Anda di halaman 1dari 15

Tugas Makalah Seminar Akuntansi

Standar Akuntansi Syariah


(SAS)

OLEH KELOMPOK A
Tahun Ajaran 2015/2016
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin
[Nama-nama Anggota Kelompok]
Muhammad Gladi Reksa

Dhyka Adzani

A31112294

Hasriati

A31110117

Mega Syawaluddin

A31111289

Tommy Sharif

A31112264

A31113536

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Awal mulanya, Indonesia memiliki SAK yang mengacu pada US. GAAP (rule bsed)
sebelum akhirnya berkiblat pada IFRS (principle based) yang sementara dikonvergensikan.
SAK diciptakan untuk melahirkan metode yang seragam untuk penyajian informasi sehingga
laporan keuangan dari berbagai perusahaan dapat dibandingkan dengan lebih mudah atas
pemaparan kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan tersebut yang akan digunakan oleh
para pemakai sesuai dengan kepentingan masing-masing. Indonesia juga memili SAK ETAP
yang biasanya digunakan untuk SME dan PSAK Syariah yang mengacu pada konsep yang
diterapkan dalam agama Islam
Prinsip idealisme Islam, tujuan akuntansi dapat dibuat dua tingkatan. Pertama,
tingkatan ideal, dan kedua tingkatan praktis. Pada tataran ideal, sesuai dengan peran manusia
di muka bumi dan hakikat pemiliki segalanya (QS 2:30, 6:165, 3:109, 5:17), maka
semestinya yang menjadi tujuan ideal laporan keuangan adalah pertanggungjawaban
muamalah kepada Sang Pemilik yang kakiki, Allah SWT. Namun karena sifat Allah Yang
Maha Tahu, tujuan ini bisa dipahami dan ditransformasikan dalam bentuk pengamalan apa
yang menjadi sunnah dan syariah-Nya. Dengan kata lain, akuntansi harus terutama berfungsi
sebagai media penghitungan zakat, karena zakat merupakan bentuk manifestasi kepatuhan
seorang hamba atas perintah Sang Pencipta.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini, yaitu :
1. Bagaimana penjelasan SAS dalam PSAK?
2. Apa Perbedaan Akuntansi Syariah dan Akuntansi Konvensional?
3. Apa saja yang menjadi isu krusial SAS?
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan Makalah ini ialah agar pembaca dapat Memahami
prinsip dasar standar akuntansi Syariah yang berlaku di Indonesia dan dapat mengetahui apa
yang menjadi perbedaan antara Akuntansi Syariah dan Akuntansi Konvensional.

BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Akuntansi Syariah
Terdapat beberapa pengertian tentang Akuntansi Syariah, antara lain yaitu ;
Secara etimologi , kata akuntansi berasal dari bahasa Inggris, accounting, dalam
bahasa Arabnya disebut Muhasabah yang berasal dari kata hasaba, hasiba, muhasabah,
atau wazan yang lain adalah hasaba, hasban, hisabah, artinya menimbang, memperhitungkan
mengkalkulasikan, mendata, atau menghisab, yakni menghitung dengan seksama atau teliti
yang harus dicatat dalam pembukuan tertentu. Kata hisab banyak ditemukan dalam AlQuran dengan pengertian yang hampir sama, yaitu berujung pada jumlah atau angka, seperti
Firman Allah SWT :

QS.Al-Isra(17):12 .bilangan tahun-tahun dan perhitungan.


QS.Al-Thalaq(65):8 . maka kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang

keras
QS.Al-Insyiqah(84):8 . maka dia akan diperiksa dengan pemerikasaan yang
mjudah
Kata hisab dalam ayat-ayat tersebut menunjukkan pada bilangan atau perhitungan

yang ketat, teliti, akurat, dan accountable. Oleh karena itu, akuntasi adalah mengetahui
sesuatu dalam keadaan cukup, tidak kurang dan tidak pula lebih. Berdasarkan pengertian
diatas maka dapat disimpulkan bahwa Akuntansi Syariah adalah suatu kegiatan identifikasi,
klarifikasi, dan pelaporan melalui dalam mengambil keputusan ekonomi berdasarkan prinsip
akad-akad syariah, yaitu tidak mengandung zhulum (Kezaliman), riba, maysir (judi), gharar
(penipuan), barang yang haram, dan membahayakan.
Laporan keuangan berbasis syariah adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi
keuangan dan kinerja keuangan dari suatu entitas syariah. Akuntansi syariah dapat
dikategorikan sebagai pengetahuan ilmu dalam bidang akuntansi yang memiliki karakteristik,
kebenaran dan nilai-nilai Islami, yang digali menggunakan epistimologi Islam. Kerangka
konseptual akuntansi syariah dikembangkan menggunakan prinsip dasar paradigma syariah
(the fundamental of the syariaah paradigm). Tujuan umum laporan keuangan adalah
memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas syariah yang
bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat
keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship)
manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Suatu

laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas syariah yang meliputi (a) aset (b)
kewajiban (c) dana syirkah temporer (d) ekuitas (e) pendapatan dan beban termasuk
keuntungan dan kerugian (f) arus kas (g) dana zakat dan (h) dana kebajikan.
Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Neraca;
Laporan Laba Rugi;
Laporan Arus Kas;
Laporan Perubahan Ekuitas;
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat;
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan; dan
Catatan atas Laporan Keuangan

Sejarah Standar Akuntansi Syariah di Indonesia


Terhitung Sejak 1992-2002 atau 10 tahun lembaga keuangan baik bank syariah
maupun entitas syariah yang lain tidak memiliki PSAK khusus yang mengatur transaksi dan
kegiatan berbasis syariah. PSAK 59 sebagai produk pertama DSAK IAI untuk entitas
syariah perlu diajungkan jempol dan merupakan awal dari pengakuan dan eksistensi
keberadaan akuntansi syariah di Indonesia. PSAK ini disahkan tanggal 1 Mei 2002, berlaku
mulai 1 Januari 2003 atau pembukuan yang berakhir tahun 2003 . hanya berlaku hanya dalam
tempo 5 tahun.
PSAK 59 dikhususkan untuk kegiatan transaksi syariah hanya di sektor perbankan
syariah, ini sangat ironis karena ketika itu sudah mulai menjamur entitas syariah selain dari
perbankan syariah, seperti asuransi syariah, pegadaian syariah, koperasi syariah. Maka seiring
tuntutan akan kebutuhan akuntansi untuk entitas syariah yang lain maka komite akuntansi
syariah dewan standar akuntasi keuangan (KAS DSAK) menerbitkan enam pernyataan
standar akuntansi keuangan (PSAK) bagi seluruh lembaga keuangan syariah (LKS) yang
disahkan tanggal 27 Juni 2007 dan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2008 atau pembukuan
tahun yang berakhir tahun 2008.
Keenam PSAK itu adalah PSAK No 101 tentang penyajian laporan keuangan syariah,
PSAK No 102 tentang akuntansi Murabahah (Jual beli), PSAK No 103 tentang Akuntansi
Salam, PSAK No 104 tentang Akuntansi Isthisna, PSAK No 105 tentang Akuntansi
Mudarabah (Bagi hasil), dan PSAK No 106 tentang Akuntansi Musyarakah (Kemitraan).
Keenam PSAK merupakan standar akuntansi yang mengatur seluruh transaksi
keuangan syariah dari berbagai LKS. Dalam penyusunaan keenam PSAK, KAS DSAK

mendasarkan pada pernyataan akuntansi perbankan syariah indonesia (PAPSI) Bank


Indonesia. Selain itu, penyusunan keenam PSAK juga mendasarkan pada sejumlah fatwa
akad keuangan syariah yang diterbitkan oleh dewan syariah nasional majelis ulama indonesia
(DSN MUI).
Jenis SAK yang dijalankan di Indonesia
Jenis SAK yang dijalankan di Indonesia saat ini, antara lain:
1. PSAK- IFRS
PSAK-IFRS diterapkan secara utuh pada tahun 2012. Pada PSAK ini wajib diterapkan
untuk entitas dengan akuntabilitas public seperti : Emiten, perusahaan publik, perbankan,
asuransi, dan BUMN. Tujuan dari PSAK ini adalah memberikan informasi yang relevan bagi
user laporan keuangan.
Cttn : PSAK-IFRS di wajibkan untuk perusahaan Go public ( perusahaan yang menjual
sahamnya di pasar modal)
2. SAK ETAP
SAK ETAP adalah Standard akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik. ETAP yaitu Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan serta
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal.
ETAP menggunakan acuan IFRS untuk Small Medium Enterprises. SAK-ETAP
diterbitkan pada tahun 2009 dan berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan pada 1
Januari 2010. SAK ini diterapkan secara retrospektif namun jika tidak praktis dapat
diterapkan secara prospektif yang berarti mengakui semua asset dan kewajiban sesuai SAK
ETAP juga tidak mengakui asset dan kewajiban jika tidak diizinkan oleh SAK-ETAP, selain
itu Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos
sesuai SAK-ETAP juga menerapkan pengukuran asset dan kewajiban yang diakui SAK
ETAP. SAK ETAP terdiri dari 30 Bab dan daftar istilah yang mempermudah untuk
memahami SAK ini.

3. PSAK Syariah

PSAK Syariah digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas
lembaga syariah maupun lembaga non syariah. Dalam PSAK Syariah ini pengembangan
dilakukan dengan model PSAK umum namun psak ini berbasis syariah dengan acuan fatwa
MUI.
PSAK Syariah berada dalam PSAK 100-106 yang terdiri dari :
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
(f)
(g)

Kerangka Konseptual
Penyajian Laporan Keuangan Syariah
Akuntansi Murabahah
Musyarakah
Mudharabah
Salam
Istishna

4. SAP
SAP adalah Standar Akuntansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Komite Standar
Akuntansi Pemerintahan. SAP ini ditetapkan sebagai PP(Peraturan Pemerintah) yang
diterapkan untuk entetitas pemerintah dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
SAP diterapkan dengan PP Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan (PP SAP). Penyusunan SAP melalui tahapan-tahapan seperti
:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Identifikasi Topik untuk Dikembangkan Menjadi Standar


Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) di dalam KSAP
Riset Terbatas oleh Kelompok Kerja
Penulisan draf SAP oleh Kelompok Kerja
Pembahasan Draf oleh Komite Kerja
Pengambilan Keputusan Draf untuk Dipublikasikan
Peluncuran Draf Publikasian SAP (Exposure Draft)
Dengar Pendapat Terbatas (Limited Hearing) dan Dengar Pendapat Publik (Public

Hearings)
9. Pembahasan Tanggapan dan Masukan Terhadap Draf Publikasian
10. Finalisasi Standar
Jadi SAP disusun hanya untuk instalasi kepemerintahan baik pusat maupun daerah
untuk menyusun laporan keuangan dalam pemerintahan. Dan diharapkan dengan adanya SAP
maka akan ada transparansi, parisipaso dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara
sehingga dapat mewujudkan pemerintahan yang baik.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101-108 (SAS)

1. PSAK 101 - Penyajian Laporan Keuangan Syariah


PSAK No. 101 ini berfungsi untuk mengatur penyajian dan pengungkapan laporan
keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) untuk entitas syariah
yang selanjutnya disebut laporan keuangan. Pengakuan, pengukuran, penyajian dan
pengungkapan transaksi dan peristiwa tertentu diatur dalam Pernyatan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK).
2. PSAK 102 Akuntansi Murabahah
Murabahah merupakan akad penyediaan barang berdasarkan prinsip jual beli, dimana
bank membelikan kebutuhan barang nasabah (investasi/modal kerja) dan bank menjual
kembali kepada nasabah ditambah dengan keuntungan yang disepakati.

Rukun Murabahah :
(1) Subjek (penjual dan pembeli),
(2) Objek, dan
(3) Akad (shighat).
Syarat Murabahah :
(1) Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah,
(2) Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang diterapkan,
(3) Kontrak harus bebas dari riba,
(4) Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah
pembelian, dan
(5) Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya
bila pembelian dlakukan secara hutang.
Dalam akuntansi murabahah terdapat prinsip persaudaraan (ukhuwah) yang esensi
nya mempunyai semangat saling tolong menolong dan tidak boleh mendapat keuntungan
diatas kerugian orang lain.
3. PSAK 103 - Akuntansi Salam
Salam adalah akad pembelian suatu hasil produksi (komoditi) untuk pengiriman yang
ditangguhkan dengan pembayaran segera sesuai dengan persyaratan tertentu atau penjualan
suatu komoditi untuk pengiriman yang ditangguhkan dengan pembayaran segera/di muka.

Rukun Salam :
(1) Subjek : muslam (pembeli) dan muslam ilaih (penjual)
(2) Akad (shighat)
(3) Ma'qud alaih meliputi dua hal yaitu modal/harga dan muslam fiih (barang yang
dipesan)
Syarat Salam :

(1) Modal/harga : harus jelas dan terukur, berapa harga barangnya, berapa uang mukanya
dan berapa lama, sampai pembayaran terakhirnya.
(2) Muslam fiih (barang yang dipesan) : harus jelas jenis, ciri-cirinya, kualitas dan
kuantitasnya.
4. PSAK 104 Akuntansi Istishna
Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan dan penjual. Selain
itu ada juga istishna paralel, yaitu suatu bentuk akad istishna antara pemesan dan penjual
kemudian untuk memenuhi kewajibannya kepada penjual, penjual memerlukan pihak lain
sebagai pembeli.

Rukun Istishna :
(1) Subjek : shaani (produsen atau penjual) dan mustashni (konsumen atau
pembeli)
(2) Maqud alaih (barang yang dipesan)
(3) Akad (shighat)
Syarat Istishna :
(1) Jenis barang yang dibuat, macam, kadar, dan sifatnya jelas,
(2) Barang berlaku muamalat di antara manusia, dan
(3) Tidak ada ketentuan mengenai tempo penyerahan barang yang dipesan.

5. PSAK 105 Akuntansi Mudharabah


Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama
pemilik dana menyediakan seluruh dana sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak
selaku pengelola, dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kespakatan sedangkan
kerugian financial hanya ditanggung oleh pemilik dana apabila kesalahan terjadi murni
karena regulasi usaha. Tetapi jika kesalahan/kerugian disebabkan karena kelalain mudharib
maka kerugian ditanggung oleh mudharib.

Rukun Mudharabah :
(1) Subjek : pemilik modal (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib)
(2) Objek
(3) Akad (shighat)
Syarat Mudharabah :
(1) Modal ditangan pengusaha berstatus amanah, seperti wakil dalam jual beli,
(2) Pengusaha berhak atas keuntungan sesuai kesepakatan,
(3) Komponen biaya disepakati sejak awal akad, dan
(4) Pemilik modal (shahibul maal) berhak atas keuntungan dan menanggung
resiko.

Pada akad mudharabah terdapat prinsip persaudaraan yang pada dasarnya merupakan
interaksi sosial dan harmonisasi kepentingan para pihak untuk kemanfaatan umum dengan
semangat saling tolong menolong, menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh
manfaat sehingga seseorang tidak boleh mendapat keuntungan diatas kerugian orang lain.
6. PSAK 106 - Akuntansi Musyarakah
Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha
tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa
keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi
dana. Dana tersebut meliputi kas atau asset nonkas yang diperkenankan oleh syariah.

Rukun Musyarakah :
(1) Subjek (aqidani)
(2) Objek (maqud alaihi)
(3) Akad (shighat)
(4) Nisbah bagi hasil
Syarat Musyarakah :
(1) Diperbolehkan untuk menerima atau mengirimkan wakil untuk bertindak
hukum terhadap objek perserikataan sesuai dengan izin pihak lainnya,
(2) Presentase pembagian keuntungan jelas, dan
(3) Keuntungan untuk masing-masing pihak ditentukan sesuai kesepakatan.

7. PSAK 107 - Akuntansi Ijarah


Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas suatu barang dalam waktu tertentu
dengan pembayaran sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang tersebut.

Rukun Ijarah :
(1) Subjek : mujir (pemberi sewa) dan mustajir (penyewa)
(2) Objek
(3) Akad (shighat)
Syarat Ijarah :
(1) Kesepakatan kedua belah pihak untuk melakukan penyewaan,
(2) Barang yang disewakan tidak termasuk kategori haram, dan
(3) Harga sewa harus terukur.

8. PSAK 108 Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah


Asuransi Syariah menurut Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSNMUI) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang, melalui
investasi dalam bentuk aset dan / atau Tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk
menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.

Dari pengertian nya sudah sangat jelas bahwa asuransi syariah mengaplikasikan
prinsip persaudaraan (ukhuwah). Ukhuwah dalam transaksi syariah berdasarkan prinsip
saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), saling menolong (taawun), saling
menjamin (takaful), saling bersinergi dan beraliansi (tahaluf) dan prinsip tersebut
diaplikasikan pada asuransi syariah.
Isu-isu Krusial Akuntansi Syariah
Tujuan-tujuan Akuntansi Keuangan dan Laporan Keuangan yaitu perbedaan antara
tujuan akuntansi keuangan dan tujuan laporan keuangan. Dalam berbagai literatur, banyak
penulis yang menyamakan antara keduanya. Mathews & Parera (1996) mengatakan:
Strictly speaking, financial statement cannot have objectives; only those individuals
who cause the statement to be produced and who use them can have objectives.
Mathews & Parera (1996) lebih jauh mengatakan:
What are often referred to as the objectives of financial statements are really the
functions of financial statements ..
Dalam konteks ini, bilamana kita harus berpijak pada prinsip idealime Islam tujuan
akuntansi dapat dibuat dua tingkatan. Pertama, tingkatan ideal, dan kedua tingkatan praktis.
Pada tataran ideal, sesuai dengan peran manusia di muka bumi dan hakikat pemiliki
segalanya (QS 2:30, 6:165, 3:109, 5:17), maka semestinya yang menjadi tujuan ideal laporan
keuangan adalah pertanggungjawaban muamalah kepada Sang Pemilik yang kakiki, Allah
SWT. Namun karena sifat Allah Yang Maha Tahu, tujuan ini bisa dipahami dan
ditransformasikan dalam bentuk pengamalan apa yang menjadi sunnah dan syariah-Nya.
Dengan kata lain, akuntansi harus terutama berfungsi sebagai media penghitungan zakat,
karena zakat merupakan bentuk manifestasi kepatuhan seorang hamba atas perintah Sang
Pencipta. Tujuan pada tataran pragmatis barulah diarahkan kepada upaya untuk menyediakan
informasi kepada stakeholder dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi. Namun
sayangnya, apa yang hendak dicapai lewat SFA No. 1 barulah pada tataran ini.
Hal kedua yang menarik dari pembedaan antara objectives of financial accounting dan
objectives of financial reports seperti yang dinyatakan dalam Chapter, SFA No. 1 adalah
sesuatu yang kabur. Artinya, ketika SFA menjelaskan tujuan-tujuan financial reports, yang
disajikan justru tipe informasi yang harus dimuat. Dengan kata lain, kurang lebih sama
dengan semacam syarat kualitatif kandungan laporan keuangan. Misalnya, bahwa laporan
mengandung informasi tentang kepatuhan bank terhadap syariah dan oleh karenanya harus

ada informasi tentang pos-pos non-halal; informasi sumber daya dan kewajiban, termasuk
akibat suatu transaksi atau kejadian ekonomi terhadap sumber daya entitas, maupun
kewajibannya; informasi yang dapat membantu pihak-pihak tertentu dalam menghitung
zakatnya; informasi yang dapat membantu pihak terkait dalam memprediksi aliran kas bank
dan seterusnya.

Perbedaan SAS dan SAK Umum

LAPORAN
KEUANGAN
AKUNTANSI
KONVENSIONAL

AKUNTANSI
SYARI'AH

PRINSIP-PRINSIP
DASAR

Kebenaran Relatif
(Wajar)
Pem enuhan
Standar yang
Dibuat/
Dirum uskan oleh
Manusia

Kebenaran Hakiki
( al-Haq
)
Mencoba Menem ukan yang
Seharusnya/Dibuat Didasarkan
pada Ketentuan
T uhan (Wahyu)

TUJUAN
Laporan Keuangan
Bukan T ujuan, T etapi
Sarana untuk
Mencapai T ujuan,
yakni: Pertanggungjawaban Dihadapan
T uhan

Menekankan pada
Inform asi sebagai Alat
dalam Pengam bilan
Keputusan Bisnis

JENIS
LAPORAN

Laporan Keuangan
T am bahan Disajikan
Sesuai dengan
Kebutuhan,
m isalnya:Pengungk
apan T ingkat Inflasi,
Catatan Atas
Laporan Keuangan,
dan Koreksi Fiskal

Laporan Keuangan
T ambahan Meliputi:
Laporan Dana ZIS,
Pengungkapan
Aspek-aspek
Syari'ah, dan
Perhit ungan Zakat

Standar Akuntansi Keuangan merupakan kerangka acuan dalam prosedur yang


berkaitan dengan penyajian laporan keuangan. Keberadaanya dibutuhkan untuk membentuk
kesamaan prosedur dalam menjelaskan bagaimana laporan keuangan disusun dan disajikan,
oleh karenanya ia sangat berarti dalam hal kesatuan bahasa dalam menganalisa laporan
laporan keuangan bagi perusahaan, dana pensiun dan unit ekonomi lainya.

Di Indonesia standar akuntansi keuangan tersebut dikenal dengan istilah Standar


Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi
Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. Standar
Akuntansi Keuangan ini sendiri terdiri dari sebuah pernyataan kerangka dasar penyusunan
dan penyajian laporan keuangan serta seperangkat standar akuntansi keuangan dengan 35
pernyataan. SAK ini mulai berlaku efektif tanggal 1 januari 1995. Sebagai pedoman
penyusunan dan penyajian laporan keuangan ia menjadi peraturan yang mengikat, sehingga
pengertian yang bias terhadap suatu pos laporan keuangan dapat dihindari.

BAB III PENUTUP


Kesimpulan
Akuntansi Syariah yaitu akuntansi yang berbasis syariah islam sehingga dalam
penerapan di perlukan pemahaman mengenai syariah islam, Sedangkan cara dan metode
pecatataan dalam pembukuan sama halnya dengan akuntansi Konensional,
Pada saat sekarang ini Transaksi akuntansi syariah sedang mengalami peningkatan
baik di Indonesia sendiri maupun di tingkat internasional,hal ini di karenakan penerapan
sistem akuntansi syariah yang menggunakan system bagi hasil pada setiap asset dan
memberikan tanggung jawab baik secara horizontal maupun vertikal.

Daftar Pustaka
Angelia Zuhri, 2013, RMK Syariah
(https://id.scribd.com/doc/159713132/RMK-syariah)
Firman Changea, 2015, Makalah Akuntansi Syariah
(http://dokumen.tips/documents/makalah-akuntansi-syariah-i55cd80b812962.html)
Elin Erlina, 2015, Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Syariah
(http://selinrasi.blogspot.co.id/2015/03/standar-akuntansi-keuangan-saksyariah.html)