Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt,karena atas


kehendak-Nya lah kami dapat merangkumkan sebuah laporan pelajaran
KIMIA tentang Unsur Logam Alkali dan Alkali Tanah dan Unsur Periode
Ketiga
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada Ibu pembina Kimia karena atas bimbingan dan petunjuk beliau
sehingga laporan mengenai Unsur Logam Alkali dan Alkali Tanah dan
Unsur Periode Ketiga ini dapat kami selesaikan.
Kami sadar,laporan ini masih memiliki berbagai kekurangan dan
kesalahan.Oleh karena itu,kritik dan saran kami sangat kami harapkan
untuk menyempurnakan laporan ini lebih lanjut.Akhir kata saya ucapkan
terimakasih dan semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.Aamiin.

Wassalam...
Penulis

Riskatul Mukarramah
(Kelompok 4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................1
DAFTAR ISI.....................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................3
LATAR BELAKANG...........................................................................................3
A. UNSUR LOGAM ALKALI DAN ALKALI TANAH.....................................3
B. UNSUR PERIODE KETIGA...........................................................................4
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................4
a.
b.
c.
d.
e.
f.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

PRAKTIKUM I
Topik.................................................................................................................4
Tujuan...............................................................................................................4
Rumusan Masalah.............................................................................................4
Landasan Teori.................................................................................................4
Metode Penelitian............................................................................................10
Kesimpulan dan Saran.....................................................................................12
PRAKTIKUM II
Topik................................................................................................................12
Tujuan..............................................................................................................12
Rumusan Masalah............................................................................................13
Landasan Teori.................................................................................................13
Metode Penelitian.............................................................................................19
Kesimpulan dan Saran......................................................................................20

BAB III DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................21

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
A. UNSUR ALKALI DAN ALKALI TANAH
Dalam sistem periodik unsur-unsur disusun berdasarkan urutan kenaikan
nomor atomnya. Unsur-unsur yang terletak dalam satu baris disebut periode, sedang
unsur-unsur yang terletak dalam satu lajur dinamakan satu golongan. Unsur-unsur
yang terletak dalam satu golongan mempunyai sifat-sifat fisik dan sifat kimia yang
hampir sama. Dalam sistem periodik ini seluruhnya terdapat 16 golongan, yaitu
golongan I sampai golongan VIII dan masing-masing terbagi menjadi golongan A
dan golongan B. Dalam sistem periodik unsur-unsur yang terletak di sebelah kiri
bersifat logam sedangkan yang terletak di sebelah kanan bersifat bukan logam.
Logam-logam golongan 1 dan 2 dalam Susunan Berkala berturut-turut
disebut logam-logam alkali dan alkali tanah karena logam-logam tersebut
membentuk oksida dan hidroksida yang larut dalam air menghasilkan larutan basa.
Logam alkali terdiri atas enam unsur yaitu litium (Li), natrium (Na),
rubidium (Rb), sesium (Cs) dan fransium (Fr). Logam alkali tanah meliputi
berilium, magnesium, kalsium, stronsium, barium dan radium. Dalam sistem
periodik, keenam unsur itu terletak pada golongan IIA. Logam alkali tanah juga
membentuk basa, tetapi lebih lemah dari logam alkali. Berbeda dengan golongan
IA, senyawa dari logam golongan IIA banyak yang sukar larut dalam air. Unsurunsur golongan IIA umumnya ditemukan dalam tanah berupa senyawa tak larut.
Unsur-unsur logam dapat dieksitasikan dengan memanaskan/membakar
senyawanya pada nyala api, misalnya pada pembakar bunsen atau pembakar
spiritus. Unsur IA dan IIA memberi warna-warna yang khas pada nyala api biasa.
Dalam pekerjaan laboratorium analitik, uji-uji nyala sering digunakan untuk
mengungkapkan ada tidaknya berbagai unsur alkali dan alkali tanah.

Kelarutan logam alkali dan alkali tanah dalam pereaksi tertentu berbedabeda. Logam alkali dapat larut dalam air dan ammonia menghasilkan larutan
berwarna biru jika encer, sedangkan logam alkali tanah memiliki kelarutan yang
kecil di dalam air dimana kelarutannya dalam pereaksi hidroksida, sulfat, kromat,
karbonat dan oksalat berbeda-beda dalam satu golongan. Berdasarkan latar belakang
ini, maka dilakukan percobaan untuk mengetahui warna yang dihasilkan oleh oleh
logam alkali dan alkali tanah serta kelarutan dari logam alkali tanah dalam pereaksi
yang berbeda-beda.
B. UNSUR PERIODE KETIGA
Keteraturan sifat dalam tabel periodik tidak hanya terjadi dalam satu
golongn. Di dalam satu periode dari kiri kekanan juga terdapat perubahan sifat yang
teratur. Keteraturan perubahan sifat ini akan terlihat dengan jelas pada unsur-unsur
periode ketiga.
Didalam periode ketiga tabel periodik unsur, terdapat delapan unsur dimulai
dari natrium (Na), magnesium (Mg), aluminium (Al), silikon (Si), fosforus (P),
belerang (S), klorin (Cl), dan argon (Ar).
Dari berbagai unsur yang terdapat dalam periode ketiga, tentunya masingmasing unsur mempunyai sifat keperiodikan, kegunaan, tempat ditemukan dan
rumus senyawa yang berbeda-beda.
Oleh karena berbagai perbedaan tersebut maka perlulah dilakukan
pengkajian terhadap berbagai hal tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
PRAKTIKUM I
UNSUR ALKALI DAN ALKALI TANAH
A.

Topik
Warna nyala unsur alkali dan alkali tanah
B.
Tujuan
Mempelajari warna nyala unsur alkali dan alkali tanah
C.
Rumusan Masah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang
dapat kami rumuskan dan akan dibahas dalam laporan ini adalah :
1. Bagaimana nyala senyawa logam alkali dan alkali tanah?
D.
Landasan Teori
A. Logam Alkali
Unsur-unsur dalam sistem periodik yang bersifat logam yaitu unsur-unsur golongan
s (Alkali = golongan 1 dan alkali tanah = golongan 2), sebagian golongan p (misalnya
aluminium = golongan 13, Sn dan Pb = golongan 14), unsur-unsur transisi golongan d
(Golongan 3-11), secara khusus golongan 12 (Zn, Cd, Hg) dan unsur-unsur transisi
dalam golongan f.
Logam biasanya dipikirkan sebagai padatan yang rapat, keras dan tidak reaktif.
Kenyataannya, logam-logam alkali berlawanan dari sifat-sifat ini yaitu, rapatan massa
rendah, lunak dan sangat reaktif. Semua logam alkali (Li, Na, K, Rb, Cs dan Fr)
berkenampakan mengkilat, berwarna keperakan, mempunyai konduktivitas listrik dan
panas yang tinggi. Logam alkali bersifat sangat lunak dan semakin lunak dengan
4

naiknya nomor atom. Litium (Li) dapat dipotong dengan pisau, tetapi kalium (K) dapat
diremas seperti mentega lunak. Sebagian besar logam mempunyai titik leleh yang
sangat tinggi, tetapi alkali mempunyai titik leleh rendah dan semakin rendah dengan
naiknya nomor atom.
Dalam Tabel 1. terdapat beberapa sifat fisika penting dari unsur grup IA. Unsurunsur ini memiliki daya hantar (konduktivitas) listrik danpanas yang tinggi dimana hal
ini merupakan sifat khas dari logam. Pipa yang diisi natrium (Na) digunakan untuk
penghantar (konduktor) listrik yang pendek berskala besar. Natrium (Na) yang meleleh
digunakan sebagai fluida pemindah (pentransfer) panas dalam beberapa reaktor nuklir.
Tabel 1. Sifat fisika logam alkali (tak termasuk fransium)
Titik leleh, oC
Titik didih, oC
Rapatan, g/cm
Distribusi elektron
Energi pengionan, eV
Jari-jari atom, Ao
Jari-jari ion, Ao
Keelektronegatifan
Struktur kristal

Li
181
1336
0,54
2,1
5,4
1,34
0,60
1,0
bcc

Na
98
881
0,97
2,8
5,1
1,54
0,95
0,9
Bcc

K
64
766
0,87
2,8
4,3
1,96
1,33
0,8
bcc

Rb
39
694
1,53
2,8
4,2
2,16
1,48
0,8
Bcc

Cs
29
679
1,88
2,8
3,9
2,35
1,69
0,7
Bcc

Menurut Kristian H. Sugiyarto (2003), beberapa sifat umum senyawa logam alkali
yaitu persifatan yang berkaitan dengan karakter ionik, kestabilan anion-anion besar
bermuatan rendah, hidrasi ion dan kelarutan sebagaimana diuraikan berikut ini.
1. Karakter ionik; ion logam alkali selalu mempunyai tingkat oksidasi +1 dan
sebagian besar senyawaannya berupa padatan ionik dan stabil. Senyawaannya tidak
berwarna kecuali dengan anion yang berwarna, misalnya kromat (CrO42-) dan
permanganat (MnO4-).
2. Hidrasi ion; semakin tinggi densitas muatan ion, semakin kuat ion terhidrasi karena
logam-logam alkali mempunyai densitas yang sangat rendah daripada densitas logamlogam pada umumnya, maka energi hidrasi senyawaan logam alkali juga sangat rendah.
Untuk ion litium (Li+) misalnya mempunyai energi hidrasi sebesar 519 kJ/mol,
sedangkan untuk ion magnesium (Mg2+) energinya 1920 kJ/mol. Kecenderungan energi
hidrasi ini yaitu semakin mengecil dengan naiknya jari-jari ion.
3. Kelarutan; sebagian besar senyawaan logam alkali larut dalam medium air,
walaupun kelarutannya berbeda-beda. Sebagai contoh, larutan jenuh litium klorida
(LiCl) mempunyai konsentrasi 14 mol/L, tetapi larutan jenuh litium karbonat (Li 2CO3)
mempunyai konsentrasi hanya 0,18 mol/L.
B. Logam Alkali Tanah
Golongan alkali tanah terdiri atas berilium (Be), magnesium (Mg), kalsium (Ca),
stronsium (Sr), barium (Ba) dan radium (Ra). Anggota pertama, berilium (Be) bersifat
mendekati semi-logam dan anggota terakhir radium (Ra) bersifat radioaktif sehingga
sifat-sifat kimianya tidak banyak diketahui secara mendalam.
5

Logam alkali tanah berwarna putih keperakan dan mempunyai densitas (rapatan)
relatif rendah yang semakin besar dengan naiknya nomor atom kecuali kalsium (Ca)
(Tabel 2). Ikatan metalik logam-logam alkali tanah lebih kuat daripada ikatan metalik
logam alkali sebagaimana ditunjukkan oleh data entalpi, atomisasi, data titik leleh dan
kekerasan yang lebih besar pula. Walaupun densitas naik dengan naiknya nomor atom
seperti halnya golongan alkali, titik leleh dan entalpi atomisasi berubah hanya sedikit
saja berbeda dari golongan alkali. Logam alkali tanah kurang reaktif, artinya kurang
elektropositif daripada logam alkali, namun lebih reaktif daripada logam-logam yang
lain.
Berbagai data fisis logam alkali tanah diberikan dalam tabel 2., dari berilium (Be)
ke barium (Ba) jari-jari atom meningkat secara beraturan. Pertambahan jari-jari
menyebabkan penurunan energi pengionan dan keelektronegatifan. Potensial elektrode
juga meningkat dari kalsium (Ca) ke barium (Ba), akan tetapi berilium (Be)
menunjukkan penyimpangan karena potensial elektodenya relatif kecil. Hal itu
disebabkan energi ionisasi berilium (Be) (tingkat pertama + tingkat kedua) relatif besar.
Titik cair dan titik didih cenderung menurun dari atas ke bawah. Sifat-sifat fisis, seperti
titik cair, rapatan dan kekerasan logam alkali tanah lebih besar jika dibandingkan
dengan logam alkali seperiode. Hal itu disebabkan logam alkali tanah mempunyai dua
elektron valensi sehingga ikatan logamnya lebih kuat.
Tabel 2. Data fisis logam alkali tanah
Sifat
Nomor atom
Konfigurasi elektron
Titik cair (oC)
Titik didih (oC)
Rapatan (densitas), gr/cm3
Energi pengionan
pertama, kJ/mol
Kedua, kJ/mol
Ketiga, kJ/mol
Keelektronegatifan skala
Pauling
Potensial reduksi standar
Jari-jari atom, A
Jari-jari ion, A
Kekerasan (skala Mohs)
Warna nyala

Be
4
2s2
1278
2970
1,85

Mg
12
3s2
649
1090
1,74

Ca
20
4s2
839
1484
1,54

Sr
38
5s2
769
1384
2,6

Ba
56
6s2
725
1640
3,51

899

738

590

590

503

1757
14848

1451
7733

1145
4912

1064
4210

965
3430

`1,5

1,2

0,9

-1,7
1,11
0,3
5
Tidak
ada

-2,38
1,6
0,65
2
Tidak
ada

-2,76
1,97
0,99
1,5
Jingga
merah

-2,89
2,15
1,13
1,8

-2,9
2,17
1,35
2

Merah

Hijau

Semua senyawa dari kalsium (Ca), stronsium (Sr) dan barium (Ba), yaitu logam
alkali tanah yang bagian bawah berbentuk senyawa ion, sedangkan senyawasenyawa berilium (Be) dan senyawa-senyawa magnesium (Mg) bersifat kovalen.
Sifat kimia logam alkali tanah bermiripan dengan logam alkali, tetapi logam alkali
6

tanah kurang reaktif dari logam alkali seperiode. Jadi berilium (Be) kurang reaktif
dibandingkan terhadap litium (Li), magnesium (Mg) kurang reaktif dibandingkan
terhadap natrium (Na) dan seterusnya. Hal itu disebabkan jari-jari atom logam alkali
tanah lebih kecil, sehingga energi pengionan lebih besar. Lagi pula logam alkali
tanah mempunyai dua elektron valensi, sedangkan logam alkali hanya satu.
Kereaktifan kalsium (Ca), sronsium (Sr) dan barium (Ba) tidak terlalu berbeda dari
logam alkali, tetapi berilium (Be) dan magnesium (Mg) jauh kurang aktif. Beberapa
reaksi logam alkali tanah berikut menggambarkan kecendrungan sifat unsur-unsur
itu.
1. Reaksi dengan air (H2O)
Kalsium (Ca), stronsium (Sr) dan barium (Ba) bereaksi baik dengan air
(H2O) membentuk basa dan gas hidrogen (H2). Magnesium (Mg) bereaksi
sangat lambat dengan air (H2O) dingin dan sedikit lebih baik dengan air
(H2O) panas, sedangkan berilium (Be) tidak bereaksi.
M(s) + 2H2O(l) M(OH)2(aq) + H2(g)
(M = Mg, Ca, Sr, Ba, dan Ra)
2. Reaksi dengan udara
Semua logam alkali tanah terkorosi terus menerus di udara membentuk
oksida, hidroksida atau karbonat, kecuali berilium (Be) dan magnesium
(Mg). Berilium (Be) dan magnesium (Mg) juga bereaksi dengan oksigen di
udara, tetapi lapisan oksida yang terbentuk melekat pada permukaan logam
sehingga menghambat korosi berlanjut. Apabila dipanaskan kuat, semua
logam alkali tanah, termasuk berilium (Be) dan magnesium (Mg), terbakar
di udara membentuk oksida dan nitrida.
2M(s) + O2(g) 2MO(s)
3M(s) + N2(g) M3N2
3. Reaksi dengan halogen (X2)
Semua logam alkali tanah bereaksi dengan halogen membentuk garam
halida.
M(s) + X2(g) MX2(s)
Lelehan halida dari berilium (Be) mempunyai daya hantar listrik yang buruk.
Hal itu menunjukkan bahwa halida berilium (BeX2) bersifat kovalen.
4. Reaksi dengan asam dan basa
Semua logam alkali tanah bereaksi dengan asam kuat seperti asam klorida
(HCl) membentuk garam dan gas hidrogen (H 2). Reaksi makin hebat dari
berilium (Be) ke barium (Ba).
M(s) + 2HCl(aq) MCl2(aq) + H2(g)
Berilium (Be) juga bereaksi dengan basa kuat, membentuk berilium
hidroksida (Be(OH)42-) dan gas hidrogen (H2)
Be(s) + 2NaOH(aq) + 2H2O(l) Na2Be(OH)4(aq) + H2(g)
C. Reaksi nyala logam alkali dan alkali tanah

Salah satu ciri khas dari suatu unsur ialah spektrum emisinya. Unsur yang
tereksitasi karena pemanasan ataupun karena sebab lainya, memancarkan radiasi
elektromagnetik yang disebut spektrum emisi. Spektrum emisi teramati sebagai
pancaran cahaya dengan warna tertentu, akan tetapi sesungguhnya itu terdiri atas
beberapa garis warna (panjang gelombang) yang khas bagi setiap unsur. Karena
keunikannya, spektrum emisi dapat digunakan untuk mengenali suatu unsur. Unsurunsur logam dapat dieksitasikan dengan memanaskan/membakar senyawanya pada
nyala api, misalnya pada pembakar bunsen atau pembakar spiritus. Akan lebih baik jika
yang digunakan garam klorida karena relatif mudah menguap. Warna nyala logam
alkali diberikan pada tabel 4.
Tabel 4. Warna nyala unsur-unsur alkali dan alkali tanah
Unsur
Litium

Warna Nyala
Merah

Natrium

Kuning

Kalium
Rubidium
Sesium

Ungu
Merah
Biru

Unsur
Berilium
Magnesiu
m
Kalsium
Stronsium
Barium

Warna Nyala
Putih
Putih
Jingga-merah
Merah
Hijau

Seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 4, unsur IA dan IIA memberi warna-warna
yang khas pada nyala api biasa. Dalam pekerjaan laboratorium analitik, uji-uji nyala
sering digunakan untuk mengungkapkan ada tidaknya berbagai unsur alkali dan alkali
tanah. Uji nyala kuning terhadap natrium (Na) adalah salah satu yang paling peka;
natrium (Na) yang lebih sedikit daripada satu bagian per milyar bagian pelarut (1 ppb)
bisa dideteksi.
D. Kelarutan
Pengertian kelarutan digunakan dalam beberapa paham. Kelarutan menyatakan
pengertian secara kualitatif dari proses larutan. Kelarutan juga digunakan secara
kuantitatif untuk menyatakan komposisi dari larutan. Suatu larutan dinyatakan
merupakan larutan tidak jenuh jika solut dapat ditambahkan untuk memperoleh
berbagai larutan yang berbeda dalam konsentrasinya. Dalam banyak hal, ternyata
proses penambahan solut tidak dapat berlangsung secara tidak terbatas. Suatu keadaan
akan dicapai dimana penambahan solut pada sejumlah solven yang tertentu tidak akan
menghasilkan larutan lain yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi. Pada keadaan ini,
solute tetap tidak larut. Hingga demikian ada batas jumlah tertentu dari solut yang dapat
terlarut dalam jumlah solven yang tertentu. Larutan yang dalam keadaan terbatas ini

disebut larutan jenuh dan konsentrasi dari larutan jenuh disebut kelarutan dari sejumlah
solut dalam jumlah solven tertentu yang digunakan.
Salah satu perbedaan logam alkali dari alkali tanah adalah dalam hal kelarutan
senyawanya. Senyawa logam alkali pada umunya mudah larut dalam air (H 2O),
sedangkan senyawa logam alkali tanah banyak yang sukar larut. Beberapa di antaranya
diberikan pada tabel 3.
Tabel 3. tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) senyawa-senyaawa alkali tanah
Anio
n
Kation
Be2+
Mg2+
Ca2+
Sr2+
Ba2+

OH-

SO42-

CrO42-

CO32-

C2O42-

2 x 10-18
1,8 x 10-

(besar)

(besar)

(kecil)

(besar)

(besar)

1 x 10-5

8,6 x 10-5

11

5.5 x 106

3.2 x 104

5 x 10-3

9.1 x 10-6 7.1 x 10-4 2.8 x 10-9


7.6 x 10-7 3.6 x 10-5
1.1 x 10-

1.2 x 10-

10

10

1.1.x 1010

5.1 x 10-9

2 x 10-9
2 x 10-7
1.6 x 10-7

*) Hanya dikenal garam hidroksi karbonat, Be(OH)2.BeCO3, yang sukar larut; BeCO3
tidak dikenal.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
1. Kelarutan basa bertambah dari berilium hidroksida (Be(OH)2) ke barium hidroksida
(Ba(OH)2). Dalam hal ini, berilium hidroksida (Be(OH)2) dan magnesium
hidroksida (Mg(OH)2) tergolong sukar larut, kalsium hidroksida (Ca(OH)2) sedikit
larut, sedangkan stronsium hidroksida (Sr(OH)2) dan barium hidroksida (Ba(OH)2)
mudah larut.
2. Kelarutan garam sulfat berkurang dari berilium sulfat (BeSO4) ke barium sulfat
(BaSO4). Dalam hal ini, berilium sulfat (BeSO4) dan magnesium sulfat (MgSO4)
tergolong mudah larut, kalsium sulfat (CaSO4) sedikit larut, sedangkan stronsium
sulfat (SrSO4) dan barium sulfat (BaSO4) sukar larut.
3. Kelarutan garam kromat berkurang dari berilium kromat (BeCrO4) ke barium
kromat (BaCrO4). Dalam hal ini, berilium kromat (BeCrO4), magnesium kromat
(MgCrO4) serta kalsium kromat (CaCrO4) tergolong mudah larut, stronsium kromat
(SrCrO4) sedikit larut, sedangkan barium kromat (BaCrO4) sukar larut.
4. Semua garam karbonat sukar larut.
5. Semua garam oksalat sukar larut, kecuali magnesium oksalat (MgC2O4) sedikit
larut.
Perbedaan kelarutan senyawa alkali tanah dapat digunakan untuk pemisahan
atau identifikasi ion alkali tanah.
E.

Metode Penelitian
a. Alat dan Bahan

Plat tetes
Gelas Kimia
Kawat nikrom
Pembakar spiritus
Kristal NaCl
Kristal KCl

(5 buah)
(2 buah)
(1 buah)
(1 buah)
(1 gram)
(1 gram)
9

Kristal CaCl2
Kristal SrCl2
Kristal BaCl2
Asam klorida (HCl) pekat

(1 gram)
(1 gram)
(1 gram)
(10 mL)

b. Cara Kerja
a) Tempatkan 1 gr kristal NaCl pada cawan petri.
b) Tuangkan asam klorida pekat kedalam 2 gelas kimia masing-masing sebanyak 1
mL.
c) Celupkan ujung kawat nikrom ke dalam HCl pekat dalam salah satu gelas kimia
itu.Kemudian,panaskan dalam pembakar spiritus hingga bersih,yaitu tidak
memberikan warna nyala lain.
d) Celupkan kawat nikrom itu ke dalam gelas kimia yang lain.Kemudian,masukkan
kawat nikrom ke dalam kristal NaCl.Selanjutnya,bakarlah ujung kawat nikrom itu
dan catatlah warna nyala yang terjadi.
e) Ulangi kegiatan 1- 4 untuk kristal KCl,CaCl2,SrCl2,dan BaCl2.
c. Hasil Pengamatan
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Garam Alkali dan Alkali Tanah


Natrium klorida (NaCl)
KCl
Kalsium klorida (CaCl2)
Stronsium klorida (SrCl2)
Barium klorida (BaCl2)

Warna
Kuning kemerahan
Ungu
Merah
Merah bata
Hijau Kekuningan

d. Analisa Data dan Pembahasan


Pada praktikum ini dilakukan percobaan untuk menentukan warna nyala dari
logam alkali dan alkali tanah serta kelarutan logam alkali tanah dalam beberapa
pereaksi yang berbeda. Percobaan pertama dilakukan untuk menguji warna yang
dihasilkan oleh logam alkali dan alkali tanah dalam nyala api. Pembersihan kawat
dilakukan dengan pencelupan kawat ke dalam larutan asam klorida (HCl) dimana
larutan ini berfungsi untuk membersihkan kotoran yang melekat pada kawat ose,
selain itu larutan asam klorida (HCl) tidak menghasilkan warna nyala saat dilakukan
pemijaran di atas nyala api sehingga tidak akan mempengaruhi hasil pengamatan uji
nyala nantinya. Pencelupan dilanjutkan ke dalam larutan uji natrium klorida (NaCl),
magnesium klorida (MgCl2), kalsium klorida (CaCl2), stronsium klorida (SrCl2) dan
barium klorida (BaCl2) yang dilakukan satu per satu setelah melakukan
pembersihan pada kawat ose dengan larutan asam klorida (HCl). Fungsi dari larutan
uji adalah untuk mengetahui warna yang dihasilkan oleh logam alkali dan alkali
tanah dimana pada uji nyala, sebuah unsur yang mengalami pemanasan akan
mengalami eksitasi sehingga memancarkan radiasi elektromagnetik yang disebut
spektrum emisi.
Berdasarkan hasil pengamatan, natrium klorida (NaCl) menghasilkan warna
kuning kemerahan, magnesium klorida (MgCl2) berwarna ungu, kalsium klorida
(CaCl2) berwarna merah, stronsium klorida (SrCl 2) berwarna merah bata dan barium
10

klorida (BaCl2) berwarna hijau kekuningan.Hasil yang diperoleh ini sudah sesuai
dengan teori dimana natrium (Na) akan menghasilkan warna kuning, magnesium
(Mg) tidak menghasilkan warna atau berwarna putih, kalsium (Ca) berwarna merah
bata, stronsium (Sr) berwarna merah tua dan barium (Ba) berwarna hijau.
Warna nyala pada setiap logam alkali dan alkali tanah dapat pula dilihat
pada tabel 4 yang menunjukkan perbedaan warna nyala pada setiap logam alakali
dan alkali tanah. Perbedaan warna nyala disebabkan karena perbedaan spektrum
emisi yang dihasilkan oleh setiap unsur logam. Hal ini didasarkan pada nomor atom
dan subkulit yang dimiliki oleh masing-masing unsur logam. Eksitasi dari subkulit
s, p dan d akan memberikan energi yang berbeda sehingga menghasilkan warna
nyala yang berbeda pula.
Percobaan kedua dilakukan untuk mengetahui kelarutan logam alkali tanah
dengan pereaksi natrium hidroksida (NaOH), natrium sulfat (Na 2SO4) dan natrium
karbonat (Na2CO3). Penambahan pereaksi ke dalam tabung reaksi yang telah berisi
larutan logam alkali tanah berfungsi untuk menunjukkan kelarutan dari setiap unsur
logam alkali tanah terhadap pereaksi yang digunakan.
Berdasarkan hasil pengamatan, kelarutan logam alkali tanah dalam dalam
pereaksi hidroksida (OH-) menurun dengan naiknya nomor atom namun terjadi
penyimpangan pada larutan magnesium klorida (MgCl2) yang sedikit larut.
Kelarutan logam alkali tanah dengan pereaksi natrium sulfat (Na2SO4) menurun dari
atas ke bawah, begitu pula kelarutan logam alkali tanah dalam pereaksi natrium
karbonat (Na2CO3) yang menurun dari atas ke bawah.
Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori dimana kelarutan logam
alkali tanah dalam natrium hidroksida (NaOH) seharusnya bertambah dari
magnesium hidroksida (Mg(OH)2) ke barium hidroksida (Ba(OH)2). Teori kelarutan
logam alkali tanah dalam natrium sulfat (Na 2SO4) telah sesuai dengan teori dimana
kelarutan garam sulfat berkurang dari magnesium sulfat (MgSO 4) ke barium sulfat
(BaSO4). Teori kelarutan logam alkali tanah dalam natrium karbonat (Na 2CO3) tidak
sesuai karena berdasarkan teori semua garam karbonat sukar larut.
Perbedaan yang dihasilkan oleh hasil pengamatan dan teori ini mungkin
disebabkan karena larutan sampel dan pereaksi yang sudah tidak bagus dimana
larutan sampel seperti barium klorida (BaCl 2) telah terdapat endapan sebelum
ditambahkan pereaksi sehingga setelah penambahan pereaksi larutan tidak akan
dapat larut dengan pereaksi tersebut.
e. Pertanyaan dan Jawaban
Pertanyaan : Bagaimana nyala senyawa logam alkali dan alkali tanah?
Jawaban : Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapatdiketahui bahwa
warna nyala senyawa NaCl adalah kuning kemerahan, KCl adalah ungu, BaCl2
adalah hijau kekuningan, CaCl2 adalah merah, dan SrCl2 adalah merah bata.
11

F.

Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
Warna nyala yang dihasilkan oleh setiap sampel adalah :
a. Natrium (Na)
= kuning kemerahan
b. Kalium (K)
= ungu
c. Kalsium (Ca)
= merah
d. Stronsium (Sr)
= merah bata
e. Barium (Ba)
= hijau kekuningan
b. Saran
Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan berikutnya
digunakan pereaksi lain seperti pereaksi kromat (CrO 42-) atau oksalat (C2O42-) untuk
mengetahui kelarutan logam alkali tanah.

PRAKTIKUM II
UNSUR PERIODE KETIGA
A. Topik
Unsur periode ketiga
B. Tujuan
Mempelajari keteraturan sifat unsur periode ketiga
C. Perumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang
dapat kami rumuskan dan akan dibahas dalam laporan ini adalah :
1. Bagaimanakah keteraturan sifat unsur periode ketiga?
D. Landasan Teori
A. Sifat-Sifat Unsur Periode Ketiga
Unsur unsur periode ketiga terdiri atas Na, Mg, Al, Si, P, S, Cl dan Ar. Harga
keelektronegatifan unsur periode ketiga dari kiri ke kanan semakin besar dan sebaliknya,
harga keelektropositifan semakin kecil. Hal ini disebabkan oleh harga keelektronegatifan Y
semakin besar sehingga semakin mudah membentuk ion negative.
Table 3-13, data sifat periodik unsur-unsur periode ketiga
Sifat Senyawa
Nomor atom
Elektron valensi
Jari-jari atom
Energi ionisasi(Kj/ma)
Keelektronegatifan

Na

Mg

Al

Si

11
35
1,86
495,8
0,93

12
352
1,60
737,7
1,31

13
3523p1
1,43
577,6
1,61

14
352p32
1,17
786,4
1,90

Cl

Ar

15
16
17
18
2
3
2
4
2
5
2
35 3p 35 3p 35 3p 35 3p6
1,10
1,04
0,99
0,97
1011,7 999,6 1251,1 1520,4
2,19
2,58
3,16
-

Berdasarkan tabel tersebut, anda dapat mengetahui bahwa dari kiri ke kanan, jumlah
elektron valensi semakin banyak, sedangkan jumlah kulitnya tetap. Akibatnya, jari-jari
atom semakin kecil sehingga semakin sukar melepaskan elektron (ionisasinya semakin
besar).
1. Sifat Fisik Unsur Periode Ketiga
Table 3.14 titik leleh dan titik didih unsur periode ke tiga
Sifat Senyawa

Na

Mg

Al

Si

Cl

Ar

Titik leleh ( C)

97,81

648,8

1,410

44,1

119,0

-100,98

-189,2

Titik didih

903,8

1,105

660,3
7
2467

2,355

280

44,67

-34,6

-185,7

Berdasarkan tabel di atas telah diketahui bahwa unsur Na, Mg, Al, Si, P, S berwujud padat
pada suhu kamar karena unsur-unsur tersebut memiliki harga (t.l) dan (t.d) di atas suhu
12

ruangan (di atas 250C). Sedangkan unsur Cl dan Ar berwujud gas karena memiliki (t.l) dan
(t.d) di bawah suhu ruangan.
Dalam periode ketiga, letak logam disebelah kiri, makin ke kiri sifat logam semakin reaktif,
Na >Mg> Al. Jadi Na
paling reaktif. Bukan logam terletak sebelah kanan makin ke
kanan sifat bukan logamnya makin kuat, a> 5> P> Si. Klor paling reaktif dan Si paling
tidak reaktif. Jadi , unsur periode ketiga dari Na ke Cl sifat logamnya makin bertambah.
2. Sifat Kimia Unsur Periode Ketiga
Unsur unsur periode ketiga memiliki keteraturan sifat secara berurutan dari kiri kekanan
sebagai berikut :
a. Sifat preduksi berkurang dan sifat pengoksidasi bertambah
b. Sifat logam semakin lemah dan sifat nonlogam semakin kuat
c. Sifat basa semakin lemah dan sifat asam semakin kuat
3. Sifat Pereduksi dan Sifat Pengoksidasi
Sifat pereduksi semakin bertambah, sedangkan sifat pengoksidasi unsure-unsur periode
ke tiga ini dapat anda lihat dari harga potensial reduksinya.
Table 3.15 potensial reduksi standart unsur-unsur periode ketiga.
Sifat Senyawa

Na
-2,711

Mg
-2,375

Al
-1,706

Si
-0,13

P
-0,276

S
-0,508

Cl
+1,358

Ar
-

Dari kiri ke kanan unsur periode ketiga memiliki harga potensial reduksi 5 standart
yang semakin positif sehingga sifat pereduksinya semakin berkurang dan sifat
pengoksidasinya semakin bertambah.
Natrium merupakan pereduksi yang reaktif terhadap air. Sifat pereduksi magnesium
lebih lemah dibandingkan natrium. Sehingga logam Mg hanya dapat bereaksi dengan air
panas.
Contoh :
2Na (5) + 2H O (l)

2Na OH (ag) + H2 (g)

Mg (5) + H2O (l)

(tidak bereaksi)

Mg (5) + 2H2O (l) panas


Al (5) + H2O (l)

Mg (OH)2 + H2 (g)

(tidak bereaksi)

2Al (5) + 3H2O (g) panas

Al2 O3 (5) + 3H2 (g)

Sedangkan silicon memiliki sifat pereduksi

lebih lemah dibandingkan aluminium

sehingga silicon yang bereaksi dengan oksidator kuat, seperti oksigen dan klorin.
Contoh :
Si (5) + O2 (g)
Si (5) + 2Cl2 (g)

Si O2 (5)
Si Cl4 (l)

4. Sifat Logam dan Nonlogam


Unsur-unsur periode ketiga, seperti Na, Mg, dan Al merupakan unsur logam, sedangkan
unsur-unsur P, S, dan Cl merupakan unsur nonlogam. Adapun Si merupakan unsur yang
memiliki sifat peralihan antara unsur logam dan nonlogam sehingga disebut unsur
metalloid (semi logam). Argon (Ar) termasuk golongan gas mulia yang bersifat insert (sulit
bereaksi) sehingga tidak dibahas lebih lanjut dalam bab ini.
13

C. Sifat Asam-Basa
Sifat asam berkaitan dengan sifat non logam,sedangkan sifat basa berkaitan dengan
logam. Sifat basa atau sifat asam dari suatu unsure bergantung pada konfigurasi electron
dan harga ionisasi unsure-unsur tersebut.
1. Sifat Basa
Dari kiri ke kanan, unsur-unsur periode ketiga memiliki harga ionisasi yang
semakin besar sehingga semakin sukar melepas electron. Penyebabnya electron Dari unsur
tersebut akan kurang tertarik kea rah atau oksigen sehingga kecenderungan untuk
membentuk ion OH menjadi berkurang.
Contoh :
M OH M+ + OHJadi, dari kiri kekanan sifat basa usnur periode ketiga semakin lemah.
2. Sifat Asam
Energi ionisasi unsur periode ketiga dari kiri ke kanan semakin besar sehingga
semakinmudah menarik electron dari atom oksigen. Jadi dari kiri ke kana sifat asam unsur
periode ketiga semakin kuat.
Contoh :
M OH MO- + H+
Senyawa asam unsur periode ketiga, yaitu : asam siukat (H2SiO3) asam fosfat (H3DO4)
asam sinfat (H2SO4) dan asam paklorat (HCO4). Senyawa H2SiO3 merupakan asam
sangat lemah sehingga mudah terurai menjadi senyawa SiO2 dan H2O1
Na
Logam

Mg

Al

Si
Metaloid

P
Nonlogam

Cl

Urutan kenaikan energi ionisasi: Na < Al < Mg < Si < S < P < Cl <
Ar

Yang terdapat bebas di alam: S dan Ar

Makin ke kanan maka sifat asam makin kuat

Al(OH)3 bersifat amfoter

Jari-jari, sifat logam, sifat basa, dan sifat reduktor terbesar


dimiliki oleh natrium

Energi ionisasi terbesar dimiliki oleh argon

Elektronegatifitas, sifat asam, sifat oksidator terbesar dimiliki


oleh klorin

Si merupakan unsur ke-2 terbanyak setelah oksigen pada kulit


bumi

Al merupakan unsur ke-3 terbanyak setelah oksigen dan Si pada


kulit bumi.
14

Ar
Gas mulia

UNSUR
Na

Mg

Si

TERDAPAT
PADA
Elektrolisis leburan NaCl Pembuatan TEL
Garam
(Proses Down)
Mereduksi bijih loga
Sendawa Chili
(Ti)
Kriolit
Lampu Kabut
Bijih silikat
Elektrolisis lelehan
Magnalium untuk bahan Air laut
MgCl2
kerangka pesawat
Magnetit
terbang
Kiserit
Dolomit
Karnalit
Asbes
Mika
Reduksi pasir
Bahan semikonduktor Pasir/kuarsa
SiO2 dengan C dalam
untuk kalkulator,
Tanah liat
tanur listrik
mikrokomputer, polimer Asbes
silikon untuk mengubah
Mika
jaringan pada tubuh
PEMBUATAN

Proses Wohler
(memanaskan campuran
fosforit, pasir dan C pada
suhu 1300oC dalam tanur
listrik)

Fosfor putih (beracun)


untuk bahan baku
pembuatan H3PO4
Fosfor merah (tidak
beracun) untuk bidang
gesek korek api
Marten Hall
Alat masak, karena
Penambahan kriolit
tahan panas dan tahan
dalam proses Hall
karat karena membentuk
berfungsi:
lapisan oksida
Melarutkan Al2O3
Paduan Al untuk
Menurunkan titik leleh pesawat terbang
Al2O3
Al(OH)3 untuk obat
maag
Pembuatan dengan 2
Pembuatan korek api
cara:
1) MetodeFrasch (yang Proses vulkanisasi karet
ada di dalam tanah)
2) MetodeSisilia (yang Pembuatan CS2(bahan
ada di permukaan tanah) baku serat rayon)

Al

Pembuatan H2SO4 ada 2


cara:
1) ProsesKontak dengan
bahan baku SO2,
katalisnya V2O5
2) Proses Bilik
Timbal dengan bahan
baku SO2, katalisnya uap
nitroso (campuran NO
dan NO2)
B.

KEGUNAAN

RUMUS SENYAWA
NaCl
NaNO3
Na3AlF6
Na2SiO3
MgCl2
MgCO3
MgSO4.3H2O
MgCO3.CaCO3
KCl.MgCl2.6H2O
CaMg(SiO3)4
K-Mg-Al Silikat
SiO2
Al2O3.2SiO2.2H2O
Mg-Ca-Silikat
K-Mg-Silikat

Batu karang fosfat Ca3(PO4)2


(apatit dan fosforit)

Alumino silikat

Campuran Al-O-Si

Korundum

Al2O3

Kriolit

Na3AlF6

Bauksit

Al2O3.xH2O

Pirit

FeS2

(NH4)SO4 atau pupuk


ZA
H2SO4 untuk elektrolit
pada aki (accumulator)
CuSO4.5H2O (terusi)
untuk anti jamur pada
tanaman dan kayu

Unsur-Unsur Periode Ketiga di Alam

1. Aluminium
Sifat-sifat penting yang dimiliki aluminium sehingga banyak digunakan sebagai material
teknik:
- Berat jenisnya ringan (hanya 2,7 gr/cm, sedangkan besi 8,1 gr/ cm)
- Tahan korosi
- Penghantar listrik dan panas yang baik
15

- Mudah di fabrikasi/di bentuk


- Kekuatannya rendah tetapi pemaduan (alloying) kekuatannya bisa ditingkatkan
Sifat bahan korosi dari aluminium diperoleh karena terbentuknya lapisan aluminium
oksida (Al2O3) pada permukaan aluminium. Lapisan ini membuat Al tahan korosi tetapi
sekaligus sukar dilas, karena perbedaan melting point (titik lebur).
Aluminium umumnya melebur pada temperature 600 derajat C dan aluminium
oksida melebur pada temperature 2000oC. Kekuatan dan kekerasan aluminium tidak begitu
tinggi dengan pemaduan dan heat treatment dapat ditingkatkan kekuatan dan kekerasannya.
Aluminium komersil selalu mengandung ketidak murnian 0,8% biasanya berupa besi,
silicon, tembaga dan magnesium.
Sifat lain yang mnguntungkan dari aluminium adalah sangat mudah difabrikasi, dapat
dituang (dicor) dengan cara penuangan apapun.
Dapat deforming dengan cara: rolling, drawing, forging, extrusi dll. Menjadi bentuk
yang rumit sekalipun. Dalam keadaan murni aluminium terlalu lunak, kekuatannya rendah
untuk dapat dipakai pada berbagai keperluan teknik.
Dengan pemaduan teknik (alloying), sifat ini dapat diperbaiki, tetapi seringkali sifat
tahan korosinya berkurang demikian pula keuletannya.
Sedikit mangan, silicon dan magnesium, masih tidak banyak mengurangi sifat tahan
korosinya, tetapi seng, besi, timah putih, dan tembaga cukup drastic menurunkan sifat tahan
korosinya.
Paduan aluminium dapat dibagi menjadi 2 kelompok:
1. Aluminium wronglt alloy (lembaran)
2. Aluminium costing alloy (batang cor)
2. Silikon
1.

Sifat Fisika
[Ne] 3S23P2

Konfigurasi
Fase

Solid

Titik leleh (K)

1687

Titik didih (K)

3538

Distribusi Elektron

8,2

Energi Pengionan (eV/atm)

8,2

Jari-jari kovalen atom ()

1,17
0,41 (Si4+)

Jari-jari ion
Keelektronegatifan

1,8

Berat atom standar (g.mol-1)

28,085

Bahan beku (KJ.mol-1)

50,21

Kapasitas bahan / 25oC (J.mol.K-1)

19,789

Bahan penguapan (KJ mol-1)

359

Energi ikat diri (KJ mol-1)

2.

210-250

Sifat Kimia
a. Sifat-sifat kimia unsur-unsur utama golongan IA dan IIA dari atas ke bawah
dalam tabel periodik adalah sangat reaktif, sifat logamnya bertambah (dari atas
16

ke bawah dalam tabel periodik); bereaksi dengan oksigen, unsur halogen,


air,asam encer,dan amonia.
b. Unsur-unsur golongan IIIA tidak sereaktif golongan IA dan IIA. Boron dapat
bereaksi dengan unsur halogen, membentuk asam oksi, larut dalam air dan
membentuk molekul-molekul ion raksasa dengan atom oksigen. Adapun garam
aluminium akan mengkristal dalam larutannya sebagai hidrat.
c. Karbon dan silikon tidak reaktif pada suhu biasa. Karbon bereaksi langsung
dengan fluor. Jika karbon dibakar dalam udara yang terbatas menghasilkan
karbon monoksida. Karbon dapat membentuk ikatan kovalen tunggal, dan
rangkap untuk membentuk senyawa organik.
d. Silikon bereaksi dengan halogen; jika dipanaskan membentuk oksida;
membentuk garam dari asam oksi dan membentuk molekul-molekul dan ion-ion
raksasa dengan atom oksigen.

Ikatan silikon dioksida :


a. Reaksi dengan Halogen
Silikon bereaksi dengan halogen secara umum, bahkan sampai terbakar dalam
gas flour (menggunakan suatu atom halogen).
Contohnya :
Si + 2X2 SiX4
b. Asam-oksi yang umum
Bila dipanaskan dalam udara, unsur ini bereaksi dengan oksigen dalam reaksi
pembakaran yang sangat eksotermik untuk membentuk oksida SiO 2, pada
hakikatnya tidak reaktif dengan air pada suhu-suhu biasa. Namun, dua asam
silikat sederhana adalah asam ortosilikat, H4SiO4, dan asam metasilikat, H2SiO3.
Kedua senyawa ini praktis dan larut dalam air, tetapi mereka memang bereaksi
dengan basa.
Contohnya:
H4SiO4(s) + 4 NaOH(aq) Na4SiO4(aq) + H2O(aq) (nartium ortosilikat)
3. Fosforus
Fosforus terdapat di alam sebagai mineral apatit Ca 9(PO4)6.CaX2 (X=F, Cl atau OH)
dan batuan fosfat Ca3(PO4)2. Fosforus dipisahkan dari senyawanya dengan cara mereduksi
batuan fosfat dengan SiO2 dan karbon.
2Ca3(PO4)2 + 6SiO2 + 10C P4 +6CaSiO3 + 10CO
Fosforus bebas merupakan molekul teraatomik (P4) yang mempunyai dua bentuk
kristal, yaitu fosforus merah dan fosforus putih. Fosforus putih lebih reaktif dari pada
fosforus merah. Fosforus mudah terbakar di udara membentuk fosforus (V) oksida.
P4 (S) + 5O2 (g) P4O10 (g)
Fosforus larut dalam CS2 dan pelarut organik yang lain, tetapi tidak larut dalam air,
sehingga fosforus disimpan di dalam air.
Fosforus merah digunakan untuk membuat korek api (safety match), sedangkan
senyawa fosfat banyak digunakan untuk pupuk sintesis yang dikenal sebagai TSP, DSP, dan
ES, termasuk sebagai pupuk campuran.

17

Salah satu senyawa fosforus yang terpenting adalah asam fosfat (H 3PO4). Senyawa
ini banyak digunakan untuk industri terutama industri logam, yaitu untuk pencegahan
perkaratan ada logam besi. Kegunaan fosfat yang lain adalah untuk industri pupuk.
4. Belerang
Belerang atau sulfur adalah unsur
kimia dalam tabel
periodik yang
memiliki
lambang S dan nomor atom 16. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa. Belerang,
dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat kristalin kuning.
Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineralmineral sulfida dan sulfat. Ia adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam
dua asam amino. Penggunaan komersilnya terutama dalam fertilizer namun juga
dalam bubuk mesiu, korek api, insektisida dan fungisida.
Belerang merupakan unsur yang termasuk di dalam golongan oksigen atau golongan
VI A dalam sistem table periodik unsur, yang terdiri dari unsur oksigen, sulfur atau
belerang, dan selenium yang termasuk ke dalam non logam, telurium semilogam dan
polonium sebagai logam dalam golongan ini.
1) Belerang ditemukan di alam sebagai unsur bebas, sulfat, maupun sebagai bijih sulfida.
2) Beberapa persenyawaan unsur belerang :

Hidrogen Sulfida

Sulfida

Oksida Belerang

Asam Sulfat

Garam Oksi Belerang

Halida Belerang

Belerang ditemukan di alam sebagai unsur bebas, sulfat, maupun sebagai bijih sulfida.
Belerang berwarna kuning pucat, padatan yang rapuh, yang tidak larut dalam air tapi
mudah larut dalam CS2 (karbon disulfida).
Dalam berbagai bentuk, baik gas, cair maupun padat, unsur belerang terjadi dengan
bentuk alotrop yang lebih dari satu atau campuran. Dengan bentuk yang berbeda-beda,
akibatnya sifatnya pun berbeda-beda dan keterkaitan antara sifat dan bentuk alotropnya
masih belum dapat dipahami (Clark, 2008).
Berdasarkan hubungan berkala dan konfigurasi elektron, diharapkan ada persamaan
antara S dan O. Kedua unsur ini membentuk senyawa ionik dengan logam aktif dan
keduanya membentuk senyawa kovalen yang serupa, H2S dan H2O, CS2 dan CO2, SCl2
dan Cl2O. Tetapi ada faktor faktor yang membedakan senyawa oksigen dan belerang.
Atom O mempunyai satu ikatan tunggal kovalen dengan jari- jari 74 pm. Sedangkan
atom S = 104 pm. Elektronegativitasnya 3,44 untuk O dan 2,58 untuk S. Ikatan hidrogen
dalam senyawa belerang tidak senyata dalam senyawa oksigen. Dibandibngkan O,
kapasitas atom S lebih besar berikatan dengan atom-atom lain secara serentak karena
tersedianya orbital 3d (Petrucci,1985 : 129).
E. Metode Penelitian
a. Alat dan Bahan Praktikum
Pisau
Penguji daya hantar listrik
Sendok bakar
Gelas Kimia
Penjepit Logam
Pembakar Spiritus
Logam Natrium
Lempeng Mg dan Al
Serbuk Belerang
Larutan HCl 1 M
Kertas lakmus merah dan biru
Aquades
b. Cara Kerja

( 1 buah )
( 1 set )
( 1 buah )
( 1 buah )
( 1 buah )
( 1 buah )
( 1 butir )
( 3 cm )
( 5 gram )
( 15 mL )
( 2 lembar )
( 250 mL )
18

1. Sifat Fisik
a. Perhatikan dengan seksama sepotong logam natrium sebelum dan sesudah di
potong dengan pisau.Bagaimana warnanya?Ujilah daya hantar listriknya.
b. Ulangi cara kerjanya menggunakan lempeng logam Mg,Al dan serbuk
belerang.
2. Sifat Kimia
a. Reaksi dengan air
1. Masukkan sepotong natrium sebesar kerikil ke dalam aquades yang telah
di tetesi dengan dua tetes larutan fenolfetalin.Catatlah perubahan warna
yang terjadi.
2. Ulangilah cara kerja 1 menggunakan lempeng logam Mg,Al dan serbuk
belerang.
b. Reaksi oksida magnesium dan oksida belerang dengan air
1. Bakarlah sepotong pita magnesium dan masukkan abunya kedalam
air.Ujilah larutan yang terjadi dengan lakmus.
2. Bakarlah serbuk belerang dengan sendok pembakar dan segera
masukkan kedalam gelas kimia yang berisi air. Ujilah larutan yang
terjadi dengan lakmus.
c. Hasil Pengamatan
1. Sifat Fisik
Unsur
Sifat Fisik
Rupa/Kekerasan
Daya Hantar
Listrik

Na
Keras
Berupa kerikil
Kuat

Mg
Keras
Logam pita
Lemah

2. Sifat Kimia
a. Reaksi dengan air
Na + H2O
: 2Na (5) + 2H O (l)

S
Bubuk
Bubuk Kuning
Lemah

2Na OH (ag) + H2 (g)

Mengalami perubahan warna dari jernih/putih menjadi warna


ungu,kemudian pada saat direaksikan maka timbul
percikan/terbakar/meledak,selanjutnya lakmus biru yang telah dicelupkan
kedalam larutan tersebut berubah warna menjadi ungu,begitupun lakmus
merah yag dicelup tetap pada warna semula yaitu merah dan setelah di uji
dengan daya penghantar arus listrik maka dapat diketahui bahwa dapat
menghantarkan arus listrik dengan kuat karena nyala lampu terang.
Mg + H2O
:
Mg (5) + H2O (l)
(tidak bereaksi)
Mg (5) + 2H2O (l) panas

Mg (OH)2 + H2 (g)

Mengalami perubahan warna dari jernih/putih menjadi warna


hitam,kemudian lakmus biru yang telah dicelupkan kedalam larutan tersebut
berubah warna menjadi ungu,begitupun lakmus merah yag dcelup tetap pada
warna semula yaitu merah dan setelah di uji dengan daya penghantar arus
listrik maka dapat diketahui bahwa dapat menghantarkan arus listrik dengan
lemah karena nyala lampu redup.
Al + H2O

:
Al (5) + H2O (l)

(tidak bereaksi)

2Al (5) + 3H2O (g) panas

Al2 O3 (5) + 3H2 (g)

S + H2O
: Mengalami perubahan tekstur dari bubuk menjadi
cair,kemudian lakmus biru yang telah dicelupkan kedalam larutan tersebut
19

berubah warna menjadi merah,begitupun lakmus merah yag dcelup tetap


pada warna semula yaitu merah dan setelah di uji dengan daya penghantar
arus listrik maka dapat diketahui bahwa dapat menghantarkan arus listrik
dengan lemah karena nyala lampu redup
b. Reaksi oksida magnesium dan oksida belerang dengan air
MgO+ H2O : Magnesium Oksida bereaksi lambat dengan air
menghasilkan Magnesium Hidroksida (milk of magnesia), yang digunakan
sebagai zat aktif untuk menetralkan asam lambung berlebih. Reaksi
pembentukan milk of magnesia adalah sebagai berikut :
MgO(s) + H2O(l) > Mg(OH)2(s)
SO2+ H2O
: Sulfur dioksida sedikit larut dalam air, bereaksi dengan air
menghasilkan larutan asam sulfit (asam sulfur(IV)), H2SO3. Ini hanya ada
dalam bentuk larutan, usaha untuk mengisolasinya hanya akan mendapatkan
sulfur dioksida kembali.

d. Analisa Data dan Pembahasan


Masing-masing tabung dimasukkan 2 batang paku. setelah di amplas, masingmasing larutan seperti air suling, air yang mendidih, NaCl dan minyak tanah. Kemudian
masing-masing tabung diamati. Hari pertana tidak terjadi perubahan sama sekali.
Setelah 2 hari dibiarkan, tabung pertama sudah mengalami pengaratan, tabung ketiga
dan kelima mulai mengalami pengaratan sementara tabung ke dua dan ke empat tidak
mengalami pengaratan sama sekali. Perubahan yang terjadi pada tabung pertama,
ketiga, dan , kelima terjadi akibat adanya reaksi oksidasi antara besi dan larutan. Hasil
yang bervariatif dengan jumlah karat yang berbeda-beda disebabkan sifat setiap unsur
dalam melakukan reaksi oksidasi terhadap paku hingga menjadi karat berbeda. Larutan
yang tidak terjadi perkaratan pada paku berarti tidak memiliki kemampuan oksidasi
sebab paku tidak terjadi perkaratan. Semakin banyak reaksi oksidasi yang terjadi,
semakin banyak pula karat. Demikian sebaliknya jika tidak ada karat atau sedikit
karatyang muncul maka larutan tersebut tidak mampu melakukan oksidasi.
Larutan mampu menangkap unsur oksigen di sekitarnya, namun pada tabung 3 yang
ditutup oleh plastik,juga terjadi perkaratan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan larutan
untuk oksidasi pada paku sehingga berkarat. Semakin dekat besi dengan oksigen/udara
maka kemungkinan besar terjadi perkaratan, maka oleh itu karat yang mengambang
merupakan karat yang terjadi akibat reaksi oksidasi dan karat yang mengendap merupakan
karat yang telah berat massanya hingga jatuh ke dasar tabung.
e. Pertanyaan dan Jawaban
Pertanyaan : Bagaimanakah keteraturan sifat unsur periode ketiga?
Jawaban : Unsur unsur periode ketiga memiliki keteraturan sifat secara berurutan
dari kiri kekanan .
Sifat reduktor berkurang dan sifat oksidator bertambah.
Sifat logam semakin lemah dan sifat non logam semakin kuat,
Sifat basa semakin lemah dan sifat asam semakin kuat.
F. Kesimpulan dan Saran
a. Kesimpulan

Unsur unsur periode ketiga terdiri atas N a, Mg, Al, Si, P, S, Cl dan Ar.
Harga keelektronegatifan unsur periode ketiga dari kiri ke kanan
semakin besar dan sebaliknya, harga keelektropositifan semakin kecil.
Hal ini disebabkan oleh harga keelektronegatifan Y semakin besar
sehingga semakin mudah membentuk ion negative. Urutan kenaikan
energi ionisasi: Na < Al < Mg < Si < S < P < Cl < Ar.
Yang terdapat bebas di alam: S dan Ar. Makin ke kanan maka sifat asam
makin kuat. Al(OH)3 bersifat amfoter. Jari-jari, sifat logam, sifat basa,
dan sifat reduktor terbesar dimiliki oleh natrium. Energi ionisasi terbesar
20

dimiliki oleh argon. Elektronegatifitas, sifat asam, sifat oksidator


terbesar dimiliki oleh klorin. Si merupakan unsur ke-2 terbanyak setelah
oksigen pada kulit bumi. Al merupakan unsur ke-3 terbanyak setelah
oksigen dan Si pada kulit bumi.

Unsur- unsur periode ketiga yang terdapat di alam antara lain


aluminium, silikon, fosforus, dan belerang, dimana unsur-unsur tersebut
digunakan dalam bidang industri dan kesehatan untuk kehidupan, selain
itu unsur-unsur tersebut memiliki sifat-sifat, keberadaan dan cara
memperolehnya yang berbeda-beda.

b. Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan, yakni:
Kita selayaknya menjaga kelestarian alam, karena rusaknya alam
akan berdampak terhadap terjadinya berbagai bencana yang menimpa
manusia, alam tidak seharusnya dieksploitasi secara berlebihan, kita
seharusnya menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab karena
berbagai kekayaan seperti unsur-unsur di alam, suatu saat akan habis jika
terus menerus dikeruk. Berbagai unsur tidak seharusnya digunakan sebagai
bahan peledak ataupun bahan perusak karena sama halnya bahwa kita tidak
menggunakan karunia yang Allah berikan kepada kita dengan baik dan
amanah.

BAB III
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Harefa, Allensius Karelsta, Golongan IIA (Alkali Tanah). scribd.com. 9 April 2010.
http://www.scribd.com/doc/29662413/Golongan-IIA. Diakses pada tanggal 27 Mei 2012
Keenan, Charles W., Donald C. Kleinfelter dan Jesse H. Wood. Ilmu Kimia untuk
Universitas. Jakarta Erlangga, 1986
Pikir, Suharno. Reaksi-reaksi Kimia . Surabaya: Universitas Airlangga Surabaya, 1990
Ratna, et. al., Logam Alkali dan Alkali Tanah. Chem-is-try.org - Situs Kimia Indonesia. 7
Februari 2009.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/logam-alkali-dan-alkalitanah/. Diakses pada tanggal 27 Mei 2012
Sastrohamidjojo, Hardjono. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM-Press, 2008
Sugiyarto, Kristian H.. Kimia Anorganik II. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta,
2003
Sudarmo, Unggul. 2006. Kimia untuk SMA kelas XII. Jakarta : Phibeta.
Surakitti. 1989. Kimia untuk kelas 3 SMA .Jakarta : PT Intan Pariwara.
http://www.nuryanto.net/2010/11/unsur-unsur-periode-ketiga.html
http://Magnetic susceptibility of the elements and inorganic compounds, in Handbook of
Chemistry and Physics. CRC press. 17 Oktober 2000. ISBN0849304814.
http://www.wikipedia.com.

21