Anda di halaman 1dari 33

Case Report Session

VULNUS MORSUM ET CAUSA GIGITAN ANJING


(PENCEGAHAN RABIES)

Disusun oleh:
Randa Novalino, S. Ked
Dewi Oktavia Djasmi

Preseptor:
dr. Celsia Krisanti Dasun

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS ULAK KARANG
PADANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rabies merupakan penyakit virus akut dari sistem saraf pusat yang mengenai
semua mamalia dan ditularkan oleh sekresi yang terinfeksi biasanya saliva. Sebagian
besar pemajanan terhadap rabies melalui gigitan binatang yang terinfeksi, tapi kadang
aerosol virus atau proses pencernaan atau transplantasi jaringan yang terinfeksi dapat
memulai proses penyakit.1
Virus yang menjadi penyebabnya adalah virus neurotropik, yang hanya dapat
berkembang biak di dalam jaringan saraf. Ukuran virus antara 100-150 milimikron. Virus
ini tahan terhadap kekeringan, akan tetapi mudah dimatikan dengan menggunakan
antiseptic, sinar matahari langsung, pemanasan, dan radiasi dengan menggunakan sinar
ultraviolet. Masa inkubasi pada hewan sekitar 3-6 minggu setelah gigitan hewan rabies,
sedangkan pada manusia tergantung dari parah tidaknya luka gigitan, jauh tidaknya luka
dengan susunan saraf pusat, banyaknya saraf pada luka, jumlah virus yang masuk, serta
jumlah luka gigitan.1
Secara umum, penularan rabies terjadi diakibatkan infeksi karena gigitan binatang.
Namun rabies juga dapat menular melalui beberapa cara antara lain melalui cakaran
hewan, sekresi yang mengkontaminasi membrane mukosa, virus yang masuk melalui
rongga pernapasan, dan transplantasi kornea. Virus rabies menyerang jaringan saraf, dan
menyebar hingga system saraf pusat, dan dapat menyebabkan encephalomyelitis (radang
yang mengenai otak dan medulla spinalis).2
Kematian karena infeksi virus rabies boleh dikatakan 100% bila virus sudah
mencapai sistem saraf pusat. Dari tahun 1857 sampai tahun 1972 dari kepustakaan
dilaporkan 10 pasien yang sembuh dari rabies namun sejak tahun 1972 hingga sekarang
belum ada pasien rabies yang dilaporkan hidup. Prognosis seringkali fatal karena sekali
gejala rabies telah tampak hampir selalu kematian terjadi 2-3 hari sesudahnya sebagai
akibat gagal nafas atau henti jantung ataupun paralisis generalisata. Berbagai penelitian
dari tahun 1986 hingga 2000 yang melibatkan lebih dari 800 kasus gigitan anjing
pengidap rabies di negara endemis yang segera mendapat perawatan luka, pemberian
VAR dan SAR, mendapatkan angka survival 100%.3
Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah menunjukkan gejala rabies;
penanganan hanya berupa tindakan suportif dalam penanganan gagal jantung dan gagal

nafas. Walaupun tindakan perawatan intensif umumnya dilakukan, hasilnya tidak


menggembirakan. perawatan intensif hanyalah metode untuk memperpanjang dan bila
mungkin menyelamatkan hidup pasien dengan mencegah komplikasi respirasi dan
kardiovaskuler yang sering terjadi. Oleh karena itu diperlukan tindakan penanganan yang
efektif dan efisien baik penanganan profilaksis pra pajanan maupun penanganan pasca
pajanan, sehingga akibat buruk akibat virus ini dapat diminimalkan.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Rabies adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus, bersifat akut serta
menyerang susunan saraf pusat.5 Rabies adalah suatu infeksi virus pada otak yang
menyebabkan iritasi dan peradangan otak dan medulla spinalis. Nama lain untuk rabies
hydrophobia, la rage (Perancis), la rabbia (Italia), la rabia (Spanyol), die tollwut
(Jerman) atau di Indonesia terkenal dengan nama penyakit Anjing Gila.4
Menurut cara penularannya rabies termasuk golongan zoonosis langsung (direct
zoonosis) yaitu zoonosis yang hanya memerlukan satu jenis vertebrata saja untuk
kelangsungan hidupnya, dan agen penyebab penyakit hanya sedikit berubah atau tidak
mengalami perubahan sama sekali selama penularan. Sedangkan menurut reservoir
utamanya rabies digolongkan dalam antropozoonosis, yaitu penyakit yang secara bebas
berkembang di alam di antara hewan-hewan. Menurut agen penyebabnya rabies
merupakan zoonosis kausa viral. Rabies dapat ditularkan oleh satwa liar (wild life
zoonosis), hewan piaraan (domesticated animal zoonosis) maupun hewan yang hidup
dipemukiman manusia (domiciliated zoonosis).1
Penularan rabies biasanya terjadi melalui gigitan hewan yang telah terinfeksi,
pencemaran luka segar atau selaput lendir dengan saliva atau otak hewan yang telah
terinfeksi. Pada kasus tertentu penularan melalaui udara dapat juga terjadi. Virus ini
berkembang biak dalam kelenjar ludah. Sangat peka terhadap pelarut yang bersifat
alkalis seperti sabun, desinfektan, alkohol, dan lain-lain. Sistem yang diserang adalah
sistem saraf (clinical encephalitis) yang dapat bersifat paralitik/furious dan glandula
salivarius (mengandung sejumlah besar partikel virus yang berada di saliva).1
B. Etiologi
Virus rabies merupakan virus RNA, termasuk dalam familia Rhabdoviridae, genus
Lyssa. Virus berbentuk peluru dengan salah satu ujungnya berbentuk kerucut dan pada
potongan melintang berbentuk bulat atau elip (lonjong). Virus tersusun dari
ribonukleokapsid dibagian tengah, memiliki membran selubung (amplop) di bagian
luarnya yang pada permukaannya terdapat tonjoloan (spikes) yang jumlahnya lebih dari
500 buah. Pada membran selubung (amplop) terdapat kandungan lemak yang tinggi

(glikoprotein). Virus berukuran panjang 180 nm, diameter 75 nm, tonjolan berukuran 9
nm, dan jarak antara spikes 4-5 nm.2
Amplop glikoprotein tersusun dalam struktur seperti tombol yang meliputi
permukaan virion. Glikoprotein virus terikat pada reseptor asetilkolin, menambah
neurovirulensi virus rabies, membangkitkan antibody neutralisasi dan antibody
penghambat hemaglutinasi, dan merangsang imunitas sel T. antigen nukleokapsid
merangsang antibody yang mengikat komplemen. Antibody netralisasi pada permukaan
glikoprotein tampaknya bersifat protektif. Antibodi antirabies digunakan pada analisis
imunofluororescent diagnostic yang umumnya ditujukan pada antigen nukleokapsid.
Isolasi virus rabies dari spesies binatang yang berbeda dan memiliki perbedaan sifat
antigenik dan biologik. Variasi-variasi ini bertanggung jawab terhadap perbedaan dalam
virulensi antara isolasi. Interferon diinduksi oleh virus rabies, khususnya dalam jaringan
dengan konsentrasi virus yang tinggi, dan berperan dalam memperlambat infeksi yang
progresif.1
Virus peka terhadap sinar ultraviolet, zat pelarut lemak, alkohol 70%, yodium,
fenol dan klorofrom. Virus dapat bertahan hidup selama 1 tahun dalam larutan gliserin
50%. Pada suhu 600C virus mati dalam waktu 1 jam dan dalam penyimpanan kering
beku (freezedried) atau pada suhu 40C dapat tahan selama bebarapa tahun. 2 Virus juga
akan mati dengan deterjen, sabun, etanol 45%, solusi jodium. Virus rabies dan virus lain
yang sekeluarga dengan rabies diklasifikan menjadi 6 genotipe. Rabies merupakan
genotipe 1, mokola genotipe 3, Duvenhage genotipe 4, dan European bat lyssa-virus
genotipe 5 dan 6. 4

Gambar 1. Gambar Struktur Virus Rabies


Keterangan : Virus rabies dengan bentuk seperti peluru yang dikelilingi oleh paku-paku
glikoprotein. Glikonukleoproteinnya tersusun dari nukleoprotein, phosphorylated atau
phosphoprotein dan polimerase. Diagram melintang ini menunjukkan lapisan konsentrik
yaitu amplop dengan membran ganda, protein m dan digulung dalam RNA.

C. Sejarah
Rabies merupakan penyakit hewan yang sangat terkenal, bahkan sudah dikenal
sejak ribuan tahun sebelum masehi. Prasasti rabies yang berisikan aturan denda bagi
pemilik anjing, yang positif rabies menggigit manusia hingga mati telah dibuat pada
zaman kekuasaan raja Hamurabi (2300 SM). Rabies pada anjing dan kucing telah
digambarkan oleh Democritus (500 SM) dan Aristoteles (322 SM), Celcus (100 tahun
sesudah masehi) untuk pertama kalinya memperkenalkan hubungan antara gejala takut
air (hidrofobia) pada manusia dengan rabies pada hewan.6
Di Indonesia rabies pertama kali dilaporkan pada kerbau oleh Esser (1884),
kemudian oleh Penning pada anjing (1889) dan oleh E. V. De Haan pada manusia (1894),
selanjutnya selama pendudukan Jepang situasi daerah tertular rabies tidak diketahui
dengan pasti, namun setelah Perang Dunia II peta rabies di Indonesia berubah. Secara
kronologis tahun kejadian penyakit rabies mulai di Jawa Barat (1948), Sumatera Barat,
Jawa Tengah dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), D.I. Aceh (1970), Jambi dan
Yogyakarta (1971), Bengkulu, DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara (1972), Kalimantan
Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983) dan
P. Flores (1997).6
Pada akhir tahun 1997, KLB (Kejadian Luar Biasa) rabies muncul di Kab. Flores
Timur, NTT sebagai akibat pemasukan secara ilegal anjing dari pulau Buton-Sulawesi
Tenggara yang merupakan daerah endemik rabies. Sampai dengan saat ini selain
beberapa provinsi di kawasan Timur Indonesia yang tersebut diatas Pulau-pulau kecil di
sekeliling Pulau Sumatera masih dinyatakan bebas rabies.6
D. Epidemiologi
Rabies terdapat dalam dua bentuk epidemiologik yaitu urban, yang disebarluaskan
terutama oleh anjing, dan/atau kucing rumah yang tidak diimunisasi, dan sylvatic, yang
disebarluaskan oleh sigung (skunk), rubah, raccoon, luwak (mongoos), serigala, dan
kelelawar. Infeksi pada binatang yang jinak biasanya menunjukkan kelebihan reservoar
infeksi sylvatic, dan manusia dapat terinfeksi oleh salah satunya. Oleh karena itu infeksi
pada manusia cenderung terjadi pada tempat rabies bersifat enzootik atau epizootik, yaitu
jika terdapat banyak populasi binatang jinak yang tidak diimunisasi, dan manusia kontak
dengan udara terbuka.4

Rabies telah menyebabkan kematian pada orang dalam jumlah yang cukup banyak.
Tahun 2000, World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun di
dunia ini terdapat sekurang-kurangnya 50.000 orang meninggal karena rabies. Rabies
bisa terjadi disetiap musim atau iklim, dan kepekaan terhadap rabies kelihatannya tidak
berkaitan dengan usia, seks atau ras.7
Di Amerika Serikat rabies terutama terjadi pada musang, raccoon, serigala dan
kelelawar. Rabies serigala terdapat di Kanada, Alaska dan New York. Kelelawar
penghisap darah (vampir), yang menggigit ternak merupakan bagian penting siklus
rabies di Amerika latin. Eropa mempunyai rabies serigala, di Asia dan Afrika masalah
utamanya adalah anjing gila.7
Beberapa daerah di Indonesia yang saat ini masih tertular rabies sebanyak 16
propinsi, meliputi Pulau Sumatera (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu,
Sumatera Selatan, dan Lampung), Pulau Sulawesi (Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi
Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara), Pulau Kalimantan (Kalimantan
Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur) dan Pulau Flores. Kasus terakhir
yang terjadi adalah Propinsi Maluku (Kota Ambon dan Pulau Seram).8
Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat telah dinyatakan bebas dari rabies
melalui SK Menteri Pertanian No. 566 Tahun 2004, Banten sejak tahun 1996, dan
provinsi Jawa Barat sejak tahun 2001. Dengan diterbitkannya SK Mentan bebas rabies
ini, maka seluruh pulau Jawa telah bebas rabies karena Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI
Yogyakarta telah lebih dahulu dibebaskan berdasarkan SK Mentan No. 897 Tahun
1997.25 Daerah yang secara historis bebas rabies (belum pernah ada kasus) adalah
provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (kecuali Pulau Flores),
Kalimantan Barat, Papua, Irian Jaya Barat, Maluku Utara, Kepulauan Riau dan
Kepulauan Bangka Belitung dan sampai saat ini tetap dapat dipertahankan bebas rabies.8
Manusia yang menderita rabies selalu berakhir dengan kematian (100% Case
Fatality Rate), gigitan oleh anjing menempati persentase tertinggi (99,4%) diikuti kucing
(0,29%) dan hewan lain, kera dan hewan piaraan atau liar lainnya (0,31%). Bagian tubuh
manusia yang digigit meliputi kepala (5%), tangan (28%), kaki (57%), dan lain-lain
(10%).7,8

E. Patogenesis
Virus rabies masuk ke dalam tubuh melalui luka atau kontak langsung dengan
selaput mukosa dengan rasio gigitan dan cakaran sebesar 50:1. Virus rabies tidak bisa
menembus kulit yang utuh. Virus rabies membelah diri dalam otot atau jaringan ikat pada
tempat inokulasi dan kemudian memasuki saraf tepi pada sambungan neuromuskuler.
Setelah virus menempel pada reseptor nikotinik asetilkolin lalu virus menyebar secara
sentripetal melalui serabut saraf motorik dan juga serabut saraf sensorik tipe cepat
dengan kecepatan 50 sampai 100 mm per hari. Setelah melewati medulla spinalis, virus
bereplikasi pada motor neuron dan ganglion sensoris, akhirnya mencapai otak. Kolkisin
dapat menghambat secara efektif transport akson tipe cepat tersebut. Virus melekat atau
menempel pada dinding sel inang. Virus rabies melekat pada sel melalui duri
glikoproteinnya, reseptor asetilkolin nikotinat dapat bertindak sebagai reseptor seluler
untuk virus rabies. Kemudian secara endositosis virus dimasukkan ke dalam sel inang.
Pada tahap penetrasi, virus telah masuk kedalam sel inang dan melakukan penyatuan
diri dengan sel inang yang ditempati, terjadilah transkripsi dan translasi.5

Gambar 2. Perjalanan penyakit rabies

Genom RNA untai direkam oleh polimerase RNA terkait, varion menjadi 5 spesies
mRNA.

Genom ini merupakan cetakan untuk perantara replikatif yang

menimbulkan

pembentukan RNA keturunan. RNA genomik berhubungan dengan transkriptase virus,


fosfoprotein dan nukleoprotein. Setelah enkapsidasi, partikel berbentuk peluru
mendapatkan selubung melalui pertusan yang melalui selaput plasma.5
Protein matriks virus membentuk lapisan pada sisi dalam

selubung,

sementara

glikoprotein virus berada pada selaput luar dan membentuk duri. Setelah bagian-bagian
sel lengkap, sel virus tadi menyatukan diri kembali dan membentuk virus baru yang
menginfeksi inang yang lainnya, kemudian melanjutkan diri bergerak secara sentripetal
sebagai sub viral, tanpa nukleoplasmid menuju jaringan otak. Setelah melewati medula
spinalis virus akan menginfeksi tegmentum batang otak dan nukleus selebelaris batang
otak selanjutnya virus akan menyebar ke sel purkinye serebelum, diencephalon, basal
ganglia dan akhirnya menuju hipokampus terjadi lebih lambat dengan girus dentatus
yang relatif tidak terinfeksi. Virus rabies tidak bisa menginfeksi sel granuler pada girus
dentatus yang sebagian besar mengandung reseptor AMPAdan Kainate.8

Gambar 3. Replikasi dan siklus infeksi virus

Jika virus telah mencapai otak, maka ia akan memperbanyak diri dan menyebar
kedalam semua bagian neuron, terutama mempunyai predileksi khusus terhadap sel-sel
sistim limbik, hipotalamus, dan batang otak. Khusus mengenai system limbik dimana
berfungsi erat dengan pengontrolan dan kepekaan emosi. Akibat dari pengaruh infeksi
sel-sel dalam sistim limbic ini, pasien akan menggigit mangsanya tanpa ada provokasi
dari luar. Setelah memperbanyak diri dalam neuron-neuron sentral virus kemudian
bergerak ke perifer dalam serabut aferen dan pada serabut saraf volunter maupun
otonom. Dengan demikian, virus dapat menyerang hampir seluruh jaringan dan organ
tubuh dan berkembang biak dalam jaringan seperti kelenjar ludah. Virus rabies menyebar
menuju multi organ melalui neuron otonom dan sensorik terutama melibatkan jalur
parasimpatis yang bertanggung jawab atas infeksi pada kelenjar ludah, kulit, jantung, dan
organ lain. Replikasi di luar sel saraf terjadi pada kelenjar ludah, lemak coklat, dan
kornea.

Kepekaan terhadap

infeksi dan masa

inkubasinya

bergantung pada

latar belakang genetik inang, strain virus yang terlibat, konsentrasi reseptor virus pada
sel inang, jumlah inokulum, beratnya laserasi, dan jarak yang harus ditempuh virus untuk
bergerak dari titik masuk ke susunan saraf pusat. Gambaran yang paling menonjol dalam
infeksi rabies adalah terdapatnya badan negri yang khas yang terdapat dalam sitoplasma
sel ganglion besar.7

Gambar 4. Negri body di neuron

Gambar 5. Skema patogenesis infeksi virus rabies.


Keterangan : Nomor pada gambar menunjukkan urutan kejadian.
F. Masa Inkubasi
Masa inkubasi rabies pada anjing 10-15 hari, dan pada hewan lain 3-6 minggu
kadang-kadang berlangsung sangat panjang 1-2 tahun. Masa inkubasi pada manusia yang
khas adalah 1-2 bulan tetapi bisa 1 minggu atau selama beberapa tahun (mungkin 6 tahun
atau lebih). Biasanya lebih cepat pada anak-anak dari pada dewasa. Kasus rabies manusia
dengan periode inkubasi yang panjang (2-7 tahun) telah dilaporkan, tetapi jarang
terjadi.4,5,11
Masa inkubasi bisa tergantung pada umur pasien, latar belakang genetik, status
immun, strain virus yang terlibat, dan jarak yang harus ditempuh virus dari titik pintu
masuknya ke susunan saraf pusat.5 Masa inkubasi tergantung dari lamanya pergerakan

virus dari luka sampai ke otak, pada gigitan dikaki masa inkubasi kira kira 60 hari, pada
gigitan di tangan masa inkubasi 40 hari, pada gigitan di kepala masa inkubasi kira-kira
30 hari.4,5,11
G. Gejala Klinis
1. Pada Hewan
Gejala klinis pada hewan dibagi menjadi tiga stadium:8,9,11
a. Stadium Prodromal
Keadaan ini merupakan tahapan awal gejala klinis yang dapat berlangsung
antara 2-3 hari. Pada tahap ini akan terlihat adanya perubahan temperamen yang
masih ringan. Hewan mulai mencari tempat-tempat yang dingin/gelap,
menyendiri, reflek kornea berkurang, pupil melebar dan hewan terlihat acuh
terhadap tuannya. Hewan menjadi sangat perasa, mudah terkejut dan cepat
berontak bila ada provokasi. Dalam keadaan ini perubahan perilaku mulai
diikuti oleh kenaikan suhu badan.
b. Stadium Eksitasi
Tahap eksitasi berlangsung lebih lama daripada tahap prodromal, bahkan
dapat berlangsung selama 3-7 hari. Hewan mulai garang, menyerang hewan lain
ataupun manusia yang dijumpai dan hipersalivasi. Dalam keadaan tidak ada
provokasi menjadi murung terkesan lelah dan selalu tampak seperti ketakutan.
Hewan mengalami fotopobi atau takut melihat sinar sehingga bila ada cahaya
akan bereaksi secara berlebihan dan tampak ketakutan.
c. Stadium Paralisis
Tahap paralisis ini dapat berlangsung secara singkat, sehingga sulit untuk
dikenali atau bahkan tidak terjadi dan langsung berlanjut pada kematian. Hewan
mengalami kesulitan menelan, suara parau, sempoyongan, akhirnya lumpuh dan
mati.
2. Pada Manusia
Gejala klinis pada manusia dibagi menjadi empat stadium 8,9
a. Stadium Prodromal
Gejala awal yang terjadi sewaktu virus menyerang susunan saraf pusat
adalah perasaan gelisah, demam, malaise, mual, sakit kepala, gatal, merasa

seperti terbakar, kedinginan, kondisi tubuh lemah dan rasa nyeri di tenggorokan
selama beberapa hari.
b. Stadium Sensoris
Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas
luka kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap
ransangan sensoris.
c. Stadium Eksitasi
Tonus otot-otot akan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala
berupa eksitasi atau ketakutan berlebihan, rasa haus, ketakutan terhadap
rangsangan cahaya, tiupan angin atau suara keras. Umumnya selalu merintih
sebelum kesadaran hilang. Penderita menjadi bingung, gelisah, rasa tidak
nyaman dan ketidak beraturan. Kebingungan menjadi semakin hebat dan
berkembang menjadi argresif, halusinasi, dan selalu ketakutan. Tubuh gemetar
atau kaku kejang.
d. Stadium Paralis
Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi.
Kadang kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan
paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum
tulang belakang yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.
H.

Tipe Rabies Pada Anjing


Anjing muda lebih relatif lebih peka dibandingkan hewan dewasa. Masa inkubasi
rata-rata 3-6 minggu dengan variasi yang tinggi, dapat 10 hari atau 6 bulan, jarang
kurang dari 2 minggu atau lebih dari 4 bulan. Virus rabies dijumpai pada air liur anjing
segera setelah gejala klinis tampak.8,9
Ada tiga tipe rabies pada hewan yaitu:
1. Rabies Ganas

Tidak menuruti lagi perintah pemilik.

Air liur keluar berlebihan.

Hewan menjadi ganas, menyerang, atau menggit apa saja yang ditemui dan ekor dilekungkan
kebawah perut diantara dua paha.

Kejang-kejang kemudian lumpuh, biasanya mati setelah 4-7 hari sejak timbul atau paling
lama 12 hari setelah penggigitan.

2. Rabies Tenang
-

Bersembunyi di tempat gelap dan sejuk.

Kejang-kejang berlangsung singkat bahkan sering tidak terlihat.

Kelumpuhan tidak mampu menelan, mulut terbuka dan air liur keluar
berlebihan.

Kematian terjadi dalam waktu singkat.

3. Bentuk Asimtomatis:
Hewan tidak menunjukkan gejala sakit dan atau hewan tiba-tiba mati. Pada
anjing dan kucing biasanya bersifat ganas. Masa inkubasi 10-60 hari namun bisa
juga lebih lama. Air liur binatang sakit yang mengandung virus menularkan virus
melalui gigitan atau cakaran. Rabies pada kucing mempunyai gejala atau tandatanda yang hampir sama dengan gejala pada anjing, seperti menyembunyikan diri,
banyak mengeong, mencakar-cakar lantai dan menjadi agresif. Pada 2-4 hari setelah
gejala pertama biasa terjadi kelumpuhan, terutama di bagian belakang.8,9
I. Diagnosis
Diagnosis rabies hanya berdasarkan gejala klinis sangat sulit dan kurang bisa
dipercaya,

kecuali

aerofobia. Diagnosis

terdapat
pasti

gejala
rabies

klinis
hanya

yang
bisa

khas
didapat

yaitu

hidrofobia

dengan

dan

pemeriksaan

laboratorium. Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dikerjakan:5,9


1

Darah rutin
Dapat ditemukan peningkatan leukosit (8000-13000/mm) dan penurunan
hemoglobin serta hematokrit.

2
3
4

Urinalisis
Dapat ditemukan albuminuria dan sedikit leukosit.
Mikrobiologi
Kultur virus rabies dari air liur penderita dalam waktu 2 minggu setelah onset.
Histologi
Dapat ditemukan tanda patognomonik berupa badan Negri (badan inklusi
dalam sitoplasma eosinofil) pada sel neuron, terutama pada kasus yang divaksinasi
dan pasien yang dapat bertahan hidup setelah lebih dari 2 minggu. Antigen, badan
negri dan virus banyak ditemukan pada sel saraf (neuron) sedangkan kelenjar ludah
dapat mengandung antigen dan virus tetapi badan negri tidak selalu dapat ditemukan
pada kelenjar ludah anjing. Adanya kontaminasi pada specimen dapat mengganggu
pemeriksaan dan khususnya untuk isolasi virus pengiriman harus dilakukan

sedemikian rupa sehingga kelestarian hidup virus dalam specimen tetap terjamin
sampai ke laboratorium. Bahan pemeriksaan dapat berupa seluruh kepala, otak,
hippocampus, cortex cerbri dan cerebellum, preparat pada gelas objek dan kelenjar
ludah. Bila negri body tidak ditemukan, supensi otak (hippocampus) atau kelenjar
ludah sub maksiler diinokulasikan intrakranial pada hewan coba (suckling animals),
misalnya hamster, tikus (mice) atau kelinci (rabbits).
5

Serologi
DFA Testing and RT-PCR melalui biopsi kulit, Reverse-Transcription
Polymerase Chain Reaction (RTPCR) dalam saliva.

Cairan serebrospinal
Rabies VirusSpecific Antibodies dalam serum dan LCS (Rapid fluorescent
focus inhibition test/RFFIT), dapat ditemukan monositosis sedangkan protein dan
glukosa

dalam

batas

normal. Namun,

pada

pemeriksaan

laboratorium,

yang merupakan gold standar untuk diagnosis rabies adalah pemeriksaan dengan
teknik fluorescent antibody (FA). Deteksi nukleokapsid dengan ELISA merupakan
tes yang cepat dan jugadapat digunakan maupun dilakukan pada survei
epidemiologi.
J. Diagnosis Banding
Rabies harus dipertimbangkan sebagai penyebab pada semua penderita dengan
gejalan eurologik, psikiatrik atau laringofaringeal yang tak bisa dijelaskan, khususnya
bila terjadi didaerah endemis atau orang yang mengalami gigitan binatang pada daerah
endemis rabies.4
Penderita rabies harus dibedakan dengan rabies histerik yaitu suatu reaksi
psikologik orang-orang yang terpapar dengan hewan yang diduga mengidap rabies.
Penderita dengan rabies histerik akan menolak jika diberikan minum (pseudohidropobia)
sedangkan pada penderita rabies sering merasa haus.4
Tetanus dapat dibedakan dengan rabies melalui masa inkubasinya yang pendek,
adanyatrismus, kekakuan otot yang persisten diantara spasme, status mental normal,
cairan serebrospinal biasanya normal dan tidak terdapat hidropobia. Ensefalitis dapat
dibedakan dengan metode pemeriksaan virus dan tidak dijumpai hidropobia.4
Rabies paralitik dapat dikelirukan dengan Syndroma Guillain Barre transverse
myelitis, japanese ensefalitis, herpes simpleks ensefalitis, poliomielitis atau ensefalitis
post vaksinasi. Pada poliomielitis saat timbul gejala neurologik sudah tidak ada demam,

dan tidak ada gangguan sensorik ensefalitis post vaksinasi rabies terjadi 1:200-1:1600
pada vaksinasi nerve tissue rabiesvaccine, dibedakan dengan mulai timbulnya gejala
cepat, dalam 2 minggu setelah dosis pertama. Pemeriksaan neurologik yang teliti dan
pemeriksaan laboratorium berupa isolasi virusakan membantu diagnosis.4
Diagnosa banding dalam kasus pasien suspek rabies meliputi banyak penyebab
dariensephalitis, yang pada umumnya karena infeksi dari virus seperti herpesvirus,
enterovirus, danarbovirus. Virus yang sangat penting untuk dijadikan diagnosa banding
adalah herpes simpleks tipe 1, varicella zooster. Faktor epidemilogik seperti cuaca, lokasi
geografi, umur pasien, riwayat perjalanan, dan pajanan yang mungkin untuk tergigit
binatang dapat membantu menolong penegakan diagnosa.1
K. Penatalaksanaan
Penanganan luka gigitan hewan penular rabies setiap ada kasus gigitan hewan
penular rabies (anjing, kucing, kera) harus ditangani dengan tepat dan sesegera mungkin.
1

Berikut ini beberapa tips dan langkah-langkah penanganan luka gigitan:


Segera luka dibersihkan, bisa menggunakan sabun/deterjen, dibilas dengan air bersih
mengalir 5-10 menit. Lalu dikeringkan dgn kain/tissue bersih dan dapat ditambahkan
antiseptik betadin ataupun alkohol 70%.

Segera ke Puskesmas/Rabies Center/Rumah Sakit untuk mencari pertolongan


selanjutnya.
Di Puskesmas/Rabies Center/ Rumah Sakit dilakukan:

1. Ulangi cuci luka gigitan dengan sabun, detergent lain di air mengalir selama 10-15
menit dan beri anti septik (betadine, alkohol 70 %, obat merah, dan lain-lain).
2. Lakukan eksplorasi pada luka. Lakukan pembersihan dengan NaCl 0,9%, atau
dengan H2O2 3%.
3. Luka yang ada jangan dijahit, kalau luka terlalu lebar bisa dilakukan penjahitan
secara longgar dengan menggunakan benang non absorbable, dan dipasang drain.
3

Pemberian vaksin rabies, 0,5 ml im pada hari 1, 3, 7, 14 dan hari ke-28 . Tidak ada
pembedaan dosis untuk anak-anak dan dewasa.

Dapat dikombinasikan dengan antibiotik, untuk mencegah adanya infeksi kuman


atau bakteri yang lain.

Beberapa contoh pengobtan rabies mealui vaksin, diantaranya :

VAR (Vaksin Anti Rabies)


a

Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV)


-

Produksi Institute Merieux Perancis (Verorab).

Kemasan : Vaksin terdiri dari vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak
0,5 ml dalam syringe.

Dosis : Dewasa/anak sama yaitu hari ke 0 (pertama berkunjung ke


Puskesmas/Rabies Center/Rumah Sakit). Diberikan 2 dosis masing-masing
0,5 ml diberikan intramuskuler di deltoideus kanan/kiri. Hari ke 7 dan 21
diberikan 0,5 ml lagi secara intramuskuler di deltoideus kanan/kiri. Apabila
VAR Verorab + SAR perlu diberikan booster pada hari ke 90.

Dosis dan cara pemberian sesudah digigit (Post Exposure Treatment).


Vaksinasi

Dasar

Dosis
0,5 ml

0,5 ml

Waktu pemberian
4x Pemberian :
Hari

Ke-0

2x

sekaligus

(Deltoid Kiri dan Kanan)


Ulangan
b

0,5 ml

0,5 ml

Hari Ke 7 dan Ke 21
Hari Ke-90

Suckling Mice Brain Veccine (SMBV)


-

Produksi Bio Farma Bandung.

Kemasan : Dosis berisi 7 vial @ 1 dosis dan 7 ampul pelarut @ 2 ml dan


Dos berisi 5 ampul @ 1 dosis intra cutan dan 5 ampul pelarut @ 0,4 ml.

Cara pemberian : Untuk vaksinasi dasar disuntikkan secara subcutan (sc) di


sekitar daerah pusar. Sedangkan untuk vaksinasi ulang disuntikkan secara
intracutan (ic) di bagaian fleksor lengan bawah.

Dosis : Dewasa, dasar 2 ml, diberikan 7x setiap hari sub cutan didaerah
sekitar pusar/umbillus. Ulangan 0,25 ml diberikan ke 11,15,30 dan 90
secara intra cutan dibagian fleksor lengan bawah. Anak-anak 3 tahun ke
bawah, dasar 1 ml diberikan 7x setiap hari subcutan disekitar daerah sekitar
pusar/umbillus. Ulangan 0,1 ml diberikan hari ke 11,15,30,dan 90 secara
intra cutan dibagian fleksor lengan bawah. Pemberian SMBV + SAR
(Serum Anti Rabies) Jadwal pemberian VAR dasar sama ulangan boostar
jadwalnya 11, 15, 25, 35, dan 90.

Dosis dan cara pemberian sesudah digigit (Post Exposure Treatment).

Vaksinasi
Dasar

Dosis
1 ml

Waktu pemberian

2 ml

7x

Pemberian

Keterangan
: Anak < 3th

diberikan setiap hari


Ulangan

0,1 ml

0,25 ml

Hari Ke-11, 15, 30,


dan 90

SAR (Serum Anti Rabies)


a

SAR Heterolog (serum kuda)


-

Produksi Bio Farma Bandung.

Kemasan : Vial = 20 ml (1 ml = 100 IU)

Cara pemberian : Disuntikkan secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak


mungkin, sisanya disuntikkan intramuskuler.

Dosis : 40 IU/Kg BB, harus dilakukan skin test, apabila positif tidak boleh
diberikan.

Jenis Serum
Serum

Dosis
40 ml/Kgbb

Heterolog

Waktu pemberian
Bersamaan dengan

Keterangan
Sebelumnya

pemberian VAR

Dilakukan

hari ke-0

Skintest

Serum homolog
-

Misal IMDGAM, produksi Pasteur Merieux Perancis.

Kemasan : Vial 2 ml (1 ml = 150 IU).

Cara pemberian : Disuntikkan secara infiltrasi disekitar luka sebanyak


mungkin sisanya intramuskuler di gluleus/pantat.

Dosis : 20 IU/Kg, harus dilakukan skin test, apabila positif tidak boleh
diberikan.

Jenis Serum

Dosis

Waktu pemberian

Keterangan

Serum

20 ml/Kgbb

Homolog

Bersamaan dengan

Sebelumnya

pemberian VAR

Dilakukan

hari ke-0

Skintest

L. Tipe-tipe Vaksin Rabies


Semua vaksin rabies untuk manusia mengandung virus rabies yang telah
diinaktifkan.2,7
1. Vaksin sel diploid manusia (HDCV)
Untuk mendapatkan suatu suspensi virus rabies yang bebas dari protein asing
dan protein sistem saraf, virus rabies diadaptasi untuk tumbuh dalam lini sel
fibroblast normal manusia WI-38. Preparasi virus rabies dipekatkan oleh ultrafiltrasi
dan diinaktivasi dengan -propiolakton. Tidak ada reaksi ensefalitik ataupun
anafilaktik serius yang pernah dilaporkan.
2. Vaksin rabies, terabsorbsi (RVA)
Suatu vaksin yang dibuat dalam lini sel diploid yang berasal dari sel-sel paru
janin kera rhesus diijinkan di AS tahun 1988. Virus vaksin ini diinaktivasi oleh propiolakton dan dipekatkan oleh adsorbsi dengan aluminium fosfat.
3. Vaksin sel embrio ayam yang dimurnikan (PCEC)
Vaksin ini dipreparasi dari strain virus rabies fixed flury LEP yang tumbuh
dalam fibroblast ayam. Diinaktivasi oleh -propiolakton dan dimurnikan lebih lanjut
oleh sentrifugasi zonal.
4. Vaksin jaringan saraf
Dibuat dari otak domba, kambing atau tikus yang terinfeksi dan digunakan di
banyak bagian dunia termasuk Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Menimbulkan
sensitisasi pada jaringan saraf dan menghasilkan ensefalitis pasca vaksinasi (suatu
penyakit alergi) dengan frekuensi subscansial (0,05%). Perkiraan efektivitasnya
pada orang yang digigit oleh hewan buas/gila bervariasi dari 5 sampai 50%.
5. Vaksin embrio bebek
Vaksin ini dikembangkan untuk meminimalkan masalah ensefalitis pasca
vaksinasi. Virus rabies ditanam dalam telur bebek berembrio. Jarang terdapat reaksi
anafilaktik, tetapi antigenisitas vaksinnya rendah, sehingga beberapa dosis harus
diuji untuk mendapatkan respon antibodi yang memuaskan.
6. Virus hidup yang dilemahkan

Virus hidup yang dilemahkan yang diadaptasi untuk tumbuh pada embrio
ayam (misalnya, strai flury) digunakan untuk hewan tetapi tidak untuk manusia.
Kadang-kadang vaksin demikian bisa menyebabkan kematian oleh rabies pada
kucing atau anjing yang disuntik. Virus rabies yang tumbuh pada biakan sel hewan
yang berlainan telah dipakai sebagai vaksin untuk hewan piaraan.
M. Pencegahan
1

Pencegahan Primer7,9,11
a. Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing, kucing,
kera dan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies.
b. Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang masuk tanpa
izin ke daerah bebas rabies.
c. Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerah-daerah
bebas rabies.
d. Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70% populasi
yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.
e. Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap kera, anjing, kucing yang
telah divaksinasi.
f. Mengurangi jumlah populasi anjing liar atan anjing tak bertuan dengan jalan
pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan.
g. Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus didaftarkan ke
Kantor Kepala Desa/Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat.
h. Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari 2
meter. Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan rantai
tidak lebih dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan berangus
(beronsong).
i. Menangkap dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita rabies,
selama 10 sampai 14 hari, terhadap hewan yang mati selama observasi atau
yang dibunuh, maka harus diambil spesimen untuk dikirimkan ke laboratorium
terdekat untuk diagnosa.
j. Mengawasi dengan ketat lalu lintas anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya
yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka rabies.
k. Membakar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies sekurangkurangnya 1 meter.

Pencegahan Sekunder
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko
tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan deterjen

selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Kemudian luka diberi alkohol 70%
atau Yodium tincture. Setelah itu pergi secepatnya ke Puskesmas atau dokter yang
terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari
rumah observasi hewan. Resiko yang dihadapi oleh orang yang mengidap rabies
sangat besar. Oleh karena itu, setiap orang digigit oleh hewan tersangka rabies atau
digigit oleh anjing di daerah endemic rabies harus sedini mungkin mendapat
pertolongan setelah terjadinya gigitan sampai dapat dibuktikan bahwa tidak benar
adanya infeksi rabies.7,9,11
3

Pencegahan Tersier
Tujuan dari tiga tahapan pencegahan adalah membatasi atau menghalangi
perkembangan ketidakmampuan, kondisi, atau gangguan sehingga tidak berkembang
ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan intensif yang mencakup pembatasan
terhadap ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi. Apabila hewan yang
dimaksud ternyata menderita rabies berdasarkan pemeriksaan klinis atau
laboratorium dari Dinas Perternakan, maka orang yang digigit atau dijilat tersebut
harus segera mendapatkan pengobatan khusus (Pasteur Treatment) di Unit
Kesehatan yang mempunyai fasilitas pengobatan Anti Rabies dengan lengkap.7,9,11

N. Komplikasi
Berbagai komplikasi dapat terjadi pada penderita rabies dan biasanya timbul pada
fase koma. Komplikasi neurologik dapat berupa peningkatan tekanan intrakranial;
kelainan pada hipotalamus berupa diabetes insipidus, sindrom abnormalitas hormon
antidimetik (SAHAD), disfungsi otonomik yang menyebabkan hipertensi, hipotensi,
hipertemia/hipotermia, aritmia dan henti jantung. Kejang dapat lokal maupun
generalisata dan sering bersamaan dengan aritmia dan gangguan respirasi. Pada stadium
prodromal sering terjadi komplikasi hiperventilasi dan alkalosis respiratorik, sedangkan
hipoventilasi dan depresi pernafasan terjadi pada fase neurologik akut. Hipotensi terjadi
karena gagal jantung kongestif, dehidrasi dan gangguan otonomik.4
O. Prognosis
Penyakit rabies tidak dapat disembuhkan sehingga prognosisnya jelek. Tanpa
pencegahan, penderita hanya bertahan sekitar 8 hari, sedangkan dengan penangan
suportif, penderita dapat bertahan hingga beberapa bulan. Sebelum ditemukan
pengobatan, kematian biasanya terjadi dalam 3-10 hari. Kebanyakan penderita

meninggal karena sumbatan jalan nafas (asfiksia), kejang, kelelahan atau kelumpuhan
total. Hingga saat ini belum ada laporan kasus yang dapat bertahan hidup setelah
manifestasi dari penyakit rabies timbul. Pada manusia yang tidak mendapatkan vaksin
rabies hampir selalu fatal terutama setelah muncul gejala neurologi, tetapi bila setelah
terpapar virus diberikan vaksin akan mencegah perkembangan virus.8
Kematian karena infeksi virus rabies boleh dikatakan 100% bila virus sudah
mencapai sistem saraf pusat. Dari tahun 1857 sampai tahun 1972 dari kepustakaan
dilaporkan 10 pasienyang sembuh dari rabies namun sejak tahun 1972 hingga sekarang
belum ada pasien rabies yang dilaporkan hidup. Prognosis seringkali fatal karena sekali
gejala rabies telah tampak hampir selalu kematian terjadi 2-3 hari sesudahnya sebagai
akibat gagal nafas/henti jantung ataupun paralisis generalisata. Berbagai penelitian dari
tahun 1986 hingga 2000 yang melibatkan lebih dari 800 kasus gigitan anjing pengidap
rabies di negara endemis yang segera mendapat perawatan luka, pemberian VAR dan
SAR, mendapatkan angka survival 100%.4

BAB III
LAPORAN KASUS
UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II
STATUS PASIEN
1. Identitas Pasien
a Nama/ Kelamin/Umur

: Nn. WJ /Laki-laki /38 tahun

b Nomor RM
c Alamat

: Pedagang
: Jl. Khatib Sulaiaman, Padang

2. Latar Belakang Sosial-Ekonomi-Demografi-Lingkungan Keluarga


a Status Perkawinan
: sudah menikah
b Jumlah anak
: 3 orang
c Status ekonomi keluarga : Cukup mampu, penghasilan / bulan + 4.000.000
d KB
:e Kondisi rumah
:
- Rumah permanen dengan pekarangan cukup luas, jumlah kamar 2 buah, 1 kamar
-

mandi di dalam rumah, satu ruang keluarga dan satu dapur.


Ventilasi cukup, setiap kamar mempunyai jendela dan di ruang keluarga

mempunyai 2 jendela, pencahayaan cukup.


- Listrik ada
- Sumber air dari PDAM, sumber air minum dari galon
- Sampah diangkut oleh petugas
- Kesan: hygiene dan sanitasi rumah baik
Kondisi lingkungan keluarga:
- Pasien tinggal bersama suaminya.
- Lingkungan rumah padat penduduk
- Lingkungan sekitar cukup bersih

3. Aspek psikologis di keluarga:


Hubungan pasien dengan keluarga baik.
Faktor stress dalam keluarga tidak ada.
4. Keluhan Utama:
Luka pada lengan bawah kanan karena di gigit anjing 1 hari yang lalu.

5. Riwayat Penyakit Sekarang:


Luka pada lengan bawah kanan karena di gigit anjing liar 1 hari yang lalu. Pasien
awalnya membawa anaknya ke warung, tiba-tiba di jalan ada anjing jalanan yang
mencoba menggigit anaknya, kemudian pasien berusaha menghalangi hingga
akhirnya anjing tesebut menggigit pasien. Pasien kemudian dibawa ke rumah sakit
Ibnu Sina, dilakukan pengobatan luka dan diberi satu suntikan anti rabies, dan disuurh
kontrol ke puskesmas terdekat.

Trauma atau gigitan di tempat lain tidak ada.

Perasaan gelisah, malaise, sakit kepala, gatal, merasa seperti terbakar, kedinginan,
kondisi tubuh lemah dan rasa nyeri di tenggorokan tidak ada

ketakutan berlebihan, rasa haus, ketakutan terhadap rangsangan cahaya, tiupan angin
atau suara keras, dan penurunan kesadaran tidak ada.

Halusinasi tidak ada

Kaku otot atau kujang otot tidak ada

Rasa panas di tempat luka gigitan tidak ada.

Riwayat kebas, perubahan sensasi dan kelumpuhan tidak ada.

Demam, mual muntah tidak ada

Anjing yang menggigit pasien merupakan anjing jalanan. Anjing tersebut kemudian
dibunuh warga sekitar karena juga menggigit warga lain.

6. Riwayat penyakit dahulu/ penyakit keluarga/ alergi:


Pasien tidak pernah digigit anjing sebelumnya.

Tidak ada riwayat strok, penyakit hipertensi, penyakit diabetes, maupun penyakit
jantung.

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan sperti ini

7. Riwayat sosial, budaya, dan ekonomi :


Pasien adalah seorang pedagang di pasar pagi ulak karang
8. Pemeriksaan Fisik:
Status Generalis

Pemeriksaan khusus:

Keadaan Umum
:
Baik
Kesadaran :
Komposmentis Kooperatif
Frekuensi Nadi
:
82x/menit
Frekuensi Nafas
:
20x/menit
Tekanan Darah
:
120/80mmHg
0
Suhu :
37,2 C
Berat Badan :
68 kg
Tinggi Badan :
167 cm

Kepala:
-

Normochepal
Rambut: hitam, tidak mudah dicabut
Mata: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, diameter pupil 2mm/2mm,

refleks pupil +/+


Hidung: sumbatan (-), deviasi septum (-), polip (-), sekret (-)
Telinga: tofus (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tekan tragus (-)
Gigi dan mulut: caries (-)
Tenggorokan: tonsil T2 T1

Leher :
-

JVP 5 + 2 cmH20
KGB tidak teraba membesar
Kelenjar tiroid tidak teraba membesar
Deviasi trakea (-)

Dada:
-

Paru-Paru
Inspeksi

: Normochest, gerakan paru simetris kiri dan kanan

Palpasi

: taktil fremitus kiri = kanan

Perkusi

: Sonor kiri dan kanan

Auskultasi : vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-)


-

Jantung
Inspeksi
Palpasi

: Iktus kordis tidak terlihat


: Iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V, tidak kuat angkat, luas

1-2 jari, thrill (-)


: Batas jantung : atas
: RIC II
Kanan
: LSD
Kiri
: 1 jari medial LMCS RIC V
Pinggang : LPSS RIC III
Auskultasi : BJ I, BJ II murni (+), irama reguler, bising (-), gallop (-)
Perkusi

Perut:
Inspeksi

: Perut tidak tampak membuncit

Palpasi

: Supel, Hepar/ Lien tidak teraba, Ballotemen ginjal (-), undulasi (-), shifting
dullnes (-), nyeri tekan epigastrium (-), nyeri lepas (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) Meningkat

Punggung:
Nyeri tekan CVA -/Nyeri ketok CVA -/Alat Kelamin: tidak dilakukan pemeriksaan
Anus : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstrimitas:
-

Refleks fisiologis +/+


Refleks patologis -/Oedema -/Akral hangat, perfusi baik

Status Lokalis :
Regio ante Brachii dekstra :
Look : Vulnus morsum et regio antebrachii dekstra,
Feel : perabaan hangat, krepitasi tidak ada, nyeri sumbu tidak ada
Movement : ROM (+) bebas ke segala arah
9. Laboratorium:
Tidak dilakukan pemeriksaan
10. Diagnosa Kerja:
Vulnus Morsum et causa gigitan anjing (susp. Rabies)
11. Diagnosis Banding:
12. Manajemen
a) Preventif
Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70% populasi

yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.


Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap kera, anjing, kucing yang telah

divaksinasi.
Mengurangi jumlah populasi anjing liar atan anjing tak bertuan dengan jalan

pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan.


Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus didaftarkan ke

Kantor Kepala Desa/Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat


Menangkap dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita rabies,
selama 10 sampai 14 hari, terhadap hewan yang mati selama observasi atau yang

dibunuh, maka harus diambil spesimen untuk dikirimkan ke laboratorium

terdekat untuk diagnosa.


Mengawasi dengan ketat lalu lintas anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya

yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka rabies.


Membakar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies sekurang-

kurangnya 1 meter.
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko
tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan deterjen
selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Kemudian luka diberi alkohol
70% atau Yodium tincture.

b) Promotif
Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit rabies yang
disebabkan akibat gigitan hewan rabies seperti anjing kucing, atau kera yang
terinfeksi virus rabies. Apabila tidak dilakukan tindakan pencegahan secepatnya
bias menimbulkan gejala yang serius hingga sampai ke penurunanan kesadaran

bahkan kematian.
Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai faktor risiko penyakit
rabies. Melakukan pencegahan seperti yang dijelaskan sebelumnya dibagian

preventif
Memberikan edukasi kepada pasien agar patuh melakukan vaksin sesuai jadwal
yang telah ditentukan karena anjing yang menggigit pasien telah mati dibunuh

warga dan tidak diketahui terinfeksi virus rabies atau tidak.


Memberikan edukasi untuk melakukan perawatan luka bebas gigitan dan minum
obat yang telah diberikan berupa antibiotic spectrum luas, dan NSAID

(Ibuprofen) sesuai anjuran dokter.


Edukasi agar pasien megamati jika terdapat gejala rabies seperti demam, sakit
kepala, mual muntah, penurunan kesadaran, halusinasi, perubahan tempramen
dan lain sebagainya

c) Kuratif
Injeksi vaksin antirabies Verorab im, untuk selanjutnya selang 7 hari, 21 hari
NSAID : Ibuprofen 400 mg @ tablet diminum dua kali sehari
Vitamin C 50 mg diminum dua kali satu tablet dalam sehari.
Amoksisilin tablet 3 x 500 mg selama 5 hari

d) Rehabilitatif
Perawatan luka bekas gigitan dengan benar dan menjaga daya tahan tubuh dengan
gizi seimbang dan istirahat yang cukup
Resep

Dokter
Tanggal

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas Ulak Karang
: Randa Novalino, Dewi Oktavia Djasmi
: 15 Januari 2014

R/ Ibuprofen tab 400 mg No. X


S 2 dd tab 1 (P.C)
R/ Amoksisilin tab 500 mg No. XV
S 3 dd tab 1
R/ Vitamin C 50 mg tab No. X
S 3 dd tab I (P.C)
R/ Verorab amp No. I
S imm

S
S
S
S

DAFTAR PUSTAKA
Pro
: Tn. WJ
Umur : 38 th
Alamat: Jl. Khatib Sulaiman, Padang

BAB III
DISKUSI
Seorang pasien laki-laki berumur 38 tahun datang ke Puskesmas Ulak Karang dengan
keluhan utama berupa luka pada lengan bawah kanan karena di gigit anjing 1 hari yang lalu.
Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis menderita vulnus
morsum et causa gigitan anjing.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik sebagai berikut.
Hasil anamnesis yang mendukung diagnosis adalah adanya keluhan pasien berupa luka pada
lengan bawah kanan karena di gigit anjing 1 hari yang lalu. Dari anamnesa didapatkan bahwa
anjing liar tersebut tiba-tiba menggigit saat pasien dan anak nya melintas di jalan. Anjing

kemudian dibunuh oleh warga sekitar karena juga menggigit warga yang lain. Trauma atau
gigitan di tempat lain tidak ada. Pada pasien tidak ditemukan gejala prodorma berupa demam,
sakit kepala, mual, muntah dan lain sebagainya. Pasien sudah mendapatkan pengobatan awal
dan vaksin antirabies di Rumah sakit Ibnu Sina Padang.
Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, diperoleh: keadaan umum baik, kesadaran
CMC, dan vital sign dalam batas normal. Dari status lokalis pasien pada Regio ante Brachii
dekstra didapatkan berupa Look : Vulnus morsum et regio antebrachii dekstra, Feel :
perabaan hangat, krepitasi tidak ada, nyeri sumbu tidak ada dan Movement : ROM (+) bebas
ke segala arah.
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik ditegakkan diagnosa vulnus morsum et causa
gigitan anjing dengan suspect rabies.
Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah dengan melakukan perawatan luka dan
melakukan pencegahan terhadap penyakit rabies. Pasien juga diberikan edukasi mengenai
penyakit rabies yang disebabkan akibat gigitan hewan rabies seperti anjing kucing, atau kera
yang terinfeksi virus rabies. Apabila tidak dilakukan tindakan pencegahan secepatnya bisa
menimbulkan gejala yang serius hingga sampai ke penurunanan kesadaran bahkan kematian.
Pasien agar patuh melakukan vaksin sesuai jadwal yang telah ditentukan karena anjing yang
menggigit pasien telah mati dibunuh warga dan tidak diketahui terinfeksi virus rabies atau
tidak. Memberikan edukasi untuk melakukan perawatan luka bebas gigitan dan minum obat
yang telah diberikan berupa antibiotic spectrum luas, dan NSAID (Ibuprofen) sesuai anjuran
dokter. Pasien juga dianjurkan megamati jika terdapat gejala rabies seperti demam, sakit
kepala, mual muntah, penurunan kesadaran, halusinasi, perubahan tempramen dan lain
sebagainya.
Terapi khusus pada pasien ini diberikan Injeksi vaksin antirabies Verorab intra
muskular, untuk selanjutnya selang 7 hari dan 21 hari karena pasien sudah mendapatkan
penanganan suntik rabies pertama kali di rumah sakit Ibnu Sina Padang. Pasien juga
diberikan obat NSAID berupa Ibuprofen dua kali 400 mg untuk mengurangi nyeri pada luka
bekas gigitan, Vitamin C 3 kali 50 mg untuk mempercepat proses penyembuhan luka, serta
diberikan antibiotic spectrum luas berupa Amoksisilin tablet 3 x 500 mg selama 5 hari untuk
mencegah infeksi sekunder karena luka gigitan cukup luas dan dalam.

DAFTAR PUSTAKA
1. Corey, Lawrence. Rabies, Rhabdovirus, dan Agen Mirip-Marburg. In: Harrison Prinsipprinsip Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 13. Jakarta: EGC. 1999, p 938-941.
2. Harijanto, Gunawan, P. N. & Carta, A. Rabies. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2007, p 1736-1740.
3. Bleck, T. P. & Rupprecht, C. E. Rabies Virus. In: Mandell GL, Bennet JE, Dollin R (Eds).
Mandell, Douglas amd Bennets Principles and Practice of Infectious Diseases. 5th ed.
Philadelphia: Churchill Livingstone. 2000, p 1811-1820.
4. Chin, James. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Edisi 17. Jakarta: American
Public Health Association. 2000, p 427- 436.
5. Mardjono, M. & Sidharta, P. 2008. Neurologi Klinis Dasar. Cetakan Ke-13. Jakarta: PT.
Dian Rakyat. p 169-170.
6. Haryono, Yudha, dkk (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia). 2006. Kumpulan
Makalah Pertemuan Ilmiah Nasional II. Cetakan Pertama. Airlangga University Press:
Surabaya.
7. Depkes. Petunjuk Perencanaan dan Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Tersangka
Rabies di Indonesia. Diunduh dari http://www.depkes.go.id/downloads/ Petunjuk
%20Rabies.pdf. Pada tanggal 20 Agustus 2012.

8. Sudomo, A., Kusuma, M., & Maryuni, V. 2009. Program Kreativitas Mahasiswa.
Pemanfaatan Habbatus Sauda Untuk Terapi Penunjang Pencegah Rabies Pada Anjing.
Bogor: IPB.
9. Deptan. Patofisiologi Rabies. Diunduh dari http://www.deptan.go.id/rabies.pdf. Pada
tanggal 20 Agustus 2012.
10. Smith, Jean S. 1996. New Aspects of Rabies with Emphasis on Epidemiology, Diagnosis
and Prevention of the Disease in the United States. Clinical Microbiology Reviews, Vol.
9, No. 2.
11. Hiswani.

2003.

Pencegahan

dan

Pemberantasan

Rabies.

Diunduh

dari

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani10.pdf. Pada tanggal 21 Agustus 2012.