Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PPENDAHULUAN
Tujuan Umum:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa dapat memahami
tentang Validitas dan Reliabilitas.

Tujuan Khusus:
1. Agar mahasiswa dapat arti dan jenis dari validitas.
2. Agar mahasiswa dapat menjelaskan kegunaan validitas.
3. Agar mahasiswa dapat menghitung validitas instrumen.
4. Agar mahasiswa dapat arti dan jenis dari reliabilitas.
5. Agar mahasiswa dapat menjelaskan kegunaan reliabilitas.
6. Agar mahasiswa dapat menghitung reliabilitas instrumen.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Validitas
Validitas berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang
diukur, sehingga betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur. Sebagai
contoh,

ingin mengukur kemampuan siswa dalam matematika. Kemudian

diberikan soal dengan kalimat yang panjang dan yang berbelit-belit sehingga
sukar ditangkap maknanya. Akhimya siswa tidak dapat menjawab, akibat tidak
memahami pertanyaannya. Contoh lain, peneliti ingin mengukur kemampuan
berbicara, tapi ditanya mengenai tata bahasa atau kesusastraan seperti puisi atau
sajak. Pengukur tersebut tidak tepat (valid). Validitas tidak berlaku universal
sebab bergantung pada situasi dan tujuan penelitian. Instrumen yang telah valid
untuk suatu tujuan tertentu belum otomatis akan valid untuk tujuan yang lain.
Contoh variabel prestasi belajar dan motivasi bisa diukur oleh tes ataupun
oleh kuesioner. Caranya juga bisa berbeda, tes bisa dilaksanakan secara tertulis
atau bisa secara lisan. Ada tiga jenis validitas yang sering digunakan dalam
penyusunan instrumen, yakni validitas isi, validitas bangun pengertian dan
validitas ramalan.

(a) Validitas isi


Validitas isi berkenaan dengan kesanggupan instrumen mengukur isi yang harus
diukur. Artinya, alat ukur tersebut mampu mengungkap isi suatu konsep atau
variabel yang hendak diukur. Misalnya tes hasil belajar bidang studi IPS, harus
bisa mengungkap isi bidang studi tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan cara
menyusun tes yang bersumber dari kurikulum bidang studi yang hendak diukur.
Di samping kurikulum dapat juga diperkaya dengan melihat/mengkaji buku
sumber. Sungguhpun demikian tes hasil belajar tidak mungkin dapat mengungkap
semua materi yang ada dalam bidang studi tertentu sekalipun hanya untuk satu
semester. Oleh sebab itu harus diambil sebagian dari materi dalam bentuk sampel

tes. Sebagai sampel maka harus dapat mencerminkan materi yang terkandung dari
seluruh materi bidang studi. Cara Yang ditempuh dalam menetapkan sampel tes
adalah memilih konsep-konsep yang esensial dari materi yang di dalamnya.
Misalnya menetapkan sejumlah konsep dari setiap pokok bahasan yang ada. Dari
setiap konsep dikembangkan beberapa pertanyaan tes (lihat bagan). Di sinilah
pentingnya peranan kisi-kisi sebagai alat untuk memenuhi validitas isi.
TES HASIL BELAJAR

Pokok bahasan untuk


satu semester sesuai
dengan kurikulum

Pokok bahasan 1

Bidang studi

: ....................

Semester

: ....................

Kelas

: ....................

Konsep atau

Jumlah

materi

perta-

esensial

nyaan

1.1

3 soal

abilitas
Jenis tes

diakui
pilihan
ganda

Pokok bahasan 2

1.2

2 soal

Pokok bahasan 2

2.1

2 soal

2.2

3 soal

3.1

3 soal

3.2

2 soal

Pokok bahasan 3

yang

Aplikasi dan
seterusnya

Aplikasi dan
seterusnya

dan seterusnya
Dalam hal tertentu tes yang telah disusun sesuai dengan kurikulum (materi dan
tujuannya) agar memenuhi validitas isi, peneliti atau pemakai tes dapat meminta
bantuan ahli bidang studi untuk menelaah apakah konsep materi yang diajukan
telah memadai atau tidak, sebagai sampel tes. Dengan demikian validitas isi tidak

memerlukan uji coba dan analisis statistik atau dinyatakan dalam bentuk angkaangka.

(b) Validitas bangun pengertian (Construct validity)


Validitas bangun atau bangun pengertian (Construct validity) berkenaan dengan
kesanggupan alat ukur mengukur pengertian-pengertian yang terkandung dalam
materi yang diukurnya. Pengertian-pengertian yang terkandung dalam konsep
kemampuan, minat, sebagai variabel penelitian dalam berbagai bidang kajian
harus jelas apa yang hendak diukurnya. Konsep-konsep tersebut masih abstrak,
memerlukan penjabaran yang lebih spesifik, sehingga mudah diukur. Ini berarti
setiap konsep harus dikembangkan indikator-indikatomya. Dengan adanya
indikator dari setiap konsep maka bangun pengertian akan nampak dan
memudahkan dalam menetapkan cara pengukuran. Untuk variabel tertentu,
dimungkinkan penggunaan alat ukur yang beraneka ragam dengan cara
mengukurnya yang berlainan.
Menetapkan indikator suatu konsep dapat dilakukan dalam dua cara, yakni
(a) menggunakan pemahaman atau logika berpikir atas dasar teori pengetahuan
ilmiah dan (b) menggunakan pengalaman empiris, yakni apa yang terjadi dalam
kehidupan nyata.
Contoh: Konsep mengenai Hubungan Sosial, dilihat dari pengalaman,
indikatornya empiris adalah keterkaitan dari
-

bisa bergaul dengan orang lain

disenangi atau banyak teman-temannya

menerima pendapat orang lain

tidak memaksakan pendapatnya

bisa bekerja sama dengan siapa pun

dan lain-lain.

Mengukur indikator-indikator tersebut, berarti mengukur bangun pengertian yang


terdapat dalam konsep hubungan sosial. Contoh lain: Konsep sikap dapat dilihat
dari indikatornya secara teoretik (deduksi teori) antara lain keterkaitan dari

kesediaan menerima stimulus objek sikap

kemauan mereaksi stimulus objek sikap

menilai stimulus objek sikap

menyusun/mengorganisasi objek sikap

internalisasi nilai yang ada dalam objek sikap.

Apabila hasil tes menunjukkan indikator-indikator tes yang tidak berhubungan


secara positif satu sama lain, berarti ukuran tersebut tidak memiliki validitas
bangun pengertian. Atas dasar itu indikatornya perlu ditinjau atau diperbaiki
kembali. Cara lain untuk menetapkan validitas bangun pengertian suatu alat ukur
adalah menghubungkan (korelasi) antara alat ukur yang dibuat dengan alat ukur
yang sudah baku/standardized, seandainya telah ada yang baku. Bila menunjukkan koefisien korelasi yang tinggi maka alat ukur tersebut memenuhi validitasnya.

(c) Validitas ramalan (predictive validity)


Validitas ramalan artinya dikaitkan dengan kriteria tertentu. Dalam validitas ini
yang diutamakan bukan isi tes tapi kriterianya, apakah alat ukur tersebut dapat
digunakan untuk meramalkan suatu ciri atau perilaku tertentu atau kriteria tertentu
yang diinginkan. Misalnya alat ukur motivasi belajar, apakah dapat digunakan
untuk meramal prestasi belajar yang dicapai. Artinya terdapat hubungan yang
positif antara motivasi dengan prestasi. Dengan kata lain dalam validitas ini
mengandung ciri adanya relevansi dan keajegan atau ketetapan (reliability).
Motivasi dapat digunakan meramal prestasi bila skor-skor yang diperoleh dari
ukuran motivasi berkorelasi positif dengan skor prestasi. Validitas ramalan ini
mengandung dua makna. Pertama validitas jangka pendek dan kedua jangka
panjang. Validitas jangka pendek, artinya daya ramal alat ukur tersebut hanya
untuk masa yang tidak lama. Artinya, skor tersebut berkorelasi pada waktu yang
sama. Misalnya, ketetapan (reliability) terjadi pada semester dua artinya daya
ramal berlaku pada semester dua, dan belum tentu terjadi pada semester
berikutnya. Sedangkan validitas jangka panjang mengandung makna skor tersebut
akan berkorelasi juga di kemudian hari. Mengingat validitas ini lebih menekankan
pada adanya korelasi, maka faktor yang berkenaan dongan persyaratan terjadinya

korelasi harus dipenuhi. Faktor tersebut antara lain hubungan dari konsep dan
variabel dapat dijelaskan berdasarkan pengetahuan ilmiah, minimal masuk akal
sehat dan tidak mengada-ada. Faktor lain adalah skor yang dikorelasikan
memenuhi linieritas. Ketiga validitas yang dijelaskan di atas idealnya dapat
digunakan dalam menyusun instrumen penelitian, minimal dua validitas, yakni
validitas isi dan validitas bangun pengertian. Validitas isi dan bangun pengertian
mutlak diperlukan dan bisa diupayakan tanpa melakukan pengujian secara statistika.

B.

Reliabilitas
Reliabilitas alat ukur adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam
mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapan pun alat ukur tersebut digunakan
akan memberikan hasil ukur yang sama. Contoh paling nyata adalah timbangan
atau meteran. Hal yang sama terjadi untuk alat ukur suatu gejala, tingkah laku, ciri
atau sifat individu dan lain-lain. Misalnya alat ukur prestasi belajar seperti tes
hasil belajar, alat ukur sikap, kuesioner dan lain-lain, hendaknya meneliti sifat keajegan tersebut.
Tes hasil belajar dikatakan ajeg apabila hasil pengukuran saat ini
menunjukkan kesamaan hasil pada saat yang berlainan waktunya, terhadap siswa
yang sama. Misalnya siswa kelas V pada hari ini di tes kemampuan matematik.
Minggu berikutnya siswa tersebut di tes kembali. Hasil dari kedua tes relatif sama.
Sungguhpun demikian masih mungkin terjadi ada perbedaan hasil untuk hal-hal
tertentu akibat faktor kebetulan, selang waktu, terjadinya perubahan pandangan
siswa terhadap soal yang sama. Jika ini terjadi, kelemahan terletak dalam alat ukur
itu, yang tidak memiliki kepastian jawaban atau meragukan siswa. Dengan kata
lain derajat reliabilitasnya masih rendah.
Di lain pihak perbedaan hasil pengukuran bukan disebabkan oleh alat
ukurnya, melainkan kondisi yang terjadi pada diri siswa. Misalnya fisik siswa
dalam keadaan sakit pada waktu tes yang pertama, motivasi pada waktu tes
pertama berbeda dengan motivasi tes pada berikutnya.

Atas dasar itu perbedaan hasil pengukuran pertama dengan hasil


pengukuran berikutnya bisa teijadi akibat perubahan pada diri subjek yang diukur
dan atau oleh faktor yang berkaitan dengan pemberian tes itu sendiri. Hal ini tidak
mengherankan dan sudah umum terjadi, yang sering dinyatakan dengan
sebutan/istilah kesalahan pengukuran. Ini berarti, skor hasil pengukuran yang
pertama dan skor hasil pengukuran kedua terhadap subjek sama, dimungkinkan
terjadinya kesalahan pengukuran disebabkan oleh dua faktor di atas. Oleh
karenanya setiap skor hasil pengukuran menghasilkan dua bagian, yakni hasil
pengukuran pertama yang disebut skor sejati dan hasil pengukuran berikutnya
terhadap subjek yang sama, yang mengandung hasil skor plus kesalahan
pengukuran.
Komponen skor sejati dan skor yang mengandung kesalahan pengukuran
dinyatakan dalam suatu persamaan matematis sebagai berikut:
X =b + s,
dengan:
X = skor yang diamati
b = skor sejati
s = kesalahan pengukuran
Dalam suatu penelitian skor yang diamati adalah skor sejati ditambah skor
kesalahan pengukuran sehingga variansi skor yang diamati X2 adalah variansi skor
sejati Tb2 ditambah variansi skor kesalahan Ts2 atau Tx2 = Tb2 + Ts2.
Indeks reliabilitas alat ukur dalam suatu penelitian dapat dicari dengan
mengkorelasikan skor-skor yang diperoleh dari hasil pengukuran yang
berulang-ulang pada waktu yang berbeda, atau dengan kelompok pertanyaan yang
sepadan. Prosedur ini dilakukan dengan cara memberikan tes dua kali kepada
subjek yang sama pada waktu yang berbeda. Cara kedua adalah membagi alat
ukur (tes) menjadi dua bagian yang sama atau yang setarap untuk melihat
keajegan tes tersebut. Cara yang pertama dikenal dengan tes ulang (test retest) dan
cara kedua dikenal dengan pecahan sebanding/setara.

a. Reliabilitas tes ulang


Tes ulang (test-retest) adalah penggunaan alat ukur terhadap subjek yang diukur,
dilakukan dua kali dalam waktu yang berlainan. Misalnya tes hasil belajar
matematika untuk siswa SD kelas V, diberikan hari ini, lalu diperiksa hasilnya.
Seminggu kemudian tes tersebut diberikan lagi pada siswa yang sama dan
hasilnya diperiksa. Hasil pengukuran yang pertama kemudian dikorelasikan
dengan hasil pengukuran yang kedua untuk mendapatkan koefisien korelasinya
(r). Koefisien korelasi ini disebut koefisien reliabilitas tes ulang, yang hasilnya
akan bergerak dari - 1,0 sampai + 1,0. Bila koefisien reliabilitas mendekati angka
1,0 merupakan indeks reliabilitas tinggi. Artinya hasil pengukuran yang pertama
relatif sama dengan hasil pengukuran yang kedua. Dengan kata lain alat ukur
tersebut memiliki tingkat keajegan atau ketetapan (reliabel). Untuk pengukuran
ilmu-ilmu sosial dan pendidikan indeks reliabilitas 0,75 sudah dianggap cukup
mengingat sifat dan ilmu sosial dan pendidikan berbeda dengan ilmu-ilmu
eksakta.
Jarak atau selang waktu antara pengukuran pertama dengan pengukuran
kedua sebaiknya tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh. Jika terlalu
dekat/pendek, hasil pengukuran banyak dipengaruhi oleh ingatan siswa tentang
jawaban yang diberikan pada pengukuran yang pertama, bukan karena keajegan
alat ukurnya. Sebaliknya jika selang waktu pengukuran pertama dengan pengukuran kedua terlalu lama, bisa terjadi adanya perubahan pengetahuan dan
pengalaman siswa sehingga mempengaruhi koefesien reliabilitasnya. Asumsi yang
digunakan dalam tes ulang ialah karakteristik yang diukur oleh alat ukur tersebut
stabil sepanjang waktu, sehingga jika ada perubahan skor hasil kedua pengukuran
lebih disebabkan kesalahan alat ukur. Cara tes ulang (test-retest) banyak digunakan dalam menetapkan atau menentukan tingkat reliabilitas alat ukur dalam
penelitian sosial dan pendidikan.

b. Reliabilitas pecahan setara


Reliabilitas bentuk pecahan setara tidak dilakukan pengulangan pengukuran
kepada subjek yang sama tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes yang
sebanding atau setara yang diberikan kepada subjek yang sama pada waktu yang
sama pula. Dengan demikian diperlukan dua perangkat alat ukur yang disusun
sedemikian rupa agar memiliki derajat kesamaan atau kesetaraan baik dari segi,
isi, tingkat kesukaran alat ukur, abilitas yang diukur, jumlah pertanyaan, bentuk
pertanyaan dan segi-segi teknis lainnya. Yang berbeda hanyalah pertanyaan. Bila
penyusun kesetaraan alat ukur bisa dicapai seoptimal mungkin maka koefisien
reliabilitas dari prosedur ini dianggap paling baik dibandingkan dengan prosedur
tes ulang. Namun kesulitannya terletak dalam menyusun perangkat alat ukur yang
benar-benar mengandung derajat kesetaraan tinggi.

c. Reliabilitas belah dua


Reliabilitas belah dua mirip dengan reliabilitas pecahan setara terutama dari
pelaksanaannya. Dalam prosedur ini alat ukur diberikan kepada kelompok subjek
cukup satu kali atau satu saat. Butir-butir soal dibagi dua bagian yang sebanding,
biasanya membedakan soal nomor genap dengan soal nomor ganjil. Setiap bagian
soal diperiksa hasilnya, kemudian skor dari kedua bagian tersebut dikorelasikan
untuk dicari koefisien korelasinya. Mengingat korelasi tersebut hanya berlaku
separuh tidak untuk seluruh pertanyaan, maka koefisien korelasi yang
didapatkannya tidak untuk seluruh soal, tapi hanya separuhnya. Oleh sebab itu
koefisien korelasi belah dua perlu diubah ke dalam koefisien korelasi untuk
seluruh soal dengan menggunakan rumus ramalan Spearmen Brown:
11
22
11
1 r
22
2r

rxx =
rxx

= koefisien reliabilitas keseluruhan

1 1
2 2

= korelasi (r) dari belah dua.

Contoh: Koefisien korelasi belah dua adalah 0,60


(2)(0,60)
1 0,60
rxx =
1,20
0,75
1,60
=
Dari contoh di atas terjadi peningkatan koefisien korelasinya, setelah dilakukan
pengubahan. Assumsi yang digunakan dalam prosedur belah dua adalah kedua
bagian alat ukur itu pararel, sekalipun sering keliru atau tidak benar. Akibat
adanya pengubahan koefisien reliabilitas, prosedur belah dua cenderung
menunjukkan koefisien reliabilitas yang tinggi daripada prosedur tes ulang dan
pecahan setara. Oleh sebab itu penggunaan belah dua harus lebih berhati-hati.
Prosedur ini digunakan bila alat ukur mengandung atau terdiri dari banyak item,
item relatif berat/sukar (power test), materi yang diuji cukup komprehensif
sehingga memungkinkan penyusunan dua soal untuk satu permasalahan yang
sama untuk memenuhi belah dua.

d. Kesamaan rasional
Di samping cara-cara yang dijelaskan di atas ada prosedur menghitung reliabilitas
tanpa melakukan korelasi dari dua pengukuran atau pecahan setara dan belah dua.
Cara tersebut adalah kesamaan rasional. Prosedur ini dilakukan dengan
menghubungkan setiap butir dalam satu tes dengan butir-butir lainnya dan dengan
tes itu sendiri secara keseluruhan. Salah satu cara yang sering digunakan adalah
menggunakan rumus Kuder-Rechardson atau KR 21.
Rumusnya:

K x 2-X (K - X)
x 2 ( K - 1)
rxx =

rxx = reliabilitas tes secara keseluruhan


K

= jumlah butir soal dalam tes

2 = variasi skor
X

= mean skor

Misalnya disusun tes sebanyak 80 soal. Setelah diberikan kepada sejumlah siswa
dalam kelas tertentu, lalu dicari nilai rata-rata dan simpangan bakunya. Misalnya
diperoleh nilai rata-rata 60 dan simpangan bakunya 8. Dengan rumus di atas
maka:
(80) 82 60 (80 60)
82 (80 1)
rxx =

5120 1200
5076

3920
5076

= 0,77
Uraian ukuran reliabilitas yang telah dijelaskan di atas dapat dipertimbangkan
oleh peneliti, cara mana yang paling tepat digunakan bergantung pada peneliti.
Pertimbangan tersebut, antara lain sifat variabel yang diukur, jenis alat ukur,
jumlah subjek yang diukur, serta hasil-hasil pengukuran yang diharapkan sesuai
dengan tujuan penelitian.
A. Menentukan Validitas Soal Pilihan Ganda

Langkah untuk menentukan validitas soal pilihan ganda hdala:


1. Lakukan ujian pada siswa dengan soal yang akan dicari validitasnya.
2. Catat skor masing-masing siswa (X)
3. Tentukan rata-rata skor ulangan harian siswa (Y)
4. Buat tabel berikut ini,
5. Gunakan rumus korelasi product-moment

nXY (X )(Y )
xy

{nx 2 (x) 2 }{ny 2 (y ) 2

r =

TABEL : NILAI VALIDITAS SOAL-SOAL UJIAN PILIHAN GANDA

xy

No.

X.Y

65

70

4225

4900

4550

74

65

5476

4225

4810

65

50

4225

2500

3250

56

80

3136

6400

4480

34

65

1156

4225

2210

57

66

3249

4356

3762

80

54

6400

2916

4320

54

55

2916

3025

2970

56

70

3136

4900

3920

10

71

60

5041

3600

4260

11

66

76

4356

5776

5016

12

60

56

3600

3136

3360

13

60

66

3600

4356

3960

14

59

70

3481

4900

4130

15

68

68

4624

4624

4624

16

67

55

4489

3025

3685

17

88

80

7744

6400

7040

18

65

76

4225

5776

4940

19

77

70

5929

4900

5390

20

63

50

3969

2500

3150

21

60

54

3600

2916

3240

22

60

55

3600

3025

3300

23

55

54

3025

2916

2970

24

70

60

4900

3600

4200

25

75

70

5625

4900

5250

26

60

67

3600

4489

4020

27

55

65

3025

4225

3575

28

65

67

4225

4489

4355

29

49

54

2401

2916

2646

30

66

70

4356

4900

4620

31

66

60

4356

3600

3960

32

72

65

5184

4225

4680

33

50

66

2500

4356

3300

34

54

66

2916

4356

3564

35

67

76

4489

5776

5092

36

65

82

4225

6724

5330

37

60

65

3600

4225

3900

38

50

60

2500

3600

3000

39

60

70

3600

4900

4200

40

60

60

3600

3600

3600

41

70

55

4900

3025

3850

42

56

65

3136

4225

3640

43

66

76

4356

5776

5016

44

65

65

4225

4225

4225

45

54

75

2916

5625

4050

46

65

70

4225

4900

4550

47

70

65

4900

4225

4550

48

60

70

3600

4900

4200

49

54

65

2916

4225

3510

50

55

80

3025

6400

4400

51

70

66

4900

4356

4620

52

55

45

3025

2025

2475

53

70

67

4900

4489

4690

54

80

60

6400

3600

4800

55

52

55

2704

3025

2860

56

50

60

2500

3600

3000

57

60

65

3600

4225

3900

58

77

56

5929

3136

4312

59

60

70

3600

4900

4200

60

40

66

1600

4356

2640

3733

3884

237661

255416

242117

Berdasarkan tabel di atas diperoleh:

nXY (X )(Y )
xy

r =

{nx 2 (x) 2 }{ny 2 (y ) 2


.

60( 242177) (3733)(3884)


[60(237661) (3733) 2 ][ 60(255416) (3884) 2 ]

= 0,45367
Berdasarkan
Klasifikasi koefisien korelasi
rxy

0,00 <

< 0,200

: sangat rendah

< 0,400

: rendah

< 0,600

: cukup

< 0,800

: tinggi

< 1,00

: sangat tinggi

rxy

0,200 <
rxy

0,400 <
rxy

0,600 <
rxy

0,800 <

diperoleh validitas soal cukup.

Validitas Keseluruhan Tes

x. y
( x 2 ) ( y 2 )

xy

1. r

, dimana
__

X
x

=X___

=Y-

Atau

nXY (X )(Y )
{nx 2 (x) 2 }{ny 2 (y ) 2

xy

2. r =

xy

3. Rentangan r

adalah

rxy 0,200
0,000

: sangat rendah

rxy 0,400
0,200

: rendah

rxy 0,600
0,400

: cukup

rxy 0,800
0,600

: tinggi

rxy 1,000
0,80

: sangat tinggi

Validitas Item (Dapat Dipilih atau ditetapkan item yang akan diuji validitasnya)

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Siswa
Anisa Dwi
Betty Wolo
Caroline
Dedy M.
Edy Gudel
Fahrial
Gerald Fuy
M. Iskan
Neny
Octa V.A
Jumlah

1
1
0
0
1
1
1
0
0
1
1
6

2
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
6

3
1
1
1
0
1
1
0
1
1
0
7

4
0
1
1
0
1
1
0
1
1
0
6

Item/Butir Soal
5
6
7
0
1
0
0
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
0
1
1
0
0
0
1
1
1
0
0
0
3
5
5

8
0
1
1
0
1
1
1
0
1
0
6

9
1
1
1
0
0
1
1
1
1
0
7

Validitas Item Nomor 1


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Siswa
Anisa Dwi
Betty Wolo
Caroline
Dedy M.
Edy Gudel
Fahrial
Gerald Fuy
M. Iskan
Neny
Octa V.A
Jumlah

X2

Y2

XY

1
0
0
1
1
1
0
0
1
1
6

6
7
9
4
5
8
6
4
9
3
61

1
0
0
1
1
1
0
0
1
1
6

36
49
81
16
25
64
36
16
81
9
413

6
0
0
4
5
8
0
0
9
3
35

Gunakan Rumus Korelasi Product Moment

nXY (X )(Y )
xy

{nx 2 (x) 2 }{ny 2 (y ) 2

r =
=

350 366
(24)( 409)

10
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
10

Skor
Total
6
7
9
4
5
8
6
4
9
3
61

16
9816
=
16
99,075729
=
= -0,1614926

Hal ini berarti bahwa item nomor 1 mempunyai validitas sangat rendah (apa perlu
diganti)

B. Menentukan Reliabilitas Soal sebagai Alat


Tes Pilihan Ganda (PG)
1) Metode Bentuk Paralel
Metode ini dilakukan dengan cara membuat 2 jenis tes yang mempunyai
kesamaan tujuan, tingkat kesukaran yang sama dan susunan sama tetapi butir
soalnya berbeda. Misal tes tersebut Jenis A dan B.
Selanjutnya soal tersebut diberikan kepada satu kelompok kelas yang sama dalam
waktu yang berbeda, sehingga skor tes dinyatakan dengan:

Nama Siswa
Anton
Baihaqi
Azazila
Dst. ......
Jumlah

Skor Soal A
65
75
60

Skor Soal B
56
67
70

X
65
75
60

Y
56
67
70

.....

.....

.....

.....

Jika yang akan dicari reliabilitas soal Jenis A, maka Soal A dianggap variabel X,
dan Soal B dianggap variabel Y.

Untuk menentukn reliabilitasnya gunaka rumus korelasi produk-moment

Korelasi Product Moment dengan angka kasar

nXY (X )(Y )
{nx 2 (x) 2 }{ny 2 (y ) 2

xy

r =

Klasifikasi koefisien korelasi


rxy

0,00 <

< 0,200

: sangat rendah

< 0,400

: rendah

< 0,600

: cukup

< 0,800

: tinggi

< 1,00

: sangat tinggi

rxy

0,200 <
rxy

0,400 <
rxy

0,600 <
rxy

0,800 <

Atau rumus yang lain

x. y
(x 2 ) (y 2 )

xy

, dimana

__

X
x

=X___

=Y-

2) Metode Tes Ulang


Metode ini untuk menghindari bentuk tes yang lebih dari satu jenis. Dengan
demikian berarti satu diberikan dua kali dan hasilnya dicatat sebagai berikut:

Nama Siswa
Anton
Baihaqi
Azazila
Dstnya.
Jumlah

Tes Pertama
Skor (X)
Peringkat
65
2
75
1
60
3

Tes Kedua
Skor (Y)
Peringkat
56
3
67
2
70
1

...

...

Gunakan rumus korelasi, silakan pilih rumus pada cara pertama.

3) Metode Belah Dua


Misalnya banyak item tes 10, gunakan penskoran 0 dan 1 untuk masing-masing
item dan masing siswa, caranya sebagai berikut:
a. Pembelahan Ganjil dan Genap
No.

Nomor Item

Total

Nama Siswa

1
2
3
4

Anton
Baihaqi
Azazila
Respati

10

1
1
0
0

0
1
1
1

0
0
0
1

1
0
1
1

1
1
0
1

1
1
1
1

1
0
0
1

0
0
1
1

0
1
1
1

1
0
1
1

Gj
l
3
3
1
4

G
np
3
2
5
5

Skor
Total

6
5
6
9

5
6
7
8
9
10

Ultraman
Khan Situ
Dalai Lama
Maican
Sanjaya
Ekodimadu
Jumlah

1
0
1
1
0
0

1
1
0
0
1
1

1
1
1
1
1
1

0
1
1
0
1
0

1
0
1
1
0
0

1
1
0
0
1
1

1
1
1
1
1
1

0
1
1
0
1
0

0
1
0
0
0
0

1
1
1
0
0
0

4
3
4
4
2
2
30
X

3
5
3
0
4
2
32
Y

Dicari korelasi X dan Y.


Untuk menentukan reliabilitas gunakan humus

r1.1

2.rxy
1 rxy

b. Pembelahan Awal dan Akhir


Nomor Item
No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Siswa

Anton
Baihaqi
Azazila
Respati
Ultraman
Khan Situ
Dalai Lama
Maican
Sanjaya
Ekodimadu
Jumlah

Dicari korelasi x dan y


Gunakan

Total

10

1
1
0
0
1
0
1
1
0
0

0
1
1
1
1
1
0
0
1
1

0
0
0
1
1
1
1
1
1
1

1
0
1
1
0
1
1
0
1
0

1
1
0
1
1
0
1
1
0
0

1
1
1
1
1
1
0
0
1
1

1
0
0
1
1
1
1
1
1
1

0
0
1
1
0
1
1
0
1
0

0
1
1
1
0
1
0
0
0
0

1
0
1
1
1
1
1
0
0
0

A
wa
l
3
3
3
4
4
3
4
3
3
2
32
X

Ak
hir
3
2
4
5
3
5
3
1
3
2
31
Y

7
8
7
4
6
4
62

r1.1

2.rxy
1 rxy

c. Rumus Flanagan

S S
r11 2 1

2
S
t

2
1

2
2

(X ) 2
X
n
S2
n
2

dan

dimana
S12
S 22

= varians skor belahan ganjil


= varians skor belahan genap

St2

= varians skor total

a. Rumus Rulon

S d2
r11 1 2
St
b. Rumus K-R 20

n
r11
n 1

S 2 pq

2
S

c. Rumus KR-21

n
r11
n 1

M (n M )
1

2
nS
t

d. Rumus Hoyt

Vr Vs
r11
Vr
Langkah selanjutnya dengan menggunakan Analisis Of Varians (ANOVA)

4. Reliabiltas Soal Uraian


Jika tes yang digunakan adalah tes bentuk uraian (Essay Test), maka reliabilitas
dapat ditentukan dengan rumus:

n
rxy

n 1

i2
1 2
t

Dengan
n = banyaknya soal (item)

i2 `

: Jumlah varians skor tiap-tiap soal (item)

t2
: Varians total
Dan

X i

X i 2
n
n

t2
=

Langkahnya
No

Nama
Siswa

1
2
3
4
5
6
7
8

Nindya
Nita
Nani
Nurma
Nadia
Nuri
Nanang
Nurli

9
10

Nakula
Nana
Jumlah
Jumlah
Kuadrat

Skor
Total
(X)

Skor Masing-masing Item


1
5
6
8
10
10
5
5
7

2
10
5
5
5
6
8
10
10

3
9
7
8
10
10
0
0
8

4
5
5
9
10
10
5
8
9

5
5
5
5
8
0
10
10
0

6
5
5
5
5
5
5
5
5

7
6
6
6
6
6
6
6
6

8
7
8
7
8
8
10
6
6

9
5
5
5
5
5
5
5
5

10
10
9
8
6
7
8
7
8

67
61
66
73
67
62
62
64

8
10
75
...

5
8
74

8
0
63

10
4
79

9
8
65

5
5
56

6
6
67

6
0
74

5
5
59

7
10
90

69
56
702

Gunakan rumus di atas, lalu konversikan dengan klasifikasi koefisien korelasi.


Maka akan diketahui reliabilitas soal tes uraian yang dibuat.

X2

I.

Kaidah Penulisan Soal Uraian


Pedoman Penulisan soal bentuk uraian dapat kita baca daribuku Penilaian
Tingkat Kelas yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun
2003, demikian kutipannya:
Materi
(1) Soal harus sesuai dengan indikator.
(2) Setiap pertanyaan diberi batasan jawaban yang diharapkan.
(3) Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tujuan yang akan di ukur.
(4) Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis
sekolah atau tingkat kelas
Konstruksi
(5) Menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut jawaban terurai.
(6) Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
(7) Setiap soal harus ada pedoman penskorannya.
(8) Tabel, gambar, grafik, peta atau sejenisnya disajikan dengan
jelas dan terbaca
Bahasa
(9) Rumusan kalimat soal harus komunikatif.
(10) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar atau baku.
(11) Tidak menimbulkan penafsiran ganda.
(12) Tidak mempergunakan bahasa yang berlaku setempat.
(13) Tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan
siswa.
Konstruksi Butir Soal Uraian
a.

Butir soal tipe jawaban melengkapi


Untuk memeperoleh butir soal tipe jawaban melengkapi yang baik, ada

beberapa petunjuk yang diharapkan membantu :


1. Konstruksilah butir soal yang mengukur hasil belajar yang penting saja. Hasil
belajar yang remeh (trivial) tidak perlu diujikan. Misalnya:
Lemah : jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia enam
tahun di kecamatan ini tahun lalu adalah
Lebih baik : Di Kecamatan ini jumlah bayi yang meninggal sebelum
mencapai usia lima tahun dalam dua tahun terakhir adalah..untuk
setiap seribu penduduk.

2. Konstruksilah butir soal yang mengandung permasalahan yang bersifat


spesifik. Butir soal itu haruslah menjamin bahwa hanya peserta tes yang
menguasai isi pelajaran yang dapat menjawab soal itu dengan baik. Misalnya:
Lemah
: Daun tembakau mengandung.
Lebih baik : Bahan yang berbahaya bagi kesehatan yang terdapat dalam
daun tembakau adalah.
3. Konstruksilah butir soal yang mengharuskan peserta member jawaban yang
secara faktual benar. Misalnya:
Lemah
: Orang merokok akan.
Lebih Baik : Kebiasaan merokok akan menyebabkan penyakit.
4. Konstruksilah butir soal dengan menggunakan bahasa yang jelas, dan tidak
mengandung arti yang mendua. Misalnya:
Lemah
: Ibukota Kuwait yang diduduki Irak adalah.
Lebih baik : Ibukota Kuwait adalah
5. Bila yang ditanyakan menyangkut angka atau jumlah dari satu satuan tertentu,
maka sebaiknya nyatakan satuan tersebut dalam soal. Misalnya:
Lemah
: Seorag anak umur 12 tahun sebaiknya setia hari minum
susu.
Lebih baik : Seorang aak umur 12 tahu sebaiknya setiap hari minum susu
gelas
6. Setiap butir soal sebaiknya hanya berisi satu jawaban yang harus dikerjakan
oleh peserta tes. Misalnya:
Lemah
: Suatu propinsi dibagi menjadi beberapa . Yang selanjutnya
dibagi lagi menjadi beberapa .dan kemudian dibagi lagi menjadi
beberapa ., dan akhir unit terkecil disebut.
Lebih baik : Propinsi Jawa barat dibagi menjadi. Kabupaten dan kota
madya.
b.

Butir soal tipe jawaban singkat


Berikut ini beberapa petunjuk untuk menulis butir soal jawaban singkat,
yang disertai contoh sederhana.

1. Pergunakanlah kata-kata yang menutut jawaban yang singkat dan tertentu.


Jawaban itu haruslah satu kata satu frasa, sebuah angka, atau sebuah symbol.
Misalnya:
Lemah

: Disebut apakah hewan pemakan hewan lain dan tumbuh-

tumbuhan?
Lebih Baik : Termasuk klasifikasi apakah hewan pemakan hewan lain dn
tumbuh-tumbuhan?
2. Jangan sampai pertanyaan yang diajukan menjadi tes bahasa seangkan
maksudnya untuk menguji materi pelajaran lain. Misalnya:
Lemah
: Apakah istilah yang digunakan untuk menanyakan
kedatangan Columbus ke Benua Amerika tahun 1942?
Lebih baik : Siapkah yang menemukan benua Amerika rahun 1942?
3. Untuk menanyakan istilah atau definisi sebaiknya digunakan kalimat Tanya
secara langsung . kalimat lain yang mendahului kalimat Tanya, yang
dimaksudkan untuk menjelaskan pertanyaan, acapkali mengakibatkan
pertanyaan menjadi kabur.
Misalnya:
Lemah

: Setiap mahasiswa harus menaati peraturan sekoah. Ketaatan

kepada aturan sekolah itu dalam P4 apa namanya?


Lebih Baik : sikap yang menganjurkan memelihara kebersihan kelas
sesuai dengan sila keberapa dari pancasila?
4. Dalam menanyakan masalah perhitungan guru harus menentukan tingkat
ketepatan, terutama untuk angka decimal. Apakah cukup anga buat saja, atau
berapa angka dibelakang koma. Misalnya;
Lemah
: Berapakah 10 : 6?
Lebih baik : Berapakah 10 : 6 (bulatkan sampai 2 angka dibelakang
koma)?
5. Sebaiknya hanya satu jawaban untuk satu pertanyaan. Misalnya:
Lemah
: Siapakah proklamator kemerdekaan Indonesia?
Lebih baik : Siapakah yang membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia tanggal 17 Agustus 1945?

II.

Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda


Berdasarkan buku Penilaian Tingkat Kelas yang diterbitkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional tahun 2003, dalam menulis soal pilihan ganda perlu
memperhatikan kaidah-kaidah sebagai berikut:
Materi
(1) Soal harus sesuai dengan indikator.
(2) Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
(3) Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang
paling benar.
Konstruksi
(4) Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
(5) Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan
yang diperlukan saja.
(6) Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar.
(7) Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negative
ganda.
(8) Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
(9) Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua pilihan
jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban di atas benar".
(10) Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun
berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau
kronologisnya.
(11) Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada
soal harus jelas dan berfungsi.
(12) Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
Bahasa
(13) Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah
bahasa Indonesia.
(14) Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan
digunakan untuk daerah lain atau nasional.
(15) Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
(16) Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan
merupakan satu kesatuan pengertian.
Konstruksi Butir Soal Pilihan Ganda
Berikut ini akan dikemukakan beberapa prinsip pokok dalam
konstruksi butir soal tipe pilihan ganda.
1. Saripati permasalahan harus ditempatkan pada pokok soal (stem).

Inti permasalahan dalam butir soal tersebut harus dicantumkan dalam


rumusan pokok soal, sehingga dengan membaca pokok soal, mahasiswa sudah
dapa menentukan jawaban sebelum dilajutkan membaca pilihan jawaban.
Persyaratan ini tidak berlaku bagi pengembangan butir soal kesusasteraan.
Contoh : Yang kurang baik.
Pulau Jawa adalah pulau yang.
A.

Yang menghasilkan banyak minyak

B.

Penduduk terpadat

C.

Dijadikan objek wisata

D.

Mendapat julukan pulau perca

Contoh : yang lebih baik


Pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia adalah pulau
A.

Sumatera

B.

Jawa

C.

Kalimantan

D.

Sulawesi

Contoh yang kedua lebih baik dari contoh yang pertama karena dengan
membaca pokok soal mahasiswa sudah medapatkan jawaban sebelum
membaca pulihan A, B, C dan D.
2. Hindari pengulangan kata-kata yang sama dalam pilihan. Peniadaan
pengulangan kata berarti menyangkut waktu menulis dan membaca serta
menghemat tempat.
Contoh : Yang kurang baik.
Pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia adalah.
A.

Pulau Sumatera

B.

Pulau Jawa

C.

Pulau Kalimantan

D.

Pulau Sulawesi

Sebaiknya pada pilihan jawaban tidak diberi kata pulau.


3. Hindari rumusan kata yang berlebihan. Tidak selalu penjelasan terinci
mempermudah pengertian, justru dapat membingungkan dan mengaburkan
pengertian. Yang penting rumusan yang baik yang berisi, padat, dan jelas
tanpa kata-kata kembang.
Contoh : Yang kurang baik.
Kalau butir soal 2 ditambah rumusannya menjadi:
Pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia sehingga sukar untuk
meningkatkan produksi pangan adalah pulau.
A Pulau Sumatera
B Pulau Jawa
C Pulau Kalimantan
D Pulau Sulawesi
Tambahan kata-kata sehingga sukar untuk meningkatkan produksi pangan
membuat pengertian pernyataan menjadi kabur , dan kalimat yang harus
dibaca lebih panjang.
4. Kalau pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap, maka kata atau
kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung pernyataan, bukan di
tengah-tengah kalimat.
Contoh : Yang kurang baik.
Menurut De Bakey, .adalah penyebab penyakit penyempitan pembuluh
darah.
A.

Cholesterol

B.

Kelebihan berat

C.

Merokok

D.

Tekanan batin

Contoh : yang lebih baik

Menurut De bakey, penyakit penyempitan pembuluh darah disebabkan oleh.


A.

Cholesterol

B.

Kelebihan berat

C.

Merokok

D.

Tekanan batin

5. Susunan alternative jawaban yang dibuat teratur dan sederhana. Cara


menyusun alternative jawaban dibuat berderet dari atas ke bawah. Kalau yang
dideretkan itu terdidi dari satu kata, urutkan ke bawah dibuat berdasarkan
alphabet, kalau yang dideretkan bilangan, urutan ke bawah berdasarkan
bilangan yang makin bertambah besar atau makin menurun, atau diurutkan
berdasarkan panjang kalimat.
6. Hindari penggunaan kata-kata teknis atau ilmiah atau istilah yang aneh atau
mentereng. Perlu diingat bahwa tes yang dikembangkan bertujuan untuk
mengukur materi pelajaran, kalau materi tersebut tidak menyangkut
perbendaharaan, janganlah menggunakan istilah teknik atau aneh.
Contoh : Yang kurang baik.
Apakah kritik utama ahli psikologi terhadap tes?
A.

Tes menimbulkan ancienty

B.

Tes selalu disertai cultural bias

C.

Tes hanya mengukur hal-hal yang trivial

D.

Tes tergantung pada kemampuan kognitif guru

Contoh : yang lebih baik


Apakah kritik utama ahli psikologi terhadap tes?
A.

Tes menimbulkan rasa cemas

B.

Tes sangat tergantung ada nilai budaya tertentu

C.

Tes mengukur hasil belajar yang tidak penting

D.

Tes sangat ditentukan oleh pengetahuan guru

7. Semua pilihan jawaban harus homogeny dan tidak dimungkinkan sebagai


jawaban benar. Cirri khas pilihan ganda dari tes objektif yang lain pada pilihan
ganda semua laternatif jawaban ada kemungkinan sebagai jawaban yang
benar, sehingga mahasiswa terpaksa membaca dan memikirkan semua pilihan
dan menentukan yang mana yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Hindari pengecoh yang dengan melihat sepintas siswa sudah dapat
menentukan pengecoh tersebut tidak ada sangkutannya dengan pokok soal
atau pengecoh tersebut adalah jawaban yang tidak masuk akal.
Contoh : Yang kurang baik.
Siapakah diantara nama-nama di bawah ini yang menemukan telepon?
A.

Bell

B.

Marconi

C.

Morse

D.

Pasteur

Pilihan jawaban D. Pasteur tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan.


Contoh : yang lebih baik
Siapakah di antara nama-nama di bawah ini yang menemukan telepon?
A.

Bell

B.

Marconi

C.

Morse

D.

Edison

8. Hindari keadaan dimana jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari
jawaban yang salah. Ada kecenderungan siswa memilih jawaban yang lebih
panjang dan lebih terinci sebagai jawaban yang benar. Oleh karena itu, penulis
soal berusaha agar pengecoh dan jawaban yang benar ditulis sama panjang
dengan rincian yang sama pula.
9. Hindari adanya petunjuk/ indikator pada jawaban yang benar.
Contoh : Yang kurang baik.

Agar air panas dalam teko tidak cepat dingin, maka teko tersebut dibungkus
dengan.
A.

Kain

B.

Seng

C.

Tembaga

D.

Timah

Pilihan B,C, dan D termasuk logam, A bukan logam. Dalam contoh ini A
jawaban yang benar, ada petunjuk bahwa A lain dari 3 pilihan berikutnya.
Contoh : yang lebih baik
Air pnas akan bertahan panas jika disimpan dalam bejana yang terbuat dari
A.

Aluminium

B.

Keramik

C.

plastik

D.

seng

10. Hindari menggunakan pilihan yang berbunyi semua diatas benar atau tidak
satupun yang diatas benar. Adanya pilihan semacam ini sebenarnya
mengurangi jumlah alternatif pilihan, karena kalau siswa sudah mengenal satu
atau dua diantara empat pilihan sebagai jawaban pilihan ketiga siswa tersebut
akan memilih semua jawaban di atas benar. Hal yang sama berlaku untuk
tidak satupun yang diatas benar.
11. Gunakan tiga atau lebih alternatif pilihan.
12. Pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang
bermakna tidak tentu, misalnya: kebanyakan, sringkali, kadang-kadang dan
sejenisnya.
Contoh : Yang kurang baik.
Kebanyakan hewan hidupnya di dalam air, brnafas dengan.
A.

Insang

B.

Kulit

C.

Paru-paru

D.

Insang dan paru-paru

Contoh : yang lebih baik


Berudu bernafas dengan.
A.

Insang

B.

Kulit

C.

Paru-paru

D.

Insang dan paru-paru

13. Pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pernyataan positif. Jika
terpaksa menggunakan negative maka kata negative tersebut digaris bawahi
atau ditulis tebal.
Contoh : Yang kurang baik.
Pada semua tumbuhan yang berhijau daun, fotosintesis tidak akan terjadi
tanpa.
A.

Udara, tanah, dan air

B.

Cahaya, udara, dan tanah

C.

Air, cahaya, dan udara

D.

Air tanah, dan cahaya

Contoh : yang lebih baik


Pada semua tumbuhan yang berhijau daun, fotosintesis akan terjadi bila
terdapat
A. Udara, tanah, dan air
B. Cahaya, udara, dan tanah
C. Air, cahaya, dan udara
D. Air tanah, dan cahaya

BAB III
KESIMPULAN
Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian haruslah diuji validitas
dan reliabilitasnya terlebih dahulu agar mendapatkan hasil penelitian yang valid
dan reliabel. Pengujian validitas instrumen meliputi pengujian validitas
konstruksi, pengujian validitas isi, dan pengujian validitas eksternal.Sedangkan
pengujian reabilitas instrumen dapat berupa test-retest, ekuivalen, dan gabungan.

DAFTAR PUSTAKA

Nawawi,Hadari,1983. Metedologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: UGM


Press
Sudjana, Nana , Ibrahim, 1989. Penelitian dan Penelitian Pendidikan. Bandung:
Sinar Baru
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Tandiling Edy.2012. Jurnal Penelitian Pendidikan. Pontianak : Universitas
Tanjungpura.