Anda di halaman 1dari 27

AKUNTANSI TRANSAKSI ISTISHNA

DAN ISTISHNA PARALEL


KELOMPOK VI
Faturrahman Haditya 13820085
M.Fakhri Lazuardi 13820094

DEFINISI DAN PENGGUNAAN


Bai al istishna atau disebut dengan istishna, merupakan

kontrak jual beli dalam bentuk pembuatan barang


tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang
disepakati antara pemesan ( pembeli, mustahni ) dan
penjual ( pembuat, shani ).
Barang yang diperjualbelikan biasanya adalah barang
manufaktur, adapun dalam hal pembayaran, transaksi
istishna dapat dilakukan di muka, melalui cicilan atau
ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan
datang.
Penggunaan akad istishna oleh bank syariah diindonesia
relatif masih minim.

Ketentuan Syari, Rukun Transaksi Dan Pengawasan Syariah


Transaksi Istishna Dan Istishna Paralel
Ketentuan syari transaksi Istishna dan

Istishna paralel
Rukun transaksi Istishna
- Transaktor
- Objek Istishna
- Ijab dan kabul
Rukun Transaksi Istishna Paralel
Pengawasan Syariah Transaksi Istishna
dan Istishna paralel
Alur Transaksi Istishna dan Istishna
Paralel

ALUR TRANSAKSI ISTISHNA PARALEL

Bank Syariah
Sebagai penjual
( shani 1dan
Pembeli
( mustashni )
Pada istishna 2

1.Negosiasi,
Pesan barang
Dan akad
Istishna

Nasabah
sebagai
Pembeli
( mustashni )

9. Pelunasan pembayaran
4.Kirim tagihan penyelesaian barang

5.bayar

1.Negosiasi,
Pesan barang
Dan akad
Istishna

8.Kirim dokumen pengiriman


7.Kirim
barang
Pemasok
( shani )

3. Buat barang

Cakupan Standar Akuntansi IstishnaParalel

Akuntansi istishna diatur dalam


Pernyataan Standar Keuangan ( PSAK ) no
104 tentang istishna.terkait dengan
pengakuan dan pengukuran transaksi,
standar ini mengatur tentang penyatuan
dan segmentasi akad, pendapatan
istishna dan istishna parale,
istishnadengan pembayaran tangguh,
biaya perolehan istishna, penyelesaian
awal pengakuan taksiran rugi, perubahan

Teknis Perhitungan Transaksi Istishna

Transaksi Istishna Pertama


Untuk mengembangkan klinik ibu dan
anak yang dikelolanya, dr. Ursila
berencana
menambah
satu
unit
bangunan seluas 100 m2 khusus untuk
rawat inap di sebelah barat bangunan
utama klinik. Untuk kebutuhan itu, dr.
Ursila
menghubungi
Bank
Berkah
Syariah untuk menyediakan bangunan
baru sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkannya.
Setelah
serangkaian
negosiasi beserta kegiatan survey untuk

Harga Bangunan
: Rp 150.000.000
Lama penyelesaian
: 5 bulan (paling lambat tanggal 10 Juli)
Mekanisme panagihan
: 5 termin sebesar Rp 30.000.0000 per
termin mulai tanggal 10 Agustus
Mekanisme pembayaran : setiap 3 hari setelah tanggal penagihan

Transaksi Istishna Kedua


Untuk membuat bangunan sesuai dengan keinginan dr. Ursila,
pada tanggal 12 Februari 20XA, Bank Berkah Syariah
memesan kepada kontraktor PT. Thariq Konstruksi dengan
kesepakatan sebagai berikut:
Harga Bangunan
: Rp 130.000.000
Lama penyelesaian
: 4 bulan 15 hari (paling lambat
tgl 25 Juni)
Mekanisme penagihan kontraktor
: tiga termin pada saat
penyelesaian 20%, 50% dan 100%.
Mekanisme pembayaran oleh Bank
: dibayar tunai
sebesar tagihan dari kontraktor.

Penjurnalan Transaksi Istishna


A.Transaksi biaya prakad ( Bank sebagai
penjual
misalkan) : Pada tanggal 5 Februari 20XA,
untuk keperluan survey dan pembuatan
desain bangunan yang akan dijadikan acuan
spesifkasi barang, bank Berkah syariah telah
mengeluarkan kas hingga Rp 2.000.000.
jurnal untuk mengakui transaksi ini adalah
Tanggal: Rekening
Debit
Kredit
sbb
5/2/XA

Db. Beban praakad yang ditangguhkan 2.000.000


Kr. Kas

2.000.000

B. Penandatanganan akad dengan pembeli


( Bank sebagai Penjual)

Misalkan kasus dr. Ursila dengan bank berkah


syariah diatas, transaksi istishna jadi
disepakati pada tanggal 10 Februari, maka
jurnal pengakuan beban prakaad menjadi
biaya
istishna adalah
sebagai berikut:
Tanggal
Rekening
Debit
Kredit
( Rp )
10/2/XA

Db. Biaya istishna


Kr. Beban praakad yg ditangguhkan

( Rp )

2.000.000
2.000.000

C. Pembuatan akad istishna paralel dengan pembuat


barang
( Bank Sebagai Pembeli )

Berdasarkan PSAK no 104 paragraf 29 disebutkan


bahwa biaya perolehan istishna paralel terdiri dari :
- Biaya perolehan barang pesanan sebesar tagihan
produsen atau kontraktor kepada entitas
- Biaya tidak langsung, yaitu biaya overhead termasuk
biaya akad dan praakad; dan
- Semua biaya akibat produsen atau kontraktor tidak
dapat memenuhi kewajibannya , jika ada

D. Penerimaan dan pembayaran tagihan


kepada penjual (pembuat ) barang istishna

Dalam
kasus
11.1,
disebutkan
bahwa
mekanisme pembayaran dilakukan dalam tiga
termin yaitu pada saat penyelesaian 20%, 50%
dan 100%. Misalkan dalam perjalanannya,
realisasi tagihan ketiga termin tersebut
No.
Tingka
Tanggal
Tangga Tangg Jumlah
ditunjukkan
dalam
tabel berikut:

Termin

t
penagiha
l
penyel
n
penagi
esaian kontrakt
han
or
kontra
ktor

al
Pemb
ayara
n

Pembay
aran

20%

1 April

26.000.0000

8 April

26.000.0000

II

50%

15 Mei

39.000.0000

22 Mei

39.000.0000

Lanjutan

Misalkan pada tanggal 1 April, PT. Thariq


Konstruksi menyelesaikan 20% pembangunan
dan menagih pembayaran termin pertama
sebesar Rp 26.000.000 (20% x Rp 130.000.000)
kepada Bank Berkah Syariah. Jurnal pengakuan
penagihan pembayaran oleh pembuat barang
adalah sebagai berikut:
Tangga
l

Rekening

1/4/XA Db. Aset istishna dalam


penyelesaian
Kr. Utang Istishna

Debit
( Rp )

Debit
( Rp )

26.000.00
00
26.000.00
0

Lanjutan

Misalkan tagihan kedua diterima pada tanggal 15 Mei Rp


39.000.000 dan diikuti dengan pembayaran oleh bank
pada tanggal 22 Mei 20XA. Jurnal untuk transaksi tersebut
adalah sebagai berikut:

Lanjutan

Misalkan tagihan ketiga diterima tanggal 25 Juni


20XA Rp. 65.000.000 dan dibayarkan pada tanggal 2
Juli 20XA. Jurnal untuk transaksi tersebut adalah
sebagai berikut:

E. Pengakuan Pendapatan istishna


Berdasarkan PSAK no 104 Paragraf 18
disebutkan bahwa jika metode prosentae
penyelesaian digunakan, maka :
- bagian nilai akad yang sebanding dengan
pekerjaan yang telah diselesaikan dalam
periode tersebut, diakui sebagai pendapatan
istishna pada periode yang bersangkutan
- bagian margin keuntungan istishna yang
diakui selama periode pelaporan ditambahkan
kepada aset istishna dalam penyelesaian ; dan
- pada akhir periode harga pokok istishna diakui
sebesar biaya istishna yang telah dikeluarkan

Pengakuan Pendapatan istishna


Untuk kasus 11.1, dengan menggunakan metode persentase
penyelesaian, maka pendapatan diakui sesuai dengan persentase
penyelesaian.
Adapun perhitungan pendapatan istishna, harga pokok istishna dan
keuntungan istishna adalah sebagai berikut:
Pendapatan istishna diukur sebesar bagian nilai akad yang sebanding
dengan pekerjaan yang telah diselesaikan dalam periode tersebut
Pendapatan istishna = persentase penyelesaian x nilai akad penjualan
Maka pada tanggal 10 April saat penyelesaian 20%, diakui
pendapatan sebesar Rp 30.000.000 (20% x Rp 150.000.000).
Harga pokok istishna diakui sebesar persentase penyelesaian aset
istishna.
Harga pokok istishna
= persentase penyelesaian x nilai akad
pembelian
= 20% x Rp 130.000.000
= Rp 26.000.000

Pengakuan Pendapatan istishna


Keuntungan istishna yang dimaksud adalah bagian

margin keuntungan istishna yang diakui selama periode


pelaporan yang ditambahkan kepada aset istishna
dalam penyelesaian.
Keuntungan istishna = persentase penyelesaian x
margin keuntungan istishna
= 20% x (Rp 150.000.000 Rp 130.000.000)
= 20% x Rp 20.000.000
= Rp 4.000.000
Dalam jurnal penyesuaian yang dibuat, pengakuan
keuntungan istishna dilakukan dengan mendebit asset
istishna dalam penyelesaian sebesar Rp 4.000.000.

Pengakuan Pendapatan istishna


Secara keseluruhan, jurnal yang terkait dengan transaksi

pengakuan pendapatan saat penyelesaian 20%, 50%


dan 100% adalah sebagai berikut.

F. Penagihan Piutang Istishna pada Pembeli


Misalkan dalam kasus di atas, penagihan oleh bank kepada pembeli
akhir dilakukan dalam 5 termin dalam jumlah yang sama yaitu Rp
30.000.000, setiap tanggal 10 mulai bulan April. Maka jurnal untuk
mengakui setiap kali penagihan piutang istishna kepada pembeli
dan penerimaan pembayaran dari pembeli tersebut adalah sebagai
berikut.

Tanggal
10/04/X
A

Rekening
Db. Piutang istishna
Kr. Termin Istishna
* Rp 150.000.000/ 5 termin = Rp
30.000.000 per termin

Debit ( Rp )
30.000.000

Kedit ( Rp )

30.000.000

( F ) Penerimaan Pembayaran Piutang Istishna dari Pembeli


Pembayaran piutang istishna oleh nasabah dilakukan setelah menerima

tagihan istishna dari bank. Oleh karena termin istishna merupakan pos
lawan dari piutang istishna, maka pada waktu pembayaran piutang, bank
sebagai penjual perlu menutup termin istishna.
Misalkan dalam kasus di atas, pembayaran oleh nasabah pembeli dilakukan
3 hari setelah menerima tagihan dari bank sebagai penjual Rp. 30.000.000
yang seharusnya dibayar pada 10 Aprtil 20XA. Maka jurnal untuk
mengakui setiap penerimaan pembayaran dari pembeli tersebut adalah
sebagai berikut
Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

13/04/X
A

Db. Kas/rekening nasabah pembeli


istishna

30.000.000

Kr. Piutang Istishna

Kredit (Rp)

30.000.000

(G) Saat barang pesanan diserahkan pada nasabah


Menurut PAPSI 2013 (h. 4.19), pada saat barang pesanan

telah diserahkan kepada nasabah, bank melakukan jurnal


balik atas rekening aktiva istishna dalam penyelesaian dan
termin istishna. Untuk kasus 11.1, misalkan barang pesanan
diserahkan pada tanggal 13/8/XA, maka jurnal pada saat
penyerahan barang tersebut adalah sebagai berikut:
Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

13/8/XA

Db. Termin Istishna

150.000.00
0

Kr. Aset istishna dalam


penyelesaian

Kredit (Rp)

150.000.00
0

G. Variasi Transaksi dan Kebijakan akuntansi

g.1.Pengakuan Pendapatan dengan metode akad selesai


Berdasarkan PSAK no 104 paragraf 19 disebutkan
bahwa pada metode akad selesai melekat beberapa
ketentuan berikut :
1.Tidak ada pendapatan istishna yang diakui sampai
dengan pekerjaan tersebut selesai:
2.Tidak ada harga pokok istishna yang diakui sampai
dengan pekerjaan tersebut selesai:
3.Tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam
istishna dalam penyelesaian sampai dengan
pekerjaan tersebut selsai: dan
4.Pengakuan pendapatan istishna, harga pokok
istishna, dan keuntungan dilakukan hanya pada saat
penyelasaian pekerjaan.

g.2. Pembayaran dengan cara tangguh


Berdasarkan PSAK no 104 paragraf 20, jika
menggunakan metode persentase penyelesaian
dan proses pelunasan dilakukan dalam periode
lebih dari satu tahun setelah penyerahan barang
pesanan, maka pengakuan pendapatan dibagi
menjadi dua bagian, yaitu:
a. Margin keuntungan pembuatan barang pesanan
yang dihitung apabila istishna dilakukan secara
tunai, diakui sesuai persentase penyelesaian; dan
b. Selisih antara nilai akad dan nilai tunai pada saat
penyerahan diakui selama periode pelunasan
secara proporsional sesuai dengan jumlah
pembayaran.

PENYAJIAN
Menurut PAPSI 2013 (h. 4.19-20), ketentuan penyajian
transaksi terkait jual beli dengan skema istishna dalam
laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Uang muka Istishna disajikan sebagai liabilitas lainnya.
2. Uang muka kepada pemasok disajikan sebagai aset lainnya.
3. Utang Istishna disajikan sebesar tagihan dari pemasok
yang belum dilunasi.
4. Aktiva Istishna dalam Penyelesaian disajikan sebesar dana
yang dibayarkan Bank kepada supplier.
5. Termin Istishna disajikan sebesar jumlah tagihan termin
Bank kepada nasabah.
6. Piutang Istishna disajikan sebesar jumlah yang belum
dilunasi oleh pembeli akhir.
7. Margin Istishna ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan
piutang istishna.

PENGUNGKAPAN
Menurut PAPSI 2013 (h. 4.21) hal-hal yang harus diungkapkan
terkait jual beli dengan skema istishna antara lain:
1. Rincian piutang istishna berdasarkan jumlah, jangka waktu,
jenis valuta dan kualitas piutang dan cadangan kerugian
penurunan nilai piutang Istishna.
2. Jumlah piutang istishna yang diberikan kepada pihak yang
berelasi.
3. Kebijakan akuntansi yang dipergunakan dalam pengakuan
pendapatan cadangan kerugian penurunan nilai,
penghapusan dan penanganan piutang istishna yang
bermasalah.
4. Besarnya piutang istishna baik yang dibiayai sendiri oleh
bank maupun secara bersama-sama dengan pihak lain
sebesar bagian pembiayaan bank.
5. Jumlah akumulasi biaya atas kontrak berjalan serta
pendapatan dan keuntungan sampai dengan akhir periode
berjalan.

Lanjutan...
8. Nilai kontrak istishna yang sedang berjalan serta rentang
periode pelaksanaannya.
9. Nilai kontrak istishna yang telah ditandatangani bank selama
periode berjalan tetapi belum dilaksanakan dan rentang
periode pelaksanaannya.
10. Rincian utang istishna berdasarkan jumlah, tujuan (pemasok
atau nasabah), jangka waktu dan jenis mata uang.
11. Utang istishna kepada nasabah yang merupakan pihak
berelasi.
12. Jenis dan kuantitas barang pesanan.

Sekian
Terima Kasih