Anda di halaman 1dari 4

Lainnya

Blog Berikut

Buat Blog
Masuk

AL-HANIF
Blog yang memuat tentang artikel-artikel tentang keagamaan, yang mempunyai misi pencerahan soal agama, sosial dan
lain sebagainya.
Mengenai Saya

Kamis, 31 Oktober 2013

Arsip Blog

2013
(62)

MENGENAL SYATAHAT DI
DUNIA SUFI

hefni
zain
Ikuti

Oktober
(6)
MENGENAL SYATAHAT DI DUNIA SUFI
SEPERCIK KISAH KEWALIAN KH ABD
HAMID PASURUAN

KORUPSI BELUM MATI SATU SUDAH


TUMBUH SERIBU

50

Lihat profil lengkapku

November
(3)

Dalam kamus tasawwuf


ungkapan ganjil
dikenal dengan istilah syatahat yakni
perkataan --yang menurut umum-- ganjil
yang
keluar dari lisan seorang sufi yang tengah berada
dalam kondisi ekstase,
misalnya : ucapan Al
hallaj aku adalah Allah yang ku cintai
dan
Allah yang Kucintai adalah Aku, Juga
ucapan
Al busthomi Maha Suci Aku, Maha suci aku,
maha besar Aku, atau juga ucapan Junaid
Baghdadi Tiada sesuatupun
di bawah jubahku
melainkan Allah dan banyak lagi yang lain.
Perkataan ganjil
ganjil semacam inilah yang
kemudian membuat Al Hallaj dijatuhi hukuman

mati tahun 309 H oleh kholifah Al


Muqtadir
billah di masa bani Abbasiyah.
Hukuman mati
atas diri al Hallaj itu sendiri hingga saat ini
masih menimbulkan
pro kontra dikalangan
ulama terkemuka
dan bahkan tetap menjadi
bahan diskusi yang aktual terutama bagi mereka

pemerhati dan penikmat ilmu


tasawwuf.
Dunia sufi adalah dunia
yang unik,
misalnya dalam mengekspresikan suatu ibadah,
kaum sufi memiliki
karakteristik tersendiri,
menurut mereka seseorang yang beribadah tanpa

memperhatikan makna batiniyahnya tak

ubahnya seperti anak kecil yang membaca buku


tanpa tahu maksudnya, menurut
mereka, sholat
bukan sekedar sejumlah kalimat yang diucapkan
dan gerakan
jasmani yang didemonstrasikan,
melainkan sebuah proses dialog spiritual ,

sambung rasa, kontak emosi antara abid dengan


mabud, semua gerakan dan kata
yang diucapkan
dalam sholat adalah simbol yang maknanya
merupakan bagian dari
komonikasi bathiniyah
antara manusia dengan Tuhannya. Berangkat
dari realitas
tersebut, maka tidak mengherankan
jika dalam diri seorang sufi seringkali
dijumpai
hal hal yang ganjil atau nyeleneh menurut
ukuran di luar sufi,
misalnya : Wahdatul

PEMILU BAGI PEMALU (Upaya Menjaring


Pemimpin Ya...
KEPEMIMPINAN KYAI DAN BUDAYA
RELIGIUS DI PONDOK P...
LATAR BELAKANG MUNCULNYA
AGAMA Meluruskan beberap...

September
(3)

Agustus
(1)

Juni
(4)

Mei
(8)

April
(29)

Maret
(7)

Januari
(1)

2012
(42)

WARNA-WARNI

wujudnya Ibn Araby, Marifatnya dzun Nun Al


Misri,
Ittihadnya Abu Yazid al Bustomi dan
terutama Hululnya Abu Mughis al Husien ibn

Mansur al Baidawy al Hallaj.


Sepak terjang Al Hallaj
yang tidak sabar
menahan limpahan kebahagiaan, sehingga
rahasia cintanya ia
bocorkan sendiri dengan
konsep yang dia
sebut hulul yang didasarkan
pada pengalaman batin, kehalusan rasa,
ketercerahan
emosi dan berdasarkan ilham dari
alam ghoib telah menggegerkan konstelasi

ulama fiqh dan bahkan mendapat reaksi keras


dari mereka, dan puncaknya Ibn
Dawud al
Astihami (manzhab dhahiri) mengeluarkan fatwa
bahwa ajaran Al hallaj
adalah sesat, maka iapun
ditangkap dan dihukum mati. Kendati demikian,
figur al Hallaj
hingga kini masih tetap mendapat
simpati yang besar dari banyak penikmat

kecerdasan dan kecerahan kalbu.

Apa yang disebut Hulul


dalam konteks ini
adalah tipe lain dari faham al Ittihad yang
diajarkan Abu
Yazid Al Busthomi, sedangkan
pengertian hulul
secara sederhana adalah
bahwa Tuhan mengambil tempat dalam tubuh

manusia tertentu setelah ia dapat melenyapkan


sifat sifat kemanusiaannya
melalui fana.
Menurut al Hallaj, manusia itu mempunyai
potensi dasar ganda,
yakni sifat kemanusiaan
(Nasut) dan sifat keTuhanan (Lahut), apabila
sifat
sifat kemanusiaan itu telah dilenyapkan
melalui proses fana dan sifat sifat
keTuhanan
dikembangkan secara optimal, maka akan
tercapai persenyawaan dengan
Tuhan dalam
bentuk lahut, persenyawaan yang semacam ini
menurut al Hallaj akan
mengambil bentuk hulul
(bahasa Jawa : nitis).
Itulah yang terjadi ketika
Allah swt memerintahkan malaikat bersujud

kepada Adam sebagaimana diceritakan pada


surat al baqarah : 34, menurut al
Hallaj Allah
memberi perintah semacam itu, karena pada diri
Adam Allah swt telah menetes.
Dengan demikian dapat
difahami bahwa
kata kata ana al Haq yang di ucapkan al Hallaj
bukanlah
dimaksudkan sebagai pernyataan
bahwa dirinya adalah Tuhan, buktinya Al Hallaj

sendiri menegaskan Aku adalah rahasia yang


maha benar dan bukanlah yang maha benar itu
adalah aku. Aku hanya salah satu dari yang
benar, maka bedakanlah antara kami). Maka
hulul yang terjadi pada al Hallaj harus
difahami
sebagai figurative dan bukan riil,
artinya yang
terjadi hanya sekedar kesadaran psikis yang
berlangsung pada
kondisi fana. Banyak
ungkapan senada
dengan al Hallaj yang terlontar
dari lisan para sufi, misalnya Tuhanku, apa

jalannya untuk sampai kepadaMu?, Allah


menjawab : tinggalkan dirimu dan
datanglah.
Siapa yang menghilangkan sifat sifat
kemanusiaannya, maka ia
memiliki sifat sifat
Tuhan. Ada juga ungkapan Aku tahu pada
Tuhan melalui
diriku, hingga aku hancur,

kemudian aku tahu padanya melalui diriNya,


maka
akupun hidup.
Dalam al-Quran
ditegaskan upaya
menyucikan diri harus diiringi dengan proses
meninggalkan
rumah kita, Allah berfirman
barang siapa keluar dari rumahnya dengan
maksud
behijrah kepada Allah dan rasulNya, lalu
kematian menjemputnya, maka sungguh
telah
tetap pahalanya disisi Allah (Qs. An Nisa :
100) . Menurut ahli tafsir
kata Rumah dalam
ayat tersebut
sebagai diri, egoisme, keakuan
dan seluruh kepemilikan duniawiyah.
karenanya
Alquran menyebut orang yang
beribadat kepada Tuhan tanpa meninggalkan
dirinya
(karena terlalu cinta akan dirinya,
keluarganya dan kepemilikan duniawiyahnya)

sebagai orang yang telah mengambil Tuhan


selain Allah, Ia mencintai diri,
keluarga dan
kepemilikan duniawiyahnya melebihi cintanya
kepada Allah. Allah swt berfirman Diantara
manusia ada orang
orang yang menyembah
tandingan tandingan selain Allah, mereka
mencintainya sama
seperti mereka mencintai
Allah. Sementara orang orang beriman sangat
mencintai
Allah (Qs. Al baqoroh : 165).
Memang memahami idiom syair, harus
melalui pendekatan sastra dan bukan
dengan
bahasa formal keseharian, sebab jika itu yang
dipakai maka tidak akan
klop dengan yang
sejatinya dimaksudkan. Rabindranat pemenang
hadiah Nobel
kesusastraan, dalam syairnya
mengatakan tak henti hentinya Kau isi cawan
ini
dengan anggurMu apakah bisa diartikan

bahwa Tuhan memeras anggur atau Dia


membutuhkan minuman ? jelas tidak demikian,

yang dimaksudkan adalah Tuhan tidak henti


hentinya memberi karunia dan nikmat
kepada
dirinya. Atau ketika seseorang berkata
wajahmu bagai bulan purnana yang menari
riang. Apakah itu berarti bahwa bulan bisa
menari ?
tentu tidak. Jadi dapat dimengerti

betapa pendekatan verbal akan sangat jauh


kesalahannya jika digunakan untuk
memahami
idiom
idiom
syair
yang
nyastra.

Dengan demikian maka


statemen al
Hallaj, al Bustomi, Junaid Baghdadi, Ibn
Araby,
termasuk syekh siti jenar yang ganjil itu
sesunguhnya tidak ganjil
seandainya dilihat dari
perspektif dan bahasa mereka, atau seandainya
kita bisa
merasakan kehadiran Tuhan dalam diri
kita, sebab memang tidak ada satupun
bahasa
yang representatif mampu menggambarkan
keadaan yang sebenarnya dari
pengalaman
spiritual personal seseorang, karena itulah kaum

sufi selalu mengatakan barang siapa


yang
belum pernah merasakannya, niscaya dia belum
mengetahuinya.
Abu Nasr Tusi ketika
menanggapi
shatahat pada kaum sufi mengatakan bahwa
Ibarat air hujan yang sangat deras dan banyak

mengalir keselokan yang sempit., maka


pasti
dalam kondisi yang semacam itu air akan
melimpah ruah dari kedua tepi
selokan itu,
demikian juga seorang sufi yang sangat dominan
intuisinya, ia
sangat sulit menanggung gejolak
kalbunya
yang memaksanya mengucapkan kata
kata yang sulit dimegerti orang lain, kecuali
bagi
mereka yang pernah merasakannya. Ibarat
seorang suami yang baru bulan madu
bercerita
tentang kenikmatan malam pertama kepada
seorang bujang yang sama
sekali belum pernah
kawin, maka si
bujang baru bisa mengerti secara
haq
jika ia pernah merasakan malam pertama
dalam perkawinan.
Karena itu, cenderung tergesa jika
kaum
sufi --hanya karena perkataan perkataan
ganjilnya-- lalu diklaim sesat.
Juga tidak logis
bila dikatakan seorang sufi mengaku sebagai
Tuhan, sebab logika mengatakan apabila kaum

sufi yang sepanjang hidupnya mencari Tuhan itu,


mengaku dirinya sebagai Tuhan,
maka
hakekatnya mereka tidak perlu mencari Tuhan. #

Diposkan oleh
hefni zain
di
03.12

+1 Rekomendasikan ini di Google

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar

Posting Lebih Baru

Beranda

Posting Lama

Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

WARNA-WARNI

Template Ethereal. Gambar template oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.