorangan sehingga sering digunakan sebagai sebutan orang-seorang atau
manusia perorangan. Individu merupakan kesatuan aspek jasmani dan rohani.
Dengan kemampuan rohaninya individu dapat berhubungan dan berfikir serta
dengan pikirannya itu mengendalikan dan memimpin sesanggupan akali dan
kesanggupan budi untuk mengatasi segala masalah dan kenyataan yang
dialaminya (effendi 2006).

Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang


berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut semakin terlihat sejalan dengan
perkembangan individu. Kata perbedaan dalam istilah perbedaan individual
menurut Landgren ( 1980:578) merupakan suatu variasi yan terjadi, baik pada
aspek fisik maupun psikologis (Sumantri, 2007).
Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat
dibagi melainkan sebagai suatu keseluruhan yang terbatas yaitu sebagai manusia
perorangan (Abu, 2003).
2.2 Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Sosial berarti berkenaan dengan masyarakat.Sosial sering dikaitkan dengan
sosiologi yang mana socius berarti teman dan logos berarti ilmu.Jadi
sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang pertemanan.Dan secara lebih luas
diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi antara manusia
didalam masyarakat.
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk
bermasyarakat, yang diberikan akal pikiran yang berkembang serta dapat
dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial,
manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat
yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk,
karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam
kehidupannya.
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah
Menurut (Hartomo et al ,1997) faktor-faktor yang mendorong manusia hidup
bersama :
7

Adanya dorongan seksual yaitu dorongan manusia untuk mengembangkan


keturunan atau jenisnya.

Adanya kenyataan bahwa manusia itu adalah seibu tidak bisa atau sebegai
makhluk lemah. Karena itu mendesak atau mencari kekuatan bersama yang
terdapat dalam perserikatan dengan orang lain sehingga mereka berlindung
bersama sama dan mengejar kebutuhan hidup sehari hari.

Adanya kesamaan keturunan, kesamaan teritorial, kesamaan nasib, kesamaan


keyakinan/cita cita serta kesamaan kebudayaan.

2.3 Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)


HAM adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia dalam
kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam
deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA)
dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasa; 27 ayat
1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1 dan pasal 31 ayat 1.
Dalam kaitannya dengan itu, maka HAM yang kita kenal sekarang adalah
sesuatu yang sangat berbeda dengan yang hak-hak yang sebelumnya termuat,
misal, dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika atau Deklarasi Perancis. HAM
yang dirujuk sekarang adalah seperangkat hak yang dikembangkan oleh PBB
sejak berakhirnya perang dunia II yang tidak mengenal berbagai batasan-batasan
kenegaraan. Sebagai konsekuensinya, negara-negara tidak bisa berkelit untuk
tidak melindungi HAM yang bukan warga negaranya. Dengan kata lain, selama
menyangkut persoalan HAM setiap negara, tanpa kecuali, pada tataran tertentu
memiliki tanggung jawab, utamanya terkait pemenuhan HAM pribadi-pribadi
yang ada di dalam jurisdiksinya, termasuk orang asing sekalipun. Oleh
karenanya, pada tataran tertentu, akan menjadi sangat salah untuk mengidentikan

atau menyamakan antara HAM dengan hak-hak yang dimiliki warga negara.
HAM dimiliki oleh siapa saja, sepanjang ia bisa disebut sebagai manusia.
Alasan di atas pula yang menyebabkan HAM bagian integral dari kajian
dalam disiplin ilmu hukum internasional. Oleh karenannya bukan sesuatu yang
kontroversial bila komunitas internasional memiliki kepedulian serius dan nyata
terhadap isu HAM di tingkat domestik. Malahan, peran komunitas internasional
sangat pokok dalam perlindungan HAM karena sifat dan watak HAM itu sendiri
yang merupakan mekanisme pertahanan dan perlindungan individu terhadap
kekuasaan negara yang sangat rentan untuk disalahgunakan, sebagaimana telah
sering dibuktikan sejarah umat manusia sendiri. Contoh pelanggaran HAM:
1.

Penindasan dan membatasi hak rakyat dan oposisi dengan sewenang-wenang.

2.

Hukum (aturan dan/atau UU) diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi.

3.

Manipulatif dan membuat aturan pemilu sesuai dengan penguasa dan partai
tiran/otoriter.

BAB 3. PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Perkembangan LGBT di Indonesia
Sinyo (2014) menjelaskan kaum homoseksual mulai bermunculan di kota-kota
besar pada zaman Hindia Belanda. Di Indonesia terdapat komunitas kecil LGBT
walaupun pada saat zaman Hindia Belanda tersebut belum muncul sebagai
pergerakan sosial. Pada sekitar tahun 1968 istilah wadam (wanita adam) digunakan
sebagai pengganti kata banci atau bencong yang dianggap bercitra negatif. Sehingga
didirikan organisasi wadam yang pertama, dibantu serta difasilitasi oleh gubernur
DKI Jakarta, Bapak Ali Sadikin. Organisasi wadam tersebut bernama Himpunan
Wadam Djakarta (HIWAD). Pada tahun 1980 karena Adam merupakan nama nabi
bagi umat islam maka sebagian besar tokoh Islam keberatan mengenai singkatan dari
Wadam sehingga nama Wadam diganti menjadi waria (wanita-pria). Organisasi
terbuka yang menaungi kaum gay pertama berdiri di Indonesia tanggal 1 Maret 1982,
sehingga merupakan hari yang bersejarah bagi kaum LGBT Indonesia. Organisasi
tersebut bernama Lambda. Lambda memiliki sekretariat di Solo. Cabang-cabang
Lamda kemudian berdiri dikota besar lainnya seperti Yogyakarta, Surabaya, dan
Jakarta. Mereka menerbitkan buletin dengan nama G: Gaya Hidup Ceria pada tahun
1982-1984.
Pada tahun 1985 berdiri juga komunitas gay di Yogyakarta mendirikan
organisasi gay. Organisasi tersebut bernama Persaudaraan Gay Yogyakarta
(PGY). Tahun 1988 PGY berubah nama menjadi Indonesian Gay Society (IGS).
Tanggal 1 Agustus 1987 berdiri kembali komunitas gay di Indonesia, yaitu
10

berdirinya Kelompok Kerja Lesbian dan Gaya Nusantara (KKLGN) yang


kemudian disingkat menjadi GAYa Nusantara (GN). GN didirikan di Pasuruan,
Surabaya sebagai penerus Lambda Indonesia. GN menerbitkan majalah GAYa
Nusantara. Tahun 90-an muncul organisasi gay dihampir semua kota besar di
Indonesia seperti Pekanbaru, Bandung, Jakarta, Denpasar, dan Malang (Sinyo,
2014).
Pada akhir tahun 1993 diadakan pertemuan pertama antar komunitas LGBT
di Indonesia. Pertemuan tersebut diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta dan
diberi nama Kongres Lesbian dan Gay Indonesia I atau yang dikenal sebagai
KLG I. Jumlah peserta yang hadir kurang lebih 40-an dari seluruh Indonesia
yang mewakili daerahnya masing-masing. GAYa Nusantara mendapat mandat
untuk mengatur dan memantau perkembangan Jaringan Lesbian dan Gay
Indonesia (JLGI). KLG II dilakukan pada bulan Desember 1995 di Lembang,
Jawa Barat. Peserta yang hadir melebihi dari KLG I dan datang dari berbagai
daerah di Indonesia. Tanggal 22 Juli 1996, salah satu partai politik di Indonesia
yaitu Partai Rakyat Demokratik (PRD), mencatat diri sebagai partai pertama di
Indonesia yang mengakomodasi hak-hak kaum homoseksual dan transeksual
dalam manifestonya. Kemudian KLG III diselenggarakan di Denpasar, Bali pada
bulan november 1997. KLG III merupakan pertama kalinya para wartawan
diperbolehkan meliput kongres diluar sidang-sidang. Hasil kongres ini adalah
peninjauan kembali efektivitas kongres sehingga untuk sementara akan diadakan
rapat kerja nasional sebagai gantinya (Sinyo, 2014) Untuk pertama kalinya Gay
Pride dirayakan secara terbuka di kota Surabaya pada bulan Juni tahun 1999.
Acara tersebut merupakan kerja sama antara GN dan Persatuan Waria kota
Surabaya (PERWAKOS). Pada tahun ini juga Rakernas yang rencananya akan
diselenggarakan di Solo batal dilaksanakan karena mendapat ancaman dari Front
Pembela Islam Surakarta (FPIS). Tanggal 7 November 1999 pasangan gay Dr.
Mamoto Gultom (41) dan Hendry M. Sahertian (30) melakukan pertunangan dan
dilanjutkan dengan mendirikan Yayasan Pelangi Kasih Nusantara (YPKN).
11

Yayasan ini bergerak dalam bidang pencegahan dan penyuluhan tentang penyakit
HIV/AIDS dikalangan komunitas gay di Indonesia (Sinyo, 2014).
3.2 Perspektif Masyarakan Indonesia Tentang LGBT
Homoseksualitas merupakan sebuah rasa ketertarikan secara perasaan dalam
bentuk kasih sayang, hubungan emosional baik secara erotis atau tidak, di mana ia
bisa muncul secara menonjol, ekspresif maupun secara ekslusif yang ditujukan
terhadap orang-orang berjenis kelamin sama. Kata homoseksual berasal dari 2 kata,
yaitu homo dan seksual yang berarti mengacu pada hubungan kelamin, hubungan
seksual mengacu pada kata yang sama (Hatib, 2007). Terjadinya orientasi seks
homoseksual, heteroseksual, ataupun biseksual tersebut dipengaruhi oleh lingkungan,
khususnya lingkungan masa kecilnya bersama kedua orang tua (Kartono, 1989).
Fenomena LGBT di masyarakat modern saat ini mulai berubah dari hal tabu
menjadi hal yang tidak tabu. Kaum gay membuat komunitas-komunitas sendiri, ada
yang tertutup dan ada pula yang terang-terangan. Bahkan di Bandung sendiri, di
tempat-tempat tertentu banyak dijumpai pasangan gay yang tidak segan

lagi

menunjukkan identitas diri mereka sebagai gay dengan berperilaku mesra, seperti
berpegangan tangan, saling membelai dan lain sebagainya.
Di beberapa negara bahkan membuat UU yang melegalkan pernikahan sesama
jenis ini, di antaranya Belanda, Belgia, Swedia, dan Portugal. Hal ini menunjukkan
betapa fenomonena LGBT bukan merupakan hal tabu saat ini.

Pandangan

masyarakat heteroseksual terhadap kaum homoseksual saat ini sudah mulai terbuka.
Batas toleransi masyarakat heteroseksual semakin meluas. Mereka melihat kaum
homoseksual sebagai seseorang yang mempunyai kesamaan di masyarakat. Namun
jika kembali lagi pada agama, perilaku LGBT ini tidak bisa dibenarkan.
Adapun faktor penyebab tejadinya homoseksualitas atau LGBT bisa bermacammacam,seperti karena kekurangan hormon lelaki selama masa pertumbuhan, karena
mendapat pengalaman homoseksual yang menyenangkan pada masa remaja atau
sesudahnya, karena memandang perilaku heteroseksual sebagai sesuatu yang
12

menakutkan atau tidak menyenangkan, ataupun karena besar ditengah keluarga


dimana ibu lebih dominan daripada sang ayah atau bahkan tidak ada (Moertihko,
2001).
Lalu apakah perilaku LGBT itu sebuah penyakit ataukah suatu perilaku yang
tidak sesuai di dalam masyarakat? Bisa dikatakan bahwa LGBT itu adalah sebuah
penyakit dimana mereka melampiaskan kebutuhan seksualnya tetapi tidak pada hal
yang sewajarnya, mereka melakukanya tidak pada lawan jenis tetapi sesama jenis.
Biasanya perilaku itu muncul karena lingkunganya lah yang sudah membentuk main
set/pikiran mereka untuk melakukan tindakan penyimpangan itu, mungkin pada suatu
daerah hal itu dianggap biasa saja tetapi pada masyarakat umumnya hal itu adalah
suatu yang tabu untuk dilakukan, apalagi menurut agama perbuatan itu sangat
dilarang dan melanggar ajaran-ajaran agama (Moertihko, 2001).
Fenomena LGBT di Indonesia tidak bisa diterima bahkan ditolak karena budaya
kita dibatasi oleh konstitusi-konstitusi HAM yang berlaku di Indonesia. HAM tanpa
batas itu sekuler tetapi Indonesia bukanlah negara Liberal yang menganut paham
kebebasan melainkan menganut paham yang lebih didasari oleh agama dan budaya
masyarakat yang telah ada sejak dulu. Apalagi jika mereka melakukan pernikahan
sesama jenis dan menginginkan pengakuan masyarakat atas pernikahan itu
selayaknya pernikahan yang dilakukan masyarakat pada umumnya, di Indonesia
sendiri belum mempunyai peraturan ataupun kaedah mengenai pernikahan sesama
jenis tersebut.
Gereja Katolik, misalnya tetap mempertahankan doktrinnya yang menolak
praktik homoseksual. Tahun 1975, Vatikan mengeluarkan keputusan bertajuk The
Vatican Declaration on Sexual Ethics. Isinya, antara lain menegaskan: It
(Scripture) does attest to the fact that homosexual acts are intrinsically disordered
and can in no case be approved of. Dalam Pidatonya pada malam Tahun Baru 2006,
Paus Benediktus XVI juga menegaskan kembali tentang terkutuknya perilaku
homoseksual. Dalam Islam, soal homoseksual ini sudah jelas hukumnya. Meskipun
sudah sejak dulu ada orang-orang yang orientasi seksualnya homoseks, ajaran Islam
13

tetap tidak berubah, dan tidak mengikuti hawa nafsu kaum homo atau pendukungnya
(Akbar, 2000).
Tidak ada ulama atau dosen agama yang berani menghalalkan tindakan
homoseksual, seperti yang dilakukan oleh Prof. Siti Musdah Mulia dari UIN
Jakarta tersebut. Nabi Muhammad saw bersabda, Siapa saja yang menemukan
pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut. (HR Abu Dawud,
at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Imam Syafii
berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai
mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah
(Akbar, 2000).
3.3 Hukum Perkawinan Sesama Jenis di Indonesia
Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
UU Perkawinan, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami isteri.
Pasal 1
Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha esa.
Selain itu, di dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan dikatakan juga
bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya. Ini berarti selain negara hanya mengenal
perkawinan antara wanita dan pria, negara juga mengembalikan lagi hal tersebut
kepada agama masing-masing.

14

Kemudian, dari sisi agama Islam, perkawinan antara sesama jenis secara
tegas dilarang. Hal ini dapat dilihat dalam Surah Al-Araaf (7): 80-84, yang
artinya sebagai berikut:
"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia
berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji)
itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?"
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka),
bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab
kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikutpengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutpengikutnya (yang beriman) kecuali istrinya (istri Nabi Luth); dia termasuk orangorang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan
(batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu."
Jadi, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan peraturan perundangundangan di Indonesia perkawinan sesama jenis tidak dapat dilakukan karena
menurut hukum, perkawinan adalah antara seorang pria dan seorang wanita.
Pada sisi lain, hukum agama Islam secara tegas melarang perkawinan sesama
jenis.

15

BAB 4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Kasus LGBT di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak tahun 1968, namun dengan
nama yang berbeda dan bersifat tertutup sehingga media tidak banyak meliput
tentang perkembangan LGBT di Indonesia.
2. LGBT bukan merupakan kebutuhan dari manusia sebagai makhluk individu dan
sosial. Sebagai makhluk individu manusia memerlukan makan, tempat tinggal dan
hidup, sedangkan sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain untuk
berinteraksi dalam kehidupannya.
16

3.

Masyarakat menganggap LGBT merupakan hal yang tabu dan perilaku yang

menyimpang. Hal ini dikarenakan LGBT menyalahi aturan agama dan norma sosial
yang berlaku di massyarakat. Di Indonesia sudah terdapat Undang-Undang tentang
perkawinan No. 1 Tahun 1974 yaitu perkawinan adalah ikatan lahir batin antara
seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri. Selain itu Islam secara tegas
melarang perkawinan sesama jenis yang terdapat di Al-Quran

4.2 Saran
Sebaiknya pemerintah bertindak lebih tegas dan berani mengatakan bahwa
LGBT merupakan perilaku yang dilarang di Indonesia karena LGBT bukan
merupakan HAM dan telah menyalahi aturan dalam konteks agama dan norma
yang berlaku di masyarakat

DAFTAR PUSTAKA
Abu, Ahmadi. 2003. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Akbar, Ali. 2000. Seksualitas ditinjau dari Hukum Islam. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Effendi, Ridwan. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.
Hartomo. 1997. Seksualitas Ditinjau dari Hukum Islam. Jakarta: Ghalia Indonesia

17

Hatib, Abdul Kadir. 2007. Tangan Kuasa dalam Kelamin Telaah Homoseks, Pekerja
Seks dan Seks Bebas di Indonesia. Yogyakarta: Insist Press
Kartono, K. 1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Bandar
Maju.
Landgren .1980. Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender Youth. New York: GLSEN.
Moertihko. 2001. Transeksual dan Waria. Solo: Surya Murti Publishing.
Ramali, Ahmad. 2003. Memelihara Kesehatan dalam Hukum Islam. Jakarta: Balai
Pustaka.
Sapriya. 2006. Konsep Dasar IPS. Bandung: UI Press.
Sinyo. 2014. Anakku Bertanya Tentang LGBT. Jakarta: PT. Elex Media
Sumantri, Mulyani. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Universitas
Terbuka.

18