Anda di halaman 1dari 13

BUDIDAYA TANAMAN CABAI MERAH DI UPTD PERBIBITAN

TANAMAN HORTIKULTURA DESA SUMBEREJO KECAMATAN


AMBULU KABUPATEN JEMBER
Moch Hafi Wardana
Email : hafi_wardana@yahoo.com

Abstrak: Penelitian ini merupakan pembahasan tentang Budidaya


Tanaman Cabai Merah. Pelaksanaan penelitian pada tanggal 20
november 2014 sampai dengan 23 november 2014 di UPTD
Perbibitan Tanaman Hortikultura, Desa. sumberejo, Kec. ambulu,
Kab. jember, Jawa timur. Metode dasar yang digunakan dalam
praktek penelitian ini adalah Praktek Lapang, Observasi, Wawancara
dan Sumber Data (Data Primer dan Data Sekunder). Sedangkan
pengambilan lokasi praktek peneitian adalah disesuaikan dengan
kajian yakni Budidaya Cabai Merah. UPTD Perbibitan Tanaman
Hortikultura sumberejo digunakan sebagai lokasi Budidaya Cabai
Merah karena merupakan masa tanam pertama di tempat tersebut.
Budidaya Cabai Merah relatif mudah, tergantung musim dan cara
perawatan yang dilakukan. Langkah-langkah budidaya cabai merah
ini meliputi pengadaan benih, pengolahan tanah, penanaman,
pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit serta
pemanenan. Hasil analisis usaha produksi cabai merah per 1.200 m2
(selama masa tanam) di UPTD Perbibitan Tanaman Hortikultura
Pakopen diperoleh BEP Produksi sebesar 41,223 kg dan BEP Harga
sebesar Rp 10.865,00. B/C ratio 0,56 menunjukkan bahwa usaha
produksi cabai merah di UPTD Perbibitan Tanaman Hortikultura
Pakopen ini tidak layak untuk dijalankan, karena nilai B/C ratio
kurang dari satu berarti usaha tersebut tidak menguntungkan. Hal ini
disebabkan karena kurang maksimalnya perawatan dan curah hujan
yang tinggi.
Kata Kunci: Budidaya, Cabai Merah

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya bermata


pencaharian sebagai petani. Hal ini ditunjang dari banyaknya lahan kosong yang
dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, selain itu kondisi tanah di Indonesia
yang mempunyai kandungan unsur hara yang baik sehingga dapat membantu
pertumbuhan tanaman. Salah satu produk hortikultura yang menjadi unggulan
dalam sektor pertanian di Indonesia adalah tanaman sayuran. Sayuran merupakan
salah satu produk hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat karena
memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Sayuran dapat
dikonsumsi dalam keadaan mentah ataupun diolah terlebih dahulu sesuai dengan
kebutuhan

yang akan digunakan. Salah satu komoditi sayur yang sangat

dibutuhkan oleh hampir semua orang dari berbagai lapisan masyarakat, adalah

cabai, sehingga tidak mengherankan bila volume peredaran di pasaran dalam skala
besar.
Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang
memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika dan Asia
termasuk negara Indonesia. Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan
bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di
negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja,
yakni cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika. Tanaman cabai
merupakan salah satu sayuran buah yang memiliki peluang bisnis yang baik.
Besarnya kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri menjadikan cabai sebagai
komoditas menjanjikan. Permintaan cabai yang tinggi untuk kebutuhan bumbu
masakan, industri makanan, dan obat-obatan merupakan potensi untuk meraup
keuntungan. Tidak heran jika cabai merupakan komoditas hortikultura yang
mengalami fluktuasi harga paling tinggi di Indonesia. Harga cabai yang tinggi
memberikan keuntungan yang tinggi pula bagi petani. Keuntungan yang diperoleh
dari budidaya cabai umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya sayuran
lain. Cabai pun kini menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan. Namun, banyak
kendala yang dihadapi petani dalam berbudidaya cabai. Salah satunya adalah
hama dan

penyakit seperti kutu kebul, antraknosa, dan busuk buah yang

menyebabkan gagal panen. Selain itu, produktivitas buah yang rendah dan waktu
panen yang lama tentunya akan memperkecil rasio keuntungan petani cabai.
Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin.
Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan
Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabe juga dapat
digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industri
makanan dan industri obat-obatan atau jamu. Cabai termasuk komoditas sayuran
yang hemat lahan karena untuk peningkatan produksinya lebih mengutamakan
perbaikan teknologi budidaya. Penanaman dan pemeliharaan cabai yang intensif
dan dilanjutkan dengan penggunaan teknologi pasca panen akan membuka
lapangan pekerjaan baru. Oleh karena itu, dibutuhkan tenaga kerja yang
menguasai teknologi dalam usaha tani cabai yang berwawasan agribisnis dan
agroindustri. Menurut (Dermawan, 2010), salah satu sifat tanaman cabai yang

disukai oleh petani adalah tidak mengenal musim. Artinya, tanaman cabai dapat
ditanam kapan pun tanpa tergantung musim. Cabai juga mampu tumbuh di
rendengan maupun labuhan, itulah sebabnya cabai dapat ditemukan kapan pun di
pasar atau di swalayan. Penanaman cabai pada musim hujan mengandung resiko.
Penyebabnya adalah tanaman cabai tidak tahan terhadap hujan lebat yang
terus menerus. Selain itu, genangan air pada daerah penanaman bisa
mengakibatkan kerontokan daun dan terserang penyakit akar. Pukulan air hujan
juga bisa menyebabkan bunga dan bakal buah berguguran. Sementara itu,
kelembapan udara yang tinggi meningkatkan penyebaran dan perkembangan
hama serta penyakit tanaman. Dengan berkembangnya ilmu bioteknologi di
bidang pemuliaan tanaman, para breeder berusaha merekayasa gen cabai biasa
menjadi cabai unggul. Pada dasarnya, tujuan umum pemuliaan cabai adalah
mendapatkan kultivar yang lebih baik dari kultivar yang sudah ada. Tipe cabai
unggul yang diinginkan adalah memiliki karakter masa pembungaan dan
pembentukan buahnya cepat (umur panen genjah), produktivitasnya tinggi, daya
adaptasinya luas atau spesifik untuk daerah marginal tertentu (kering rawa, pantai,
gambut/asam), serta tahan terhadap hama penyakit. Tidak hanya untuk memenuhi
hasil secara kuantitas, perakitan cabai unggul juga ditekankan pada kualitas hasil
sesuai preferensi konsumen. Para konsumen menginginkan karakter cabai antara
lain tingkat kepedasan sesuai kebutuhan, penampilan buah yang baik, mulus, dan
warna yang terang, serta bebas dari penyakit seperti antraknosa.
Untuk industri pangan, seperti saus dan pasta, sifat-sifat cabai yang
diinginkan adalah mempunyai tingkat kepedasan tinggi, warna merah terang, dan
buahnya harus tersedia sepanjang waktu untuk memenuhi kebutuhan industri
(kontinuitas terjaga). Salah satu tujuan pengembangan cabai adalah untuk
meningkatkan produktivitas tanaman cabai. Peningkatan produktivitas tanaman
cabai dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat dan
efisiensi penggunaan lahan. Artinya, diharapkan di lahan yang semakin sempit
sekalipun tanaman cabai dapat berproduksi tinggi. Dengan demikian, para petani
yang memiliki lahan sempit (100-200 m2 ) dapat menanam cabai dan memetik
hasil yang tinggi. Begitu pula dengan orang-orang yang ingin memanfaatkan

halaman rumahnya untuk berbisnis cabai. Mereka dapat menanam cabai di dalam
pot dan memanen hasil yang tinggi pula.

METODE PENELITAN
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 19 november 2014
tanggal 23 november 2014. Bertempat di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
Perbibitan Tanaman Hortikultura sumberejo Kecamatan ambulu, Kabupaten
jember.
B. Cara Pelaksanaan
1. Penentuan Lokasi Praktek Kerja Penelitian
Pemilihan lokasi kegiatan praktek kerja penelitian yang disesuaikan
dengan bidang kajian yakni budidaya cabai, sehingga penulis dapat memperoleh
pengetahuan, informasi dan pengalaman berdasarkan pengamatan untuk membuat
laporan tugas akhir dari pelaksanaan praktek kerja magang yang dilaksanakan.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam pelaksanaan praktek kerja
magang ini antara lain :
a. Pelaksanaan Kegiatan Penelitian
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa praktik lapangan
selama pelaksanaan praktik lapangan.
b. Observasi
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati secara langsung
peristiwa atau hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian Kegiatan
yang dilaksanakan berupa pengamatan dan praktik pada sistem budidaya yang
meliputi pembuatan bibit sampai pemanenannya.
c. Wawancara

Suatu proses untuk mendapatkan informasi dengan cara tanya jawab


dengan responden. Responden dalam hal ini adalah pimpinan, pembimbing di
tempat magang, staf atau karyawan, maupun masyarakat di sekitar lembaga atau
instansi tempat penelitian. Sehingga diperoleh informasi yang diperlukan dengan
mudah dan jelas.
d. Sumber Data
Sumber data yang diperoleh berdasarkan sifat data yang dikumpulkan
dibagi menjadi dua jenis data, yaitu :
1. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden. Dalam
pelaksanaan kegiatan praktek magang, data primer diperoleh dari wawancara
dengan pemimpin, pembimbing tempat magang, staf atau karyawanmaupun
masyarakat disekitar lembaga atau instansi tempat magang.
2. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari responden.
Dalam pelaksanaan kegiatan praktek magang, data sekunder diperoleh dari buku,
arsip, jurnal dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kegiatan dalam
magang.

HASIL
Sejarah Tanaman Cabai Merah Tanaman cabai berasal dari dunia tropika
dan subtropika Benua Amerika, khususnya Colombia, Amerika Selatan, dan terus
menyebar ke Amerika Latin. Bukti budidaya cabai pertama kali ditemukan dalam
tapak galian sejarah Peru dan sisaan biji yang telah berumur lebih dari 5000 tahun
SM didalam gua di Tehuacan, Meksiko. Penyebaran cabai ke seluruh dunia
termasuk negara-negara di Asia, seperti Indonesia dilakukan oleh pedagang
Spanyol dan Portugis (Dermawan, 2010). Cabai merupakan tanaman perdu dari

famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal
dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua
Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia.
Cabai mengandung kapsaisin, dihidrokapsaisin, vitamin (A, C), damar,
zat warna kapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin, clan lutein.
Selain itu, juga mengandung mineral, seperti zat besi, kalium, kalsium, fosfor, dan
niasin. Zat aktif kapsaisin berkhasiat sebagai stimulan. Jika seseorang
mengonsumsi kapsaisin terlalu banyak akan mengakibatkan rasa terbakar di mulut
dan keluarnya air mata. Selain kapsaisin, cabai juga mengandung kapsisidin
Khasiatnya untuk memperlancar sekresi asam lambung dan mencegah infeksi
sistem pencernaan. Unsur lain di dalam cabai adalah kapsikol yang dimanfaatkan
untuk mengurangi pegal-pegal, sakit gigi, sesak nafas, dan gatal-gatal.Klasifikasi
dan Morfologi Tanaman Cabai Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem
tumbuhan) tanaman cabai termasuk kedalam :
1. Divisi

: Spermatophyta

2. Sub divisi : Angiospermae


3. Kelas

: Dicotyledoneae

4. Ordo

: Solanales

5. Famili

: Solanaceae

6. Genus

: Capsicum

7. Spesies : Capsicum annum L


Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan
merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran
tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta
mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan
memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempahrempah (bumbu
dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk
kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar ( Harpenas, 2010). Seperti

tanaman yang lainnya, tanaman cabai mempunyai bagian-bagian tanaman seperti


akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
1. Akar
Menurut (Harpenas, 2010), cabai adalah tanaman semusim yang berbentuk
perdu dengan perakaran akar tunggang. Sistem perakaran tanaman cabai agak
menyebar, panjangnya berkisar 25-35 cm. Akar ini berfungsi antara lain menyerap
air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang
tanaman. Sedangkan menurut (Tjahjadi, 1991) akar tanaman cabai tumbuh tegak
lurus ke dalam tanah, berfungsi sebagai penegak pohon yang memiliki kedalaman
200 cm serta berwarna coklat. Dari akar tunggang tumbuh akar-akar cabang,
akar cabang tumbuh horisontal didalam tanah, dari akar cabang tumbuh akar
serabut yang berbentuk kecil- kecil dan membentuk masa yang rapat.
2. Batang
Batang utama cabai menurut (Hewindati, 2006) tegak dan pangkalnya
berkayu dengan panjang 20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5 cm. Batang
percabangan berwarna hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter batang
percabangan mencapai 0,5-1 cm. Percabangan bersifat dikotomi atau menggarpu,
tumbuhnya cabang beraturan secara berkesinambungan. Sedangkan menurut
(Anonim, 2009), batang cabai memiliki Batang berkayu, berbuku-buku,
percabangan lebar, penampang bersegi, batang muda berambut halus berwarna
hijau. Menurut (Tjahjadi, 1991) tanaman cabai berbatang tegak yang bentuknya
bulat. Tanaman cabai dapat tumbuh setinggi 50-150 cm, merupakan tanaman
perdu yang warna batangnya hijau dan beruas-ruas yang dibatasi dengan bukubuku yang panjang tiap ruas 5-10 cm dengan diameter data 5-2 cm.
3. Daun
Daun cabai menurut (Dermawan, 2010) berbentuk hati, lonjong, atau agak
bulat telur dengan posisi berselang-seling. Sedangkan menurut (Hewindati, 2006),
daun cabai berbentuk memanjang oval dengan ujung meruncing atau diistilahkan
dengan oblongus acutus, tulang daun berbentuk menyirip dilengkapi urat daun.
Bagian permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan bagian

permukaan bawah berwarna hijau muda atau hijau terang. Panjang daun berkisar
9-15 cm dengan lebar 3,5-5 cm. Selain itu daun cabai merupakan Daun tunggal,
bertangkai (panjangnya 0,5-2,5 cm), letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat
telur sampai elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, petulangan
menyirip, panjang 1,5-12 cm, lebar 1-5 cm, berwarna hijau.
4. Bunga
Menurut (Hendiwati, 2006), bunga tanaman cabai berbentuk terompet
kecil, umumnya bunga cabai berwarna putih, tetapi ada juga yang berwarna ungu.
Cabai berbunga sempurna dengan benang sari yang lepas tidak berlekatan.
Disebut berbunga sempurna karena terdiri atas tangkai bunga, dasar bunga,
kelopak bunga, mahkota bunga, alat kelamin jantan dan alat kelamin betina.
Bunga cabai disebut juga berkelamin dua atau hermaphrodite karena alat kelamin
jantan dan betina dalam satu bunga. Sedangkan menurut (Anonim, 2007) bunga
cabai merupakan bunga tunggal, berbentuk bintang, berwarna putih, keluar dari
ketiak daun. (Tjahjadi, 2010) menyebutkan bahwa posisi bunga cabai
menggantung. Warna mahkota putih, memiliki kuping sebanyak 5-6 helai,
panjangnya 1-1,5 cm, lebar 0,5 cm, warna kepala putik kuning.
5. Buah dan Biji
Buah cabai menurut (Anonim, 2010), buahnya buah buni berbentuk
kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya,
menggantung, permukaan licin mengkilap, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm,
bertangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak
menjadi merah cerah. Sedangkan untuk bijinya biji yang masih muda berwarna
kuning, setelah tua menjadi cokelat, berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm.
Rasa buahnya yang pedas dapat mengeluarkan air mata orang yang menciumnya,
tetapi orang tetap membutuhkannya untuk menambah nafsu makan.

PEMBAHASAN
Secara khusus kegiatan penelitian ini dilaksanakan untuk melihat dan
memahami secara langsung teknik budi daya tanaman cabai merah di UPTD
Perbibitan Tanaman Hortikultura Pakopen. Selain itu kegiatan PKM Ini juga
dilaksanakan untuk mengetahui dengan jelas kendala yang dihadapi oleh UPTD
Perbibitan Tanaman Hortikultura sumberejo dalam budi daya tanaman cabai
merah. Tanaman cabai merah di UPTD Perbibitan Tanaman Hortikultura
sumberejo dibudidayakan dengan cara monokultur yaitu sistem tanam satu
macam. Dalam satu area tanam hanya ditanam satu macam tanaman saja yaitu
tanaman cabai. Hal ini disebabkan karena faktor lahan tanam yang tidak begitu
luas sehingga lahan yang kosong hanya tersisa sedikit. Apabila menggunakan
sistem tumpang sari dikhawatirkan pertumbuhan tanaman cabai tidak maksimal
dan hasilnya pun tidak optimal dikarenakan luas lahan yang terbatas. Teknik budi
daya tanaman cabai meliputi tahapan pengadaan benih, pengolahan

tanah,

penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, serta


pemanenan.
1. Pengadaan Benih
Pengadaan benih yang dilakukan di UPTD Perbibitan Tanaman
Hortikultura sumberejo tidak dilakukan karena pihak UPTD membeli bibit yang
siap tanam dari petani pembibitan yang ada di Bandungan. Bibit yang dibeli
merupakan bibit yang siap tanam, umur bibit cabai sekitar 21 hari.Apabila
menggunakan benih, benih yang dibutuhkan adalah 1 bungkus benih ukuran 10 gr.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah di UPTD Perbibitan Tanaman Hortikultura sumberejo
menggunakan MPHP bukan dengan cara konvensial. Lahan yang digunakan
merupakan lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam tanaman kacang
tanah. Mengolah tanah adalah untuk menciptakan sifat olah yang baik, dan sifat
ini mencerminkan keadaan fisik tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman.
Tujuan utama pengolahan tanah adalah menyediakan media tumbuh yang baik

untuk kelangsungan hidup tanaman. Disamping itu pengolahan tanah dapat


membantu memperbaiki drainase agar air mudah dialirkan, mngeluarkan racun
dalam tanah dengan cara membalik tanah sehingga terjadi penguapan dan
membunuh atau memotong siklus hidup gulma. Tahap-tahap pengolahan tanah
dilakukan sebagai berikut:
a. Tahap pertama lahan yang akan digunakan untuk budidaya cabai dibersihkan
terlebih dahulu dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman
sebelumnya. Selain itu, batu-batu sisa bangunan, kaleng, plastik, dan sampah lain
harus disingkirkan dari areal penanaman.
b. Tahap kedua tanah dibajak atau dicangkuli, kemudian digelantang selama
seminggu sebelum dilakukan tahapan selanjutnya.
c. Setelah seminggu digelantang, tahap selanjutnya adalah membuat bedenganbedengan selebar 100-110 cm, tinggi 40-50 cm dan lebar 60-70 cm dan jarak antar
bedengan 50 cm. Sebelum bedengan dibentuk, lahan yang telah diolah diberi
furadan untuk mencegah serangan hama semut merah dan ulet.
d. Setelah bedengan terbentuk, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang yang
telah matang dengan dosis 500 kg/1000 m2 dan diberi pupuk urea. Pupuk urea
adalah pupuk kimia yang mengandung Nitrogen (N) berkadar tinggi. Unsur
nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Pupuk urea
berwarna putih, dengan rumus kimia NH2CONH2, merupakan pupuk yang muda
larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis), karena itu
sebaiknya disimpan ditempat yang kering dan tertutup rapat. Pupuk urea
mengandung hara N sebesar 46% dengan pengertian setiap 100 kg urea
mengandung 46 kg nitrogen.
e. Kemudian setelah tercampur semua, bedengan yang telah terbentuk ditutup
dengan mulsa. Setelah bedengan ditutup mulsa, bedengan dibiarkan selama 2
minggu agar terjadi proses dekomposisi dan memperbaiki struktur tanah.
f. Bedengan yang telah ditutup mulsa dan dibiarkan selama 2 minggu, kemudian
dilubangi dengan jarak 50 70 cm.
3. Penanaman

Penanaman tanaman cabai di UPTD Perbibitan Tanaman Hortikultura


sumberejo dilakukan pada bulan Februari-Maret. Bibit cabai yang akan ditanam
merupakan bibit cabai yang dibeli dari petani pembibit di Bandungan yang telah
berumur sekitar 21 hari dan telah berdaun 4-6 helai. Sebelum menanam, bibit
yang masih berada di polybag disiram dengan air terlebih dahulu, penyiraman
dilakukan agar bibit mudah diambil sehingga tidak merusak sistem perakaran.
4. Pemeliharaan Tanaman Setelah dilakukan penanaman, kegiatan selanjutnya
adalah pemeliharaan. Bibit cabai yang telah ditanam dipelihara dengan baik
hingga panen.
5. Pengendalian Hama dan Penyakit Keberadaan hama dan penyakit di lahan
sama-sama merugikan karena dapat menurunkan produksi tanaman cabai. Hama
merupakan binatang yang merusak tanaman dan berukuran cukup besar sehingga
dapat dilihat oleh mata telanjang. Adapun penyakit merupakan keadaan tanaman
yang terganggu pertumbuhannya dan penyebabnya bukanlah binatang yang
tampak oleh mata telanjang. Penyebab penyakit dapat berupa bakteri, virus, jamur,
maupun gangguan fisiologis yang mungkin terjadi.
6. Panen
Pemanenan dan penanganan pascapanen merupakan tahap akhir dari
budidaya cabai. Keberhasilan panen dan penanganan pascapanen juga tidak
terlepas dari awal budidaya, seperti penanaman dan pemeliharaan hingga akhirnya
tiba saat dipanen. Pemanenan cabai perlu dilakukan dengan tepat waktu, teknik,
ketelitian, dan kesabaran. Pemanenan yang terlalu cepat akan menghasilkan
kualitas cabai yang kurang maksimal. Demikian juga jika terlambat, kualitas cabai
akan menurun disebabkan oleh busuk dan gampang rusak Setelah pemanenan
berakhir, tanaman cabai yang berada di lahan penanaman dicabut dan dibakar.
Tujuannya untuk menghindari penyebaran virus agar tidak menyebar ke tanaman
lain yang berada disekitar lahan cabai. Mulsa yang terpasang dibiarkan di lahan
tersebut, kemudian disemprot bakterisida dan fungisida. Setelah disemprot,
lahan tersebut dibiarkan selama 1 minggu.

SIMPULAN
Dari pembahasan tesebut penulis mengambil simpulan bahwa:
1. Perbibitan Tanaman Hortikultura sumberejo ini merupakan balai yang
membudidayakan berbagai jenis tanaman sayuran, tanaman hias, serta
mengusahakan bibit tanaman jeruk keprok.
2. Perbibitan Tanaman Hortikultura Pakopen tanaman cabai yang dibudidayakan
adalah cabai merah keriting.
3. Perbibitan Tanaman Hortikultura Pakopen tanaman cabai dibudidayakan secara
monokoultur.
4. Teknik budi daya tanaman cabai di UPTD Perbibitan Tanaman Hortikultura
sumberejo meliputi tahapan pengadaan bibit, pengolahan tanah, penanaman,
pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, serta pemanenan.
5. Hama yang menyerang tanaman cabai (Capsicum annum L) di UPTD
Perbibitan Tanaman Hortikultura Pakopen adalah trips, uret dan apids.
Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman cabai (Capsicum annum L) adalah
layu bakteri, bercak buah dan bercak daun.

DAFTAR RUJUKAN
Anonim. 2007. 15 Mei 2013. Cabai Merah. (online),
(http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai), Diakses pada tanggal 22 November
2014.
Anonim. 2009. Menanan Budidaya Cabai Merah. (online),
(http://rivafauziah.wordpress.com), Diakses pada tanggal 22 November
2014.
Anonim. 2009. Urin Kelinci Baik untuk Pupuk Cair. (online),
(http://www.inofarm.com), Diakses pada tanggal 22 November 2014.
Anonom. 2010. Budidaya Cabai Hibrida. (online), (http://www.tanindo.com),
Diakses pada tanggal 22 November 2014.

Anonim. 2007. Jenis Tanah. (online), (http://www.nunukankab.go.id), Diakses


pada tanggal 22 November 2014.
Cahyono, B. 2003. Teknik dan Strategi Budi Daya Sawi Hijau. Yogyakarta:
Penerbit Yayasan Pustaka Nusantara.
Djarwaningsih, T. 1984. Jenis-jenis Cabai di Indonesia, Yogyakarta: Penerbit
Yayasan Pustaka Nusantara.
Harpenas, Asep & R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Jakarta: Penerbit
Swadaya.
Hewindati, Yuni Tri dkk. 2006. Hortikultura. Jakarta: Penerbit universitas terbuka.
Rismunandar. 1983. Bertanam Sayur sayuran. Bandung: Penerbit terate.
Sunaryono, H. dan Rismunandar. 1984. Kunci Bercocok Tanam Sayur-sayuran
Penting Di Indonesia. Bandung: Penerbit CV. Sinar Baru.
Tjahjadi, Nur. 1991. Bertanam Cabai. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.