Anda di halaman 1dari 39

Tutorial V

Page 1
tn. Maladi, 45 tahun, seorang pekerja tambang datang ke rumah sakit tempat anda bekerja
dengan keluhan demam sejak 6 hari yang lalu. Satu minggu yang lalu dia baru berpulang dari
Papua setelah bertugas selama 6 bulan disana. Keluhan demam didahului oleh malaise,
anorexia, nausea, vomitus, juga disertai myalgia, artralgia. Demam dirasakan hilang timbul
setiap 2 hari sekali . keluhan sakit kepala hebat (-), mata kuning (-), riwayat batuk pilek (-),
sakit tenggorokan (-), sesak nafas (-), bintik-bintik di ekstemitas (-), BAK normal, penurunan
kesadaran (-), kejang (-). Di Papua, Tn. Maladi tinggal di mess karyawan, disekitar mess
banyak rawa-rawa. Teman satu mess ada yang menderita keluhan yang sama. tn. Maladi
belum mengobati keluhan tersebut.
Questions :
Identifikasi masalah pasien!
Hipotesis apa yang dapat anda buat dari masalah pasien tersebut?
Informasi apa lagi yang anda butuhkan untuk menangani pasien ini?
Page 2
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis
Tanda vital
TD : 110/80 mmHg
N : 90 kali per menit

S : 38.5
R : 26 x/ menit
BB/TB : 70 kg /169 cm
Kepala : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, coated tongue (-)
Leher : KGB tidak membesar, faring tidak hiperemis, tonsil T1/T1 tenang
Thoraks :
Cor : batas kanan : linea sternalis dekstra
Batas kiri : medial dari linea medioklavikularis sinistra
Batas atas : intercostal space III sinistra
Bunyi jantung I-II murni, regular, murmur (-), S3 gallop (-)
Pulmo : vokal fremitus normal, kiri = kanan
Suara nafas vesikuler kiri = kanan
Ronchi (-)/(-), wheezing (-)/(-)
Abdomen : datar lembut
Hepar tidak teraba, nyeri tekan (-)
Lien Schuffner II lunak, nyeri tekan (-)
Bising usus (+) normal
Ekstremitas

: ptekie (-), edema (-)/(-)

Questions :
1. masalah apa saja yang anda dapat pada pemeriksaan fisik di atas? Mengapa terjadi?
Bagaimana mekanismenya?
2. hipotesis apa yang dapat anda buat dari anamnesa dan pemeriksaan fisik diatas?

3. pemeriksaan tambahan apa yang dibutuhkan untuk pasien tersebut?

Page 3
Pemeriksaan laboratorium
Darah
Hb : 9 mg/dl
Ht : 30 mg/dl
Leukosit : 11.000 / mm3
Trombosit : 185.000/mm3
MCV : 84 fl
MCH : 28 pg
MCHC : 34 g/dl
Pemeriksaan serologi
Widal

Thypi

(-)

(-)

Paratypi A

(-)

(-)

Paratypi B

(-)

(-)

NS (-)
Ig M anti Dengue (-), ig G anti Dengue (-)

Questions :
1. bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium diatas?
2. pemeriksaan penunjang apa lagi yang dapat menegakkan diagnosis anda?

Page 4
Interpretasi hasil spesimen darah :
Apus darah tipis dengan pewarnaan Giemsa, tampak trofozoit bentuk cincin plasmodium
Vivax. Terdapat titik Schuffner pada eritrosit. Sediaan darah tebal tampak trofozoit bentuk
cincin Plasmodium Vivax.
Question :
1. apa alasan memilih mengambil spesimen tersebut? Bagaimana prosedurnya?
2. apa diagnosis anda? Penatalaksanaan pasien? Edukasi?

Plasmodium falciparum
Menyebabkan malaria falsiparum atau malaria tropika atau malaria tersiana maligna
Distribusi geografik :
-

Afrika dan asia tenggara


Di Indonesia : tersebar diseluruh kepulauan

Morfologi dan daur hidup


Merupakan speises yang paling berbahaya karena menimbulkan dapat menjadi berat.
Perkembangan aseksual dalam hati hanya menyangkkut fase praeritrosit. Tidak ada fase
eksoeritrosit. Stadiium dini terlihat skizon yang terlihat 30 mikron pada hari keempat setelah
infeksi. Pada stadium trofozoit muda yang sering disebut accole. Hal terpenting untuk
membantu diagnosis bentuk cincin tersebut menjadi lebih besar seperempat atau setengah
eritrosit. Stadium perkembangan tersebut tidak berlangsung dalam darah tepi. Adanya skizon
muda dan skizon matang dalam apusan darah tepi berarti dalam keadaan infeksi berat. Bentuk
cincin dan trofozoit tua menghilang dari darah tepi setelah 24 jam dan tertahan diotak,
jantung, plasenta usus atau sumsum tulang. Didalam kapiler parasit berkembang dalam waktu
24 jam. Skizoni akan mengisis 2/3 eritrosit dan membentuk 8-24 buah merozoit.
Pembentukan gamet juga berlangsung di otak, jantung,plasenta, usus atau sumsum tulang.
Biasanya tampak setelah 10 hari parasit pertama muncul dalam darah. Siklus berlangsung
selama 22 hari pada suhu 20 derajat celcius selama 15 sampai 17 hari pada suhu 25 derajat
celcius dan 10-11 hari pada suhu 25-28 derajat celcius.

plasmodium malariae
nama penyakit

Plasmodium malariae adalah penyebab malaria malariae atau malaria kuartana karena
serangan demam berulang pada tiap hari keempat.
toksonomi
Kerajaan

: Protista

Filum

: Apicomplexa

Kelas

: Aconoidasida

Ordo

: Haemosporida

Famili

: Plasmodiidae

Genus

: Plasmodium

Spesies

: P. malari

hospes
- hospes perantara parasit : manusia
- hospes definitif atau vektor : nyamuk Anopheles betina
daur hidup
proses daur hidup
- fase sex eksogen (sporogoni)
didalam badan nyamuk
- fase asex (skizogoni)
didalam badan hospes vertebra ( manusia)

fase aseksual ada 2


1. daur eritrosit dalam darah (skizogoni eritrosit)
2. daur dalam sel parenkim hati (skizogoni eksoeritrosit atau stadium jaringan)
a. skizogoni praeritrosit (skizogoni eksoeritrosit primer)
- setelah sporozoit masuk dalam sel hati
b. skizogoni eksoeritrosit sekunder
- berlangsung dalam hati
pada plasmodium malariae tidak memiliki fase eksoeritrosit sekunder (penyakit yang tidak
mengalami relaps atau kekambuhan)
tetapi plasmodium malariae mengalami rekrudesensi.

rekrudesensi adalah gejala infeksi yang timbul kembali setelah serangan pertama.
rekrudesensi terjadi karena
- dosis obat yang inadekuat
- parasit resisten terhadap obat yang diberikan
- parasit didalam eritrosit jumlahnya meningkat

Berikut adalah macam-macam tahap aseksual :


1.

Tahap skizogon preeritrositik ialah lamanya tahap ini susah ditentukan dan berlangsung

di dalam se-sel hati.


2.

Tahap skizogoni eksoeritrositik merupakan sumber pembentukan stadium aseksual

parasit yang menjadi penyebab terjadinya kekambuhan pada malaria dan berlangsung di
dalam se-sel hati.

3.

Tahap skizogoni eritrositik ialah tahap ini berlangsung setiap 72 jam dan berlangsung di

dalam sel-sel eritrosit.


4.

Tahap gametogoni, setelah terbentuk pada tahap skizogoni eritrositik, kemudian

berkembang pada tahap gametogoni dan berlangsung di dalam se-sel eritrosit.

cara infeksi hospes definitif (nyamuk)


masa tunas ekstrinsik adalah waktu antara nyamuk menghisap darah yang mengandung
gametosit sampai mengandung sporozoit didalam kelenjar liurnya.
masa tunas intrinsik : waktu antara sporozoit masuk dalam badan hospes sampai timbul
gejala demam

morfologi
skizon praeritrosit menjadi matang : 13 hari setelah infeksi
plasmodium malariae hanya menginfeksi sel darah merah tua
sel darah merah (eritrosit) yang dihinggapi parasit tidak membesar
skizon matang mengisi hampir seluruh eritrosit dan merozoit sehingga terlihat seperti bentuk
bunga daisy dan rosette

daur sporogoni didalam nyamuk memerlukan waktu 26-28 hari

gejala klinis
masa inkubasi 18 hari, terkadang 30-40 hari
anemia kurang terlihat karena hanya menyerang eritrosit tua dan eritrosit tua jumlahnya
hanya 1% dari total eritrosit
salah satu yang menyebabkan kelainan ginjal

kelainan ginjal bersifat menahun, progresif dan prognosis bruk


gejala bersifat non spesifik
- proteinuria (46% penderta
- mikrohematuria
- sindrom nefrotik yang setelah 3-5 tahun menjadi gagal ginjal kronik.
diagnosis
dapat dilakukan dengan menemukan parasit dalam darah yang dipulas dengan Giemsa
plasmodium knowlesi

nama penyakit
Plasmodium knowlesi adalah parasit dari genus Plasmodium yang secara alami menginfeksi
monyet
cara penularan
Penularan dapat terjadi dari kera ke kera, kera ke manusia, manusia ke manusia atau manusia
ke kera. P. knowlesi ditransmisikan dengan menggunakan nyamuk dari kelompok Anophleles
leucosphyrus sebagai vektor perantara, salah satunya adalah Anophleles latens.
daur hidup
Plasmodium knowlesi adalah parasit malaria yang bereplikasi dengan siklus hidup 24
jam.5 Karena siklus hidupnya yang singkat, jumlah parasit dalam tubuh

dapat cepat

meningkat, sehingga infeksi Plasmodium knowlesi berpotensi menjadi penyakit yang berat.
Plasmodium knowlesi mengalami
siklus hidup gametosit (mikrogamet atau makrogamet) zigot ookinet
ookista sporozoit. Saat nyamuk Anopheles menghisap darah manusia penularan terjadi
melalui saliva. Di dalam hati manusia akan terjadi siklus sporozoit skizon merozoit.
Plasmodium knowlesi tidak memiliki bentuk hypnozoite di hati. Setelah menjadi merozoite,
parasit akan menginfestasi eritrosit melalui siklus merozoit trophozoite skizon
merozoit. Sebagian schizont dari eritrosit akan berkembang menjadi gametosit dan dapat
ditularkan kembali oleh nyamuk Anopheles.
Manusia yang terinfeksi P. knowlesi cenderung mengalami penurunan jumlah
trombosit di dalam darah dan hal ini dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit tersebut.
gejala klinis
Penampakan dari P. knowlesi mirip dengan P. malariae,
Masa inkubasi infeksi Plasmodium knowlesisekitar 11 hari.
Gejala paling khas malaria akibat infeksi Plasmodium knowlesi adalah
1. demam yang berlangsung setiap 24 jam atau setiap hari, disebut juga quotidian
fever.

2. nyeri kepala,
3. demam,
4. menggigil
5. keringat dingin
nyeri perut, sesak napas dan batuk berdahak.
Gejala lain yang juga banyak terjadi adalah
takipnea dan takikardi

Malaria
Definisi
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan
berkembang biak dalam sel darah manusia
Distribus dan insidensi
Infeksi malaria menyebar pada lebih dari 100 negara di benua Asia, Afrika, Amerika (bagian
selatan) dan daerah oceania.
Daerah bebas malaria:
Amerika Serikat, Canada, negara Eropa (kecuali Rusia), Israel, Singapura, Hongkong, Japan,
Taiwan, Korea, Brunei dan Australia

Provinsi dengan API diatas rata-rata nasional:


NTB
Maluku

Maluku utara
Kalimantan Tengah
Babel
Kepri
Bengkulu
Jambi
Sulawesi tengah
Gorontalo dan Aceh
Tingkat prevalensi tertinggi di wilayah Indonesia Timur , yaitu :
Di Papua Barat (10,6%)
Papua (10,1%)
Nusa Tenggara Timur (4,4 %)
peta distribusi kasus malaria

#
##
## #
# #
#

#
# #
#

#
#

#
#
##
## #
#
##
#

##

#
#

#
#
#

##
#

#
#
#
#

#
# #

#
#

#
#
#

#
##
#

## ##
#
#
## #
#
# #

#
#

#
#

#
##
#

#
#

#
##

#
##
##

#
#

#
#
##

#
#
#

#
#

#
##
#
#

# #
#
##

#
#
## #
##
## #
# ## #
#

##

#
#

##
#

#
#

##
#

##
#
#

#
#

# ##
#
#
#

##

#
#

##
##
#

#
#
## #

#
#

#
#

#
##
##
## #
## #
#

#
#

##
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
##

##
## ## #
###
#
## #
## ##
## ## #
# # ##
# ##
#

#
#

#
#

# #
#
##

#
##
#

#
#

#
#

#
#

#
#
#

#
#

#
#

#
#

##

#
#

##

#
#

##
#

#
#

#
#

#
#

#
#

##
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
##
#

#
#

#
#

#
#

#
#
#

##

##
#

#
# #
#
##

#
#
# ##
#
# ##
#
##

#
#

##

#
#

#
#
#

#
#

##

#
#
#
# ##
##
#
#
#
#

#
#
#
#

#
#

##

##
#

##

#
#
#

##

#
#

#
#

#
##

##
#

#
#

#
#

#
#
#
#

#
#
#
# #
# #

#
#
# #
##
#
#
###

##
#
# #

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#

##
#
##

#
#

#
#

#
#

##
#

#
##
#
#
#

#
#

#
#

#
#

##

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
##

#
#

#
#
##
# #

#
#

#
#

#
#

#
#

##

#
#

#
##

#
#

#
#

#
#

#
#

#
#
#

##
#####
###
##
##
#

#
#

#
#

#
#
#

#
#
#
#
#
##
# ##
#
#
# #
#
# ###

# #

#
#

#
#
# #
#
# ##
#
##
#
# #

# #

#
#

#
#
##
#
## ##
## #

####
# ##

###
#

##
#
# ##
#
#
#
##

#
#

#
#
#

#
#

#
##
#

#
#
#

###
#

#
#

#
#

#
#

#
#

#
##
#
#

#
#

#
#

##

##
#

#
#

#
#
#

##

##

# ##
#

#
#

##
#

##
#
#

#
##

#
##
#
#
#
#

#
#
#

#
#
#

#
#

#
#

#
#
#

#
#

Free

Low

Moderate

High

1 dot =

1 dot

Kasus resistensi parasit malaria terhadap klorokuin ditemukan pertama kali di Kalimantan
Timur pada tahun 1973 untuk P. falciparum
Dan 1991 untuk P. vivax di Nias.
Etiologi
Plasmodium vivax
Plasmodium falciparum
Plasmodium malariae, ditemukan di Lampung, NTT, dan papua
Plasmodium ovale, pernah ditemukan di NTT dan papua
Plasmodium knowlesi, di Pulau Kalimantan th. 2010

vektor
Nyamuk Anopheles betina
Nyamuk Anopheles
Phylum

: Arthropoda

Classis

: Hexapoda / Insecta

Sub Classis : Pterigota


Ordo

: Diptera

Familia

: Culicidae

Sub Famili : Anophellinae


Genus

: Anopheles

Perilaku
Aktivitas d pengaruhi o/ kelembaban udara dan suhu
Aktif menghisap pada malam hari atau sejak senja sampai dini hari
Jarak terbang anophelini biasanya 0,5-3 km, tp dpt mencapai puluhan km (pengaruh angin
dan transportasi)
Umur nyamuk dewasa alam bebas 1-2 mgg. Di lab 3-5 mgg
Nyamuk Anopheles lebih suka hinggap di batang-batang rumput, dialam atau luar rumah
(Eksofilik) yaitu tempat-tempat lembab, terlindung dari sinar matahari, gelap

Nyamuk Anopheles dapat berkembang biak ditempattempat yang airnya menggenang seperti
Sawah, Irigasi yang bagian tepinya banyak ditumbuhi rumput dan tidak begitu deras airnya.
Siklus hidup dan pathogenesis

Masa inkubasi penyakit malaria

Plasmodium

Masa inkubasi (rata-rata)

P. Falciparum

9-14 hari (12)

P. Vivax

12-17 hari (15)

P. Ovale

16-18 hari (17)

P. malariae

18-40 hari (28)

anamnesis

demam, menggigil, berkeringat, dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, dan
nyeri otot atau pegal-pegal.
Tanyakan riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik
malaria
Riwayat tinggal di daerah endemik malaria
Riwayat sakit malaria/ riwayat demam
Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir
Riwayat mendapat transfusi darah

Pemeriksaan fisik
Demam (pengukuran dg termometer >37,5C)
Konjungtiva atau telapak tangan pucat
Pembesaran limpa (splenomegali)
Pembesaran hati (hepatomegali)
Manifestasi malaria berat berupa: penurunan kesadaran, demam tinggi, konjungtiva pucat dan
telapak tangan pucat, ikterik.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan dengan mikroskop (Gold standar)
Pemeriksaan apusan darah tebal dan tipis, untuk menentukan:
Ada tidaknya parasit malaria (+/-)
Spesies dan stadium plasmodium
Kepadatan parasit
Pemeriksaan darah tepi :
Tebal :
Keuntungan : hasil positif lebih tinggi

Kelemahan : sulit menentukan spesies


Tipis

Keuntungan : Lebih mudah menentukan spesies


Kelemahan : Lebih sulit mendapatkan plasmodium
Rapid diagnoctic test
Berdasarkan

deteksi

antigen

parasit

malaria,

dengan

menggunakan

metode

imunokromatografi.
Pemeriksaan dengan PCR dan sequencing DNA
untuk membedakan antara re-infeksi dan rekrudensi pada P. falciparum
Untuk identifikasi spesies plasmodium yang jumlah parasitnya rendah
Perlu juga dilakukan:
Pengukuran hemoglobin dan hematokrit
Hitung jumlah leukosit dan trombosit
Kimia darah lain (gula darah, serum bilirubin, SGOT&SGPT, alkali fosfatase, Na&K, analisa
gas darah)
urinalisis
Diagnosis banding
Malaria tanpa komplikasi harus dibedakan dg:
Demam tifoid
Demam dengue
Leptospirosis ringan
Malaria berat, dibedakan dg:
Radang otak (meningitis, ensefalitis)
Stroke
Hepatitis
Sepsis
DSS
pengobatan

Pengobatan yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan membunuh semua
stadium parasit yang ada di tubuh manusia.
Semua obat malaria tidak boleh diberikan dalam perut kosong karena bersifat mengiritasi
lambung.
Dosis pemberian obat sebaiknya berdasarkan berat badan.
Pengobatan malaria di Indonesia menggunakan OAM kombinasi .
Tujuan terapi kombinasi untuk pengobatan yang lebih baik dan mencegah terjadinya
resistensi plasmodium terhadap obat anti malaria.

Pengobatan kombinasi malaria harus:


Aman dan toleran untuk semua umur
Efektif dan cepat kerjanya
Resisten atau resistensi silang belum terjadi
Harga murah dan terjangkau
Saat ini yang digunakan program nasional adalah derivat artemisin dengan gol amodiakuin,
yaitu:
Artesunat- amodiakuin
a. dengan 2 blister
blister amodiakuin 12 tablet@200mg, dan blister artesunat 12 tab @50 mg. obat
kombinasi deberikan peroral selama tiga hari dengan dosis tunggal harian sbb:
amodiakuin basa 10mg/kgbb
artesunat 4 mg/kgbb
Dosis Dan Cara Pemberian Obat-Obatan Anti Malaria

Kombinasi tetap yang terdiri dari (FDC) Dihydroartemisin dan piperakuin dengan 1 tablet
mengandung 40 mg Dihydroartemisin dan 320 mg piperakuin. Obat diberikan selama tiga
hari dengan range dosis tunggal harian sbb:
Dihydroartemisin 2-4 mg/kgbb
Piperakuin 16-32 mg/kgbb

Pengobatan Malaria

Dikatakan tidak sembuh


Penderita tetap demam, gejala klinis tidak membaik, disertai parasitemia aseksual. Penderita
tidak demam tetapi ditemukan parasitemia aseksual
Bila dalam pengobatan lini pertama dijumpai tidak dapat makan/minum, tidak sadar, kejang,
muntah berulang, sangat lemah.
Bila gagal pengobatan lini pertama dapat digunakna pengobatan lini kedua berdasarkan
kriteria
Bila penderita sudah menyelesaikan pengobatan lini pertama (3 hari)
Pada waktu pemeriksaan ulang hari keempat atau kelima sampai kedua puluh delapan belum
sembuh dengan baik.
Kina
Kina tidak boleh diberikan secara bolus intravena, karena toksik bagi jantung dan dapat
menimbulkan kematian.
Pada penderita gagal ginjal, dosis maintenance kina diturunkan 1/3-1/2 nya
Pencegahan malaria
Pencegahan gigitan nyamuk:
Pemakaian kelambu berinsektisida,
Kawat kassa, dll.

Menjaga kebersihan lingkungan yang dapat mengurangi tempat-tempat perindukan nyamuk


penular malaria
kemoprofilaksis
Ditujukan pada orang yang akan berpergian ke daerah endemis malaria dalam waktu yang
tidak terlalu lama.
Doksisiklin 100 mg/ hari
Diberikan 1-2 hari sebelum bepergian, selama berada di tempat tersebut sampai 4 minggu
setelah kembali .
Malaria berat
Definisi: ditemukannya Plasmodium falciparum stadium aseksual dengan satu atau beberapa
manifestasi klinis di bawah ini:
Gangguan kesadaran ringan (GCS<15)
Kelemahan otot (tak bisa duduk/ berjalan) tanpa kelainan neurologik
Tidak bisa makan dan minum
Kejang berulang-lebih dari dua episode dalam 24 jam setelah pendinginan pada hipertemia
Edema paru atau Acute Respiratory Distress Syndrome
Gagal sirkulasi atau syok: tekanan sistolik <70 mmHg (pada anak <50 mmHg); disertai
dengan keringat dingin
Ikterus (kadar bilirubin darah >3 mg%) disertai dengan disfungsi organ vital
Hemoglobinuria
Perdarahan spontan dari hidung, gusi, alat pencernaan dan/atau disertai kelaianan laboratorik
adanya gangguan koagulasi intravaskuler
Hiperpireksia (temperatur rektal >40Cpada dewasa, dan >41C pada anak).
Gambaran laboratorium
Hipoglikemi: gula darah <40mg%
Asidemia (pH<7,25) atau asidosis (bikabonat plasma <15mmol/L)
Anemia berat (Hb<5gr% atau hematokrit <15%)
Hiperparasitemia >2%
Makroskopik hemoglobinuri karena infeksi malaria akut
Gagal ginjal akut (urin<400ml/24 jam pada dewasa atau <1ml/kgbb/jam pada anak setelah
dilakuakan rehidrasi; dengan kreatinin darah >3 mg%

Resiko Tinggi untuk terjadinya malaria berat


Anak 6 bln 6 thn di daerah endemis
hamil trimester I tinggal di daerah endemis
Pelancong dari daerah bukan endemis ke daerah endemis
Pasien yang kembali ke daerah endemis tinggi setelah beberapa tahun meninggalkan daerah
tersebut
Pasien dengan daya tahan tubuh rendah misalnya dalam pengobatan steroid jangka panjang,
sitostatika dan imunosupresan lainnya

Filariasis

Definisi

Parasit filaria adalah suatu nematoda yang berbentuk panjang seperti benang yang
hidup di dalam jaringan dalam waktu yang lama dan secara teratur menghasilkan
mikrofilaria.

Parasit filaria di manusia ada 4 :

Wuchereria bancrofti

Brugia malayi

Brugia timori

Onchocerca volvulus

Nyamuk merupakan vektor penyakit filariasis.

Siklus hidup

Filariasis Bancrofti

Infeksi yang disebabkan oleh W bancrofti.

Epidemiologi

Ditemukan di daerah tropis dan subtropis.

Nyamuk anopheles dan culex merupakan vektor yang menggigit pada malam hari.

Nyamuk aedes menggigit siang hari.

Manifestasi

Demam tinggi

Menggigil

Lesu

Limfangitis dan Limfadenitis pada tungkai, alat kelamin dan payudara.

Diagnosis

Pewarnaan Giemsa ditemukan mikrofilaria.

Tatalaksana

Pengobatan : Dietilkarbamasin (DEC), dosis 6 mg/kgBB/oral selama 10-14 hari.

Ivermectin, dosis tunggal 400 g/kgBB

Albendazol 400 mg

Filariasis Brugia

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh B. malayi dan B. timori.

Epidemiologi

Di indonesia, B. malayi ditemukan di sumatera, kalimantan, sulawesi dan irian jaya.

B. timori terdapat di pulau-pulau yang mempunyai gunung berapi di bagian timur


indonesia, timor, alor, flores, sumba, roti dan sawu.

Manifestasi

Demam 5-15 hari

Adenolimfangitis

Abses dari kelenjar limfe

Ada scar

B. timori dibedakan dari B. malayi dengan adanya kantong air pada lesi dan fisura
pada pergelangan kaki penderita B. timori.

Wuchereria brancrofti

Taksonomi dari Wuchereria bancrofti

Kerajaan : Animalia

Filum : Nematoda

Kelas : Secernentea

Ordo : Spirurida

Famili : Onchocercidae

Genus : Wuchereria

Spesies : Wuchereria bancrofti


Wuchereria bancrofti

menyebabkan filariasis bankrofti atau wukereriasis

bankrofti. Tergolong penyakit filariasis limfatik, bersamaan dengan Brugia malayi


dan Brugia timori. Tidak terdapat secara alamiah di hewan. Tersebar luas di daerah
yang beriklim tropis di seluruh dunia. Ukuran cacing betina : 65-100 nm x 0,25 mm.
Cacing jantan : 40 mm x 0,1 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yg
bersarung dg ukuran 250 -300 mikron x 7-8 mikron. Mikrofilaria hidup di dalam
darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu tertentu saja,jadi punya
periodisitas. Umumnya periodisitas nokturna. Pada siang hari mikrofilaria terdapat di

kapiler alat dalam (paru,ginjal,jantung,dll). Faktor yang mempengaruhi periodisitas :


kadar asam dan zat lemas dalam darah, aktivitas hospes,irama sirkardian. Mekanisme
belum diketahui.
Nyamuk Culex adalah hospes perantaranya. Gejala akibat cacing dewasa
menyebabkan limfadenitis dan limfangitis retrograd dalam stadium akut, disusul dg
obatruktif menahun 10 15 tahun kemudian. Diagnosis ditegakkan dengan
pemeriksaan parasitologi, radiodiagnosis, imunologi.

SCHISTOSOMA
1

Taksonomi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Class

: Trematoda

Ordo

: Strigeidia

Famili

: Schistosomatidae

Genus

: Schistosoma

Ada 3 jenis Schistosoma :


1

Schistosoma japonicum

Schistosoma mansoni

Schistosoma hematobium

Hospes definitif : manusia


Menyebabkan penyakit skistosomiasis
2

Morfologi
Cacing dewasa jantan berwarna kelabu atau putih kehitam-hitaman, berukuran
9,5 19,5 mm x 0,9 mm. Badannya berbentuk gemuk bundar dan pada kutikulumnya
terdapat tonjolan halus sampai kasar. Di bagian ventral badan terdapat canalis
gynaephorus tenpat cacing betina sehingga tampak seolah-olah cacing betina ada di
dalam pelukan cacing jantan.
Cacing betina badannya lebih halus dan panjang berukuran 16 26 mm x 0,3 mm.
Pda umumnya uterus 50 300 butir telur. Cacing trematoda ini hidupnya di pembuluh
darah terutama dalam kapiler darah dan vena kecil dekat permukaan selaput lendir
usus atau kandung kemih. Cacing betina meletakkan telurnya di pembuluh darah.
Telur tidak memiliki operkulum. Ukuran 95 135 mm x 50 60 mm. Telur
dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi ke jaringan dan akhirnya
masuk ke lumen usus atau kandung kemih untuk kemudian ditemukan di dalam tinja
atau urin. Telur menetas di dalam air, larva yg keluar disebut mirasidium.
Cacing hanya punya 1 hospes perantara yaitu keong air. Mirasidium masuk ke
dalam tubuh keong air dan berkembang menjadi sporokista I dan sporokista II
kemudian serkaria yg banyak. Serkaria adalah bentuk infektif cacing.
Cara infeksi pd manusia adalah serkaria menembus kulit pada waktu manusia
masuk ke dalam air yng mengandung serkaria Waktu yg diperlukan untuk infeksi : 5
10 menit Serkaria masuk ke dalam kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk
ke jantung lalu paru dan kembali ke jantung kiri; kemudian masuk ke sistem
peredaran darah besar, ke cabang2 vena portae dan vena usus atau vena kandung
kemih kemudian cacing betina bertelur setelah berkopulasi .

Patologi dan Gejala Klinis


Stadium pada skistosomiasis adalah masa tunas biologic, stadium akut, dan stadium
kronik.

lur berisi embrio menembus


Manusia keluar dinding pembuluh darah,masuk ke rongga usus/k

Hewan
Cacing dewasa hidup di dalam pembuluh darah
Masuk ke dalam air
Telur menetas di dalam air
skistosomula

MIRASIDIUM

Mirasidium berenang aktif dalam air mencari keong hospes p


Serkaria menembus kulit manusia atau hewan

Mirasidium menembus masuk k

KARIA keluar dari keong air berenang aktif di dalam air

sidium berkembang menjadi sporokista I dan membentuk banyak sporokis

a Masa Tunas Biologik


Gejala kulit dan alergi : perubahan kulit timbul eritema dan papula disertai rasa
panas dan gatal. Bila jumlah banyak , maka akan timbul dermatitis. Kelainan kulit
hilang dalam waktu dua atau tiga hari. Selanjutnya dapat terjadi reaksi alergi yang
dapat timbul oleh karena adanya hasil metabolik skistosomula atau cacing dewasa
atau dari protein asing yang disebabkan adanya cacing mati. Manifestasi klinis dapat
berupa urtikaria atau angioedema.
Gejala paru menimbulkan gejala batuk sering, kadang disertai dengan
pengeluaran dahak yang produktif dan pada beberapa kasus bercampur dengan sedikit
darah. Pada kasus yang rentang gejala dapat menjadi berat sekali sehingga timbul
serangan asma.
Gejala toksemia : maifestasi akut atau toksik mulai timbul antara minggu ke 2
sampai minggu ke 8 setelah infeksi. Berat gejala tergantung dari banyaknya serkaria
yang masuk. Pada stadium ini dapat timbul : lemah, malaise, tidak nafsu makan, mual,
muntah, sakit kepala, dan nyeri di tubuh. Hati dan limpa membesar seta nyeri pada
perabaan.

Stadium Akut
Stadium ini dimulai cacing betina bertelur. Telur yang diletakkan di dalam
pembuluh darah dapat keluar dari pembuluh darah, masuk ke dalam jaringan
sekitarnya dan akhirnya dapat mencapai lumen dengan cara menembus mukosa,
biasanya mukosa usus. Efek patologis yang muncul tergantung jumlah telur yg
dikeluarkan yang berhubungan langsung dengan jumlah cacing betina. Gejala :
demam, malaise, BB turun. Sindrom disentri biasa ditemukan pada kondisi infeksi
berat dan pada kasus ringan hanya diare. Hepatomegali dan splenomegali dapat
terjadi 6 8 bulan setelah infeksi.

Stadium Menahun
Terjadi penyembuhan jaringan dengan pembentukan jaringan ikat atau fibrosis.
Hepar yang semula membesar karena peradangan, kemudian mengalami
pengecilan karena fibrosis (sirosis). Gejala : splenomegali, edema yang biasanya
ditemukan di tungkai bawah. Dapat ditemukan ikterus dan asites. Pada stadium
lanjut dapat terjadi hematemesis .

4
5

Diagnosis
Ditemukan telur dalam tinja, urin atau jaringan biopsi.
Pengobatan
a Niridazol
Farmakodinamik : menghambat bertelurnya cacing dewasa dan membunuh cacing
dewasa jantan dan betina dengan dosis yang tepat.
Farmakokinetik : agak lambat diserap di saluran pencernaan, diuraikan didalam
hati
Dosis : 25mg/kgBB untuk 7-10 hari
Efek samping : keluhan mual, muntah, tidak nafsu makan dan diare.
Efek samping terpenting ; gangguan psikis dapat berupa psikosis, halusinasi,
confusion, pusing, sakit kepala, anxiety.
b

Prazikuantel
Farmakodinamik : menimbulkan peningkatan aktivitas otot cacing, karena
hilangnya Ca2+ intrasel sehingga timbul kontraksi dan paralisis spastik yangg
sifatnya reversibel sehingga cacing terlepas dari tempat melekatnya.
Farmakokinetik : pemberian oral diabsorpsi dengan baik. Metabolisme obat
berlangsung cepat di hati. Ekskresi sebagian besar melalui urin.
Dosis per kali minum: 35 mg/kgBB 2x sehari
Efek samping : sakit kepala,pusing, mengantuk, mual, muntah, nyeri perut, diare,
pruritus, nyeri sendi dan otot.

Prazikuantel : harus diminum dengan air putih yang banyak dan jangan dikunyah
karena rasanya pahit.

1
2
3
4

Schistosoma japonicum
Hospes : manusia, anjing,kucing, tikus sawah, sapi, babi rusa
Distribusi : RRC, Jepang, Filiphina, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Indonesia
Di Indonesia : ditemukan di Sulawesi Tengah yaitu daerah danau Lindu dan Lembah
Napu.
Morfologi
Cacing dewasa jantan berukuran kira2 1,5 cm dan yg betina kira2 1,9 cm hidup di
vena mesenterika superior. Telur ditemukan di dinding usus halus dan juga alat-alat

6
7

dalam seperti hati, paru, otak.


Patologi dan Gejala Klinis
Stadium I : gatal2 (urtikaria)
Stadium II : sindrom disentri
Stadium III : sirosis hepatis
Diagnosis
Telur di tinja atau jaringan yang sudah dibiopsi.
Epidemiologi
Ditemukan di 2 daerah Sulawesi Tengah : Danau Lindu dan lembah Napu. Hospes
perantara : keong air Oncomelania hupensis. Habitat : ladang, sawah garapan, daerah
hutan di perbatasan bukit, dan dataran rendah.

Schistosoma mansoni
1 Hospes : manusia dan kera baboon di Afrika.
2 Distribusi : Afrika, Mesir, Amerika Selatan, Amerika Tengah.
3 Morfologi pada S.mansoni terdapat tonjolan lebih kasar bila dibanding dengan
S.haemotobium & S.japonicum . Badan S.japonicum lebih halus. Tempat
hidupnya di vena, kolon, rektum. Telur juga tersebar ke alat-alat lain seperti
paru dan otak.

Gambar

Siklus Hidup Scistosoma japonicum