Anda di halaman 1dari 6

Dasar teori

Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari
mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara lain sediaan
parental preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan parenteral
merupakan jenis sediaan yang unik diantara bentuk sediaan obat terbagi-bagi, karena sediaan
ini disuntikkan melalui kulit atau membrane mukosa ke bagian tubuh yang paling efisien,
yaitu membrane kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba
dan dari bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang tinggi.
Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan
dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia,
atau mikrobiologis (Priyambodo, B., 2007).
Wadah berhubungan erat dengan produk. Tidak ada wadah yang tersedia sekarang ini
yang benar-benar tidak reaktif, terutama dengan larutan air. Sifat fisika dan kimia
mempengaruhi kestabilan produk tersebut, tetapi sifat fisika diberikan pertimbangan utama
dalam pemilihan wadah pelindung (Lachman, 1994).
Uji sterilitas dilakukan untuk menetapkan apakah bahan atau produk farmasi yang
harus steril memenuhi syarat berkenaan dengan uji sterilitas seperti yang tertera pada masingmasing monografi bahan atau produk. Uji sterilitas ini dilakukan terhadap produk dan bahan
yang sebelumnya telah mengalami proses pensterilan yang telah diberlakukan. Hasilnya
membuktikan bahwa prosedur sterilisasi dapat diulang secara efektif (Lachman dkk., 2008).
Tahap Sterilisasi
Dalam pembuatan sediaan steril, tahap sterilisasi bertujuan untuk menetapkan produk
akhir dinyatakan sudah steril dan aman digunakan. Suatu produk dapat disterilkan melalui
sterilisasi akhir (terminal sterilization) atau dengan cara aseptik (aseptic processing). Cara
sterilisasi yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Terminal Sterlization (Sterilisasi akhir)
Menurut PDA Technical Monograph dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Overkill Method
Metode sterilisasi menggunakan pemanasan dengan uap panas pada suhu 121oC
selama 15 menit. Penggunaan metode ini biasanya dipilih untuk bahan-bahan yang
tahan panas seperti zat anorganik. Dasar pemilihan metode ini adalah karena lebih
efisien, cepat, dan aman.
b. Bioburden Sterilitation

Suatu metode sterilisasi yang dilakukan dengan monitoring terkontrol dan ketat
terhadap beban mikroba sekecil mungkin di beberapa lokasi jalur produksi sebelum
menjalani proses sterilisasi lanjutan dengan tingkat sterilitas yang dipersyaratkan SAL
10-6. Dalam metode ini digunakan suatu zat yang dapat mengalami degradasi
kandungan bila dipanaskan pada suhu yang sangat tinggi. Sebagai contoh adalah
penggunaan dextrose yang bila dipanaskan dapat menghasilkan senyawa Hidro Methyl
Furfural (HMF) yang merupakan suatu senyawa hepatotoksik.
2. Aseptic processing
Metode pembuatan produk steril menggunakan saringan dengan filter khusus untuk
bahan obat steril atau bahan baku steril yang diformulasi dan dimasukkan kedalam
kontainer steril dalam lingkungan terkontrol. Suplai udara, material, peralatan, dan petugas
telah terkontrol sedemikian hingga kontaminasi mikroba tetap berada pada level yang
dapat diterima (acceptable) dalam clear zone (grade A atau grade B) (Lukas, 2006).
Metode Sterilisasi
Pemilihan metode sterilisasi yang digunakan didasarkan pada pertimbangan sifat
bahan yang akan disterilkan. Teknik sterilisasi dibagi menjadi 3 metode, yaitu
1. Metode fisika
a. Sterilisasi Panas Kering
- Udara panas oven
Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven
pensteril. Karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba
dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperature yang
lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (A.R. Gennaro, 1990). Prinsipnya adalah
protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi sampai kering. Selanjutnya
teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga menyebabkan mikroba pencemar mati.
Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-170 oC dengan
waktu 1-2 jam (Jenkins et al., 1957).
Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang
tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak dapat
ditembus atau tidak tahan dengan uap air. Senyawa-senyawa tersebut meliputi
minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan
uap air. Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah (Jenkins
et al., 1957).

Sterilisasi panas kering biasa digunakan untuk depirogenisasi alat-alat gelas


dan bahan-bahan lain yang memiliki kemampuan bertahan pada suhu yang
digunakan. Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas kering tidak dapat
digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh: alat ukur)
dan penutup karet atau plastik. Kondisi yang dibutuhkan untuk sterilisasi panas
kering dengan menggunakan oven steril adalah :
-

Suhu 170C, waktu 1 jam


Suhu 160C, waktu 2 jam
Suhu 150C, waktu 2,5 jam

- Suhu 140C, waktu 3 jam


-

(A.R. Gennaro,1990)
Pemijaran langsung
Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang
gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu
ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan
pemijaran langsung. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam
keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul
kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan
hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel (Jenkins et al.,

1957).
b. Sterilisasi Panas Lembab (uap)
- Air mendidih
Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam
sterilisasi jarum spuit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-bahan ini
harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20
menit. Setelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah
disterilisasi menggunakan pemijaran (Jenkins et al., 1957).
-

Uap bertekanan
Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam
tekanan sebagai pensterilnya. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas
adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari
organism tersebut (A.R. Gennaro, 1990).

Pemanasan dengan bakterisida


Pemanasan dengan bakterisida merupakan suatu aplikasi khusus meggunakan
uap panas pada suhu 100oC. Adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas
metode ini. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak

stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf. Larutan yang
ditumbuhkan bakterisida ini dpanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100oC
selama 20 menit dalam pensterilisasi uap atau penangas air. Bakterisida yang dapat
digunakan termasuk 0,5%, fenol, 0,5% klorbutanol, 0,2% kresol atau 0.002% fenil
merkuri nitrat saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi
intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini (Jenkins et
-

al., 1957).
Uap panas pada 100oC
Uap panas pada su hu 100oC dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir
atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir
dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur.
Metode ini jarang memuaskan untuk sterilasi larutan yang karena spora sering gagal
tumbuh dibawah kondisi ini, bentuk vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak
membentuk spora. Temperatur suhu titik mati bervariasi, tetapi tidak ada bentuk non
spora yang bertahan (Jenkins et al., 1957).
Proses sterilisasi basah ini merupakan metode yang paling efektif karena :

Uap merupakan suatu pembawa energi yang paling efektif karena semua
lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakkan, sehingga memungkinkan

terjadinya koagulasi.
Metode ini bersifat nontoksik, mudah diperoleh, dan relatif mudah dikontrol.
(Lukas, 2006)
Faktor yang mempengaruhi sterilisasi uap adalah :Waktu, Suhu, dan Kelembapan
(Lukas, 2006)

c. Sterilisasi radiasi
- Radiasi pengion
Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi industri untuk alat-alat rumah
sakit, vitamin, antibiotik, steroid hormon dan transplantasi tulang dan jaringan dan
alat pengobatan seperti alat untuk suntik plastik, jarum, alat beda, tube palstik,
kateter, benang bedah dan cawan petri. Sterilisasi dengan radiasi digunakan untuk
alat-alat medis yang sensitif terhadap panas dan jika residu etilen oksida tidak
-

diharapkan. (Agalloco, 2008).


Sinar ultraviolet
Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi
kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang
bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut

merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7 nm. Sinar UV menembus
udara bersih dan air murni dengan baik, tetapi suatu penambahan garam atau bahan
tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan derajat penetrasi dengan
cepat. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan
membunuh mikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan (Lachman
dkk., 2008)
2. Metode Kimia
a. Sterilisasi gas
Sterilisasi gas pada umumnya memerlukan waktu yang cukup lama, tergantung
pada keberadaan kontaminasi kelembaban, temperatur dan konsentrasi etilen oksida.
Digunakan untuk sterilisasi bahan yang termolabil seperti bahan biologi, makanan,
plastik, antibiotik. Etilen oksida dianggap menghasilkan efek letal terhadap
mikroorganisme dengan mengalkilasi metabolit esensial yang terutama mempengaruhi
proses reproduksi. Aksi antimikrobialnya adalah gas etilen oksida mengadisi gugus
SH, -OH, -COOH,-NH2 dari protein dan membentuk ikatan alkilasi sehingga protein
mengalami kerusakan dan mikroba mati (Lachman dkk., 2008).
3. Metode Mekanik
a. Sterilisasi dengan Filtrasi
Sterilisasi dengan metode mekanik dapat dilakukan dengan sterilisasi
penyaringan (filtrasi). Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi
cairan yang mudah rusak jika terkena panas atau mudah menguap (volatile penyaringan
ini menggunakan filter bakteri). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan
(ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter
yang cukup kecil untuk menyaring bakteri.. Metode ini tidak dapat membunuh
mikroba, mikroba hanya akan tertahan oleh pori-pori filter dan terpisah dari filtratnya.
Dibutuhkan penguasaan teknik aseptik yang baik dalam melakukan metode ini. Filter
biasanya terbuat dari asbes, porselen. Filtrat bebas dari bakteri tetapi tidak bebas dari
virus. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini. Cara kerja dari sterilisasi ini
berbeda dari metode lainnya karena sterilisasi ini menghilangkan mikroorganisme
melalui penyaringan dan tidak menghancurkan mikroorganisme tersebut. Teknologi
tinggi membran filtrasi meningkatkan penggunaan sterilisasi filtrasi, khususnya jika
digunakan berpasangan dengan sistem proses aseptik (Agalloco,2008).

URAIAN BAHAN
HCL
Alkohol
Tipolg