Anda di halaman 1dari 41

PT.

PERTAMINA EP
ASSET 3

BAB I
PENDAHULUAN

Teknik Perminyakan adalah ilmu yang melingkupi cara pencarian


hidrokarbon dan perancangan cara untuk mengangkat hidrokarbon dari reservoir.
Para ahli teknik perminyakan melakukan pencarian hidrokarbon untuk diolah
sebagai sumber energi dan bahan mentah bagi masyarakat.Hasil olahan tersebut
digunakan untuk menggerakkan kendaraan, bahan mentah industri, sumber
energi pembangkit tenaga listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Minyak mentah,
atau petroleum, merupakan zat yang berasal dari jasad renik yang terkubur di
dalam lapisan tanah dan melalui proses geologi. Minyak adalah campuran
hidrokarbon yang merupakan molekul-molekul yang berisi hidrogen dan karbon,
yang kadang-kadang berwujud cair (minyak mentah) dan kadang-kadang berupa
gas (gas bumi).
Minyak dan gas bumi memiliki peranan penting dalam pemenuhan
kebutuhan energi umat manusia, meskipun sumber energi alternatif lainnya sudah
banyak ditemukan. Kebutuhan dunia terhadap minyak dan gas bumi yang masih
tinggi menjadikan peranan eksplorasi dan eksploitasi sangat penting untuk
menutupi berkurangnya cadangan tiap waktunya. Untuk itu diperlukan usaha
usaha dalam meningkatkan dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak yang
sudah ada atau mencari sumber cadangan baru dengan menerapkan kemajuan
teknologi serta perhitungan ekonomi pada suatu lapangan minyak.
Sejarah Singkat PT. Pertamina EP Asset 3
Sejak 17 September 2005 Pertamina Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian
Barat (DOH JBB) berubah nama menjadi Pertamina EP Region Jawa, kemudian
berubah nama menjadi Pertamina EP Asset 3. Pertamina EP Asset 3 merupakan

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

salah satu daerah operasi dibawah Direktorat Hulu yang berada di Propinsi Jawa
Barat dan berkantor pusat di Cirebon dan mempunyai wilayah kerja yang terdiri
dari dua Area Operasi, yaitu sebagai berikut :
a. Area Operasi Mundu
b. Area Operasi Cemara
c. Area Operasi X-Ray (Offshore)
Disamping itu kegiatan operasi Pertamina EP Asset 3 juga ada di
Kabupaten Brebes (Lokasi Jubang-A), Kabupaten Kuningan (Kebutuhan air
untukCiperna), kabupaten Cirebon (Keberadaan Kantor dan Perumahaan) dan
Kabupaten Sidoarjo (Trasmisi Gas Jawa Timur).
Visi dan Misi PT. Pertamina EP Asset 3
Visi adalah pandangan jauh kedepan, kemana dan bagaimana instansi
pemerintah harus dibawa dan berkarya agar tetap konsisten dan dapat eksis,
antisipatif, inovatif serta produktif.
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh

PT.

Pertamina EP Asset 3 sesuai visi yang diterapkan, agar tujuan organisasi dapat
terlaksana dan berhasil dengan baik.
Visi Misi
TO BE A LEADER
Melaksanakan kegiatan eksplorasi dan produksi Minyak dan Gas Bumi di
wilayah Asset 3.
Tujuan

Menjadi unit usaha yang kuat dan sehat


Menghasilkan keuntungan bagi stakeholder
Berprestasi setara dengan perusahaan sejenis yang terbaik
Dalam melaksanakan usaha selalu berdasarkan nilai unggulan

Budaya Perusahaan (3K)


2

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Kejujuran
Komitmen
kebersamaan

Tata Nilai Unggulan

Pengembangan cadangan-cadangan baru Minyak mentah dan Gas


Produksi Gas untuk memenuhi perjanjian kebutuhan konsumen-

konsumen
industri strategis di Jawa Barat dan Jawa Timur
Pelaksanaan dengan biaya serendah mungkin

Kegiatan PERTAMINA EP Region Jawa mempunyai 3 tujuan yaitu

Berstandar International
Berwawasan lingkungan yang terintegrasi dalam setiap kegiatan
Menumbuhkan kebangsaan dan mengembangkan profesionalisme
pekerja

Wilayah Kerja PT Pertamina EP Asset 3 dibagi menjadi

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Tujuan Kerja Praktek


Pada hakikatnya Kerja Praktek merupakan gambaran nyata dimana
mahasiswa dituntut untuk mengetahui dan memahami semua ilmu dalam teknik
perminyakan beserta fungsi dan cara kerja dari setiap alat untuk nantinya
dimengreti kegunaan dan kontribusi alat tersebut terhadap kegiatan yang
berhubungan dengan eksplorasi dan eksploitasi migas. Agar mahasiswa dapat
memperkaya ilmu, baik ilmu yang didapat di bangku kuliah (kelas) maupun pada
dunia kerja yang sesungguhnya. Sehingga ilmu kuliah yang diperoleh dapat lebih
dipahami dan dapat diimplementasikan dalam dunia kerja.
Kerja praktek ini merupakan tahapan yang wajib dilakukan bagi mahasiswa
tingkat sarjana Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti Jakarta.
Pada dasarnya, kerja praktek bertujuan untuk :
1.

Mengaplikasikan secara langsung ilmu yang didapat di bangku kuliah ke


kegiatan yang nyata di industri yang sebenarnya.

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

2.

Mengaplikasikan bidang ilmu teknik perminyakan dalam proses produksi


dan eksplorasi minyak bumi.

3.

Memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana Teknik Perminyakan,


Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti Jakarta

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Lokasi Kerja Praktek dilaksanakan di Pertamina EP Asset 3. Lokasi dapat
ditempuh selama 3 jam dengan kereta , yang kemudian disambung dengan mobil.
Kerja Praktek dilakukan selama kurang lebih 2 minggu,yaitu terhitung mulai
tanggal 18 Agustus 2014 hingga 29 Agustus 2014. Berikut ini jadwal kegiatan
Kerja Praktek selengkapnya
Tabel 1.1
Jadwal Kegiatan Kerja Praktek
Tempat dan Waktu
Klayan, 18 Agustus

Kegiatan
petunjuk keselamatan

Petunjuk-

2014

lingkungankerja Pertamina EP ASSET 3


Jatibarang

diantaranya:

Bagian
di

Keselamatan

kerja, Pengolahan Limbah B3, Udara, Cair

dan gas, tata ruang keselamatan kerja.


Perkiraan cadangan minyak dengan

metode volumetrik
Well testing untuk penentuan permebilitas,

HSE & INSPEKSI


dan

skin factor, effisiensi aliran, dan tekanan

reservoir
Overview Software-software workstation

Klayan, 19 Agustus

T.Reseroir
Penentuan IPR

2014

Pengenalan Artificial Lift

Stimulasi dan Fracturing

Teknik Reservoir

Teknik Produksi

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Klayan, 20 Agustus Seismic dan Intepretasi


Geologi lapangan
2014
Evaluasi Fomasi
Mundu, 21 Agustus Analisa Gas, Minyak Dan Air
2014

Pengenalan EMR dan AMERADA, serta

G&G
Renlift dan
Laboratorium
Analisa Fluida

cara kerjanya

Reservoar
Indramayu,
Agustus 2014
Jatibarang,

22 Mengenal Alat Fishing Tool


Proses fishing pada sumur eksplorasi
Komponen peralatan pemboran
25 Mengitung cadangan minyak (STOIP)

Agustus 2014

Jatibarang,

dengan alat panimeter

Analisa pressure static dalam sumur

26

minyak
Kunjungan ke sumur pindah lapisan serta

Agustus 2014

perforasi

Jatibarang,

27

Running CCL pada lapisan yang ingin di


perforasi
Kunjungan ke sumur unloading

Agustus 2014

Klayan, 28 Agustus

Kunjungan ke sumur pencabutan packer


Pengerjaan data PBU dengan software

2014

SAPHIRE

Klayan, 29 Agustus

Latihan penggunaan software PIPE SIM


Presentasi

CMB-08

Teknik Reservoir

CMS-19

JKL-A
MLD-01
Teknik Reservoir

2014

Presentasi

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

BAB II
AKTIVITAS KERJA PRAKTEK
Kerja praktek yang telah dilakukan di Pertamina EP Field Jatibrang Asset
3 Cirebon dilakukan sesuai jadwal yang telah dibuat oleh SDM Pertamina,
kegiatan yang dilakukan meliputi di lapangan serta di kantor, berikut kegiatan
yang telah dilakukan.

2.1 HSE (Health Safety Environment)


HSE adalah departemen di pertamina yang menangani keselamatan kerja
serta permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah produksi
perminyakan. Yang dimaksud keselamatan kerja yaitu memastikan bahwa setiap
personil yang masuk ke dalam lapangan sudah memakai semua alat pelindung
diri. Yang berkaitan dengan lingkungan, HSE melakukan pengolahan limbah
produksi seperti limbah B3, udara, cairan, dan gas yang tidak terpakai dan
berpotensi mencemari lingkungan. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3. Sedangkan
sesuai definisi pada Undang Undang 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dimaksud dengan Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3) adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat,
konsentrasi dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dapat mencemarkan, merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup
lainnya. Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya
dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan,
dan sisa proses. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu
atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif,
beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3. Sedangkan gas yang
tidak dipakai dibakar dikarenakan gas yang tidak dibakar akan mengakibatkan
pencemaran udara, akibat besarnya H2S yang terlepas tanpa di bakar akan turun
pada malam hari siapapun yang mengisap akan mengalami gangguan pernapasan
bahkan akan mengakibatkan kematian. HSE juga bertanggung jawab atas segala
kecelakaan yang terjadi di lapangan, sehingga HSE banyak melakukan training
kecelakaan kerja untuk meminimalisir kerugian yang terjadi lapangan.
Kegiatan pemboran dan perawatan sumur merupakan kegiatan utama
dalam menghasilkan minyak dan gas. Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang
berteknologi, berbiaya dan beresiko yang sangat besar. Pertamina beserta
manajemen dan pekerjanya sangat memperhatikan aspek-aspek keselamatan dan
keamanan dalam bekerja dan beraktifitas. Pertamina menjamin lingkungan kerja
yang ramah lingkungan, operasi tanpa limbah berbahaya dan ramah lingkungan
serta berusaha menekan emisi terhadap lingkungan serta meningkatkan efisiensi
energi. Pertamina berkomitmen dalam meningkatkan kemampuan maupun
keahlian pekerjanya, terutama dalam aspek HSE yang memenuhi persyaratan
lokal maupun internasional.

2.2 Pengenalan Teknik Reservoir


Dalam teknik reservoir dikenal metode metode untuk memperkirakan
jumlah cadangan hidrokarbon yang terdapat di dalam suatu reservoir.
Metode metode tersebut adalah metode Analog, Volumetrik, Material
Balance, Decline Curve Analysis, dan Simulasi Reservoir.
Metode volumetrik sesuai dengan namanya, membutuhkan peta reservoir,
atau yang biasa dikenal dengan sebutan Peta Cadangan atau Reserve Map atau

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Net Oil Isopach Map atau Net Gas Isopach Map atau Net Pay Isopach Map, yaitu
untuk dihitung volume batuan reservoir yang mengandung minyak atau gasnya
(Vb). Volume bulk dapat ditentukan dengan cara trapezoid (> 0.5) dan piramidal
( 0.5).
Apabila volume batuan reservoir total (Vb) telah dihitung dengan bantuan
peta cadangan, maka volume minyak dan gas yang mula-mula terakumulasi di
reservoir dapat dihitung secara volumetris menggunakan rumus berikut :

Metode Material Balance dapat digunakan untuk memprediksi kinerja


reservoir,

baik

reservoir

tersebut

sudah

berproduksi

maupun

belum

memproduksikan migas.
Dengan syarat bahwa STOIP (N) dan tenaga dorong reservoir (reservoir
drive mechanism) harus telah diketahui.Apabila reservoir telah berproduksi
relatip cukup lama, maka kinerja produksinya dapat mengevaluasi jenis tenaga
dorong alamiah yang bekerja di reservoir tersebut secara lebih akurat dengan
rumus berikut :

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Metode Decline Curve penurunan tersebut mengikuti suatu kurva


hiperbolik yang ideal dengan syarat :
1. Selama produksi tidak ada pembatasan produksi.
2. Selama produksi tidak ada perubahan kondisi operasi.
3. Tidak ada penambahan lubang perforasi.

Jenis kurva dalam metode Decline Curve ini ada 3 ;


a. Exponensial (b = 0)
b. Hyperbolic (0 < b < 1)
c. Harmonic (b = 1)

2.3 Well test


Di Field Jatibarang menggunakan software Ecrin untuk keperluan analisa
Welltest. Analisa yang dilakukan pada sumur minyak adalah pressure build up
dan pressure drawdown.Sedangkan untuk sumur gas analisa yang dilakukan
dengan metode modified isochronal. Apabila data yang didapat cukup lengkap
maka dapat dilakukan analisa menggunakan pseudo pressure.
Untuk melakukan evaluasi sumur tersebut dapat dilakukan dengan
metode menggunakan alat yang bernama.EMR adalah alat yang berfungsi untuk
merekam tekanan dan suhu pada sumur.

2.4 Pengenalan Teknik Produksi

10

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Produksi merupakan tahapan setelah cadangan hidrokarbon ditemukan


dengan tujuan untuk memproduksikan cadangan yang ada di reservoir hingga
bernilai ekonomis.
Salah satu tugas dari bagian produksi adalah memelihara sumur untuk
menjaga agar laju produksi dari sumur sumur yang sudah ada tetap terjaga.Cara
pemeliharaan sumur diantaranya adalah stimulasi dan sembur buatan.
Untuk mengetahui kondisi sumur yang sedang berproduksi biasanya
digambarkan dengan kurva IPR dengan mengetahui harga Pr, Qmax dan Pwf
maka akan diperoleh harga Qo. IPR (Inflow Performance Relationship) adalah
perilaku aliran fluida dari reservoir kedalam sumur.Metode yang dilakukan pada
penentuan IPR adalah metode vogel, standing, Horizon, dan Fetkhovich. Dimana
dalam penentuan IPR ini dapat digunakan juga untuk mengetahui damage pada
suatu formasi yang kemudian dapat ditentukan stimulasi atau tidak.
2.4.1

Stimulasi dan Fracturing

Stimulasi adalah perawatan sumur dengan memeriksa sumur tersebut jika


terbukti adanya penurunan nilai produksi pada suatu sumur, dengan terlebih
dahulu memperhatikan sejarah sumur dan lapisan reservoir tersebut. Karena setiap
jenis reservoir yang akan distimulasi mendapat perlakuan yang berbeda, seperti
pada reservoir sand stone tidak boleh mengunakan acidizing karena akan
mengakibatkan kepasiran, jadi harus mengunakan stimulasi HF. Stimulasi tidak
dapat dilakukan pada reservoir vulkanik dikarenakan batuan vulkanik tidak
memiliki porositas.
Stimulasi yang dilakukan pada PT. Pertamina Asset 3 ini adalah Acidizing
dan fracturing. Fracturing fluid yang digunakan adalah water base fluid karena
lebih ekonomis dan baik terhadap lingkungan.
2.4.2

Artificial Lift

Artificial lift merupakan suatu mekanisme untuk menganggkat hidrokarbon


dari dalam sumur ke atas permukaan yang biasanya dikarenakan tekanan
reservoirnya tidak cukup tinggi atau tidak mampu untuk mendorong minyak
11

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

sampai keatas permukaan maupun tidak ekonomis mengalir secara alami. Jenisjenis artificial lift adalah gas lift, electric submersible pump, dan suck rod pump.
Artificial lift yang dipakai pada lapangan PT. Pertamina Asset 3 ini adalah
ESP dan gas lift.SRP tidak digunakan karena sumur-sumur di lapangan ini sangat
dalam sehingga tidak memungkinkan dipasangnya SRP.
Sembur buatan gas atau Gas Lift merupakan salah satu metode artificial
lift yang digunakan untuk mengoptimalkanlaju produksi dari suatu sumur.
Langkah yang dilakukan sebelum diambil keputusan untuk melakukan gas lift
pada suatu sumur, adalah dilakukannnya evaluasi sumur mengenai sejarah
produksi sumur tersebut. Yaitu penurunan GLR, penurunan jumlah produksi yang
disertai dengan kenaikan jumlah air, juga tekanan dasar sumur yang ditentukan
dengan tekanan dasar alir yang tetap. Apabila data tidak tersedia maka digunakan
patokan tekanan dasar sumur yang mempunyai formasi produktif yang sama.
Ukuran tubing, berkaitan dengan kapasitas masing- masing tubing yang berbeda
untuk menampung aliran.Juga sampai kedalaman berapa gas dapat diinjeksikan
kedalam agar membantu fluida naik ke permukaan.
Setelah data evaluasi sumur di dapatkan maka dimulai proses instalasi gas
lift

dengan

mempertimbangkan

faktor

yang

lain

sebelumnya.

Sistem

pengangkatan buatan gas lift adalah suatu sistem yang terdiri dari beberapa
valve. Dimana valve - valve tersebut merupakan sarana unttuk mencapai
operational valve. Stem tip assy dari valve akan terbuka pada saat tekanan dalam
casing lebih besar dari tekanan yang diprogram pada valve tersebut.
Operasional valve berada pada akhir rangkaian valve diatas packer.Gas
lift dapat beroperasi setelah operasional valve tersebut terbuka. Tekanan injeksi
gas akan sampai pada operasional valve setelah melewati valve - valve
sebelumya, jika valve gas ada yang rusak atau bocor maka program gas lift tidak
akan sampai pada operasional valve. Bagian yang sering rusak pada valve yaitu
12

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

pada stem tip assy, namun sebagian masih bisa diperbaiki.Bagian yang juga
sering rusak adalah below dan bagian ini harus langsung diganti.
Sebelum gas valve di masukan kedalam tubing terlebih dahulu di test
tekanan gas nitrogen pada dome gas valve dengan mengunakan alat artificial lift
system yaitu untuk mengetahui apakah gas valve mengalami kebocoran atau
tidak,
Selain itu posisi gas valve pada saat gas valve tersebut di bawa ke lokasi
sumur yang akan di lakukan program gas lift tidak boleh dalam posisi atau
keadaan tertidur, dikarenakan untuk mengantisipasi adanya kebocoran gas valve
tersebut yang sudah di test agar tidak bocor ketika di perjalanan untuk sampai di
lokasi tempat pengprograman tersebut dan tidak lupa dilakukan pemeriksaan
pada packer apakah pemrograman terjadi kobocoran. Berikut adalah gambar dari
Gas Lift Valve:
ESP (Electric Submergible Pump) yang memiliki prinsip kerja, yaitu Pada
ESP fluida akan masuk melaui intake yang kemudian akan diterima oleh stage
paling bawah dari pompa, dimana satu stage terdiri dari satu diffuser dan satu
impeller. Fluida yang masuk akan diputar dengan kecepatan tinggi oleh impeller,
kemudian akibat dari gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh putaran impeller
fluida akan terlempar keluar yang kemudian ditangkap oleh diffuser. Oleh
diffuser tenaga kinetik ini dirubah menjadi tekanan untuk mendorong fluida ke
stage berikutnya. Proses tersebut berlangsung secara berulang-ulang sampai ke
permukaan.

2.5 Geologi dan Geofisika

13

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi sebagai objek utama, prosesproses yang berlangsung atau dinamika, dan pengaruhnya terhadap bumi itu
sendiri.
Geofisika adalah ilmu mengenai sifat fisik bumi secara keseluruhan,
termasuk kegempaan, gaya berat, kemagnitan, gradient suhu dan sebagainya.
Dalam bidang ini digunakan alat yang berdasar pada Gravitasi, Gelombang
Suara, Magnetic dan Elektrik.Umumnya dalam operasi migas digunakan metode
gelombang suara yaitu seismic karena dianggap paling kompeten saat ini.
Metoda seismik adalah salah satu metoda eksplorasi yang didasarkan
pada pengukuranrespongelombang seismik (suara) yang dimasukkan ke dalam
tanah dan kemudian direleksikan atau direfraksikan sepanjang perbedaan lapisan
tanah atau batas-batas batuan. Sumber seismik umumnya adalah palu godam
(sledgehammer) yang dihantamkan pada pelat besi di atas tanah, benda bermassa
besar yang dijatuhkan atau ledakan dinamit. Respons yang tertangkap dari tanah
diukur dengan sensor yang disebut geofon (onshore) dan hidrofon (offshore)
yang mengukur pergerakan bumi.
Hasil dari pengukuran seismic ini dapat menentukan gambaran reservoir,
perangkap dan fluida.Software yang digunakan adalah Paradigm. Tahapan
pengelolaan migas dari segi GnG antara lain :
1. Dari data geologi regional yang ada dapat
diketahui dapat diketahui formasi apa saja yang
terdapat pada suatu lapangan.
2. Setelah diketahui formasinya, maka dilakukan
metode seismic

14

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

3. Dilakukan interpretasi geologi regional dengan


hasil seismic
4. Untuk membuktikan dan mengumpulkan data
selengkapnya dilakukan pemboran
5. untuk mengetahui batasan atau keseluruhan
daerahnya dilakukan pemboran appraisal.
6. Setelah

didapat

seberapa

besar

cadangan

dibuatlah rencana pengembangan (POD)


7. Setelah POD selesai dan disetujui kemudian
diserahkan ke bagian eksploitasi dan dilakukan
kegiatan pemboran selanjutnya.
8. Apabila ada perbedaan data actual dengan hasil
simulasi geologi maka dilakukan evaluasi dan
dibuat POFD.
Fungsi Geologi dan Geofisika (GnG) dalam kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi perminyakan antara lain adalah :
1. Mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah,
dan proses pembentukannya,
2. Mengetahui dimana letak atau posisi yang tepat untuk melakukan
pemboran
3. Mengetahui Net Pay dari suatu wilayah

15

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

2.6 Pengenalan Teknik Pemboran


Dalam industri perminyakan, pemboran adalah suatu kegiatan penting
yang harus dilakukan untuk mendapatkan hidrokarbon dibawah permukaan.
Pemboran adalah suatu kegiatan membuat lubang dari permukaan menuju target
(reservoir) yang telah ditentukan. Kesuksesan operasi pemboran menentukan
kelanjutan industri minyak dan gas bumi kita. Dalam operasi pemboran, banyak
hal-hal yang harus dilakukan dan mempunyai resiko yang tinggi apabila hal-hal
tersebut gagal. Ada beberapa macam tahapan pemboran, yakni:
Pemboran Eksplorasi adalah pemboran sumur-sumur yang dilakukan
untuk membuktikan ada tidaknya hidrokarbon serta untuk mendapatkan data-data
bawah permukaan sebanyak mungkin.Langkah-langkah :
1. Pembuatan rencana pemboran : titik koordinat, elevasi, perkiraan lithologi
dan tekanan formasi, program lumpur, konstruksi sumur, program coring,
analisa cutting, logging dan testing.
2. Persiapan pemboran : pembuatan jalan, jembatan, pemilihan menara bor
dan peralatan yang sesuai, pemasangan alat pembantu (jaringan
telekomunikasi, air, listrik, dsb), perhitungan biaya pemboran.
3. Pemboran eksplorasi, sekaligus mengumpulkan data-data formasi melaluui
coring dan pemeriksaan cutting
Pemboran Delinasi adalah pemboran sumur-sumur yang bertujuan untuk
mencari batas-batas penyebaran migas pada lapisan penghasilnya. Langkahlangkah :
1. Pemboran Delinasi (biasanya 3 atau 4 buah sumur, masing-masing di
sebelah utara, selatan, timur, dan barat dari antiklinnya)
2. Analisa data
3. Perhitungan perkiraan besarnya cadangan dengan metoda volumetrik.
4. Perencanaan jumlah dan letak sumur pengembangan yang harus dibor
untuk mengeksploitasi lapisan tersebut.
Pemboran Pengembangan adalah pemboran sumur yang akan difungsikan
sebagai sumur-sumur produksi. Langkah-langkah :
1. Perencanaan dan persiapan pemboran.

16

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

2.
3.
4.
5.

Pemboran sumur-sumur pengembangan.


Penyelesaian sumur-sumur pengembangan.
Perencanaan dan persiapan pemasangan fasilitas produksi.
Kegiatan memproduksikan dan transportasi.

Pemboran Sumur-sumur Sisipan (infill well) adalah pemboran sumursumur yang letaknya diantara sumur-sumur yang telah ada, tujuannya adalah
untuk mengambil hidrokarbon dari area yang tidak terambil oleh sumur-sumur
sebelumnya yang telah ada. Fungsi sumur-sumur sisipan ini adalah sebagai proyek
percepatan pengurasan reservoir.
2.6.1 Tahapan Operasi Pemboran
Persiapan Tempat Pada tahap persiapan tempat ini, terdiri dari beberapa
tahapan, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Pembuatan sarana transpotasi


Pembutan kolam cadangan (reserve pit)
Persiapan lubang bor (Cellar)
Memasang Conductor Pipe
Penyediaan air

Pengiriman pelaratan ke lokasi, yaitu :


1. Pengiriman melalui darat
2. Pengiriman melalui laut
3. Pengiriman melalui udara
Dalam

pelaksanaan

operasi

pemboran,

kebutuhan

personil

yang

berpengalaman adalah merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi.


Personil-personil tersebut terdiri dari kru kontraktor pemboran dan kru perusahaan
jasa (service company).
1. Mendirikan Rig
Pengiriman unit rig ke lokasi pemboran biasanya berupa bagian-bagian
(modul-modul). Kontraktor pemboran dan kru-nya dengan menggunakan mesin
derek segera memulai pemasangan dan pendirian menara bor atau rig (rigging
up).
2. Peralatan Penunjang dan Pemasangannya

17

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Dengan selesainya pendirian rig, tahap berikutnya adalah mulai memasang


peralatan-peralatan penunjang. Peralatan penunjang ini biasanya dikirim dengan
truck, tetapi untuk bebarapa komponen yang besar, seperti mud pump biasanya
dikirim dengan truck yang dilengkapi dengan mesin derek atau dengan
menggunakan flat bed truck. Dengan telah siapnya peralatan penunjang, kru
pemboran dengan tugasnya masing-masing mulai menyambung bagian-bagian
dari berbagai peralatan yang terangkai menjadi suatu sistem dari rotary
drilling.untuk melaksanakan operasi pemboran. Material pemboran, seperti bahanbahan lumpur pemboran, dan peralatan-pelatan lainnya seperti drill pipe, drill
collar, tool joint juga diatur pada tempat yang telah tersedia. Pada dasarnya
persiapan tahap rigging up ini dapat dikatakan mendekati penyelesaian,
sehingga lokasi pemboran tersebut telah berubah menjadi suatu komplek rotary
drilling yang modern.
3. Persiapan Akhir
a. Persiapan Lumpur Pemboran, kru pemboran mulai mempersiapkan
lumpur pemboran untuk circulating system. Pada umumnya pada saat
pelaksanaan pemboran surface hole, tekanan formasi pada trayek ini
relatif kecil, sehingga cukup digunakan air tawar.
b. Pengecekan Komponen-komponen Sistem Pemboran, persiapan akhir
untuk memulai pemboran kini sudah hampir mendekati penyelesaian.
Persiapan akhir ini termasuk pengecekan untuk kedua kalinya dari
setiap komponen sistem pemboran yang ada pada sistem rotary
Peralatan pemboran yang digunakan dapat di kelompokkan menjadi 5
sistem:
1. Sistem Tenaga (Power System)
Sistem tenaga pada operasi pemboran terdiri dari dua sub-komponen
utama, yaitu :

Power suplay equipment, yang dihasilkan oleh mesin-mesin besar


yang dikenal sebagai "Prime Mover (penggerak utama).

18

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Distribution (tranmission) equipment, yang berfungsi meneruskan


tenaga yang diperlukan untuk operasi pemboran. Sistem transmisi
dapat dikerjakan dengan salah satu dari sistem, yaitu sistem tranmisi

mekanis dan sistem tranmisi listrik.


2. Sistem pengangkatan (Hoisting system)
Sistem pengangkatan merupakan salah satu komponen utama dari
peralatan pemboran.Fungsi utamanya adalah ruang kerja yang cukup
untuk pengangkatan dan penurunan rangkaian pipa bor dan peralatan
lainnya. Sistem Pengangkatan terdiri dari dua sub

kompunen utama,

yaitu :
a) Struktur penyangga (Supporting Struktur), lebih dikenal dengan nama
"rig", meliputi :
Drilling tower (Derrick atau Mast).
Substructure.
Rig Floor
b) Peralatan Pengangkat (Hoisting Equipment), meliputi :
Drawwork
Overhead tool (Crown Block, Travelling Block, Hook, Elevator).
Drilling line
3. Sistem Putar (Rotating System)
Fungsi utama rotating system adalah untuk memutar rangkaian drill string
dan memberikan beratan diatas pahat (WOB) untuk membuat lubang.
Sistem pemutar terdiri dari tiga sub-komponen :
Peralatan putar (rotary assembly).
Rangkaian pipa bor (drill string).
4. Sistem Sirkulasi (Circulation System)
Pada suatu operasi pemboran adalahuntuk mensirkulasikan fluida
pemboran (lumpur bor) ke seluruh sistem pemboran, sehingga lumpur bor
mampu mengoptimalkan fungsinya. Alat-alat pada sistem sirkulasi:
Discharge and return line
Stand pipe

19

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Rotary house
Mud pumps
Special pumps
Steel mud pits/tanks
Reserve pit
Degaser. Desender. Desilter

5. Blowout Preventing System


Fungsi utama dari blow out prevention system adalah menutup lubang bor
ketika terjadi "kick". Blowout merupakan suatu aliran fluida formasi yang
tak terkendalikan sampai kepermukaan. Blowout biasanya diawali dengan
adanya "kick" yang merupakan suatu intrusi fluida & bertekanan tinggi
kedalam lubang bor. Intrusi ini dapat berkembang menjadi blowout bila
tidak segera diatasi. Blow out prevention system terjadi dari 3 sub
komponen utama yaitu :
a. Bop Stack: ditempatkan pada kepala casing atau kepala sumur
langsung dibawah rotary table pada lantai bor. Bop Stack meliputi :
Annular preventer, Pipe ram preventer, Drilling spool, Blind ram
preventer, dan Casing head
b. Accumulator: biasanya ditempatkan agak jauh dari rig dengan
pertimbangan keselamatan, fungsi utamanya adalah menutup
dengan cepat valve BOP Stack pada saat terjadi bahaya.
c. Supporting system: Terdiri dari Choke manifold dan Kill line.
2.6.2

Casing Pemboran

Fungsi casing pemboran:


Mencegah terkontaminasinya air tanah oleh lumpurpemboran
Menutup zona bertekanan abnormal dan zona lost
Membuat diameter lubang sumur tetap
Mencegah hubungan langsung dengan formasi
Sebagai tempat dudukan BOP dan peralatan produksi
2.6.3 Spesifikasi Casing
Berat Nominal
Tipe sambungan
Grade
20

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Range Length
Diameter

2.6.4 Jenis-Jenis Casing:

Conductor Casing
Surface Casing
Intermediate Casing
Production Casing
Liner

2.6.5 Lumpur Pemboran


Fluida pengeboran digunakan untuk membantu membuat lubang bor ke
dalam perut bumi. Fluida pengeboran selain sering digunakan ketika membor
sumur minyak bumi dan gas alam serta pada rig pengeboran eksplorasi, juga
digunakan pada pengeboran yang lebih sederhana, seperti sumur mata air. Fluida
pengeboran yang berupa cairan sering disebut lumpur pemboran. Fluida
pengeboran dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, yakni lumpur berbasis
air (yang dapat berupa terdispersi dan non-dispersi), lumpur berbasis minyak dan
fluida bergas.
2.6.6 Tipe-Tipe Fluida Pemboran

Lumpur Berbasis Air adalah sistem lumpur berbasis air yang paling
sederhana dimulai dengan air yang kemudian ditambahkan lempung
dan aditif-aditif lainnya menjadi suatu campuran. Yang paling sering
digunakan dari lempung-lempung ini adalah bentonit, yang di
lapangan minyak disebut "gel". Dinamakan gel kemungkinan dari
fakta bahwa ketika dipompakan tampak encer, sementara jika pompa
dimatikan justru terlihat seperti "gel" yang susah mengalir. Ketika gaya
pemompaan yang mencukupi diaplikasikan ke gel tersebut, gelnya
kembali mengalir dan menjadi encer. Banyak zat kimia lain (cth.
kalium/potassium format) yang ditambahkan ke sistem LBA untuk
mencapai efek yang beragam, termasuk: kontrol viskositas, stabilitas

21

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

lempung, peningkatan rate of penetration bor, pendinginan dan

pelumas peralatan.
Lumpur Berbasis Minyak adalah lumpur berbasis minyak dapat berupa
lumpur yang bahan dasarnya produk minyak bumi seperti diesel.
Lumpur berbasis minyak digunakan untuk keperluan yang banyak,
seperti sifat pelumasannya yang lebih tinggi, serta kemampuan
pembersihan yang lebih baik dengan viskositas yang lebih rendah.
Lumpur berbasis minyak juga tahan terhadap suhu yang lebih tinggi
tanpa

jadi

pertimbangan

terurai.

Penggunaan

khusus,

yaitu

lumpur

mencakupi

ini

memiliki

biaya,

bahan

pertimbangan

lingkungan (seperti pembuangan serpihan bor yang aman terisolasi


dari kemungkinan mencemari lingkungan).
2.6.7 Fungsi Lumpur Pemboran:

Mengontrol tekanan formasi


Mengangkat serbuk bor ke permukaan
Membantu stabilitas formasi
Membantu dalam evaluasi formasi
Melindungi formasi produktif

2.6.8 Sifat Lumpur Pemboran

Densitas
Sand Content
Viskositas
Gel Strength
Filtrasi dan Mud Cake

6. Sistem Tenaga (Power System)


Sistem tenaga pada operasi pemboran terdiri dari dua sub-komponen
utama, yaitu :

Power suplay equipment, yang dihasilkan oleh mesin-mesin besar


yang dikenal sebagai "Prime Mover (penggerak utama).

22

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Distribution (tranmission) equipment, yang berfungsi meneruskan


tenaga yang diperlukan untuk operasi pemboran. Sistem transmisi
dapat dikerjakan dengan salah satu dari sistem, yaitu sistem tranmisi

mekanis dan sistem tranmisi listrik.


7. Sistem pengangkatan (Hoisting system)
Sistem pengangkatan merupakan salah satu komponen utama dari
peralatan pemboran.Fungsi utamanya adalah ruang kerja yang cukup
untuk pengangkatan dan penurunan rangkaian pipa bor dan peralatan
lainnya. Sistem Pengangkatan terdiri dari dua sub

kompunen utama,

yaitu :

2.7

Struktur penyangga (Supporting Struktur), lebih dikenal dengan

nama "rig", meliputi :


Drilling tower (Derrick atau Mast).
Substructure.
Rig Floor
Peralatan Pengangkat (Hoisting Equipment), meliputi :
Drawwork
Overhead tool (Crown Block, Travelling Block, Hook, Elevator).
Drilling line

Laboratorium Petroleum Engineering


Laboratorium Petroleum Engineering (PE) yang tersedia memiliki peran

dan fungsi sebagai berikut :

Menunjang kegiatan operasional pemboran danproduksi


Menyediakan / menyajikan data data yang di perlukan untuk

kelancaran operasi
Melakukan pengujian sifat sifat bahan kimia yang akan
digunakan dalam operasi lapangan

23

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Karakterisasi fluida reservoir

Kapasitas laboratorium PE dalam industri hulu migas adalah menunjang


kegiatan analisa laboratorium terhadap berbagai aspek operasi, yaitu :

Pemboran
o Fluida pemboran (Lumpur pemboran dan semen)
o Core (Analisa core secara rutin dan khusus)
Komplesi
o Pressure Volume Temperature (PVT) Test
o Kapasitas separator
o Tekanan pada separator
Produksi
o Karakteristik Reservoir (gas, minyak dan air)
Enhanced Oil Recovery (EOR)
o Surfactant Polymer

Dalam Laboratorium PE Mundu, kegiatan yang dilakukan antara lain


adalah menganalisa dan mempersiapkan segala macam material chemical dalam
tahap pemboran, produksi serta transportasi migas. Untuk bagian analisa,
laboratorium PE memiliki beberapa bagian analisa yaitu :
a. Analisis Lumpur Pemboran
Untuk analisis lumpur pemboran adalah sebagai berikut
:
o Menentukan densitas lumpur pemboran dengan menggunakan alat
mud balance.
o Menentukan viskositas relatif lumpur pemboran dengan menggunakan
Marsh Funnel.
o Menentukan apparent viscosity, plastic viscosity, yield point, dan gel
strength lumpur pemboran dengan menggunakan Fann VG Meter.
o Mengetahui efek penambahan thinner dan thickener pada lumpur
pemboran.
o Menentukan laju filtrasi lumpur dan karakteristik mud cake.
o Mempelajari pengaruh komposisi lumpur bor terhadap filtration loss
dan mud cake serta menentukan laju filtrasi lumpur dan karakteristik
mud cake.
b. Analisis Semen Pemboran
Untuk analisis semen pemboran, menggunakan 2 macam alat, yaitu :
24

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

o Consistometer
o Hydraulic Press mengukur kekuatan tekanan semen sampai maksimal
c. Analisis Gas
Sample gas diambil dari Scrubber , tetapi dapat pula diambil langsung dari
sumur, apabila sumur adalah sumur gas, namun terkadang, air dan minyak
masih terbawa. Alat yang digunakan bernama Gas Chromatograph.Sample
diinjeksikan lalu diberikan tekanan sebesar 1 ksc selama 30 menit. Hasil
yang didapatkan umumnya adalah memisahkan senyawa organik yang
volatile. Sebuah kromatografi gas terdiri dari saluran alir fluida, port
injeksi, kolom pemisah yang terdiri darifasestasioner, detektor, dan sistem
pencatatan data. Komposisi gas yang diperiksa antara lain : CO 2, O2, N2,
H2S, Cl C6, selain itu dapat pula menyajikan data SG dan nilai kalori.
Kadar H2S secara spesifik dapat diketahui dengan menggunakkan alat
bernama Dragger, yang memiliki satuan ppm.
d. Analisis Minyak
Seperti

yang

telah

diketahui

sebelumya,

field

Jatibarang

menghasilkan minyak jenis HPPO dan LPPO yang masing masing


memiliki karakteristik sebagai berikut:
o HPPO
Memiliki pour point tinggi (> 60oC), Memiliki API < 30
o LPPO
Memiliki API 40 50 dan memiliki pour point rendah ( 20oC)
Untuk minyak HPPO, sebelum dilakukan pengukuran densitas, harus
dipanasi terlebih dahulu, lebih besar daripada suhu pour point dengan
menggunakkan water bath. Parameter parameter yang diukur antara
lain

:
Densitas & SGDensitas diukur menggunakkan alat densitometer,

sedangkan SG diukur menggunakan alat hydrometer.


o Viskositas

25

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Diukur dengan menggunakkan viscosity meter kinematic dengan


terlebih dahulu mengetahui API dari minyak tersebut, dan suhu
di dalam alat tersebut berkisar antara 100o 140o F.untuk
meratakan suhu pada media pemanas, menggunakan stirrer.
Setelah fluida dimasukkan kedalam pipa U, fluida tersebut akan
di vacum sampai batas atas yang telah ditentukan, kemudian
dilakukan perhitungan berapa lama waktu yang dibutuhkan fluida
untuk turun sampai batas bawah yang telah ditentukan. Setelah
itu, dilakukan perhitungan sehingga harga viskositas fluida
tersebut dicapai.
o Pour Point (Titik Tuang)
Dengan meletakkan fluida yang akan di ukur pada test jar, lalu
dimasukkan kedalam cooling bath yang di set otomatis sesuai
dengan

suhu

yang

ditentukan.

Media

perantara

untuk

pendinginan adalah mengggunakkan glycol.Setiap 1 menit


dilakukan pengecekan pada fluida, sampai fluida tersebut tidak
dapat mengalir.Pour point penting untuk diketahui dalam
transportasi minyak melalui pipeline, sehingga pengaturan
pengiriman minyak melalui pipa dapat disesuaikan dengan
karakteristik minyak tersebut.Seperti contoh transportasi minyak
di Jatibarang, di tengah pengiriman HPPO ke PPP Balongan
mengalami pembekuan. Sehingga aliran dalam pipa ke PPP
Balongan tersebut menjadi terganggu, Kemudian dilakukan
penanganan berupa pencampuran HPPO dan LPPO dalam proses
pengiriman. Ternyata pencampuran tersebut dinilai kurang
efektif, sehingga air formasi yang memiliki suhu tinggi
digunakan untuk mendorong HPPO agar bias mengalir sampai
PPP Balongan.
o Flash Point (Titik Sambar)

26

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Untuk mencegah bahaya kebakaran, dilakukan pengukuran


flash point pada fluida, agar diketahui pada suhu berapa
fluida tersebut dapat memercik api lalu terbakar, sehingga
dapat meminimalisirbahaya kebakaran pada proses pemboran
atau produksi di lapangan. Pengukuran ini dilakukan dengan
alat ASTM

93-08. Alat

ini

secara

otomatis

memberitahukan suhu saat fluida mulai memercik api.


o BS & W (Base Sediment & Water)
Alat ini dapat mengukur kadar padatan / sedimen dan air
pada

sample.

dimasukkan

Sample

kedalam

campuran
corong

minyak

centrifugal

dan

Xylen

yang

akan

ditempatkan pada alat BS & W tersebut. Alat akan berputar


dengan kecepatan 600 RPM selama 10 menit dan dipanaskan
sesuai dengan temperatur sumur. Setelah proses tersebut
dilakukan, akan terlihat padatan yang terendapkan pada
bagian dasar corong, diikuti dengan air diatasnya, kemudian
minyak. Besar kadar yang dapat terukur adalah kadar
sedimen dan air terhadap kadar total (minyak, air dan
sedimen).
o Kadar Air (Water Cut)
Kadar air dalam minyak dapat diketahui melalui 2 proses,
yaitu :
Destilasi
Minyak dimasukkan ke dalam tabung, yang terlebih
dahulu dicampurkan dengan Xylen agar pada saat
dipanaskan, air dalam minyak cepat menguap. Kadar air
dapat diketahui dalam skala millimeter (mm), sedangkan
apabila dikonversikan, kadar air adalah dalam fraksi atau
persen (%). Kadar air sangat penting untuk diketahui
dalam proses pengiriman minyak menggunakkan kapal

27

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

tanker. Sebelum dikapalkan, kadar air yang diminta

berkisar antara 0,1 0.2%


Proses Centrifugal (Berputar)
Proses pengukuran kadar air dengan metode ini
sebenarnya termasuk dalam proses BS & W, dengan besar
kadar yang dapat terukur adalah kadar air terhadap kadar
total (minyak, air dan sedimen).
Dari kedua pengukuran tersebut, hasil pengukuran kadar air
yang paling akurat adalah menggunakan proses destilasi.

o Kadar Belerang
Dilakukan dengan menggunakkan alat X-Ray.Sample minyak
dimasukkan kedalam alat tersebut, lalu disinari dengan sinar
X-Ray selama 5 menit. Hasil didapat akan langsung terlihat
pada computer. Satuan kadar belerang ini adalah dalam
persen (%). Pada lapangan Jatibarang, kadar H2S yang
didapat adalah berkisar antara 0,1 %.
o Salt Content (Kadar Garam)
Dapat diukur dengan pencampuran sample dan beberapa
campuran chemical seperti :
Butanol
Metanol
Aquadides
Xylen
Biasanya, sample minyak yang diukur adalah sebanyak 10 ml.
Salt Content yang dihasilkan memiliki besaran gram/m 3 yang
akan di konversikan kedalam lbs/1000bbl. Salt content ini
krusial untuk diketahui, karena berpengaruh pada flowline
(korosif dan scale)
o Analisis Air
air formasi, air limbah, air injeksi, aquades
o Analisis Lain
additive lumpur, chemical produksi, chemical lain

28

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

2.8

Perencanaan Lifting
Disaat tekanan reservoir tidak lagi mampu atau tidak lagi ekonomis untuk

mendorong fluida reservoir terutama minyak ke permukaan, maka artificial lift


(pengangkatan buatan) diperlukan untuk membantu mengalirkan minyak ke
permukaan. Pada Lapangan Jatibarang, artificial lift yang digunakan adalah Gas
lift.
Prinsip dasar gas lift adalah menginjeksikan gas bertekanan ke dalam
annulus melalui pintu yang dipasang pada rangkaian tubing lalu gas akan
masuk ke dalam tubing dan akan menaikan Gas Liquid Ratio (GLR) dari titik
dimana valve tersebut terpasang sampai permukaan. Hal tersebut akan
menurunkan Pressure Gradient di dalam tubing yang mengakibatkan tekanan di
dasar sumur (Pwf) menjadi turun.Alat alat pada gas lift terdiri dari:
o Gas Lift Valve adalah tempat penyaluran gas dari casing ke annulus
o Mandrel / Set Pocket Mandrel
Pada tipe gas lift konvensional di gunakan mandrel, sedangkan pada metode
menggunakkan wireline menggunakkan set pocket mandrel. Memiliki fungsi
yang sama, yaitu sebagai tempat dudukan dari gas lift valve. Gas lift valve
akan dipasang pada pipa mandrel yang disambungkan pada rangkaian
tubing.
Perencanaan gas lift bertugas untuk mengatur peralatan gas lift yang telah
dirancang oleh PE.Pada Renlift terdapat alat setting gas lift dengan cara mengisi
nitrogen untuk mengetes bocor atau tidaknya peralaan, lalu peralatan di setting
sesuai dengan kebutuhan.
Umumnya digunakan valve berukuran 1-1/2 valve. Suhu alat setting
tersebut di setting menurut ketentuan API sebesar 15C. Kemudian bleed off valve
dilakukan untuk mengosongkan gas sisa. Terdapat pula manometer yang
merupakan alat ukur manual untuk mengukur tekanan. Banyaknya jumlah gas
dapat diketahui melalui flow recorder.

29

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

2.9

Lapangan CMB-18
2.9.1

2.10

Profil Lapangan

Nama Daerah

: Cemara

Nama Rig

: PDSI#08,1 H40 V-M

Program

: Fishing Job

Status

: KUPL

Lapangan CMS-19
2.10.1 Profil Lapangan
Nama Daerah

: Cemara

Nama Rig

: XJ 350 HP PEP 08

Program

: Perforasi

Status

: KUPL

30

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari kegiatan Kerja Praktek yang telah dilakukan ini dapat di simpulkan
antara lain:
1. Tujuan dari Well Test adalah karakterisasi resevoir dan potensi
resevoir.
2. Simulator reservoir yang digunakan pada Asset 3 adalah Eclipse,
Petrel RE, OFM, CMG, Pipesim dan Saphire.
3. Untuk meningkatkan Produksi, Pertamina banyak melakukan
Stimulasi di beberapa Sumur, salah satunya Hydrolic Fracturing di
sumur KRE.
4. Petroleum System terdiri dari source rock, resevoir rock, migration,
seal, dan trap.
5. Sumur yang kami kunjungi selama kerja Praktek di lapangan ratarata sumur yang sudah tua.
6. Sumur yang kami kunjungi rata-rata statusnya Workover dan
Reparasi.
7. Over Balance adalah keadaan dimana Pressure Reservoir lebih kecil
dari Pressure Hydrostatic, Under Balance adalah keadaan yang
sebaliknya..
8. CTU atau Coil Tubing adalah Tubing khusus yang ukurannya lebih
kecil dari Tubing dan dapat di gulung-gulung, terbuat dari besi
khusus yang lentur.
9. Rig KUPL biasanya 2 joint, sedangkan Rig Bor bisa 2-3 joint.
10. Lifting yang banyak dipakai Sumur Produksi di Pertamina adalah
Gas Lift dan ESP.

31

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

B. SARAN
Dari kegiatan Kerja Praktek yang telah dilakukan, kami memberikan saran
sebagai berikut :
1. Lebih menitik beratkan kepada sector keamanan transportasi minyak
dan gas dari stasiun pengumpul ke terminal balongan untuk
2.
3.
4.
5.
6.

meminimalisir kerugian
Tingkatkan lagi Eksplorasi dan Produksinya.
Melakukan perawatan pada alat secara rutin.
Utamakan CSR bagi warga sekitar yang memang membutuhkannya.
Meningkatkan keamanan field untuk meredam tingkat kematian.
Mempererat hubungan dengan instansi-instansi yang menyuplai
Sumber Daya Manusia di bidang Energi Minyak dan Gas.

DAFTAR PUSTAKA
1. Pertamina, Health Safety Environtment of Pertamina EP.
32

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

2. Pertamina, Work Over & Well Service of Pertamina EP.


3. http://www.google.co.id/pertamina.html Penjelasan kerja praktek
4. http://www.scribd.com/doc/214830229/Terminal-Balongan

DAFTAR SIMBOL

= Porositas, (fraksi)

33

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Bgi = Faktor Volume Formasi Gas Awal, (bbl/scf)


Bg = Faktor Volune Formasi Gas, (bbl/scf)
Boi = Faktor Volume Formasi Minyak Awal, (bbl/stb)
Bo = Faktor Volume Formasi Minyak, (bbl/stb)
Bob = Faktor Volume Formasi Minyak Pada Tekanan Jenuh, (bbl/stb)
Bti = Faktor Volume Formasi Dua Fasa Awal, (scf/stb)
Bt = Faktor Volume Formasi Dua Fasa, (scf/stb)
Bw = Faktor Volume Formasi Air, (bbl/stb)
G = Total Initial Gas In Place In Reservoir, (scf)
Gp = Jumlah Produksi Kumulatif Gas, (scf)
h = Ketebalan, (meter)
K = Permeabilitas, (mD)

LAMPIRAN

34

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Gambar A.1
Kunjungan Lapangan CMB-08

35

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Gambar A.2
Kunjungan Lapangan CMS-19

36

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Gambar A.3
Kunjungan Lapangan JKL-01

37

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Gambar A.4
Control Cabin

38

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Gambar A.5
Casing Gun

39

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

Gambar A.6
Amerada
40

PT. PERTAMINA EP
ASSET 3

41