Anda di halaman 1dari 6

11 Februari 2016

KD V C_FG06
Pertanyaan 1&6

Faktor yang Mememngaruhi Eliminasi dan Cara Pengambilan


Specimen Urin
Oleh Mutia Annisa, Mahasiswi Reguler FIK UI 2014, NPM 1406623934
e-mail: mutia.annisa@ui.ac.id

1. Jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi urin!


Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi volume, karakteristik, dan
cara urin diekskresikan (Delaune & Ladner, 2011; Kozier, Erb, Berman, &
Snyder, 2012; Potter, Perry, Strockert, & Hall, 2013), seperti:
i.

Faktor perkembangan

Tahap
Infan

Keterangan
Ginjalnya mulai mengekskresikan urin saat berusia 11 dan 12

Bayi

minggu.
Kemampuan menghasilkan urin pekat masih minim, sehingga
urin berwarna kuning jernih. Kontrol urin secara volunter

belum ada karena neuromoskulernya yang belum matur.


Anak-anak Saat berusia 1-2 tahun, fungsi ginjal mencapat kematangan.
Urin menjadi lebih pekat secara efektif dan berwarna kuning
kecoklatan yang normal. Selain itu, anak juga mulai menyadari
ketika kandung kemih penuh dan mampu menahan sampai
melebihi dorongan untuk berkemih. Saat usia 2 hingga 3
tahun, anak mampu menyampaikan kebutuhannya untuk
berkemih. Ketika usia 4-5 tahun, anak dapat mengontrol urin
Dewasa

secara utuh.
Ukuran maksimal ginjal terjadi saat usia 35-40 tahun.
Penurunan fungsi ginjal terjadi saat usia 50 tahun dimana

Lansia

terlihat dari penyusutan korteks karena nerfon yang hilang.


30% nefron hilang saat berusia 80 tahun. Aliran darah ginjal
menurun karena perubahan vaskular dan penurunan curah
jantung. Kemampuan untuk memekatkan urin juga berkurang.
Tonus otot kandung kemih berkurang yang menyebabkan
peningkatan

frekuensi

berkemih

(nokturia).

Selain

itu,

pengurangan tonus juga dapat menyebabkan adanya sisa urin di


kandung kemih yang memicu pertumbuhan bakteri dan infeksi.

Universitas Indonesia

Inkontinensia urin juga dapat terjadi karena masalah mobilitas


atau gangguan neurologi.
ii.

Faktor psikososial
Kondisi emosional yang memicu ansietas dan ketegangan otot juga
memengaruhi eliminasi urin. Seseorang tidak dapat merelaksasikan otot
abdomen, perineum, dan sfingter uretra eksterna yang mengakibatkan
proses berkemih menjadi terhambat. Seseorang juga dapat menahan
urinasi (berkemih) secara sengaja karena tekanan waktu yang sebenarnya
dapat menjadi pemicu infeksi saluran kemih.

iii.

Asupan cairan dan makanan


Pada orang sehat, tubuh mampu menjaga keseimbangan antara asupan
cairan dan pengeluaran cairan. Cairan atau makanan tertentu dapat
memengaruhi produksi maupun karakteristik urin. Contohnya, alkohol
dapat menghambat sekresi ADH sehingga haluaran urin banyak. Kafein
juga meningkatkan produksi urin. Bit dapat menyebabkan urin berwarna
merah. Makanan yang mengandung karoten dapat menyebabkan warna
urin lebih kuning dari biasanya. Berbeda dengan makanan dan minuman
tinggi Na+ yang memicu retensi cairan, karena air ditahan untuk menjaga
keseimbangan elektrolit. Oleh karena itu, konsumsi minuman ber-ion
bagus untuk seorang atlet.

iv.

Olahraga
Aktivitas fisik dapat meningkatkan tonus otot yang baik untuk kontrol

kandung kemih dan sfingter. Sehingga pola berkemih lebih optimal dan
tubuh menjadi lebih sehat.
v.

Obat-obatan
Banyak obat-obatan yang mengganggu sistem saraf otonom dan

memengaruhi proses urinasi normal dan mengakibatkan retensi. Obat


diuretik (misalnya klorotiazid dan furosemid) dapat meningkatkan
pembentukan urin dengan mencegah reabsorbsi air dan elektrolit di
tubulus ginjal ke aliran darah. Dan beberapa diantaranya juga dapat
mengubah warna urin. Berikut obat-obatan yang dapat menyebabkan
retensi urin, diantaranya:

Universitas Indonesia

Kelompok obat
Antikolonergik dan antispasmodik

Contoh
Atropin dan papaverin

Agen antidepresan dan antipsikotik

Fenotiazin dan inhibitor MAO

Sediaan antihistamin

Pseudoefedrin

Antihipertensi

Hidralazin dan metildopat

Antiparkinson

Levodopa, artane, cogentin

Penyekat beta-adrenergik

Inderal

Opioid

Vicodin

vi.

Tonus otot
Tonus otot penting untuk mempertahankan regangan dan kontraktilitas
otot destrusor agar kandung kemih dapat terisi secara adekuat dan
dikosongkan secara total. Tonus otot abdomen (membantu pengosongan
kandung kemih) dan tonus otot panggul (faktor untuk menahan urin secara
sengaja) juga berperan. Hal ini juga telah dibahas pada suatu penelitian
bahwa posisi ketika berkemih yang benar dapat memaksimumkan relaksasi
otot dasar pelvis (Furtado et al., 2014). Aktivasi guardian reflex saat
mikturisi dihambat oleh simpatik efferen sebagai respon untuk mencegah
kontraksi otot polos uretra (sfingter uretra interna) yang mencegah
seseorang berkemih.

vii.

Kondisi patologis
Beberapa

penyakit

dan

patologi

juga

dapat

memengaruhi

pembentukan dan pengeluaran urin. Seperti penyakit di organ ginjal yang


menurunkan fungsional nefron. Gangguan jantung dan sirkulasi juga dapat
memengaruhi aliran darah ke ginjal, sehingga produksi urin terganggu.
Kehilangan cairan yang banyak (muntah dan demam tinggi) dapat
menghambat pengeluaran urin untuk mencapai keseimbangan tubuh.
Penyakit di ureter (kalkulus) dapat menyumbat ekskresi urin. Hipertrofi
kelenjar prostat dapat menyumbat uretra, mengganggu urinasi, dan
pengosongan kandung kemih.
viii.

Prosedur bedah dan diagnostik


Pembedahan dan diagnostik juga dapat memengaruhi kandung kemih
dan urinasi. Uretra yang bengkak setelah sistoskopi dan prosedur bedah

Universitas Indonesia

dapat

memicu

pembengkakan

pada

abdomen

bawah

atau

memungkinkan adanya perdarahan pascaoperasi. Akibatnya, urin dapat


berwarna merah untuk sementara. Selain pembedahan, anastesi spinal
juga dapat memengaruhi pengeluaran urin karena penurunan tingkat
kesadaran individu.
6. Jelaskan cara-cara pengambilan specimen urin!
Ginjal berperan besar dalam homeostasis tubuh dengan mengatur
keseimbangan asam-basa, volume, dan osmotik caitan tubuh. Ekskresi dari
sistem urinaria ini berupa urin yang memiliki berbagai komponen sisa produk
metabolisme tubuh. Berdasarkan komponen urin ini, tenaga kesehatan dapat
melakukan pengecekan status kesehatan tubuh klien melalui pemeriksaan urin
di laboratorium. Tipe pemeriksaan juga menentukan metode pengumpulan urin.
Beberapa metode diantaranya, ialah (Delaune & Ladner, 2011):
i.Random collection (analisis rutin)
Routine urine analysis (UA) atau dikenal dengan random collection
merupakan

metode

pengambilan

urin

secara

acak

(kapanpun)

menggunakan wadah bersih. Urin tidak harus dikumpulkan di tabung


steril. Perawat dapat memberi instruksi kepada klien untuk membuang urin
ke wadah spesimen atau ke bejana urorinal yang bersih. Dengan
menggunakan sarung tangan, perawat memindahkan urin ke kontainer,
ditutup rapat, pemberian label, dan dimasukkan ke kantong biohazard
untuk dikirim ke laboratorium. Spesimen tadi harus dimasukkan ke
refrigerator apabila belum dapat ditransfer ke lab dalam waktu 1 jam.
Karena urin dapat berubah ke alkalin melalui peran bakteria yang
memecah urea menjadi amonia.
ii.Timed collection
Pengambilan urin dalam waktu 24 jam atau dikenal dengan urin 24
jam. Urin akan dikumpulkan dalam kontainer plastik yang mengandung
preservatif (bahan pengawet). Apabila uji analisis urin tergolong sensitif,
maka penggunaan kontainer plastik bewarna gelap juga disarankan. Klien

Universitas Indonesia

diinstruksikan untuk membuang urin yang pertama kali dihasilkan pada


awal pengumpulan. Pengambilan urin 24 jam dimulai ketika urin pertama
tadi dibuang. Misalnya, hari ini pengambilan urin dimulai pukul 5 pagi.
Maka urin pertama yang keluar dibuang, dan urin yang keluar selanjutnya
hingga pukul 5 pagi pada esok harinya dikumpulkan di kontainer plastik.
iii.Sistem closed urinary drainage
Pengambilan urin dengan sistem inin termasuk spesimen steril. Urin
diambil dari klien yang menggunakan kateter. Spesimen steril ini
digunakan untuk mengkultur urin sehingga urin tidak diperoleh dari
kantong pembuangan. Karena analit urin di kantong buangan telah
berubah, sehingga dapat menyebabkan ketidakakuratan hasil lab. Pada
tabung kateter terdapat lubang yang digunakan untuk mengambil
spesimen.
iv.Clean-voided specimen
Pengambilan urin dengan metode ini bertujuan untuk menghindari
kontaminasi urin oleh mikroorganisme kulit. Urin yang diambil berupa
urin yang dibuang pada pagi hari. Untuk orang dewasa (pria dan wanita)
sudah mampu mengikuti petunjuk untuk melakukan tes ini. Beberapa
perbedaan teknik aseptik juga sering digunakan orang dewasa, sehingga
ada

kemungkinan

besar

urin

terkontaminasi.

Perawat

dapat

menginstruksikan klien wanita untuk membersihkan kemaluan mulai dari


depan ke belakang.
Untuk klien pria, pembersihan juga sama dari depan ke belakang
kecuali area perineal. Pembersihannya harus dari ujung penis. Jika tidak
pernah sirkumsisi, maka tarik kulit depan dan tahan. Bersihkan bagian
kepala penisnya menggunakan towel dengan gerakan melingkar. Bersihkan
meatus dan kelenjarnya yang dimulai dari bukaan uretra. Ganti towel yang
digunakan. Ulangi prosedur hingga tiga kali.
Pengambilan urin dari infan dan anak-anak perlu bimbingan yang
ketat. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan. Perawat menginstruksikan
klien untuk berada di posisi supin. Minta bantuan orang tua klien untuk
menopang lutut anak sehingga pembersihan area perineal dapat dilakukan.

Universitas Indonesia

Letakkan kantong steril pada perineum/penis dan skrotum, dan pasangkan


popoknya. Ambil kantong tadi segera setelah urin keluar dan pindahkan ke
kontainer pengumppul yang diberi label. Tutup rapat kontainer dan
letakkan di kantong biohazard untuk ditransfer ke laboratorium.

Daftar Pustaka
Delaune, S. C., & Ladner, P. K. (2011). Fundamentals of nursing: standards and
practice (4 ed.). USA: Delmar Cengage Learning.
Furtado, P. S., Lordlo, P., Minas, D., Menezes, J., Veiga, M. L., & Barroso, U.
(2014). The influence of positioning in urination: An electromyographic and
uroflowmetric evaluation. Journal of Pediatric Urology, 10(6), 10701075.
doi:10.1016/j.jpurol.2014.03.013
Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. J. (2012). Fundamentals of nursing:
concepts, process, and practice (9th ed.). New Jersey: Pearson Education.
Potter, P. A., Perry, A. G., Strockert, P. A., & Hall, A. M. (2013). Fundamentals of
nursing (8th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby.

Universitas Indonesia