Anda di halaman 1dari 11

B.

Landasan (Teori) Hukum Otopsi


Praktik agama Islam yang paling sering di Timur Tengah, Afrika Utara dan

Barat, Tengah dan Asia Selatan, benua India, dan Melayu Nusantara, dan berpusat
di Afrika Timur, Semenanjung Balkan, Rusia, Eropa, dan China. Meskipun Qur'an
(Al-Quran) tidak secara langsung membahas otopsi atau pemeriksaan postmortem,
Islam mengandung banyak pemahaman tentang pemeriksaan postmortem ataupun
otopsi.1
Semua penemuan baru sebagai hasil dari perekembangan teknologi
tersebut, hendaknya disejalankan dengan kaidah-kaidah hukum Islam, seperti
otopsi menurut pandangan Hukum Islam.1
Ketika situasi kontemporer menantang hukum Islam, ulama yang ahli
dalam hadits mencari untuk menerbitkan sebuah fatwa, atau pendapat hukum.
Fatwa itu tidak mengikat, dan beberapa bisa eksis mengenai satu masalah.
interpretasi ini, oleh karena itu, dapat berkisar dari pandangan yang lebih baik
pada interpretasi modern.2 Permasalahan utama dalam Islam yang melibatkan
otopsi tidak berbeda dari agama-agama lain. otopsi menunda penguburan,
membahayakan tubuh, dan menghilangkan tubuh bagian. Manfaat yang sama
juga: otopsi dapat menyebabkan kemajuan ilmiah, diagnosa medis penting dan
meningkatkan pendidikan.3
Muslim menjalani beberapa tradisi setelah kematian. Mata dan mulut
harus ditutup dan anggota badan harus diluruskan. tubuh harus menghadapi
menuju Mekah, jika belum. Tubuh dicuci dan dibungkus dengan cara tertentu.
Beberapa keluarga dan anggota masyarakat melakukan takziah ke almarhum dan
berpartisipasi dalam proses kematian. Muslim selalu dikuburkan tanpa
pembalseman dan tidak pernah dikremasi. Almarhum harus dikubur sesegera
mungkin, biasanya dalam waktu 24 jam, dan penguburan harus sedekat mungkin
dengan lokasi kematian mungkin, sebaiknya dalam waktu 1-2 mil.3
Oleh karena itu jelas mengapa otopsi tidak didorong dalam tradisi Islam.
Pertama, pemeriksaan postmortem pasti akan menunda pemakaman. Syariah,
kitab hukum Islam, menyatakan bahwa pentingnya adalah "untuk membawa orang
yang meninggal lebih dekat dengan apa yang telah dipersiapkan Allah untuk dia /
nya," dan membawa hamba Allah lebih dekat kepada-Nya. 2 Sebuah tubuh

membusuk adalah . dianggap menjijikkan bagi orang lain.3 Akhirnya, penguburan


yang cepat bermanfaat untuk masyarakat: jika almarhum adalah orang yang baik,
maka akan menjadi perbuatan baik untuk mempercepat atau perjalanannya kepada
Allah; alternatif, itu yang akan membawa masyarakat untuk membebaskan diri
dari orang jahat secepat mungkin.2
Adapaun teori yang dapat menjawab persolan bedah mayat (otopsi) adalah
sebagai berikut :4
1.

Al-quran

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi,


dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah.
Tetapi barang siapa dalam keadan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa
baginya. (QS.Al Baqoroh : 173)
2. Kaidah-kaidah Fiqh4
-

Kemudaratan itu membolehkan hal-hal yang dilarang


-

Apabila dua mafsadah bertentangan, maka perhatikan mana yang lebih besar
mudaratnya dengan mengerjakan yang lebih ringan mudaratnya
-

Apabila kewajiban tidak bisa dilaksanakan karena dengan adanya suatu hal,
maka hal tersebut juga wajib
-

kemaslahatan publik didahulukan daripada kemaslahatan individu


-

kemudaratan yang khusus boleh dilaksanakan demi menolak kemudaratan yang


bersifat umum
Mashlahah adalah prinsip Islam "kepentingan publik." Ini menyatakan
bahwa ketika manfaat lebih besar daripada kerugian, pendekatan menguntungkan

harus diambil. Ini memiliki interpretasi yang luas dan pasti telah digunakan untuk
mendukung praktek otopsi. H. M. Makhluf tengara fatwa diterbitkan pada tahun
1952 dan merupakan sekolah Sunni pemikiran mengenai pemeriksaan
postmortem. Dia menjelaskan bahwa dokter hanya sepenuhnya berpendidikan
ketika ia memahami tubuh dalam dan luar, sehingga membuat diseksi manusia
yang diperlukan untuk pendidikan medis menyeluruh. Ia juga menyatakan bahwa
kemajuan dalam pengobatan didukung oleh tema-tema Syariah. Ini merupakan
interpretasi dari ide-ide Syariah tentang tidak menjalankan tugas agama jika
kesehatan akan menderita.5
Beberapa hal pokok hukum agama Islam tentang mayat :1
1.

Islam menyuruh menghormati mayat. Sesuai dengan firman Allah dalam

surat Al-Isra ayat 70


2.

Agama Islam melarang merusak tubuh mayat dan melanggar kehormatanya

3.

Agama Islam mengutamkan kepentingan orang hidup dari pada memelihara

keutuhan tubuh mayat


1.

Hukum Pembedahan Menurut Pandangan Ulama1,4

a Menurut Imam Ahmad bin Hambal


Seseorang yang sedang hamil dan kemudian ia meninggal dunia, maka
perutnya tidak perlu dibedah, kecuali sudah diyakini benar, bahwa janin yang ada
didalamnya masih hidup.
b.Menurut Imam Syafii
Jika seorang hamil, kemudia dia meninggal dunia dan ternyata janinnya masih
hidup, maka perutnya boleh dibedah untuk mengeluarkan janinnya. Begitu juga
hukumnya kalau dalam perut si mayat itu ada barang berharga.
c. Menurut Imam Malik
Seorang yang meninggal dunia dan didalam perutnya ada barang berharga,
maka mayat itu harus dibedah, baik barang itu milik sendiri maupun milik orang
lain. Tetapi tidak perlu (tidak boleh dibedah), kalau hanya untuk mengeluarkan
janinnya yang diperkirakan masih hidup.

d Menurut Imam Hanafi


Seandainya diperkirakan janin masih hidup, maka perutnya wajib dibedah untuk
mengeluarkan janin itu.1
2. Otopsi Bagi Kepentingan penegak Hukum13
Otopsi untuk pemeriksaan mayat demi kepentingan pengadilan dengan
maksud untuk mengetahui sebab-sebab kematianya di sebut juga obductie. Di
Indonesia masalah bedah mayat atau otopsi diatur dalam pasal 134 UU No 8
Tahun 1981 tentang hukum Acara pidana yang berbunyi sebagai berikut : Dalam
hal sangat dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi
dihindarkan, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga
korban. 1-3
Dalam hal keluarga keberatan penyidik wajib menerangkan dengan
jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukanya pembedahan tersebut.
Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang perlu diberitahu tidak ketemukan penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat 3 UU ini. 1-3
Pasal 133 dari UU tersebut berbunyi sebagai berikut : Dalam hal penyidik
untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik keracunan ataupun
mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran dan atau ahli
lainya. 1-3
Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 1-3
Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap
mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat yang dilakukan
dengan diberi cap jabatan yang diletakan pada ibu jari kaki atau bagian lain pada
mayat. 1-3
Berpijak dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa otopsi
atau bedah mayat adalah suatu pembedahan atau pemeriksaan pada mayat yang

dilakukan oleh para tim dokter ahli dengan dilandasi oleh maksud atau
kepentingan tertentu untuk mengetahui sebab-sebab kematian mayat. 1-3
Untuk mengetahui status hukum terhadap tindakan otopsi mayat yang
digunakan sebagai pembuktian hukum di pengadilan dengan menggunakan teori
Qawaid al-Fiqhiyah dapat diterapkan kaidah-kaidah berikut ; 1-3
a.

Kaidah Pertama


kemudaratan yang khusus boleh dilaksanakan demi menolak kemudaratan yang
bersifat umum
Berdasarkan kaidah di atas, kemadharatan yang bersifat khusus boleh
dilaksanakan demi menolak kemadharatan yang bersifat umum. Sebuah tindakan
pembunuhan misalnya, adalah tergolong tindak pidana yang mengancam
kepentingan publik atau mendatangkan mudaharat am. Untuk menyelamatkan
masyarakat dari rangkaian tindak pembunuhan maka terhadap pelakunya harus
diadili dan dihukum sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Bukti-bukti atas
tindakan pembunuhan yang dilakukanya harus diperkuat agar ia dapat dihukum
dan jangan sampai bebas dalam proses pengadilan, sungguhpun untuk pembuktian
itu harus dengan melakukan otopsi atau membedah mayat korban.
Didalam hukum Islam. Suatu tindakan yang dilandasi oleh alasan untuk
menjamin keamanan dan keselamatan diri orang yang hidup harus lebih
diutamakan daripada orang yang sudah mati.
b. Kaidah Kedua

Kemudaratan itu membolehkan hal-hal yang dilarang
Dari kaidah kedua dapat dipahami bahwa persolanan darurat itu
membolehkan sesuatu yang semula diharamkan. Berangkat dari fenomena di atas,
maka otopsi forensik sangat penting kedudukanya sebagai metode bantu
pengungkapan kematian yang diduga karena tindak pidana. Dengan melaksanakan
otopsi forensik maka dapat dipecahkan misteri kematian yang berupa sebab
kematian, cara kematian, dan saat kematian korban.
c.

Kaidah Ketiga

Tiada keharamna dalam kondisi darurat, dan tidak ada makruh dalam kondisi
hajat
Kaidah ketiga ini menyatakan bahwa tiadanya keharaman dalam kondisi
darurat, seperti halnya tidak adanya kemakaruhan dalam kondisi hajat. Maka jika
otopsi di atas dipahami sebagai hal yang bersifat darurat, artinya satu-satunya cara
membuktikan, maka otopsi itu sudah menempati level darurat, dan karena itu
status hukumnya dibolehkan.
d. Kaidah Ke empat

Kperluan dapat menduduki posisi keadaan darurat
Kaidah keempat di atas dapat memperkuat argumentasi kaidah
sebelumnya. Maka kaidah ini adalah hajat menempati kedudukan darurat, baik
hajat umum maupun hajat yang bersifat perorangan.
Hukum Mesir menyatakan bahwa autopsi hanya dapat dilakukan
bila ada usulan bahwa kematian itu disebabkan oleh kecurangan. Hukum Arab
Saudi menggambarkan jalur kaku dimulai dengan kebutuhan dokter untuk
melaporkan kematian yang diperkirakan terjadi akibat racun atau kejahatan.
Dokter harus menjelaskan luka yang menyebabkan dia untuk keyakinan ini, dan
informasi ini akan diteruskan ke ahli forensik, yang akan melakukan pemeriksaan
luar tubuh serta benda yang menyertainya (misalnya, pakaian dan benda pribadi).
Jika ahli menganggap bahwa pemeriksaan internal penuh diperlukan untuk
mengidentifikasi penyebab kematian, ia harus mendapatkan izin dari pihak
berwenang 4
3. Otopsi untuk Menyelamtkan Janin dalam Rahim1-3
Dalam menentukan status hukum masalah otopsi untuk menyelamtkan
janin yang masih hidup di dalam rahim mayat dapat diterapkan kaidah-kaidah
berikut :

Apabila dua mafsadah bertentangan, maka perhatikan mana yang lebih besar
mudaratnya dengan mengerjakan yang lebih ringan mudaratnya

Kemudaratan yang lebih berat dihilangkan dengan kemudaratan yang lebih


ringan
Dengan kaidah tesebut dapat dipahami bahwa apabila dua mafsadah
bertemu dalam suatu waktu, dan kedua mafsadah itu saling bertentangan, maka
harus diperhatikan mana yang lebih besar madhartnya dengan mengerjakan yang
lebih ringan madharatnya. 1-3
Jika kaidah kedua tersebut di atas di aplikasikan dalam kasus otopsi untuk
menyelamtkan janin yang masih hidup dalam perut, maka pilihan yang harus
diambil adalah kemaslahatan orang yang hidup. Artinya kemaslahatan janin harus
lebih diutamakan dari pada orang yang mati (mayat). 1-3
Bahkan dalam persoalan ini Al-Syirahi berpendapat bahwa wajib
hukumnya membedahkan mayat bila mengandung janin yang masih hidup.
Karena janin tersebut tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya, maka orang
hiduplah yang berkewajiban untuk menolongnya meskipun dengan melalui
pembedahan mayat, ia mengatakan : 1-3

Tetapi kaidah fiqih juga membatasi tindakan yang dilakukan terhadap mayat yaitu
tidak boleh melewati batasbatas tertentu atau melewati batas-batas yang menjadi
hajat diadakanya pembedahan itu, seperti kaidah berikut :
2. Otopsi Untuk mengeluarkan Benda yang Berharga
Pada bagian terdahulu diuraikan contoh kasus ini, yakni seseorang
menelan sesuatu yang bukan miliknya yang mengakibatkan ia meninggal dunia,
selanjutnya pemilik menuntut agar barang yang ada diperut mayat dikembalikan
kepadanya. 1-3
Dalam hal di atas tidak ada cara lain yang bias ditempuh kecuali dengan
membedah mayat itu untuk mengeluarkan barang yang ada di perut mayat.
Melihat persolan seperti kasus di atas, perlu ditentukan status hukum bedah mayat
tersebut apakah dibolehkan atau diharamkan. Berdasarkan ajaran Islam haram
hukumnya seseorang menguasai suatu barang yang bukan haknya. Tindakan yang
demikian akan menjadi ganjalan bagi orang yang mati di alam sesudahnya

kematianya karena ia masih terkait dengan hak orang lain. Maka kaidah yang
tepat dalam persoalan seperti ini bisa dikaitkan dengan kaidah-kaidah di atas yang
menjelaskan tentang kemudaratan1-3
Syariah mendorong mempertahankan tubuh dalam bentuk aslinya dan
menjaganya agar tetap sebagai dekat dengan situs kematian mungkin, yang
keduanya akan dilanggar dengan melakukan autopsi. Mengangkut tubuh untuk
laboratorium dapat menyebabkan kerusakan fisik dan memindahkan tubuh jauh
dari lokasi kematian. Sarjana Abd al-Fattah menyatakan bahwa tubuh yang telah
kehilangan bentuk manusia yang telah kehilangan martabatnya, yang merupakan
dosa yang serius. 2 Namun, Syariah berisi beberapa pengecualian untuk ini juga.
Ini menjelaskan bahwa jika seseorang telah menelan uang yang dimiliki orang
lain, dapat diterima untuk mengambil uang yang keluar dari perut orang yang
sudah meninggal untuk membayar utangnya, sehingga mencegah kerugian bagi
ahli warisnya. Selain itu, jika seorang wanita meninggal selama kehamilan dan
janin diyakini hidup, beberapa sekte Islam percaya bahwa itu adalah tepat untuk
mengeluarkan janin dengan sayatan. 5

4. Otopsi Untuk Penelitian Ilmu Kedokteran


Menurut Umar Hubais mempelajari ilmu kedokteran adalah wajib atau
fardhu kifayah bagi umat Islam, karena Rasul sendiri berobat, memberi obat serta
menganjurkan untuk berobat sebagaimana sabdanya :4
:
. : : :
, :
, , :
Salah satu ilmu kedokteran yang sangat penting adalah ilmu bedah. Ilmu
ini menghajatkan pengetahuan yang luas dan dalam tentang anatomi dan fisiologi
tubuh manusia. Untuk mengembangkan ilmu ini maka penyelidikan terhadap
organ tubuh manusia menjadi sesuatu yang tidak mungkin dihindarkan, jika perlu
mengadakan pembedahan dan pemeriksaan tubuh mayat, memeriksa susunan
syaraf, rongga perut dalam rangka. Hal demikian dimaksudkan agar seorang

tenaga medis (dokter) dapat menunaikan tugas profesionalnya dengan baik,


memberikan pengobatan dan menyembuhkan penyakit yang diderita pasien.
Komite Fatwa al-Azhar tahun 1982 juga didasarkan tunjangan mereka
pada mashlahah: otopsi harus diizinkan jika mahasiswa kedokteran akan belajar
dari mereka, jika keadilan berlaku, dan jika penyakit menular dikendalikan.
Namun, pemeriksaan harus dilakukan hanya bila diperlukan dan hanya mencakup
rongga tubuh yang relevan. Misalnya, dalam kasus evaluasi forensik untuk potensi
pembunuhan, jika pembunuh mengaku dan bersedia untuk mengambil hukuman
yang tepat, maka otopsi tidak perlu. 5
Dalam tinjauan Qawaid Fiqhiyah, status hukum bedah mayat untuk
keperluan penelitian ilmu kedokteran dapat ditentukan dengan menggunakan
kaidah-kaidah berikut 1-3
a.

Kaidah Pertama


Apabila kewajiban tidak bisa dilaksanakan karena dengan adanya suatu hal,
maka hal tersebut juga wajib
Melalui kaidah pertama ini, dapat dipahami bahwa sebuah kewajiban yang
tidak sempurna pelaksanaanya tanpa adanya dukungan sesuatu, maka sesuatu
tersebut hukumnya wajib pula. Dalam kasus di atas, apabila seorang dokter tidak
akan bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan baik kecuali bila ia memahami
seluk beluk anatomi tubuh manusia, maka untuk kepentingan yang sesuai dengan
profesinya ia harus memahami seluk-beluk anatomi tubuh manusia, meskipun
dengan jalan melakukan pembedahan terhadap mayat.
b. Kaidah Kedua

Sebuah sarana sama hukumnya dengan tujuan
Melalui kaidah ini dapat dijelaskan, bahwa sebuah sarana hukumnya sama
dengan tujuan. Misalnya agama Islam mewajibkan kepada umatnya untuk
memelihara kesehatan, maka mempelajari ilmu tentang kesehatan hukumnya
wajib pula. Konsekuensi lanjutanya adalah wajib pula menyiapkan prasarana
dalam menuntut ilmu kesehatan, termasuk sarana pratikum seperti mempelajari
anatomi tubuh manusia.

Hal ini umumnya sepakat bahwa otopsi terhadap orang tak dikenal setelah
kecelakaan parah dibenarkan dan tidak melanggar hukum Islam. Selain itu, ketika
hukum negara mengharuskan otopsi dilakukan, Muslim harus mematuhi tapi
menginformasikan kantor koroner sehingga pengaturan dapat dilakukan untuk
melanjutkan dengan cepat.6 Di negara-negara Islam, ketika persetujuan dari
keluarga yang dibutuhkan, urutan prioritas adalah sebagai berikut :4

Ayah, anak, ibu


Saudara-saudara, istri, kakek, cucu
Sepupu dari ayah dan paman ibu

DAFTAR PUSTAKA

1. Djazuli,

Kaidah-Kaidah

Fikih

Kaidah-kaidah

hukum

Islam

dalam

menyeleseaikan Masalah-masalah yang Praktis, Jakarta: Kencana, 2010


2. Rispler-Chaim V. The ethics of postmortem examinations in contemporary
Islam. J Med Ethics. 1993 Sep. 19(3):164-8. [Medline]. [Full Text].
3. Atighetchi

D. Islamic

Bioethics:

Problems

and

Perspectives.

The

Netherlands: Springer; 2007.


4. 4.. M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah pada Masalah-masalah
Kontemporer Hukum Islam, cet kedua, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1997)
5. Gatrad AR. Muslim customs surrounding death, bereavement, postmortem
examinations, and organ transplants. BMJ. 1994 Aug 20-27. 309(6953):5213. [Medline]. [Full Text].
6. Sheikh A. Death and dying--a Muslim perspective. J R Soc Med. 1998 Mar.
91(3):138-40. [Medline]. [Full Text]