Anda di halaman 1dari 11

Referat

LARINGOMALASIA

Oleh:
Asih Sunenti
09101007

Pembimbing:
dr. Harianto, Sp. THT-KL

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR BAGIAN TELINGA


HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS ABDURRAB
RSUD ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2013
1

LARINGOMALASIA

I. DEFINISI
Laringomalasia adalah perlunakan lipatan epiglotis dan ariepiglotis, seperti pada
stridor laring kongenital. Istilah laringomalasia pertama kali diperkenalkan oleh
Jackson pada tahun 1942. 1,2,3
Laringomalasia merupakan penyebab utama stridor pada bayi. Laringomalasia
biasanya bermanifestasi saat baru lahir atau dalam usia beberapa minggu kehidupan
berupa stridor inspirasi. Berdasarkan beberapa laporan, sekitar 65-75% kelainan
laring pada bayi baru lahir disebabkan oleh laringomalasia, dan masih mungkin
dianggap sebagai fase normal perkembangan laring, karena biasanya gejala akan
menghilang setelah usia 2 tahun. Laringomalasia dapat terjadi sebagai kelainan
tunggal atau dapat pula berhubungan dengan anomali saluran nafas atau organ lain.
Lesi lain ditemukan pada hampir 19% bayi dengan laringomalasia.4
II.

EMBRIOLOGI
Lapisan dalam laring berasal dari endoderm, tetapi kartilago dan otot berasal dari
mesenkim arkus faring (pharinyngeal arches) keempat dan keenam. Akibat
proliferasi cepat mesenkim ini, penampakan aditus laringis berubah dari celah sagital
menjadi lubang berbentuk T. selanjutnya, bentuk aditus laringis seperti orang dewasa
sudah dapat dikenali ketika mesenkim dari kedua arkus berubah menjadi kartilago
tiroidea, krikoidea, dan aritenoidea pada saat kartilago terbentuk, epitel laring juga
berproliferasi dengan cepat sehingga terjadi oklusi lumen untuk sementara.
Kemudian terjadi vakuolisasi dan rekanalisasi yang menghasilkan sepasang resesus
lateral, ventrikulus laringis. Cekungan ini dibatasi oleh lipatan-lipatan jaringan yang
berdiferensiasi menjadi pita suara sejati dan palsu.
Karena perototan laring berasal dari mesenkim arkus faring keempat dan
keenam, semua otot laring disarafi oleh cabang-cabang saraf cranial kesepuluh,
nervus vagus. Nervus laringeus superior menyarafi turunan arkus faring keempat,
dan nervus laringeus rekurens menyarafi turunan arkus faring keenam.5
III.ANATOMI
2

Laring adalah organ khusus yang mempunyai sphincter pelindung pada pintu
masuk jalan napas dan berfungsi dalam pembentukan suara. Diatas laring terbuka
kedalam laryngopharynx, dan di bawah laring berlanjut sebagai trachea. Kerangka
laring dibentuk oleh beberapa cartilage, yang dihubungkan oleh membran dan
ligamentum dan digerakkan oleh otot. Laring dilapisi oleh membran mukosa.6
Cartilago thyroidea terdiri atas dua lamina cartilage hyaline yang bertemu digaris
tengah pada tonjolan sudut V, yaitu jakun (adams apple). Pinggir posterior dari
setiap lamina menjorok ke atas membentuk cornu superior dan

ke bawah

membentuk cornu inferior. Pada permukaan luar setiap lamina terdapat linea oblique
sebagai tempat lekat m. sternothyroideus, m. thyrohyoideus, dan m. constrictor
pharyngis inferior.6
Cartilago cricoidea berbentuk cincin cartilago yang utuh. Bentuknya mirip cincin
cap dan terletak di bawah cartilage thyroidea. Cartilago ini mempunyai arcus anterior
yang sempit dan lamina posterior yang lebar. Pada masing-masing permukaan lateral
terdapat facies articularis sirkularis untuk bersendi dengan cornu inferior cartilage
thyroidea. Pada pinggir atas masing-masing sisi terdapat facies articularis utuk
bersendi dengan basis cartilage arytenoideae. Semua sendi ini adalah sendi
synovialis.6
Cartilago arytenoidea merupakan cartilage kecil, dua buah, dan berbentuk
pyramid. Keduanya terletak di belakang laring, pada pinggir atas lamina cartilage
cricoidea. Masing-masing cartilage mempunyai apex menyangga cartilage
corniculata. Basis bersendi dengan cartilage cricoidea. Dua tonjolan menjorok dari
basis. Prosesus vocalis menonjol horizontal ke depan dan merupakan tempat lekat
dai ligamentum vocale. Prosesus muscularis menonjol ke lateral dan menjadi tempat
m. cricoarytenoideus lateralis dan posterior.6
Cartilago corniculata adalah dua buah nodulus kecil yang bersendi dengan apex
cartilaginis arytenoidea dan merupakan tempat lekat aryepiglottica.6
Cartilago cuneiformis merupakan dua cartilago kecil bebentuk batang yang
terletak sedemikian rupa sehingga masing-masing terdapat di dalam satu plika
aryepiglottica. Cartilago ini befungsi menyokong plika tersebut.6
Epyglotis adalah sebuah cartilago elastik berbentuk daun yang terletak di
belakang radix linguae. Di depan berhubungan dengan corpus ossis hyoidei dan di
3

belakang dengan cartilago tiroidea melalui tangkainya. Sisi epiglotis berungan


dengan cartilage arytenoidea melalui plika aryepgolttica. Pinggir atas epiglottis
bebas, dan membrana mukosa yang melapisinya melipat kedepan melanjutkan diri
meliputi permukaan posterior lidah. Disini, terdapat plica glossoepiglottica mediana
dan plika glossoepiglottica lateralis. Valleculae adalah cekungan pada membrana
mucosa dikanan dan kiri plika glossoepiglottica.6
Persarafan laring
Saraf sensorik yang mempersarafi membrana mucosa laring diatas plika vokalis
berasal dari n.laryngeus internus, cabang dari n.laryngeus superior (cabang n.vagus).
Di bawah plica vocalis, membrana mucosa dipersarafi oleh nervus laryngeus
reccurens. Saraf motorik keotot-otot intrinsik laring berasal dari n.laryngeus
reccurens, kecuali m.cricothyroideus yang dipersarafi oleh ramus laryngeus externus
dari n.laryngeus superior (n. vagus).6

Gambar 1: Anatomi laring6


IV. ETIOLOGI
Dua teori besar mengenai penyebab kelainan ini adalah bahwa kartilago imatur
kekurangan struktur kaku dari kartilago matur, sedangkan yang kedua mengajukan
teori inervasi saraf imatur yang menyebabkan hipotoni. Sindrom ini banyak terjadi
pada golongan sosio ekonomi rendah, sehingga kekurangan gizi mungkin merupakan
salah satu faktor etiologinya.3,4,7
V. KLASIFIKASI
Laringomalasia umumnya dikategorikan kedalam tiga tipe besar berdasarkan
bagian anatomis supraglotis yang mengalami prolaps walaupun kombinasi apapun
dapat terjadi.
Tipe pertama melibatkan prolapsnya epiglottis diatas glottis
Tipe kedua melipatnya tipe lateral epiglottis diatas dirinya sendiri
Tipe ketiga prolapsnya mucosa aritenoid yang berlebihan kedalam jalan
nafas selama periode inspirasi3

Gambar 2: Klasifikasi laringomalasia3


VI. PATOFISIOLOGI
Secara umum terdapat dua teori patofisiologi laringomalasia yaitu teori anatomi
dan teori neuromuscular.
Teori anatomi
Menurut teori anatomi terdapat hipotesis bahwa terjadi abnormalitas
kelenturan tulang rawan dan sekitarnya yang menyebabkan kolapsnya
struktur supraglotis. Supraglotis adalah daerah yang terdiri dari epiglotis,
plika ariepiglotis dan kartilago aritenoid ditemukan mengalami prolaps

kedalam jalan nafas selama inspirasi pada penderita laryngomalasia.


Pada stadium awal ditemukan epiglotis melemah sehingga waktu
inspirasi, epiglotis tertarik kebawah dan menutup rima glotis. Dengan
demikian ketika bernafas, maka nafasnya akan berbunyi (stridor). Stidor
ini merupakan gejala awal yang dapat menetap ataupun mungkin hilang.
Ini Karena lemahnya rangka laring.

Teori neuromuscular

Pada teori muscular dipercaya penyebab primer kelainan ini adalah


terlambatnya perkembangan kontrol neuromuscular pada struktur

supraglotis.
Penyakit refluks gastroesofagel (PRGE) juga dicurigai sebagai penyebab
laryngomalacia. Pada kepustakaan disebutkan PGRE ditemukan pada 3568% bayi dengan laryngomalacia dan dianggap berperan menyebabkan
edema di supraglotis sehingga terjadi peningkatan hambatan saluran nafas

yang cukup mampu menimbulkan obtruksi nafas. Namun dapat pula


terjadi sebaliknya dimana laryngomalacia menyebabkan PGRE akibat
perubahan gradien tekanan intra abdominal / intratorakal.4,8
VII.

MANIFESTASI KLINIS
Laringomalasia merupakan suatu proses jinak yang dapat sembuh spontan pada
70% bayi saat usia 1-2 tahun. Gejala stridor inspirasi kebanyakan timbul segera
setelah lahir atau dalam usia beberapa minggu atau bulan ke depan. 4 Stridor dapat
disertai dengan retraksi sternum, interkostal, dan epigastrium akibat usaha
pernafasan. Pada beberapa bayi tidak menimbulkan gejala sampai anak mulai aktif
(sekitar 3 bulan) atau dipicu oleh infeksi saluran nafas. Stridor yang terjadi bersifat
bervibrasi dan bernada tinggi. Stridor akan bertambah berat sampai usia 8 bulan,
menetap sampai usia 9 bulan dan bersifat intermitten dan hanya timbul bila usaha
bernafas bertambah seperti saat anak aktif, menangis, makan, kepala fleksi atau
posisi supinasi. Setelah itu keadaan makin membaik.7,8

VIII. DIAGNOSIS
Diagnosis laringomalasia ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
laringoskopi fleksibel dan radiologi. Pemeriksaan utama untuk diagnosis
laringomalasia adalah dengan menggunakan laringoskopi fleksibel. 4 Hawkins dan
Clark menyatakan bahwa laringoskopi fleksibel efektif untuk diagnosis bahkan pada
neonatus. Pemeriksaan ini dilakukan dengan posisi tegak melalui salah satu lubang
hidung. Melalui pemeriksaan ini dinilai pasase hidung, nasofaring dan supraglotis.
Dengan cara ini bentuk kelainan yang menjadi penyebab dapat terlihat dari atas.
Laringoskopi fleksibel dapat membantu menyingkirkan diagnosis anomali laring
lainnya seperti kista laring, paralisis pita suara, malformasi pembuluh darah,
neoplasma, hemangioma subglotis, gerakan pita suara paradoks, stenosis glotis dan
7

web glotis. Pemeriksaan laringoskopi fleksibel memiliki beberapa kerugian, yaitu


risiko terlewatkannya diagnosis laringomalasia ringan bila pasien menangis dan
kurang akurat dalam menilai keadaan subglotis dan trakea. 8
IX.

DIAGNOSIS BANDING
Laringomalasia didiagnosis banding dengan penyebab stridor inspiratoar lain
pada anak-anak. Antara lain yaitu, hemangioma supraglotik, massa atau adanya
jaringan intraluminal seperti laryngeal web dan kista laring, kelainan akibat trauma
seperti edema dan stenosis supraglotik, maupun kelainan pada pita suara.4,9,10

X.

PENATALAKSANAAN
Kira-kira hampir 90% kasus laringomalasia bersifat ringan dan tidak memerlukan
intervensi bedah. Pada keadaan ini, hal yang dapat dapat dilakukan adalah memberi
keterangan dan keyakinan pada orang tua pasien tentang prognosis dan tidak lanjut
yang teratur hingga akhirnya stridor menghilang dan pertumbuhan yang normal
dicapai. Pada keadaan ringan, bayi diposisikan tidur telungkup, tetapi hindari tempat
tidur yang terlalu lunak, bantal dan selimut. 4 Jika secara klinis terjadi hipoksemia
(saturasi oksigen <90%), harus diberikan oksigenasi.
Pada laringomalasia yang berat, akan tampak gejala obstruksi nafas yang disertai
retraksi-retraksi sterna dan interkosta, baik saat tidur atau terbangun, sulit makan,
refluks berat dan gagal tumbuh.3 Anak-anak yang mengalami hal ini berisiko
mengalami serangan apnea. Keadaan hipoksia akibat obstruksi nafas dapat
menyebabkan hipertensi pulmonal dan terjadi korpulmonal. Menurut Jackson 1942,
pada keadaan yang berat ini maka intervensi bedah tidak dapat dihindari dan
penatalaksanaan baku adalah membuat jalan pintas berupa trakeostomi sampai
masalah teratasi. Jenis operasi yang dilakukan pada laringomalasia adalah
supraglotoplasti yang memiliki sinonim epiglotoplasti dan ariepiglotoplasti.
Berdasarkan klasifikasi Olney terdapat tiga teknik supraglotoplasti yang dapat
dilakukan. Teknik yang dipilih tergantung pada kelainan laringomalasianya. Pada
tipe 1, dimana terjadi prolaps mukosa aritenoid pada kartilago aritenoid yang

tumpang tindih, dilakukan eksisi jaringan mukosa yang berlebihan pada bagian
posterolateral dengan menggunakan pisau bedah atau dengan laser CO2.
Laringomalasia tipe 2 dikoreksi dengan cara memotong plika ariepiglotika yang
pendek yang menyebabkan mendekatnya struktur anterior dan posterior supraglotis.
Laringomalasia tipe 3 ditangani dengan cara eksisi melewati ligamen glosoepiglotika
untuk menarik epiglotis ke depan dan menjahitkan sebagian dari epiglotis ke dasar
lidah.4,11,12

Gambar 3: Supraglottoplasti1
Indikasi Intervensi bedah pada laringomalasia yaitu sebagai berikut:

Gangguan inspirasi
Kesulitan menelan, reflux/aspirasi
Berat badan berkurang/gagal tumbuh kembang
Henti nafas pada saat tidur karena obstruksi3

XI. PROGNOSIS
Prognosis laringomalasia umumnya baik. Biasanya bersifat jinak, dan dapat
sembuh sendiri, dan tidak berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Pada sebagian
besar pasien, gejala menghilang pada usia dua tahun, sebagian lain pada usia satu
tahun. Pada beberapa kasus, walaupun tanda dan gejala menghilang, kelainan tetap
ada. Pada keadaan seperti ini, biasanya stridor akan muncul saat beraktifitas.4

DAFTAR PUSTAKA

1. Krashin E, Springer C, Avital A. Synchronous airway lesions in


laryngomalacia. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2008; 72: 501-7.
2. Stern RC. Congenital anomalies. Nelson textbook of pediatric 16th ed,
Philadelphia: WB Saunders. 2000; p. 1271-2.
3. Simon LM. Current thinking in laryngomalacia. Departement of pediatric
grand rounds. 2011.
4. Bye MR. Laryngomalacia.[update 2010 Feb 24; cited 2011 Feb 2] Available
from: http://www.emedicine.medscape.com/article/100252.
5. Sadler TW. Langman Embriologi Kedokteran. Edisi 10. EGC. 2006; Hal 230232.

10

6. Richard S.Snell, MD, PDH. Anatomi klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran.


Dr. Liliana Sugiarto, M.S.PAK, (alih bahasa). Edisi 6. EGC. 2006; Hal 805812.
7. Hermani B, Abdurrachman H, Cahyono A. Kelainan laring. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 6. FKUI. 2007;
hal 237.
8. Cotton RT, Prescott CA. Congenital anomalies of the larynx. Philadelphia:
Lippincott. 1999; p. 497-501.
9. Lusk R. Congenital anomalies of the larynx. In Otorhinolaryngology head
and neck surgery. Ontario: BC Decker Inc. 2003; p. 1049-51.
10. Lovinsky S. Laryngomalacia. [update May 2012 May 24] Available from:
http//www.e.medicine.medscape.com/article/1002527.
11. Olney DR, Greinwald JH, Smith RJ. Laryngomalacia and its treatment
Laryngoscope. 1999; 109: 1770-5.
12. Rawring BA, Derkay CS, Chu MW. Surgical treatment of laryngomalacia.

Operative Tech in Otolaryngol. 2009; 20: 222-8.

11