Anda di halaman 1dari 4

Sejak kedatangan dan kekuasaan Vereenigde Oostindische Company (VOC) di Indonesia tahun 1619

- 1799, Gereja Katolik dilarang secara mutlak dan hanya bertahan di beberapa wilayah yang tidak
termasuk VOC yaitu Flores dan Timor. Imam-iman Katolik diancam hukuman mati, kalau ketahuan
berkarya di wilayah kekuasaan VOC.

Pada akhir abad 18 Eropa Barat diliputi perang dahsyat antara Perancis dan Inggris bersama
sekutunya masing-masing. Simpati orang Belanda terbagi, ada yang memihak Perancis dan sebagian
lagi memihak Inggris, sampai negeri Belanda kehilangan kedaulatannya. Pada tahun 1806, Napoleon
Bonaparte mengangkat adiknya, Lodewijk atau Louis Napoleon, menjadi raja Belanda.

PERIODE: 1807 - 1826

Dengan adanya perubahan politik di Belanda khususnya kenaikan tahta Raja Lodewijk,
seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai
diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat
persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda.
Prefektur Apostolik adalah suatu wilayah Gereja Katolik yang bernaung langsung di bawah
pimpinan Gereja Katolik di Roma, yang dipimpin bukan oleh seorang Uskup, melainkan
oleh seorang Imam biasa yang ditunjuk oleh Paus, yang disebut Prefek Apostolik. Pada
tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor
Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Yang diangkat menjadi Prefek
Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.
Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10
April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa secara terbuka di Batavia di rumah
Doktor F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Tuan dokter bersama dengan
beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah
tentara. Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi dan
kebanyakan hadirin, sekalipun beragama Katolik, kurang memahami makna luhur perayaan
ekaristi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Tuan Assmuss. Sebagai
tuan rumah, Tuan Assmuss mulai memperkenalkan kedua Pastor itu dengan lingkungan di
Batavia yang tentunya masih asing bagi mereka. Pada bulan Mei, kedua Pastor itu sempat
pindah ke rumah bambu yang dipinjamkan pemerintah untuk digunakan sebagai pusat
sementara kegiatan-kegiatan katolik. Letaknya di asrama tentara di pojok barat daya
Buffelsveld atau Lapangan Banteng (sekarang kira-kira di antara jalan Perwira dan Jalan
Pejambon, diatas tanah yang saat ini ditempati oleh Departemen Agama). Mulai 15 Mei
1808, perayaan Misa Kudus mulai diselenggarakan disini, sehingga rumah ini tidak saja
menjadi pastoran tapi juga merupakan gereja darurat pertama untuk umat Katolik di
Jakarta. Pada waktu itu juga telah dibentuk Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa, yang
terdiri atas Prefek Apostolik J. Nelissen sebagai ketua, dengan anggota-anggota Chevreux
Le Grevisse, Fils, Bauer dan Liesart
Semakin lama tugas yang diemban terasa makin berat, karena suasana disekitarnya sangat
menekan dan umat bersikap acuh tak acuh terhadap agama. Selama tahun 1808, mereka
membaptis 14 orang, yaitu seorang dewasa keturunan Eropa Timur, delapan anak hasil
hubungan gelap, diantaranya ada empat yang ibunya masih berstatus budak, dan hanya
lima anak dari pasanga orang-orang tua yang sah status perkawinannya.

Pada waktu itu memang sulit untuk mengumpulkan domba-domba tak bergembala. Oleh
karena itu, dirasa perlu adanya sebuah rumah ibadah yang dapat digunakan untuk
mengumpulkan umat. Pada 2 Februari 1810, Pastor J. Nelissen, Pr mendapat sumbangan
sebuah kapel dari Gubernur Jenderal Meester Herman Daendels, yaitu sebuah kapel
sederhana yang terletak di pinggir jalan Kenanga, di daerah Senen, menuju Istana
Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Subroto). Kapel ini dibangun oleh Cornelis
Chasteleijn (+ 1714) dan sebelumnya dipakai oleh jemaat Protestan yang berbahasa
Melayu dan pada hari biasa dipakai sebagai sekolah. Kapel ini merupakan milik
Gubernemen yang dihadiahkan berikut semua isinya, termasuk 26 kursi dan sebuah organ
yang sudah tidak dapat digunakan. Karena kondisi bangunan yang kurang layak, Pastor
Nelissen segera mengerahkan sejumlah orang untuk merenovasi. Semua pekerjaan ini
dipercayakan kepada pengusaha Tuan Tjung Sun dibawah pengawasan Tuan Jongkind,
arsitek, atas nama Dewan Gereja. Kapel inilah yang menjadi Gereja Katolik I di Batavia.
Dalam bulan yang sama, Gereja Katolik pertama di Batavia ini diberkati dan sebagai
pelindungnya dipilih Santo Ludovikus. Gedung itu memang tidak bagus namun dirasa
cukup kuat karena terbuat dari batu dan dapat menampung 200 umat. Di dekat gedung
gereja itu dibangun sebuah Pastoran sederhana yang terbuat dari bambu.

Pada tanggal 27 Juli 1826, terjadi kebakaran di segitiga Senen. Pastoran turut lebur
menjadi abu bersama dengan 180 rumah lainnya, sementara itu gedung gereja selamat
namun gedungnya sudah rapuh juga dan tidak dapat digunakan lagi. Namun demikian,
dalam ruangan yang suci itu, telah terjadi beberapa peristiwa yang membuatnya bernilai
historis juga. Pada tanggal 10 Mei 1812 Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur Pulau
Jawa, beserta istrinya Olivia, hadir di Gereja Santo Ludovikus sebagai bapa-ibu serani bagi
seorang bayi yang dipermandikan. Pada tanggal 6 Desember 1817, jenasah Prefektur
Apostolik pertama, Mgr Jacobus Nellisen, yang meninggal karena sakit TBC disemayamkan
dalam gereja itu.
Untuk mendukung dana pembangunan gereja, umat tidak tinggal diam
saja. Badan Pengurus Gereja bersama umat dua kali mengadakan undian
(loterai), satu kali sebelum pelatakan fondamen, kemudian sebelum
pembangunan atas dimulai.
Dalam arsip gereja masih tersimpan neraca sebagai berikut :

Neraca Pembangunan Katedral


credit
Fl 106.000 = Undian I Debet
90.500 = Undian II Fl 162.000 = Fondamen
59.500 = Derma 8.000 = Perbaikan
30.500 = Derma yg Gereja
masih di Darurat
harapkan 400.000 = Perkiraan
14.000 = bunga Bangunan
subsidi atas
90.000 =
pemerintah 24.000 = cadangan
yg masih 22.000 = Pinjaman
___________
diharapkan ___________
Fl 529.000 =
97.000 = kekurangan Fl 626.000 =
___________
Fl 626.000

Karena subsidi dari pemerintah tetap ditolak, maka neraca ini


merupakan harapan dan kekurangan yang sebenarnya ialah Fl
187.000,- . Untuk menutup kekurangan itu dikeluarkan obligasi
sebesar Fl 50.000,- dan pengumpulan derma di kalangan umat
Katolik maupun diluarnya ditingkatkan.

Yang mengagumkan ialah bahwa Badan Pengurus Gereja


bersama umat dengan usahanya sendiri sanggup mengumpulkan
seluruh biaya. Maka persangkaan banyak orang saat ini bahwa
gereja Katedral semata-mata dihadiahkan oleh Pemerintah
Belanda ternyata tidak benar.

Selain arsitek baru, ada juga seorang kontraktor bernama van


Tags: kathedral, batavia, jakarta