Anda di halaman 1dari 9

KOLAGEN SISIK IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS)

SEBAGAI BARRIER MEMBRANE ALTERNATIF UNTUK


MEREGENERASI TULANG ALVEOLAR PADA KASUS
PERIODONTITIS
Adrian Rustam1, Amalia Nur Syahbani1, dan Andi Muhammad Fahruddin1
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin, Makassar

ABSTRAK
Latar belakang: Periodontitis merupakan penyakit rongga mulut yang mengakibatkan
dekstruksi tulang alveolar yang luas bahkan kehilangan gigi sehingga akan berdampak
secara signifikan pada aspek sosial, fungsi, dan estetik. Prevalensi periodontitis di
Indonesia cukup tinggi, yakni mencapai 60%. Hal ini menyebabkan meningkatnya
kebutuhan perawatan. Dewasa ini, perawatan periodontitis tidak hanya berfokus untuk
mengeliminasi bakteri periopatogen tetapi juga lebih mengarah pada terapi regenerasi
tulang alveolar. Salah satu metode terapi regenerasi tulang alveolar adalah Guided
Tissue Regeneration yang mengandalkan fungsi barrier membrane berbahan kolagen.
Kolagen berperan penting dalam proses regenerasi tulang dan biocompatible. Kolagen
murni ternyata banyak terkandung dalam limbah sisik ikan nila. Kolagen sisik ikan nila
dapat berfungsi lebih lama karena tingkat denaturasinya yang tinggi. Tujuan: Mengkaji
potensi kolagen sisik ikan nila sebagai barrier membrane alternatif untuk meregenerasi
tulang alveolar pada kasus periodontitis. Pembahasan: Keberhasilan metode GTR
dalam meregenerasi tulang bergantung pada kemampuan eksklusi sel epitel dan jaringan
konektif, mempertahankan ruang, serta induksi bekuan fibrin. Regenerasi tulang dengan
Barrier membrane meliputi tahap osteogenesis, osteoinduksi, osteokonduksi, dan
angiogenesis. Tahapan tersebut didukung oleh peran kolagen yang mampu mencegah
invasi sel-sel epitel ke area defek tulang sehingga proses angiogenesis dan migrasi sel
osteogenik dapat berjalan dengan sempurna. Kolagen sisik ikan nila, yang bersifat
kemotaktik terhadap sel epitel dan fibroblas, dapat merangsang dan mempercepat
proses pembentukan jaringan tulang baru serta mendukung proses osteokonduksi.
Sebagai agen hemostatik, kolagen sisik ikan nila dapat memperkuat perlekatan fibrin
selama proses pematangan tulang. Kesimpulan: Kolagen dalam sisik ikan nila
berpotensi sebagai barrier membrane untuk meregenerasi tulang alveolar pada kasus
periodontitis.
Kata kunci : Kolagen, Sisik ikan nila, Barrier membrane, Regenerasi tulang
alveolar, Periodontitis

ABSTRACT
Background: Periodontitis is one of oral disease which results extensive alveolar bone
destruction even tooth loss so it will significantly impact on social aspects, function, and
esthetics. Incidence of periodontitis in Indonesia is quite high, reaching 60%. This high
incidence increasing demand for treatment. Lately, periodontitis treatment is not only
focused on eliminating periodontal pathogens but also, more oriented on regenerating
alveolar bone. Alveolar bone could be regenereated using Guided Tissue Regeneration
Method which rely on the function of collagen-based barrier membrane. Collagen plays
an important role in bone regeneration and biocompatible. Pure collagen is abundantly
contained in tilapia fish scales. Tilapia fish scale collagen can serve longer because its
high denaturation level. Purpose: To review tilapia fish scale collagens potential as an
alternative barrier membrane to regenerate alveolar bone in periodontitis cases.
Discussion: Successful GTR in bone regeneration relies on the exclusion of epithelium
and connective tissue, space maintenance, and fibrin clot induction. Regenerating bone
using membrane comprised of osteogenesis, osteoinduction, osteoconduction, and
angiogenesis. These stages are supported by collagen that is capable of preventing
epithelial cells invasion into bone defect area so angiogenesis process and osteogenic
cells migration run perfectly. Tilapia fish scale collagen, which are chemotactic for
epithelial cells and fibroblasts, stimulate and accelerate new bone tissue formation also
support osteoconduction proccess. As a hemostatic agent, Tilapia fish scale collagen
could strengthen fibrin attachment during bone maturation process. Conclusions:
Collagen in tilapia fish scale is potential as barrier membrane to regenerate alveolar bone
in periodontitis cases .
Keywords : Collagen, Tilapia fish scale, Barrier membrane, Alveolar bone
regeneration, Periodontitis

1. PENDAHULUAN
Periodontitis merupakan inflamasi
kronis pada jaringan periodontal yang
disebabkan oleh infeksi bakteri dan
kerap dijumpai di bidang kedokteran
gigi. Hasil Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) Depkes RI tahun 2011
menyatakan bahwa prevalensi kasus
periodontitis cukup tinggi di Indonesia,
yakni mencapai 60%.1 Apabila tidak
segera
ditangani,
periodontitis
mengakibatkan kerusakan ligamentum
periodontal dan dekstruksi tulang
alveolar yang luas bahkan kehilangan
gigi.2 Hilangnya tulang alveolar akan
berdampak secara signifikan pada
aspek sosial, fungsi, dan estetik di masa
yang akan datang. Mengetahui dampak
tersebut, terapi modern saat ini
diharapkan tidak hanya terpusat untuk
mengeliminasi bakteri periopatogen atau
mengontrol inflamasinya saja tetapi juga
mempertimbangkan upaya regenerasi
pada jaringan periodonsium utamanya
tulang alveolar untuk meningkatkan
kualitas host.3
Salah satu terapi regenerasi
tulang yang mutakhir saat ini adalah
metode Guided Tissue Regeneration
(GTR).4 Metode ini mengandalkan
barrier membrane sebagai perangkat
fisik yang berfungsi untuk mencegah
migrasi sel dan jaringan yang tidak
diinginkan ke area penyembuhan
sehingga sel-sel osteogenik dapat
menginvasi area tersebut tanpa adanya
gangguan dan memicu pembentukan
jaringan tulang.5,6 Di samping itu, barrier
membrane menyediakan perlindungan
terhadap gumpalan darah (clot) selama
fase awal pemulihan.7
Barrier membrane terbagi menjadi
dua jenis yaitu bioresorbable dan nonbioresorbable. Dewasa ini, membran
bioresorbable dari bahan alami lebih
banyak digunakan daripada membran
non-bioresorbable
karena
memiliki
keunggulan yaitu dapat terdegradasi
oleh
jaringan
sehingga
operasi
pengangkatan membran setelah proses
regenerasi selesai tidak diperlukan dan
risiko
paparan
jaringan
terhadap
kolonisasi
bakteri
dapat
diminimalkan.5,8,9
Kolagen merupakan salah satu
jenis bahan alami barrier membrane
bioresorbable yang umumnya berasal

dari kulit dan tulang mamalia atau


unggas seperti sapi dan babi. Hal ini
tentu menimbulkan berbagai masalah
terkait
kehalalan.
Di
sisi
lain,
penggunaan kolagen dari sapi, babi dan
unggas masih mengkhawatirkan karena
merebaknya penyakit unggas dan
mamalia. Oleh karena itu, pencarian
bahan baku alternatif kolagen dari
bahan yang lebih aman sangat
diperlukan.10
Ikan nila (Oreochromis niloticus)
merupakan salah satu jenis ikan air
tawar yang banyak dibudidayakan di
Indonesia. Besarnya produksi ikan nila
tentu akan diiringi dengan meningkatnya
produksi limbah berupa sisik ikan yang
kurang dimanfaatkan khususnya pada
bidang kedokteran gigi.11 Beberapa
penelitian melaporkan bahwa sisik ikan
nila ternyata kaya akan kandungan
kolagen, khususnya kolagen tipe I. 12
Hayashi dkk menyebutkan bahwa
komposisi asam amino pada kolagen
sisik ikan nila hampir sama dengan
komposisi kolagen pada mamalia.13
Selain itu, kolagen dari limbah perikanan
juga terbukti bebas dari penyakit
mamalia dan unggas.14
Tujuan karya studi literatur ini
adalah untuk mengkaji potensi kolagen
sisik ikan nila sebagai barrier membrane
alternatif untuk meregenerasi tulang
alveolar pada kasus periodontitis.
2. PEMBAHASAN
2.1. Sisik Ikan Nila (Oreochromis
niloticus)
Ikan nila merupakan salah satu
jenis ikan air tawar yang mengalami
peningkatan produksi setiap tahunnya
dengan kenaikan rata-rata sebesar
24,76% dari tahun 2007 2011.
Berdasarkan KKP 2011, Indonesia
menempati urutan ketiga terbesar di
dunia sebagai penghasil produk ikan
nila. Peningkatan produksi ikan nila
yang tinggi mengakibatkan produksi
limbah sisik ikan juga ikut meningkat. 15
Produksi ikan nila pada tahun 2011 yang
mencapai 1.440.000 ton diperkirakan
akan menghasilkan 125.280 ton sisik
ikan nila.16
Sisik ikan nila memiliki nilai
rendemen kolagen tipe I yang cukup

tinggi. Hal ini berdasarkan perbandingan


nilai rendemen kering kolagen dari
sampel kulit dan sisik ikan lainnya, yakni
: kulit ikan sotong (2.0%), sisik ikan
sarden (5.0%), sisik ikan kerapu (7.0%),
dan kulit ikan kakap (9.0%) sedangkan
sisik ikan nila menghasilkan rendemen
kolagen tipe I sebesar 5,96%.16
Kolagen tipe I merupakan protein
utama penyusun tulang, tendon, kulit,
ligamen, dan pembuluh darah. Kolagen
pada tulang manusia tersusun atas 95%
kolagen tipe I yang terbukti berperan
dalam memperkuat tulang.17 Kolagen
memiliki kemampuan dalam proses
homeostasis,
kemotaktik,
dan
meningkatkan faktor pertumbuhan, serta
mendukung angiogenesis.18
Kandungan kolagen pada sisik
ikan nila memiliki beberapa keunggulan
antara lain13,14,19-22:
1. Antigenesitas dan imunogenisitas
yang rendah.
Kolagen sisik ikan nila memiliki
imunogenesitas
yang
rendah
sehingga kolagen tidak dapat
menginduksi sistem imun. Sebagai
antigen yang lemah, kolagen tidak
mampu berikatan dengan produk
respon imun spesifik.19 Penelitian
yang dilakukan oleh Suzanah dkk
membuktikan bahwa penggunaan
sisik ikan nila tidak menyebabkan
alergi.20
2. Suhu denaturasi tinggi.
Suhu denaturasi kolagen harus
mendekati atau melebihi suhu
tubuh rata-rata manusia. Jika tidak,
kolagen akan terdenaturasi ketika
diaplikasikan pada manusia. Studi
Yamamoto
dkk
menunjukkan
bahwa suhu denaturasi kolagen
yang diekstrasi dari sisik ikan nila
sebesar 35-360C.14
3. Bahan baku murah dan bebas dari
kontaminasi penyakit
Kolagen sisik ikan merupakan
bahan baku murah karena berasal
dari limbah perikanan. Selain itu,
kolagen sisik ikan terhindar dari
risiko penularan penyakit mamalia
seperti sapi gila, flu babi, dan flu
burung.21,22
4. Komposisi asam amino pada
kolagen sisik ikan nila hampir sama
dengan komposisi kolagen pada
mamalia.13

2.2. Periodontitis
Periodontitis didefinisikan sebagai
inflamasi jaringan pendukung gigi yang
disebabkan oleh spesies bakteri Gram
Negatif
seperti
Porphyromonas
gingivalis, Prevotella intermedia, dan
Actinomyces
viscosus
yang
mengakibatkan kerusakan progresif
pada ligamen periodontal dan tulang
alveolar. Periodontitis diawali dengan
peradangan
pada
gingiva
akibat
akumulasi plak. Bila akumulasi plak
tidak segera ditangani, maka inflamasi
akan berlanjut hingga membentuk poket
periodontal dimana serabut ligamen
terputus akibat adanya aktivitas enzim
dan respon imun LPN dan makrofag.
Bakteri
periopatogen
melepaskan
endotoksin dan eksotoksin yang akan
menstimulus
respon
imun
untuk
memacu aktivitas osteoklas dalam
meresorbsi tulang.2
2.3. Mekanisme Regenerasi Tulang
Alveolar
Regenerasi
tulang
alveolar
umumnya dapat terjadi pada kondisi
normal, tetapi apabila kerusakan tulang
disebabkan oleh faktor trauma atau
infeksi, maka proses regenerasi sulit
terjadi.
Proses regenerasi tulang
merupakan proses kompleks dan
dinamis dari perbaikan struktur sel dan
jaringan. Tahap-tahap regenerasi tulang
alveolar pada prinsipnya sama dengan
tahap penyembuhan tulang di bagian
tubuh lain, yang terdiri dari fase
inflamasi, fase reparatif, dan fase
remodeling. Dalam fase-fase tersebut
terjadi
proses
osteogenesis,
osteoinduksi,
osteokonduksi,
dan
angiogenesis.23
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi telah terjadi sejak
awal kerusakan tulang. Pembuluh darah
pada area defek mengalami kerusakan
dan pembentukan gumpalan darah
dimulai. Pelepasan trombosit akan
mengirimkan sinyal ke host untuk
melepaskan makrofag di area defek.
Makrofag akan mengabsorpsi jaringan
nekrotik
sekaligus
merangsang
osteoklas untuk membersihkan fragmen
tulang yang rusak. Sementara itu,
jaringan granuloma terbentuk untuk
menyediakan dukungan struktural. Di
sisi lain, sel endotelial membentuk
pembuluh
darah
kapiler
untuk

menyediakan
nutrisi
ke
area
penyembuhan. Faktor pertumbuhan
akan dilepaskan dari area lokal untuk
membantu proses proliferasi dan
diferensiasi sel osteoprogenitor seperti
Mesencymal Stem Cell (MSC).23
2. Fase Reparatif
MSC
yang
berdiferensiasi
menjadi
sel
osteogenik
mulai
membentuk jaringan kalus. Fase ini
membutuhkan protein kolagen dan nonkolagen seperti bone morphogenetic
protein (BMP), osteopontin (OPN) dan
osteocalcin (OCN). Kolagen bertugas
menyediakan
osteoid
untuk
biomineralisasi. Selanjutnya, Proses
mineralisasi akan memasuki dua jalur
yang berbeda yakni jalur kondrogenesis
dan
jalur
pembentukan
tulang
intramembranous. Kedua jalur ini
berujung pada inisiasi osteogenesis. 23
3. Fase Remodeling
Pada fase ini, tulang rawan yang
belum matang (lamellar bone) akan
digantikan dengan tulang yang lebih
matang (woven bone). Proses ini
menandakan terjadinya restorasi tulang.
Proses
remodeling
dipandu
oleh
ekspresi gen-gen tertentu dan protein.
Sejumlah
faktor
gen
seperti
macrophage colony-stimulating factor
(M-CSF) dan receptor activator of
nuclear factor B (RANK) dan ligannya
(RANKL) terbukti berperan penting
dalam
menyeimbangkan
aktivitas
osteoblast dan osteoklas. Sementara
itu,
osteoklas
dan
osteoblas
mensekresikan
matriks
metalloproteinase (MMP) yang akan
melarutkan dan mendegradasi matriks
organik dan mineral tulang.23
2.4. Regenerasi Tulang Alveolar
dengan Metode Guided Tissue
Regeneration
Guided Tissue Regeneration
(GTR) merupakan metode regenerasi
jaringan
periodontal
dengan
menggunakan barrier membrane yang
mengacu
pada
konsep
bahwa
regenerasi dapat terjadi apabila sel
epitel dan jaringan ikat dihambat
sedangkan sel-sel lain seperti sel
mesenkim dari ligamen periodontal dan
osteoblas bermigrasi dan tumbuh pada
area defek.24
Syarat-syarat ideal barrier
membrane antara lain: 1) membran
bersifat biocompatible, tidak memicu

respon imun, reaksi alergi, atau


inflamasi
kronis
yang
dapat
mengganggu proses penyembuhan; 2)
membran mampu mencegah invasi selsel yang tidak diinginkan ke area
penyembuhan; 3) membran harus
memiliki kekuatan mekanis yang
adekuat untuk mendukung stabilisasi
sehingga jaringan di atas membran tidak
kolaps;
4)
membran
dapat
mempertahankan
rongga
defek
sehingga
sel
osteogenik
dapat
bermigrasi dan berproliferasi ke area
defek
untuk
menginisiasi
proses
penyembuhan.25
Material
barrier
membrane
digolongkan menjadi 2 jenis:
1) Non-bioresorbable membrane adalah
jenis barrier membrane yang tidak dapat
diresorbsi
oleh
jaringan
tubuh,
contohnya: cellulose filters, (Milli poore
filters)
dan
expanded
polytetrafluoroethylene
(ePTFE).
Keunggulan utama bahan ini adalah
memiliki
kekuatan
mekanis
dan
biokompatibilitas yang tinggi, namun
memerlukan operasi pengangkatan
membran pasca terapi.
2) Bioresorbable membrane adalah jenis
barrier membrane yang dapat diresorbsi
oleh
jaringan
tubuh,
contohnya
membran kolagen, polyactic acid,
polyglycrolic acid dan sinthetic liquid
polimer. Bahan ini tidak memerlukan
operasi
sekunder
pengangkatan
membran.6
Pembuatan barrier membrane
bioresorbable dapat diolah melalui
metode
cross-linking
dengan
penambahan glutaraldehid, formaldehid,
sinar UV, asam asetat atau sugar based
dengan tujuan untuk meningkatkan
kualitas,
biokompatibilitas
dan
biodegradibilitas bahan membran.26
2.5. Mekanisme kolagen sisik ikan
nila dalam meregenerasi tulang
alveolar pada kasus periodontitis
Periodontitis
disebabkan
oleh
aktivitas kelompok bakteri anaerob yang
mendekstruksi ligamen periodontal dan
tulang
alveolar.27
Bakteri
ini
memproduksi zat endotoksin dan
eksotoksin yang dapat menstimulasi
mediator inflamasi dari sel gingiva
sehingga
sel
progenitor
tulang
berdiferensiasi
menjadi
osteoklas. 2

Peningkatan produksi osteoklas akan


menyebabkan resorpsi tulang alveolar
yang jika tidak dirawat, akan berdampak
pada kehilangan gigi, fungsi fonetik dan
mastikasi, serta estetik.28
Terapi periodontal bertujuan untuk
menghentikan
perkembangan
periodontitis
dengan
cara
mengendalikan
infeksi
dan
meregenerasi tulang alveolar. Scaling
dan Root Planing (SRP) atau Open Flap
Debridement (OFD) merupakan metode
terapi konvensional periodontitis. Akan
tetapi, perawatan dengan pendekatan
tersebut terbukti kurang efektif dalam
mengembalikan kontur tulang alveolar
seperti semula.28
Dewasa ini, beberapa metode
perawatan
periodontitis
telah
dikembangkan sebagai upaya untuk
mengembalikan kontur tulang alveolar,
salah
satunya
Guided
Tissue
Regeneration (GTR). GTR merupakan
metode regenerasi jaringan periodontal
dengan
mengandalkan
perangkat
barrier membrane yang berfungsi untuk
melindungi
rongga
defek
(space
making) agar sel epitel dan jaringan
konektif gingiva tidak mengintervensi
proses migrasi dan proliferasi sel
osteoblas, serta membantu stabilisasi
gumpalan darah (clot) pada area defek.
Agar dapat berfungsi secara optimal,
barrier membrane harus memenuhi
kriteria esensial membran meliputi
biokompatibilitas, mudah dimanipulasi,
integrasi jaringan, dan kemampuan
oklusi sel epitel, serta menciptakan
ruang.6
Membran
non-bioresorbable
merupakan salah satu jenis barrier
membrane
yang
sudah
jarang
digunakan dalam perawatan GTR
karena membutuhkan intervensi bedah
kedua untuk pengangkatan membran
sehingga akan meningkatkan risiko
kolonisasi
bakteri
yang
dapat
mengganggu
penyembuhan.
Oleh
karena itu, penggunaan membran
bioresorbable, khususnya dari bahan
alami
seperti
kolagen,
lebih
direkomendasikan.
Umumnya,
kolagen
yang
digunakan sebagai barrier membrane
berasal dari bahan baku tulang, kulit
mamalia dan unggas seperti sapi dan
babi. Bahan baku dari babi tidak
dibenarkan bagi pemeluk Agama Islam

dan Yahudi, sedangkan penggunaan


tulang dan kulit sapi menjadi persoalan
tersendiri bagi pemeluk Agama Hindu.
Di sisi lain, merebaknya isu penyakit
kuku dan mulut pada sapi, flu burung,
dan penyakit sapi gila menimbulkan
kekhawatiran sehingga pengolahan
kolagen dari sisik ikan berpotensi untuk
mengatasi permasalahan tersebut.15
Penelitian Junzo Tanaka dkk
menunjukkan bahwa sisik ikan nila
mengandung kolagen murni yang
rendah lemak dan tidak berbau. 29
Dibandingkan dengan ikan tawar lain,
sisik ikan nila mengandung kolagen tipe
I yang cukup tinggi. Rata-rata kolagen
dari ekstraksi sisik ikan nila berkisar
5,96%.30 Kolagen yang diekstraksi dari
sisik ikan nila memiliki beberapa
kelebihan diantaranya: biokompatibilitas
dan suhu denaturasi yang tinggi, bebas
dari kontaminasi penyakit, bahan baku
yang murah, dan komposisi asam amino
yang
ternyata
sama
dengan
mamalia.21,22
Dengan
berbagai
kelebihannya tersebut, kolagen tipe I
pada sisik ikan nila berpotensi sebagai
bahan baku barrier membrane dalam
mendukung proses regenerasi tulang
alveolar menggunakan metode GTR.
Regenerasi tulang alveolar meliputi
tahap penyembuhan tulang yang terdiri
atas tiga fase yakni fase inflamasi, fase
reparatif, dan fase remodeling. Ketiga
fase tersebut melibatkan osteogenesis,
osteoinduksi,
osteokonduksi,
dan
angiogenesis.23
Pada fase inflamasi, kolagen tipe I
yang
bersifat
kemotaktik
akan
merangsang makrofag menuju daerah
defek untuk memfagositosis sel-sel dan
jaringan tulang yang rusak serta
menstimulasi
osteoklas
untuk
membersihkan fragmen tulang yang
mati.23,31
Untuk
menyediakan
vaskularisasi dan asupan nutrisi pada
area
penyembuhan,
kolagen
menginisasi
proses
angiogenesis
dengan cara
memicu migrasi dan
proliferasi sel endotel secara langsung
dari pembuluh kapiler sumsum tulang,
dan secara tidak langsung dari
pembuluh kapiler jaringan gingiva
menembus barrier membrane lalu
menuju sentral defek tulang.32,33
Pada fase reparatif, kolagen tipe I
terlibat pada proses osteoinduksi
dengan membantu diferensiasi sel

osteoprogenitor
menjadi
sel-sel
pembentuk
tulang.34
Selanjutnya,
kolagen
bertanggungjawab
dalam
menyediakan matriks organik tambahan
yang akan mengalami mineralisasi,
deposisi, dan maturasi hingga ke tahap
remodeling.5,23
Pada fase remodeling, kolagen tipe
I sebagai agen hemostatik, mempererat
pertautan fibrin untuk mempercepat
regenerasi tulang.35 Sementara itu,
osteoblas dan osteoklas mensekresikan
metaloproteinase
yaitu
enzim
kolagenase yang akan meresorbsi
membran kolagen.23 Aktivitas resorbsi
ini akan menyisakan deposit kolagen
yang diikuti dengan pembentukan celah
antara jaringan tulang dan gingiva.
Celah ini akan diinvasi oleh sel-sel
osteoblas.
Sel
ini
kemudian
memanfaatkan sisa-sisa kolagen yang
ada sebagai matriks untuk membentuk
jaringan tulang baru pada daerah celah.
Pada studi literatur ini, penulis
menggagas pembuatan bioresorbable
barrier membrane berbahan baku
kolagen dari limbah sisik ikan nila
melalui prosedur Cross-linking dengan
bahan dasar D-Ribose. Metode sugar
based cross-linked dipilih karena
membran yang dihasilkan tidak bersifat
toksik dan imunogenik. Di samping itu,
metode ini membuat barrier membrane
lebih resisten terhadap reaksi enzimatik
sehingga proses degradasi membran
dapat diperlambat.36 Prosedur ini terdiri
dari beberapa tahap mulai dari isolasi
kolagen dari sisik ikan nila dan
karakterisasi bahan secara kimiawi serta
pemurnian. Lalu, kolagen murni yang
dihasilkan
berpolimerisasi
menjadi
serabut aggregate kolagen yang siap
untuk dilakukan pertautan silang (Crosslink) dengan D-Ribose. Matriks kolagen
sebagai hasil cross-linked selanjutnya
melalui pemanasan tahap I, pencetakan
membran semipadat, pemanasan tahap
II, hingga pada tahap sterilisasi
membran.26, 36-38
3. KESIMPULAN
Kandungan kolagen tipe I pada
sisik ikan nila berpotensi sebagai
sumber
kolagen
alternatif
untuk
pembuatan barrier membrane dalam
meregenerasi tulang alveolar pada
kasus periodontitis.

DAFTAR RUJUKAN
1.

Departemen Kesehatan RI. Survei


Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
2011. Jakarta: Badan Litbangkes;
2012

2.

Carranza F, Takei N, et al.


Carranzas clinical periodontology
11th ed. Missouri: Elsevier, 2012. p.
41-2, 144, 494.

3.

Sugiaman VK. Pemanfaatan sel


punca
dalam
mengembalikan
ketinggian tulang alveolar melalui
teknologi
tissue
engineering.
Prosiding temu ilmiah manado
dentistry; 13 14 Februari.
Manado; 2015: p.72-8.

4.

Ramseier CA, Rasperini G, Batia S,


Giannobile
WV.
Advanced
regenerative
technologies
for
periodontal
tissue
repair.
Periodontol 59:1(2012): 85-202

5.

Dimitriou R, Mataliotakis GI, Calori


GM, et al. The role of barrier
membranes for guided bone
regeneration and restoration of
large
bone
defects:
current
experimental and clinical evidence.
BMC Medicine 10:1(2012): 81.

6.

Soepribadi I. Regenerasi dan


penyembuhan untuk kedokteran
gigi. Jakarta: Sagung Seto; 2011:
p.83-5

7.

Villar
CC,
Cochran
DL.
Regeneration
of
periodontal
tissues:
guided
tissue
regeneration. Dent Clin N Am 54:
(2010): 73-92.

8.

Rakhmatia
YD,
Ayukawa
Y,
Furuhashi A, Koyano K. Current
barrier Membranes : Titanium mesh
and other membranes for guided
bone
regeneration
in
dental
applications. J Prosthodont Res
57: (2013): 3-14.

9.

Darwis D. Pengembangan bahan


biomaterial untuk pemakaian di
bidang kesehatan dengan teknik
radiasi pengion. In : Evvy Kartini,
Editor. Iptek Nuklir : Bunga Rampai
presentasi ilmiah jabatan peneliti.

Jakarta : Badan Tenaga Nuklir


Nasional; 2013. 251-75.
10. Setiawati IH. Karakteristik mutu
fisika kimia gelatin kulit ikan kakap
merah (lutjanus sp.) hasil peruses
perlakuan asam [skripsi]. Bogor :
Institute Pertanian Bogor; 2009.
11. Kementerian
Kelautan
dan
Perikanan.
Laporan
Tahunan
direktorat produksi tahun 2013,
oleh direktorat jenderal perikanan
budidaya, KKP. 2014. 3 Oktober,
2015
<http://www.djpb.kkp.go.id/public/u
pload/download/pustaka/06PUSTA
KA/LAPTAH%20PRODUKSI
%20%202013.pdf.>
12. Simanjuntak
BR.
Pengolahan
kolagen dari kulit ikan nila merah
(oreochromis
niloticus)
dibalai
besar
penelitian
dan
pengembangan pengolahan produk
dan bioteknologi kelautan dan
perikanan
[thesis].
Jogjakarta:
Univeritas Gadjah Mada; 2013.

strength. Osteoporos
(2008): 319-336.

Int.

17:

18. Collagen and the wound healing


process. Wound care essentials.
2015.
5
Oktober
2015.
<http://www.woundheal.com>.
19. Kusnoto.
Antigenesitas,
Imunogenesitas, dan Spesifitas
protein 27-28 kDa dari material
excretory-secretory (ES) fasciola
spp pada diagnosis distomatosis
serum sapi dengan teknik indirectELISA. 24:1(2008):1-6.
20. Rahman SA, Zambry H, Basha S,
Kamarzaman S, Chowfhury AJK.
The potential role of red tilapia
(oreochromis
niloticus)
scales:
allergic test in mice. Journal of
Applied Pharmaceutical Science.
3:10(2013): 45.
21. Hartati L, Kurniasari. Kajian
produksi kolagen dari limbah sisik
ikan secara ekstraksi enzimatis.
Momentum 6:1(2010): 34.

13. Hayashi Y, Yamada S, Yanagiguchi


K, et al. Chitosan and fish collagen
as biomaterials for regenerative
medicine. Advances in food and
nutrition research 65:(2012): 107120.

22. Kumar M, Spandana V, Poonam T.


Extraction and determination of
collagen peptide and its clinnical
importance from tilapia fish scales
(oreochromis
niloticus).
International research journal of
pharmacy. 2:10(2011): 97.

14. Yamamoto K, Igawa K, Sugimoto K,


et al. Biological safety of fish
collagen. Biomed Res Inter (2014).
20
August
2015
<http://dx.doi.org/10.1155/2014/630
757.>

23. Ko CC, Somermn MJ, An KN.


Motion and bone generation.
Engineering of Functional Skeletal
Tissues.(2007): 111-4.

15. Nurhayati,
Tazwir,
Murniyati.
Ekstraksi
dan
karakterisasi
kolagen larut asam dari kulit ikan
nila (oreochromis niloticus). JPB
kelautan dan Perikanan 8:1(2013):
86, 89.
16. Sahubawa
L,
Putra
ABN.
Pengaruh konsentrasi asam asetat
dan waktu ekstraksi terhadap mutu
kolagen limbah kulit ikan nila
hitam. Jurnal Teknosains. 1:1
(2011): 20.
17. Carrin S, Garnero P, Delmas PD.
The role of collagen in bone

24. Fedi PF, Vernino AR, Gray JL.


Silabus periodonti Edisi 4. Jakarta :
EGC, 2012 p.31.
25. Sam G, Pillai BRM. Evolution of
barrier membranes in periodontal
regeneration:
are
the
third
generation
membranes
really
here?. JCDR. 8:12(2014): 14.
26. Domingues A. Silva JM, Bayon Y,
Sotelo CG, Silva TH, Reis RL.
Preparation of marine origin
collagen membranes. International
Materials Review.s (2012):1.

27. Hardhani PR, Lastianny SP,


Herawati
D.
Pengaruh
penambahan platelet-risch plasma
pada cangkok tulang terhadap
kadar osteocalcin cairan sulkus
gingiva pada terapi poket infraboni.
Jurnal PDGI. 62:3(2013): 75.
28. Shue L, Yufeng IZ, Mony U.
Biomaterials
for
periodontal
regeneration a review of ceramics
and
polymers.
Biomatter
2:4(2012): 271-2.
29. Collagen, a key factor for clinical
success. Biomaterial engineering
2015.
9
oktober
2015
<http://www.tecnoss.com/collagen.
html>.
30. Sahubawa L, Ekantari N. Ekstraksi
dan karakterisasi kolagen dari kulit
ikan nila hitam (oreochromis
niloticus). JPB Kelautan dan
Perikanan. 8:2(2013): 171.
31. Triyono B. Perbedaan tampilan
kolagen di sekitar luka insisi pada
tikus wistar yang diberi infiltrasi
penghilang nyeri levobupivakain
dan
yang
tidak
diberi
levobupivakain
(suatu
studi
histokimia).
[Tesis]
Semarang:
Universitas Diponegoro; 2005.
32. Neve A, Cantatore FP, Maruotti N,
Carrado A, Ribatti D. Extracellular
matrix modulates angiogenesis in
physiological
ad
pathological
conditions.
BioMed
Research
International. (2014): 1-10
33. Twardowski T, Fertala A, Antonio
JD. Type I collagen and collagen
mimetics
as
angiogenesis
promoting
superpolymers.
J
Current Pharmaceutical Design
14:30 (2008):14.
34. Wang T, Yang X, Jiang C.
Osteoinduction and proliferation of
bone-marrow stromal cells in threedimensional poly (-caprolactone)/
hydroxyapaptite/
collagen
scaffolds. Journal of Transnational
Medicine. 13:152(2015): 2-11.

35. Farzad M, Mohammadi M. Guided


Bone Regeneration: a literatur
review. JOHOE. 1:1(2012): 3-18.
36. Tal H, Moses O, Kozlovsky A,
Nemcovsky
C.
Bioresorbable
colllagen membranes for guided
bone regeneration. Editor: Tal H.
Kroasia: Intech Europe, 2012. p.
116-7.
37. Yang H, Chen X, Guo X, Gao R,
Zhou S, Yan Y. Preparation of
collagen
wound-healing
membranes. 5:11(2013): J. Chem.
Pharm. 655-8.
38. Silva TH, Silva JM, Marques AL,
Domingues A, Bayon Y, Reis RL.
Marine orogin collagens and its
potential applications. Mar. Drugs
12: (2014): 5881-901.