Anda di halaman 1dari 32

Buletin

Tata Ruang & Pertanahan


edisi II tahun 2012

Belajar dari Jakarta


Dinamika dan Tantangan Perencanaan Metropolitan Jakarta
Wawancara dengan Ir. Sarwo Handayani, M.Si
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Provinsi DKI Jakarta

Meninjau Tata Ruang Jakarta: Aspek Transportasi dan


Pengendalian Banjir
Dr. Ir. Bianpoen
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur, FDTP-UPH Karawaci

Tantangan Pengadaan Permukiman Murah di Perkotaan


Dr. Ir. Oswar Muadzin Mungkas, MURP
Staf Kementerian PPN/Bappenas

Ringkas Buku Deddy K. Halim:


Psikologi Lingkungan Perkotaan

pengantar redaksi

Belajar dari Jakarta


Usai Pilkada 20 September 2012, belajar berdemokrasi dari Pilkada
Jakarta menjadi highlight di banyak media. Meski sebelumnya melalui
persaingan ketat perebutan suara, dan baru sebatas hasil hitung cepat, namun
pada hari pemungutan suara Fauzi Bowo, gubernur petahana, mengucapkan
selamat kepada pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama yang
mengungguli perolehan suara.
Dalam posisinya sebagai Ibukota, DKI Jakarta sering dijadikan
barometer bagi pembangunan wilayah lainnya di Indonesia, terutama kotakota yang pesat perkembangannya. Tentu tidak hanya dari Pilkada lalu dapat
dipetik pembelajaran, tetapi juga dari banyak aspek lainnya.
Belajar dari Jakarta, diangkat sebagai tema Buletin Tata Ruang &
Pertanahan edisi ke 2 tahun 2012. Sebagai barometer nasional, sekaligus
etalase kehidupan bangsa dan negara RI pada aras internasional, Jakarta
merupakan tempat belajar bagaimana sebuah kota dengan penduduk (siang
hari) hampir 12 juta dan akumulasi 30 % dari sumber daya nasional
direncanakan dan terus dibicarakan.
Pesatnya pertumbuhan ekonomi Jakarta pada sisi lain diperhadapkan
pada paling tidak 3 hal yaitu semakin parahnya kemacetan, banyaknya
perumahan kumuh, serta terbatasnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ancaman
banjir juga masih mengintai. Kesemua itu menjadi pekerjaan rumah yang tidak
mudah bagi Gubernur Terpilih DKI Jakarta .
Untuk mendapatkan gambaran rinci tentang seluk-beluk
pembangunan Jakarta, buletin kali ini menyajikan hasil wawancara langsung
dengan Kepala Bappeda DKI Jakarta, Ir. Sarwo Handhayani, M.Si. Selanjutnya,
konsep compact city dan kaitannya dengan aspek perumahan perkotaan,
dikupas dalam tulisan Dr. Ir. Oswar Mungkasa, MURP, yang tengah berkarya di
Kementerian PPN/Bappenas dan pernah bekerja di Kementerian Perumahan
Rakyat. Kita juga dapat mengetahui pandangan mengenai Jakarta di mata
seorang Bianpoen, yang pernah lama berkiprah dalam perencanaan Jakarta.
Sajian menarik lainnya adalah melihat dari dekat Jakarta City Planning
Gallery, wujud konkrit keterbukaan perencanaan pembangunan kota, yang
barangkali baru satu-satunya di Indonesia. Juga melihat kehadiran rumah
singgah dalam merepons masalah sosial perkotaan, terutama fenomena anak
jalanan. Untuk menyegarkan wawasan pembaca, turut ditampilkan ringkasan
buku Psikologi Lingkungan Perkotaan, serta ringkasan kajian Land Market.
Sebagai informasi perkembangan penataan ruang dan pertanahan,
dapat disimak status terkini penyusunan perda Rencana Tata Ruang Wilayah
Propinsi (RTRWP), serta ringkasan peraturan diantaranya tentang Rencana Tata
Ruang Pulau Jawa dan Bali, dan Perpres No.71 tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan
Umum.
Di era informasi dengan kemudahan akses internet dan intensitas
pekerjaan yang padat, adalah tantangan tersendiri untuk mengelola sebuah
buletin cetak agar tetap eksis. Untuk itu kami sampaikan penghargaan yang
sebesar-besarnya kepada nara sumber dan berbagai pihak yang terkait dalam
mempersiapkan buletin ini. Semoga buletin ini dapat memberi sumbangsih
dan menjadi instrumen knowledge sharing dalam penataan ruang dan
pertanahan.
Redaksi Buletin Tata Ruang & Pertanahan

Pelindung

Penanggung Jawab

Pemimpin Redaksi
Dewan Redaksi

Editor

Redaksi

Desain &
Tata Letak

Desain Sampul
Distribusi &
Administrasi
Alamat Redaksi

Telp
Email
Website

Deputi Bidang
Pengembangan Regional dan
Otonomi Daerah
Direktur Tata Ruang
dan Pertanahan
Mia Amalia
Dwi Hariyawan S
Uke M. Hussein
Nana Apriyana
Khairul Rizal
Rinella Tambunan
Hernydawati
Santi Yulianti
Zaenal Arifin
Aswicaksana
Agung Dorodjatoen
Raffli Noor
Idham Khalik
Cindie Ranotra
Riani Nurjanah
Indra Ade Saputra
Micania Camillang
Yovi Dzulhijjah
Dodi Rahadian
Sylvia Krisnawati
Redha Sofiya
Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan, Bappenas
Jl. Taman Suropati No. 2
Gedung Madiun Lt. 3
Jakarta 10310
021 - 392 66 01
trp@bappenas.go.id
http://landspatial.bappenas.go.id

Buletin

Tata Ruang & Pertanahan


daftar isi

10

Dinamika dan Tantangan


Perencanaan Metropolitan Jakarta
Wawancara
Ir. Sarwo Handayani, M.Si
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Provinsi DKI Jakarta

10

Tantangan Pengadaan
Permukiman Murah di Perkotaan
Dr. Ir. Oswar Muadzin Mungkasa, MURP
Staf Kementerian PPN/Bappenas

20
8

Meninjau Tata Ruang Jakarta:


Aspek Transportasi dan
Pengendalian Banjir
Dr. Ir. Bianpoen
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur, FDTP- UPH Karawaci

24

Sosialisasi Peraturan
Perundangan Bidang Tata
Ruang dan Pertanahan
- PP No.26 Tahun 2012
- Perpres No. 28 Tahun 2012
- Perpres No. 71 Tahun 2012

- PP No 29 Tahun 2012
- PP No. 13 Tahun 2010

edisi II tahun 2012


1 daftar isi

9 dalam berita

16 melihat dari dekat

18 koordinasi TRP

22 kajian

28 galeri foto

15 agenda
20 ringkas buku

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

wawancara
Ir. Sarwo Handhayani, M.Si

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi DKI Jakarta

Dinamika dan Tantangan Perencanaan Metropolitan Jakarta.

ota Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang


memiliki status setingkat provinsi. Sebagai Ibu Kota Negara,
Kota Jakarta mengalami perkembangan pembangunan fisik
maupun ekonomi yang pesat, sehingga Kota Jakarta sering dijadikan
acuan bagi pembangunan kota-kota lain di Indonesia. Akan tetapi,
disamping pesatnya pembangunan yang terjadi di Kota Jakarta,
banyak pula masalah yang dihadapi dalam proses pembangunan
tersebut.
Dinamika isu dan perkembangan Kota Jakarta menjadi perhatian
utama bagi Bappeda DKI Jakarta dalam merencanakan pembangunan
Kota Jakarta secara terarah dan berorientasi pada penyelesaian
masalah-masalah utama. Sebagai Kepala Bappeda DKI Jakarta Ir.
Sarwo Handhayani, M.Si tentunya fasih terhadap kondisi Jakarta dan
segala perkembangannya. Berikut hasil wawancara redaksi buletin
TRP dengan Ir. Sarwo Handhayani, M.Si (SH) mengenai
pengalamannya dalam merencana kota sedinamis Jakarta yang tentu
dapat menjadi insipirasi dan pembelajaran berharga bagi banyak
kalangan.

TRP: Apa kelebihan Kota Jakarta jika dibandingkan dengan kota-kota


metropolitan lain di Dunia?
SH: Dengan penduduk 9,7 juta jiwa (BPS 2012), Jakarta merupakan
salah satu kota metropolitan yang cukup diperhitungkan dalam
tatanan kota-kota dunia khususnya di Asia. Bila dibandingkan
dengan kota-kota metropolitan lain di dunia, Jakarta mempunyai
kelebihan dan kekurangan, yaitu:
1. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 tahun 2007 tentang
Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia,
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah Provinsi yang mempunyai
kekhususan dalam penyelenggaraan pemerintahan, tempat
kedudukan Perwakilan Agung dan pusat perwakilan lembaga
nasional.
2. Secara nasional ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional
(KSN) dalam satu kesatuan kawasan Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur (Jabodetabekpunjur)
yang mengamanatkan perencanaan, pemanfaatan dan
pengendalian tata ruang yang terpadu. Jakarta sebagai inti dan
daerah disekitarnya sebagai satelit yang dapat diartikan dalam
hal ini Pemerintah Pusat memberikan dukungan yang lebih besar
untuk pembangunan kawasan Jakarta dan sekitarnya.
3. Sebagai kota yang telah berusia 485 tahun, Jakarta memiliki
kekayaan lingkungan dan bangunan bersejarah terbesar di Asia
tenggara.
4. Jakarta tumbuh semakin pesat dengan berbagai peran, yaitu
sebagai pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan,
belanja, dan pariwisata, sehingga menjadi tujuan urbanisasi
sekaligus menjadi barometer perkembangan kota-kota di
Indonesia.

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

5. Pesatnya pembanguan di Jakarta saat ini masih belum dapat


mengejar kebutuhan pelayanan infrastruktur yang lebih pesat lagi
akibat tingginya pertumbuhan penduduk. Di sisi lain, posisi
geografis yang kurang menguntungkan dan ketersediaan lahan
yang terbatas, mengakibatkan permasalahan yang kompleks
diantaranya kemacetan dan banjir.

TRP: Apa saja hal-hal yang menjadi lebih baik dan yang masih perlu
diperbaiki/ dibenahi di Kota Jakarta dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir?
SH: Dalam hal merencanakan pembangunan di Provinsi DKI Jakarta,
sektor transportasi dan pengendalian banjir menjadi prioritas. Hal-hal
yang menjadi lebih baik dalam 10 tahun terakhir:
Secara konsisten Pemerintah Provinsi

Jakarta menjadi DKI Jakarta telah menerapkan Pola


Transportasi Makro (PTM) yang
tujuan urbanisasi mencakup pembangunan transportasi
sekaligus menjadi publik yaitu Busway dan Mass Rapid
Transportation (MRT), optimalisasi

barometer pelayanan kereta api, penambahan ratio


jalan hingga mencapai 10% dari luas

perkembangan kota total Jakarta sebagaimana yang telah


-kota di Indonesia. ditetapkan dalam Perda RTRW, serta

pengembangan pengelolaan lalu lintas.


Saat ini pengembangan busway telah
mencapai 12 koridor (207,3 km), 2 koridor ekstension (10,5 km)
Tangerang dan Bekasi, 15 Feeder, 669 bus (472 single dan 197
double) dengan target penumpang 129,9 juta per tahun.
Persiapan pengembangan MRT telah sampai di penghujung,
diharapkan pada Bulan Oktober 2012 konstruksi koridor Selatan-Utara
penggal Lebak Bulus Bundaran Hotel Indonesia (HI) sudah bisa
dimulai dan dapat digunakan pada Tahun 2016. Sementara itu koridor
Timur-Barat dari Balaraja sampai dengan Cikarang saat ini dalam
proses penyusunan studi kelayakan.
Perubahan ratio jalan telah dilakukan dengan menyambungkan jalanjalan yang terputus (missing link), pembangunan Fly Over dan Under
Pass serta pembangunan jalan layang non tol Antasari dan
Casablanca. Pengembangan pengelolaan lalu lintas telah dilakukan
dengan membangun Intellegent Transport System dan penataan parkir
serta persiapan pola road pricing.

Dalam penataan parkir, pada dasarnya untuk traffic restraint, yang


diinginkan adalah semua parkir bersifat off street daripada on street.
Dengan off street kapasitas jalan diharapkan akan lebih meningkat,
serta tidak akan ada lagi ketidakjelasan aliran dana dari sistem parkir
on street seperti yang telah banyak terjadi selama ini. Namun, masalah
utama dari penerapan sistem off ini adalah adanya keterbatasan lahan
serta diperlukannya dana yang cukup besar untuk membangun
gedung parkir. Dalam mengatasi masalah keterbatasan dana, salah
satu upaya yang bisa dilakukan adalah melibatkan peran pihak swasta.
Harus diperhatikan juga pengelolaan sistem parkir yang telah ada,

sehingga sistem parkir off street tersebut dapat melayani kebutuhan


seluruh lapisan masyarakat.
Pola road pricing sebenarnya bukan merupakan hal baru. Disamping telah
dimuat dalam UU lalu lintas, Pemerintah DKI Jakarta juga telah
mempersiapkan Perda terkait. Sehingga nantinya tinggal menunggu
terbitnya PP (Peraturan Pemerintah) mengenai road pricing. Salah satu
hal yang mungkin perlu diperbaharui dalam rancangan mengenai road
pricing ini adalah yang diatur hanya mengenai mobil. Padahal jumlah dan
pengguna motor sudah sangat banyak di Jakarta. Sepatutnya ketentuan
mengenai motor pun masuk sebagai salah satu obyek sistem road pricing.
Rencananya, penerapan road pricing ini akan dilakukan pada daerah yang
sebelumnya merupakan daerah 3 in 1.
Dalam upaya pengendalian banjir, Kanal banjir timur sudah berfungsi
mengamankan 2,7 juta penduduk dari banjir dan kanal banjir barat sudah
ditingkatkan kapasitasnya. Sementara itu perluasan waduk dan situ serta
perbaikan drainage telah menurunkan jumlah lokasi banjir.
Selanjutnya untuk meningkatkan
kualitas lingkungan kota telah
dilakukan pengadaan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) secara konsisten melalui
pembebasan lahan dengan luas rata
-rata 20 ha per tahun. Dilakukan
pula penambahan luas area hutan
mangrove secara nasional maupun
internasional, serta rehabilitasi
mangrove dan juga peningkatan
pengelolaan sampah di Bantar
Gebang yang saat ini dapat
menghasilkan 10,5 Mega Watt
energy listrik dari gas metan. Untuk
pengelolaan sampah, sekarang
sedang disiapkan Intermediate Treatment Facility (ITF) berupa incinerator
yang rencananya dapat memproses seperenam sampah Jakarta, sehingga
kedepan pengelolaan masalah sampah Jakarta dapat diselesaikan oleh
Kota Jakarta sendiri.

...untuk meningkatkan
kualitas lingkungan kota
telah dilakukan
pengadaan Ruang
Terbuka Hijau (RTH)
secara konsisten melalui
pembebasan lahan
dengan luas rata-rata 20
ha per tahun.

RTRW yang lama telah menetapkan porsi RTH sebesar 23,94% atau
kurang lebih 24% RTH (10% RTH privat dan 14% RTH publik) dari total
luas DKI Jakarta. Porsi RTH ini mungkin masih belum sesuai dengan
ketentuan 30% RTH (10% RTH privat dan 20% RTH publik) untuk suatu
wilayah kota. Akan tetapi, dalam menyiasati kekurangan porsi RTH
tersebut, Pemda DKI telah melakukan suatu upaya, yaitu dengan
menetapkan 6% porsi RTH dari RTH privat (pihak swasta) yang
dipergunakan untuk publik. Sehingga apabila dikalkulasi jumlah total RTH
akan tetap 30% (10% RTH privat + 14% RTH publik + 6% RTH privat
yang diperuntukan untuk publik).
RTH memang menjadi salah satu perhatian utama di Jakarta. Upaya
pembebasan lahan seluas 20 ha dengan total biaya 0,5 Trilyun dan
jangka waktu lebih dari 30 tahun, ternyata hanya memberi porsi kurang
lebih 0,005% dari luas total Jakarta. Meskipun begitu, rencana
pengembangan tersebut akan tetap dipertahankan, karena memang DKI
Jakarta sendiri menginginkan RTH yang banyak. DKI Jakarta sebenarnya
telah mengeluarkan persyaratan minimal untuk green building, namun
memang masih perlu upaya dan komitmen bersama dalam
menerapkannya. Terlepas dari itu, apabila kembali pada konsep awal
mengenai ketetapan RTH sebesar 30%, serta belajar dari kasus Jakarta,
maka kedepan perlu ada analisis yang lebih matang dalam penetapan
porsi 30% RTH tersebut, mengingat karakteristik kota yang berbeda-beda
dan agar porsi yang diterapkan realistis untuk kota skala metropolitan.
Di bidang pendidikan selain kesejahteraan guru juga ditingkatkan wajib
belajar 12 tahun yang telah dimulai sejak tahun ajaran 2012, bersamaan
dengan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Disamping itu, di

bidang kesehatan, telah tersedia fasilitas kesehatan di seluruh wilayah kota


kecamatan dan kelurahan berupa Puskesmas Kelurahan, Puskesmas
Kecamatan dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Fasilitas puskesmas
tingkat kecamatan, juga telah dilengkapi dengan pelayanan rawat inap. Upah
Minimum Regional (UMR) juga telah ditingkatkan dan jumlah keluarga miskin
semakin berkurang.
Dalam 10 tahun kedepan diperlukan upaya yang lebih keras lagi dalam
melanjutkan perbaikan-perbaikan untuk masyarakat dan kota, diantaranya:
Pembangunan angkutan umum massal perlu terus dilakukan dengan
menambah koridor busway dan MRT menjadi angkutan yang terintegrasi
dengan kereta api dan angkutan lainnya. Sementara penggunaan
kendaraan pribadi perlu diperketat dengan menerapkan berbagai skema
traffic restraint.
Untuk mengamankan Kota Jakarta dari bahaya banjir dan rob perlu terus
diupayakan penambahan waduk dan situ, penerapan zero run off
bersama masyarakat dan membangun Giant Sea Wall yang dipadukan
dengan pengembangan water front city.
Untuk meningkatkan kualitas Sumber daya manusia di Jakarta
diupayakan peningkatan pendidikan sejalan dengan penyiapan tenaga
terampil melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Kualitas pelayanan kesehatan terus ditingkatkan termasuk penanganan
manusia lanjut usia (manula), serta pengembangan fasilitas olahraga
termasuk membangun 2 (dua) stadion.
Jumlah penduduk miskin terus dikurangi dengan pengembangan
program-program yang lebih terarah.
Peningkatan kualitas lingkungan hidup terus dilakukan diantaranya
melalui pengembangan skema pembiayaan daerah yang melibatkan
BUMD dan masyarakat serta dunia usaha.

TRP: Isu-isu prioritas apakah yang dapat menjadi masukan dalam


perencanaan pembangunan?
SH: Merencanakan tata ruang Jakarta yang telah berusia 485 tahun
memerlukan kecermatan lebih dibandingkan dengan merencanakan kotakota baru yang masih kosong. Masukan hasil evaluasi yang kualitasnya
ditentukan oleh monitoring, menjadi penting karena optimalisasi ruang
didasarkan pada keseimbangan daya dukung dan daya tampung yang saat
ini sudah terbatas. Diperlukan terobosan dalam menjawab permasalahanpermasalahan yang ada.
Kelangkaan lahan untuk pembangunan dan ancaman banjir rob karena
perubahan iklim mendasari pemikiran rencana pembangunan Jakarta
sebagai Water Front City yang berkelanjutan dengan membangun Giant Sea
Wall yang sekaligus terpadu dengan pengembangan potensi ekonomi seperti
jalan tol , pelabuhan, air bersih, angkutan massal dan tambahan lahan baru.
Dalam proses perencanaan pelibatan pemangku kepentingan sangat perlu
dilaksanakan, tidak hanya di dalam Provinsi DKI Jakarta tetapi juga dengan

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

Daerah yang berbatasan. Selanjutnya untuk menjamin bahwa


rencana yang telah disusun akan diterapkan dengan konsisten, perlu
dirancang rencana pemanfaatan dan pengendaliannya yang
merupakan bagian dari dokumen perencanaan itu sendiri.
Kemampuan pembiayaan juga merupakan isu penting untuk dapat
menghasilkan rencana yang realistis.
Isu lain yang juga merupakan prioritas adalah keterpaduan program
dalam upaya Pemberdayaan Masyarakat. Masyarakat yang
berdaya diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah di
lingkungannya masing-masing. Sehingga program-program
pembangunan dalam skala besar dapat dilaksanakan lebih sukses.
Peran lurah sebagai ujung tombak pembangunan yang
mengedepankan pemberdayaan masyarakat perlu ditingkatkan,
termasuk dalam wawasan dan pandangan berkaitan dengan public
services dan governance. Perencanaan pengentasan kemiskinan
memerlukan kecermatan yang tinggi dan peran lurah menentukan
keberhasilan upaya ini.
Isu prioritas yang juga perlu diperhatikan adalah perencanaan
perizinan yang terpadu antar unit-unit pemberi rekomendasi suatu
izin dan transparansi mekanisme perizinan yang dapat dipahami oleh
masyarakat. Pemanfaatan Information Technology (IT) menjadi
mutlak untuk meningkatkan pelayanan masyarakat secara
keseluruhan.

TRP: Upaya apa yang telah ditempuh dalam penanganan isu prioritas
tersebut?
Telah disusun Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta
yang telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah pada tanggal
12 Januari 2012. Sebagai acuan pembangunan jangka panjang
yang bersifat arahan makro, Perda dimaksud lebih lanjut dirinci
dalam Rencana Detail Tata Ruang yang diharapkan dapat segera
di Perda kan agar dapat menjadi pedoman pelaksanaan
pembangunan kota. Sementara itu untuk sektor-sektor dan
program-program strategis, sedang dipersiapkan rencana
pelaksanaannya, misalnya pengembangan Transit Oriented
Development (TOD) dan pembangunan Giant Sea wall.
Telah disusun mekanisme perencanaan yang menempatkan
masyarakat lingkungan RT, RW dan Kelurahan sebagai subyek
pembangunan agar masyarakat lebih berdaya dalam
menyelesaikan permasalahan di lingkungannya. Pemberdayaan
ekonomi masyarakat Kelurahan diupayakan dengan membentuk
koperasi jasa keuangan sendiri. Demikian pula peran lurah telah
ditingkatkan melalui pelimpahan wewenang dalam pelaksanaan
pembangunan termasuk peningkatan jumlah anggaran untuk
membiayai program-program yang dapat dikerjakan bersama
dengan masyarakat.

Terkait dengan Giant Sea Wall, ide awal muncul karena Jakarta
merupakan salah satu kota di Pantura (Pantai Utara Jawa) yang akan
terkena dampak climate change, sehingga dijadikan salah satu pilot
project untuk aplikasi mengatasi masalah dampak climate change,
khususnya untuk wilayah Pantura. Berdasarkan hasil kajian
bekerjasama dengan Belanda diperkirakan diperlukan waduk/danau
seluas 50 km2 yang harus dibangun untuk mengantisipasi masalah
banjir di Jakarta, khususnya yang disebabkan kenaikan permukaan air
laut oleh karena adanya climate change. Kajian tersebut menyarankan
2 (dua) opsi, yaitu: (1) dibangun on land atau (2) dibangun off land.
Apabila dibangun off land, biaya yang besar merupakan kendala
utama. Namun pada sisi lain pembangunan off land memiliki dampak
turunan yang positif karena bisa turut menopang pembangunan
wilayah, seperti penggunaan sisi waduk off land sebagai jalan tol, area
MRT, pemenuhan standar
...diperlukan waduk/ pelabuhan masa depan, sumber
daya air tawar, lokasi wisata,
danau seluas 50 km2 maupun pemenuhan reklamasi yang
yang harus dibangun dapat menambah luas lahan.
Terkait kebutuhan biaya yang besar
untuk mengantisipasi tersebut, sebenarnya sudah ada
masalah banjir di Jakarta, beberapa alternatif, diantaranya
dengan memadukan Giant Sea Wall
khususnya yang off land dengan water front city.
disebabkan kenaikan Rencana Giant Sea Wall sebenarnya
sudah masuk dalam RTRW, yaitu

permukaan air laut oleh


karena adanya climate
change.

Jakarta coastal development


strategy. Meskipun merupakan

rencana yang sangat strategis dan


telah diusulkan masuk ke dalam
MP3EI, namun sampai sekarang
tidak masuk dalam Metropolitan Priority Area (MPA).

TRP: Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat


dalam penanganan isu-isu prioritas tersebut?
SH: FaktorFaktor-faktor pendukung:
Komitmen yang tinggi dari pimpinan daerah dan jajaran
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai modal bagi pembiayaan
pembangunan Jakarta.
Sumber daya manusia yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta relatif cukup baik.
Dukungan dari Pemerintah Pusat baik dalam bentuk pembiayaan
program-program pembangunan maupun bantuan berupa
bimbingan teknis.
Tawaran kerjasama dari Pemerintah Negara lain cukup banyak
sehingga membuka peluang untuk pembangunan Jakarta dengan
mengadopsi keberhasilan pembangunan di kota-kota besar dunia.
Antusiasme berbagai komunitas cukup tinggi untuk terlibat dan
bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam membangun
Jakarta.
Sementara itu, faktor
faktoraktor-faktor penghambat:
Walaupun PAD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta cukup tinggi,
namun masih jauh dari kebutuhan yang diperlukan untuk
membangun Jakarta sebagai Ibu Kota Negara.
Peraturan Pemerintah yang ada belum sepenuhnya mendukung
rencana pembangunan.
Secara geografis posisi Jakarta yang kurang menguntungkan, yakni
sebagai kota delta yang dilalui 13 sungai.
Keterbatasan lahan sehingga biaya pembebasan lahan yang tinggi
dan sulit dilakukan.

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

Status kepemilikan lahan masyarakat seringkali tidak jelas (tidak


bersertifikat) sehingga mempersulit proses pembebasan lahan untuk
pembangunan.
Keberhasilan pembangunan di Jakarta di sisi lain menambah arus
urbanisasi ke Jakarta.
Urbanisasi ke Bodetabek (Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) yang
pesat menambah besarnya komuter ke Jakarta yang membutuhkan
pelayanan fasilitas kota.
Sikap dan perilaku masyarakat Jakarta belum sepenuhnya
mencerminkan masyarakat perkotaan.

Meskipun telah banyak contoh pelaksanaan kerjasama yang


menunjukan hubungan baik, namun masih ada hal lain yang harus
ditingkatkan dalam kerjasama tersebut, yakni ketahanan pangan.
Sebagai kota inti yang memiliki banyak kegiatan ekonomi dan
menjadi pusat penarik bagi wilayah sekitarnya, kedepan perlu
dibangun terminal agribisnis di sekitar Jakarta. Dengan demikian,
sebagai kota jasa, Jakarta dapat lebih fokus pada penerapan high
tech dan padat modal. Namun hal itu tidak mudah karena
mencakup banyak aspek serta kualitas SDM yang belum
sepenuhnya mendukung.

TRP: Bagaimana dengan dinamika hubungan antarpemerintah


(Pemerintah Daerah DKI Jakarta dengan Pemerintah Pusat; Pemerintah
Daerah DKI Jakarta dengan Pemerintah Daerah yang berbatasan); serta
dinamika hubungan antarpemangku kepentingan (Pemerintah
Masyarakat Dunia Usaha DPRD)?
a.

Dinamika hubungan antara Pemerintah DKI Jakarta dengan


Pemerintah Pusat:
Pembangunan Jakarta tidak semata-mata dilakukan untuk
mengakomodasi kepentingan daerah, melainkan juga Jakarta
sebagai Ibu Kota Negara. Dalam hal ini, Pemerintah DKI Jakarta
senantiasa berusaha untuk dapat mengakomodasi kedua
kepentingan tersebut dan berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat.
Beberapa hambatan yang seringkali muncul dalam mengakomodasi
kepentingan pembangunan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara adalah
kurangnya dukungan Pemerintah Pusat dalam hal pendanaan.
Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun
2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia, pendanaan
Pemerintah DKI Jakarta dalam menyelenggarakan urusan
pemerintahan yang bersifat khusus dalam kedudukannya sebagai Ibu
Kota Negara dianggarkan dalam APBN berdasarkan usulan dari
Pemerintah DKI Jakarta. Namun, saat ini pendanaan tersebut belum
terlaksana, terutama karena belum adanya PP turunan dari UU
No.29/2007. Diharapkan kedepan akan ada PP turunan tersebut.

b.

Dinamika hubungan antara Pemerintah DKI Jakarta dengan Pemda


yang berbatasan:
Perencanaan DKI Jakarta tidak dapat terlepas dari perencanaan
wilayah sekitarnya sehingga diperlukan sinkronisasi, khususnya
rencana tata ruang yang prosesnya seringkali tidak mudah karena
adanya perbedaan kepentingan antar daerah. Dengan
dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2008 tentang
Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,
Bekasi, Puncak, Cianjur diharapkan proses koordinasi dapat berjalan
lebih baik karena memiliki kepastian dasar hukum. Sementara itu
juga selalu diupayakan kerjasama yang saling menguntungkan
antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Daerah
yang berbatasan melalui Forum Badan Kerjasama Pembangunan
Daerah Jabodetabekjur dalam rangka pemaduserasian kawasan
Jabodetabekpunjur sebagaimana diamanatkan dalam Perpres No. 54
tahun 2008.
Pemda DKI juga telah mengupayakan adanya bantuan dana untuk
daerah-daerah sekitarnya. Namun sejak berlakunya ketentuan
Permendagri No.32/2011, dicari bentuk bantuan yang tidak
menyalahi aturan, seperti bantuan dalam bentuk infrastruktur. Upaya
kerjasama juga sudah dilakukan melalui kegiatan road show kepada
Pemda sekitar dalam penyusunan RTRW. Selain itu telah berjalan
kerjasama untuk penanganan sampah di Bantar Gebang. Sejauh ini
telah ada take and give yang baik dalam pengelolaan sampah di
Bantar Gebang.

c.

(Pemerintah-Dinamika hubungan antar pemangku kepentingan (Pemerintah


MasyarakatMasyarakat-Dunia UsahaUsaha-DPRD):

Perencanaan pembangunan DKI Jakarta diupayakan dengan


melibatkan semua pemangku kepentingan baik untuk perencanaan
jangka panjang, menengah maupun jangka pendek atau tahunan.
Perencanaan tahunan dilaksanakan melalui pendekatan
perencanaan secara bottom up dan top-down. Proses
perencanaan bottom-up dilalui
dengan
menjaring aspirasi
Suatu kota dipandang
masyarakat untuk
berhasil maju dan pembangunan melalui Rembug
berkembang jika memiliki Rukun Warga (RW) dan
Musyawarah Perencanaan
aktivitas perekonomian Pembangunan (Musrenbang)
yang tinggi, yang didukung yang dilaksanakan bertahap
mulai dari Kelurahan hingga
dengan pembangunan Provinsi. Sementara itu,
infrastruktur dan sarana proses perencanaan top-down
ditempuh melalui penyusunan
pendukung yang dapat kegiatan-kegiatan prioritas
memfasilitasi mobilitas Pemerintah DKI Jakarta yang
merupakan komitmen
penduduknya. pembangunan jangka
menengah untuk mencapai visi
jangka panjang yang dicita-citakan.
Mengingat peran APBD dalam pembangunan di DKI Jakarta hanya
kurang dari 10 %, maka penciptaan iklim usaha yang kondusif
menjadi prioritas untuk dapat mengoptimalkan peran dunia usaha
dalam pembangunan termasuk penerapan skema Public Private
Partnership. Namun demikian usaha ini masih menghadapi
hambatan baik terkait perizinan maupun peraturan.

TRP: Bagaimana dengan kemungkinan kota-kota lain di Indonesia akan


mengikuti jejak Kota Jakarta?
SH: Selama ini Jakarta telah menjadi barometer pembangunan bagi
perkembangan kotakota-kota di Indonesia.
Suatu kota dipandang berhasil maju dan berkembang jika memiliki
aktivitas perekonomian yang tinggi, yang didukung dengan
pembangunan infrastruktur dan sarana pendukung yang dapat
memfasilitasi mobilitas penduduknya. Beranjak dari fakta tersebut, tidak
dapat dipungkiri bahwa Jakarta, pun dengan segala permasalahannya,
masih dipandang sebagai salah satu kota paling maju di Indonesia, yang

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

menjanjikan masa depan yang cerah bagi banyak orang, dengan


banyaknya inovasi dan penerapan teknologi terdepan. Karena itu
sangat besar kemungkinan kota-kota lain di Indonesia mengikuti
jejak kota Jakarta. Dalam mengikuti jejak kota Jakarta perlu secara
cerdik mengambil pelajaran dari pembangunan di Jakarta agar tidak
mengulangi kesalahan yang sama. Di sisi lain Jakarta sendiri sering
belajar dari kota lain di Indonesia untuk dapat terus meningkatkan
kinerjanya.

TRP: Apa saja pelajaran berharga yang kiranya dapat dipetik dari
Jakarta bagi kota-kota lain, khususnya kota metropolitan?
SH: Menilik permasalahan-permasalahan yang dihadapi Kota
Jakarta, terdapat beberapa pelajaran berharga yang dapat dipetik,
antara lain:

Pengembangan
angkutan umum masal
adalah suatu keharusan
bagi sebuah kota yang
berpenduduk diatas 1
(satu) juta jiwa.
Sebaiknya pemerintah
mengambil langkah
sedini mungkin untuk
membangun angkutan
massal yang
terintegrasi.

1. Sangat penting bagi suatu


kota untuk memiliki
Masterplan yang disusun
dengan komprehensif,
visioner, berlandaskan data
yang akurat, fleksibel
terhadap perkembangan yang
terjadi di lapangan, serta
berkekuatan hukum.
Masterplan yang dimaksud
dapat berupa Rencana Tata
Ruang Wilayah, Rencana
Pembangunan Jangka
Panjang, dan masterplan
sektoral lainnya yang
dipandang strategis.
Masterplan tersebut harus
memuat secara cukup detail
target pembangunan, tahapan pembangunan, sumber
pendanaan dan instansi pelaksana sehingga rencana tersebut
mudah untuk diimplementasikan secara konsisten dan disiplin.

2. Namun, perlu diingat pula bahwa RTRW yang ada saat ini
penekanan perencanaannya hanya melingkupi 2 (dua) dimensi,
yaitu darat dan wilayah perairan. Padahal di udara dan dalam
bumi juga terdapat ruang publik yang perlu pengaturan jelas.
Contohnya papan reklame yang menyangkut ruang udara
masih memerlukan pengaturan yang jelas dalam RTRW. Saat ini
tengah disusun rancangan Perda untuk pengaturan ruang di
bawah tanah & di atas tanah, kerjasama dengan Prof. Arie
Hutagalung dan Ibu Maharani (BPN). Akan tetapi, seharusnya
perlu ada PP yang merinci UU 26/2007 sebagai dasar
penyusunan Perda tersebut.
3. Pengaturan ruang di bawah tanah & di atas tanah akan sangat
terkait dengan aspek pertanahan. Status kepemilikan lahan
harus jelas, terutama dalam rangka menerapkan e-goverment.
Harusnya sistem administrasi pertanahan yang baik dibangun
oleh BPN. Ketidakjelasan status kepemilikan lahan
menyebabkan berlarut-larutnya pembangunan, salah satunya
pada kanal banjir timur. Prosesnya yang sampai ke pengadilan,
melalui mekanisme konsinyasi memakan waktu yang lama dan
membuang energi. Terkait dengan UU Pengadaan Tanah yang
baru, sebenarnya seluruh Provinsi pernah menyatakan tidak
setuju dengan pengadaan tanah yang diserahkan ke BPN,
karena akan semakin mempersulit daerah dalam pengadaan
tanah.
4. Pembangunan kota hendaknya tidak semata-mata berpusat
pada pesatnya pembangunan fisik dan infrastruktur kota,

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

karena hal tersebut ternyata tidak secara otomatis menjadikan kota


nyaman untuk ditinggali antara lain karena kualitas lingkungan
menjadi menurun. Seharusnya land use dan infrastruktur dapat nge
-blend atau membaur dengan dimulai dari pembangunan
infrastruktur, hingga kemudian dapat diisi oleh penggunaan lain,
sehingga kemudian dapat terbangun suatu kota yang compact, tidak
seperti sekarang yang sudah terlanjur terpencar-pencar/scattered.
Sekarang ini pola perkembangan pembangunan di Jakarta masih
sangat bebas, sehingga menjadi tidak compact dan sulit untuk diatur
dan dikontrol. Rencana Tata Ruang Wilayah seharusnya
diimplementasikan secara bertahap dengan didahului/
dikonsentrasikan pada beberapa kawasan tertentu terlebih dahulu
kemudian menyusul ke kawasan lainnya.
5. Terkait dengan masalah
banyaknya mall, memang
seharusnya mall harusnya
diatur dalam distribusi/
penyebaran lokasinya.
6. Pengembangan angkutan
umum masal adalah suatu
keharusan bagi sebuah
kota yang berpenduduk
diatas 1 (satu) juta jiwa.
Sebaiknya pemerintah mengambil langkah sedini mungkin untuk
membangun angkutan massal yang terintegrasi. Sebab apabila tidak
cepat diantisipasi, akan lebih sulit untuk mengatasi masalah
transportasi yang telah terjadi. Jakarta sebenarnya sudah terlambat
dalam mengantisipasi masalah penyediaan angkutan umum massal
ini, sehingga saat ini lebih sulit untuk melaksanakannya. Seperti juga
halnya yang dialami Bali yang sudah terlanjur macet, akan lebih sulit
untuk membangun angkutan umum massal.
7. Untuk membangun suatu kota dengan sistem transportasi yang baik
tersebut, dibutuhkan dana yang luar biasa besar. Disamping itu,
diperlukan Pemerintah Kota yang cerdas, sehingga infrastruktur bisa
turut dibiayai oleh kalangan yang menikmati infrastruktur tersebut,
misalnya developer. Terkait dengan pendanaan ini, sebenarnya
daerah bisa melakukannya melalui BUMD. Saat ini DKI Jakarta sudah
berencana membangun 6 ruas jalan tol tanpa dana pemerintah,
melalui public private partnership, diantaranya dengan skema BOT
(Built Operate Transfer). Dalam upaya mengatasi harga lahan yang
mahal di Jakarta, dibuat jalan layang. Untuk itu Pemda membuat
regulasi-regulasi untuk mendukung upaya tersebut.
8. Untuk rencana jangka panjang, Pemerintah DKI Jakarta memang
ingin menciptakan water front city, karena selain diperoleh nilai
tambah dari reklamasi untuk meningkatkan kualitas pantai, juga
dapat diterapkan pemberlakuan kewajiban penyediaan segmen
pantai tertentu yang dapat akses publik. Pengaturan mengenai
reklamasi pantai ini telah dirumuskan dalam bentuk Peraturan
Gubernur, yang rencananya akan diterbitkan dalam 1-2 hari ini.
Pengaturan tersebut bisa menjadi contoh/pembelajaran penerapan
reklamasi bagi daerah lain.
9. Mengenai gugatan terhadap akses publik terhadap pantai utara
Jakarta, memang banyak stakeholders yang mengelola pantai utara
Jakarta. Jakarta sebenarnya terlambat untuk mengatur, sehingga
kondisinya sudah terkavling-kavling dan hanya tinggal sedikit yang
tersisa di kawasan timur. Selain itu, disamping telah terkavling,
kualitas lingkungannya juga tidak terjaga. Hal ini terjadi karena sikap
egois dari tiap pengelola tersebut, sehingga tidak memperhatikan
lingkungannya. Namun, 10 tahun terakhir ini kualitas lingkungannya
yang tidak terjaga di pantai utara Jakarta tersebut memang sudah

direspon antara lain dengan pengerukan sungai, peningkatan


jalan, dan rencana reklamasi di utara Jakarta.
10. Diperlukan komitmen politik bersama antara pihak eksekutif dan
legislatif sehingga rencana-rencana yang telah disusun benarbenar dapat diimplementasikan. Pembangunan kota hendaknya
berkeadilan karena bila masyarakat miskin sulit mengakses fasilitas
kota, akan menimbulkan kesenjangan sosial yang tajam. Selain itu,
sustainable development harus menjadi acuan penyelenggaraan
pembangunan, sehingga keberlanjutan kota, baik dari segi
lingkungan, ekonomi, dan sosial dapat terpelihara.
11. Jangan mengenyampingkan peran serta masyarakat, karena bagi
kota metropolitan yang heterogen seperti Jakarta, peran serta
masyarakat seyogyanya dapat dikelola dengan cermat dan baik.
Selain untuk mendapatkan masukan bagi pemerintah dalam
menjalankan program-pogram pembangunan, juga menumbuhkan
sense of belonging dari masyarakat sehingga program-program
pembangunan dapat senantiasa didukung dan dipelihara oleh
masyarakat.
12. Pentingnya kerjasama dan komitmen antara Pemerintah Kota dan
dan kota lain yang berbatasan serta dengan Pemerintah Pusat,
karena sangat banyak kebijakan dan pengambilan keputusan yang
hanya dapat terselenggara apabila telah tercapai kesepakatan
antara pihak-pihak tersebut.

TRP: Apa saja pengaruh signifikan dari penerapan desentralisasi sejak


tahun 1999 terhadap pembangunan Jakarta, terutama dalam konteks
eksternal (misal: berkurangnya laju urbanisasi ke Jakarta)?
SH: Pengaruh desentralisasi baru mulai dirasakan dengan indikasi
menurunnya urbanisasi ke Jakarta sejak 2004 karena perkembangan
pembangunan daerah yang mulai meningkat, kota tujuan urbanisasi
saat ini sudah semakin beragam, tidak hanya ke Jakarta. Berdasarkan
sensus penduduk tahun 2010 tercatat migrasi risen yang masuk ke
DKI Jakarta sekitar 7,3%, sedangkan yang keluar dari DKI Jakarta
sekitar 10,2% yang berarti migrasi netto -2,9%. Laju pertumbuhan
penduduk pada periode 2000-2010 tercatat 1,42% untuk DKI Jakarta,
3,67% untuk kawasan Bodetabek dan tertinggi laju pertumbuhan
penduduk di Kabupaten Bekasi sebesar 4,69% yang diikuti oleh Kota
Depok sebesar 4,3%.
Relatif tingginya pertumbuhan penduduk di wilayah Bodetabek
mendorong terjadinya peningkatan jumlah komuter yang melakukan
perjalanan ke Jakarta karena aktivitas ekonomi mereka tetap
berlangsung di Jakarta. Jika MP3EI berhasil, harusnya urbanisasi bisa
ditekan. Desentralisasi memang ada dampaknya, namun yang terjadi
adalah migran masuk tinggal di sekitar (Bodetabek), dan tetap saja
bekerja di Jakarta. Seharusnya mereka bisa bekerja di Bodetabek
juga, sehingga Jakarta tidak terlalu crowded.

TRP: Bagaimana dengan pandangan mengenai wacana pemindahan


pusat pemerintahan ke luar Jakarta?
SH: Saat ini DKI Jakarta sebagai ibu kota NKRI telah dilengkapi
dengan berbagai fasilitas yang meliputi :
a. Fasilitas istana dan lembaga eksekutif
b. Fasilitas legislatif, kantor dan perumahan
c. Fasilitas yudikatif, kantor dan perumahan
d. Fasilitas keamanan, kepolisian dan angkatan bersenjata
e. Fasilitas Bank Sentral dan perbankan utama
f. Fasilitas Information and Communication Technology (ICT)
g. Fasilitas penelitian dan perpustakaan
Isu pemindahan ibu kota pernah diwacanakan dengan tiga skenario.
Pertama,
Pertama ibu kota tetap di Jakarta, dengan mengoptimalkan
infrastruktur untuk menata, membenahi, dan memperbaiki beberapa
persoalan Jakarta, seperti kemacetan, urbanisasi, degradasi
lingkungan, kemiskinan urban, banjir, dan tata ruang wilayah. Kedua,
Kedua
ibu kota Negara tetap diletakkan di Jakarta karena faktor historis,
sedangkan pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi baru. Ketiga,
ibu kota dan pusat pemerintahan dipindahkan dari Jakarta,
sedangkan Jakarta hanya dijadikan sebagai pusat bisnis.
Wacana pemindahan pusat
pemerintahan ke luar Jakarta,
dipandang sangat mahal dan
menguras anggaran Negara,
namun hasilnya belum tentu
efektif dalam menyelesaikan
masalah kesenjangan wilayah
maupun perkembangan Kota
Jakarta. Hal ini mendorong
pemikiran bahwa isunya bukan
memindahkan ibu kota,
melainkan mendorong
penyeimbangan aktifitas sosial
ekonomi nasional yang saat ini
terlalu menumpuk (over
concentrated) di Jakarta dan di Kawasan Bodetabek, yang
berdampak pada disparitas (kesenjangan) pembangunan wilayah
dan pada gilirannya menjadi problem bagi pembangunan dan
management Kota Jakarta itu sendiri. Untuk mendorong laju
perekonomian secara berimbang di seluruh wilayah Indonesia telah
dirumuskan MP3EI sebagai landasan percepatan pembangunan
ekonomi menurut koridor masing-masing.

isunya bukan
memindahkan ibu kota,
melainkan mendorong
penyeimbangan aktifitas
sosial ekonomi nasional
yang saat ini terlalu
menumpuk (over
concentrated) di Jakarta
dan di Kawasan
Bodetabek

Apapun pilihan skenarionya, sesungguhnya Pemerintah Provinsi DKI


Jakarta bersama-sama dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah
daerah sekitar DKI Jakarta tetap harus menyelesaikan isu strategis
seperti kemacetan, banjir, urbanisasi, kemiskinan, kesehatan dan
pendidikan.
Di akhir wawancara, dituturkan oleh Ibu Yani, begitu panggilan Ir.
Sarwo Handhayani, M.Si, bahwa Kerja adalah amanah. Tuntutan
pekerjaan memang ada kalanya menyebabkan waktu untuk keluarga
menjadi tersita. Namun, semuanya dijalani dengan ikhlas, sehingga
lebih ringan menjalaninya. [rt/kr/yd]

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

opini
Meninjau Tata Ruang Kota Jakarta: Aspek Transportasi dan
Pengendalian Banjir
Dr. Ir. Bianpoen
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur, FDTP- UPH Karawaci; pernah bekerja sebagai Staf Ahli untuk Tata
Kota, DKI Jakarta; dan Wakil Kepala, Pusat Penelitian Masalah Perkotaan dan Lingkungan, DKI Jakarta

ntuk mengetahui tata ruang Jakarta lebih tertata atau tidak,


tergantung pada kriterianya, dan itu tidak ada. Sebagai
indikator dapat dipakai; indikator fisik, yaitu sistem alam (air
tawar, air laut, air tanah, air sungai, udara, tanah, rawa-rawa, dll.). Di
samping itu juga ada indikator sosial-ekonomi, yang meliputi
kesenjangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, interaksi antar
masyarakat, kebersamaan, solidaritas, kerukunan , kesejahteraan,
dan sebagainya. Akan tetapi, yang lebih penting adalah mengenai ada
atau tidak adanya moral dari para penyusun tata ruang tersebut.
Beberapa contoh nyata

... tantangan Jakarta dan mengenai kondisi penataan


semua kota-kota lain ruang di Kota Jakarta adalah
masalah penataan kawasan

Kelapa Gading seperti yang kita kenal sekarang. Hal yang lebih
menyedihkan adalah para penegak hukum di negara ini juga seperti
membiarkan di kondisi tersebut. Melihat kondisi demikian, maka istilah
Negara kita adalah negara hukum tampaknya lebih tepat jika
diganti dengan istilah Negara kita adalah negara bebas hukum.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa yang menjadi penting bukan
mengenai ada atau tidak ada-nya tata ruang, melainkan mengenai
ada atau tidak adanya moral. Dengan kondisi moral kita sekarang,
maka tidak mengherankan jika terjadi perubahan dari rawa-rawa
menjadi permukiman atau industri, dari daerah pesisir menjadi
permukiman dan rekreasi, dan seterusnya. Maka, bisa dikatakan
bahwa tantangan Jakarta dan semua kota-kota lain adalah moral dan
pengetahuan tentang ekologi berkelanjutan.

adalah moral dan permukiman serta masalah


ruang terbuka. Ruang kota

pengetahuan tentang seharusnya dapat dinikmati


ekologi berkelanjutan oleh semua strata masyarakat,

dari yang terkaya sampai


dengan yang termiskin. Hal ini berarti di dalam tata ruang kota harus
sudah ditentukan lokasi-lokasi permukiman bagi yang miskin. Namun,
hal tersebut sekarang diabaikan, bahkan mereka digusur dan diusir
dari Kota Jakarta. Ini berarti Pemerintah Daerah/ Pemerintah Nasional
tidak menjalankan 2 (dua) Undang-Undang, yaitu UUD 45, Ps. 34 dan
UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM).
Berbicara mengenai kemacetan, kemacetan Jakarta seharusnya
diatasi dengan membangun sistem transportasi masal (Mass Rapid
Transportation). Pelebaran dan pembangunan jalan-jalan yang lebar
dan melayang justru memicu peningkatan jumlah mobil dan
kemacetan. Transportasi umum dengan sistem MRT yang semestinya
dibangun. Urbanisasi tidak akan berpengaruh banyak jika sistem
transportasi umumnya sudah baik.

Selanjutnya, salah satu contoh mengenai masalah ruang terbuka


adalah mengenai Kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Kawasan TimurUtara dari Kawasan Kelapa Gading semula merupakan daerah rawa
dan sawah. Kondisi tersebut dinyatakan dalam RUTR/RTRW DKI yang
berlaku sampai dengan Tahun 2025. Peraturan Pemerintah No. 27
Tahun 1991 tentang Rawa, menentukan bahwa rawa-rawa perlu
dijaga kelestariannya. Akan tetapi, ironisnya sebuah keputusan
Menteri di Tahun 1993 menyatakan bahwa rawa dapat dipakai untuk
pembangunan fisik. Akibat hal tersebut, maka jadilah perumahan di
8

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

Masalah banjir Jakarta seharusnya diatasi dengan rehabilitasi hutan di


Bogor-Puncak dengan membongkar semua vila-vila dan real-estate di
tempat-tempat yang semula merupakan kawasan hutan. Mengenai
Banjir Kanal Timur, memang dapat saja mengatasi banjir, tetapi
terbatas hanya untuk kawasan di sekitar kanal tersebut saja.
Selanjutnya, terkait wacana Giant Sea Wall, perlu dianalisis lebih
mendalam, apa yang akan terjadi apabila semua air kotor dari 13
sungai masuk ke teluk Jakarta?.
Secara singkat, pembelajaran yang saya rekomendasikan adalah
untuk mengatasi masalah kemacetan perlu dibangun sistem MRT, dan
untuk mengatasi masalah banjir perlu dilakukan dengan rehabilitasi
kawasan hutan. Upaya-upaya tersebut hendaknya dilandaskan
dengan moral rendah hati dan pemahaman ilmu ekologi serta
memprioritaskan yang miskin, termasuk mereka yang ada di bantaran
sungai. Rekomendasi ini, berlaku juga untuk semua kota di Indonesia.

dalam berita
Pada Tahun 2012 , berita media cetak tentang tata ruang dan pertanahan banyak diwarnai dengan berita mengenai rencana tata ruang,
diantaranya isu Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta dan jalan bebas hambatan di Surabaya. Sementar itu di sektor pertanahan banyak
memberitakan tentang Undang-Undang (UU) Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, karena dengan UU ini dinilai nantinya
pemerintah bisa mencabut hak atas tanah rakyat. Berikut ringkasan beberapa berita tentang tata ruang dan pertanahan serta lingkungan.
Juni 2012
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menghentikan bantuan
pendanaan pembangunan Ruang Terbuka Hijau Kamboja, karena
Pemerintah Kota Banjarmasin tidak konsisten menjalankan
Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Demikian dikemukakan Pakar Tata Ruang Kota Banjarmasin Bachtiar
di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (15/6). Bachtiar
yang menjadi salah seorang penyusun RTRW Kota Banjarmasin juga
mengaku kecewa dengan berubah-berubahnya program
pembangunan dan tidak mengacu pada Perda Tata Ruang. (Media

Indonesia/15/062012)
Konflik agraria terbesar berpotensi pecah di Provinsi Riau. Sebab,
selama 12 tahun sejak 1998 hingga kini Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Provinsi Riau tidak kunjung disahkan.
Ditambah lagi kenyataan banyak kepala daerah dan pejabat dari
tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Riau yang terjerat kasus
hukum korupsi perizinan lahan.
"Riau itu daerah sangat rentan terjadi konflik besar agraria. Di sini
banyak izin perkebunan, kehutanan, dan pertambangan yang tidak
pernah ditinjau ulang oleh pemerintah daerah. Tidak pernah jelas di
mana batas lahan perusahaan. Kata Pengamat Sosial Politik Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Riau Hasanuddin di
Pekanbaru, Jumat.(Media Indonesia/15/062012)
Agustus 2012
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
Bagi Kepentingan Umum dinilai tidak menguntungkan masyarakat.
Karena, aturan tersebut telah membuat masyarakat kehilangan lahan
penghasilan untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi sehari-hari.
Menurut Kurnia Warman, dosen Hukum Agraria Fakultas Hukum
Universitas Andalas, Padang, harus ada keseimbangan antara hukum
dan kepentingan masyarakat terkait tanah. "Hak rakyat harus dijamin
kepastiannya agar tidak menjadi korban kesewenang-wenangan
pemerintah dalam pembangunan," ujar Kurnia. (Tempo.co,
3/08/2012)
Permasalahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta ternyata masih
belum menemukan solusi pasti, meski kini tengah dibahas Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi oleh eksekutif dan
legislatif.
Saat ini, luas RTH publik Jakarta
baru mencapai 9,8 persen yang
berarti masih kurang 10,2 persen
mengingat untuk target RTH privat
ditargetkan sebesar 10 persen
dari jumlah total 30 persen RTH.
Terhitung sejak 2000-2011,
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
hanya mampu menambah RTH publik sebesar 0,8 persen saja.
(Kompas, 29/08/ 2012)

Pemerhati politik dan kebijakan publik Andrinof Chaniago


mengungkapkan secara implisit UU No 2 Tahun 2012 tentang
Pembebasan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum (UU
Pengadaan Tanah) berpihak pada investor.
Andrinof juga menyampaikan
kelemahan mendasar pada UU
Pengadaan tanah, hak warga
negara untuk menentukan
mana jenis pembangunan
untuk kepentingan umum
dihilangkan. "Proyek
pembangunan itu harus untuk
masyarakat, bukan dengan tujuan mencari keuntungan. Karena itu, UU
ini harus direvisi," ucapnya.
Sedangkan, pihak pemerintah yang diwakili Deputi II Bidang Hak Tanah
dan Pendaftaran Tanah BPN Gede Ariyuda mengatakan UU Pengadaan
Tanah dilakukan pemerintah dan dananya berasal dari pemerintah.
(Media Indonesia, 02/08/ 2012)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Perpres nomor
71 tahun tahun 2012. Perpres ini mengatur tata cara pengadaan
tanah untuk kepentingan umum mulai dari tahap perencanaan,
persiapan, pelaksanaan hingga tahap penyerahan hasil. Seluruh
tahapan ini harus diselesaikan dalam waktu maksimal 583 hari.
Dalam perpres itu disebutkan, setiap instansi yang memerlukan tanah
bagi pembangunan untuk kepentingan umum diharuskan untuk
menyusun dokumen perencanaan pengadaan tanah. Dokumen
tersebut antara lain memuat tujuan rencana pembangunan,
kesesuaian dengan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW), gambaran
umum status tanah, dan perkiraan nilai tanah. Dokumen tersebut lalu
diserahkn kepada gubernur di wilayah tanah tersebut berlokasi.
(Republika, 03/11/ 2011)
September 2012
Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, hendak membongkar
sejumlah bangunan untuk penataan kawasan koridor Jalan Sudirman.
"Pembongkaran itu terkait dengan rencana Pemkot Surakarta untuk
menata kawasan koridor Sudirman," kata Kepala Dinas Tata Ruang
Kota Surakarta Ahyani di Solo.(Media Indonesia, 04/09/2012)
Jalur bebas hambatan yang selama menjadi polemik dalam
pembahasan RTRW Kota Surabaya karena dinilai tidak sesuai dengan
akselerasi pembangunan kota dan melewati kawasan kabupaten lain
yakni Aloha (Sidoarjo)-Wonokromo-Tanjung Perak, diusulkan diubah
jadi Menanggal-Wonokromo-Tanjung Perak.
"Pertemuan antara Pemkot, DPRD Surabaya dengan BKPRN (Badan
Koordinasi Penataan Ruang Nasional) dan kementerian terkait di
Jakarta sudah ada perkembangan yang baik," kata Ketua DPRD
Surabaya Wishnu Wardhana. (Media Indonesia, 15/09/2012)

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

artikel
Tantangan Pengadaan Permukiman Murah
di Perkotaan
Dr. Ir. Oswar Muadzin Mungkasa, MURP
Staf Kementerian PPN/Bappenas, pernah bekerja di Kementerian Perumahan Rakyat 2010-2012

rumit. Kecepatan dan skala perubahan kota dari negara berkembang


menghasilkan tantangan yang tak terbayangkan. Diantaranya resiko
terhadap lingkungan dan sumber daya alam, kondisi kesehatan,
kekerabatan sosial, dan hak individual.

ejak beberapa dekade terakhir, terjadi perkembangan


penduduk dunia yang demikian pesat. Tercatat populasi
penduduk dunia saat ini telah mencapai 6,5 miliar jiwa. Jumlah
tersebut akan terus bertambah sehingga pada tahun 2050
diperkirakan mencapai angka 9 miliar. Hal yang menarik bahwa
perkembangan penduduk perkotaan ternyata juga meningkat sangat
tajam. Pada tahun 2008, batas psikologis 50 persen proporsi
penduduk perkotaan telah terlampaui (PBB, 2008).

Pertambahan penduduk perkotaan yang demikian cepat berdampak


pada peningkatan kebutuhan ruang kota yang tidak dapat terpenuhi
oleh karena keterbatasan tanah, yang berakibat pada meningkatnya
harga tanah dan rumah sehingga tidak terjangkau oleh penduduk
kota khususnya golongan menengah ke bawah. Selain itu, tingkat
kenyamanan kota juga memburuk dengan terjadinya kemacetan,
polusi, termasuk meningkatnya tingkat kejahatan. Kondisi ini
mendorong terjadinya perpindahan penduduk ke arah pinggiran
kota, yang dikenal dengan sebutan urban sprawl. Perubahan ini
biasanya berlangsung cepat dan tidak terencana sehingga
berdampak negatif pada proses perkembangan kota.

Tingkat urbanisasi dalam 10


tahun terakhir dan jumlah kota
dengan jumlah penduduk di
atas 1 juta jiwa menunjukkan
perkembangan yang signifikan.
Pada masa awal abad XX,
hanya 16 kota di dunia dengan
jumlah penduduk lebih besar
dari 1 juta jiwa. Saat ini, hampir
400 kota dengan ukuran
tersebut, dan sekitar 70 persen
diantaranya di negara
berkembang (Lihat Tabel 1).
Pada tahun 2007, untuk
pertama kali dalam sejarah
umat manusia, lebih banyak
penduduk yang bertempat
tinggal di daerah perkotaan
dibanding perdesaan.
Diperkirakan pada tahun 2017, karakter perkotaan akan dominan di
negara berkembang (United Nations, 2004). Meskipun demikian,
seiring pertumbuhan kota, mengelola kota menjadi berubah semakin

Compact city didefinisikan


sebagai suatu
pendekatan perencanaan
kota yang didasarkan
pada pengembangan
secara intensif dalam
kawasan perkotaan
eksisting atau pada kota
dengan kepadatan yang
relatif tinggi, dengan
membatasi
pertumbuhannya
(Cowan, 2004 dalam
Kustiwan, 2006)

Menyadari terjadinya fenomena urban sprawl dengan berbagai


dampak negatifnya, para ahli perkotaan kemudian memperkenalkan
model compact city. Compact city didefinisikan sebagai suatu
pendekatan perencanaan kota yang didasarkan pada pengembangan
secara intensif dalam kawasan perkotaan eksisting atau pada kota
dengan kepadatan yang relatif tinggi, dengan membatasi
pertumbuhannya (Cowan, 2004 dalam Kustiwan, 2006). Sehingga
singkatnya compact city adalah kepadatan tinggi, penggunaan
campuran, dengan batas yang jelas (Jenk et al, 1996). Model
compact city dinilai sebagai bentuk perkotaan yang paling
berkelanjutan, karena paling sesuai dengan prinsip anti-sprawl
(Kustiwan, 2006).
Isu utama dari timbulnya fenomena urban sprawl dan penerapan
model compact city adalah penyediaan rumah bagi penduduk
perkotaan. Mencermati fenomena urban sprawl yang juga terjadi di

Tabel 1
Perbandingan Jumlah dan Proporsi Penduduk Perkotaan Negara Maju dan Negara Berkembang Tahun 1950, 2000 dan Perkiraan Tahun 2030
Absolut (juta jiwa)
Wilayah

1950

2000

Proporsi (%)
2030

1950

2000

2030

Penduduk Total
Dunia

2.519

6.071

8.130

100

100

100

Negara maju

813

1.194

1.242

32,3

19,7

15,3

Negara Berkembang

280

4.877

6.888

67,7

80,3

84,7

Dunia

733

2.857

4.945

100

100

100

Negara maju

427

882

1.015

58,3

30,9

20,5

Negara Berkembang

306

1.974

3.930

41,7

69,1

79,5

Perkotaan

Catatan:
- Negara maju terdiri dari Eropa, Amerika Utara, Australia/Selandia Baru, dan Jepang
- Negara berkembang terdiri dari Afrika, Asia (selain Jepang), Amerika Latin, dan Karibia
Sumber: Diolah dari Cohen Barney, 2006.

10

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

kota besar Indonesia, khususnya Jakarta, menjadi menarik untuk


mencoba memaparkan tantangan penyediaan perumahan yang
dihadapi Jakarta melalui penerapan compact city dalam mengatasi
fenomena urban sprawl. Tentu saja tulisan ini tidak berpretensi
membahas secara paripurna, tetapi lebih fokus pada menyajikan
pemikiran awal dan langkah strategis yang perlu dilakukan
khususnya oleh pemerintah daerah.
Fenomena Urban Sprawl
Jika diterjemahkan secara harafiah, urban sprawl dapat diartikan
sebagai perkembangan (secara acak) perkotaan ke arah suburban
(pinggiran kota). Urban sprawl merupakan fenomena perkembangan
kota yang terjadi tanpa terencana yang mengakibatkan pertambahan
luas kota secara fisik ke arah suburban (pinggiran kota). Penyebab
utama urban sprawl adalah pertambahan jumlah penduduk yang
sedemikian besar baik dari proses alamiah maupun urbanisasi, yang
disertai meningkatnya kebutuhan tanah, sementara
ketersediaan tanah di dalam kota tetap dan terbatas. Akibatnya
kebutuhan ruang tidak dapat tertampung lagi di tengah kota, yang
berdampak pada harga tanah menjadi tidak terjangkau lagi. Sebagai
akibatnya penduduk memilih berpindah dan berlokasi di daerah
suburban.

Penyebab. Faktor yang mendorong terjadinya proses perembetan


kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (urban sprawl) antara lain
dipengaruhi oleh gerak sentrifugal. Gerak sentrifugal ini mendorong
gerak keluar dari penduduk dan relokasi usahanya. Terdapat
beberapa hal yang mendorong gerak sentrifugal (Yunus, 2006) yaitu
(i) adanya gangguan yang berulang seperti macetnya lalu lintas,
polusi dan gangguan bunyi menjadikan penduduk kota merasa tak
nyaman bertempat tinggal dan bekerja di kota; (ii) kebutuhan ruang
bagi kegiatan industri modern di kota tidak dapat lagi terpenuhi.
Gedung-gedung bertingkat di tengah kota tak mungkin lagi diperluas,
ini berlaku juga untuk perindustrian, kecuali dengan biaya yang
sangat tinggi; (iii) meningkatnya sewa lahan dan biaya perawatan
bangunan; (iv) tingkat kenyamanan bermukim yang semakin rendah.
Perumahan di dalam kota pada umumnya serba sempit, kumuh dan
tak sehat; (v) meningkatnya kesejahteraan sehingga memungkinkan
setiap keluarga memiliki kendaraan bermotor dan ditunjang
kemudahan sumber pembiayaan bagi pemilikan kendaraan bermotor.
Meningkatnya kesejahteraan juga berdampak pada timbulnya
keinginan secara naluri untuk menghuni wilayah di luar kota yang
lebih alami.
Ditengarai selain faktor pendorong, terdapat juga faktor penarik
terjadinya urban sprawl berupa insentif dan kemudahan yang
tersedia di suburban, yaitu (i) murahnya harga tanah dan biaya
lainnya di daerah suburban; (ii) meningkatnya investasi infrastruktur
dan fasilitas dasar di daerah suburban; (iii) kondisi kehidupan yang
lebih tenang di suburban; (iv) tarif pajak yang lebih rendah di
suburban.

Dampak. Awalnya urban sprawl dipertimbangkan sebagai hal yang


baik, yang terjadi di seluruh dunia. Sebagai contoh di Amerika, kota
yang mengalami gejala urban sprawl disepadankan dengan
pencapaian mimpi besar bangsa Amerika berupa ketersediaan rumah
tapak berhalaman luas dengan seluruh kelengkapan fasilitasnya.
Namun kemudian kondisi ini berakibat (i) membesarnya dana yang
dibutuhkan pemerintah untuk menyediakan kebutuhan infrastruktur
dan fasilitas dasar, yang berdampak pada kecenderungan
meningkatnya pajak. Beberapa pihak bahkan menengarai hal ini
menjadikan investasi infrastruktur tidak efisien dan tidak efektif; (ii)
meningkatnya ketergantungan pada moda kendaraan bermotor yang

berdampak pada meningkatnya polusi udara, efisiensi energi yang


rendah dan menurunnya tingkat kesehatan; (iii) berkurangnya luasan
lahan pertanian produktif yang berdampak pada menurunnya produksi
produk pertanian; (iv) luasan daerah terbuka menjadi berkurang yang
berdampak pada meningkatnya volume air limpasan dan menurunnya
ketersediaan air tanah; (v) jarak antara rumah relatif jauh yang
berdampak pada menurunnya kedekatan sosial diantara penduduk
(Devira, 2008).

Tipe dan Karakteristik. Menurut Gillhan (2002), terdapat 4 (empat)


karakteristik urban sprawl yaitu pembangunan yang menyebar/
melompat, pembangunan kawasan komersial yang memanjang,
kepadatan rendah, dan penggunaan tunggal. Sementara dari sisi
karakter penyebarannya, terdapat 3 (tiga) macam tipe urban sprawl
(Hidajat, 2004), yaitu:
a. Perembetan Konsentris (Centric Development)
Pada tipe ini, perembetan terjadi
mengikuti bagian luar daerah
terbangun sehingga akhirnya
terjadi secara merata di hampir
seluruh bagian luar daerah
terbangun. Akibatnya,
penambahan daerah baru terlihat
menyatu dengan daerah
terbangun yang lama. Peranan
infrastruktur transportasi terhadap tipe ini tidak signifikan, dan
perembetannya pun berlangsung lambat.
b. Perembetan Memanjang (Ribbon Development)
Perembetan yang terjadi terlihat
tidak merata, tetapi cenderung
berkembang lebih cepat pada
sepanjang koridor transportasi
sehingga terlihat memanjang
sepanjang koridor.
Kecenderungan ini yang
menjadikan perembetan ini juga
disebut sebagai perkembangan pita (ribbon development).
c. Perembetan Melompat (Leap Frog Development)
Sebenarnya istilah perembetan
kurang tepat dilekatkan pada tipe
ini. Pertumbuhan daerah
terbangunnya terjadi secara
sporadis tanpa pola yang jelas,
sehingga dianggap paling tidak
efisien.

Compact City: Alternatif Model Pengembangan Kota Kontra Urban Sprawl


Istilah compact city pertama kali diperkenalkan oleh ahli matematika
George Dantzig dan Thomas L. Saaty pada tahun 1973, yang
berkeinginan mengefisienkan pemanfaatan sumber daya. Penerapan
model compact city merupakan respons terhadap berkembangnya
fenomena urban sprawl yang dianggap merugikan perkembangan
sebuah kota secara keseluruhan.

Definisi. Terdapat beragam definisi compact city, diantaranya yang relatif


lengkap dikemukakan oleh J. Arbury yaitu sebuah model pengembangan
kota yang terfokus pada intensifikasi perkotaan, menetapkan batas
pertumbuhan kota, mendorong pengembangan campuran (mixed use)
dan mengedepankan peran angkutan umum dan kualitas desain

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

11

perkotaan. Sementara Burton (2000) menjelaskannya sebagai kota


dengan dimensi kepadatan yang tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa compact city adalah suatu konsep
perencanaan kota terfokus kepada kepadatan hunian yang relatif tinggi
pada guna lahan campuran, lebih mengandalkan sistem transportasi
umum yang efisien, termasuk aktivitas pejalan kaki dan bersepeda
sehingga penggunaan kendaraan bermotor pribadi berkurang
intensitasnya, penggunaan energi menurun rendah dan polusi
berkurang.

Penerapan model
compact city mempunyai
potensi untuk
mengurangi ecological
foot print terutama yang
disebabkan oleh kegiatan
fungsional perkotaan
seperti tingginya
ketergantungan terhadap
kendaraan bermotor
yang berujung pada
polusi.

Konsep compact city relatif


menyerupai kondisi kota-kota
kecil tradisional dengan
intensitas penggunaan sepeda
atau berjalan kaki masih tinggi.
Perbedaan utamanya adalah
pada tingkat kepadatan
penduduknya.

Karakteristik. Pada dasarnya,


model compact city bukan

sesuatu yang benar-benar


baru, tetapi merupakan tipikal
bentuk kota lama di Eropa yang
mempunyai prinsip (i)
menekankan kota dan lansekap;
(ii) menambahkan
pembangunan pada daerah
eksisting; (iii) mengombinasikan fungsi yang ada; (iv) menyebarkan
fasilitas untuk mengurangi bangkitan lalu-lintas; (v) kepadatan tinggi;
(vi) menekankan transportasi publik. Bentuknya seringkali
diindikasikan dalam 5 D yaitu dencity (kepadatan), divercity
(keragaman), design (Cervero dan Kockelman, 1997) dan destination
(tujuan), dan distance (jarak) (Lee, 2007).
Sebagai sebuah tanggapan terhadap fenomena urban sprawl, secara
umum dapat disarikan beberapa perbedaan antara urban sprawl
dengan model compact city, (Tabel 2) setidaknya berdasarkan 12
aspek yaitu kepadatan, pola pertumbuhan, guna lahan, skala, layanan
komunitas, tipe komunitas, transportasi, disain jalan, disain bangunan,
ruang publik, biaya pembangunan, proses perencanaan (Roychansyah,
2006).

kekhawatiran menurunnya kualitas hidup karena tingginya kepadatan


dalam kota; (ii) tergusurnya penduduk berpendapatan rendah; (iii)
peningkatan pergerakan vertikal seperti lift, eskalator yang tidak hemat
energi; (iv) peningkatan suhu yang ditimbulkan keberadaan gedung
tinggi (Roychansyah, 2006).

Prinsip dan Pendekatan.


Pendekatan Menurut Jenks (2000), pendekatan compact
city adalah (i) meningkatkan kawasan terbangun dan kepadatan
penduduk permukiman, (ii) mengintensifkan aktifitas ekonomi, sosial
budaya perkotaan; (iii) memanipulasi ukuran kota, bentuk dan struktur
perkotaan serta sistem permukiman dalam rangka mencapai manfaat
keberlanjutan lingkungan, sosial, dan global, yang diperoleh dari
pemusatan fungsi perkotaan. Sementara Roychansah (2005)
menyebutkan 6 (enam) faktor penting sebagai atribut compact city
yaitu pemadatan populasi, pengonsentrasian kegiatan, intensifikasi
transportasi publik, ukuran optimal kota, kesejahteraan social-ekonomi
dan proses menuju kota kompak.
Di Amerika, model ini lebih dikenal sebagai Smart Growth dengan 10
prinsip dasarnya yaitu (i) guna lahan campuran; (ii) memanfaatkan
Tabel 2
Perbandingan Fenomena Urban Sprawl dan Model Compact City
Aspek

Kritik. Model compact city tidak terlepas dari kritikan, diantaranya (i)
membatasi ketersediaan tanah untuk pembangunan, sehingga
berpotensi menaikkan harga tanah; (ii) membatasi pilihan menjadi
hanya rumah vertikal saja; (iii) menafikan pembangunan di daerah
perdesaan dengan pertimbangan menjaga kualitas lingkungan; (iv)
dapat menyebabkan pembangunan bersifat sporadik di perdesaan
(leap frog development) (Arigoni, 2001). Selain itu juga (i) timbulnya

12

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

ModelCompact City
Anti--Sprawl Development)
(Anti

Kepadatan

Rendah

Pola pertumbuhan

Pembangunan pada periphery Pembangunan pada ruang-ruang


dan ruang hijau kota, melebar sisa/antara, kompak (compact)

Guna lahan

Homogen, terpisah-pisah

Skala

Skala besar (bangunan yang Skala manusia, kaya dengan detil,


lebih besar, blok, jalan lebar), artikulasi bagi pejalan kaki
kurang detil, artikulasi bagi
pengendara mobil

Layanan komunitas

Shopping mall, perjalanan


mobil, jauh, sukar untuk
ditemukan

Tinggi

Mixed, cenderung menyatu

Main street, jalan kaki, semua


fasilitas mudah ditemukan

Tipe komunitas

Perbedaan rendah, hubungan Perbedaan tinggi dengan hubungan


antaranggota lemah,
yang erat, karakter komunitas tetap
hilangnya ciri komunitas
terpelihara

Transportasi

Transportasi yang
berorientasi pada kendaraan
pribadi, kurang penghargaan
pada pejalan kaki, sepeda,
dan transportasi publik

Transportasi multi-sarana,
penghargaan pada pejalan kaki,
sepeda, dan transportasi publik

Disain jalan

Jalan didisain untuk


memaksimalkan volume
kendaraan dan kecepatannya
(collector roads, cul de sac)

Jalan didisain untuk mengakomodasi


berbagai macam kegiatan (traffic
calming, grid streets)

Disain bangunan

Bangunan jauh terletak/ditarik Bangunan sangat dekat dengan


ke belakang (set back),
jalan, tipe tempat tinggal beragam
rumah tunggal yang terpencar

Ruang publik

Perujudan kepentingan
pribadi (yards, shopping

Perujudan kepentingan publik


(streetscapes, pedestrian

malls, gated communities,


private clubs)

environment, public park and


facilities)

Manfaat. Penerapan model compact city mempunyai potensi untuk


mengurangi ecological foot print terutama yang disebabkan oleh
kegiatan fungsional perkotaan seperti tingginya ketergantungan
terhadap kendaraan bermotor yang berujung pada polusi. Menurut
Burton (2001), manfaat lainnya adalah pengurangan konsumsi energi
(fasilitas terjangkau dengan jalan kaki), pelayanan transportasi lebih
baik, peningkatan aksesibilitas secara keseluruhan, regenerasi
kawasan perkotaan dan vitalitas perkotaan, kualitas hidup yang lebih
tinggi, preservasi ruang terbuka hijau. Oleh Jenks (2000), bentuk kota
yang kompak mampu mengurangi jarak tempuh perjalanan sehingga
menurunkan tingkat mobilitas penduduk. Tingkat kepadatan tinggi juga
memberi keuntungan dalam penyediaan layanan dasar, transportasi
umum, pengelolaan sampah, pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Fenomena Urban Sprawl

Biaya
pembangunan

Biaya yang tinggi bagi


Biaya yang rendah bagi
pembangunan baru dan biaya pembangunan baru dan biaya
layanan publik rutin
layanan publik rutin

Proses
perencanaan

Kurang terencana, hubungan


pelaku pembangunan dan
aturan lemah

Dikutip dari Roychansyah (2006)

Terencana dan hubungan pelaku


pembangunan dan aturan baik
(community based)

kelebihan desain bangunan mampat (compact building); (iii)


menciptakan beragam pilihan jenis rumah berdasar tipe rumah
tangga, ukuran keluarga dan pendapatan; (iv) menciptakan
lingkungan terjangkau berjalan kaki (walkable); (v) mendorong dan
memelihara komunitas khas dan menarik; (vi) menjaga ruang
terbuka, lahan pertanian, bangunan bersejarah, daerah kritis; (vii)
melakukan investasi kembali dan memperkuat komunitas eksisting
dan mencapai pembangunan wilayah yang lebih seimbang; (viii)
menyediakan beragam pilihan sarana transportasi; (ix) menyusun
keputusan pembangunan yang dapat diperkirakan, adil, dan berhasil
guna; (x) mendorong keterlibatan masyarakat dan pemangku
kepentingan dalam pengambilan keputusan pembangunan.
Belajar dari Mancanegara
Gagasan model compact city mendapat banyak tanggapan dari
perencana kota khusunya di negara Eropa, Amerika Serikat, Australia
dan Jepang. Negara berkembang khususnya Asia baru memulai
mengadopsidalam satu dekade terakhir, yaitu kota Dhaka, Delhi,
Bangkok, Teheran, Kairo, Cape Town, Hongkong, Taiwan (Jenks dan
Burges, 2000).
Di Inggris, strategi ini dikenali
Pada tahun 2010, dengan nama Urban Renaissance
(pembangunan kembali kota),
penduduk Indonesia yang didasari oleh fenomena
yang tinggal di depopulasi kota-kota Inggris.
perkotaan telah Dalam penerapannya,
memanfaatkan pendekatan
mencapai 118 juta atau komunitas (local community
sebesar 49,8% dari based program), sehingga
penduduk tertarik kembali ke
seluruh penduduk kota. Sementara di Jepang,
Indonesia program sejenis diberi label
urban redevelopment, dengan
fokus pada pembangunan kembali pusat kota. Pendekatan di Inggris
yang bersifat skala nasional, berbeda dengan penerapan di kota
Jepang yang beragam bentuknya. Keragamannya mulai dari
konsentrasi pada pembangunan sekitar stasiun di pusat kota, atau
lebih mengarahkan pada pembangunan di seputar jalur transportasi
umum (Transit Oriented Development/TOD). Pada kota menengah
dan besar, pembangunan rumah vertikal diprioritaskan di pusat kota
dan kawasan lama yang direvitalisasi atau di bangun kembali.
Pelibatan masyarakat dalam perencanaan berbasis komunitas
diaktifkan sebagai upaya memperoleh dukungan publik
(Roychansyah, 2006).
Perumahan: Komponen Utama Strategi Compact City

Pentingnya Perumahan. Perumahan merupakan hak dasar bahkan


hak asasi manusia. Hal ini telah secara jelas tercantum dalam UUD
1945 khususnya Pasal 28H Ayat (1) bahwa: Setiap orang berhak
hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal,
tinggal dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat, berhak memperoleh
pelayanan kesehatan. Konsep yang ada dalam UUD 1945 Pasal 28H
tersebut sebenarnya telah tercantum dalam Pasal 40 UU Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang memang lebih dulu
dibuat (satu tahun sebelum amandemen Pasal 28 dilakukan), yang
menyatakan setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta
berkehidupan yang layak. Bahkan sejalan dengan perkembangan
dunia internasional, pemerintah Indonesia telah meratifikasi kovenan
internasional tentang hak ekonomi, sosial, budaya melalui UU Nomor
11 Tahun 2005 sehingga negara harus memenuhi hak masyarakat
termasuk kebutuhan akan perumahan.

Indikator Pemenuhan Hak. Komite Hak Ekonomi Sosial Budaya


memberikan penjelasan terhadap ketentuan Pasal 11 CESCR tentang
apa yang dimaksud adequate housing. Dalam rangka menjamin
pemenuhan hak atas rumah setidak-tidaknya dapat diukur
menggunakan 6 (enam) indikator yaitu (1) sifat kepemilikan haknya
(security of tenure), (2) ketersediaan pelayanannya (availability of
services), (3) keterjangkauan daya beli masyarakatnya (affordability),
(4) kelayakan sebagai tempat tinggal (habitability), (5) adanya
peluang bagi setiap orang (accessibility), serta (6) kesiapan lokasi
dan daya dukung budaya (location and cultural adequacy).

Perumahan dan Model Compact City. Dari berbagai elemen yang


membentuk kota, termasuk suburban dan pusat kota, perumahan
merupakan yang paling kompleks. Perumahan membentuk pola
transportasi, merupakan barang konsumsi, pembentuk utama daerah
terbangun, dan penentu interaksi sosial. Sementara model compact
city memperlebar pilihan ketersediaan tipe dan lokasi perumahan.
Kegiatan peningkatan kepadatan penduduk melalui revitalisasi, dan
pembangunan kembali kawasan terabaikan akan berdampak pada
peningkatan nilai perumahan yang menguntungkan bagi penghuni
lama. Pengembangan kawasan perumahan terpadu, akan
mendekatkan rumah dengan tempat kerja dan fasilitas umum.
Kondisi Indonesia

Pertumbuhan kota dan Gejala Urban Sprawl. Pertumbuhan penduduk


perkotaan yang demikian pesat juga berlangsung di Indonesia. Pada
tahun 2010, penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan telah
mencapai 118 juta atau sebesar 49,8% dari seluruh penduduk
Indonesia. Angka tersebut cukup fantastis, dengan membandingkan
kondisi tahun 1950 yang hanya sekitar 12,4% penduduk yang tinggal
di perkotaan. Hanya dalam waktu 60 tahun separuh penduduk
Indonesia telah bertempat tinggal di wilayah perkotaan.
Gejala pertumbuhan penduduk perkotaan tersebut kemudian diikuti
dengan pertumbuhan pesat kawasan pinggiran kota yang dikenal
sebagai proses suburbanisasi. Proses ini teramati berujung pada
perluasan fisik kawasan perkotaan secara acak/terpencar (urban
sprawl). Beberapa hasil studi menunjukkan fenomena urban sprawl
telah terjadi di seluruh kota besar Indonesia.

Fenomena Urban Sprawl Jakarta.


Jakarta Ekspansi kota Jakarta melalui
pemanfaatan dan penggunaan lahan menyebabkan densifikasi
permukiman yang semakin besar serta populasi penduduk yang
semakin tinggi di daerah peri-urban Jakarta. Hal ini diindikasikan
dengan pertumbuhan penduduk kota yang paling dramatis terjadi
pada periode 1980-1990 dengan laju pertumbuhan 2,4 persen,
sedangkan kota-kota besar sekitarnya sebesar 2,7 persen. Namun
kemudian pada periode berikutnya, yaitu 1990-2000, terjadi
penurunan drastis dari 2,4 persen menjadi 1,3 persen (Devira, 2008).
Penurunan penduduk kota tersebut adalah konsekuensi dari bentuk
pencarian atas pelayanan sosial dan ekonomi serta penghidupan yang
lebih baik, yang selanjutnya didukung dengan kemudahan aksesibilitas
melalui pembangunan infrastruktur jalan. Hal ini semakin memperluas
urbanisasi ke daerah peri-urban kota Jakarta (Zulkaidi dkk, 2007).
Arah perkembangan lahan perkotaan terlihat sangat pesat di
sepanjang jalan tol. Perkembangan paling pesat terlihat ke arah Timur
pada sepanjang koridor Jakarta-Bekasi, kemudian ke arah Barat pada
sepanjang koridor Jakarta-Tangerang, dan paling rendah ke arah
Selatan pada sepanjang koridor Jakarta-Bogor (Hidajat, 2004).

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

13

Penerapan Compact City di Jakarta: Mungkinkah?


Penerapan model compact city pada kota-kota Indonesia termasuk
Jakarta masih memerlukan kajian yang lebih mendasar (Kurniawan,
2007). Banyak persyaratan yang harus dipenuhi dalam menerapkan
model compact city, khususnya bagi kota metropolitan. Selain itu,
penerapan model compact city bersifat unik, sehingga konsep
detailnya akan berbeda antara satu kota dengan kota yang lain.
Secara teoritis, penerapan model compact city di Jakarta menghadapi
tantangan yang tidak sedikit, diantaranya yaitu (i) penerapan tata
guna lahan campuran (mixed use) sebagai salah satu karakteristik
compact city dipandang hanya tepat dilaksanakan bagi kota kecil dan
menengah yang berpenduduk kurang dari 1 juta jiwa; (ii) tidak
tersedia luasan tanah yang cukup memadai untuk meningkatkan
kepadatan bangunan di dalam kota, selain dibutuhkan biaya yang
juga cukup besar; (iii) sistem transportasi publik yang jauh dari
memadai (kuantitas dan kualitas); (iv) pusat kegiatan yang cenderung
terkonsentrasi, sehingga dibutuhkan upaya mengembangkan pusat
kegiatan skala kecil (dapat dijangkau dengan berjalan kaki); (v)
pengembangan perumahan vertikal secara masif; (vi) adanya good
will dari pemerintah daerah untuk menjadikan model compact city
sebagai strategi pembangunan perkotaan yang dituangkan dalam
regulasi dan rencana tata ruang.

Strategi Pembangunan Perumahan. Seandainya disepakati penerapan


model compact city di Jakarta, diusulkan beberapa strategi terkait
pembangunan perumahan yang perlu disiapkan, diantaranya:
(i) Advokasi dan sosialisasi. Langkah awal yang perlu dilakukan
adalah melakukan advokasi ke pengambil keputusan (eksekutif
maupun legislatif) dan sosialisasi ke masyarakat tentang konsep
compact city. Keterlibatan masyarakat menjadi suatu
keniscayaan. Diharapkan dengan demikian perubahan ini
mendapat dukungan dari pemangku kepentingan;
(ii) Revisi terhadap Rencana Tata Ruang. Penerapan model compact
city perlu dituangkan dalam rencana tata ruang yang ada. Untuk
itu, dibutuhkan revisi terhadap Rencana Tata Ruang tersebut.
Perubahan ini cukup rumit mengingat Rencana Tata Ruang telah
ditetapkan melalui peraturan daerah. Perubahan rencana tata
ruang menjadi krusial karena perubahan bersifat mendasar
menyangkut perubahan guna lahan menjadi guna lahan
campuran (mixed-use), penyebaran pusat-pusat kegiatan,
peningkatan kepadatan penduduk yang diperbolehkan,
perubahan sistem transportasi yang lebih mengutamakan
transportasi publik, dan penambahan ruang terbuka. Perubahan
rencana tata ruang sekaligus juga menunjukkan komitmen
pemerintah terhadap penerapan model compact city.

14

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

(iii) pemetaan potensi dan kapasitas kawasan terbangun untuk


perumahan. Perubahan konsep perumahan menjadi bersifat
vertikal secara signifikan menambah daya tampung kawasan
perumahan. Penambahan ini bisa berasal dari lahan kosong,
kawasan terabaikan (abandoned area) yang berpotensi di
revitalisasi atau di bangun kembali (renewal) maupun kawasan
kumuh. Langkah ini menjadi pintu masuk penanganan kawasan
kumuh, sekaligus memotret potensi konsolidasi lahan dan
penyiapan skema penyediaan rumah bagi masyarakat
berpendapatan rendah;
(iv) penyiapan regulasi terkait
sebagai langkah pendukung bagi
pembangunan perumahan
vertikal termasuk penyiapan
insentif dan disinsentif bagi
pengembang, dan masyarakat.
Regulasi yang disiapkan dapat
berupa kemudahan dalam
proses perijinan, pemberian
fasilitas bebas pajak, ataupun
pengaturan bentuk kerjasama.
Pembangunan perumahan
vertikal dimungkinkan melalui
kerjasama baik antara
pemerintah dengan pihak
swasta, pemerintah dengan
masyarakat, maupun pihak
swasta dan masyarakat.
Kerjasama dengan swasta dapat
berupa penyiapan perumahan
bagi buruh pabrik, sementara itu
dengan institusi pendidikan dapat berupa penyediaan asrama
bagi mahasiswa. Hal penting yang juga perlu disepakati adalah
proporsi kepemilikan perumahan vertikal antara milik sendiri, dan
sewa. Pemerintah dapat menyiapkan insentif kepada
pengembang yang membangun perumahan terpadu sesuai
prinsip compact city.

Perubahan konsep
perumahan menjadi
bersifat vertikal secara
signifikan menambah
daya tampung kawasan
perumahan.
Penambahan ini bisa
berasal dari lahan
kosong, kawasan
terabaikan (abandoned
area) yang berpotensi di
revitalisasi atau di
bangun kembali
(renewal)

(v) penyiapan skema pembiayaan perumahan khususnya terkait


masyarakat berpendapatan rendah. Saat ini pemerintah telah
menyediakan Kredit Pemilikan Rumah/KPR melalui skema
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang
memungkinkan masyarakat berpendapatan rendah dan
menengah memperoleh KPR dengan bunga satu digit, jumlah
cicilan tetap selama 15 tahun dan uang muka dibawah 10
persen. Skema ini perlu direvisi disesuaikan dengan model
compact city. Sekaligus sebagai bagian dari upaya memenuhi
ketetapan dalam Undang Undang Nomor 20 Tahun 2011
tentang Rumah Susun, yang menetapkan sebesar 20 persen dari
total unit diperuntukkan bagi masyarakat berpendapatan rendah.
Dengan demikian, tersedianya sumber pembiayaan seperti
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) akan dapat
melindungi masyarakat berpendapatan rendah agar tidak
tergusur ke daerah pinggiran kota. Disamping juga,
keberagaman komunitas perumahan dapat tetap terjaga. (OM)

agenda
Juni 2012

Oktober 2012

Konsinyering Penyiapan Substansi Rapat Triwulanan BKPRN dan

Launching & Sosialisasi Permendagri No. 67/2012


Rakor Pembahasan Konsep Perpres tentang Moratorium alih

Pemantapan Sekretariat BKPRN.

Finalisasi Penyelesaian Status Tanah KEK Sei Mangkei dan RTRW


Kab. Simalungun.

Konsultasi Daerah dalam rangka Penyusunan Perencanaan


Nasional lahan rawa berkelanjutan di Banjarmasin

Menghadiri Rakor Pembahasan Mekanisme Holding Zone.


Kick Off Meeting Pembahasan Pedoman KLHS dalam PPN

Fungsi Lahan Sawah ke Non sawah.

Kunjungan Kerja dg Director of Vietnam Land Administration


Project.
Menghadiri Rapat Regional BKPRD yang diadakan Kemendagri
di Makassar

Menghadiri Rapat Kerja Daerah BKPRD di Provinsi Riau

Juli 2012

November 2012

Abstract for oral presentation on the 11th IRSA International


Cenference Organization Committee di Banjarmasin
Konsinyering Pembahasan Mekanisme dan Tata Kerja BKPRN di

Turut serta acara karnaval dalam rangka memperingati


HARITARU 2012 di TMII - Jakarta

Bali.

Diskusi Upaya Penyelesaian Perda RTRW Untuk Kabupaten di


Wilayah Sumatera Bagian Utara di Batam.

Tahukah Anda???

Ekspose Hasil Penelitian Terpadu atas Usulan Perubahan Kawasan


Hutan dalam Usulan Revisi RTRWP Kalimantan Barat

Pembahasan Blue Print Kebijakan Pertanahan Nasional


Agustus 2012

Menghadiri Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan


Pembangunan PLTU Batang

Menghadiri Rakor BKPRN Tingkat Eselon I


Menghadiri Workshop I Finalisasi Panduan KLHS
Diskusi Terfokus Kegiatan "Kajian Aspek SDA & Ekonomi dlm
Rangka Peninjauan Kembali RTRWN.

Menghadiri Diskusi Implementasi Perwujudan Perpres No.13


Tahun 2012 tentang RTR Pulau Sumatera

Diskusi Developing National Strategy to Strengthen Human


Resources Skill In Climate Change
September 2012

Menghadiri Rapat Kerja Kedeputian Pengembangan Regional dan


Otonomi Daerah di Cianjur.

Tinjauan Lapangan Rencana Pembangunan BIP (Bali International


Park) di Bali
Narasumber pada Lokakarya Peningkatan Kompetensi BKPRD
Papua dan Kab/Kota se Provinsi Papua

Menghadiri FGD Benchmarking Pembangunan Strategi Perkotaan


Nasional

Jenis-jenis pelayanan pertanahan yang dilaksanakan oleh BPN


meliputi:
a. Pendaftaran Tanah Pertama Kali, yang meliputi: Konversi,
Pengakuan dan Penegasan Hak; Pemberian Hak (Hak Milik,
Hak Guna Bangunan; Hak Pakai; Hak Pengelolaan Instansi
Pemerintah/Pemerintah Daerah/BUMN/BUMD); Wakaf dari
Tanah Belum Bersertipikat (Konversi, Pengakuan dan
Penegasan Hak); Wakaf dari Tanah Negara (Pemberian
Hak Tanah Wakaf); P3MB/Prk.5; Pendaftaran Hak Milik Atas
Satuan Rumah Susun; Pemberian Hak Guna Usaha;
b. Pemeliharaan Data Pendaftaran Tanah, yang meliputi:
Peralihan Hak Atas Tanah dan Satuan Rumah Susun; Ganti
Nama Sertipikat Hak Atas Tanah dan Hak Milik Atas Rumah
Susun; Perpanjangan Jangka Waktu Hak Guna Usaha;
Perpanjangan Jangka Waktu Hak Guna Bangunan/Hak
Pakai; Perpanjangan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun;
Pembaruan Hak Guna Bangunan/Hak Pakai dan Pemberian
Hak Guna Bangunan/Hak Pakai di atas Hak Pengelolaan
c. Pencatatan dan Informasi Pertanahan;
d. Pengukuran Bidang Tanah;
e. Pengaturan dan Penataan Pertanahan; dan
f. Pengelolaan Pengaduan.

Temu Konsultasi Triwulanan III Tahun 2012 Bappenas - Bappeda


se-Indonesia.

(sumber: PP No.13 tahun 2010)

Narasumber: Desimenasi Peran Kelembagaan & Percepatan


Penyelesaian Perda RTRW di Gorontalo.

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

15

melihat dari dekat


Jakarta City Planning Gallery

akarta City Planning Gallery merupakan galeri yang berisi

informasi rencana kota, pada masa lalu, masa kini, dan masa
datang yang disajikan dalam bentuk maket, panel-panel
informasi, dan multimedia yang diprakarsai dan dikelola oleh Dinas
Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta di bawah tanggung jawab Bidang
Peran serta Masyarakat dan Evaluasi Rencana Kota, Seksi
Penyuluhan. Pembangunan Jakarta City Planning Gallery terinspirasi
dari galeri tata ruang kota di negara China, Vietnam, dan Singapura.
Galeri ini diresmikan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta pada tanggal
29 Januari 2010 dan dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan
warga kota Jakarta pada khususnya dan masyarakat luas pada
umumnya akan informasi mengenai rencana kota. Maket merupakan
media utama untuk penyampaian informasi perencanaan tata ruang,
baik secara makro maupun mikro dengan skala 1:750 berukuran 6m
x 10.8m atau seluas 64.8 m.
Dalam maket tersaji gambaran
Maket merupakan kawasan bisnis utama (CBD)
media utama untuk DKI Jakarta, yaitu kawasan Jalan
M.H. Thamrin, Jalan Sudirman,
penyampaian informasi Jalan Gatot Subroto, dan
perencanaan tata ruang kawasan di sekitar Monas,
Tanah Abang, dan Senayan.
. Selain memperlihatkan
bangunan yang telah ada dan
rencana bangunan pada masa datang, juga ditampilkan jalur
busway, rencana jalur Mass Rapid Transit (MRT), rencana jalur
monorel, jalur kereta api (termasuk rencana jalur kereta api ke
bandara), rencana jalan layang Kampung Melayu-Tanah Abang,
Kanal Banjir Barat, dan rencana infrastruktur lainnya.
Kawasan yang direpresentasikan melalui maket mencakup 20 % dari
luas wilayah Provinsi DKI Jakarta. Rencananya Dinas Tata Ruang
Provinsi DKI Jakarta akan terus melengkapinya secara bertahap dan
mengantisipasi keterbatasan
tempat yang dimiliki,
kemungkinan besar galeri ini
akan dipindahkan ke Monas.
Penyampaian informasi
mengenai tata ruang juga
dilakukan melalui panel
informasi, multimedia, dan
meja diskusi. Terdapat tujuh
panel informasi di Jakarta
City Planning Gallery yang terdiri (i) sejarah perencanaan kota
Jakarta sejak Abad ke-5 hingga perencanaan Abad ke-21; (ii)
Rencana Induk Kota (RIK) 1965-1985; (iii) sejarah Rencana Umum
Tata Ruang (RUTR) 1985-2005; (iv) Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Provinsi DKI Jakarta 2010; (v) draf RTRW Jakarta 2030; (vi)
rencana MRT; (vii) hasil sayembara desain stasiun Transit Oriented
Development (TOD) Dukuh Atas.

Jakarta City Planning Gallery dilengkapi dengan multimedia dua


projector pada layar utama di atas maket utama yang menyajikan
penjelasan mengenai: Jakarta City Planning Gallery, kawasan-kawasan

16

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

pada maket utama, dan beberapa referensi dalam bentuk e-book,


diantaranya Jakarta Today, Jejak Jakarta, Batavia, RIK (Rencana Induk
Kota) 1965-1985, RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) 1985-2005,
dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) 2010.
Terdapat empat multimedia quad screen (4 TV LCD) yang memberi
pelayanan mengenai Dinas Tata Ruang, perencanaan dan
perancangan, pelayanan, dan peta rencana peruntukan, baik dalam
bentuk peta Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah (RRTRW) Kecamatan
skala 1:5000, maupun lembar Rencana Kota skala 1:1000. Galeri juga
menayangkan film Perjalanan Jakarta Menuju Kota Dunia dan
Kompilasi Animasi Panduan Rancang Kota (Urban Development Guided
Land/ UDGL) beberapa kawasan strategis melalui dua multimedia
single screen.
Pengunjung terbanyak berasal dari kalangan mahasiswa/i dari
berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Informasi yang diperoleh
semakin lengkap, dengan keberadaan perpustakaan yang berisi bukubuku Perencanaan Kota dan Arsitektural, serta ruang diskusi yang bisa
menampung hingga 100 orang. Pengunjung dapat berinteraksi
langsung dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Informasi mengenai
tata ruang dapat dilihat langsung melalui 6 buah komputer yang
memiliki akses langsung ke internet dan dapat digunakan secara
bebas oleh pengunjung, terutama untuk mengakses website Dinas
Tata Ruang (http://www.tatakota-jakartaku.net) serta mempelajari cara
melihat rencana kota secara detil di internet.

Seluruh fasilitas ini dapat dinikmati di Gedung Dinas Teknis DKI Jakarta,
di Jalan Abdul Muis 66 lantai 3, Tanah Abang-Jakarta Pusat,
beroperasi pada hari Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB, terbuka
untuk umum tanpa dipungut biaya. Melalui wahana Jakarta City
Planning Gallery diharapkan peran serta masyarakat akan semakin
nyata dalam proses perencanaan tata ruang kota Jakarta secara
keseluruhan. Selain juga dapat memberi pembelajaran dan inspirasi
bagi stakeholders pembangunan kota, termasuk pemerintah kota-kota
lain di Indonesia. [ri]

Rumah Singgah

akarta merupakan salah satu kota terbesar di Asia Tenggara


dengan jumlah penduduk hampir mencapai 10 juta jiwa. Wilayah
metropolitan yang selanjutnya disebut Jabodetabek termasuk lima
besar metropolitan di dunia yang berpenduduk lebih dari 27 juta jiwa.
Perkembangan yang pesat juga berpengaruh ke wilayah sekitarnya
dan mengakibatkan terjadinya fenomena Conurbation antara Jakarta
dengan Tangerang, Bekasi, Depok, dll. Menyatunya Jakarta dengan
kota-kota di sekitarnya melahirkan keuntungan ekonomi yang sangat
besar dalam konteks pengembangan wilayah, akan tetapi di sisi lain
diikuti oleh persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas,
kawasan kumuh, kemacetan, degradasi lingkungan, dan juga maraknya
anak jalanan.

Perkembangan kota-kota
besar yang identik dengan
pembangunan pusat-pusat
perekonomian kerap diiringi
dengan munculnya sejumlah
permasalahan sosial jalanan.
Di Jakarta tercatat jumlah anak
jalanan 1305 jiwa pada tahun
2008 yang terbagi atas
kategori On the Street (anak-anak yang menghabiskan seluruh atau
sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau
ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya), Off the
Street (anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang
masih memiliki hubungan dengan keluarga), dan Vulnerable (anakanak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal
dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan).
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 secara tegas menyatakan
bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara,
disamping itu juga telah ada Undang-Undang No. 4 tahun 1979
tentang Kesejahteraan Anak. Namun, implementasi peraturan
perundangan tersebut belum mampu menyelesaikan permasalahan
krusial ini. Hingga saat ini
Rumah singgah pemerintah DKI Jakarta belum
merupakan perantara memiliki kebijakan yang cukup
eksplisit dalam menangani
antara anak jalanan masalah anak jalanan. Pada
dengan pihak-pihak tahun 2010 jumlah anak jalanan
yang menjadi binaan Kementerian
yang membantu mereka Sosial (Kemensos) sebanyak
empat persen dari 160 ribu anak
jalanan. Rencananya setiap tahunnya Kemensos akan membina 50
ribu anak jalanan hingga 2014 di Indonesia. Lembaga-lembaga non
pemerintah juga bermunculan untuk menangani permasalahan anak
jalanan, diantaranya dengan menyediakan rumah singgah.
Rumah singgah merupakan perantara antara anak jalanan dengan
pihak-pihak yang membantu mereka. Tujuan rumah singgah adalah
membantu anak jalanan dalam mengatasi masalah-masalahnya dan
menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dalam
rumah singgah anak jalanan mendapatkan layanan pemahaman sistem
nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, dengan harapan dapat
menata kembali sikap dan perilaku anak jalanan.

Rumah singgah akan mengupayakan anak-anak jalanan kembali ke


rumahnya jika memungkinkan atau ke panti dan lembaga pengganti
lainnya jika diperlukan. Pada tahun 2010 terdapat 27 rumah singgah
di DKI Jakarta dengan persebaran seperti dalam tabel dibawah.
Daftar Rumah Singgah di DKI Jakarta Tahun 2010
Wilayah
1. Jakarta Timur

2. Jakarta Utara

3. Jakarta Pusat

4. Jakarta Selatan

5. Jakarta Barat

Nama Rumah Singgah


1. RS Sahabat Kita
2. RS Sekam
3. RS Swara
4. RS Puspita
5. RS Kurnia
6. RS Putra Bangsa
7. RS Balarenik
1. RS Sekar
2. RS Kurnia
3. RS Yay.Darul Fikri
4. RS Tjoet Nyak Dhin
5. RS Dewi
1. RS Dian Mitra
2. RS Pelita
3. RS Kesuma Jaya
4. RS Gema Nusantara
5. RS YKPIM
1. RS Dilts
2. RS Annur Muhiyam
3. RS Tjiliwoeng
4. RS Bina Anak Pertiwi
1. RS Uswatun Hasanah
2. RS Al Muhlis
3. RS Nurul Iman
4. RS Bina Nusantara
5. RS Al Mujahidin
6. RS Al Abror

Sumber: Forum Komunikasi Pengelola Rumah Singgah Se-DKI Jakarta, 2010.

Sebagai salah satu gambaran, terdapat rumah singgah dengan luas


bangunan 120m yang menampung 55 anak. Kegiatan yang dilakukan
meliputi kegiatan belajar mengajar yang dimulai pada pukul 14.0017.00 WIB (Senin-Minggu). Pekerja di rumah singgah terdiri atas 5
tenaga tetap dan 3
sukarelawan yang turut
membantu dalam mengajar.
Dana operasional rumah
singgah berasal dari para
donatur atau sukarelawan
seperti pengusaha. Anakanak yang dibina rumah
singgah tersebut berusia 8
sampai 14 tahun, yang
terbanyak berusia 9 tahun.

Acara buka bersama setelah kegiatan belajar

Anak-anak tersebut pada umumnya masih memiki orang tua, yang


bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pemulung sampah
jalanan dan orang tua anak rumah singgah tersebut umumnya
berdomisili di Jakarta. Penanganan anak jalanan tidak semata
merupakan kewajiban Dinas atau Kementerian Sosial, karena kait
mengkait dengan ketersediaan kesempatan kerja, keterjangkauan
biaya pendidikan, dan bahkan pengurangan disparitas pembangunan,
terutama antara perkotaan dan pedesaan. [ri]

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

17

koordinasi trp
Rakerda BKPRD
Untuk memperkuat BKPRD, BKPRN menyelenggarakan forum BKPRD yang dilaksanakan pada tanggal 28-29 Juni 2012 di Solo, Jawa Tengah. Forum
ini diselenggarakan sebagai persiapan Raker BKPRD pada awal bulan November 2012 di Pekanbaru, Riau dan mengundang seluruh Bappeda provinsi
di Indonesia. Isu strategis dan rekomendasi yang dihasilkan dalam forum BKRPD di Solo adalah sebagai berikut:
ISU STRATEGIS

REKOMENDASI

Fungsi koordinasi Bappeda


dalam penataan ruang daerah

1.
2.
3.
4.

Penyesuaian eselonisasi Bappeda dalam struktur BKPRD


Pembagian peran sesuai dengan tupoksi dinas
Pelibatan SKPD dalam pengendalian pemanfaatan ruang
Penguatan fungsi pokja-pokja BKPRD

Penguatan peran Bappeda


sebagai sekretaris BKPRD

1.
2.
3.
4.

Peningkatan kapasitas aparatur penyelenggara penataan ruang


Penyelenggaraan rapat BKPRD minimal 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan
Permumusan Standard Operating Procedure (SOP)/Tata Kerja bagi pelaksanaan kegiatan BKPRD
Perumusan Peraturan Kepala Daerah untuk memperkuat sekretaris BKPRD

Peningkatan sumber
pendanaan untuk koordinasi
BKPRD

1.
2.

Formulasi dana dekonsentrasi dari pemerintah pusat untuk penguatan kelembagaan BKPRD
Kemitraan yang bersumber dari APBD Provinsi dan Kab/Kota maupun APBN Pusat (dekonsentrasi)

Perumusan SOP bagi


pelaksanaan kegiatan BKPRD
(termasuk penyusunan agenda
kerja BKPRD)

1.
2.
3.
4.
5.

Pelaksanaan rapat ketika ditemui permasalahan penataan ruang


Perumusan sistem pelaporan dalam pelaksanaan tugas BKPRD
Perumusan prosedur pemberian rekomendasi dan surat menyurat
Evaluasi RTRW Kabupaten/Kota dan pemberian rekomendasi Gubernur yang disiapkan oleh BKPRD Provinsi
Penyusunan mekanisme yang mengatur batasan waktu pembahasan raperda RTRW dengan DPRD

Belum semua kabupaten/kota


membentuk BKPRD

Perlunya pengenaan sanksi bagi Kabupaten/Kota yang tidak membentuk BKPRD, karena sampai dengan saat ini
memang belum ada pelaksanaan evaluasi/pemberian sanksi oleh Provinsi bagi Kabupaten/Kota yang belum
membentuk BKPRD.

Penyediaan sistem informasi


BKPRD perlu menyusun agenda untuk membangun sistem informasi yang lebih optimal dan mudah diakses oleh
dan komunikasi penataan ruang masyarakat guna mendukung peran masyarakat dalam penataan ruang.
oleh pemerintah daerah
[as/cr]

Penataan Ruang Ekosistem Terpadu Rimba


Sebagai sekretaris Kelompok Kerja 3 BKPRN, TRP bertugas
mengawal pelaksanaan kegiatan Balancing Spatial Planning,

Sustainable Biomass Production and Conservation (Balancing Spatial


Planning SBPC). Pendanaan kegiatan berasal dari dana hibah
Pemerintah Jerman melalui skema dari masyarakat untuk
masyarakat, bukan skema kerjasama bilateral antar negara.
Pemerintah Jerman sudah menunjuk WWF Jerman sebagai pelaksana
di tiga negara dengan keanekaragaman hayati tinggi: Brazil,
Kolombia dan Indonesia. Di Indonesia, kegiatan dilaksanakan oleh
WWF Indonesia. Pemerintah Jerman secara khusus meminta bantuan
Pemerintah Indonesia melalui Bappenas untuk memantau dan
mengevaluasi pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan ini sendiri dilatarbelakangi oleh Regulasi Uni Eropa yang
mewajibkan Negara-negara Uni Eropa untuk menggunakan sumber
energi terbarukan sekurang-kurangnya 20 persen dari total

18

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

penggunaan sumber energi. Sementara sektor perkebunan Eropa


sendiri tidak mampu mencukupi kebutuhan tersebut. Dengan kondisi
tersebut, ada kemungkinan terjadinya perubahan penggunaan lahan
untuk perkebunan seperti minyak sawit, yang terutama terjadi di
negara kawasan tropis. Untuk mempromosikan konsep perkebunan
lestari di dalam tata ruang, maka Uni Eropa dan Kementerian
Lingkungan Pemerintah Jerman mendanai kegiatan ini dengan
dukungan dari pemerintah setempat. Melalui kegiatan ini akan
dilakukan kajian kesesuaian peraturan nasional dengan peraturan Uni
Eropa, pemetaan detail high biodiversity dan high carbon,
pengembangan kapasitas melalui pelatihan Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS) dan Jasa Lingkungan, dan sertifikasi perkebunan
lestari.
Dalam rangka memantau kegiatan Balancing Spatial Planning SBPC,
TRP telah melakukan koordinasi dengan beberapa institusi. Pertama,

Monitoring dan Evaluasi TRP


Perencanaan Pembangunan terdiri dari empat tahapan yakni: (1)
penyusunan rencana; (2) penetapan rencana; (3) pengendalian
pelaksanaan rencana; dan (4) evaluasi pelaksanaan rencana.
Keempat tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan untuk
membentuk siklus perencanaan. Sebagai bagian dari siklus
perencanaan yang dimanatkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN),
Direktorat TRP melaksanakan kegiatan pengendalian dan evaluasi
terhadap pelaksanaan rencana pembangunan Bidang Tata Ruang
dan Pertanahan.
Pengendalian atau pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan
dimaksudkan untuk mengidentifikasi kegiatan yang perlu dikoreksi
agar dapat mencapai sasaran pembangunan. Evaluasi pelaksanaan
rencana pembangunan merupakan penilaian kinerja yang diukur
dengan efisiensi, efektifitas, dan kemanfaatan program serta
keberlanjutan pembangunan.
Sebagai bagian dari kegiatan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
perencanaan pembangunan Bidang TRP telah dilaksanakan
kunjungan lapangan ke Provinsi DI Yogyakarta dan Kabupaten/Kota
di Provinsi DI Yogyakarta. Tujuan yang ingin dicapai adalah
memperoleh data dan informasi mengenai kondisi lapangan dan
permasalahan spesifik TRP.
Propinsi DI Yogyakarta dipilih sebagai lokasi kunjungan antara lain
terkait dengan peningkatan anggaran pendidikan yang cukup
signifikan di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN). Selain itu
dilakukan pula kunjungan ke Kantor Wilayah BPN Provinsi DI
Yogyakarta, Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, Kantor Bappeda
Yogyakarta dan Kantor Dinas Pekerjaan Umum, Propinsi DI
Yogyakarta. Kunjungan dilaksanakan pada tanggal 5-8 Juli 2012.

pengumpulan data, pengukuran, pengumuman, dan penerbitan


sertifikat. Sampai dengan saat ini tahapan penyuluhan telah selesai
dilaksanakan, namun tahapan penerbitan sertifikat belum dilakukan.
Dari total alokasi untuk STPN sampai dengan bulan Juni 2012 sudah
terserap 37,39%. Selanjutnya sebagian dosen STPN sudah
tersertifikasi, hal ini berimplikasi pada perlunya penambahan alokasi
untuk tunjangan sertifikasi.
Pada kunjungan ke Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul diperoleh
informasi bahwa Kantah Kab Bantul sudah mengembangkan
pengukuran bidang tanah dengan memanfaatkan teknologi CORS
(Continuously Operating Reference Stations). Teknologi ini dapat
mempercepat pengukuran bidang-bidang tanah dengan tingkat
ketelitian yang cukup akurat.
Terkait Bidang Tata Ruang di propinsi DI Yogyakarta, sebagian besar
Raperda RTRW Kabupaten dan Kota di Propinsi DI Yogyakarta telah
disahkan menjadi Perda. Hingga Juni 2012, dari total 4 Kabupaten dan
1 kota yang ada, baru 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bantul, Gunung
Kidul dan Kulon Progo yang telah menetapkan Perda RTRW.
Sedangkan Kabupaten Sleman telah mendapatkan surat persetujuan
substansi oleh Menteri PU.
Masalah yang ditemui di lapangan adalah rendahnya penyerapan
realisasi keuangan yang disebabkan oleh terlambatnya proses
pertanggung jawaban. Satker Kementerian PU DI Yogyakarta
mengusulkan untuk meningkatkan keterlibatan Bappeda dalam
penentuan dana dekon. Penentuan kriteria program dari Pusat
diharapkan dapat lebih fleksibel, mengingat karakteristik daerah yang
beragam. [sy]

Berdasarkan hasil pemantauan kegiatan yang termasuk dalam


prioritas nasional RKP 2012 rata-rata sudah di atas target yang
telah ditetapkan. Untuk bidang pertanahan, kegiatan percepatan
pelaksanaan pendaftaran tanah di DI Yogyakarta meliputi: Prona,
sertifikasi tanah UKM (Usaha Kecil dan Menengah), sertifikasi tanah
petani, sertifikasi tanah nelayan, sertifikasi tanah MBR (Masyarakat
Berpenghasilan Rendah). Dalam pelaksanaannya kegiatan sertifikasi
tanah tersebut meliputi beberapa tahapan yaitu: penyuluhan,

Direktorat TRP melakukan dialog dengan Direktorat Pendanaan Luar


Negeri Bilateral Bappenas. Rekomendasinya adalah agar kegiatan ini
diarahkan oleh Pemerintah RI mengingat bahwa kegiatan ini
menunjang target penyelesaian RTRWP dan RTRWK, serta dapat
memberikan input bagi perbaikan materi teknis RTRWP dan RTRWK
Provinsi dan Kabupaten yang berada di Kawasan Konservasi RIMBA
(Riau, Jambi, dan Sumatera Barat).

rencana aksi yang telah disusun dalam Peta Jalan Penyelamatan


Ekosistem Sumatera sebagai acuan bagi proses pemantauan dan
evaluasi kegiatan. Kegiatan SBPC ini akan mengisi lokasi dan skema
yang tertera dalam Peta Jalan Penyelamatan Ekosistem Sumatera.
Mengingat bahwa kegiatan tersebut terkait erat dengan fungsi Pokja 3
BKPRN, pemantauan kegiatan dapat dilakukan oleh Pokja 3 BKPRN
dan dimasukkan ke dalam agenda Pokja tersebut.

Selanjutnya, Direktorat TRP melakukan koordinasi lintas-K/L tingkat


Eselon II dengan Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan
Hidup-Kementerian Dalam Negeri, Asdep Bidang Perencanaan
Lingkungan-Kementerian Lingkungan Hidup, Direktur Penataan
Ruang Nasional dan Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah
Wilayah 1-Kementerian Pekerjaan Umum, serta Asisten Deputi Urusan
Penataan Ruang dan Pengembangan Wilayah-Kantor Menko
Perekonomian. Rekomendasi yang dihasilkan adalah menggunakan

Sampai dengan saat ini, kegiatan yang telah selesai dilaksanakan


adalah kajian kesesuaian peraturan antara peraturan nasional dengan
Uni Eropa, pemetaan detail di tiga kabupaten (Kabupaten Kuantan
Senggigi, Tebo, dan Dharmasraya) di Kawasan RIMBA yang menjadi
fokus kegiatan, pelatihan KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis)
dan Jasa Lingkungan. Adapun kegiatan sertifikasi perkebunan lestari
akan diselesaikan pada akhir tahun ini. [kr]

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

19

ringkas buku:
Ir. Deddy K. Halim, M.M., Ph.D
Arsitek dan Ahli Psikologi

Psikologi Lingkungan Perkotaan

ab 1 Laboratorium Besar Bernama Kota mengibaratkan kota


sebagai labirin besar. Untuk bisa merasakan bentuk labirin,
kita harus tinggal didalamnya. Untuk dapat memahaminya,
kita harus dapat menghayalkannya bentuknya dari atas. Di
perkotaan,warga kota mengembara dari satu labirin ke labirin
lainnya: dalam rumah mereka sendiri di mana mereka dipisahkan
dalam ruang-ruang dan kamar-kamar; dalam perjalanan, terjebak
dalam kemacetan dan jalinan jalan yang saling tumpang tindih; di
tempat kerja dalam partisi-partisi ruang kerja; di tempat berbelanja
dari ruang toko ke ruang toko lainnya.
Berdasarkan ilustrasi tersebut, kota dapat membentuk perilaku
manusia. Pembentukan perilaku sesuai dengan stimulus yang
diterima dan kemudian direspon oleh manusia. Respons yang
dihasilkan akan sesuai dengan makna yang didapatkan dari
pengetahuan dan pengalaman. Peran perencana kota menjadi
sangat penting, karena mereka harus mampu menciptakan atmosfer
kota yang nyaman. Dengan demikian, warga akan mencintai labirin
mereka dan tidak ingin pindah ke labirin lainnya (kota lain).
Beberapa cara yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan
kemakmuran dan kesejahteraan
Keterasingan kota bagi warga. Contohnya dengan
warganya ini salah menciptakan moda transportasi
satunya disebabkan yang nyaman dan merencanakan
taman-taman hijau. Dengan
pembangunan kota fasilitas tersebut warga dapat
yang tak terkendali, menikmati labirin kota dengan
penuh sukacita, membuat kota
dan kecenderungan menjadi lebih rapih, bersih,
urban sprawl menarik, dan menyenangkan
untuk ditinggali.
Bab 2 Lingkungan Hunian dan Komunitasnya.
Komunitasnya. Keterikatan pada
rumah dan lingkungan bisa sangat kuat. Karenanya dapat dipahami
penggusuran hunian liar di Jakarta sering kali memperlihatkan
bagaimana warganya sangat terkait pada rumah dan lingkungan
yang telah mereka ciptakan. Keterikatan tersebut akan mendorong
sikap militan untuk mempertahankannya mati-matian, serta dapat
mempengaruhi kondisi kesehatan mental dan suasana hati.
Gerakan pertahanan diri semakin tinggi saat semakin maraknya
pembangunan hunian di tengah kota dengan konsep hunian vertikal
yang banyak dibangun di kawasan murah yang umumnya dibangun
dengan menggusur perumahan kumuh. Dampaknya adalah:
terciptanya jurang pemisah antara yang kaya dan miskin; timbulnya
disintegrasi sosial yang akan menghilangkan ketahanan psikososial
lingkungan. Selain itu juga memicu kecemburuan sosial dan
lingkungan menjadi rawan kerusuhan.
Bab 3 Paradoks Ruang Publik Kota menyoroti paradoks yang terjadi
di masyarakat kota modern. Perlahan namun pasti, dengan revolusi
atau secara evolusi kota menjadi asing untuk warganya.

20

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

Keterasingan kota bagi warganya ini salah satunya disebabkan


pembangunan kota yang tak terkendali, dan kecenderungan urban
sprawl. Fenomena lain yang ada di kota besar seperti Jakarta adalah
ketidakpedulian pada sekitar, yang terjadi di lingkungan pribadi
maupun publik. Fenomena ini menimbulkan paradoks warga kota:
kesepian di tengah keramaian ruang publik.
Paradoks kedua adalah kesumpekan karena interaksi sosial yang
berlebihan dan tidak dikehendaki akibat tingginya kepadatan
lingkungan. Paradoks lainnya adalah keterikatan pada orang asing
yang tidak dikenal tapi kehilangan apabila orang tersebut menghilang
dari sekitar kita. Untuk mengatasi berbagai masalah paradoks,
diperlukan desain arsitektur dan unsur ruang publik untuk
menciptakan lingkungan yang menyenangkan dalam melakukan
interaksi sosial.
Bab 4 Kepadatan dan Agresivitas.
Agresivitas. Kepadatan berkorelasi erat
dengan perilaku agresif. Pemicu perilaku agresif adalah kepadatan
yang berlebihan yang menyumbang tindakan anarkis yang merusak.
Secara teoretis, kepadatan (dense) berbeda dengan kesesakan
(crowd). Kepadatan mengacu pada jumlah orang dalam ruang
sehingga sifatnya mutlak, sedangkan kesesakan adalah persepsi
seseorang terhadap kepadatan sehingga sifatnya subyektif. Namun
demikian, ada batas toleransi kepadatan maksimal yang dapat
diterima.
Tindakan agresif warga terjadi karena banyaknya jumlah kendaraan
bermotor dan kurangnya ruang terbuka hijau. Kurangnya alun-alun
dan taman kota sebagai tempat untuk menarik diri dari kesumpekan
dan kesesakan juga menjadi penyebab timbulnya tindakan agresif
karena stres tidak dapat tersalurkan. Apabila terprovokasi perilaku
agresif ini akan menimbulkan tindakan anarkis, yaitu perilaku yang
dilakukan dengan sadar sebagai perlawanan terhadap sistem/
keadaan akibat frustrasi yang berkepanjangan. Kebijakan yang harus
diambil adalah mengurangi kepadatan penduduk, dengan
mengendalikan laju urbanisasi, serta desain tempat tinggal yang
nyaman.
Bab 5 Kreativitas Warga Kota dalam mengeksplorasi ruang-ruang
sisa di perkotaan dapat dilihat melalui mural atau lukisan dinding.
Dari sudut pandang psikologi perkotaan, mural merupakan media
revitalisasi budaya dan ekonomi warga kota yang mampu
menghadirkan tema-tema kehidupan yang relevan. Mural juga
berkontribusi kepada ketahanan ekonomi dan lingkungan melalui
pendayagunaan dan penciptaan lapangan kerja bagi para seniman
lokal yang sekaligus mampu meningkatkan persepsi warga terhadap
keamanan wilayah. Pada hakikatnya mural mampu mendukung
ketahanan psikososial lingkungan dengan setidaknya memenuhi 7
dari 9 kebutuhan komunitas warga, yaitu kebutuhan berkarya,
berpartisipasi, memperoleh kesenangan, beraktualisasi, beridentitas,
berpenghidupan dan mendapat perlindungan.

Grafiti juga merupakan ekspresi budaya kota yang menggunakan


medan jalan sebagai kanvas. Wujudnya bisa muncul dalam bentuk
budaya hip-hop, pernyataan politik, sekadar vandalisme dan coratcoret iseng sampai yang terkait dengan kebencian. Ahli psikologi
lingkungan mengelompokkan grafiti ke dalam kategori budaya yang
tidak diinginkan, dilihat sebagai aktivitas subversif dan sering
merusak fasilitas publik dan properti pribadi. Akan tetapi, perlu
dikenali bahwa grafiti merupakan bukti pengalaman hidup perkotaan
yang tidak menyenangkan dan secara kultural penting bagi warga
kota yang tertindas sebagai sarana ekspresi. Grafiti menjadi bukti
visual sebuah subkultur dan praktik pemberontakan yang
merefleksikan adanya ketidakadilan dan tekanan terhadap ruang
publik atau kehadiran sebuah proyek yang dipaksakan.
Bab 6 Gaya Hidup Warga Kota sebagian besar sangat terikat dengan
kehidupan di dalam mal. Pertumbuhan mal di kota-kota besar di
Indonesia tidak selalu identik dengan meningkatnya kesejahteraan,
sebaliknya bisa menjadi indikator sakitnya kota-kota di Indonesia. Mal
berkembang sebagai alat penjajahan baru kapitalisme global yang
membuat warga kota cenderung asosial, menghilangkan interaksi
sosial yang terjadi di ruang publik dan mendorong warganya menjadi
konsumtif. Di samping itu, pembangunan mal yang mampu
menggerakkan ekonomi kota
Perbaikan lingkungan dan memberikan keuntungan
besar sebenarnya semakin
perkotaan dapat memperlebar jurang perbedaan
meningkatkan dan memisahkan warga kaya
dan kaum miskin kota. Kota yang
kesehatan, mengurangi baik adalah kota yang dapat
stressor dan menyediakan hal-hal yang
kesehatan mentalmendukung perilaku mendukung
spiritual warganya, bukan hanya
optimal warga kota memberikan kesejahteraan
secara materiil.
Du gay (1997) dengan teori sirkuit budayanya menjelaskan bahwa
dalam pembentukan sebuah budaya ada lima fungsi kultural yang
biasa menyertai, yaitu representasi, identitas, produksi, konsumsi
dan regulasi. Sebagai sebuah budaya baru, mal menyandang fungsi
sebagai sarana ekonomi warga kota; fungsi konsumsi; fungsi
representasi ketika mal mampu menjadi simbol; fungsi identitas
ketika warga kota ingin mendapatkan pengakuan di mal; dan fungsi
regulasi ketika mal mampu menciptakan aturan yang wajib dipatuhi
oleh warga.
Bab 7 Warga Senior Jakarta: Dibuang Sayang... menjelaskan
kebutuhan utama yang diperlukan oleh para warga senior di kota
besar. Fasilitas yang harus disediakan untuk warga senior adalah
perumahan senior, asrama lansia (groups home) dan rumah
perawatan (rehab medik). Perumahan senior terbagi menjadi wisma
mandiri untuk lansia yang masih aktif, dan bangunan pangsa puri
untuk kelompok yang kurang aktif. Bangunan pangsa puri biasanya
dilengkapi dengan fasilitas penunjang dan pelayanan. Lokasi untuk
perumahan para warga senior harus dekat dengan tempat olah raga
dan pertokoan untuk mempermudah akses, serta harus diusahakan
seperti rumah sendiri atau dapat dipersonalisasi.
Bab 8 Stres Perkotaan: Kegilaan Warga Kota.
Kota. Stres di perkotaan
terkait erat dengan kesesakan dan kebisingan yang banyak terjadi di
permukiman liar dan pemusatan kemiskinan perkotaan. Beberapa
hasil penelitian menunjukan bahwa warga kita di wilayah hunian
padat mengalami depresi lebih berat serta emosi negatif lainnya,

seperti menurunnya rasa aman dan merasa tidak puas dengan


lingkungan tempat tinggalnya.
Permukiman liar terjadi karena kesenjangan pendapatan yang besar
antara kaum pendatang dan warga asal, terbatasnya lapangan
kerja, serta belum mampunya Pemerintah Jakarta memenuhi
kebutuhan perumahan warga. Permukiman liar saat ini ditandai
dengan menjamurnya kantong-kantong kumuh bercorak etnis.
Padahal konsentrasi etnis berpotensi menimbulkan masalah
psikososial perkotaan yang dapat menciptakan disintegrasi kota.
Stresor ini mempengaruhi pola perencanaan perumahan di Jakarta.
Banyak warga yang kemudian memilih rumah dengan desain cul de
sac dan akibatnya warga tanpa sadar mengisolasi dan
memenjarakan diri di kotanya sendiri.
Bab 9 Arsitektur dan Psikologi Warga: Menuju Desain yang
Menyejahterakan.
Menyejahterakan. Desain hunian harus mempertimbangkan dan
menciptakan kondisi sosial dan ketahanan lingkungan yang baik
sehingga pemiliknya dapat lebih mampu memiliki pengaruh pada
kondisi tersebut.
Untuk ruang kerja, semakin tinggi personalisasi ruangan semakin
baik korelasi antara karyawan dengan ruang kerjanya. Ruangan
yang lebih terbuka meningkatkan komunikasi sehingga suasana
kerja lebih menyenangkan dan bersahabat.
Selain itu, ruang terbuka untuk bermain dapat menurunkan tingkat
kebisingan dan membantu anak berkembang lebih baik. Ruang
untuk belajar harus dipertahankan agar tetap memiliki proporsi yang
baik antara ruang di dalam dan ruang kelas.
Ruang untuk memperbaiki diri (correction facilities) perlu didesain
agar tidak mengasingkan penghuninya dan dapat menurunkan
tingkat agresivitas. Caranya adalah dengan menempatkannya di
dalam kota, dengan struktur yang terbuka dan dominasi warna
tenang.
Bab 10 Kota dan Masalahnya: Psikologi Perkotaan Sebagai Solusi.
Solusi.
Perbaikan lingkungan perkotaan dapat meningkatkan kesehatan,
mengurangi stressor dan mendukung perilaku optimal warga kota
dengan penekanan pada pembangunan lingkungan fisik. Lingkungan
dan warga saling mempengaruhi satu sama lain. Keduanya
mempengaruhi dan dipengaruhi sehingga menghasilkan
pengalaman dan membentuk perilaku.

Urban sprawl menimbulkan ketergantungan penduduk pada


kendaraan. Implikasinya terjadi pemborosan sumberdaya untuk
transportasi serta penurunan kesehatan masyarakat.
Fenomena yang juga marak di perkotaan adalah jentrifikasi, atau
revitalisasi lingkungan fisik untuk meningkatkan nilai lingkungan.
Proses ini dapat mereduksi kesenjangan aliran kapital dan proses
pembangunan yang tidak seimbang antara pusat dan pinggir kota.
Jentrifikasi melahirkan berbagai masalah psikologi dengan
pindahnya kelompok menengah baru yang menguasai lingkungan
baru. Kelompok menengah ini hadir dengan budaya baru yang tidak
dikenal oleh masyarakat lokal. Selain itu, dengan kemampuan
ekonomi yang lebih tinggi, mereka akan perlahan menggeser
masyarakat lokal yang kurang berkembang secara ekonomi. Sebagai
runtutannya, konflik sosial terbatas dapat terjadi dengan mudah.
[ma/rn/mc]

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

21

kajian
Kajian Pasar Tanah
(Prof.Dr. Ir. Tumari Jatileksono, MSc. MA; Dr. Rasidin K. Sitepu, SP, MSi; Akhmad Safik, SE, MH; Drs. Ary Wahyono, MSi)
Latar belakang
Pesatnya kemajuan pembangunan industri dan jasa dewasa ini
berimplikasi pada kebutuhan tanah yang semakin meningkat.
Akibatnya tidak hanya mempersempit luas areal tanah pertanian,
tetapi juga mempersempit tanah yang tersedia untuk pemukiman, dan
lebih serius lagi mendorong naiknya intensitas peralihan hak atas
tanah, serta pemecahan persil tanah menjadi bagian yang kecil-kecil
dan tidak teratur ukurannya. Dampak lain adalah banyaknya tanah
yang telah berubah menjadi komoditas murni, sebagian lain menjadi
barang yang langka dengan fungsi ekonomi yang semakin dominan
dan sebaliknya, semakin mematikan fungsi sosial atas tanah. Sejalan
dengan kenyataan itu
Untuk mewujudkan persaingan untuk mendapatkan
pasar tanah yang aset melalui penguasaan tanah
pun semakin intensif yang nota
transparan, diperlukan bene membuka peluang
kebijakan dan kerangka terjadinya konflik pertanahan
secara terbuka. Konflik tersebut
hukum (legal) yang kuat pada gilirannya tidak hanya
untuk mengimbangi menyangkut persoalan teknik
yuridis pertanahan, tetapi
berbagai macam melebar ke aspek-aspek sosial,
kepentingan ekonomi, dan politik.
Adanya pembebasan tanah
untuk kepentingan umum, seperti jalan raya, jalan tol, dan kanal banjir;
dan pengalihan fungsi tanah untuk pengembangan bisnis seperti
apartemen, hotel, mal, hyper market, kompleks pertokoan, rumah
sakit, kampus, dan perkantoran praktis mengurangi areal tanah untuk
permukiman dan pertanian. Hal ini juga kerap memicu terjadinya
konflik dan sengketa pertanahan. Selain itu, berdampak pula pada
meningkatnya harga tanah secara tidak terkendali, menyebabkan
ketidakstabilan harga tanah, dan menjamurnya spekulan tanah.
Di wilayah perkotaan marak terjadi spekulasi tanah yang sering
menyebabkan ketidakstabilan harga. Para investor (pemilik modal)
dan lembaga-lembaga keuangan umumnya berkepentingan untuk
mendapatkan gambaran yang jelas tentang nilai-nilai kekayaan yang
sebenar-benarnya dengan menetapkan nilai yang tepat atas aset
tanah yang dikuasainya. Faktanya, banyak transaksi tanah yang tidak
dicatat atau tidak didaftarkan. Pasar tanah yang diatur dengan baik

dan transparan akan membantu mengurangi spekulasi tanah dan


transaksi tidak formal.
Penetapan harga tanah yang tepat dan rasional secara ekonomis
akan memudahkan penentuan berapa pajak tanah yang adil, dan
sekaligus dapat mencegah terjadinya spekulasi dan penguasaan
tanah yang melampaui batas serta mencegah tanah-tanah terlantar.
Masalahnya manajemen pemantauan harga tanah belum sepenuhnya
berjalan dengan baik, sehingga selalu dijumpai tuntutan tidak puas
mengenai besarnya ganti rugi yang diberikan maupun besarnya
pajak tanah yang ditetapkan.
Untuk mewujudkan pasar tanah yang transparan, diperlukan
kebijakan dan kerangka hukum (legal) yang kuat untuk mengimbangi
berbagai macam kepentingan, seperti perubahan kepemilikan dan
prosedur transaksi, informasi yang jelas mengenai kepemilikan
tanah, hak-hak dan kendala-kendala, kemampuan untuk melakukan
transaksi dengan cepat dan murah, dan mekanisme untuk
menyediakan pembiayaan atau pendanaan keuangan bagi semua
pelaku pasar tanah.
Kajian Pasar Tanah ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan
pasar tanah, mengukur tingkat efisiensi pasar tanah, mendeteksi
implikasi sosial ekonomi dan sosial budaya dari perkembangan pasar
tanah, meninjau regulasi pasar tanah, dan merancang
pengembangan sistem informasi pasar tanah di Indonesia.
Lokasi kajian terdiri dari: DKI Jakarta, Kota Medan, Kota Balikpapan,
Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Maros. Analisis dalam kajian ini
dilakukan berdasarkan data sekunder dan informasi yang terkandung
dalam laporan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah). Sampel laporan
PPAT dipilih dari 5-10 kantor PPAT yang melaporkan transaksi tanah
paling banyak di masing-masing kota/kabupaten sampel. Kajian ini
menggunakan analisis dilengkapi dengan analisis kualitatif.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pasar tanah di Indonesia, baik di
perkotaan maupun di perdesaan berkembang sejalan dengan kondisi
perekonomian secara nasional. Dalam kondisi perekonomian tumbuh
cepat, jumlah transaksi jual beli tanah meningkat. Sebaliknya dalam
kondisi tumbuh lambat jumlah transaksi tanah menurun. Mekanisme
pasar tanah sudah berhasil dalam mempertemukan para penjual dan
pembeli, tetapi belum berhasil menciptakan harga tanah yang efisien.
Untuk lokasi sampel DKI Jakarta, semakin jauh dari pusat Jakarta

Tabel 1.
Kisaran Harga Tanah Milik di Kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan (ribu Rp/m2), 2007
Jumlah
Harga
Harga
Kelurahan
Transaksi
Minimum
Maximum
1. Cipedak

209

182

1416

528

2. Ciganjur

93

300

1575

534

3. Jagakarsa

83

278

1167

556

4. Srengseng Sawah

62

243

701

495

5. Tanjung Barat

22

394

1573

797

6. Lenteng Agung

19

313

1722

863

Sumber data: Laporan PPAT, 2012.

22

Harga Rerata

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

pasar tanah semakin kurang efisien dalam hal memberikan informasi


harga tanah.
Laju kenaikan harga tanah dan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) ternyata
lebih tinggi daripada rata-rata tingkat inflasi dan berdampak
langsung pada meningkatnya pendapatan pajak yang diterima oleh
Pemerintah, terutama bagi Pemerintah Daerah. Di lain pihak, menjadi
beban yang semakin berat bagi masyarakat karena harus membayar
pajak dengan nilai riil yang semakin besar. Kenaikan harga tanah
juga mempunyai konsekuensi kenaikan nilai kredit perbankan yang
dapat diperoleh dengan menggunakan tanah sebagai jaminan,
kenaikan nilai pembangunan rumah dan gedung lainnya, serta
kenaikan nilai kredit properti.

Pemerintah mempunyai
kewajiban untuk
meningkatkan akses
tanah bagi masyarakat
golongan ekonomi
lemah, dan mengatur
alokasi penggunaan
tanah untuk
kepentingan umum....

Dinamika pasar tanah di


perkotaan mempengaruhi
mobilitas masyarakat untuk
mencari tempat tinggal yang
lebih nyaman dan sesuai
dengan kemampuan
ekonominya. Akan tetapi pada
waktu yang bersamaan juga
terjadi eksklusivitas dan
kolektivitas kepentingan
kelompok menengah ke atas
yang bertempat tinggal di
kompleks perumahan elit atau
apartemen.

Regulasi pasar tanah perlu diarahkan untuk memberikan jaminan


kepastian hukum yang semakin kuat melalui pendaftaran tanah yang
semakin cepat dan mudah, sehingga mendorong perkembangan
pasar tanah yang efisien. Pemerintah mempunyai kewajiban untuk
meningkatkan akses tanah bagi masyarakat golongan ekonomi
lemah, dan mengatur alokasi penggunaan tanah untuk kepentingan
umum dan untuk kepentingan komersial tanpa mengorbankan
kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Hambatan yang terjadi di pasar tanah diantaranya kelangkaan
informasi harga tanah yang akurat, keterbatasan akses informasi
tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) di tingkat kota/
kabupaten, sertifikasi tanah yang masih di bawah 40% dari total
jumlah bidang tanah, banyaknya transaksi tanah tidak terdaftar, dan
administrasi transaksi pertanahan yang masih rumit dan lambat.
Laporan bulanan PPAT sudah secara teratur mengalirkan informasi
hasil transaksi setiap bidang tanah ke berbagai pihak. Namun
informasi tersebut belum dimanfaatkan dengan baik untuk pelayanan
publik yang akurat, murah, dan mudah diakses oleh masyarakat.
Laporan tersebut juga belum memuat informasi salah satu atribut
tanah yang sangat penting, yaitu jenis penggunaan tanah pada saat
ditransaksikan, apakah berupa tanah pekarangan, sawah, kebun,
tegal, ladang, huma, padang rumput, rawa, atau tanah kosong.
Pengembangan sistem informasi harga tanah dapat dilakukan mudah
dengan memanfaatkan kemajuan IT (Information Technology).
Informasi harga tanah dapat ditampilkan dengan menggunakan
tabel, peta, dan/atau peta GIS (Geographic Information System).
Sistem informasi harga tanah dapat dibangun dengan meningkatkan
fungsi Badan Pertanahan Nasional (BPN), atau fungsi Badan Pusat
Statistik (BPS), atau dengan membangun kerja sama antara BPN
dan BPS.

Gambar 1.
Peta Harga Tanah Milik di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan
N = 22
Min = 394
Avg = 797
Max = 1.573

N = 22
Min = 394
Max = 1.573
Avg = 797

N = 19
Min = 313
Avg = 863
Max = 1.722

N =197
Min = 313
Max = 1.722
Avg = 863

N = 15
Min = 400
Avg = 1.530
Max = 1.862

N = 62
Min = 243
Max = 701
Avg = 495

Sumber: Laporan kajian Land Market

menangani Sistem Informasi Harga Tanah dan memberikan pelayanan


informasi harga tanah yang akurat, murah, dan mudah diakses oleh
masyarakat. Pembentukan institusi ini dapat dilakukan melalui
pengembangan tugas dan fungsi BPN atau BPS, atau dengan
menciptakan kerjasama antara keduanya dengan memanfaatkan
kemajuan teknologi informatika; (2) Akta jual beli (AJB) oleh PPAT
perlu ditambah informasi tentang jenis penggunaan tanah pada waktu
ditransaksikan. Jenis penggunaan tanah ini kemudian dimasukkan ke
dalam Laporan Bulanan Pembuatan Akta oleh PPAT. Informasi jenis
penggunaan tanah ini tidak hanya untuk mewujudkan penggunaan
tanah yang optimal, tetapi juga mencegah alih peruntukan yang tidak
terkendali; (3) Pemerintah Pusat perlu mempercepat dan
menyederhanakan proses administrasi pendaftaran peralihan hak atas
tanah. Selain itu, Pemerintah Daerah perlu secara intensif melakukan
sosialisasi rencana tata ruang wilayah (RTRW) tingkat kota/kabupaten;
(4) Perlu dikaji lebih dalam kebutuhan amandemen PP No. 24 Tahun
1997 tentang Pendaftaran Tanah untuk kemudian ditingkatkan
menjadi UU Pendaftaran Tanah dalam upaya percepatan pendaftaran
tanah pertama kali oleh Pemerintah dengan pembebanan biaya yang
terjangkau oleh masyarakat; (5) Evaluasi dan revisi ketentuan
pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
dan ketentuan Nilai Perolehan Objek Tidak Kena Pajak (NPOTKP) perlu
dilakukan karena BPHTB merupakan beban tambahan yang
menghambat. Pemerintah perlu memberikan dispensasi BPHTB atas
pendaftaran tanah pertama kali. NPOTKP yang diterapkan hanya
menggunakan batas atas tanpa adanya batas bawah menyebabkan
masyarakat dirugikan karena ada pemerintah daerah yang
menentukan NPOTKP sangat rendah sehingga membebani masyarakat
terutama kalangan ekonomi lemah; (6) Perlu metode penentuan
standar harga tanah yang pantas sebagai alternatif dari standar NJOP
agar masyarakat tidak menjadi lebih terbebani dalam pembayaran
pajak. Penerapan NJOP dalam berbagai kebijakan pemerintah di
bidang pertanahan telah menuai berbagai keluhan dari masyarakat.
(7) Perlu mengkaji lebih lanjut penyusunan Indeks Harga Tanah (IHT)
seperti halnya pada Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Harga
Produsen (IHP), dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang
dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah sendiri atau oleh masyarakat
untuk memonitor perkembangan harga dan pasar tanah di Indonesia.
[ik]

Dalam rangka mewujudkan pasar tanah yang efisien dan transparan,


kajian ini memberikan rekomendasi sebagai berikut: (1)
mengembangkan institusi yang diberi mandat secara khusus untuk

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

23

sosialisasi peraturan
PP No.26 Tahun 2012 tentang KEK Tanjung Lesung dan
PP No.29 Tahun 2012 tentang KEK Sei Mangkei

erdasarkan UU Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan


Ekonomi Khusus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah
kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan
fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK
dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan
geoekonomi dan geostrategis dan berfungsi untuk menampung
kegiatan industri, ekspor, impor dan kegiatan ekonomi lain yang
memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.
Kriteria lokasi untuk dapat diusulkan menjadi KEK adalah (i) Sesuai
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi mengganggu
kawasan lindung, (ii) Pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang
bersangkutan mendukung KEK, (iii) Terletak pada posisi yang dekat
dengan jalur perdagangan internasional atau dekat dengan jalur
pelayaran internasional di Indonesia atau terletak pada wilayah potensi
sumber daya unggulan, dan (iv) Mempunyai batas yang jelas.
RPJMN 2010-2014 mengamanatkan agar hingga tahun 2012
ditetapkan 2 (dua) lokasi KEK dan hingga tahun 2014 ditetapkan total
5 (lima) lokasi KEK. Pada tahun 2012, telah ditetapkan 2 (dua) lokasi
yang memenuhi kriteria KEK yaitu KEK Tanjung Lesung melalui PP
Nomor 26 Tahun 2012 dan KEK Sei Mangke melalui PP 29 Tahun
2012. Berikut ini dua peraturan pemerintah yang menjabarkan secara
singkat kedua KEK tersebut, yaitu KEK Tanjung Lesung dan KEK Sei
Mangke.
Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2012 tentang
Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung
KEK Tanjung Lesung memiliki luas
1.500 Ha yang terletak dalam wilayah
Kecamatan Panimbang, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten.
Pengembangan KEK Tanjung Lesung
diajukan oleh P.T. Banten West Java
Tourism Development Corporation
sebagai badan usaha pengusul, dan
telah mendapat persetujuan dari
Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan selanjutnya diajukan oleh
Pemerintah Provinsi Banten kepada Dewan Nasional KEK. Dewan
Nasional KEK diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
dan beranggotakan Menteri/Pimpinan Lembaga nonkementerian.
Setelah melakukan pengkajian, Dewan Nasional KEK menyetujui
pembentukan KEK Tanjung Lesung dan mengajukan rekomendasi
penetapannya kepada Presiden.
KEK Tanjung Lesung mempunyai batas-batas sebagai berikut:
a. Sebelah utara : Selat Sunda
b. Sebelah selatan : Selat Sunda
c. Sebelah timur : Selat Sunda
d. Sebelah barat : Desa Tanjung Jaya
KEK Tanjung Lesung terdiri atas 1 zona yaitu Zona Pariwisata.

24

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

Setelah keluarnya PP 26 Tahun


2012 ini, Pemerintah Kabupaten
Pandeglang menetapkan badan
usaha yang akan melakukan
pembangunan dan pengelolaan
KEK Tanjung Lesung sesuai
dengan ketentuan PP Nomor 2 Tahun 2011 tentang
Penyelenggaraan KEK. Badan Usaha ini melaksanakan pembangunan
KEK Tanjung Lesung sampai siap operasi dalam jangka waktu paling
lama 36 (tiga puluh enam) bulan sejak berlakunya PP PP 26 Tahun
2012 ini.

Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2012 Tentang


Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei
KEK Sei Mangkei memiliki luas
2.000,77 Ha yang terletak
dalam wilayah Kecamatan
Bosar Maligas, Kabupaten
Simalungun, Provinsi Sumatera
Utara.
Pengembangan KEK Sei
Mangkei diajukan oleh P.T.
Perkebunan Nusantara III
sebagai badan usaha
pengusul, dan telah mendapat
persetujuan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun dan diajukan
oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada Dewan Nasional
KEK. Dewan Nasional KEK setelah melakukan pengkajian, menyetujui
usulan pembentukan KEK Sei Mangkei dan mengajukan rekomendasi
penetapannya kepada Presiden.
KEK Sei Mangkei mempunyai batas sebagai berikut:
a. Sebelah utara : Desa Keramat Kuba
b. Sebelah selatan : PTPN IV (Persero) Kebun Mayan
c. Sebelah timur : PTPN IV (Persero) Kebun Gunung Bayu
d. Sebelah barat : Sungai Bah Bolon
KEK Sei Mangkei terdiri atas 3 zona yaitu Zona Industri, Zona
Logistik dan Zona Pariwisata.
Setelah keluarnya PP 29 Tahun 2012
ini, Pemerintah Kabupaten Simalungun
menetapkan badan usaha yang akan
melakukan pembangunan dan
pengelolaan KEK Sei Mangkei sesuai
dengan ketentuan PP Nomor 2 Tahun
2011 tentang Penyelenggaraan KEK.
Badan Usaha ini melaksanakan pembangunan KEK Sei Mangkei
sampai siap operasi dalam jangka waktu paling lama 36 (tiga puluh
enam) bulan sejak berlakunya PP PP 29 Tahun 2012. [cr/as]

Perpres No.28 Tahun 2012 tentang RTR Pulau Jawa dan Bali

Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Jawa dan Bali adalah rencana rinci
wilayah Pulau Jawa dan Bali sebagai satu kesatuan fungsional wilayah
geografis yang disusun untuk operasionalisasi RTRWN. RTR Pulau
Jawa dan Bali juga berperan sebagai instrumen koordinasi dan
sinkronisasi program pembangunan wilayah Pulau Jawa dan Bali.
Tujuan RTR Pulau Jawa dan Bali
antara lain (1) mewujudkan
Pulau Jawa dan Bali sebagai
pusat lumbung pangan utama
nasional; (2) mewujudkan
kawasan perkotaan nasional
yang kompak berbasis mitigasi
& adaptasi bencana; (3)
memanfaatkan potensi sumber
daya mineral, minyak & gas
bumi, serta panas bumi secara
berkelanjutan; (4)
memanfaatkan potensi
perikanan, perkebunan, &
kehutanan secara
berkelanjutan; (5) mengembangkan Pulau Jawa bagian selatan &
Pulau Bali bagian utara dengan memperhatikan keberadaan kawasan
lindung & kawasan rawan bencana, dan jaringan transportasi
antarmoda yang dapat meningkatkan daya saing.

lumbung pangan
utama nasional
kawasan perkotaan
nasional yang kompak
berbasis mitigasi &
adaptasi bencana
Pengembangan Pulau
Jawa bagian selatan &
Pulau Bali bagian utara
yang meningkatkan
daya saing

Fungsi dari RTR wilayah Pulau Jawa dan Bali ini adalah untuk: (1)
penyusunan Rencana Pembangunan Pulau Jawa dan Bali; (2)
perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan
perkembangan antarwilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta
keserasian antar sektor di Pulau Jawa dan Bali; (3) pemanfaatan dan
pengendalian pemanfaatan ruang Pulau Jawa dan Bali; (4)
penentuan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi di Pulau Jawa dan
Bali; dan (5) penataan ruang wilayah provinsi dan Kabupaten/Kota di
Pulau Jawa dan Bali.
Untuk mewujudkan rencana struktur ruang Pulau Jawa dan Bali,
strategi operasionalisasi yang dilakukan dalam mengembangkan
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)
ialah sebagai berikut: (1) meningkatkan fungsi industri pengolahan
dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan juga perikanan,
perkebunan yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan; (2)
mengembangkan pusat penelitian dan pengembangan pertanian
tanaman pangan, pariwisata dan budaya, ilmu pengetahuan, dan
bahari; (3) menerapkan konsep kota hijau yang hemat energi, air,
lahan, dan minim limbah; (4) mengembangkan kegiatan industri
kreatif yang berdaya saing dan ramah lingkungan.

Dalam mewujudkan rencana struktur ruang untuk mengendalikan


perkembangan PKN dan PKW, strategi yang dilakukan antara lain: (1)
secara fisik menjaga keutuhan lahan pertanian tanaman pangan; (2)
optimalisasi pemanfaatan ruang secara kompak dan vertikal sesuai
dengan daya dukung dan tampung lingkungan hidup; (3)
mengendalikan perkembangan yang berdekatan dengan kawasan
lindung; (4) mengendalikan perkembangan di kawasan rawan
bencana.
Sedangkan strategi operasionalisasi untuk rencana pola ruang antara
lain dengan: (1) mengembangkan kawasan yang didukung oleh
peningkatan fungsi industri pengolahan; (2) mengendalikan kawasan
yang berpotensi merusak potensi kawasan lindung; (3) mengendalikan
kawasan permukiman; (4) meningkatkan fungsi ekologis; (5)
merehabilitasi kawasan yang mengalami deforestasi dan degradasi;
(6) mengembangkan pengelolaan dengan menggunakan teknologi
lingkungan; (7) mengendalikan perubahan peruntukan; (8) kawasan
permukiman dikembangkan di kawasan metropolitan dan perkotaan
besar; (9) kawasan permukiman dikembangkan di kawasan perkotaan
yang didukung sarana prasaran yang memadai; (10) mengembangkan
kawasan berbasis adaptasi dan mitigasi bencana; (11) mengendalikan
perkembangan di daerah penyangga dan daerah yang terindikasi
urban sprawl; dan (12) mengendalikan perkembangan wilayah secara
horizontal dan mengelompok.
RTR Pulau Jawa dan Bali juga memuat indikasi program utama yang
menjadi bagian dari arahan pemanfaatan ruang dan merupakan acuan
untuk mewujudkan struktur dan pola ruang sebagai operasionalisasi
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.[ri]

Tahukah Anda???
Waktu pelayanan pertanahan untuk Pemberian Hak berupa Hak
Milik Perorangan:
38 (tiga puluh delapan) hari untuk: Tanah pertanian yang
luasnya tidak lebih dari 2 Ha; Tanah non pertanian yang
luasnya tidak lebih dari 2.000 m2.
57 (lima puluh tujuh) hari untuk: Tanah pertanian yang
luasnya lebih dari 2 Ha; Tanah non pertanian yang luasnya
lebih dari 2.000 m2 s.d. 5.000 m2.
97 (sembilan puluh tujuh) hari untuk:Tanah non pertanian
yang luasnya lebih dari 5.000 m2.
(sumber: PP No.13 tahun 2010)

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

25

Status Penyelesaian
Peraturan Daerah RTRWP

PP No.13 Tahun 2010 tentang Tarif


atas Jenis PNBP yang berlaku pada
BPN
PP 13/2010 merupakan revisi atas PP 46/ 2002 tentang Tarif atas
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada
Badan Pertanahan Nasional (BPN). Revisi PP tersebut dilatarbelakangi
adanya jenis PNBP yang baru dan perubahan tariff, serta
penyederhanaan dalam penetapan tarif PNBP dalam upaya
mengoptimalkan PNBP guna menunjang
Pelayanan Pembangunan Nasional. Melalui
Pendaftaran Tanah pemberlakuan PP 13/2010 ini
untuk Pertama Kali diharapkan ada peningkatan pelayanan
bidang pertanahan kepada masyarakat.

pihak tertentu
dapat dikenakan
tarif sebesar Rp.
0,00 (nol rupiah)

Dalam PP 13/2010 dirinci 10 jenis


PNBP yang berlaku pada BPN, yang
berasal dari: (1) Pelayanan Survei,
Pengukuran, dan Pemetaan; (2)
Pelayanan Pemeriksaan Tanah; (3)
Pelayanan Konsolidasi Tanah Secara Swadaya; (4) Pelayanan
Pertimbangan Teknis Pertanahan; (5) Pelayanan Pendaftaran Tanah;
(6) Pelayanan Informasi Pertanahan; (7) Pelayanan Lisensi; (8)
Pelayanan Pendidikan; (9) Pelayanan Penetapan Tanah Objek
Penguasaan Benda-benda Tetap Milik Perseorangan Warga Negara
Belanda (P3MB)/ Peraturan Presidium Kabinet Dwikora Nomor 5/
Prk/1965; dan (10) Pelayanan di Bidang Pertanahan yang Berasal
dari Kerja Sama dengan Pihak Lain.
Berdasarkan ketentuan PP 13/2010 Pelayanan Pendaftaran Tanah
untuk Pertama Kali pihak tertentu dapat dikenakan tarif sebesar Rp.
0,00 (nol rupiah). Pihak tertentu tersebut adalah: (a) Masyarakat tidak
mampu, yakni perorangan yang besar penghasilannya per bulan
dibawah Upah Minimum (yang berlaku pada masing-masing Kab/Kota
yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Ketua RT/RW setempat
diketahui oleh Lurah, Kepala Desa, atau nama lainnya); (b) Instansi
Pemerintah; dan (c) Badan hukum yang bergerak di bidang
keagamaan dan sosial yang penggunaan tanahnya untuk peribadatan,
panti asuhan, dan panti jompo. [rn/ik]

Tahukah Anda???
Persyaratan pelayanan pertanahan untuk Pemberian Hak
berupa Hak Milik Perorangan:
1. Formulir permohonan yang sudah diisi dan ditandatangani
pemohon atau kuasanya di atas materai cukup
2. Surat Kuasa apabila dikuasakan
3. Fotocopy identitas (KTP, KK) pemohon dan kuasa apabila
dikuasakan, yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh
petugas loket
4. Asli Bukti perolehan tanah/Alas Hak
5. Asli Surat-surat bukti pelepasan hak dan pelunasan tanah
dan rumah (Rumah Gol III) atau rumah yang dibeli dari
pemerintah
6. Foto copy SPPT PBB Tahun berjalan yang telah dicocokkan
dengan aslinya oleh petugas loket, penyerahan bukti SSB
(BPHTB) dan bukti bayar uang pemasukan (pada saat
pendaftaran hak)
7. Melampirkan bukti SSP/PPh sesuai dengan ketentuan
(sumber: PP No.13 tahun 2010)

26

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.

Provinsi

B
C
D E
B1 B2 C1 C2

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Lampung
Kep. Riau
Kep. Bangka Belitung
DKI Jakarta
Banten
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Barat
Gorontalo
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
JUMLAH 33 33 33 33 19 18 14 13
Sekretariat BKPRN, 15 Oktober 2012 [mc]

A
B

Proses Revisi
Proses Persetujuan Substansi
B1 : Proses Persetujuan Substansi Teknis PU
B2 : Proses Persetujuan Substansi Kehutanan

Memperoleh Persetujuan Substansi


C1 : Memperoleh Persetujuan Substansi Menteri PU
C2 : Memperoleh Persetujuan Substansi Menteri Kehutanan

D Pembahasan DPRD
E
F

Evaluasi di Kementerian Dalam Negeri


Penetapan Perda RTRW

Pokok-Pokok Perpres Nomor 71/2012 Tentang Penyelenggaraan


Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

ndang-undang Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah


bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum telah disahkan
pada tanggal 14 Januari 2012. UU tersebut mengamanatkan
penyusunan peraturan pelaksana berupa Peraturan Presiden
(Perpres). Dalam penyusunan Perpres tersebut Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian ditunjuk sebagai koordinator
dengan melibatkan beberapa Kementerian/Lembaga antara lain:
Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementerian Hukum dan HAM,
Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Kepolisian,
Kejaksaan Agung, Sekretaris Kabinet, Badan Pertanahan Nasional.
Setelah melalui serangkaian pembahasan yang melibatkan Tim Teknis
hingga Menteri/Kepala Lembaga pada tanggal 7 Agustus 2012
disahkan Perpres No. 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan
Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Perpres No. 71/2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah
bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum terdiri dari 12 bab
dengan 126 Pasal. Kedua belas Bab tersebut meliputi: ketentuan
umum, perencanaan pengadaan tanah, persiapan pengadaan tanah,
pelaksanaan pengadaan tanah, penyerahan hasil pengadaan tanah,
pemantauan dan evaluasi, sumber dana pengadaan tanah,
pengadaan tanah skala kecil, insentif perpajakan, ketentuan peralihan
dan ketentuan penutup.
Berdasarkan jangka waktu proses pengadaan tanah dilakukan dalam
kurun waktu terhitung, sejak dokumen perencanaan resmi diterima
oleh gubernur, paling cepat 319 Hari Kerja dan paling lama 583 Hari
Kerja. Adanya pengaturan kerangka waktu inilah salah satu yang
membedakan Perpres ini dengan peraturan perundangan
sebelumnya. Ketentuan kerangka waktu ini diharapkan dapat
menjamin kepastian waktu pelaksanaan pengadaan tanah yang
selama ini sering berlarut-larut.
Berikut dijelaskan pokok-pokok substansi dari Perpres tersebut. Pada
tahap perencanaan,
perencanaan pengadaan tanah harus sesuai dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Prioritas Pembangunan yang
tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM),
Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja Pemerintah Instansi
yang bersangkutan. Selanjutnya pada tahap persiapan pengadaan
tanah, Gubernur membentuk Tim Persiapan Pengadaan Tanah yang
beranggotakan Bupati/Walikota, SKPD provinsi terkait, instansi yang
memerlukan tanah dan instansi lain yang terkait setelah menerima
dokumen rencana pengadaan tanah dari Instansi yang memerlukan
tanah.
Tim Persiapan Pengadaan Tanah berkedudukan di Sekretariat Daerah
Provinsi. Tim tersebut bertugas: a. Melaksanakan pemberitahuan
rencana pengadaan tanah; b. Melakukan pendataan awal lokasi
rencana pembangunan; c. Melaksanakan konsultasi publik rencana
pembangunan; d. Menyiapkan penetapan lokasi pembangunan; e.
Mengumumkan penetapan lokasi pembangunan untuk kepentingan
umum; dan f. Melaksanakan tugas lain yang terkait persiapan
pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum yang
ditugaskan oleh gubernur.
Tim Persiapan melaksanakan konsultasi publik kepada Pihak yang
Berhak untuk menjelaskan rencana pelaksanaan pengadaan tanah.
Apabila dalam konsultasi publik terdapat Pihak yang Berhak tidak
sepakat atau keberatan atas lokasi rencana pembangunan, maka
dilaksanakan konsultasi publik ulang. Apabila masih tetap ada pihak

yang keberatan atas lokasi rencana pembangunan maka Instansi yang


memerlukan tanah melaporkan adanya keberatan tersebut kepada
Gubernur melalui Tim Persiapan.
Gubernur membentuk Tim Kajian Keberatan untuk melakukan kajian atas
keberatan lokasi rencana pembangunan. Tim kajian keberatan tersebut
terdiri atas: Sekretaris daerah provinsi atau pejabat yang ditunjuk sebagai
ketua merangkap anggota, Kepala Kantor Wilayah BPN sebagai sekretaris
merangkap anggota, Instansi yang menangani urusan pemerintahan
bidang perencanaan pembangunan daerah sebagai anggota, kepala
kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM sebagai anggota, bupati/
walikota atau pejabat yang ditunjuk sebagai anggota, dan akademisi
sebagai anggota. Tim Kajian Keberatan bertugas: menginventarisasi
masalah yang menjadi alasaan keberatan, melakukan pertemuan atau
klarifikasi dengan pihak yang keberatan, dan membuat rekomendasi
diterima atau ditolaknya keberatan.
Berdasarkan Pasal 17 Perpres ini, Pihak yang Berhak adalah pihak yang
menguasai atau memiliki obyek pengadaan tanah meliputi: pemegang hak
atas tanah, pemegang hak pengelolaan, nadzir untuk tanah wakaf, pemilik
tanah bekas milik adat, masyarakat hukum adat, pihak yang menguasai
tanah negara dengan itikad baik, pemegang dasar penguasaan atas
tanah, dan/atau pemilik bangunan, tanaman, atau benda lain yang
berkaitan dengan tanah.
Perpres 71/2012 juga mengatur ketentuan pengadaan tanah skala kecil
dan insentif perpajakan dengan pertimbangan efisien dan efektivitas.
Pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang luasnya tidak lebih dari
1 (satu) hektar, dapat dilakukan langsung oleh Instansi yang memerlukan
tanah dengan para pemegang hak atas tanah melalui cara jual beli atau
tukar menukar, atau cara lain yang disepakati kedua belah pihak.
Sementara itu, insentif perpajakan diberikan kepada Pihak yang Berhak
apabila mendukung penyelenggaraan Pengadaan Tanah dan tidak
melakukan gugatan atas putusan Penetapan Lokasi dan atas putusan
bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian.
Berikut bagan, tahapan Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi
Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Catatan :
- Waktu dalam tahapan terhitung sejak dokumen perencanaan resmi diterima oleh Gubernur.
- Waktu dihitung dengan satuan hari kerja.
- Lembaga pertanahan adalah Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, lembaga
pemerintah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanahan.
- Penilai independen adalah orang perseorangan yang melakukan penilaian secara
independen dan profesional yang telah mendapat izin dari praktik penilai dari Menteri
Keuangan dan telah mendapat lisensi dari Lembaga Pertanahan untuk menghitung nilai/
harga objek pengadaan tanah.

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

27

galeri foto
RAKERNAS DEPUTI
Menyongsong 2013, Kedeputian Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah Bappenas melaksanakan Raker untuk membahas agenda kerja
kedeputian tahun depan. Banyak hal yang diskusikan dalam Raker yang diselenggarakan di salah satu hotel di wilayah Cipanas Bogor. Isu yang
dibahas antara lain terkait reviu terhadap apa yang telah dicapai dan apa yang tengah dilakukan hingga saat ini. Implementasi RPJMN dan
pengawalannya harus tetap menjadi prioritas. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Dr. Ir. Max H. Pohan, CES, MA
menyampaikan penekanannya bahwa bahwa implementasi RPJMN dan pengawalannya harus tetap menjadi prioritas dalam rencana kegiatan 2013 .
Selain itu, dalam menjalankan peran think tank, perlu juga forum-forum untuk mind exercise
Berbeda dengan sebelumnya, raker yang berlangsung selama dua hari (1-2 Oktober 2012) dibuat dalam suasana yang penuh kekeluargaan namun
tetap produktif. Oleh karenanya, di samping menghasilkan agenda kerja kedeputian, raker ini juga berhasil mempererat hubungan silaturahim
antarstaf dan antara staf dan pimpinan di lingkungan Kedeputian Regional.
Selama pelaksanaan raker, banyak momen yang sempat terekam dan bisa membuat kita tersenyum ketika melihatnya kembali. Check it out!

28

Buletin Tata Ruang & Pertanahan

EDISI 01/TAHUN I/2010

Buletin Tata Ruang dan Pertanahan

29

Runa

Tarna