Anda di halaman 1dari 18

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR

TUGAS 9
Rumah Adat Sunda
(Jawa Barat)

NAMA KELOMPOK :
1.
2.
3.
4.
5.

Fairus Sani
Lathifa Silvia Sudiana
Tita Widiyastuti
Asri Wulandari
Avintya Padma C.T

(04.2013.1.02712)
(04.2013.1.02664)
(04.2013.1.02700)
(04.2013.1.02655)
(04.2013.1.02659)

RUMAH ADAT SUNDA

Suku Sunda merupakan salah satu suku yang menempati wilayah propinsi jawa barat.
Daerah yang didiami oleh suku Sunda disebut tatar sunda atau tanah pasundan. Suku Sunda
merupakan salah satu suku yang sebagian besar penduduknya mendiami daerah Jawa Barat,
dan bertetangga dengan beberapa suku lainnya sepeti Banten, Cirebon, serta suku Badui.
Keberadaan suku Sunda di daerah Jawa Barat hingga saat ini masih menjadi sebuah misteri
bagi para peneliti. Hal ini disebabkan karena tidak adanya cerita cerita yang dapat dijadikan
sumber untuk mengungkap asal usul suku ini.
Berpindah dari asal usul mengenai suku Sunda, maka dalam makalah ini akan diulas
tentang arsitektur rumah tradisional dari suku Sunda yang tidak pernah mengalami perubahan
dari sisi strukturnya, walaupun di sekitar daerah yang didami oleh masyarakat suku Sunda
kini telah berdiri bangunan bagunan megah yang memperlihatkan keindahan sebagai salah
satu hasil dari arsitektur modern.

PRINSIP UMUM

Secara umum rumah tradisional Sunda merupakan sebuah rumah panggung sama
seperti rumah rumah tradisional lainnya yang ada di Indonesia. Bentuk rumah panggung ini
bertujuan untuk menghindari masalah masalah dari lingkungan yang bisa mengancam
penghuninya.
Dilihat berdasarkan bentuk atapnya, maka rumah tradisional atau adat Sunda terbagi
atas beberapa ciri yang berbeda satu dengan yang lainnya:

1. Jolopong
Sebutan untuk rumah
dengan atap pelana yang betuknya
memanjang.

2. Perahu Kumureb
Sebutan untuk rumah dengan bentuk atap perisai.
Oleh masyarakat sunda, disebud perahu kumureb
karena bentuk atap seperti perahu terbalik.

3. Julang Ngapak
Dikarenakan bentuk atapnya seperti
sayap burung yang sedang terbang.

4. Badak Heuay
Dikarenakan bentuk atapnya
seperti seekor
badak yang sedang membuka
mulutnya.

5. Tagog Anjing
Dikarenakan bentuk atapnya seperi seekor anjing yang
sedang duduk.

6. Capit Gunting
Dikarenakan bagian atas
atapnya yang saling menyilang
berbentuk gunting.

Secara tradisional rumah orang Sunda berbentuk panggung dengan ketinggian 0,5 m 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya,
tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter. Kolong ini sendiri umumnya digunakan untuk
tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda, atau untuk menyimpan alatalat pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan sebagainya. Untuk naik ke rumah disediakan
tangga yang disebut Golodog yang terbuat dari kayu atau bambu, yang biasanya terdiri tidak
lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi juga untuk membersihkan kaki sebelum naik
ke dalam rumah. Rumah adat Sunda sebenarnya memiliki nama yang berbeda-beda

bergantung pada bentuk atap dan pintu rumahnya. Seperti halnya rumah-rumah adat yang lain
pada umumnya.
umumnya dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, ijuk, daun
kelapa, sirap, batu, dan tanah. Selain itu, bangunannya tidak berdiri langsung di atas tanah,
melainkan berbentuk rumah panggung. Tujuannya adalah melancarkan sirkulasi udara
sekaligus menghindari serangan dari binatang buas.
Tinggi panggung rumah-rumah khas Parahyangan ini biasanya sekitar 40 hingga 60
cm di atas permukaan tanah, cenderung dilengkapi geladak berupa tangga serta teras depan.
Uniknya, bentuk atap pada Rumah Adat Jawa Barat memiliki perbedaan pada tiap-tiap
wilayah Tanah Sunda.
Bentuk atap atau kalau orang sunda menyebutnya (suhunan), Beberapa Rumah Adat
Sunda dibuat untuk menyesuaikan dengan keadaan alam serta kebutuhan masyarakatnya.
Beberapa model rumah khas Parahyangan dilihat dari atapnya adalah suhunan jolopong atau
regol, suhunan tago, suhunan badak heuay, suhunan perahu nangkub, suhunan capit gunting,
suhunan julang ngapak, suhunan buka palayu, dan buka pongpok.

TATA RUANG

Rumah adat sunda juga berpola tiga, yang diwujudkan dalam bentuk atapnya, yaitu
rarangki tukang (atap belakang yang agak panjang), rarangki pondok (atap tengah yang lebih
pendek) dan rarangki panjang (atap depan yang terpanjang).
Di bawah atap-atap itu terdapat
pembagian ruang-ruang. Di bawah
rarangki
tukang
terdapat
ruang
perempuan (parak) yang identik dengan
dunia atas perempuan. Di sinilah terdapat
goah (tempat beras) yang sakral. Di
bawah rarangki pondok (dunia tengah)
terdapat ruang imah dan musung (ruang
dan kamar keluarga), dan di bawah
rarangki panjang terdapat ruang tepas
dan sasaro, ruang luar tempat
menerima orang-orang luar. Ruang
belakang bersifat perempuan, ruang
depan bersifat lelaki dan ruang tengah bersifat campuran.
Antara ruang tengah dan ruang belakang
(dalam) itulah terdapat tiang-tiang yang
menjulang dari tanah ke atas bubungan atap,
yang berarti axis mundi atau pohon hayat atau
pilar kosmik yang menghubungkan tiga dunia
kosmik, dunia atas, dunia tengah, dunia bawah.
Tiang-tiang axis mundi itu juga bersifat lelaki
dan perempuan.
Rumah adat Sunda juga dibagi dalam
kategori depan dan belakang yang berarti
lelaki dan perempuan. Di samping itu ada
pembagian kiri dan kanan, kiri berarti lelaki
dan kanan berarti perempuan. Dalam
masyarakat Sunda lama, perempuan menduduki
derajat tinggi. Bagian rumah paling depan dan
paling kiri adalah bagian yang paling lelaki, jadi
harus bersifat kering.

( Sumber : Sumardjo, Jacob, 2011. Sunda Pola Rasionalitas Budaya. Bandung.Kelir).


Pembagian ini
penggunaannya, yaitu :

didasarkan

kepada

tiga

daerah

yang

terpisah

terbedakan

1. Daerah wanita
2. Daerah laki-laki
3. Daerah netral (dipergunakan bagi wanita dan laki-laki)
Contohnya ruangan dapur hanya dipergunakan untuk keperluan memasak makanan
untuk keperluan seluruh keluarga, ruangan ini dipergunakan khusus untuk wanita, terdiri atas
istri atau anak perempuannya.
Rumah yang paling gampang ditemui adalah Rumah Adat Sunda berbentuk Suhunan
Jolopong karena bentuknya yang paling sederhana, Rumah adat bentuk atau jenis Suhunan
Jolopong banyak dijumpai di daerah-daerah cagar budaya atau di desa-desa jawa barat.
Ruangan rumah adat suku Sunda terbagi menjadi tiga bagian. bagian depan, tengah
dan belakang.
Rangkay Imah sebutan kerangka dari unsur pokok elemen rumah, elemen itu terdiri
dari bagian atas yaitu atap disebut dengan istilah hateup, dan susuhunan atau bubungan.
Hateup pada rumah tradisional sunda terbuat dari bahan ijuk atau daun kawung (enau).
Seluruh bagian dari rumah berdinding batang bambu yang dibelah. Dinding untuk
sekat pada bilik-bilik di dalam rumah terbuat dari anyaman bambu yang disebut dengan
giribig dan lantai terbuat dari papan kayu. Bangunan rumah adat Sunda menggunakan sistem
paseuk / pasak (terbuat dari bambu) atau dengan tali terbuat dari ijuk ataupun sabut kelapa
yang di pilin.
Ruangan bagian depan disebut dengan tepas, mpr, sosoro atau beranda. Berfungsi
untuk menerima tamu dan untuk bersantai di lua. Bagi masyarakat Sunda yang memiliki
tanah cukup luas, biasanya mereka membangun sebuah bangunan berupa kamar khusus untuk
tamu yang sejajar dengan beranda.
Ruang dibagian tengah rumah disebut Tengah Imah. Pada bagian ini, terdapat
pangkng sebutan kamar tidur dan jumlah kamar tidur dibuat sesuai jumlah anggota keluarga
dan ukuran tiap kamar disesuaikan dengan luas rumah. Ruang tidur orang tua, anak laki-laki
dan perempuan terpisah. Terdapat pula ruang keluarga tempat berkumpulnya keluarga.
Bagian belakang rumah disebut juga Tukang Imah. Terdapat dapur dan ruang goah.
Dapur berfungsi sebagai ruangan untuk memasak. Ruang Goah adalah ruangan dekat dengan
dapur yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan, bumbu-bumbu masak, perabotperabot dapur dan padaringan. Padaringan adalah gentong terbuat dari tanah liat yang
berfungsi sebagai tempat penyimpanan beras. Hanya kaum perempuan yang boleh memasuki
dapur dan ruang goa.

Bagian belakang luar rumah dibangun sumur sebagai sumber air. Tersedia pula tempat
jemuran dan pancuran air.
Tradisi Sunda memandang tabu kaum laki-laki bila masuk ke dapur, dan itu dianggap
tidak baik. Ruangan belakang ini suka dijadikan tempat menerima tamu perempuan.
Sedangkan bagian beranda rumah, dikhususkan untuk menerima tamu laki-laki.
Leuit adalah bangunan tempat menyimpan hasil bumi. Biasanya digunakan sebagai
lumbung padi. Dibangun terpisah dari rumah.
Saung Lisung adalah bangunan untuk masyarakat umum dan disediakan oleh
masyarakat sekitar. Berfungsi sebagai tempat warga menumbuk padi ramai-ramai secara
gotong royang dan penuh kebersamaan. Kegiatan menumbuk padi ini, di sebagian
masyarakat Sunda disertai dengan nyanyian dan iringan ketukan lisung dan halu saling
bersahutan.

TEKNIK KONSTRUKSI

Dalam masyarakat Sunda buhun (kuno) dikenal beberapa jenis bangunan rumah, Pada
umumnya bangunan rumah adat sunda bentuknya panggung, yang kaki-kakinya (tatapakan,
istilah sunda) terbuat dari batu persegi (balok) dalam bahasa Sunda disebut batu tatapakan.
Untuk tihang (tiang) mengunakan kayu. Bagian bawah/lantai menggunakan papan kayu atau
palupuh/talupuh dari bambu. Dindingnya memakai anyaman bambu (bilik) atau papan kayu.
Perbedaannya terlihat pada bagian atas/atap (suhunan), antara lain:
1. sketsa suhunan julang ngapak
Julang ngapak, yaitu bentuk bangunan
rumah yang suhunan bagian sisi kiri kanan
agak melebar ke samping. Ada juga yang
menyebutnya memakai sorondoy. Apabila di
lihat dari arah depan seperti burung yang
sedang terbang.

2. sketsa suhunan parahu kumereb

Parahu kumureb, yaitu bentuk bangunan


rumah
yang
atapnya
(suhunan)
membentuk perahu terbalik (telungkup).

3. sketsa suhunan jolopong

Suhunan jolopong, yaitu bentuk bangunan yang


atapnya (suhunan) memanjang sering disebut
suhunan panjang atau gagajahan.

4. sketsa suhunan tagog anjing


Tagog anjing, yaitu bentuk bangunan mirip
dengan bentuk badak heuay, tetapi ada
sambungan kebagian depan dan sedikit turun.
Jadi bangunannya tekuk (ngeluk) seperti
anjng jongkok.

5. sketsa suhunan badak heuay

Badak heuay, yaitu bentuk bangunan


seperti saung tidak memakai wuwung
sambungan atap (hateup) depan dengan
belakang seperti badak sedang membuka
mulutnya (menguap, arti sunda heuay).

6. sketsa suhunan capit gunting

Capit gunting, yaitu bentuk


bangunan rumah yang atap
(suhunan)
bagian
ujung
belakang atas dan depan atas
menggunakan
kayu
atau
bambu
yang
bentuknya
menyilang dibagian atasnya
seperti gunting.

MATERIAL

PONDASI
Bentuk pondasi rumah tradisional Sunda
mirip dengan pondasi umpak yang dipakai untuk
rumah rumah tradisional jaman sekarang.
Perbedaan yang dapat dilihat dari pondasi rumah
tradisional Sunda dengan pondasi umpak yang
sering dipakai sekarang adalah bentuk pondas yang
unik yaitu kolom bangunan hanya diletakan di atas
sebuah batu datar yang sudah terbentuk di alam.
Tujuan pembuatan pondasi seperti ini adalah untuk
menghindari keretakan atau pada kolom bangunan Pondasi Tradisional
pada saat terjadi gempa, sedangkan bentuk lantai
panggung bertujuan untu memungkinkan sirkulasi udara dari bawah lantai dapat berjalan
baik, sehingga kemungkinan terjadi kelembaban pada lantai bangunan dapat dihindari.

LANTAI
Lantai rumah tradisional Sunda terbuat dari pelupuh (bamboo yang sudah dibelah).
Alasan pembuatan lantai dari pelupuh adalah seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu agar
udara yang melewati kolong rumah dapat masuk ke ruang ruang, selain itu dengan
mengunakan lantai bambu, tingkat kelembaban di dalam rumah jugah akan berkurang,
mengingat ketinggian lantai rumah tradisional Sunda tidak seperti rumah tradisional lain pada
umumnya yaitu berkisar antara 50 60 meter dari permukaan tanah.

Detail Hubungan Struktur Lantai

Detail Balok Penahan Lantai

Tinggi Lantai dari Muka Tanah

Struktur Lantai dan Detail

DINDING, PINTU dan JENDELA


Dinding, pintu, dan jendela memungkinkan udara dapat melewatinya. Dinding
bangunan terbuat dari anyaman bambu yang dapat dilewati udara, jendela yang selalu terbuka
dan hanya ditutupi kisi-kisi bambu maka udara dapat bebas masuk dalam ruangan, sehingga
suhu didalam ruangan tidak panas.
Dinding yang ringan terbuat dari anyaman bambu yang dapat menyerap dan
mencegah terjadinya panas akibat radiasi matahari sore hari. Selain itu material dinding yang
terbuat dari anyaman bambu memungkinkan udara untuk masuk ke dalam rumah

Material Dinding

Konstruksi Dinding dan Detail

Selain itu ada juga pintu dan jendela yang


mempunyai daun pintu dan daun jendela tunggal.
Materialnya terbuat dari kisi kisi bambu yang dapat
ditembus oleh udara, hal ini membuat suasana di dalam
rumah tetap nyaman.

PLAFON
Plafon selain sebagai penghias langit langit rumah
juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang.
Kerangka plafon terbuat dari susunan bambu bulat, dan di
atasnya diletakan pelupuh sebagai bahan penutup plafon.

Jenis Pintu dan Jendela

Bentuk dan Material Plafon

ATAP
Atap sebagai mahkota dari sebuah bangunan mempunyai fungsi untuk melindungi
penghuni yang berada di dalamnya. Atap dari rumah Sunda terbuat dari ijuk, alasan
pemilihan ijuk sebagai material atap karena ijuk merupakan material yang dapat menyerap
panas dengan baik sehingga tidak menimbulkan suasana gerah di dalam rumah. Tritisan pada
sisi depan rumah mempunyai panjang 2 meter. Hal ini membuat dinding bangunan tidak
langsung terkena cahaya matahari sehingga dinding sebagai penyekat tidak panas dan ruang
di dalamnya tetap dingin. Selain itu ada juga sisi yang disebut sebagai bidang atap terbuat
dari anyaman bambu dan berfungsi sebagai ventilasi atap

Bidang Atap
LETAK dan ORIENTASI
Bahan Penutup Atap
Tritisan

Struktur Atap dan Detail

Rumah tradisional sunda mempunyai tata letak yang sangat rapi hal ini merupakan
pengaruh dari kepercayaan masyarakat bahhwa rumah tidak boleh menghadap ke bumi
(rumah) adat, dengan demikian orientasi dari rumah tradisional sunda selau mengarah ke
timur dan barat
Bagi Masyarakat Sunda, kesatuan kecil permukimannya terdiri dari satu atau
beberapa rumah yang tidak berjauhan jaraknya. Dalam Masyarakat Sunda, terbentuknya
kampung melalui empat proses. Pertama, diawali dengan terbentuknya umbulan, yaitu
permukiman yang terdiri atas 1-3 rumah. Kedua, dari umbulan berkembang menjadi babakan,
yaitu kesatuan permukiman yang terdiri dari 4-10 rumah. Ketiga, berkembang lagi menjadi
lembur, yaitu kesatuan permukiman yang memiliki antara 10-20 rumah. Keempat,
terbentuklah kampung, yaitu kesatuan permukiman yang memiliki lebih dari 20 rumah
beserta lingkungannya.
Jenis dan pola kampung di Tatar Sunda, sebagaimana di wilayah Indonesia lainnya
beraneka ragam. Faktor budaya serta lingkungan sekitar turut mempengaruhi keaneka
ragaman jenis dan pola kampungnya. Hal tersebut berkaitan erat dengan penjelasan Ekadjati
(1995:125-126), bahwa jenis dan pola Kampung Sunda dipengaruhi oleh beberapa faktor, di
antaranya, sejarah terbentuk dan perkembangan kampung yang bersangkutan, letak geografis

serta mata pencaharian utama penduduknya. Selanjutnya, Ekadjati (1995:126) membagi jenis
Kampung Sunda berdasarkan letak geografisnya ke dalam tiga bagian, yaitu:
1. Kampung pegunungan, yaitu kampung yang terletak di daerah pegunungan dan
dataran tinggi, seperti: Kampung Cibodas (Kec. Lembang Kab. Bandung) yang
terletak di lereng Gunung Bukit Tunggul, Kampung Citorek (Kec. Bayah Kab. LebakBanten) di daerah pegunungan Kendeng dan Kampung Puncak (Kecamatan dan Kab.
Kuningan) di lereng Timur Gunung Ciremai
2. Kampung dataran rendah, yaitu kampung yang terletak di daerah dataran rendah,
seperti: Kampung Lohbener (Kec. Lohbener Kab. Indramayu), Kampung Cibuaya
(Kab. Karawang) dan Kampung Kasemen (Kab. Serang)

3. Kampung pantai, yaitu kampung yang terletak di tepi pantai, di sepanjang pesisir yang
mengelilingi wilayah Jawa Barat bagian Utara (Laut Jawa), Barat (Selat Sunda) dan
Selatan (Lautan Indonesia), seperti: Kampung Banten (Kec. Kasemen Kab. Serang)
dan Kampung Sukalila (Kotamadia Cirebon).

POLA KAMPUNG TRADISIONAL

Kondisi alam didominasi oleh pegunungan dan perbukitan. Kondisi tersebut juga
ditunjang dengan adanya kontur tanah yang tidak rata, sehingga secara tidak langsung ikut
mempengaruhi pola perletakan massa bangunan pada tata ruang kampungnya. Warga
menyebut tata ruang dengan istilah paranti tempat atau umpluk wangunan dengan pengertian
yang sama. Tata ruang dibuat untuk mengatur atau mengelompokkan massa bangunan
(fungsi), misalnya rumah dan kandang, massa bangunan adat dan non adat, pribadi dan
komunal, sehingga tidak campur aduk.
Tata ruang yang tertib secara tidak langsung mencerminkan penghuninya yang
terbiasa hidup tertib. Dalam pengaturannya, tata ruang atau zoning bersih menempati bagian
depan dari pola kampung, sedangkan zoning kotor berada pada bagian belakangnya. Tata
ruang yang berada pada bagian depan (lapis kesatu) berfungsi untuk melayani kebutuhan
primer bagi penghuni dan tamu, sedangkan yang menempati bagian belakang (lapis kedua)

untuk melayani kebutuhan sekunder. Pada tata ruang masyarakat Sunda, rumah tinggal
sesepuh girang sama-sama berada pada daerah yang lebih tinggi, sedangkan rumah tinggal
warganya menempati daerah yang lebih rendah. Bumi ageung menghadap ke selatan,
sedangkan rumah serta massa bangunan yang berada di sekitarnya berorientasi ke bumi
ageung sebagai pusatnya. Selatan dan bumi ageung memiliki makna simbolik sesuai dengan
kepercayaan warga, demikian juga arah timur dan barat. Perletakan massa bangunan pada tata
ruang bumi ageung dan bumi warga, sama-sama berorientasi kepada bumi ageung yang
berada pada sumbu utara-selatan. Berdasarkan perletakan tersebut, maka kampung memiliki
pola yang memusat.
Orientasi ke selatan berhubungan erat dengan pandangan kosmik masyarakat Sunda
serta sejarah kerajaan Sunda terbesar, yaitu Padjadjaran. Munurut Lubis, (2003:83), dalam
lingkungan keraton Pakuan Padjadjaran terdapat dua bangunan yang memiliki arti penting,
yaitu Suradipati dan Bima. Suradipati berasal dari kata sura dan adipati, artinya tempat
tinggal raja. Bangunan tersebut terletak paling selatan. Dalam prasasti Kawali disebutkan
Surawisesa, artinya tempat kekuasaan tertinggi atau tempat persemayaman raja. Hal tersebut
sesuai dengan konsep agama Hindu-Budha, bahwa keraton utama (tempat tinggal raja)
terletak paling dekat dengan rangkaian pegunungan di selatan Pakuan Padjadjaran
(Pangrango, Salak dan Gede). Dalam naskah keagamaan Sunda, gunung-gunung tersebut
dianggap sebagai tempat bersemayamnya hiyang. Bima merupakan bangunan keraton yang
terletak paling utara, dekat dengan alun-alun dan pintu gerbang. Berdasarkan pendapat Lubis,
maka bagian depan bumi ageung yang menghadap ke selatan diduga karena selatan
merupakan tempat tinggal Raja Padjadjaran (keraton Suradipati).

KEARIFAN LOKAL ARSITEKTUR

Nilai filosofis yang terkandung didalam arsitektur rumah tradisional Sunda secara
umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam
sekelilingnya. Ditilik dari material rumah adat Sunda itu sendiri terkesan tipis dan ringkih
tentu hal ini tidak mungkin dipakai untuk tempat perlindungan layaknya sebuah benteng
perlindungan dari peperangan antar kampung, jadi masyarakat suku Sunda sangat
menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan antar umat manusia. Rumah bagi orang Sunda
semata sebagai tempat perlindungan dari hujan, angin, terik matahari dan binatang.
Masyarakat adat Sunda mempunyai pola kampong dan pola rumah yang khas dan
diatur oleh adat. Bangunan rumahnya merupakan rumah panggung yang memiliki kolong.
Dalam menentukan tempat tinggalnya warga membangunnya sesuai wangsit dari leluhurnya.
Aturan tidak hanya mengikat pada bentuk dan organisasi ruang, komponen dan bahan
bangunan, tetapi juga proses mendirikannya yang disebut ngadegkeun imah serta pelaksanaan
upacara adat baik sebelum, selama maupun sesudahnya. Terdapat dua jenis aturan, yaitu: nu
kadeuleu (fisik) dan nu teu kadeuleu (non fisik). Aturan tersebut bertujuan untuk mengatur
proses mendirikan rumah dari awal hingga akhir agar berjalan tertib dan lancar. Aturan
membangun berisi anjuran dan larangan adat, apabila dilanggar akan mendapat murka dari
leluhur. mulai dari: ancer-ancer, badami, nyekar, nyuhunkeun tumbal ngala bahan, natahan,
ngalelemah, ngaranjingkeun umpak, ngarancak, sakatimang hingga ngadegkeun imah.
Upacara ritual yang mengiringinya terdiri dari: upacara nyekar, ngalelemah dan
natahan (sebelum membangun), ngadegkeun suhunan dan parawanten (selama membangun),
salametan dan ngaruwat imah (sesudah selesai membangun). Upacara-upacara tersebut
bertujuan untuk meminta perlindungan kepada Tuhan dan restu dari leluhur agar pekerja dan
calon penghuni diberikan keselamatan serta rumah yang akan diisi mendapat berkah.
Setelah selesai mendirikan rumah, warga dilarang melakukan perjalanan jauh ke kota
atau keluar dari wilayah kampungnya dengan tujuan apapun, karena pamali (dilarang adat).

Larangan tersebut terhitung sejak rumah diisi selama empat puluh hari, apabila dilanggar
akan mendapat kesulitan dalam mencari rejeki, kecelakaan, merugi dan lain sebagainya.
Bentuk dan organisasi ruang menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam
membuat rumah, karena dari sinilah akan diketahui karakter bangunan yang akan di huni oleh
warga. Dalam masyarakat Sunda, bentuk menjadi salah satu inspirasi untuk memberikan
nama suatu benda, misalnya : bumi ageung artinya rumah besar, karena bentuk atau
ukurannya besar atau leuit pangheucakan artinya lumbung padi kecil, karena bentuk dan
ukurannya kecil. Bentuk juga merupakan hal yang paling mudah dikenal oleh warga, karena
sifatnya kasat mata (visual). Bentuk rumah kedua warga kampung adalah panggung, sesuai
aturan leluhurnya. Menurut Adimihardja (1987:89-90), panggung merupakan bentuk
bangunan yang paling penting bagi masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan
tambahan teritis pada bagian depan dan belakang serta suhunan jure, bentuk atap perisai yang
memanjang. Bentuk rumah masyarakat Sunda pada umumnya adalah panggung, yaitu rumah
berkolong dengan menggunakan pondasi umpak (Garna, 1984:200). Berdasarkan pendapat
Adimihardja dan Garna tersebut, maka bentuk panggung dapat dikatakan sebagai ciri khas
rumah adat tradisional Sunda. Pada rumah masyarakat Sunda non adat dikenal bentuk lain,
yaitu ngupuk atau gedong, artinya rumah yang lantainya menempel pada tanah dan
dindingnya terbuat dari bata atau batako.
Rumah panggung terdiri dari tiga bagian: suku atau calana merupakan bagian paling
bawah menyimbolkan kematian (dunia bawah), awak atau pakaya adalah bagian tengahtengah sebagai simbol kehidupan (dunia tengah), sedangkan hulu atau mahkuta
melambangkan hubungan manusa ka Gustina, artinya hubungan vertikal manusia kepada
Tuhan (dunia atas). Menurut Adimihardja (1987:89-90), dunia tengah merupakan pusat alam
semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusatnya, karena itulah tempat tinggal
manusia harus terletak di tengah- tengah, tidak ke dunia bawah (bumi) dan dunia atas (langit).
Dengan demikian, rumah harus memakai tiang yang di beri alas di bawahnya berupa batu
umpak, sehingga lantai rumah tidak menempel langsung pada tanah.
Organisasi ruangnya terdiri dari tiga bagian : tepas atau hareup imah, tengah imah dan
pawon atau tukang imah dengan definisi dan makna simbolik yang sama. Tepas imah atau
bagian depan berfungsi bagi aktivitas laki-laki (keur lalaki), tengah imah atau bagian tengah
merupakan daerah umum bagi laki-laki dan perempuan (keur umpi), sedangkan pawon atau
bagian belakang berfungsi bagi kegiatan perempuan (keur istri). Pembagian organisasi ruang
tersebut memiliki kesamaan dengan pendapat Wessing (1978:57-59), bahwa depan
merupakan daerah laki-laki, bersifat di luar, terlibat politik dan hubungan eksternal, demikian
juga tempat kerjanya bersifat di luar. Tengah rumah bersifat netral bagi semua anggota
keluarga dan orang lain, sedangkan belakang rumah adalah daerah perempuan, terutama goah
dan padaringan khusus untuk perempuan, bahkan menurut kebiasaan ruang ini merupakan
bagian dalam rumah yang terlarang bagi kaum pria.