Anda di halaman 1dari 48

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK IPT
DEMAM DISERTAI MENGIGIL DAN BERKERINGAT

KELOMPOK B-10
Ketua
Sekretaris
Anggota

Putri Mufrida Rahmah


1102014215
Syarafah Dara Gifari Wicaksono
1102014260
Yovi Sofiah
1102013314
Yunica Pratiwi
1102013318
Muhammad Dayu Wardana
1102014166
Mutia Hayu
1102014176
Saisabela Prima Andina
1102014235
Rista Triana Kusumaningtyas
1102014228
Vini Tien Hajjar Dwianti
1102014274
Zulha Annisa Ichwan
1102014295

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. (021) 4244574 Fax. (021) 4244574

DAFTAR ISI
DAFRTAR ISI ................................................................................................ 1
SKENARIO ..................................................................................................... 2
IDENTIFIKASI KATA-KATA SULIT ........................................................ 3
BRAINSTORMING ....................................................................................... 3
HIPOTESA ...................................................................................................... 5
SASARAN BELAJAR .................................................................................... 6
LO. 1. Mampu memahami dan menjelaskan plasmodium
1.1 Definisi plasmodium 7
1.2 Klasifikasi plasmodium........... 7
1.3 Jenis-jenis plasmodium........... 7
1.4 Morfologi, struktur dan epidemiologi dari plasmodium. 8
1.5 Daur hidup plasmodium.. 11
LO. 2. Mampu memahami dan menjelaskan Malaria
2.1 Definisi Malaria.. 12
2.2 Jenis-jenis Malaria. 12
2.3 Epidemiologi Malaria. 13
2.4 Etiologi Malaria.. 14
2.5 Manifestasi Malaria 15
2.6 Patogensis Malaria.. 17
2.7 Diagnosis Malaria... 18
2.8 Diagnosis Banding Malaria. 21
2.9 komplikasi Malaria.. 21
2.10 Tatalaksana Malaria....... 23
2.11 Prognosis Malaria...... 36
LO 3. Mampu memahami dan menjelaskan vektor malaria (anopheles)
3.1 Morfolgi (struktur) . 36
3.2 Kalsifikasi... 37
3.3 Siklus hidup 37
3.4 Epidemilologi. 38
3.5 Perilaku... 38
LO 4. Mampu memahami dan menjelaskan Farmakologi dan tatalaksana Malaria
4.1 pencegahan
4.1.1 Gebrak malaria.38
4.2 Pengobatan..40
4.2.1. Farmako dinamik
4.2.2. Farmako kinetik
4.2.3. indikasi obat
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 47

SKENARIO
Menggigil disertai demam
Tn C, laki-laki, 35 tahun datanag ke Poliklinik dengan keluhan utama demam
sejak satu minggu lalu. Demam dirasakan setiap dua hari sekali. Setiap kali demam
didahului menggigil dan diakhiri berkeringat. Setelah demam dapat pulih sepertia biasa.
Pasien baru kembali dari melakukan studi lapangan di Sumatera Selatan selama dua
minggu. Setelah melakukan pemeriksaan sediaan apus darah tepi, dokter mengatakan
pasien terinfeksi plasmodium vivax.

Kata Sulit
4
5
6

Plasmodium : genus protozoa yang bersifat parasit pada sel darah merah
Polikilinik : balai pengobatan umum (tidak untuk perawatan atau pasien
menginap)
Sediaan darah tepi : pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai berbagai unsur sel
darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit

Pertanyaan :
1. Apa diagnosis dari sekenario?
Jawaban : Malaria Vivax
2. Apa saja jenis-jenis plasmodium ?
Jawaban : Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium falciparum,
dan Plasmodium malariae
3. Apa vector dari penyakit ini?
Jawaban : Nyamuk Anopheles beiina
4. Bagaimana pola demamnya ?
Jawaban : demam interminten
5. Bagaimana penularan diagnosis dari penyakit ?
Jawaban : melalui gigitan nyamuk, transfuse darah, jarum suntik, dan
tranplasenta
6. Bagaimana tahap-tahap plasmodium pada skenario?
Jawaban : Sporozoid
Merozoid
Tropozoid
Skizon

Ookista

Merozoid

hipnozoid

Makrozoid
Ookinet

Zigot

Gametosit
Mikrozoid

7. Apa hubungannya daerah dengan penyakit yang diderita?


Jawaban : Biasanya vector (nyamuk anopheles) berada di daerah torpik
8. Apakah berbahaya?kenapa? dan bagaimana pengobatannya?
Jawaban: - Berbahaya, karena dapat menyebabkan relaps
- Pengobatan : dengan pemberian antimalarial
9. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi ?
Jawaban : Anemia, kejang, pembengkakan otak, splenomegaly, dan
hepatomegali.
10. Bagaimana penvegahannya?
Jawaban : 1. Dengan gebrak malaria : - Untuk membasmi vector malaria
- Contoh : pemberian insektisida
2. Minum obat sebelum ke daerah endemik
11. Pada bentuk apakah plasmodium vivax dikatakan infective stage?
Jawaban : sporozoid

12. Berapa lama masa inkubasi pada malaria?


Jawaban : 9-30 hari
13. Bagaimana cara diagnosisnya ?
Jawaban :
- Anamnesis : demam, menggigil, berkeringat (trias malaria)
- Pemeriksaan fisik : pembesaraan limfa, tekanan darah rendah
- Pemeriksaan lab : trombosit kurang dari normal, pada sediaan darah tepi
terjadi pembesaran eritrosit dan terdapat zona merah.
14. Adakah pemeriksaan lainnya ?
Jawaban : ada, serologi.

Hipotesis
Plasmodium terdiri dari Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium
falciparum, dan Plasmodium malariae, pada kasus ini Plasmodium vivax dapat
menyebabkan malaria dengan masa inkubasi 9-30 hari melalui gigitan nyambuk
Anopheles betina dengan stadium infektif sporozoid yang hidup di daerah tropic .
malaria dapat di identifikasi dengan anamnesis seperti demam, menggigil,
berkeringat (trias malaria), pemeriksaan fisik seperti pembesaraan limfa, tekanan
darah rendah dan pemeriksaan lab seperti trombosit kurang dari normal, pada
sediaan darah tepi terjadi pembesaran eritrosit dan terdapat zona merah, serta pola
demam interminten. Pengobatan malaria dapat dilakukan dengan cara pemberian
anti malarial dan dapat dicegah dengan dengan gebrak malaria yaitu untuk
membasmi vektor malaria dengan contoh pemberian insektisida, dan minum obat
sebelum ke daerah endemic.jikat tidak ditangani dengan epat dapat menyebabkan
komplikasi seperti anemia, kejang, pembengkakan otak, splenomegaly, dan
hepatomegali.

Sasaran Belajar
LO. 1. Mampu memahami dan menjelaskan plasmodium
6.1 Definisi plasmodium
6.2 Klasifikasi plasmodium
6.3 Jenis-jenis plasmodium
6.4 Morfologi, struktur dan epidemiologi dari plasmodium
6.5 Daur hidup plasmodium
LO. 2. Mampu memahami dan menjelaskan Malaria
2.1 Definisi Malaria
2.2 Jenis-jenis Malaria
2.3 Epidemiologi Malaria
2.4 Etiologi Malaria
2.5 Manifestasi Malaria
2.6 Patogensis Malaria
2.7 Diagnosis Malaria
2.8 Diagnosis Banding Malaria
2.9 komplikasi Malaria
2.10 Tatalaksana Malaria
2.11 Prognosis Malaria
LO 3. Mampu memahami dan menjelaskan vektor malaria (anopheles)
6.6 Morfolgi (struktur)
6.7 Kalsifikasi
6.8 Siklus hidup
6.9 Epidemilologi
6.10 Perilaku
LO 4. Mampu memahami dan menjelaskan Farmakologi dan tatalaksana Malaria
4.1 pencegahan
4.1.1 Gebrak malaria
4.2 Pengobatan
4.2.1. Farmako dinamik
4.2.2. Farmako kinetik
4.2.3. indikasi obat

LO. 1. Mampu memahami dan menjelaskan plasmodium


1.1 Definisi plasmodium
Plasmodium adalah genus protozoa koksidian subordo
Haemosporina, ordo Eucoceidiida. Beberapa spesies bersifat parasit dalam
eritrosit mamalia, termasuk manusia, primata bukan manusia, hewan
pengerat; lainnya sebagai parasit pada burung dan reptil. (Dorland, 2010)
1.2 Klasifikasi plasmodium
Kingdom : Protista
Kelompok : Protozoa
Filum : Apicomplexa
Kelas : Aconoidasida
Ordo : Haemosporida
Familia : Plasmodidae
Genus : Plasmodium
Spesies : Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum,
Plasmodium malariae, Plasmodium ovale
1.3 Jenis-jenis plasmodium
Ada empat jenis plasmodium, yaitu :
1. Plasmodium falcifarum
Yang sering menjadi penyebab malaria cerebral dengan angka
kematian yang tinggi. Infeksi oleh spesies ini menyebabkan
parasitemia yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan spesies
lain dan merozoitnya menginfeksi sel darah merah dari segala
umur (baik muda maupun tua). Spesies ini menjadi penyebab 50%
malaria diseluruh dunia.
- Hanya ditemukan bentuk tropozoit dan gametosit pada darah tepi,
kecuali pada kasus infeksi yang berat.
- Schizogoni terjadi di dalam kapiler organ dalam termasuk jantung.
- Sedikit schizont di darah tepi, terkait berat ringannya infeksi.
Penyebab
maligna
Distribusi
Masa tunas

: malaria falsiparum/ malaria tropika/ malaria tersiana


: daerah tropik (Afrika dan Asia tenggara)
: 9-14 hari

2. Plasmodium vivax
Spesies ini cenderung menginfeksi sel-sel darah merah yang muda
(retikulosit) kira-kira 43% dari aksus malaria diseluruh dunia
disebabkan oleh Plasmodium vivax.
Penyebab
: malaria vivaks/ malaria tersiana
Distribusi
: kepulauan Indonesia (menjadi frekuaensi tertinggi
diantara spesies lain), korea selatan, china, turki. Eropa saat musim
panas, amerika selatan dan utara. Di afrika jarang ditemukan.
Masa tunas
: 12-17 hari
Diagnosis
: dengan ulasan Giemsa

3. Plasmodium Malariae
Mempunyai kecenderungan untuk menginfeksi sel-sel darah
merah yang lebih tua.
Penyebab
: malaria malariae/ malaria kuartana (karena serangan
demam berulang pada 4 hari)
Distribusi
: daerah tropik tetapi frekuensi cenderung rendah. Di
indonesia dilaporkan terdapat di papua barat, nusa tenggara timurdan
sumatera selatan
Masa tunas
: 30-40 hari
Diagnosis
:dengan ulasan Giemsa. Sering ditemukan di sediaan
darahtipis tanpa sengaja.
Pengobatan : klorokuin basa (mengeleminasi semua
stadium)banyak yang resisten. Berganti ke arteminisin dan
pironaridin.
4. Plasmodium ovale
Prediksinya terhadap sel sel darah merah. Mirip dengan Plasmodium
vivax (menginfeksi sel-sel darah muda).
Penyebab
: malaria ovale
Distribusi
: daerah tropik afrika bagian barat. Di indonesiabanyak
di irian jaya dan pulau timor.
Masa tunas
: 8-14 hari
Diagnosis
:dengan ulasan Giemsa.
Prognosis
: dapatsembuh sendiri tanpa pengobatan
1.4 Morfologi, struktur dan epidemiologi dari plasmodium
Morfologi
Spesies-spesies Plasmodium yang terdapat didalam sel darah merah, dapat
dibedakan Morfologi bentuk-bentuk stadiumnya yang khas, yaitu bentuk
trofozoit, skizon dan dan bentuk gametosit.
Stadium

P. vivax

Trofozoi
t muda

Eritrosit
membesar,
terdapat inti
sitoplasma
berbentuk cincin,
titik Schuffner
belum begitu
jelas.

Trofozoi
t tua

Eritrosit
membesar,
terdapat inti

P. falciparum

P. malariae

P. ovale

Eritrosit tidak
membesar,
terdapat inti
dengan
sitoplasma yang
berbentuk
accole(di
pinggir),
berbentuk
cincin, atau
terdapat 2 inti
dengan masing-

Eritrosit tidak
membesar,
terdapat inti,
sitoplasma
berbentuk
cincin dan
lebih tebal,
terdapat titik
Ziemann.
Besar
sitoplasma
kira-kira

Terdapat inti,
sitoplasma
berbentuk
cincin (1/3
eritrosit),
terdapat titik
Schuffner (titik
James) yang
tampak jelas.
Eritrosit agak
membesar dan
sebagian

parasit,
sitoplasma
membentuk
seperti amoeba,
titik Schuffner
sudah keliat jelas.

Skizon
muda

Inti membelah
menjadi 4-8, titik
schuffner masih
ada, terdapat
pigmen kuning
tengguli.

masing
sitoplasmanya
yang disebut
infeksi multiple.
Terdapat titik
Inti membelah
menjadi 2-6,
terdapat titik
maurer, eritrosit
tidak membesar

Skizon
matang

Inti membelah
menjadi 12-24,
titik schuffner
masih ada di
pinggir

Inti membelah
menjadi 8-24,
titik maurer
masih ada,
eritrosit tidak
membesar.

Makroga
metosit

Inti padat,
pigmen kuning
tengguli didekat
inti, berentuk
oval.

Inti padat,
berbentuk
seperti bulan
sabit atau
pisang, pigmen
berada di dekat
inti.

Mikroga
metosit

Inti tidak padat,


pigmen kuning
tengguli tersebar,
berbentuk bulat.

Inti tidak padat,


bentuk seperti
sosis, pigmen
tersebar.

setengah
eritrosit,
berbentuk pita
(khas
P.malariae),
buir-butir
pigmen
banyak, kasar
dan gelap
warnanya.

eritrosit
berbentuk
lonjong (oval)
dan pinggir
eritrosit
bergerigi di
satu ujung
dengan titik
Schuffner.

Intinya
membelah
menjadi 2-6

Intinya
membelah
menjadi 4-8.

Intinya
membelah
menjadi >8,
Berbentuk
merozoit
bulat, inti
hampir mengisi
membelah
seluruh
menjadi 8-10
eritrosit dan
letaknya teratur
punya susunan ditepi granula
teratur
pigmen.
berbentuk
rosette.
Sioplasma
berwarna biru
tua, inti kecil,
dan padat.

Bulat, intinya
kecil, kompak,
sitoplasma
biru.

Sitoplasma
Ini tidak padat,
berwarna biru
sitoplasma
pucat, inti
berwarna
besar dan tidak
kemerahan
padat, pigmen
pucat,
tersebar di
berbentuk
sitoplasma.
bulat.
Sumber : Parasitologi, FKUI

Sumber : http://www.tulane.edu/
Epidemiologi
Malaria adalah salah satu penyakit yang mempunyai penyebaran
luas. Penyebaran penyakit malaria ditentukan oleh faktor yang disebut
host, agent dan environment. Yang berperan sebagai host adalah
manusia sebagai host intermediate dan nyamuk anopheles sebagai host
definitif. Agent atau penyebab penyakit adalah semua elemen hidup
ataupun tidak hidup yang dalam kehadirannya, bila diikuti dengan
kontak yang efektif dengan manusia yang rentan akan menjadi
simulasi untuk memudahkan terjadinya suatu proses penyakit.
Lingkungan adalah tempat dimana manusia dan nyamuk berada.
Nyamuk berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai
dengan keadaan yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang
biak.
Dari semua jenis malaria yang paling berbahaya adalah malaria
yang disebabkan oleh plasmodium falciparum. Penyakit ini
ditunjukkan oleh adanya demam, menggigil, pusing dan sakit kepala.
Penyakit ini mungkin bisa berlanjut pada radang hati, shock, kegagalan
hati, acute enchephalopathy dan koma. Malaria yang disebabkan oleh
vivax, malariae dan ovale, gejala klinisnya dimulai dengan perasaan
lemas diikuti dengan menggigil, peningkatan suhu secara mendadak,
sakit kepala dan terakhir pusing. Penentuan jenis penyakit malaria
dilakukan dengan pemeriksaan laborat untuk menunjukkan adanya
parasit di sediaan darah.
Penularan malaria terjadi secara alamiah dan tidak alamiah.
Pada penularan secara alamiah, penularan malaria dilakukan oleh
nyamuk betina dari tribus Anopheles (Ross, 1897). Dari sekitar 400
spesies nyamuk anopheles yang telah ditemukan, 67 jenis dapat
menularkan malaria dan 24 jenis diantaranya terdapat di Indonesia.

10

Secara parasitologis, dalam daur hidup Plasmodium, manusia


diketahui sebagai inang antara karena Plasmodium, parasit malaria
dalam tubuh manusia masih dalam stadium aseksual, maksimal
sebagai mikrogametosit (jantan muda) dan makrogametosit (betina
muda) yang belum mampu melakukan singami.
Plasmodium, parasit malaria, pada manusia di Indonesia adalah:
P. falciparum, P. vivax, P. malariae dan P. ovale. Parasit malaria dalam
tubuh manusia berhabitat utama dalam sel darah merah (eritrosit) yang
memakan hemoglobin.
Pada P. vivax ada bentuk hepatik yaitu dalam sel-sel hati yang
memungkinkan terjadi relaps atau kambuh.
Faktor lingkungan suhu udara geografis (ketinggian dari
permukan laut, musim) bisa berpengaruh pada kemampuan hidup
parasit dalam nyamuk vektor. Plasmodium tidak bisa hidup dan
berkembang pada suhu < 16 derajat Celsius. Kelembaban udara 6080% optimal untuk hidup nyamuk dengan umur panjang.
Tempat populasi terbanyak dari masing-masing spesies :
A. Plasmodium vivax banyak ditemukan di daerah subtropis dan tropis.
B. Plasmodium falciparum banyak ditemukan didaerah subtropis dan
tropis.
C. Plasmodium malariae banyak ditemukan didaerah Indonesia bagian
Timur.
Plasmodium ovale banyak ditemukan didaerah Papua dan NTT
1.5 Daur hidup plasmodium

11

Siklus aseksual
Sporozoit infeksius dari kelenjar ludah nyamuk anopheles betina
dimasukkan kedalam darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut. Dalam
waktu tiga puluh menit jasad tersebut memasuki sel-sel parenkim hati dan
dimulai stadium eksoeritrositik dari pada daur hidupnya. Didalam sel hati
parasit tumbuh menjadi skizon dan berkembang menjadi merozoit (10.00030.000 merozoit, tergantung spesiesnya) . Sel hati yang mengandung parasit
pecah dan merozoit keluar dengan bebas, sebagian di fagosit. Oleh karena
prosesnya
terjadi
sebelum
memasuki
eritrosit
maka
disebut
stadiumpreeritrositik atau eksoeritrositik yang berlangsung selama 2 minggu.
Pada P. Vivax dan Ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang
menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut
hipnozoit. Hipnozoit dapat tinggal didalam hati sampai bertahun-tahun. Pada
suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat
menimbulkan relaps (kekambuhan).
Siklus eritrositik dimulai saat merozoit memasuki sel-sel darah merah.
Parasit tampak sebagai kromatin kecil, dikelilingi oleh sitoplasma yang
membesar,
bentuk
tidak
teratur
dan
mulai
membentuk tropozoit, tropozoit berkembang menjadi skizon muda, kemudian
berkembang menjadi skizon matang dan membelah banyak menjadimerozoit.
Dengan selesainya pembelahan tersebut sel darah merah pecah danmerozoit,
pigmen dan sisa sel keluar dan memasuki plasma darah. Parasit memasuki sel
darah
merah
lainnya
untuk
mengulangi
siklus skizogoni. Beberapa merozoitmemasuki
eritrosit
dan
membentuk skizon dan lainnya membentuk gametosit yaitu bentuk seksual
(gametosit jantan dan betina) setelah melalui 2-3 siklus skizogoni darah.
Siklus seksual
Terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk anopheles betina
menghisap darah yang mengandung gametosit. Gametosit yang bersama darah
tidak dicerna. Pada makrogamet (jantan) kromatin membagi menjadi 6-8 inti
yang bergerak kepinggir parasit. Dipinggir ini beberapa filamen dibentuk
seperti cambuk dan bergerak aktif disebut mikrogamet. Pembuahan terjadi
karena
masuknya
mikrogamet
kedalam
makrogamet
untuk
membentuk zigot. Zigot berubah bentuk seperti cacing pendek disebut ookinet
yang dapat menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung.
Ditempat ini ookinet membesar dan disebut ookista. Didalam ookista dibentuk
ribuan sporozoit dan beberapa sporozoit menembus kelenjar nyamuk dan bila
nyamuk menggigit/ menusuk manusia maka sporozoit masuk kedalam darah
dan mulailah siklus preeritrositik.
LO. 2. Mampu memahami dan menjelaskan Malaria
2.1 Definisi Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi parasite yang disebabkan oleh
plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya

12

bentuk aseksual didalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa


demam, menggigil, anemia dan splenomegaly.
(sudoyo.w ipd)
Malaria adalah penyakit menular endemic di banyak daerah hangat di
dunia, disebabkan oleh protozoa obligat intrasel genus Plasmodium, biasanya
ditularkan oleh gigitan nyamuk anopheles yang terinfeksi.Penyakit ini
ditandai dengan demam tinggi paroksismal, menggigil hebat, berkeringat,
anemia, dan splenomegaly; kematian dapat terjadi karena komplikasinya,
dengan yang terparah adalah malaria serebral dan anemia.Setelah fase awal,
penyakit ini dapat memperlihatkan perjalana kronik atau kembuhan yang
disebut juga paludism. (Dorland,2012)
2.2 Jenis-jenis Malaria
Jenis malaria dibedakan berdasarkan parasit penyebabnya antara lain,
1. Plasmodium falciparum
Menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana yang maligna (ganas)
atau dikenal dengan nama lain sebagai malaria tropika yang menyebabkan
demam setiap hari.
2. Plasmodium vivax
Menyebabkan malaria vivax atau disebut juga malaria tertiana benigna
(jinak).
3. Plasmodium malariae
Menyebabkan malaria kuartana atau malaria malariae.
4. Plasmodium ovale
Jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat,
menyebabkan malaria ovale.
2.3 Epidemiologi Malaria
Epidemiologi malaria adalah pengetahuan yang menyangkut studi
tentang kejadian (insidensi, prevalensi, kematian) karena malaria, penyebaran
atau penularannya pada penduduk yang tinggal di suatu wialayah pada
periode waktu tertentu, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Tujuan studi epidemiologi malaria adalah untuk digunakan sebagai
dasar rasional dalam pemberantasan, pengendalian penularan dan
pencegahannya.Materi studi epidemiologi malaria, secara garis besar,
menyangkut 3 hal utama yang saling berkaitan:
1) Inang (host): manusia sebagai inang antara, dan nyamuk vektor sebagai
inang definitif parasit malaria.
2) Penyebab penyakit (agent): parasit malaria (Plasmodium).
3) Lingkungan (environment).
Faktor lingkungan
suhu udara geografis (ketinggian dari permukan laut, musim) bisa
berpengaruh pada kemampuan hidup parasit dalam nyamuk
vektor.Plasmodium tidak bisa hidup dan berkembang pada suhu <
16C.Kelembaban udara 60-80% optimal untuk hidup nyamuk dengan umur
panjang.

13

Jika nyamuk vektor semakin padat (misalnya hitungan jumlah


nyamuk vektor rata-rata yang menggigit orang per jam), semakin
antropofilik (lebih suka menggigit dan mengisap darah manusia), semakin
panjang umurnya (> 2 minggu), dan semakin rentan terhadap infeksi dengan
parasit malaria setempat, maka semakin besar potensinya terjadi KLB
malaria, mungkin pada musim tertentu.( Gunawan, 2000)
Pada Negara beriklim dingin sudah tidak ditemukan lagi daerah
endemic malaria.Namun demikian, malaria masih merupakan persoalan
kesehatan yang besar di daerah tropis dan subtropics seperti Brasil, Asia
Tenggara, dan seluruh Sub-Sahara Afrika.
Di Indonesia, malaria ditemukan hampir di semua wilayah. Pada tahun
1996 ditemukan kasus malaria di Jawa-Bali dengan jumlah penderita
sebanyak 2.341.401 orang. Slide positive rate (SPR): 9215 ,annual paracitic
index (API): 0,08 o/oo. CFR di rumah sakit sebesar 10-50 %, Menurut
laporan, di provinsi Jawa Tengah tahun 1999; AP sebanyak 0,35 o/oo,
sebagian besar disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan Plasmodium
vivax. Angka prevalensi malaria di provinsi Jawa Tengah terus menurun
dari tahun ke tahun, mulai dari 0,51 pada tahun 2003, menurun menjadi 0,15
dan berkurang lagi menjadi 0,07 pada tahun 2005. Plasmodium malaria
sitemukan di Indonesia Timur, sedangkan Plasmidium ovale ditemukan di
Papua dan NTT.
Permasalahan resistensi terhadap obat malaria semakin lama semakin
bertambah.Plasmodium falciparum dilaporkan resisten terhadap klorokuin
dan sulfa-doksin-pirimetamin di wilayah Amazon dan Asia
Tenggara.Plasmodium vivax resisten klorokuin ditemukan di Papua Nugini,
provinsi Papua, Papua Bbarat dan Sumatra. Resistensi obat menyebabkan
kompleksnya oengobatan dan penanggulangan malaria.(widoyono, 2012)
Malaria berasal dari bahasa Italia (mala + aria) yang berarti udara
yang jelek/salah. Pada permulaan abad ke-20 juga ditandai dengan
ditemukannya peptisida untuk membunuh nyamuk yaitu dichloro-diphenyltrichloroethanea(DDT) oleh Paul Muller (Swiss).
Di Indonesia dengan adanya program KOPEM (Komando Operasi
Pembasmian Malaria), Malaria dapat dikontrol untuk daerah Jawa dan Bali.
Sampai sekarang masih banyak kantung-kantung malaria khususnya daerah
Indonesia kawasan Timur ( Irian, Maluku, Timor timur, NTT, Kalimantan
dan sebagian besar Sulawesi) , beberapa daerah Sumatera (Lampung, Riau,
Bengkulu dan Sumatera Barat Utara) dan sebagian kecil Jawa (Jepara,
sekitar Yogya dan Jawa Barat).
Populasi yang berisiko terhadap malaria adalah 113 juta dari 218 juta
masyarakat Indonesia. Walaupun demikian, jumlah kasus malaria telah
menurun dari 2.8 juta tahun 2001 menjadi 1.2 juta kasus pada tahun 2008.
2.4 Etiologi Malaria
Malaria disebabkan oleh protozoa bergenus plasmodium yaitu
Plasmodium falciparum : infeksi paling berat dengan angka kematian
tertinggi
Plasmodium ovale
Plasmodium malariae
14

Plasmodium vivax
Malaria disebebkan oleh parasit sporozoa plasmodium yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk Anopheles betina infektif. Sebagian besar nyamuk
Anopheles akan menggigit pada waktu senja atau malam haru, pada
beberapa jenis nyamuk, puncak gigitan adalah tengah malam sampai fajar
(Widoyono, 2011)
Cara Penularan Malaria
1. Secara alamiah : gigitan nyamuk Anopheles betina
2. Secara non alamiah
1.
Secara kongenital
2.
Penularan secara mekanik
3.
Penularan secara oral
4.
Penularan secara suntik
5.
Penularan secara transfusi darah
Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selain menginfeksi
manusia juga menginfeksi hewan seperti golongan burung, reptil dan
mamalia. Termasuk genus plasmosdium dari famili plasmodidae.
Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit dan mengalami
pembiakan aseksual pada hati dan di eritrosit. Pembiakan nyamuknya pada
Anopheles betina. Sebagian besar nyamuk akan mengigit pada waktu senjamalam hari, pada beberapa jenis nyamuk puncak gigitannya adalah tengah
malam-fajar.
Masa inkubasi malaria sekitar 7-30 hari tergantung spesiesnya, Pl.
Falciparum7-14 hari, Pl. vivax dan ovale8-14 hari, sedangkan Pl. malariae
memerlukan waktu 7-30 hari. Masa inkubasi ini dapat memanjang karena
berbagai faktor seperti pengobatan dan pemberian profilaksis dengan dosis
yang tidak adekuat.
Selain ditularkan melalui gigitan nyamuk, malaria dapat menjangkiti
orang lain melalui bawaan lahir dari ibu ke anak, yang disebabkan karena
kelainan pada sawar plasenta yang menghalangi penularan infeksi vertikal.
Metode penularan lainnya adalah melalui jarum suntik, yang banyak terjadi
pada pengguna narkoba jarum suntik yang sering bertukar jarum secara tdk
steril. Model penularan yang terkhir adalah melalui tranfusi darah. Disebutkan
dalam literatur bahwa melalui metode ini, hanya akan terjadi siklus eritrositer.
Siklus hati tidak terjadi karena tidak melalui sporozoit yang memerlukan
siklus hati.
2.5 Manifestasi Malaria
Manifetasi klinis malaria tergantung pada imunitas penderita dan
tingginya transmisi infeksi malaria. Berat atau ringannya infeksi dipengaruhi
oleh jenis plasmodium (P. Falciparum sering memberikan komplikasi)
daerah asal infeksi (pola resistensi terhadap pengobatan), umur (usia lanjut
dan bayi lebih berat), ada dugaan konstitusi genetik, keadaan kesehatan dan
nutrisi, kemoprofilaksis dan pengobatan sebelumnya.
1.
Gejala awal: lesu, sakit kepala, mual, muntah
2.
Serangan demam yang khas:
a. Sering dimulai siang hari, 8 12 jam
b. Lama demam tergantung tiap spesies malaria

15

7.

8.

c. Suhu turun > masuk stadium apireksia


3.
Menggigil/frigoris (15 60 menit, rasa dingin )
4.
Puncak demam/acme ( 2 6 jam, panas sp 41 celcius )
5.
Berkeringat/sudoris (2 4 jam, suhu turun )
6.
Apireksia (sampai demam berikutnya)
Malaria sebagai penyebab infeksi yang disebabkan oleh Plasmodium
mempunyai gejala utama yaitu demam. Demam yang terjadi diduga
berhubungan dengan proses skizogoni (pecahnya merozoit atau skizon),
pengaruh GPI (glycosyl phosphatidylinositol) atau terbentuknya sitokin atau
toksin lainnya. Pada beberapa penderita, demam tidak terjadi (misalnya pada
daerah hiperendemik) banyak orang dengan parasitemia tanpa
gejala.Gambaran karakteristik dari malaria ialah demam periodik, anemia
dan splenomegali.
Masa inkubasi Biasanya berlangsung 8-37 hari tergantung dari spesies
parasit (terpendek untuk P. falciparum dan terpanjang untuk P. malariae),
beratnya infeksi dan pada pengobatan sebelumnya atau pada derajat
resistensi hospes. Selain itu juga cara infeksi yang mungkin disebabkan
gigitan nyamuk atau secara induksi (misalnya transfuse darah yang
mengandung stadium aseksual)
Keluhan-keluhan prodromal Keluhan dapat terjadi sebelum terjadinya
demam, berupa: malaise, lesu, sakit kepala, sakit tulang belakang, nyeri pada
tulang dan otot, anoreksia, perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang
merasa dingin di punggung. Keluhan prodromal sering terjadi pada P. vivax
dan P. ovale, sedangkan P. falciparum dan P. malariae keluhan prodromal
tidak jelas
Gejala-gejala umum Gejala-gejala klasik umum yaitu terjadinya trias
malaria (malaria proxym) secara berurutan:

Stadium dingin
Mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin.Gigi
gemeretak dan penderita biasanya menutup tubuhnya dengan segala macam
pakaian dan selimut yang tersedia nadi cepat tetapi lemah.Bibir dan jari
jemarinya pucat kebiru-biruan, kulit kering dan pucat.Penderita mungkin
muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung
antara 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperature.

Stadium demam
Wajah penderita terlihat merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan
panas tubuh tetap tinggi, dapat sampai 40C atau lebih, penderita membuka
selimutnya, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntahmuntah dan dapat terjadi syok. Periode ini berlangsung lebih lama dari fase
dingin dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan keadaan berkeringat

Stadium berkeringat
Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai
tempat tidurnya basah. Suhu badan meningkat dengan cepat, kadang-kadang
sampai dibawah suhu normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak. Pada
saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain, stadium ini
berlangsung antara 2 sampai 4 jam.gejala klinis yang berat biasanya teljadi
pada malaria tropika yang disebabkan oleh plasmodium falciparum. Hal ini
disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofosoit dan

16

sison).Untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak, hati
dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada
organ-organ tubuh tersebut.Gejala mungkin berupa koma/pingsan, kejangkejang sampai tidak berfungsinya ginjal.Black water fever yang merupakan
gejala berat adalah munculnya hemoglobin pada air seni yang menyebabkan
warna air seni menjadi merah tua atau hitam. Gejala lain dari black water
fever adalah ikterus dan muntah-muntah yang warnanya sama dengan warna
empedu, black water fever biasanya dijumpai pada mereka yang menderita
infeksi P. falcifarum yang berulang -ulang dan infeksi yang cukup berat.
Gejala yang klasik yaitu terjadinya trias malaria secara berurutan :
1.
Periode dingin (15-60 menit): mulai menggigil, penderita sering
membungkus diri dengan selimut dan seluruh badan bergetar, diikuti
dengan meningkatnya temperature.
2.
Periode panas : penderita muka merah merah, nadi cepat, dan panas
badan tetap tinggi beberapa jam.
3.
Periode berkeringat: penderita berkeringat banyak dan temperature
turun dan penderita merasa sehat.

1.

2.
3.
4.

Trias malaria sering terjadi pada infeksi vivax, pada infeksi P.


falcifarum menggigil dapat berlangsung berat maupun tidak ada. Periode
tidak panas berlangsung 12 jam pada P. falcifarum, 36 jam pada P.vivax dan
ovale, 60 jam pada P. Malariae.
Beberapa keadaan klinik dalam infeksi malaria adalah:
serangan primer : yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan mulai
terjadinya serangan paroksismal yang terdiri dari dingin atau menggigil;
panas dan berkeringat. Serangan paroksismal ini dapat pendek atau panjang
tergantung dari perbanyakan parasit dalam imunitas penderita.
Periode latent : periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya
infeksi malaria. Biasanya terjadi diantara 2 keadaan paroksismal.
Recrudescense : yaitu berulangnya gejala klinik atau parasitemia setelah 24
minggu berakhirnya serangan primer.
Relapse atau rechute : ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang
lebih lama dari waktu diantara serangan periodiik dari infeksi primer yaitu
setelah infeksi lama dari masa latent (sampai 5 tahun), biasanya terjadi
karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk di luar eritrosit (hati) pada
malaria vivaks atau ovale
2.6 Patogensis Malaria
Singkatnya : Nyamuk yang terinfeksi plasmodium menggigit manusia
Sporozoit Schizont Merozoit - Sel hati akan pecah Merozoit - keluar
dari sel hati - merozoit dapat masuk dan tumbuh lagi dalam sel hati.
Merozoit akan masuk dalam aliran darah - siklus eritrositer - trophozoit muda
(bentuk cincin) - trophozoit tua - schizont dengan merozoit - Schizont pecah
merozoit memasuki eritrosit baru - makrogametosit dan mikro ametosit.
(Ilmu Penyakit Tropik)

17

Setelah melalui jaringan hati Pl. falciparum melepaskan 18-24 merozoit


kedalam sirkulasi. Merozoit yang dilepaskan akan masuk dalam sel RES di
limpa dan mengalami fagositosis serta filtrasi. Merozoit yang lolos dari filtrasi
dan fagositosis di limpa akan menginvasi eritrosit. Selanjutnya parasit akan
berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit. Bentuk asekseual parasit
pada eritrosit inilah yang bertanggung jawab pada patogenesa terjadinya
malaria pada manusia.Patogenesa falsiparum dipengaruhi oleh faktor parasit
(intensitas transmisi, densitas parasit dan virulensi parasit) dan faktor penjamu
(tingkat endemisitas daerah tempat tinggal, genetik, usia, status nutrisi, dan
status imunologi. Parasit dalam eritrosit secara garis besar mengalami 2
stadium, yaitu stadium cincin pada 24 jamI dan stadium matur pada 24 jam II.
Permukaan EP stadium cincin akan menampilkan antigen RESA (Ring
Erythrocyte Surgace Antigen) yang menghilang setelah parasit masuk stadium
matur. Permukaan membran EP stadium matur akan mengalami penonjolan
dan membentuk knob dengan Histidin Rich Protein-1 (HRP-1) sebagai
komponen utamanya. Selanjutnya bila EP tersebut mengalami merogoni, akan
dilepaskan toksin malaria berupa GPI yaitu glikosilfosfatidilinositol yang
merangsang pelepasan TNF (IL-1) dari makrofag (IPD jilid III hal 2816)

2.7 Diagnosis Malaria


Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah
secara mikroskopik atau tes diagnosis cepat.
Anamnesis:
1. Keluhan utama: demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit
kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot, atau pegal. Klasik: Trias Malaria,
secara berurutan periode dingin (15 - 60 menit), mengigil, diikuti periode
panas (beberapa jam), diikuti periode berkeringat, temperatur turun dan
merasa sehat
2. Riwayat berkunjung dan bermalam 1 - 4 minggu yg lalu ke daerah
endemik malaria
3. Riwayat tinggal di daerah endemik malaria
4. Riwayat sakit malaria
5. Riwayat minum obat malaria satu bulan terahir
6. Riwayat mendapat tranfusi darah
Pada penderita tersangka malaria berat dapat ditemukan:
1.
Gangguan kesadaran dlm berbagai derajat
2.
Keadaan umum yg lemah (tdk bisa duduk/berdiri)
3.
Kejang-kejang
4.
Panas sangat tinggi
5.
Mata atau tubuh kuning (ikterus)
6.
Perdarahan hidung, gusi, atau sal pencernaan
7.
Napas cepat dan atau sesak napas
8.
Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum
9.
Warna air seni sepeti teh tua dan dapat sampai
kehitaman

18

10.
Jumlah air seni kurang (oliguri) sampai tidak ada
(anuria)
11.
Telapak tangan sangat pucat
Harus segera di rujuk
Pemeriksaan Fisik:
1.
Demam ( t 37 C)
2.
Konjungtiva atau telapak tangan pucat
3.
Pembesaran limfa (splenomegali)
4.
Pembesaran hati (hepatomegali)
Pemeriksaan Fisik malaria berat:
1. t rektal 40 C
2. Nadi cepat dan lemah/kecil
3. TS < 70 mmHg (dewasa), < 50(anak)
4. R > 35 x/menit,
5. Penurunan kesadaran (GCS < 11)
6. Manifestasi perdarahan (petekhiae, purpura, hematom)
7.
Tanda dehidrasi (mata cekung, turgor dan elastisitas kulit
berkurang, bibir kering, produksi air seni berkurang)
8. Anemia berat
9. Ikterik
10. Ronkhi pada kedua paru
11. Pembesaran limfa dan hepar
12. Gagal ginjal (oliguri / anuri)
13. Gajala neurologik Kaku kuduk, reflak patologis
Pemeriksaan dengan mikroskop:
Pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis di puskesmas/lapangan/RS
untuk menentukan:
1. ada tidaknya parasit malaria (+/-)
2. spesies dan stadium plasmodium
3. Kepadatan parasit
Pemeriksaan penunjang untuk malaria berat
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita,
meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematocrit, jumlah leukosit,
eritrosit, dan trombosit. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah
(gula darah, SGOT, SGPT, tes fungsi ginjal), serta pemeriksaan foto
toraks, EKG, dan pemeriksaan lainnya sesuai indikasi.
Tetesan darah tebal.
Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena
tetesan darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis.
Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang
pandangan dengan pembesaran kuat). Preparat dinyatakan negatif bila
setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan pembesaran kuat 7001000 kali tidak ditemukan parasit.
Tetesan darah tipis.
Digunakan untuk identifikasi plasmodium. Kepadatan parasit
dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite count), dapat dilakukan
19

berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah
merah. Bila jumlah parasit > 10000/ul darah menandakan infeksi yang
berat. Hitung parasit penting untuk menentukan pronosa penderita
malaria, walaupun komplikasi juga dapat timbul dengan jumlah parasit
yang minimum.
Tes antigen : P-F test
mendeteksi antigen dari P.falciparum (Histidine Rich Protein II).
Deteksi sangat cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus,
sensitivitasnya baik, tidak memerlukan alat khusus. Deteksi untuk
antigen vivax sudah beredaran di pasaran yaitu dengan metode ICT. Tes
sejnis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase dari plasmodium
(pLDH) dengan cara immunochromatografic telah dipasarkan dengan
nama tes OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi dari 0-20 parasit/ul
darah dan dapat membedakan apakah infeksi P.falciparum atau P.vivax.
sensitivitas sampai 95% dan hasil positif salah lebih rendah dai tes
deteksi HRP-2. Tes ini sekarang dikenal sebagai tes cepat (rapid test).
Tes ini tersedia dalam berbagai nama tegantung pabrik pembuatnya.
Tes serologi
Tes serologi mulai diperkenalkan sejak tahun 1960 dengan memakai
tekhnik indirect flourescent antibody test. Tes ini berrguna untunk
mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan
dimana parasit sangat minimal. Manfaat tes serologi terutama untuk
penelitian epidemiologi atau alat uji saring donor darah. Titer >1:200
dianggap sebagai infeksi baru; dan test >1:20 dinyatakan positif. Metode
tes serologi yang lain antara lain, indirect haemagglutination test,
immuno-precipitation techniqu, ELISA test, radio-immunoassay.
Pemeriksaan PCR
Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan teknologi amplifikasi
DNA, waktu dipakai cukup cepat dan sensitivitas maupun spesifitasnya
tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat
memberikan hasil yang positif. Tes ini baru dipakai sebagai sarana
penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.
Diagnosis banding
1.
Demam tifoid
2.
Demam dengue
3.
ISPA
4.
Leptospirosis ringan
5.
Infeksi virus akut lainnya
DD/ Malaria berat:
1. Meningoencefalitis
2. Stroke
3. Tifoid ensefalopati
4. Hepatitis
5. Leptospirosis berat
6. Glomerulonefritis akut atau kronik
7. Sepsis
8. DHF atau DSS
2.8 Diagnosis Banding Malaria

20

Manifestasi klinis malaria sangat bervariasi dari gejala yang


ringan sampai berat.
1. Malaria tanpa komplikasi harus dapat dibedakan dengan penyakit
infeksi lain sebagai berikut :
a.

Demam tifoid

b.

Demam dengue

c.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

d.

Leptospirosis ringan

e.

Infeksi virus akut lainnya

2. Malaria berat atau malaria dengan komplikasi dibedakan dengan


penyakit infeksi lain sebagai berikut :
a.

Radang otak (meningitis/ensealitis)

b.

Stroke (gangguan serebrovaskuler)

c.

Tifoid ensefalopati

d.

Hepatitis

e.

Leptospirosis berat

f.

Glomerulonefritis akut atau kronik

g.

Sepsis

h.

Demam berdarah dengue atau Dengue shock syndrome


(Depkes RI, 2008)

2.9 Komplikasi Malaria


Komplikasi malaria umumnya disebabkan oleh malaria falciparum dan
sering di sebut pernicious manifestation, sering terjadi mendadak tanpa gejala
gejala sebelumnya dan sering terjadi pada penderita yang tidak imun seperti
pada kehamilan dan orang pendatang. Penderita malaria dengan komplikasi
umumnya digolongkan sebagai malaria berat yang menurut WHO
didefinisikan sebagai infeksi P. falcifarum dengan satu atau lebih komplikasi
sebagai berikut:
Malaria otak (Cerebral Malaria)
Malaria otak sering timbul sebagai malaria berat yang menyebabkan
kematian. Gejala yang timbul dapat tampak sebagai penurunan kesadaran dari
somnolen sampai koma, kejang- kejang atau psikosis organik. Penyebab
malaria otak masih merupakan hipotesa yaitu akibat eritrosit yang
mengandung parasit menjadi lebih mudah melekat pada dinding pembuluh
kapiler. Hal ini disebabkan karena menurunnya muatan listrik permukaan

21

eritrosit dan pembentukan tonjolan-tonjolan kecil dipermukaan eritrosit


sehingga terjadi bendungan di pembuluh darah otak kecil. Semakin matang
parasit dalam eritrosit semakin besar daya lekat eritrosit tersebut, terutama di
organ dalam tetapi tidak di peredaran darah, yang memungkinkan penyakit
menjadi berat walaupun konsentrasi eritrosit yang terinfeksi di peredaran
darah rendah. Melekatnya eritrosit yang terinfeksi pada pembuluh darah
kapiler dapat mengakibatkan terhambatnya aliran darah otak dan oedema.
Oedema otak ini sering ditemukan pada waktu otopsi, tetapi gejala klinik dari
peningkatan tekanan intrakranial jarang sekali ditemukan dan CT scan tidak
menyokong oedema sebagai gambaran primer dari malaria otak. Sedangkan
Schmutzhard dkk (1984) menemukan gejala sisa saraf yang cukup lama dari
sindroma psikosaorganik, heminaresia atau hemihipestesia dan epilepsi.
Kelainan darah
Hemolisis dapat disebabkan oleh malaria dan obat anti malaria.
Hemolisis dapat juga disebabkan karena meningkatnya fragilitas osmotik dari
eritrosit yang terinfeksi dan tidak terinfeksi, sehingga umur eritrosit menurun.
Pada penderita dengan defisiensi glukosa 6pospat dehidrogenase dan
hemoglobin abnormal, hemolisis yang terjadi meningkat dalam pengobatan
dengan anti malaria. Sedangkan Black Water Fever yang sebenarnya yaitu
hemolisis tanpa adanya defisiensi G6PD, jarang terjadi dan selalu disertai
adanya hemoglobinuria, hemolisis intravaskuler, kegagalan ginjal dan infeksi
berat malaria. Anemia terjadi akibat meningkatnya eritrosit yang rusak
(hemolisis), fagositosis eritrosit dan penurunan pembentukan eritrosit oleh
sumsum tulang. Trombositopenia mungkin disebabkan oleh memendeknya
umur platelet,juga diduga karena Disseminated Intravascular Coagulation
(DIC) akibat hemolisis sehingga menimbulkan perdarahan pada kulit, mukosa
dan kadang-kadang pida retina. Perdarahan dapat juga disebabkan karena
kerusakan berat hati yang terinfeksi malaria sehingga timbul gangguan
koagulopati.

Edema paru
Edema paru merupakan komplikasi yang sering dan hampir selalu
menyebabkan kematian. Patogenesisnya belum jelas, mungkin berhubungan
dengan menurunnya volume aliran darah yang efektif, tidak berfungsinya
aliran pembuluh, darah kecil paru-paru, meningkatnya permeabilitas kapiler,
volume cairan intravena yang berlebihan DIC atau uremia.
Kegagalan hati
Pembesaran hati, jaundice, dan kelainan fungsi hati sering terjadi pda
malaria falsiparum. Jaundice yang timbul umumnya karena kelainan sel hati,
biasanya ringan, kadang-kadang berat. Transaminase yang meningkat jarang
melebihi 200 IU (WHO, 1980). Peningkatan yang cukup tinggi dari beberapa
kadar ensim serum dan bilirubin mungkin sebagian disebabkan karena
hemolisis. Sedangkan perpanjangan masa protrombin disebabkan karena DIC
atau akibat efek dari kina.
Kegagalan ginjal

22

Kelainan fungsi ginjal sering ditemui pada malaria falsiparum berat


seperti proteinuria, oliguria, anuria dan uremia. Kegagalan ginjal hampir
selalu disebabkan oleh nekrosis tubulus akut yang diperkirakan akibat
kelainan perfusi ginjal karena hipovolemi atau berkurangnya peredaran darah
pada pembuluh darah kapiler ginjal. Glomerulonefritis akut terjadi sebagai
komplikasi malaria falsiparum karena terjadi nefritis imun kompleks.
Diare
Kurang berfungsinya penyerapan usus pada malaria disebabkan karena
adanya kelainan mukosa berupa edema, kongesti, perdarahan petechiae dan
terdapat banyak eritrosit yang terinfeksi sehingga terjadi nekrosis dan ulserasi
usus. Malabsorpsi diketemukan selama fase akut malaria falsiparum.
Hipoglikemia
Sering ditemukan pada penderita malaria falsiparum sedang, berat dan
tersering pada wanita hamil. Kemungkinan penyebab hipoglikemi adalah
karena konsumsi glukosa oleh parasit dan iangsangan pengeluaran insulin
oleh obat anti malaria. Kelaparan yang timbul akibat tak mau makan dan
muntah-muntah serta penggunaan glikogen hati memungkinkan terjadinya
hipoglikemia tersebut.
Abortus, kelahiran prematur, stillbirth dan bayi berat lahir rendah
Keadaan-keadaan ini mungkin disebabkan karena berkurangnya aliran
darah plasenta akibat kongesti dan timbunan eritrosit yang terinfeksi serta
makrofag di dalam villus-villus plasenta dan sinus-sinus vena. Eritrosit yang
mengandung parasit banyak terdapat pada aliran darah bagian maternal dan
biasanya talc terlihat pada bagian fetal. Menurut McGregor (1984)
hiperpireksia dapat juga mengakibatkan terjadinya abortus.
Hiperpireksia
Lebih banyak dijumpai pada anak daripada dewasa dan seringkali
berhubungan dengan kejang, delirium dan koma, maka pada malaria monitor
suhu berkala sangat dianjurkan. Hiperpireksia adalah keadaan diaman suhu
tubuh meningkat menjadi 42 C atau lebih dan dapat menyebabkan gejala sisa
neurologic yang menatap. Pada penelitian di RSUP selama 2 tahun (19971998) ditemukan hiperpireksia pada penderita malaria sebanyak 3,75%.
2.10 Tatalaksana Malaria

Farmako

Non Farmako
Pengobatan
A. Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi
1. Malaria Falciparum:
1.1. Lini Pertama:
Artesunat + Amodiakuin + Primakuin
1.2. Lini Kedua:
Kina + Doksisilin / tetrasiklin + Primakuin
1.3. Malaria Mix:
Artesunat + Amodiakuin + Primakuin
23

2. Malaria Vivaks, Ovale, Malariae


2.1. Lini Pertama:
Klorokuin + Primakuin
2.2. Lini Kedua:
Kina + Primakuin
2.3. Malaria Vivaks relaps
Klorokuin + Primakuin
Pemeriksaan Follow Up untuk setiap penderita dgn konfirmasi laboratorium
positif:
Penderita di follow up untuk diperiksa ulang Sediaan Darahnya pada H3, 7,
14, 28 dan Pv dilanjutkan sp akhir bulan 3.
3. Catatan:
3.1. Sudah ada sarana diagnostik malaria, dan blm ada obat
ACT:
P falciparum: sulfadoksin + pirimetamin (3 tab dosis
tunggal) + Primakuin 2 3 tab,
bila tidak efektif:
Kina + doksisiklin/tetrasilin + Primakuin
3.2. Belum ada sarana diagnostik malaria:
Pdrt gejala klinik malaria: Klorokuin + Primakuin
B. Pengobatan Malaria dengan Komplikasi:
1. Pilihan Utama:
Derivat artemisin parenteral (Artesunat intravena
atau intramuskuler; Artemeter intramuskuler)
2. Obat Alternatif:
Kina dihidroklorida parenteral
Sifat/Cara Kerja Obat

Klorokuin :
- Sizontosid darah
- anti gametosid, P.vivax dan P.malarie

SP :
- Sizontosid darah
- Sporontosidal

Kina :
- Sizontosid darah
- Anti gametosid, P.vivax dan P.malarie

Primaquin :
- Anti gametosid
- Anti hipnosoit,

Artesunat :
- Sizontosid darah,

Amodiakuin :
- Struktur dan aktivitas sama dgn klorokuin

Tetracyclin :
- Sizontosid darah
Kemasan dan cara pemberian derivat artemisin parenteral
Artesunat:

24


Vial yg berisi 60 mg serbuk kering

Pelarut dalam ampul 0,6 ml natrium bikarbonat 5 %

Keduanya dicampur dan ditambah dext 5 % 3 5 ml

Loading dose: 2,4 mg/kgBB, IV, selama 2 menit, Diulang


setelah 12 jam

Selanjutnya: 1 x perhari (dosis dan cara sama)

Diberikan sampai pdrt mampu minum obat oral, lini 1 P


falciparum
Artemeter IM:
1)
Ampul 40 mg dlm lar minyak
2)
Loading dose: 3,2 mg/kg BB,IM
3)
Selanjutnya: 1,6 mg/Kg BB, IM,
1x/hari, sampai pdrt mampu minum obat, lini 1 P Falcifarum
Kemasan dan cara pemberian kina parenteral
1.
Kemasan: ampul 2 ml berisi 500 mg
2.
Dosis (dewasa termasuk bumil):
Loading dose: 20 mg/kg BB dilarutkan dlm 500 ml dext 5% atau
NaCl 0,9 % diberikan selama 4 jam pertama (40 gtt/mnt), selanjutnya
4 jam kedua dext/NaCl kosong, selanjutnya 4 jam ketiga 10 mg/KgBB,
dst.
Atau: 10 mg/KgBB selama 8 jam, sampai pdrt sadar
Catatan: Untuk mencegah resistensi digunakan terapi artemisin
kombinasi

Obat antimalaria dapat dibagi dalam 9 golongan yaitu :


1.kuinin (kina)
2.mepakrin
3.klorokuin, amodiakuin
4.proguanil, klorproguanil
5.Primakuin
6.pirimetamin
7.sulfon dan sulfonamide
8.kuinolin methanol
9.antibiotic
Berdasarkan suseptibilitas berbagai macam stadium parasit
malaria terhadap obat antimalaria, maka obat antimalaria dapat juga
dibagi dalam 5 golongan yaitu :
1. Skizontisida jaringan primer yang dapat membunuh parasit stadium
praeritrositik dalam hati sehingga mencegah parasit masuk dalam
eritrosit, jadi digunakan sebagai obat profilaksis kausal. Obatnya
adalah proguanil, pirimetamin.

25

2. Skizontisida jaringan sekunder dapat membunuh parasit siklus


eksoeritrositik P. vivax dan P. ovale dan digunakan untuk pengobatan
radikal sebagai obat anti relaps, obatnya adala primakuin.
3. Skizontisida darah yang membunuh parasit stadium eritrositik, yang
berhubungan dengan penyakit akut disertai gejala klinik. Obat ini
digunakan
untuk
pengobatan
supresif
bagi
keempat
spesies Plasmodium dan juga dapat membunuh stadium gametosit P.
vivax, P. malariae dan P. ovale, tetapi tidak efektif untuk gametosit P.
falcifarum. Obatnya adalah kuinin, klorokuin atau amodiakuin; atau
proguanil dan pirimetamin yang mempunyai efek terbatas.
4. Gametositosida yang menghancurkan semua bentuk seksual
termasuk gametosit P. falcifarum. Obatnya adalah primakuin sebagai
gametositosida untuk keempat spesies dan kuinin, klorokuin atau
amodiakuin sebagai gametositosida untuk P. vivax, P. malariae dan P.
ovale.
5. Sporontosida yang dapat mencegah atau menghambat gametosit
dalam darah untuk membentuk ookista dan sporozoit dalam
nyamuk Anopheles. Obat obat yang termasuk golongan ini adalah
primakuin dan proguanil.
Tindakan Umum pada penderita malaria berat (tindakan perawatan di
ICU).
1. Pertahankan fungsi vital : sirkulasi, respirasi, kebutuhan cairan dan
nutrisi.
2. Hindarkan trauma : dekubitus, jatuh dari tempat tidur.
3. Hati-hati kompikasi : kateterisasi, defekasi, edema paru karena over
hidrasi.
4. Monitoring : temperatur, nadi, tensi, dan respirasi tiap jam.
Perhatikan timbulnya ikterus dan perdarahan.
5. Monitoring : ukuran dan reaksi pupil, kejang, tonus otot.
6. Baringkan/posisi tidur sesuai dengan kebutuhan.
7. Sirkulasi : hipotensi posisi Trendenlenburgs, perhatikan warna dan
temperatur kulit.
8. Cegah hiperpireksi :
a. Tidak pernah memakai botol panas/selimut listrik
b. Kompres air/air es/akohol
c. Kipas dengan kipas angin/kertas
d. Baju yang tipis/terbuka
e. Cairan cukup
9. Pemberian cairan : oral, sonde, infus, maksimal 1500 ml.
a. Cairan masuk diukur jumlah per 24 jam
b. Cairan keluar diukur per 24 jam
c. Kurang cairan akan memperberat fungsi ginjal
d. Kelebihan cairan menyebabkan edema paru
10. Diet : porsi kecil dan sering, cukup kalori, karbohidrat, dan garam.
11. Perhatikan kebersihan mulut
12. Perhatikan diuresis dan defekasi, aseptik kateterisasi
13. Kebersihan kulit : mandikan tiap hari dan keringkan
14. Perawatan mata : hindarkan trauma, tutup dengan kain/gas lembab.
15. Perawatan anak :

26

a. Hati-hati aspirasi, hisap lendir sesering mungkin


b. Letakkan posisi kepala sedikit rendah
c. Posisi dirubah cukup sering
d. Pemberian cairan dan obat harus hati-hati
(Sina, 2010)
Penanganan Penderita Tanpa Komplikasi ( Malaria Biasa)

Prinsip pengobatan malaria :


Penderita tergolong malaria biasa (tanpa komplikasi) atau penderita
malaria berat/ dengan komplikasi. Penderita dengan komplikasi/
malaria berat memakai obat parenteral dan malaria biasa diobati
dengan per oral .
Penderita malaria harus mendapatkan pengobatan yang efektif,tidak
terjadi kegagalan pengobatan dan pencegahan terjadinya transmisi
yaitu dengan pengobatan dengan ACT (Artemisinin base Combination
Therapy).
Pemberian obat dengan ACT harus berdasarkan hasil pemriksaan
malaria yang positif dan dilakukan monitoring efek atau respon
pengobatan.
Pengobatan malria klinis/tan hasil pemeriksaan malaria memakai obat
non-ACT.
Pengobatan malaria di terdiri atas 2 pengobatan,antara lain :

Pengobatan ACT (Artemisinin base Combination Therapy).


Secara global WHO telah menetapkan dipakainya pengobatan malaria
dengan memakai obat ACT. Golongan antermisinin (ART) telah dipilih
sebagai obat utama karena efektif mengatasi plasmodium yang resisten
dengan pengobatan, dapat membunuh plasmodium dalam semua
stadium termasuk gametosit, dan efektif terhadap semua spesies
plasmodium.
Penggunaan obat ACT dapat berupa:
Kompbinasi obat tetap (fixed dose)
Kombinasi dosis tetap lebih memudahkan pemberian pengobatan.
Contohnya ialah :
a) Co-Artem yaitu kombinasi artemeter (20mg) + lumefantrine
(120mg). Dosis Co-Artem 4 tablet 2x1 hari selama 3 hari.
b) Artekin yaitu kombinasi dihidroartemisinin (40mg) +
piperakuin (320mg). Dosis artekin untuk dewasa : dosis awal 2
tablet, 24 jam dan 32 jam masing-masing 2 tablet.
Kombinasi tidak tetap ( non-fixed dose)
Kombinasi ACT yang tidak tetap misalnya :
A. Artesunat + meflokuin
B. Artesunat + amodiakuin
C. Artesunat + klorokuin
D. Artesunat + sulfadoksin-pirimetamin
E. Artesunat + pironaridin
F. Artesunat + chlorproguanil-dapson (CDA/lapdap plus)
G. Dihidroartemisinin + piperakuin + trimethoprim (Artekom)

27

H. Artecom + primakuin (CV8)


I. Dihidroartemisinin + naptokuin
Yang ada di Indonesia saat ini adalah kombinasi artesunat +
amodiakuin dengan nama dagang Artesdiaquine atau Artesumoon.
Dosis untuk orang dewasa yaitu artesunat (50mg/tablet) 200mg pada
hari I-III (4 tablet). Untuk amodiakuin (200mg/tablet) yaitu 3 tablet hari
I dan II dan 11/2 tablet hari III. Artemusoon ialah kombinasi yang
dikemas sebagai blister (kantong kecil berisi cairan) dengan aturan
pakai tiap blister/hari (artesunat + amodiakuin) diminum selama 3 hari.
Dosis amodiakuin adalah 25-30 mg/kgBB selama 3 hari.Dosis untuk
anak-anak adalah artesumoon merupakan gabungan artesunat
2mg/kgBB sekali sehari selama 3 hari, untuk hari pertama diberi 2 dosis
dan amodiakuin hari I dan II 10 mg/kgBB dan hari III 5 mg/kgBB.
Catatan : untuk pemakaian obat golongan artemisinin harus di Pengebotan
malaria dengan obat-obat Non-ACT
Obat non-ACT ialah :
Klorokuin difosfat/sulfat
250 mg (150 mg basa), dosis 25 mg basa/kgBB untuk 3 hari, terbagi 10
mg/kgBB hari I dan hari II, 5 mg/kgBB pada hari ke III. Pada orang dewasa
biasa dipakai dosis 4 tablet hari I dan II, 2 tablet pada hari III. Dipakai untuk
P.falciparum maupun P.vivax .
Sulfadoksin-pirimetamin (SP)
(500 mg sulfadoksin + 25 mg pirimetamin), dosis orang dewasa 3 tablet dosis
tunggal (1 kali). Atau dosis anak memakai takaran pirimetamin 1,25
mg/kgBB. Obat ini hanya dipakai untuk P.falciparum dan tidak efektif untuk
P.vivax. Bila terjadi kegagalan dengan obat klorokuin dapat menggunakan SP.
Kina sulfat
(1 tablet 220 mg), dosis yang dianjurkan ialah 3x10 mg/kgBB selama 7 hari,
dapat dipakai untuk P.falciparum maupun P.vivax. Kina dipakai sebagai obat
cadangan untuk mengatasi resistensi terhadap klorokuin dan SP. Pemakaian
obat ini untuk waktu yang lama (7 hari) menyebabkan kegagalan untuk
memakai sampai selesai.
Primakuin
(1 tablet 15 mg), dipakai sebagai obat pelengkap/pengobatan radical terhadap
P.falciparum maupun P.vivax. pada P.falciparum dosisnya 45 mg (3 tablet)
dosis tunggal untuk membunuh gamet; sedangakan untuk P.vivax dosisnya 15
mg/hari selama 14 hari yaitu untuk membunuh gamet dan hipnozoit (antirelaps).
Penggunaan obat kombinasi Non-ACT
Apabila pola resistensi masih rendah,belum tejadi multiresistensi, dan belum
tersedianya
obat antemisinin, dapat menggunakan obat standar yang
dikombinasikan. Contohnya
adalah :
Kombinasi klorokuin + SP.
Kombinasi SP + kina
Kombinasi klorokuin + doksisiklin/tetrasiklin
Kombinasi SP + doksisiklin/tetrasiklin
Kina + doksisiklin/tetrasiklin
Kina + klimdamisin

28

Pemakain obat-obat kombinasi ini juga harus dilakukan monitoring respon


pengobatan sebab perkembangan resistensi terhadap obat malaria berlangsung
cepat dan meluas.
Penangan Penderita Malaria Dengan Komplikasi (Berat)
Pengobatan malaria berat secara garis besar terdiri atas 3 komponen,yaitu :
1) Pengobatan suportif (perawatan umum dan pengobatan simtomatis)
Menjaga keseimbangna cairan elektrolit dan keseimbangan asam basa.karena
pada malaria terjadi gangguan hidrasi, maka sangat penting mengatasi keadaan
hipovolemia ini. selain cairan perlu diperhatikan oksigenasi dengan
memperlihatkan tekanan O2, lancarnya saluran nafan dan kalau perlu dengan
ventilasi bantu.
Bila suhu 400 C (hyperemia),maka :
Kompres dingin intesif
Pemberian anti piretik (obat penurun suhu tubuh) untuk mencegah
hipertermia, parasitamol 15 mg/kgBB/kali,diberi setiap 4 jam.
o Bila anemia diberi transfuse darah, yaiut bila Hb < 5 g/dl atau hematokrit <
15%. Pada keadaan asidosis perbaikan anemi merupakan tindakan yang utama
sebelum pemberian koreksi bikarbonat.
o Kejang diberi diazepam 10-20 mg intravena diberikan secara perlahan atau
Phenobarbital 100 mg um/kali (dewasa) diberikan 2 kali sehari.
2) Pengobatan spesifik
o Artemisin
Golongan artemisin merupakan pilihan pertama Karen kebanyakan malaria
falciparum telah resisten dengan klorokuin maupun kuinin. Golongan artemisin
yang dipakai untuk pengobatan malaria berat antara lain :
o Artemether.
Artemether diberikan dengan dosis 3,2 mg/kgBB/hari im pada hari
pertama, kemudian dilanjutkan dengan 1,6 mg/kgBB/hari (biasanya
diberikan dengan dosis 160 mg dilanjutkan dengan dosis 80 mg) sampai
4 hari (penderita dapat minum obat), kemudian dilanjutkan dengan obat
kombinasi peroral.
o Artesunate
Artesunate diberikan dengan dosis 2,4 mg/kgBB iv pada waktu masuk
(time=0), kemudian pada jam ke 12 dan jam ke 24, selanjutnya setiap
kali sekali sampai penderita dapat minum obat dilanjutkan dengan obat
oral kombinasi.
Pengobatan lanjutan peroral pada penderita yang sebelumnya mendapatkan
pengobatan dengan artemether im atau artesunate iv dapat berupa kombinasi
artesunate dengan amodiaquin selama 3 hari atau kombinasi dengan
tetrasiklin/dosisiklin/klimdamisin selama 7 hari.
o Kuinin HCL

29

o Kuinin HCL 25% 500 mg (dihitung BB rata-rata 50 kg) dilarutkan


dalam 500cc dekstrose 5 % atau dekstrose dalam larutan saline
diberikan selam 8 jam, atau pemberian infus dalam cairan tersebut
diberikan selama 4 jam, kemudian diulang dengan cairan yang sama
terus menerus sampai penderita dapat minum obat lalu dilanjutkan
dengan pemberian kuinil peroral dengan dosis 3 kali sehari 10 mg
/kgBB (3x600 mg), dengan total pemberian kuinin keseluruhannya
selama 7 hari.
o Kuinin HCL 25 % dengan dosis loading 20 mg/kgBB dalam 100-200 cc
cairan dekstrose 5% (NaCl o,9%) selama 4 jam, dan dilanjutkan dengan
10 mg/kgBB dilarutkan dalam 200 ml dekstrose 5% diberikan dalam
waktu 4 jam. Selanjutnya diberikan dengan dosis dan cairan serta waktu
yang sama setiap 8 jam. Apabila penderita sudah sadar penderita dapat
minum obat dan dilanjutkan dengan pemberian kuinin peroral dengan
dosis 3 kali sehari10 mg/kgBB (3x600 mg), dengan total pemberian
kuinin keseluruhannya selama 7 hari. Dosis loading ini tidak dianjurkan
pada penderita yang telah mendapat pegobatan kuinin, atau meflokuin
dalam 24 jam sebelumnya, penderita usia lanjut atau pada penderita
dengan pemanjangan Q-Tc interval/aritmia pada hasil pemeriksaan
EKG.
Selama pemberian kuinin parentral monitoring : 1). Gula darah setiap 8 jam, 2).
EKG. Kuidinin glukonate diberikan dengan dosin 7,5 mg/kgBB selama 4 jam
setiap 8 jam sampai penderita dapat minum obat.
o Klorokuin
Dengan adanya kasus-kasus P. falciparum resisten terhadap klorokuin, maka
saat ini klorokuin jarang dipakai untuk pengobatan malaria berat. Klorokuin
diberikan bila masih sensitif atau pada kasus demam kencing hitam (black
water fever) atau pada mereka yang diketahui hipersensitif terhadap kina.
Keuntungannya tidak menyebabkan hipoglikemi dan tidak mengganggu
kehamilan. Klorokuin basa diberikan dengan :
3. Dosis loading 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 500 ml NaCl 0,9% diberikan
dalam 8 jam, kemudian dilanjutkan dosis 5 mg/kgBB per infuse selama 8 jam
dan sebanyak 3 kali (dosis total 25 mg/kgBB selama 32 jam)
4. Bila secara intravena tidak memungkinkan, dapat diberikan secara
intramuscular atau subkutan dengan cara : 3,5 mg/kgBB klorokuin basa
dengan interval setiap 6 jam, atau 2,5 mg/kgBB klorokuin basa dengan
interval setiap 4 jam.
o Transfuse Ganti.
Tindakan transfusi ganti dapat menurunkan secara cepat pada keadaan
parasitemia. Tindakan ini berguna untuk mengeluarkan eritrosit yang berparasit,
menurunkan toksin hasil parasit dan metabolismenya (sitokin dan radikal bebas)
serta mempebaiki anemia. Indikasi transfuse tukar :
i. Parasitemia > 30% tanpa komplikasi berat
j. Parasitemia > 10% disertai komplikasi berat : malaria serebral,
gagal ginjal akut, edema paru/ARDS, ikterik (bilirubin > 25 mg/dl)
dan anemia berat.

30

k. Parasitemia > 10% dengan gagal pengobatan setelah 12-24 jam


pemberian kemoterapi anti mlaria yang optimal, atau didapatkan
skizon matang pada sediaan darah perifer.
sertai/dibuktikan dengan pemeriksaan parasit yang positif,
setidaknya dengan tes cepat antigen yang positif. Bila malaria
klinis/tidak ada hasil pemeriksaan parasitologik tetap menggunakan obat
non-ACT.
Sejak tahun 1638 malaria telah diatasi dengan getah dari batang pohon
cinchona, yang lebih dikenal dengan nama kina, yang sebenarnya beracun dan
menekan pertumbuhan protozoa dalam jaringan darah. Pada tahun 1930, ahli
obat-obatan Jerman berhasil menemukan. Atabrine (Quinacrine hidrochroliode)
yang pada saat itu lebih efektif daripada quinine dan kadar racunnya lebih
rendah. Sejak akhir PD II, klorokuin dianggap lebih mampu menangkal dan
menyembuhkan demam rimba secara total, juga lebih efektif dalam menekan
jenis-jenis malaria dibandingkan dengan Atabrine atau Quinine. Obat tersebut
juga mengandung kadar racun paling rendah daripada obat-obatan lain yang
terdahulu dan terbukti efektif tanpa perlu digunakan secara terus
menerus.Namun baru-baru ini strain plasmodium falciparum, organisme yang
menyebabkan malaria tropika memperlihatkan adanya daya tahan terhadap
klorokuin, serta obat anti malaria sintetik lain. Strain jenis ini ditemukan
terutama di Vietnam, dan juga di Semenanjung Malaysia, Afrika dan Amerika
Selatan. Kina juga semakin kurang efektif terhadap strain plamodium
falciparum. Sering dengan munculnya strain parasit yang kebal terhadap obatobatan tersebut, fakta bahwa beberapa jenis nyamuk pembawa (Anopheles)
telah memiliki daya tahan terhadap insektisida, seperti DDT, telah
mengakibatkan peningkatan jumlah kasus penyakit malaria di beberapa negara
tropis. Sebagai akibatnya kasus penyakit malaria juga mengalami peningkatan
pada para turis dari Amerika dan Eropa Barat yang datang ke Asia dan Amerika
Tengah dan juga diantara pengungsi-pengungsi dari daerah tersebut. Para turis
yang datang ke tempat yang dijangkiti oleh penyakit malaria yang tengah
menyebar, dapat diberikan obat anti malaria sepert profilaksis (obat pencegah).
Pengobatan malaria menurut keperluannya dibagi menjadi pencegahan
bila obat diberikan sebelum infeksi terjadi, pengobatan supresif bila obat
diberikan untuk mencegah timbulnya gejala klinis, pengobatan kuratif untuk
pengobatan infeksi yang sudah terjadi terdiri dari serangan akut dan radikal,
dan pengobatan untuk mencegah transmisi atau penularan bila obat digunakan
terhadap gametosit dalam darah.
Sedangkan dalam program pemberantasan malaria dikenal 3 cara
pengobatan, yaitu:
1. Pengobatan presumtif dengan pemberian skizontisida dosis tunggal untuk
mengurangi gejala klinis malaria dan mencegah penyebaran

31

2. Pengobatan radikal diberikan untuk malaria yang menimbulkan relaps jangka


panjang
3. Pengobatan massal digunakan pada setiap penduduk di daerah endemis
malaria secara teratur. Saat ini pengobatan massal hanya di berikan pada saat
terjadi wabah.
Obat antimalaria terdiri dari 5 jenis, antara lain:
1. Skizontisid jaringan primer yang membasmi parasit pra-eritrosit, yaitu
proguanil, pirimetamin
2. Skizontisid jaringan sekunder yang membasmi parasit ekso-eritroit, yaitu
primakuin
3. Skizontisid darah yang membasmi parasit fase eritrosit, yaitu kina, klorokuin,
dan amodiakuin
4. Gametosid yang menghancurkan bentuk seksual. Primakuin adalah
gametosid yang ampuh bagi keempat spesies. Gametosid untuk P.vivax,
P.malaria, P.ovale, adalah kina, klorokuin, dan amidokuin
5. Sporontosid mencegah gametosid dalam darah untuk membentuk ookista dan
sporozoid dalam nyamuk anopheles, yaitu primakuin dan proguanil.
Protokol untuk pengobatan malaria rawat jalan atau rawat inap sebagai
berikut(3,8,10,11,13,15) :
1. Klorokuin bisa diberikan total 25 mg/KgBB selama 3 hari, dengan perincian
sebagai berikut :
Hari pertama 10 mg/kgBB (maksimal 600 mg basa), 6 jam kemudian
dilanjutkan 10 mg/kgBB (maksimal 600 mg basa) dan 5 mg/kgBB pada 24 jam
(maksimal 300 mg basa) + Primakuin 1 hari. Atau hari I dan II masing-masing
10 mg/kgBB dan hari III 5 mg/kgBB + Primakuin 1 hari
2. Bila dengan pengobatan butir 1 ternyata pada hari ke IV masih demam, atau
hari ke VIII masih dijumpai parasit dalam darah, maka di berikan :
a. Kina Sulfat 30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis, selama 7 hari atau
b. Fansidar atau suldox dengan dasar dosis pirimetamin 1-1,5 mg/kgBB atau
sulfadoksin 20-30 mg/kgBB single dose (usia diatas 6 bulan)
3. Bila dengan pengobatan butir 2 pada hari ke IV masih demam atau hari ke
VIII masih dijumpai parasit maka diberikan :
a. Tetrasiklin HCL 50 mg/kgBB, sehari 4 kali selama 7 hari + fansidar/suldox
bila belum mendapat pengobatan butir 2a atau

32

b. Tetrasiklin HCL + kina sulfat bila sebelumnya mendapatkan pengobatan butir


2b. Dosis kina dan fansidar/suldox sesuai butir 2a dan 2b (tetrasiklin hanya
diberikan pada umur 8 tahun atau lebih)
4. Bila tersedia dapat di beri obat-obat sebagai berikut :
a. Meflokuin15 mg/kgBB (maksimum 1000 mg) dibagi dalam 2 dosis dengan
jarak waktu pemberian 12 jam secara terpisah. Meflokuin tidak boleh diberikan
sebelum lewat 12 jam pemberian lengkap kina parenteral
b. Halofantrin 8 mg basa/kgBB setiap 6 jam untuk 3 dosis
5. Untuk pencegahan relaps pada P. Vivax dan P. Ovale (untuk umur > 5 tahun)
diberikan primakuin 0,3 mg basa/kgBB/hari selama 14 hari (maksimal 26,3
mg/hari)

Sedangkan menurut WHO (1971), pengobatan malaria secara radikal


tertera pada tabel berikut:
Tabel 7. Pengobatan Malaria Secara Radikal
Malaria

Umur

Hari

Nivaquine

Primakuin

Pemberian

(Klorokuin basa)

basa

Tertiana

< 1 thn

75-150 mg

Tropika

1-4 thn

75-150 mg

Malaria

4-8 thn

dois

8-15 thn

150-300 mg

2,5 mg

150-300 mg

2,5 mg

dosis

2,5 mg

300-400 mg

5 mg

300-400 mg

5 mg

dosis

5 mg

400-600 mg

10 mg

400-600 mg

10 mg

33

dosis

10 mg

Seseorang memerlukan perawatan dan pengobatan dengan kina sulfat oral atau
kina HCL intravena apabila terdapat gejala malaria berat, yaitu:
1. Anemia (Hb 7,1 g/dl atau kurang)
Kebutuhan tranfusi bukan hanya berdasarakan atas kadar hemoglobin saja
tetapi harus di lihat pula densitas parasitemia dan keadaan klinis. WHO
menganjurkan kadar hematokrit sebagai patokan anemia; kadar hematokrit 15%
merupakan indikasi pemberian tranfusi darah (10 ml/kgBB packed red
cells atau 20 ml/kgBB whole blood). Jika tidak tersedia pemeriksaan darah
untuk HIV, lebih baik digunakan darah segar dari keluarga yang lebih tua
karena ini dapat menurunkan resiko infeksi HIV; furosemid 1-2 mg/kgBB
sampai maksimal 20 mg, dapat diberikan secara intravena untuk menghindari
kelebihan cairan.
2. Malaria serebral
Diberikan infus kina dihidroklorida, dosis 10 mg/kgBB/kali dilarutkan dalam
20-100 ml infus garam fisiologis atau dextrose 5 % dan diberikan selama 2-4
jam 3 kali sehari selama pasien belum sadar (maksimal 3 hari), tetapi apabila
pasien telah sadar (walaupun belum 3 hari), kina dilanjutkan per-oral hingga
total IV + oral selama 7 hari. Dapat di tambahkan fansidar atau suldox dengan
dosis seperti diatas (melalui sonde). Penderita koma harus diberi perawatan
yang sangat cermat. Pasang kateter urin dengan teknik steril kecuali penderita
anuria. Lakukan pencatatan yang tepat mengenai pemasukan dan pengeluaran
cairan. Pantau dan catat tingkat kesadaran, suhu, frekuensi pernafasan, tekanan
darah
dan
tanda-tanda
vita
l. Berikan suntikan natrium fenobarbital intramuskular tunggal dengan
diazepam atau paraldehida. Suntikan diazepam secara intravena perlahan 0,30,5 mg/kgBB (maksimal 10 mg) atau suntikan paraldehida intramuskular (0,1
mg/kgBB) dengan alat suntik kaca atau plastik sesegera mungkin. Diazepam
juga dapat diberikan secara rektal (0,5-1 mg/kgBB) jika suntikan intravena
tidak memungkinkan.
3. Dehidrasi, gangguan asam basa dan elektrolit
Asidosis laktat sering terjadi sebagai komplikasi malaria berat, ditandai dengan
peningkatan kadar asam laktat darah atau dalam likuor serebrospinal. Larutan
garam fisiologis isotonis atau glukosa 5 % segera diberikan dengan hati-hati
dan diawasi tekanan darahnya. Di rumah sakit dengan fasilitas pediatri gawat
darurat, dapat dipasang Central Venous Pressure (CVP) untuk mengetahui

34

kebutuhan cairan lebih cermat. Apabila telah tercapai rehidrasi, tetapi jumlah
urin tetap < 1 ml/kgBB/jam maka dapat diberikan furosemid inisial 2 mg/kgBB
kemudian dilanjutkan 2x dosis dengan maksimal 8 mg/kgBB (diberikan dalam
waktu 15 menit). Untuk memperbaiki oksigenasi, bersihkan jalan nafas, beri
oksigen 2-4 liter/menit, dan apabila diperlukan dapat dipasang ventilator
mekanik sebagai penunjang
4. Hipoglikemia
Dalam menghadapi malaria berat, terutama pada anak yang mengalami
penurunan kesadaran perlu diberikan glukosa rumatan untuk mencegah
hipoglikemia yang disebabkan anak tidak bisa makan. Diberikan larutan
rumatan glukosa 5 % atau glukosa konsentrasi tinggi secara intermitten.
Apabila terjadi hipoglikemia berikan glukosa 40 % (0,5-1,0 ml/kgBB)
dilanjutkan dengan cairan rumatan glukosa 10 % sambil dilakukan pemeriksaan
kadar gula darah berkala atau mempergunakan dextro-stick. Pemantauan
glukosa darah harus terus menerus dilakukan bahkan setelah nampak perbaikan,
sebab hipoglikemia dapat berulang.
5. Gagal ginjal
Keadaan dehidrasi harus diatasi terlebih dahulu. Apabila dipasang CVP,
pertahankan CVP pada tekanan 0-5 cmH2O. Dialisis peritoneal dilakukan
apabila anak tetap mengalami oliguria sedangkan rehidrasi telah teratasi dan
kadar ureum serta kreatinin meningkat.
6. Edema Paru Akut
Anak di tidurkan setengah duduk, diberikan oksigen konsentrasi tinggi dan
diuretik intravena. Pemberian ventilator mekanik dapat di pertimbangkan bila
terjadi gagal nafas dan fasilitas memungkinkan. Apabila edema paru
disebabkan oleh pemberian cairan intravena yang berlebihan, segera hentikan
pemberian cairan intravena, berikan furosemid 1 mg/kgBB/kali dan diulangi
bila perlu.
7. Perdarahan
Pasien dapat diberi darah segar, fresh frozen plasma (berisi faktor pembekuan)
dan suspensi trombosit. Bila terdapat perpanjangan kadar protrombin
dan partial thromboplastin, dianjurkan pemberian vitamin K 10 mg perlahanlahan.
8. Hiperpireksia
Bila suhu >39 C segera beri kompres hangat dan antipiretik parasetamol 15
mg/kgBB peroral atau melalui sonde lambung.

35

9. Untuk malaria biliosa, obat anti malaria diberikan setengah dosis tetapi
waktu pemberian dua kali lebih panjang dari pengobatan malaria pada
umumnya.
10. Hemoglobinuria Malaria, jika terdapat parasitemia maka pengobatan
antimalaria yang sesuai harus di teruskan. Tranfusikan darah segar untuk
mempertahankan nilai hematokrit diatas 20 %. Pantau tekanan vena jugularis
atau sentralis untuk menghindari kelebihan cairan dan hipervolemia. Berikan
furosemid 1 ml/kgBB secara intravena. Jika timbul oliguria disertai kadar
ureum dan kreatinin serum yang meningkat, mungkin perlu di lakukan dialisis
peritoneal atau hemodialisis.
Penggunaan obat anti malaria tidak terbatas pada pengobatan kuratif saja, tetapi
juga termasuk :
1. Pengobatan pencegahan (profilaksis) bertujuan mencegah terjadinya infeksi
atau timbulnya gejala klinis. Penyembuhan dapat diperoleh dengan pemberian
terapi jenis ini pada infeksi malaria oleh P.falciparum karena parasit ini tidak
mempunyai fase ekso-eritrosit
2. Pengobatan kuratif dapat dilakukan dengan obat malaria jenis skizontisid
3. Pencegahan transmisi bermanfaat untuk mencegah infeksi pada nyamuk atau
mempengaruhi sporogonik nyamuk. Obat antimalaria yang dapat digunakan
seperti gametosid atau sporontosid.
(Jauhari, 2007)

2.11 Prognosis Malaria


Pada dasarnya malaria yang berlangsung tanpa komplikasi prognosis
nya baik apabila dengan segara dilakukan pengobatan dan dilakukan observasi
hasil pengobatan, tetapi pada falciparum yang menderita malaria berat
prognosisnya buruk.
LO 3. Mampu memahami dan menjelaskan vektor malaria (anopheles)
3.1 Morfolgi (struktur)
Nyamuk jantan Anopheles mempunyai palpus yang ujungnya
membesar (club-shaped) dan antenanya plumose (lebat). Nyamuk
betinanya memiliki ujung palpus tidak membesar dan antenanya
pilose (jarang). Berbeda dengan Aedes dan Culex, nyamuk ini baik
nyamuk jantan maupun betinanya mempunyai palpus yang sama
panjang dengan probosis. Scutellum toraks nyamuk dewasa ujungnya
membulat, tidak mempunyai lobus. Kaki-kaki Anopheles panjang

36

dan langsing. Sedangkan abdomennya tidak mempunyai bercak


bercak sisik

Sumber : http://www.nwmadil.com/

Sumber : http://itg.content-e.eu/

3.2 Kalsifikasi
Klasifikasi : Phylum : Arthropoda
Class : Hexapoda/ insect
Sub class : Pterigota
Ordo : Diptera
Familia : Culicidae
Sub family : Anophellinae
Genus : Anopheles
3.3 Siklus hidup
Nyamuk anophelini mengalami metamorfosis sempurna. Telur
menetas menjadi larva yang kemudian melakukan pengelupasan kulit /
eksoskelet sebanyak 4 kali. Lalu tumbuh menjadi pupa dan akhirnya
menjadi nyamuk dewasa jantan atau betina. Waktu yang diperlukan
untuk pertumbuhan sejak telur diletakkan sampai menjadi dewasa
bervariasi antara 205 minggu, tergantung pada spesies, makanan yang
tersedia di udara. Tempat perindukan nyamuk anophelini bermacammacam tergantung kepada spesies dan dapat dibagi menurut 3
kawasan yaitu kawasan pantai, pedalaman, kaki gunung dan kawasan
gunung.

37

Di kawasan pantai dengan tanamana bakau di danau pantai atau


lagun (lagoon), rawa dan empang sepanjang pantai, ditemukan
Anopheles sundaicus.

Sumber : http://labspace.open.ac.uk/
3.4 Epidemilologi
Nyamuk Anopheles hidup di daeran iklim tropis dan subtropis
tetapi juga bisa hidup di daerah yang beriklim sedang. Naymuk ini jarang
ditemukan pada daerah dengan ketinggian lebih dari 2000-2500 meter
(Sutisna, 2004)
Vector
An. Sundaicus

An. Aconitus
An. Subpictus
An. barbirostris
An. Balabacencis

An. Maculatus

Tempat perindukan larva


Muara sungai yang mendakal pada musim kemarau,
tambak ikan yang kurang terpelihara, parit di
sepanjang pantai bekas galian yang terisi air payau,
tempat penggaraman (Bali) di air tawar (Kaltim dan
Sum)
Persawahan dengan saluran irigrasi, tepi sungai pada
musim kemarau, kolam ikan dengan tanaman rumput
di tepinya
Kumpulan air yang permanen/sementara, celah tanah
bekas kaki binatang, tambak ikan dan bekas galian di
pantai (pantura pulau Jawa)
Sawah dan saluran irigasi, kolam, rawa, mata air,
sumur dan mata air
Bekas roda yang tergenang air, bekas jejak kaki
binatang pada tanah berlumpur yang berair, tepi
sungai pada musim kemarau, kolam atau kali yang
berbatu di hutan atau daerah pedalaman
Mata air dan sungai dengan air jernih yang mengalir
lambat di daerah pegunungan, perkebunan teh (di
Jawa)
38

3.5 Perilaku
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua spesies
Anopheles yaitu, Anopheles letifer dan A. umbrosus. A. letifer paling
banyak ditemukan pada minggu ke enam (bulan Februari). Pada
penelitian ini A. letifer cenderung bersifat lebih antropofilik dan
eksofagik. Perilaku menggigit dimulai pukul 18.00 hingga 06.00,
dengan puncak gigitan pada umpan orang baik di dalam maupun di
luar rumah pukul 19.00 hingga 20.00. Sementara itu, puncak
kepadatan yang istirahat di dinding dalam rumah terlihat pada pukul
19.00 hingga 20.00.
LO 4. Mampu memahami dan menjelaskan Farmakologi dan tatalaksana Malaria
4.1 pencegahan
4.1.1 Gebrak malaria
GEBRAK MALARIA
-

Pengertian
Gebrak malaria adalah gerakan nasional seluruh komponen
masyarakat untuk memberantas malaria secara intensife melalui
kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, lembaga wadaya
masyarakat, dan badan-badan internasional serta penyandang
dana.

Tujuan
Tujuan gebrak malaria adalah meningkatnya kemampuan setiap
orang dan kepedulian masyarakat untuk mengatasi malaria,
terciptanya lingkungan yang terbebas dari penularan malaria,
terselengara dan terjangkaunya upaya penanggulangan malaria
yang bermutu untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan
malaria serta meningkatkan produktifitas kerja guna mencapai
indonesia sehat 2010.

Sasaran
Sasaran gebrak malaria meliputi 3 kahalayak sasaran, yaitu:

1. Sasaran Primer.
Sasaran primer adalah kelompok sasaran didaerah bermasalah
malaria, meliputi siapa yang paling beresiko malaria, siapa yang
paling banyak terkena malaria, mana yang paling penting yang
harus dijangkau.
2. Sasaran Sekunder.
Sasaran sekunder adalah kelompok sasaran yang mempengaruhi
perubahan perilaku ( melatih, mendukung, meotivasi ) kelompok
sasaran primer.
3. Sasaran Tersier.

39

Sasaran tersier adalah para pembuat dan pengambil keputusan,


penyandang dan yang memungkinkkan terlaksannya kegiatan
gebrak malaria
Jenis Kegiatan

Jenis kegiatan dalam malaria ini meliputi:


Advokasi
Advokasi gebrak malaria adalah suatu upaya persuasi dan
motivasi dengan informasi yang tepat, akurat, dan shahi untuk
memperoleh dukungan dari pemerintah, dunia usaha, LSM dan
para pengambil kebijakan publik sehingga terjadi perubahan
kebijakan yang mendukung upaya pemberantasan malaria.
Kemitraan
Kemitraan gebrak malaria adalah upaya untuk menciptakan
suasana konduktif guna menunjang promosi gebrak malaria,
menjalin kemitraan untuk pembentukan opini publik dengan
berbagai kelompok yang ada di masyarakat seperti tokoh
masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, lembaga sawdaya
masyarakat, dunia usaha, swasta dan organisasi
Pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya untuk
meningktakan pengetahuna dan kemampuan masyarakat agar
mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan, dan melakukan
pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan
fasilitas yang ada.
Programpemberantasan malaria yang saat ini di lakukan
meliputi 8 kegiatan yaitu :
1. Diagnosis awal dan pengobatan yang tepat
2. Program kelambu dengan insektisida
3. Penyemprotan
4. Pengawasan deteksi aktif dan pasif
5. Survei demam dan pengawasan migran
6. Deteksi dan kontrol epidemik
7. Langkah-langkah lain seperti larvaciding
8. Peningkatan kemampuan (capacity building)
4.2 Pengobatan
4.2.1. Farmako dinamik
4.2.2. Farmako kinetik
4.2.3. indikasi obat
Farmakodinamik
Pirimetamin merupakan skizontosid darah yang bekerja lambat, punya
efek antimalaria yang mirip dengan efek proguanil tp lebih kuat krn bekerja
langsung. Pirimetamin diberikan seminggu sekali sedangkan proguanil harus
setiap hari.

40

Dalam bentuk kombinasi, pirimetamin dan sulfadoksin digunakan scr


luas untuk profilaksis dan supresi malaria, terutama P.falciparum yang
resistten klorokuin. Pirimetamin tdk memperlihatkan efektifitas yang jelas
terhadap P.falciparum di jaringan hati. Pada bentuk laten jaringan P.vivax dan
gametosit semua jenis plasmodium gagal dimusnahkan oleh pirimetamin.
Mekanisme kerja. Pirimetamin menghambat enzim dihidrofolat
reduktase plasmodia pada kadar yang jauh lebih rendah drpd yang dipakai utk
menghambat enzim yang sama pd manusia. Enzim ini bekerja pd rangkaian
sintesis purin, sehingga penghambatannya menyebabkan gagalpembelahan
inti pada pertumbuhan skizon dalam hati dan eritrosit. Kombinasi dgn
sulfonamid memperlihatkan sinergisme krna keduanya mengganggu sintesis
purin. Resistensi terjadi akibat penggunaan berlebihan pada jangka waktu
yang lama.
Farmakokinetik
Penyerapannya berlangsung lama tp lengkap. Setelah pemberian oral,
kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 4-6 jam. Konsentrasi obat yang
berefek suprsi dpt menetap dlm darah selama kira-kira 2 minggu. Obat ini
ditimbun terutama di ginjal, paru, hati dan limpa. Diekskresikan lambat
dengan waktu paruh kira-kira 4hari. Metabolitnya diekskresi melalui urin.
Efek samping dan kontraindikasi
Pirimetamin dosis tinggi bersifat teratogenik pada hewan coba, tp pd
manusia belum terbukti. Pemberian pirimetamin sbaiknya disertai pemberian
suplemen as.folat.
1. Klorokuin dan turunannya (klorokuin, amodiakuin dan
hidrosiklokuin)
Farmakodinamik:
Aktivitas anti malaria: hanya efektif terhadap parasit dalam
fase eritrosit. Efektivitasnya sangat tinggi terhadap
plasmodium vivax, plasmodium malariae, plasmodium
ovale, dan terhadap strain plasmodium falciparum yang
sensitive klorouin. Demam akan hilang dalam 24 jam dan
sediaan hapus darah umumnya negative pada waktu 48-72 jam
Mekanisme kerja obat: menghambat aktifitas polymerase
heme plasmodia
Resistensi terhadap klorokuin ditemukan pada plasmodium
falciparum yang melibatkan berbagai mekanisme genetic
yangkompleks
Farmakokinetik:
Absorbsi: setelah pemberian oral terjadi lengkap dan cepat dan
adanya makanan mempercepat absorbsi ini
Kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 3-5 jam. Kira-kira
55% dari jumlah obat dalam plasma akan terikat pada non
diffusible plasma continent
Metabolisme: berlangsung lambat sekali
Ekskresi: metabolit klorokuin dieksresi melalui urin
Efek samping:

41

Sakit kepala ringan, gatal gatal,gangguan pencernaan,


gangguan penglihatan
Untuk terapi supresi menimbulkan sakit kepala, penglihatan
kabur, erupsi kulit, uban danperubahan gambar ekg
Dosis tinggi parenteral menimbulkan toksisitas terutama pada
kardiovaskular
berupa
hipotensi,
vasodilatasi,
yang
menyebabkan henti jantung
2. Pirimetamin (turunan pirimidin)
Farmakodinamik:
Merupakan skizonrosid darah yang bekerja lambat
Waktu paruhnya lebih panjang dari proguanil
Dalam bentuk kombinasi, pitimetamin dan sulfadoksin
digunakan secara luas untuk supresi malaria,terutama yang
disebabkan oleh strain plasmodium falciparum yang resisten
terhadap klorokuin
Mekanisme kerja: menghambat enzim dihidrofolat reduktase
yang bkerja alamrangkaian reaksi sintesis purin, sehingga
penghambatannya menyebabkan gagalnya pembelahan inti
pada pertumbuhan skizon dalam hati dan eritrosit
Kombinasi dengan sulfonamide memperlihatkan sinergisme
karena keduanya mengganggu sintesis purin
Resistensi pada pirimetamin dapat terjadi pada penggunaan
yang
berlebihan
dan
jangka
lama
nyang
menyebabkanterjadinya mutasi pqada gen yang menghasilkan
perubahan asam amino sehingga mengakibatkan penurunan
afinitas prirmetamin terhadap enzim dihidrofolat reduktase
plasmodia
Farmakokinetik:
Absorbsi: melalui saluran cerna berlangsung lambat tapi lengka
Kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 4-6 jam
Ditimbun terutama di ginjal, paru, hati dan limpa
Ekskresi: lambat dengan waktu paruh kira-kira 4 hari melalui
urin
Efek samping:
Dengan dosis besar dapat terjadi anemia makrostik yang
serupa dengan apa yang terjadi pada asam folat
3. Primakuin (turunan 8-aminokuinolon)
Farmakodinamik:
Efek toksisitasnya terutama terlihat pada darah
Aktifitas anti malaria: dalam penyembuhan radikal malaria
vivax dan ovale
Memperlihatkan efek gametosiodal terhadap ke 4 jenis
plasmodium terutama plasmodium palcifarum
Mekanisme antimalaria: mungkin primakuin berubah menjadi
elektrolit yang bekerja sebagai mediatoor reduksi oksidasi.
Aktivitas ini membantu aktivitas anti malaria melalui

42

pembentukan oksigen relatif untuk mempengaruhi transportasi


elektron parasit
Farmakokinetik:
Absorbsi: setelah pemberian oral, primakuin segera di absorbsi
Distribusi: luas ke jaringan
Pada dosis tunggal, konsentrasi plasma mencapai maksimum
dalam 3jam dan waktu paruh eleminasinya 6jam
Metabolisme: berlangsung cepat.
Ekskresi: hanya sebagian kecil dari dosis yang diekskresi ke
urin dalam bentuk asal
Efek samping:
Yang terberat adalah anemia hemolitik akut pada pasien
yangmengalami
defisiensi
enzim
glukosa
6-fosfat
dehidroginase
Dengan dosis tinggi menimbulkan gangguan lambung dan
dengan dosis yang lebih tinggi menyebabkan sianosis
4. Kina dan Alkaloid sinkoma
Farmakodinamik:
Kina beserta pririmetamin dan sufadoksin masih merupakan
regimen terpilih plasmodium falciparum yang resisten terhadap
klorokuin
Kina terutama berefek skizontosid darah dan juga berefek
gametosid terhadap plasmodium vivax dan plasmodium
malariae
Untuk terapi supresi dan serangan klinik, obat ini lebih toksik
dan kurang efektif dibanding dengan klorokuin
Mekanisme kerja: bekerja dalam organel (vakuol makanan)
plasmodium palcifarum melalui penghambtan aktivitas heme
polymerase, sehingga terjadi penumpukan substrat yang
bersifat sitotoksik yaitu heme
Farmakokinetik:
Absorbsi: baik terutama melalui usus halus bagian atas
Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah satu
dosis tunggal
Distribusi: luas, terutama ke hati, tetapi kurang ke paru, ginjal,
dan limpa
Metabolisme: di dalam hati
Ekskresi: hanya kira-kira 20% yang diekskresi dalam bentuk
utuh di urin
Waktu paruh eleminasi kina pada orang sehat 11 jam,
sedangkan pada pasien malariae berat 18 jam
Efek samping:
Menyebabkan sinjonisme yang tidak terlalu memerlukan
penghentian pengobatan. Gejalanya mirip salsilimus yaitu
tinnitus, sakit kepala, gangguan pendengaran, pandangan kabur,
diare dan mual

43

Pada keracunan yang lebih berat terlihat gangguan


gastrointestinal, syaraf, kardiovaskular dan kulit. Lebih lanjut
lagi terjadi gangguan, seperti bingung, gelisah dan delirium.
Pernapasan mulamula dirangsang lalu dihambat kulit menjadi
dingin dan sianosis; suhu kulit dan tekanan darah menurun;
akhirnya pasien meninggal karena henti nafas
Pada wanita hamil yangmenderita malaria terjadi reaksi
hipersensivitas kina yang menyebabkan black water fever
dengan gejala hemolisis berat, hemoglobinemia dan
hemoglobinurin
Indikasi
P. falciparum yang
sensitif
terhadap
klorokuin
dan
P.
malariae

P. vivax dan P. ovale

Obat alternatif
Klorokuin fosfat 1g, selanjutnya 500 mg
pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 36 jam
berikutnya. (Total 50 mg/kgBB dalam 48
jam). Untuk anak diberikan dosis awal 16,7
mg/kgBB,
selanjutnya
diberikan
8,3
mg/kgBB pada 6 jam, 12 jam, 24 jam, dan 36
jam berikutnya. Dosis total 50 mg/kgBB

Klorokuin fosfat, dosis seperti di atas dan


selanjutnya primakuin fosfat 26,3 mg per
hari selama 14 hari (bila G6PD normal)

P. falciparum resisten Kina 3 X 650 mg/hari selama 3-7 hari Meflokuin sekali 750 mg/oral
terhadap
klorokuin, ditambah salah satu obat di bawah ini
(~15 mg/kgBB) selanjutnya 500
tanpa komplikasi
Doksisiklin 2 X 100 mg/hari mg pada 6-8 jam berikutnya atau
selama 7 hari, atau
Klindamisin 2 X 600 mg/hariArtesunat/artemeter oral, dosis
selama 7 hari, atau
tunggal per hari; 4 mg/kgBB
Sulfadoksin + pirimetaminpada hari ke 1, 2 mg/kgBB pada
(Fansidar) sekali makan 3hari ke 2 dan ke 3, i mg/kgBB
tablet
pada hari ke 4 sampai ke 7 atau
Halofantrin oral 500 mg tiap 6
jam sebanyak 3 x. Selanjutnya
diulang 1 minggu kemudian

44

KLOKROKUIN

PIRIMETAMIN

PRIMAKUIN

KINA

FARMAKODINAMIK

Bisa untuk anti


radang.
Hanya
efektif
terhadap
parasit dalam fase
eritrosit tidak pada
parasit yang ada di
jaringan. Sangat
efektif
terhadap
p.vivax
dan
profilaksisnya

Merupakan
skizontosid darah
kerja lambat yg
mempunyai
efek
antimalaria
yg
mirip
dengan
proguanil tapi lebih
kuat karena bekerja
langsung
dan
waktu
paruhnya
pun
panjang.
Pirimentamin tidak
memberikan
efektivitas
yang
jelas
pada
p.falciparum
di
jaringan
hati.
Pirimentamin pun
gagal
memusnahkan
gametosit
semua
jenis
plasmodia.
Pirimentamin
menghambat enzim
dihidrofolat
reduktase
plasmodia. Enzim
ini menyebabkan
gagalnya
pembelahan
inti
pada pertumbuhan
skizon dalam hati
dan eritrosit

Manfaat
klinik
utama
untuk
penyembuhan
radikal
malaria
vivaks dan ovale
karena bentuk laten
jaringan palsmodia
ini
dapat
dihancurkan oleh
primakuin.
Primakuin sendiri
tidak
menekan
serangan malaria
viviaks, meskipun
ia memperlihatkan
aktivitas terhadap
fase
eritrosit.
Demikian
juga
secara klinis tidak
digunakan
untuk
mengatasi serangan
malaria falsifarum
sebabt tidak efektif
terrhadap
fase
eritrosit.

Kina
bersifat
pirimentamin dan
sulfadoksin
sehingga menjadi
regimen pilihan
untuk
p.falciparum yang
resisten terhadap
klorokuin. Kina
berefek
skizontosik darah
dan
juga
gametositosid
tehhadap p.vivaks
dan
p.malariae
akan tetapi untuk
terapi
suspensi
dan
serangan
klinik obat ini
lebih toksik dan
kurang
efektif
dibanding
klorokuin. Kina
memiliki
kepekatan tinggi
dalam
vakuola
makanan
p.falciparum.
diperkirakan obat
ini bekerja dalam
organel melalui
penghambatan
aktivitas
heme
polimerase. Kina
menurunkan
kepekaan
lempeng
saraf
sehingga respons
terhadap rangsang
berulang
berkurang

FARMAKOKINETIK

Absorbsi
klorokuin untuk
pemberian
oral
sangat cepat serta
makanan
mempercepat
absorbsinya.
Kadar
puncak
pada
plasma
terjadi pada 3-5

Penyerapan
pirimentamin
di
saluran
cerna
berlangsung lambat
tetapi
lengkap.
Setelah pemberian
oral, kadar puncak
plasma terjadi pada
4-6
jam.
Konsentrasi obat

Setelah diberikan
per oral primakuin
segera diabsrobsi
dan didistribusikan
luas ke jaringan.
Metabolismenya
berlangsung cepat
dan hanya sebagian
kecil dari dosis
yang di ekskresikan

Kina diserap baik


melalui usus halus
bagian atas.kadar
puncaknya dalam
plasma
dicapai
dalam 1-3 jam.
Distribusinya luas
terutama ke hati
tetapi kurang ke
ginjal, paru, dan

45

jam.
Klorokuin
diikat di jaringan
seperti hati, ginjal,
limpa, dan paru.
Sedangkan hanya
sedikit di otak dan
medula spinalis.

sebagai
supresi
bertahan
dalam
darah selama 2
minggu. Obat ini
ditimbun
lama
dalam ginjal, hati,
paru, dan limpa
kemudian
di
ekskresi
lambat
dengan
waktu
paruh kira kira 4
hari.

ke urin dalam
bentuk
asal.
Konsentrasi plasma
mencapai
maksimum dalam
3 jam, dan waktu
paruh eliminasinya
dalam 6 jam.

limpa.
Waktu
paruh eliminasi
kina pada orang
sehat 11 jam,
sedang
pada
pasien
malaria
berat 18 jam.

DOSIS

Harian
untuk
mantap

Tablet 25mg

15mg per hari


selama 14 hari
dimulai pada hari
ke
4
dimana
sebelumnya
didahullui
pemberian
klorokuin selama 3
hari

3 kali 650mg/hari
selama 3-7 hari
dikombinasi
dengan dosisiklin
2 kali 600mg/hari
selama 7 hari

EFEK SAMPING

Sakit
kepala,
gangguan
pencernaan,
gangguan
pengelihatan, dan
gatal gatal

Anemia makrositik

Anemia hemolitik
akut pada pasien yg
mengalami
defisiensi
enzim
glukosa-6-fossfat
dehidrogenase

Sinkonisme

KONTRAINDIKASI

Pasien
dengan
penyakit hati dan
pasien
dengan
gangguan cerna

Wanita hamil, bayi


baru lahir, dan bayi
prematur

Pada pasien dengan


penyakit sistemik
yang berat yang
cenderung
mengalami
granulositopenia

Hipersensivitas

Klorokuin fosfat
500mg/minggu.
Diberikan 1 hari
sebelum
masuk
daerah
endemik
sampai 1 minggu
meninggalkan
daerah endemik

Untuk profilaksis
dapat
diberikan
seminggu sekali,
sedangkan
proguanil
harus
diberikan
setiap
hari

15 mg (basa) per
hari sampai 14 hari
setelah kunjungan.

Tidak
dijadikan
profilaksis

PROFILAKSIS

300mg
kadar

Miastenia grafis

46

bisa

DAFTAR PUSTAKA
Depkes.Epidemiologi Malaria di Indonesia. 2011. Buletin Data dan InformasI
Kesehatan. Jakarta, Pusat Data danInformasiKesehatan
Jawetz, Melnick, Adelberg. 2008. Mikrobiologi Kedokteran. (H. Hartanto, C.
Rachman, A. Dimanti, A. Diani). Jakarta : EGC.p.708 712 : 709.
Natadisastra,D&Agoes, R..2005. Parasitologi Kedokteran :Ditinjau dari Organ Tubuh
yang diserang. Penyakit oleh sporozoa darah dan jaringan (hlm:209-212).
Jakarta:EGC
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Edisi IV 2006, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Sutanto, et al. 2011.Buku Ajar ParasitologiKedokteran. Jakarta: FKUI
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Ed.2. Malari hlm:157-172. Jakarta: Erlangga

47