Anda di halaman 1dari 3

Nama : Euis Trisna Kurniawati

Jurusan : S1-Akuntansi
NIM : 140810301225
Face to Face, not Eye to Eye
Apakah anda pernah memiliki satu saja sahabat pena? Sebelum era post
modern dimulai, kegiatan surat-menyurat untuk mengirim kabar kepada seseorang
merupakan suatu hal yang umum terjadi. Bahkan majalah di akhir abad 20-an
secara khusus menyediakan rubrik sahabat pena sebagai wadah bagi para pembaca
untuk mencari teman dan memperluas relasi. Seiring berjalannya waktu, laju
perkembangan IPTEK pun menjadi semakin pesat dan muncullah teknologi yang
benar-benar dapat mendekatkan kita dengan yang jauh, yaitu jejaring sosial.
Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah jejaring sosial atau bisa juga
dikenal sebagai social network. Jejaring sosial merupakan suatu bentuk baru
komunitas di internet yang saling terhubung. Berbeda dengan beberapa tahun
yang lalu, jejaring sosial tak lagi dalam bentuk forum diskusi di mana beberapa
orang dapat berkumpul dan membicarakan topik tertentu, kini anda dapat
mengobrol secara pribadi dengan seorang kenalan tanpa perlu khawatir orang lain
dapat membaca apa yang sedang anda bahas bersama rekan anda. Dengan begitu,
kalimat jauh di mata dekat di hati terasa benar-benar dapat direalisasikan.
Hadirnya jejaring sosial memang sangat menguntungkan banyak pihak,
termasuk mendekatkan seseorang yang keberadaannya berada jauh dari anda.
Selain itu, jejaring sosial juga dapat menjadi tempat di mana seseorang dapat
dengan bebas mengekspresikan diri. Beberapa informasi penting dari seorang
kenalan pun dapat dengan mudah anda peroleh melalui jejaring sosial. Tak heran
data terbaru We Are Social mengungkapkan bahwa pengguna media sosial aktif di
seluruh dunia sampai dengan bulan Agustus 2015 telah mencapai 2,2 miliar,
dengan pertumbuhan per tahun mencapai 8,7%.
Dari banyaknya dampak positif terciptanya jejaring sosial, mengakibatkan
timbulnya beberapa dampak negatif yang tidak dapat dihindari. Salah satunya

adalah

berkurangnya

kepekaan

terhadap

lingkungan

sekitar. Akibatnya,

kecerdasan sosial yang dimiliki para pengguna pun ikut berkurang. Sayangnya,
para remaja menjadi pihak yang paling besar merasakan dampak negatif dari
penggunaan jejaring sosial ini.
Mengapa para remaja menjadi pihak yang paling merasakan dampak
negatif? Tidak seperti orang dewasa, remaja cenderung mencantumkan identitas
aslinya dalam jejaring sosial yang menyebabkan mereka rentan kehilangan
privasi. Selain itu, terdapat pula kemungkinan penyalahgunaan identitas oleh
pihak lain yang tidak bertanggung jawab.
Tentu kita sudah sangat akrab dengan istilah IQ yang biasanya menjadi
tolak ukur kecerdasan seseorang. Namun, tahukah anda kecerdasan sosial atau
Social Intelligence (SI) merupakan faktor penting seseorang untuk mencapai
kesuksesan? Hal ini dikarenakan kecerdasan sosial merupakan kecerdasan yang
mencakup interaksi kelompok dan erat kaitannya dengan sosialisasi. Dengan
adanya jejaring sosial, sebuah kelompok dapat mendiskusikan suatu topik tanpa
perlu bertemu secara langsung. Cukup dengan gadget yang tersambung internet,
kelompok tersebut sudah dapat melakukan diskusi. Selain dalam bentuk forum
diskusi, beberapa jejaring sosial bahkan menambahkan fitur tambahan seperti
video call/telepon video di mana penggunanya dapat saling berkomunikasi
melalui video sekaligus suara yang ditransmisikan.
Menurut Lady Susan Greenfield, ahli syaraf dan profesor farmakologi
sinaptik untuk Lincoln College, Oxford, sekaligus direktur Royal Institution,
remaja yang menggunakan internet secara berlebihan akan mengalami
kecenderungan untuk mengalami hambatan dalam rentang pendidikan, kebutuhan
melakukan stimulasi dengan tidak sabar, dan rasa kebingungan terhadap identitas
yang dimilikinya. Selain itu, internet menyebabkan remaja menjadi kurang
terampil dan cenderung untuk berkonsentrasi pada satu hal dalam jangka waktu
yang lama dan menyulitkan remaja untuk memecahkan masalah yang
membutuhkan waktu singkat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 30 mahasiswa Fakultas
Ekonomi jurusan S1-Akuntansi angkatan tahun 2014, dengan peserta 15 pria dan

15 wanita, dapat disimpulkan bahwa tingkat kecenderungan penggunaan jejaring


sosial cukup berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan sosial remaja,
khususnya mahasiswa. Selain itu, terdapat fakta yang membuktikan bahwa pria
cenderung tidak terlalu sering menggunakan jejaring sosial dibandingkan wanita.
Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hanya 6%
pria dengan tingkat kecanduan tinggi terhadap jejaring sosial, sedangkan wanita
mencapai 20%. Karena itulah rata-rata kecerdasan sosial pria lebih tinggi 0,6 poin
dari wanita yaitu sebesar 11,6 poin.
Jejaring sosial memang diciptakan untuk mempermudah aktivitas manusia
dengan berbagai fitur-fitur uniknya yang semakin canggih. Meskipun demikian,
sangat penting bagi para pengguna, khususnya remaja, untuk meminimalisasi
dampak negatif penggunaan jejaring sosial. Memilih untuk lebih banyak
berinteraksi face-to-face dengan banyak orang, menjadi pilihan yang tepat agar
tubuh dapat dilatih untuk berkomunikasi dengan orang lain karena 55% makna
yang akan disampaikan dalam aktivitas tercermin pada sikap fisik. Hal ini tentu
saja dapat meningkatkan kecerdasan sosial.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat, selalu menuntut siapa saja
untuk siap menghadapi perubahan. Seiring berjalannya waktu, jejaring sosial akan
terus mengalami perkembangan yang semakin memudahkan kehidupan manusia
dalam berbagai aspek. Tak ada yang tahu keajaiban apalagi yang saat ini tampak
mustahil, dapat benar-benar terjadi di masa depan. Menurut penilaian anda,
bagaimanakah bentuk lain jejaring sosial di masa depan?