Anda di halaman 1dari 20

TEORI-TEORI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

(TEORI PSIKOANALISIS DAN KOGNITIF)

Disusun Oleh :
Fajar Rifki Fauzan
Fiqram Iqra Pradana
Hari Nugraha
Ira Nuryani Fazriati
Irni Suandari

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI


SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Jln. A.H. Nasution No. 105 Bandung

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaniirrahim
Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahnya
sehingga penulisan makalah Psikologi Perkembangan yang berjudul Teori Psikologi
Perkembangan (Psikoanalitis dan Kognitif) InsyaAllah di beri kemudahan dan kelancaran
dalam penyusunan dan yang terpenting dari itu semoga isi dari makalah ini memuat kebenaran
sehingga kita sebagai kaum intelektual muslim dapat semakin bijak menghadapi kehidupan
modern di zaman ini.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa umat manusia ini ke jalan yang benar.
Makalah ini merupakan salah satu bentuk pemenuhan tugas perkuliahan, mata kuliah
Psikologi Perkembangan yang diampu oleh Drs. Muhtar Gojali, M.Ag. Dalam proses
penyajiannya, makalah ini berusaha ditulis dengan baik. Sejumlah sumber kami gunakan untuk
membantu kami dalam memahami beberap teori psikologi perkembangan khususnya teori
psikoanalisa dan kognitif.
Akhirnya, kami menunggu koreksi serta saran dari pembaca sebagai bentuk apresiasi,
sekaligus motivasi kepada kami untuk terus mencari pengetahuan yang lebih. Karena melalui hal
tersebut, kami mengharapkan akan muncul nilai-nilai kritis yang mampu membangun pola pikir
yang baik dan benar untuk dijadikan alat dalam membangun diri khususnya maupun tatanan
masyarakat pada umunya menjadi lebih baik.
Akhir kata kami mohon maaf dari segala kekurangan dalam penulisan makalah ini.

Bandung, 09 November 2014

Kelompok 6

BAB I
PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Kumpulan fakta yang diikat oleh suatu hukum tertentu akan menjadi pandangan yang
berlaku umum kemudian disebut sebagai teori. Suatu teori harus memenuhi syarat-syarat formal
(Miller,1989) yaitu:
1. Teori harus masuk akal (logis); didalamnya konsisten artinya tidak ada pernyataanpernyataan yang saliong bertentangan.
2. Teori secara empiris harus masuk akal; artinya tidak ada pengamatan ilmiah yang
saling berlawanan.
3. Teori harus diuji dan bersifat hemat; artinya sedapat mungkin terdiri dari beberapa
konstruk, proposisi.
4. Teori harus mempunyai cakupan ilmu yang cukup luas dan mampu mengintegrasikan
peneliti terdahulu.
Sebuah teori merupakan kumpulan ide yang logis dan saling berhubungan yang
membantu memberi penjelasan dan membuat prediksi1.
Sebagai salah satu bidang dari psikologi dan sebagai ilmu, psikologi perkembangan
memiliki teori-teori yang ada sampai sekarang dan dapat digunakan sebagai kerangka acuan
untuk memahami perubahan tingkah laku manusia sesuai dengan perubahan waktu atau zaman.

B. RUMUSAN MASALAH
1 John W.Santrock, Perkembangan Anak, hal. 42

1. Apa yang dimaksud dengan teori dan perkembangan?


2. Bagaimana teori psikoanalitis dalam psikologi perkembangan?
3. Bagaimana teori kognitif dalam psikologi perkembangan?

C. TUJUAN
Dari rumusan masalah diatas dapat dirumuskan beberapa tujuan pembahasan. Adapun tujuannya
yakni sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian perkembangan dalam psikologi
2. Mengetahui teori psikoanalisis dalam psikologi perkembangan
3. Mengetahui teori kognitif dalam psikologi perkembangan
4. sebagai bahan kajian diskusi

BAB II
PEMBAHASAN

A.

PENGERTIAN TEORI DAN PERKEMBANGAN


Teori dapat diartikan sebagai model tentang kenyataan yang membantu kita untuk
memahami, menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol tentang kenyataan tersebut2.
Teori juga dapat diartikan sebagai (a) sekumpulan atau aeperangkat asumsi (dugaan,
perkiraan, atau anggapan) yang relevan, dan secara sistematis saling berkaitan; (b) hipotesis atau
spekulasi tentang kenyataan, dan (c) sekumpulan asumsi tentang keterkaitan antara peristiwaperistiwa empiris (fenomena)3.
Dalam ilmu pengetahuan (science), teori memegang peranan yang sangat penting, karena
merupakan dasar atau landasan dari ilmu pengetahuan tersebut. Teori merupakan spekulasi, yaitu
sesuatu yang belum terbukti kebenarannya. Teori yang sudah terbukti kebenarannya dinamakan
fakta (hasil observasi atau verifikasi tentang dunia empiris).
Teori berfungsi sebagai berikut: (a) mengarahkan perhatian, atau arah penelitian, dalam
arti membantu penentuan fakta-fakta mana yang relevan bagi satu penelitian, (b) merangkum
pengetahuan dalam bentuk generalisasi, atau prinsip-prinsi, sehingga dapat memfasilitasi
(mempermudah) pemahaman tentang fenomena yang kompleks, dan (c) memprediksi atau
meramalakan fakta, peristiwa yang akan datang dengan mempelajari kondisi atau fenomena yang
berkaitan. Sementara fakta berfungsi untuk (a) menolak teori yang ada, (b) melahirkan teori baru,
dan (c) mempertajam atau memperhalus rumusan teori yang telah ada.
Stefflre dan Matheny mengemukakan bahwa teori itu mempunyai ciri-ciri: (a) jalas, dapat
dipahami, (b) komprehensif, dapat menjelaskan banyak fenomena yang berkaitan, (c) eksplisit,
faktanya dapat diuji/dites, (d) persimoni, dapat menjelaskan data secara sederhana, dan dapat
menghasilkan penelitian lanjutan yang berguna.melalui

Apa sebenarnya pengertian perkembangan itu? Istilah perkembangan (development) dan


pertumbuhan (growth) dalam pengertian biasa memang hampir sama. Keduanya dapat diartikan
2 Prof.Dr.Syamsu Yusuf LN,M.Pd & Prof.Dr.A.Juantika Nurihsan,M.Pd, Teori
kepribadian (C.George Boeree,2005:1). Hal 2
3 Ibid, hal 2

adanya perubahan dari keadaan sesuatu kekeadaan yang lain. Namun pada istilah pertumbuhan
dititik beratkan pada perubahan fisik, sedangkan istilah perkembangan digunakan kalau lebih
menekankan pada perubahan psikis.
Sebagaimana Monks dkk. menuliskan istilah pertumbuhan khusus dimaksudkan bagi
pertumbuhan dalam ukuran-ukuran badan dan fungsi fisik yang murni, sedangkan istilah
perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala psikologik yang
nampak4. Dan tidak dapat disangkal bahwasannya pertumbuhan fisik mempengaruhi
perkembangan psikis, karena keduanya memang tidak dapat dipisahkan.
Dalam penjelasan mengenai teori perkembangan terdapat perbedaan di dalam memahami
apa yang termasuk dalam perkembangan dan mengenai cara perkembangan berlangsung. Namun
terdapat beberapa prinsip umum yang didukung hampir semua ahli, yaitu :
a. Manusia berkembang dalam tingkat yang berbeda
Dalam kelas anda akan memiliki seluruh benangan contoh mengenai tingkat perkembangan
yang berbeda. Beberapa siswa akan lebih besar, terkoordinasi lebih baik, atau lebih dewasa
dibannding dengan yabg lainnya.
b. Perkembangan relatif runtut
Orang cenderung mengembangkan kemampuan tertentu sebelum kemampuan yang lain.
c.

Perkembangan berjalan secara gradual


Sangat jarang perubahan terjadi setiap hari. Jadi di dalam perkembangan manusia
membutuhkan waktu, dan perkembangan itu berjalan relatif sangat lambat dan tidak setiap
hari berlangsung5.

B.

TEORI PSIKOANALISIS
Menurut teori psikoanalisis (psychoanalytic theory), proses perkembangan terutama
berlangsung secara tidak disadari atau unconscious (di luar kesadaran) dan sangat diwarnai oleh
emosi. Para ahli teori psikoanalisis menekankan bahwa perilaku hanyalah merupakan
4 Tim Penulis Buku Psikologis Pendidikan, Psikologi Pendidikan. Hal 22-23
5 Woolfolk, Anita E dan Nicolich, Lorrain McCune. Mengembangkan Kepribadian &
Kecerdasan Anak-Anak (Psikologi Pembelajaran I). hal 57-58

karakteristik dipermukaan. Pemahaman sepenuhnya mengenai perkembangan hanya dapat


dicapai melalui analisis terhadap makna-makna simbolis dari perilaku serta menelaah pikiran
yang lebih dalam. Ahli teori psikoanalisis juga menekankan bahwa pengalaman di masa awal
dengan orang tua memiliki pengaruh yang luas terhadap perkembangan. Karakteristikkarakteristik ini disoroti dalam teori psikoanalisis utama, yaitu oleh Sigmund Freud6.
1. Teori Freud
Freud (1856-1939) mengembangkan teori psikoanalisisnya berdasarkan pengalamannya
dalam menangani kehidupan mental pasien-pasiennya. Sebagai seorang dokter yang
mengambil spesialis di bidang neurologi, Freud meluangkan sebagian besar masa hidupnya di
Wina. Menjelang akhir karirnya, Freud pindah ke London untuk melarikan diri dari rezim
Nazi yang anti-Yahudi.
a. Struktur kepribadian
Freud (1917) menyatakan bahwa kepribadian memiliki tiga struktur, yaitu: id, ego dan
superego. Id terdiri dari insting, yang merupakan persendian energy psikis individu. Dalam
pandangan Freud, id sepenuhnya tidak disadari; id tidak memiliki kontak dengan realitas.
Ketika anak-anak mengalami berbagai tuntutan dan pembatasan realitas, muncul sebuah
struktur baru dari kepribadian ego, yang menangani tuntutan realitas. Ego disebut juga
cabang eksekutif dari kepribadian karena ego membuat keputusan rasional.
Id dan ego tidak mempertimbangkan moralitas, keduanya tidak mempertimbangkan apakah
sesuatu itu benar atau salah. Superego sering kali kita juluki sebagai hati nurani. Anda
mungkin mulai merasakan bahwa id dan superego membuat kehidupan menjadi lebih sukar
bagi ego. Ego anda mungkin berkata, saya hanya kadang-kadang melakukan hubungan
seks dan disertai dengan upaya pencegahan kehamilan karena saya tidak ingin memiliki
seorang anak yang dapat mengganggu perkembangan karir saya. Meskipun demikian, id
anda mengatakan, saya ingin dipuaskan; seks itu menyenangkan. Superego anda juga
mengatakan, saya merasa bersalah apanila melakukan hubungan seks.
Menurut Freud kepribadian dapat diumpamakan sebagai sebuah gunung es. Sebagian besar
kepribadian kita terletak di bawah tingkat kesadaran kita, seperti halnya sebagian besar dari
sebuah gunung es itu terletak di bawah permukaan air.
b. Tahap-tahap Perkembangan
Ketika Freud mendengarkan, menggali dan menganalisis pasien-pasiennya, ia menjadi
yakin bahwa masalah mereka bersumber dari pengalaman-pengalaman di masa awal
6 John W.Santrock, Remaja. Hal 46

kehidupan. Menurut Freud, manusia akan melalui lima tahap perkembangan psikoseksual
dan di setiap tahap perkembangan individu memperoleh kenikmatan di suatu bagian tubuh
tertentu.

Tahap oral (oral stage). Tahap oral adalah tahap perkembangan Freudian yang
pertama, yang berlangsung selama 18 bulan pertama dari kehidupan, dimana
kenikmatan bayi dipusatkan di daerah mulut. Mengunyah, mengisap, dan menggigit
menjadi sumber kepuasan yang utama. Aksi-aksi ini dapat meredakan ketegangan

pada bayi.
Tahap anal (anal stage). Tahap anal adalah tahap perkembangan Freudian yang
kedua, yang berlangsung antara usia 1 setengah tahun hingga 3 tahun, di mana
kenikmatan terbesar diperoleh anak di daerah anus atau di fungsi pengeluaran yang
terhubung dengan anus. Menurut Freud, latihan otot anal dapat meredakan

ketenangan.
Tahap falik (Phallic stage). Tahap falik adalah tahap perkembangan Freudian yang
ketiga, yang berlangsung antara usia 3 tahun hingga 6 tahun; nama tersebut berasal
dari kata Latin Phallus, yang berarti penis. Selama tahap falik, kenikmatan
dipusatkan di daerah genital, di mana ini terjadi ketika anak menemukan bahwa
manipulasi diri itu menyenangkan.
menurut Freud, secara khusus tahap falik adalah tahap perkembangan kepribadian
karena di periode inilah muncul kompleks Oedipus. Nama ini berasal dari mitologi
Yunani, di mana Oedipus, anak laki-laki dari Raja Thebes, tanpa disengaja
membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Meurut teori Freud, kompleks Oedipus
(Oedipus complex) adalah hasrat yang kuat dari seorang anak kecil untuk
menggantikan kedudukan orang tua yang berjenis kelamin sama dan menikmati
afeksi yang diperoleh dari orang tua yang berjenis kelamin berbeda. Konsep Freud
mengenai kompleks Oedipus ini dikritik oleh sejumlah psikoanalisis dan penulis.
Bagaimana kompleks Oedipus ini diselesaikan? Sekitar usia 5 hingga 6 tahun, anakanak mengetahui bahwa orang tua mereka yang berjenis kelamin sama itu
menghukumnya karena memiliki harapan inses. Untuk meredakan konflik antara
ketakutan dan hasrat, anak beridentifikasi dengan orang tua yang berjenis kelamin
sama dan berjuan agar dapat menyeru[ainya. Menurut Freud, apabila konflik ini
tidak terselesaikan, individu akan terfiksasi pada tahap falik.

Tahap laten (latency stage). Tahap laten adalah tahap perkembangan Freudian
yang keempat, yang berlangsung antara usia 6 tahun hingga pubertas; anak
menekan semua minat dalam hal seksualitas serta mengembangkan keterampilan
sosial dan intelektual.aktivitas ini dapat menyalurkan sebagian besar energy anak ke
dalam bidang-bidang kehidupan emosional yang aman dan dapat membantu anak

untuk melupakan konflik yang sangat mengganggu di tahap falik.


Tahap genital (genital stage). Tahap genital adalah tahap perkembangan Freudian
yang kelima dan terkahir, yang berlansung sejak masa remaja hingga ke masa
selanjutnya. Tahap genital adalah masa dari kebangkitan seksual; kini sumber
kenikmatan seksual terletak di luar keluarga. Menurut Freud, konflik-konflik
dengan orang tua yang tidak terselesaikan akan muncul kembali di masa remaja.
Apabila konflik-konflik ini terselesaikan, individu akan mampu mengembangkan
relasi cinta yang matang dan berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa.

c. Revisi terhadap teori Freud


teori Freud telah mengalami revisi yang penting dari sejumlah ahli teori psikoanalisis.
Dibandingkan dengan Freud, sebagian besar ahli teori psikoanalisis kontenporer kurang
menekankan peranan insting seksual namun lebih menekankan pada pengalaman budaya
sebagai determina-determinan dari perkembangan. Meskipun pikiran-pikiran yang tidak
disadari masih merupakan suatu tema yang sentral, sebagian besar psikoanalisis
kontenporer menyatakan bahwa pikiran yang disadari memainkan peranan yang lebih
besar dibandingkan yang digambarkan oleh Freud. Kaum feminis juga mengajukan kritik
terhadap teori Freud. Selanjutnya, kita akan menguraikan gagasan gagasan dari tokoh
yang merevisi gagasan-gagasan Freud yaitu Erik Erikson.
2. Teori Erikson
Erik Erikson mengakui kontribusi Freud tetapi percaya bahwa Freud salah menilai beberapa
dimensi penting dari perkembangan manusia. Erikson mengatakan bahwa kita berkembang
dalam tahap psikososial, daripada dalam tahap psikoseksual. Bagi Freud, motivasi utama
perilaku manusia bersifat seksual secara alami, bagi Erikson motivasi utama manusia bersifat
sosial dan mencerminkan suatu keinginan untuk berhubungan dengan orang lain. Erikson

menekankan perubahan perkembangan sepanjang kehidupan manusia, sedangkan Freud


menyatakan bahwa kepribadian dasar kita terbentuk pada lima tahun pertama kehidupan.
Dalam teori Erikson, delapan tahap perkembangan berkembang sepanjang kehidupan. Tiap
tahap terdiri dari tugas perkembangan yang unik yang menghadapkan seseorang pada suatu
krisis yang harus dipecahkan menurut Erikson, krisis ini bukanlah musibah melainkan titik
balik meningkatnya kelemahan dan kemampuan. Semakin berhasil seseorang menyelesaikan
krisis yang dihadapi, akan semakin sehat perkembangannya. Berikut delapan tahap
perkembangan menurut Erikson:
1. Kepercayaan versus ketidakpercayaan (trust versus mistrust) adalah tahap psikososial
Erikson yang pertama, yang dialami pada tahun pertama kehidupan. Rasa percaya
melibatkan rasa nyaman secara fisik dan tidak ada rasa takut atau kecemasan akan masa
depan. Rasa percaa yang dirasakan bayi akan menjadi fondasi kepercayaan sepanjang
hidup bahwa dunia kan menjadi tempat yang abik dan menyenangkan untuk ditinggali.
2. otonomi versus malu dan ragu-ragu (autonomy versus doubt and shame) adalah tahap
perkembangan Erikson yang kedua. Tahap ini terjadi pada masa bayi dan masa kanakkanak awal (1-3 tahun). Setelah mendapatkan rasa percaya pengasuh, bayi mulai
mengetahui bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai
menyatakan kemandirian mereka, atau disebut otonomi. Mereka menyadari keinginan
mereka. Jika anak terlalu dibatasi atau dihukum dengan keras, mereka mungkin akan
memunculkan rasa malu atau ragu-ragu.
3. inisiatif versus rasa bersalah (initiative versus guilt), tahap perkembangan Erikson yang
ketiga, terjadi selam tahun prasekolah. Begitu anak prasekolah memasuki duia sosial yang
lebih luas, mereka menghadapi lebih banyak tantangan daripada ketika mereka bayi.
Perilaku aktif dan bertujuan diperlukan untuk menghadapi tantangan ini. Anak diminta
untuk memikirkan tanggung jawab terhadap tubuh, perilaku, mainan, dan hewan peliharaan
mereka. Mengembangkan rasa tanggung jawab meningkatkan inisiatif. Meskipun
demikian, rasa bersalah yang tidak nyaman dapat muncul, jika anak tidak bertanggung
jawab dan dibuat merasa sangat cemas. Erikson memiliki pandangan positif terhadap tahap
ini. Ia percaya bahwa sebagian besar rasa bersalah dengan cepat digantikan oleh rasa ingin
berprestasi.

4. Kerja keras versus rasa inferior (industry versus inferiority) adalah tahap perkembangan
Erikson yang keempat, terjadi disekitar tahun sekolah dasar. Inisiatif anak membawa
mereka berhubungan dengan banyak pengalaman baru. Saat mereka berpindah ke masa
kanak-kanak tengah dan akhir, mereka mengarahkan energy mereka menuju penguasaan
pengetahuan dan keterampilan intelektual. Di waktu yang sama pula anak menjadi lebih
antusias mengenai belajar dibandingkan dengan akhir periode kanak-kanak awal yang
penuh imajinasi. Kemungkinana lain dalam tahun sekolah dasar adalah bahwa anak dapat
memunculkan rasa inferior merasa tidak kompeten dan tidak produktif. Erikson percaya
bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan keaktifan anak. Guru
harus dengan lembut tetapi tegas mengajak anak ke dalam petualangan menemukan
bahwa seseorang dapat belajar mencapai sesuatu yang tidak pernah terbayangkan
sebelumnya
5. Identitas versus kebingungan identitas (identity versusu identity confusion) adalah tahap
perkembangan Erikson yang kelima, yang dialami seseorang selam masa remaja. Pada
masa ini, individu dihadapkan pada penemuan diri, tentang siapa diri mereka sebenarnya,
dan kemana mereka akan melangakah dalam hidup ini. Remaja dihadapkan terhadap
banyak peran baru dan status kedewasaan, pekerjaan dan cinta, misalnya. Orang tua perlu
mengizinkan remaja untuk menjelajahi peran-peran tersebut dan jalan yang berbeda di
setiap peran. Jika remaja menjelajahi peran tersebut dengan cara yang baik, dan sampai
pada jalan positif akan tercapai. Jika suatu identitas dipaksakan pada remaja oleh orang tua,
jika remaja tidak cukup menjelajahi banyak peran, dan jika masa depan yang positif belum
jelas, maka terjadilah kebingungan identitas.
6. keintiman versus isolasi (intimacy versus isolation) merupakan tahap perkembangan
Erikson yang keenam, yang dialami seseorang selama masa dewasa awal. pada masa ini,
individu menghadapi tugas perkembangan yaitu membentuk hubungan akrab dengan orang
lain. Erikson menggambarkan keintiman sebagai menemukan diri dan sekaligus kehilangan
diri dalam diri orang lain. Jika para dewasa muda membentuk persahabatan yang sehat dan
hubungan akrab dengan orang lain, keintiman akan tercapai; jika tidak, akibatnya adalah
isolasi diri.
7. Generativitas versus stagnasi merupakan tahap perkembangan Erikson yang ketujuh, yang
dialami seseorang pada masa dewasa tengah. Pada tahap ini, kepedulian utama adalah

membantu generasi yang lebih muda dalam mengembangkan dan mengarahkan kehidupan
menjadi berguna, ini yang disebut Erikson sebagai generativitas. Perasaan bahwa dirinya
tidak berbuat apa-apa untuk membantu generasi menadapatkan stagnasi.
8.Integritas

versusu

keputusasaan

(integrity

versusu

despair)

merupakan

tahap

perkembanagan delapan dan terakhir dai Erikson, yang dialami seseorang pada masa
dewasa akhir. Dalam tahap ini, seseorang bercermin pada masa lalu dan menyimpulkan
bahwa ia telah menjalani hidup dengan baik. Dengan banyak cara, orang berusia lanjut
dapat mengembangkan pandangan positif pada tahap-tahap perkembangan sebelumnya.jadi
demikan, kilasan retrospektifnya akan memunculkan gamabr kehidupan yang dimanfaatkan
dengan baik, dan orang tersebut akan merasakan kepuasan, integritas dapat dicapai. Jika
orang yang berusia lanjut membentuk setiap tahap perkembangan sebelumnya secara
negatif, kilasan retrospektifnya akan memunculkan keraguan atau kegelapan, keputusasaan
yang dimaksudkan oleh Erikson.
Erikson tidak percaya bahwa solusi yang baik bagi krisis tahapan seluruhnya selalu positif.
Beberpa kontak tau komitmen dengan sisi negatif krisis tersebut kadang tidak dapat
dihindari. Anda tidak dapat mempercayaisemua orang dibawah situasi apapun dan
kemudian bertahan hidup, misalnya. Di sisi lain, dalam solusi sehat terhadap krisis tahapan,
jawaban positif mendominasi. Kita akan mendiskusikan teori Erikson lagi dalam sejumlah
kejadian pada bab tentang perkembanga sosial-emosi.

3. Evaluasi Teori-teori Psikoanalitis


Teori-teori psikoanalisis berfokus pada proses sosial-emosi dari perkembangan; teori tersebut
memiliki sedikit informasi untuk diceritakan mengenai proses biologis atau kognitif.
Kontribusi teori psikoanalisis meliputi sebagai berikut:

Teori tersebut menggarisbawahi peran pengalaman awal dalam perkembangan.


Hubungan keluarga diteliti sebagai aspek pusat perkembangan.
Teori psikoanalisis menggunakan pendekatan perkembangan pada kepribadian dan

memberikan kerangka kerja perkembangan untuk memahaminya.


Teori Freud mendukung ide bahwa pikiran tidak seluruhnya sadar dan mengarahkan
perhatian pada aspek tidak sadar dari pikiran.

Erikson menunjukkan bahwa perubahan terjadi di masa dewasa seperti juga di masa
kanak-kanak.

Kritik bagi teori psikoanalisis adalah sebagai berikut :

Konsep utama teori psikoanalisis sulit diuji secara ilmiah.


Banyak data yang digunakan untuk mendukung teori psikoanalisis berasal dari
rekonstruksi individu terhadap masa lalunya, kadang masa lalu yang telah lama sekali

lewat, dan ketepatannya tidak diketahui.


Dasar seksual bagi perkembangan dimaknai secara berlebihan (terutama dalam teori

Freud)
Pikiran tidak sadar memiliki status yang berlebihan dalam mempengaruhi

perkembangan.
Teori psikoanalisis (terutama teori Freud) memberikan citra negatif pada manusia.
Teori psikoanalisis mengandung bias jender dan budaya. Sebagai contoh penekanan
seksual mencirikan masyarakat Wina pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 (di
mana Freud tinggal) dan hal ini mungkin memberi kontribusi terhadap penekanan
berlebihan pada motivasi seksual dalam teorinya. Kritikus feminis menekankan bahwa
Freud meremehkan pentingnya hubungan dan emosi positif dalam perkembangan
wanita7.

C. TEORI KOGNITIF
Jika teori psikoanalisis menekankan pentingnya ketidaksadaran, teori-teori kognitif menekankan
pikiran-pikiran yang disadari. Tiga teori kognitif yang paling penting adalah teori perkembangan
kognitif menurut piaget, teori kognitif sosial-budaya menurut Vygotsky, serta teori pemrosesaninformasi.
1. Teori Kognitif Piaget
Seorang psikolog terkenal berkebangsaan Swiss, Jean Piaget (1896-1980) mengajukan
sebuah teori penting mengenai perkembangan kognitif. Teori Piaget (piagets theory)
menyatakan bahwa individu secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan
melalui empat tahap perkembangan kognitif8. Dua proses mendasari perkembangan tersebut;
organisasi dan adaptasi. Untuk memahami dunia, kita mengorganisasikan pengalaman7 John W.Santrock, perkembangan anak. Hal 48

pengalaman kita. Contohnya, kita memisahkan pikiran penting dari yang kurang penting. Kita
menghubungkan satu pikiran dengan yang lain. Dengan mengorganisasikan pengamatan dan
pengalaman kita, kita menyesuaikan (adaptasi) pemikiran kita dengan ide-ide baru.
Piaget (1954) percaya bahwa kita beradaptasi dalam dua cara: asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi terjadi saat anak menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan yang telah
mereka miliki. Akomodasi terjadi bila anak menyesuaikan pengetahuan mereka agar cocok
dengan informasi dan pengalaman baru. Misalnya anak perempuan 8 tahun yang diberi sebuah
palu dan paku untuk menggantungkan sebuah lukisan di dinding. Ia belum pernah
menggunakan palu, tetapi dari pengalaman dan pengamatan ia mengetahui bahwa palu adalah
benda yang harus dipegang, diayun gagangnya untuk memukul paku, dan bahwa biasanya
dipukulkan beberapa kali. Tahu akan hal ini, ia menyesuaikan tugas barunya ke dalam
pengetahuan yang telah ia miliki (asimilasi). Meskipun demikian, palu adalah benda berat,
maka ia memegangnya terlalu keatas. Ia mengayun terlalu keras dan pakunya bengkok, maka
ia menyesuaikan tekanan pukulannya. Penyesuaian ini menunjukkan kemampuannya
mengubah pengetahuannya (akomodasi).
Piaget juga percaya bahwa kita melalui empat tahap dalam memahami dunia. Tiap tahap
berhubungan dengan usia dan terdiri dari cara berpikir yang berbeda. Cara pemahaman dunia
yang berbeda inilah yang membuat suatu tahap lebih maju dari tahap yang lain; mengetahui
lebih banyak informasi tidak menjadikan cara berpikir anak lebih maju dalam pandangan
Piaget.ini adalah yang dimaksus Piaget ketika ia mengatakan kognisi anak berbeda secara
kualitatif dalam satu tahap dibandingkan dengan tahap yang lain. Berikut empat tahap
perkembangan menurut Piaget:

Tahap sensorimotor, yang berlangsung mulai dari lahir hingga usia 2 tahun,
merupakan tahap pertama perkembangan Piaget. Dalam tahap ini, anak membangun
pemahaman mengenai dunia ini dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris
(seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan fisik dan motorik, karena itulah
disebut sensorimotor. Pada awal tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki lebih dari
sekedar pola-pola refleksif untuk dapat melakukan sesuatu. Pada akhir tahap ini, anak
umur 2 tahun memiliki pola sensorimotor kompleks dan mulai menggunakan symbolsimbol sederhana.

8 Op cit. hal 48

Tahap praoperasional, yang berlangsung sekitar usia 2 hingga 7 tahun, adalah tahap
perkembangan kedua Piaget. Pada tahap ini, anak mulai menjelaskan dunia dengan
kata-kata, gambar dan lukisan. Meskipun de,ikian, meurut Piaget, anak prasekolah
masih kurang mampu melakukan operasi, istilah Piaget untuk tindakan mental apa

yang sebelumnya hanya dapat dilakukan secara fisik.


Tahap operasional konkret, yang berlangsung mulai dari sekitar 7 hingga 11 tahun,
merupakan tahap perkembangan ketiga Piaget. Dalam tahap ini, anak dapat melakukan
operasi, dan penalaran logis menggantikan pikiran intuitif selama penalaran dapat
diterapkan pada contoh khusus dan konkret. Contohnya, pemikir operasional konkret
tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan
persoalan soal persamaan aljabar, yang terlalu abstrak bagi pemikira tahap

perkembangan ini.
Tahap operasional formal, yang muncul antara umur 11 hingga 15 tahun, merupakan
tahap perkembangan Piaget yang keempat dan terakhir. Pada tahap ini, individu lebih
melampaui pengalaman konkret dan berpikir dalam istilah yang abstrak dan lebih
logis. Sebagai bagian dari berpikir lebih abstrak, remaja menciptakan bayangan situasi
ideal. Mereka dapat berpikir mengenai bagaiamana orang tua ideal ini. Mereka mulai
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan masa depan dan takjub mereka dapat
menjadi apa saja. Dalam memecahlan masalah, pemikir operasional formal lebih
sistematis, mengembangkan hipotesis mengenai mengapa sesuatu terjadi dengan cara
tertentu, kemudian menguji hipotesis ini dengan cara deduktif.

2. Teori Kognitif Sosial-Budaya Vygotsky


Seperti Piaget, ahli perkembangan Rusia, Lev Vygotsky (1896-1934) juga percaya bahwa
anak secara aktif menciptakan pengetahuan mereka sendiri. Meskipun demikian, Vygotsky
memberikan peran yang lebih penting pada interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan
kognitif lebih dari yang dilakukan Piaget. Teori Vvygotsky adalah teori kognitif yang
mengutamakan bagaiaman interaksi sosial dan budaya menuntun perkmbangan kognitif9.
Vygotsky melukiskan perkembangan sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari aktivitas
sosial dan budaya. Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, atensi dan penalaran,
mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari masyarakat, seperti
9 Ibid, hal 50

bahasa, system matematika, dan strategi memori. Dalam suatu budaya, hal ini dapat meliputi
kegiatan belajar berhitung dengan bantuan komputer. Di hari lainnya, individu juga dapat
belajar berhitung dengan menggunakan tangannya atau manik-manik.
Teori Vygotsky telah cukup banyak merangsang minat terhadap pandangan yang
menyatakan bahwa pengetahuan itu kolaboratif. Dalam pandangan ini, pengetahuan tidak
disimpulan dari dalam individu namun dibangun melalui interaksi dengan orang lain dan
berbagai objek di dalam budaya tersebut, seperti buku-buku. Hal ini mengimplikasikan bahwa
pengetahuan paling baik dikembangkan melalui interaksi dengan orang lain dalam aktivitas
kooperatif. Secara khusus, ia berpendapat bahwa interkasi anak-anak dengan orang dewasa
dan kawan-kawan sebaya yang lebih terampil tidak dapat dipisahkan untuk meningkatkan
perkembangan kognitif mereka. Melalui interaksi ini, anggota yang kurang terampil dari suatu
budaya belajar untuk menggunakan perangkat yang dapat membantu mereka untuk
beradaptasi dan berhasil.
3. Teori Pemrosesan-Informasi
Teori pemrosesan-informasi (information-processing theory) menekankan bahwa
individu memanipulasi, memonitori, dan meyusun strategi terhadap informasi-informasi yang
ditemui. Dalam teori ini proses memori dan berpikir menjadi tema sentral. Menurut teori ini,
secara bertahap remaja mengembangkan kapasitas yang lebih besar untuk memproses
informasi, di mana hal ini memungkinakan mereka untukmemperoleh pengetahuan dan
keterampilan yang kompleks.tidak seperti teori perkembangan kognitif Piaget, teori
pemrosesan-informasi tidak mendiskripsikan perkembangan dalam tahapan-tahapan.
Meskipun terdapat banyak faktor yang merangsang pertumbuhan teori pemrosesaninformasi ini, tidak ada yang lebih penting dibandingkan kemajuan di dalam dunia komputer,
yang mendemonstrasikan bahwa sebuah mesin dapat melakukan operasi logis. Para psikolog
mulai bertanya-tanya apakah operasi logis yang dilakukan oleh komputer dapat memberikan
informasi tentang cara kerja pikiran manusia. Untuk menjelaskan hubungan antara kognisi
atau pikiran dengan otak, mereka membuat analogi anatar computer dengan otak,
membandingkan otak manusia dengan perangkat lunak computer. Meskipun perangkat keras
dan perangkat lunak bukanlah analogi yang sempurnah untuk otak dan aktivitas kognitif,
perbandingan semacam itu berkontribusi bagi gagasan kita mengenai pikiran sebagai sebuah
system pemrosesan informasi.

Robert Siegler (1998), seorang ahli terkemuka di bidang pemrosesan-informasi,


menyatakan bahwa kegiatan berpikir merupakan suatu bentuk permrosesan-informasi.
Menurut Siegler, ketika individu menangkap, menulisakan sandi (encoding), menampilkan,
menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi, mereka sebenarnya sedang berpikir.
Siegler menekankan bahwa aspek penting dari perkembangan adalah memperlajari strategistrategi yang baik untuk memproses informasi. Sebagai contoh, menjadi pembaca yang lebih
baik itu meliputi belajar memonitoring tema-tema penting dari materi-materi yang dibaca.
4. Evaluasi Terhadap Teori-Teori Kognitf
Kontribusi dari teori-teori kognitif meliputi sebagai berikut:
Teori-teori kognitif menyajikan suatu pandangan

yang

positif

mengenai

perkembangan, menekankan pada pemikiran yang disadari.


Teori-teori kognitif (khususnya teori Piaget dan Vigotsky) menekankan pada usaha

aktif individu untuk menyusun pemahamannya.


Teori Piaget dan Vigotsky menekankan pentingnya kajian terhadap perubahan

perkembangan dalam pemikiran.


Teori pemrosesan-informasi sering kali menawarkan deskripsi yang terperinci
mengenai proses-proses kognitif.

Kritik-kritik yang dilontarkan terhadap teori-teori kognitif adalah sebagai berikut:

Perkembangan kognitif tidak berlangsung dalam tahapan-tahapan seperti dikemukakan

dalam teori Piaget.


Teori-teori kognitif tidak memberi perhatian yang memadai terhadap variasi individual

dalam perkembangan kognitif.


Teori pemrosesan-informasi tidak menyediakan deskripsi mengenai perubahan

perkembangan dalam kognisi.


Para ahli teori psikoanalisis menyatakan bahwa teori-teori kognitif kurang memberi
perhatian pada pemikiran yang tidak disadari10

10 Ibid, hal 55

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Setelah kami gali, kaji, dan paparkan maka kami dapat memberikan
kesimpulan bahwa :

Teori

Psikoanalisis

(psychoanalytic

theory)

manyatakan

bahwa

perkembangan terutama berlangsung secara tidak disadari dan sangat


diwarnai oleh emosi. Perilaku hanyalah karakteristik di permukaan, dan

kerja simbolik dari pikiran harus dianalisis agar perilaku tersebut dapat

dipahami. Menekankan pengalaman awal dengan orang tua.


Teori-teori psikoanalisis berfokus pada proses sosial-emosi dari perkembangan; teori
tersebut memiliki sedikit informasi untuk diceritakan mengenai proses biologis atau

kognitif.
Kontribusi teori psikoanalisis meliputi sebagai berikut:
Teori tersebut menggarisbawahi peran pengalaman awal dalam perkembangan,
hubungan keluarga diteliti sebagai aspek pusat perkembangan, teori psikoanalisis
menggunakan pendekatan perkembangan pada kepribadian dan memberikan kerangka
kerja perkembangan untuk memahaminya, teori Freud mendukung ide bahwa pikiran
tidak seluruhnya sadar dan mengarahkan perhatian pada aspek tidak sadar dari pikiran,
dan erikson menunjukkan bahwa perubahan terjadi di masa dewasa seperti juga di

masa kanak-kanak.
Kritik bagi teori psikoanalisis adalah sebagai berikut :
Konsep utama teori psikoanalisis sulit diuji secara ilmiah, banyak data yang digunakan
untuk mendukung teori psikoanalisis berasal dari rekonstruksi individu terhadap masa
lalunya, kadang masa lalu yang telah lama sekali lewat, dan ketepatannya tidak
diketahui, dasar seksual bagi perkembangan dimaknai secara berlebihan (terutama
dalam teori Freud), pikiran tidak sadar memiliki status yang berlebihan dalam
mempengaruhi perkembangan, teori psikoanalisis (terutama teori Freud) memberikan
citra negatif pada manusia, dan teori psikoanalisis mengandung bias jender dan
budaya. Sebagai contoh penekanan seksual mencirikan masyarakat Wina pada akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20 (di mana Freud tinggal) dan hal ini mungkin memberi
kontribusi terhadap penekanan berlebihan pada motivasi seksual dalam teorinya.
Kritikus feminis menekankan bahwa Freud meremehkan pentingnya hubungan dan

emosi positif dalam perkembangan wanita


Jika teori-teri psikoanalisis menekankan pentingnya ketidaksadaran, teoriteori kognitif menekankan pikiran-pikiran yang disadari.
Kontribusi dari teori-teori kognitif meliputi sebagai berikut:
Teori-teori kognitif menyajikan suatu pandangan yang positif mengenai perkembangan,
menekankan pada pemikiran yang disadari, teori-teori kognitif (khususnya teori Piaget
dan Vigotsky) menekankan pada usaha aktif individu untuk menyusun pemahamannya,
teori Piaget dan Vigotsky menekankan pentingnya kajian terhadap perubahan

perkembangan dalam pemikiran, dan teori pemrosesan-informasi sering kali

menawarkan deskripsi yang terperinci mengenai proses-proses kognitif.


Kritik-kritik yang dilontarkan terhadap teori-teori kognitif adalah sebagai berikut:
Perkembangan kognitif tidak berlangsung dalam tahapan-tahapan seperti dikemukakan
dalam teori Piaget, teori-teori kognitif tidak memberi perhatian yang memadai terhadap
variasi individual dalam perkembangan kognitif, teori pemrosesan-informasi tidak
menyediakan deskripsi mengenai perubahan perkembangan dalam kognisi, dan para
ahli teori psikoanalisis menyatakan bahwa teori-teori kognitif kurang memberi
perhatian pada pemikiran yang tidak disadari

B.

SARAN

Untuk menerapkan teori sebaiknya harus melihat konteks penerapanannya.


Saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.

DAFTAR PUSTAKA

Santrock, John. W. 2007. Remaja. Erlangga : Jakarta


Santrock, John.W. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga : Jakarta
Yusuf LN, Syamsu & Juantika Nurihsan. 2007. Teori Kepribadian. Rosda karya : Bandung
http://www.ayobukasaja.com/2012/06/teori-teori-psikologi-perkembangan.html