Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN SOSIAL


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 3
Dosen Pengampu : Puspita Handayani, S.Ag. M.Pd.I

Disusun Oleh :
1. Umi Marifa

142010300191

2. Fitri Rohmawati

142010300219

3. Lutfi Indiyani

142010300235

FAKULTAS EKONOMI / AKUNTANSI B.4


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2015/2016

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan karuniaNya kepada penulis, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Muhammadiyah
Sebagai Gerakan Sosial yang diajukan sebagi tugas dari mata kuliah Al-Islam dan
Kemuhammadiyahan 3 ini dengan baik.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan pembaca mengenai nilai-nilai ajaran sosial kemanusiaan
organisasi Muhammadiyah yang berangkat dari teologi Al-Man serta revitalisasi
gerakan social Muhammadiyah. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan di masa depan.

Sidoarjo, 25 Oktober 2015

Tim Penyusun

ii

ABSTRAK
Organisasi MUHAMMADIYAH berdiri pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah
bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta. Sebagai organisasi Islam
modern terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, Muhammadiyah bergerak dalam
berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi dan sosial. Teologi Al-Maun yang
menjadi dasar Muhammadiyah berkiprah di bidang sosial-kemanusiaan mengandung
nilai-nilai ajaran yang tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, nilai-nilai
keikhlasan dan kesediaan untuk menolong sesama dengan sekecil apapun bentuk
bantuan yang dimiliki. Sebagai organisasi yang telah berdiri lebih dari dua abad,
Muhammadiyah perlu merevitalisasi gerakan-gerakannya agar tetap mampu
menjawab tantangan zaman. Revitalisasi tersebut harus dilakukan dalam berbagai
aspek seperti aspek teologi, ideologi, pemikiran, kepemimpinan, organisasi, amal
usaha dan aksi. Banyak kendala dan kritik yang harus dihadapi Muhammadiyah. Oleh
karena itu, diperlukan solusi-solusi untuk menghadapi dan menjadikan kritikan
sebagai cambuk penyemangat agar Muhammadiyah dapat terus memberikan
kontribusi bagi umat.
Kata kunci : Teologi Al-Maun, sosial, revitalisasi

iii

DAFTAR ISI
Cover ..................................................................................................................... i
Kata Pengantar ...................................................................................................... ii
Abstrak .................................................................................................................. iii
Daftar Isi................................................................................................................ iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ......................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2
C. Tujuan ...................................................................................................... 2
D. Manfaat .................................................................................................... 2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Teologi Al-Man ..................................................................................... 3


B. Nilai-nilai Ajaran Sosial-Kemanusiaan Muhammadiyah ........................ 10
C. Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah ..................................................... 12
1.

Langkah-langkah Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah ................. 13

2.

Aspek Revitalisasi Gerakan .............................................................. 14

3.

Peneguhan Kembali Gerakan Muhammadiyah ................................ 17

4.

Solusi dalam Revitalisai Gerakan Muhammadiyah .......................... 18

5.

Kritik dan Kelemahan-kelemahan terhadap Gerakan Sosial


Muhammadiyah ................................................................................ 18

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan .............................................................................................. 21
B. Saran-saran ............................................................................................... 21
C. Penutup .................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Organisasi MUHAMMADIYAH berdiri pada tanggal 18 November
1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta.
Sebagai gerakan sosial keagamaan, menurut (alm) Nurcholish Madjid
Muhammadiyah merupakan organisasi Islam modern tebesar di dunia. Dilihat
dari

segi

kelembagaannya,

Muhammadiyah

juga

dikatakan

sangat

mengesankan. Karena itu, menurut Cak Nur, Muhammadiyah merupakan


salah satu cerita sukses di kalangan Islam, tidak saja secara nasional, tapi juga
internasional. Pernyataan Cak Nur ini merupakan sebagian dari pandangan
yang bernada memuji dan optmistis terhadap kiprah Muhammadiyah.
Sebagai

gerakan

tajrih

(pemurnian)

dan

tajdid

(pembaharu),

Muhammadiyah banyak berkiprah baik di bidang akidah, ibadah, pendidikan,


kesehatan, dan pelayanan sosial. Melalui teologi al-Maun (al-Maunisme)
Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai gerakan yang sangat
menekankan pentingnya amal saleh. Dengan menekuni wilayah praksis sosial
keagamaan berarti Muhammadiyah telah melaksanakan prinsip a faith with
action. Dalam bahasa warga Muhammadiyah prinsip ini dikenal dengan
dakwah bil hal (mengajak dengan amalan dan tindakan konkret).
Muhammadiyah juga mempraktikkan ajaran sedikit berbicara banyak bekerja,
berdisiplin, bekerja keras, dan tanggung jawab secara organisasi.
Namun,

justru

dengan

amal

usaha

yang

semakin

banyak,

Muhammadiyah dihadapkan pada berbagai persoalan. Misalnya, energi


Muhammadiyah nyaris habis hanya untuk kegiatan rutin mengurus amal usaha.
Dengan meminjam istilah beberapa intelektual muda, Muhammadiyah seperti
gajah gemuk yang semakin lamban dalam memberikan respons terhadap

tantangan zaman. Akibatnya, kontribusi pemikiran Muhammadiyah di bidang


sosial keagamaan terasa sangat kurang. Pada konteks inilah Muhammadiyah
perlu merevitalisasi ideologi agar mampu menampilkan diri sebagai gerakan
amal sekaligus gerakan ilmu. Buya Syafii Maarif merupakan salah satu tokoh
yang konsisten menyuarakan agar Muhammadiyah mampu menyandingkan
gerakan praksisme dan gerakan intelektualisme.1
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas apa saja nilai-nilai
ajaran sosial-kemanusiaan dalam teologi Al-Man (Al-Maunisme) dan
bagaimana Muhammadiyah merevitalisasi gerakannya.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan bahwa pokok permasalahan dalam
makalah ini adalah Apa nilai-nilai ajaran sosial-kemanusiaan dalam teologi
Al-Man dan bagaimana revitalisasi gerakan Muhammadiyah?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang apa
saja nilai-nilai ajaran sosial-kemanusiaan dalam teologi Al-Man dan
bagaimana Muhammadiyah merevitalisasi gerakannya.
D. Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah untuk memperluas wawasan pembaca
tentang nilai-nilai ajaran sosial-kemanusiaan Muhammadiyah dan bagaimana
Muhammadiyah merevitalisasi gerakannya agar dapat dipahami, dan dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Biyanto, Revitalisasi Ideologi Muhammadiyah Biyanto November 2009.pdf

BAB II
PEMBAHASAN
A. Teologi Al-Man (Al-Maunisme)
Teologi berasal dari kata Yunani theos yang berarti Tuhan dan logia
yang berarti kata-kata, ucapan, atau wacana. Teologi adalah wacana yang
berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan2. Websterds New
Word

Dictionary

(dalam

https://hendarriyadi.wordpress.com/risalah-2/),

mendefinisikan teologi sebagai studi tentang doktrin-doktrin agama dan


ketuhanan, studi tentang Tuhan, dan hubungan-Nya dengan manusia dan alam
(The study of religious doctrines and matter of divinity, the study of God and
the relations between God, mankind and the universe). Frank Whalling
menyimpulkan tiga pengertian teologi, yaitu pertama, teologi berkaitan erat
dengan masalah Tuhan atau transendensi; kedua, teologi berkait dengan
masalah doktrin; dan ketiga, teologi berkait dengan aktivitas (second-order
activity) yang muncul dari keimanan dan penafsiran atas keimanan.
Dalam wacana pemikiran keagamaan Islam kontemporer, term teologi
ini sering digandengkan dengan term-term lain yang lebih bernuansa sosialantropologis. Misalnya, teologi kebudayaan, teologi pembangunan, teologi
transformatif, teologi kaum tertindas, teologi perdamaian, teologi pembebasan
dan sebagainya. Dalam konteks ini, teologi terkadang diidentikkan dengan
agama (al-din atau religiusitas) sebagai landasan moral dan spiritual. Munir
Mulkhan misalnya mendefinisikan teologi kebudayaan sebagai upaya
menempatkan pengembangan keberagamaan dan religiusitas yang fungsional
terhadap kehidupan obyektif dan sebagai realisasi ibadah.

https://id.wikipedia.org/wiki/Teologi

Surat Al-Maun

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang
menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang
miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai
terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan.
(Al-Maun:1-7)
Surat Al-Maun termasuk dari surat-surat pendek yang ada di juz 30.
Surat yang terdiri dari tujuh ayat tersebut termasuk Makkiyah (diturunkan di
Mekkah). Adapun mengenai surath tersebut, salah satu ulama tafsir, seperti
Syeikh Jamaluddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad Al-Jauzi (W.597)
dalam kitabnya Zaadal Masiir fi Ilmi Tafsir; ayat tersebut turun berkenaan
dengan orang-orang munafiq (Pendapat Ibnu Abbas), Umar bin Aidz
(Pendapat Ad-Dzihak), Walid bin Al-Mughirah (Pendapat As-Sidi), Ash bin
Wail (Pendapat Ibnu Saib), Abi Sufyan bin Harb (Pendapat Ibnu Jarij), Abi
Jahal (Pendapat Al-Mawardi).3
Ketika menjelaskan tafsir surat ini, Prof. Dr. H. Quraish Shihab dalam
Tafsir

Al-Misbah,

Volume

15

hal.643

sd

658

(Abdul

Rahman,

http://staincurup.ac.id/orang-yang-mendustakan-agama/), menjelaskan bahwa


asbabun nuzul surat Al-Maun ini sehubungan dengan kebiasaan Abu Sofyan
dan Abu Jahal yang konon tiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika
seorang anak yatim datang meminta sedikit daging yang telah disembelih itu,
namun bukannya diberi daging oleh Abu Jahal dan Abu Sofyan, tetapi anak

http://htq.uin-malang.ac.id/2015/03/08/kajian-tafsir-al-quran-1-surat-al-maun/

yatim itu malah dihardik dan diusir. Inilah peristiwa yang melatar belakangi
turunnya surat Al-Ma`un.
Kata al-ma`un yang terdapat, dalam bahasa Arab berarti: bantuan,
membantu dengan bantuan yang jelas (baik dengan alat-alat maupun dengan
fasilitas), yang memudahkan tercapainya sesuatu yang diharapkan. Al-ma`un
juga bisa bermakna: zakat, harta benda, alat-alat rumah tangga, air, keperluan
sehari-hari, seperti periuk, piring, pacul, dan sebagainya. Dalam makna yang
lebih luas al-ma`un dimaknai membantu dengan sesuatu yang kecil dan
dibutuhkan oleh orang lain.
Dalam www.khazanahalquran.com dijelaskan, pada awal surat ini, Allah
memulainya dengan sebuah pertanyaan. Sebenarnya, bisa saja Allah langsung
mengabarkan tentang orang-orang yang mendustakan agama, seperti
Ketahuilah orang-orang yang mendustakan agama. Tapi Allah tidak
menggunakan cara itu, Allah memakai bentuk pertanyaan sebagai cara
menggugah pendengar agar lebih siap menerima informasi. Tentu berbeda
ketika kita mendengar Ada seorang yang berbuat keji dengan Tahukah
engkau, ada orang yang berbuat keji.
Kata Ad-Din dalam ayat ini memiliki banyak arti. Ada yang memberi arti
agama secara mutlak, yaitu orang-orang yang mendustakan agama Islam itu
sendiri. Walau dhohirnya terlihat muslim, tapi dia sedang mendustakan
agamanya sendiri. Ada pula yang mengartikannya sebagai Hari Pembalasan.
Yaitu orang-orang yang mengingkari Hari Kiamat dan Hari Pembalasan.
Walaupun mengingkari Kiamat sama dengan mengingkari agama. Karena
Percaya pada Hari Akhir termasuk dalam Ushuluddin yang harus diyakini.

Tipe-tipe Orang Yang Mendustakan Agama (Surat Al-Maun)


a. Orang yang Menghardik dan Berlaku Keras Kepada Anak Yatim

--

Maka itulah orang yang menghardik anak yatim (Al-Maun:2)
Tipe pertama yang mendustakan agama yakni orang yang berlaku
sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak
memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan
yang

baik

(Ibnu

Katsir,

2015).

Menurut

Quraish

(http://staincurup.ac.id/orang-yang-mendustakan-agama/),

Shihab

terjemahan

yadu`-u bukan hanya menghardik tetapi juga mendorong dengan keras.


Kata ini tidak harus dimaknai sebatas dorongan fisik, tetapi
mencakup

juga

segala macam penganiayaan, gangguan, dan sikap tidak

bersahabat dengan mereka. Yang jelas ayat ini melarang membiarkan dan
meninggalkan mereka dalam kondisi apapun dan dimanapun, termasuk
mengabaikan anak yatim.
Kata al- yatim berarti kesendirian. Kematian ayah membuat mereka
kesendirian, atau dalam kesendirian, sebatang kara, oleh karena itu
mereka disebut anak yatim. Walaupun ayat ini membahas tentang anak
yatim, namun maknanya bisa diperluas sehingga semua orang yang lemah
dan membutuhkan pertolongan adalah termasuk kelompok terpinggirkan
dalam kesendirian, yang perlu mendapat perhatian.
b. Orang yang Tidak Saling Menganjurkan Untuk Memberi Makan Orang
Miskin


--




Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. (AlMaun:3)

Tipe kedua yang termasuk mendustakan agama adalah mereka yang


tidak saling menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Menurut
Quraish

Shihab

(http://staincurup.ac.id/orang-yang-mendustakan-

agama/), kata yahuddhu yang bermakna menganjurkan, memberi isyarat


bahwa setiap orang (muslim) walaupun tidak memiliki kelebihan apapun
tetap dituntut perannya dimanapun berada, minimal sebagai penganjur
pemberi makan. Peran ini bisa dilakukan oleh siapa pun, selama dia
mempunyai hati nurani dan merasakan penderitaan orang lain. Ayat ini
juga menutup peluang sekecil apapun bagi setiap orang untuk tidak
berpartisipasi dan merasakan betapa perhatian lebih harus diberikan
kepada orang yang lemah dan sangat membutuhkan.
Mementaskan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab orang-orang
kaya. Semua muslim punya tanggung jawab kepada orang-orang miskin.
Jika tidak mampu untuk membantu secara langsung, seorang muslim
masih punya kewajiban untuk mendorong orang-orang kaya agar
membantu yang miskin. Tidak ada alasan lagi bagi seorang muslim untuk
tidak ikut serta membantu orang yang membutuhkan.4
Kata tha`am berarti makanan atau pangan. Pengertian memberi
makan atau pangan dalam ayat ini adalah memberikan hak pangan orang
lain yang ada di tangan orang kaya, bukan karena unsur hibah atau
kasihan, tetapi memang hak pangan mereka ada di tangan orang yang
berpunya. Karena zakat pada hakekatnya adalah mengembalikan hak
orang miskin minimal sebesar 2,5% yang ada di tangan orang kaya.
Demikian juga memberi makanan dan pangan kepada orang miskin atau
orang yang meminta-minta, pada dasarnya adalah mengembalikan hakhak mereka yang masih ada di tangan orang-orang kaya. Jika masih ada

http://www.khazanahalquran.com/tafsir-surat-al-maun-bag-1

orang-orang yang yang belum memberikan zakatnya, berarti pada


hartanya masih ada hak orang miskin dan orang-orang yang memintaminta. Kalau harta ini tidak dikeluarkan, sama saja dia telah memakan
harta orang miskin dan orang-orang yang meminta-minta.
c. Orang yang Lalai Terhadap Salatnya


--

--


Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai


terhadap shalatnya.(Al-Maun:4-5)
Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang
dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan salatnya terangterangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak salat. (Ibnu
Katsir, 2015). Hal ini adakalanya mengandung pengertian tidak
mengerjakannya sama sekali atau mengerjakannya bukan pada waktu
yang telah ditetapkan baginya menurut syara, bahkan mengerjakannya
diluar waktunya, sebagaimana yang dikatakan oleh Masruq dan Abud
Duha.
Dalam ayat ini Allah menyebut orang-orang yang celaka adalah
yang lalai terhadap salatnya bukan yang lalai di dalam salatnya. Atau
dalam bahasa arab Allah menyebutkan
dan bukan


. Hal ini dapat ditafsirkan

dengan adakalanya karena tidak menunaikan salat di awal waktunya,


melainkan menangguhkannya sampai akhir waktunya secara terusmenerus atau sebagian besar kebiasaannya. Dan adakalanya karena dalam
menunaikannya tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratannya sesuai
dengan apa yang diperintahkan. Dan adakalanya saat mengerjakannnya
tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya. Maka pengertian ayat
ini mencakup semua itu. Orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat

tersebut berarti telah mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh
ayat ini. Dan barang siapa yang menyandang semua dari sifat-sifat
tersebut, maka telah sempurnalah baginya bagiannya dan jadilah dia
seorang munafik dalam amal perbuatannya.
d. Orang yang Riya



--
yang berbuat riya.(Al-Maun:6)
Riya adalah melakukan sesuatu perbuatan bukan diniatkan karena
Allah, melainkan agar orang lain yang melihatnya akan merasa takjub
dengan perbuatannya (Ibnu Katsir, 2015). Setiap manusia suka dan ingin
disanjung orang. Oleh karena itu, seorang muslim harus bisa menata niat
agar amal ibadahnya hanya ditujukan untuk Allah semata.
Orang yang riya termasuk dalam golongan orang yang
mendustakan agama. Karena mereka tidak yakin dengan balasan Allah
SWT, hingga harus berharap dilihat oleh orang lain. Jika dia yakin, pasti
ia akan beramal hanya untuk-Nya.5
e. Orang yang Enggan Memberikan Bantuan



--
Dan enggan (memberikan) bantuan.(Al-Maun:7)
Tipe pendusta agama yang terakhir dalam surat Al-Maun adalah
mereka yang enggan memberi bantuan walaupun berupa hal-hal yang
remeh. Al-Maun dalam bahasa arab bermakna sesuatu yang kecil dan
remeh. Sesuatu yang tidak berharga yang bisa dipinjamkan kepada orang
lain. Menurut Ibnu Katsir (2015), makna ayat ini yakni mereka yang tidak
5

http://www.khazanahalquran.com/tafsir-surat-al-maun-bag-2

menyembah Allah SWT dengan baik dan tidak mau pula berbuat baik
dengan sesama makhluk-Nya, sehingga tidak pula memperkenankan
dipinjam sesuatunya yang bermanfaat dan tidak mau menolong orang lain
dengannya.
B. Nilai-nilai Ajaran Sosial-Kemanusiaan Muhammadiyah
Surat al-Ma`un walaupun hanya terdiri dari 7 ayat, tetapi pesan yang
terkandung di dalamnya pada hakekatnya sangat penting. Antara lain:
a. Menjelaskan secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak pernah
memisahkan ibadah ritual dengan ibadah sosial antara duniawi dan
ukhrowi, atau membiarkan ibadah tersebut berjalan sendiri-sendiri.
Sebagai contoh orang yang rajin sholat tetapi tidak peduli dengan
tetangganya dan penderitaan orang lain, orang ini juga belum dikatakan
sempuna imannya, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa
siapa saja yang beriman kepada Allah SWT hendaklah dia berbuat dengan
tetangga atau tamunya.
b. Keikhlasan. Ikhlas memang sulit didefenisikan. Beda orang, beda pula
definisi. Banyak orang mengatakan ikhlas berarti tanpa pamrih, atau
mengerjakan sesuatu hanya mengharap ridho Allah Swt. Apa pun defenisi
ikhlas dikembalikan kepada kita semua, karena keihklasan seseorang, yang
tahu hanya orang yang bersangkutan dan Allah SWT. Ikhlas ini adalah
puncaknya ibadah atau kenikmatan suatu ibadah. Orang yang ikhlas adalah
orang yang tidak pernah menghitung-hitung kebaikan yang dilakukannya
kepada orang lain, atau mungkin dia melupakan sama sekali kalau dia telah
berbuat baik kepada orang lain, baik secara nyata atau pun tidak nyata.
Orang yang ihklas adalah orang yang tidak pernah mendongkol kalau tidak
diberi, atau menyebut-nyebut kebaikan yang telah dilakukannya kepada
orang lain dan seterusnya.

10

c. Kesediaan mengulurkan bantuan kepada orang-orang lemah yang


membutuhkan dalam bentuk apa pun dan sekecil apapun. Membantu tidak
mesti menunggu kaya terlebih dahulu, atau menunggu menjadi
pejabat/penguasa. Membantu dilakukan kapan pun dan dimana pun.
Membantu bisa dengan tenaga, pikiran, ilmu pengetahuan, nasehat dan
sebagainya.
Menurut Sayyid Quthub yang dikutip oleh Quraish Shihab bahwa
mungkin jawaban al-Qur`an tentang siapa yang mendustakan agama atau hari
kemudian yang dikemukakan dalam surat al-Ma`un ini cukup mengagetkan
jika dibandingkan dengan pengertian iman secara tradisional (iman berarti
percaya), tetapi yang demikian itulah inti persoalan dan hakekatnya. Hakekat
pembenaran ad-din tidak cukup dengan lidah, tetapi perlu perubahan nyata
dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap manusia
lain yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.6
Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah pada 8
Dzulhijjah 1330/18 November 1912, pernah membuat murid-muridnya
bertanya-tanya keheranan saat memberi pelajaran tafsir. Ketika menafsirkan
surah Al-Maun (Alquran surah 107) secara berulang-ulang tanpa diteruskan
dengan surah-surah lain, Dahlan sebenarnya sedang menguji kepekaan batin
para muridnya dalam memahami Al-Quran, apakah sekadar untuk dibaca atau
langsung diamalkan.
Baru para murid itu paham bahwa Al-Quran tidak saja menyangkut
dimensi kognitif, tetapi sekaligus sebagai pedoman bagi aksi sosial. Mulailah
para murid itu mencari orang-orang miskin dan anak yatim di sekitar
Yogyakarta untuk disantuni dan diperhatikan. Maka, berdirinya Panti-Panti

Rahman, Abdul, http://staincurup.ac.id/orang-yang-mendustakan-agama/

11

Asuhan dan Rumah Sakit PKU tahun 1923 adalah salah satu perwujudan dari
aksi sosial ini.
Surat Al-Maun adalah salah satu di antara surat-surat Makkiyah. Surat
ini tidak tanggung-tanggung mengategorikan sebagai pendusta terhadap
agama mereka yang tidak peduli atas nasib anak yatim dan orang miskin.
Rupanya Ahmad Dahlan telah menangkap isyarat Al-Quran itu sehingga kajian
tafsirnya perlu diulang-ulang sampai para muridnya benar-benar memahami
betul tentang apa tujuan pengulangan itu.7
C. Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah
Revitalisasi merupakan salah satu jenis atau bentuk perubahan
(transformasi) yang mengandung proses penguatan, meliputi peneguhan
terhadap aspek-aspek yang selama ini dimiliki (proses potensial) maupun
dengan melakukan pengembangan (proses aktual) menuju pada keadaan yang
lebih baik dan lebih maju dari kondisi sebelumnya. Revitalisasi sebagai proses
perubahan

yang

direncanakan

meliputi

tahapan-tahapan

penataan,

pemantapan, peningkatan dan pengembangan yang dilakukan secara


berkesinambungan.
Revitalisasi gerakan Muhammadiyah dapat dimaknai sebagai proses
penguatan kembali sistem paham dan jati diri sesuai dengan prinsip-prinsip
ideal gerakan menuju pada tercapainya kekuatan mMuhammadiyah sebagai
gerakan Islam yang menjalankan fungsi dakwah dan tajdid menuju
terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Maarif, Ahmad Syafii, http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/12/08/07/m8dxq8teologi-almaun-muhammadiyah-1

12

1.

Langkah-langkah Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah


Melakukan penguatan seluruh aspek gerakan dan menggerakkan
segenap potensi Muhammadiyah dalam menjalankan amanat
Muktamar dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memperluas peran Muhammadiyah dalam dinamika kehidupan
masyarakat di atas lokal, nasional, dan global dengan menjalankan
fungsi dakwah dan tajdid serta mengembangkan ukhuwah dan
kerjasama dengan semua pihak yang membawa pada pencerahan
dan kemaslahatan hidup.
b. Meneguhkan dan mewujudkan kehidupan Islami sesuai dengan
paham agama dalam Muhammadiyah yang mengedepankan uswah
hasanah dan menjadi rahmat bagi kehidupan.
c. Mengembangkan pemikiran Islam sesuai dengan prinsip Manhaj
Tarjih dan ijtihad yang menjadi acuan/pedoman Muhammadiyah.
d. Pengembangan infrastruktur dan perbaikan sistem pengelolaan
organisasi yang mampu menjalankan fungsi-fungsi gerakan dan
semakin mengarah pada pencapaian tujuan Muhammadiyah.
e. Mendinamisasi kepemimpinan Persyarikatan di semua tingkatan
(Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting).
f. Peningkatan kualitas dan memperluas jaringan amal usaha
Muhammadiyah menuju tingkat kompetisi dan kepentingan misi
Persyarikatan yang tinggi, serta menjadikannya sebagai pelaksana
usaha yang terikat dan memiliki ketaatan pada kepemimpinan
Persyarikatan.
g. Pengembangan model-model kegiatan/aksi yang lebih sensitif
terhadap kepentingan-kepentingan aktual/nnyata umat, masyarakat,
dan dunia kemanusiaan dengan pengelolaan yang lebih konsisten.

13

h. Menggerakkan seluruh potensi angkatan muda dan organisasi


otonom Muhammadiyah sebagai basis kader dan pimpinan
Persyarikatan.
i. Meningkatkan bimbingan, arahan, dan panduan kepada seluruh
tingkatan pimpinan dan warga Muhammadiyah.
j. Menggerakkan kembali Ranting dan jamaah sebagai basis gerakan
Muhammadiyah
2.

Aspek Revitalisasi Gerakan


a. Revitalisasi Teologis
Revitalisasi teologis menyangkut ikhtiar merekonstruksi atau
menafsir ulang pemikiran-pemikiran dasar kegamaan (keislaman)
dalam Muhammadiyah sebagaimana prinsip-prinsipnya tentang agama
Islam, dunia, ibadah sabilullah dan ijtihad. Dalam revitalisasi teologis
ini dapat dikaji ulang dan dirumuskan epistemologi keislaman
Muhammadiyah seperti tentang kalam (falsafah) atau pandangan keTuhanan, pandangan tentang Fiqh, dan pemikiran-pemikiran keislaman
lainnya.
b. Revitalisasi Ideologis
Revitalisasi ideologis menyangkut penyusunan ulang dan
penguatan sistem paham disertai langkah-langkah pelembagaannya
yang menjadi landasan membangun kesadaran dan ikatan kolektif
dalam memperjuangkan gerakan Muhammadiyah. Pemikiran dasar
Kyai Dahlan, dua belas langkah dari Kyai Mas Mansur, muqaddimah
anggaran dasar, kepribadian Muhammadiyah, matan keyakinan dan
cita-cita hidup Muhammadiyah, khittah perjuangan Muhammadiyah,
dan pedoman hidup islami warga Muhammadiyah merupakan rujukan

14

dasar sekaligus perlu disistematisasi dalam konsep terpadu sehingga


menjadi basis ideologi gerakan Muhammadiyah yang mengikat seluruh
anggota Muhammadiyah dalam melaksanakan gerakan. Ketika
dirasakan adanya krisis kemuhammadiyahan, maka krisis tersebt harus
dibaca

dalam

konteks

Muhammadiyah

karena

pelemahan

ideologis

tuntutan-tuntutan

dan

di

kalangan

pertimbangan-

pertimbangan yang biasanya serba pragmatis.


c. Revitalisasi Pemikiran
Revitalisasi pemikiran menyangkut upaya mengembangkan
wawasan pemikiran seluruh anggota, termasuk kader dan pemimpin,
baik mengenai format pemikiran Muhammadiyah sebagai gerakan
Islam yang bercorak dakwah dan tajdid, maupun dalam memahami
permasalahan-permasalahan dan perkembangan kehidupan tingkat
lokal, nasional, dan global. Dikotomi yang keras tentang pemikiran
literal

versus

liberal,

pemurnian

versus

pembaruan

atau

pengembangan, ekslusif versus inklusif, organisasi versus alam


pikiran,

struktural

versus

kultural

menggambarkan

masih

terperangkapnya sebagian kalangan dalam Muhammadiyah mengenai


orientasi pemikiran pada wilayah orientasi atau paradigma yang sempit
atau terbatas. Sejauh menyangkut pemikiran perlu dijelaskan domain
relativitas setiap pemikiran agar tidak terjadi pengabsolutan setiap
pemikiran, lebih-lebih jika klaim pemikiran tertentu dijadikan alat
pemukul dan saling menegaskan terhadap pemikiran yang lain,
sehingga yang terjadi ialah perebutan dominasi dan bukan sikap
tasamuh.

15

d. Revitalisasi Organisasi
Revitalisasi organisasi berkaitan dengan perbaikan-perbaikan
sistem pengelolaan kelembagaan persyarikatan seperti menyangkut
penataan struktur dan fungsi organisasi, birokrasi, pengelolaan dan
pelayanan administrasi, hingga pengembangan organisasi yang
mengarah pada peningkatan kualitas, efisiensi-efektivitas, dan
menjadikan organisasi sebagai instrument gerakan untuk kemajuan dan
pencapaian tujuan Muhammadiyah.
e. Revitalisasi Kepemimpinan
Revitalisasi kepemimpinan merupakan langkah penguatan kualitas
fungsi efektivitas pimpinan persyarikatan diseluruh lini, termasuk di
lingkungan organisasi otonom dan amal usaha, yang secara langsung
menjadi kekuatan dinamik dalam menggerakan Muhammadiyah.
Kepemimpinan Muhammadiyah juga tidak cukup dikonstruksi dengan
idealis normatif semata seperti mengenai hak akhlaq dan standarstandar ideal kepemimimpinan, tetapi juga harus disertai format
aktualisasi kepemimpinan yang nyata (bukan kepemimpinan yang
berumah diatas angin tetapi harus membumi), karena kepemimpinan
Muhammadiyah merupakan kepemimpinan sistem dan bukan
kepemimpinan figur. Faktor figur pun tidak dapat dikonstruksikan
sekadar dari kejauhan sebagaimana konsep kepemimpinan pesona Ratu
adil. Kepemimpinan Muhammadiyah juga bukan sekadar domain
diniyyah (aspek-aspek kemampuan aktual dalam mengelola kehidupan
yang dipimpin), sehingga dapat menjalankan misi kerisalahan islam.

16

f. Revitalisasi Amal Usaha


Revitalisasi amal usaha menyangkut pengembangan kualitas amal
usaha Muhammadiyah diberbagai bidang yang dapat tumbuh diatas
misi dan visi gerakan sekaligus dapat memenuhi hajat hidup
masyarakat. Amal usaha Muhammadiyah bukan ladang mencari
nafkah bagi para penghuninya, tetapi harus menjadi sarana atau media
dakwah dan perwujudan misi Persyarikatan.
g. Revitalisasi Aksi
Revitalisasi aksi menyangkut pengembangan model-model
kegiatan atau aktivitas gerakan Muhammadiyah yang secara langsung
dapat memenuhi kepentingan masyarakat luas dengan misi dakwah dan
tajdid seperti dalam pemberdayaan ekonomi kaum miskin, advokasi
kaum marjinal dan tertindas, memperkuat, potensi dan peran
masyarakat madani, advokasi lingkungan hidup, resolusi konflik
gerakan anti kekerasan, gerakan anti korupsi, kegiatan-kegiatan
pembinaan umat yang bercorak partisipatif, dan aktivitas sosial
masyarakat lainnya semangat etos Al-Maun.
3.

Peneguhan Kembali Gerakan Muhammadiyah


Peneguhan kembali gerakan Muhammadiya dikarenakan adanya
masalah perserikatan antara lain,
a. Longgarnya penjagaan identitas dan ideologi gerakan, sehingga
lemah dalam ikatan organisasi dan kolektivitas.
b. Lemahnya dinamika organisasi.
c. Mulai dirasakan kekurangan kader potensi untuk memenuhi
kebutuhan kepemimpinan

17

d. Terjadi perpindahan aktivitas-warga-kader persyarikatan ke jamaah


lain
e. Amal usaha cenderung jalan sendiri / lepas kendali dari misi otoritas
persyarikatan
f. Beberapa amal usaha terutama pendidikan keadaannya amat
memprihatinkan.
4.

Solusi dalam Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah


a. Menggerakkan kembali Ranting dan jamaah sebagai basis gerakan
Muhammadiyah
b. Menggerakkan kembali pengajian persyarikatan yang terstruktur
(terprogram), kurikulum jelas dan tersedia narasumber yang
kompeten.
c. Optimalisasi

masjid

wakaf

Muhammadiyah

sebagai

basis

pembinaan warga persyarikatan.


d. Menggerakkan seluruh potensi angkatan muda dan organisasi
otonom Muhammadiyah sebagai basis kader dan pimpinan
Persyarikatan.
e. Pendataan kebutuhan kader (termasuk kader pengelola) cross cek
dengan ketersediaan/potensi yang ada.
f. Meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan pengkaderan formal.
5.

Kritik

dan

Kelemahan-kelemahan

terhadap

Gerakan

Sosial

Muhammadiyah
Muhammadiyah sering menuai kritik sebagai gerakan sosial yang
mulai terjangkit penyakit elitisme. Perkembangan Muhammadiyah yang
kian pesat dari hari ke hari dalam banyak hal menyebabkan terjadinya
pergeseran orientasi, termasuk orientasi gerakan sosialnya. Jika pada
mulanya, amal usaha Muhammadiyah, khususnya dalam bidang sosial

18

lebih banyak berbicara pada bidang-bidang sosial yang berorientasi


voulentaire, kini hampir bisa dipastikan bahwa seluruh amal usaha
Muhammadiyah berorientasi pada persoalan ekonomi dan sampai batasbatas tertentu cenderung profit oriented.
. Hal itu tidak sepenuhnya salah, karena sebagai sebuah organisasi,
Muhammadiyah harus profesional, dan profesionalitas itu antara lain
harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk seperti itu, sedangkan pola-pola
volunteerism tentu memiliki potensi yang kontra produktif dengan
kenyataan tersebut. Tetapi hal itu sekaligus menimbulkan dilema: pada
satu sisi Muhammadiyah memang harus terus mengembangkan
profesionalitasnya, tetapi yang juga harus diingat adalah, jangan sampai
profesionalitas yang hendak dicapai itu melupakan fungsi-fungsi sosial
Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan.
Jika dikaitkan dengan teori gerakan, maka Muhammadiyah
cenderung berada pada posisi peripheral, tidak Kiri tidak juga Kanan.
Maka tidak ada salahnya jika Muhammadiyah mengambil peran gerakan
Kiri, bukan dalam bentuk, tetapi dalam fungsi, untuk melakukan
keberpihakan ulang terhadap kaum proletar seperti pada masa-masa awal
berdirinya organisasi ini. Secara umum, Kiri diartikan sebagai kelompok
yang cenderung radikal, sosialis, anarkis, reformis, progresif atau
liberal. Dengan kata lain, Kiri selalu menginginkan kemajuan (progress)
yang memberikan inspirasi bagi keunggulan manusia atas takdir sosial
yang dialaminya. Kelemahan Muhammadiyah dalam bidang gerakan
sosial lainnya adalah pendasaran pembinaan sosial pada jenis kelamin dan
usia yang pada gilirannya menjadikan Muhammadiyah seolah-olah tidak
peduli dengan interest group, seperti petani, buruh, nelayan kalangan
proletar lainnya. Akibatnya, Muhammadiyah seolah-olah membiarkan
warganya yang menjadi buruh berbondong-bondong ke organisasi lain

19

yang dirasa lebih aspiratif dengan kepentingannya, seperti APSI, atau


petani yang ke HKTI dan sebagainya. Maka proletarisasi Muhammadiyah,
nampaknya merupakan suatu persoalan yang sangat urgen untuk
dilakukan dalam diri Muhammadiyah. Mau tidak mau harus diakui, bahwa
apapun yang dilakukan oleh Muhammadiyah kurang menyentuh massa di
kalangan grass root.
Jika hal ini terus berlanjut, maka sedikit demi sedikit
Muhammadiyah akan mulai kehilangan basis massa pendukungnya,
khususnya dari kalangan kelas menengah ke bawah. Kecuali jika
Muhammadiyah memang sudah puas dengan basis massa kalangan
menengah ke atas yang saat ini dimilikinya.8

Ahmad, Bojes. Makna Muhammadiyah dalam Gerakan Sosial

20

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Teologi Al-Maun yang merupakan dasar ajaran nilai sosial-kemanusiaan
Muhammadiyah mengajarkan bahwa ajaran Islam tidak pernah memisahkan
ibadah ritual dengan ibadah sosial antara duniawi dan ukhrowi, atau
membiarkan ibadah tersebut berjalan sendiri-sendiri. Selain itu, teologi AlMaun juga mengajarkan arti keikhlasan, dan kesediaan untuk mengulurkan
bantuan kepada orang-orang lemah yang membutuhkan dalam bentuk apa pun
dan sekecil apapun. Bahkan KH Ahmad Dahlan merasa perlu harus
mengulang-ulang tafsir dari surat Al-Maun tersebut agar murid-muridnya
benar-benar memahami ajaran dalam surat Al-Maun, apakah sekadar untuk
dibaca atau langsung diamalkan sebagai aksi sosial.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara
yang telah berdiri selama dua abad dan memiliki banyak bidang yang
dijalankan,

Muhammadiyah

dihadapkan

pada

berbagai

persoalan.

Muhammadiyah diibaratkan seperti gajah gemuk yang semakin lamban dalam


memberikan respons

terhadap

tantangan

zaman.

Oleh karena itu,

Muhammadiyah perlu merevitalisasi gerakannya diberbagai aspek antara lain


aspek teologi, ideologi, pemikiran, organisasi, kepemimpinan, amal usaha dan
aksi agar terus dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat luas.
3.2. Saran-saran
Nilai-nilai ajaran sosial-kemanusiaan dalam teologi Al-Maun (AlMaunisme) perlu benar-benar dihayati dan diamalkan oleh seluruh
masyarakarat pada umumnya dan anggota Muhammadiyah pada khususnya
agar tercipta masyarakat yang sejahtera dan memiliki jiwa sosial dan nilai-nilai

21

moral dalam membangun masyarakat. Selain itu, Muhammadiyah juga harus


terus

merevitalisasi

gerakannya

agar

dapat

menghadapi

tantangan

perkembangan zaman dan terus berkontribusi positif bagi memaslahatan umat.


3.3. Penutup
Demikian penjelasan yang dapat penulis sampaikan mengenai materi
yang menjadi bahasan dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan
kelemahan dalam penulisan disebabkan kerena terbatasnya pengetahuan,
kurangnya rujukan atau juga mungkin referensi yang penulis peroleh.
Diharapkan dengan makalah ini, para pembaca yang budiman dapat
memberikan kritik maupun saran yang membangun demi sempurnanya
makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan
khususnya pada diri penulis sendiri.

22

DAFTAR PUSTAKA
Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir.2015.Tafsir Ibnu Kasir Terj. Cet
Ke-6.Bandung:Sinar Baru Algensindo
Ahmad,Bojes. Makna Muhammadiyah dalam Gerakan Sosial.www.academia.edu
Batutah,

Ridwan.

Makalah

Revitalisasi

Gerakan

Muhammadiyah

Kel.12.

http://dokumen.tips/documents/makalah-revitalisasi-gerakan-muhammadiyahkel12.html
Biyanto.Revitalisasi Ideologi Muhammadiyah

Biyanto

November 2009.pdf.

http://eprints.uinsby.ac.id/47/
https://hendarriyadi.wordpress.com/risalah-2/
http://htq.uin-malang.ac.id/2015/03/08/kajian-tafsir-al-quran-1-surat-al-maun/
https://id.wikipedia.org/wiki/Teologi
http://staincurup.ac.id/orang-yang-mendustakan-agama/
http://www.khazanahalquran.com/tafsir-surat-al-maun-bag-1
http://www.khazanahalquran.com/tafsir-surat-al-maun-bag-2

23