Anda di halaman 1dari 43

JET PUMP

Dr. Ir. Sudjati Rachmat, DEA

43

JET PUMP
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pendahuluan
Teori
Persoalan Gas
Ukuran Nozzle dan Throat
Langkah-Langkah pada Perhitungan Jet Pump
Grafik Kelakuan Pompa

43

Pendahuluan
Pompa Jet (Jet Pump) telah dikembangkan sejak tahun
tiga puluhan. Jet pump telah cukup populer akhir-akhir
ini untuk pompa air di rumah-rumah atau di industri
kecil-besar, tetapi di dalam industri perminyakan mulah
tahun tujuh puluhan pada saat percobaan dimulai
dengan sukses oleh Kobe Inc. di 5 sumur percobaan
sekaligus di California, West Texas dan New Mexico. Di
negara kita antara lain telah digunakan oleh Pertamina
dan ARII. Jet Pump cukup baik untuk produksi minyak
karena cukup awet bila didisain dengan benar, biaya
operasi rendah, tidak mudah rusak karena tak ada
bagian-bagian (padat) yang bergerak, sehingga sedikit
pasir juga masih dapat ditolerir. Adanya gas bahkan
dapat membantu asalkan GOR sekitar 400-500 SCF/STB
maksimal karena ini dapat menurunkan
kehilangan
43
3
tekanan tanpa banyak mengurangi efisiensi pompanya.

Laju produksinya biasanya antara 100-6000 B/D. Daya


kuda pompa triplex dari 6-200 hp dan kedalaman
pemasangan adalah sampai 8000 ft. pada beberapa
instalasi dapat dipertukarkan dengan PHP (Pompa
Piston Hidraulik). Walaupun demikian ia mempunyai dua
kekurangan : yang pertama adalah membutuhkan daya
kuda yang relatif lebih besar daripada pompa-pompa
lainnya sehingga efisiensinya rendah, biasanya hanya
sekitar 25-35 persen maksimum. Dan kedua adalah
bahwa untuk menghindarkan cavitasi dibutuhkan
penenggelaman pompa yang cukup dalam atau tekanan
suction yang besar.

43

Gambar 1 menunjukan suatu skematik inistalasi jet


pump. Alat-alat permukaan jet pump dan piston
hidraulic pump adalah sama kecuali bagi jet pump ini
tidak dapat CPF. Jet pump umumnya juga free pump
sehingga mudah diangkat ke permukaan untuk
perbaikan/penggantian. Pada beberapa instalasi jet
pump digunakan untuk sumur yang baru di hydrofracturing dan setelah padatan-padatan bersih pompa
diganti ke piston pump.

43

Gambar 1
Suatu skematik instalasi Jet43
Pump

Pada masa ini ada tiga pabrik jet pump yang besar
untuk industi minyak:
Armco Fluid Packed Pump
(National), Kobe dan Guiberson. Paten untuk jet pump
telah habis waktunya dan dengan ini pabrik-pabrik
pompa merahasiakan disain dimensinya agar tidak
mudah ditiru oleh orang, tetapi hal ini dirasakan
merugikan mereka sendiri karena akibatnya ahli
produksi di perusahaan-perusahaan minyak akan sulit
dalam memperhitungkan kemungkinan penggunaan
pompa jet ini untuk sumurnya. Karena itulah pada bula
april 1983 yang lalu telah dipresentasikan suatu risalah
makalah yang mana untuk pertama kalinya membuka
ukuran dimensi sebenarnya dari jet pump produksi
mereka sendiri. Dalam pembahasan disini cara mereka
ini akan digunakan dan juga program
43 dari mereka yang7
dapat digunakan dengan mesin hitung .

Teori
Pompa jet adalah hidrodinamis seperti ESP dan
bukannya statis seperti SRP ataupun PHP . Prinsip
kerjanya adalah berdasarkan transfer momentum antara
dua aliran. Power fluid bertekanan tinggi dialirkan
melalui suatu nozzle dan energi potensial (tekanan)
diubah ke energi kinetis dalam bentuk kecepatan tinggi
atau jet. Fluida produksi bercampur dengan power fluid
di pipa pencampur (throat) (Gambar 2).

Dengan bercampurnya power fluid dengan fluida


produksi maka momentum dipindahkan ke fluida
produksi sehingga energinya akan meningkat . Dengan
dilakukannya campuran tersebut melalui diffuser (pipa
melebar dengan sudut sekitar 6 derajat maka
43 sebagian diubah8
kecepatannya akan berkurang dan

Gambar 2
Nomenclature pada Jet Pump

43

Ukuran dan bentuk nozzle dan throat mempengaruhi


laju aliran sedangkan perbandingan luas nozzle dan luas
throat mempengaruhi head yang terjadi selain juga laju
aliran yang berhubungan dengan head tersebut . Makin
besar perbandingan nozzle terhadap throat maka makin
besar head yang bisa didapat karena laju produksi yang
didapat berkurang dan ini artinya makin besar energi
(momentum) yang bisa diserap oleh sejumlah fluida
produksi tadi dan ini adalah sesuai untuk pompa yang
relatif lebih dalam dengan produksi kecil. Bila
perbandingan nozzle terhadap throat berkurang, maka
luas daerah masuknya fuida produksi lebih besar, dan ini
relatif lebih sedikit momentum yang bisa dipindahkan,
maka dengan ini produksi besar tetapi head kecil.

43

10

Pompa jet ini sesuai untuk sumur dengan produksi


relatif besar tetapi dangkal. Memproduksikan dengan
laju besar tetapi nozzle besar akan menyebabkan
kehilangan tekanan akibat geseran di lubangn masuk
(yang relatif kecil karena nozzlenya besar) sangat tinggi
untuk fluida produksi, dan sebaliknya memproduksikan
dengan laju kecil tetapi lubang masuk besar (suction
besar, nozzle kecil) dapat menyebabkan turbulensi pada
ruang campur (throat) karena jet yang sangat cepat, jadi
ini
tidak
efisien.
Faktor-faktor
tersebut
perlu
diperhatikan dalam disain pompa.
Selain hal tersebut diatas faktor lain yang harus
diperhatikan adalah cavitasi (cavitation), yaitu bilamana
kecepatan fluida yang masuk terlalu cepat maka
11
tekanannya akan turun di bawah 43
bubble point (titik

Karena ukuran nozzle dan throat bermacam-macam,


maka performance curves (grafik kelakuan) pompa jet
dapat banyak sekali jumlahnya. Gosline dan Obrien
telah menurunkan beberapa persamaan untuk kelakuan
jet pump ini yang mana diperluas oleh Cunningham.

Dengan persamaan-persamaan ini maka dapat dicari


kelakuan Jet Pump dengan mengetahui geometri
pompanya. Bila persamaan ini diturunkan tanpa
dimensi, maka ia dapat digunakan untuk setiap ukuran
pompa selama operasinya mempunyai Reynold Number
cukup besar agar efek viskositas dapat diabaikan.

Dengan berdasarkan persamaan energi dan momentum


untuk nozzle, suction, throat dan diffuser, persamaan di
43 Nomenclaturenya
12
bawah ini diturunkan oleh mereka.

S = Suction
N = Nozzle
T = Throat
D = Diffuser

QN 832 x AN x

PN - PS
GN

Perbandingan luas saluran nozzle dan throat tanpa dimensi


(dimensionless area ratio) adalah :

AN
AT

Perbandingan aliran massa tanpa dimensi (dimensionless mass ratio)


adalah :

QS x GS
QN x GN

43

13

Dan perbandingan tekanan tanpa dimensi (dimensionless power ratio)


adalah:

PD - PS
N
PN - PD

Dan ini menyatakan perbandingan tekanan yang diberikan ke fluida


produksi dibanding dengan kehilangan tekanan pada power fluid . Dari
persamaan Gosline dan OBrien didapat :

M 2 x R2
C 2 x R 1 - 2 x R x
2
1

- 1 KTD x R 2 x 1 M 2

C
N
1 KN C

43

14

Pada persamaan (11) harga KTD dan KN didapat secara empiris.


Guiberson menggunakan angka KN 0.03, National 0.06
dan Kobe 0.07. Dalam pembahasan disini akan digunakan
angka 0.03 untuk KN ini (dengan anggapan bahwa pipa
nozzle sangat licin) dan angka KTD = 0.20.

Caviatasi perlu diperhitungkan dengan menghitung luas


suction minimum agar tak terjadi cavitasi. Menurut National :

QS

ASM AT -AN

691 x PS

GS

43

15

Persamaan (7) diturunkan dari persamaan orifice atau


choke untuk luas annulus (throat minus nozzle) minimum
agar tak terjadi cavitasi pada laju produksi (QS) dan
tekanan (PS) yang bersangkutan. Persamaan ini dibuat
dengan anggapan bahwa tekanan di throat adalah nol
pada waktu cavitasi terjadi.

Karena HHP (Hydraulik HP) didefinisikan sebagai hasil perkalian selisih


tekanan kali laju aliran, persamaan untuk efisiensi dapat
dinyatakan sebagai perbandingan daya yang ditambahkan
ke fluida produksi dengan daya yang hilang di power fluid.
Dengan ini maka :
PD - PS x QS x GS

Effisiensi N x M

PN x PD x QN x GN
43

16

Gambar 3 menunjukan suatu dimensionless performance curves


N versus M (N dari persamaan 6 dan M dari persamaan 3). Grafik
ini adalah untuk pompa National dan jumlah rationya adalah 6
kemungkinan, maka ada 6 grafik. Untuk Kobe juga 6 dan untuk
Guberson 50 jadi grafiknya juga 50. Untuk Kobe dan Guiberson
dapat digambarkan sendiri dengan persamaan-persamaan diatas
tadi. Harga N juga dapat dihitung tanpa grafik kalau tahu harga
KTD, KN, M dan R. Pada grafik Gambar 3 ini harga KTD diambil
0.20 dna KN = 0.03. Harga yang lain dari ini dapat dihasilkan di
test laboratorium tetapi harga ini cukup konservatif yang dapat
menggantikan kehilangan rata-rata pada aliran fluida dalam
pompanya atau bottom assemblinya. Effisiensi maskimum pada
33 persen pada gambar tersebut akan didapat pada produksi
sekitar 700 B/D. Pompa yang lebih besar atau kecil atau fluida
yang viskositasnya sangat kecil atau sangat besar dapat
menghasilkan pompa-pompa dengan efisiensi lebih besar atau
17
kecil dari grafik contoh ini. Harga N 43
vs M disitu diberikan

Gambar 3
Dimensionless Characteristics Curves

43

18

Persoalan Gas
Persamaan-persamaan diatas hanya berlaku untuk minyak
atau 100 persen cairan. Gas umumnya terdapat pada
banyak sumur pompa dan ini mempengaruhi pompanya.
Cunningham mendapatkan bahwa bila volume gas
ditambahkan ke cairan ia akan berlaku seakan-akan ia
merupakan cairan dan kelakuan pompa akan mendekati
grafik diatas (Gambar 3). Untuk ini persamaan (3) menjadi
GS
:
M QS QG x

QN x GN

Dari studi Standing dapat diturunkan persamaan empiris


1.2
untuk korelasi volume fasa cairan
fasa GS
gas yang
M QS x 1 2.8 x GOR PS x 1 ditambah
- WC WC x
bila disubstitusikan ke persamaan (9) menjadi QN x GN

43

19

Untuk adanya gas ini, aliran untuk cavitasi harus


dikoreksi. Dengan anggapan aliran seperti aliran choke
disekitar annulus throat disekeliling jet power fluid, maka
luas pipa annulus akibat gas ini harus dikoreksi dengan :

AG

QS x 1 - WC x GOR
24560 x PS

Dan dari persaman (13) dengan efek gas


persamaan :
1

GS

1 - WC x GOR
x
PS
691

ASM QS x
24650 x PS

43

didapat

20

Ukuran Nozzle Dan Throat


Ukuran jet pump dapat dari sekitar 4 20 tergantung
besarnya. Untuk nozzle dan throatnya Kobe, National dan
Guiberson mempunyai banyak kombinasi. Kobe dan
National mengikuti perbandingan yang meningkat secara
geometris tertentu dalam hal kenaikan nozzle dan
throatnya. Untuk Kobe faktor ini adalah 10 1/9 = 1.29155
dan untuk National = 1.27324.n

Guiberson tidak mengikuti faktor geometris tertentu


sehingga lebih banyak pilihan. Aturan yang diikuti oleh
National dan Kobe menggunakan perbandingan luas
antara kombinasi nozzle dan throat yang tetap . Dalam hal
ini luas nozzle vs throat selalu 0.380 di National dan 0.4 di
Kobe. Ini disebut perbandingan A.
43
21

Misalnya 11-B untuk National berarti luas nozzle 0.0271


in2 dan luas throat 0.091 in2. sedang 6-X artinya luas
nozzle 0.0081 dan throat 0.0167. perbandingannya adalah
0.483. Pada Guiberson perbandingannya dapat dilihat
pada Tabel A-11. Karena perbandingan ini tidak tetap,
yaitu :
dari :
0.20 0.4; 0.44-0.48; 0.50-0.59; 0.63-0.66;
0.68-0.69;
0.71-0.72; 0.74; 0.77; 0.86;
0.92

maka sulit untuk mendapatkan rumus untuk R ini yang


ringkas. Pada Guiberson ini kodenya misalnya E-10 artinya
nozzle luasnya 0.0241 in2 dan throat 0.0962 in2. selisihnya
43
22
0.0721 in2 adalah dekat dengan Tabel A-11 tersebut dan

untuk R lebih besar dari 0.4 kadang-kadang digunakan


untuk sumur-sumur dalam dengan net lift yang besar atau
bila tekanan kerjanya (triplex) relatif kecil, ebih kecil dari
0.235 diperuntukan bagi sumur-sumur dalam dengan net
lift besar atau bila tekanan dasar sumurnya (Pwf) kecil,
laju produksi besar. Ini diperlukan agar tak terjadi
cavitasi. Kembali ke Gambar 3 terlihat bahwa grafik
karakteristik untuk perbandingan luas R relatif besar
menunjukan harga N besar di daerah efisiensi maksimum .
Karena N adalah ukuran kenaikan tekanan fluida produksi ,
maka perbandingan yang lebih besar adalah sesuai untuk
net lift besar tetapi dengan laju lebih kecil dari power
fluid (M<1) sedangkan perbandingan luas kecil memberi
head yang lebih kecil tetapi laju lebih besar (M>1).

43

23

Pada konstruksi pompanya fluida produksi dapat dialirkan


langsung masuk dalam pompa seperti Gambar 4A (type A)
atau dialirkan diluar pompa sebelum masuk ke suction
(type B). Type B ini lebih besar dari A tetapi bottom
assembly yang bisa cocok hanya tipe B, D, E untuk Kobe
(jadi tipe A lebih mudah dipasang dimana-mana). Beberpa
jet pump dapat dipertukarkan antara satu dengan lainnya
misalnya Armco dengan Kobe.

43

24

Gambar 4
Dua type dari Jet Pump

43

25

Langkah-langkah Pada Perhitungan Jet Pump


Dalam melakukan perhitungan untuk meneliti atau
mendisain pompa jet, langkah-langkah dibawah ini telah
dibuat oleh Pertie, Wilson dan Smart pada risalahnya:
1. Dari data laju produksi, QS dan tekanan suction PS dan
GOR, hitung luas minimum annulus agar tak terjadi
cavitasi (Persamaan 12).
2. Kalau diinginkan perhitungan tekanan kerja dapat
dinilai dengan macam-macam kombinasi nozzle dan
throat dan dicari optimumnya. Kalau diinginkan
perhitungan untuk pembuatan grafik pada tekanan
kerja triplex yang konstan untuk ukuran pompa
tertentu juga dapat dapat dilakukan.

43

26

3. Ambil tekanan kerja permukaan antara 2000-4000 psi


(tekanan triplex yang paling umum) dan untuk tekanan
triplex makin besar untuk kedalaman besar dan harga
R yang makin kecil. Bila tekanan triplex terbatas, ini
akan mempengaruhi pemilihan ini.
4. Hitung tekanan di nozzle. PN adalah tekanan kerja
triplex + tekanan kolom fluida ditubing pressure
loss :
PN = PT + GN x D PFN
Menurut Coberly kehilangan tekanan di annulus atau
tubing dapat dihitung dengan persamaan

43

27

Dimana :
D1 : ID casing
D2 : OD tubing untuk aliran annulus (untuk adanya
gas vent ID casing
dikurangi dengan OD gas
vent).
Atau dapat dicari dari grafik pressure loss. Persamaan
(14) diatas adalah yang dipakai diprogram mesin
hitung. Dalam perhitungan dengan mesin hitung ini
biasanya QN dapat diandaikan lebih dahulu ntuk
mendapat PFN dan dengan kembali lagi nantinya. Pada
persamaan (14) tadi variabel pada kurung pertama
adalah konstan untuk sistem yang bersangkutan, yang
pada kurung kedua berubah tergantung
proporsi fluida
43
28
yang kembali ke permukaan.

5. Hitung laju power fluid dari persamaan (1) tadi serta


ukuran nozzle yang telah ditentukan sebelumnya tadi.
Dari sini apabila tidak cocok dengan pengandaian QN
langkah 5, maka PFN harus diulangi perhitungannya
sampai mendapat harga QN yang dekat.
6. Hitung laju produksi dan power fluid (fluid yang
kembali ke permukaan) yaitu discharge pompa :
QD = QN + QS
7. Hitung gradient dari suction pompa (fluida produksi)
GS = (GW x WC) + (1-WC) x GO

43

29

8. Hitung gradient fluida campuran yang kembali ke


permukaan
GD = ( (GS x QS) + (GN x QN ) ) / QD
9. Hitung persentase air (Water Cut) fluida campuran

WCD

QS x WC
QD

Kalau minyak sebagai power fluid.


WCD = (QN + QS x WC)/QD
Kalau power fluidnya air.

43

30

10 . Hitung GLR (Gas Liquid Ratio) yaitu perbandingan gascairan pada fluida yang kembali. :

GLR

QS x 1 - WC x GOR
QD

11. Jika GLR diatas 10 dianjurkan menggunakan korelasi


vertikal multifasa seperti pada buku Brown untuk
penentuan tekanan discharged (keluar) pompa
dengan menggunakan hasil dari persamaan (16) dan
(20) dan langsung ke langkah 15.

43

31

12. Jika GLR kurang dari 10, tentukan viskositas fluida


yang kembali untuk menghitung kehilangan tekanan.
UD = WCD x UW + (1-WCD) x UO
Harga viskositas campuran diatas dihitung dengan
anggapan bahwa campuran minyak dan air tidak
menghasilkan emulsi dan viskositas power fluid bila
minyak = viskositas minyak produksi.
13. Tentukan tekanan discharge (PD) pompa, yaitu jumlah
tekanan hidrostatika di pipa kembali, friksi dan
tekanan kepala sumur (THP atau PWH),
PD = (GD x D) + PFD + PWH

43

32

14. Hitung M dari persamaan (5-10)


15. Hitung N dari persamaan (5) dan (6) untuk R yang
kita pilih dengan M dari persamaan (10) (atau dari
Gambar 3 untuk National bila dihitung satu-satu).
16. Bandingkan
harga
N
sekarang
dengan
harga
sebelumnya, jika menggunakan grafik langsung atau
bila perbedaan ini kurang dari setengah persen,
iterasi telah cukup dan ke langkah 20 atau 21. Bila
lebih dari setengah persen maka lakukan langkah 18.
biasanya iterasinya 3 sampai 10 kali. Harga setengah
persen ini menyebabkan kesalahan disekitar 15 psi.

43

33

17. Hitung tekanan nozzle baru dari persamaan (4)

PD - PS

PN
PD
N

Lalu ke langkah 6.
18. Hitung tekanan intake (suction) baru dari persamaan
(19).
PS = PD N x (PN-PD)
19. Tentukan tekanan permukaan (triplex) yang baru :
PT = PN (GN x GD) + PFN

43

34

20. Hitung aliran


cavitation :

maksimum

yang

tidak

mengalami

QS x AT - AN
QSC
ASM

21. Hitung daya kuda (hp) triplex, anggap efisiensinya 90


QN x PT
persen.

HP

52910

43

35

22. Display (hasil cetak) :


Tekanan power fluid, PT
Laju power fluid, QN
HP triplex,
HP
Laju cavitasi,
QSC
Laju produksi,
QS
Tekanan suction, PS
23. Untuk suatu pompa berukuran lain (baru) lihat ke
langkah 1, masukan ukuran baru di langkah 2, set flag
di langkah 3. Untuk menghitung dalam membuat
grafik kelakuan (performance chart) untuk ukuran
tertentu, lihat langkah 1, masukan laju produksi baru,
dan jangan set flag (hilangkan kalau
sudah terlanjut
43
36
diset) pada langkah 3. Dengan pilihan ini sejumlah

Grafik Kelakuan Pompa


Kobe membuat grafik yang ditunjukan oleh Gambar 6, dan
ini hampir sama sistemnya dengan Guiberson (Gambar 8).
Keduanya menggunakan sumbu-X sebagai laju produksi
dan sumbu-Y sebagai laju power fluid. Dari Gambar 8
tersebut. Misalkan laju 2040 B/D didapat tekanan suction
1500 psi (dari grafik yang miring naik kearah kanan).
Power fluidanya 2695 B/D/ Tekanan triplex didapat dengan
interpolasi diantara dua grafik tekanan power fluid (yang
miring ke bawah ke arah kanan) didapat 3230 psi. Grafik
IPR dapat dibuat di grafik ini (terlihat disitu garis PI =
2.65).

43

37

National memplot grafiknya seperti pada Gambar 9


dimana seperti pada grafik yang biasa kita gunakan
sebagai sumbu-X adalah laju produksi dan sumbu-Y
tekanan suction (intake). Dengan ini mudah untuk
ditumpangi oleh grafik IPR biasa. Maka cara ini dianjurkan
oleh ketiga penulis tersebut. Interpretasinya adalah
dengan membaca langsung laju produksi misalnya 205
B/D dari Gambar 10, maka tekanan suction 1550 psi,
power fluid diinterpolasikan diperoleh 3200 psi. Laju
power fluid diinterpolasi antara 2 harga 797 dan 809
adalah 803 B/D.

43

38

Gambar 5 Production Rate vs Pump 43


Intake Pressure

39

43
Gambar 6 Pump Performance

40

Gambar 7 Production Rate vs Pump 43


Intake Pressure

41

43Power
Gambar 8 Production vs Horse

42

Gambar 9 Production Rate vs Pump 43


Intake Pressure

43