Anda di halaman 1dari 9

TUGAS

MAKALAH

Biologi
terapan

Tentang membudidayakan jamur tiram

DEWI RATNASARI
KALAM SIDIK
ERNAWATI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SUKABUMI
2015-2016

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT dengan berkat dan rahmat- Nya
sehingga makalah tentang BUDIDAYA JAMUR TIRAM dapat diselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah
BIOLOGI TERAPAN

SURADE, OKTOBER 2015

PENYUSUN

BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan mengenai pertumbuhan jamur yang dapat dimakan, secara alami tumbuh
pada hasil penguraian bahan organik. Budidaya jamur tiram (Pleurotus spp.) dan
spesies kerabat dekat lainnya sangat dikembangkan di pasaran. Semua jenis saprofit
khususnya yang tumbuh pada kayu dapat dengan mudah dibudidayakan, meskipun
dalam beberapa hal jamur-jamur tersebut hampir sulit dipasarkan dalam jumlah besar
karena sifatnya yang lunak sehingga mudah rusak. Jamur tiram yang banyak dijumpai di
pasar swalayan adalah jamur tiram putih (P. ostreatus) tetapi adapula jenis lain yang
sudah dibudidayakan seperti yang berwarna merah jambu (P. flabellatus) dan hitam (P.
cystidiosus). Pleurotusspp. umumnya hidup pada kayu sebagai saprob meskipun satu
jenis yaitu P. eryngii dapat hidup sebagai parasit.
Selain sebagai pengetahuan pengethuan pendidikan , jamur dapat digunakan sebagai
bisnis yang menguntungkan kedepannya.maka dari itu penulis menambil judul cara
mengembangkan jamur tiram , dengan maksud pembaca dapat mencontoh di kemudian
hari

BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN JAMUR TIRAM
Jamur

tiram (Pleurotus

ostreatus) atau jamur

putih adalah jamur

tiram

pangan dengan tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiramdengan


bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem. Jamur tiram masih satu
kerabat dengan Pleurotus eryngii atau King Oyster Mushroom.
Tubuh buah memiliki tangkai yang tumbuh menyamping (bahasa Latin:pleurotus) dan
bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama
binomial Pleurotus ostreatus. Bagian tudung berubah warna dari hitam, abu-abu,
coklat, hingga putih, dengan permukaan yang hampir licin, diameter 5-20 cm. Tepi tudung
mulus

sedikit

berlekuk. Spora berbentuk

batang

berukuran

8-113-

4m. Miselia berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat.


Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan
daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon
yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang.
Budidaya jamur ini tergolong sederhana. Jamur tiram biasanya dipeliharan dengan media
tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik.
Selain campuran pada berbagai jenis masakan, jamur tiram merupakan bahan
bakuobat statin. Jamur tiram diketahui membunuh dan mencerna nematodayang
kemungkinan besar dilakukan untuk memperoleh nitrogen.
2. PERUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JAMUR TIRAM

Pengamatan mengenai pertumbuhan jamur yang dapat dimakan, secara alami tumbuh
pada hasil penguraian bahan organik. Budidaya jamur tiram (Pleurotusspp.) dan
spesies kerabat dekat lainnya sangat dikembangkan di pasaran. Semua jenis saprofit
khususnya yang tumbuh pada kayu dapat dengan mudah dibudidayakan, meskipun
dalam beberapa hal jamur-jamur tersebut hampir sulit dipasarkan dalam jumlah besar
karena sifatnya yang lunak sehingga mudah rusak. Jamur tiram yang banyak dijumpai di
pasar swalayan adalah jamur tiram putih (P. ostreatus) tetapi adapula jenis lain yang
sudah dibudidayakan seperti yang berwarna merah jambu (P. flabellatus) dan hitam (P.
cystidiosus).Pleurotus spp. umumnya hidup pada kayu sebagai saprob meskipun satu
jenis yaitu P. eryngii dapat hidup sebagai parasit.
Jamur tiram dapat ditumbuhkan pada media kompos serbuk gergaji kayu. Miselium dan
tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 25-39 ?C. Agar bakal tubuh
buah terbentuk biasanya dibutuhkan kejutan fisik seperti perubahan suhu, cahaya, tingkat
CO2, kelembaban relatif udara dan aerasi. Suhu substrat yang tinggi dapat memicu
pertumbuhan mikroflora termofilik. Mikroorganisme termofilik tumbuh pada kisaran suhu
30-55oC, ketika tumbuh mikroorganisme tersebut menghasilkan panas yang lebih pada
substrat sehingga dapat mematikan miselium jamur yang dibudidayakan. Substrat
sebaiknya memiliki konduktivitas panas yang rendah, oleh karena itu susunan tinggi
kompos kurang dari 25 cm dan log jamur tidak lebih dari 25 kg. Selama pembentukan
tubuh buah, beberapa jamur sensitif terhadap tingkat CO 2 yang tinggi, sehingga tubuh
buah yang terbentuk akan memiliki tangkai yang panjang dan tudung yang kecil. Kisaran
konsentrasi CO2 yang baik untuk pertumbuhan galur tertentu dari P. ostreatus antara
550-700 ppm. Faktor cahaya sangat menentukan pembentukan tubuh buah. Beberapa
jamur akan membentuk tubuh buah jika kekurangan cahaya. Untuk pembentukan tubuh
buahnya Pleurotusspp. diperlukan 8 jam penyinaran cahaya, namun Pleurotus yang
tumbuh tanpa cahaya akan membentuk struktur seperti koral dengan banyak tangkai
yang bercabang.

Bakal tubuh buah atau primordia dari basidiomiset adalah gumpalan kecil yang terdiri
dari kumpulan miselia yang akan berkembang menjadi tubuh buah. Diameter tubuh buah
sekitar 1 mm. Primordia berkembang dan pada tubuh buah muda terlihat bagian-bagian
tubuh buah seperti tudung dan tangkai yang terletak tidak di tengah tudung. Pada
permukaan bawah tudung dari tubuh buah muda terdapat bilah-bilah (lamela). Lamela
tubuh menurun dan melekat pada tangkai. Pada lamela terdapat sel-sel pembentuk spora
(basidium), yang berisi basidiospora. Basidiospora biasanya dibentuk pada saat tubuh
buah dewasa mengalami kematangan. Selama tepi tudung masih berlipat-lipat, tubuh
buah dikatakan belum dewasa. Pada saat tepi tudung meregang penuh tubuh buah
mencapai fase dewasa dan dapat dipanen. Tubuh buah yang matang biasanya rapuh dan
spora-spora dapat dilepaskan.
Spora pada jamur berfungsi untuk alat reproduksi dan bertahan. Karakteristik spora
sering digunakan untuk mempelajari sistematika dan klasifikasi jamur. Paraahli mikologi
dapat menggunakan spora atau lebih tepatnya jejak sporayang dapat membantunya
untuk mengidentifikasi ribuan spesies jamur yang memiliki tudung. Jejak spora adalah
kumpulan spora dalam jumlah besar. Hal ini bisa diperoleh dengan meletakkan tudung
dengan himenium menghadap ke bawah pada selembar kertas putih atau sepotong kaca.
Setelah beberapa jam, terkadang tidak sampai esok harinya, lapisan spora akan
terkumpul. Warna spora terbagi ke dalam 4 atau 5 tipe umum, yaitu: putih, merah muda,
kuning tanah dan ungu kehitaman, namun kelompok terakhir dapat dibedakan lagi
menjadi ungu dan hitam. Warna spora kadang-kadang dapat dilihat secara visual dengan
melihat lamela pada jamur dewasa, tetapi kadang-kadang warna dari lamela
menyembunyikan warna sporanya.
3. ALAT DAN BAHAN
Alat dan Bahan :
1. Bibit P. cystidiosus, P. flabellatus, dan P. ostreatus.

2. Media produksi steril, merupakan kompos dari campuran serbuk gergaji, bekatul, gips
dan. kapur
3. Karton hitam dan putih
4. Kantong plastik
5. Gelas preparat dan gelas penutup
6. Air dan hairsprayer
4. CARA KERJA
1. Satu sendok makan bibit jamur ditanam pada media produksi dan disimpan ditempat
yang gelap sampai seluruh permukaan media ditutupi oleh miselia.
2. Setelah fase kolonisasi substrat berakhir, sumbat dapat dibuka atau kantong plastik
dilubangi. Media sebaiknya dipindahkan di tempat terang dan teduh. Perubahan kondisi
dapat merangsang pembentukan primordia.
3. Agar perkembangan primordia tidak terganggu, kelembaban media harus dijaga
dengan cara penyiraman.
4. Amati perkembangan jamur hingga panen

BAB III
KESIMPULAN
Jamur tiram dapat ditumbuh kembangkan pada media serbuk kayu yang dikemas dalam
kantong lastik. Pemeliharaan dapat dilakukan di dalam kumbung yang difasilitasi hujan
buatan, disusun diatas rak secara vertikal.
Pertumbuhan dan produksi jamur tiram sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan,
sehingga peranan ketekunan pemelihara sangat menentukan.
Kegiatan percontohan budidaya jamur tiram di desa telah menjadi perhatian dan rujukan
oleh masyarakat jamur di kota-kota lain
selain itu jamur merupakan komoditas yang baik untuk kedepanya, sehingga semua
aspek masyarakat dapat mencoba untuk membudidayakanya.