Anda di halaman 1dari 1

Lubang ini memungkinkan hubungan atau aliran udara antar sakus alveolaris terminalis.

Alveolus hanya memiliki satu lapis sel yang diameternya lebih kecil dibandingkan dengan
diameter sel darah merah. Dalam setiap pary terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas
permukaan seluas sebuah lapangan tenis.
Terdapat dua tipe lapisan sel alveolar: pneumosit tipe 1, merupakan lapisan tipis yang
menyebar dan menutupi lebih dari 90% daerah permukaan, dan pneumosit tipe II , yang
bertanggung jawab terhadap sekresi surfaktan. Struktur mikroskopik sebuah duktus alveolaris
dan alveolus-alveolus berbentuk polygonal yang mengelilinginya. Alveolus pada hakikatny
amerupakan suatau gelembung gas yang dikelilingi oleh jaringan kapiler sehingga batas
antara cairan dan gas membentuk tegangan permkaan yang cenderung mencegah
pengembangan saat inspirasi dan cenderung kolaps saat ekspirasi. Tetapi untunglah alveolus
dilapisi oleh zat lipoprotein ( disebut surfaktan) yang adapat mengurangi tegangan
permukaan dan mengurangi resistensi terhdapa pengembangan pada waktu inspirasi, dan
mencegah kolaps alveolus pada saat ekspirasi. Pembentukan dan pengeluaran surfaktan oleh
sel lapisan alveolus (tipe II) bergantung pada beberapa faktor, yaitu kematangan sel-sel
alveolus dan sistem enzim biosintetik, kecapatan pergantian surfaktan yang normal, ventilasi
yang memadai dan aliaran darah kedinding alveolus. Surfaktan relative lambat terbentuk pada
kehidupan fetal; sehingga bayi yang lahir dengan jumlah surfaktan yang sedikit (biasanya
kelahiran premature) dapat berkembang menjadi sindrom gawat nafas pada bayi. Surfaktan
disintesis dari asam lemak yang diekstraksi dari darah, dengan kecepatan pergantiannya yang
cepat. Sehingga bila lairan darah ke daerah paru terganggu ( misalnya kerena emboli paru),
maka jumlah surfaktan pada daerah itu akan berkurang. Produksi surfaktan dirangsang oleh
ventilasi aktif, volume tidal yang memadai, dan hiperventilasi periodic (cepat dan dalam)
yang dicegah oleh konsentrasi oksigen tinggi pada udara yang diinspirasi. Sehingga
pemberian oksigen konsentrasi dalam waktu yang lama atau kekgagalan untuk bernpas cepat
dan dalam pada seorang pasien yang menggunakan ventilasi mekanik akan menurunkan
produksi surfaktan dan menyebabkan kolaps alveolar (ateletaksis). Defisirnsi surfaktan
dianggap sebagai faktor penting pada pathogenesis sejumlah penyakit paru, termasuk
sindrom gawat nafas akut (ARDS).`