Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Menurut M.L. Jhingan bahwa ilmu ekonomi pembangunan mengacu kepada
berbagai masalah perkembangan ekonomi di negara-negara terbelakang. Sedangkan
menurut Michael P. Todaro studi ekonomi pembangunan merupakan suatu cabang
paling baru serta menantang dari disiplin ilmu yang lebih luas yakni ilmu ekonomi dan
politik ekonomi, menurutnya selain membahas mengenai masalah yang berkaitan
dengan alokasi sumber daya secara efesien dan pertumbuhan yang lestari dari waktu ke
waktu, juga menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan mekanisme-mekanisme
perekonomian, sosial, dan kelembagaan.
Hal ini mengingat tingkat hidup Rich Country dan Poor Country atau
Developped dan Underdevelopped yang menunjukkan perbandingan yang besar (GAP)
yaitu bahwa 2/3 dari penduduk dunia menerima kurang dari 1/6 dari pendapatan dunia,
maka dengan demikian Poor Country menginsafi akan tingkat pendapatan mereka yang
rendah, sehingga masalah Pembangunan Ekonomi seperti kemiskinan, produktivitas
yang rendah, pertumbuhan penduduk yang berlebihan, pengangguran, ketergantungan
eksport pada produk primer dan daya saing yang lemah Negara berkembang di pentas
internasional merupakan masalah yang harus dipecahkan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Ruang Lingkup
Pembangunan ekonomi adalah upaya untuk memperluas kemampuan dan
kebebasan memilih (increasing the ability and freedom to choice) :
a. Kuallitas SDM merupakan komponen penting dalam setian gerak pembangunan,
hanya dari SDM yang berkualitas tinggilah yang dapat mempercepat
pembangunan.
b. Sarana dan prasarana. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat di pakai sebagai
alat dan bahan untuk mencapai maksud dan tujuan dari suatu proses
pembangunan. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang
utama terselenggaranya pembangunan.
c. Kelembagaan ekonomi modern, perangkat kelembagaan dimaksud meliputi
lembaga atau wadah tempat subjek itu berhubungan, cara kerja dan mekanisme
serta kaidah atau norma yang mengatur hubungan subjek tersebut.
Klasifikasi Negara :
a. Negara maju
b. Negara belum maju
c. Negara sedang berkembang
Dunia Pertama, Kedua dan Ketiga:
Pengelompokkan berdasarkan idiologi yang dianut.
a. Dunia pertama (Blok Barat) adalah negara-negara barat dengan idiologi liberal
dengan sistem ekonomi kapitalis.
b. Dunia kedua (Blok Timur) adalah negara-negara yang menganut idiologi
antiliberalisme, sistem ekonomi sosialis.
c. Dunia ketiga adalah negara-negara terbelakang atau sedang membangun.

B. Masalah-Masalah Yang Dihadapi


Masalah di dunia ketiga adalah kemiskinan, produktivitas yang rendah,
pertumbuhan penduduk yang berlebihan, pengangguran, ketergantungan eksport
pada produk primer dan daya saing yang lemah Negara berkembang di pentas
internasional.
1. Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan
kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh
kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini
secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi
moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang
telah mapan,dll.
Mengukur Kemiskinan
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu kemiskinan
absolut dan kemiskinan relatif.
a) Kemiskinan absolut adalah suatu kemiskinan di mana orang-orang miskin
memiliki tingkat pendapatan dibawah garis kemiskinan, atau jumlah
pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum,
kebutuhan hidup minimum antara lain diukur dengan kebutuhan pangan,
sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan, kalori, GNP per kapita,
pengeluaran konsumsi dan lain-lain.
b) Kemiskinan relatif adalah kemiskinan

yang

dilihat

berdasarkan

perbandingan antara suatu tingkat pendapatan dengan tingkat pendapatan


lainnya. Contohnya, seseorang yang tergolong kaya (mampu) pada
masyarakat desa tertentu bisa jadi yang termiskin pada masyarakat desa yang
lain.

Penyebab Kemiskinan
a) Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat
dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku
dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
3

b) Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan


keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga
yang tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga.
c) Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan
dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan
sekitar. Individu atau keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga
adalah contohnya.
d) Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang
lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain
lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain.
Contoh lainnya adalah perbudakan.
e) Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan
hasil dari struktur sosial.
Mengatasi Kemiskinan
a) Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin.
Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman
pertengahan. Di Indonesia salah satunya berbentuk BLT.
b) Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang
dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan,
termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
c) Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung
kepada orang miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk
orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti
orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat
orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan. Persiapan bagi
yang lemah juga dapat berupa pemberian pelatihan sehingga nanti yang
bersangkutan dapat membuka usaha secara mandiri.
2. Produktivitas Yang Rendah
Produktivitas adalah perbandingan antara output (hasil) dengan input
(masukan). sikap mental yang mempunyai semangat untuk melakukan
peningkatan perbaikan.
Produktivitas mengimplikasikan dua dimensi, yakni efektivitas dan
efisiensi.

Pengertian

efektivitas

itu

sendiri

adalah doing

the

right

thing. Melaksanakan sesuatu yang benar dalam memenuhi kebutuhan


4

organisasi berkaitan dengan pencapaian unjuk kerja yang maksimal, dalam arti
pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu.
Sedangkan

dimensi

kedua

yaitu

efisiensi

adalah: doing

things

right. Melakukan yang benar dengan proses yang benar berkaitan dengan upaya
membandingkan masukan dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana
pekerjaan tersebut dilaksanakan. Untuk itu, produktivitas biasanya dicapai
melalui efektivitas pencapaian tujuan dan efisiensi penggunaan sumber daya.
Rendahnya produktivitas (labour productivity) disebabkan oleh:
a. sumber daya manusia yang tidak memadai
b. kesehatan fisik yang rendah
Jenis Produktivitas
Menurut Sri

Hariayani

(2002:97)

bahwa

produktivitas

dapat

dikelompokan menjadi dua, yaitu produktivitas total dan produktivitas satu


faktor. Berikut adalah penjelasan dari jenis produktivitas menurut pendapat Sri
Hariyani, yang telah dirangkum penulis.
1. Produktivitas Total
Produktivitas dapat diukur dari berbagai faktor penyusunnya seperti:
tanah, modal, teknologi, tenaga kerja, dan bahan baku, yang disebut
dengan produktivitas dari berbagi faktor. Produktivitas ini sering disebut
dengan produktivitas total.
2. Produktivitas Satu Faktor
Selain menghitung produktivitas dari berbagai factor, produktivitas juga
dapat diukur untuk masing-masing factor, yang disebut produktivitas dari
satu factor (Single factor productivity). Dan yang sering dihitung adalah
produktivitas tenaga kerja atau dalam konteks manajemen lebih dikenal
sebagai kinerja (performance). Seorang karyawan atau sekelompok
karyawan dinilai produktif atau tidaknya dari kinerja. kinerja karyawan
dapat diukur dengan menggunakan konsep penilaian prestasi kerja
(performance appraisal).
Variabel yang mempengaruhi produktivitas dapat dikelompokan menjadi tiga,
yaitu:
1. Variabel yang berasal dari karyawan
a) Bersifat Fisikal, meliputi:
Gizi, berguna untuk mendukung aktivitas fisik mapupun mental,
sehingga orang tidak akan cepat lelah dalam bekerja dan mampu
berpikir secara optimal.

Kesehatan,

merupakan

faktor

penting

dalam

meningkatkan

produktivitas karyawan, yang mencakup kesehatan fisik dan mental,


karena secara umum orang yang sehat akan mampu bekerja dengan
lebih baik dibanding orang yang tidak sehat.
b) Bersifat Psikologikal, meliputi:
Motivasi. Masing-masing individu mendorong dirinya sendiri untuk
meningkatkan produktivitas kerjanya, orang yang bekerja dengan
motovasi yang lebih tinggi, akan menghasilkan produktivitas yang

tinggi pula.
Sikap. Sikap seseorang akan tercermin dari prestasi kerjanya, sikap
yang positif terhadap pekerjaan ditunjukan dengan kesediaan yang
lebih besar untuk berusaha agar apa yang dikerjakan berhasil dan
untuk bertanggung jawab terhadap apa yang ditugaskan kepadanya.
Sementara sikap yang negatif ditunjukkan dengan adanya sikap
yang pasif, dimana hanya mengerjakan seperti apa yang
diperintahkan, menyukai pengarahan, dan apabila memungkinkan
akan menghindar dari tanggung jawab.

c) Keterampilan. Meliputi:
Bakat. Orang yang bekerja sesuai dengan bakatnya akan
mempunyai produktivitas yang relatif lebih tinggi dibanding

mereka yang kurang berbakat.


Pendidikan. Seseorang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi
memungkinkan dirinya untuk bekerja lebih produktif dibanding
yang pendidikannya lebih rendah. Karyawan yang memiliki
pendidikan lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas,

kematangan dalam berfikir, dan bekerja dengan lebih baik.


Latihan. Latihan dimaksudkan untuk membentuk

dan

meningkatkan keterampilan dalam bekerja.


2. Variabel yang berasal dari perusahaan.
a) Lingkungan Kerja. Dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan fisik dan
non fisik. Lingkungan fisik terdiri dari pencahayaan, sirkulasi udara,
tersediannya fasilitas kamar dan WC, tersedianya fasilitas olah raga,
6

serta fasilitas ibadah. Sedangkan lingkungan non fisik misalnya rasa


perkawanan diantara karyawan, hubungan antara karyawan dengan
manajer, dan persaingan yang sehat. Lingkungan fisik yang baik akan
mendukung peningkatan produktivitas.
b) Kemampuan Manajemen. Kemampuan manajerial seorang pemimpin
sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Dalam hal ini pemimpin
akan bertugas untuk mengarahkan kegiatan karyawan, sehingga
mengarah ke pencapaian tujuan perusahaan. Dengan pemimpin yang
efektif tujuan perusahaan lebih mudah tercapai.
c) Kebijakan Perusahaan dalam Produktivitas.

Adanya

kebijakan

perusahaan dalam bidang produktivitas akan menggerakan seluruh


anggota perusahaan baik karyawan maupun manajer untuk berusaha
mencapai produktivitas yang lebih tinggi.
3. Variabel yang Berasal dari Lingkungan Eksternal, yang meliputi:
a) Teknologi. Secara umum teknologi akan membantu meyelesaikan
tugas-tugas dengan lebih cepat dan lebih banyak, selain itu dapat
membantu meyelesaikan pekerjaan manusia dengan lebih baik.
b) Kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah dapat berpengaruh
langsung maupun tidak langsung terhadap produktivitas. Kebijakan
secara langsung meliputi kebijakan dalam bidang pendidikan dan
latihan. Sedangkan kebijakan tidak langsung adalah kebijakan dalam
bidang investasi, perizinan, dan fiskal.
c) Kondisi ekonomi. Kondisi secara umum dapat mempengaruhi
produktivitas. Kondisi krisis seperti yang terjadi pada tahun 1997-1999
berdampak pada penurunan produktivitas sehingga secara nasional
produktivitas juga menurun.
Indikator produktivitas menurut Sedarmayanti (2001:79) yang dikembangkan
dan dimodifikasi dari pemikiran yang disampaikan oleh Gilmore dan Erich
Fromm tentang individu yang produktif, yaitu:
1. Tindakan konstruktif.
2. Percaya pada diri sendiri.
3. Bertanggung jawab.
4. Memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan.
5. Mempunyai pandangan ke depan.
6. Mampu mengatasi persoalan dan dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang berubah-ubah.
7. Mempunyai kontribusi positif terhadap lingkungannya (kreatif, imaginative,
dan inovatif).
7

8. Memiliki kekuatan untuk mewujudkan potensinya.

3. Pertumbuhan Penduduk Yang Berlebihan


Peranan ekonomi dalam pertumbuhan penduduk sangatlah penting. Seperti
dalam hal pembangunan, kunci sukses pembangunan adalah terjadinya
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, pemerataan distribusi pembangunan,
maka perlunya peningkatan dari sisi investasi yang akan menunjang
pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan penduduk secara umum dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu pertumbuhan alami, pertumbuhan migrasi, dan pertumbuhan penduduk
total.
a) Pertumbuhan

Penduduk Alami adalah

pertumbuhan

penduduk

yang

diperoleh dari selisih kelahiran dan kematian. Pertumbuhan alami dapat


dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini : Pa = L M ( Pa =
Pertumbuhan penduduk alami L = Jumlah kelahiran M = Jumlah kematian )
b) Pertumbuhan Penduduk Migrasi adalah pertumbuhan penduduk yang
diperoleh dari selisih migrasi masuk dan migrasi keluar. Pertumbuhan
penduduk migrasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :
Pm = I E ( Pm= Pertumbuhan penduduk migrasi I = Jumlah imigrasi E =
Jumlah emigrasi )
c) Pertumbuhan

Penduduk

Total adalah

pertumbuhan

penduduk

yang

disebabkan oleh faktor kelahiran, kematian, dan migrasi. Pertumbuhan


penduduk migrasi dapat dihitung dengan rumus berikut ini : P = (L M) + (I
E) ( P = Pertumbuhan penduduk total L = Jumlah kelahiran M = Jumlah
kematian I = Jumlah imigrasi E = Jumlah emigrasi )
Dampak Dari Pertumbuhan Penduduk Yang Berlebihan
a) Sosial ekonomi
Jumlah penduduk yang tinggi yang tidak dibarengi dengan lapangan kerja
yang cukup hanya akan menimbulkan masalah kriminalitas. Orang yang
tidak mempunyai pekerjaan bisa saja beralih menjadi criminal. Sebagai
contoh, di kota-kota besar, banyak orang yang tidak mendapatkan pekerjaan
yang mencukupi kebutuhannya. Mereka pun mencari nafkah dengan menjadi
seorang kriminal seperti pencopet, perampok, dsb. Bukan hanya itu, dari segi
sosial ekonomi, jumlah pertumbuhan penduduk yang tinggi yang tidak
dibarengi dengan pendistribusian fasilitas yang merata akan mendorong
terjadinya urbanisasi yang pada akhirnya akan memunculkan kelas sosial
9

baru di masyarakat Ibukota. Adanya perumahan kumuh adalah contih


konkrit dari masalah ini.
b) Pendidikan dan kesehatan
Pemerintah menginginkan penduduknya memenuhi standar kehidupan
internasional. Keinginan mereka itu diterjemahkan dengan membuat
kebijakan-kebijakan yang dapat memajukan masyarakatnya dalam bidang
pendidikan dan kesehatan. Namun, jika jumlah penduduk pada suatu Negara
melebihi batas normal. Maka kebijakan ini tidak dapat dilaksanakan.
Sebagian besar penduduk tidak akan mendapatkan layanan kesehatan dan
pendidikan yang memadai. Rendahnya kualitas pendidikan adalah salah satu
faktor yang menyebabkan suatu negara rendah akan sumber daya
manusianya.
c) Lingkungan Hidup
Jumlah penduduk harus berbanding lurus dengan luas pemukiman. Masalah
terjadi ketika lahan untuk pemukiman tidak cukup lagi untuk menampung
banyaknya penduduk. Untuk mengatasi masalah ini, penduduk pun
mengubah lahan pertanian atau hutan menjadi areal pemukiman baru.
Masalah tidak sampai di situ saja. Membuka lahan pertanian atau hutan
menjadi lahan pertanian justrus menimbulkan masalah lingkungan.
Lahan pertanian atau hutan yang di sulap menjadi areal pemukiman
mengakibatkan hilangnya daerah resapan air. Sebab, lahan yang semula jadi
resapan air kini di poles dengan semen dan beton. Sehingga air tidak dapat
meresap. Banjir pun tidak terhindarkan. Selain itu, ketika membuka hutan
menjadi areal pemukiman, penduduk biasanya membakar hutan tersebut.
sebagai akibatnya timbullah polusi udara yang disebabkan oleh hutan yang
terbakar. Hal ini tidak hanya menjadi masalah domestic bagi satu Negara.
Tetapi juga menjadi masalah bagi Negara lain. Sebab, akibat dari tindakan
ini juga dirasakan oleh Negara lain.

Solusi Untuk Menekan Pertumbuhan Penduduk


Berbagai usaha untuk menekan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi
telah dilakukan pemerintah melalui berbagai. Dan juga usaha-usaha pemerataan
10

penyebaran penduduk yang dilakukan dengan cara pemindahan penduduk


melalui program transmigrasi.
Sehingga kita dapat menyimpulkan usaha yang harus dilakukan
pemerintah untuk mengatasi ledakan penduduk antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.

Memperluas lapangan kerja melalui industrialisasi.


Melaksanakan program Keluarga Berencana (KB).
Meningkatkan produksi pangan sesuai kebutuhan penduduk.
Melaksanakan program transmigrasi.
Mengikuti program pemerintah ( 2 Anak Lebih Baik ).

4. Pengangguran
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja
sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama
seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang
layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau
para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang
mampu

menyerapnya.

Pengangguran

seringkali

menjadi

masalah

dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan


pendapatan masyarakat akan

berkurang

sehingga

dapat

menyebabkan

timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosiallainnya.


Jenis Pengangguran
1. Berdasarkan jam kerja, pengangguran dikelompokkan menjadi 3 macam:
a) Pengangguran terselubung (disguised unemployment) adalah tenaga kerja
yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
b) Pengangguran setengah menganggur (under unemployment) adalah
tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan
pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan
tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
c) Pengangguran terbuka (open unemployment) adalah tenaga kerja yang
sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini
cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah
berusaha secara maksimal.

11

2. Berdasarkan penyebab terjadinya, pengangguran dikelompokkan menjadi 9


macam:
a) Pengangguran friksional (frictional unemployment) adalah pengangguran
karena pekerja menunggu pekerjaan yang lebih baik.
b) Pengangguran

struktural

(Structural

unemployment)

adalah

pengangguran yang disebabkan oleh penganggur yang mencari lapangan


pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka
lapangan kerja.
c) Pengangguran

teknologi

(Technology

unemployment)

adalah

pengangguran yang disebabkan perkembangan/pergantian teknologi.


Perubahan ini dapat menyebabkan pekerja harus diganti untuk bisa
menggunakan teknologi yang diterapkan.
d) Pengangguran

kiknikal

adalah

pengangguran

yang

disebabkan

kemunduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan tidak mampu


menampung semua pekerja yang ada. Contoh penyebabnya, karena
adanya perusahaan lain sejenis yang beroperasi atau daya beli produk
oleh masyarakat menurun.
e) Pengangguran musiman adalah pengangguran akibat siklus ekonomi
yang berfluktuasi karena pergantian musim. Umumnya pada bidang
pertanian dan perikanan. Contohnya adalah para petani dan nelayan.
f) Pengangguran setengah menganggur adalah pengangguran di saat
pekerja yang hanya bekerja di bawah jam normal (sekitar 7-8 jam per
hari).
g) Pengangguran keahlian adalah pengangguran yang disebabkan karena
tidak adanya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian.
Pengangguran jenis ini disebut juga pengangguran tidak kentara
dikarenakan mempunyai aktivitas berdasarkan keahliannya tetapi tidak
menerima uang. Contohnya adalah anak sekolah (siswa) atau mahasiswa.
Mereka adalah ahli pencari ilmu, tetapi mereka tidak menghasilkan uang
dan justru harus mengeluarkan uang atau biaya, misalnya harus membeli
paket buku LKS atau membayar biaya kursus yang diselenggarakan oleh
sekolahnya

sendiri.

Contoh

lainnya

adalah

(misalnya)

seorang

pelatih pencak silat yang tidak meminta gaji dari organisasinya.


12

Pengangguran tidak kentara ini, juga bisa disebut sebagai pengangguran


terselubung.
h) Pengangguran total adalah pengangguran yang benar-benar tidak
mendapat pekerjaan, karena tidak adanya lapangan kerja atau tidak
adanya peluang untuk menciptakan lapangan kerja.
i) Pengangguran unik adalah pekerja yang menerima gaji secara rutin tanpa
pemotongan, tetapi di tempat kerjanya hanya sering diisi dengan
bercerita sesama pekerja karena minimnya pekerjaan yang harus
dikerjakan. Hal ini disebabkan karena tempat kerjanya kelebihan tenaga
kerja.

Pengecualian

untuk

pegawai

atau

petugas pemadam

kebakaran atau penanggulangan bencana alam. Pegawai atau petugas


seperti demikian tenaganya harus disimpan dan dipersiapkan secara
khusus jika ada pelatihan atau simulasi atau harus diterjunkan pada
situasi sebenarnya.
Penyebab Pengangguran
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak
sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya.
Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan
adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang
sehingga

dapat

menyebabkan

timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah

sosial lainnya.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran
konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan
kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan
efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat
pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik,
keamanan dan sosial sehingga mengganggu proses pembangunan.

Akibat Pengangguran

13

Bagi perekonomian negara


1. Penurunan pendapatan perkapita.
2. Penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak.
3. Meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.
4. Dapat menambah hutang negara.
Bagi masyarakat
1. Pengangguran merupakan beban psikologis dan psikis.
2. Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan, karena tidak digunakan
apabila tidak bekerja.
3. Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik.
Kebijakan-Kebijakan Pengangguran
Adanya

bermacam-macam

pengangguran

membutuh-kan

cara-cara

mengatasinya yang disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi, yaitu


sebagai berikut:
1. Cara mengatasi pengangguran struktural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang digunakan adalah:
a) Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
b) Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang
kelebihan ke tempat dan sektor ekonomi yang kekurangan.
c) Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan
(lowongan) kerja yang kosong, dan
d) Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami
pengangguran.
2. Cara mengatasi pengangguran friksional
Untuk mengatasi pengangguran secara umum antara lain dapat digunakan
cara-cara sebagai berikut:
a) Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri
baru, terutama yang bersifat padat karya.
b) Deregulasi dan debirokratisasi di

berbagai

merangsang timbulnya investasi baru.


14

bidang

industri

untuk

c) Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industry.


d) Menggalakkan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di
sektor agraris dan sektor formal lainnya.
e) Pembukaan

proyek-proyek

umum

oleh

pemerintah,

seperti

pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga


bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang
investasi baru dari kalangan swasta.
3. Cara mengatasi pengangguran musiman
Jenis pengangguran ini bisa diatasi dengan cara sebagai berikut:
a) Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sektor lain.
b) Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan
waktu ketika menunggu musim tertentu.
4. Cara mengatasi pengangguran siklis
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini antara lain dapat digunakan caracara sebagai berikut:
a) Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa.
b) Meningkatkan daya beli masyarakat.

5. Ketergantungan Eksport Pada Produk Primer


Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari dalam luar
wilayah pabean suatu negara dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ekspor
Barang Primer (hasil perkebunan, hasil tambang, minyak mentah,minuman,
makanan, kertas, pakaian)
Penyebab Ketergantungan Eksport
a) Belum sanggup memenuhi

kebutuhan

masyarakat

yang

terus

meningkat secara menyeluruh. Hal ini karena proporsi output pertanian


sangat tinggi terhadap perekonomian, sementara sektor indutri sangat kecil.
Penyebabnya karena sebagian besar penduduknya berpendapatan rendah dan
bekerja sebagai petani dan umumnya buruh tani.

15

b) Ketidakcukupan Teknologi dan Kapital. Hambatan proses produksi akibat


kesenjangan peralatan, mesin, serta rendahnya teknologi dan penguasaan
teknologi akibat skill yang rendah. Output per tenaga kerja di LDC (Less
Development Country/Negara Berkembang) rendah jika dibandingkan
negara maju karena kapital per tenaga kerja yang rendah.
c) Penguasaan teknologi yang rendah, serta jiwa wirausaha yang rendah yang
umumnya disebabkan karena rendahnya pendidikan. Penyebabnya karena
penduduk banyak bekerja disektor pertanian, dimana keluarga-keluarga
petani beberapa diantara dapat memproduksi surplus yang cukup besar
untuk mensuplai non pertanian namun jumlahnya relatif kecil.
Dampak Ketergantungan Eksport
a) Dapat menurunkan daya kreatifitas akibat terlalu bergantungnya terhadap
produksi pertanian
b) Permasalahan yang cukup besar dibidang kependudukan dan lingkungan
hidup diantaranya pertumbuhan penduduk yang begitu cepat menjadi
masalah

tersendiri,

karena

tidak

diimbangi

dengan

pemerataan

pembangunan, dan akhirnya menjadikan bertambahnya jumlah masyarakat


miskin secara alamiah maupun kultural (situasi lingkaran ketidakberdayaan
mereka yang bersumber dari rendahnya tingkat pendidikan, pendapatan,
kesehatan dan gizi, produktifitas, penguasaan modal, keterampilan dan
teknologi serta hambatan infrastruktur maupun etnis sosial lainnya.)
c) Produktivitas rendah jika pasokan terganggu. Dapat mengganggu
pembangunan pertanian dan pembangunan ekonomi(tingkat produktivitas
dan pendapatan perkapita)
d) Tingkat pertumbuhan tidak merata atau bahkan tumbuh tidak terlalu tinggi.
Cenderung tergantung ke luar negeri dan pertumbuhan diciptakan
karena injeksi utang.
e) Marak terjadinya alih fungsi lahan dan mendorong terjadinya kelebihan
urbanisasi.
f) Dari sisi volume ekspor cukup tinggi, tapi nilai ekspornya rendah. kontribusi
sektor primer terhadap PDB juga rendah.
g) Perekonomian hanya terpusat pada produksi barang primer untuk ekspor,
akibat sektor ekonomi lainnya terabaikan. Perekonomian menjadi rentan
terhadap fluktuasi harga internasional barang-barang ekspor. Jika terjadi
depresi

dunia

akan

menjatuhkan permintaan
16

dan

harga

sehingga

perekonomian secara keseluruhan akan terkena efeknya Karena tergantung


pada beberapa mata dagang ekspor, maka perekonomian akan menjadi
sangat tergantung pada impor. Impor pada umumnya terdiri dari bahan
bakar, bahan pabrik, matadagangan primer, alat-alat transpor dan mesin, dan
bahkan makanan. Di samping itu harus diperhatikan juga pengaruh
demonstration effect yang cenderung meningkatkan impor menjadi semakin
besar.
h) Dapat menambah tingkat pengangguran terselubung (under employment),
pengangguran penuh atau terbuka
i) Terjadi kemerosotan sekuler berupa imbangan pendapatan (income terms of
trade) yaitu terjadinya ketidakmampuan untuk mengimpor sehingga akan
mengalami kesulitan di dalam neraca pembayaran dan semakin membesar
utang luar negeri. Kondisi ini menyebabkan diperlukannya pemasukkan
modal asing untuk mengembangkan dan memperluas sektor ekspor. Akibat
yang terjadi selanjutnya modal asing ini akan mengendalikan dan mengelola
sektor ekspor tersebut, yang akhinya akan menjadi monopoli di berbagai
sektor penting seperti perkebunan dan pertambangan. Akhirnya, akan
menguras sumber daya pada sektor-sektor tersebut tanpa memerhatikan
kelestariannya.
j) Yang bersifat tradisional masih sangat terbatas untuk bahan mentah saja.
Belum ada altematif untuk memasarkan dalam bentuk produk olahan jadi
pola panen yang bersifat musiman dan masih sangat tergantung pada faktor
alam, harga yang sangat fluktuatif antar waktu; sifat produk cepat rusak;
pemasaran masih dilakukan dalam bentuk produk mentah dan belum ada
upaya untuk menjadikannya ke dalam bentuk olahan dalam skala besar.
Ketergantungan terhadap iklim menyebabkan produksi tidak dapat dilakukan
sepanjang tahun melainkan pada bulan tertentu. Akibatnya pada musim
panen raya, produksi melimpah pada semua tingkat pasar, dan di luar musim
panen, produksi menjadi langka. Pola produksi yang bersifat musiman
merupakan penyebab utama fluktuasi harga yang tajam

Solusi Mengatasi Ketergantungan Eksport


a) Terus mengembangkan potensi yang ada
17

b) Mengembangkan teknologi pertanian


c) Memanfaatkan secara optimal komoditi

pertanian

lokal

minimal

komoditi lokal menjadi tuan rumah didaerahnya sendiri.


d) Cintai produk dalam negeri
e) Melakukan proteksi agar tidak menjadi masyarakat yang konsumtif
f) Pengusaha ekspor harus kreatif mencari alternatif tujuan pasar ekspor baru
(misal dengan mencari negara lain yang berpotensi besar).
g) Peran negara meningkatkan efisiensi biaya transaksi, efisiensi pelayanan,
perbaikan perijinan
h) Pemerintah berperan aktif dalam mencari peluang pasar yang luas diberbagai
negara
i) Pemerintah memberikan bekal kepada masyarakat agar memahami konsepkonsep

yang

berkenaan

dapat diaplikasikan

dalam

dengan
kegiatan

pembangunan
sehari-hari

ekonomi

khususnya

agar
tentang

dampak postif dan dampak negatif mengenai Ketergantungan Terhadap


Produksi Pertanian dan Ekspor Barang-Barang Primer.
j) Untuk ke arah agro industri, perlu melibatkan petani dan lembaga
pemasaran. Disinilah diharapkan peran lembaga pemasaran menjadi optimal,
tidak semata mengutamakan keuntungan pribadi tetapi mendukung
peningkatan nilai tambah produk dan peningkatan pendapatan petani.

18

6. Daya Saing Yang Lemah Di Pentas Internasional


Daya saing merupakan proses untuk pencapaian sebuah tujuan yang
lebih baik kedepan dalam meningkatkan pertumbuhan dan pendapatan sebuah
Negara.
Daya saing menurut Michael Porter (1990) adalah produktivitas yang
didefinisikan sebagai output yang dihasilkan oleh tenaga kerja. Menurut World
Economic Forum, daya saing nasional adalah kemampuan perekonomian
nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.
Daya

Saing

Global

menurut Executive

Summary

WEF adalah

kemampuan nilai tukar mata uang suatu Negara (exchange rate) mempengaruhi
produktivitas nasional. Daya saing diartikan sebagai akumulasi dari berbagai
factor, kebijakan dan kelembagaan yang memepengaruhi produktivitas suatu
Negara sehinggan akan emenetukan tercapainya kesejahteraan rakyat dalam
system perekonomian nasional.
Daya saing juga dapat dilihat dari kebijakan makroekonomi. Pada era
orde baru, pertumbuhan ekonomi cukup tinggi (7-9%), namun karena terjadi
salah kelola (mismanaging) dan salah arah kebijakan (misguiding) public
finance dengan diberlakukannya DFI (Direct Foreign Investment) sehingga pada
saat krisis akibatnya Negara yang menanggung Utang pihak swasta. Faktorfaktor lain sebagai penentu daya saing global diantaranya: kesempatan berusaha,
system peradilan yang fair, pajak yang bermanfaat, birokrasi, inovasi teknologi
dan pendidikan, hubungan internasional dan hak cipta. Terjadinya pergantian
pemerintahan, kerusakan Infrastruktur (akibat banyaknya bencana alam,
tsunami, gempa bumi, dan banjir) dan hancurnya pasar uang menyebabkan daya
saing perekonomian terpuruk.
Daya saing menurut Pusat Studi dan Pendidikan Kebanksentralan Bank
Indonesia (2002) harus mempertimbangkan beberapa hal:
1. Daya saing mencakup aspek yang lebih luas dari sekadar produktivitas atau
efisiensi pada level mikro. Hal ini memungkinkan kita lebih memilih
mendefinisikan daya saing sebagai kemampuan suatu perekonomian
daripada kemampuan sektor swasta atau perusahaan
2. Pelaku ekonomi atau economic agent bukan hanya perusahaan, akan tetapi
juga rumah tangga, pemerintah, dan lain-lain. Semuanya berpadu dalam
19

suatu sistem ekonomi yang sinergis. Tanpa memungkiri peran besar sektor
swasta perusahaan dalam perekonomian, fokus perhatian akan diperluas,
tidak hanya terbatas akan hal itu saja dalam rangka menjaga luasnya
cakupan konsep daya saing.
3. Tujuan dan hasil akhir dari meningkatnya daya saing suatu perekonomian
tak lain adalah meningkatnya tingkat kesejahteraan penduduk di dalam
perekonomian tersebut. Kesejahteraan atau level of living adalah konsep
yang maha luas yang pasti tidak hanya tergambarkan dalam sebuah besaran
variabel seperti pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi hanya satu aspek dari pembangunan ekonomi
dalam rangka peningkatan standar kehidupan masyarakat.Kata kunci dari konsep
daya saing adalah kompetisi. Disinilah peran keterbukaan terhadap kompetisi
dengan para kompetitor menjadi relevan. Kata daya saing menjadi kehilangan
maknanya pada suatu perekonomian yang tertutup.
Menurut Michael Porter (1990), pada dasarnya ada 4 (empat) faktor yang
mempengaruhi daya saing suatu negara, yaitu:
1. Strategi, Struktur, dan Tingkat Persaingan Perusahaan, yaitu bagaimana
unit-unit usaha di dalam suatu negara terbentuk, diorganisasikan, dan
dikelola, serta bagaimana tingkat persaingan dalam negerinya.
2. Sumber Daya di suatu Negara, yaitu bagaimana ketersediaan sumber daya di
suatu negara, yakni sumber daya manusia, bahan baku, pengetahuan, modal,
dan infrastruktur. Ketersediaan tersebut menjadi penentu perkembangan
industri di suatu negara. Ketika terjadi kelangkaan pada salah satu jenis
faktor tersebut maka investasi industri di suatu negara menjadi investasi
yang mahal.
3. Permintaan Domestik, yaitu bagaimana permintaan di dalam negeri terhadap
produk atau layanan industri di negara tersebut. Permintaan hasil industri,
terutama permintaan dalam negeri, merupakan aspek yang mempengaruhi
arah pengembangan faktor awalan keunggulan kompetitif sektor industri.
Inovasi dan kemajuan teknologi dapat terinspirasi oleh kebutuhan dan
keinginan konsumen.
4. Keberadaan Industri Terkait dan Pendukung, yaitu keberadaan industri
pemasok

atau

industri

pendukung
20

yang

mampu

bersaing

secara

internasional. Faktor ini menggambarkan hubungan dan dukungan antar


industri, dimana ketika suatu perusahaan memiliki keunggulan kompetitif,
maka industri-industri pendukungnya juga akan memiliki keunggulan
kompetitif.
Hal ini diperjelas dengan adanya 2 (dua) variabel tambahan yang
mempengaruhi daya saing, yaitu:
1. Kesempatan, yaitu perkembangan yang berada di luar kendali perusahaanperusahaan (dan biasanya juga di luar kendali pemerintah suatu bangsa),
seperti misalnya penemuan baru, terobosan teknologi dasar, perkembangan
politik eksternal, dan perubahan besar dalam permintaan pasar asing.
2. Pemerintah, yakni pemerintah pada semua tingkatan pemerintahan dapat
meningkatkan atau memperlemah keunggulan nasional. Peran pemerintah
terutama dalam membentuk kebijakan yang mempengaruhi komponenkomponen

dalam

Diamond

Porter.

Misalnya,

kebijakan

anti-trust

mempengaruhi persaingan nasional. Regulasi dapat mengubah faktor


permintaan (misalnya regulasi terkait subsidi BBM). Kebijakan pemerintah
yang mendukung pendidikan dapat mengubah kondisi faktor produksi.
Belanja pemerintah dapat merangsang industri terkait dan pendukung.
Faktor lemahnya daya saing negara berkembang disebabkan oleh berbagai
sektor, antaranya:
1.

Nilai Inti Pembangunan


Permasalahan utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia adalah
kualitas SDM. Rendahnya kualitas SDM menyebabkan rendahnya daya
saing global bangsa Indonesia. Daya saing bangsa yang kuat menurut
pendapat dari Todaro (1998), apabila nilai inti pembangunan Indonesia
dapat dipenuhi: sustenance (kemampuan untuk mencukupi kebutuhankebutuhan

dasar), freedom (kemerdekaan,

kebebasan

dari

sikap

menghambat), self esteem(jati diri) dan tersedianya banyak pilihan.


2.
Kolonialisme dan Inferiorisme
Pada masa kolonialisme, penduduk sengaja dibuat bodoh dengan hanya
mengizinkan anak orang-orang yang pro-pemerintah colonial yang dapat
bersekolah. Hasilnya mayoritas penduduk Indonesia buta huruf (il-literate)
dan bermental rendah (inferior). Pada masa orde lama hingga orde baru
21

pendidikan

tidak

pernah

mendapatkan

prioritas

dalam

program

pembangunan nasional.
3.
Sumber Daya Alam
Rusak dan gundulnya hutan telah menjadi isu yang cukup memprihatinkan.
Bahkan kerusakan alam yang demikian parahnya justru menyebabkan
bencana lain muncul, seperti tanah longsor dan banjir, yang menambah
4.

terpuruknya daya saing perekonomian Indonesia.


Teknologi
Indeks teknologi ini diukur antara lain dari posisi negara bersangkutan
dalam penguasaan teknologi dibandingkan negara-negara maju, inovasi
bisnis, pengeluaran untuk riset dan pengembangan (R&D), serta kolaborasi
dengan perguruan tinggi setempat dalam R&D. Sementara, indeks transfer
teknologi diukur dari tingkat alih teknologi oleh investor asing, baik melalui
penanaman modal langsung maupun pemberian lisensi untuk teknologi
asing.

5.

Iklim Usaha
Kualitas iklim usaha di sini meliputi antara lain kualitas infrastruktur fisik,
infrastruktur administratif, sumber daya manusia, infrastruktur teknologi,
pasar modal, kondisi permintaan, ada-tidaknya industri terkait dan industri
pendukung, ada-tidaknya insentif usaha dan persaingan (struktur pasar).
Hingga saat ini iklim usaha di Indonesia belum dapat dikatakan kondusif.
Kurangnya kepercayaan pihak asing menyebabkan larinya para investor
asing ke luar negeri. Buruknya iklim usaha di Indonesia tercermin dari
kompleks dan berbelit-belitnya birokrasi. Sistem perizinan dengan prosedur
yang panjang membuat para investor harus mengeluarkan dana ekstra untuk
memangkas birokrasi dengan cara-cara yang tidak terpuji seperti suap.

6.
Industri

Industri Manufaktur
manufaktur boleh

jadi

merupakan

sosok

yang

paling

menggambarkan problematika perekonomian negara berkembang. Di era


dunia datar (flat world) yang dipicu oleh globalisasi dan liberalisasi, industri
manufaktur berada di lini terdepan dalam pertarungan menghadapi
persaingan mondial. Hal ini disebabkan industri manufaktur merupakan satu
dari tiga sektor tradables. Dua sektor lainnya ialah pertanian serta
pertambangan & galian. Sesuai dengan namanya, produk-produk yang

22

dihasilkan sektor tradables diperdagangkan secara bebas, baik di pasar


internasional maupun pasar domestik.
Untuk menembus pasar internasional, produk-produk sektor ini harus
berhadapan dengan produk-produk serupa dari negara-negara lain;
sementara itu untuk memperoleh tempat di pasar domestik, produk-produk
ini harus mumpuni menghadang penetrasi barang-barang sejenis yang
diimpor. Di antara sektor tradables sendiri, industri manufakturlah yang
paling keras menghadapi persaingan. Karena karakteristik alamiahnya,
derajat mobilitas produk-produk manufaktur lebih tinggi ketimbang produkproduk pertanian dan pertambangan.

23

BAB III
KESIMPULAN
Dampak yang menonjol dari modernisasi dan pembangunan ekonomi di negara
dunia ketiga adalah adanya kesenjangan yang mencolok antara si kaya (the rich) dengan
si miskin (the poor).
Dampak pembangunan itu sendiri oleh teori ketergantungan (depedency) dan
keterbelakangan (underdevelopment) dilukiskan sebagai malapetaka bagi negara dunia
ketiga, karena social scots yang harus dibayar ternyata jauh lebih mahal dari pada
keuntungan yang diperoleh. Resesi ekonomi, menurunnya Gross Domestic Product
(GDP), dan hutang luar negeri yang terus meningkat.
Pendekatan ini percaya bahwa pembangunan kapitalis yang utuh tidak akan
pernah terjadi di pinggiran (periphery). Pembangunan yang nyata tidak akan terjadi
adalah apabila peripheral economies lepas dari negara kapitalis (capitalist core) dan
memilih revolusi sosialis.

24