Anda di halaman 1dari 4

NAMA

: FIRDHA AULIA NISA

NRP

: 1320221127

FK

: UPN JAKARTA

1. Infiltrat : Pengisian ruang udara oleh transudat, eksudat, darah maupun sel. Serta
gambaran densitas yang abnormal yang umumnya berbentuk bercak-bercak atau titik-titik
kecil dengan densitas sedang dan batas tidak tegas.
2. Fibrosis : jaringan parut dengan gambaran berbentuk garis atau Opasitas linear di
lapangan paru atau pita dengan batas yang tegas dan densitas yang tinggi. Merupakan
gambaran suatu proses lama dari peradangan pada paru.
3. Kalsifikasi : deposit kalsium/kapur yang pada foto toraks memiliki gambaran bercak atau
titik dengan densitas yang tinggi menyerupai jaringan tulang,
4. Bullae: Suatu kantong berdinding tipis yang berisi udara, umumnya disebabkan oleh
destruksi alveolus kemudian terisi oleh udara. Bullae biasanya terletak dekat dengan pleura/di
perifer paru. Gambaranya adalah area avaskuler berbentuk bulat dan berdinding tipis.
5. Kista : Suatu rongga yang spheris, berdinding tipis nongranulomatous, berisi udara, cairan
atau semifluid material.
6. Kavitas: Bentuk rongga udara yang lain dalam paru. Istilah ini biasanya diperuntukkan
bagi rongga yang terbentuk akibat nekrosis jaringan, tidak seperti bulla. Dinding yang tebal
dan tidak teratur merupakan gambaran yang membedakannya dengan bulla atau bleb.
7. Abses: Suatu rongga yang dibatasi jaringan granulasi yang didalamnya terdapat pus.
Gambarannya berupa kavitas dengan air fluid level berdingding tebal dengan area konsolidasi
disekitarnya.
8. Tuberkuloma : merupakan sarang-sarang perkijuan (caseosa) berbentuk bulat/nodul
dengan diameter 0,5-4 cm yang terjadi pada TB paru post primer.

9. Pleural effusion: cairan yang berlebih diantara kedua pleura yaitu pleura visceralis dan
parietalis, dapat disebabkan oleh infeksi, tumor atau kelainan sistemuk. Gambarannya adalah
konsolidasi homogen di struktur paru bawah dengan meniscus sign, berjalan dari lateral atas
menuju ke medial bawah, disebut juga dengan elis line.
10. Pneumotoraks: Terkumpulnya udara dalam rongga pleura, yang memberikan gambaran
berupa area hiperlusen avaskuler di daerah perifer paru. Jika luas akan memberikan efek
pendorongan terhadap paru (menjadi kolaps), dan pendorongan mediastinum.
11. Swarte : penebalan pleura akibat penyakit pleura yang kronis (pleuritis atau
pneumotoraks berulang) sehingga terjadi penimbunan jaringan ikat dan kalsifikasi.
12. Tumor paru: Pertumbuhan abnormal dari jaringan paru yang memberikan gambaran
berupa konsolidasi. Pada massa yang ganas memberikan konsolidasi dengan batas tidak tegas
dan tidak teratur dan dapat menyebabkan emfisema setempat, atelektasis, peradangan atau
efusi pleura. Pada massa jinak gambaran berupa konsolidasi homogen berbatas tegas.
13. Tumor mediastinum : tumor yang terdapat di mediastinum, misalnya tiroid,kista
bronkogenik, limfoma dan teratoma. Gambarannya berupa konsolidasi di mediastinum atau
mediastinum yang melebar, membentuk sudut yang lancip.
14. Emfisema : suatu keadaan, dimana paru lebih banyak berisi udara sehingga ukuran paru
bertambah, baik anterior-posterior maupun vertikal ke arah diafragma. Gambaran paru
menjadi lebih radiolusen, bentuk torak seringkali menjadi kifosis, diafragma letak rendah
dengan diafragma mendatar dan sela iga melebar.
15. Kardiomegali : pembesaran jantung yang ditandai dengan CTR (membandingkan lebar
jantung dan lebar dada pada foto thoraks PA) lebih dari 50% pada posisi PA.
16. Elongasi Aorta : Pemanjangan aorta, jarak antara arkus aorta superior dengan
manubrium sterni < 2 cm
17. Dilatasi Aorta : Pelebaran aorta yang diukur dari jarak terjauh aorta ascenden ke aorta
descenden lebih dari 4 cm
18. Kalsifikasi Aorta : gambaran bintik-bintik perkapuran pada proyeksi aorta.

19. Edema Paru : pembengkakan paru akibat tingginya aliran darah paru. Gambaran corakan
bronkovaskular yang meningkat sampai kranialisasi, penebalan dinding interlobular dan
cuffing peribronkial.
20. Bronkiektasis : dilatasi bronkus, terjadi karena adanya obstruksi dan peradangan yang
kronis. Gambarannya berupa lesi kistik atau cincin-cincin ektasis multipel seperti sarang
tawon yang umumnya terdapat dilapangan bawah paru, atau gambaran garis-garis translusen
yang panjang menuju ke hilus dengan bayangan konsolidasi disekitarnya
21. Atelektasis : kolaps paru, gambaran udara/lusensi pada jaringan paru berkurang, dapat
terjadi karena sumbatan bronkus oleh karena tumor maupun kelenjar parahiler yang
membesar. Gambaran radiologis berupa konsolidasi homogen (densitas tinggi), dengan
penarikan mediastinum ke arah jaringan kolaps, diafragma tertarik keatas dan sela iga
menyempit.
22. Pneumonia : merupakan peradangan infeksi non spesifik, gambaran radiologis berupa
konsolidasi dapat sebagian atau seluruh paru.
23. TB paru : gambaran lesi polimorfik, dapat berupa kavitas, tuberkuloma, infiltrat, fibrosis
dan kalsifikasi. Lokasi terutama di lobus atas paru dan segmen apikal lobus bawah paru
24. TB milier : penyebaran hematogen dari TB dengan gambaran bercak halus multiple
berukuran 2-3 mm di seluruh paru.
25. Metastasis paru : adalah penyebaran tumor di paru dari tumor primer di tempat lain.
Gambaran bermacam-macam, dapat berupa nodul multipel, konsolidasi menyerupai
pneumonia, golf ball, lymphangitic spread atau efusi pleura.
26. Pleuropneumonia : proses peradangan pada pleura dan jaringan paru, ditandai opasitas
di mana diafragma menjadi kabur serta gambaran kalsifikasi dari pleura atau penebalan
pleura.
27. Inspirasi maksimal : mencakup sampai tulang iga anterior ke-6 dan tulang iga
posterior ke-9.
28. Bentuk iga depan dan belakang Bentuk iga posterior tampak lebih horizontal,
menempel pada vertebra thorax
Bentuk iga anterior terorientasi oblique ke arah kaki, dengan ujungnya radiolusen (kartilago)

29. Hidropneumothoraks : adanya cairan dan udara pada rongga pleura. Pada posisi PA dan
tegak tampak gambaran air fluid level pada rongga pleura dengan sinus kostoprenikus yang
terisi tanpa corakan bronkovaskular, sudut kostofrenikus tumpul, tidak ada elis line. kadang
terdapat pendorongan paru ke arah kontralateral.
30. Persistent Thymus : merupakan thymus yang menetap hingga dewasa, yang normalnya
mengecil pada usia dua sampai delapan tahun. Gambaran berupa pembesaran dari
mediastinum superior yang berbentuk seperti layar atau sayap malaikat.