Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kebutuhan akan energi semakin bertambah seiring berkembangnya zaman.
Sumber energy yang paling dominan digunakan sehari-hari adalah sumber energi
yang tidak dapat diperbaharui. Diperlukan sumber energi alternatif guna mengatasi
keterbatasan sumber energi di masa depan.
Sumber energi yang dapat dikembangkan salah satunya adalah sumber energi
Bio massa. Ketersediaannya di alam yang melimpah membuat sumber energi ini
layak untuk dikembangkan menjadi sumber energi alternatif. Sumber energi ini
diharapkan dapat mengimbangi kelangkaan bahan bakar minyak. Untuk itu,
bagaimana mengimplementasikannya di masyarakat, sebagai sumber energi
alternative yang potensial dengan tingkat resiko yang rendah dapat menjadikan
kemandirian energi masyarakat. Untuk itu, implementasinya dapat dimulai dari
tingkat pemakaian energi yang paling sederhana oleh masyarakat yaitu keperluan
memasak sehari-hari.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi masalah sebagai
berikut ;
a. Bagaimana prinsip kerja kompor gasifikasi?
b. Bagaimana proses pendidihan air?
c. Bagaimana mengetahui heat content dari berbagai macam briket?
1.3. Tujuan Percobaan
a. Memahami prinsip kerja kompor gasifikasi
b. Mengetahui proses pendidihan
c. Mengetahui heat content kandungan panas dari berbagai macam briket

1.4. Waktu dan Tempat Percobaan


Waktu

: Selasa, 10 Maret 2015

Tempat

: Laboratorium Fisika Energi, Prodi Fisika FMIPA Unpad

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Gasifikasi
Gasifikasi adalah suatu proses perubahan bahan bakar padat secara termo
kimia menjadi gas, dimana udara yang diperlukan lebih rendah dari udara yang
digunakan untuk proses pembakaran.
Selama proses gasifikasi reaksi kimia utama yang terjadi adalah endotermis
(diperlukan panas dari luar selama proses berlangsung). Media yang paling
umum digunakan pada proses gasifikasi ialah udara dan uap. Produk yang
dihasilkan dapat dikategorikan menjadi tiga bagian utama, yaitu padatan, cairan
(termasuk gas yang dapat dikondensasikan) dan gas permanen. Media yang
paling umum digunakan dalam proses gasifikasi adalah udara dan uap. Gas yang
dihasilkan dari gasifikasi dengan menggunakan udara mempunyai nilai kalor
yang lebih rendah tetapi disisi lain proses operasi menjadi lebih sederhana.
Beberapa keunggulan dari teknologi gasifikasi yaitu :
1. Mampu menghasilkan produk gas yang konsisten yang dapat digunakan
sebagai pembangkit listrik.
2. Mampu memproses beragam input bahan bakar termasuk batu bara, minyak
berat, biomassa, berbagai macam sampah kota dan lain sebagainya.
3. Mampu mengubah sampah yang bernilai rendah menjadi produk yang
bernilai lebih tinggi.
4. Mampu mengurangi jumlah sampah padat.
5. Gas yang dihasilkan tidak mengandung furan dan dioxin yang berbahaya.
Selama proses gasifikasi terdapat beberapa tahapan proses yaitu:
1. Tahapan pemanasan dimana temperatur padatan naik sampai sebelum terjadi
proses pengeringan.

2. Tahap pengeringan dimana terjadi pelepasan uap air dari padatan.


3. Tahap pemanasan lanjut dimana temperatur padatan naik kembali sampai
sebelum terjadi proses devolatilisasi.
4. Tahap devolatilisasi dimana volatil dalam padatan keluar sampai tersisisa
arang. Tergantung dari bahan bakar yang digunakan volatil dapat terdiri dari
gas-gas H2O, H2N2, O2, CO, CO2, CH4, H2S, NH3, C2H6 dan hidrokarbon
tidak jenuh.
5. Tahap gasifikasi
6. Tahap pembakaran arang (terjadi jika masih terdapat udara yang tersisa).
Dari prinsip kerjanya gasifikasi dibedakan menjadi 3 jenis:
1. Updraft gasifier
Pembakaran berlangsung di bagian bawah dari tumpukan bahan bakar dalam
silinder, gas hasil pembakaran akan mengalir ke atas melewati tumpukan
bahan bakar sekaligus mengeringkannya. Bahan bakar dimasukkan ke dalam
ruang bakar dari lubang pemasukan atas.
2. Crossdraft gasifier
Udara disemprotkan ke dalam ruang bakar dari lubang arah samping yang
saling berhadapan dengan lubang pengambilan gas sehingga pembakaran
dapat terkonsentrasi pada satu bagian saja dan berlangsung secara lebih
banyak dalam suatu satuan waktu tertentu.
3. Downdraft gasifier
Gas hasil pembakaran dilewatkan pada bagian oksidasi dari pembakaran
dengan cara ditarik mengalir ke bawah sehingga gas yang dihasilkan akan
lebih bersih karena tar dan minyak akan terbakar sewaktu melewati bagian
tadi.

2.2

Pembakaran
Proses pembakaran pembakaran pada dasarnya adalah proses oksidasi bahan
bakar dengan oleh oksigen. Proses pembakaran dapat terjadi bila konsentrasi
antara uap bahan bakar dan oksigen terpenuhi, dan terdapat energi panas yang
cukup.Proses terjadinya api (pembakaran) dikenal dengan nama segi tiga api,
yaitu unsur bahan bakar, unsur udara (oksigen), dan energi panas. Bila ketiga
unsur ini bertemu dan mencapai konsentrasi yang tepat, maka akan terjadi proses
pembakaran, namun sebaliknya bila salah satu unsur dari 3 unsur tersebut
ditiadakan maka proses pembakaran tidak akan terjadi.
Pembakaran bahan bakar dalam mesin kendaraan atau dalam industri tidak
terbakar sempurna. Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon (bahan bakar
fosil) membentuk karbon dioksida dan uap air. Sedangkan pembakaran tak
sempurna membentuk karbon monoksida dan uap air. Misalnya:
a. Pembakaran sempurna isooktana:
C8H18 (l) +12 O2 (g) 8 CO2 (g) + 9 H2O (g) H = -5460 kJ
b. Pembakaran tak sempurna isooktana:
C8H18 (l) + 8 O2 (g) 8 CO (g) + 9 H2O (g) H = -2924,4 kJ
Sebagaimana terlihat pada contoh di atas, pembakaran tak sempurna
menghasilkan lebih sedikit kalor. Jadi, pembakaran tak sempurna mengurangi
efisiensi bahan bakar. kerugian lain dari pembakaran tak sempurna adalah
dihasilkannya gas karbon monoksida (CO), yang bersifat racun. Oleh karena itu,
pembakaran tak sempurna akan mencemari udara.

2.3

Pendidihan
Untuk menyebutkan proses perubahan cair menjadi uap terdapat dua
istilah yang mempunyai makna berbeda, yaitu penguapan dan pendidihan.
Penguapan terjadi pada cairan yang bersentuhan dengan uap saat tekanan uap
lebih kecil dibandingkan tekanan saturasi cair pada temperatur tertentu.
Sebagai contoh air pada danau yang mempunyai temperatur 20C akan
mengalami proses penguapan pada udara yang mempunyai temperatur 20C

dan kelembaban relatif 60%. Hal ini disebabkan tekanan parsial uap air
dalam udara pada kondisi tersebut adalah 1.4 kPa, yang lebih kecil
dibandingkan tekanan saturasi pada 20C, yaitu 2.3 kPa. Contoh lain peristiwa
penguapan adalah pengeringan baju, buah, dan sayuran, proses pendinginan
melalui keringat pada manusia, serta pembuangan kalor pada air di menara
pendingin.
Pendidihan terjadi pada cairan yang bersentuhan dengan permukaan zat
padat yang mempunyai temperatur lebih tinggi dibanding temperatur saturasi
cairan. Sebagai contoh air bertekanan 1 atm akan mengalami pendidihan jika
bersentuhan dengan permukaan zat padat yang bertemperatur 110C, karena
temperatur saturasi air pada 1 atm adalah 100C. Ciri-ciri proses pendidihan
adalah terbentuknya gelembung uap pada bidang kontak cair padat, yang akan
terlepas saat ukurannya sudah cukup besar dan akan naik menuju permukaan
bebas cairan.
Pada pool boiling, aliran fluida terjadi akibat konveksi bebas sedangkan
aliran gelembung uap dipengaruhi oleh gaya pengapungan. Contoh pool
boiling adalah proses pendidihan yang terjadi pada air di panci. Sebagai
contoh temperatur awal air adalah 30C, jauh di bawah temperatur
pendidihan. Pada awalnya tidak terlihat gelembung uap, kecuali sedikit
gelembung yang menempel pada permukaan panci. Seiring pemanasan yang
diberikan, mulai terlihat gerakan air naik dan turun yang disebabkan oleh
aliran konveksi alami. Pada suatu saat mulai terbentuk gelembung pada
permukaan panci, yang semakin membesar ukurannya dan suatu saat akan
terlepas dan melayang naik ke atas. Namun karena temperatur air di
sekelilingnya masih lebih rendah dibandingkan temperatur saturasi, maka
ukuran gelembung tersebut akan mengecil dan pecah sebelum mencapai
permukaan air. Keadaan seperti ini disebut sebagai subcooled boiling. Lama
kelamaan gelembung yang tercipta semakin banyak seiring pertambahan
temperatur air dan gelembung akan naik mencapai permukaan air saat temperatur

air borongan mencapai 100C. Kondisi ini disebut saturated boiling. Dalam
melakukan analisis laju perpindahan kalor pendidihan digunakan persamaan
empirik atau semi-empirik. Menurut S. Nukiyama (1934) terdapat empat daerah
pendidihan, yaitu pendidihan konveksi bebas, pendidihan nukleat, pendidihan
transisi, dan pendidihan film.

Gambar 1. Daerah pendidihan (a) pendidihan konveksi bebas (b) pendidihan nukleat
(c) pendidihan transisi (d) pendidihan film

Daerah pendidihan tersebut tergambar pada kurva pendidihan, yang


merupakan plot dari fluks kalor pendidihan dan temperatur lebihan (Ts Tsat).

Gambar 2. Kurva pendidihan untuk air pada tekanan 1 atm

BAB III
METODA PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
1. Seperangkat kompor pyrolysis
2. Bahan bakar batu bara
3.2. Prosedur Percobaan
1. Menyiapkan kompor gasifikasi; buka setiap bagian, mengenali fungsi
masing-masing bagian tersebut.
2. Menyiapkan bahan bakar berupa briket atau biomassa; mencatat bahan
bakar yang digunakan.
Pilih bahan bakar sesuai urutan (petunjuk asisten). Menimbang bahan bakar,
massanya ditentukan oleh asisten. Mencatat massa tersebut.
3. Menyalakan bahan bakar pada kompor sampai nyala-nya merata. Hitung
waktu yang dibutuhkan.
Posisi wadah bakar sudah berada pada tempatnya.
4. Menyiapkan panci, tuangkan air ke dalamnya, volumenya ditentukan oleh
asisten.
Mencatat volumenya (poin 4 dikerjakan bersamaan dengan poin 3).
Meletakkan wadah air pada kedudukannya.
5. Mengamati gelembung yang terbentuk pada panci. Mencata waktunya pada

Awal terbentuk gelembung

Gelembung menutupi dasar panci

Saat terjadi air mendidih

6. Menghentikan pendidihan
7. Melakukan proses yang serupa untuk briket jenis kedua.

TUGAS PENDAHULUAN
1. Jelaskan prinsip kerja dari kompor gasifikasi?
Dari prinsip kerjanya gasifikasi dibedakan menjadi 3 jenis:
Updraft gasifier
Pembakaran berlangsung di bagian bawah dari tumpukan bahan bakar dalam
silinder, gas hasil pembakaran akan mengalir ke atas melewati tumpukan bahan
bakar sekaligus mengeringkannya. Bahan bakar dimasukkan ke dalam ruang bakar
dari lubang pemasukan atas.
Crossdraft gasifier
Udara disemprotkan ke dalam ruang bakar dari lubang arah samping yang saling
berhadapan dengan lubang pengambilan gas sehingga pembakaran dapat
terkonsentrasi pada satu bagian saja dan berlangsung secara lebih banyak dalam
suatu satuan waktu tertentu.
Downdraft gasifier
Gas hasil pembakaran dilewatkan pada bagian oksidasi dari pembakaran dengan
cara ditarik mengalir ke bawah sehingga gas yang dihasilkan akan lebih bersih
karena tar dan minyak akan terbakar sewaktu melewati bagian tadi.
2. Bagaimana prinsip pembakaran briket batu bara?
Dalam pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, tujuan utamanya adalah
semaksimal mungkin mengkonversikan unsur utama dalam batubara yakni C
(karbon) menjadi CO2 sehingga dihasilkan energi yang tinggi. Dikarenakan
batubara mengandung kadar karbon paling tinggi dibanding bahan bakar fosil
lainnya seperti minyak dan gas, maka pembakaran batubara dianggap merupakan
sumber emisi CO2 terbesar.

3. Apakah yang dimaksud pembakaran sempurna dan pembakaran tidak sempurna?


Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon (bahan bakar fosil) membentuk
karbon dioksida dan uap air. Sedangkan pembakaran tak sempurna membentuk
karbon monoksida dan uap air.

4. Bagaimana cara menentukan heat content dari bahan bakar?


a. Secara empiris, kalor bahan bakar dihitung dengan bom kalorimeter. Inilah
praktek yang dilakukan di industri, dimana rumus kimia bahan bakar tsb tidak
penting, yang penting hanya kalornya saja. Misalnya batu bara atau minyak
bumi yang dipakai untuk boiler.
b. Tapi dalam kimia murni, kalor juga bisa dihitung berdasarkan rumus molekul
dan ikatan dari hidrokarbon. Contoh: hidrokarbon sederhana
CH4 (g) + 2 O2 (g) CO2 (g) + 2 H2O (l)
(g) adalah gas dan (l) adalah liquid. Ini penting diketahui karena sebagian panas
dari pembakaran akan dipakai untuk menguapkan air menjadi gas. Maka ada
istilah HHV (High Heating Value) dan LHV (Low Heating Value). Pada
dasarnya yang dapat kita manfaatkan hanyalah LHV karena semua hasil
pembakaran biasanya berbentuk gas. Jadi,
HHV - panas penguapan air = LHV
c. Pembakaran sempurna memerlukan oksigen yang cukup. Jika dianggap
pembakarannya ideal (stoichiometric), artinya tidak ada reaktan yang bersisa.
Tapi dialam ini tidak ada yang benar-benar ideal. Oksigen dialam ini berasal
dari udara yang juga mengandung 79%Nitrogen. Maka reaksi yang terjadi
CH4 + 2O2 + N2 CO2 + 2H2O + N2 + CO + NOx + heat
Jika reaksi mendekati ideal, maka CO dan NOx jumlanya akan sangat kecil
(ppm, part per million). Disini dibutuhkan oksigen yang lebih banyak dari
kebutuhan standarnya (sesuai dengan persamaan reaksi), bisa sampai 30% lebih
besar.
CO makin besar jika pembakaran dalam keadaan kekurangan O2.

NOx adalah Nitrogen yang mengikat O dalam kadar yang bermacam-macam.


Kedua-duanya baik CO maupun NOx ini beracun, bahkan NOx ini lebih
mematikan dari pada CO.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono,

Danan

Eko.

2012.

Gasifikasi

Pyrolysis

Pembakaran.

http://santosorising.blogspot.com/2012/07/gasifikasi-pyrolysis-pembakaran.html.
Diakses pada 09 Maret 2015
Sari.

2010.

Bahan

Bakar

dan

Proses

Pembakaran.

http://ss-

stefan.blogspot.com/2010/02/bahan-bakar-proses-pembakaran.html. Diakses pada


09 Maret 2015