Anda di halaman 1dari 8

ILMIAH Volume I1 No.

1, 2009

M. Thoyib. Perilaku Organisasi

PENGARUH PERILAKU ORGANISASI TERHADAP


KEMANFAATAN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
PADA PEMERINTAH KABUPATEN DAN KOTA DI SUMATERA SELATAN
M. Thoyib, Maria, Nelly Masnila, Jamiyla
Staf Pengajar Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Sriwijaya
Jl. Srijaya Negara, Bukit Besar Palembang 30139. Telp 0815 3298 8743
E-mail : thoyib30_poltek@yahoo.co.id

ABSTRACT
Decleration of good and clean Government Organization have been already introduced since since 1999
which known as Indonesia reformation Era, repair to the Accounting Public Sectors (Regional Finacial
Accounting System) should be done continuously. It leads toi implementation of the system with The
principles of effectiveness, eficience, economic, transparancy and accountability.by the time, of course the
systems findsmany abstacles such as: Human Capabilities, commitment of manager, and a cleans of goals.
Three factors that Regional accounting financial system ( SAKD) with multiple regression model. The
Population research are residencse and cities in South Sumatera Province. The sample takes random
sampling teen percent of the Population (Satuan Kerja Perangkat Daerah (Dinas, Badan, Kantor), every
SKPD takes three respondences (Sekretaris (Dinas, Bag. Pengeluaran, Bag. Perencanaan) with F and t
Test. Outcome from this research is journal, hand out in Public Accounting Sector and training to
residence needs to effort and success applied residence accounting financial system (SAKD). Especially for
Behavior Government Residence Organization for ever.
Keywords : Behavior Organization, Accounting System, Transparance, Accountability
ABSTRAK
Pencanangan pelaksanaan organisasi pemerintahan yang bersih dan berwibawa (good government
governance) dimunculkan sejak tahun 1999 yang dikenal dengan era reformasi Indonesia. Perbaikan yang
dilakukan secara terus-menerus terhadap Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Hal ini mengarah pada
terlaksananya sistem tersebut dengan azas efisien, efektif, ekonomis, transparan, dan akuntabilitas. Seiring
dengan perjalanan waktu tentunya sistem tersebut banyak menemukan kendala antara lain: kendala
kemampuan SDM, komitmen atasan, dan kejelasan tujuan. Ketiga faktor tersebut terhadap masuk kedalam
perilaku organisasi. Penelitian menguji pengaruh ketiga faktor pada kemanfaatan Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah (SAKD) dengan model regresi berganda. Populasinya adalah pada kabupaten/kota di
Sumatera Selatan. Sampelnya diambil secara acak 10% dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), setiap
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diambil responden sebanyak 3 (tiga) pejabat/pegawai (bagian
perbendaharaan / Sekretaris, akuntansi / Pengeluaran dan anggaran / perencanaan) dengan uji F dan t.
Adapun luaran penelitian ini, pembuatan bahan ajar akuntansi sektor publik dan pelatihan kepada daerah
yang membutuhkan pencapaian dan kesuksesan penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD)
khususnya di bidang peningkatan perilaku organisasi pemerintah daerah di masa yang akan datang.(tindak
lanjut hasil penelitian ini).
Kata Kunci : Perilaku Organisasi, Sistim Akuntansi, Transparan, Akuntabilitas
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejak diberlakukannya UU No. 22 tahun
1999 yang telah direvisi dengan UU No. 32 tahun
2005 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 25
tahun 1999 yang telah direvisi dengan UU No. 33
tahun 2005 tentang Perimbangan Keuangan Pusat
dan Daerah, maka Pemerintah Daerah diberikan
kewenangan yang luas untuk mengatur urusan
rumah tangganya sendiri. Pemerintah Daerah
mempunyai hak dan kewenangan untuk
menggunakan sumber-sumber keuangan yang
dimiliki sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi
masyarakat.

Informasi
yang
berkembang dalam
pelaksanaan otonomi daerah terkait dengan semua
aspek yang melibatkan Pemerintah Daerah, mulai
dari aspek pelayanan kepada masyarakat,
pengelolaan keuangan, sampai perilaku organisasi
(aparatur daerah dan anggota dewan). Ada
pandangan yang menyatakan bahwa desentralisasi
fiskal atau otonomi daerah justru melahirkan rajaraja kecil di daerah. Distribusi kewenangan
kekuasaan, disesuaikan dengan kewenangan pusat
dan daerah. Dalam hal ini, pelimpahan wewenang
diikuti kewenangan keuangan. Dengan adanya
desentralisasi pengelolaan pemerintahan daerah
dan tuntutan masyarakat akan transparansi dan

ILMIAH Volume I1 No.1, 2009


akuntabilitas, memaksa pemerintah baik pusat
mapun daerah untuk menciptakan sistem
pengelolaan keuangan yang baik dalam rangka
mengelola dana secara transparan, ekonomi,
efisien, efektif dan akuntabel (Bastian, 2001).
Sistem
akuntansi
keuangan
daerah
diperlukan untuk memenuhi kewajiban pemerintah
daerah
dalam
membuat
laporan
pertanggungjawaban keuangan daerah yang
bersangkutan. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
telah menjadi penting dalam era reformasi sektor
publik sebagai dampak dari tuntutan reformasi
yang menghendaki terciptanya pemerintahan yang
bersih, jujur dan berwibawa. Sistem ini
menginginkan
agar
pemerintah
harus
meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan
publik dalam menggerakkan roda pemerintahan
dengan lebih transparan. Transparansi berarti
keterbukaan
pemerintah
dalam
membuat
kebijakan-kebijakan keuangan, sehingga dapat
diketahui dan diawasi oleh DPR/DPRD dan
masyarakat. Transparansi pengelolaan keuangan
pada akhirnya akan menciptakan horizontal
accountability
antara
pemerintah
dengan
masyarakat. Akuntabilitas dan transparansi yang
dikehendaki oleh reformasi dapat dicapai jika
didukung oleh sistem akuntansi pemerintah yang
baik sehingga menghasilkan informasi keuangan
yang handal (Burhanudin, 2008).
Dalam upaya merespon tuntutan refomasi,
pemerintah telah menyusun Standar Akuntansi
Pemerintah (SAP) yang diatur dalam PP No. 24
tahun 2005. Dengan diberlakukannya PP tersebut
maka baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah diberi kesempatan untuk segera menyusun
sistem akuntansinya. Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah diatur dalam Keputusan Menteri dalam
Negeri (Kepmendagri) Nomor 13 tahun 2006 yang
telah disempurnakan dengan Kepmendagri No.59
Th.2007, Nomor 55 Tahun 2008. Dengan adanya
kepmendagri tersebut, bahwa setiap unit kerja
(SKPD) memperoleh wewenang mengelola
keuangannya sendiri. Hal ini berbeda dengan
kepmendagri No 29 tahun 2002 dimana pengelola
keuangan hanya dilakukan di Biro atau Bagian
Keuangan Pemda.
Menurut Bordnar dan Hopwood (2004)
dalam (Latifa, 2007), suatu keberhasilan
implementasi sistem tidak hanya ditentukan pada
penguasaan teknis belaka, namun ditentukan pula
oleh faktor perilaku dari individu pengguna sistem
(organisasi). Faktor-faktor perilaku yang dimaksud
dalam penelitian ini yaitu: Kemampuan Sumber
Daya Manusia (SDM), komitmen atasan, dan
kejelasan tujuan dalam kaitannya dengan kegunaan
sistem akuntansi keuangan daerah.
Komitmen atasan juga berpengaruh dalam
mendukung suksesnya implementasi sistem baru.
Menurut Shield (1995) dukungan manajemen
puncak (atasan) dalam suatu inovasi sangat penting

M. Thoyib. Perilaku Organisasi


dikarenakan adanya kekuasaan manajer terkait
dengan sumber daya. Manajer (atasan) dapat fokus
terhadap sumber daya yang diperlukan, tujuan dan
inisiatif strategi yang direncanakan apabila manajer
(atasan)
mendukung
sepenuhnya
dalam
implementasi. Namun, apabila manajer (atasan)
tidak mendukung diimplementasikan sistem baru,
maka sumber daya yang diperlukan untuk proses
implementasi tidak disediakan, bahkan manajer
(atasan) dapat mempengaruhi bawahan untuk
berkoalisi menolak system baru tersebut.
Kejelasan tujuan sebagai faktor organisasi
yang lain dapat menentukan suatu keberhasilan
sistem karena individu dengan tujuan dan target
yang jelas dan paham bagaimana mencapai tujuan,
mereka dapat melaksanakan tugas dengan
keterampilan dan kompetensi yang dimiliki. Lain
halnya apabila individu
merasakan adanya
ketidakpastian
dan
ketidakjelasan
tujuan
diimplementasikan sistem, mereka akan ragu-ragu
dalam menjalankan tugas yang diembannya
(Spreitzer, 1997 ; Chenhall, 2004 dalam Lyna
2006).
Pemerintah daerah selaku pengguna dalam
implementasi SAKD perlu untuk memperhatikan
faktor perilaku organisasi tersebut dalam rangka
kelancaran dan kesuksesan implementasi sehingga
mendapatkan hasil yang diharapkan. Kegunaan
dari SAKD adalah untuk pengelolaan keuangan
daerah yang baik dalam rangka pengelolaan dana
desentralisasi secara transparan, ekonomis, efisien
efektif dan akuntabel. Perhatian terhadap faktor
perilaku organisasi dalam implementasi SAKD
diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan
keuangan daerah secara transparan, ekonomis,
efisien,efektif dan akuntabel.
Banyak
faktor
yang
menentukan
tercapainya pemerintahan daerah yang sukses di
antaranya
pengelolaan
keuangan
daerah
ditunjukkan secara terbuka dan akuntabilitas.
Pengolaan sumber dana yang tercermin secara
tepat waktu, efisien, dan bermutu sehingga dalam
pelaporannya akan terwujud aset dan non aset
daerah yang transparan dan akuntabilitas. Dengan
alas an tersebut diatas perlu dilakukan penelitian
khususnya yang berhubungan dengan faktor
perilaku organisasi; kapabilitas SDM, dukungan
atasan dan kejelasan tujuan terhadap kemanfaatan
Sistem Akuntansi Keuangan Daerah.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang
dikemukakan di atas, maka dapat ditetapkan
rumusan masalah dalam penelitian ini:
1. Apakah faktor-faktor perilaku organisasi;
kapabilitas SDM, komitmen atasan dan
kejelasan tujuan secara
bersama-sama
mempengaruhi Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah.

ILMIAH Volume I1 No.1, 2009


2.

1.

2.

Apakah faktor kapabilitas SDM, komitmen


atasan dan kejelasan tujuan mempunyai
pengaruh yang dominan terhadap Sistem
Akuntansi Keuangan Daerah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian
ini adalah:
Diduga perilaku organisasi; kapabilitas SDM,
komitmen atasan dan kejelasan tujuan secara
bersama-sama
mempengaruhi
Sistem
Akuntansi Keuangan Daerah pada Kabupaten
dan Kota di Sumatera Selatan.
Diduga kapabilitas SDM, komitmen atasan
dan kejelasan tujuan mempunyai pengaruh
yang dominan terhadap Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah.

Tujuan dan Manfaat


Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
pengaruh perilaku organisasi ; kapabilitas SDM,
Komitmen atasan dan Kejelasan tujuan terhadap
Kemanfaatan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
pada Pemerintah kabupaten dan Kota di Sumatera
Selatan.
Adapun manfaat dari penelitian ini
memberikan sumbang saran kepada pemerintah
daerah berupa perangkat lunak (bahan ajar) dalam
menjalankan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
pada Kabupaten dan Kota di Sumatera Selatan.

Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai sumber daya manusia
yang ada di instansi pemerintah pernah dilakukan.
Penelitian Dinata (2004) menemukan bukti empiris
bahwa secara garis besar sumber daya manusia
yang ada di instansi pemerintahan kota Palembang
belum
sepenuhnya dinyatakan siap atas
berlakunya sistem akuntansi keuangan daerah yang
berdasarkan Kepmendagri No.29 th. 2002 (revisi
Kepmendagri No.59 Th. 2007). Penelitian
Alimbudiono dan Fidelis (2004) memberikan
temuan empiris bahwa pegawai berlatar pendidikan
akuntansi subbagian akuntansi Pemerintah XYZ
masih minim, job description-nya belum jelas, dan
pelatihan-pelatihan untuk menjamin fungsi
akuntansi
berjalan
dengan
baik
belum
dilaksanakan.
Pengelolaan Keuangan daerah tercantum
pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 58 Tahun 2005.pengelolaan keuangan
Negara dan daerah secara efektif dan efisien
dilaksanakan melalui tata kelola pemerintahan
yang baik yang memiliki tiga pilar transparansi,
akuntabilitas dan partisipatif.
Konstruksi keuangan daerah (surat edaran no.
900/316/BAKD tentang pedoman sistem dan
prosedur penatausahaan dan akuntansi, pelaporan
dan pertanggungjawaban keuangan daerah :SKPD
dan SKPKD.

M. Thoyib. Perilaku Organisasi


Sikap seseorang dalam merespon suatu inovasi
seperti diimplementasikannya Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah berbeda-beda. Hal ini
dipengaruhi oleh lingkungan di dalam organisasi.
Faktor lingkungan organisasi dapat mempengaruhi
jalannya implementasi Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah yang baru diimplementasikan yang pada
akhirnya
akan
mempengaruhi
kesuksesan
implementasi
tersebut.
Hubungan
antara
implementasi sistem baru tersebut dengan tujuan
organisasi serta menyediakan suatu sarana bagi
pengguna untuk dapat mengerti, menerima dan
merasa nyaman dari perasaan tertekan atau
perasaan khawatir dalam proses implementasi.
Prinsip-prinsip dasar perilaku organisasi
antara lain, unsur manusia, iklim organisasi,
komitmen partisipasi dan keterlibatan
para
karyawan. T.Hani (2003:54)
Beberapa penelitian menunjukkan bukti
empiris bahwa faktor organisasional seperti
kemampuan SDM (pelatihan), komitmen atasan,
kejelasan tujuan berpengaruh positif terhadap
implementasi suatu inovasi sistem maupun
perubahan
model
akuntansi
manajemen
(Krumweide, 1998).
Sumber daya manusia adalah asset utama
organisasi yang menjadi perencana dan pelaku
aktif dari setiap kegiatan / aktivitas organisasi.
SDM mempunyai pikiran , perasaan, keinginan dan
status, latar belakang pendidikan yang heterogen
yang dibawa ke dalam organisasi. SDM yang
cakap, mampu, dan terampil belum menjamin
produktivtas yang baik. Kualitas dan kuantitas
SDM harus sesuai dengan kebutuhan organisasi
agar efektif dan efisien dalam usaha mencapai
tujuan organisasi
Unsur-unsur utama yang sering dijadikan
pedoman untuk membedakan organisasi yang lain
menurut Faustino (2003 : 25) adalah 1 Goals, 2
Technology, 3 Strcture
Unsur-unsur
sumber daya manusia
meliputi 1 Capabilities, 2. Values 3. Needs,
karakteristik Demografis yang mempengaruhi
lingkungan.
Penelitian Dinata (2004) sejalan dengan
penelitian Alimbudiono dan Fidelis (2004) bahwa
pelaksanaan akuntansi keuangan daerah di kota
Palembang dalam rangka mewujudkan good
governance di era otonomi daerah menunjukkan
bahwa beberapa instansi pemerintah belum
memiliki SDM yang berlatar belakang pendidikan
akuntansi. Penelitian Imelda (2005) dengan
mengambil sampel bagian-bagian yang ada pada
Biro Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera
Selatan menunjukkan bukti bahwa penerapan
Sisten Informasi Akuntansi Keuangan Daerah
(SAKD) pada pegawai biro keuangan belum
banyak yang berlatar belakang pendidikan
akuntansi.

ILMIAH Volume I1 No.1, 2009


Menurut
Shield
(1995)
komitmen
manajemen puncak (atasan) dalam suatu inovasi
sangat penting dikarenakan adanya kekuasaan
manajer terkait dengan sumber daya. Manajer
(atasan) dapat fokus terhadap sumber daya yang
diperlukan, tujuan dan inisiatif strategi yang
direncanakan apabila manajer (atasan) mendukung
sepenuhnya Dalam kejelasan tujuan dapat
menentukan suatu keberhasilan sistem karena
individu dengan suatu kejelasan tujuan, target yang
jelas dan paham bagaimana mencapai tujuan,
mereka dapat melaksanakan tugas dengan
keterampilan dan kompetensi yang dimiliki.
Menurut T.Hani H (2003 :109)Tujuan
organisasi pernyataan tentang keadaan atau situasi
yang tidak
dilakukan sekarang
tetapi
dimaksudkan untuk dicapai diwaktu yang akan
datang
melalui kegiatan kegiatan organisasi
(hasil-hasil akhir, usaha usaha sekarang yang
diarahkan).
Konsep konsep ini dibentuk atas dasar
sintesis dari teori perilaku organisasi. Kerangka
dasar teori perilaku organisasi ini didukung oleh
dua komponen pokok, yakni individu-individu
yang berperilaku dan organisasi formal sebagai
wadah dari perilaku tersebut (Robbins, 2007).
Menurut Davis, et.al.(1998); Delone (1988);
Raymond (1988); Thong,et.al. (1994); Yap,et.al.
(1992) dalam Jantan (2001) dan Iqbaria (1997)
bahwa faktor-faktor intern dan ekstern organisasi
berpengaruh terhadap penerimaan penggunaan
informasi. Faktor yang dapat mempengaruhi adalah
persepsi pengguna atas kemanfaatan (usefulness)
dan kemudahaan (ease of use)
penggunaan
informasi. Faktor perilaku dari individu pengguna
sistem
sangat
menentukan
kesuksesan
implementasi (Bodnar dan Hopwood, 2000).

Metodologi
Identifikasi Variabel
Berdasarkan permasalahan yang telah
dirumuskan dan hipotesis yang diajukan, maka
variabel-variabel yang akan dianalisis adalah
sebagai berikut:
1.
Variabel tergantung atau dependent
variable (Y) yaitu:
Kemanfaatan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah di Sumatera Selatan.
2.
Variabel bebas atau independent variable
(X) yaitu:
Faktor
perilaku
organisasi
yang
mempengaruhi
kemanfaatan
Sistem
Akuntansi Keuangan Daerah yaitu: X1 :
Kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM)
X2 : Komitmen atasan, X3 : Kejelasan tujuan
Definisi Operasional
Definisi operasional dari variabel-variabel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

M. Thoyib. Perilaku Organisasi


Variabel tergantung (Y) adalah Kemanfaatan
Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di
Sumatera Selatan, yang diartikan sebagai
rata-rata hasil penilaian yang dilakukan
oleh pejabat/pegawai terhadap penerapan
Sistem Akuntansi Keuangan Daerah yang
meliputi pengolahan dana, transparansi
pengolahan dana, akuntabilitas dan
kebijakan/pengambilan keputusan.
Indikator-indikator Kemanfaatan Sistem
Akuntansi
Keuangan
Daerah
yang
digunakan
adalah:1.Pengolahan
dana,
2.Transparan,
.3.Akuntabilitas,
.4.Tersedianya teknologi .5.Pengambilan
keputusan.
Untuk mendapatkan nilai total variabel
Kemanfaatan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah (Y) diperolah dari skor rata-rata
indikator
yang
digunakan
dengan
perhitungan sebagai berikut:
(Y1.1) + (Y1.2) + (Y1.3) + (Y1.4)+(Y1.5)
Y =
5
keterangan:
Y
= Variabel kemanfaatan Sistim
Akuntansi Keuangan Daerah
(Y1.1) hingga (Y1.5) = skor indikator yang
digunakan sebagai alat ukur, selanjutnya dari
indikator penelitian tersebut dijabarkan dalam
bentuk item-item pertanyaan. Di dalam setiap item
pertanyaan terdapat range skor (1 5). Masingmasing jawaban tersebut memiliki bobot skor yang
berberbeda. Dari proses pemberian skor ini akan
dihasilkan lima kategori jawaban, yaitu:
a. Kategori sangat baik, selalu berada di atas
standar (> 10% di atas standar) yang
ditentukan organisasi, diberi nilai skor sebesar
5
b. Kategori baik, berada si atas standar (sampai
dengan 10% di atas standar) yang ditentukan
organisasi, diberi nilai skor : 4
c. Kategori sedang/cukup, sama dengan standar
yang ditentukan organisasi, beri nilai skor : 3
d. Kategori kurang, di bawah standar (sampai
dengan 10% di bawah standar) yang
ditentukan organisasi, diberi nilai skor : 2
e. Kategori sangat kurang, tidak pernah
mendekati standar ( < 10% di bawah standar)
yang ditentukan organisasi, diberi nilai skor : 1
Nilai rata-rata dari masing-masing
responden dapat dikelompokkan dalam kelas
interval. Dengan jumlah kelas 5 (lima), maka
intervalnya dapat dihitung sebagai berikut:

Interval =

Nilai tertinggi - nilai terendah


Jumlah kelas

ILMIAH Volume I1 No.1, 2009


5-1
Interval =
5
interval = 0,8 (Nol Koma Delapan)
Dari informasi tersebut dapat ditentukan
skala distribusi kreteria penilaian yang dilakukan
oleh pengawas Sebagai berikut:
1,0 < 1,8
= Sangat kurang,
1,8 < 2,6
= Kurang,
2,6 < 3,4
= Sedang/cukup
3,4 < 4,2
= Baik,
4,2 < 5,0
= Sangat baik /istimewa
Variabel Bebas (X) faktor perilaku organisasi
yaitu:
1. Kapabilitas (X1)
Variabel Kapabilitas Sumber Daya
Manusia (SDM) merupakan rata-rata dari
pernyataan pejabat/pegawai terhadap kualifikasi
penggunaan teknologi, jumlah pegawai, wewenang
dan tanggung jawab pekerjaan dan sumber daya.
Variabel ini akan menghasilkan data dengan skala
ordinal. Untuk itu masing-masing pertanyaan akan
mempunyai skor mulai 1 hingga 5. adapun
indikator Kapabilitas Sumber Daya Manusia
(SDM) adalah sebagai berikut::1.Kualifikasi
pegawai.2. Jumlah pegawai 3. Kemampuan
menggunakan
teknologi.4
wewenang
dan
tanggung.5.Sumber daya pendukung
2.

Variabel Komitmen Atasan (X2)


Variabel dukungan atasan, merupakan
rata-rata dari pernyataan pejabat/pegawai terhadap
tingkat komitmen, perhatian, fasilitas yang
diberikan (sarana dan prasarana), capaian hasil/
target dan pengawasan. Variabel komitmen atasan
akan menghasilkan data skala ordinal. Untuk
masing-masing pertanyaan mempunyai nilai skor 1
hingga 5. adapun indikator untuk mengukur
dukungan atasan adalah sebagai berikut::1.Tingkat
komitmen atasan.2. Tingkat perhatian atasan
terhadap kegiatan 3. Fasilitas (sarana dan
prasarana) yang disediakan.4. Tingkat pencapaian
yang dicapai 5.Tingkat pengawasan
3.

Variabel Kejelasan Tujuan (X3)


Variabel Kejelasan Tujuan merupakan
rata-rata dari pernyataan pejabat/pegawai terhadap
tingkat kejelasan tujuan, kebersamaan menyusun
tujuan, kebersamaan merumuskan tujuan, tanggung
jawab
bersama,
pencapaian
target
yang
dilaksanakan. Variabel kejelasan tujuan akan
menghasilkan data skala ordinal. Untuk masingmasing pertanyaan mempunyai skor 1 hingga 5).
Adapun
indikator-indikator
variabel
kejelasan
tujuan
ini
adalah
sebagai
berikut:1.Tujuan yang jelas,.2.Keikutsertaan dalam
menyusun tujuan, 3. Kebersamaan merumuskan

M. Thoyib. Perilaku Organisasi


tujuan, merupakan kegiatan.4. Tanggung jawab, .5.
Pencapaian target.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi
penelitian
ini
adalah
pejabat/pegawai pada Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) yang ada pada kota dan kabupaten
di Sumatera Selatan, dapat dilihat pada tabel 1
berdasarkan SKPD kota dan kabupaten.
Pengambilan Sampel
Sampel penelitian dalam penelitian ini
diambil dengan menggunakan metode sensus
khususnya untuk kabupaten dan kota. Sementara
untuk menentukan jumlah responden digunakan
sampel random sampling 10% dari jumlah SKPD
yang diambil dari masing-masing kota dan
kabupaten. Setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah
diambil masing-maisng 3 responden yaitu kabag.
Perbendaharaan/sekretatis(Dinas,Badan,Kantor),
akuntansi/pengeluaran, dan anggaran/perencanaan
(Sumber Tabel 1 Populasi dan sampel).
Prosedur Pengumpulan Data
Jenis dan Sumber data
Data yang dilakukan dalam penelitian ini
dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Data primer
Data ini meliputi tentang faktor-faktor perilaku
organisasi, yaitu: Kapabilitas SDM, komitmen
atasan, kejelasan tujuan, serta kemanfaatan
Sistem Akuntansi Keuangan Daerah, data ini
diperolah dari responden (pejabat/pegawai) di
Satuan Kerja Perangkat Daerah melalui
wawancara dan penyebaran kuesioner.
2. Data Sekunder
Data yang dibutuhkan antara lain, jumlah
satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di 15
kota dan kabupaten dalam wilayah provinsi
Sumatera Selatan.
Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilaksanakan dengan
mengajukan kuesioner kepada responden dan
pejabat/pegawai, kuisioner yang sudah diisi
diperiksa mana yang memenuhi syarat dan mana
yang tidak memenuhi syarat dalam pengisiannya,
yang tidak memnuhi syarat di data ulang. secara
aktual. Informasi tersebut dapat diperoleh
melalui:Metode observasi, b.Metode kuisioner, c.
Metode wawancara, d. Uji validitas dan Uji
Reliabilitas Instrumen penelitian
Model dan Teknik Analisis
Model Analisis
Adapun formula dari model
regresi linier berganda tersebut adalah sebagai
berikut:
Y = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3 + E

ILMIAH Volume I1 No.1, 2009

M. Thoyib. Perilaku Organisasi

Teknik Analisis
Untuk mengetahui diterima atau tidaknya
hipotesis yang diajukan. Dilakukan analisis secara
kuantitaif dengan menggunakan regresi linier
berganda. Selanjutnya akan dilakukan pengujian
dengan menggunakan uji-F, uji-t.
Evaluasi Ekonometrika
Model linier berganda akan lebih tepat
digunakan dan menghasilkan nilai yang akurat jika
beberapa asumsi berikut ini terpenuhi, yaitu:
1. Multikolinieritas, 2.Heteroskedastisitas,
3. Autokorelasi
PEMBAHASAN
Uji Persyaratan Analisis
Sebelum dilakukan analisis data
dengan menggunakan analisis regresi ada
beberapa persyaratan analisis yang harus
dipenuhi, yaitu: (a) data harus mengikuti
distribusi normal, (b) data harus menunjukkan
adanya hubungan yang linier, dan (c) variasi
populasi antar kelompok homogen.
1. Uji Normalitas
Tabel 4.1.
Rangkuman Uji Normalitas Variabel X1,
X2, X3 dan Y

Berdasarkan
Tabel
4.2
dapat
disimpulkan bahwa data tersebut memiliki
varian yang tidak homogen.
Analisis Statistik Deskriptif
Deskripsi Variabel Kemanfaatan (Y),
Variabel Kapabilitas SDM (X1), Variabel
Komitmen atasan (X2), Variabel Kejelasan
Tujuan (X3) dapat diklasifikasikan dalam
katagori baik artinya bahwa Kemanfaatan
SAKD pada pemerintahan Kabupaten dan
Kota di Provinsi Sumatera Selatan sudah
relatif baik..
Analisis Statistik dengan Analisis Reresi Linier
Berganda

Tabel 4.3
Rangkuman Hasil Analisis Reresi Multiple
Model Summaryb
Model
1

R
R Square
.678a
.459

Adjusted
R Square
.451

Std. Error of
the Estimate
.5066

a. Predictors: (Constant), Tujuan Jelas, Kap. SDM,


Komitmen
b. Dependent Variable: Kemanfaatan

Kolmogorov-Smirnov
Variabel
Kemanfaatan (Y)

1.201

Asyimp. Sig
(2-tailed)
0,111

Kapabilitas SDM (X1)

1.284

0,087

Normal

Komitmen (X2)

1.101

0,193

Normal

Tujuan Jelas (X3)

1.140

0,149

Normal

K-S

Ket
Normal

Berdasarkan
Tabel
4.1
dapat
dinyatakan bahwa data dari keempat variabel
dalam penelitian ini mengikuti distribusi
normal.
2.

Uji Linieritas
Berdasarkan uji linieritas dapat
disimpulkan bahwa Ho diterima yaitu
sebaran data variabel kapabilitas SDM (X1),
Variabel Komitmen (X2), Variabel Kejelasan
Tujuan (X3) Ketiga Variabel
tersebut
membentuk garis lurus terhadap Variabel
Kemanfaatan (Y).

3. Uji Homogenitas
Tabel 4.2
Uji Homogenitas X1, X2 dan X3 terhadap Y
Kapabilitas SDM (X1)

Levene
Statistic
1.843

df1

df2

Sig.

13

177

0.040

Komitmen (X2)

2.379

12

180

0.007

Tujuan jelas (X3)

2.228

13

178

0.010

Dari Tabel 4.3 diperoleh nilai


koefesien korelasi ganda sebesar 0,678, berarti
terdapat hubungan positif yang moderat antara
kapabilitas SDM, komitmen dan tujuan jelas
dengan kemanfaatan SAKD. Selanjutnya,
koefisien determinasi (R Square) yang
diperoleh dari hasil perhitungan sebesar 0,459
yang memberi makna bahwa terdapat
pengaruh kapabilitas SDM, komitmen dan
tujuan jelas terhadap kemanfaatan sebesar
45,9%. Hal ini berarti bahwa semakin baik
kapabilitas SDM, komitmen dan tujuan jelas
maka
kemanfaatan
SAKD
pada
Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan
juga akan tinggi.
Tabel 4.4
Pengujian Secara Simulan dengan UJI-F
ANOVAb
Sum of
Squares
Model
1
Regression
41.410
Residual
48.757
Total
90.167

df
3
190
193

Mean Square
13.803
.257

F
53.790

Sig.
.000a

a. Predictors: (Constant), Tujuan Jelas, Kap. SDM, Komitmen


b. Dependent Variable: Kemanfaatan

Berdasarkan Tabel 4.4 diperoleh nilai Fhitung sebesar 53,790 dan nilai statistik
signifikansi pada uji-F sebesar 0,000, jauh
lebih kecil daripada nilai alpha yaitu sebesar
0,05 atau pada taraf kepercayaan 95%. Hal ini
mengindikasikan, bahwa variabel kapabilitas

ILMIAH Volume I1 No.1, 2009

M. Thoyib. Perilaku Organisasi

SDM, komitmen dan tujuan jelas berpengaruh


signifikan terhadap kemanfaatan SAKD pada
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan.
Tabel 4.5
Pengujian Secara Parsial dengan Uji-t

(Constant)
Kap. SDM
Komitmen
Tujuan Jelas

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
1.033
.259
.394
.078
-.047
.068
.429
.080

Standardized
Coefficients
Beta
.352
-.048
.428

t
3.991
5.065
-.689
5.390

Sig.
.000
.000
.492
.000

Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
.588
.586
.451

1.702
1.706
2.216

a. Dependent Variable: Kemanfaatan

a.

b.

Hasil diagnosa terhadap multikolinieritas


Model
1

Coefficientsa

Model
1

Tabel 4.6

Pengujian secara parsial dapat dilihat


pada Tabel 4.5 melalui uji-t, yang sekaligus
untuk
membuktikan
apakah
variabel
kapabilitas SDM (X1), variabel komitmen
(X2), dan variabel Tujuan jelas (X3)
berpengaruh dominan terhadap variabel
kemanfaatan SAKD (Y). Hasil analisis dengan
menggunakan program SPSS for Windows
versi 15 dapat dilihat seperti pada Tabel 4.5
berikut ini. dapat dinyatakan bahwa variabel
kapabilitas SDM berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kemanfaatan SAKD pada
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan.
dapat dinyatakan bahwa variabel komitmen
berpengaruh negatif dan tidak signifikan
terhadap
kemanfaatan
SAKD
pada
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan.
dapat dinyatakan bahwa variabel Tujuan Jelas
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kemanfaatan SAKD pada kabupaten/kota di
Provinsi Sumatera Selatan.
Berdasarkan
tabel
4.5
diperoleh
persamaan regresi sebagai berikut :
Y = 1,033 + 0,394 X1 0,047 X2 + 0,429 X3
(R2 = 0,459)
.
Berdasarkan hasil pengujian secara
parsial terlihat bahwa faktor tujuan jelas
merupakan faktor yang paling dominan
berpengaruh terhadap kemanfaatan SAKD
pada kabupaten/kota di Provinsi Sumatera
Selatan. Dilihat dari nilai koefesien
determinasi menunjukkan bahwa model
tersebut dapat menjelaskan variasi data sebesar
45,9 persen. Dengan kata lain, kemanfaatan
dipengaruhi oleh kapabilitas SDM, komitmen
dan Tujuan Jelas sebesar 45,9 persen,
sedangkan 54,1 persen lainnya dipengaruhi
oleh faktor lain.
Untuk meyakinkan bahwa pendugaan
model merupakan penduga yang BLUE (Best
Linier Unbiased Estimate), maka dilakukan
pengujian atau pemeriksaan terhadap sisaan.
Asumsi kenormalan:data mengikuti sebaran
normal baku dengan ditandai plot data yang
mengikuti garis lurus.
Pengujian multikolinieritas.

Kap. SDM
Komitmen
Tujuan Jelas

Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
.588
1.702
.586
1.706
.451
2.216

Berdasarkan table 4.6 Karena nilai


VIFnya masih jauh dibawah 5, bahkan sumber
lain (Ryan, 1997) menjelaskan terjadinya
kasus multikolinier jika VIF lebih besar dari
10.
KESIMPULAN
1. Hasil
pengujian
secara
simultan
menunjukkan bahwa variabel kapabilitas
SDM, komitmen dan tujuan jelas
berpengaruh
signifikan
terhadap
kemanfaatan SAKD pada kabupaten/kota
di Provinsi Sumatera Selatan dengan
koefesien determinasi sebesar 0,459 yang
memberi makna bahwa terdapat pengaruh
kapabilitas SDM, komitmen dan tujuan
jelas terhadap kemanfaatan sebesar
45,9%. Hal ini berarti bahwa semakin
baik kapabilitas SDM, komitmen dan
tujuan jelas maka kemanfaatan SKAD
pada
Kabupaten/Kota
di
Provinsi
Sumatera Selatan juga akan tinggi.
2. Hasil pengujian secara parsial, dari tiga
variabel bebas yang diamati, hanya ada du
variabel yang berpengaruh positif dan
signifikan, yaitu kapabilitas SDM (X1)
dan Tujuan jelas (X3), sedangkan satu
variabel
komitmen
(X2)
tidak
berpengaruh
signifikan
terhadap
kemanfaatan SAKD pada Kabupaten/Kota
di Provinsi Sumatera Selatan. Dari dua
faktor yang berpengaruh signifikan
tersebut ada satu faktor yang berpengaruh
dominan terhadap kemanfaatan SAKD
pada
Kabupaten/Kota
di
Provinsi
Sumatera Selatan juga akan tinggi, yaitu
Tujuan jelas (X3).
DAFTAR PUSTAKA
Alimbudiono, Rici Sandra Fidelis Arastyo Andono.
2004. Kesiapan Sumber Daya Manusia
sub Bagian Akuntansi Pemerintah Daerah
XYZ
dan
kaitannya
dengan
pertanggungjawaban keuangan daerah
kepada masyarakat. Renungan bagi
Akuntan Pendidik. Jurnal Akuntansi
Keuangan Sektor Publik. Vol. 05 No. 02
Hal 18-30

ILMIAH Volume I1 No.1, 2009


Bodnar, G.H dan William S., Hopwood. 2004.
Accounting Information System. Prentice
Hall International.6th.Ed.
Burhanudin. 2008. Implikasi Reformasi Sektor
Publik Terhadap Sistem Pengelolaan
Keuangan Daerah. Akuntabilitas: Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Akuntansi
Vol. 2 No. 2 Hal: 94 - 109
Cavalluzzo, Ken S dan Ittner, Christopher D. 2004.
Implementing Performance Measurement
Innovation: Evidance from government,
Accounting, Organization and Society 29.
Chenhall, R.H. 2004. The Role of Cognitif and
Affective
Conflict
in
Early
Implementation of Activity-Based Cost
Management. Behavioral Reaserch in
Accounting 16:19
Dinata, Anton Muthar. 2004. Tinjauan atas
kesiapan SDM pada Instansi Pemerintah
Kota Palembang dalam penerapan
Akuntansi Daerah menuju terciptanyan
Good Governance di era Otonomi Daerah.
Dirjen Otonomi Daerah. 2002. Kerangka Strategis
untuk Implementasi Reformasi Anggaran
Daerah, Makalah.
Fisman, Raymond & Roberta Gatti. 2002.
Decentralization and corruption: Evidence
across countries. Journal of Public
Economics 83: 325-345.
Forum dosen Akuntansi Sektor Publik. 2006.
Standar Akuntansi Pemerintah : Telaah
kritis PP No. 24 Tahun 2004. Yogyakarta:
BPFE
Gujarati, Damodar N. 2003. Hasil Econometric.
New York: Mc Graw-Hill
Hair, J.R., Anderson, R.E, Tatham, R.L, Black,
W.C. 1998. .Multivariate Data Analysis
Halim,
Abdul.
2004.
Otonomi
Daerah,
Penganggaran
Daerah
dan
Korupsi.Kajian Ilmiah (Makalah)
Hevesi, g. Alan. 2005. Standard for Internal
Control in new york state Government.
www.Osc. State.ny.us
Imelda. 2005. Pengaruh penerapan system
informasi Akuntansi Keuangan Daerah
(SIAKD) Terhadap pengelolaan keuangan
daerah
pada
pemerintah
provinis
Sumatera Selatan. Skripsi. Universitas
Sriwijaya, Indralaya.
Latifah, Lina. 2007. Faktor Keperilakuan
Organisasi dalam Implementasi Sistem

M. Thoyib. Perilaku Organisasi


Akuntansi Keuangan Daerah. Makasar.
Simposium Nasional Akuntansi X, 26-28
Juli
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen
Keuangan
Daerah,
Andi
Offset,
yogyakarta
-------------, 2004. Akuntansi Sektor Publik, Andi
offset, Yogyakarta.
Masud, Fuad. 2005. Mengajarkan Manajemen dan
Organisasi
di
Indonesia:
Upaya
Menyingkirkan
Ilusi..
EDENS.
Universitas Diponegoro.
Moenir. AS. 1990. Pendekatan Manusiawi dan
Organisasi Terhadap Pembinaan
Kepegawaian, Jakarta: PT. Gunung
Agung.
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia
Indonesia
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005,
Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun
2006, Perubahan atas Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah
Sedarmayanti.
2004.
Good
Governance
(kepemerintahan yang Baik), Mandar
Maju Bandung.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995.
Metode Penelitian Survai. Jakarta:
Pustaka LP3ES
Sudrajat SW. 1988. Mengenal Ekonometrika
Pemula, Bandung: Armico
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis.
Bandung: Alfabeta
Tim GTZ. USAID / CLEAN Urban. Januari 2001.
Pengembangan
Kapasitas
bagai
Pemerintah Daerah- Suatu kerangka bagi
pemerintah dan dukungan Laporan akhir:
Studi
pengkajian
kebutuhan
pengembangan kapasitas bagi Pemerintah
Daerah & DPRD
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintah Daerah..
Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang
Perimbangan
Keuangan
Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah
Walizer, Michael H. and Paul Wienr. 1993. Metode
dan
Analisis
Penelitian
Mencari
Hubungan, Terjemahan, Jilid I, Jakarta:
Penerbit
Erlangga