Anda di halaman 1dari 24

TEKNOLOGI REPRODUKSI TERNAK

Singkronisasi Estrus (SE)

Oleh:
Sauma Ramadhani

200110130253

Ridwan Firdaus

200110130279

Muhammad Hikmat

200110130280

Ades Mulyawan

200110130297

Ina Nuraeni

200110130311

Adi Setiawan

200110130326

Etya Nurrimas G

200110130333

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dewasa ini, terdapat masalah yang masih sering dialami oleh peternak

rakyat maupun peternak yaitu tingginya anestrus post partus (tidak birahi pasca
melahirkan) dan sulitnya pengenalan birahi karena induk birahi tenang (silent
heat). Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan
tersebut adalah dengan teknik sinkronisasi estrus atau penyerentakan birahi
dengan memanipulasi pola hormon reproduksi induk. Melalui prosedur atau
tahapan yang tepat, teknik sinkronisasi estrus telah teruji dapat menghasilkan
kebuntingan lebih dari 75%.
Penerapan teknis sinkronisasi birahi dapat dilakukan baik dengan
menggunakan Progesteron maupun Prostaglandin (PGF2a). Dengan tehnik ini
diharapkan problema deteksi berahi dapat dieliminir, sehingga pelaksanaan
inseminasi buatan dapat dioptimalisasi. Oleh karena itu, penting untuk diketahui
bagaimana sistematika sinkronisasi estrus pada berbagai macam ternak yang
selanjutnya akan dibahas lebih lanjut didalam makalah ini.
1.2

Identifikasi Masalah
1. Apa itu sinkronisasi estrus dan manfaatnya.
2. Apa saja persyaratan sinkronisasi estrus.
3. Bagaimana metode sinkronisasi estrus.
4. Bagaimana cara sinkronisasi estrus pada sapi.
5. Bagaimana cara sinkronisasi estrus pada domba/ kambing.
6. Bagaimana cara sinkronisasi estrus pada kerbau.
7. Bagaimana cara sinkronisasi estrus pada kuda.
8. Apa saja alat yang digunakan untuk sinkronisasi estrus.

1.3

Maksud dan Tujuan


1. Untuk mengetahui apa itu sinkronisasi estrus dan manfaatnya.
2. Untuk mengetahui apa saja persyaratan sinkronisasi estrus.
3. Untuk mengetahui bagaimana metode sinkronisasi estrus.
4. Untuk mengetahui bagaimana cara sinkronisasi estrus pada sapi.
5. Untuk mengetahui bagaimana cara sinkronisasi estrus pada domba/
kambing.
6. Untuk mengetahui bagaimana cara sinkronisasi estrus pada kerbau.
7. Untuk mengetahui bagaimana cara sinkronisasi estrus pada kuda.
8. Untuk mengetahui apa saja alat yang digunakan untuk sinkronisasi estrus.

II
ISI
2.1

Pengertian dan Manfaat Sinkronisasi Estrus


Sinkronisasi adalah suatu pengendalian estrus yang dilakukan pada

sekelompok ternak betina sehat dengan memanipulasi mekanisme hormonal,


sehingga keserentakan estrus dan ovulasi dapat terjadi pada hari yang sama atau
dalam kurun 2 atau 3 hari setelah perlakuan dilepas, sehingga Inseminasi Buatan
dapat dilakukan serentak (Toelihere, 1985). Sikronisasi ini mengarah pada
hambatan ovulasi dan penundaan aktivitas regresi Corpus Luteum (CL) (Hafez,
1993). Ada dua tujuan dalam melakukan sinkronisasi estrus yakni 1) untuk
mendapatkan seluruh ternak yang diberikan perlakuan mencapai estrus dalam
waktu yang diketahui dengan pasti sehingga masing-masing ternak tersebut dapat
di IB dalam waktu bersamaan. 2) untuk menghasilkan angka kebuntingan yang
sebanding atau lebih baik disbanding dengan kelompok yang tidak mendapat
perlakuan yang dikawinkan dengan IB atau oleh pejantan.
Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan birahi,
diikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak dengan tujuan utama
untuk menghasilkan konsepsi atau kebuntingan. Sinkronisasi estrus biasanya
menjadi satu paket dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan pengamatan birahi
maupun IB terjadwal (timed artificial insemination). Angka konsepsi atau
kebuntingan yang optimum merupakan tujuan dari aplikasi sinkronisasi estrus ini.
Kesuksesan program sinkronisasi membutuhkan pengetahuan mengenai siklus
berahi. Hari ke-0 dari merupakan hari pertama estrus, pada saat ini biasanya
perkawinan secara alami terjadi. Hormon estrogen mencapai puncaknya pada hari
ke-1 dan kemudian menurun, level progesteron rendah karena Corpus Luteum
(CL) belum terbentuk. Ovulasi terjadi 12-16 jam setelah akhir standing estrus. CL

yang menghasilkan hormon progesteron terbentuk pada tempat ovulasi dan secara
cepat mengalami pertumbuhan mulai dari hari ke-4 sampai ke-7, pertumbuhan ini
diikuti dengan peningkatan level progesteron. Mulai hari ke-7 sampai ke-16, CL
menghasilkan progesteron dalam level tinggi.
Terdapat beberapa manfaat dari tindakan sinkronisasi estrus pada ternak
khususnya sapi, antara lain:
1.

Optimalisasi

dan

efisiensi

pelaksanaan

IB.

Dengan

teknik

ini

dimungkinkan pelaksanaan IB secara massal pada suatu waktu tertentu.


2.

Mengatasi masalah kesulitan pengenalan birahi. Subestrus atau birahi


tenang yang umum terjadi pada sapi perah dan potong di Indonesia dapat
diatasi dengan teknik sinkronisasi estrus.

3.

Mengatasi masalah reproduksi tertentu, misalnya anestrus post partum


(anestrus pasca beranak).

4.

Fasilitasi program perkawinan dini pasca beranak (early post partum


breeding) pada sapi potong dan perah. Teknik ini dapat digunakan untuk
mempercepat birahi kembali pasca beranak, pemendekkan days open
(hari-hari kosong) dan pemendekkan jarak beranak.

5.

Manajemen reproduksi resipien pada pelaksanaan transfer embrio sapi.


Dalam program transfer embrio, embrio beku maupun segar (diambil dari
sapi donor pada hari ke 7 setelah estrus) ditransfer ke resipien pada fase
siklus estrus yang sama. Sinkronisasi estrus biasanya digunakan untuk
maksud tersebut.

2.2

Persyaratan dan Fungsi Sinkronisasi Estrus


Pelaksanaan sikronisasi estrus pada Induk membutuhkan persyaratan

tertentu untuk mendapatkan hasil yang optimum. Persyaratan tersebut antara lain:

1.

Induk dalam keadaan tidak bunting. Hal ini sangat penting, karena kalau
sampai induk bunting diberi perlakuan sinkronisasi estrus, akan berakibat
keluron atau abortus. Pemeriksaan kebuntingan dan alat reproduksi
sebelum perlakuan harus dilakukan secara cermat untuk memastikan
bahwa hewan tidak dalam keadaan bunting.

2.

Hewan harus mempunyai kesehatan alat reproduksi yang baik. Adanya


peradangan alat reproduksi, endometritis, metritis, vaginitis, akan sangat
berpengaruh pada hasil konsepsinya. Pemeriksaan klinis alat reproduksi
perlu dilakukan sebelum dilakukan perlakuan sinkronisasi estrus.

3.

Boleh dilakukan pada induk setelah melahirkan yang telah mengalami


involusi uterus dengan sempurna dan fungsi kerja organ dan saluran
reproduksi sudah kembali normal tanpa infeksi.

4.

Khusus untuk sinkronisasi estrus menggunakan PGF2, hewan harus


mempunyai korpus luteum pada salah satu ovariumnya. Pemeriksaan
adanya korpus luteum sangat diperlukan, mengingat PGF2 mempunyai
target organ korpus luteum. Sapi yang bersiklus estrus namun belum
mempunyai korpus luteum maka perlakuannya ditunda sampai terbentuk
korpus luteum yang berukuran cukup besar.

5.

Sebelum dan setelah perlakuan sinkronisasi estrus, hewan harus diberi


pakan yang memadai dalam kualitas dan kuantitasnya, dihindarkan dari
stres, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada hasil respon hormonal
hewan.
Persyaratan tersebut di atas sangat menentukan keberhasilan sinkronisasi

estrus dan ovulasi yang fertil, sehingga setelah perlakuan IB akan terjadi ovulasi,
fertilisasi dan nidasi, serta menghasilkan kebuntingan maksimum. Berikut adalah
beberapa fungsi dari sinkronisasi estrus, yaitu :

a) Mengurangi waktu untuk menemukan hewan birahi


b) Memberi kemudahan bagi penggunaan inseminasi buatan, terutama pada
kawanan sapi pedaging, dengan memberi perlakuan pada hewan secara
berkelompok.
c) Dalam hubungan dengan prosedur saat ovulasi, agar dapat melakukan
inseminasi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya
d) Memungkinkan memberi makan hewan dalam kelompok yang seragam,
terutama bila ini menyangkut perubahan ransum sesuai dengan fase
kebuntiongan.
e) Sebagai kelanjutan dari pembiakan serentak, membatasi keseluruhan
periode kelahiran pada kawanan atau kelmpok ternak
f) Memungkinkan

melakukan

pengawasan

kelahiran

dengan

tujuan

mengurangi kematian anak baru lahir dan pengaturan pengasuhan anak


pada induk lain
g) Setelah pengendalian perkawinan yang berhasil, memungkinkan untuk
melakukan penyapihan, penggemukan, dan pemasaran kawanan ternak
yang seragam.
h) Memudahkan pemanfaatan transfer embrio (Hunter, 1995)
2.3

Metode Sinkronisasi Estrus


Sikronisasi estrus pada ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1. Menghilangkan Corpus Luteum atau Enukleasi Luteal.
a. Perusakan fisik pada CL dngan menggunakan jari melalui rektum, pada
saat CL dalam keadaan berfungsi (masak).
b. Perlu tenaga yang profesional.
c. 50 60 % dari sekelompok sapi yang peka, empat hari kemudian akan
birahi.

d. Resiko hemorhagia dan perlekatan fimbria (Ismaya, 1998).


2. Penyuntikan Progesteron.
a. Penyuntikan selama 18 -20 hari (50 mg/hari).
b. Menghambat fase luteal melalui umpan balik negatif.
c. Kelemahannya yaitu injeksi memerlukan waktu dan tenaga, timbulnya
birahi bervariasi kurang lebih 5 hari, fertilisasi menurun/rendah
(Ismaya, 1998).
3. Pemberian Progestagen Aktif Peroral (Mulut).
a. Mengatasi kesulitan kedua diatas dan lebih tepat untuk kelompok ternak
yang besar dikandang dan terprogram pemberian pakannya
b.

Progestagen sintetik

yaitu melengestrol Asetat (MGA) dan

Medroxiprogesteron (MPA), namun lebih bagus MGA daripada MPA.


c. Pemberian lewat pakan selama 15-18 hari dan birahi terjadi 3-5 hari
kemudian setelah penghentian perlakuan.
d. Fertilisasi rendah (42%) dan menjadi 82 % pada estrus berikutnya.
e. Pemberian esterogen dan gonadotropin menghambat MGA, fertilisasi
tetap rendah (Ismaya, 1998).
4. Implan Silastik.
a. Implan silastik yang mengandung MGA ditanam dibawah kulit leher
atau dibawah kulit luar telinga selama 22-64 hari
b. 36-72 jam setelah penghentian perlakuan terjadi birahi 64 % (Ismaya,
1998).
5. Progestagen dalam Waktu Singkat.
a. Untuk meningkatkan fertilisasi prostagen diberikan 9-12 hari saja.

b. Sebelumnya disuntikan 5-7,5 mg EB dan 50-250 mg progesteron dan


setelah penghentian perlakuan, maka 56 jam kemudian birahi dan dapat
di IB (Ismaya, 1998).
6. Injeksi Prostaglandin PGF2.
a. Publikasi pertama mengenai terapi prostalglandin baru muncul tahun
1970 dan terus berkembang sejalan ditemukannya analog prostaglandin.
b. Lebih sederhana dan mencegah menurunya fertilisasi.
c. Penyuntikan intra muskular tunggal untuk fase luteal dan ganda (10-12
hari) untuk yang heterogen fasenya, IB dilakukan 58-72 jam atau 72
dan 96 jam (IB Ganda).
2.4

Sinkronisasi Estrus pada Sapi

2.4.1

Tahapan Sinkronisasi Estrus Pada Sapi


Tahapan sinkronisasi estrus terdiri dari screening atau seleksi induk sapi,

pemeriksaan Corpus

Luteum

(CL),

penyuntikan

hormone PGF2 atau

prostaglandin, inseminasi buatan (IB), dan pemeriksaan kebuntingan (PKB).


Untuk memudahkan pelaksanaan sinkronisasi estrus, maka induk-induk sapi
sebaiknya berada dalam satu kawasan.
1. Screening Dan Pemeriksaan CL
Screening atau seleksi induk sapi dilakukan dengan cara pengecekan
catatan dan

palpasi terhadap individu sapi. Pengecekan catatan

meliputi tanggal birahi

reproduksi

dan IB terakhir untuk mengetahui status induk sapi

sebelum dilakukan sinkronisasi estrus. Untuk memastikan kondisi induk tidak


dalam keadaan bunting dan alat reproduksi dalam kondisi baik selanjutnya
dilakukan palpasi. Sapi dalam keadaan bunting tidak boleh diberi perlakuan
sinkronisasi estrus karena akan menyebabkan keguguran atau abortus. Induk
harus mempunyai alat reproduksi yang baik atau terbebas dari peradangan alat

reproduksi, seperti endometritis, metritis, dan vaginitis karena akan berpengaruh


terhadap hasil konsepsi atau kebuntingan. Perlu diperhatikan juga bahwa induk
sapi memiliki skor kondisi tubuh yang optimum. Tahapan selanjutnya terhadap
induk yang sudah memenuhi persyaratan adalah pemeriksaan CL. CL biasanya
terbentuk pada hari ketujuh setelah induk mengalami birahi. Induk sapi yang
mempunyai atau terdeteksi memiliki CL pada

salah

satu ovariumnya

pemeriksaan dapat diberi perlakuan sinkronisasi estrus. Tahap pemeriksaan CL


merupakan tahapan
pada

penting karena menentukan keberhasilan timbulnya birahi

induk sapi, disamping

pemberian pakan yang memadai baik kualitas

maupun kuantitasnya (Nandang S, Yayan R, 2011).


2.

Penyuntikan Hormon, IB, dan PKB


Induk-induk sapi yang terseleksi dan terdeteksi memiliki CL selanjutnya

diberi perlakuan hormon PGF2 pada hari yang sama pada saat pemeriksaan CL.
Penyuntikan hormo PGF2 dilaksanakan secara intramuscular (IM) dengan target
organ CL. Hormon PGF2 tersedia di pasaran dengan beberapa nama/merk
perdagangan. Hormon PGF2 dengan nama perdagangan "Lutaprose" diberikan
dengan dosis 2ml/ekor, sedangkan "Capriglandin" diberikan sebanyak 5ml/ekor.
Penggunaan PGF2 akan melisiskan CL sehingga menyebabkan perkembangan
folikuler, menimbulkan gejala birahi, dan ovulasi pada induk sapi. Satu sampai
tiga hari setelah dilakukan penyuntikan hormon, induk sapi akan menunjukkan
gejala birahi. Selanjutnya 6 sampai 24 jam setelah timbulnya birahi, induk sapi
dapat dikawinkan dengan cara IB. 60 hari setelah IB, PKB dapat dilakukan untuk
mengetahui keberhasilan IB atau kebuntingan pada induk (Nandang S, Yayan R,
2011).

2.4.2

Metode Sinkronisasi Estrus pada Sapi


Pada sapi sering digunakan PGF2 yang berfungsi menghancurkan korpus

leteum yang sedang berfungsi dan tidak efektif pada korpus luteum yang sedang
tumbuh. Pada dasarnya korpus luteum tumbuh pada 0-5 hari setelah estrus dan
pada hari 6-16 korpus luteum berfungsi. Cara penyuntikan PGF2:
1)

Penyuntikan satu kali. Pada cara ini seekor betina yang tidak bunting
disuntik dengan PGF2, estrus akan terjadi 1-3 hari kemudian. Secara teori
kebrhasilan cara ini sekitar 75% kerena diperkirakan 25% nya masih
berada pada kondisi estrus sampai 5 hari setelah estrus dan untuk
mendapatkan hasil 100% maka diperlukan penyuntikan kedua.

2)

Penyuntikan dua kali. Semua betina yang tidak bunting disuntik dengan
PGF2, kemudian penyuntikan diulangi lagi pada hari kesebelas (11).
Berahi terjadi secara serentak 1-3 hari kemudian dan 100% berahi. Dosis
PGF2 adalah 5 35 mg/ekor.
Beberapa metode sinkronisasi estrus telah dikembangkan, antara lain

dengan

penggunaan sediaan progesteron, prostaglandin F2 (PGF2), serta

kombinasinya dengan gonadotropin releasing hormone (GnRH). Pemberian


progesteron berpengaruh menghambat ovulasi, prostaglandin F2 menginduksi
regresi korpus luteum, sedangkan GnRH menambah sinergi proses ovulasi
(Rabiee dkk, 2005; Kasamanickam dkk, 2006).
2.5

Sinkronisasi Estrus pada Domba/ Kambing


Sinkronisasi estrus pada domba dapat dilakukan dengan menggunakan

preparat hormon. Hormon-hormon reproduksi memegang peranan penting dalam


inisiasi dan regulasi siklus estrus (berahi), ovulasi, fertilisasi, mempersiapkan
uterus untuk menerima ovum yang telah dibuahi, melindungi, mengamankan dan
mempertahankan kebuntingan, menginisiasi kelahiran, perkembangan kelenjar

susu dan laktasi (Hunter 1995). Preparat hormon yang biasa digunakan
diantaranya hormon prostaglandin dan progesteron. Sinkronisasi pada domba/
kambing dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a)

Pemberian Progesterone dengan Suntikan Intramuskuler, Intravena,


dan Intravagina.
Melalui intra vagina adalah dengan jalan mencelupkan spons yang telah

berisi larutan progesterone dan dimasuk kan kedalam saluran reproduksi betina
yang tidak bunting selama 14-19 hari. Spons ini berbentuk bulat panjang sebesar
ibu jari dengan panjang nya sekitar 4 cm dan dibelakangnya diikat dengan tali
nilon. Dua hari setelah penarikan spons yang berisi progesterone dan diserap oleh
vagina sehingga masuk keperedaran darah dan menekan kejadian berahi, berahi
akan terjadi 1-3 hari kemudain. Secara fisologis, setelah penarikan spons maka
suply progesterone akan terhenti ini menyebabkan ransangan pada hipofisa untuk
mengeluarkan FSH dan LH, selanjutnya folikel akan tumbuh pata taraf yang
matang sehingga terjadilah estrus.
b)

Pemberian PGF2
Secara umum dilakukan dengan suntikan intra muskuler dengan dosis 6-8

mg/ekor. Timbulnya estrus adalah akibat injeksi prostaglandin dan kemungkinan


tidak dipengaruhi oleh imunisasi inhibin. Injeksi tunggal prostaglandin akan
menghasilkan 80% kambing birahi sedang injeksi kedua yang dilakukan 10 hari
kemudian akan menghasilkan 100% estrus (Siregar, 2001). Nuti dkk, (1992) juga
melaporkan hal yang sama. Semua kambing memperlihatkan gejala birahi setelah
pemberian PGF2 pada hari ke12 setelah birahi akibat pemberian PGF2
pertama.

Timbulnya birahi akibat pemberian PGF2 disebabkan lisisnya korpus


luteum oleh kerja vasokonstriksi PGF2 sehingga aliran darah menuju korpus
luteum menurun secara drastic (Toelihere, 1981). Akibatnya, kadar progesterone
yang dihasilkan korpus luteum dalam darah menurun. Penurunan kadar
progesteron ini akan merangsang hipofisa anterior melepaskan FSH dan LH.
Kedua hormon ini bertanggung jawab dalam proses folikulogenesis dan ovulasi,
sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel. Folikelfolikel tersebut
akhirnya menghasilkan hormon estrogen yang mampu memanifestasikan gejala
birahi (Hafez dan Hafez, 2000). Kerja hormon estrogen adalah untuk
meningkatkan sensitivitas organ kelamin betina yang ditandai perubahan pada
vulva dan keluarnya lendir transparan (Lammoglia dkk, 1998).
Tingginya respon birahi pada penyuntikan kedua disebabkan PGF2
efektif untuk penyerentakan birahi mulai fase pertengahan luteal. Kambing
kambing yang tidak berada pada fase ini pada penyuntikan pertama akan
memasuki fase luteal pada penyuntikan kedua. Hormon PGF2 efektif dalam
meregresi korpus luteum fungsional tidak pada korpus luteum yang sedang
tumbuh (Partodihardjo, 1987). Tandatanda birahi pada penelitian ini hampir sama
dengan yang dilaporkan Siregar dkk, (2001) yakni vulva merah dan bengkak,
keluar lendir, mau dinaiki, dan perubahan tingkah laku.
2.6

Sinkronisasi Estrus pada Kerbau


Sinkronisasi berahi serentak menggunakan prostaglandin pada kerbau

dimaksudkan untuk memperpendek periode fase luteal karena fase luteal 16-17
hari pada siklus kerbau betina, pada kondisi normal kerbau kembali ke estrus
setiap 21 hari, dengan dilakukan sinkronisasi maka siklus birahi menjadi lebih
pendek, sehingga dapat menghemat biaya operasional dan memperpendek calving
interval, ternak dapat diinseminasi secara bersama-sama sehingga dapat diprediksi

waktu kelahiran yang bersamaan. Sistem ini dapat dipakai dalam perencanaan
kelahiran anak dan pemasaran ternak.
Program sinkronisasi birahi sangat tepat dilakukan pada saat sekarang ini
karena kejadian birahi tenang pada kerbau sangat tinggi, mencapai 70 80%.
Gejala birahi kerbau umumnya tidak sejelas pada sapi, baik perubahan pada alat
kelamin luar, leleran vulva maupun tingkah laku seksualnya. Ditambah dengan
kebiasaannya senang berkubang akan menyebabkan gejala birahinya lebih sulit
diamati. Suatu cara mengatasinya yaitu dengan menerapkan teknis sinkronisasi
birahi. Cara ini menggunakan sediaan Progesteron dan PGF2. Dengan teknik ini
problema deteksi birahi dapat diatasi, sehingga pelaksanaan IB dapat
dioptimalisasi.
Kesuksesan program sinkronisasi membutuhkan pengetahuan mengenai
siklus estrus. Siklus estrus pada kerbau yaitu 21 hari dengan kisarannya 18-24 hari
(Murti, 2002). Hari ke-0 merupakan hari pertama estrus. Pada hari ke-1 hormon
estrogen mencapai puncaknya dan kemudian menurun, sedangkan level
progesteron rendah karena corpus luteum belum terbentuk. Ovulasi terjadi 12-16
jam setelah akhir standing estrus. Corpus luteum terbentuk pada tempat ovulasi
dan secara cepat mengalami pertumbuhan mulai dari hari ke-4 sampai ke-7 dan
pertumbuhan ini diikuti dengan peningkatan level progesteron. Mulai hari ke-7
sampai ke-16, corpus luteum menghasilkan progesteron dalam level tinggi. Kirakira hari ke-16, prostaglandin dilepaskan dari uterus yang menyebabkan level
progesteron menjadi turun. Ketika level progesteron menurun, level estrogen
meningkatdan folikel baru mulai tumbuh. Estrogen mencapai puncaknya pada hari
ke-20 diikuti tingkah laku estrus pada hari ke-21. Pada saat ini siklus estrus
kembali dimulai (Siregar dan Hamdan, 2007).

1. Penggunaan PGF2
Prostaglandin F2 (PGF2) bersifat luteolitik yang berperan untuk
meregresikan corpus luteum (CL), mengakibatkan penghambatan yang dilakukan
hormon progesteron yang dihasilkan oleh CL terhadap gonadotropin menjadi
hilang dan terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel. Sariubang dan Tambing
(2006) menyatakan bahwa penggunaan PGF2 untuk program sinkronisasi estrus
ternak hanya efektif bila ternak tersebut telah memiliki corpus luteum. Pemberian
PGF2 dapat dilakukan secara intra muscular atau secara intrauterin. Pemberian
secara intra muscular mudah dilakukan yaitu dengan cara injeksi, namun dosis
yang diperlukan cukup besar. Pemberian secara intra uterin hanya diperlukan
dosis yang jauh lebih rendah, namun memerlukan keterampilan khusus (Solihati,
2005). Penggunaan prostaglandin sintetis (estrumate) sebanyak 2 ml secara intra
muscular sangat efektif untuk tujuan menyerempakkan estrus kerbau, dimana
pemberian estrumate mengakibatkan penurunan level progesteron dari 1,90gr/ml
menjadi 0,05 gr/ml setelah dua hari penyuntikan dan sebagian besar kerbau
menunjukkan gejala estrus dua hari setelah pemberian estrumate. (Situmorang dan
Sitepu, 1991)
2. Penggunaan hCG dan PGF2
Rajamahendra dan Sianangama (1992) menyatakan bahwa peranan hCG
adalah memperpanjang masa hidup corpus luteum, peningkatan sintesis
progesteron oleh corpus luteum, induksi ovulasi pada keseluruhan siklus estrus,
dan membantu pembentukan corpus luteum asesoris ketika diberikan pada awal
fase luteal. Pemberian hCG bukan saja melalui peningkatan persentase estrus,
akan tetapi juga menyerempakkan ovulasi dan memperbaiki kualitas sel telur yang
terovulasi. Keseragaman ovulasi memungkinkan untuk meningkatkan pembuahan
khususnya dengan menggunakan semen, dimana daya hidup spermatozoanya yang

terbatas pada saluran reproduksi betina (Situmorang dan Siregar, 1997). Hasil
penelitian Situmorang dan Siregar (1997) menyatakan, pemberian 500 IU HCG
24 - 48 jam setelah penyuntikan estrumate akan meningkatkan persentase kerbau
yang menunjukkan gejala estrus dibandingkan dengan tanpa HCG. Pemberian
HCG 42-47 jam setelah pemberian PGF2 mempercepat estrus dan ovulasi,
sedangkan pemberian HCG 57-60 jam setelah PGF2 dapat lebih menyeragamkan
waktu estrus dan ovulasi (Kaneda dkk, 1981).
c)

Penggunaan Progesteron
Pemberian progesteron untuk sinkronisasi birahi pada kerbau muncul

beberapa tahun terakhir ini. Sediaan progesteron yang paling banyak digunakan
antara lain adalah Progesteron Releasing Intra Vaginal Device (PRID). Sediaan ini
berupa implan intra vaginal terbuat dari karet silikon, berbentuk spiral.
Progesteron sintetik tersimpan di dalam implan tersebut dan akan dibebaskan
secara pelan-pelan lewat selaput lendir vagina. Pemasangan implan intravagina
biasanya selama 15 hari, dan birahi akan timbul pada waktu 48-72 jam setelah
pengambilan implan. Angka birahi yang ditimbulkan dapat mencapai 100%,
namun angka konsepsi dari inseminasi pertama masih cukup rendah, sekitar 45%.
2.7

Sinkronisasi Estrus pada Kuda


Inseminasi buatan pada kuda telah dilaksanakan sejak tahun 2000-an di

Indonesia, tepatnya di Yogyakarta dengan menggunakan semen cair. Angka


konsepsi yang dicapai cukup tinggi, yaitu 40%-50%. Pelaksanaan IB dimulai pada
hari keempat estrus dan dilakukan selama tiga hari berturut-turut sampai gejala
estrus hilang. Pelaksanaan IB menggunakan semen beku juga dilakukan pada
tahun 2000-an di Jakarta, tetapi hanya terbatas pada stable tertentu, dan semen
beku yang digunakan masih impor dengan harga yang sangat mahal.

Keberhasilan IB pada ternak kuda sampai saat ini belum menunjukkan


hasil yang optimal, dibandingkan dengan ternak lainnya. Beberapa penghambat
keberhasilan IB pada kuda adalah lamanya waktu estrus dan bervariasinya waktu
ovulasi. Ovulasi pada ternak kuda secara alamiah terjadi menjelang akhir estrus
tepatnya antara 48 dan 24 jam sebelum akhir estrus (Squires, 2004). Oleh karena
itu IB pada kuda terutama jika menggunakan semen beku memerlukan ketepatan
waktu antara inseminasi semen ke dalam saluran reproduksi dengan waktu
ovulasi. Waktu ovulasi pada kuda dapat lebih mudah ditentukan dengan
sinkronisasi estrus dan ovulasi. Menurut Samper (2001), ovulasi pada kuda
biasanya terjadi antara 24 dan 36 jam setelah penyuntikan human Chorionic
Gonadotrophin (hCG).
2.7.1

Prosedur Penyerentakan Berahi pada Kuda


Pada ternak Kuda metode penyerentakan berahi dapat dilakukan dengan

cara pemberian :

Progestogen (Altrenoegest) : Diberikan melalui pakan selama 15 Hari dan


Berahi timbul hari pasca penghentian perlakuan. Dengan cara ini Fertilitas
sangat memuaskan.

PGF2
Perlakuan ini diberikan pada periode berahi berupa Injeksi tunggal dan

berahi timbul 3-5 hari kemudian. Selanjutnya untuk sekelompok betina dengan
siklus berahi heterogen dilakukan prosedur sebagai berikut :

PGF ke I diberikan pada Hari 1

hCG pada H 7/8

PGF ke II pada H 15

hCG pada H 21/22

2.8

Peralatan Sinkronisasi Estrus

2.8.1

Controlled Internal Drug Release (CIDR)


CIDR merupakan alat yang terbuat dari sebatang silikon berbentuk huruf T

dan mengandung 1,9 gram hormon progesteron untuk hewan besar (seperti sapi
dan kerbau) dan 0,33 gram hormone progesteron untuk hewan kecil (seperti
kambing dan domba). Keuntungan penggunaan alat ini adalah untuk mengontrol
siklus berahi, mengatasi problem fertilitas seperti anovulatory anoestrus (ternak
yang tidak bersiklus) dan ovarium yang sistik, serta untuk program seleksi dan
transfer embrio. Pemakaian CIDR yang mengandung hormon progesteron efektif
dilakukan untuk proses sinkronisasi siklus estrus pada sapi perah. Selain itu,
kombinas penggunaan CIDR dengan penyuntikan hormone prostaglandin secara
nyata dapat meningkatkan jumlah sapi yang standing heat pada saat estrus (Vargas
dkk, 1994).
Pemasangan CIDR dilakukan secara asepsis dengan aplikator khusus yang
sudah dicelupkan dalam larutan antiseptik standar, diberi pelumasan dengan gel
steril, netral, kemudian dimasukkan ke dalam vagina sampai di depan os uteri dari
servik, seterusnya implan dideposisikan pada tempat itu. Estrus akan timbul dalam
waktu 3 hari kemudian setelah CIDR dicabut, sehingga inseininasi buatan dapat
dilakukan antara hari ke 48 sampai 72 jam kemudian (Putro, 2008). Vargas dkk,
(1994) menunjukkan bahwa penyuntikan pada saat pencabutan CIDR tidak
berpengaruh terhadap persentase kebuntingan, tetapi berpengaruh secara nyata
terhadap peningkatan kejadian standing estrus dan jumlah CL yang dihasilkan.
Mekanisme kerja dari alat ini, yaitu alat ini dimasukkan dan didiamkan
dalam vagina selama beberapa hari, selanjutnya progesteron yang terdapat di
dalam alat ini akan diserap oleh vagina dan segera disekresikan ke dalam aliran
darah yang akan menghambat pelepasan FSH dan LH dan adenohipofisis melalui

mekanisme umpan balik negatif. Kadar progesteron dalam darah akan meningkat
pada saat alat disisipkan dalam vagina dan tetap stabil dipertahankan selama
periode penyisipan alat ini. Setelah alat ini dicabut terjadi penurunan progesterone
secara mendadak dan mencapai level basal sehingga terjadi feedback positif pada
hipotalamus untuk melepaskan GnRH yang akhirnya terjadi pelepasan hormone
FSH dan LH dari adenohipofisis dan akan terjadi pematangan folikel, berahi dan
ovulasi. CIDR memberikan fertilitas terbaik bila diinsersikan selama 7 sampai 10
hari (Putro, 2008).
Pada pemasangan CIDR di vagina dilakukan pada hari ke-0. Setelah selang
7 hari CIDR dicabut, tetapi 24 jam sebelum pencabutan CIDR di injeksi PGF2
untuk melisiskan korpus luteum yang tersisa, sehingga akan lebih meminimumkan
kadar progesteron setelah CIDR dicabut, sebagai akibatnya proses estrus dan
ovulasi akan menjadi lebih baik (Putro, 2008).

2.8.2

Progesteron Releasing Intravagina Device (PRID)


Progesteron releasing intra vagina device (PRID) adalah alat intravagina

pelepas progesteron dengan speculum pada bagian vagina anterior (Ismaya, 1998).
Progesteron juga dapat dimasukan ke vagina dengan memakai spons, diharapkan
dapat menghasilkan estrus yang baik. Pemasangan spons selama 18-21 hari dan
birahi akan tampak 24-72 jam setelah pengambilan spons dari vagina. Kelemahan
pemakaian spons intravagina adalah spons sering berubah tempat, kerusakan

mukosa vagina dan serviks. Dengan penyuntikan PMSG (750-2000 IU) sebelum
dan sesudah pengeluaran spons dapat meningkatkan birahi dan fertilisasi (Ismaya,
1998).

III
KESIMPULAN
1. Sinkronisasi adalah suatu pengendalian estrus yang dilakukan pada
sekelompok ternak betina sehat dengan memanipulasi mekanisme hormonal,
sehingga keserentakan estrus dan ovulasi dapat terjadi pada hari yang sama
atau dalam kurun 2 atau 3 hari setelah perlakuan dilepas, sehingga Inseminasi
Buatan dapat dilakukan serentak.
2. Terdapat beberapa syarat untukpelaksanaan SE yaitu induk harus dalam
keadaan tidak bunting, organ reproduksi sehat, dan apabila menggunakan
PGF2 maka harus terdapat corpus luteum.
3. Beberapa metode SE yaitu menghilangkan corpus luteum atau enukleasi
luteal, penyuntikan progesteron, pemberian progestagen aktif per oral
(mulut), Implan silastik, Progestagen dalam waktu singkat, Injeksi
prostaglandin PGF2
4. SE pada sapi dapat dilakukan dengan cara pemberian hormon progesteron,
PGF2, atau kombinasinya dengan gonadotropin releasing hormone (GnRH).
5. SE pada domba dan kambing dapat dilakukan dengan cara pemberian hormon
progesteron atau PGF2.
6. SE pada kerbau dapat dilakukan dengan cara pemberian hormon progesteron,
PGF2 atau kombinasi antara hCG dan PGF2.
7. SE pada kuda dapat dilakukan dengan cara pemberian hormon progesteron,
PGF2 atau kombinasi antara hCG dan PGF2.
8. Peralatan yang lazim digunakan untuk melakukan SE adalah CIRD dan
PRID.

DAFTAR PUSTAKA
Hafez, E.S.E. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7th Ed. Lippincott Williams
& Wilkins, Philadelphia.
Hafez, ESE. 1993. Reproduction in Farm Animal.6
Philadelphia

th

Ed. Lea and Febiger.

Hunter, R.H.F. 1995. Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina


Domestik. Penerbit ITB, Bandung.
Ismaya. 1998. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bagian Program Studi Produksi
Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kaneda, Y., I. Domem, H. Kamomae, and T. Nakahara.1981 . Synchronization of
estrus with prostaglandin F2a in cattle . J. Ilmu Ternak 5:137-143.
Kasimanickam, R., Collins, J. C., Wuenschell, J., Currin, J. C., Hall, J. B. and
Whittier, D. W. 2006. Effect of timing of prostaglandin administration,
controlled internal drug release removal and gonadotropin releasing
hormone administration on pregnancy rate in fixed-time AI protocols in
crossbred Angus cows. Theriogenology 65: 1-14
Lammoglia MA, RE Short, SE Bellows, MD Macneil, and HD Hafs, 1998.
Induced and synchronized estrus in cattle. J. Anim. Sci. 76:16621670
Martinez, M. F ., Kastelic, J. P., Bo, G. A., Caccia, M. and Mapletoft, R. J. 2005.
Effect of oestradiol and some of its esters on gonadotrophin release and
ovarian follicular dynamics in CIDR treated beef cattle. J. Anim. Sci. 86:
37-52.
Murti, T.W., 2002. Ilmu Ternak Kerbau. Kanisius, Yogyakarta.
Nandang S, Yayan R. 2011. Sinkronisasi Estrus Pada Sapi Potong. Agro Innovasi.
Bandung
Nuti LC, KN Bretzlaff, RG Elmore, SA Meyers, JN Regila, SP Brinsko, TL
Blahohard, and PG Weston. 1992. Synchronization of oestrus in dairy
goats treated with prostaglandin F2 alpha various of the oestrus cycle.
Am. J. Vet. Res. 52:935937.

Partodihardjo, S. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya. Jakarta


Putro, P., P. 2008. Teknik Sinkronisasi Estrus Pada Sapi. Bagian Reproduksi dan
Obstetri. Universitas Gadjah Mada.
Rabiee, A. R., Lean, I. J. and Stevenson, M. A. 2005. Efficacy of Ovsynch
program on reproductive performance in dairy cattle: a meta-analysis. J.
Dairy Sci. 88: 2754-2770.
Rajamahendra R dan Sianangama P.C. 1992. Effect of Dominant Follicles in
Cows: Formation of Accesory Corpora Lutea, Progesterone Production
and Pregnancy Rates. J ReprodFerl 95:577-584.
Samper, J. C. 2001. Management and fertility of mares bred with frozen semen.
Anim. Reprod. Sci. 68: 219-228.
Sariubang, M. Dan S.N. Tambing. 2006. Efektivitas penyuntikan Estro-Plan
(PGF2a) terhadap penyerentakan berahi sapi Bali di Kabupaten Pinrang,
Sulawesi Selatan. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. Bogor 5 6 September 2006 Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm.
130 134.
Siregar T.N. dan Hamdan. 2007. Hand Out; Teknologi Reproduksi Pada Ternak.
CV. Mita Mulia. Banda Aceh.
Siregar, T.N., G. Riady, Al Azhar, H. Budiman, dan T. Armansyah. 2001.
Pengaruh pemberian prostaglandin F-2 alfa secara intravulvasubmukosal
terhadap tampilan reproduksi kambing lokal. J. Medika Vet. 1(2):61-65.
Situmorang, P. Dan A.R. Siregar. 1997. Pengaruh hormone hCG setelah
penyuntikan estrumate terhadap kinerja reproduksi kerbau lumpur
(Bubalus bubalis). JITV 2: 213 217.
Situmorang, P. dan P. Sitepu. 1991. Comparative growth performance, semen
quality and draught capacity of Indonesian swamp buffaloes and its
crosse. Aciar Proc.34 : 102-112.
Solihati, N. 2005. Pengaruh Metode Pemberian PGF2 Dalam Sinkronisasi
Estrus Terhadap angka Kebuntingan Sapi Perah Anestrus. Fakultas
Peternakan. Universitas Padjajaran.
Squires, E. L. 2004. Management of Mares for Insemination with Frozen Semen.

Toelihere MR, 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa,


Bandung.
Toelihere MR. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Mutiara. Bandung.