Anda di halaman 1dari 19

B A B VI

SPESIFIKASI TEKNIS
Keterangan :
Spesifikasi teknis disusun oleh panitia pengadaan berdasar jenis pekerjaan yang akan
dilelangkan, dengan ketentuan :
1.
Tidak mengarah kepada merk/produk tertentu, tidak menutup kemungkinan
digunakannya produksi dalam negeri.
2.
Semaksimal mungkin diupayakan menggunakan standart nasional.
3.
Metoda pelaksanaan harus logis, realistic dan dapat dilaksanakan.
4.
Jadual waktu pelaksanaan harus sesuai dengan metoda pelaksanaan.
5.
Harus mencantumkan macam, jenis, kapasitas dan jumlah peralatan utama minimal
yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.
6.
Harus mencantumkan syarat-syarat bahan yang dipergunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan.
7.
Harus mencantumkan syarat-syarat pengujian bahan dan hasil produk.
8.
Harus mencantumkan criteria kinerja produk ( output performance ) yang diinginkan.
9.
Harus mencantumkan tata cara pengukuran dan tata cara pembayaran.

PETUNJUK UNTUK PESERTA


Peserta Tender harus membaca dan mempelajari seluruh gambar kerja,rencana kerja dan
syarat ini dengan seksama untuk memahami benar-benar maksud dan isi dokumen
tersebut secara keseluruhan maupun setiap bagian. Tidak ada gugatan yang akan
dipertimbangkan jika gugatan
itu disebabkan karena peserta tidak membaca, tidak
memahami, tidak memenuhi petunjuk , ketentuan dalam gambar, atau pernyataan kesalahpahaman apapun mengenai arti dari isi dokumen ini.

BAGIAN I
KETENTUAN- KETENTUAN TEKNIS

PASAL 1

PERATURAN- PERATURAN TEKNIS

Dalam pelaksanaan pekerjaan, bila tidak ditentukan dalam Rencana Kerja dan SyaratSyarat ( RKS ) ini, maka akan berlaku dan mengikat peraturan- peraturan dibawah ini,
termasuk segala perubahan dan tambahannya, yaitu :
1.1. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Bangunan

di Indonesia (AV.41) tahun 1941.

1.2. Keputusan- keputusan dari Mejelis Indonesia, untuk Abitrasi Teknik dari Dewan
Teknik Bangunan Indonesia (DTPI).
1.3. Peraturan Beton Bertulang Indonesia ( PBI ) tahun 1971 / NI.2.
1.4. Peraturan Perencanaan Konstruksi Baja Indonesia (PPKBI) tahun 1980.
1.5. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI ) tahun 1971/NI.5.
1.6. Peraturan Muatan Indonesia (PMI) tahun 1970 / NI -18.
1.7. Peraturan Umum Listrik Indonesia ( PUMI ) tahun 1977.

1.8. Peraturan Umum Instalasi Listrik 1987.


1.9. Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
1.10. Pedoman instalasi alarm kebakaran otomatis tahun 1980.
1.11. Pedoman penanggulangan bahaya kebakaran tahun 1980.
1.12. Ketentuan Pencegahan
tahun 1985.

dan

Penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung

1.13. NFPA dan FOC sebagai pelengkap.


1.14. Peraturan-peraturan dan standar yang telah disesuaikan
standar internasional, antara lain VDE, BS, NEC, IEC , dsb.

dengan peraturan dan

1.15. Peraturan-Peraturan yang dikeluarkan oleh Dinas, Jawatan / Instansi Pemerintah


setempat, yang berkaiatan dengan pelaksanaan bangunan.

PASAL 2

PENJELASAN GAMBAR BESTEK DAN RKS.

2.1. Dalam pelaksanaan pekerjaan, maka berlaku dan mengikat, yaitu :


2.1.1.

Gambar Bestek, Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS).

2.1.2.

Berita Acara Penjelasan ( Aanwijzing ).

2.1.3.

Berita Acara Penunjukan.

2.1.4.

Surat Keputusan Pimpinan


Pelaksana Pekerjaan.

2.1.5.

Surat Perintah Mulai Kerja ( SPMK ).

2.1.6.

Surat Penawaran beserta lampir-lampirannya.

2.1.7.

Jadwal Pelaksanaan ( Time Schedule ) yang disetujui oleh Pemberi Tugas


dan Konsultan Pengawas.

Proyek / Kegiatan

tentang Penunjukkan

2.2. Kontraktor dan Konsultan Pengawas diharuskan meneliti rencana gambar bestek dan
rencana kerja dan
syarat- syarat
( RKS
),
termasuk penambahan /
pengurangan atau perubahan yang tercantum dalam berita acara Aanwijzing.
2.3. Bila terdapat perselisihan antara rencana gambar bestek dengan rencana kerja dan
syarat- syarat ( RKS ), maka yang mengikat adalah rencana kerja dan syarat- syarat.
2.4. Bila terdapat perbedaan antara rencana gambar bestek yang satu dengan rencana
gambar bestek yang lain, maka diambil rencana gambar bistek yang ukuran
skalanya lebih besar.
2.5. Bila perbedaan - perbedaan tersebut diatas menimbulkan keragu - raguan,
sehingga menimbulkan kesalahan - kesalahan dalam pekerjaan, maka harus segera
dikonsultasikan kepada Konsultan Pengawas atau Konsultan Perencana dan
keputusan - keputusannya harus dilaksanakan.

BAGIAN II
PERSIAPAN PENDAHULUAN

PASAL 1

RUANG LINGKUP PEKERJAAN


INSTANSI
Pemerintah Kota Banjarmasin
Dinas Pekerjaan Umum Kota Banjarmasin
PROGRAM
Perencanaan Bangunan Gedung Lainnya
PEKERJAAN
Review Design Finishing Tugu Selamat Datang
LOKASI
Kota Banjarmasin

PASAL 2

IZIN BANGUNAN.

2.1. Setelah Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dikeluarkan, maka izin bangunan dan izin
lainnya akan diurus oleh Pemberi Tugas, namun pelaksanaan dan pembiayaannya
akan ditanggung oleh Kontraktor.
2.2. Untuk memulai pekerjaan, maka Kontraktor harus dapat menunjukkan kepada
Konsultan Pengawas surat izin bangunan atau minimal tanda bukti bahwa izin
bangunan tersebut sedang diproses.
2.3.

Tanpa adanya izin bangunan dari Instalasi yang berwenang, maka Kontraktor tidak
diperkenankan memasang papan reklame dalam bentuk apapun disekitar lingkungan
proyek.

2.4. Kontraktor diharuskan membuat papan nama Proyek sesuai dengan persyaratan yang
berlaku pada daerah setempat dan harus dipasang paling lambat 7 hari setelah dimulai
pekerjaan.

PASAL 3

BANGSAL KONSULTAN
GUDANG

PENGAWAS

DAN

BANGSAL KERJA /

3.1. Kontraktor harus membuat bangsal Konsultan Pengawas yang berukuran 5 m x


8 m, dengan menggunakan bahan - bahan sederhana seperti tongkat, lantai
papan, dinding papan/plywood, atap seng dan pintu harus dilengkapi dengan kunci
yang baik serta cukup jendela dan ventilasi/penerangan. Kantor tersebut tidak
bersatu dengan gudang atau bangsal kontraktor.

3.2. Bangsal Konsultan Pengawas tersebut harus diperlengkapi dengan :


3.2.1. Satu buah meja tulis ukuran 80 cm x 120 cm.
3.2.2. Satu buah kursi sebagai perlengkapan meja tulis.
3.2.3. Satu set meja kursi tamu.
3.2.4. Satu buah papan tulis yang berukuran 120 cm x 240 cm.
3.2.5. Sebuah meja besar yang berukuran 120 cm x 240 cm, untuk keperluan
pertemuan / rapat di lapangan.
3.2.6. Pada meja besar harus dilengkapi dengan kursi panjang yang sesuai dengan
kebutuhan rapat/pertemuan dilapangan.
3.3. Kontraktor harus membuat bangsal kerja untuk pekerja dan gudang untuk
menyimpan bahan- bahan bangunan dan peralatan pekerjaan dan pintunya harus
mempunyai kunci yang baik/kuat untuk keamanan bahan/perlengkapan.
3.4. Tempat mendirikan bangsal Konsultan Pengawas, bangsal kerja dan
akan ditentukan kemudian dan dikonsultasikan dengan Pemberi Tugas.

gudang,

3.5. Bangsal Konsultan Pengawas dan perlengkapannya, harus sudah siap dilokasi
Bangunan, sebelum pekerjaan dimulai atau 10 hari sesudah SPMK diterima.
Setelah selesai pekerjaan tersebut, bangsal dan perlengkapannya menjadi milik
Pemberi Tugas.
3.6. Pembongkaran bangsal Konsultan Pengawas, bangsal kerja dan gudang
adalah
menjadi tanggung jawab Kontraktor dan bahan bongkaran menjadi milik Pemberi
Tugas.

PASAL 4

JADWAL PELAKSANAAN (TIME SCHEDULE).

4.1. Sebelum pekerjaan bangunan dimulai, maka Kontraktor wajib membuat jadwal
pelaksanaan (Time Schedule) yang memuat uraian pekerjaan, waktu pekerjaan,
bobot pekerjaan dan grafik hasil pekerjaan secara terperinci serta
jadwal
penggunaan bahan bangunan dan tenaga kerja.
4.2. Untuk pelaksanaan pekerjaan yang, terperinci Pelaksana Kontraktor :
-

harus membuat rencana kerja harian, mingguan dan bulanan yang diketahui /
disetujui oleh Konsultan Pengawas Lapangan.

harus membuat gambar kerja, untuk pegangan / pedoman


tukang yang harus diketahui Konsultan Pengawas Lapangan.

harus membuat daftar yang memuat pemasukan bahan


dibutuhkan dalam pelaksanaan bangunan pada pasal 1.

4.3. Rencana Kerja (Time Schedule) diatas harus mendapat


Pengawas dan Pemberi Tugas.

bagi kepala

bangunan

persetujuan

yang

Konsultan

4.4. Rencana Kerja (Time Sehedule), harus sudah selesai dibuat oleh Kontraktor, paling
lambat 7 (tujuh) hari kalender, setelah SPK diterima.
4.5. Kontraktor harus memberikan salinan rencana kerja (Time Schedule), sebanyak 4
(empat) lembar kepada Konsultan Pengawas dan 1 (satu ) lembar harus dipasang
pada dinding bangsal kerja.
4.6. Konsultan Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan
rencana kerja (Time Schedule) yang ada dan harus membuat grafik prestasi
pekerjaan.

PASAL 5 : TENAGA KERJA LAPANGAN KONTRAKTOR


5.1. Kontraktor

wajib menunjuk seorang kuasanya dilapangan


(Pelaksana),
yang
mempunyai pengetahuan
dibidang
Teknik
Sipil/Bangunan, cakap, gesit dan berwibawa terhadap pekerja
yang dipimpinnya dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
pekerjaan. Penunjukkan ini harus dikuatkan dengan surat resmi
dari Kontraktor yang ditujukan
kepada Pemberi Tugas dan
tembusannya kepada Pengelola Teknis Proyek dan Konsultan
Pengawas.

5.2. Pelaksana harus berpendidikan minimun Sarjana (S1) Jurusan Teknik


Sipil dan
mempunyai pengalaman kerja lapangan minimun 3
tahun.
5.3. Selain Petugas Pelaksana, maka Kontraktor diwajibkan pula melaporkan
secara tertulis kepada Team Pengelola Teknis Proyek dan
Konsultan Pengawas, tentang susunan organisasi pelaksana
dilapangan dengan nama dan jabatannya masing- masing.
5.4. Bila dikemudian hari, menurut penilaian Team Pengelola Teknis Proyek dan
Konsultan Pengawas, bahwa Pelaksana kurang mampu atau tidak
mampu melaksanakan tugasnya, maka Kontraktor diharuskan
mengganti Pelaksana tersebut dan harus memberitahukan
secara tertulis tentang Pelaksana yang baru, demi kelancaran
pekerjaan.
PASAL 6 : TENAGA KERJA / BAHAN / PERALATAN.
6.1. Kontraktor harus mendatangkan tenaga kerja yang berpengalaman dan ahli
dibidang pekerjaannya masing- masing, seperti tukang pancang,
tukang besi, tukang kayu, tukang batu, tukang pasang ubin/keramik,
tukang cat, tukang atap, instalator mekanikal elektrikal dan tenaga
kerja lainnya.
6.2. Sebelum bahan bangunan didatangkan ke lokasi Proyek, maka Pelaksana
harus memberikan contoh bahan bangunan kepada Konsultan
Pengawas Lapangan dan bila sesuai dengan persyaratan dan
disetujui oleh Konsultan Pengawas Lapangan maka barulah boleh
didatangkan dalam jumlah yang besar menurut keperluan Proyek.
6.3. Mengenai

jumlah contoh bahan bangunan


yang diberikan dapat
dikonsultasikan dengan Konsultan Pengawas.

6.4. Mendatangkan bahan-bahan bangunan


untuk pelaksanaan Proyek, harus
tepat pada waktunya dan kwalitetnya
dapat disetujui
oleh
Konsultan Pengawas.
6.5. Bahan bangunan yang tidak sesuai dengan persyaratan dan ditolak oleh
Konsultan Pengawas, harus segera dikeluarkan dari lokasi
Proyek, paling lambat 24 jam sesudah surat pernyataan
penolakan dikeluarkan.
6.6. Bahan bangunan yang berada dilokasi Proyek dan akan dipergunakan untuk
pelaksanaan bangunan, tidak boleh dikeluarkan dari lokasi Proyek.

6.7. Pelaksana harus menyediakan alat- alat yang diperlukan untuk pelaksanaan
bangunan agar supaya pelaksanaannya dapat selesai sesuai dengan
waktu yang disediakan. Alat- alat tersebut berupa mesin pengaduk
beton, mesin pancang, vibrator, katrol, mesin pemotong besi, mesin
pompa air,
Theodolit, waterpass, compactor dan alat- alat
berat/ringan lainmya yang sangat diperlukan.
6.8. Alat- alat yang disediakan oleh Kontraktor, harus dapat
dimanfaatkan
semaksimal mungkin dan bila rusak harus segera diperbaiki dan
bila tidak dapat dipakai, maka harus segera dikeluarkan dari lokasi
Proyek.
PASAL 7 : KEAMANAN PROYEK.
7.1. Kontraktor

7.2. Untuk

diharuskan menjaga keamanan terhadap barang- barang milik


Proyek, Konsultan Pengawas dan Pihak ketiga yang ada
dilapangan, baik terhadap pencurian maupun pengrusakan.

maksud diatas. maka Kontraktor harus membuat pagar pengaman


dari bahan kayu dan seng serta perlengkapan lainnya yang dapat
menjamin keamanan.

7.3. Bila terjadi kehilangan atau pengrusakan barang-barang, alat- alat dan
hasil.pekerjaan, maka akan menjadi tanggung jawab Kontraktor dan
tidak dapat diperhitungkan dalam pekerjaan tambah/kurang atau
pengunduran waktu pelaksanaan.
7.4. Apabila

terjadi kebakaran, maka


Kontraktor bertanggung jawab atas
akibatnya. Untuk
mencegah bahaya
kebakaran
tersebut,
Kontraktor harus menyediakan alat pemadam kebakaran yang
siap dipakai dan ditempatkan pada tempat- tempat yang strategis
dan mudah dicapai.

PASAL 8 : KESELAMATAN KERJA DAN KESEHATAN


8.1. Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja,
Kontraktor
harus menjamin sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Oleh karena itu Kontraktor harus mengikutkan pekerja
sebagai peserta Asuransi Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(
JAMSOSTEK ) sesuai
dengan
peraturan Pemerintah yang
berlaku.
8.2. Pada pekerjaan - pekerjaan yang mengandung resiko bahaya jatuh, maka
Kontraktor harus menyediakan sabuk pengaman kepada pekerja
tersebut.
8.3. Untuk

8.4. Bila

melaksanakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan


(P3K),
maka Kontraktor harus menyediakan sejumlah obat- obatan
dan perlengkapan
medis lainnya yang siap dipakai apabila
diperlukan.
terjadi musibah atau kecelakaan dilapangan yang
memerlukan
perawatan yang serius, maka Kontraktor/Pelaksana harus segara
membawa korban ke Rumah Sakit yang terdekat dan segera

melaporkan kejadian tersebut kepada Pemberi Tugas.


8.5. Kontraktor

harus menyediakan air minum


yang bersih,
cukup dan
memenuhi syarat- syarat kesehatan bagi semua pekerja/petugas,
baik yang berada dibawah tanggung jawabnya maupun yang
berada dibawah pihak ketiga.

BAGIAN III
URAIAN PEKERJAAN
PASAL 1 : PEKERJAAN PERSIAPAN.

1.1. Pembersihan Lokasi.

1.1.1. Untuk pekerjaan pembersihan lokasi


diperhatikan rencana gambar dan bestek.

ini,

perlu

1.1.2. Pembersihan lokasi dinyatakan selesai, bila telah


mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas
Lapangan.
1.2. Pengukuran Situasi.

1.2.1. Untuk pekerjaan pengukuran situasi


diperhatikan rencana gambar dan bestek.

ini,

perlu

1.2.2. Untuk menentukan ketepatan titik sumbu kolom


konstruksi dan lain lain, dipergunakan alat ukur
Theodolit.
1.2.3. Untuk menentukan titik sumbu kolom / titik tengah
pondasi, harus dipasang patok patok dari kayu galam,
yang ditanam kan sedemikian rupa sehingga tidak
bergerak dengan diberi cat merah dikepala galam dan
ditengah tengah permukaan galam dipasang paku.
1.2.4. Titik yang dimaksudkan pada ayat 1.2.2. , dapat
dikontrol / diperiksa pada tanda tanda yang terdapat
pada papan bouwplank.
1.2.5. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan
pengukuran situasi ini, harus diketahui dan disetujui
Proyek, Pengelola Proyek dan Konsultan Pengawas.

1.3. Konstruksi Bouwplank.

1.3.1. Untuk pekerjaan konstruksi bouwplank ini, perlu


diperhatikan rencana gambar dan bestek.
1.3.2. Untuk membantu ketepatan berdirinya bangunan / titik
sumbu pondasi / kolom konstruksi, maka harus dibuat
konstruksi bouwplank yang kuat / tidak dapat bergeser
karena pekerjaan disekitarnya.
1.3.3. Konstruksi bouwplank dibuat dari bahan setara papan
lanan berkwalitet baik dengan ukuran 3/20 cm dan
tongkat dari galam diameter 5 cm atau 7 cm panjang 3
meter dengan jarak satu sama lain adalah 100 cm dan
ditanam sedemikian rupa, sehingga tidak mudah
bergerak.
1.3.4. Papan bouwplank harus diratakan dibagian atas
dengan jalan diketam sehingga lurus.
1.3.5. Pembuatan konstruksi bouwplank dinyatakan selesai,
bila mendapat persetujuan Pengawas Lapangan.
1.3.6. Papan bouwplank bagian atas harus dibuat setinggi peil
lantai 0,00.

PASAL 2 : PENENTUAN PEIL.


2.1. Untuk pekerjaan penentuan peil ini, harus diperhatikan rencana
gambar dan bestek.
2.2. Untuk penentuan peil, diambil permukaan atas lantai dari bangunan
utama.
2.3. Untuk pedoman menentukan ketinggian peil dari muka tanah, ,
Ketinggian permukaan tanah asal sampai kepermukaan lantai
adalah ...... m ( atau sesuaikan dengan gambar rencana ).
2.4. Untuk pedoman selanjutnya dari bangunan yang lain, maka harus
dibuatkan patok permanen dari tiang beton bertulang yang
ditanamkan kedalam tanah dan tidak mudah bergerak / bergeser.
Patok ditanamkan sebelum pekerjaan bouwplank dimulai, tempat
penanaman patok harus dikonsultasikan kepada pengelola proyek
dan Konsultan Pengawas.
2.5. Pada patok yang dimaksudkan pada ayat 2.4. diatas harus dibuat
tanda yang menunjukkan ketinggian lantai.
2.6. Ukuran ketinggian lantai dari bangunan yang lain, akan
berpedoman kepada patok permanen yang dimaksudkan pada ayat
2.4.

PASAL 3 : PEKERJAAN BETON BERTULANG.


3.1. Untuk pekerjaan beton bertulang ini, perlu diperhatikan rencana gambar dan
bestek .
3.2. Persyaratan Bahan.
3.2.1. Bahan

agregat pasir dan kerikil harus didatangkan dari tempattempat yang


telah disetujui mutunya oleh Konsultan
Pengawas Lapangan dan harus memenuhi syarat-syarat
PBI.1971 dan SKSNI T-15-1991-03

3.2.2. Bahan

agregat pasir dan kerikil harus ditempatkan sedemikian


rupa sehingga tidak tercampur dengan bahan- bahan yang
merusak mutu beton dan ditempatkan terpisah sehingga
terhindar dari bercampurnya antara kedua jenis agregat
tersebut, sebelum pemakaian

3.2.3. Besar butiran agregat kerikil yang dipakai untuk bahan beton, harus
berada diantara ayakan 4mm - 31,5 mm.
3.2.4. Agregat kerikil tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 persen.
Apabila kadar lumpur tersebut lebih dari 1 persen, maka
agregat kerikil harus dicuci.
3.2.5. Besar butiran agregat pasir yang dipakai untuk bahan beton, harus
berada diantara ayakan 0,063-4mm
3.2.6. Agregat pasir tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 persen.
Apabila kadar lumpur tersebut lebih dari 5 persen, maka
agregat pasir harus dicuci.
3.2.7.

Untuk

membuktikan banyaknya kadar lumpur dilapangan,


dapat
dilaksanakan dengan menggunakan gelas ukur. Gelas ukur
tersebut diisi dengan pasir atau kerikil sampai garis angka
100. Kemudian isikan air sampai garis angka 200. Kocok
gelas sampai airnya keruh dan selanjutnya didiamkam
sampai airnya bersih kembali. maka diatara pasir atau
kerikil
akan terdapat lumpur yang akan dibuktikan
banyaknya.

3.2.8. Jenis semen yang dipakai harus jenis semen type satu sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan dalam NI-8.
3.2.9. Semen

yang didatangkan ke lokasi proyek, harus disimpan pada


gudang yang berlantai kering sedemikian rupa, sehingga
terjamin tidak akan rusak dan/atau tercampur bahan lain
yang dapat merusak mutu beton.

3.2.10. Pada pemakaian semen yang dibungkus, penimbunan semen yang


baru datang,tidak boleh dilakukan diatas timbunan yang telah
ada, dan pemakaian semen harus dilakukan menurut urutan
pengirimannya.

3.2.11. Air yang dipakai untuk pembuatan dan perawatan beton diusahakan
air bersih yang dapat
diminum. Air yang
mengandung
garam dan/atau bahan lain yang merusak beton, tidak boleh
dipakai.
3.2.12. Bila terdapat keragu- raguan terhadap air yang dipakai, maka contoh
air tersebut harus
diperiksakan di
laboratorium dibawah
tanggung jawab Kontraktor.
3.2.13. Bila pemeriksaan air tersebut tidak memenuhi syarat
untuk
campuran beton, maka air tersebut tidak boleh dipakai.

bahan

3.3. Tulangan
3.3.1. Semua baja tulangan yang dipakai berbentuk polos dan ulir dengan baja
U-24 dan U-32, sesuai dengan standard PBI.1971/ atau SKSNI
T-15-1991-03.
3.3.2. Sebelum baja tulangan di datangkan ke lokasi Proyek, maka kontraktor
harus menyerahkan dahulu contoh- contoh baja tulangan
yang dipakai kepada Pengawas Lapangan. Contoh baja
tulangan pada masing- masing diameter sebanyak 3 batang
dengan panjang 0,50 meter.
3.3.3. Baja tulangan yang dibengkokkan sama dengan atau lebih
derajat, hanya diperkenankan sekali pembengkokkan.

dari 90

3.3.4. Baja tulangan harus bersih dari karat yang mengganggu kekuatan beton
bertulang. Hal ini disesuaikan dengan PBI.1971/SKSNI T-151991-03.
3.3.5. Baja tulangan tidak boleh disimpan ditempat yang langsung berhubungan
dengan tanah atau tempat terbuka dan harus dilindungi dari
genangan air / air hujan.
3.3.6. Diameter

tulangan yang
gambar detail ).

dipakai

harus memenuhi stardard ( sesuai

3.4. Bekisting.
3.4.1. Papan bekisting (cetakan beton) yang dipakai adalah dari bahan kayu
kelas II dengan tebal 2 cm atau plywood tebal 6 mm dan
apabila oleh Pengawas Lapangan dinyatakan rusak, maka
tidak boleh dipakai lagi untuk pekerjaan berikutnya.
3.4.2. Tiang - tiang bekisting dapat dibuat dari kayu kelas II dengan ukuran
5/7 cm atau galam diameter 8 - 10 cm dengan jarak maksimun 0,5 meter.
3.4.3. Konstruksi
bekisting
harus
dibuat sedemikian rupa, sehingga
tidak mudah bergerak dan kuat menahan beban diatasnya.

3.4.4. Pada

bekisting kolom yang tinggi, maka setiap tinggi 2 meter


harus diberi pintu untuk
memasukkan spesi beton,
sehingga terhindar terjadinya sarang - sarang kerikil.

3.4.5.

bekisting kolom, dinding dan balok tinggi, harus diadakan


perlengkapan pintu untuk membersihkan kotoran - kotoran,
serbuk gergaji, potongan kayu, kawat pengikat dan lainlain.

Pada

3.5. Pekerjaan Beton.


3.5.1. Pekerjaan beton menggunakan beton Ready-Mix dengan mutu beton K300 dan K-250
3.5.2. Untuk beton lantai kerja digunakan jenis mutu beton K.125 dengan
perbandingan campuran 1 semen : 3 pasir dan 5 kerikil (
volume ).
3.5.3. Beton
Lantai
kerja
dilaksanakan
pada pekerjaan
dibawah:
pondasi.Tebal lapisan lantai kerja adalah 10 cm dan
permukaan lantai kerja harus sama dengan permukaan atas
tiang pancang.
3.5.4. Untuk

beton struktural yang berhubungan dengan air tanah/air hujan,


dipakai jenis mutu
beton
K-225
dengan
campuran
perbandingan bahan 1 semen :1,5 pasir :2.5 kerikil (volume).

3.5.5. Sedang pekerjaan beton konstruksi struktural yang lainnya, memakai


jenis mutu beton K.175 dengan perbandingan campuran
bahan 1 semen : 2 pasir dan 3 kerikil ( volume ).
3.5.6. Sebelum pengecoran massal dimulai :
- Kontraktor diharuskan melakukan test mix design
dilaboratorium beton terhadap kuat tekan beton, sesuai
dengan ketentuan yang tercantum dalam PBI 71 NI 2 /
SKSNI T 15 1991 03.
- Laporan hasil test mix design diatas merupakan
pedoman kontraktor dalam melaksanakan pencampuran
beton dilapangan.

- Pelaksana

- Bekisting

Kontraktor dan Konsultan Pengawas Lapangan harus


mengadakan percobaan slump tentang jumlah air yang
dipakai untuk campuran beton, sehingga memenuhi
syarat kekentalan beton yang sesuai dengan PBI.71. /
SKSNI T-15-1991-03.
harus
dibersihkan
dari potongan-potongan
kayu,
potongan- potongan kawat pengikat dan bahan- bahan
lain yang merusak mutu beton.

Sebelum pelaksanaan pengecoran, bekisting harus disiram air terlebih


dahulu.

- Lubang -

lubang yang
terdapat pada bekisting
supaya ditutup
sedemikian rupa, sehingga air semen tidak dapat
keluar.

3.5.7. Untuk penutup beton minimum (selimut beton) yang berhubungan dengan :
- air adalah 2,5 cm.

- untuk pelat 1,5 cm, untuk balok 2 cm dan untuk kolom 2,5 cm.
3.5.8. Pada pengecoran beton, bahan campuran beton harus diaduk dengan
mesin pengaduk Mollen sampai bahan beton bersatu
menjadi satu warna.
3.5.9.Untuk pengecoran pelat beton dan balok tidak boleh
tengah bentang lapangan.

berhenti

ditengah-

3.5.10. Penghentian pengecoran pelat, harus dimuka balok yang sudah dicor dan
maksimal sejauh 0,15 x bentang pelat (dihitung dari ujung
bawah pelat terakhir).

3.5.11. Pengecoran dapat dimulai, bila


keadaan bekisting dan tulangan
sudah memenuhi syarat dan telah diperiksa
oleh Konsultan Pengawas Lapangan serta mendapat izin pengecoran.
3.5.12. Untuk memperbaiki kepadatan beton, maka harus dipakai alat pemadat
mesin vibrator. Lamanya pemakaian tidak boleh lebih 30
detik pada satu titik.
3.5.13. Khusus untuk pengecoran kolom, spesi beton tidak boleh dijatuhkan lebih
tinggi dari 2 meter.
3.5.14. Pekerjaan beton yang permukaannya masih diplester, atau permukaan
yang masih kena pekerjaan pengecoran lanjutan, maka
permukaan beton tersebut harus dikasarkan dan bidang
yang akan diplester atau disambung harus disiram air
semen.
3.5.15. Setelah selesai pekerjaan pengecoran, maka beton harus dirawat selama
masa pengikatan. Perawatan tersebut dilaksanakan dengan
jalan mengalirkan air terus menerus pada permukaan beton
atau menutup permukaan beton dengan karung goni atau
bahan yang lain yang dapat basah terus menerus sampai
selesai waktu pengikatan.Apabila ingin mempercepat waktu
pengikatan boleh mempergunakan obat setelah mendapat
ijin dari konsultan pengawas.
3.5.18. Lamanya perawatan khusus untuk pelat minimal selama
1 minggu dan selama perawatan itu beton tidak boleh
mendapat beban yang berat.

PASAL 4 : PEKERJAAN STRUKTUR


4.1. Untuk

pekerjaan

struktur,

perlu diperhatikan rencana gambar dan

bestek.
4.2. Pekerjaan struktur ini berkaitan dengan pasal 3 pekerjaan beton
bertulang.
4.3. Pekerjaan ini meliputi Pekerjaan plat lantai tempat sampah / taman
pada segmen kiri dan kanan, Pekerjaan kolom / balok / plat pada
segmen kiri dan kanan, Pekerjaan kolom / balok / plat pada segmen
tengah.
4.4. Pekerjaan plat lantai tempat sampah / taman pada segmen kiri dan
kanan meliputi :
4.4.1. Balok pengaku sampan 30/50 ( 145 kg)
4.4.2. Plat lengkung 20/100 ( 145 kg) tutup plat lengkungkeliling
4.4.3. Plat sampan tebal 10 cm dan penutup sampan tebal 8 cm
penulangan dia. 10 - 15 cm ( 170 kg)
4.5. Pekerjaan kolom / balok / plat pada segmen kiri dan kanan meliputi :
4.5.1. Beton sejajar Sampan atas :
Balok 50/20 papan Tulisan ( 160 kg )
Balok 20/20 papan Tulisan ( 215 kg )
Plat papan tulian tebal 10 cm ( 75 kg )
4.5.2. Beton Sampan :
Balok Plat 10/50 sampan ( 40 kg )
Plat sampan tebal 10 cm ( 75 kg )
Plat pangkal sampan ( 100 kg )
4.5.3. Balok pd kolom K 1 detail VI
Plat penumpu ukiran gerbang 200x200 t. 15 cm
4.5.4. Balok beton pagar Rasi 20/50

4.6. Pekerjaan kolom / balok / plat pada segmen tengah meliputi :


4.6.1. Aksesoris balok utama presstres , balok precast
Kolom 20/40 ( 165 kg )
Balok 20/40, balok 50/40 ( 170 kg )
Plat dinding sampan ( 80 kg )
Plat atap sampan ( 160 kg )
4.6.2. Balok oversteek 125/50 lebar 100 cm ( 125 kg )
4.6.3. Beton bertulang & pas. Bata rumah banjar :
Balok 40/80 ( 155 kg )
Balok 25/80 ( 210 kg )
Kolom 20/100 ( 300 kg )
Plat lantai tebal 10 cm ( 70 kg )
Kolom 20/20 ( 185 kg )
Balok pengikat 20/25 ( 160 kg )
Balok 25/40 ( 220 kg )
Plat lantai tebal 10 cm ( 70 kg )
List plank lantai
Balok atap 15/30 ( 275 kg )
Plat Givel
Plat atap tebal 10 cm + Plat list plank
Plat beton tebal 15 cm tempat logo
Pas. Bata camp. 1:2 ( pada rumah banjar )
Plesteran campuran 1:2 ( pada rumah banjar )
Pembuatan plesteran motif atap sirap

PASAL 5 : PEKERJAAN FINISHING


5.1. Untuk pekerjaan finishing, perlu diperhatikan rencana gambar
dan bestek.
5.2. Pekerjaan ini meliputi Pekerjaan bak bunga / taman, Pekerjaan
pagar rasi / nok kolom, Pekerjaan finishing / pengadaan.

5.3. Pekerjaan bak bunga / taman meliputi pekerjaan Lapisan Bt Alam


+ cat transparan anti lumut, Pengadaan Tanah subur / tanah pupuk,
Tanaman hias + masa pemeliharaan 3 bulan,dan Cat tembok anti
lumut pada Sampan

5.4. Pekerjaan pagar rasi / nok kolom dari kayu ulin 5/20 - 2 m' yang
difinishing .cat duco, dan Pas. Sungkul Nenas beton bertulang dia. 40
cm t. 50 cm

5.5. Pekerjaan Finishing / pengadaan meliputi pekerjaan :


Pas. Granit :
1. Kolom K1 , K3 cover Granit dan kolom K2 dengan cover GRC
2. Cover granit Plat Papan tulisan / plat tumpuan / plat sampan
3. Cover granit balok segmen kiri/kanan
4. Cover granit Kolom segmen tengah & balok oversteek , konsul
5. Finishing balok utama :
a. Cover granit balok utama + aksesoris ( dinding sampan, plat atap
bagian atas sampan )
b. Cat tembok anti lumut balok20/40 & plat bawah atap sampan
6.Finishing Rumah banjar :
a. Cover granit plat lantai rumah banjar / list plank beton
b. Cover granit dinding dibawah rumah banjar
c. Cover granit dinding rumah banjar
d. Cat tembok anti lumut bagian dalam rumah banjar
7. Pas. Ukiran pada Jurai lawang , bahan
7.1 Pemasangan komponen GRC pada setiap segmen.
a. Pengukuran (Marking)
Pengukuran awal dan penentuan centerline kolom serta level
balok ke balok dilakukan bersama sama dengan pemberi tugas
dan disaksikan oleh konsultan pengawas dan sub kontraktor
terkait agar dapat diketahui lebih awal apabila terjadi
penyimpangan atau tidak sesuai antara shop drawing dan existing
sehingga dapat segera dicari solusinya, demikian juga dengan
level pemasangan awal GRC untuk tipe, pengukuran /marking
dimulai dari as ke kolom as dan bangunan

b. Pekerjaan Rangka
Pabrikasi rangka sebagian dilakukan di pabrik untuk rangka yang
tertanam di panel GRC, dan sebagiannya lagi dirakit dilapangan
untuk rangka pendukung guna penyesuaian dengan struktur
bangunan, join rangka dengan struktur beton menggunakan
sistem dynabolt M 10 dirangkai dengan bracket besi siku L 45,45,5
atau menyesuaikan ketebalan GRC panjang +10 cm. pekerjaan
rangka dapat dilaksanakan apabila marking sudah dibuat dan
telah disesuaikan dengan gambar kerja dan seluruh permukaan
besi dan bracket telah dicat dengan zyncromate (atau sesuai
permintaan)
c. Pemasangan GRC
Pesangan GRC untuk kolom dimulai dari panel paling bawah ke
atas dan dilanjutkan ke tipe tipe yang lain disesuaikan dengan
kesiapan tempat. Tahapan pemasangan perbalok atau per tampak
(sesuai kesiapan tempat) dan diselesaikan as ke as bangunan
atau sesuai modul penempatan GRC
Prioritas yang diinginkan . pemasangan penel disesuaikan dengan
marking penempatan panel yang telah dibuat terlebih dahulu.
Pemasangan panel kolom lantai dasar dilakukan setelah
pekerjaan struktur dan pekerjaan jalan samping bangunan selesai
dikerjakan agar panel GRC terhindar dari bangunan dan alat alat
berat dan benda keras lainnya.
Setelah panel ditempatkan pada posisinya dan level telah
disesuaikan dengan shopdrawing, maka dapat dilanjutkan dengan
pekerjaan pengelasan angkur/rangka dari panel dengan struktur
rangka yang telah dibuat terlebih dahulu.
7.2 Kualitas GRC harus Standar Nasional Indonesia SNI 15-02331989 Dengan syarat ketentuan tegangan lentur minimal
10 N/mm2
Untuk item lainnya ;
a. Frame pengikat ukiran besi C 100x40x5 + mur bout fin cat Duco
b. Ukiran bahan GRC bentuk 3 dimensi ex Jawa , tebal min 10 cm
finish cat tahan lama warna Gold 24k ( jaminan ketahanan cat 5
tahun ) minimal setara Danagloss
8. Pas. Ukiran pada Rumbai Pilis , bahan;
a. Angker tanam + mur bout ( pengikat ke beton )
b. Ukiran bahan GRC bentuk 3 dimensi ex Jawa , tebal min 10 cm
finish cat tahan lama warna gold 24k ( jaminan ketahanan cat 5
tahun ) minimal setara Danagloss, 2 type @ 2buah & 4 buah
9. Hiasan kolom K1 sebanyak 4 set khas Islami ( bahan besi tuang &
besi firkan ) ,dan Tempat penangkal petir ( Hiasan Fin . Cat Duco
warna (disepakati kemudian), terpasang lengkap )
a. Angker tanam + mur bout ( pengikat ke beton )
b. Plat 7mm pembungkus kolom
c. Besi tuang tebal 10 mm bentuk bundar-2 , jumlah 4 buah
d. Besi Firkan berkerawang bentuk 3 dimensi

10. Pas. Ukiran pada Jurai lawang balok utama, bahan;


a. Frame pengikat ukiran besi C 100x40x5 + mur bout fin cat Duco
b.Ukiran bahan GRC bentuk 3 dimensi ex Jawa , tebal min 10 cm
finish cat tahan lama warna gold 24k ( jaminan ketahanan cat 5 tahun
minimal setara Danagloss
11. Pas. Ukiran pada Dahi lawang balok utama, bahan;
a. Frame pengikat ukiran besi C 100x40x5 + mur bout fin cat Duco
b. Ukiran bahan GRC bentuk 3 dimensi ex Jawa , tebal min 10 cm
finish cat tahan lama warna Gold 24k ( jaminan ketahanan cat 5
tahun) minimal setara Danagloss
12. Pas. Ukiran pada Pilis atap Sampan balok tengah, bahan;
a. Frame pengikat ukiran plat lebar 50 tebal 5 mm + mur bout fin cat
Duco
b. Ukiran bahan GRC bentuk 2 dimensi ex Jawa , tebal min 5 cm fin.
cat tahan lama warna Gold 24k ( jaminan ketahanan cat 5 tahun )
minimal setara Danagloss
, lebar pilis 440 mm

13. Pas. Ukiran pada Pilis atap Rumah banjar , bahan;


a. Angker tanam + mur bout
b. Ukiran bahan GRC bentuk 2 dimensi ex Jawa , tebal min 5 cm fin.
Cat tahan lama warna Gold 24k ( jaminan ketahanan cat 5 tahun )
minimal setara Danagloss , lebar pilis 250 mm
14. Pas. Ukiran pada Rumbai Pilis atap Rumah banjar , bahan;
a. Angker tanam + mur bout ( pengikat ke beton )
b. Ukiran bahan GRC bentuk 3 dimensi ex Jawa , tebal min 10 cm
finish cat tahan lama warna Gold 24k ( jaminan ketahanan cat 5
tahun ) minimal setara Danagloss, 4 type @ masing 10 buah , 2
buah , 12 buah , 8 buah
15. Pembuatan plesteran motif atap sirap , fin cat tembok anti lumut
16. Ornamen Intan ; bahan kaca bening 8mm+alucopan berpola intan
, rangka besi L 30.30.3 . Ukuran 120x127 cm ( terpasang lengkap )
17. Lambang Kotamadya Banjarmasin & Kabupaten Banjar
(terpasang lengkap ) Bahan aluminium 0,7mm , rangka besi L 30.30.3
fin. duco . Ukuran masing-masing 230x310 cm , 230x270 cm.
5.6. Bahan Keramik dan Granit yang dipakai adalah produk Kwalitas I,
harus betul - betul datar waterpass dan tidak boleh ada yang retak /
pecah.

5.7. Pemasangan Keramik dan Granit harus dikerjakan oleh tenaga


yang benar-benar ahli, sehingga tidak terjadi pemasangan yang
bergelombang dan nat-nat yang tidak lurus.

5.8. Pada setiap 9,0 M2 keramikdan granit, dipasang slang air kecil
yang berdiameter + 5,0 mm di sekeliling keramik.

5.9. Bila terdapat pemasangan keramik


dan granit yang harus
dipotong, maka diusahakan pemasangannya pada pertemuan sudut.

5.10. Setelah selasai pemasangan keramik dan granit, maka natnatnya harus diisi dengan spesi semen dan air dengan warna yang
sama dengan warna nya.

5.11. Bila terdapat pemasangan


keramik dan granit yang
tidak
rata
waterpass
mendatar (bergelombang) dan tidak lurus
maka
harus dibongkar,
dan
diperbaiki
kembali
sampai
permukaannya waterpass mendatar dan plint benar- benar lurus.

5.12. Cara Pemasangan Keramik dan Granit:

5.12.1. Basahi permukaan plat lantai sampai tidak ada penyerapan air lagi
( pembasahan terus menerus, minimal selama 2 jam ).
5.12.2. Basahi

5.12.3.

PASAL 6

Setelah

bahan keramik dan granit yang akan digunakan dengan


merendam seluruh bidang keramik, sedikitnya selama
15 menit. Dan baru diangkat sesaat akan dipasang.
terpasang, baik sebelum atau sesudah naat-naat diisi,
kelembaban tetap dijaga dengan menutup bidang lantai
yang selesai dipasang dengan karung goni basah
sedikitnya selama 24 jam.

: PEKERJAAN ELEKTRIKAL
6.1. Untuk pekerjaan elektrikal, perlu diperhatikan rencana gambar dan
bestek.
6.2. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan instalasi listrik dan penangkal petir.
6.3. Pekerjaan ini khusus dilaksanakan pada bangunan gerbang.
6.4. Instalasi titik lampu ( kabel , pipa ducting PVC1") termasuk saklarsaklar
6.5. Pengadaan dan pemasangan lampu dengan tipe :
6.5.1. Lampu Sorot Type SFLA SS HPIT 400 W
6.5.2. Lampu Sorot Type SFLA SS HPIT 250 W
6.5.3. Lampu Sorot Type SFLA SA MHN- TD 150 W
6.6. Panil Panil Lampu lengkap MCB, material bantu, dan Penyambungan ke
PLN 6000 Watt ( terpasang lengkap ).
6.7. Commisioning test
6.8. Pekerjaan Instalasi Penangkal Petir
6.8.1. Kabel penghantar NYA 1x70mm + pipa ducting giv1,5"
6.8.2. Split dia. 1,5" ( 4 buah )
6.8.3. Pipa ducting PVC dia. 1,5"
6.8.4. Penanaman Grounding GIV dia. 1,5" lengkap dengan bak kontrol
( 2 bak )

Instalasi Penangkal Petir.


Bangunan-bangunan yang perlu diamankan terhadap sambaran petir
ditentukan oleh derajat kepentingan bangunan ter- sebut serta bentuk
dan konstruksinya.
Metode yang digunakan adalah metode konvensional dengan kombinasi
franklin rod dan sangkar faraday yang dilengkapi dengan konduktorkonduktor turun dan pentanahan secukupnya
Dalam pelaksanaannya. sistem instalasi harus juga memperhitungkan
aspek estetika bangunan, terutama terhadap bentuk atap bangunan
serta jalur konduktor turun terhadap tampilan dinding/kolom bangunan.
Penangkal Petir.
-

Untuk pekerjaan penangkal petir ini, perlu diperhatikan rancana


gambar bestek lembar nomor
dan Peraturan Umum Instalasi
Penangkal Petir (PUIP) tahun 1983.

Pekerjaan
bestek.

Spitz atau ujung penerima dari instalasi penangkal petir adalah


dari bahan logam tembaga dengan bentuk dan panjang seperti
pada gambar rencana.

Batang untuk meninggikan spitz dibuat dari GIP dengan diameter


1" yang diberi pelat dan angkur untuk pemasangan pada papan
suri (ruiter).

Jarak antara spitz ke spitz dibuat kurang lebih 7,5 meter dan
jarak terjauh yang dilindungi dengan spitz adalah maksimum 12
meter.

Kawat penghantar harus diberi penahan / klem dengan jarak satu


sama lain adalah 25 cm, sehingga
kawat
tersebut
terjamin
kelurusannya.

Untuk melaksanakan pekerjaan penahan/klem dengan hasil yang


baik, maka pada setiap pelubangan pada atap atau bubungan,
haruslah diberi rubber scalant yang baik, sehingga tidak terjadi
kebocoran yang tidak diharapkan.

penangkal petir harus

sesuai dengan gambar dan

PASAL 7 : PEKERJAAN JALAN


7.1. Untuk pekerjaan
dan bestek.

finishing, perlu diperhatikan rencana gambar

7.2. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembuatan jalan rigid pavement


(perkerasan kaku).

7.3. Pembuatan jalan Rigid Pavement/


7.3.1. Perataan atau leveling / pengupasan lapisan aspal
eksisting. Menggunakan alat berat.
7.3.2. Lapis pondasi bawah ( LPB kelas B) 25 cm.
7.3.3. Lantai kerja Mutu f'c 7,4 Mpa tebal 10 cm
7.3.4. Plat beton 25 cm Mutu f'c 31,2 Mpa (K - 350)
7.3.5. Pembesian tulangan.
7.3.6. Bekisting.
7.3.7. Cat anti karat sambungan besi sepj. 10 cm &15 cm.
7.3.8. Joint sealant tebal 10mm tinggi 4 cm
7.3.9. Lapisan Penutup dan pengisi antara aspalan rigid
pasangan batu garut , ( dilengkapi pas. Besi L 70.70.7 , raam
aspal lebar 100 cm )
7.3.10. Pas.Batu adesit / batu Garut berpola ( tebal batu 3 cm)

PASAL 8 :

PEKERJAAN PENYELESAIAN.

8.1. Yang dimaksudkan pekerjaan penyelesaian ini adalah pekerjaan- pekerjaan


perbaikan sebelum serah terima pertama dilaksanakan.
8.2. Pekerjaan dapat dinyatakan selesai bila telah diadakan pemeriksaan dari
Proyek,
Pengelola
Teknis,
Konsultan
Pengawas
dan
Kontraktor, dengan hasil yang memuaskan.
PASAL 9 : PERATURAN PENUTUP
9.1. Meskipun dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat [RKS] ini pada
uraian pekerjaan dan uraian bahan-bahan tidak dinyatakan kata-kata
yang harus dipasang oleh Pemborong atau yang harus disediakan
oleh Pemborong, tetapi tidak disebutkan atau diuraikan dalam
penjelasan pekerjaan pembangunan ini, perkataan perkataan
tersebut diatas tetap dianggap ada dan dimuat dalam RKS ini.
9.2.

Pekerjaan yang nyata-nyata menjadi bagian dari pekerjaan


pembangunan, tetapi tidak dimuat atau diuraikan dalam RKS ini,
tetap diselenggarakan dan diselesaikan oleh Pemborong, harus
dianggap seakan-akan pekerjaan ini dimuat dan diuraikan kata demi
kata pada RKS ini untuk menuju penyerahan selesai yang lengkap
dan sempurna sesuai dengan RAB dan pertimbangan Direksi.