Anda di halaman 1dari 19

6

BAB II
LANDASAN TEORI
II.1. Tinjauan Pustaka
II.1.1. Tuberkulosis Paru
II.1.1.1. Definisi
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis (Nurul, et al., 2012). Definisi lain dari Tuberkulosis paru
adalah suatu penyakit infeksi kronik yang sudah sangat lama dikenal pada manusia,
yang sering dihubungkan dengan tempat tinggal daerah urban dan lingkungan yang
padat (Amin & Bahar, 2009).
II.1.1.2. Etiologi
Sejenis bakteri bentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,30,6/um. Bersifat aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa bakteri lebih menyukai jaringan
yang tinggi oksigen. Tekanan oksigen paru bagian apikal lebih tinggi dibanding
bagian lainnya. Sehingga bagian ini menjadikan predileksi penyakit ini. Sebagian
besar dinding bakteri terdiri atas asam lemak (lipid), peptidoglikan dan
arabinomannan. Lipid inilah yang membuat bakteri lebih tahan terhadap asam (asam
alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap
gangguan kimia dan fisis. Bakteri ini dapat hidup pada udara kering maupun dalam
udara dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini dapat terjadi
karena bakteri berada dalam keadaan dormant. Dari sifat dormant ini bakteri dapat
bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberculosis aktif kembali (Amin & Bahar,
2009).
II.1.1.3. Faktor risiko
Ada beberapa faktor risiko akan terjadinya TB yaitu kemiskinan pada
berbagai kelompok masyarakat seperti pada Negara yang sedang berkembang. Faktor
berikutnya adalah kegagalan pengobatan TB, hal ini diakibatkan oleh tidak
memadainya komitmen politik, tidak memadainya pelayanan TB, tidak memadainya
tatalaksana kasus, salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG dan
infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis
ekonomi atau pergolakan masyarakat, dan faktor risiko terakhir adalah perubahan

demografik karena meningkatnya penduduk juga dampak akibat pandemik HIV


(Manalu, 2010).
Selain itu faktor yang mempengaruhi adalah :
1. Umur
Infeksi TB aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden
tertinggi TB biasanya mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan
75% penderita TB paru adalah usia produktif yaitu 15-50 tahun, ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Hiswani (2009) yang tertera di Jurnal
Ekologi Kesehatan Vol. 9 No.4, Desember 2010.
2. Jenis kelamin
Penderita TB lebih banyak laki-laki dibandingkan dengan wanita, karena
laki-laki

sebagian

besar

mempunyai

kebiasaan

merokok

sehingga

memudahkan terjangkitnya TB paru (Manalu, 2010). Proporsi kasus baru BTA


positif menurut jenis kelamin di Indonesia pada tahun 2005-2008 tidak
banyak berubah, laki-laki berkisar 57-59% dan perempuan 40-43% (Profil
Kesehatan Indonesia, 2008).
3. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap pengetahuan,
diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan, pencegahan
dan pengobatan TB paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka
seseorang akan mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat.
4. Pekerjaan
Pada pekerja menunjukkan bahwa penyakit ini mempunyai dampak
morbidity, mortality, sosial dan ekonomi. Menyerang usia produktif dan
berekonomi rendah, peluang dalam pendidikan atau pekerjaan berkurang,
kinerja dan produktivitas turun, serta pilihan kerja yang terbatas.
5. Kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok mempunyai faktor risiko 2,2 kali lebih besar pada
kejadian TB paru. Kemungkinan mekanisme pengaruh merokok terhadap
terjadinya TB paru adalah sebagai berikut :
a. Mekanisme pertahanan paru

b. Merusak mekanisme muccociliary clearance dari patogen potensial di


paru
c. Pajanan

akut

asap

rokok

meningkatkan

airway

resistance

dan

permeabilitas epitel pulmoner


d. Merusak magrofag
e. Menurunkan respon terhadap antigen
6. Tempat lingkungan
Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam penularan, terutama
lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat. Lingkungan rumah
merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap status
kesehatan penghuninya. Adapun syarat-syarat yang dipenuhi oleh rumah sehat
secara fisiologis yang berpengaruh terhadap kejadian tuberkulosis paru antara
lain :
a. Kepadatan Penghuni Rumah
Ukuran luas ruangan suatu rumah erat kaitannya dengan kejadian
tuberkulosis paru. Disamping itu Asosiasi Pencegahan Tuberkulosis Paru
Bradbury

mendapat

kesimpulan

secara

statistik

bahwa

kejadian

tuberkulosis paru paling besar diakibatkan oleh keadaan rumah yang tidak
memenuhi syarat pada luas ruangannya. Semakin padat penghuni rumah
akan semakin cepat pula udara di dalam rumah tersebut mengalami
pencemaran. Karena jumlah penghuni yang semakin banyak akan
berpengaruh terhadap kadar oksigen dalam ruangan tersebut, begitu juga
kadar uap air dan suhu udaranya. Dengan meningkatnya kadar CO2 di
udara dalam rumah, maka akan member kesempatan tumbuh dan
berkembang biak lebih bagi Mycobacterium tuberculosis. Dengan
demikian akan semakin banyak bakteri yang terhisap oleh penghuni rumah
melalui saluran pernafasan. Menurut Departemen Kesehatan Republik
Indonesia kepadatan penghuni diketahui dengan membandingkan luas
lantai rumah dengan jumlah penghuni, dengan ketentuan untuk daerah
perkotaan 6 m per orang daerah pedesaan 10 m per orang.
b. Kelembaban Rumah

Kelembaban udara dalam rumah minimal 40% 70 % dan suhu


ruangan yang ideal antara 18C 30C (Kesehatan Perumahan dan
Lingkungan Pemukiman, Journal Kesehatan Lingkungan , Vol. 2, No. 1,
Juli 2005). Bila kondisi suhu ruangan tidak optimal, misalnya terlalu
panas akan berdampak pada cepat lelahnya saat bekerja dan tidak
cocoknya untuk istirahat. Sebaliknya, bila kondisinya terlalu dingin akan
tidak menyenangkan dan pada orang-orang tertentu dapat menimbulkan
alergi (Depkes RI, Departemen Pengawasan Lingkungan dan Pemukiman,
1994). Hal ini perlu diperhatikan karena kelembaban dalam rumah akan
mempermudah berkembangbiaknya mikroorganisme. Kelembaban yang
tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering
seingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. Kelembaban
udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri
termasuk bakteri tuberculosis. Untuk mengatasi kelembaban, maka
perhatikan kondisi drainase atau saluran air di sekeliling rumah, lantai
harus kedap air, sambungan pondasi dengan dinding harus kedap air, atap
tidak bocor dan tersedia ventilasi yang cukup (Siti Fatimah, 2008).
c. Ventilasi
Jendela dan lubang ventilasi selain sebagai tempat keluar masuknya
udara juga sebagai lubang pencahayaan dari luar, menjaga aliran udara di
dalam rumah tersebut tetap segar. Menurut indikator pengawasan rumah ,
luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai
rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah <
10%luas lantai rumah. Luas ventilasi rumah yang <10% dari luas lantai
(tidak memenuhi syarat kesehatan) akan mengakibatkan berkurangnya
konsentrasi oksien dan bertambahnya konsentrasi karbondioksida yang
bersifat racun bagi penghuninya. (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Pengawasan Kualitas Kesehatan Lingkungan dan Pemukiman,
1994). Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan
peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan

10

cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yang tinggi akan
menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembangbiaknya bakteribakteri patogen termasuk bakteri tuberculosis ( Azwar, 2008). Tidak
adanya ventilasi yang baik pada suatu ruangan makin membahayakan
kesehatan atau kehidupan, jika dalam ruangan tersebut terjadi pencemaran
oleh bakteri seperti oleh penderita tuberkulosis atau berbagai zat kimia
organik atau anorganik (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Pengawasan Kualitas Kesehatan Lingkungan dan Pemukiman, 1994).
Ventilasi berfungsi juga untuk membebaskan udara ruangan dari
bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen seperti tuberkulosis, karena di
situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa
oleh udara akan selalu mengalir. Selain itu, luas ventilasi yang tidak
memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses
pertukaran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah,
akibatnya bakteri tuberkulosis yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar
dan ikut terhisap bersama udara pernafasan (Siti Fatimah, 2008).
d. Pencahayaan Sinar Matahari
Cahaya matahari selain berguna untuk menerangi ruang juga
mempunyai daya untuk membunuh bakteri. Hal ini telah dibuktikan oleh
Robert Koch (1843-1910). Sinar matahari dapat dimanfaatkan untuk
pencegahan penyakit tuberkulosis paru, dengan mengusahakan masuknya
sinar matahari pagi ke dalam rumah. Cahaya matahari masuk ke dalam
rumah melalui jendela atau genteng kaca. Diutamakan sinar matahari pagi
mengandung sinar ultraviolet yang dapat mematikan bakteri. (Departemen
Kesehatan

Republik

Indonesia,

Pengawasan

Kualitas

Kesehatan

Lingkungan dan Pemukiman, 1994). Bakteri tuberkulosis dapat bertahan


hidup bertahun-tahun lamanya, dan mati bila terkena sinar matahari ,
sabun, lisol, karbol dan panas api. Rumah yang tidak masuk sinar matahari
mempunyai risiko menderita tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan dengan
rumah yang dimasuki sinar matahari. (Siti Fatimah, 2008).

11

e. Lantai rumah
Komponen yang harus dipenuhi rumah sehat memiliki lantai kedap air
dan tidak lembab. Jenis lantai tanah memiliki peran terhadap proses
kejadian Tuberkulosis paru, melalui kelembaban dalam ruangan (Siti
Fatimah, 2008). Lantai tanah cenderung menimbulkan kelembaban, pada
musim panas lantai menjadi kering sehingga dapat menimbulkan debu
yang berbahaya bagi penghuninya.
f. Dinding
Dinding berfungsi sebagai pelindung, baik dari gangguan hujan
maupun angin serta melindungi dari pengaruh panas dan debu dari luar
serta menjaga kerahasiaan penghuninya. Beberapa bahan pembuat dinding
adalah dari kayu, bambu, pasangan batu bata atau batu dan sebagainya.
Tetapi dari beberapa bahan tersebut yang paling baik adalah pasangan batu
bata atau tembok (permanen) yang tidak mudah terbakar dan kedap air
sehingga mudah dibersihkan. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Pengawasan Kualitas Kesehatan Lingkungan dan Pemukiman, 1994)
II.1.1.4. Cara Penularan
Sumber penularan adalah penderita TBC BTA positif. Pada saat batuk atau
bersin, penderita menyebarkan bakteri ke udara dalam bentuk droplet (percikan
dahak). Droplet yang mengandung bakteri dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup kedalam
saluran pernapasan. Setelah bakteri TBC masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernapasan, bakteri TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya
melalui system peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas atau penyebaran
langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya (Putra, 2011).
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya bakteri
yang dikeluarkan dan lamanya seseorang menghirup udara tersebut. Makin tinggi
derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin tinngi daya penularannya, bila hasil
pemeriksaan dahak negatif maka tidak akan menular (Harahap, 2013). Lingkungan
hidup yang sangat padat dan pemukiman di wilayah perkotaan kemungkinan besar

12

telah mempermudah proses penularan dan berperan sekali atas peningkatan jumlah
kasus TB. (Amin & Bahar, 2009).
II.1.1.5. Klasifikasi
Sampai sekarang belum ada kesepakatan diantara para klinikus, ahli
radiologis, ahli patologi, mikrobiologi dan ahli kesehatan masyarakat tentang
keseragaman klasifikasi tuberkulosis (Amin & Bahar, 2009). Dari sistem lama
diketahui beberapa klasifikasi tersebut :
1. Pembagian secara patologis
a) Tuberkulosis primer (childhood tuberculosis)
b) Tuberkulosis post primer (adult tuberculosis)
2. Pembagian secara aktivitas radiologis (Koch Pulmonum)
a) Tuberkulosis aktif
b) Tuberkulosis non aktif
c) Tuberkulosis quiescent (bentuk aktif yang mulai sembuh)
3. Pembagian secara radiologis (luas lesi)
a) Tuberkulosis minimal. Terdapat sebagian kecil infiltrate non-kavitas pada
satu paru maupun kedua paru, tetapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus
paru.
b) Moderately advanced tuberculosis. Ada kavitas dengan diameter tidak
lebih dari 4cm. Jumlah infiltrat bayangan halus tidak melebihi satu bagian
paru. Bila bayangan kasar tidak lebih dari sepertiga bagian paru.
c) Far advanced tuberculosis. Terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi
keadaan pada moderately advanced tuberculosis.
4. American Thoracic Society pada tahun 1974 memberikan klasifikasi baru
yang diambil berdasarkan aspek kesehatan masyarakat.
a) Kategori 0: tidak pernah terpajan, tidak terinfeksi, riwayat kontak negatif,
tes tuberkulin negatif.
b) Kategori I : terpajan tuberkulosis, tapi tidak terbukti ada infeksi. Riwayat
kontak, tes tuberkulin negatif.
c) Kategori II
: terinfeksi tuberkulosis, tetapi tidak sakit. Tes
tuberkulin positif, radiologis dan sputum negatif.
d) Kategori III
: terinfeksi tuberkulosis dan sakit.
Di Indonesia banyak digunakan klasifikasi berdasarkan kelainan klinis, radiologis,
dan mikrobiologis :
1. Tuberkulosis paru
2. Bekas tuberkulosis paru
3. Tuberkulosis paru tersangka yang terbagi dalam :

13

a) Tuberkulosis paru tersangka yang diobati. Sputum BTA negatif, tetapi


tanda-tanda lain positif.
b) Tuberkulosis paru tersangka yang tidak diobati. Sputum BTA negatif dan
tanda-tanda lain juga meragukan. Dalam 2-3 bulan, TB tersangka ini
sudah harus dipastikan apakah termasuk TB paru (aktif) atau bekas paru.
Dalam klasifikasi ini perlu dicantumkan :
1. Status bakteriologi
2. Mikroskopik sputum BTA (langsung)
3. Biakan sputum BTA
4. Status radiologis, kelainan yang relavan untuk tuberkulosis paru.
5. Status kemoterapi, riwayat pengobatan dengan obat anti tuberkulosis.
WHO berdasarkan terapi membagi TB dalam kategori yaitu :
a) Kategori I
: kasus baru dengan sputum positif, kasus baru dengan bentuk
TB berat.
b) Kategori II
c) Kategori III

: kasus kambuh, kasus gagal dengan sputum BTA positif.


: kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas,

kasus TB ekstra paru selain yang disebut dari kategori I.


d) Kategori IV : TB kronik
Menurut buku Penyakit & Cara pencegahan TBC yang ditulis oleh dr.Yoannes Y.
Laban, 2008, TB Paru yang menyerang paru dibedakan menjadi dua macam, sebagai
berikut :
1. TBC paru BTA positif (sangat menular)
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 pemeriksaan dahak, memberikan hasil yang
positif.
b) Satu pemeriksaan dahak memberikan hasil yang positif dan foto rontgen
menunjukkan TBC aktif.
2. TBC paru BTA negatif
Pemeriksaan dahak positif negative/foto rontgen dada menunjukkan TBC
aktif. Positif negatif yang dimaksud adalah hasil yang meragukan, jumlah
bakteri belum memenuhi syarat positif.
Menurut buku Ilmu Penyakit Dalam FKUI yang ditulis oleh Amin & Bahar, keluhan
terbanyak adalah :
1. Demam
2. Batuk/batuk darah
3. Sesak napas
4. Nyeri dada
5. Malaise atau rasa kurang enak badan

14

Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan lebih luas
keluhan atau gejala utama pasien. Keluhan atau gejala utama berupa adalah batuk
terus menerus dan berdahak selama 3 ( tiga) minggu atau lebih. Gejala tambahan
yang sering dijumpai : (Widyastuti, et al., 2012)
1. Dahak bercampur darah.
2. Batuk darah.
3. Sesak nafas dan rasa nyeri dada.
4. Badan lemah
5. Nafsu makan menurun
6. Berat badan turun
7. Rasa kurang enak badan (malaise)
8. Demam meriang lebih dari sebulan.
II.1.1.6. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang ditemukan terhadap keadaan umum adalah
konjungtiva mata atau kulit yang pucat akibat anemia, suhu demam (subfebris), badan
kurus atau berat badan turun. Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimtomatik
dan penyakit baru dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada
pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin yang positif (Amin & Bahar, 2009).
II.1.1.7. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis dada yang paling praktis untuk menemukan lesi
tuberkulosis. Pemeriksaan radiologis memang lebih mahal dibandingkan pemeriksaan
sputum, namun memiliki beberapa keuntungan seperti untuk melihat tuberkulosis
anak-anak dan tuberkulosis milier (gambaran radiologis bercak-bercak halus merata
pada seluruh lapangan paru).
Lesi biasanya di daerah apeks paru (segmen apikal lobus atau segmen apical
lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior), atau daerah
hilus menyerupai tumor paru. Awal penyakit lesi ini masih seperti sarang-sarang
pneumonia, gambaran radiologis bercak-bercak seperti awan dan batas-batas yang
tidak tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma. Pada kavitas, bayangannya seperti
cincin yang mula-mula berdinding tipis. Lama-lama menjadi sklerotik dan terlihat

15

menebal. Bila terjadi fibrosis, akan terlihat bayangan bergaris-garis. Pada kalsifikasi,
bayangannya tampak bercak padat dengan denisitas tinggi.
Gambaran radiologis lain yang sering ditemukan menyertai tuberkulosis paru
adalah penebalan pleura (pleuritis), massa cairan dibagian bawah paru (efusi
pleura/emfiema),

bayangan

hitam

radiolusen

dipinggir

paru

atau

pleura

pneumothoraks) (Amin & Bahar, 2009).


II.1.1.8. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini kurang dapat perhatian, karena hasilnya
kadang meragukan, tidak sensitif dan tidak spesifik. Pada tuberkulosis yang baru aktif
didapatkan peningkatan leukosit yang sedikit meninggi dan hitung jenis pergeseran
ke kiri, jumlah limfosit dibawah normal dan laju endap darah mulai meningkat. Bila
penyakit mulai sembuh jumalah leukosit kembali normal, limfosit masih tetap tinggi
dan laju endap darah kembali normal. Hasil pemeriksaan darah lain juga didapatkan
anemia ringan dengan gambaran normokrom normositer dan gamma globulin
meningkat juga kadar natrium menurun (Amin & Bahar, 2009).
II.1.1.9. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum penting karena dapat ditemukannya bakteri BTA ,
diagnosis sudah bisa dipastikan. Selain itu pemeriksaan sputum juga dapat
memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini
mudah dan murah sehingga dapat dikerjaan dilapangan (puskesmas). Tetapi tidak
mudah mendapatkan sputum, terutama pasien tidak batuk atau batuk yang tidak
produktif. Maka dari itu pasien sebelum melakukan pemeriksaan sputum disarankan
meminum air sebanyak + 2 liter dan diajarkan refleks batuk. Dapat uga memberikan
obat tambahan seperti mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam
hipertonik selama 20-30 menit. BTA dari sputum bisa juga diambil dari bilas
lambung, hali ini sering dikerjakan pada anak-anak karena anak-anak sulit
mengeluarkan dahaknya.
II.1.1.10. Tes Tuberkulin
Tes tuberkulin untuk diagnosis imunologik terhadap infeksi M. tuberculosis
mempunyai banyak keterbatasan. Tes ini digunakan dengan cara mengukur respons
hipersensitivitas tipe lambat (48-72 jam) setelah suntikan intradermal.
II.1.1.11. Diagnosis

16

1. Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya


2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium ( darah, dahak, cairan otak )
4. Pemeriksaan patologi anatomi
5. Pemeriksaan radiologis ( foto thoraks)
6. Uji tuberkulin
II.1.1.12. Penatalaksanaan
1. Tujuan
Bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah

kematian,

mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah


terjadinya resistensi bakteri terhadap obat.
2. Prinsip
Pengobatan TB dilakukan dengan prinsip-prinsip berikut :
1) Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus dalam bentuk kombinasi beberapa
obat, dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat sesuai dengan kategori
pengobatan.
2) Untuk menjamin

kepatuhan

pasien

menelan

obat,

dilakukan

pengawasan langsung (Directly Observed Treathment atau DOT) oleh


seorang pengawas Menelan Obat (PMO).
Pengobatan diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan tahap
lanjutan:
a) Tahap awal (intensif)
i.Pasien mendapat obat setiap hari dan perklu diawasi secara langsung
untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
ii.Bila pengobatan diberikan secara tepat, biasanya pasien menular
menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
iii.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi negatif (konversi)
dalam 2 bulan.
b) Tahap lanjutan
i.Pasien mendapatkan jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama (biasanya 4 bulan).
ii.Tahap lanjutan penting untuk membunuh bakteri persisten sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.
3. Paduan
Paduan OAT digunakan oleh Program Penanggulangan Tuberkulosis
di Indonesia :

17

1.

Kategori 1 : 2(HRZE)/ 4(HR)3. Dengan indikasi pasien TB paru BTA


positif,pasien TB baru BTA negatif namun foto thoraks positif dan

2.

pasien TB ekstra paru.


Kategori 2 : 2(HRZE)S/ (HRZE) atau 5(HR)3E3. Dengan indikasi
untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya (pasien
kambuh, pasien gagal dan pasien dengan pengobatan setelah putus

obat).
II.1.1.13. Kriteria sembuh
1. BTA negative pada fase intensif dan fase lanjutan
2. Foto thoraks serial stabil
3. Biakan sputum negatif
II.1.1.14. Komplikasi
Bila tidak ditangani dengan benar dapat menimbulkan komplikasi baik dini
maupun lanjut :
1. Dini

: pleuritis, efusi pleura, emfiema, laringitis, TB usus, dan

poncets arthrophy.
2. Lanjut
: obstruksi jalan napas (sindrom obstruksi pasca tuberkulosis),
kerusakan parenkim berat (fibrosis paru), cor pulmonal, karsinoma paru
dan sindrom gagal napas dewasa (ARDS).
II.1.2. Pengetahuan
Merupakan hasil dari ingin tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmodjo, 2012). Pengetahuan atau
ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (Overt Behaviour).
Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Rogers pada tahun 1974 di dalam
buku Notoadmodjo (2012) mengatakan bahwa, sebelum orang mengadopsi perilaku
baru dalam diri seseorang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni :
Awareness

Interest

Evaluation

Trial

Faktor
yang mempengaruhi
(Mubarak, 2005) (mencoba)
adalah :
(kesadaran)
(tertarik)pengetahuan
(menimbang)

Adaption
(Perilaku)

18

II.1.3. Sikap
Merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau objek (Notoadmodjo, 2012). Menurut Newcomb, salah satu ahli
psikologis sosial di buku Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan (2012),
mengatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,
bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Bersikap tidak dapat dilihat langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya
kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari
merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan
suatu perilaku (Notoadmodjo, 2012).
Komponen sikap menurut Allport yang terdapat didalam buku Notoadmodjo
(2012) adalah :

Ketiga komponen tersebut membentuk sikap yang utuh. Dalam penentuan


sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi yang memegang
peranan penting.
II.1.4. Perilaku

19

Mengutip penelitian dari salah satu jurnal Universitas Sumatera Utara, di dalam
bukunya Notoadmodjo (2012) mengungkapkan, menurut Skiner perilaku merupakan
respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Skiner, perilaku kesehatan adalah
respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan
penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan minuman serta lingkungan :
1. Teori Lawrence Green
Menganalisis mengenai perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan
seseorang atau masyarakat dapat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu perilaku
(behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non-behavior causes). Selanjutnya
perilaku ditentukan atau terbentuk oleh 3 faktor, yaitu :
1) Predisposising factor atau faktor predisposisi, yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2) Enabling factor atau faktor pendukung, yang terwujud dalam lingkungan
fisik tersedia atau tidaknya failitas-fasilitas atau sarana kesehatan
misalnya puskesmas, obat-obatan, jamban, dan lain-lain sebagainya.
3) Reforcing factor atau faktor pendorong, yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
2. Teori WHO
Menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu
karena adanya 5 alasan pokok :

Meskipun perilaku dibedakan antara perilaku terbuka (overt) dan perilaku


tertutup (covert), tetapi perilaku adalah totalitas yang terjadi pada orang yang

20

bersangkutan yang merupakan hasil bersama antara faktor internal dan eksternal.
(Benyamin Bloom,1908), membedakan adanya 3 domain perilaku, yakni kognitif,
afektif, dan psikomotorik (Notoatmodjo, 2012). Dalam perkembangan selanjutnya,
untuk kepentingan pendidikan praktis dikembangkan menjadi 3 domain perilaku yang
dapat diamati antara lain:
1.

Pengetahuan (knowledge)

2.

Sikap (attitude)

3.

Tindakan (practice)

II.1.5 Kondisi Fisik rumah


Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang
layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya,
serta aset bagi pemiliknya. (Kepmenkes RI No. 1107 Pedoman Penyehatan Udara
Dalam Ruang Rumah).
Kondisi rumah yang baik penting untuk mewujudkan masyarakat yang sehat.
Rumah dikatakan sehat apabila memenuhi ke 4 syarat hal pokok sebagai berikut :
1. Memenuhi kebutuhan fisiologis, seperti pencahayaan, ruang gerak yang cukup
dan terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
2. Memenuhi kebutuhan psikologis seperti privacy yang cukup dan
komunikasi yang baik antara penghuni rumah.
3. Memenuhi persyaratan pencegahan penyakit menular, yang meliputi
penyediaan air bersih, pembuangan tinja dan air limbah rumah tangga, bebas
dari vektor penyakit, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, sinar matahari
yang cukup, makanan dan minuman yang terlindung dari pencemaran.
4. Memenuhi persyaratan pencegahan kecelakaan baik yang berasal dari dalam
maupun luar rumah.
Berdasarkan Jurnal Kedokteran Muhammadiyah, Volume 1, nomor 1 (2012)
hasil penelitian Erwin, dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa kondisi fisik rumah
yang buruk berisiko terkena TB paru sebesar 45,50 kali dibandingkan kondisi fisik
rumah yang baik. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa
parameter fisik rumah yang ada kaitannya dengan kejadian penularan penyakit TB
paru, yaitu :
II.1.5.1. Ventilasi

21

Ventilasi berfungsi untuk manjaga agar udara didalam rumah tetap segar,
membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri terutama bakteri patogen.
Kurangnya ventilasi dapat menyebabkan kurangnya kadar oksigen dan bertambahnya
kelembapan udara didalam ruangan. Untuk mendapatkan ventilasi yang baik, maka
ada syarat yang harus dipenuhi, yatu (Kemenkes RI No. 829, 1999) :
1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan. Sedangkan
lubang ventilasi insidential (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% dari luas
lantai, hingga jumlah keduanya 10% dari luas lantai ruangan.
2. Udara yang masuk harus udara yang bersih, tidak dicemari oleh asap dari
sampah atau pabrik, knalpot kendaraan, debu dan lain-lain.
II.1.5.2. Pencahayaan
Kondisi rumah yang baik adalah cahaya harus dapat menerangi seluruh
ruangan. Pencahayaan dalam rumah sangat berkaitan erat dengan tingkat kelembapan
didalam rumah. Pencahayaan yang kurang akan menyebabkan kelembapan yang
tinggi didalam rumah dan sangat berpotensi sebagai tempat berkembangbiaknya
bakteri TBC. Hendaknya setiap rumah harus mempunyai pencahayaan yang
memenuhi syarat dengan membuka jendela setiap pagi. Intensitas pencahayaan
minimal yang diperlukan adalah 60 lux dan tidak menyilaukan (Kemenkes RI No.
829, 1999).
II.1.5.3. Jenis Lantai
Jenis lantai yang baik adalah yang kedap air dan mudah dibersihkan. Jenis
lantai yang digunakan bermacam-macam mulai dari tanah, papan, semen sampai
dengan keramik. Dari jenis lantai yang disebutkan jenis keramik yang paling baik
karena kedap air dan mudah dibersihkan, sedangan jenis lantai yang menggunakan
tanah yang mempunyai risiko tertinggi kejadian tuberkulosis karena mudah lembab
dan tidak menyerap air juga sulit dibersihkan, sehingga menjadi tempat yang baik
untuk berkembangbiaknya bakteri TB (Kemenkes RI No. 829, 1999).
II.1.5.4. Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian diketahui akan meningkatkan risiko dan tingkat keparahan
penyakit berbasis lingkungan. Terutama di Negara Indonesia yang masih banyak
sekali terdapat penyakit menular, seperti penyakit pernapasan dan semua penyakit
yang menyebar melalui udara, salah satunya penyakit tuberkulosis. Persyaratan
kepadatan hunian untuk pengukuran rumah sederhana, luas kamar tidur minimal 8

22

m dan dianjurkan untuk tidak lebih dari 2 orang. Dengan ketentuan anak < 1 tahun
tidak diperhitungkan dan umur 1-10 tahun dihitung setengah (Kemenkes RI No. 829,
1999).

II.2. Kerangka Teori


Berdasarkan teori dan jurnal penelitian yang telah dilakukan, didapatkan
berbagai faktor yang mempengaruhi kejadian TB paru, sesuai dengan segitiga
epidemiologi yaitu :
Gambar 2. 1. Kerangka Teori Segitiga Epidemiologi

Agent

Mycobacterium
tuberculosis

Kondisi
Lingkungan &
Fisik Rumah

Pengetahuan,
Sikap, Perilaku

Iklim &
Geografis

Status Gizi

Status
Ekonomi

Environment
(Lingkungan)
: variabel yang diteliti

II.3. Kerangka Konsep

Tuberkulos
is

Jenis Kelamin

Host
(Penjamu)
: variabel yang tidak diteliti

23

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka kerangka konsep penelitian ini sebagai
berikut :
Gambar 3.1. Kerangka Konsep
Variabel Independen

Variabel Dependen

Host

Pengetahuan

Sikap

Perilaku

Tuberkulosis Paru

Environtment
Kondisi Fisik Rumah

Ventilasi

Pencahayaan

Jenis Lantai

Kepadatan
hunian

II.4. Hipotesis penelitian


H1: Ada hubungan antara pengetahuan pencegahan dengan kejadian TB Paru
di puskesmas UPT limo.
H2 : Ada hubungan antara sikap pencegahan dengan kejadian TB Paru di
puskesmas UPT limo.
H3 : Ada hubungan antara perilaku pencegahan dengan kejadian TB Paru di
puskesmas UPT limo.

24

H4 : Ada hubungan antara pencahayaan di dalam rumah dengan kejadian TB


Paru di puskesmas UPT limo.
H5: Ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian TB Paru di
puskesmas UPT limo.
H6 : Ada hubungan antara luas ventilasi di dalam rumah dengan kejadian TB
Paru di puskesmas UPT limo.
H7 : Ada hubungan antara kepadatan hunian kamar di dalam rumah dengan
kejadian TB Paru di puskesmas UPT limo.